The Dream Walker – bagian pertama : Life
Story telling by : Crypt14
Story idea by : Cuming
Wonwoo membuka kedua matanya perlahan, membiasakan kedua retina kecoklatannya untuk menerima cahaya yang terbias dari lampu ruang tidurnya. Ia membangkitkan tubuhnya, menatap pada ruang kosong disekelilingnya. Menurunkan tubuhnya dari kasur bertingkat yang menjadi tempatnya tertidur sejak kemarin malam. Pria berkulit putih itu masih memandang sekitarnya dengan pandangan bingung. "Kemana yang lain?" gumamnya. Perlahan ia menjejakkan kakinya keluar ruang tidurnya. Mengayunkan langkahnya menuju ruangan yang diketahuinya sebagai ruang latihan ia bersama beberapa orang yang terpilih dalam permainan. Wonwoo terdiam sejenak, menatap kosong pada barisan orang-orang yang dikenalnya sejak kemarin. "Apa yang mereka lakukan?" bisiknya pada dirinya sendiri. Kedua mata sipitnya masih menatap lekat pada barisan ke-9 temannya yang tampak begitu kaku. Dihadapan mereka berdiri pula orang-orang yang tidak Wonwoo kenal tengah menangis dengan iba seakan memohon ampunan pada ke-9 temannya. Wonwoo mengernyit, mencoba memahami situasi yang tengah dilihatnya kini.
Pemuda itu tetap berdiri pada tempatnya menatap lekat apa yang akan dilakukan oleh ke-9 orang yang dikenalnya. Seseorang dari pria yang berdiri dalam barisan melangkah maju perlahan, meninggalkan barisan mereka menuju seorang pria tua yang berada dihadapannya. "Minghao, tolong jangan lakukan. Sadarlah ini ayah." Pria tua itu mengiba pada pria kurus yang kini menyeringai kearahnya. Salah seorang dari penjaga yang berdiri tak jauh dari barisan tampak mendekat kearah pemuda itu, menyerahkan sebuah samurai padanya. Pria tua itu kini terlihat berlutut dengan tangan terikat dihadapan sang pemuda, airmatanya tampak bercucuran deras. Kedua belah bibirnya masih menggumamkan ibaan pada sang anak yang tampaknya tidak menggubris ucapannya sedikitpun. Minghao, pemuda itu mengangkat ujung samurai ditangannya ke wajah pria tua dihadapannya. Melemparkan seringaian yang semakin menjadi. "Minghao, ayah moh.."
Wonwoo melebarkan kedua matanya. Menatap tidak percaya pada pemandangan yang dilihatnya barusan. Suaranya seakan tercekat tepat dipangkal tenggorokkannya. Ia melangkah mundur perlahan, menyembunyikan tubuhnya dibalik dinding ruangan itu namun pandangannya masih mengarah pada kumpulan ke-9 temannya. Minghao, pemuda tadi kembali pada posisinya, membiarkan salah seorang dari penjaga menyeret tubuh tanpa kepala sang ayah. Setelahnya seorang pemuda tampak kembali maju dan berhenti tepat dihadapan seorang wanita paruh baya yang menjerit histeris dihadapannya. Lee Chan, pemuda paling kecil dalam kelompok terkekeh pelan seraya meraih sebuah pisau lipat yang diberikan oleh penjaga padanya. Wanita paruh baya yang berdiri tak jauh darinya semakin berteriak histeris mencoba untuk membuat anak laki-lakinya itu sadar. Namun pekikkan histeris itu berhenti sesaat setelah pemuda berusia 18 tahun itu melemparkan pisau lipat digenggamannya kearah dahi sang ibu membuat tubuh itu roboh seketika dengan darah segar yang mengalir dari luka tancapan didahinya. Lagi, Wonwoo menahan nafasnya membekap mulutnya dengan tangan kanannya. Ia masih mencoba mencerna apa yang terjadi pada teman-temannya itu namun Wonwoo tidak mendapatkan jawaban apapun dari pertanyaanya.
Setelahnya Mingyu tampak melangkah perlahan, meninggalkan barisan menuju seorang gadis muda yang merengek iba padanya. Wonwoo membulatkan matanya menatap gadis yang berdiri tepat dihadapan tubuh Mingyu. Meski pemuda itu tidak mengenal siapa gadis itu secara langsung, namun yang Wonwoo tau gadis muda itu ialah adik dari Mingyu karena malam sebelumnya Mingyu sempat menceritakan prihal adiknya pada Wonwoo. Pemuda itu semakin menahan deru nafasnya saat seorang dari penjaga menyerahkan sebuah mata bor pada Mingyu. Gadis muda itu berteriak histeris, meronta berusaha untuk lepas dari cengkraman penjaga yang kini memegangi kedua lengannya. Ia terus memohon pada Mingyu untuk tidak melakukan apapun padanya. "Lubangi kerongkongannya aku merasa muak mendengar ia terus menjerit." Samar namun Wonwoo dapat mendengar suara wanita yang berdiri diujung sana, menikmati setiap permainan yang dibuatnya. Gadis muda itu semakin menangis histeris saat tangan kiri Mingyu menjambak kasar rambutnya. Ia menyeriangai, mendekatkan mata bor pada leher sang adik. Deru nafas gadis itu tampak semakin cepat, ia menggeleng lemah berharap Mingyu tidak akan melakukan itu namun harapannya sirna. Tubuhnya mengejang saat Mingyu menusukkan mata bor pada tenggorokkannya, membuat darah mengotori setiap inchi wajah pemuda itu. Suara dari mesin bor yang bercampur dengan suara dari tenggorokkan tercekat gadis muda itu terasa menyakiti telinga Wonwoo. Ia membekap keras kedua telinganya. Merasa begitu ketakutan. Wonwoo kembali memandang kearah gadis yang masih tampak menggelepar diatas lantai beton. Ia tidak dapat mempercayai apa yang ada dihadapannya kini. Kim Mingyu, orang yang tampak begitu ramah dan mencintai adiknya mampu bertindak seperti tadi. Seluruh tulang Wonwoo seakan dicabut dari tubuhnya. Ia merosot pada dinding dihadapannya. Kakinya terasa begitu lemas menatap mayat yang berada dihadapannya.
"Disini kau rupanya." Wonwoo mengadah, menatap seorang wanita muda yang menyeriangai kearahnya. Ia berusaha untuk melepaskan seretan dari penjaga yang kini memegangi lengannya. Seluruh mata yang berada disana beralih menatapnya. "Aku menemukan tikus ini bersembunyi disana." Ujar wanita muda yang kini berdiri disekitar Wonwoo. Wonwoo melangkah mundur, berusaha menjaga jarak pada setiap orang yang berada disana. Wanita yang sedari tadi berdiri menyaksikan permainan itu melangkah mendekati Wonwoo. Menyuruh beberapa penjaganya untuk menyeret Wonwoo ketempat dimana Mingyu berada sebelumnya. "Kami punya hadiah untuk mu, Jeon Wonwoo." Ujar wanita itu seraya memberikan isyarat pada penjaganya untuk menyeret keluar seseorang. Wonwoo melebarkan kedua matanya, menatap tidak percaya pada apa yang dilihatnya. "Kak!" Pemuda yang berada dihadapan Wonwoo memekik tertahan. Seorang dari penjaga terlihat menendang kakinya, membuat posisinya berubah menjadi berlutut dihadapan Wonwoo yang masih tampak mematung. "Aku ingin kau membunuhnya dengan cara mu." Wonwoo menggeleng, melangkah mundur menjauhi pemuda yang masih mengiba padanya. "Aku tidak bisa." Gumam Wonwoo lirih yang dibuahi tawa keras dari wanita itu. "Kau tidak mampu, Jeon Wonwoo?" Wonwoo tak bergeming, masih menatap pada adiknya yang terus menangis mengiba padanya untuk diselamatkan. "Kim Mingyu, kau bersedia melakukannya?"
"Tentu." Wonwoo mendorong tubuh Mingyu yang beranjak maju menuju adiknya. Berteriak keras pada pemuda itu, namun perlawanannya terlihat sia-sia saat dua orang penjaga menahan tubuhnya. "Jangan sentuh adikku, bangsat!" Wonwoo memekik keras saat Mingyu meraih samurai yang digunakan Minghao untuk membunuh ayahnya tadi. Pemuda berkulit tan itu menyeringai mengacungkan ujung samurai pada wajah adik Wonwoo. "Kim Mingyu hentikan kau bajingan!" Wonwoo masih berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman penjaga yang menahannya. Ia memekik keras saat Mingyu mulai mengayunkan samurai ditangannya. Setelahnya Wonwoo terdiam, menatap kosong pada arah pandangnya. Tubuhnya terasa begitu lemas saat menatap mayat sang adik yang terjatuh tepat dilantai beton dengan genangan darah yang berasal dari tubuh adiknya sendiri. Mingyu melangkah perlahan menujunya melemparkan seringaian pada pemuda berkulit putih itu. "Hanya yang berani yang akan menang, pecundang."
.
Wonwoo membuka matanya panik, deru nafasnya terdengar begitu cepat. Buliran keringat sebesar biji jagung tampak mengalir dari pelipisnya. Ia menatap sekelilinya, setelahnya menghembuskan nafas berat. Mimpi, namun terasa begitu nyata untuk pemuda itu. Ia mengusap wajahnya pelan, kembali menarik nafas dalam. Sejenak menatap seseorang yang tertidur diseberang ranjang bertingkatnya. Kim Mingyu.
"Kau tau, aku mendapatkan mimpi yang begitu buruk semalam." Ujar Lee Chan masih sambil mengunyah sarapannya. Wonwoo terdiam, tak menggubris ucapan pemuda yang berjarak 3 tahun darinya itu. "Benarkan? Kau mimpi apa? Semalam aku juga dapat mimpi buruk." Balas Seokmin yang berada diseberang bangku Mingyu. Wonwoo mengangkat pandangannya, menatap sejenak pada Mingyu yang tersenyum tipis kearahnya setelahnya membuang kembali arah pandangnya pada sarapan dihadapannya yang belum tersentuh sedikitpun. "Aku bermimpi Jisoo melemparkan ku kedalam jurang secara sengaja." Jisoo, pemuda yang namanya dibawa tampak tersedak. Menatap tak percaya pada Lee Chan yang menatapnya dengan tatapan polos. "Aku tidak akan melakukan itu padamu." Ujarnya.
"Semalam aku bermimpi si brengsek ini mencoba mendorongku ke dalam mesin penggiling daging." Ucap Seungcheol seraya melemparkan tatapan sinis pada Wonwoo. "Jika itu terjadi, aku pastikan dia yang akan tergiling di dalamnya, bukan aku!" Ujarnya kembali. Wonwoo menghela nafasnya, tak berniat menggubris ucapan Seungcheol. Semua orang yang berada dikamar tidur itu tampaknya memiliki mimpi buruknya masing-masing, dan disetiap mimpi pasti salah seorang diantara mereka menjadi tersangka. Wonwoo mengusap sebelah matanya pelan, kembali menatap kosong pada sarapannya. Pikirannya dipenuhi oleh mimpi yang didapatkannya malam tadi. Ia masih dapat merasakan perasaan ngeri yang teramat terlebih saat Mingyu membunuh adiknya. "Apa kau juga bermimpi buruk semalam, Wonwoo?" Wonwoo mengangkat kepalanya, menatap pada Mingyu yang mengajukan pertanyaan padanya setelahnya ia megangguk samar. "Apa yang kau mimpikan?"
"Aku terbangun dan melihat kamar kita kosong, kalian semua tidak ada diranjang masing-masing. Setelah itu aku pergi keluar, aku berfikir mungkin aku terlambat bangun. Namun aku menemukan kalian berbaris dengan kaku diruang latihan, bersama para penjaga dan wanita itu. Aku tidak tau apa yang kalian lakukan jadi aku hanya berdiri ditempatku dan menyaksikan semuanya." Ujarnya lirih. Wonwoo tampak menghembuskan nafasnya berat, kembali menatap sarapannya. "Lalu apa yang terjadi?" Junghan, pemuda yang lebih banyak berdiam diri itu membuka suaranya, menatap penasaran pada Wonwoo. "Kalian tampak bertingkah dengan begitu mengerikan. Saat itu aku lihat Minghao menebas kepala ayahnya sendiri lalu Lee Chan yang melemparkan pisau lipat hingga menancap didahi ibunya dan.." Wonwoo menggantung ucapannya, mengangkat kepalanya dan menatap Mingyu dengan alis bertaut. "Mingyu membunuh adiknya sendiri dan adikku." Lanjutnya. Keadaan hening setelah Wonwoo mengatakan mimpi yang dialaminya semalam.
Lee Chan, pemuda itu tertawa dengan nada tak percaya seraya menatap Wonwoo. "Kau bercanda? Itu tidak mungkin! Aku tidak mungkin membunuh ibu ku sendiri tau!" Pekiknya cukup keras. Wonwoo kembali menundukkan kepalanya, ia merasa mimpinya yang paling buruk diantara teman-temannya. Bahkan mimpinya mampu membuat Wonwoo ingin menjaga jarak dengan setiap orang yang berada disekitarnya. Ia hanya takut.
.
.
Ke-10 pemuda itu kini berdiri tepat didalam ruang latihan. Terdapat sebuah ring pertandingan buatan diruang latihan itu. Wanita yang berdiri dihadapan ke-10 pemuda itu tersenyum lebar seakan tidak terjadi apapun selama ini. "Baiklah, untuk hari ini aku akan mengadakan latihan fisik dimana kalian semua akan secara acak aku pilih untuk beradu diatas ring sana. Yang memenangkan pertandingan akan mendapatkan poin tambahan dimana poin tersebut dapat menentukan berapa banyak senjata yang akan kalian miliki diujung permaninan ini." Jelasnya. Ke-10 pemuda itu tak bergeming, hanya menatap wanita itu dengan pandangan tak berminat. "Baiklah, untuk yang pertama memulai aku ingin Vernon dan Junghan untuk bertanding." Setelahnya kedua nama yang disebut beranjak menuju ring pertandingan. Keduanya berusaha untuk bertahan dari pukulan masing-masing namun Vernon kalah pada pukulan yang diberikan Junghan tepat disisi telinga kanan pemuda itu. Keduanya turun dan digantikan oleh dua orang selanjutnya, Mingyu dan Seokmin. Seokmin terus berusaha menyerang namun Mingyu, pemuda itu tampak begitu lihai menghindari setiap pukulan yang dilayangkan Seokmin. Mingyu mendekat perlahan, meninju perpotongan leher Seokmin yang membuat pemuda itu terjatuh seraya memekik tertahan. Kemenangan jatuh pada Mingyu.
Pertandingan ketiga, Lee Chan dan Minghao. Minghao, pemuda yang dianggap paling lugu dalam kelompok dapat dengan mudahnya menjatuhkan Lee Chan dalam sekali pukulan telak diulu hati pemuda itu yang nyaris membuat Lee Chan kehilangan nafasnya. Minghao memenangkan pertandingan ketiga. Selanjutnya, Jun dan Jisoo. Kedua pemuda itu bertarung dengan menjaga jarak satu sama lain. Baik Jun maupun Jisoo tidak berniat untuk menyerang. Namun kemenangan jatuh pada Jisoo setelah pemuda itu nyaris mematahkan kaki kanan Jun dengan tendangannya. Jisoo keluar sebagai pemenang namun pemuda itu tampak tak merasa bahagia sedikitpun. Bagi Jisoo ia tidak pernah ingin melukai siapapun dalam hidupnya, sebuah dosa besar. Dan pertandingan terakhir, Wonwoo dengan Seungcheol.
"Aku bertaruh Seungcheol akan menganggap serius pertandingan ini." Ucap Seokmin sambil meringis memegangi perpotongan lehernya yang masih terasa begitu nyeri. "Dia pasti tidak akan memberi ampun pada Wonwoo, terlebih lagi Seungcheol seperti ada dendam tersendiri dengannya." Setiap orang yang berada dibarisan itu mengangguk membenarkan ucapan Junghan. Wonwoo menarik nafasnya perlahan, menatap Seungcheol yang menyeringai kearahnya. "Aku tidak akan memberikan ampun padamu." Ujarnya sinis. Pertandingan dimulai dan Seungcheol mengambil langkah lebih dekat kearah Wonwoo. Pemuda berkulit putih itu melangkah mundur berusaha menjauhi Seungcheol. Sebuah pukulan keras mendarat dirahang Wonwoo membuat tubuhnya sedikit tidak seimbang. Wonwoo kembali menjaga jarak dengan Seungcheol. Mulutnya dapat mengecap rasa asin dari darah yang mengalir dari dalam mulutnya. Lagi, pukulan keras pada batang hidungnya membuat Wonwoo terjatuh dengan posisi berlutut. Ia dapat merasakan aliran darah segar keluar dari lubang hidungnya. Pemuda itu kembali berdiri, menatap Seungcheol dengan pandangan buram, menyeka darah segar yang mengalir dari lubang hidungnya. Seungcheol terkekeh mengejek, pemuda itu kembali mendekat kearah Wonwoo melayangkan tinjunya pada telinga Wonwoo yang berhasil membuat pemuda itu tersungkur setelahnya menghujaminya dengan tendangan brutal.
Mingyu merangsek masuk kedalam ring, menarik tubuh Seungcheol dan mendorongnya menjauh setelahnya menyentuh lengan Wonwoo. "Kau baik-baik saja?" Wonwoo tak menjawab pertanyaan Mingyu, tubuh pemuda itu bergetar hebat. Ia tak pernah berkelahi seumur hidupnya dan Mingyu mengetahui itu. Mingyu, pemuda itu segera mengangkat Wonwoo dipunggungnya dan membawanya menuju ruang perawatan yang memang sudah disediakan. Pertandingan terakhir, Seungcheol keluar sebagai pemenang.
.
.
Wonwoo meringkuk dibalik selimutnya, meringis kecil saat merasakan nyeri yang kembali menghujam rusuk bagian kanannya. Terbatuk pelan saat rasa nyeri itu seakan ikut meremas paru-parunya. Bunyi petir yang menyambar serta derasnya hujan membuat Wonwoo tak dapat memejamkan kedua matanya. Ia sudah berusaha meredam suara-suara itu dengan menyembunyikan tubuhnya didalam selimut namun tak kunjung membuatnya tenang. Pemuda itu tersentak saat merasakan seseorang menaiki ranjangnya. Ia menurunkan selimutnya, menatap pada Mingyu yang melemparkan senyuman tipis. "Kau tidak bisa tidur 'kan?" Wonwoo tak bergeming masih menatap Mingyu kosong. Mingyu menghembuskan nafas pelan, meminta sedikit ruang pada Wonwoo setelahnya pemuda itu merangsek masuk kedalam selimut Wonwoo dan meringkuk disamping tubuh Wonwoo yang masih menatapnya dengan pandangan kosong. "Tidurlah, aku tidak akan meninggalkan mu sampai kau tertidur pulas." Ujar Mingyu masih melemparkan senyuman tipis pada Wonwoo. Pemuda berkulit putih itu mengangguk samar setelahnya menyamankan posisi tidurnya disamping Mingyu.
.
Wonwoo membuka kedua matanya, gemuruh petir kembali membuatnya terjaga. Suasana gelap membuatnya mau tak mau berusaha untuk menegaskan pandangannya. Ia terdiam, menatap wajah Mingyu yang hanya berjarak beberapa centi darinya, tersenyum tipis sejenak. Pemuda itu masih menatap lekat wajah Mingyu yang terlelap, menatapnya lekat. Setelahnya Wonwoo menyentuh sisi kanan kepala Mingyu, mencoba memasuki alam mimpi pemuda itu. Wonwoo seorang dream walker, dimana kemampuannya itu membuat Wonwoo dapat ikut menjelajah masuk kedalam mimpi orang-orang disekitarnya hanya dengan sentuhan kecil pada tubuh orang itu.
.
Wonwoo terdiam, menatap sekelilingnya yang terasa begitu sepi. Ia mencoba memahami situasinya. "Atap bangunan? Mau apa Mingyu kesini?" Gumamnya. Terdengar derap langkah yang mendekat. Wonwoo membulatkan matanya, menatap tak percaya pada dua orang pemuda yang berdiri tak jauh dari pinggiran rooftop. "Mingyu dan… aku?" gumamnya kembali. Kedua pemuda itu tampak begitu panik dan ketakutan. Derap langkah lainnya terdengar mendekat kearah pintu rooftop. Wonwoo menatap lekat arah itu, setelahnya nyaris terlonjak dari tempatnya saat beberapa orang yang tidak pernah ditemuinya tampak menuju kearah Mingyu dan dirinya yang lain. Ia hanya berdiri ditempatnya, memikirkan begitu banyak pertanyaan dari mimpi seorang Kim Mingyu yang tengah disinggahinya kini. Mingyu dan dirinya yang lain tampak melangkah mundur dan berhenti saat punggung kaki keduanya menabrak tepat pada pembatas. Baik Mingyu dan dirinya yang lain menatap sejenak pada jarak yang terbentang luas dibawah sana. Mingyu tampak kembali menatap kumpulan orang yang kini sudah mengepung mereka. Pemuda berkulit tan itu menghela nafas panjang setelahnya mendorong tubuh Wonwoo yang lainnya hingga tubuh itu terjatuh dengan cepat menuju aspal yang berada dibawah sana.
.
Wonwoo membuka matanya cepat, terlonjak kaget dari tidurnya. Pemuda itu bergerak mundur seraya menatap ngeri pada Mingyu yang masih terlelap disisi lain ranjangnya. Nafasnya menderu cepat, ia tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya barusan. Kim Mingyu, pemuda itulah yang membunuh dirinya dimasa lalu. Wonwoo menelan salivanya sulit. Keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya.
"Ini tidak nyata 'kan?"
- Mental Holocaust End -
Chit chat : hai hai! aku blk lagi bawa next chapt dr series ini. maaf sblmnya krn jarang update jiwa nulis aku lg nggak keluar jujur aja hehe. Oh ya sblmnya aku mau minta maaf buat ff yg sebelumnya aku rise DISTURBING yang nyatanya justru bikin salah satu readers ngerasa kecewa. aku ngewakilin om cuming minta maaf. sblmnya, disana aku blng kalo ff itu d'buat sama om cuming&tmn2nya yang ank sastra but plis itu cuma ide bkn secara k'seluruhan ank sastra itu ikut andil dlm pembuatan ff DISTURBING. lagipula ky'a yg salah sih d'aku hrs'a nggak aku posting ff itu krn sebenernya juga om cuming ksh itu bukan utk d'post tp utk bahan bacaan aku yg akhir2 ini lg down jiwa nulisnya. jd aku cuma mau mnta maaf aja sebesar2'a utk kalian yg sempet baca & ngerasa kecewa /bow. Next utk lanjutan series ini aku mnta maaf bgt klo nggak asik atau nggak sesuai perkiraan kalian. minta maaf jg klo typo nyebar dmn2 cara penulisan aku yg acak2an susah d'ngerti atau bikin bosen mnta maaf bgt. Alur tetep d'pegang om cuming yg lg sedikit brjuang sama dunia kampus'a. trakhir kalo sempet tlng klik tombol review dan kasih kita masukkan ya baik dlm segi penulisan atau alur cerita, terima kasih /bow
salam,
Crypt14
