Sasuke. Mengapa ia ada di kamarku?, Batin Sakura.

"Sasuke? Apa yang kau lakukan disini? Ku pikir kau sedang tidur."

"Oh. Hei." Sapa Sasuke mengadahkan kepalanya menatap Sakura .

.

Nii-san

.

"Nii-san" by Laila Elric

Naruto © Masashi Kishimoto

SasuSaku

Slight Romance NaruSaku. KibaHina?

Main Character Ch.4 : Sakura Naruto

Rate : T

Genre : Family, Hurt/Comfort, Slice of Life, Romance, Friendship

Warning : AU, beberapa OOC, Typos, alur cerita lambat, etc.

Pergantian musim disini agak berbeda sedikit waktunya dengan musim di jepang.

.

I'm not a crack-pairing Lovers. I just one of Naruto Lovers.

.

CHAPTER 4 : CONFUSION

.

*Sakura POV*

"Kau sudah pulang, Sakura?" Tanyanya. Aku tahu itu pertanyaan basa basi karena sudah jelas aku baru saja pulang dan saat ini bahkan wujudku sedang berada di dalam kamarku sendiri.

"Kalau aku berada di hadapanmu sekarang sudah jelas, bukan?" Jawabku ketus sembari meletakkan tas packingku yang berat ke atas lantai.

"Hm, Kau benar." Oke, Aku semakin tak mengerti.

"Apa yang kau lakukan dikamarku? Dan omong-omong, mengapa kamarku jadi rapi, ya?"

Sasuke yang telah selesai mengotak-atik senar gitarku di bagian tuning keys kini menggerakkan tangannya memetik senar perlahan─mungkin sedang mengetes apakah senarnya sudah kencang atau belum─menimbulkan nada do-re-mi-fa-sol-la-si-dō . Di rasa suara senarnya telah stabil, dan yang menurutku juga sudah lebih baik, Sasuke mendongakkan kembali kepalanya menatapku yang tengah berdiri.

"Kaget?" Katanya sambil menyunggingkan ujung bibirnya.

"Ya, kan, kau tahu sendiri aku..." Putusku berat untuk melanjutkan, "Aku jarang membersihkan, apalagi merapikan kamarku..." Aku melayangkan bola mataku keatas menatap langit-langit kamar yang monoton berusaha menghindari tatapannya─malu.

Sasuke hanya tersenyum. Bukan, bukan tersenyum ramah, melainkan tersenyum memaksa karena menahan tawa. Aku tahu ia sedang menahan tawa, tentu, karena aku mendengarnya. Kalimat suaranya akan seperti 'hmph' jika diutarakan dalam sebuah novel.

"Apa?!" Tanyaku gusar.

Kulihat Sasuke mulai terbahak lantaran melihatku yang bertanya layaknya aku tontonan lugu yang pantas di tertawakan. Aku mendengus kesal. Tawa Sasuke perlahan melambat dan mengusap sedikit ekor matanya akibat terlalu menghayati tawanya. Sialan.

"Tidak apa. Dengan kata lain kau barusaja mengakui sebuah rahasia dirimu ke kakakmu ini bahwa kau seorang gadis yang jorok."

Aku semakin geram dibuatnya. Heran mengapa ia begitu senang membuatku kesal. Tak bisa apa-apa aku hanya menghentakkan kakiku tanda kesal. Dan sepertinya si pemuda raven itu tampak mengerti arti hentakan yang ku timbulkan.

"Baik, lupakan saja hal tadi." Jedanya sejenak, lalu menyahuti pertanyaan ku sebelumnya, "Kenapa? Sekali-kali kadang aku berfikir untuk membuat adikku senang."

Baru saja ia membuatku jengkel namun sekarang ia berkata ingin membuatku senang. Aku memilih untuk tidak mengindahkan kata-katanya.

"Oh kau yang merapikannya. Tumben sekali."

"Hn. Tak apa, kan?" Sahutnya tanpa menatapku. Ia sedang sibuk memetikan gitarnya─gitarku─yang berada di pangkuannya dan menyenandungkan sebuah lagu.

Tunggu. Sejak kapan Sasuke bisa bermain gitar?

"Hm. Tidak apa sih. Justru aku berterima kasih karena aku tak perlu repot lagi berkutat dengan bayang-bayang letih yang menyuruhku untuk membersihkan kamarku terlebih dahulu. Sankyu, Sasuke." Ujarku jujur.

Sasuke menghentikan permainannya dan onyxnya menatapku dalam.

"Hei."

Aku mengangkat sebelah alisku bingung, "Hm?"

"Kau belum pernah memanggilku kakak, kau tahu?!" Sasuke memicingkan matanya tajam tepat kearahku membuatku bergidik geli. Maksudku, biasanya ia cuek namun saat ini tingkahnya tak bisa di prediksi, layaknya anak kecil yang ingin di sayang, mungkin.

"Masa Aku harus bilang 'sankyu N-Nii-san tersayang'? Atau 'watashi no N-Nii-san yang baik'?" Aku terhenti. Sungguh. Aku malu. "Kau dengar? Bahkan memanggilmu kakak membuatku tergagap."

"Padahal dulu kau sering merengek 'Nii-san, nii-san' kalau kau sedang manja atau butuh pertolongan." Ujarnya dengan air wajah meledek dan memberiku hard stare.

Panah invisibel tajam tepat menusuk tubuhku. Oh, sial. Dia benar. Aku tergidik sesaat mendapati tatapannya. Melayangkan pandangku menyesali masa lalu yang terungit.

"I-itu kan dulu. Lagipula kita hanya berselisih satu tahun. Mungkin memang karena dari alamnya kau tak pantas ku panggil kakak." Dan mungkin kalimatku agak kelewatan.

"Oh, begitu." Mendengar jawaban pasrah nan datarnya membuatku nanar. Dan tentu saja aku masih berperasaan karena ini membuatku agak merasa bersalah. Aku bukanlah tipikal seorang tsundere karena terkadang aku bisa saja mengutarakan secara terang-terangan apa yang kupikirkan.

"Iya. Dan mengapa wajahmu terlihat sedih? Bukan karena aku tidak memanggilmu Nii-san, kan?" Aku terus menyeruak kalimatku dan tidak memerhatikan Sasuke tengah meletakkan gitar di tempat semula dan berjalan ke arahku yang selagi berbicara.

"Baiklah, Sasuke, aku minta maaf jika itu membuatmu se─" Aku tersadar karena indera peraba pada keningku bekerja. Aku merasakan sentuhan kecil pada permukaan dahiku membuat aku menghentikan kalimatku.

Aku menatap Sasuke dengan wajah datarnya. Dalam onyxnya aku melihat cerminan wajahku yang menyatakan secara tak langsung bahwa mata kami saling bertemu. Wajah datar itu kini merekahkan senyum kecil namun ramah pada lawan bicaranya yang sebelumnya tidak memberikan kesempatan padanya untuk berbicara.

"Bodoh. Kenapa kau ingin tahu sekali, huh? Jangan khawatir." Sasuke menyentil dahiku dengan lembut─tidak, menjitak sungguhan. Ini serius sakit─ setelah menyelesaikan kalimatnya. Aku merintih kesakitan seraya memegangi dahiku yang tidak lebar. Oke, Itu presepsiku pribadi karena semua orang memang memujiku si Jidat Lebar. Terutama si Pig Ino Yamanaka.

Aku mendengus kesal karena sang surai raven berlalu begitu saja melewatiku dengan senyum tenangnya. Dan lagi, siapa yang ingin tahu? Kedua kalinya hal yang sama terulang kembali: aku menoleh dengan tatapan kesal kehadapannya namun yang ku tatap hanyalah punggungnya semata.

Disisi lain ada perasaan khawatir yang menggangguku selama aku berbicara dengannya. Bagaimana tidak? Dia tiba-tiba membahas tentang aku yang tidak memanggilnya kakak, terlebih lagi tersenyum. Ia jarang sekali tersenyum atau menertawaiku. Terakhir saat... Ah, aku tidak ingat. Sasuke begitu dingin dan tidak peduli walaupun aku tertimpa kesulitan─terlambat, itu salah satunya. Satu hal lagi. Kami jarang sekali mengobrol panjang seperti tadi. Ada apa dengan Sasuke?

Aku tidak berpikir apakah aku yang terlalu cuek atau dia yang tidak peduli terhadapku. Aku tak terlalu memikirkannya dan mengabaikannya jauh-jauh.

"Dasar Aneh." Cibirku.

*Sakura POV End*

.

.

. . .


'Lusa' yang dikatakan sebelumnya pun datang. Dimana hari libur bahagia yang tidak terlalu panjang bagi para pelajar telah berakhir. Dan 'lusa' itu adalah hari ini. Hari Senin. Hari mematikan bagi sebagian para penuntut ilmu di seluruh buana ini tatkala mereka mengutuknya dengan julukan Mon(ster)Day.

"Sasuke, Ayolah! Kumohon untuk tidak di awal semester 2 ini!" Teriak sang surai sakura itu seraya memakai sepatu sekolah hitam bertali yang berwarna sama dengan warna rambutnya.

.

Seperti biasa, suasanya kediaman Uchiha tak urung damai di hampir setiap hari sekolah. Di sisi lain berlatar ruang makan, Megumi sibuk merapikan piring-piring diatas meja makan sehabis sarapan keluarganya.

"Sasuke, pastikan kondisimu baik saat ini untuk memutuskan pergi sekolah." Tegur Megumi mengarah Sang pemuda Raven yang tengah memakai Alma Meter─atau disingkat almet─mewah musim dingin Konoha IHS yang berwarna merah marun perpaduan kuning pada sisi kerah, batas kantung bagian bawah dan batas pergelangan tangan, serta logo Konoha International High School berwarna putih pada dada bagian kiri yang menjadi penanda bahwa yang memakainya ialah pelajar Konoha IHS.

Negara Jepang akan memasuki musim gugur beberapa hari dekat ini yang menandakan bahwa sebulan lagi akan memasuki musim dingin. Tak heran jika memakai almet sekolah adalah seragam wajib kedua bagi seluruh sekolah pada musim dingin. Terlebih lagi, Konohagakure adalah daerah dengan pergantian musim paling cepat di Jepang.

"Untuk saat ini aku baik-baik saja. Sudah ya, kami berangkat. Sebentar lagi Sakura akan berteriak─"

"Sasuke, Ayolah! Kumohon untuk tidak di awal semester 2 ini!" Kalimat Sasuke terhenti karena teriakan Sakura disaat yang tepat.

"Benar, kan?" Lanjut Sasuke. Megumi hanya terkikik.

Senyum simpul Megumi yang masih mengelap meja makan, "Baiklah, Ibu percaya padamu."

"Dan ini." Lanjut Megumi sembari merogoh kantung celemeknya, "Obatmu."

"Thanks." Sasuke menyambar 4 lembar obat-obatan dengan tangannya yang kosong.

Pruk.

Obat yang berada di tangan kanan Sasuke─bahkan belum benar-benar terpegang─terjatuh membuat Megumi bertanya-tanya dan mengambilnya kembali. Onyx sang raven menatap tangan kanannya penuh kesal. Tangan kanan Sasuke terasa kaku seolah-olah tidak mempunyai indera peraba.

Sial, di saat seperti ini?!, Batin pemuda tersebut.

"Ada apa Sasuke?" Tanya Megumi berwalang hati seraya menyodorkan kembali obatnya.

"Bukan apa-apa. Hanya terpeleset dari tanganku. Mungkin karena licin." Alih Sasuke dengan cepat menyembunyikan tangan kanannya dan menyambarnya dengan tangan kiri. Megumi mengernyitkan dahi sesaat lalu kembali ke dapur layaknya Ibu rumah tangga kebanyakan, seperti rutinitas alami untuk mencuci piring selepas sarapan keluarganya. Tidak benar-benar langsung memalingkan Sasuke, tetap saja sebagai seorang ibu ia merasa khawatir akan kondisi anaknya.

"SASUKE~" Teriak Sakura dari kejauhan.

Sasuke bergegas menghampiri Sakura yang terus saja berteriak memanggil namanya dari depan pintu garasi.

"Iya Sabar!─Bu aku berangkat." Setelah berpamitan ia berlalu begitu saja.

.

.

. . .


Langkah kaki berderap cepat. Lolos melewati pagar sekolah setinggi lima meter plus sang penjaga yang setia menutup gerbang itu bagi siapa saja yang melanggar aturan. Gadis itu mempercepat larinya melampaui pintu aula Konoha IHS, serta langkah seseorang dibelakangnya yang tak luput mengikutinya. Suraian panjang pink itu kini terangkat indah melawan gravitasi karena efek kecepatan lari, didukung oleh hembusan angin yang menyelinap masuk dari jendela-jendela aula yang terbuka. Menaiki tangga hingga lantai dua dan pemuda yang dibelakangnya menuju lantai tiga. Menyusuri Lorong-lorong kelas yang sepi menandakan bahwa jam pelajaran pertama seharusnya sudah dimulai.

Gadis itu membanting─menggeser─pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu dengan kasar serta napas yang tersengal. Seluruh isi dibalik pintu itu kini menoleh kearahnya.

"Ma-maaf saya terlambat." Dengan napas yang masih terengah, ia membungkukan badannya sopan.

Ebisu-sensei yang biasanya berbaik hati kini mengumpat atas keterlambatan di jam pelajarannya ke arah Sakura. Menatap tajam sang surai pink yang tengah berdiri di ambang pintu, berbahasa tangan menunjuk kearah kursi kosong Sakura, mengisyaratkan agar segera duduk─tentu dengan gayanya yang selalu membenarkan kacamata setiap saat. Sakura mengangguk enggan dan menuruti isyarat perintahnya lekas segera duduk di kursi kosong bagian belakang. Namun langkahnya terhenti karena mendapat cibiran tiba-tiba dari orang yang di kesalinya.

"Inikah sikap seorang adik Sasuke Uchiha yang berprestasi. Hei jidat lebar, kau hanya menjelek-jelekan nama Sasuke Uchiha kau tahu! Dan karena kau pasti Sasuke-senpai-ku dibuat telat olehmu." Tuding Ino Yamanaka.

Sakura kesal hanya menunjukkan senyum memaksanya walau kerutan dahinya menandakan bahwa ia sedang menahan emosi, "Heh Asal kau tahu saja Pig Ino, ini memang karena ulah─".

Dehaman kencang membuat seluruh isi kelas tersentak, terutama Sakura.

"Simpan cibiran kalian nanti. Sakura, saya yang baik hati sudah semakin baik tidak menghukummu maka segeralah duduk dan Ino, perhatikan!" Dengan gaya khasnya membetulkan kacamatanya yang turun.

"Baik, Sensei." Dengan raut tak sukarela merekapun tenang dan Sakura menuju kursinya.

"Telat ya, Sakura." Suara sang gadis indigo di sebelahnya membuat Sakura menoleh seraya duduk di kursinya.

"Ya haha seperti biasa. Kau tahulah karena siapa." Melihat Sakura berair wajah tertawa memaksa serta kesal yang disembunyikan, Hinata hanya tertawa seadanya.

"Hoo jadi begini sifat murid teladan yang dulu menjadi perwakilan murid baru." Sambar seseorang dari belakang Sakura membuatnya tersentak dan berpaling ke belakang.

"NA-NARUTO?!" Teriak Sakura tanpa sadar suaranya menggema ke seisi kelas membuat Ebisu berdehem─lagi untuk kedua kalinya.

Nyali Sakura yang menciut kini salah tingkah menundukkan kepalanya dengan tersenyum berusaha menarik hati Ebisu-sensei agar lebih menenangkan emosinya. Setelah di rasa suasana kembali normal, Sakura menoleh ke pemuda pirang yang berada di belakangnya.

"Kenapa kau ada disini?!" Bisik Sakura sepelan mungkin agar tidak mengganggu pelajaran.

"Kau lupa? Ini semester 2 dan aku berhasil naik level." Kata Naruto yang bersandar pada kursi dengan menampakkan seringai khas nya.

Sakura terkesiap seakan ingat suatu hal. Sigap ia membalikkan badannya memunggungi Naruto dan menenggelamkan kepalanya dengan tangan. Dan hal itu membuat Naruto mengangkat kedua alisnya, bertanya-tanya apa ada hal yang salah darinya. Naruto terus-menerus berseru memanggil Sakura namun di acuhkan. Keriuhan Naruto membuat Ebisu menoleh dan menegur mereka untuk tidak membuat keributan. Terutama Naruto yang notabene 'anak baru' di kelas 1-A membuatnya di tegur habis-habisan. Naruto hanya membalasnya dengan cengiran-minta-maaf dan kembali tenang.

. . .


Pintu kelas 3-A terbuka membuat seisinya menatap seseorang yang membukanya.

"Yo. Sasuke!" Seru Kiba segera merangkul sahabatnya yang tengah berdiri dengan wajah tenang walau sedang dirangkul.

"Hn." Balas Sasuke.

"Terlambat di hari pertamamu di semester dua. Aku yakin 100 persen Sakura pasti memarahimu."

Jawaban telak Kiba membuat Sasuke sedikit tergidik dan menampilkan air wajah malas.

"Ya, tebakanmu memang benar 100 persen. Dan omong-omong, biarkan aku duduk terlebih dahulu, Kiba-san." Remeh Sasuke sembari menyingkirkan tangan Kiba yang menempel di bahunya.

"Haha ayolah. Jangan meledekku seperti itu." Namun Sasuke tak menggubrisnya. Sang Raven tampan itu segera menarik kursi menggunakan tangan kanan yang bisa ia gunakan kembali dan kontan duduk di kursinya.

"Sasuke-kunnn!" Panggilan yang tiba-tiba datang membuat bulu kuduk Sasuke berdiri. Teman sekelas sekaligus seorang fan beratnya yang duduk di pojok kanan depan menghampiri kursinya yang berada di posisi tengah nomor dua dari belakang.

Kekhawatiran Sasuke menjadi kenyataan saat melihat kursi di depannya sedang kosong di isi segera oleh seorang maniak dirinya, Karin Uzumaki, saudara jauh Naruto yang sifatnya tak jauh beda dengan Naruto.

"Bagaimana liburanmu?" Tanya karin antusias.

"Membosankan." Jawab malas Sasuke menopang pipinya yang sepertinya tertular virus malas Shikamaru.

"Oi Shikamaru. Apa tidak ada guru?" Sasuke bertanya kepada Shikamaru yang berada di samping kirinya mengalihkan pembicaraan.

"Kau tahu sendiri Kakashi-sensei adalah guru paling korupsi waktu di sekolah ini."

"Ehem." Dehaman berat terdengar dari balik pintu yang ternyata di timbulkan oleh Kakashi-sensei.

Seisi kelas kaget akan kedatangan Kakashi-sensei─terutama Shikamaru─kembali ke posisi semula mereka berasal.

"Maaf, anak-anak. Saya terlambat karena saya barusaja selesai menolong Nenek penjual bubur di kantin menyebrangi lapangan lari dan bola menuju au─"

Hening.

Disaat seperti ini biasanya para murid menyela pembicaraan Kakashi karena mereka tahu ini hanya kebohongan belaka. Namun berbeda di kelas 3. Kilah kakashi mulai tidak dihiraukan lagi. Bahkan muridnya malah sibuk pada urusannya masing-masing dengan alasan 'tidak-penting-menanggapinya'. Yang menggubris hanyalah suara jangkrik yang entah darimana asalnya.

"Ehem. Baiklah kerjakan halaman 201 setelah itu dikumpulkan. Saya ada pekerjaan lain di TU maka dari itu saya titip map saya disini. Tenang saja, tidak akan lama kok. Dah~" Seru Kakashi lalu menghilang.

Suasana kelas ribut kembali lantaran mengomentari akan sifat Kakashi yang tidak bertanggung jawab sebagai seorang Sensei. Namun, para murid 3-A tetap mengerjakan tugas mereka karena mereka sadar semester dua adalah saat-saat perang test dan ujian untuk memasuki tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

Hampir keseluruhan jawaban Sasuke kerjakan dengan lancar dan tenang─tidak, sampai ia tak bisa lagi menggenggam pulpennya. Tangan kanan Sasuke bergetar. Pemuda raven itu terus berusaha mengambil kembali pulpennya yang terjatuh. Namun apa daya ia tak bisa menggenggamnya. Terlalu kesal dirinya bahkan tak sadar ia memukul meja.

"SIAL!" Umpat Sasuke. Tentu yang mendengarnya pasti menoleh kearahnya. Bahkan Shikamaru yang cuek ikut menoleh ke kanannya.

"Oi oi, ada apa kawan?" Tanya Kiba heran mendengar kepanikan Sasuke yang jarang ia perlihatkan.

Sasuke tak menanggapinya. Ia semakin mengeraskan giginya dengan menatap kesal tangan kanannya.

"Sasuke!" Seru Shikamaru memecah amarah Sasuke.

Kini raut wajah keputusasaan terpancar jelas pada paras tampan sang raven. Pemuda itu menoleh ke arah kirinya, kehadapan Kiba dan Shikamaru yang berair wajah nanar. Murid yang lain sudah mengabaikan kehebohan yang dikeluarkan Sasuke dan sibuk pada urusannya masing-masing, meski sesekali dua atau tiga orang mengintip penasaran─salah satunya Karin.

Sasuke memperlihatkan tangan kanannya kehadapan kedua sohibnya. Awalnya Kiba dan Shikamaru tidak mengerti karena Sasuke tak menjelaskan sepatah katapun apa yang dimaksud. Kiba yang lebih unggul dalam hal insting menarik tangan kanan Sasuke segera.

Dingin. Seperti tak bernyawa. Itulah yang instingnya rasakan. Sementara Shikamaru melihatnya lebih realistis sebagai tangan yang sarafnya tak berfungsi.

"Sejak kapan hal ini terjadi?!" Tanya Shikamaru penuh selidik.

Sasuke hanya memalingkan wajah dengan tenangnya yang sukses menyembunyikan kepanikannya di awal tadi. "Beberapa terakhir ini."

Zingg.

Dahi Sasuke bertautan merintih kesakitan akibat sakit di kepalanya yang menyerang tiba-tiba. Dengan refleks menarik tangan kanannya kembali dari genggaman Shikamaru dan dengan tangan kirinya kini meremas kepalanya.

"Kau baik-baik saja? Lebih baik ke ruang kesehatan." Cemas Shikamaru.

"Tak apa. Sudah biasa." Lirih Sasuke.

"Awas saja kalau sampai kau ambruk." Cibir Kiba menutup raut khawatirnya.

Namun Sasuke membalas dengan seringai ringan, "Heh."

. . .


Pelajaran Ebisu berlangsung tiga jam sampai jam istirahat I. Sakura merasa hari ini adalah hari sialnya karena yang pertama, Ia terlambat di hari pertama semerter II setelah liburan. Belum lagi ia juga mendapat teguran Ebisu-sensei lantaran Naruto yang terus memanggil namanya dikelas.

Kedua, Sakura lupa mengerjakan tugas dua lembar 100 soal Matriks yang di berikan Ebisu-sensei hingga ia harus di hukum keluar kelas. Naruto juga ikut dihukum Ebisu-sensei. Mengapa? Ia berbohong bahwa ia lupa mengerjakan. Tugas Ebisu-sensei tidak hanya diberikan kepada murid kelas 1-A, tapi seluruh kelas satu dari 1-A sampai 1-F. Naruto telah mengerjakan semua soalnya dengan benar. Hanya karena alasan agar Sakura tidak dihukum sendirian, maka ia urung untuk mengumpulkan tugasnya.

Dan ketiga, keadaan luar kelas di koridor yang sepi saat pelajaran berlangsung ditambah tak ada sepatah katapun yang Naruto dan Sakura celotehkan semakin membuat atmosfer disekitar mereka terasa canggung. Naruto memulai percakapan terlebih dahulu. Sakura menjawab, tentu. Namun tidak membalasnya dengan cibiran seperti biasa. Keheningan kerap kali mengambil alih.

Sementara batin Naruto kebingungan berkata, 'Haaa aku benci sekali suasana seperti ini', dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal sekaligus pakai kedua tangannya hingga Sakura melirik nanar pada pemuda ini.

.

.

. . .


"Hinataa.. Ayuk, temani aku ke kelas 3-A." Sakura berlari dari luar pintu kelas menuju meja sang indigo setelah istirahat pertama dia menghilang.

"Kau darimana saja? Dan ti-tiga-A? untuk apa?" Mendengar nama kelas 3-A membuat Hinata salah tingkah.

"Aku di panggil Kakashi-sensei tadi. Kupikir ada hal penting yang ingin ia bicarakan berhubung beliau adalah guru pembimbing OSIS langsung, jadi aku merelakan istirahat pertamaku. Namun ternyata.." Sakura memberi jeda, lalu melanjutkan, "Kau ingat Novel milikku yang lupa kumasukkan kedalam tas kemudian Kakashi-sensei melihatnya dan kita pikir ia akan menyitanya, kalau tidak salah itu sebulan yang lalu."

Hinata menangguk mengerti, "Ya aku ingat."

"Kau tahu apa yang ia ingin bicarakan kepadaku?" Hinata menggeleng, "Si masker misterius itu malah bertanya dimana aku membeli novel ku dan yang lebih menjijikan, ia berbisik apakah toko buku dimana aku membeli novelku menjual Icha-Icha Tactics atau tidak." Sakura mendesah dan melayangkan bola matanya.

"Lalu, apa hubungannya dengan k-kelas 3-A?" Hinata to the point.

"Nah justru karena aku bilang disana tidak menjual novel harem seperti itu ia malah terlihat jengkel dan menyuruhku mengambil mapnya yang tertinggal di kelas 3-A sebelum ia masuk ke kelas kita." Hinata hanya tertawa garing melihat Sakura yang sepertinya tidak ikhlas melayani perintah Kakashi.

"Kenapa tidak dengan Naruto saja?" Pertanyaan Hinata membuat Sakura terkesiap.

"Ta-tadi kulihat Naruto sedang bersama teman-temannya, terutama ada Rock Lee yang merengek padanya mengapa ia ditingga sendirian di kelas 1-B. Yah, jadi tidak enak menyuruhnya untuk menemaniku dan─ayolah Hinata istirahat sebentar lagi akan berakhir." Kini Sakura tampak jelas mengeluarkan air wajah memohon yang membuat Hinata tak bisa berbuat apa-apa. Namun disisi lain Hinata curiga atas sikap Sakura belakangan ini aneh terhadap Naruto.

. . .


Setelah lolos dari keramaian bak cendol dalam gelas karena ini istirahat I dan terutama lantai 3 terdapat kantin yang ramainya tak kenal ampun, sampailah perpaduan surai pink dan indigo itu di depan pintu 3-A yang terbuka sehingga mereka tak perlu repot lagi menggeser pintunya. Layaknya sang penyelidik, Sakura dan Hinata menengok hati-hati mengedarkan pandangannya kedalam kelas asing mengidentifikasi seseorang yang dikenalnya.

'Euh.. Sasuke', Batin Sakura keki setelah mendapati Sasuke─yang dengan gayanya menenggelamkan kedua tangannya kedalam saku─tengah mengobrol bersama teman-temannya, salah satunya Kiba dan Shikamaru yang memang hanya mereka yang Sakura dan Hinata kenal.

"Hinata, kau saja yang mengambil mapnya." Alih Sakura.

"Ti-tidak. Mengapa kau selalu melemparkan sesuatu yang sulit kepadaku?" Sakura hanya mendesah.

Tanpa mereka sadari, Kiba menoleh kearah Sakura dan Hinata yang sedang beradu mulut di balik pintu setengah masuk.

"Hei, Sakura Uchiha dan Hinata Hyuga sayang." Pekik Kiba di tengah kelas membuat teman-temannya ikut menoleh kearah Sakura dan Hinata, termasuk Sasuke.

Sontak keriuhan yang berawal dari Kiba mengerubungi mereka berdua terutama Sakura dengan pertanyaan-pertanyaan─yang mungkin sudah lama para pelajar Konoha IHS urungkan.

"Sayang?!" Tak menggubris pertanyaan yang diajukan kepadanya, Sakura justru mengernyitkan dahi seraya menatap tajam sahabat yang berada disampingnya. Wajah Hinata pun memerah hanya menautkan jari telunjuknya dan memutar-mutarnya, menimbulkan kebiasaan masa kecilnya yang sepertinya kambuh saat remaja dini hari.

"Sakura Uchiha? Kau kelas 1 apa? Sungguh adik Sasuke? Sasuke dia adikmu?" Bahkan salah tiga sampai empat orang murid 3-A juga mengajukan pertanyaan kepada Sasuke.

Sasuke hanya bersandar pada meja dengan santai menjawab, "Tanyakan saja padanya."

Sakura memberinya glare death seakan-akan Sasuke melemparkan semua beban pertanyaan ke punggungnya. Namun Sasuke hanya membalasnya dengan senyum simpul.

"Hei kau adik Sasuke? Cantiknya." Inilah salah satu dari banyak pertanyaan yang sering diajukan ke hadapan Sakura.

Sakura hanya memaksakan senyum agar tidak merubah imagenya dan menggaruk pipinya yang tak gatal dengan jari telunjuk, "Hm, bisa dibilang."

Shikamaru melihat keriuhan dengan wajah malas, "Pantas saja Sakura sangat membencimu." Namun Sasuke hanya tertawa kecil melihat adiknya yang kebingungan.

"Hei, Sakura. Kau tau rahasia apa yang Sasuke sembunyikan? Soalnya akhir-akir ini dia─"

"Ehem. Kalian berdua, hehe Maafkan aku membuat kalian risih. Ada keperluan apa kalian kesini?"

Pertanyaan dari salah satu murid 3-A yang tidak lain adalah Karin sebenarnya sedikit menarik perhatian Sakura. Namun kalimatnya terputus lantaran Kiba memotong pembicaraannya didukung bel tanda masuk telah berbunyi yang secara tak langsung membubarkan kumpulan orang-orang yang bertanya.

"Ah aku hampir lupa. Kiba-senpai, apa Kakashi-sensei meninggalkan mapnya disini? Si masker korupsi waktu itu minta tolong─maksudku menyuruhku mengambil mapnya." Sakura berkata malas.

Pandangan Sakura menangkap Sasuke yang sedang bercakap kini menoleh kearah dirinya. Dan lagi tanpa alasan, Sasuke menjelirkan lidahnya tepat kearah Sakura membuat mereka perang Jelir Lidah─Oke itu nama yang agak aneh kurasa. Kiba yang melihat tingkah mereka jelas mengangkat sebelah alis nanar.

"Oh ada sih," Kiba menoleh ke siapapun seseorang yang berada di dekat meja guru yang berada di depan karena pintu kelas berada jauh di belakang LCD Board. "Tolong ambilkan map Kakashi-sensei ya siapapun." Kiba meminta tolong dengan cengiran dan ada saja salah satu murid yang mengambil dan menyerahkannya.

"Nih. Dan oh ya, bisakah kau mengambil berkas rapat di ruang OSIS istirahat kedua nanti?" Kiba menyodorkan sebuah map dengan senyum tersirat dan Sakura mengangguk berat mendengar kalimat kedua Kiba lalu berterimakasih atas mapnya.

"Satu hal lagi. Aku tidak salah dengar kan kau memanggil Hinata sayang?" Sakura menanyakan sesuatu yang sedaritadi membuatnya penasaran.

"Sa-sakura, ano..." Hinata menarik sedikit lengan baju Sakura.

"Kami kan sudah jadian." Kiba berterus terang.

"HAH?" Sakura menerjapkan matanya tak percaya kini beralih menatap sang gadis indigo.

. . .


*Sakura POV*

Sejujurnya, pelajaran Kakashi-sensei lah pelajaran kesukaanku, Seni Budaya dan Keterampilan. Biasanya, keterlambatan Kakashi-sensei masuk kelas membuatku pegal hati. Namun, ada untungnya juga julukan 'Kakashi-sensei Sang Korupsi Waktu' disaat genting seperti ini. Aku dan Hinata yang terlambat masuk kelas jadi merasa aman lantaran kami datang lebih dulu sebelum Kakashi-sensei. Padahal kurang lebih sudah 15 menit yang lalu bel masuk dilantunkan.

Selain pertanyaan-pertanyaan mengganggu, satu hal lagi yang membuat kami─terutama aku─terlambat masuk kelas.

Hinata telah menjadi kekasih Kiba-senpai.

Dan Kiba-senpai adalah kekasih Hinata.

Sungguh Hinata tak pernah menceritakan apapun padaku. Maka dari itu, selama perjalanan dari lorong lantai 3 kemudian menuruni tangga dan menyusuri lagi lorong lantai 2 yang saat itu terasa jauh dan panjang bagiku, mengisi topik pembicaraan kami seputar apa yang sebenarnya telah terjadi diantara mereka.

"Kapan kalian jadian? Siapa yang menyatakannya? Siapa yang─"

"Sa-sakura, aku minta maaf sebelumnya tak memberitahumu soalnya aku malu. Baik aku akan jawab pertanyaanmu tapi satu-satu." Wajah Hinata merona dan aku menanti jawabannya penasaran.

"K-Ka-kami jadian saat hari ketiga kita liburan di Villa Kiba-kun..." Sungguh, sebenarnya aku agak geli mendengar kata '-kun' di akhir nama Kiba-senpai─Maafkan aku Kiba-senpai, Hinata.

"Pantas saja! Insiden kalian saat permainan voli itu membuat kalian salah tingkah dan Kiba-senpai beraninya melakukan hal itu. Terlebih lagi, kau lambat mendorongnya padahal bisa saja kau menamparnya!" Jawabku antusias membuat Hinata berdesut mengisyaratkan agar aku mengecilkan volume suaraku.

"Ta-tapi aku sungguhan mendorongnya. Aku jadi tidak enak..." Oh Hinata. Mengapa dirimu begitu lugu.

"Siapa yang menyatakan perasaannya terlebih dahulu?" Tanyaku.

"K-Kiba-kun..." Gadis bersurai indigo itu menyembunyikan wajahnya malu.

"Sungguh?! Selamat ya!" Dan Hinata berterimakasih. Aku tersenyum saja melihat Hinata yang ternyata kini cintanya berbalas dan tak lagi hanya sekedar mengagumi dari kejauhan. Walau dengan Kiba-senpai aku agak tidak merelakan sahabatku ini, tapi ada kepuasan sendiri melihat sahabatku bahagia.

.

.

. . .


Mengapa hari ini sungguh panjang sih? Belum lagi aku harus mengambil berkas rapat OSIS yang tentu saja di ruang OSIS yang berada di lantai 4. Konoha IHS memiliki 4 lantai sebagai lantai teratas yang di khususkan untuk ruang klub dan organisasi seperti OSIS. Padahal Kiba-senpai hanya menempuh satu lantai mengapa harus menyuruhku yang harus menempuh 2 lantai?

Setelah mengambil berkas yang dimaksud, aku mengunci kembali ruang OSIS. Belum sempat sepenuhnya aku membalikkan badan, aku menjerit kaget. Alhasil seluruh berkas bawaanku berhamburan kemana-mana. Bagaimana tidak? Tepat dimana arah aku memalingkan tubuhku, disanalah terdapat seseorang yang tengah berdiri sangat dekat. Syukur jika aku memalingkan pada arah sebaliknya, orang itu pasti sukses terabaikan. Segera aku menyusun kembali berkas OSIS yang tersebar.

"Berlebihan sekali. Memangnya aku seseram apa?" Seseorang disampingku kini mengeluarkan suara yang familiar di telingaku seraya membantu mengumpulkan kertas-kertas yang berhamburan.

"Ah maaf. Lagipula siapa suruh kau tiba-tiba─" Kini terlihat jelas objek apa yang berada disampingku saat aku menoleh kearahnya.

"Naruto?!" Seseorang yang kusebut namanya malah memancarkan seringai cerah kehadapanku.

Lagi. Teringat lagi akan hal itu membuatku secepat kilat mengumpulkan berkas yang bertebaran, termasuk berkas yang telah dikumpulkan Naruto dengan cepat kuambil dan meninggalkannya.

"Oi Sakura-chan! Kau masih menghindariku?"

.

.

Sakura Flashback ON.

"Naruto! Ayolah cepat! Yang lainnya sudah menunggu di stasiun!" Aku berseru mengingatkan kepada Naruto yang berjalan lamban dibelakangku lalu berjalan lagi meninggalkannya.

"Hn." Jawab singkat pemuda pirang itu, namun tak lama ia memanggilku, "Sakura."

Aku yang mendengarnya lantas menoleh, "Apa?"

"Tunggu sebentar, ada yang ingin ku bicarakan." Naruto bermimik serius.

"Ada apa?" Kuhentikan langkahku. Jarang sekali Naruto serius.

Naruto menghampiriku kontan menarik tanganku dan menggiringku mengikutinya.

Masih di dekat kawasan Villa Inuzuka, Aku mengikuti Naruto yang merarik tanganku seenaknya. Jelas kami melawan arah dimana stasiun dan teman-teman berada. Namun sungguh aku tak menyangka, bagaimana Naruto bisa memukan tempat ini?

Aku melewati jalan setapak yang hanya berlapis bebatuan tipis nan lebar. Disusur jalan setapak itu dihimpit oleh pepohonan sakura yang besar. Angin yang berhembus menjatuhkan hampir semua helaian kelopak bunga sakura membuat jalanan yang kami lalui berwarna pink kemerahan. Hingga diujung jalan setapak itu terlihat sebuah gerbang lengkung nan menjulang berukuran sedang bertuliskan Flower Garden.

Saat memasukinya, ternyata tulisan besar yang terpampang di gerbang tersebut bukanlah sebuah bualan belaka. Aku tertegun dengan apa yang kulihat. Kemanapun aku mengedarkan pupil emerald milikku, yang terlihat hanyalah rerumputan penuh dengan beraneka ragam bunga dan ya ampun, bahkan ada taman bunga matahari di sisi kanan. Kemudian di seberang taman bunga yang luar biasa indah itu terdapat sebuah sungai yang jernih mengalir dengan tenang. Pantas saja aku merasakan hawa-hawa sejuk namun berbau-bau air dan tanah subur. Ini benar-benar luar biasa.

"Bagaimana kau bisa temukan tempat seindah ini?"

Naruto─yang masih memegang tanganku─ tersenyum tak kalah indahnya membuatnya semakin tampan.

Tunggu. Tampan? Bagaimana bisa tanpa sadar aku mengakui bahwa dia tampan?

"Kemarin malam. Saat ingin mencari udara segar, aku penasaran kemana jalan ini berujung. Suasana malam tak kalah indahnya dengan ini, soalnya di sana." Jeda Naruto menunjuk kearah sungai, "Kunang-kunang malam keluar dari tempat persembunyiannya menampilkan cahanyanya dan beterbangan diantara bunga-bunga." Kini Naruto beralih menatapku.

"Kemudian, langsung terlintas dipikirannku untuk mengajakmu dini hari dan menunjukkan indahnya hamparan bunga-bunga itu di hadapanmu." Naruto terkekeh. Aku tak bisa berkata apa-apa. Kemudian mengalihkan wajahku melihat sekeliling haparan bunga tersebut.

"Ini sungguh menakjubkan." Tuturku tulus.

Naruto menarik genggaman tanganku semakin dekat dan aku sontak tertarik ke hadapannya. Tangan kosong sang pemilik iris blue sapphire itu memegang halus rambutku dan mendekatkanku perlahan ke wajahnya yang kini setara denganku. Naruto memejamkan matanya semakin mendekatkan bibirnya ke bibirku yang hanya berjarak beberapa centi. Dadaku berdegup kencang.

Sentuhan kecil di bibirku terasa hangat. Aku meremas kerah Naruto namun apalah daya aku terhanyut kedalam ciumannya. Tanpa sadar aku ikut memejamkan mataku. Ciuman pertamaku berlatar taman bunga. Kurasa tak terlalu buruk.

Pemikiran jernihku memutuskan hasratku membuat Naruto terdorong. Aku tak bisa mendinginkan wajahku yang terasa sangat panas dengan hembusan angin yang tak mendukung sama sekali.

"A-apa yang kau lakukan?" Aku tergagap. Naruto menghampiriku dengan tenang dan menarik tanganku.

"Will you be my girl?" Oke. Tak bisa dipungkiri lagi wajahku kini merah padam.

"A-aku..."

Sungguh, aku tak tahu harus berkata apa. Bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaanku terhadapnya. Naruto yang dulunya si pembuat onar melakukan hal romantis semacam ini? Aku buru-buru menarik tanganku dari gengamannya dan berbalik badan. Aku tak sanggup melihat wajahnya.

"Le-lebih baik kita kembali ke stasiun sekarang. A-aku yakin mereka sudah lelah menunggu kita.." Aku mengalihkan topik pembicaraan.

"Bagaimana dengan jawabannya─"

"A-ayolah yang lainnya sudah menunggu."

Sakura Flashback OFF.

.

.

Kurasakan genggaman erat pada lenganku secara tiba-tiba dan dengan terpaksa langkahku pun ikut terhenti. Terdengar suara napas Naruto yang terengah dibelakangku. Apa aku berjalan terlalu cepat menghindarinya?

"Ada apa denganmu? Apa karena kejadian kemarin?" Pemuda tinggi berambut kuning itu bertanya.

Aku membeku. Berkata dalam keheningan. Benar, Naruto.

"Maaf kemarin aku tak bisa mengontrol nafsuku. Tapi aku sunguh-sungguh tulus mencintaimu." Papar Naruto.

Jangan minta maaf, ini bukan salahmu.

"Tolong lepaskan tanganku, Naruto." Kata-kata inilah yang justru malah terucap.

Tidak menuruti kata-kataku, sang remaja bersurai kuning itu malah lebih tak membiarkanku pergi. Posisi yang strategis. Aku berjarak sangat dekat dengan dinding yang berada di sebelahku dan Naruto sukses membuatku terpojok. Dengan menarik ku menabrak dinding, kini ia tak membiarkanku pergi, menghalangi sisi kanan dan kiri tubuhku dengan kedua lengannya yang jenjang. Kini Sakura Uchiha bagaikan burung yang terkurung dalam sangkar.

"Sakura-chan, jangan membuatku bingung. Maaf tapi sikapmu setelah kemarin sungguh membuatku bingung. Apa aku berbuat salah terhadapmu? Apa kemarin aku terlalu keterlaluan?" Wajah tak berdosanya benar-benar sangat dekat denganku. Kata-katanya membuatku bingung sampai ingin menangis.

"Sakura-chan, ada apa?" Memalukan, aku malah mulai menangis.

"Dasar idiot." Jedaku mengusap air mata yang hampir jatuh.

"Aku tak tahu, bodoh. Ini pertama kalinya aku mengalami hal seperti ini dalam hidupku. Seseorang terdekatku menyatakan perasaannya terhadapku dan kurang ajar, dia malah mencuri ciuman pertamaku." Aku memukul Naruto yang berada di hadapanku disertai tangisanku yang tak mau berhenti.

"Sungguh. Aku tak tahu.. hiks." Pemuda itu hanya terdiam tak mengacuhkan pukulan-pukulanku yang ia terima. Dia memelukku.

"Bodoh. Kau bisa simpan jawabannya nanti." Naruto menenangkan.

*Sakura POV End*

. . .


Suasana diantara sepasang surai berwarna cerah itu kini sudah lebih tenang dan tidak terlalu canggung dibanding sebelumnya. Meski Sakura belum menjawab pernyataan Naruto, hubungan mereka berjalan mulus seperti sediakala. Dan setelah itu, Naruto menemani sang pemilik manik emerald mengantarkan berkas OSIS kepada Kiba.

Sakura memanggil Kiba setelah sampai dikelasnya. Pemuda jabrik coklat yang merasa namanya terpanggil itu menghampiri sumber panggilannya dan Sakura segera menyerahkan berkas-berkas tersebut. Sakura mengedarkan iris emeraldnya ke dalam kelas 3-A. Dan ia menyadari sesuatu. Tidak ada Sasuke.

"Kemana Sasuke?" Tanyanya terus terang.

"Oh Sasuke. Dia pulang lebih cepat." Kiba yang awalnya sedikit terkesiap menjawab sesantai mungkin.

Naruto dan Kiba-senpai beradu pandang membicarakan sesuatu tanpa perlu fungsi indera pendengaran─tanpa diketahui Sakura tentunya. Dalam bisu, perantara komunikasi dari mata ke mata, Naruto membalas dengan tatapan dalam mengerti apa yang telah terjadi.

"Pulang cepat?" Air wajah sang pemilik manik emerald kini menunjukkan kebingungannya.

.

. . .


Satu hari penuh yang merupakan hari pertama semester dua adalah hari yang panjang bagi Sakura pada khususnya. Dan tak terasa, kini ia telah berada di ujung hari yang panjang itu. Kegiatan belajar mengajar telah berakhir.

Di temani Naruto, mereka keluar aula bersama-sama─Pulang. Tak lama kemudian, Sakura menghentikan langkahnya kurang lebih lima jengkal dari ambang pintu aula. Iris emerald yang dimilikinya membulat. Fokus memandang objek jauh yang dilihatnya.

"Naruto." Panggilnya agak berbisik. Naruto yang berjalan lebih dulu di depan sang gadis yang memanggilnya menghentikan langkahnya dan menoleh.

"Hn?"

"Pagar sekolah ini..." Jeda Sakura menelan ludah lalu melanjutkan, "Tinggi..."

.

.

~ TO BE CONTINUED ~

.

.

.


Author Note :

Aaaa Aku tau ini kepanjangann, maaf banget Bingung mau stop di scene mana. Kadang perasaan 'nanggung' muncul terus di chapter ini, jadinya... ngalir terus deh kata-kata :(

Maaf kalo kepanjaangan dan maaf pasti bacanya bosen dan banyak di skip ya:") Tidak apa kok aku tetap berterimakasih karena udah sempat membacanya..

Thanks to Ruby Fair, siskap906, Qyzzq, asdfghjytredfghj, dan Jeyhan Zouwilla yang udah mampir.

Makasih juga buat semua reviewers yang baca fanficku dan yang terpenting memberi review:') dan untuk para silent readers juga sankyuu :D

Dan satu lagi. Banyak pertanyaan yang nanya 'kok Sakuranya cuek banget?'. Hmm aku emang sengaja buat Sakunya cuek disini. Nanti akhirnya lihat saja, bisa jadi dia berubah._.

Jadi, chapter ini terlalu panjang atau tidak? kalau iya, maka besok-besok akan lebih sedikit. mungkin ini chap terpanjang.-. Maka dari itu, Mohon kritik dan saran.

Lanjut?

Review kalian akan sangat membantu! ^^