Chapter 3 :

Penyingkapan Tirai Kabut


Aku tidak ingat sudah berapa lama kupandangi segelas penuh air campuran obat Oxydive-ku sedari tadi ini di hadapanku. Aku bahkan tidak tahu apa sekarang sudah siang atau sore. Tapi, satu hal yang kusadari pasti, di sekitarku kini sudah tercecer tiga gelas kosong yang ketiganya sama-sama bekas terisi air Oxydive, yang kini cairan itu telah berpindah ke perutku dan melambungkan penetralan sakit ke kepalaku yang sedari tadi suka kumat secara hilang-timbul karena tidak sanggup menanggung beban pikiranku.

Saat ini, aku masih berada di tempat Gabriel. Sudah selama dua hari, karena benar apa yang dikatakan olehnya; Yunho belum kembali dari masa tugasnya sebagai… prajurit. Dan karena aku tidak mau tinggal sendirian, atau istilahnya, 'aku butuh adanya kehadiran orang lain untuk kujadikan tempat berpegangan dari kekalutan yang sedang kuhadapi kini'. Jadi, di sini lah aku sekarang. Menumpang di rumahnya, setidaknya sampai Yunho kembali nantinya, entah kapan. Sekalian, karena aku masih sangat baru di daerah sini—kota Knoxton 'yang terkutuk' ini—jadi lah aku seorang murid barunya Gabriel yang bernotabene sebagai seorang yang cukup dekat dan cukup dipercaya oleh Yunho untuk menyerahkan diriku ini agar diajarkan ini-itu untuk bisa bertahan di kota ini. Di Negara Mittirim yang kotor ini.

Dan untungnya, Gabriel tidak mengeluh tentang hal ini—atau setidaknya aku belum pernah melihatnya mengeluh di depan mukaku.

Dia membiarkanku mengacak-acak perpustakaannya—ini benar-benar Ruang Perpustakaan khusus buku-buku 'umum'; walau sebenarnya rumahnya ini sendiri pun bisa dibilang sebagai perpustakaan raksasa, mengingat rumah ini juga menyandang status sebagai Tempat Penyimpanan Data dan Arsip Kota.

Dia juga mau dengan sabar dan pelan-pelan menjawab semua pertanyaanku yang selalu aku muntahkan dengan tidak-tahu-dirinya tiap waktu—yang sebenarnya tidak akan berujung menjadi seperti ini, jika saja dua hari yang lalu Gabriel tidak memberiku pertanyaan tiada akhir seperti sebuah lingkaran ini.

"Kalau disuruh untuk memilih

antara mati kelaparan dan dehidrasi,

dengan bertahan hidup tapi

mengonsumsi racun berjangka waktu

tidak terbatas, kau mau memilih

yang mana?"

Dengan perlahan, namun pasti, aku bisa merasakan kepalaku kembali berdentum sakit ketika kata-katanya itu kembali terdengar dan menggema di kepalaku. Tapi, aku hanya mampu mengeraskan rahangku untuk menahannya. Walau sebenarnya, itu hanya akan membuat denyutannya semakin terasa jelas. Namun, karena aku sama sekali tidak ingin menyentuh gelas air di depanku, karena adanya suara ini—entah dari mana atau suara milik siapa—yang selalu mengirimkan mantra-mantranya berbunyi; "Semua yang ada di sini adalah racun. Racun yang mampu merenggut sisi kemanusiaanmu. Racun yang menanamkan virus. Tidak terkecuali obat penyembuh sakitmu itu."

Dalam diam, dengan patuh aku mengangguk samar. Padahal aku tidak tahu pasti untuk apa aku melakukannya.

Sialan… rutukku dalam hati, dan ku usap wajahku dengan kedua tanganku, berharap dengan begitu aku bisa turut menghapus kegelisahan ini. Namun sayangnya, pikiran terkelamku tidak mau enyah, dan secara terus-menerus mengingatkanku tentang sudah begitu banyak makanan pemberian Gabriel yang telah tercerna di dalam tubuhku ini—yang tidak bisa berhenti merengek untuk diberi kasih sayang karena stress yang berkecamuk. Karena saat ini aku sadar betul, bahwa aku sedang berada di siklus tiada-akhir pula.

Aku akan hidup dengan mengonsumsi racun, dan dengan mengonsumsi racun ini lah yang membuatku jadi ingin untuk mati saja karena tidak tahan dengan ketidakpastian. Namun, aku pun juga tidak ingin mati karena racun. Dan sayangnya, aku terus mengonsumsi racun ini untuk bertahan hidup. Aku butuh makan untuk hidup, aku butuh air untuk hidup. Sama halnya seperti paru-paruku yang sudah cinta habis-habisan dengan oksigen. Dan ironisnya, teori ini lah yang telah mampu membuat kepalaku kumat lagi karena terlalu pusing memikirkannya, dan sayangnya aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Jadi, lebih baik lupakan saja, walau sebenarnya tidak akan mungkin bisa.

Namun, di atas itu semua, sebenarnya yang terparah, sih, aku tidak tahu harus menyalahkan siapa.

Aku tidak mungkin menyalahkan Gabriel yang—entah secara sengaja atau betulan tidak sengaja—memberiku makanan-makanan lezat setiap hari dari dapurnya sebagai bentuk penunaian kewajibannya untuk menjagaku dan memastikan gizi serta kesehatanku tetap stabil karena janjinya kepada Yunho, yang ternyata sudah terkontaminasi bahan-bahan mentahnya dengan racun berjangka waktu tak-terhingga, bernama Dominy, sejak waktu silam. Karena kalau dipikir-pikir lebih mendalam lagi, sebenarnya secara tidak sadar aku sudah mengonsumsi racun licik ini sejak... aku dirawat di Rumah Sakit. Jadi, menyalahkan Yunho, yang bukannya sedari awal saja dia memberitahuku akan hal ini, rasanya juga tidak tepat. Apalagi sampai menyalahkan pihak Rumah Sakitnya.

Helaan napas berat berhasil lolos dari muluku. Kucoba meringankan kepalaku yang sudah panas lewat hembusan tersebut. Tentu saja itu sama sekali tidak berhasil. Jadi, akhirnya setelah berjam-jam mengurung diri di kamar dengan hanya dapat terduduk kaku yang minim gerak, aku pun bangkit dengan sangat perlahan dan hati-hati karena was-was, takut kekakuan yang telah aku perbuat akan menimbulkan salah posisi urat jika langsung bergerak secara tiba-tiba dan terburu-buru.

Seiring bangkit, tanganku pun menjulur ke depan untuk meraih segelas air Oxydive yang sedari tadi hanya kupandangi saja di hadapanku. Dan seolah tidak pernah mengetahui tentang Dominy dan tektek-bengeknya, kuseruput dengan perlahan dan khidmat segelas air itu. Kemudian aku mulai melangkah, dengan perlahan tapi pasti, kedua kakiku membawa tubuhku berjalan berkeliling kamar—sampai akhirnya aku berhenti di depan jendela yang sedari tadi kututup dengan kain tirai berwarna hitam. Ku buka tirai beludru yang cukup tebal itu, dan baru lah aku tahu kalau ternyata sekarang bukan lagi siang ataupun sore. Aku melihat kekelaman hitamnya malam terselimuti kabut di luar sana. Dan seolah tersihir dengan pemandangan itu, kepalaku mulai mengulang kembali pembicaraan antara aku dan Gabriel beberapa hari ini.

.

.

.

.

.


Shielding Heroic Outcast off/on The Throne.

Bisa disingkat dengan; SHOOT. Alias, ini adalah topik utama dari pembicaraan antara aku dan Gabriel yang mengubah pertanyaan dariku yang awalnya hanya berupa 'kenapa', menjadi rentetan 'APA?' dan 'HAH?' meledak-ledak setelah mendapat penjelasan dari Gabriel. Dan tidak pula diakhiri dengan komentar 'oh' sederhana belaka, melainkan hanya keheningan yang datar dan menenangkan, karena aku tidak tahu mau merespon dengan bagaimana lagi.

Racun yang telah diungkit oleh Gabriel yang bernama Dominy ini, pada dasarnya bukanlah jenis racun cair yang menjijikan dan berbau tidak sedap, maupun berupa gas beracun. Dominy sama sekali bukan racun yang bentuknya bisa dibayangkan, karena racun yang satu ini adalah racun yang telah bermutasi dengan kekebalan tidak terkira, sehingga wujud dan tektek-bengeknya agak sulit untuk bisa dijelaskan. Namun, aku akan mencoba menguraikannya satu persatu, secara perlahan, agar kepalaku tidak terlalu pusing memikirkannya.

Dominy diberi nama 'Dominy', bukan berarti karena penemunya bernama Dominy. Namun, entah dari bahasa mana, Dominy berarti 'belonging to God'. Dari Tuhan. Banyak masyarakat yang percaya kalau racun ini memang semacam ganjaran yang dititiskan oleh Tuhan kepada Negeri ini. Karena sebenarnya, dulu sekali, sebelum ada ditemukannya Dominy, rakyat Negara Mittirim yang terlalu terbuai dengan teknologi, serta kemampuan berpikir mereka yang memang patut dipertanyakan kejeniusannya berasal dari mana, suka berbuat seenaknya saja. Tidak pernah bisa puas, dan sekalinya sudah berhasil, dicampakkannya begitu saja untuk mencari yang lebih canggih lagi. Sifat alamiah manusia memang seperti itu, begitu kata Gabriel dengan tampang murung. Dan jika saja aku tidak amnesia, mungkin aku akan ikut-ikutan sedih mendengarnnya mengingat aku pun juga manusia, bukannya malah merasa… jijik. Atau… yah, oke, mungkin 'jijik' itu terlalu kasar. Lebih baik jika aku menyebutnya dengan… 'tidak percaya'.

Gabriel pun juga menceritakan tentang racun ini secara lebih mendetail. Yaitu, bagaimana rupanya jadi tidak bisa tertebak, karena sudah terlalu 'absurd' bentuknya jika di-zoom dengan Ta-Microscope hingga ke lensa terkecil paling mentok sekalipun. Karena, racun ini sesungguhnya berupa campuran segala macam limbah kimia yang bergabung membentuk sebuah endapan, akibat dari tidak bisa diurai oleh bakteri karena terlalu beracun. Lalu, limbah-limbah ini pun lama-lama menyesuaikan diri denga lingkungan, dan lama-lama dia pun mulai bersikap 'ramah' dengan apapun yang ada di sekitarnya. Dominy menyambut dengan baik semua mikro-organisme yang hidup maupun mati, sehingga dirinya ini mampu mendirikan kerajaan besar, gabungan virus dan bakteri yang… baiklah, cukup sampai di situ saja. Terlalu menggelikan dan menjijikan untuk bisa dibayangkan.

Oh, iya. Tapi, mau se-beracun-mematikan seperti itu sekalipun, ternyata Dominy juga memiliki fungsi mengherankan yang berlainan dari embel-embel 'racun' yang disandangnya. Diam-diam, lewat kerajaan besar tak kasat matanya, dan berkat limbah-limbah jenis baru yang bertambah pula bergabung dengannya, maka Dominy pun melahirkan spesies 'hidup' yang juga baru. Spesies hidup yang bisa berjalan, berlari, bersuara, melolong, menangis, dan berakal. Nyaris sama seperti manusia. Namun bedanya, mereka tidak punya perasaan. Ini lah, yang selanjutnya dijelaskan sebagai 'induk penyambung parasit'.

Orang-orang bagian Utara (tempat pertama yang diserang beberapa tahun silam) menyebutnya dengan sebutan 'Kakusu', yang berarti 'sembunyi'. Entah maksudnya memang diberi nama begitu sebagai tanda peringatan saja kepada orang-orang untuk segera pergi bersembunyi jika mulai terasa kehadiran makhluk-makhluk ini, yang sebenarnya nyaris mustahil untuk bisa melacak keberadaannya—atau karena ini pula lah yang menjadi salah satu alasan mengapa mereka menyebut makhluk-makhluk ini seperti itu, karena mereka itu bagaikan kabut yang tidak bisa digenggam. Sehingga, kini mereka lebih terkenal dengan nama 'Névoa' di kalangan masyarakat; yang berarti kabut.

Nevoa, sebenarnya hanyalah monster dengan bentuk monoton. Begitu kata Gabriel, karena berhubung aku belum pernah melihatnya jadi aku hanya manggut-manggut saja seraya mencoba membayangkan bagaimana rupa 'monoton' yang dimaksud Gabriel ini. Monoton berarti membosankan, atau standar. Tapi, ketika aku meminta Gabriel untuk menunjukkan kepadaku rupanya lewat foto atau gambar, yang aku dapatkan—secara mengagetkannya—ternyata Nevoa memiliki bentuk seperti…

.

.

.

"Itu…" aku mengerjap beberapa kali menatap si hologram melayang berwarna biru yang kini telah berganti gambarnya menjadi sosok kelabu yang sama sekali tidak semonoton yang dikatakan. "Eehh…"

"Tampak familiar, ya?" Gabriel menyambar sebelum sempat aku menemukan kata yang tepat untuk menjelaskan kelinglunganku terhadap adanya perasaan aneh yang tahu-tahu muncul. Jadi, aku hanya dapat mengangguk lega.

"Yah… tentu saja mereka tampak familiar bagimu, seperti kataku tadi. Monoton. Mereka ini tipe robot yang monoton. Pernah dengar kata 'robot' sebelumnya?" Butuh beberapa jeda cukup lama bagiku untuk menimbang-nimbang akan hal itu. Robot? Kata yang aneh. Tapi yang lebih anehnya lagi, rasa-rasanya… kata itu sangat familiar di benakku. "Nah, kalau memang tidak bisa mengingat, aku hanya ingin memberitahu kalau beginilah yang termasuk dalam kategori robot. Pada umumnya, robot terbuat dari besi keras. Dan Nevoa-nevoa ini juga demikian. Dan pada dasarnya, robot tidak bisa merakit diri mereka sendiri. Kecuali jika mereka—eh, oh iya. Maaf. Aku lupa memberitahu kalau mereka ini ternyata memiliki 'akal'—yang menurut tebakan para peneliti, akal mereka ini seperti berupa… Processor?Yah, kurang lebih begitu. Processor super canggih yang kecerdasannya nyaris setara dengan akal manusia. Tapi itu baru tebakan, sebenarnya. Karena, jujur saja, kami belum pernah berhasil menangkap satu dari mereka untuk bisa diteliti hingga bagian terdalam alias isi dari tubuh mereka. Karena…" Gabriel berdeham, dan aku bisa melihat lewat sudut ekor mataku kalau kakinya bergoyang-goyang samar. Dia tampak gelisah dan bingung.

"Karena...?" pancingku.

"Karena Nevoa benar-benar seperti kabut. Dan kabut ini akan membusukkan siapapun yang berani atau bahkan tidak sengaja menyentuhnya. Mengubah daging-daging manusia milik kita menjadi prototipe robot seperti yang menempel di sekujur tubuh mereka. Itu lah yang kami sebut dengan 'parasit'. Parasit yang tumbuh akibat gesekan… kimiawi? Antara Dominy yang telah lama mengendap di dalam tubuh kita karena selalu kita konsumsi, dengan… entahlah… anggota tubuh mereka? Pokoknya, kalau tubuh kita luka karena terkena apapun dari bagian tubuh mereka, akan mengubah luka itu menjadi prototipe besi."

Tanpa sadar aku menahan napasku. "Gesekan… kimiawi?" tanyaku hati-hati. Terlalu banyak informasi yang masuk membuat kinerja otakku jadi melemah. Dan aku harus benar-benar dengan sangat hati-hati menyaringnya agar kepalaku tidak kumat.

"Eeh, agak sulit menjelaskannya—ah, tunggu! Aku tahu. Contohnya, kau menjadi seorang prajurit seperti Yunho-ssi. Lalu pergi ke luar untuk… istilahnya, mencaritahu tentang mereka. Penasaran. Dan tahu-tahu secara mendadak, kau tertembak, dan penembakmu itu ternyata Nevoa yang tidak kau waspadai sebelumnya. Nah, peluru itu akan tertanam menjadi prototipe mengikuti volume kedalaman luka yang telah diakibatkannya pada anggota tubuhmu yang tertembak itu. Apa penjelasanku agak membingungkan?"

"Jadi… jadi… peluru itu semacam… alat tanam? Peluru itu… hidup?"

Mendengar pertanyaanku barusan, Gabriel langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat dan mengerutkan keningnya seraya menutup kedua matanya. "Sebenarnya tidak begitu juga, sih. Pisau, pedang, dan alat-alat tajam senjata milik mereka juga bisa. Seperti… ah, begini. Misalnya saja, pisau ini mengiris jariku secara melintang. Nah, lintas lintangan itu yang awalnya berdarah perlahan akan berubah menjadi serbuk-serbuk besi yang… lama-lama akan menyatu, mengeras, dan akhirnya tersumbat dengan besi yang sudah mengeras itu." Gabriel menjelaskan dengan tenangnya. Seolah hal semacam itu sama mudahnya seperti menyuapkan bubur begitu saja yang bisa langsung ditelan oleh orang yang menerimanya. Namun nyatanya?

Aku tidak bisa menahan diri untuk (yang ke sekian kalinya) ber-'hah'-ria karena, jujur, aku tidak terlalu bisa membayangkan bagaimana rasanya. Tiba-tiba ada besi yang muncul begitu saja dari serat-serat daging di dalam tubuh? Lalu? Setelahnya bagaimana lagi? Ketika baru saja aku ingin menanyakan hal itu, Gabriel sudah langsung menyambar dengan senyuman yang tidak bisa ditahan. Mungkin puas melihatku yang kebingungan, atau mungkin juga dia sudah kebal dengan hal-hal semacam ini. Ah, terserah lah.

"Bingung, ya? Nah… sayang sekali—eehh, bukan 'sayang sekali' juga, sih, sebenarnya—tapi, berhubung aku juga belum pernah merasakannya—dan jangan sampai itu terjadi, Amin—jadi, aku juga tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana." Gabriel menutup deklarasinya dengan gedikkan bahu sekilas. Namun, tidak ada jeda lima detik setelahnya, dia sudah kembali memberikan deklarasi baru kepadaku. "Tapi aku pernah bertanya kepada salah satu orang yang pernah merasakannya. Dan menurutnya… pada awalnya, berhubung belum 'terbiasa', rasanya seperti ada bekas luka yang mengganjal secara jangka panjang waktunya. Seperti ada makanan yang menyangkut di sela-sela gigi, tapi bedanya ini di daging. Di bekas luka itu."

Seperti terhembus angin, kata-katanya barusan langsung menembus hingga ke punggungku, seolah aku pernah merasakan hal-hal yang ia katakan itu. Berbagai ragam perasaan janggal yang 'rasanya' pernah aku rasakan, timbul satu per satu. Menciptakan sensasi aneh yang membuatku jadi merinding. Makanan yang menyangkut di gigi… refleks lidahku bergerak dengan perlahan dan hati-hati, meraba permukaan seluruh gigiku. Mencari-cari, apakah ada rasa aneh yang sempat melintas sekilas di pikiranku, yang saat ini terasa di rongga mulutku? Kurasa tidak ada. Tapi, di saat yang bersamaan juga, rasanya ada. Atau… pernahada. Lalu… luka. Luka segar. Luka terbuka akibat tersayat benda tajam. Aku tidak mungkin langsung meraba seluruh tubuhku untuk mencari tahu, kan? Ah, sudahlah.

Robot yang seharusnya berstatus sebagai benda mati, telah menjelma menjadi makhluk berakal yang tidak memiliki perasaan. ukurannya bahkan nyaris mirip seperti manusia, hanya saja dengan tambahan baju zirah yang terlihat canggih. Dengan warna kelam yang membantu menguntungkan perannya sebagai 'hantu pemburu'. Seluruh tubuhnya bersih tanpa karat, seolah dirawat entah oleh siapa atau apa selama bertahun-tahun. Semakin lama jumlahnya juga semakin banyak. Tingginya dan beratnya beragam; ada yang tingginya dua kali tinggi manusia normal, atau bahkan seperti anak kecil—nah, yang seperti anak kecil ini lah yang paling menyusahkan, karena super lincah dan gesit gerakannya. Nyaris tidak bisa diprediksi pola bergerak dan menyerangnya, jadi, jika bertemu dengan yang satu ini biasanya para prajurit akan langsung mengeluarkan Garnalasemacam granat pemancar laser pemotong ke segala arah, setelah mengamankan diri cukup tinggi di udara dengan menggunakan Velo—silet raksasa panjang tanpa gagang yang Yunho nyaris sejajar setengah tubuhnya atau lebih, dengan lebar rata-rata mengikuti ukuran panjang kaki. Digunakan untuk mengambang atau terbang di udara dengan bantuan... gas helium...? kalau tidak salah begitu namanya. Sanggup menahan bobot berat sampai 250 kilogram di udara selama lima sampai sepuluh menit. Jadi, kalau masih di bawah 100 kilogram bisa bertahan di udara setinggi sepuluh meter.

Gabriel bercerita bahwa, ketika mengetes inovasi itu pertama kalinya, nyaris semua prajurit berbondong-bondong datang ke tempat landas percobaan, dan tumpang-tindih beridiri di atasnya, sehingga membentuk piramid belasan orang yang saling berpegangan dan sahut-sahutan 'jangan lepaskan aku!', atau 'jangan gerak-gerak begitu!', atau 'aduh mati aku mati aku sebentar lagi aku akan jatuh dan akan mati, dan kalian semua juga akan ikut mati bersamaku.'—atau ada juga yang bersuara menantang, 'Sebentar lagi pisau setipis itu bakal patah. Berani jamin, deh.'.

"Aku serius." Gabriel tersenyum lebar ketika melihat aku tersenyum menahan kekeh ketika mendengar hal itu. "Namun, di antara begitu banyaknya orang-orang, hanya satu prajurit saja yang saat itu tengah memandang dari baris ke tiga dari atas piramid itu, bertanya kepada salah satu pelatih kami dari lima pelatih, yang saat itu mengelilingi piramid-orang tersebut untuk berjaga-jaga, 'Jadi… sebenarnya kita sedang apa sih?' dengan wajah polos. Lee Donghae namanya. Prajurit Hae. Salah satu rekan kerjanya Yu. Orang paling polos. Naifnya ampun, deh." Sahut Gabriel seraya geleng-geleng kepala.

"Sebentar. Bagaimana caranya mereka… bisa saling menahan tubuh rekan-rekan mereka yang berdiri di atas mereka? Yang paling bawah siapa? Yang paling atas siapa? Memangnya tidak berat menahan dua sampai tiga orang begitu? Lalu, akhirnya bagaimana? Velo-nya patah, tidak?" tanyaku berondongan, yang langsung membuat Gabriel mengusap wajahnya dengan sabar. Tinggal menunggu waktu saja, sebenarnya, untuk bom-waktu-kesabaran milik Gabriel hangus dan dia akan langsung pergi begitu saja meninggalkanku karena lelah ditanyai beruntun demikian. Tapi, untuk saat ini Gabriel masih punya cukup kesabaran untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku yang kalap itu.

"Mereka-mereka itu tentu saja adalah prajurit-prajurit terbaik lulusan dari sekolah khusus… bocah. Aduh, rasanya tidak nyaman berbicara dengan seseorang yang tidak memiliki nama. Maaf-maaf saja, ya, nak. Tolong jangan dimasukan ke dalam hati. Tapi… bagaimana kalau kita tentukan namamu sekarang? Kau mau nama yang seperti apa?"

Aku sontak langsung bungkam ketika mendengar pertanyaan itu. Gabriel benar. Nama ternyata cukup penting sebagai tanda pengenal, walau aku sebenarnya sudah terbiasa dipanggil 'bocah' oleh Yunho selama aku tinggal bersamanya, jadi tidak terlalu memusingkan tentang hal itu. Toh, aku juga sedang amnesia. Tapi Gabriel ini lain persoalan. Rasanya akan sangat janggal anonim sepertiku berada di sekitar laki-laki formal seperti dia. Formal dan memiliki status resmi. Atau… yah, setidaknya dia punya nama untuk bisa dipanggil. Gabriel Vierxant nama yang cukup unik walaupun ribet. Kalau Jung Yunho… nama yang bagus juga. Ah, lebih baik aku menentukan nama yang simpel dan mudah diingat saja.

"Apa kau punya buku kumpulan nama yang bagus untuk memanduku?" tanyaku pelan, ragu. Namun lima menit kemudian, aku pun sudah dijejali tiga buku yang tebalnya nyaris selebar telapak tanganku. Buku khusus nama-nama dan arti-artinya dari berbagai bahasa, dan warisan nenek moyang. Diantarkan oleh dua pelayan Gabriel.

Seraya bersiul dan membuka-buka lembar demi lembar dari buku pertama; Rangkuman Nama Theologi lengkap bersama maknanya—aku berkelakar, "Apa namamu juga berasal dari sini, Gabriel-ssi?" tanyaku. Dan aku langsung terhenti karena merasa aneh sendiri sudah memanggilnya dengan embel-embel '-ssi' seperti Yunho karena kebiasaan. Apalagi sejujurnya aku tidak tahu apa pula artinya itu. Jadi, cepat-cepat aku menambahkan. "Maaf, ngomong-ngomong 'ssi' itu artinya apa, ya? Yunho-ssi memintaku untuk memanggilnya dengan embel-embel itu. Kau tidak keberatan, kan, ku panggil begitu juga?"

Gabriel mendengus tertawa, "Itu embel-embel yang digunakan untuk memanggil orang yang… lebih tua, mungkin? Aku juga tidak terlalu mengerti akan hal itu, karena Yunho tidak pernah memberitahuku tentang hal itu secara mendetail sebelumnya. Selama ini dia hanya lebih sering memanggilku dengan sebutan 'hyung'—yang berarti kakak laki-laki. Atau sekadar nama belaka, karena aku tidak merasa seformal itu. Lagipula, kata-kata itu terdengar aneh di telingaku karena tempat asal kami berbeda, seperti ras kami yang juga berbeda. Kulit Yunho putih seperti tepung begitu, sedangkan kulitku ini seperti buah yang namanya sawo. Dan tebakanku, kurasa kau berasal dari kampung halaman yang sama seperti Yunho. Struktur dasar wajah kalian terlihat... mirip." Seiring Gabriel berkata panjang lebar demikian, mataku tiba-tiba tertuju pada sebuah nama. Gabriel—atau Jibril; adalah salah satu nama malaikat yang berarti 'pembawa pesan'. Sontak aku mengangkat kepala dengan tersenyum tanpa alasan, lalu menatap laki-laki dihadapanku itu lekat-lekat.

"'Pembawa pesan' adalah arti namamu?" tanyaku.

"Oh, kau menemukannya?" kali ini Gabriel terbahak seraya mengangguk sekali. "Yah… itu berasal dari nama Malaikat dari kitab sebuah Agama. Nama lainku itu 'Jibril'. Dongeng kuno, begitu kakekku mengatakannya. Padahal nama itu adalah pengikatku sekarang hingga selamanya." Jelasnya, dan aku pun kembali mengubur diri ke buku.

"Itu memang nama yang cukup bagus, kok. Apa orangtuamu yang memberikannya?" tanyaku hati-hati. Diam-diam mencaritahu apakah ada nama 'Vierxant' di buku ini juga. Gabriel berdeham setelah puas terkekeh.

"Gabriel-nya pemberian Ibuku, kalau Vierxant itu warisan dari pamanku, kakak laki-laki ibu." Jawabnya. Aku mengangguk-angguk, dan langsung merinding ketika entah kenapa sempat terlintas sekilas di benakku untuk mengambil salah satu nama milik Yunho untuk dijadikan nama keduaku. Buru-buru aku menggeleng untuk menghilangkan pemikiranku tersebut.

"Kalau Vierxant, artinya apa?" tanyaku akhirnya, setelah lelah memeriksa Bab pertama buku di hadapanku yang tebalnya sudah mencapai dua ratus halaman lebih. Jadi, tanpa menyelesaikannya hingga halaman terakhir, aku pun mulai membuka buku kedua; Nama baptis dari A sampai Z dengan makna dan arti.

"Sejujurnya, itu hanyalah lelucon saja. Pamanku itu orangnya suka bercanda. Saat ditanya ibuku, apakah mau memberikan nama untukku, paman malah langsung melengos ke luar jendela. Terdiam beberapa saat, lalu bergumam. 'Vierxant. Coba bayangkan, ada Jibril yang tiba-tiba muncul, mengetuk jendela rumah kita, dan berkata kalau dia baru saja gajian. Dan dia tumpahkan segunung koin emas untuk kita, lalu menghilang lagi entah kemana.' Ibuku langsung geleng-geleng kepala dan dengan bercanda juga ia setuju dengan nama itu, sekalipun tidak mengerti pamanku ngomong apa." Gabriel menutup ceritanya dengan dahi berkerut, lalu dengan jeda singkat sesudahnya, dia menambahkan. "Oh, ya. Pamanku bilang kalau sebuah nama yang memiliki huruf x-nya itu adalah nama yang keren." Ringisnya, menandakan bahwa itu benar-benar konyol. Tapi berlainan dari reaksiku ketika mendengarnya. Sontak ku tutup buku di hadapanku dan kembali melemparkan pandangan ke arah Gabriel—yang langsung terlonjak kaget.

"Baik, aku sudah tahu nama yang bagus untukku." Demikian aku mengumumkan.

"Dan namamu sekarang berarti adalah…?" balas Gabriel hati-hati. Wajahnya terlihat bingung. Mungkin gara-gara aku terlalu tiba-tiba bergerak tadi. Dan untuk menutupi rasa tidak enakku akan hal itu, aku pun membuka mulut untuk bersuara.

"Jaxon, dengan huruf x."

Kulihat adanya perubahan air muka dari Gabriel yang langsung kelam. Ekspresinya datar, dan dia seolah sudah siap untuk menyemprotku. Tapi kenyataannya, dia malah berkata dengan tenang. "Ayolah, candaanmu benar-benar garing."

"Eh?" aku terbelalak, "Aku… serius. Ini… aku sama sekali tidak bermaksud untuk meledekmu, atau meledek namamu, atau meledek ide pamanmu. Tapi—"

"Iya, iya. Aku mengerti. Apa kau mau mencangkul nama 'Jackson' sebagai namamu, dan hanya dibedakan dengan huruf x-nya saja? Mentang-mentang dia telah menyelamatkanmu?" Aku bukanlah tipe orang yang terlalu sensitif, tapi kalimat yang baru saja diucapkan Gabriel rasanya seperti memiliki unsur menuduh atau apa lah. Jadi, aku hanya dapat bungkam menatapnya tajam. Dan Gabriel langsung mengernyit setelahnya. "Apa aku salah?" tanyanya.

Refleks, aku mengalihkan pandangan kembali pada sampul buku, walaupun sebenarnya agak aneh juga jadinya. "Tidak. Tebakanmu benar. Tapi jangan pakai nada tidak mengenakan seperti menuduh begitu, dong." Balasku.

Aku merasakan tingkah Gabriel langsung menjadi kaku setelah aku berkata demikian. "Oh… oke, maaf… aku sama sekali tidak—"

"Ya, ya. Aku mengerti. Lupakan saja." Aku menyambar cepat sebelum sempat Gabriel menyelesaikan kalimat niat-meminta-maaf-nya. Karena sebenarnya dia tidak salah. Tapi, kalau terburu-buru seperti itu jadinya seolah aku masih menyalahkannya. Refleks yang benar-benar jelek. Baiklah, bagaimana jika pergi dulu dari sini untuk sementara? Ini terlalu canggung. "A…ku rasa di buku yang ini tidak ada nama yang cukup menarik bagiku. Jadi… permisi, aku mau mengembalikannya. Aku akan segera kembali." Gumamku seraya bangkit dari duduk, dengan buku Rangkuman Nama Theologi-apalah terkekap di salah satu lenganku. Aku tahu, sebenarnya tindakan ini benar-benar tidak perlu, karena Gabriel bisa saja memanggilkan pelayannya untuk melayaniku mengembalikannya. Tapi, kurasa dia memahami gelagatku atau niatanku yang sebenarnya, karena dia tetap berdiam diri membiarkanku begitu saja. Namun, ketika sudah dekat dengan pintu, kudengar dia menyahutkan sebuah nama.

"…Max."

Entah kenapa, padahal aku tidak tahu dia sedang memanggil siapa tapi, ketika mendengarnya aku langsung berhenti berjalan dan menoleh sedikit.

"Bagaimana dengan 'Max'?" Ku lihat Gabriel tersenyum ke arahku seiring ia tahu-tahu bangkit dari kursinya. Berjalan menuju ke arahku dengan perlahan dan ringan. "Itu semacam nickname dari… hmm, Maximum? Maxime? Maxie? Maxon? yang penting ada huruf x-nya, kan?" tanyanya seraya menepuk bahuku ketika sudah berada cukup dekat untuk bisa berdiri sejajar. Dan sekali lagi, dengan perbedaan tinggi yang amat sangat terlihat kentara, kami jadi terlihat seperti jari tengah dan jari telunjuk.

Aku memberinya jeda hening untuk beberapa saat, seraya (berpura-pura) menampakkan ekspresi menimbang-nimbang akan ide itu. "Oke," jawabku akhirnya. Gabriel tersenyum cerah. "Maxime sepertinya lumayan." Tambahku.

"Yunho pasti akan memanggilmu dengan sebutan 'Shim'. Dia sering mengeluhkan huruf x, alasannya karena tidak cocok dengan lidahnya. Orang-orang berkulit putih porselen seperti dia juga seperti itu, ck. Prajurit Hae, Prajurit Jay, Prajurit Won, Prajurit Zhou… di sini banyak yang seperti dia—bukan maksudku rasis atau bagaimana, ya." Celoteh Gabriel santai, dan mulai berjalan. Aku masih berdiam diri di tempat ketika menyadari bahwa buku yang kubawa sangatlah berat. Tapi aku ingin mengikuti Gabriel, jadi kuputuskan untuk langsung memberikan buku-bukunya kepada salah satu pelayan dengan terburu-buru, dan langsung menyusul Gabriel yang tidak menungguiku. Kemudian, tanpa sadar, kedua kaki kami pun berhasil membawa kami meninggalkan ruang makan, menembus ke sebuah ruangan yang seluruhnya terselimuti kaca dengan hanya ada beragam macam tanaman di sejauh mata memandang yang terlihat seolah berkilau karena pantulan sinar matahari dari penuhnya selimut kaca di atas kami. Dan seperti biasa, seolah Gabriel bisa membaca pikiranku dia sudah bersuara duluan untuk memberitahu jawaban dari pertanyaanku; saat ini, kita sedang berada di ruangan apa?

"Ini namanya Rumah Kaca. Khusus untuk menanam tanaman-tanaman obat-obatan. Nah, Max… kau lihat yang daunnya berbentuk jari-jari itu? jumlah 'jarinya' ada tujuh. Itu namanya Kanabis. Atau, nama yang lebih sering digunakan itu 'Marijuana'. 'Ganja' juga bisa. Gunanya itu… sebagai obat penumpul rasa sakit. Painkiller. Tanaman ini amat, sangat berbahaya bila digunakan dengan dosis seenaknya." Gabriel sang sejarawan, setelah memasuki Rumah Kaca langsung menjelma menjadi seorang pemuda pelajar yang sangat tertarik dengan semua flora yang ada di dalam Rumah Kaca yang katanya berukuran 5x7 meter persegi ini—jelasnya setelah beberapa saat. Dia menebarkan pandangannya ke penjuru, seolah tengah menebarkan air bagi para tanaman yang nyaris mati kekeringan. Berbinar jernih, dan keseriusan penuh kehati-hatian; takut tidak merata menebar airnya.

"Korban yang tertanami parasit oleh Nevoa akan segera diberi obat dengan kandungan tanaman ini untuk meredakan rasa sakit yang… katanya tidak tertahankan. Jadi, kami menyediakan persediaan Kanabis yang cukup banyak—yang dibiakkan di tangan orang yang dipercaya pemerintah tentunya."

"Apa prajurit seperti Yunho-ssi diberikan tanggung jawab seperti ini juga?" tanyaku seraya mengamati tanaman berjari-tujuh di hadapanku kini, tanpa repot-repot mengawasi Gabriel yang kini tengah memeriksa keadaan daun-dan-tanah semua 'peliharaaan'nya ke sekeliling. Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan tanaman-tanaman ini, namun aku langsung tertegun ketika mendengar 'penderitaan' yang dirasakan korban Nevoa ketika tanpa sengaja ditanami parasit. Bertanya-tanya, sehebat itukah kemampuan daun berjari-tujuh ini, hingga dapat menumpulkan rasa sakit 'tidak tertahankan'? dan ngomong-ngomong… kira-kira rasanya tertanami parasit itu seperti apa, ya?

"Bukan dalam bentuk kebun seperti ini. Tapi satu gudang Saleb Kanabis." Jawab Gabriel seraya mengangguk mantap. Kedua alisku sontak terangkat ketika mendengarnya. Masalahnya, selama tinggal tiga hari di rumah Yunho, tidak pernah aku menemukan adanya tanda-tanda pintu yang terlihat 'khusus' untuk menyimpan segudang obat Salap Kanabis. Atau… mungkin nalarku saja yang kurang peka. Ditambah lagi aku masih terjebak kebingungan dengan amnesia yang menyusahkan. Jadi... yah...

"Semua prajurit memiliki hak istimewa akan hal itu. Prajurit-prajurit terbaik yang memang sudah memiliki izin terjun langsung ke lapangan—entah untuk berjaga-jaga di gerbang, atau untuk mengawal para pedagang dan investor dari luar kota atau luar Negeri. Apalagi bagi prajurit yang tugasnya untuk meneliti Nevoa secara langsung di pelosok." Jelas Gabriel seraya memandang ke luar Rumah Kaca. Pandangannya terlihat kosong karena tengah menerawang.

"Kalau Yunho-ssi? Dia kerjanya apa?" tanyaku, seraya mengikuti arah pandang Gabriel—yaitu ke pemandangan gedung-gedung tinggi, yang terlihat agak mungil karena jaraknya yang cukup jauh yang pastinya milik pusat kota, di luar jendela. Ada jeda hening tercipta, seolah kami berdua sama-sama terhipnotis dengan pemandangan sederhana itu. Aku tidak tahu apa yang sedang Gabriel pikirkan, tapi aku terdiam karena sedang menunggu jawaban darinya.

"Dia itu… multifungsi. Karena Yunho itu sebenarnya adalah prajurit yang masuk peringkat top lima besar yang nilainya sempurna. Tinggal tergantung dia mau bertugas di mana. Tapi kalau tadi itu… dia…" Gabriel terdiam, meninggalkan kalimatnya menggantung. Aku refleks menoleh ke arahnya karena merasa gelagatnya tiba-tiba berubah aneh, dan mendapati adanya ekspresi aneh pada wajahnya.

Wajahnya mendadak memucat, dan dia meraba-raba dahinya dengan ujung-ujung jarinya. "Gabriel-ssi? Kau baik-baik saja?" tanyaku hati-hati.

"Ya. Pasti begitu. Tentu saja. Dia itu memang seperti itu sifatnya." Sebuah racauan aneh tiba-tiba meluncur begitu saja dari mulut Gabriel setelah mengacuhkanku yang tertelan kebingungan melihat tingkahnya tersebut. Lalu, tahu-tahu dia mengusap wajahnya seraya meloloskan helaan napas keras. Dan sedetik kemudian, entah kenapa rautnya kembali normal lagi, menatapku dengan agak kesulitan memfokuskan pandangan. "Maaf, sampai di mana kita tadi?" tanyanya dengan senyum canggung.

"…Yunho-ssi." Jawabku setengah hati karena tidak rela dengan pergantian topik barusan. Jadi, secara terselubung aku memancingnya untuk tetap membahas Yunho. "Hari ini dia bertugas sebagai apa?"

"Wah… kalau yang satu itu, hanya dia dan departemen SHOOT saja yang boleh tahu. Maafkan aku tidak bisa menjawabnya." Gabriel menyahut dengan nada yang terdengar terlalu normal. Terlalu… monoton?, yang sanggup menggelitik kecurigaanku untuk bangun. Tapi, kurasa akan lebih mencurigakan jika aku mendesaknya, jadi aku pun membalasnya dengan anggukan pasrah.

"Baiklah, kalau begitu ceritakan padaku tentang departemen SHOOT."

Aku bisa mendengar adanya helaan napas halus keluar bersamaan dengan penjelasan yang keluar dari mulut Gabriel. "Iya, SHOOT. Singkatannya itu Shielding Heroic Outcast Off or On The throne. Departemen ini mirip seperti… sekolah. Mendidik pemuda-pemudi dari umur delapan belas tahun untuk menjadi prajurit. Jadi… setelah tamat sekolah umum, langsung masuk. Sifatnya bisa di bilang tidak terlalu wajib, tapi kalau memang sanggup jiwa raga, ya, harus ikut." Setelah selesai menjelaskan secara umum, kulihat Gabriel mengayunkan tubuhnya ke kiri dan kanan dengan pelan. Dia terlihat gelisah.

"Bagaimana denganmu? Apa kau juga seorang prajurit? Atau… ehm, maaf, mantan prajurit?" tanyaku.

"Aku?" Gabriel menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi kaget yang agak terlalu dilebih-lebihkan untuk ukuran keheranan. "Aku sudah keburu dijebloskan ke sekolah administrasi karena ayahku. Dia anggota Judikasi, sih. Di situ adalah tempat kumpulan orang-orang yang mengurus tentang data-data penduduk." Jawab Gabriel dengan gedikan bahu. Namun, beberapa detik kemudian, tahu-tahu matanya melebar. "Hey, apa Yunho pernah memberitahukanmu kalau kau harus melapor kepada pemerintah, untuk setidaknya mencaritahu tentang asal-usul siapa dirimu sebenarnya?" tanyanya. Tentu saja itu membuatku jadi menggelengkan kepala takut-takut.

"Sebenarnya Yunho-ssi hanya mengatakan kalau data diriku memang sedang dicaritahu. Tapi… aku tidak sampai harus pergi ke tempat resminya untuk tanya ini-itu. Aku malahan dibawa ke sini jadinya." Tuturku sejujurnya.

Gabriel bergumam-gumam sebentar, "Ngomong-ngomong, sudah berapa lama kau berada di sini? Hitung dari sejak kau ditemukan oleh Jackson." Tangan Gabriel bergerak-gerak dengan jari telunjuk terancung ke atas, mengingatkanku pada sosok figur seseorang yang tengah mengajari sesuatu kepada seorang anak, dan aku lah anak tersebut. Namun sayangnya, aku tidak bisa mengingat sosok siapakah itu.

"Kira-kira… mau dua bulan, sepertinya. Kata dokter yang merawatku, Andy dan Eric, operasi untuk meloloskanku dari kematian berlangsung selama nyaris sebulan penuh. Sisanya aku koma setelah operasi. Dan… aku baru menetap di rumah Yunho selama tiga hari. Aku juga tidak tahu kenapa aku malah diserahkan kepada Yunho, dan lupa juga untuk menanyakan akan hal itu." jawabku seraya memegangi kepalaku yang tiba-tiba mulai terasa sakit akibat dari mencoba mengingat sosok kabur yang ada di bayanganku barusan.

Untuk kali ke dua, aku melihat wajah Gabriel kembali memucat. Tapi bedanya, kini tatapannya terfokus padaku, bukan lagi menerawang. Dan kurasa yang satu ini juga turut menular kepadaku kepucatannya.

"Begini, Max…" Gabriel memecah keheningan sementara yang memuakkan itu, "Aku tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana kepadamu. Tapi… kalau sudah bulat dua bulan dan belum ketemu juga data dirimu, kemungkinan besarnya adalah… kau berasal dari luar Negara ini. Kau bisa berkemungkinan menjadi seorang Outcast." Tutur Gabriel datar, seolah dia yakin aku paham perkataannya itu.

"Outcast? Apa lagi itu?" tanyaku yang mulai tidak tahan dengan kejutan-kejutan pemberiannya.

"Outcast. Orang luar. Penjelajah dari luar. Kau…" Gabriel mengatupkan mulutnya, dan memandangku dari atas ke bawah dengan pandangan menyelidik yang terlalu buru-buru. "…yah, sebenarnya tidak sejelas itu juga, sih, mendapat cap seorang Outcast. Malah nyatanya, tidak ada yang benar-benar tahu siapa kah seorang Outcast yang sebenarnya." Lanjut Gabriel dengan nada yang lebih ringan sekaligus mengesalkan.

"Kau ini ngomong apa, sih? Tolong, jelaskan satu-satu. Pelan-pelan. Aku ini amnesia, ingat?" hardikku akhirnya. Peduli amat dia lebih tua dariku. Tidak kah dia mengerti kalau aku ini seperti tubuh kosong karena tidak memiliki ingatan apapun? Lupa kah dia tentang betapa membingungkannya dunia ini ketika terhantam amnesia? Apalagi dunia aneh penuh racun, monster atau hantu atau apalah seperti ini. Aku bahkan meragukan bahwa dunia ini benar-benar ada atau tidak. Apa jangan-jangan aku sebenarnya masih dalam tidur panjang setelah operasiku yang sebenarnya, di dunia yang lebih masuk akal daripada dunia yang satu ini?

"Ah, ya… aku memohon maaf yang sebesar-besarnya karena sudah membuatmu bingung. Tapi masalahnya… aku tidak bisa memberitahumu tentang apa itu Outcast di tempat umum begini. Sekali lagi, maafkan aku." Gabriel langsung meringis ketika melihatku yang sedang kesulitan membuka mata karena kepalaku tiba-tiba kumat sakitnya. Dan walaupun sebenarnya ingin sekali aku memarahinya, aku hanya bisa pasrah mendengar penuturannya barusan karena pikiranku kini hanyalah terpusat pada sakit kepalaku. Lagipula, kenapa dia bilang Rumah Kaca yang hanya berpenghuni dua orang dengan puluhan tanaman begini bisa-bisanya dibilang 'tempat umum' olehnya? Ini, kan, masih salah satu bagian dari rumahnya sendiri.

"Jadi… apa yang harus aku lakukan untuk mencaritahu akan hal itu? memangnya… kenapa tidak boleh diberitahu di sini?" tanyaku, berusaha mati-matian untuk mengontrol suaraku yang sudah mulai goyah.

Ku lihat Gabriel mengalihkan pandangannya sebentar ke arah lain, sebelum akhirnya dia menjawab. "Itu… kau harus masuk dan bergabung di SHOOT untuk bisa mencaritahu sendiri. Itu benar-benar diluar kekuasaanku. Semua ini sama sekali tidak sesederhana yang kau kira."


.

.

.

.

.

Memang, Gab. Semua omong kosong ini bahkan sangat jauh dari konsep 'sederhana'. Aku menghela napas berat. Kutatap lekat gelas kosong ke empat bekas Oxydive di tanganku. Lalu, ku edarkan pandangan ke sekeliling.

Tidak ada perabotan apa-apa selain tempat tidur, rak buku, dan set meja belajar. Itu artinya, tidak banyak yang bisa kulakukan di sini. Dan aku sadar, semakin lama aku berada di sini, aku akan semakin tertekan oleh ketidakpastian. Semua buku Gabriel di kamar khusus untukku ini sudah kulalap semua sebagai pembunuh waktu senggang, dan barulah aku berani menatap ke arah jam untuk mengetahui waktu. Dan rupanya aku baru berhasil menyusul waktu pada saat malam, karena sekarang sudah pukul setengah tujuh malam.

Ku memalingkan wajahku ke arah rak penuh buku yang sudah rapi, dan menarik napas. Di situ, terpenjara rahasia-rahasia yang tidak diketahui banyak orang. Tentang sejarah Negara Mittirim, tentang awal mula munculnya Nevoa, tentang Dominy, tentang belum ada ditemukannya obat untuk mencangkok parasite dari tubuh korban Nevoa. Lalu, sebuah kesadaran tahu-tahu muncul dan menggelitikku sehingga aku mampu tertawa getir sekilas. Di dunia yang berteknologi sangat canggih begini, masih juga terpikirkan untuk membuat buku dari kertas? Lucu juga. Yah, semua hal yang ada di sini memang konyol.

Ayolah Max, aku menegur diriku sendiri. Perlahan tubuhku terasa seperti menciut kecil karena putus asa, jadi aku pun langsung berjalan mendekati jendela, kutempelkan dahiku di kacanya, dan ku pandang lekat-lekat pemandangan kota di depanku yang seluruhnya hitam gelap, dan hanya dihiasi titik-titik kecil dari lampu-lampu yang masih menyala dari rumah-rumah dan gedung-gedung, atau dari menara pemancar sinyal. Ku pejamkan mata dan membiarkan kata-kata Gabriel menggaung di kepalaku. Terapi penguatan mentalku.

Mana yang lebih baik; Terpenjara di sini dengan hanya ditemani rasa penasaran, atau berbaikan dengan rasa takutmu dan pergi ke luar untuk mencari jawabannya?

Aku mendengar gema itu jauh di dalam lubuk hatiku. Hati kecilku yang rupanya cukup kuat untuk bisa bersuara seteguh ini.

Tapi, itu sama saja seperti melompat ke kolam yang dalam dengan kedua tangan yang terikat. Berhadapan dengan kabut… kau bisa membayangkannya, kan, Max?

Aku membuka mata. Rupanya tidak hanya hati kecilku yang kuat. Rasa takutku pun juga sama tangguhnya.

"Ya, ya." gerutuku, tidak kepada siapa-siapa.

Walaupun aku tahu kalau kedua kubu ini sama kuatnya, tapi rupanya masih ada peran ke tiga dalam perdebatan ini. Dan peran yang satu ini berpihak pada hati kecilku. Karena peran yang satu ini tahu-tahu muncul, dan berkelakar.

Tidak kah kau penasaran, Max?

[ To be continued ...]


Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca sampai sejauh ini!

Jika merasa cerita ini memiliki terlalu banyak kekurangan dan celah yang "tersia-siakan" yang terlewatkan, mohon tulis di review! Lumayan laah buat bantu-bantu jugaaa