"Naruto Jangan katakan nama itu di depanku. Lagi pula dia tidak akan tepat waktu untuk sampai disini. Lihat sa─"
"AAHHH AKHIRNYA AKU BISA LOLOS DENGAN MUDAH~"
Sakura menoleh. Membelalakan mata tak percaya.
'Kenapa Sasuke bi─'
"KENAPA KAU BISA MASUK?!" Pekik sakura lebih cepat dari suara batinnya.
.
Nii-san
.
"Nii-san" by Laila Elric
Naruto © Masashi Kishimoto
SasuSaku
Slight Romance NaruSaku
*Pair diatas adalah pair utama, walau kadang ada chapter dimana pair mereka jarang ditampilkan.
Pair lainnya mulai bermunculan disini.
Main Character Ch.2 : Sasuke
Rate : T
Genre : Family, Hurt/Comfort, Slice of Life, Romance, Friendship
Warning : AU, beberapa OOC, Typos, alur cerita lambat, etc.
.
I'm not a crack-pairing Lovers. I just one of Naruto Lovers.
.
CHAPTER 2 : I'm Not Okay
.
"Siapa yang tidak kenal seorang Sasuke Uchiha, AHO! Hal seperti ini mudah bagiku."
Sasuke menyombongkan diri. Sekujur tubuhnya basah bermandikan keringat. Kulit pemuda raven yang putih ini semakin terlihat pucat. Walau disembunyikan pun, Sasuke jelas terlihat masih berusaha menenangkan nafasnya yang terengah-engah.
"Kau menggunakan trik apa, huh? Dasar licik." Tanya Sakura memberi lirikan sinis kearah Sasuke.
"Hem hem." Senyum Sasuke penuh kecurigaan, "Aku melompati pagar."
Sasuke berkecak pinggang dan mendongakan kepala, tersenyum sombong. Kalau ini di sebuah animasi, sudah dipastikan hidung sasuke memanjang layaknya Pinokio.
"Heh, dasar kau bodoh." Naruto berkomentar.
"Hee." Mimik Sasuke berubah menatap tajam Naruto.
Kedua Onyx dan Sapphire mereka saling memberi hard stare membuat atmosfer disekeliling mereka berubah mencekam. Tatapan Sasuke seolah berkata 'tutup-saja-mulut-mu' dan Naruto seakan menatap mengerti arti dari tatapan Onxy tajam milik pemuda Raven tersebut.
"Cih. Naruto, ayo ke kelas. Kau akan sia-sia telah meluangkan waktu untukku saat sebelum bel masuk seperti sekarang hanya untuk pertunjukan konyol kakak beradik seperti dihadapanmu saat ini. Dan dimana tasmu?"
Sakura berdecih kesal, memercayai apa yang dikatakan sasuke. Ia tak sadar bahwa betapa tingginya gerbang Konoha IHS untuk di lompati. Wilayah Konoha IHS dikelilingi oleh dinding besar setinggi 5 meter, maka tak heran jika gerbang sekolah tersebut juga tinggi. Mereka bukan ninja yang dapat dengan mudah melompat tinggi kesana-kemari dari satu tempat ke tempat lain. Tapi berkat kekesalannya, Sakura berhasil mematahkan suasana mencekam di antara kedua lelaki jenjang itu.
"Aku sudah sampai disini dari tadi jadi aku meninggalkannya dikelas. Dan Sakura-chan, kau duluan saja. Ada yang harus kubicarakan dengan si Teme ini terlebih dahulu."
"Baiklah~" Sakura beralih membelakangi Sasuke dan Naruto dan berjalan masuk memasuki aula.
*Naruto POV*
Sasuke kehilangan keseimbangan sesaat setelah sakura meninggalkan mereka berdua. Aku dengan segera menahannya dengan meletakan tanganku kepundak Sasuke yang lebih rendah. Setelah ia mendapat kembali keseimbangannya, kulepas tanganku dari pundaknya. Tentu saja. Untuk apa aku berlama memegangnya. Aku normal.
"Kau tak apa? Wah, ada apa denganmu basah kuyup seperti itu, Sasuke."
"Kenapa? Aku tidak apa-apa." Ucap dingin sasuke memegangi keningnya.
Heh. Tentu saja ia tidak baik-baik saja. Bagaimana bisa untuk seukuran lelaki normal hanya dengan lari 100 meter bisa kelelahan sampai sebegitunya. Dan yang lebih bodohnya lagi, mengapa ia memilih alasan bodoh seperti 'aku melompati gerbang' dari sejuta alasan yang bisa ia pakai. Bisa saja ia menggunakan alasan menyuap Hidan atau semacamnya. Terlebih lagi Sakura-chan. Mengapa ia percaya kata-kata Sasuke dengan mudah padahal posisinya sedang tidak membelakangi gerbang. Membuat malu IQ-nya saja, bukan? Tapi bagiku lucu saat ia seperti itu. Terlihat bodoh namun menggemaskan.
"Hoo"
"Naruto. Ingat apa yang pernah ku katakan padamu? Jangan sampai Sakura tahu hal semacam tadi. Buat apa kau memperlihatan wajah itu sementara kau berada di dekatnya? Kau hanya─"
"Ya, ya, aku paham, Sialan. Aku hanya refleks tadi. Siapa sangka kau hampir tumbang di depan gerbang. Kau dan Sakura-chan adalah sahabatku, dan aku, mana bisa aku diam saja. Dan urusan Sakura-chan, serahkan padaku. 'Kau hanya perlu menjaganya', kan, yang ingin kau katakan. Kau tahu aku menyukainya jadi tanpa kau perintahkan pun itu akan kulakukan. Tapi kau yakin hari ini kau baik-baik saja? Rasanya lucu kau mengejar Sakura-chan saja hingga basah kuyup seperti ini. Ganti bajumu, kau akan masuk angin." Jelasku. Memang sudah menjadi sifatku seperti ini, apa yang ku pikirkan akan ku lontarkan dengan jelas.
"Baguslah kalau begitu. Itu akan sangat membantuku. Dan hari ini kau berisik seperti biasa. Menganggapku remeh?" Wajah pucatnya berlagak kuat, dingin seperti biasa.
"Lihat dirimu hari ini, Teme. Kau juga cerewet tak seperti biasanya."
"Heh" Sasuke menyeringai.
Kami memasuki aula. Sasuke menuju lantai tiga dan aku menuju lantai dua dimana kelasku berada. Aku menyusuri lorong kelas hingga akhirnya hampir sampai di kelasku. Kelas 1-A berada di sampingku saat ini. Aku melirik ke dalam kelas itu mencari sosok gadis bersurai pink yang ku kenal. Hingga kudapati dirinya sedang tertawa. Sengaja ku perlambat langkahku hanya untuk melihat senyum tawa gadis itu yang merekah di sekeliling teman-temannya. Entah sejak kapan melihat senyumnya menjadi hobi terbaruku saat ini. Kuharap senyum itu tak menghilang suatu saat nanti.
Lamunanku pecah seketika saat sosok yang kuperhatikan menyadari bahwa aku memerhatikan dirinya. Sosok itu berjalan menuju jendela semakin mendekat. Aku hanya menyeringai sembari manggaruk kepalaku yang tak gatal.
"Naruto. Apa yang kau lakukan? Sebentar lagi guru akan datang." Tanyanya di antara salah satu kusen besi jendela kelas yang berbentuk persegi cukup besar, tersusun memanjang di setiap koridornya.
"Kau tidak lihat aku sedang berjalan?" Ucapku beralasan payah.
"Hm.. Bukankah kau tadi sedang memperhatikanku? Ya, kan?" Kata Sakura-chan tersenyum menggoda, menurutku.
"Kalau memang itu yang terjadi, memangnya kenapa?" Kataku secara tak sadar. Ya. Aku keceplosan. 'Bodohhh! Mengapa aku mengatakan hal itu?', batinku ikut berucap.
Siapa sangka ternyata Sakura-chan tersipu. Yang kulihat, wajahnya memerah. Itu tersipu namanya, kan?
"Ap-Apa yang barusan k-kau katakan, Naruto?! HAHA pesonaku sepertinya meracunimu. HAHAHA kau aneh!" Sakura salah tingkah. Namun, hei! haruskah ada kata 'kau aneh' di akhir kalimatnya?
"Sakura-chan."
"Hm?" Jawabnya singkat.
Aku terdiam sesaat.
"Tidak. Tidak ada. Lupakan. Aku kekelas. Dah!~" Aku tak bisa mengucapkannya. Tidak untuk saat ini. Aku masih belum tahu mana yang lebih baik, memberi tahunya atau ia akan mengetahuinya sendiri suatu saat nanti.
Aku meninggalkannya menuju kelas. Sedangkan Sakura,
"Naruto no BAKA!" Teriaknya. Kepalaku terasa seperti tertindih kalimat 'BAKA'nya itu.
*Naruto POV End*
. . .
Pelajaran Kurenai-sensei sedang berlangsung. Kurenai menggeser tangannya kesana kemari di atas layar LCD transparan nan besar─papan tulis layar sentuh─di kelas Sasuke. Konoha IHS adalah sekolah berbasis teknologi. Nama International High School bukanlah sembarang gelar untuk sekolah ini. Di setiap kelas, papan tulis menggunakan LCD transparan agar mempermudah guru dalam kegiatan belajar mengajar. Tak dipungkiri pula sekolah ini memasang jaringan WiFi di setiap kelasnya. Media catatan yang digunakan murid adalah sebuah Tab touchscreen yang telah di sediakan. Tetapi tak sedikit juga murid yang masih menggunakan buku catatan, karena bagi mereka yang menggunakan buku sebagai catatan, itu dapat membuatnya terlihat lebih rajin. Naruto, Sakura dan Hinata adalah salah satu yang masih menggunakan buku catatan sebagai media pencatatan.
Sasuke tak bisa berkonsentrasi mencerna kata-kata sejarah yang di ajarkan selama pelajaran berlangsung. Pening di kepalanya menahannya untuk belajar saat itu. Ia tak kuasa mengangkat kepalanya yang terasa berat tertidur berselimutkan kedua tangannya di atas meja. Ia meringis kesakitan tiap kali kedua onyx berusaha mengintip di sela-sela tangannya hanya untuk melihat apa yang sedang di pelajari. Fokusnya buram.
"Sasuke-kun, tolong jelaskan detik-detik kejadian tentara Jepang menyerang pelabuhan Pearl Harbour dengan singkat di depan." Kurenai-sensei yang sedang memerhatikan LCD dan buku absensi kelas bertanya secara acak.
BRUK!
Para murid yang ada di dalamnya menoleh ke arah sumber suara. Kurenai-sensei menoleh kaget. Sasuke terjatuh dari kursinya dan kini tergeletak tak sadarkan diri di lantai membuat sekitarnya berantakan.
Pada waktu yang sama, Sakura di kelasnya tak sengaja membuat kotak pensilnya berhamburan keluar memecah ketenangan belajar. Sakura tidak tahu mengapa ia merasa perasaannya tidak tenang saat itu.
Kurenai-sensei menghampiri lalu mengangkat kepala Sasuke perlahan, menepuk-nepuk halus sebelah wajah pucatnya dan memanggil namanya berulang kali, bermaksud membangunkan namun sia-sia, Sang Raven tak kunjung sadar.
"Sasuke-kun! Sasuke-kun! Perwakilan siapapun, cepat bawa Sasuke ke ruang kesehatan segera!" Seru Kurenai-sensei tegas, cemas akan keadaan muridnya.
"Ahh.. Pingsan lagi." Kiba, teman sekelas dan salah satu sahabat Sasuke berkata malas seolah hal ini sudah biasa terjadi. Tetapi ia tetap membantu sahabatnya yang tengah tergolek lemah di pangkuan Kurenai-sensei.
"Kau ini. Selalu memaksakan diri padahal tahu sendiri bahwa kondisimu sedang tidak baik" Ucap malas salah seorang murid lagi, berambut hitam jabrik layaknya nanas, Shikamaru Nara, yang juga sahabat Sasuke. Ia membantu kiba merangkul Sasuke perlahan.
Murid lain terlihat cemas berdiri dari kursi mereka menyaksikan keadaan Sasuke. Mereka semua refleks ingin membatunya.
"S-S-Sasuke-kun! A-Aku akan membawakan tandu dari ruang kesehatan! Kiba! Shikamaru! Pastikan kalian menjaga Sasuke-kun ku! Siapapun yang mempunyai minyak penghangat, berikan untuk Sasuke-kun!" Ucap panik Karin, salah satu teman sekelas Sasuke yang menagguminya, sekaligus ketua Unit Kesehatan Sekolah Konoha IHS. Karin keluar kelas dengan segera.
Kiba dan Shikamaru yang telah merangkul Sasuke masih dalam posisi bertumpu pada lutut, saling bertemu pandang─bingung beberapa detik─lalu mengabaikan ucapan Karin. Mereka membawa Sasuke dan berjalan dengan hati-hati menuju pintu.
Karin yang telah kembali membawa tandu melewati pintu begitu saja tanpa menyadari Kiba dan Shikamaru berada di balik sisi pintu. Mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk lolos dari Karin yang super berlebihan menuju Ruang Kesehatan 3 yang hanya berjarak beberapa langkah melewati koridor.
Kenapa 3? Konoha IHS memiliki Ruang Kesehatan di setiap lantainya.
"Sasuke-kun! Aku telah membawakan tandu untuk─ Sasuke-kun?"
"Baru saja pergi." Ucap salah satu murid.
Di sekolah, Sasuke setahun yang lalu adalah pribadi yang baik, seorang periang diantara temannya─meski tak seriang Naruto─namun dingin diluar kelas, seorang dengan percaya diri yang tinggi namun ramah, hebat dalam segala hal, pelajaran maupun olahraga. Tak heran hampir semua pelajar Konoha IHS mengenal Sasuke Uchiha. Ia juga banyak di sukai para siswi karena parasnya yang tampan dan sikapnya yang dingin membuat luluh hati para wanita. Hingga pada suatu hari Sasuke berubah menjadi pribadi yang 'terlalu dingin' dan pemurung tetapi tetap tersenyum dan masih tetap bermain di antara teman-temannya. Ia juga jarang mengikuti pelajaran olahraga yang di gemarinya karena suatu hal. Hanya teman sekelasnya yang tahu bagaimana kondisi Sasuke saat ini hingga diluar kelas tak banyak yang tahu, juga karena suatu hal.
. . .
"Oi, Sai! Lama sekali kau ke toilet. Aku ingin meminjam catatanmu!" Pinta Naruto.
"Kenapa kau tidak ambil saja? Tabnya ada di loker kok." Sai berkata dengan tersenyum khasnya seperti biasa.
"Tidak ada sudah ku cari."
"Ah. Aku lupa. Itu ada di tasku." Mimik wajahnya berubah datar.
"Tidak ada, Sai. Ayolah aku serius!"
Sai merogoh-rogoh tubuhnya dan mendapati sesuatu.
"Ah. Ini." Ia menyodorkan Tab yang berada di tangannya.
"Kenapa itu berada disitu?" Naruto memicingkan mata. Iris Sapphirenya bergerak dari fokus Tab ke wajah pemuda berkulit putih pasi itu curiga.
"Aku lupa kalau aku membawanya tadi." Sai berucap seadanya.
"Ya sudah, ku pinjam." Naruto menyambar Tab yang berada di tangan Sai.
"Naruto. Sasuke-senpai teman terdekatmu bukan? Tadi aku melihatnya, ia di bopong ke ruang kesehatan saat aku keluar dari Toilet tig─" Sai terputus.
Naruto tanpa aba-aba berlari meninggalkan kelas.
.
Sasuke terbaring lemah di Ruang kesehatan. Jari tangannya bergerak petanda ia akan segera siuman. Alisnya berkedut sesaat, lalu perlahan mata Onyx nya mulai terbuka. Cahaya sekitar membuat iris Onyx Sang Raven harus sesegera mungkin menyesuaikan cahaya yang masuk sehingga ia merasa agak cukup silau. Sasuke melihat keatas masih dengan pandangan buram, melirik ke sekeliling ruangan, mengidentifikasi dimana ia berada saat ini.
"Dimana ak─"
"Ruang Kesehatan."
Potong seseorang. Sasuke melirik ke asal suara.
"Shikamaru.. kah?" Tanya Sasuke setengah sadar.
"Hn."
"Ah. Lagi-lagi.. Aku.. " Ucap Sasuke putus asa, memejamkan mata dan menaruh tangan kiri di atasnya.
"Apa pingsan menjadi hobi barumu saat ini, Sasuke?"
Sasuke membuka sedikit tangannya dari pandangan melihat sosok yang berbicara. "Kiba?!"
"Yo! Kau sudah bangun, kawan."
"Hn. Kau pikir ini yang aku inginkan, huh? Aku juga tidak mau seperti ini." Sasuke kembali memejamkan mata.
"Apa saat kekelas tadi dia mengganti seragamnya, Kiba?" Ucap Naruto tiba-tiba yang sedang berdiri bersandar ke dinding dengan kedua tangan di saku celana.
"Naruto? Kau disini juga rupanya." Sasuke melirik naruto setelah mendengar suaranya.
"Yah, dia datang dengan wajah pucat bermandikan keringat. Karin salah satu murid kelas kami sudah menyuruhnya tapi kau tahu sendiri, anak ini keras kepala. Jadi mungkin ia tak mengganti seragamnya. Dan, hei! Seharusnya kau memanggilku Senpai! Aku lebih tua 2 tahun darimu, tahu!"
"Tidak. Satu tahun. Tunggu. Kau bilang 2 tahun? Kau betul betul murid kelas 3, bukan anak akselerasi?"
"Tidak ada kelas akselerasi disini. Sekolah ini hanya menjalankan sistemnya yang dinamakan acceleration class, jadi seperti sasuke saat ini berbaur dengan anak-anak yang setahun lebih tua darinya, walau ada 2 orang murid akselerasi di kelas kami,sih. Kau bilang kau seumuran dengan Sasuke, seharusnya kau berada di kelas 2, mengapa kau malah kelas 1?"
"Itu tidak penting saat ini. Hei, Teme, bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Kono! Aku menjawab semua pertanyaanmu dan kau malah mengabaikan pertanyaanku, sialan." Kiba mendengus kesal mengepalkan tangannya erat-erat. Tentu hanya sebatas menahan kekesalan.
"Lumayan. Dan selama ini aku berpikir. Jika kalian berdua disatukan akan seperti apa jadinya, ternyata ini yang terjadi. Berisik." Kalimat pedas nan dingin Sasuke meluncur mantap.
"Damare, Sasuke!" Sergah Kiba dan Naruto bersamaan.
"Kiba, ayo kembali ke kelas! Aku bosan berlama-lama dengan bau antiseptik disini. Sasuke, istirahatlah!" Seru Shikamaru.
"Hn."
"Kau dengar Sasuke? Istirahatkan tubuh lemahmu itu. Kami juga ingin mengistirahatkan tubuh kami setelah membawamu berat-berat kesini." Ucap Kiba.
"Hn. Maaf merepotkan."
"Yo!~"
Kini hanya tinggal Naruto dan Sasuke yang berada di dalam Ruang kesehatan. Suasana canggung kerap kali membuat tak nyaman.
"Naruto."
"Hn?"
"Kau tidak mengatakan hal ini ke Sakura, kan?"
"Menurutmu?"
"Ntahlah. Menurutku tidak." Ucap sasuke. Suaranya merendah.
"Aku.. menyedihkan, ya."
Naruto terdiam. Kemudian tersenyum.
"Hei, ayolah! Apakah ini Sasuke menyebalkan yang ku kenal? Ini tidak lebih dari seorang pemurung!" Seringainya melebar memaksakan. Naruto hanya ingin menghilangkan suasana suram disekitarnya.
"Heh. Sepertinya aku memperlihatkan sisi menyedihkanku lagi untuk kesekian kalinya. Sial, aibku banyak sekali di kau." Sasuke tersenyum ikhlas tak ikhlas seraya menyembunyikan mata dibalik tangannya.
Sasuke Flashback ON
"Ayah..." Ucap Sasuke kecil berusia 8 tahun melirih ke hadapan Ayahnya.
"Sasuke, kau sudah bangun?" tanya seorang pria gagah yang mirip dengannya, Fugaku, Sang Ayah.
"Ini dimana, Yah?"
"Rumah sakit. Demam mu tinggi kemarin malam jadi aku membawamu ke dokter."
"Dimana Ibu?" Tanya bocah polos berambut pantat bebek tersebut.
Fugaku tak menjawab.
"Ibu sudah pulang?"
Fugaku memejamkan mata lamat-lamat, kesal.
"Sasuke, lupakan wanita itu. Ia tak peduli lagi terhadapmu, ia bahkan tak menjenguk anaknya yang sedang sakit. Dia telah melupakanmu. Dia tak peduli lagi padamu, Sasuke!" Seru Fugaku kesal karena Sasuke membahas soal Mikoto Sang−mantan−Istri.
"Tapi kata Ayah, Ibu pergi karena pekerjaannya. Sasuke ingin bertemu ibu, Yah!" pinta bocah polos itu agak memaksa, ia berkaca-kaca.
"SASUKE!" Bentak Fugaku.
Sasuke tersentak kaget Ayahnya membentaknya. Ia menangis. Ia berpikir, Ia hanya ingin bertemu ibunya kenapa ayahnya harus membentaknya. Apa ayahnya membencinya?
"A-Ayah... Hiks.. Ayah membenciku? Hiks.. Apa Sasuke salah bertanya tentang Ibu? Huee.." Tangisnya semakin menjadi. Sasuke mengambil bantal yang menjadi sandaran kepalanya untuk menutupi wajahnya yang sedang menangis.
Fugaku merasa bersalah telah membentak Sasuke. Perasaannya melihat tangis Sang Anak membuat hatinya terjepit.
"Ayah tidak membencimu, Nak. Maaf Ayah sudah membentakmu. Dengar Sasuke─"
"Fugaku, apa sasuke sudah sadar?" Tanya seorang wanita berambut oranye dengan gaya khas unik, menggandeng tangan seorang bocah kecil bersurai pink pendek dengan pita merah.
"Ah Mebuki. Iya Sasuke sudah bangun."
Sasuke mengintip dari sela bantalnya, melihat sesosok wanita tak dikenalnya berbicara akrab dengan Ayahnya.
"Siapa dia?" Tanyanya.
"Sasuke, bertanyalah dengan sopan. Baik, Ayah lanjutkan pembicaraan Ayah tadi. Dengarkan Ayah baik-baik, Sasuke"
Sasuke membenarkan posisi tidurnya, menyamping menghadap ayahnya. Tangannya ia pakai sebagai pengganti sandaran kepalanya.
"Sasuke. Ayah telah menceraikan ibumu seminggu yang lalu. Kau tahu, bercerai itu berarti memutuskan sebuah hubungan. Maaf. Maaf ayah tak mengatakannya padamu. Maafkan ayah.."
Sasuke awalnya tak berekspresi. Ia mencoba tersenyum. Ia mengubah posisinya, duduk menatap ayahnya dengan tersenyum. Tetapi air matanya tak bisa menipu.
"Haha ha... Memutuskan hubungan berarti Ibu bukan Ibu sasuke lagi, Yah? Ap-Apa Ibu menyakitimu, Yah? Haha tak apa. Kalau memang Ibu menyakiti Ayah, Sasuke akan terima. Karena selalu Ayah yang ada di sisi Sasuke, bukan Ibu." Sasuke tersenyum.
Ya, tersenyum. Tetapi dengan berlinang air mata. Wajah mungilnya berekspresi menahan tangis sekuat yang ia bisa. Ia tak kuasa menahan tangis bukan karena harus merelakan Ibu yang di cintainya. Tapi membayangkan Ayahnya yang selama ini mengurus Sasuke seorang diri yang seharusnya itu adalah tugas seorang ibu, Ayahnya telah menjadi Ibu dan Ayah sekaligus untuk Sasuke selama setahun.
Sasuke kecil teringat setahun yang lalu sosok Ibunya. Mikoto bukanlah sosok lemah lembut seperti layaknya seorang ibu pada anaknya.
.
"Ibu! Ibu! Lihat. Sasuke berhasil menjadi peringkat 2" Senyum mengembang Sasuke sembari memperlihatkan hasil test ujian sekolahnya.
"Dasar anak bodoh! Kau seharusnya bisa menjadi peringkat satu, bukan 2! Itu belum cukup!" Mikoto menghampas selembar kertas yang Sasuke pegang dengan kasar sehingga membuat Sasuke terjatuh.
"Ah.. Sakit Bu!"
"Kau bocah lemah! Fugaku! Aku tidak sudi bisa melahirkan anak lemah seperti ini! Dari dulu seharusnya aku tak menikah denganmu kalau tahu aku akan melahirkan anak selemah ini!"
Sasuke hanya menangis. Hatinya sakit.
"Mikoto! Jangan bicara seperti itu di depan Sasuke! Dia anakmu!"
Mikoto adalah Uchiha dengan keturunan di garis keluarga yang lebih tinggi. Sedangkan Fugaku hanya Uchiha di keturunan lebih rendah satu garis di bawah Mikoto─Meski saat ini Fugaku berada di garis tertinggi. Keluarga Uchiha menggunakan sistem tahta. Tahta terendah dinamakan Sessei. Tahta diatasnya Kibou. Tahta kedua tertinggi Shinnen. Dan tahtah tertinggi adalah Shinchou. Mikoto salah satu di garis keturunan Shinchou dan Fugaku Shinnen. Tetapi salah satu garis apapun di keturunan Uchiha dapat naik tahta jikalau ada salah satu anggota digaris manapun dapat membanggakan dan membangun nama baik keluarga Uchiha, pernikahan pun menjadi faktor utama kenaikan tahta tersebut.
Sasuke yang mendengar keributan itu hanya bisa menangis sekeras-kerasnya.
"Berisik! Dasar bocah lemah! Aku tak sudi menyebutnya anakku. Sudahlah! Aku pergi dari rumah ini!" Seru Mikoto seraya pergi kekamar bergegas membereskan pakaiannya ke dalam koper.
"Mikoto!" Mikoto tak menjawab, sibuk memasukkan pakaiannya kedalam koper.
"Mikoto!"
"Mikoto! Tunggu! Apa yang kau lakukan?!" Seru Fugaku Menahan Mikoto setelah beberapa menit Mikoto selesai mempacking pakaiannya.
"Aku pergi!"
BRAK!
Mikoto menutup pintu dengan keras.
Degh!
Sasuke merasakan getaran hebat dikepalanya. Pandangannya buram namun fokus secara bergantian. Si bocah raven itu terjatuh, lututnya dengan keras melawan pijakannya karena kakinya terlalu lemas untuk berdiri. Ia refleks memegang kepalanya dengan kasar.
"Arhh... Kepalaku sakit, yah, Ahh!" Erang Sasuke kesakitan memegangi kepalanya kuat-kuat sesaat setelah Mikoto pergi.
"Sasuke, kau tak apa?!" Tanya Fugaku panik. Sasuke tetap memegangi kepalanya.
"Ayahh.. Hiks, mengapa ibu pergi?" Tanya Sasuke setelah dirinya merasa cukup baik.
"Jangan khawatir sasuke, ia hanya pergi keluar kota karena pekerjaannya. Kau tak perlu khawatir, ayah disini!" Kata Fugaku menenangkan sasuke dengan memeluk bocah yang sedang menangis itu dan mengelus-elus kepalanya.
.
Fugaku melihat cemas dengan tatapan berkaca-kaca.
"Sasuke. Ayah tak apa sekarang. Kau lihat wanita di depan pintu itu, yang tersenyum ke arah mu? Mulai sekarang panggilah dia Ibu. Ia akan menjadi ibu yang baik untukmu. Namanya Mebuki Haruno. Ayah akan menikahinya dan membuatnya menjadi keluarga Uchiha. Aku yakin kau akan menyukainya seperti ayah yang menyayanginya."
Sasuke menatap sinis dan cemberut pada wanita itu. Wanita itu hanya membalasnya dengan senyum ramah. Sasuke menegap kaget melihat senyumnya dan ia tersipu. Sasuke merasa ia menyukai senyum ramah wanita tersebut. Hangat dan nyaman. Tak lama, fokusnya teralih kepada seseorang yang ia gandeng, tersenyum kepadanya. Sasuke memperhatikan setiap gerak gerik anak itu. Anak itu melepas pegangan tangan ibunya, kemudian menatap Sasuke dengan wajah polos. Sasuke bingung sesaat. Si gadis kecil kemudian berjalan mendekati Sasuke. Sampailah di hadapan Sang Raven kecil.
"Nii-san, cepat sembuh ya!" Gadis itu tersenyum lebar dengan mata tertutup─layaknya karakter anime tersenyum bahagia─, ia memegang tangan Sasuke bermaksud membuatnya nyaman.
"Jangan menangis." Lanjut si gadis kecil bersurai sakura itu dengan mimik polosnya.
Mata Sasuke melebar, ia tergidik. Wajahnya tersipu malu. "A-Aku tidak menangis sekarang! Bwek!"
Sakura tersentak kaget melihat perlakuan Sasuke terhadapnya. Matanya berkaca-kaca.
"Nii-san JELEK! JAHAT! Ibuuu.." Sakura menangis berlari ke arah Sang Ibu. Mebuki hanya menghela nafas pasrah, tersenyum mengelus rambut Sakura yang sedang memeluk dan menagis di balik bajunya. Sedangkan Sasuke saat itu terlihat salah tingkah.
"Nii-san hanya bercanda Sakura. Lihat. Dia sedang bingung sekarang melihatmu menangis. Jangan menangis dong, Sakura bilang padanya untuk jangan menangis kenapa malah Sakura yang sekarang menangis?" Ucap mebuki tersenyum, sembari mengelus-elus helaian surai pink anak itu.
Sakura mengusap kasar airmatanya dengan kedua tangan mungilnya. Lalu kembali menhampiri Sasuke yang masih salah tingkah, kebingungan apa yang harus ia lakukan. Sasuke canggung dihadapan Sakura.
"A-Aku... Ano... Eto.. Gomen!" Sasuke menundukkan kepalanya. Sakura tersenyum, mengelus kepala Sasuke yang akhirnya dapat ia capai.
Iris sasuke melebar. Ia senang dapat merasakan kembali tangan seseorang yang mengelus kepalanya. Terlebih lagi seorang perempuan, biasanya ia hanya menerima elusan Sang Ayah. Jadi saat itu, itu mengingatkan dirinya akan elusan lembut seorang Ibu.
"Namamu! Siapa namamu?" Tanyanya tegas menegakkan kepalanya menatap yakin gadis yang ada di hadapannya.
"Aku, Sakura!" Jawabnya mantap dengan melayangkan sebuah senyuman.
Fugaku dan Mebuki hanya tersenyum dari kejauhan melihat keakraban kedua anaknya yang baru saja saling bertemu.
Seminggu kemudian setelah hari pertemuan Sasuke dan Sakura, kedua orang tua mereka, Fugaku dan Mebuki akhirnya menikah dan semua berjalan lancar dan bahagia. Namun keakraban hubungan adik-kakak hanya sebatas mereka kecil. Semakin mereka tumbuh, ego mereka ikut tumbuh menjadi labil. Memasuki SMP hubungan mereka merangkak semakin menjauh dari kata keakraban.
Sasuke Flashback OFF.
. . .
Sasuke terbangun. Ia ketiduran di ruang kesehatan. Setelah merasa agak baikan, Sasuke berniat kembali ke kelasnya. Naruto sudah sedaritadi kembali ke kelas saat jam Istirahat pertama. Perutnya tak kuasa menahan keributan paska konser yang ada di dalamnya─lapar. Sasuke masih merasakan sedikit pening di kepalanya, tapi sudah lebih baik daripada yang ia rasakan dikelas sebelumnya.
Sasuke berjalan mendekati pintu ruang kesehatan dengan gayanya yang tenang. Saat akan membuka pintu─bermaksud keluar, secara bersamaan, Kurenai-sensei juga sedang memegang engsel pintu di sisi baliknya. Kedua iris hitam dan merah mereka membesar, kaget sementara. Mereka saling menatap tanpa satu katapun terucap. Fungsi otak sepertinya sedang mengidentifikasi apa yang sedang terjadi. Tentu tak sampai hitungan 5 detik, Kurenai-sensei tersenyum.
"Oh, Kau sudah bangun, Sasuke-kun?" tanyanya.
"Ah, Kurenai-sensei. Maaf sebelumnya saat pelajaranmu berlangsung aku tak memperhatikanmu. Dan maaf juga sepertinya aku telah merepotkanmu tadi..." Ucap rendah Sasuke bermimik tenang seperti biasa walau nada bicaranya merendah.
"Awalnya, aku memang kaget melihat muridku tak sadarkan diri tiba-tiba. Tapi sekarang itu tidak penting. Kau sudah baikan?"
"Iya aku merasa lebih baik sekarang."
"Kau ingin kembali ke kelas, Sasuke? Kenapa kau tidak izin pulang cepat dan beristirahat dirumah?"
"Hm. Ng, Ntahlah. Sepertinya aku tidak bisa."
"Kau lebih baik istirahat untuk saat ini."
"Baiklah. Aku akan pulang cepat untuk hari ini. Aku kembali ke kelas dulu. Terimakasih untuk segalanyanya, Kurenai-sensei." Sasuke membungkuk sopan, lalu hendak berjalan keluar.
"Sasuke-kun, sebentar!" Langkahnya terhenti. "Ya?"
"Saat kau berada di ruang kesehatan tadi, aku bertanya pada anak-anak. Mereka bilang kau sudah sering pingsan seperti ini. Apa tubuhmu tak apa? Apa mungkin... Kau memiliki sebuah penyakit atau.. semacamnya?" Tanya Kurenai hati-hati. Tak ingin menyinggung perasaan Sasuke.
"Hmm.." Sasuke berhenti sejenak, "Ya. Aku punya." Lanjut Sasuke menatap Kurenai serius.
Sasuke menceritakan semua apa yang terjadi padanya dan bagaimana kondisinya. Kurenai yang mendengarkan berwajah cemas menerima apa yang dikatakan remaja bersurai raven itu.
"Aku sudah menjelaskan semuanya. Kupikir percuma untuk menyembunyikannya ke para sensei. Aku takut malah membuat mereka bingung jika tiba-tiba aku terjatuh. Tapi karena kau telah mendengar semuanya, aku mohon agar kau tetap memperlakukanku seperti murid yang lainnya. Jangan memperlakukanku seperti orang lemah yang tak bisa apa-apa. Tolong jangan khawatir dan terlihat cemas kepadaku di hadapan murid lainnya. Hanya perlakukan aku layaknya murid sehat. Aku tak butuh di kasihani."
Kurenai hanya mendengarkan tanpa berucap sepatah kata pun. Ia memejamkan matanya dengan tersenyum dan berkata,
"Aku mengerti. Aku bukanlah sosok guru yang pilih-pilih. Kau tahu seorang Kurenai-sensei seperti apa, bukan? Lagi pula.. Hei anak muda, aku tak akan memperlakukanmu istimewa layaknya seorang pangeran di jam pelajaranku. Dan aku tahu kau akan benci di kasihani. Tenang saja." Jelas Kurenai dengan tersenyum dan menepuk pundak sang raven.
Mendengar ucapannya, Sasuke tersenyum lega.
"Terima kasih, Kurenai-sensei." Lalu melangkah keluar ruangan.
. . .
Sasuke dengan membungkus kedua tangannya di saku celana berjalan menyusuri lorong lantai tiga, menuju ke kelasnya. Saat ini sedang Istirahat ke-2. Pelajar Konoha IHS berhamburan keluar kelas. Sasuke terus mendapati dirinya menjadi sorotan para siswi. Telinganya terus mendapat panggilan-panggilan "Sasuke-kunnn" dari banyak orang yang memanggi namanya. Ia hanya membalasnya dengan sekedar tersenyum lalu mengabaikannya. Mata onyxnya menangkap sosok yang ia kenal sebagai adiknya. Ia sedang berjalan bersama gadis bersurai indigo di sampingnya. Sakura dan Sasuke berpapasan. Iris emerald dan iris onyx mereka saling bertemu. Sasuke merendah─yang seolah─memperlihatkan wajah malasnya ke arah Sakura.
Bwek!
Sasuke menjilirkan lidah tanpa alasan ke arahnya.
Sakura mengkerutkan dahinya sentak bingung. Tiba-tiba ia mendapat ledekan tak beralasan darinya. Sakura memicingkan mata kesal memelototi sang raven. Namun pemuda itu mengabaikan tatapan tajam Sakura dan terus berjalan melewatinya.
*Sakura POV*
Aku dan Hinata di beri tugas oleh Kakashi-sensei mengambil sesuatu di ruang koperasi yang terletak di lantai tiga. Dengan malas aku menuruti perintahnya. Mataku mengedarkan pandangan menyusuri seisi koridor lantai 3 setelah aku dan Hinata mengambil─membeli menggunakan uang Kakashi-sensei─tumpukan kertas HVS yang masih baru untuk dijadikan tugas.
Lantai ini cukup luas. Kelas 3 hanya ada 6 ruang, sama seperti kelas 1 dan 2. Ntah apa yang kupikirkan, aku terus melihat deretan kelas 3 dari 3-A sampai 3-F mencari sesuatu tak pasti. Mencari Sasuke? Tidak. Mana mungkin... Itu pikirku. Tapi memang mungkin aku mencarinya, karena lama-lama aku penasaran dimana kelasnya. Dari awal aku masuk ke Konoha IHS, aku masih belum mengetahui dimana kelas Sasuke berada. Padahal seisi sekolah pasti mengenal yang namanya Sasuke Uchiha.
Dengan benci ku akui, aku ikut-ikutan menjadi sorotan publik hanya karna aku seorang adik dari Sasuke Uchiha. Yah, walaupun bukan hanya karena itu. Aku masuk ke dalam sebuah organisasi yang di sebut OSIS, dan aku terkenal di dalamnya. Padahal baru kelas 1, tapi pusat tertuju padaku. Aku bukannya sombong. Terkadang itu malah membuatku risih dan itu merepotkan. Aku direkrut paksa oleh Kiba-senpai hanya karena ia kenal namaku sebagai perwakilan siswa baru untuk berpidato─bahkan aku tidak berpidato sama sekali─ saat upacara upacara penerimaan murid baru dan juga aku adalah salah satu sahabat Hinata. Percaya atau tidak, Kiba-senpai adalah ketua OSIS Konoha IHS. Tampangnya mungkin cukup tidak meyakinkan bahwa ia adalah ketua OSIS, awalnya. Namun setelah aku masuk organisasi tersebut, itu telah membuktikan bahwa ia cukup tegas dan berwibawa sebagai seorang pemimpin. Walau sesungguhnya ia agak cukup melenceng.
Hinata akrab dengan Kiba-senpai karena suatu kejadian. Hihi, aku lucu saat mendengar cerita hinata tentangnya. Kiba-senpai adalah sang penolong seorang Hinata yang hampir tertabrak mobil. Dan disitulah hinata selalu mengagumi Kiba-senpai─atau mungkin lebih dari sekedar mengagumi.
"Oh, Hinata!" Seru seseorang yang baru saja ku jelaskan kepribadiannya keluar dari kelas 3-A. Kiba-senpai.
"Dan Sakura!" serunya telat. Mungkin jika aku berjalan bersama Hinata, karismaku berkurang dan berpindah pusat ke Hinata.
"Ki-Kiba-senpai!" Jawab hinata terbata.
"Hei sudah kubilang jangan panggil aku senpai. Panggil saja Kiba-kun HEHE." Godanya.
Tch, ini salah satu sifatnya mengapa kubilang ia terkadang melenceng. Hinata tersipu dengan kata menjijikkan Kiba-senpai. Oh, ayolah Hinata. Itu bukannya memalukan?
"Kau menjijikkan, Kiba-senpai!" seruku.
"S-Sakura!" teriak pelan Hinata menandakan aku harus sopan terhadapnya. Tapi siapa yang tidak menuruti Hinata jika ia membentak dengan wajah polos dan cantik sepertinya.
"Ha'i. Ha'i~."
"Hahaha gomen~. Omong-omong Sakura. Hari ini Sasuke habis saja berulah." Kata Kiba-senpai tanpa menatap wajahku, berdiri bersandar di kusen pintu kelasnya dengan kaki menyilang.
"Sasuke?" Tanyaku heran. Sasuke berulah? Bukankah dia anak kebanggaan Konoha IHS? Apa maksudnya berulah? Dan saat itu juga, aku telah mengetahui dimana kelas Sasuke berada. 3-A. Ternyata Sasuke berada di kelas unggulan.
"Ah, itu tidak penting sekarang. Hei, Hinata, kau habis dari mana?" Katanya mengalihkan pembicaraan. Aku tidak terlalu memikirkan perkataan Kiba-senpai sebelumnya.
"Aku diberi tugas dengan Sakura oleh Kakashi-sensei. Nih, membawakan ini kepadanya." Jawab Hinata seraya menyodorkan tumpukan HVS baru yang dibawanya bermaksud menunjukkan.
"Sini kubawakan." Tawar Kiba-senpai.
"Ti-tidak usah, K-Kiba-kun. Aku bisa membawanya sendiri, kok." katanya sungkan. Kiba hanya menghela nafas pasrah.
Hinata ini. Ini kesempatanmu, bodoh.
"Hee~ Bukankan kau ribut ber─ Aw!" kataku terpotong. Aku ingin mengatakan 'bukankah kau ribut berat dan mengomel sendiri tentang Kakashi-senpai' tetapi terhenti karena kakiku di injak tidak main-main oleh Hinata. Itu sakit. Sungguh.
"Apa yang kau─" kalimatku terhenti lagi karena Hinata menarik lenganku menjauh.
"Ahaha, b-b-bukan apa-apa kok, Kiba-kun. Dah!" Teriak Hinata sambil berjalan menengok ke Kiba-senpai dengan menarik lenganku dengan tangan kosongnya.
"Kau ini kenapa, sih, Hinata? Itu kan kesempatanmu!" Aku sendiri malah geregetan tak tahan melihat sahabatku ini yang kurang percaya diri.
"Aku malu, Sakura~" Kata gadis bersurai indigo itu menundukkan kepalanya.
"Haduh, kau ini." Kataku malas.
"Ka-Kau sendiri, bagaimana dengan Naruto. Kau pikir aku tidak mendengarmu tadi pagi. Mengapa kau gagap berbicara ke Naruto? Aku mendengarnya loh." Kata Hinata dengan muka meledek.
Aku memanas. Aku tak tahu bagaimana wajahku saat ini.
"It-Itu.. I-Itu bukan apa-apa kok, sungguh! Naruto hanya meledekku dan aku kesal, ucapanku jadi tidak benar deh.. Ahaha." Jawabku memelas.
"Hee.. Mengapa kau jadi gagap saat ini, Sakura?" Lirik Hinata penuh curiga.
"Eto.. Itu karena aku ketularan kamu, tahu!"
Hinata mendengus kesal. Namun kemudian tertawa. Entah apa yang lucu, kami tertawa.
Tapi tak lama, aku mendengar suara para siswi memanggil nama orang yang aku tahu berulang kali. Kuperhatikan siswi-siswi ini semuanya melihat ke satu arah yang sama sambil memanggil 'Sasuke-kun'. Berisik. Tunggu.. Sasuke? Mataku mencari mengikuti arah yang di lihat salah satu siswi. Kemudian terhenti saat melihat sosok yang sepertinya ku kenal. Itu Sasuke. Sepertinya ia dari suatu tempat.
Mata kami bertemu, namun tak mengucap sepatah katapun. Ia merendah memperlihatkan wajah malasnya padaku. Aku membuang muka. Namun tiba-tiba,
Bwek!
Terlihat dari pandanganku detik-detik aku membuang muka, Sasuke menjilirkan lidah tanpa alasan ke arahku.
Hah?
Aku bingung. Dengan tiba-tibanya ia memberikan ledekan tak beralasan. Aku bingung sekaligus kesal. Aku memberikan glare death yang tak mempan karena ia melewatiku begitu saja bak angin berlalu. Aku mendengus kesal. Aku melihatnya kesal dari balik punggungnya. Tapi kekesalanku sedikit memudar perlahan. Aku melihat punggungnya. Ia berjalan melewatiku begitu saja. Ia tak menoleh ke arahku. Dari belakang, aku menyadarinya. Ia tinggi, tegap, dan pundaknya cukup besar, seperti lelaki. Selama ini akulah yang berada paling dekat dengannya, di rumah dan di mobil bersamanya, tapi aku tak menyadarinya.
'Sakura.'
Aku melihat punggungnya. Seketika perasaanku merasa ia pergi menjauh.
'Sakura!'
Aku ingin menghampirinya dan menjitaknya. Tapi aku tak bisa mencapainya.
"Sakura!" Teriak Hinata memecah lamunanku. Aku tersentak.
"Ah, Hinata. Maaf hehe. Kau mengatakan sesuatu tadi?" Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal dengan sebelah tangan.
"Sakura. Ada apa denganmu? Aku memanggilmu berulang kali, kau tahu? Kau sedang memikirkan apa, Sakura? Aku tadi bertanya, mengapa wajah Sasuke-senpai pucat? Dia sakit?"
"Tidak. Bukan apa-apa. Hm.. Benarkah? Aku tidak tahu. Aku tidak memerhatikannya." Aku memeratikannya. Tentu. Baru kali ini aku menyadari mimik wajahnya.
Ayo kembali ke kelas, Hinata."
*Sakura POV End*
. . .
Sekolah Usai. Sakura memasuki mobil jemputannya yang telah menunggu. Setelah Ia masuk, Pak Hayate langsung menyalakan gasnya.
"Dimana Sasuke?" Tanya Sakura heran.
"Dia pulang lebih cepat tadi, Nona Sakura." Jawabnya santai, kantung mata tebalnya semakin mendukung ekspresi santainya itu.
"Pulang Cepat?"
Mobil yang ia tumpangi pun melaju dengan kecepatan normal, pulang menuju ke kediaman Uchiha.
.
.
~ TO BE CONTINUED ~
.
.
.
Author Note :
Huft, chapter 2 End. Word bertambah 2k.-. #okegapenting.
Heavenblue: ahaha kok tahu aku jarang berinteraksi dengan author-senpaitachi? hehe sejujurnya aku juga jarang mereview orang. tapi ini pelajaran buatku. mendapat review dari seseorang benar-benar bikin seneng ya.-. mungkin itu ya rasanya seneng dapet review. terimakasih atas kesan dan kritiknya^^
siskap906: Yap! kita sama-sama belajar wkwk.
YuraLa: terimakasih sarannya dan terimakasih banyak reviewnya, yurala-san^^. btw, pairnya akan kuat di akhir akhir mungkin hehe..
rezkihidayati1: terima kasih sarannya dan terimakasih reviewnya. chap 2 Up :)
Arinamour036: di awal sakura memang sosok yang cuek. alur cerita ini lambat, maaf hehe. terimakasih banyak saran dan reviewnya:)
Mohon kritik dan saran
Lanjut?
Review kalian akan sangan membantu :)
