((((({© Before the Heart Stops Beat ©})))))

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Isi cerita milik Est ...

Juga bukan yaoi... hihihi...

Warning!'

1• Ini fic masih abal...

2• Gagal EYD masih ada...

3• Typo masih berseliweran... walaupun Est udah berusaha menguranginya...

['`:_:'`]

{•_•}

V

"Lapor Hokage-sama, Menma-Sama dan kelima temannya kembali membolos"

Ctak

selain bulpain yang ada ditangannya patah, terlihat pula urat-urat yang ada di pelipis Sang Hokage bermunculan dipelipisnya.

"Menma..." desis Sang Hokage marah... "dimana sekarang keenam anak itu?" Tanyanya pada sang Anbu.

"A ano, tadi mereka berada di atap akademi" jawabnya gugup karena pengaruh hawa asing menakutkan yang keluar dari balik punggung sang Hokage pirang tersebut.

Setelah mendapatkan jawaban dari Anbu yang ada dihadapannya, Hokage pirang tersebut langsung menghilang dengan tekhnik andalannya. Sesampai di atap Akademi, tepatnya dibelakang Menma yang kini tengah tertawa keras tanpa mengetahui suatu hal yang sangat menakutkan siap membuatnya takkan kapok dalam suatu hal yang lain(?). Sedangkan kelima teman seperjuangannya kini tengah menatap horor sang Hokage yang sedang memasang senyum terbaiknya, yang entah mengapa semakin membuat mereka taku pada duda tampan yang menjadi incaran gadis maupun janda tersebut.

"Ehem... Menma-chan, kau masih bisa tertawa lepas ya?, padahal Iruka-sensei tadi mencarimu loh..." dengan nada sing a song Minato bicara didekat telinga kanan Menma, "dan kalian semua, cepat ke ruangan Iruka-Sensei!" desis Minato dengan deadglare yang mampu membuat keenam anak itu lari menuju keruangan Iruka.

Di ruang guru, terlihat Iruka yang sedang menyalin nilai murid-muridnya dengan seriusnya, karena merasakan kehadiran seseorang di ruangannya ia mendongakan kepalnya dan mendapati Sang Hokage pirang yang tengah tersenyum ramah dihadapannya. Karena nasehat tentang sopan santun dari orangtuanya yang sudah terpatri dalam otaknya ia berdiri dari kursinya dan membungkuk hormat pada sang Hokage

"Selamat siang Hokage-sama,"

"Maaa... Iruka, jangan terlalu kaku padaku, lagian aku kesini menunggu beberapa bocah yang sedang menikmati masa mudanya," baru saja mau menjelaskan kepentingannya, harus terhenti karena ketukan pintu dibelakangnya.

"Umm... ano Iruka-sensei kami disuruh Hokage-sama menemui anda," jelas Menma dengan keringat sebesar biji jagung dikeningnya.

"Masuk kalian!" Perintah Minato "sekarang beri tahu aku siapa yang mengajak kalian bolos?" Tanya Minato dengan mode pempinnya, bahkan dihadapn putranya sendiri.

"A aku, Hokage-sama," jawab Menma takut-takut.

"Bukan, tapi kami memang berniat untuk bolos dari awal" sela Sasuke tanpa rasa takut

"Iya, Anda tahukan Hokage-sama, kalo sekolah itu merepotkan, jadi kami sengaja berniat membolos bersama-sama" sahut Shikamaru dengan nada malasnya.

Mendaati kekompakan keenam bocah dihadapnya membuatnya mengangkat alis kananya,

"Benarkah? Padahal sebelumnya aku sudah menyiapkan hukuman yang lebih riangan bagi kalian yang tidak menjadi penyumbang ide ini, karena kalian bilang bersama-sama, hukuman kalian aku ganti dengan alat pemotong kuku dan gunting katak ini," terang Minato dengan seringaian yang membuatnya semakin tampan(?)

"Untuk apa ini Hokage-sama?" Tanya Shino setelah menerima gunting katak (gunting yang dibawa oleh temannya badrol di upin ipin di episode hantu durian)

"Mudah, kalian hanya perlu membersihkan rumput liar yang ada disawah petani tua yang tinggal dipingir desa"

""APA...""

"Tapi Hokage-sama, bagai mana kalau orang tua kami mencari nanti?" Tanya kiba yang sebetulnya ingin protes.

"Tenang saja, orangtua kalian nanti akan ku beri tahu," dengan kata seringan kapas, dia memberi kedipan pada keenam murid akademi dihadapannya. "Nah... kalian akan didampingi oleh Kakashi yang kebetulan sedang kosong, jaa..." setelah mengatakan hal tersebut, dia langsung menghilang dengan Hiraishinnya.

"Nah... bukankah sudah Sensei bilang, kalau kalian membolos lagi akan ada hadiah spesial dari Hokage-sama," ucap Iruka lelah dengan keenam muridnya yang hampir setiap hari membolos jam pelajaran sehingga dengan terpaksa ia melaporkan pada wali murid masing-masing.

"Kau tega Sekalih Sensei..." rengek Kiba pada sang Sensei yang melaporkan kelakuannya pada orangtuanya.

"Maa... kalau tidak dihentikan kalian bisa keterusan loh..." sahut suara malas yang berada dibelakan mereka.

"Eeehhh... kau orang-orangan sawah yang waktu itu," teriak Kiba sambil menunjuk tepat dimuka Kakashi

"Namaku Hatake Kakashi, dan aku yang akan mengawasi kalian selama masa hukuman kalian, oh iya, Hokage-sama bilang kalian harus menyelesaikan hukuman kalian tanpa mengunakan jurus ninja ataupun yang lain, dan juga kalian akan menginap di rumah Konoichi-san sampai rumput liar yang ada diladangnya bersih,"

"""A APA... JANGAN BERCANDA...""" teriak mereka kompak

"Aku serius, duarius malah" ucap Kakashi dengan senyum yang terlihat dari matanya.

"Aku tidak terima ini, bagaimana hidupku jika tidak bertemu dengan Naru-chan manisku?" Teriak Menma protes.

"Hn, padahal kemarin dia memintaku membelikan jeruk segar," sahut Sasuke.

"Ish ish ish, Kasihan..." ejek Kakashi.

"Yak, kau orang-orangan sawah mesum"

"Daripada kalian protes terus sebaiknya kita cepat berangkat dan menyelesaikan hukuman ini" lerai Shino dengan datar.

"Hooaaamm... walaupun merepotkan, tapi aku setuju dengan Shino, kita selesaikan ini dan aku bisa tidur sepuasnya kembali!"

"Krauk... aku ikut krauk... Shika saja krauk..."

.

.

.

.

Tidak lama berjalan beriringan akhirnya mereka sampai ketempat yang dituju, didepan pintu sebuah rumah yang terlihat asri dengan gaya tradisional.

"Jadi kalian orang yang dikirim oleh Hokage-sama, hemm... cukup banyak, masuklah! Tugas yang kalian kerjakan berada dibelakang rumah ini," menyambut dengan ramah pria tua yang terlihat masih bisa berdiri dengan kokoh, serta kulit yang penuh keriput Mengajak para siswa tersebut memasuki rumahnya

Setelah sampai dibelakang, kini keenam calon Shinobi tersebut membelalakan matanya karena mendapati ladang yang harus mereka potongi rumputnya bahkan hampir seluas lapangan sepak bola, dan itu tanpa diperbolehkan mengunakan chakra, serta hanya mengunakan gunting kuku dan mainan anak-anak.

"Hikz... Tou-san tega..."

"Hokage yang kejam..."

"Minato-san jahat..."

"Dia berniat membunuh kita secara perlahan..."

"Aaarrghhh... aku adukan dia pada Kaa-san..."

"Tidak berperasaan"

"Benar, kasihan sekalih kalian... kerjakan betul-betul yah... aku dukung kalian dengan do'a semoga kuat dan tahan lama," gurau Kakashi menanggapi keluhan keenam bocah yang terlihat frustasi.

.

.

.

.

.

"Sudah sore Naru, sebaiknya kau kuantar kembali ke Kantor Hokage"

"Nanti saja Jii-chan, lagian Nalu tadi juga sudah minum obat, dan Nalu masih ingin belcama Sai-nii dan Shin-nii," tolak Naruto saat Danzo akan mengembalikannya(?) Pada ayahnya. Setelah Danzo keluar dari kamar Sai dan Shin, mereka kembali keposisi semula, yaitu Shin yang membaca gulungan jutsu, Sai yang mengambar dan Naruto yang membaca tumpukan kertas yang berisi kumpulan tekhnik serta keterangan lengkap tentang kelemahan dan kelebihan jutsu yang dicatat ulang oleh Shin.

"Apalagi yang ingin kau tanyakan Naru? " tanya Shin saat merasakan tarikan pelan dikaosnya.

"Nii-chan, tekhnik milik Sai-nii kan memanipulasi lukisan, kalo gitu chakla Sai-nii saat mengelualkan hewan dali keltas itu jenis tinta ya nii-chan?"l

"Tidak, tekhnik lukisan milik Sai-kun itu mengunakan chakra murni Naru, dan setahuku, tidak ada chakra berelemen tinta"

"Oh... sepelti tekhnik Lasengan milik Tou-chan yang mengunakkn chakla asli" responnya sambil menganggukkan kepalanya.

"Kau tahu tentang Rasengan? Apa Hokage-sama memberitahumu?" Tanya Shin Antusias.

"Hokage-sama? Siapa itu? Lagian Nalu tahu Lasengan dari Tou-chan, bukan dali Hokage-sama," jawab Naruto innocen.

Plak/plak

mendengar jawaban innocen Naruto mereka hanya bisa menupuk kening mereka masing-masing. 'Sebenarnya apa yang diajarkan Hokage-sama pada Naru-chan' / 'ternyata Hokage-sama memang benar-benar ayah yang hebat, menyembunyikan jabatannya dari Naru-chan supaya membuat Naru-chan tidak bersikap arogan... itu pasti alasannya.' Inner Sai dan Shin setelah mendengar jawaban polos Naruto.

"Ngomong-ngomong Naru, kenapa kau selalu meminum obat sebayak itu?" Karena penasaran, akhirnya Sai memberanikan diri bertanya pada Naruto.

"Tidak tahu, Nalu hanya disuluh Tou-chan dan Tou-san Fugaku sama Kaa-san untuk meminum obat tepat waktu, soalnya dulu Nalu lupa minum obat dada Nalu lasanya sakit Sai-nii..."

"Jadi benar kalau gosip anak Hokage-sama mempunyai penyakit jantung," ucap Shin lirih sambil mencubit dagunya pelan.

"Anak Hokage-sama? Penyakit Jantung? Apa itu Nalu?"

"Ah, bu bukan... kau salah dengar Naru,"

"Oh... Nalu mau pulang Nii-san. Shin-nii, catatannya Nalu bawa yah..."

"Uum... jagan lupa dikembalikan ya, Naru-chan," balas Shin sambil menganggukan kepalanya.

"Perlu Sai-nii antar?"

"Tidak pellu, Nalu bisa pulang sama Anbu Neko-san, dahh..." dengan tangan kiri memeluk tumpukan kertas yang sudah dimasukan dalam amplop besar(entah apa namanya) sedang tangan kanannya melambai pada kedua Nii-san barunya.

Sesampainya dirumah, Naruto langsung masuk kamarnya, setelah menyuruh sang Anbu pergi tentunya. Menutup pintunya pelan dia lalu menaruh barang yang ia bawa dari kamar SaiShin di meja yang berada disamping rak buku koleksinya. Meraskan tidak ada chakra Anikinya dirumah dia hanya mengangkat kedua bahunya acuh, karena selama ini setiap sepulang dari akademi Nii-sannya sering keluar bersama teman-temannya. Menganti pakaiannya dengan pakaian kaos berwarna putih dengan garis biru muda dibagian kerahnya, tanpa corak ataupun gambar yang sering anak-anak seusinya pakai.

Dengan ringan, kaki kecilnya melangkah menuju ke ruang kerja sang ayah yang kebetulan tidak dikunci. Menuju ke rak buku yang berada didekat jendela, dengan teliti dia membaca judul buku yang berjejer rapi, hingga pandangnnya berhenti pada satu buku yang berjudul 'Anatomi Tubuh Manusia' karena terletak di rak paling atas. Dengan semangat, Naruto mendorong kursi yang berada didepan meja, menaiki kursi kayu tersebut dengan susah payah Naruto berjinjit sambil berpegangan pada rak didepannya, kerena masih belum mampu meraih buku tersebut, dengan berat hati dia turun dari kursi dan menuju ke sofa yang berada diruang tamu. Walau agak jauh dengan sabar Naruto menyeret dua bantal sofa yang tergolong cukup besar dengan kedua tangan mungilnya. Setelah sampai, dia lalu menumpuk kedua bantal tersebut keatas kursi, setelah dirasa cukup dengan tertatih dia menaiki tumpukan kursi dan bantal tersebut.

"Dapat..." soraknya riang, karena tidak ingin jatuh, dia menjatuhkan buku tersebut terlebih dahulu dan menyusulnya turun dengan sangat hati-hati. "Haah... Nalu halus membeleskan dulu kekacuan yang Nalu buat" desahnya lelah. Tapi tetap saja, setelah menurunka kedua bantal sofa dari kursi, dan mendorong kursi tersebut ke tempat semula, dia lalu menyeret ledua bantal tersebuk keluar dengan tangan kanannya yang menarik pucuk masing-masing bantal sofa, sedangkan tangan kirinya digunaka untuk mendekap buku tebal yang baru saja dia ambil. Menutup pintu ruang kerja pelan, dia lalu berjalan kearah sofa dan lagi-lagi mengembalikan bantal ketempat semula. Setelah dirasa beres, dia lalu kembali kekamarnya untuk membaca harta karun barunya.

Walaupun baru berumur empat tahun lebih, selama diasuh oleh Mikoto dia sudah diajari membaca dan menulis, dan jika menmui kata baru yang belum dia mengerti, tidak segan dia akan lagsung bertanya pada orang yang berada didekatnya. Sehingga saat ulagtahunnya yang keempat Itachi memberikan kado berupa kamus bahasa Jepang lengkap.

Menjelang malam, dan matahari telah benar-benar terbenam. Naruto akhirnya beeanjak dari duduknya sambil mengucek kedua matanya yang berair. Menengok kearah jendela yang sudah menunjukan warna gelapnya ia keluar dari kamarnya menuju kedapur sambi seaekali berbelok guna menyalakan listrik, tentu saja sambil menyeret kursi plastik yang sudah disiapkan oleh minato dibawah tangga. Setelah seluruh lampu ruangan menyala. Dia lalu menuju kedapur sambil sesekali mengelus perutnya pelan kerena lapar. Membuka kulkas dia hanya memdapati snack dan lima buah tomat yang tersisa, serta beberapa botol jus jeruk dipintu kulkas.

"Sebenalnya Menma-nii dimana cihh... Nalu kan lama-lama bosan, Nalu juga lapal. Uuh, mau makan senek(snack)nya Menma-nii nanti Tou-chan malah kalena makan senek(snack). Tapi Nalu lapal... apa Menma-nii sudah melupakan Nalu yah? Tidak, tidak... kata Kaa-chan Nalu tidak boleh belpikilan pocitip tingting," monolognya sambil mengelangkna kepalanya "ya sudah dehc, Nalu makan tomat saja" mengambil seluruh tomat yang tersisa, ia lalu kembali kekamarnya dengan peluh yang mulai keluar dia mempercepat jalannya. Sesampai dikamar dia lalu memakan tomat tersebut dan beranjak tidur karena merasakan dadanya mulai sakit. Memejamkam matanya rapat sambil meingkuk, tak lupa menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

Brakk

"Naru-chan... Tou-chan pulang," membuka pintu kamar dengan cukup keras, Hokage pirang tersebut lalu menerjang sang anak yang masih tidur, membuka selimut yang menutupi tubuh sang putra, Minato mendapati Naruto yang masih meringkuk dalam tidurnya, dengan kaos bagian dada yang lecek bekas cengkraman serta kulit pucat tersebut kini semakin pucat dengan keringat yang terus keluar. Dengan panik karena mendapati sang putra yang kamuh lagi, Minato langsung mengendong sang putra dan melakukan Hiraishin menuju Rumah Sakit. Memanggil dokter yang selama ini menangani sang putra, Itsuka Tatsuya yang kebetulan berada di koridor langsung menuju kehadapan Minato.

Lagi-lagi sang Hokage kembali mengalami hal sama berulang kali, bagaikan de jávù ia kembali berdiri didepan ruang ICU dengan perasaan cemas yang bercampur aduk, karena lagi-lagi sang putra bungsu memasuki ruangan yang sama lagi, tapi kini tidak ada Mikoto ataupun Fugaku yang menemaninya karena keadaan Mikoto yang sedang sakit. Berjalan mondar-mandir sambil sesekali melihat lampu yang berada diatas pintu masih menyala merah.

Hingga akhirnya lampu tersebut mati dan keluarlah Itsuka Tatsuya, dokter yang menangani penyakit Naruto.

"Bagaimana keadaan Naru, Dokter? Apa serangannya kembali parah? Kenapa bisa terserang lagi, padahal Naru-chan selalu rutin meminum obatnya Dokter?" Mendekati Dokter tersebut, Minato langsung menbrondongi(?)nya dengan pertanyaan tanpa jeda.

"Errr... Naru-chan baik sekarang, kerena hanya serangan ringan, jadi setelah sadar dan istirahat sebentar, Naru-chan sudah boleh pulang,"

"Syukurlah... boleh aku menemaninya sekarang?" Tanya Minato penuh harap pada Itsuka.

"Boleh, tapi jangan diganggu tidurnya Hokage-sama,"

"Hehehe... maaf soal kejadian yang lalu," cengir Minato sambil mengaruk kepalanya, salah tingkah kerena mengacaukan ruang ICU sebulan yang lalu.

"Baiklah, saya permisi Hokage-sama," setelah menundukan tubuhnya hormat pada sang Hokage, dia lalu pergi meninggalkan tempat berdirinya.

.

.

.

.

.

÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷tbc÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷

Pojok est :

Hai, est kembali dengan fic yang ini,

Dan soal Veei est baru dapat 4k+ dan belum nemu saat yang tepat buat men'TBC'kannya jadi est benar-benar mohon maaf sebesar-besarnya... #bungkukbadan.

Balas Review :

- Shafira anggraini120398 : maaf, est lagi berusaha tobat, menuju jalan yang lurus, walaupun est masih susah ningalin Sasunaru, Sesshoinu, Drarry, maaf kalo belum bisa menjabarkan cerita dengan lebih mudah difahami, maklum... est masih abal dan newbie(?) Bener gak nulisnya? Est paling parah soal hal-hal berbau ingris...

- guestny guest : jangan... itu papah est...soal naru gak bisa jadi Ninja kita lihat saja nanti, hihihi... est lagi pengen buat Danzo jadi baik jadi est masukan ke sini...

- Byakuren Hikaru83 ; terimakasih... ini udah next...

- askasufa : hihihi...un semangat buat nulis...

- michhazz : benarkah? est jadi blusshing. Menmachana, sebagai kakak yang baik harus selalu melindungi adiknya kan... hihihi... baik baik baik un... udah nek kan?

- NaYu Namikaze Uzumaki : hihihi makasih...Danzo memang baik, est kasihan Sama Danzo yang selalu jadi jahat, mau mau mau, biar tambah ilmu, Angst itu est sebelumya jari est kepleset, terus mau est ganti ke frenship(?) Eh, gak masuk, jadi yah... est biarin dulu sampai est beli kuota lagi... maklum lagi kere kuota,^_^

- Sas'ke : akan est ganti... seperti penjelasan diatas kejadian angstnya...

-pink cherry : ya ya ya... lagian est udah mundur kan... jadi jangan di komporin lagi, entar est meledak awas loh... dan Nee-chan, jangan sering garuk kepala, entar kutunya loncat loh... kalo ngak ada kutu, bisa jadi tatanan rambutnya rusak, kalo ngak gitu kerudungnya rusak...

- hyunnie02 : ngak boleh... hyunn kalau meluk terlalu kencang, kashihan Naru-chan un... ini up date hyunn...*MUUAACHHH to

- : sudah lanjut^_^

- Uchizuu Ryuusuke : mau tahu... saksikan setelah pekan pekan belikut ini... #plakk... baca lagi yah Ryuusuke-san... veei sudah est jelasin diatas^_^ akan est up date segera setelah est nemu saat yang tepat buat Nge-tbc-in dan nge edit.

- uzumaki megami : makasih sudah nyempetin reviwe senpai... #bling-bling Veeinya masih dalam proses

- 85 : abis... est ngak pandai nulis romance dan ngak berani nulis holor un... terimakasiih sudah mereview^_^

.

.

.

Terimakasih Minna-san sudah menyempatkan Review, #bungkuk90°

.

.

Kotak Review est selalu terbuka buat Minna-san yang ingin menyapaikan uneg-unek setelah baca BtHSB yang masih kurang ini ...

.

.

kamarpjk; 11:07 PM