Author : Hann Hunnie

Title : Lamia Chapter 4

Cast : Oh Sehun!girl, Kai Nelson Gladwig (Kim Jongin of EXO), and other cast.

Pair : KaiHun

Genre : Fantasy, romance, drama and family.

Rated : T - M

Warning : ini GENDERSWITCH! YANG GAK SUKA GAK USAH BACA, NGERTI ?

.

.

.

Happy Reading

.

.

.

Jalan setapak yang di kelilingi oleh pepohonan menjulang tinggi di sisi kanan dan kirinya menjadi satu satunya rute yang bisa Kai dan Sehun lewati.

Suasana terasa senyap dan gelap karena sinar matahari yang tidak bisa tembus sampai tempat ini.

Sehun mengerat kan pelukannya di lengan kecoklatan milik kekasih nya, manik dengan lens berwarna abu abu itu sesekali mengedar, memperhatikan apa saja yang baru saja di lewatinya.

"Apa boutique nya masih jauh?" Gadis cantik itu membuka suaranya setelah beberapa menit di landa keheningan membuat namja yang berjalan di sebelahnya itu menoleh.

"Sebentar lagi, kurasa. Kenapa ? Apa kakimu merasa pegal ?"

Sehun mengangguk. "Kaki ku seperti nya sedikit lecet. kalauGau boutique nya masuk ke tengah hutan seperti ini, aku tidak akan menggunakan heels" gadis cantik itu berjongkok memeriksa kakinya yang terlihat lecet.

Kai menghentikan langkahnya, lalu ikut berjongkok. "Kaki mu benar benar lecet" ia melepas heels yang di pakai kekasih nya itu. "Teleport saja bagaimana ? Ku rasa perjalanannya masih agak jauh"

"Hngg ... Kenapa tidak memilih boutique yang ada di tengah kota saja sih Kai ?" Sehun mengelus tumit nya yang lecet. "Tidak teleport. Aku selalu mual dan ingin muntah setelah melakukannya"

"Aku merasa tidak nyaman kalau harus berinteraksi dengan banyak manusia. Lagipula boutique yang akan kita kunjungi itu sudah di rekomendasikan Irene"

"Hhhh ... Tapi kenapa harus di tengah hutan ? Apa pemiliknya kurang kerjaan hingga membuat boutique di tengah hutan seperti ini ? Siapa yang mau beli coba ?"

Kai terkekeh pelan mendengar ucapan bernada kesal dari kekasih nya. "Sebenarnya boutique nya lumayan terkenal di kalangan vampire seperti kami. Pemiliknya juga seorang vampire, makanya sengaja di buat di tengah hutan"

"Tapi aku sudah tidak kuat berjalan, kaki ku benar benar pegal dan sakit" jemari lentik putih itu mengurut pelan pergelangan kakinya.

"Aku gendong saja bagaimana, eum ?"

"Uh ?" Sehun mendongak. "Kau kuat menggendong ku ?"

"Hm ? Kau meragukan kekuatan vampire ?"

Gadis cantik itu menggeleng. "Teleport saja deh" ucapnya sambil kembali menegakkan tubuh nya.

"Yakin ?" Tanya Kai dengan kedua alis bertaut.

"Eum ... Tidak apa apa yang penting cepat sampai"

"Baiklah" Kai membawa tubuh Sehun kedalam gendongan a-la bridalnya. "Harga satu kali teleportasi adalah satu kecupan, Nona Oh"

Sehun melingkarkan tangannya di leher kekasih vampire-nya. "Aku akan memberi lebih dari sekedar ciuman setelah kita menikah nanti, tuan Gladwig"

Kai terkekeh sebelum menunduk dan mencuri satu kecupan singkat di bibir tipis milik gadisnya.

"Anggap saja itu sebagai uang muka, Nona Oh"

Setelah mengucapkannya, kepulan asap hitam pekat muncul dari bawah kaki Kai, membumbung tinggi hingga menyelimuti kedua nya. Dan-

Slashhh!

Keduanya menghilang.

.

.

.

"Satu satunya cara agar Sehun bisa tetap hidup adalah dengan tidak membiarkan Kai menanam sperma nya di rahim gadis itu"

Wendy kembali menyimpan gelas berisi cairan kental berwarna merah yang nyaris di minumnya di atas meja sesaat setelah ia mendengar ucapan namja tampan yang duduk di hadapannya.

"Maksud mu, Sehun tidak boleh hamil ?"

Namja tampan itu mengangguk. "Kai tau ini sebenarnya. Terlalu beresiko untuk menikahi seorang manusia, bukan hanya karena manusia memiliki sesuatu yang menjadi makanan kaum kita, tapi karena kekuatan yang di miliki manusia tidak akan bisa melampaui kekuatan seorang vampire"

Wendy terdiam sejenak.

"Kai adalah satu satunya namja di keluarga kami, Ten. Memang masih ada Johnny, tapi kelak keturunan nya lah yang akan menggantikan daddy ketika sudah tiba waktunya dad untuk di tidurkan. Bagaimana bisa dia tidak boleh menanam sperma nya di rahim Istri nya sendiri ? Bukankah itu sama saja dengan Kai yang tidak akan bisa mendapat keturunan ?"

"Sebenarnya bisa saja" namja tampan bernama Ten itu menatap Wendy. "Kai bisa saja mendapat keturunan dari Sehun kalau gadis cantik itu rela menukar nyawanya saat proses persalinan nanti. Setau ku, tak pernah ada manusia yang selamat setelah melahirkan keturunan vampire, kecuali kalau Kai mau mengubah Sehun menjadi vampire terlebih dahulu dan itu pun hanya ada 40% kemungkinan Sehun kembali hidup menjadi vampire atau benar benar kehilangan nyawanya"

"Hhhh ..." Gadis cantik itu menghela napasnya. "Aku tidak tau kalau semua ini akan menjadi rumit"

"Kai tidak mungkin mengambil keputusan untuk menikahi Sehun tanpa di pikirkan terlebih dahulu" Ten menyandarkan tubuh nya ke sandaran kursi. "Dia mungkin sudah memikirkan ini matang matang, dia tau kalau menikahi Sehun memiliki dampak yang buruk untuk nya maupun Sehun. Mungkin saja Kai sudah siap dengan semuanya. Kai mungkin sudah siap dengan dua pilihan yang harus ia pilih salasatunya-" manik hijau milik Ten kembali menatap serius wanita di hadapanya.

"Membiarkan Sehun mati atau Kai tidak akan memiliki keturunan"

.

.

.

Sebenarnya bangunan ini lebih layak di sebut sebagai gedung tua di banding sebuah boutique.

Dinding bagunannya terlihat kusam dan terdapat lumut hijau yang tumbuh subur disana, pekarangannya juga seperti tidak terawat, bahkan teras depan pun penuh dengan debu.

"Hanya ingin menatapnya atau masuk kedalam ?"

Sehun terkejut dan hampir saja berteriak saat seseorang tiba tiba saja berucap tepat di telinganya.

Keduanya menoleh dan mendapati seorang wanita cantik dengan gaun indah selututnya berdiri di samping Sehun dengan senyum manisnya.

"Kau mengagetkan calon Istri ku, bi" Kai menghampiri wanita tersebut sebelum kemudian memeluk nya sebentar. "Bibi Dio, lama tidak berjumpa"

Wanita cantik yang di panggil bibi Dio atau lengkapnya bernama Diolin Vionasheza Swan itu kembali tersenyum. "Lama tidak berjumpa, nak. Kau sudah tumbuh besar dan menjadi pria tampan yang menawan"

Kai tersenyum. "Tentu saja bi, aku sudah akan menikah dengan gadis cantik di samping ku ini"

Dio mengalihkan pandangannya pada gadis cantik yang sedari diam memperhatikan kedua nya berbincang.

"Hallo, cantik" ucapnya sambil memeluk Sehun, membuat gadis cantik itu tersadar dari keterkejutannya.

"A-ah ne, bibi" Sehun membalas pelukan bibi Dio sebelum kemudian kembali melepasnya.

"Jadi siapa gadis cantik yang beruntung menikahi putra tampan ku ini eum ?"

Sehun tersenyum tipis sebelum kemudian membungkuk semu. "Oh Sehun imnida"

"Sehun ? Sehooney ? Nama yang indah untuk gadis secantik mu, sayang" Dio menatap Kai lalu berbisik-

'Kau sangat pintar mencari calon istri'

Yang membuat namja tan itu terkekeh pelan.

"Dia seorang manusia, bi"

"Eum ? Aku tau itu, Kai" ucap Dio, senyum manis tak pernah pudar dari bibir tebalnya. "Aku sudah mencium aroma nya. Ah ya, jadi kenapa menemui ku, Kai ?"

"Eum ... Kami ingin mencari gaun pengantin untuk Sehun bi" Kai berucap sambil melangkahkan kakinya mengikuti bibi Dio yang berjalan di depannya.

"Ah begitu" Dio membuka pintu rumah nya, menampakan jejeran gaun cantik yang memenuhi hampir seisi ruangan. "Aku baru saja menyelesaikan gaun pengantin yang Irene pesan"

"Huh ?" Kai menaikan sebelah alisnya. "Irene memesan gaun ?"

Dio mengangguk. "Silakan duduk dulu" ia tersenyum. "Beberapa hari yang lalu Irene datang kemari dan memesan gaun untuk Sehooney, aku sudah membuatkannya dan aku yakin Sehooney dan kau pasti suka dengan gaunnya. Sebentar, aku akan meminta putra ku untuk mengambilkan gaun nya, okay ?"

Wanita anggun itu melangkahkan kakinya memasuki ruangan lain meninggalkan Sehun dan Kai bersama jejeran gaun pengantin.

"Bibi Dio itu siapa mu ?" Tanya Sehun sambil mendudukan diri nya di sofa yang tersedia.

"Hm ?" Kai ikut mendudukan diri di sebelah kekasihnya. "Bukan siapa siapa ku, tapi dad dan mom lumayan akrab dengan nya"

"Oh begitu" Sehun mengangguk paham. "Dia seperti nya sudah akrab juga dengan mu juga"

"Dulu putranya adalah teman ku semasa elementary school di London"

"Apa dia vampire vegeta seperti mu ? Dia tidak agresif saat bertemu dengan ku"

"Tidak, tapi dia adalah vampire campuran, ibunya seorang penyihir dan Ayahnya adalah seorang vampire"

"Huh ?" Sehun menoleh sambil menaikan sebelah alisnya. "Bukankah seorang vampire tidak boleh menikah dengan seorang penyihir ya ?"

"Harusnya" Kai mengangguk. "Tapi sebenarnya itu sama hukumnya seperti seorang vampire yang menikahi manusia. Peraturan itu di buat agar kedua belah pihak tidak merasa di rugikan"

"Jadi sebenarnya vampire di larang menikahi manusia juga ?"

"Tidak ada peraturan tertulisnya, tapi memang seharusnya tidak"

Sehun terdiam, tapi matanya kini menatap Kai.

"Jadi kalau tidak boleh, kenapa kau masih mau menikahi ku ?"

"Apa perlu aku jawab pertanyaan mu itu, eum ?" Kai balas menatap kekasih cantik nya, kemudian tersenyum. "Jangan terlalu banyak berpikir. Yang harus kamu tau, aku menikahi mu karena aku begitu mencintai mu" tangan kecoklatan itu terulur mengusak pelan rambut halus milik Sehun. "Tak peduli dengan apapun yang akan terjadi nantinya. Setidaknya dengan menikahi mu, aku sudah mengikat mu untuk diri ku sendiri dan aku tidak akan pernah melepas mu untuk siapapun. Mengerti ?"

Sehun mengangguk sebelum beringsut mendekati Kai, memeluk kekasih vampire nya itu dan bergumam 'arra' tepat di telinga Kai.

Namja tan itu tersenyum tipis lalu menciumi puncak kepala gadis yang berada dalam pelukannya itu.

'Ya, tidak peduli dengan apa yang akan terjadi nanti nya. Meski aku tidak akan pernah bisa menyentuh mu selamanya, meski aku tidak akan pernah bisa memiliki satupun keturunan dari mu. Karena yang terpenting bagiku adalah kau masih bisa hidup dan akan terus menemani ku. Ya, itu saja'

.

.

.

Langit sudah mulai menggelap, sang rembulan masih bersembunyi dibalik awan hitam yang menggelantung, siap menggantikan sang bintang raksasa untuk bertugas memberi cahaya di langit malam ini.

Kediaman keluarga Gladwig terasa senyap, tapi bukan berarti tak ada satupun yang menghuni rumah minimalis tersebut. Bahkan semua anggota keluarga Gladwig terlihat tengah berkumpul di ruang tengah.

Wendy mendudukan diri nya di sebelah Irene dan di hadapan William, daddy nya.

Victoria, si mommy memilih untuk mendudukan dirinya di sebelah sang suami. Sedang kan Johnny dan Selena duduk di kursi yang berada di sebelah kursi yang di duduk Irene dan Wendy.

"Dimana Kai ?" Suara berat penuh wibawa itu keluar dari bibir tebal milik William.

"Sedang perjalanan menuju kemari, dad. Kai dan Sehun baru saja menemui Bibi Dio untuk memilih gaun pengantin" Irene menjawab pertanyaan daddy nya tersebut. "Aku sudah mengirimya telepati untuk segera pulang. Dan ku lihat dia sedang perjalanan kemari, bersama Sehun"

"Apa tidak apa apa kita membicarakan ini dengan melibatkan Sehun ?" Tanya Victoria. "Ada beberapa hal yang mungkin masih Kai rahasiakan pada Sehun, kalau kita melibatkan gadis itu dalam pembicaraan ini, bukankah tidak menutup kemungkinan Sehun akan membatalkan pernikahannya ?"

"Pernikahan akan di lakukan satu minggu lagi, dan Sehun belum tau apapun tentang apa saja yang akan terjadi setelah ia menikah dengan Kai. Ku rasa melibatkan Sehun dalam pembicaraan ini bukanlah sesuatu hal yang perlu di takutkan, mom. Kalau memang Sehun tidak mau dan tidak siap menerima resiko yang akan terjadi padanya nanti, dia bisa membatalkannya sekarang, bukankah itu lebih baik di banding harus memberitahu Sehun semuanya setelah pernikahan di lakukan ? Itu sama saja seperti kita membohongi nya. Kita belum menyebar undangan, bukan perkara sulit kalau saja kemungkinan terburuk dimana Sehun ingin membatalkan pernikahan itu terjadi, benar ?"

Wendy dan Irene sama sama menaikan sebelah alisnya sesaat setelah mendengar penjelasan panjang yang keluar dari bibir tipis Selena.

Hell ya, sejak kapan wanita itu mau melibatkan diri dengan pernikahan Kai dan Sehun ?

"Ku rasa Selena benar"

Semua orang mengalihkan atensi mereka pada namja tampan yang baru saja berucap.

"Hallo paman, Bibi. Lama tidak berjumpa" namja tampan itu tersenyum. "Ayah menyuruh ku untuk menemui paman dan Bibi Gladwig"

"Oh, harusnya ayah mu yang datang kemari, nak" Victoria tersenyum. "Kemarilah"

Namja tampan itu melangkahkan kakinya lalu mendudukan dirinya di sebelah Kiri Irene. "Ayah sedang ada urusan dengan para petinggi, ku dengar untuk membicarakan masalah pernikahan Kai dan Sehun"

"Begitu ? Semoga saja ayah mu bisa di andalkan, William sudah menemui para petinggi tempo hari, tapi mereka belum bisa memberi kepastian boleh tidak nya pernikahan ini di lakukan. Para peramal tidak ada saat itu, jadi mereka belum bisa mengambil keputusan apapun" ucap Victoria.

"Bukankah Irene adalah salasatu peramal hebat yang selalu para petinggi percayai ? Kenapa paman William tidak membawa Irene saja saat itu ?"

"Sebenarnya aku sudah pernah mencoba meramal masa depan keduanya" Irene membuka suaranya. "Tapi aku tidak bisa melihat apapun selain Lauren. Anak perempuan itu terlihat sangat mirip dengan Sehun, tapi memiliki mata indah milik Kai. Hanya dia saja, tapi aku tidak melihat Kai ataupun Sehun di masa depan" manik hitam milik Irene berubah menjadi merah menyala sesaat setelah ia mendeskripsikan apa yang di lihatnya.

"Laurenialeasqueen Mariana Gladwig, dia adalah putri dari Kai Nelson Gladwig dan Michelle Mariana Kerr. Setelahnya-" wanita cantik itu mengerjapkan matanya, mengembalikan manik kelam milik nya. "Gelap. Semuanya gelap, dan aku tidak bisa melihat apapun setelahnya. Maka dari itu, aku belum siap memberitahu semua ini pada para petinggi. Masa depan keduanya belum terlihat dengan pasti, aku hanya takut apa yang aku lihat ini membuat para petinggi ragu atau bahkan menolak terjadi nya pernihakan ini"

"Bukankah Michelle Mariana Kerr itu adalah nama yang Sehun pakai ketika dia tinggal di Austraria ?" Johnny menatap Wendy dan Irene bergantian.

Wendy mengangguk. "Itu adalah nama yang di berikan oleh nenek dari ibu nya, Sehun menggunakan marga milik ibunya ketika dia berada di Australia"

"Jadi, apa Lauren adalah putri yang akan Sehun lahirkan kelak ? Lalu bagaimana bisa Sehun dan Kai tidak ada di masa depan ?" Selena bertanya. "Kemungkinan Sehun tidak ada di masa depan, mungkin saja dia akan kehilangan nyawanya ketika proses melahirkan Lauren, tapi bagaimana dengan Kai ? Dia tidak akan mungkin mati, kecuali kalau dia meminta untuk di tidurkan lebih awal dari waktunya" manik merah milik gadis itu menatap Irene. "Apa tidak ada kejelasan apapun tentang hilangnya Sehun dan Kai di masa depan ? Lauren tidak akan mungkin lahir begitu saja tanpa memiliki orang tua kan ?"

"Tidak" Irene menggeleng. "Aku tidak bisa melihat apapun, bahkan ketika aku mencoba meramalkan kehidupan Sehun di masa depan, aku hanya bisa melihat Lauren, begitu juga dengan Kai. Aku sempat meramalkan tentang nya, tapi hasilnya sama, aku hanya bisa melihat Lauren, tidak dengan keduanya"

"Apa itu pertanda kalau pernikahan mereka sebenarnya tidak boleh di lakukan ?" Tanya Victoria hati hati.

"Tidak begitu" Ten tiba tiba saja muncul dan mendudukan dirinya di sebelah Selena.

"Ten, tidak bisakah muncul dengan cara normal ?" Desis Wendy membuat namja tampan itu terkekeh pelan.

"Well, ketika Irene tidak bisa melihat Kai dan Sehun di masa depan, itu bukan karena Kai atau Sehun benar benar hilang. Tapi ada sesuatu yang berubah dari mereka" Ten menyandarkan punggungnya disandaran kursi. "Aku tidak tau apa yang akan berubah, tapi jika Lauren benar benar terlahir sebagai putri dari Kai dan Sehun, maka ia akan terlahir dengan sesuatu yang istimewa" Ten tersenyum setengah menyeringai.

"Ketika seorang peramal hebat tak bisa melihat apa apa lagi setelahnya, maka hanya ada dua kemungkinan-"

"Lauren akan terlahir sebagai vampire darah campuran yang memiliki kemampuan luar biasa atau Lauren akan terlahir karena kutukan para petinggi" Ten menjeda ucapannya.

"Ketika kelak bila Sehun benar benar mengandung dan melahirkan tepat saat bulan purnama dan tepat saat paman William sedang dalam ritual tidur panjangnya, di tanggal yang sama dengan tanggal Kai di lahirkan, maka-"

"Itu artinya Lauren akan terlahir dengan kutukan para petinggi. Sesuatu hal buruk akan terjadi bila kita membiarkan Lauren hidup"

Hening-

Keadaan kembali hening sesaat setelah Ten menyelesaikan ucapannya. Semua orang yang berada di sana kini sibuk dengan pikirannya masing masing.

"Tapi bukankah belum tentu Lauren akan lahir di saat hari dimana paman William akan melakukan ritual tidur panjangnya ?" Kun kembali memulai pembicaraan yang sempat terhenti.

Ten mengangguk. "Yeah ... Karena apa yang Irene ramalkan tidaklah terlihat dengan jelas, yang Irene lihat hanya lah gadis kecil yang akan menjadi putri dari Kai dan Sehun, kita tidak tau kapan tepatnya Lauren akan lahir. Tapi ku harap semua akan baik baik saja"

"Rahasiakan semua ini dari Kai. Dia tidak boleh tau apapun tentang pembicaraan kita malam ini. Jangan beritahu Kai tentang Lauren, dan jangan libatkan Sehun dalam pembicaraan ini. Biarkan Kai yang akan menjelaskan semuanya pada Sehun nanti. Mengerti ?"

Semuanya menganggukan kepala sesaat setelah mendengar ucapan William.

.

.

.

To be continue

.

.

.

Otte ? Makin belibet dan gak jelas ya ceritanya ? Kkk maapin ya namanya juga author amatiran :v

Ah ya maaf kalo ini pendek, maaf banget ya Maaf.

Thanks buat para review, thanks buat sider juga.

Maaf ya lama update. Hehe

See you

Hann hunnie