a/n : Italic = Flashback
.
.
.
Prince of Tennis © Takeshi Konomi
Decide
Chapter 2
.
.
.
.
.
Fuji pernah membaca sebuah artikel, kliping yang dikumpulkan Yumiko entah untuk apa. Itu adalah malam hari di akhir pekan ketika Fuji berumur 16 tahun. Terkadang, Fuji masih tetap bertanya-tanya apa sebenarnya pekerjaan Nee-sannya.
Saat akhirnya dia bertanya, yang dia dapatkan hanya sebuah kedipan mata dan jari telunjuk yang diletakkan di depan bibir. "Ini rahasia." kata Yumiko sambil menunjukkan senyum main-main, dia selalu terlihat cantik dan elegan dengan image misterius itu. Yuuta diam-diam berpikir kenapa kedua kakaknya bisa mempunyai senyuman yang mirip, dan dia mulai menarik kesimpulan kalau hanya dia sendiri lah yang dituruni gen milik ayah mereka. Yumiko dan Syusuke pasti menerima gen lebih banyak dari Yoshiko.
"Apa pegawai kantoran sekarang perlu untuk belajar psikologi?"
Fuji duduk di depan meja belajar, membaca deretan huruf pada artikel-artikel itu. Dia menyadari kejanggalan saat mempertanyakan hal tadi, merasa sedikit salah menyebut Yumiko sebagai seorang pegawai kantoran ─kakaknya bukanlah seorang pegawai kantoran biasa. Yumiko mungkin tidak sadar kalau Fuji tahu tentang buku-buku yang ditulis oleh kakak perempuannya itu. Inui memiliki beberapa buku karangan Yumiko. Fuji bukannya sengaja memeriksa barang bawaan Inui, hanya melihatnya tanpa sengaja.
"Tentang cinta? Pantas saja Yuuta langsung keluar kamar dengan membanting pintu setelah membaca lembar pertama." tambah Fuji.
Psikologi tentang cinta sama sekali tidak lebih baik dari diminta memilihkan gaun tidur transparan mana yang cocok untuk Yumiko, warna pink atau merah. Sesuatu yang sangat ingin Yuuta lupakan.
"Yuuta juga adikku, jadi aku kadang ingin coba menggodanya lebih sering. Aku hanya mengikutimu, lho." Yumiko menempatkan diri di atas ranjang berukuran single sementara si pemilik kamar masih melanjutkan membaca. Yumiko tidak perlu berhadapan dengan Fuji untuk tahu kalau pemuda berpostur ramping itu sedang terkekeh.
Kamar itu sunyi selama beberapa saat. Angin malam musim panas berhembus melalui jendela yang sengaja tidak ditutup, menggoyangkan gorden di samping meja belajar. Fuji berniat menyelesaikan bacaannya, sama sekali tidak terganggu dengan tema feminin seperti itu. Seminggu ini dia bahkan belajar memadu-padankan busana wanita. Langkah awal untuk menerima tawaran sebagai fotografer freelance di rumah mode ternyata tidak terlalu berat baginya. Fuji sama sekali tidak merasa terbebani.
"Jadi, untuk apa ini semua?" tanya Fuji akhirnya. Dia berbalik, menghadap Yumiko dan menyerahkan kembali klipingan tersebut. "Apa Nee-san sudah berubah profesi?"
"Seingatku, aku masih bangun pagi-pagi di hari kerja, mengendarai mobil selama 30 menit untuk sampai ke kantor, dan duduk 8 jam di depan komputer untuk meng-input data perusahaan." jawab Yumiko sarkastik. Senyumnya masih bertahan, serupa pemuda di hadapannya.
Fuji masih menunggu penjelasan. Dia tahu Yumiko adalah seorang penulis, tapi buku-buku yang selama ini sudah diterbitkan bukanlah buku seperti pembahasan kliping yang isinya tentang psikologi cinta. Buku-buku Yumiko hanya seputar ramalan, prediksi masa depan berdasarkan kartu tarot atau garis tangan.
"Kau tahu, Syuusuke, sebenarnya lebih dari 80% orang mengalami cinta pada pandangan pertama. Hanya saja, mereka baru menyadarinya seiring waktu. Uporia yang baru terasa sedikit demi sedikit."
Kemudian Yumiko bicara banyak hal tentang hubungan psikologi cinta dan ramalan. Katanya, kebanyakan orang mungkin tidak sadar kalau masa depan bisa juga dilihat dari sisi psikologi. Ini bukan seperti kau melihat sesuatu dalam mimpi dan hal itu akan terjadi di kemudian hari secara nyata. Bukan seperti cenayang. Ini lebih kepada kau melihat seseorang, memperhatikan sikap sampai pola pikirnya, kemudian kau menarik kesimpulan. Hal-hal wajar semacam itu. Hal yang semua orang tahu tapi tak jarang luput dari kesadaran.
Terkadang, orang-orang yang datang untuk diramal oleh Yumiko masih bertanya tentang jodoh ataupun takdir. Apa benar takdir itu ada? Apa benar jodoh itu sudah ditentukan? Apa benar cinta pertama itu bisa terjadi?
Tentu saja takdir itu nyata. Tentu saja jodoh itu sudah ditentukan. Tentu saja cinta pada pandangan pertama itu bisa terjadi. Tapi apa dengan seperti itu, menjawab langsung dengan jawaban itu, seseorang bisa langsung percaya? Orang dewasa suka sesuatu yang terdengar nyata. Teori yang masuk akal. Angka-angka berupa hasil survey. Persis seperti apa yang tertulis dalam novel favorit Fuji. Dan Fuji mengerti.
Ketika ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan teori, maka hal itu akan sulit untuk dianggap nyata. Sederhana tapi rumit. Itulah orang dewasa.
"Cinta bukanlah suatu yang mudah dipahami…" Yumiko tersenyum, membuka salah satu halaman klipingnya. "Ketika kau jatuh cinta, kau akan dengan senang hati terbang ke matahari walau itu bisa membuatmu terbakar sampai seluruh tubuhmu melepuh. Cinta membuatmu masih bisa tersenyum walau akar-akarmu tercabut dari dalam bumi sampai membuatmu cacat seumur hidup."
Fuji ingin menganguk, tapi tidak ia lakukan.
"Cinta akan membawamu ke dunia tanpa musim, ketika setiap detik bisa menjadi surga dan tiap detik lainnya bisa menjadi neraka. Di mana kau akan menangis, air mata yang bukan lagi hanya jadi milikmu dan kau akan bisa tertawa, gelak yang juga bukan lagi hanya jadi milikmu. Cinta akan membuatmu merasa bahwa kau akan segera tiba di tempat tujuan walau sebenarnya kau sedang tersesat karena mengambil jalan yang salah." Yumiko menatap adiknya dengan lembut.
Yumiko tidak lagi bicara. Dia tersenyum. Senyum paling tulus yang selama ini pernah Fuji lihat. "Bukan sebuah puisi yang murni menceritakan tentang cinta semacam ini, tapi bukankuah kata-katanya begitu mewakili?" Yumiko diam sesaat. "Begitu tepat…" lanjutnya pelan.
Kemudian Fuji menyadarinya. Yumiko sudah tahu tentang semuanya.
"Ternyata aku memang tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Nee-san, ya…"
"Akhirnya kau sadar juga." Yumiko beranjak dari ranjang. Dia menyerahkan klipingan miliknya kepada Fuji. "Untukmu. Baca baik-baik dan ketahui cintamu sendiri."
Melihat senyum itu, mendengar kata-kata itu, betapa sebenarnya Fuji ingin memeluk Yumiko. Tentu saja bukan karena dia diberi kumpulan artikel itu. Ini tentang maksud yang ingin disampaikan Yumiko. Entah sudah berapa kali Fuji dibuat mengerti oleh nasehat-nasehat kakaknya. Dan kini, bukan hanya nasehat. Yumiko memberinya dukungan. Keinginan Fuji untuk memeluk Yumiko tak terlaksana, Yumiko mengambil langkah lebih dulu.
Yumiko lah yang memeluk Fuji.
Tidak butuh waktu lama untuk Fuji agar balas melingkarkan lengannya, kemudian dia sadar kalau dalam rengkuhannya, tubuh Yumiko lebih kecil dibandingkan ingatannya yang terakhir. Kakaknya yang dulu selalu memeluknya setiap Fuji memiliki masalah. Yumiko, sejak dulu, memang selalu menyadari apapun kalau soal adik-adiknya.
Mereka berbeda sepuluh tahun. Fuji adalah adiknya.
Menjadi seorang kakak adalah tanggung jawab besarnya yang pertama. Yumiko menyaksikan ketika Syusukenya menangis dalam dekapan ibu mereka. Yumiko yang ketika itu kelas 4 SD, bahkan sampai saat ini masih ingat bagaimana tangan mungil Fuji menggenggam jari telunjuknya untuk pertama kali.
"Rasanya aku jadi ingin menangis." kata Yumiko tiba-tiba. Suaranya lebih mirip bisikan tapi Fuji bisa mendengarnya dengan jelas. Dan yang bisa Fuji lakukan hanya tersenyum pelan sambil tangannya mengusap punggung wanita yang memeluknya itu.
"Maaf… Aku mengecewakan kalian, ya? Mengecewakan Nee-san." Fuji sudah berkali-kali memikirkan hal itu.
Yumiko menggeleng cepat-cepat, penyangkalan keras. Syusuke mereka tidak pernah mengecewakan. Apa yang dialami adiknya tidaklah salah. Bukan kesalahan. Itu hanya jalan lain yang lebih berkerikil untuk mencapai tujuan yang sama. Jalan untuk bahagia.
Mereka tetap dalam posisi itu, diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing sampai suara pintu yang terbuka membuat mereka menengok bersamaan.
"Aniki, ada telep─" Yuuta berhenti melangkah, berdiri bingung tepat di mulut pintu. "Ada apa?" tanyanya kemudian. Dibandingkan kebingungannya, sekarang rasa khawatirnya lebih mendominasi.
"Tidak apa-apa. Aku hanya bermesraan dengan adikku sendiri sebelum menikah bulan depan." Yumiko melepaskan diri, berjalan ke arah Yuuta dan mengambil telepon itu untuk kemudian dia serahkan pada Fuji. Yumiko tidak menangis, menunjukkan senyumnya yang biasa. "Yuuta juga mau Nee-san peluk?"
Yuuta mengerutkan kening ngeri sebelum akhirnya melarikan diri, langkahnya di tangga terdengar terburu.
Yumiko merasa puas. Dia menengok ke belakang sebelum meninggalkan kamar itu. "Bilang pada Adult-kun kalau aku tahu dia sudah mencuri salah satu adikku." Suaranya sengaja dibuat keras, berharap orang yang menelpon adiknya bisa mendengar dengan jelas.
Fuji terkekeh pelan sebelum kemudian memfokuskan diri pada teleponnya.
"Hm? Tidak. Bukan apa-apa." katanya, memberi respon atas pertanyaan yang dilontarkan lawan bicaranya di seberang sana. Dia berjalan ke arah jendela sambil tetap mendekatkan telepon ke telinga. Malam musim panas memang membuat bintang tampak lebih jelas. Saat Fuji melihat jam dinding di kamarnya, dia tahu kalau di Jerman sana, sekarang hampir pukul 4 petang.
"Ne, Tezuka, apa kau tahu puisi berjudul The Prophet?"
.
.
.
.
.
Ulang tahun Fuji yang pertama kali mereka rayakan bersama adalah saat Fuji duduk di kelas 1 SMA. Oishi menghubungi semua mantan anggota tim inti klub tenis Seigaku. Inui, Eiji, dan Momo merencanakan semua kejutan dan mengaturnya agar berjalan lancar, walau pada kenyataan pesta itu jadi acara yang dikacaukan mereka sendiri.
Dengan tiket pesawat yang sudah dipesankan tanpa mereka tahu, bahkan Tezuka dan Echizen menyempatkan diri untuk pulang ke Jepang.
Ini hanya sekali dalam empat tahun.
Rencananya adalah dadakan, penuh celah dan terburu-buru. Fuji ─yang memang sudah membaca semuanya─ datang ke Kawamura Sushi lebih awal tiga jam dibandingkan waktu yang Eiji beritahukan padanya. Restoran sushi yang akan dijadikan tempat pesta itu bahkan belum selesai didekorasi. Eiji ─yang dibantu Oishi─ masih menaiki tangga untuk memasang hiasan di langit-langit, dia begitu bersemangat memilih balon jenis apa yang akan digunakan. Kaidoh dan Momo mengambil tempat di pojok ruangan, meributkan tulisan 'Happy Birthday' yang akan mereka gantung. Kaidoh mengomel karena salah eja yang dilakukan rivalnya lebih dari tiga kali dan membuat mereka harus kembali membeli cat. Fuji memergoki semuanya. Taka-san yang sibuk membuat hidangan, Inui yang membenarkan letak kacamatanya sambil bergumam "Aku sudah mengira ini akan terjadi.", atau Tezuka dan Echizen yang duduk dengan tenang. Mereka berdua, sejak dulu, memang tidak pandai untuk urusan seperti ini. Fuji tersenyum seperti biasa tanpa merasa bersalah. Dia menikamati bagaimana Eiji dan Momo yang merajuk kesal.
Pada hari itu, Fuji mendapatkan hadiah berupa rekaman lagu ulang tahun yang disimpan dalam CD. Mungkin mudah membayangkan Eiji, Oishi, Inui, Momo dan Taka-san pergi bersama ke studio rekaman hanya untuk merekam sebuah nyanyian, tapi membayangkan Kaidoh ikut diseret dalam rencana seenaknya yang Fuji yakin adalah ide Eiji, membuat Fuji begitu ingin mengelus punggung juniornya itu dan kemudian berkata "Kau pasti berusaha keras."
Echizen memilih bernyanyi di depan Fuji, siaran langsung di hari itu. Dia tidak punya waktu pulang ke Jepang hanya untuk mengunjungi studio musik. Lagu ulang tahun yang sebenarnya tidak lebih dari satu menit diselesaikan Echizen dalam waktu 15 menit. Eiji dan Momo berkali-kali mengganggunya dengan menyebut bahwa nada yang dikeluarkan Echizen terlalu rendah, ekspresi hambar, tidak ada semangat atau mengatai dengan cemoohan kalau anak TK bisa bernyanyi lebih baik dari itu. Fuji sungguh menikmatinya, dia terkekeh melihat Echizen menghela napas lebih dari lima kali dan berulang-ulang membenarkan letak topinya karena salah tingkah.
Tezuka menolak untuk ikut rekaman ataupun bernyanyi langsung. Dia bahkan tidak bisa membayangkannya. Tidak bahkan di dalam mimpi sekalipun walau Fuji sempat menggodanya agar menyanyikan lagu itu di hadapan mereka semua. Kejadian itu dianggap tidak ada begitu Tezuka menunjukkan tatapan tajam ─yang sebenarnya sama sekali tidak membuat Fuji takut. Tezuka memberikan hadiahnya di jalan pulang saat mengantar Fuji. Sebuah orgel berukuran segenggaman tangan. Berbentuk kotak, putih bersih dengan pinggiran yang dipoles warna emas. Ukiran cantik terpatri di setiap bagian pojok kotak itu. Dan ketika Fuji membuka tutupnya yang transparan, menunjukkan mesin-mesin di dalamnya yang bergerak menghasilkan suara berdenting, lagu yang terdengar adalah lagu khas ulang tahun. Sama sepeti lagu dalam CD itu, sama seperti lagu yang dinyanyikan Echizen, hanya saja dalam versi berbeda. Menenangkan dan terdengar cantik.
Saat Tezuka tiba-tiba mendatangi tempat tinggal Fuji di tengah malam kemarin, dia menyadari kalau orgel itu masih Fuji simpan. Diletakkan di atas meja di sisi ruang duduk, berdampingan dengan foto-foto yang dia ambil saat mereka masih di Seishun Gakuen.
"Kau sudah pernah memberikan itu." kata Oishi pada sahabatnya yang berdiri menghadap rak tempat memajang berbagai macam orgel. Itu bukanlah kalimat untuk mengingatkan, Oishi yakin kalau Tezuka masih ingat dengan jelas. Hanya saja, dia ingin Tezuka untuk berhenti berdiri terpaku. Toko yang menjual berbagai macam hadiah seperti ini bukanlah pilihan yang tepat untuk melamun.
Tezuka menoleh, mendapati Oishi yang tersenyum di sampingnya.
"Fuji memamerkannya pada kami begitu kau kembali ke Jerman saat itu." Oishi mengambil sebuah orgel yang paling dekat dengannya dan mulai membunyikannya. Lagu klasik yang paling sering dia dengar dalam kebanyakan kotak musik seperti ini. Dia jadi bertanya-tanya bagaimana cara Tezuka mendapatkan orgel yang dia hadiahkan pada Fuji bertahun-tahun lalu itu. "Dia bilang kalau kau begitu manis." Oishi terkekeh pelah, benar-benar tidak habis pikir.
Mereka semua tahu bahwa hanya Fuji yang berani mengatakan hal seperti itu tentang Tezuka.
Tezuka tidak menanggapi dengan pandangan tajam seperti biasanya, saat ini godaan yang pernah Fuji lontarkan tidak menjadi topik yang ingin dia dengar ataupun bahas. Masih tentang orang yang sama, tapi dia memang punya hal lain yang lebih memenuhi kepalanya.
"Aku sudah mengatakannya semalam." Tezuka tidak lagi memandang Oishi. Mata hazelnya memandang tidak fokus, bukan pada orgel-orgel di hadapannya.
Sedetik Oishi merasakan dirinya terkesiap. Terkejut tapi tidak lebih terkejut dibandingkan ketika semalam dia menerima telepon dari Tezuka. Oishi bisa menarik kesimpulan kalau Tezuka pasti langsung mendatangi Fuji begitu dia tahu tentang keluarganya yang sudah menentukan pasangan untuknya.
Lihat? Tezuka mungkin tidak memberi banyak kabar pada Fuji tapi betapa sebenarnya Tezuka begitu memikirkan pemuda itu, walau dirinya sendiri tidak sadar. Setidaknya, Oishi sadar soal itu.
"Lalu?" tanya Oishi.
"Kubilang aku akan menurut."
"Apa Fuji bisa menerimanya?"
"Dia tersenyum dan memberiku selamat." Tezuka mengingat detail kejadian semalam, bagaimana Fuji merspon dan menunjukkan aktingnya yang selalu hebat. "Dia memintaku untuk tinggal bersamanya sampai aku bertemu gadis itu nanti. Keluargaku sudah mengatur pertemuan kami begitu aku kembali Jepang kemarin."
Permintaan terakhir, huh?
"Kapan pertemuannya?"
"29 Februari."
Seminggu lagi.
Oishi tidak tahu bagaimana harus merespon. Menurutnya, Tezuka bisa saja menolak. Fuji bisa saja marah. Mereka bisa saja melawan kemudian melarikan diri ke tempat di mana tidak ada yang mengenal mereka. Oishi ─dan mungkin anggota tim yang lain─ tahu kapan Tezuka dan Fuji memulainya. Bukan hubungan penuh pamer seperti yang sering ditunjukkan pasangan muda pada umumnya. Hanya berdasar pada sorot mata dan Oishi tahu dengan yakin, jauh sejak dulu, kalau ada sesuatu di antara mereka berdua. Sesuatu yang tidak sedangkal sungai yang pernah mereka kunjungi untuk bermain di kala musim panas. Sesuatu antara Tezuka dan Fuji.
Oishi meletakkan orgel di tangannya ke tempatnya semula. "Aku sungguh tidak mengerti kalian."
Tezuka terdiam.
Andai saja Oishi tahu kalau Tezuka bersedia memberikan semua penghargaan tenis yang sudah dia terima untuk dapat mengerti. Tentang apa yang dipikirkan Fuji. Tentang apa yang dirinya sendiri inginkan.
Kalau memang Tezuka bisa.
.
.
.
.
.
"Tidak bisa dipercaya!"
Meja restoran di bagian pojok dekat jendela sudah ratusan kali digebrak oleh Eiji. Tidak ada yang menegur ─sudah tidak lagi lebih tepatnya. Pihak restoran sudah bosan. Bagaimanapun, mereka tahu yang mana preman yang berniat membuat kekacauan dan yang mana pemuda umur 25 tahun yang masih labil dengan emosi yang menggebu. Dan Eiji masuk dalam katagori nomor dua. Karena dia pelanggan tetap selama ini, sering membeli burger dalam jumlah banyak (bersama Momo), pihak restoran lebih lapang dada untuk kehilangan satu meja yang harus diganti tiap enam bulan sekali.
"Sebenarnya, aku masih ingin pura-pura tidak kenal dengan Eiji-senpai dan tetap bertingkah seperti anak malang yang diseret paksa oleh seniornya yang tukang bully."
Eiji mengarahkan pandangan pada pemuda yang tiba-tiba ikut mengeluarkan suara. Padahal dari awal cerita, Echizen sama sekali tidak berkata apa-apa. Tidak ada pertanyaan sama sekali. "Tapi, apa yang Eiji-senpai bilang itu memang benar." Echizen yang mengambil tempat duduk di samping Eiji akhirnya memberikan komentar. Masih dengan bayangan topi yang menghalangi setengah wajahnya, dia memilih menopang dagu dan melihat ke luar jendela. "Tidak bisa dipercaya…" gumamnya pelan, tapi masih bisa terdengar.
Semua terdiam.
Fuji sama sekali tidak menanggapi lagi obrolan mereka. Itu memang benar.
Tidak bisa dipercaya.
Harusnya dia marah, bukan diam saja sambil tersenyum. Harusnya dia merasa ingin mati atau ingin membunuh seseorang. Atau membunuh seseorang kemudian mati bunuh diri. Tapi ada satu hal yang Fuji percaya. Caranya tidaklah salah. Sama sekali tidak. Dia akan menunggu sampai Tezuka menyadarinya, sampai Tezuka bisa mendengarnya. Bahwa diamnya adalah teriakan paling keras. Ketika Fuji sudah bisa menunggu selama ini, tambahan satu minggu, satu bulan, dua bulan bahkan satu tahun lagi bukanlah sesuatu yang mustahil. Walau mungkin yang menunggunya di depan sana adalah jurang tak berdasar.
"Aku punya pemikiran sejak dulu," Eiji menatap Fuji yang ada di hadapannya, manik birunya bergerak ragu-ragu. Bingung antara mengemukakan pendapatnya atau tidak. Echizen mendengarkan dalam diam sambil meminum fonta.
"Hm?" Fuji mendongak dari vanilla milkshake-nya, tersenyum untuk meyakinkan sahabatnya agar melanjutkan omongan.
Eiji menggulirkan bola mata sekali lagi sebelum akhirnya bicara. "Fujiko, jangan-jangan kau itu─" Suara Eiji memelan. "Masokis...?"
Echizen tersedak seketika. Dan tawa dari Fuji menyusul kemudian.
"Jangan tertawakan aku! Aku serius, nyan." Kali ini Eiji mengembungkan pipinya, kebiasaan yang belum berubah sampai saat ini. Dia tidak marah, hanya kesal.
"Mada-mada dane, Eiji-senpai." Echizen sempat melirik dua orang yang ada bersamanya secara bergantian, tidak lebih dari dua detik. Tangannya membenarkan letak topi yang dia pakai.
"Eiji, film apa yang kau tonton akhir-akhir ini?" Pertanyaan Fuji sangat masuk akal. Echizen mengerti ke mana arah pertanyaan itu. Akhir-akhir ini Eiji terlalu terobsesi dengan film atau buku yang baru dia baca. Dia bertanya 'Apakah zaman dulu sudah ada kejuaraan game sedunia?' setelah menonton film Pixel. Sekarang pun, Fuji dan Echizen mengira mungkin saja Eiji baru menonton Fifty Shades of Grey atau A Dangerous Method.
"Masokis adalah orang yang menyukai tindakan masokisme." Eiji sengaja mengelarkan smartphone-nya dan melakukan searching singkat di internet. "Sedangkan masokisme sendiri adalah suatu kelainan jiwa karena merasa excited saat disakiti baik secara fisik atau mental untuk menimbulkan gairah seksual."
Echizen cukup takjub dengan penjelas itu. Kalau dipikir lagi, hal itu tidak bisa dibilang tidak mungkin. Tanda-tandanya ada.
"Kalau diingat-ingat sejak SMP dulu, Fujiko selalu dengan senang hati membantu gadis-gadis yang ingin mendekati Tezuka. Sebenarnya, waktu itu aku merasa marah." lanjut Eiji, suaranya sedikit bergetar karena terbawa emosi. "Aku benar-benar tidak bisa percaya! Padahal kau dan Tezuka kan─"
"Kurasa ada salah paham di sini. Aku membantu gadis-gadis itu bukan karena aku berniat baik." Fuji bahkan ragu kapan dia pernah berbuat baik. Semua yang dia lalukan untuk para gadis itu adalah untuk dirinya sendiri. Fuji tahu bagaimana Tezuka akan menanggapi mereka. Polanya akan selalu sama. Mereka datang dan Fuji membantu. Mereka pergi dan Fuji memenangkan permainan. Sementara gadis-gadis itu lari sambil menangis, Fuji adalah satu-satunya yang tetap bisa berdiri di samping Tezuka.
Kemenangan semu tapi tetap bisa disebut kepuasan.
"Kalau hanya untuk menimbulkan gairah seksual, aku lebih memilih untuk mengikat Tezuka di atas ranjang." lanjutnya.
"Aku harap kalian tidak lupa kalau di sini masih ada anak polos seperti aku." Echizen memberi peringatan. Dia tahu benar kalau Fuji tidak akan ragu untuk melanjutkan obrolan mengenai itu. Entah memang karena suka atau hanya untuk menghindari topik utama. Secuek apapun Echizen terhadap sekelilingnya, dia tahu bahwa 'Tezuka-buchou' bukanlah topik yang ingin Fuji bahas secara serius bersama orang lain. Fuji bahkan tidak pernah benar-benar menceritakan masalahnya, membuat mereka hanya mengira-ngira. Mengatakan hanya sebatas info yang memang seharusnya mereka tahu. Fuji tidak pernah mengeluh. Tidak pada Eiji, tidak pada Echizen. Tidak pada siapapun.
"Lalu bagaimana? Kau membiarkannya?" Eiji masih meminta kelanjutan.
"Saa…" Suara Fuji sangat kecil saat bicara. Dia tidak menatap kedua rekannya lagi, sibuk memutar-mutar sedotan dalam gelas vannila milkshake-nya. "Kuminta Tezuka bersamaku sampai dia akan bertemu gadis itu."
Echizen dan Eiji sempat bertukar pandangan.
"Aku berencana memonopolinya untuk seminggu ini. Egois, kan?" Fuji masih melanjutkan. Eiji menatapnya dengan pandangan tidak percaya. Egois? Egois dia bilang?
Setelah hari-hari di mana Eiji melihat Fuji menunggu, bertahun-tahun tanpa kepastian untuk melangkah maju, satu minggu hanyalah sesuatu yang kecil. Dan Fuji bilang kalau itu egois?
Sabagian diri Eiji mulai membenci Tezuka. Kalau Eiji dalam posisi Fuji sekarang, Eiji tidak akan ragu untuk menampar Tezuka. Membentaknya, memberitahu berapa lama dia tetap terjaga di malam hari untuk menunggu telepon yang belum pasti akan berdering. Memberi tahu Tezuka bagaimana tunangannya memperlakukan Fuji di hari pertama mereka bertemu.
Eiji akan memberitahu pada Tezuka bahwa Fuji sekalipun, ada kalanya dia tidak tersenyum.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Eiji dengan nada yang meninggi. Kalau Fuji tidak marah, biarkan Eiji yang marah untukya. "Tanyalah padanya. Tanya pada Tezuka apa sebenarnya yang dia inginkan!"
Dan Eiji tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis, air mata yang keluar karena menahan kesal. Sementara Echizen ─untuk kali ini pun─ berpura-pura tidak mendengar apapun.
Fuji masih diam.
.
.
.
[]
Kadang-kadang bila kau tidak bertanya, itu bukan karena kau takut bahwa akan ada yang berbohong padamu. Justru karena kau takut mereka akan mengatakan hal yang sesungguhnya.
-Jody Picoult
