Chapter 2 :

X X X


Saat aku mencoba bertanya, memanggil diriku sendiri, apa yang sedang terjadi? Aku mendengar begitu banyak suara. Riuh rendah. Berisik. Bersahut-sahutan... Berentetan...

Tunggu, aku kenal suara itu. Bertubi-tubi... Senjata. Ya. Itu pasti suara peluru. Juga ada beberapa orang yang berteriak-teriak sedari tadi dengan nada panik dan histeris yang terselubung, memanggil sebuah nama yang tidak aku kenal; nama milik seseorang. Dan disusul dengan dentingan mengerikan besi beradu besi. Rentetan suara peluru dimuntahkan dari senjata-senjata. Semua suara pertarungan yang tidak bisa aku lihat, entah berasal dari mana, dan kenapa bisa pecah begini. Kemudian suara teriakan kesakitan yang mampu membuat goyah perasaan siapapun yang mendengarnya—aku ingat banyak nama, aku ingat banyak hal, aku ingat suara-suara apa saja itu. Tapi, kenapa aku tidak bisa mengingat namaku, atau siapa diriku ini?

Hanya saja yang aku tahu; pada detik setelahnya—setelah aku membuka mataku dalam sekejap, wajahnya muncul dari salah sudut bingkai pengelihatanku kepada sang langit yang maha luas. Wajah yang terselimuti banjiran peluh dan raut kebingungan. Mulutnya terbuka sedikit, menandakan bahwa dia sedang terengah—mungkin dia sedang berlari, atau baru saja selesai berlari. Wajah laki-laki itu, memandangi wajahku dari atas ke bawah, dan mendongak lagi. Menoleh ke segala arah, sebelum akhirnya dia mengangkat sebuah senjata besar yang terlihat berat ke salah satu arah. Mulutnya terbuka, dan bersuara dengan jelasnya terdengar di telingaku, walau dengan latar keributan memekakkan ini.

"Semuanya, mundur. Siapa tahu yang satu ini Outcast sungguhan."

Dor! Dor! Dor!

.

.

.

.

.

"I'm from a little city with expensive taste;

Where the cars don't run until the engine breaks.

Wasn't spending pennies on massive things.

But invested in mess with this recipe.

Couldn't quite see what the future held

And as days went by, it would tell itself—"

Let it struggle just a little bit more,

Let it struggle just a little bit more.

.

.

.

.

.

Setiap malam sebelum tidur aku pasti berdoa.

Aku selalu berdoa. Meminta. Memohon, atau bahkan hanya sekedar berharap saja untuk keesokan harinya, di pagi hari saat aku membuka mata, pasti aku akan ditertawakan oleh kenyataan, tepat di depan mukaku. Dia akan berkata; akhirnya kau kembali juga dari mimpi. Walau sebenarnya, aku tidak tahu kepada siapa kah aku ini tengah meminta permintaan mengambang seperti itu.
Sayangnya, alih-alih terkabul, aku malah seolah terjebak di jalur dimensi yang sama seperti tiga hari sebelumnya. Di ruangan yang sama, di dalam bangunan yang sama. Di bawah langit-langit yang sama. Perabotan yang sama. Tempat tidur yang sama. Menoleh dan mendapati pemandangan di luar jendela yang sama juga. Dan kesendirian yang sama.

Pemilik rumah yang aku tumpangi biasanya tidak muncul begitu saja di pagi hari seperti saat ini. Tipe pagi di mana langit masih berwarna biru gelap bercampur jingga. Polos seperti habis dicat semalam sebelumnya. Dan matahari masih terlalu malas untuk bangkit dari tempat tidurnya, tidak seperti aku yang sudah beranjak ke tepi jendela untuk mengamati ada kegiatan apa saja yang sedang terjadi di luar.

Kepalaku masih terasa kosong dan membingungkan, walau sudah tidak lagi menamparku dengan denyut sakit berkali-kali tanpa henti. Tapi, aku tetap berusaha sebisaku untuk tidak memaksakan diri mengingat tentang masa laluku yang... tidak terlihat sama sekali. Dan rasanya benar-benar menyiksa.

Tiga hari... Aku sudah tinggal di tempat ini selama tiga hari... di kota yang bernama Knoxton ini...

...sebenarnya, tidak. Mereka bilang aku aku baru sadarkan diri dari 'pingsan' atau 'koma' cukup panjang sekitar enam hari yang lalu. Di sebuah rumah sakit yang cukup besar; tempat di mana ketika aku sadar, dan mendapati diriku dikelilingi tiga orang laki-laki—dua orang 'dokter', dan seorang 'prajurit'.

Dua dokter berpakaian serba putih dengan wajah semringah ketika menyambutku menjelaskan bahwa aku ditemukan oleh 'si prajurit' ini, di tengah perjalanannya menjalankan tugas di hutan—entah hutan mana. Dan saat dibawa kemari, rupanya aku mengalami gegar otak cukup parah, sehingga aku harus menjalani berbagai macam operasi untuk melalui masa kritis.

Aku nyaris mati. Ada satu operasi yang salah satu dokter—kalau tidak salah yang namanya Andy?—menganjurkan, tapi yang satu lagi, Dokter Eric kalau aku tidak salah juga, mengatakan kalau tidak perlu. Namun, ternyata aku memang memerlukannya untuk menggabungkan beberapa... sesuatu yang tercerai-berai. Namun berkat mereka berdua dan 'penyelamatku', serta juga berkat kekeraskepalaanku, aku masih bisa bertahan hidup. Walau hidup tanpa memori seperti ini juga rasanya sama saja seperti mati. Namun, aku harus selalu senantiasa bersyukur, kan? Setidaknya begitulah yang selalu diwanti-wantikan oleh Dokter Andy, salah satu dokter dari dua dokter milikku. Lupa yang mana. Padahal kata Eric, kepala manusia itu adalah hal paling menakjubkan yang pernah ada. Tapi apa lah. Aku ini, kan, kasus yang lain. Tapi tunggu... oh, iya. Dia berkata demikian karena dia belum pernah merasakan rasanya gegar otak. Mungkin aku harus mencoba membenturkan kepalanya sekali atau dua kali sampai dia gegar otak, agar dia bisa benar-benar mengerti bagaimana rasanya membaca sebuah wacana dengan beberapa kalimat atau kata-kata di dalamnya ada yang dihilangkan, jadi membuat bingung.

Dan semua pemikiran ini pun bahkan sukses membuat migrainku kumat lagi.

Dengan perlahan aku menjauhi jendela, takutnya seiring hantaman sakit ini akal sehatku ikut menghilang, dan akibatnya aku mungkin saja tanpa sadar menerjunkan diri lewat jendela. Menimpa orang di bawah yang sedang lalu-lalang. Dan… masih lebih baik kalau aku langsung mati. Kalau hanya patah-patah tulang dan cacat permanen? Itu lebih buruk. Sepertinya. Aih, di mana obatku. Jangan panik… Ayo, jangan pa—

Tok, tok, tok.

"Bocah? Kau di dalam? Apa pintu ini di kunci?" sayup-sayup aku mendengar suara pintu diketuk, dan suara seseorang di luar kamarku. Suara si 'prajurit' yang belum aku ceritakan tadi. Sekaligus induk semangku. Sekaligus juga—

"Aku… masuk, ya?" tanyanya.

Ku lihat dari ekor mataku, bahwa pintu kamarku sudah terbuka perlahan—karena mataku yang satu lagi harus kupejamkan untuk menahan sakit kepalaku yang sedang kumat ini—dan sosok laki-laki bertubuh tinggi-tegap, mengenakan seragamnya berwarna abu-abu, lengkap dengan pedang besar serta sebuah senjata selongsong menempel di punggungnya, tengah berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang tidak bisa ku lihat jelas. Dan aku tidak perduli. Karena sakit kepala ku semakin menjadi-jadi. Aku pun buru-buru berjalan semampuku dan langsung menumbangkan diri di atas tempat tidur. Untung saja aku tidak jalan terlalu jauh dari kasur empuk ini. Terserah lah mau ke mana muka ini ditaruh nantinya. Gengsi dikesampingkan dulu.

Aku ingin mengatakan sesuatu untuk menenangkan kekacauan ini. Aku ingin mengatakan kepadanya untuk jangan panik atau apapun. Tapi yang keluar justru hanya gumaman-gumaman tak jelas, dan aku harus mengencangkan cengkraman tanganku ke kepala sendiri jadinya, karena... sakit sekali.

"E…hey! Kau lupa minum obat atau apa? Di mana obatmu? Hey, hey… tetap bersamaku. Sebentar…" Untuk sesaat aku bisa mendengarnya bersuara, dan suara langkah sepatu boots-nya mengelilingi kamar... mungkin dia sedang mencari sesuatu. Oh, iya. Obatku.

"Di… di atas meja sana…" ujarku semampu mungkin, sebelum akhirnya mengubur wajahku ke kasur. Aku tidak mungkin menangis di sini. Di depan seorang prajurit seperti dia—yang bernotabene sebagai orang yang mau menampungku juga. Jangan main-main, kepala. Jangan repotkan dia lebih jauh lagi. Ah… berhentilah...

Kurasa tidak ada semenit, tapi tahu-tahu aku sudah bisa mendengar suara langkahnya mendekat. Sehingga aku, dengan sebisaku, mengangkat salah satu tanganku yang masih memiliki kekuatan sendiri, untuk menggapai sosoknya yang tidak bisa kulihat karena kedua mataku terpejam dan kepalaku terkulai ke samping agar aku bisa mengubur sebelah wajahku untuk menahan sakit. Tapi kemudian, aku merasakan ada sebuah tangan terselip ke punggungku, dan dengan hati-hati mengangkat setengah tubuhku. Saat aku memaksakan diri untuk membuka sedikit mataku, wajahnya sudah berada di hadapanku. Laki-laki berambut cepak yang agak tebal berwarna hitam, dengan mata hitam tajam menenangkan, dan ekspresi datar-tegas khasnya seorang prajurit.

"Bernapaslah. Atur napasmu. Tenangkan dirimu, dan aku ingin kau berpegangan dulu padaku, karena aku kesulitan mengambil gelas air… nah. Begitu. Tahan, ya." aku menuruti tiap perintahnya, dan dengan sekuat tenaga aku merenggut ujung-ujung kerah seragamnya walau itu membuat kedua tanganku jadi gemetar hebat, jadi aku menarik diri semakin dekat dan menempelkan dahiku di bahunya. Dalam hati aku meminta maaf padanya; Aku tahu kalau aku ini pasti berat. Tapi kepalaku tidak mau berkompromi.

"Ini… minum." Setelah mendengar perintah berikutnya itu, aku langsung menoleh dan mendapati segelas air bening yang pastinya sudah dicampur dengan obat Oxydive milikku di dalamnya, di hadapan wajahku. Jadi, aku melepaskan sebelah genggaman tanganku untuk meraihnya, dan dia refleks menahan tubuhku lagi yang sudah goyah untuk tetap stabil dalam posisi duduk. Jadi, dengan buru-buru ku minum air itu hingga tandas. "Jangan buru-buru begitu, nanti dosisnya berkurang kalau sampai tumpah ke bajumu." Ujarnya. Membuatku langsung mengontrol diri.

Dokter Eric pernah menjelaskan, kalau Oxydive sebenarnya hanya sebuah obat larut campuran untuk mengantar oksigen dua kali lebih banyak ke otak agar otak tidak 'suram', sekaligus berfungsi sebagai penghilang rasa sakit bagi penderita penyakit kepala sepertiku ini. Atau… eehh… semacam 'cemilan cair' untuk mengganjal perut yang sedang lapar, sepertinya? Jadi, tidak mengherankan jika efek penetralan rasa sakitnya membutuhkan waktu cukup lama. Berapa lama, tuh, kemarin kata Dokter Andy? Semenit? Sejam?

Setelah habis, aku mencoba untuk bersuara; dan memberitahu prajurit yang sedang kurepotkan ini bahwa aku butuh merebahkan diri di tempat tidur sejenak. Tapi, yang keluar malah jadi seperti omongan orang kumur-kumur. Aku jadi tidak yakin apakah dia mengerti apa yang kukatakan barusan, atau tidak. Namun, entah kenapa, tahu-tahu aku merasakan tubuhku perlahan diangkat, dan itu membuatku jadi kelabakan hingga nyaris melepas gelas kosong di tanganku. Jadi dengan cepat aku membuka mata dan mendongak sedikit untuk bisa dilihat oleh matanya yang sedang tidak melihat ke arahku, lalu membuka mulut. "G…gelasnya."

"Jatuhkan saja. Bukan punyaku, kok." Balasnya datar. Dan entah kenapa, aku jadi ingin tertawa mendengarnya—jika saja otakku sedang tidak terasa kosong begini. "Itu, kan, gelasmu." Tambahnya kemudian. Dan kini, aku jadi ingin menempeleng kepalanya. Tapi kudapati ada senyuman sekilas tersungging di bibirnya, jadi aku hanya menanggapinya dengan helaan napas seraya menjatuhkan gelas di tanganku ke atas tempat tidur. Toh, gelasnya sudah tidak ada setetes air pun di dalamnya.

Setelah diangkat sedikit, berikut juga dengan kedua kakiku—rupanya dia hanya ingin mengubah posisi tidurku agar satu garis horizontal dengan tempat tidur—dengan perlahan dia meletakkanku kembali ke atas tempat tidur. Dengan kepala yang tidak dialaskan satupun bantal, membuatku merasa sedikit janggal, tapi aku diam saja. "Ini supaya obatnya lebih cepat sampai ke kepala." Dia menjelaskan, dan aku pun hanya dapat menanggapinya dengan memejamkan mata. Membiarkan kegelapan sekali lagi merenggut kesadaranku, dengan sebelumnya aku menangkap lagi suaranya sayup-sayup terdengar;

"Semoga cepat sembuh."

Aku tidur entah sudah berapa lama. Tapi ketika aku bangun, sakit kepalaku sudah hilang, langit sudah berwarna biru cerah… dan kudapati Yunho, si prajurit, duduk dengan gagah di kursi, sedang membaca sebuah buku di tangannya. Tepat di sebelahku.

Butuh beberapa saat bagi mataku untuk menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang membuat sosok Yunho yang tadinya hanya sesosok siluet saja, menjadi sosoknya yang sesungguhnya. Masih mengenakan seragam abu-abunya, dan kutebak senjata-senjatanya pasti sekarang berjajar ia sandarkan ke dinding di sebelahnya.

Aku tidak tahu harus berbuat apa, jadi aku hanya membiarkan diriku bergerak sedikit seolah tidak menyadari kehadirannya; yaitu dengan perlahan menggerakkan sebelah tanganku untuk menyentuh dahiku. Kemudian dengan berusaha sekeras mungkin untuk mengenyahkan gengsi dan malu, aku menoleh ke arah Yunho, dan bergumam.

"Sudah jam berapa...?" tanyaku setelah mendapati bahwa ternyata Yunho terlalu serius membaca buku di tangannya, sampai tidak menyadari kalau aku sudah bangun.

"Pukul Sembilan lewat lima." Jawabnya sekenanya, tanpa sedikitpun melirik atau mengecek jam di tangannya, atau bahkan ia tidak mau repot-repot menatapku. Entah bagaimana caranya dia mengetahui waktu. Mungkin itu konsekuensi bagi seorang prajurit yang sudah harus terbiasa menebak pencahayaan matahari, dan menimbang-nimbang sendiri pukul berapa sekarang, (Entahlah. Mungkin itu hanya perkiraanku saja.) dan ketika aku menelengkan kepalaku lebih ke samping, mencoba melihat dan mengecek jam di tangannya; benar saja, sudah pukul Sembilan lewat lima—yang kini sudah berubah menjadi pukul Sembilan lewat enam.

Kini, karena aku tidak tahu harus bagaimana lagi, atau berkata apa, jadi aku membiarkan keheningan menyelimuti ruangan, menenggelamkan kami berdua dalam kesibukan pikiran masing-masing. Hingga akhirnya setelah beberapa lama, Yunho bersuara. "Kau membuat jadwal hari ini berantakan."

"…Maaf." Dengan sontak aku membalas, tidak segan-segan disertai nada merasa bersalah, dan melemparkan pandangan ke arah lain. Mana berani aku menatapnya. Nada bicaranya memang terdengar netral seperti biasa, tapi aku sudah terlanjur memberikan garis keras pada status 'prajurit' yang dia sandang. Ah, seandainya saja tadi malam aku minum obat dulu sebelum tidur dan bukannya terbujuk rasa letihku untuk langsung tidur saja, kami pasti sekarang sudah berada di tempat salah seorang kenalan Yunho yang bisa menjelaskan kepadaku tentang apapun yang ingin kuketahui tentang kota bernama Knoxton ini. Atau, apapun yang mungkin diketahuinya, yang bisa kutanyakan juga.

"Nah, kalau sudah merasa lebih baik sekarang, cepat mandi dan ganti bajumu. Kita pergi sekarang." Titah Yunho seraya menutup bukunya, bangkit dari duduknya, dan kembali menyandangkan senjata-senjatanya. Lalu setelahnya, tanpa menungguku menghampiri kamar mandi, dia sudah keluar kamar.

.

.

.

Tidak ada yang memberitahuku bahwa sekarang sedang awal bulan musim dingin. Angin dingin berhembus menusuk seluruh tubuhku yang hanya mengenakan sebuah kaus lengan panjang yang dipinjamkan Yunho, sementara dia—si prajurit sialan yang sedang berjalan dengan langkah lebar-lebar di depanku ini, sempat mengenakan coat panjang berwarna hitam mengkilap berbahan kulit di beberapa bagiannya. Akibatnya, karena aku tidak ingin kena kontak langsung dengan hembusan angin dari depan, aku pun buru-buru menyusul langkahnya agar bisa menempel sedikit lebih dekat di belakangnya agar terlindungi. Menunduk untuk bisa melihat dan menyesuaikan langkah kami. Seraya memasukan tanganku ke kantung celana depan.

Sempat beberapa kali ku lihat adanya gerakan anggukan dari kepala Yunho ketika berpapasan dengan beberapa orang di sekitar kami. Rupanya dia cukup terkenal. Nyaris semua orang ia beri sapaan demikian. Sopan, ramah, walau tanpa kata-kata. Entah ekspresinya bagaimana. Aku belum pernah melihatnya tersenyum cerah. Hanya beberapa kali melihat kilasan senyum 'basa-basi' belaka selama aku tinggal bersamanya.

"Tinggal satu blok lagi." Tiba-tiba Yunho bersuara memberitahuku, yang tentu saja sontak membuatku jadi harus menghentikan langkahku sebentar karena kaget; takut dia berhenti mendadak, dan mengakibatkan aku langsung menabraknya karena jarak kami yang terlalu dekat.

"…Aku harus memanggil kenalanmu ini dengan sebutan apa?" tanyaku buru-buru untuk menutupi kecanggungan yang bahkan tidak ia ketahui, seraya aku dengan cepat-cepat menyusulnya yang sudah berjarak cukup jauh dariku.

"Yang penting kau bersikap sopan saja, dan masalah mau panggil apa itu terserahmu. Tapi, namanya Gabriel." Jawabnya tanpa menoleh ke arahku. Aku pun hanya dapat mengangguk, entah untuk apa.

Rupanya, 'tinggal satu blok lagi' yang dimaksud Yunho barusan adalah blok bagian luar kota. Semacam… pinggiran kota? Yah, kurasa begitu. Pinggiran kota yang bernuansa sedikit lebih… eh… sederhana. Tapi, bukan sepenuhnya berada di luar kota. Karena aku perhatikan, kota Knoxton yang entah seberapa besar luasnya ini terkurung kubah tidak terlihat. Aku menyadari hal ini pada hari ke tiga setelah aku sadar di Rumah Sakit, ketika aku sedang berberes untuk kepindahanku ke rumah Yunho. Aku melihat ke luar jendela, dan mendapati adanya gelombang-gelombang aneh mirip reaksi air tenang yang langsung bergelombang jika disentuh permukaannya, di angkasa. Mirip ketika suster-suster yang merawatku di Rumah Sakit meletakan segelas air putih di atas meja di sebelah tempat tidurku dan membuat permukaan airnya bergelombang sedikit. Dan saat ku tanya ke Yunho itu apa, dia menjawab kalau itu adalah kubah tak-tampak milik pemerintah untuk menjaga kota ini tetap aman. Mendengar hal itu, aku hanya dapat melemparkan pandangan heran ke arahnya, dari atas ke bawah. Berpikir; kalau begitu, tugasmu sebagai prajurit begini untuk apa? Tapi dia tidak melihatku, jadi aku hanya dapat mengangkat bahu dan menerima hal itu apa adanya. Lalu, aku tidak pernah mencoba untuk mempertanyakan hal itu lagi setelahnya, karena Dokter Eric mewanti-wanti diriku untuk tidak terlalu banyak berpikir—hingga sekarang, ketika aku kembali melihat gelombang-gelombang aneh itu lagi, sebelum akhirnya langkahku terhenti karena menabrak Yunho yang sudah berhenti di depan pagar tembaga yang cukup tinggi menjulang. Mulutku nyaris saja mengeluarkan omelan, dan langsung ku tahan ketika melihat apa yang ada di hadapan kami kini.

Sebuah rumah yang amat sangat mewah, megah, dan berhalaman luas. Tipe rumah bernuansa masa kini, namun masih terlihat khas sederhana yang nyaman di lihat dari beberapa sudut tertentu. Tipe istana yang tidak berlebihan, tapi sangat terlihat anggun. Rumah siapa ini? Apa kenalan si prajurit ini adalah seorang yang amat penting, atau bagaimana?

"Lapor, Prajurit U14-H602. Jung Yunho, dari Distrik 2. Patrof kanan, Tenggara. Sudah membuat janji dengan Gabriel Vi…" Yunho terdiam sebentar, berbeda denganku yang sudah sedari tadi terbengong-bengong menyimaknya bersuara entah kepada siapa. "…Vierxant. Astaga, Gab, aku berani sumpah kau harus mengganti nama lain yang jauh lebih mudah." tambahnya. Dan aku nyaris menyemburkan kekehan mendengarnya menyerocos begitu mengingat selama ini Yunho selalu terlihat tenang dan berkarisma dalam diam. Yah, tapi dia benar. Nama marga si Gabriel ini sungguhan sulit disebut, apalagi diingat.

"Heheheh. Laporan diterima, Prajurit Yu. Masuklah." Entah berasal dari mana, tiba-tiba terdengar suara kekeh geli seorang laki-laki—entah siapa dia—yang disusul dengan bergeraknya pagar di hadapan kami terbuka perlahan, dan Yunho berjalan masuk ke pekarangan. Aku pun mengikutinya cepat-cepat. Dan dari jauh, aku bisa menangkap sosok seseorang bertubuh kecil tengah berdiri di depan pintu, tersenyum ke arah kami—atau hanya ke arah Yunho saja, aku tidak tahu.

"Selamat pagi. Terlambat dua jam. Ada apa ini? Kau menyebut dirimu seorang prajurit, Yu?" sambut si laki-laki seraya mengulurkan tangan ke arah Yunho. Dia rupanya jauh lebih muda dari yang aku kira, karena kupikir kami akan berhadapan dengan seorang professor tua yang umurnya mungkin bisa jadi lebih tua daripada kota Knoxton ini sendiri. Tingginya lebih pendek dari kami berdua, membuat aku jadi merasa seperti sedang mengintimidasinya. Wajahnya terlihat kalem, tenang, dan bersahabat. Kulitnya berwarna kecokelatan seperti sering bermain bersama matahari, dan kedua pundaknya membungkuk. Ada aura unik yang bisa kurasakan saat berada di dekatnya. Entah apa itu. Mungkin karisma?

"Yah… tadi ada hambatan. Maaf membuatmu menunggu, Gab." Yunho menyambut uluran tangannya, dan tahu-tahu menarikku maju. "...dan, ini dia hambatannya. Bocah, kenalkan. Sejarawan Gabriel." Aku tersenyum kepadanya, dan dengan canggung mengulurkan tangan ke arahnya—yang ternyata mau dibalas olehnya. "Halo." Sapanya seraya tersenyum ramah.

"Dia… amnesia. Tidak tahu namanya siapa." Tambah Yunho, seolah aku tidak berada di sekitar. Tapi, berhubung itu memang kenyataan, walau pahit, aku hanya bisa mengangguk seraya mengangkat bahu sekenanya. Dan si Gabriel ini langsung melemparkanku dengan pandangan sedih. Mungkin dia kasihan. Ini benar-benar tidak mengenakkan.

"Sebenarnya, aku sedang memikirkan sebuah nama yang bagus untuk diriku sendiri. Tapi, yah, kau tahu. Sulit." Ujarku asal-asalan, dengan sebuah cengiran sebagai penutupnya. Dan Gabriel tahu-tahu tertawa ketika mendengarnya. Entah itu tulus atau tidak. Namun setelahnya, dia kemudian memandang kami secara bergantian dan mengangguk.

"Ah, ya. Daripada hanya di sini saja, lebih baik kita ke dalam. Aku sudah menyiapkan makanan, semoga kalian belum sarapan." Ujarnya, yang kemudian mempersilahkan kami untuk memasuki... istanannya.

.

.

.

Ketika aku melangkah masuk, aku langsung bersuka cita karena udara dingin kini telah berubah menjadi hangat. Sekaligus, tercengang. Rupanya tampak luarnya saja yang menipu. Bagian dalam 'istana' milik Gabriel ini lebih mirip tempat penyimpanan buku-buku dan kertas-kertas segunung. Sejauh mata memandang, nyaris di tiap sudut teronggok buku-buku tebal dan tipis, serta bertumpuk-tumpuk lembaran kertas. Walau sudah disusun serapi ini, tetap saja kesannya sama saja berantakan karena jumlahnya terlalu banyak dan terlalu mendominasi. Bikin sumpek. Dan baru saja aku mulai membiasakan diri dengan keterkejutanku, Gabriel berkata; "Maaf ya berantakan." Aku harus mati-matian menahan diri untuk tidak mendengus.

Sampai Yunho berkata, "Bukankah memang selalu seperti ini?"

"Jangan begitu, dong. Rumah ini kan memang hanya sebagai sumber arsip kota ini, sekaligus beberapa bagian dari Negara ini juga. Kesannya saja yang terlihat mewah dari luar, ya, bocah?" tanya Gabriel seraya menatapku dengan tersenyum lebar. Dan aku hanya bisa membalas cengirannya dengan cengiran pula, dan kembali memandang sekeliling. Setiap rak kayu yang ada di sini—jumlahnya ada lima—sudah penuh semua dengan buku-buku. Dengan di atasnya ditempeli beberapa kertas bertuliskan; kamus, resep, obat, dan alfabet dari A-Z.

"Anda tidur di mana?" tanyaku akhirnya, merasa terusik dengan semua ini.

"Dia tidur di mana pun dia suka. Bahkan dia bisa tidur di atas rak itu jika saja dia cukup tinggi untuk meraihnya dengan tangga itu." jawab Yunho datar seraya menunjuk rak tertinggi yang ada di ruang tengah. Dan tentu saja Gabriel langsung mengomelinya.

"Yah… dia ada sebagiannya benar juga, sih, sebenarnya. Aku bisa tidur di mana pun aku mau. Apalagi, kalau harus mengurusi sebuah kasus yang tidak selesai-selesai." Celotehnya.

Sambil berjalan, karena terlalu banyaknya buku-buku dan kertas-kertas di sejauh mata memandang, aku sampai tidak menyadari bahwa sedari tadi kami bertiga sebenarnya sudah diawasi oleh beberapa pengawas yang berjaga pada tiap pintu yang ada, seolah di balik masing-masing pintu itu adalah sebuah tempat penyimpanan barang-barang penting yang rahasia. Aku jadi semakin penasaran, sebenarnya rumah ini seluas apa, sih, sampai-sampai untuk menuju ruang makan saja harus berjalan selama ini. Tapi, ketika aku baru saja ingin bertanya akan hal itu, tahu-tahu seorang pelayan—begitu panggilan yang diberikan Gabriel kepadanya—datang menghampiri kami bertiga dan dengan sopan meminta jaket Yunho untuk digantung. Kemudian, tahu-tahu muncul sebuah pintu besar yang juga di jaga seorang pengawas—atau pelayan juga?—entah darimana pintu itu berasal. Tadi rasanya tidak ada pintu ini di sana? Tapi, sosok pintu itu begitu nyata. Ah, disini semuanya terasa seperti serba… cepat, dan misterius.

"Apa pintu ini sudah sedari awal di sini, atau…" dengan ragu-ragu aku bertanya, dan karena setelahnya aku merasa kalau pertanyaanku barusan sangatlah konyol, aku berharap tidak ada yang mendengarnya, atau mengabaikannya saja. Atau, yah terserah lah. Namun sepertinya itu juga tidak mungkin, karena tahu-tahu Yunho mendengus seperti menahan tawa setelah aku menggantung kalimatku.

"Tentu saja tidak. Maaf, ya, bocah. Kepolosanmu jadi membuatku ingin mengerjaimu. Dan… yah… pintu tadi itu sebenarnya memang baru saja muncul. Kita, bisa dibilang, tadi baru saja melewati sebuah hologram lubang cacing." Jelasnya.

"Hey, bisa kah kau berhenti memanggilku dengan sebutan 'bocah'?" omelku pada Yunho. Tidak perduli bahwa aku baru saja mengajaknya berbicara dengan tata bahasa informal. "Yeah, aku tahu kalau aku ini memang lupa dengan namaku yang sebenarnya. Tapi kan…"

"Ssh. Sabar, anak muda. Tidak boleh ada pertengkaran di depan makanan." Tegur Gabriel yang tahu-tahu sudah berdiri jauh di ujung meja makan panjang yang ada di hadapan kami—entah sedari kapan dan bagaimana juga munculnya, aku serius—lalu, secara serentak muncul para pelayan membawa setidaknya dua nampan yang tertutup tutupan perak di masing-masing tangan mereka. Berjalan dengan kompak mendekati meja panjang, dan meletakkan nampan-nampan tersebut dengan cekatan dan rapi. Sehingga, tidak butuh waktu lima menit, meja panjang yang kosong langsung terpenuhi berbagai jenis makanan. Dan hebatnya lagi, keberagaman makanan yang ada tidak membuat aroma mereka tercampur dengan tidak enaknya di udara. Justru, malah membuat mulutku nyaris banjir karena perpaduan aromanya begitu serasi dan tumpang tindih dengan teratur. Tidak membuat hidung kualahan untuk menciuminya sekaligus.

"…dan sekali lagi, maafkan aku, Gab. Tapi aku harus mengatakan hal ini. Tapi, sungguh, kau seharusnya berhenti bersikap mewah seperti ini kepada seorang 'yang katanya' prajurit seperti aku begini." Yunho berdeham malu, kemudian mencuri-curi pandang ke arahku, seolah ingin memergoki aku yang sedang bengong karena ingin cepat-cepat menghabisi semua makanan yang ada. "Kau lapar, anak muda?" tanya Yunho kepadaku, dengan nada puas.

"Yah… sebut saja ini sebuah pesta perayaan yang sudah agak telat, untuk ulangtahunmu yang sudah lewat seminggu yang lalu, Prajurit Yu." Gabriel tersenyum cerah. Senyuman yang mampu memancingku untuk ikut tersenyum juga, dan tanpa sadar menoleh ke arah Yunho. Lupa kalau aku tadi sedang kesal padanya. "Kau ulangtahun, Yunho-ssi?" tanyaku.

"Benar, anak muda. Ah, kau pasti baru tahu, ya, kalau dia baru saja berulangtahun?" Kini, aku menoleh ke arah Gabriel. Senyumanku lenyap, berganti dengan ekspresi penuh tanya.

"Memangnya... ulangtahun itu apa?" Dan baik Yunho yang tengah berjalan menuju meja panjang, maupun Gabriel yang tahu-tahu menguburkan wajahnya dengan kedua tangannya, menyemburkan tawa tepat setelah mendengar pertanyaanku. Seharusnya aku merasa kesal dengan respon mereka itu, tapi karena sudah tidak tahan melihat limpahan makanan yang ada, aku pun hanya bisa angkat bahu dan berlari kecil menuju kursi di sebelah kursi Yunho untuk makan.

"Gab, makanan sebanyak ini kalau tidak habis, akan kau apakan?" tanya Yunho, setelah berhenti mengunyah pada porsi keduanya; kentang tumbuk dengan isi sayuran yang dipotong-potong berbentuk dadu kecil-kecil dan diberi saus lelehan... apapun itu namanya—tapi warnanya oranye lembut dan ada serpihan-serpihan putih yang tidak bisa tercampur dengan si oranye. Sementara aku, sudah bersiap mengisi piringku dengan porsi keempatku; …eeh… zoupa-soup? Dengan isi sayuran, dan sup kental berwarna kuning lembut rasa jagung. Yah, apapun itu namanya juga, yang penting ini benar-benar enak. Atau… ini karena efek aku lapar saja, ya?

"Tentu saja akan kusumbangkan yang belum tersentuh. Jung, aku ini masih sadar diri, oke. Maaf kalau sikap serba-mewahku ini terlalu, dan selalu membuatmu terganggu. Lagipula, kenapa kau tidak tinggal denganku saja, dan bukannya malah tinggal sendirian di penthouse-mu?" Gabriel menatapnya tajam. Aku jadi harus berhenti mengunyah untuk bisa mengawasi mereka berdua, mengantisipasi keributan sekecil apapun. Lalu, setelah jeda beberapa saat, Yunho menggeleng sopan, dan aku yang merasa lega melihat hal itu langsung kembali makan.

"Aku nanti jadi tidak konsen bekerja, dan jadinya malah aku minta cuti untuk membersihkan ruangan Arsip milikmu di luar tadi itu." jawabnya.

"Eh, oh iya ngomong-ngomong," Aku bersahut tiba-tiba. "Anda tadi bilang kalau rumah ini adalah tempat Arsip untuk Kota ini, dan sebagian dari Negara, kan?" Gabriel mengangguk kepadaku. "Kalau begitu… kenapa… eh… bagaimana mengatakannya, yah. Kenapa penjagaan di sini agak… longgar? Maksudku… aku tidak melihat adanya prajurit seperti Yunho-ssi begini di sekitar sini…"

"Anak baru, kau cepat sekali tanggap, ya, rupanya." Balas Gabriel tulus, dan ia langsung meletakkan garpu dan sendoknya, lalu menangkupkan keduanya. Kedua matanya yang tajam menatapku langsung di mata, membuatku jadi merasa sedikit tidak nyaman. Tapi aku tidak mengalihkan pandangan sama sekali, dan turut mengikuti tindakannya untuk meletakkan peralatan makanku di atas piring, dan memperhatikannya.

"Jadi… begini rupanya? Kau membawakan seorang murid untukku, Yunho?" tanya Gabriel yang kini melemparkan pandangannya kepada Yunho—yang tadinya tengah mengunyah, langsung berhenti dan terlihat nyaris tersedak, tapi dia berhasil menahannya.

"Ya." jawab Yunho singkat. Tanpa sedikitpun melirik atau bahkan berhenti makan.

Gabriel menghela napas, terlihat lelah. "Astaga, Yunho... apa kau pikir kalau aku ini tidak—"

"Aku tahu, Gab." Belum selesai Gabriel mengeluh, Yunho memotong dengan samar-samar terdapati nada memohon. "Dan aku harap, kau maumengerti." Yunho mengakhiri kata-katanya dengan pandangan tanpa berkedip ke arah Gabriel. Begitu dalam, dengan sejuta makna. Dan Gabriel, seolah terhipnotis, hanya dapat membalas tatapan Yunho dengan pupil hitamnya bergetar beberapa kali, seolah siap memberontak, namun juga ragu harus apa.

Aku, yang sedari tadi mengawasi keduanya, hanya dapat bertahan pada kebungkamanku—sekaligus karena mulutku memang sedang penuh makanan juga, sih, sebenarnya. Tapi, ketika aku kembali mendapati Gabriel menatapku lagi, aku buru-buru menelan makanan yang sudah halus di mulutku, untuk bisa bersuara. "Yah… sebenarnya Yunho-ssi membawaku ke sini karena… aku ingin mengetahui tempat apa ini, dan… siapa tahu lewat cerita-cerita Anda, bisa memancing beberapa ingatanku kembali."

"Knoxton—" secara mengejutkannya, ternyata Gabriel langsung menerima omonganku barusan mentah-mentah tanpa tanya ini-itu lagi. Seolah dia sudah sering mengurusi orang tersesat sepertiku begini. "—pada dasarnya, merupakan salah satu dari empat kota besar yang ada di sebuah Negara bernama Mittirim ini, yang dikutuk."

Gabriel mengangkat sebelah tangannya cukup tinggi, seolah mencoba menggapai langit-langit, namun, tidak. Yang dia lakukan sebenarnya adalah melambaikan tangannya sekilas ke bawah lagi, dan tahu-tahu jendela-jendela tertutup dengan perlahan. Membuat pencahayaan di ruang makan jadi minim, dan aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melemparkan pandangan ke arah Yunho karena takjub sekaligus heran. Bagaimana dia melakukannya? Semua jendela ini tertutup secara otomatis, atau berkat lambaian tangan Gabriel tadi, yang ternyata adalah sebuah tanda untuk seseorang di balik dinding untuk melakukannya? Tapi rupanya, Gabriel tidak puas untuk mengembuatku kagum sampai situ saja. Setelah jendela yang tertutup, kini tahu-tahu muncul sebuah hologram garis-garis berwarna biru terang nan jernih di hadapan kami bertiga, di atas meja makan kami. Mengambang di tengah-tengah udara dalam keadaan diam tanpa diketahui dari mana asal sumbernya. Kemudian, Gabriel pun kembali menjelaskan. "Ini, namanya lembar-biru. Sebentar, ya… aku ubah menjadi Dust dulu… nah."

Garis-garis biru tadi, setelah di utak-atik dengan jari Gabriel di udara seolah memiliki alas tak kasat mata, kini telah berubah menjadi susunan pixel-pixel—begitu Gabriel menyebut kubus-kubus mini yang bergerombol menyatu bersama itu—membentuk gambar, dan tulisan-tulisan. Gambar beberapa orang. Gambar gedung-gedung. Gambar keseluruhan kota Knoxton, sepertinya, dari langit yang cukup jauh sehingga mampu mencakup keseluruhannya yang sangat luas.

"Ini, adalah kota Knoxton. Dan ini…" Dia mengayunkan tangannya seolah tengah menggeser sesuatu di udara, dan muncul lah sebuah gambar baru sebuah dataran berwarna hijau gelap yang lebih luas, "...adalah Negara Mittirim secara keseluruhan. Kemudian… empat kota terkutuk yang ku maksud tadi, adalah Kota ini yaitu titik yang itu…" ujarnya seraya menunjuk sebuah titik berwarna kuning. "Lalu, titik yang berwarna hijau adalah Kota Antara… titik yang warna merah adalah Kota Saldeen, sedangkan yang warna ungu adalah Kota Darinhem." Seiring Gabriel menjelaskan, di hologram peta Negara Mittirim muncul beberapa empat titik dengan warna yang berbeda-beda. Dan bila dilihat dari jauh, jadi membentuk sebuah pola seperti busur-panah dengan ujung anak panahnya. Namun, dengan jarak yang cukup berjauhan. Sementara Knoxton berada di paling ujung dari sisi bawahnya, Kota terdekatnya adalah Kota Saldeen. Lalu, kota 'cerminan posisi' Knoxton adalah Antara. Sedangkan 'anak panah'-nya adalah Darinhem.

"Polanya memang sengaja dibentuk seperti itu?" tanyaku. Dan Gabriel menelengkan kepalanya sedikit, dengan kedua matanya terpejam seolah tengah mengingat sesuatu yang sudah sangat amat lama terlupakan. "Bisa dibilang… iya..? agak rumit, sebenarnya… tapi akan kujelaskan nanti." Jawabnya. Sehingga pada detik ia selesai berkata demikian, aku pun mulai mengunci mulutku.

Gabriel membuka pembicaraannya dengan helaan napas. "Baiklah… nah… sekarang, mau mulai dari mana ceritanya, anak muda?" tanya Gabriel dengan wajah berbinar, setelah mendapati kepatuhanku. Aku yang mendengar hal itu, tentu saja refleks memuntahkan satu hal pertanyaan paling jelas yang ada di pikiranku.

"Bagaimana kalau... kenapa kota ini dikurung di dalam pelindung kubah tak-tampak?"

"Hmm. Pertanyaan sederhana yang cukup bagus, anak muda." Sahut Gabriel seraya mengulum bibir bagian bawahnya sendiri, dan manggut-manggut. "Sudahkah Yunho-ssi menjelaskan padamu kalau kubah itu adalah milik pemerintah, yang diperuntukkan sebagai dinding pelindung?" tanyanya, dan aku mengangguk. Gabriel pun melanjutkan, "Knoxton ini adalah sebuah kota yang sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai pengusaha, atau pendiri industri—macam-macam jenisnya. Lalu, ada juga yang bekerja sebagai penjaga keamaanan seperti prajurit kita yang satu itu," Gabriel menggedikkan kepala ke arah Yunho yang rupanya sedari tadi masih sibuk dengan makanan di atas piringnya yang kini sudah berbeda menu. Puding Greentea-susu-karamel. "Tapi, kebanyakan sih lebih didominasi oleh perindustrian. Dan untuk yang lebih spesifiknya, kebanyakan adalah Indurstri Kimia. Segala macam obat, atau zat-zat untuk keperluan Science, atau bahkan segala bentuk racun dan penangkal racun, beredar di sini dengan bebasnya. Err… tapi untuk yang terakhir tidak benar-benar bebas, sih, sebenarnya. Kalau yang satu itu pasti harus langsung dikirim ke pemerintahan untuk diamankan agar tidak di gunakan secara ilegal. Tapi intinya, kota ini adalah pusat tempat industri kimia terbesar di Negara Mittirim. Dan… yah, kurasa kau bisa menebak adanya sesuatu dari petunjuk itu…" Gabriel meninggalkan kalimatnya dengan nada menggantung. Membuatku terdiam untuk mencerna apa maksudnya. Apa maksudnya—apa itu adalah petunjuk dari alasan 'kenapa kota ini terkutuk'?

"Limbah." Tiba-tiba Yunho bersuara, membuat konsenterasiku langsung buyar dan sontak aku melemparnya dengan tatapan menghardik. Padahal aku nyaris mendapatkan sendiri jawabannya tadi. Tapi, ah, ya sudah lah.

"Industri penghasil kimia tentu akan mengeluarkan kotoran kimia pula." Jawabku sebagai penjabaran lebih jelas dari Yunho, karena masih merasa diriku belum kalah. "Tapi… memangnya sudah berapa lama perindustrian kimia di kota ini didirikan? Selama apa, sampai jadinya berakibat kota ini terkutuk? Dan… lagipula, dikutuk oleh siapa?"

"Wah, jangan meremehkan begitu, anak baru. Usia kota ini jauh lebih tua dari perkiraanmu. Walau kini, karena tuntutan zaman, semuanya bisa berubah drastis mengikuti perkembangan zaman. Usianya sekarang, kurang lebih, sedang menuju untuk menyentuh angka seribu tahun." Umum Gabriel dengan senyum bangga. Dan mampu membuatku diam-diam menahan rahangku untuk tidak jatuh ke bawah, menganga karena merasa cukup terkejut. Seribu tahun? Dan perkembangannya bisa… bisa memiliki teknologi secanggih hologram seperti yang saat ini ada di hadapanku? Atau… kubah pelindung tak-tampak. Apakah itu termasuk perubahan yang cukup cepat, atau malah lambat, ya?

Gabriel memergokiku yang sedang terdiam karena tercengang langsung menyengir. Dan seolah bisa membaca pikiranku, dia berkata. "Tapi jangan kira perkembangan pesat di kota ini semuanya didapatkan secara instan, ya. Semuanya berasal dari perjuangan mati-matian para pendahulu." Kemudian, entah kenapa setelah mengatakan hal itu, tahu-tahu raut wajahnya berubah menjadi suram. "Bahkan hingga detik ini sekalipun, anak baru. Perang di mana-mana. Yah… walau sebenarnya aku tidak terlalu suka menyebutnya dengan istilah 'perang', sih." Ujarnya.

"Gab, jangan mulai, deh." Tegur Yunho tiba-tiba. Dan tentu saja arah pembicaraan aneh ini mulai membuatku bingung.

"Apa maksudnya?" tanyaku.

"Masih berhubungan dengan kubah pelindung tak-tampak yang kau tanyakan tadi, benda ini memang berfungsi sebagai dinding pelindung agar tidak secara langsung terkena serangan dari musuh. Serta, kenapa aku tidak terlalu menanggap perang yang kini masih berlangsung secara terselubung, tidak sepenuhnya mau ku sebut dengan gelar 'perang'. Karena..." Gabriel berdeham sebentar, lalu melempar pandangan ke arah Yunho. Seolah sedang meminta izin. Dan saat aku mengikuti arah pandangnya juga, menoleh ke Yunho, yang ku dapati dia hanya sedang meneguk minuman di gelasnya dengan santai. Seolah tidak menyadari tatapan kami berdua.

"Karena… apa?" tanyaku, setelah kembali menatap Gabriel karena tidak mendapat petunjuk apapun dari Yunho.

"Karena… yang kita hadapi bukan lah manusia, anak muda. Tapi mesin-mesin pembunuh. Ini bukan lah perang. Tapi pembantaian massal yang memojokkan manusia." Jawab Gabriel.

Butuh waktu bagiku untuk berkedip sekali, dan menahan napasku sesaat, sebelum akhirnya menyahut. "Hah?"

Gabriel menjawab pelongoanku barusan dengan anggukan mantap yang terlihat seperti menyayangkan sesuatu. "Dan itu, adalah pekerjaan orang-orang terpilih seperti Yunho untuk menjaga kami dari jangkauan makhluk-makhluk itu." kini, Gabriel mengedikkan kepala ke arah Yunho, dan sontak kepalaku berputar mengikuti arahnya. Dan seolah aku sedang melihat sebuah film terpotong-potong, kembali aku teringat pada saat pertama kali aku menatap wajahnya di tengah-tengah keributan itu. Kata-katanya; "Semuanya, mundur. Siapa tahu yang satu ini Outcast sungguhan.", di tengah-tengah... baku tembak. Teriakan. Dan seruan bersahut-sahutan.

Apakah saat itu…?

"Kau menemukanku ketika sedang…?" Butuh usaha setengah mati bagiku untuk mengontrol suaraku yang tiba-tiba terasa seperti ingin goyah entah kenapa. Lalu, aku pun tersadar kalau tenggorokanku tiba-tiba kering. Aku tidak bisa menemukan kata yang tepat. Rupanya beberapa kosakata di kamus dalam kepalaku juga ada beberapa yang ikut terbuang karena gegar otak. Aku tidak berpaling ketika Yunho akhirnya menatapku—walau hanya sekilas.

Yunho membuka mulut, "Bukan aku yang menemukanmu saat bertugas. Saat itu aku hanya mendapat panggilan kalau kelompok temanku yang menemukanmu sedang kritis, sementara salah satu anggotanya menemukanmu tergeletak di tanah saat sedang berusaha melarikan diri."

Aku bisa melihat—atau merasakan?—lewat ekor mataku, bawah Gabriel langsung berjengit ketika mendengar kata 'berusaha melarikan diri'. Dan responnya tersebut pun berbarengan dengan celosan jantungku karena mengetahui bahwa orang yang seharusnya bisa aku panggil pengecut itu, karena sudah berusaha untuk menyelamatkan dirinya sendiri saja tanpa memperdulikan teman-teman di belakangnya yang masih berusaha melawan musuh mati-matian, rasanya langsung tersingkirkan jauh-jauh begitu saja oleh kenyataan; Aku sadar dia tidak serendah itu. 'Berusaha melarikan diri', sementara aku bisa berada di sini—hidup, dan bernapas, walaupun amnesia—berkat dia. Itu berarti dia masih punya cukup keberanian untuk menyelamatkanku di tengah-tengah ketakutannya itu sendiri.

"Dia sungguhan mencoba untuk melarikan diri?" suara Gabriel membuyarkan lamunanku. Dan aku kembali memfokuskan tatapanku yang tadinya kabur karena sibuk tercenung, kepada Yunho. Ku lihat kepalanya bergerak mengangguk samar, dan dia memandang lurus ke depan. Entah ke mana.

"Aku tidak bisa menyalahkannya." Yunho melanjutkan, suaranya kini menjadi pelan nyaris seperti gumaman. "Si Jackson itu… saat itu baru pertama kali terkena parasit, di bagian betis kiri. Kau tahu sendiri, kan, Gab… dia itu anaknya seperti apa."

Jackson. Itu namanya? Tanyaku dalam hati. Walau hanya sekali dengar saja, tekadku telah menancapkan bendera nama itu dalam-dalam, kuat-kuat, di dalam otakku. Bagiku, kini, nama itu sangatlah berharga. Dan aku harus memastikan, kalau suatu saat nanti ingatanku harus ditukar; yang saat ini dengan masa laluku, aku harus tetap mampu mengenang jasa orang ini.

"Apa maksud dari… terkena parasit?" tanyaku, memecah keheningan. Tatapanku masih tidak mau beralih dari Yunho—yang juga masih menolak untuk menatapku dan Gabriel. Menunggu dalam beberapa jeda, sebelum akhirnya Yunho membuka mulut, dengan secara mengejutkannya, seiring dengan dia perlahan bangkit dari kursinya. Sangat pelan hingga nyaris terlihat seperti kesopanan yang kelewat canggung dan segan.

"Aku harus pergi. Sudah mau masuk shift." Jawabnya. Lalu, Yunho pun berjalan begitu saja, meninggalkanku yang berseru memanggil namanya beberapa kali, dan Gabriel yang hanya menggumamkan sesuatu yang tidak bisa aku tangkap apa yang ia katakan itu karena gema suara panggilanku. Kini, aku bisa melihat dengan jelas senjata yang ia bawa 'menempel' di punggungnya. Sebuah pedang telanjang tanpa sarung pelindungnya, yang memiliki diameter yang cukup lebar, dan panjang yang nyaris sepanjang setengah tubuh Yunho yang tingginya nyaris sama denganku itu. Bentuknya mengingatkanku pada… pada… silet? Benar 'silet', kan? Dan anehnya, tidak ada gagang untuk tempat memegangnya di kedua ujungnya. Dan, secara menyilang, menutupi sedikit pedang di belakangnya itu, terpampang lebih mencolok sebuah senapan—eh, senjata api?—yang ukurannya cukup besar walau lekuknya terlihat ramping. Lama aku memperhatikannya. Memperhatikan punggung Yunho perlahan menjauh, seiring aku tidak lagi memanggil namanya, hingga dia hilang tertelan hologram tak kasat mata. Dan walaupun aku tahu aku telah terlambat, tapi tanpa sengaja aku melepaskan gumaman pelan. "Hati-hati."

"Kau tidak perlu mengkhawatirkan dia," Gabriel menimpali gumamanku barusan. Membuatku jadi kaget, karena sempat lupa kalau aku sedang tidak sendirian di ruangang luas milik laki-laki itu. "Dia… paling cepat akan pulang tiga hari atau lima hari nanti. Paling cepat, loh, ya. Tapi, tenang saja. Dia itu termasuk prajurit yang disiplin dan tangguh. Jadi… yah, jangan terlalu pikirkan. Dan kalau kau mau, tidur di rumah ini saja dulu sampai dia kembali."

Mendengar hal itu, sontak kedua alisku terangkat, "Lima hari? Memangnya pekerjaannya itu apa saja?" tanyaku heran. "Maksudku… aku tahu dia itu prajurit… tapi…" aku tidak berani melanjutkan ucapanku karena teringat dengan kejadian pertama aku bertemu dengannya. Kedua alisku bertautan.

Tapi Gab malah mengalihkan pembicaraan.

"Oh, iya. Aku lupa memberitahumu tentang kenapa Knoxton merupakan salah satu dari empat kota besar di Negara Mittirim yang terkutuk, ya?" aku manggut-manggut saja, walau sebenarnya bingung sendiri dengan kalimatnya itu. Dan Gabriel nampaknya tidak perduli mau aku mengerti atau tidak tentang hal itu, jadi dia melanjutkan.

"Semuanya berawal dari kebiasaan jelek Knoxton yang selalu lupa kalau kami tidak memiliki saluran pengaliran limbah pabrik industri kimia yang cukup besar, cukup banyak, dan cukup jauh jaraknya untuk bisa membuang begitu banyak ragamnya limbah kimia." Gabriel menepuk-nepuk tangannya, memerintahkan para pelayan untuk segera membereskan meja makan. Dan para pelayan yang muncul, aku berani bersumpah, ternyata berbeda dari para pelayan yang telah menyediakan makanan kami tadi. Membuatku nyaris teralihkan, seluas apa rumah ini sampai-sampai memiliki pelayan sebegini banyak ragamnya? Namun, sekali lagi suara Gabriel berhasil menarikku untuk kembali sadar.

"Dan jangan lupa juga dengan limbah-limbah dari hasil memproduksi barang-barang lain, dari tiga kota lainnya. Dan tololnya, semuanya dicampurkan ke dalam satu jalur tempat pembuangan akhir segala limbah. Sehingga… tanpa sengaja, lewat penggabungan abstrak itu, telah melahirkan sebuah Virus. Virus yang amat sangat mematikan… dan aneh."

"Memang, virus ini tidak bisa… menular ke manusia. Karena virus ini hanya menyerang benda-benda mati yang memiliki unsur kimia…" Gabriel tahu-tahu berhenti, dan menarik napas lalu menghembuskannya seperti orang yang sedang sesak napas. Walau hanya sekali saja.

"Kau baik-baik saja?" tanyaku hati-hati. Gabriel menganggukkan kepalanya cepat, lalu tersenyum malu.

"Hei, anak baru… sebelum aku melanjutkan… aku ingin kau memikirkan satu hal ini, yang akan kutanyakan padamu." Ujar Gabriel. Raut wajahnya kini telah berubah drastis. Dia terlihat seperti mau menangis.

Perasaanku mendadak jadi tidak enak.

"Tanya apa?" timpalku seraya menutupi firasatku yang tiba-tiba terasa tidak enak ketika melihat ekspresinya itu. Permukaan meja di hadapan kami berdua kini telah kosong, licin. Namun, jendela masih tertutup dan hologram yang memaparkan gambar peta keseluruhan Negara Mittirim masih menyala di atas kami. Kekelaman dan keheningan ini semakin membuat keadaan jadi mendukung terkocoknya perutku karena gugup.

"Kalau disuruh untuk memilih antara mati kelaparan dan dehidrasi, dengan bertahan hidup tapi mengonsumsi racun berjangka waktu tidak terbatas, kau mau memilih yang mana?"

Sekali lagi, Gabriel mampu menohokku hingga ke dasar terdalam hanya dengan kalimat sepele, membuatku nyaris tergerak untuk memuntahkan kembali makanan yang ada di dalam perutku. Iya, benar-benar sepele. Tapi sebenarnya tidak sesederhana itu. Karena, yang mudah itu, kan, hanya pertanyaannya saja. Bukan jawaban dari pertanyaan itu. Dan untuk pertama kalinya, otakku bekerja keras kali ini. Seiring aku mewanti-wanti, berharap sakit kepalaku tidak kumat di tengah-tengah rasa penasaranku ini. Butuh waktu bagiku untuk menguasai diri hingga akhirnya setelah beberapa jeda yang cukup lama, aku pun membuka mulut untuk menjawab—dengan keyakinan terbesarku yang bila dibandingkan dengan ketidakyakinanku, sama seperti membandingkan jari telunjuk dengan jari manis.

"Yah… tergantung alasan utama kenapa aku harus memilih antara dua pilihan itu." Aku berhenti sebentar, dan kaget karena tahu-tahu kudapati Gabriel mengangkat kedua alisnya ketika mendengarku berkata demikian. Dia terbelalak. "Kenapa menatapku seperti itu? Aku belum selesai." Tanyaku merasa tidak nyaman.

"Karena baru kali ini aku mendengar jawaban seperti itu di sini." Jawab Gabriel dengan refleks. Kini giliran aku yang terdiam karena ucapannya barusan. "Menarik. Coba jelaskan padaku kenapa kau sampai terpikirkan untuk berkata demikian." Gabriel yang menyadari keterkejutanku yang sama sepertinya, langsung tersenyum samar. Wajahnya kembali cerah walau hanya sekilas. Dan matanya tahu-tahu berbinar.

"Karena… karena memang bukannya sudah seharusnya begitu?" jawabku sekenanya. "Dua-duanya itu, kan, sama-sama bunuh diri namanya."

"Ah… ya, mohon maafkan aku, tapi aku lupa memberitahumu lagi, kalau racun yang katanya akan dikonsumsi ini tidak akan membuatmu mati, tapi memiliki efek samping lain." Gabriel menyahut dengan kalem. Membuatku nyaris memutar kedua bola mataku karena merasa 'angkat tangan'. Dan Gabriel yang menyadari keloyoanku, langsung menyengir dan meminta maaf sekali lagi.

"Apa itu?" tanyaku akhirnya.

Gabriel lalu menunduk sebentar. "Efek sampingnya… kau tidak akan bisa merasakan sifat kemanusiaanmu dalam keadaan situasi tertentu. Pada limitnya sendiri. Dan…" Dia menghela napas, "Kuharap kau mau memaafkanku lagi, tapi rasanya pertanyaan ini benar-benar tidak berguna."

Entah kenapa, ketika mendengar hal itu, tahu-tahu aku merasakan adanya sesuatu tak tampak melintas menembusku. Mengakibatkan diriku gemetar samar seperti kedinginan. Aku ingat perasaan ini. Tidak salah lagi, ini pernah disebut dengan sebutan 'firasat'. Firasat yang buruk. Amat, sangat buruk. Padahal, kata-katanya barusan sangatlah sepele—ya?

"Apa maksudmu, Gabriel-ssi?" tanyaku tidak mampu lagi menutupi ketidaknyamananku.

Dengan nada menenangkan, dan ekspresi itu... Gabriel pun menjawab, "Anak muda, kau baru saja mengonsumsi racun itu."

Aku tertegun. Apa?

"Negara ini, sebagian besarnya telah didominasi oleh racun akibat percampuran abstrak limbah kimia, termasuk makanan yang kau makan barusan. Aku sungguh minta maaf." Setelah mengatakan hal itu, Gabriel hanya melemparkan senyuman lemah dan pandangan iba. Dan seolah itu masih belum cukup untuk membuatku tersetrum teror tersebut, seiring itu juga hologram di atas kami langsung berganti tampilannya menjadi sebuah lambang dengan tulisan 'S.H.O.O.T', dan gambar seekor binatang bertubuh besar. Menyinari wajahku yang masih berharap bahwa ini semua hanyalah mimpi.

[ To be continued ... ]


Terima kasih sudah membaca!

Tolong beritahu apa saja kekurangan yang ada, di review, ya! Soalnya dengan review, semuanya akan menjadi leeebih baik~ (?) #EhTapiSeriusDeh