"Is it important I am to you?."
Story begin~~~ (Sekarang Chapter FLASHBACK)
18.30 PM (KST)
"hahh…."
Tarikan nafas panjang mewakili rasa sakit yang dirasakan oleh Wonwoo saat ini. Sudah banyak sekali hal-hal yang Mingyu lakukan dan membuat dadanya sesak dan sakit. Sebenarnya Wonwoo sudah tidak tahan dengan ini semua, Wonwoo ingin bercerai dengan Mingyu , Wonwoo tidak ingin menatap Mingyu lagi, tapi semua itu hanyalah percuma. Wonwoo tidak bisa melakukannya karena ia sudah jatuh dalam pesona Mingyu, Wonwoo sudah jatuh cinta pada Mingyu. Tak kuat Wonwoo menatap mata Mingyu dalam-dalam karena itu hanya membuatnya menambah kesakitan dan luka pada hatinya yang rapuh itu. Wonwoo hanya mencoba berusaha kuat di depan walau hasilnya ia tidak bisa.
Wonwoo duduk termenung diatas kasur empuknya sambil menyelimuti dirinya sendiri dari angin dingin yang masuk kedalam celah-celah fentilasi udara dari atas jendela kayu lapuknya. Wonwoo meluruskan kakinya dan tangan kanannya memegang kaki dan tangannya yang tidak ada itu. Tak merasakan gerakan apapun dari bagian itu, hanya terasa kosong bolong. Masa lalunya tentang kecelakaan itu teringat lagi, masa disaat ia kehilangan kakinya sekaligus kehilangan cinta dan kasih sayang dari kedua orangtuanya.
(kalau ada tulisan italic flashback)
Waktu telah menunjukkan angka 8 malam, semua orang sudah akan menyelesaikan kegiatannya hari ini untuk beristirahat, mengumpulkan energi lagi untuk menjalankan kegiatannya kembali untuk hari esok. Sama seperti namja kecil nan imut ini yang tengah berada di dalam mobil kedua orangtuanya. Ia tengah berbahagia karena hari ini kedua orangtuanya dapat menghadiri acara sekolah yang kebetulan mengundang orang tua untuk melihat kejutan dari sang anak. Seperti yang kalian ketahui, orang tua yang diberi kejutan oleh sang anak akan terharu melihat hasil karya sang anak sendiri, mencurahkan semua isi hatinya dengan menggambar ala anak sekolah dasar kelas 2 yang sangat polos.
"Eomma, Appa! Wonwoo menggambar bagus sekali ne?" Tanya pemuda kecil yang bernama Wonwoo itu
"Neee, uri aegi sangatt pintar menggambar, nanti kita pasang gambar ini di ruang tengah agar kita bisa melihat gambaran Wonwoo setiap hari, ok?" Ucap sang eomma sambil mengacungkan jarinya yang sudah berbentuk 'ok'
"Uwahhhh, berarti nanti halmonie dan halaboji bisa melihat gambaran Wonwoo?" Mata Wonwoo berganti menjadi berbina-binar senang
"Kau senang gambaranmu dilihat oleh halmonie dan haraboji, hm?" Kini sang appa membuka suaranya untuk berbicara dengan keluarga kecilnya itu, pertanyaanya hanya dijawab dengan anggukan semangat '45' Wonwoo
Kringg…Kringg…Kringg…
Terdengar suara bunyian handphone dari kantung Jeon Youngjae, ia terlonjak kaget karena tiba-tiba ada getaran pada saku celananya. Dengan cepat ia mengambil handphone dari sakunya yang terus bordering dan bergetar di saku celananya. Namun, sang istri menahannya dan mengambil handphone itu dari sakunya
"Sudahlah yeobo… Kau menyetirlah aku akan memegangimu handphonemu dan berbicara dengan klienmu" Katanya lembut. Akhirnya Youngjae pun memulai percakapan teleponnya, dengan setia sang istri memegang handphonenya
Wonwoo yang tengah duduk dibelakang sudah merasakan kantuk yang menjalar pada matanya, ingin sekali ia menutup matanya. Akan tetapi Wonwoo melihat ada sebuah truk menyalakan lampunya dengan sangat terang dan juga membunyikan klaksonnya dengan sangat kencang. Wonwoo pun menghadap kebelakang dan melihat truk besar itu, Wonwoo melihat truk itu terkagum-kagu. Biasalah namanya juga anak lelaki pasti senang dengan mobil.
Wonwoo heran, truk itu semakin mendekat dan mendekat pada mobilnya tidak mengarah kepinggir Wonwoo pun menghadapkan kembali badannya dan menarik sedikit baju eomma dan appanya
"Eomma… Appa…" Panggilnya pelan, tapi sang eomma hanya menaruh telunjuknya pada bibir kissablenya
"Jangan mengganggu nanti handphone appa jatuh" kata sang eomma lembut
TIIINNN…..TINNNN…..TINN…
Suara yang terdengar sangat nyaring menusuk telinga Wonwoo, Wonwoo yang melihat kebelakang sekarang merasa takut, takut karena truk itu semakin dekat dan akhirnya ia berteriak di dalam mobil itu
"APPA PPALLI CEPATKAN MOBILNYA, TRUK BESAR SEMAKIN DEKAT!" Teriakan Wonwoo membuat kedua orang tuanya melihat kebelakang dan benar saja truk itu sudah dekat, kaca depan truknya saja sudah terlihat dengan jelas sekarang
BRUK!
Bagian belakang mobil Wonwoo sudah tertabrak truk dibelakangnya Wonwoo yang sedang duduk dibelakang sekarang ketakutan dan merunduk diantara kursi depan dan belakang (duh author ga tau nama apanya, pokonya itu didalem dan biasanya diinjek buat kaki/? wks~) Wonwoo menaruh kedua tanggannya diatas kepalanya, ia mendengar keributan panik di kursi depan. Saat ini pikirannya hilang kemana, ia hanya berdoa eomma dan appanya selamat termasuk dirinya.
TUK! (?) (suara ban pecah)
"PPALLIWA YEOBO! TRUK ITU SUDAH MENABRAK BAGIAN BELAKANG! WONWOO CHAGI! AYO BERSAMA EOMMA!" Percuma sang eomma mengajak bersamanya Wonwoo sudah tak bisa mendengar apa-apa lagi, kepalanya sudah pusing karena Wonwoo mendengar decitan linu dari bagian belakang ban kemps yang bergesekkan dengan aspal
"AKU SUDAH MENGGASNYA SAMPAI TERTINGGI YEOBO! BENSIN MOBIL INI HABIS! DAN BAN BELAKANG PECAH" Teriaknya tak kalah kuat
"BAGAIMANA INI?!" Sang supir truk yang ada di belakangnya telah berteriak jika rem truknya tidak berfungsi dan menyuruh mobil mereka menepi, tapi tak bisa karena bagian belakang mobil ada yang sedikit menempel sehingga sangat susah melepaskannya
Tak lama terlihat sebuah mobil sport melaju kecang dang ugal-ugalan. Mobil itu telah menabrak pembatas jalan dan terpental kesana kesini, mobil itu menabrak bus yang ada di depannya dan membuat bus itu oleng. Pada akhirnya bus itu membanting stirnya tepat pada arah mobil Wonwoo dan truk dibelakangnya.
BRAAAKKK….
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA…" seluruh isi mobil Wonwoo penuh teriakan histeris dari sang ibu dan sang ayah hanya memeluk istrinya seakan jangan sampai terluka, sedangkan Wonwoo ia hanya berpegangan pada kursi kemudi sang ayah. Wonwoo juga berteriak layaknya anak kecil yang takut dengan hantu/?
Mobil Wonwoo terguling-guling, keluar dari jalanan beraspal. Berguling berkali-kali hingga terhenti adanya pohon tua dan semak-semak belukar di sekitar situ. Badan Wonwoo terpental keluar dari mobil dan menghantam sebuah pohon tua yang diatasnya terdapat kayu rapuh dan semak-semak dengan sisa –sisa kayu sedang tajam. Kepala Wonwoo sudah berdarah karena terkena batang kayu besar, rasa sakit sudah menjalar hingga kepalanya. Samar-samar ia melihat ibu dan ayahnya sudah jatuh pingsan dan tergeletak tak berdaya di dalam mobil. Wonwoo melihat batang kayu yang cukup besar akan jatuh dihadapannya. Wonwoo ingin menjauh tapi badannya terlalu sakit ditambah dengan badannya masuk kedalam semak belukar
BRUKK… SRRRKHS (Anggep suara daun yang jatuh ke bawah)
Matanya membuka lebar dan mulai berembun, sakit yang dirasa bukan sakit yang biasa namun sangat luar biasa. Wonwoo merasa tangannya sudah mati rasa dan tak tanggung-tanggung ranting itu jatuh tepat di bagian kirinya, tangan kirinya sudah menjadi korban, sekarang kaki kirinya yang menjadi korban. Ia merasakan jika kaki kecil kirinya tertusuk dengan ranting-ranting semak itu dan Wonwoo merasa kayu-kayu tajam yang terdapat di bawah semak-semak itu menusuk kakinya. Wonwoo ingin berteriak minta tolong, tetapi karena badannya terlalu sakit ia tidak bisa berteriak. Tak lama alam kesadaraan Wonwoo semakin menipis, tangannya menggapai mobilnya yang berisikan kedua orang tuanya akhirnya Wonwoo tak sadarkan dan sedikit mendengar adanya orang-orang yang menghampiri mobil kedua orang tuanya.
Wonwoo menggelengkan kepalanya menghapus kilasan kecelakaan 'masa lalu'nya yang begitu mengerikan. Wonwoo masih ingat tempat dimana kejadian itu, dimana ia kehilangan kaki dan tangan kirinya dulu. Oh sungguh miris cerita Wonwoo saat iu. Tiba-tiba Wonwoo teringat dimana ia kehilangan 2 alat geraknya, dimana ia hanya berjuang sendiri saat itu. Sebelum Bibi Lee datang dalam kehidupannya.
"eungh…"
Lenguhan kecil dari bibir ranum seorang namja kecil yang tengah berbaring tak berdaya diatas kasur putih bersih itu. Melihat sekelilingnya, hanya berhiaskan cat putih dan pendingin ruangan di dalamnya. Disisi kanannya, Wonwoo melihat sebuah infus-an yang menggantung di sebelahnya Wonwoo merasakan tangan memang tangan kanannya ditusuk oleh jarum infus.
Matanya masih sayup-sayup beradaptasi dengan tempat yang Wonwoo tempati sekarang. Wonwoo mulai menggerakkan kepalanya, kekiri dan kekanan dan matanya menyipit karena agak terasa sakit di kepalanya. Wonwoo melihat kasur disebelah kirinya, terdapat 2 kasur kosong disitu. Ternyata dugaannya benar Wonwoo satu-satunya seseorang yang tidur disini. Wonwoo sudah menyadari jika dirinya sudah di rumah sakit, ia mengingat kejadian kemarin disaat Wonwoo dan kedua orangtuanya tak sadarkan diri.
Ah! Wonwoo teringat dengan ibu dan ayahnya, Wonwoo mulai membangkitkan badannya dari kasur ini tapi, Wonwoo merasakan ada anggota badannya yang kurang. Wonwoo tidak merasakan pergerakkan lagi di tangan kirinya, ia mencoba menggerakkan tangan kirinya dan tidak merasakan apa-apa. Wonwoo memberanikan diri membuka bagian tangan kirinya yang tertutupi selimut –terbawa saat mau bangunin badannya, you knowlah what I mean readers-nim- dengan cepat ia membuka selimutnya.
SRETT…
Bagaikan bunga bermekaraan di badai salju. Wonwoo tidak percaya dengan semua ini, nafas Wonwoo tercekat melihat tangan kirinya hilang begitu saja dari tubuhnya. Wonwoo ingin lari dari tempat menyeramkan ini, tapi tunggu apa lagi ini? Kaki kirinya pun tak merasakan apapun, jangan-jangan terjadi yang tidak-tidak dengan kaki kirinya.
Dengan tangan bergetar dan muka yang telah dibanjiri air mata, Wonwoo membuka selimut yang menutupi kedua kakinya.
SRETT…
Mata Wonwoo ber-embun menandakan air matanya akan keluar lagi mengaliri muka putih chubbynya itu. Wonwoo memegang kakinya yang dililiti banyak perban itu, bertanya-tanya kemana kaki dan tangan kirinya pergi. Ia berusaha menuruni kasur itu, siapa tahu jika Wonwoo jatuh dari kasurnya kaki dan tangannya akan kembali dan berharap ini hanya mimpi.
BRAKK…
PRANGG…
Wonwoo terjatuh dari kasurnya ditambah dengan badannya yang membentur meja besi di samping kasurnya dan alhasil gelas kaca yang ada diatasnya jatuh kebawah membentur lantai. Jarum infus yang berada di tanggannya pun lepas dari tangannya. Tapi, untung saja pecahan kaca itu tidak mengenai tangan ataupun badan Wonwoo.
Disitu Wonwoo menangis dengan keras yang membuat orang yang melihatnya akan merasa iba. Tapi, disini Wonwoo hanya sendiri dan tidak ada siapa-siapa, Wonwoo mulai menyeret tubuhnya menuju pintu di depannya terlihat dari situ muka Wonwoo meringis kesakitan karena memang luka yang didapati Wonwoo sehabis diamputasi masih basah dan belum terlalu kering dan juga luka-luka lainnya yang ada di badannya.
Sedikit demi sedikit darah keluar dari kakinya, tapi Wonwoo tidak peduli ia tetap menyeret badannya keluar dari ruangan ini. Hingga suara pintu terbuka dengan keras, menampakkan seseorang dengan pakaian serba putih sambil membawa sebuah peralatan medis. Ternyata itu adalah dokter yang merawatnya. Sang dokter yang ber-name tag Kim Seokjin itu menatap nanar Wonwoo yang ada dibawahnya dengan muka penuh air mata dan disampingnya terlihat gelas pecah. Diangkatnya Wonwoo kedalam gendongannya dan Wonwoo ditaruh diatas kasur tadi. Wonwoo yang telah berada diatas kasur meronta-ronta tidak ingin berada di kasur. Akhirnya dokter yang akrab dipanggil Jin itu memeluk dan mengelus kepala Wonwoo dengan sayang sambil membisikkan kata 'tenanglah' berkalli-kali , setelah Wonwoo tenang dari tangisnya Jin melepas pelukannya menghapus air mata yang mengalir di pipi Chubby Wonwoo, lalu ia menatap Jin dengan penuh sorotan mata kesedihan.
"Euisa (dokter) kemana perginya tangan dan kaki Wonwoo? Kenapa tidak ada?" Tanya Wonwoo pelan sambil menunjukkan kaki dan tangannya
Jin yang berdiri di depan Wonwoo mengambil kursi agar bisa duduk didepannya, dan menggenggam tangan kanan Wonwoo "Tangan dan kakimu ada. Tapi, jika terus berada bersama dengan tubuhmu itu tidak baik untuk kedepannya. Jadi, kita pisahkan tangan dan kakimu dari tubuhmu agar kau menjadi lebih baik"
Wonwoo hanya mengerucutkan bibir kecilnya dan menahan tangisannya "Lalu, kemana eomma dan appa Wonwoo?"
"Oh iya, aku lupa. Kau baru sadar kan sebaiknya kau berbaring dan jangan bergerak" Jin membenarkan posisi Wonwoo menjadi tidur dan memakaikan selimut pada Wonwoo hingga setengah badannya.
"Eodi?" Tanya Wonwoo pelan
"Ah! Eomma dan appamu sudah sadar beberapa hari yang lalu dan sudah pulang beberapa minggu yang lalu. Seingatku mereka berdua tidur disebelah kirimu, disitu" Jin menunjuk kasur yang ada di sebelah kiri Wonwoo. Wonwoo yang mendengar penjelasan hanya mendesah lega jika eomma dan appanya dalam keadaan baik saat ini.
"Baiklah adik kecil siapa namamu?"
"Wonwoo"
"Eum… Aku Kim Seokjin, kau bisa memanggilku Jin, arra? Hmm, aku akan memeriksa keadaanmu oke? Hanya sebentar dan setelahnya kita akan berbicara sebentar ne?" Yang ditanya hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban 'ya'
Jin mulai membuka peralatan medisnya, mengecek tekanan darah Wonwoo, memeriksa detak jantung Wonwoo dan lain sebagainya. Hingga Jin baru menyadari jika tangan kanan Wonwoo membengkak dan tidak tersambung/? Dengan infusannya tadi.
"Dasar kau ini nakal, mencabut infus-an tanpa penanganan medis!" Ucap Jin memarahi Wonwoo dengan nada bicara yang dibuat-buat
Wonwoo hanya menunduk tidak berani menatap Jin lagi, Jin yang melihat Wonwoo menunduk langsung memeluk Wonwoo yang hampir terisak.
"Aigoo, aigoo… Aku hanya bercanda Wonwoo-ya, aku tau kau tidak sengaja mencabut selang infus itu, aigoo yaaaaa, jangan menangis nee? Jebal, air matamu akan habis jika kau terus menangis" Katanya sambil mengelus-elus punggung kecilnya itu
Ia tidak jadi menangis ketika mendapatkan pelukan hangat dari sang dokter, ia hanya menikmati setiap sentuhan lembut Jin yang diberikan padanya. Seperti kasih sayang seorang ibu pada sang anak.
"Jika kau sudah mulai tenang aku akan memasangkan selang ini pada tanganmu, agar kau bisa cepat keluar dari rumah sakit ini, ne?" Jin melepas pelukannya bersama Wonwoo dan membenarkan posisi Wonwoo menjadi seperti semula, setelahnya Jin mulai memasangkan jarum infus itu pada tangan Wonwoo.
.
"nah sudah selesai! Kau jangan melepasnya sampai ada suster atau diriku yang melepaskannya, arraseo?" Pertanyaan Jin hanya dibalas anggukan pelan oleh Wonwoo
"Ah! Sekarang sudah hampir pukul 12 siang, Wonwoo-ya tak apa aku tinggalkan kau sendirian disini? Eum, kau tenang saja jika kau lapar, nanti ada suster yang mengantarkan makanan ke ruanganmu dan euisa yakin eomma dan appamu akan menjenguk anaknya yang berada disini. Jika kedua orang tuamu datang kau bisa menyuruh eommamu untuk menyuapi makanan untukmu" Wonwoo hanya menatap wajah Jin lekat-lekat, seolah tak ada kebohongan yang nampak dari wajah Jin
Jin sudah membereskan peralatan medisnya ke dalam tas medisnya "Kalau begitu, aku pergi dulu Wonwoo-ya sampai jumpa besok. Annyeong!" Badan Jin pun menghilang dibalik pintu ruang kamarnya
"Jadi, ini semua bukan mimpi Wonwoo?" Lirih Wonwoo pelan
.
Jin berjalan sambil menepuk-nepuk pelan perutnya yang sedikit buncit itu. Jin merasa kenyang dengan makanan yang ia bawa dari rumahnya, sudah cukup puas Jin memakan semua makanan yang ia bawa dari rumahnya itu.
Jin melihat kesamping kanan dan menampakkan ruangan Wonwoo yang sunyi, Jin hanya mengeriyitkan alisnya bingung mengapa ruangan Wonwoo sangat sepi? Dan mengapa Wonwoo hanya menundukkan kepalanya saja?
TBC...
wahhh, maapkan saya kalau chap skrg mengecewakan, mianhaeeee:" /iyak saya/? Pankapan saya panjangin dah chapternya wkwkwkwk
entah sampai chapter berapa ini ceritanya tentang flashbacknya si Wonu bisa cacat sampe bisa nikah sm si aming yee~~ Biar semuanya tidak bingung saat membaca/? Selaku author di story ini/? saya sangat senang lebih tepatnya bahagia karena ada respon + dari kalian semua reader-nim:*
cast bakal bertambah seiring berjalannya waktu/? ~_~
reply revieww~
kookies: karena kalau kga cacat kga rame dong ceritanya ok! udah dikoreksi kok wkwkw maapkan
elfishynurul: wahh moment meani yg mana nih/? kalau hepi ending emmmm, malah kepikira sad ending masa.-. .g
jungjaegun: iya wonu itukan SETERONG:"
MEANIES: wkwkwk ntr ane bikin ff sang seme yang tersiksa ae dah/?
sasa: kasihani saya yang tidak bisa menontong konser suami nanti tanggal 27 :""""
Thanks for ur revieww^^ (ada yang saya kirim lewat PM)
