"Haaa udaranya segar!" Teriak Sakura menarik kedua tangannya ke atas udara seakan melepas semua beban pikiran yang ada tubuhnya.
"Kau seperti orang tua saja, Sakura." Ucap gadis bersurai indigo tersenyum manis namun meledek, dengan kedua tangannya yang memegang sebuah bola voli.
Sinar matahari siang menjelang sore yang seolah tak menunjukan teriknya ke penjuru dunia bagian timur itu menjadi saat terbaik untuk berjemur. Hanya cahaya kuning keemasan dari Sang mentari di ambang cakrawala yang tampil serta langit biru yang membentang luas tak berujung seakan menyadarkan kita betapa luasnya dunia. Semilir angin yang berhembus kian menerpa para pengunjung yang melepas lelah. Debur ombak bergemuruh, menyapu setiap sisian pantai yang terhampar. Ya, pantai.
Liburan musim panas adalah saat bahagia bagi sebagian besar pelajar di seluruh dunia, tak terkecuali pelajar Konoha IHS yang sedang menikmati liburan─kurang─panjangnya yang hanya tersisa dua hari.
.
Nii-san
.
"Nii-san" by Laila Elric
Naruto © Masashi Kishimoto
SasuSaku
Slight Romance NaruSaku
*Pair diatas adalah pair utama, walau kadang ada di chapter pair mereka jarang ditampilkan.
KibaHina? ShikaTema?
Rate : T
Genre : Family, Hurt/Comfort, Slice of Life, Romance, Friendship
Warning : AU, beberapa OOC, Typos, alur cerita lambat, etc.
Sistem liburan di chapter ini hasil imajinasiku sendiri, dan tidak mengikuti sistem di jepang.
.
I'm not a crack-pairing Lovers. I just one of Naruto Lovers.
.
CHAPTER 3 : What's Wrong?
.
Tapakan kaki beradu halus di pijakan pasir putih yang terpampang luas. Teriakan dan tawa gurih kian meramaikan suasana yang tergabung dalam desau angin lembut yang berhembus. Suara pantulan keras yang ditimbulkan menjatuhkan benda bulat itu dengan kuat hingga menembus pasir putih yang terdiam.
"Naruto! Kau payah! Tangkap dengan benar!" Pekik seorang dengan surai pinknya yang tertiup angin kepada seseorang bersurai pirang yang sedang mengambil bola yang jatuh.
"Kau tahu, menangkapnya itu susah! Sini, biar aku saja yang service. Lihatlah baik-baik kalian semua, pukulan super ala Naruto Uzumaki!" Teriak pemuda dengan manik sapphirenya yang membara. Bersiap di posisi, berancang-ancang seakan ingin menyerang, memperlihatkan wajah bagaikan anak kecil yang tak mau kalah.
Sementara itu, dengan berbatas net yang memisahkan kedua sisi, di sisi lain,
"Heh, Hinata. Serahkan ini padaku! Kau berjaga di bagian belakang. Akan kupastikan aku menangkapnya!" Seringai penuh percaya diri dari pemuda bersurai coklat. Bersiap menerima pukulan.
"Hmph, Kiba-kun! Jangan kalah!" Angguk mantap gadis bermanik Lavender mempercayai lelaki yang memunggunginya di hadapannya.
Naruto bersiap di posisi melangkah menghadap jaring. Kemudian ia melambungkan bola lurus keatas menggunakan tangan kirinya yang sekiranya kurang dari 60 cm diatas depan kepalanya dengan pandangan fokus yang dipusatkan pada bola. Ia mengayunkan lengan kanan dari belakang ke atas, ancang-ancang memukul sepersekian detik sebelum bola terjatuh, kemudian kedepan secara serentak dan memukulnya dengan telapak tangan kuat-kuat, di ikuti langkahan kaki yang berada dibelakang akibat refleks gerakan memukul.
Bola itu melambung jauh di atas jaring ke sisi lawannya. Remaja yang berada di sebrangnya mendongak keatas memperkirakan dimana letak bola akan jatuh. Pandangan Kiba tak kunjung melepaskan fokus bola yang melambung tinggi diatasnya. Ia terus mundur dan mundur agar bagaimana caranya ia dapat membalas pukulan bola tersebut. Namun, kakinya yang tak kuat menahan pijakan lembut membuatnya kehilangan keseimbangan dan ia bahkan lupa bahwa ada seseorang dibelakangnya. Kemudian,
BRUK!
"Hinata! Kiba-senpai!"
"Kiba! Hinata!"
Seru Sakura dan Naruto bersamaan. Mereka menghampiri sepasang lawan bermainnya untuk memeriksa apakah mereka baik-baik saja. Namun langkah mereka terhenti.
"Ups."
.
Kiba yang terus memejamkan matanya saat terjatuh kini terbuka. Telapak tangan kanannya secara tak sadar menahan lengannya agar tubuhnya tidak menimpa objek yang ada dibawahnya.
"Itte.. te.. itte..." Lirih Kiba kesakitan.
Kiba terbelalak. Kini jelas terlihat objek apa yang berada di bawahnya. Dengan posisi yang tidak menyenenangkan ia sadar betapa dekat wajahnya dengan wajah sang pemilik manik lavender di bawahnya. Dan ia sadar sedang dalam posisi seperti apa ia saat ini, posisi di saat laki-laki sedang berada di atas tubuh seorang wanita yang terbaring.
Si pemilik manik lavender itu masih memejamkan matanya. Saat terbuka, otaknya masih mengirim peristiwa yang telah terekam oleh pupil lavendernya menuju otak untuk menyampaikan apa yang telah dan sedang terjadi. Maka saat tersadar sepenuhnya, Hinata tak bisa menahan panas yang ada di pikirannya dan wajahnya pun memerah. Hanya berjarak beberapa centi wajah mereka bertemu, bahkan batang hidung Kiba telah menyentuh hidung Hinata. Nafas mereka saling berderu. Detak Jantung hinata beradu cepat padahal ia sedang tidak berlari.
Kiba sadar apa yang telah terjadi, namun insting lelakinya membuatnya tak benar-benar sadar. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah manis gadis bersurai indigo tersebut lebih dekat. Kiba memejamkan matanya dan mulai merunduk semakin dekat. Hinata merasakan deru nafas panas yang ditimbulkan Kiba. Sangat dekat. Hinata memejamkan matanya tak berani melihat.
"K-K-Kiba-kun!" Kedua tangan gadis itu memegang pundak Kiba dan membuat Kiba tersadar. Ia tersentak dan menjauhkan dirinya segera dari tubuh Hinata.
"H-Hi-Hinata! Ahaha go-gomen! Kau baik-baik saja, Hinata? T-Tidak ada yang sakit?" Kiba terbata, salah tingkah atas tindakan apa yang hampir ia lakukan.
"A-Ah yaa, aku tidak apa-apa." Jawab Hinata dengan wajah bagaikan tomat segar yang baru saja panen.
.
"Ehem. Tuan dan Nona. Anda tahu ini di tempat umum bukan?" Ledek lelaki berambut kuning yang sudah berada di belakang mereka berdua.
"Hei, Kiba-senpai! Apa yang kau lakukan terhadap Hinata, huh?" Seru Sakura dibelakang Naruto yang telah siap mengepalkan tangannya.
"Ano... Ka-kau tahu, kan, Ini adalah sebuah kecelakaan. A-Aku belum melakukan apapun. Sungguh!" Dengan panik Kiba menjelaskan.
"Hee~" Goda Naruto paham akan ucapan Kiba.
"Belum? Berarti tadi kau akan melakukannya?!" Tanya Sakura penuh maksud dengan menekan nada di kata 'akan' sangat jelas.
"Y-ya itu.. Eto.." Kiba tak bisa berkata apa-apa karena sesungguhnya itulah yang terjadi.
"Aku melihat semuanya dengan jelas, Kiba~" Seru seseorang tiba-tiba dengan gayanya yang malas, terduduk silang di pasir dengan telapak tangannya yang menopang pipinya, tidak lain teman dekat Kiba, Shikamaru.
"Sayang, jangan menggoda mereka. Tetapi kami berdua memang melihatnya sih.." Goda seseorang terhadap Kiba dan Hinata sambil tertawa. Ia adalah seorang kekasih Shikamaru.
"Shikamaru─Kau! Temari-san tolong jangan ikut-ikut."
Kiba memerah, dan Hinata terdiam menahan malu. Mereka salah tingkah. Sedangkan Shikamaru hanya memberi seringai ringan dan Temari tertawa.
"S-sakura, sudahlah. Aku tak apa-apa sekarang." Jelas Hinata yang refleks di bantu berdiri oleh Sakura.
"Hinata, kau terlalu baik! Kiba-senpai, kau menjijikkan!"
"Ayolah, Sakura-chan. Insting laki-laki tak bisa disalahkan." Ucap Naruto secara tak sadar.
"APA KAU BILANG, NARUTO?!" Pekik Sakura.
.
Liburan Musim panas adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh seluruh pelajar. Tak heran, ini adalah moment berharga untuk kesempatan berwisata. Sakura, Hinata, Naruto, Kiba, Shikamaru, dan kekasih Shikamaru─Temari, mereka bersama-sama menghabiskan liburan mereka di sebuah Villa milik keluarga Inuzuka selama seminggu terakhir liburan.
Awalnya, Kiba hanya mengajak Shikamaru dan Sasuke, tetapi karena Sasuke bilang bahwa ia tidak bisa ikut, maka sang raven tersebut mengusulkan untuk mengajak Naruto atau Sakura. Jelas Kiba akan menolak usulan tersebut karena membawa mereka bersamanya akan membebankan. Lalu Kiba mengajak Hinata seorang. Tapi Hinata memohon kepada Kiba untuk mengajak Sakura dengan alasan polosnya 'agar aku nyaman kalau ada teman sejenis bersamaku'. Kiba yang awalnya tak mengerti hanya menuruti sang gadis bersurai Indigo itu karena memang ia tak bisa menolak permintaan gadis rupawan tersebut.
Hinata pun mengajak Sakura. Namun hal yang di khawatirkan Kiba menjadi kenyataan. Sakura mengajak Naruto ikut bersamanya. Kiba hanya pasrah. Terlebih lagi, Shikamaru yang melihat yang lainnya saling mengajak seseorang terdekatnya, ia pun ikut meminta Kiba agar mengizinkannya membawa kekasihnya, Temari. Kiba saat itu hanya melayangkan poker face nya dan mengangkat tangan, seolah berkata 'Lakukanlah sesuka kalian, aku menyerah'.
Sakura telah menanyakan Sasuke mengapa ia tak ikut. Namun Sasuke hanya meledeknya,
"Hee, apa adikku takut jika berjalan dengan orang lain tanpa ditemani kakaknya yang akan melindunginya?"
Sakura menyesal telah menanyainya. Ia cemberut dan bersiap akan pergi ke stasiun bersama teman-temannya dengan perasaan kesal. Sasuke melihatnya lucu. Ia memanggil-manggil Sakura namun gadis pink itu berkata 'aku sibuk' tanpa menatap ke arahnya. Sasuke tersenyum melihat tingkahnya.
"Maaf. Aku ada urusan, Sakura. Mungkin lain kali."
Sakura yang siap melangkahkan kakinya di ambang pintu terdiam. Ia kemudian menoleh kearah pemuda surai raven yang tersenyum itu dengan memicingkan mata dan menjelirkan lidah. Lalu berangkat keluar rumah dengan perasaan yang bergemuruh.
.
.
. . .
"Bagaimana keadaan mu? Untuk sementara ini harusnya kau lebih baik menetap dirumah sakit, Sasuke." Mebuki, sang Ibu menasehati dengan penuh cemas.
"Hn. Aku baik. Ibu tak perlu khawatir. Haha pengobatan gila ini seperti membunuhku saja rasanya." Ujar sasuke tersenyum memaksa sembari berjalan tertatih dengan tongkat sebagai bantuan agar ia tetap dalam keseimbangannya.
"Sasuke! Jaga ucapanmu! Mana mungkin pengobatan semacam itu membunuhmu. Kau kuat, nak." Tegas sang Ayah, Fugaku meyakinkan.
"Tentu saja kau benar, yah." Kata Sasuke seraya berusaha duduk di sofa yang berada di sampingnya dengan susah payah. Mebuki dan Fugaku dengan tanggap menawarkan kedua tangannya memegang lengan Sang anak, bermaksud membantunya duduk. Namun Sasuke menyergah kedua tangan mereka dan memberikan isyarat dengan membuka telapak tangannya lebar ke atas, tanpa kata mengatakan─'tak apa, aku bisa melakukannya sendiri'. Sang orang tua mengerti dan menghentikan gerakan mereka.
"Tapi, kau lihat? Mereka semakin menggrogoti tubuhku. Tch, Tubuh kurus seperti ini, mana terlihat hebat." Sasuke berdecih menatapi tubuhnya. Namun tersenyum.
"Tapi untungnya mereka tak mengambil rambut kerenku. Lihat." Sasuke menggerakkan tangannya ke kepala, meremas rambutnya dan memperlihatkan ke hadapan orangtuanya telapak tangannya yang kosong. Tidak. Beberapa helaian rambut tertinggal di telapak tangannya.
"Hahaha." Sasuke tertawa memaksa, tidak ada yang lucu disekitarnya. Fugaku dan terlebih lagi Mebuki, mereka menatap cemas anak sulungnya.
"Kalian menatapku. Hentikan tatapan itu." Onyxnya kosong namun wajahnya tersenyum.
"Apa semua ini akan berakhir? Apa semua rasa sakit ini akan menghilang? Hey, ayah, ibu, katakan padaku. Apa saat itu telingaku tak salah dengar? Itu bohong kan? Katakanlah!" Dengan bertubi-tubi Sasuke melontarkan isi pikirannya. Ia menaikan kakinya ke atas dudukan lembut sofa dan mendekatkan lututnya di depan dadanya lalu mendekapnya. Jari-jari tangannya meremas lengan baju di bahunya kuat-kuat.
"Dan lagi Sakura. Bagaimana seorang kakak bisa melindungi adiknya jika keadaan kakaknya seperti ini. Hah, aku harus bagaimana jika berhadapan dengannya lagi. Heh, Dia akan malu padaku, ya kan?"
"Ini menyedihkan! Aku muak harus menahan rasa sakit ini. Benar-benar lemah." Pemuda raven itu merendahkan kepalanya dengan tatapan kosong. Ia terus tersenyum meskipun iris onyxnya tak mengatakan demikian. Ia menambah remasan tangannya lebih kuat.
Mebuki tanpa berpikir lagi langsung mengampiri anak angkatnya yang telah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri sedang berputus asa, tak ingin anaknya menyakiti dirinya lebih dalam, ia memeluknya.
"Hentikan Sasuke! Kau tidak lemah! Kamulah seorang diri yang merasakan sakit ini. Seandainya ibu di posisimu, mungkin Ibu tak bisa menahannya sekuat dirimu. Kau bertahan bertahun-tahun bersamanya di tubuhmu. Kalaupun ibu bisa, ibu akan rela menanggung semua rasa sakitmu. Kalaupun ibu bisa, dengan senang hati ibu akan menerima semua penderitaanmu, sayang. Siapa yang tidak sakit melihat anaknya menderita seorang diri. Ibu yakin ini akan menghilang. Hey Sasuke, kau kuat!"
Sasuke tersentak. Pandangan kosongnya mulai menampakan cahayanya. Namun senyumnya menghilang. Kali ini wajah sedih namun penuh kenyamanan yang terlihat. Ia dapat merasakan sentuhan halus di belakang punggungnya. Ia dapat merasakan kehangatan pelukan yang ia dapat.
"Tapi, Sakura..." Nada bicaranya merendah.
Fugaku yang terdiam kini mengukir senyum, "Sakura tak sebenci itu padamu hanya dari fisik, Sasuke. Bagaimana kau bisa berfikir bodoh seperti itu?!"
"Itu benar. Dalam diri Sakura ia tak membencimu. Sakura menyayangimu kok. Ia hanya tak mengatakannya. Maka dari itu kau hanya perlu kuat. Lihat ibu, Ibu akan selalu di sisi Sasuke. Ibu tak akan meninggalkanmu. Tapi kau harus janji juga berada di sisi ibu sesulit apapun hidupmu. Ya, Sasuke?" Mebuki tanpa sadar menitikan air mata di balik pelukan yang ia berikan kepadanya. Kini ia memeluk raga lemah yang berputus asa membuat hatinya seakan menjerit.
Sasuke perlahan membalas pelukannya. Dibalik pelukannya, ia merasakan sebuah cairan bening keluar menuruni pipinya. Ia memperkuat pelukan ibunya. Kali ini cairan itu semakin deras ia rasakan keluar dari mata onyxnya. Pemuda itu menggigit bibir bawahnya tak kuasa menahan isakan yang ia rasa sesak di dadanya. Ia menangis. Menangis sebanyak yang ia bisa di pelukan sang ibu.
"Hiks.. Aku... Aku bersyukur memiliki ibu sepertimu. Terima kasih, Ibu. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.."
Terima Kasih. Kata itu kini menggema di ruang pikiran Mebuki. Bagaikan robot yang hanya terus mengucapkan kalimat yang sama berulang kali, pemuda itu meluapkan penderitaannya di sebuah pelukan. Mebuki mengusap air mata yang jatuh di pipinya agar sang objek yang dipelukannya tak menyadari kalau ibunya menangis. Mebuki hanya mengelus-elus halus punggung pemuda rapuh itu, menenangkannya.
"Terima.. Kasih..." Kalimatnya semakin merendah dan kemudian terhenti. Pelukan yang di perkuatnya melonggar. Tangannya perlahan terjatuh dari punggung Mebuki.
"Sasuke?!"
Dirasakan berat pada sebelah pundak Mebuki semakin terasa. Seseorang yang di sebut namanya tak menjawab. Mebuki kemudian melepas pelukan Sasuke perlahan namun tubuh yang di lepasnya tak merespon, hanya gontai mengikuti arah gerak yang di timbulkan Mebuki. Dengan refleks Mebuki memegang kepala pemuda yang hampir terjatuh dari keseimbangannya itu.
"Sasuke!" Panik Mebuki terhadap seseorang yang di sayanginya lemah tak bergerak. Matanya tertutup. Sasuke telah terlelap di alam bawah sadarnya.
Fugaku dengan segera memeriksa tubuh anaknya, jemarinya bergerak mencari bagian tertentu di bagian leher, memeriksakan denyut nadinya.
"Hanya pingsan. Kau tak perlu khawatir." Jelasnya tehadap Mebuki yang berwajah cemas.
"Tapi, bagaimana bisa?!" Tanya Mebuki tak tenang.
"Mungkin dia hanya lelah setelah perjalanan sepulang dari rumah sakit tadi. Aku akan membawanya ke kamar. Kau juga istirahatlah. Sore hampir berakhir." Fugaku mengangkat Sasuke yang tak sadarkan diri dan menggendongnya membawa ke kamarnya.
.
.
. . .
"Nii-san.. hiks Nii-san" Tangis gadis kecil yang terus memegang pergelangan tangannya itu semakin menjadi-jadi.
"JANGAN GANGGU SAKURA, KALIAN SIALAN!" Teriak seorang bocah lelaki di hadapan gadis kecil itu dengan merentangkan tangannya, melindunginya.
"Kau siapa, hah, keparat?! Jangan ikut campur! Kami hanya ingin gelang emas yang ada dipergelangan tangan gadis kecil itu! Minggir kau!" Sekumpulan tiga anak SMP yang lebih besar dari mereka mengganggu keduanya dan memaksa hal yang di inginkan mereka dengan kasar.
Sasuke tetap keukeuh tak berpindah diposisinya. Dengan mata yang serius ia masih merentangkan tangannya tak ingin adik kecilnya di sakiti. Sementara Sakura hanya bersembunyi di balik kakaknya ketakutan. Ketiga anak SMP nakal itu menatap kesal.
"Cih kau tidak dengar, bocah? Ketua kami menginginkan kau pergi. Kami disini meminta baik-baik. Jangan melawan jika kau tidak ingin kami sakiti!" Salah seorang dari mereka memperingatkan.
Sasuke tetap diam di posisi dengan wajah semakin serius tak kenal takut. Ia harus melindungi adiknya. Hanya itu yang ia pikirkan saat itu. Tak peduli apa yang akan mereka lakukan padanya ia tetap harus melindunginya.
DAGH!
"Gah!" Sasuke memegang perutnya kesakitan.
"Sudah ku bilang! Kalau cara baik-baik tak mempan padamu, kami akan gunakan cara kasar!"
"Nii-san!"
Sasuke kembali pada posisi berdirinya walau ia harus menahan rasa sakit.
"Tidak akan sebelum kalian pergi!"
"BRENGSEK! MINGGIRLAH BOCAH!"
BAK! BUK! BAK! BUK!
"ARGHH"
Sasuke terus menerima tendangan, ia hanya meringkuk membuat perisai pada dirinya agar tak terlalu mengenai bagian vital. Ia meringkuk di hadapan Sakura membuat Sakura hanya menangis.
"Nii-san.. Nii-san.. Lepaskan Nii-san! Jangan sakiti dia! hiks..Nii-san!"
Sasuke tersenyum ke arah gadis itu.
"La..rilah.. Sa..kura!" Dengan ucapan yang tak begitu jelas, masih meringkuk dengan pukulan-pukulan yang tak kunjung berhenti.
"Tidak akan! Sakura tidak mau meninggalkan Nii-san! Hiks"
Sasuke terdiam sesaat sehingga itu membuat Sakura panik. "ONII-SAN!"
Sasuke kemudian bangun dan memegang salah satu kaki yang menendangnya. Orang yang kakinya di pegang sentak terjatuh.
"TEME!"
DAG! DUG! DAG! DUG!
Pukulan yang di terima Sasuke semakin keras.
"Nii-san! Nii-san!"
"NII-SAN!"
Kilas balik membuat Sakura bangun terduduk secara tiba-tiba dari tidurnya dengan penuh peluh yang mengucur dan napas yang tak terkontrol. Ia mengedarkan manik emeraldnya yang membulat ke sekitar dengan terengah-engah. Tak lama ia sadar ia berada di kamar tidur Villa Inuzuka.
"Ha-hanya... Mimpi?!" Sakura mulai dapat mengatur pernapasannya yang disebabkan oleh mimpi buruknya itu.
"Sakura, ada apa?" Temari terbangun setelah mendengar teriakan Sakura.
"Hmmp, Sakura? Ada apa malam-malam begini?" Tanya Hinata lembut setengah sadar terbangun dari tidurnya.
"Bu-bukan apa-apa, ahaha. Maaf membangunkan kalian." Sakura tertawa memaksa.
"Kau bermimpi buruk?" Tanya Temari.
"Yah haha, sepertinya begitu." Sakura hanya memberikan seringai dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Hmm.. Tidurlah dengan tenang, Sakura. Besok pagi kita pulang. Dan besoknya kita mulai masuk Sekolah. Sekolah Temari-san juga masuk lusa bukan?" Ujar Hinata kemudian melanjutkan tidurnya.
"Hm. Jika kau sudah cukup tenang, lanjutkan tidurmu." Kata Temari sembari menenggelamkan tubuhnya kedalam selimut.
"Ya, Temari-san, aku minta maaf telah mengganggu tidur kalian." Ucap Sakura tersenyum merasa bersalah.
.
.
. . .
Terik matahari yang mengintip dari celah tirai putih jendela kamar Sasuke membuat kelopak matanya terbuka akibat cahaya yang menembus masuk ke dalam iris onyxnya. Ia berulang kali menerjapkan matanya kemudian menggerakkan tangannya ke depan mata, bermaksud menghalangi cahaya yang menyinari. Ia membuka selimut yang membungkus dirinya dan menuruni kasur. Membuka lebar-lebar tirai yang tertutup membiarkan cahaya masuk dengan bebas ke dalam kamarnya.
Pemuda raven itu merenggangkan tubuhnya di hadapan jendela dengan disuguhkan udara pertengahan antara pagi dan siang yang masih terasa segar. Sasuke berjalan disekitar kamarnya ingin keluar─tanpa tongkat penopang.
Bruk!
Terjatuh. Sasuke tanpa sebab terjatuh di lantai kamarnya. Onyxnya membulat lebar, menatap kakinya yang mati. Sasuke tak bisa merasakan, atau bahkan tak bisa menggerakkan sedikitpun jemari kakinya. Sasuke panik menatap kakinya ada tetapi ia merasa seperti ia telah kehilangan kakinya.
"Gh! SIAL!" Sasuke memukul lantai kamar dengan kuat.
"Sial! Bergeraklah! Berjalanlah!"
Kini Sasuke berganti memukul kedua kakinya yang tak bisa ia rasakan itu. Menarik kedua kakinya lurus kedepan, memukul-mukulnya dengan kasar.
BUG! "Bergerak!"
BUG! "Bergerak!"
BUGH! "Begeraklah! SIALAN!"
Perlahan pemuda bersurai raven itu mulai merasakan sakit di bagian yang di pukulinya. Sasuke mencoba kembali memindahkan kakinya. Jemari-jemari kakinya mulai bisa ia gerakkan. Kemudian beralih ke kaki kanan, ia menekuk sendi engsel pada lututnya, memajumundurkan kakinya, menaikturunkan lengan kakinya, dan memperagakan gerakan menendang di ambang udara yang kosong. Begitu pula dengan yang satunya, Sasuke mengulang gerakan yang sama pada kaki kirinya.
"Tch, akhirnya kau menuruti perintah pemilikmu juga, sialan!"
. . .
Pada waktu yang sama, pengunjung Konoha IHS yang berlibur di kediaman Villa Inuzuka sudah dalam persiapan pulang.
"Naruto! Ayolah cepat! Yang lainnya sudah menunggu di stasiun!" Seru Sakura terhadap naruto yang berjalan lamban dibelakangnya. Lalu berjalan kembali meninggalkannya.
"Hn. Sakura." Panggil lelaki berambut jabrik kuning itu tiba-tiba.
Gadis bersurai pink itu menoleh.
"Apa?"
"Tunggu sebentar, ada yang ingin ku bicarakan."
. . .
Setelah di rasa lebih baik, Sang surai raven itu berdiri dari tempat ia terjatuh. Ia menggerak-gerakkan kakinya bahkan melompat-lompat apakah kakinya telah sepenuhnya lebih baik.
"Hm. Bagus."
Sasuke keluar kamar. Kamarnya berada di lantai 2 kediaman Uchiha Fugaku, tepat di samping kamar Sakura. Hanya berjarak beberapa langkah dari depan pintu kamarnya, terdapat sebuah balkon dalam ruangan. Dipertengahan antara kamar Sakura dan Sasuke, terbentang sebuah tangga dengan lebar yang luas, menurun panjang yang menghubungkan antara lantai 1 dan lantai 2. Sasuke berjalan ke hadapan balkon dan melongokan manik onyxnya kebawah. Di bawahnya berlatar ruang makan dan ruang keluarga yang jaraknya tak terlalu jauh. Ia melihat Mebuki yang sedang menyiapkan makanan dan Fugaku yang membaca koran di ruang keluarga.
"Bu."
Mendengar Sasuke memanggil, ia menoleh ke atas.
"Ah, Sasuke. Kau sudah bangun?"
"Bu, apa kemarin aku pingsan? Aku tidak benar-benar mengingat semua kejadian kemarin sama sekali." Tanya Sasuke berwajah malas menopang wajahnya di atas tangannya yang bersandar pada balkon.
"Yah, sepertinya begitu. Kau sungguh membuat ibu panik kemarin." Guman Mebuki seraya menata makanan yang telah siap di santap di meja makan.
"Sayang, makanannya sudah siap." Mebuki beralih memanggil Fugaku. Fugaku menutup korannya dan menghampiri meja makan.
"Cih, berapa lama aku tidur?" Sasuke berdecih.
"Ntahlah. Mungkin hampir semalaman."
"Tidak. Mungkin setengah hari. Kau benar-benar pemalas, Sasuke." Ucap Fugaku menyambar memasuki percakapan antar anak dan ibu.
"Huft.. Benar-benar..." Sasuke mendesah.
"Kau tidak apa-apa bukan? Kalau kau merasa baikan lebih baik kau turun dan makan saat ini." Saran Fugaku.
"Ya, tak ada yang perlu di khawatirkan. Baiklah aku makan~"
. . .
"Akhirnya mereka datang juga, dasar." Guman Kiba kesal.
"Kenapa kalian berdua lama sekali?" Tanya Hinata memelototi Sakura dan Naruto kesal.
"Ahaha tidak apa-apa. Ma-maaf membuat kalian lama menunggu."
"Kau.. kenapa wajahmu merah, Sakura?" Tanya hinata penuh selidik.
Sakura melayangkan pandangannya keatas. Gerak-geriknya yang salah tingkah membuat Hinata semakin penasaran.
"Ma-masa, sih? Mungkin karena musim gugur sebentar lagi datang aku jadi kedinginan ahaha." Sakura menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Sementara Naruto yang dibelakangnya hanya diam tak berkomentar dengan mengalihkan manik sapphirenya ke arah lain.
"Dimana Shikamaru dan Temari?" Tanya Naruto.
"Karena kalian berdua terlalu lama, mereka sudah duluan pergi sejak tadi. Kalian ini sungguh merepotkan." Kiba berguman kesal.
"Eheh Maafkan kami" Ucap Naruto dan Sakura bersamaan.
Naruto, Sakura, Kiba, dan Hinata melanjutkan perjalanan pulang mereka menaiki kereta yang di tumpanginya tepat waktu.
. . .
"Kapan Sakura pulang?" Tanya Sasuke setelah menghabiskan suapan omelette terakhirnya.
"Hm, mungkin sebentar lagi. Villa Inuzuka hanya berjarak 2 stasiun bukan dari daerah ini." Jawab Mebuki.
"Oh. Begitu."
"Oh iya , Sasuke. Ibu akan berangkat bekerja sehabis ini. Dan ayahmu harus mengurus urusan di perusahaannya meskipun ini hari libur. Kau tak apa di rumah sendiri?"
"Tak apa. Pergilah kalian. Lagipula Sakura akan pulang sebentar lagi bukan. Seseorang harus menyambutnya jika tidak ada kalian." Jawab Sasuke santai sembari mengambil sebutir buah anggur yang berada di hadapannya dan memakannya.
"Baiklah. Ibu telah merapihkan semuanya. Kau jaga rumah, ya." Kata Mebuki─yang telah bersiap dan berdandan rapi akan pergi─mengusap-usap kepala Sasuke, dan Sasuke refleks memejamkan matanya saat sang ibu mengusap kepalanya.
Setelahnya, Mebuki mengepal tangannya. Bukan karena apapun, tapi karena menyembunyikan helaian rambut dari sang raven yang terbawa di tangannya. Perasaan Mebuki saat itu hanya sedih mengkhawatirkan kondisi sang anak, namun ia tak bisa melakukan apapun selain mengukir senyum di wajahnya.
"Ibu, kumohon. Aku sudah besar!" Kata Sasuke menyingkirkan tangan Mebuki yang mengusapnya.
"Baiklah ibu berangkat"
"Sasuke, Kami berangkat. Kau tak apa kami tinggal sendiri kan?" Tanya Fugaku yang sudah berada di ambang pintu utama kediamannya.
"Oh, Ayolah. Aku bukan lagi anak kecil yang akan menangis ditinggal kedua orangtuanya bersenang-senang!" Ucap frustasi pemuda tersebut menyilangkan tangannya.
Mebuki dan Fugaku hanya tertawa mendengar ucapan frustasi sang sulung. "Ittekimasu" Salam Mebuki dan Fugaku bersamaan.
"Hn. Itterasshai."
Setelah Mebuki dan Fugaku pergi, Sasuke masih terduduk di meja makan. Ia masih memikirkan kejadian tadi pagi. Sang surai raven itu menatapi kakinya. Dalam hatinya ia terus berkata─bermohon, ini akan baik-baik saja.
Sasuke berjalan ke lantai atas─kembali ke kamar. Namun langkahnya terhenti di pertengahan antara kamarnya dengan kamar Sakura. Ia melirik ke arah kamar sang adik. Akhirnya, Ia mengambil langkah yang berlawanan dengan kamarnya sendiri.
.
.
. . .
*Sakura POV*
Selama perjalanan, Aku dan Naruto tak berucap sepatah katapun. Aku terus memikirkan apa yang telah Naruto katakan sebelumnya. Kata-kata Naruto seakan menggema dalam pikiranku. Jelas. Ini adalah hal baru yang baru saja ku alami. Aku tak tahu harus bagaimana aku bersikap. Hanya menatap wajahnya saja membuatku canggung.
Stasiun yang kami tuju telah sampai. Jarak dari stasiun dan rumahku tak terlalu jauh. Kami semua berpisah di arah yang berbeda. Tapi aku dan Naruto, arah rumah kami sama. Mau tidak mau, pastilah aku pulang bersamanya.
Aku berjalan lebih dulu di depannya dan Naruto di belakangku. Aku tak berani menoleh kearahnya.
"Sakura."
Aku tersentak namaku dipanggil olehnya. Aku mempercepat langkahku secepat yang aku bisa. Namun Naruto terus menambah kecepatan langkahnya mengejarku. Tak ada pilihan lain aku berlari darinya.
"Oi Sakura! Kau mengabaikanku?!" Teriaknya. Setidaknya itulah yang terakhir ku dengar.
"Tadaima! Sakura is Back!" Teriakku setelah sampai dirumah dengan senang merenggangkan tanganku keatas.
Hening. Tidak ada yang merespon. Dan tidak ada orang.
Aku mengedarkan mataku ke seluruh isi rumah. Tidak ada siapapun disini. Mengapa mereka tidak menyambut kepulanganku setelah seminggu aku tak ada dirumah?! . Aku tak terlalu mempermasalahkan hal ini karna kupikir mungkin Ayah dan Ibu sedang bekerja dan Sasuke pergi keluar. Tapi kulihat sepatu Sasuke masih terdiam tenang di rak sepatu jadi aku rasa ia masih tidur karena ini masih jam 10 pagi.
Aku menaiki tangga kearah kamarku. Ingin rasanya tubuh ini ku rebahkan secepatnya di kasur yang setia menantiku pulang dan menghilangkan rasa letihku.
Aku membuka pintu kamar. Aku terpukau saat melihat isi kamarku. Sebelum keberangkatannku, aku tak sempat merapihkan meja kamar. Namun yang kulihat saat ini, mejaku rapi. Barang-barang yang bertebaran di sudut-sudut ruang kamar dan lantai juga masing-masing telah ada di posisinya semula. Setauku, kedua orangtuaku tidak akan ikut campur atas urusan isi kamar anak-anaknya. Lantas siapa yang membereskannya?
Aku mengedarkan pandang pada sekeliling ruang kamarku. Bola mataku terhenti tepat di arah kasur. Menatap sang objek yang sedang sibuk dengan sebuah gitar mengatur senar gitar─milikku─ dengan bersila sebelah kaki yang bertopang di atas lutut kaki sebelahnya.
Sasuke. Mengapa ia ada di kamarku?
"Sasuke? Apa yang kau lakukan disini? Ku pikir kau sedang tidur."
*Sakura POV End*
.
.
~ TO BE CONTINUED ~
.
.
.
Author Note:
Kurang menarik kah?TT tapi aku akan tetap melanjutkan ff ini. Sudah terlanjur masuk kedalam ceritaxD
Mohon Kritik dan saran :)
Lanjut?
Review kalian akan sangat membantu :)
