~Special Weapons And Tactics~
Fairy Tail Fanfic by Indra-Fernandes
Disclaimer : Hiro Mashima-Sensei
Chara : Natsu D, Lucy H, Gildarts C.
Pairing : Belum ada ide...
Genre : Comedy, Friendship, Action
Warning : Typo, dll
Summary :
Lucy Heartfilia, wanita berumur 24 tahun asal kelahiran New York. Saat ini sedang tinggal di Los Angeles dan melamar kerja di salah satu Departement yang bernama SAPD Coporation. Itu adalah salah satu Departement dalam bidang Law Agency, ia memulai melakukan Interveiw di Departement tersebut agar dirinya bisa bekerja disana.
~Selamat Membaca~
January, 07th 2016, Los Angeles City
Pagi hari yang cerah di negara Amerika Serikat bagian California, lebih tepatnya di kota Los Angeles. Seorang wanita cantik berambut pirang yang sedang memakai piamanya masih terbaring sambil memejamkan mata ditempat tidurnya. Sinar matahari di pagi hari telah menembus sebuah jendela dan membiasi wajah cantiknya. Namun wanita itu masih tidak bangun juga, malah semakin lelap karena merasa hangat.
In a Dream
Ia sedang bermimpi disebuah Pantai Long Beach sambil memakai Gaun Putih dan angin pun menerpa dirinya hingga Gaun dan rambut pirangnya berkibar-kibar dengan sangat indah.
"Aku dimana? Bukankah seharusnya aku berada dikamarku? Kenapa tiba-tiba aku berada di Pantai seperti ini?" kata wanita itu yang sedang berbicara sendirian sambil memandangi sebuah lautan biru yang berombak.
"Akulah yang membawamu kemarin, Nona..." seorang laki-laki tampan berwajah Amerika telah menegur dirinya dari belakang.
"Eh?!" 'Apa aku sedang bermimpi? Laki-laki itu seperti seorang bintang Film favoritku, Tom Cruise' gumam hatinya disaat menoleh kebelakang dan tidak percaya akan kehadirannya, laki-laki itu sedang memakai pakaian Jas serba putih selayaknya seorang pangeran.
"Apa kau Tom Cruise?" tanya dari wanita berambut pirang itu karena masih tidak yakin dengan dengan sosok laki-laki yang sedang dilihat olehnya.
"Iya, aku Tom Cruise. Kau bisa memanggilku Tom. Asalkan kau jangan memanggilku Tom Yam karena itu salah satu makanan khas dari negara Thailand...hmm..." suara laki-laki bernama Tom Cruise itu terdengar sangat dingin.
'Sugoii! Selain tampan, cara bicaranya pun sangat lucu meski pun nada bicaranya sangat dingin...' gumam hatinya yang sedang terkagum-kagum, bisa dilihat ketika kedua tanganya saling mengikat jemari dibawah dagu.
"Perkenalkan, namaku..." ucap dirnya yang sedang ingin memperkenalkan diri dalam raut wajah yang sedang merona.
"Tidak perlu memperkenalkan dirimu, karena melihat wajah cantikmu saja sudah cukup untukku..." laki-laki itu seketika menempelkan kedua jari tangannya kepada bibir wanita berambut pirang yang sedang bicara itu hingga terhenti dalam kegugupannya.
'Hmm~" 'Tom...' wanita itu sedang memejamkan mata cantiknya disaat laki-laki tampan itu sedang mendekatkan bibir kepada dirinya.
'KRINIIIIIIG!' suara alarm jam Weaker Classic berdiring begitu keras dekat telinganya.
"KYAAA!" jerit keras dari wanita berambut pirang itu karena telah dikejutkan oleh benda tersebut.
'Tap'wanita itu akhirnya menekan tombol untuk mematikan benda bersuara deringan alarm yang keras itu.
"Fyuh~, masih jam 05.00 AM ternyata. Tapi kenapa matahari begitu terang? Ah sudahlah, aku mau tidur sebentar lagi..." wanita itu kembali terbaring kembali dan perlahan memejamkan matanya dengan sangat indah.
"Zzzz...Zzzz..." suara dengkuran kecilnya yang tertidur dalam beberapa menit.
'Crang!' mata wanita itu pun akhirnya terbuka lebar dengan urat merah disisinya, di dramatisir dengan suara kaca pecah.
"T-tungguh! Aku baru ingat Jam Beker Classic bodoh agak bermasalah dengan putaran waktunya..." wanita itu menekan sebuah tombol Smartphone hingga layarnya pun menyala, ketika melihat ke arah Jam dan ternyata waktu menunjukan pukul 07.30 PM.
"Kyaaa! Aku terlambat! Aku harus melakukan Interview hari ini!" teriak kembali wanita berambut pirang itu setelah terbangun kembali dan melesat ke arah kamar mandi.
Terlihat sebuah foto berukuran A4 dengan posisi Lanscape dihiasi dengan bingkainya yang menggantung, dimana foto tersebut menunjukan bahwa dia dan teman-teman telah berwisuda untuk menyandang sebuah gelar pada nama mereka masing-masing.
Setelah selesai mandi, wanita itu langsung mengenakan pakaian formal berupa kemeja putih berdasi hitam yang dirangkap dengan Blazer hitam dan memakai bawahan rok hitam yang panjangnya diatas lutut. Lalu kedua kakinya memakai Sepatu pantopel hitam dengan hak tinggi sepanjang 1 cm. Sebuah Map merah yang berisi dokument-dokument untuk melamar kerja telah sedang dipeluk olehnya, ia pun melihat dirinya yang memantul ke adalam sebuah cermin seukuran tinggi badannya.
Lucy P.O.V
Namaku Lucy Heartfilia, aku berumur 24 tahun...
Aku terlahir di Ibu Kota New York, dan sekarang aku menyewa sebuah Apartement di kota Los Angeles...
Aku sudah menyandang gelar Bechelor Art of Science (BSc atau S1) di Columbia University...
Gelar itu aku dapatkan selama empat tahun sembilan bulan dalam Jurnalism dan program PhD...
Andai saja aku menyandang gelar Master Art of Science (MSc)...
Tapi, menyandang gelar yang satu itu tidak mudah...
Kita harus pandai dalam menguasai Media Digital, Editing, penulisan berita dan majalah...
Sedangkan aku hanya menguasai penulisan berita dan majalah saja...
Untung saja aku memiliki bakat dalam hal menganalisis sebuah berita...
Sehingga semua permasalahan bisa dirangkai dan terpecahkan...
"Baiklah, sepertinya aku sudah cukup cantik..." katanya yang sedang bicara sendirian di depan cermin, lalu ia pun memyangkan sesuatu kembali.
Bayagann yang ada di dalam fikirannya ketika sedang melakukan Interview disebuah Departement, team penguji berjumlah lima orang yang sedang melakukan Interview terhadap dirinya terkagum-kagum ketika melihat wanita tersebut.
"Wah manis sekali..."
"Benar, kami tidak bisa berkomentar apa-apa..."
"Baiklah Nona Heartfilia, anda langsung diterima di Departement kami..."
"Tapi, bagaimana dengan Interviewnya?" tanya Lucy.
"Kita tidak perlu melakukannya, karena kecantikan anda begitu meyakinkan untuk kami sebagai team penguji..."
"Kyaa! Terima kasih...terima kasih..." Lucy kegirangan, tanpa henti-hentinya ia terus mengangguk-ngangkuk kepada team penguji.
Tanpa terasa Lucy menghabiskan waktu berkhayalnya selama 15 menit.
"Hahaha...hahaha..." Lucy masih kegirangan karena sudah terlanjur terjun kedalam alam bawah sadar, lalu ia melihat jam yang ada di tangan kirinya.
"Kyaaa! Jam 07.45 AM! Aku harus bergegas..." 'Bruk!' Lucy lekas pergi dari kamar bersamaan dengan sebuah pintu kamar telah ia banting keras, lalu ia pun berlarian dilorong apartement menuju pintu keluar.
"Heartfilia! Kau belum bayar sewa kontrakanmu bulan ini!" teriak seorang wanita tua dengan postur tubuh gemuk kepada Lucy yang sedang berlarian disebuah trotoar jalan raya. Wanita tua itu adalah pemilik apartement dimana Lucy tinggal.
"Baik! Nanti aku akan membayarnya!" balas teriak Lucy, ia pun telah menjauh beberapa meter dari Apartement dan terus berlari tanpa henti untuk menuju ke arah tujuannya.
Menyebalkan sekali wanita tua itu...
Meski pun terlambat, aku selalu melunasinya dengan kontan...
Begitu juga dengan denda keterlambatannya yang sedikit mahal...
Aku sudah berkali-kali melamar pekerjaan di perusahaan media cetak...
Tapi, masih belum ada panggilan untukku...
Sekarang aku sedang mencoba melamar kerja di sebuah Departement dalam bidang Law Enforcement Agency, lebih tepatnya SAPD Coporation (San Andreas Police Departement Coporation)...
Mudah-mudahan mereka semua bisa menerimaku...
Karena aku melihat dalam sebuah iklan lowongan kerja, Departmenet itu membutuhkan seorang Jurnalis seperti diriku...
'Bug!' seorang laki-laki berkulit hitam dan berjaket kulit telah menyenggolnya dari belakang.
"Kyaa!" 'Brug!' teriak Lucy hingga dirinya sempoyongan dan terjatuh di paping blok trotoar, ia pun menjatuhkan Map merahnya.
"Maaf, Nona...hahaha..." laki-laki berkulit hitam itu malah mentertawakan Lucy dan terus berlari mendahuluinya.
Eeeeh?! Menyebalkan...
Gara-gara orang itu Blazerku jadi kotor seperti ini...
Padahal aku sudah susah payah untuk berdandan...
"Tolong tangkap orang itu! Dia mencuri dompetku!" teriak seorang wanita muda kepada orang-orang yang tidak dikenal sedang berjalan disekitarnya dari belakang Lucy.
Pencuri? Dimana? Aku tidak melihatnya...
"Nona, dimana pencurinya?" tanya Lucy disaat seorang wanita dihadapannya itu sedang berdiri menopang lutunya karena rasa lelah.
"Tadi, aku melihat wanita itu menyenggol anda Nona..." katanya.
Eh?! Jadi yang tadi itu pencuri?
Jangan-jangan...
"Kyaaa! Dompetku juga dicuri! Laki-laki negro brengsek!" teriak Lucy kesal ketika memeriksa isi saku Blazer yang dipakai olehnya, dompetnya pun malah ikut hilang.
"Baiklah Nona, anda tunggu disini! Biar aku yang mengejarnya!" kata Lucy yang sedang membara dihadapan wanita tersebut, Lucy pun akhirnya mengejar si pencuri yang sempat berbelok di perempatan kota Los Angeles. Tanpa ia sadari Map merah berisi dokument telah ia tinggalkan begitu saja.
"Em?" wanita itu melihat ke arah Map merah milik Lucy dan memungutnya, secara kebetulan wanita itu memegang Map yang sama.
Kemampuan berlariku memang tidak cepat, tapi aku masih bisa melacak keberadaannya...
Karena isi dompetku terdapat sebuah chip GPS yang terpasang pada semua kartu penduduk...
Chip GPS itu terhubung dengan Smartphone miliku...
Baiklah, aku akan melacaknya...
Disaat Lucy sedang menyalakan Smartphone miliknya, tiba-tiba ada tulisan Low Batery dan diakhir dengan Bye-Bye dengan gambar sebuah kecupan bibir.
"Grrrrr! KYAAA! Hidup di zaman sekarang membuatku jadi gila!" teriak kesal lagi Lucy disekitar kota.
Tanpa ia sadari orang lain disekitarnya sedang memperhatikannya dengan tatapan ilfil.
"Kenapa dia? Benar-benar sangat aneh..."
"Iya benar, berteriak siang-siang seperti ini..."
"Mungkin dia sedang mabuk..."
"I-itu dia!" Lucy telah menemukan si pencuri yang sedang berlarian menuju gedung yang sedang dibangun, disana terdapan orang-orang yang sedang bekerja kesana-kemari sambil memakai pakaian kerja dan mengangkat sebuah material. Lucy pun akhirnya mengejar ke arah dimana pencuri itu sedang berlarian.
Kakiku sudah mulai pegal...
Tapi aku tidak bisa membiarkan orang itu mencuri dompetku begitu saja, dia juga mencuri dompet wanita yang sempat berhenti dihadapanku...
Baiklah, aku akan menghabiskan tenagaku yang terakhir...
Normal P.O.V
Lucy terus megejar si pencuri dompet itu yang masih berada dilokasi pembangunan hingga jarak diantara mereka berdua sekarang lebih mendekat 1 meter.
"Berhenti!" teriak Lucy, salah satu tanganya mencoba meraih kerah jaket sang pencuri itu.
"Tolong! Wanita ini terus mengejarku! Padahal aku sudah berkali-kali menolaknya!" teriak si pencuri yang sedang berdalih.
Semua orang yang sedang bekerja dibagian pembangunan memperhatikan Lucy.
"Wanita berambut pirang itu sangat cantik, tapi seleranya terhadap laki-laki benar-benar buruk"
"Kau benar, andai saja dia mengejarku..."
"Laki-laki negro itu mimpi apa ya?"
"Demi Tuhan! Orang negro jelek ini bukan tipeku!" teriak marah Lucy kepada orang yang sedang membicarakan dirinya ketika Lucy masih mengejar si pencuri itu kesana kemari.
Di depan gerbang gedung yang sedang dibangun, seorang laki-laki berwajah Jepang dengan model rambut salmon dan memakai pakian Genba (kontruksi bangunan) sedang memikul sebuah pipa besi karena sedang bekerja disebuah bangunan.
"Tolong tangkap pencuri itu!" pinta Lucy kepada laki-laki yang sedang memikul pipa besi itu di saat si pencuri kembali mendahului dirinya.
"Em?" laki-laki itu menoleh dengan tatapan heran kearah wanita berambut pirang yang sedang mengejar laki-laki berkulit hitam itu.
"Dragneel! Cepat bawa pipa besi itu!" teriak kasar dari sang mandor untuknya dari jarak 5km dekat kerangka bangunan.
"Ah?! Iya baiklah..." katanya yang menjawab sang mandor, lalu ia tiba-tiba membalikan badannya hingga pipa besi itu terayun.
"Kyaaaa!" 'Masskill!' Lucy dan si pencuri itu terkena ayunan pipa besi pada bagian dahinya hingga terkapar disebuah trotoar dan berkunang-berkunan, benjolan kecil telah muncul dikepala keduanya.
"Simatta!" laki-laki itu terkejut dan ada sedikit rasa bersalah ketika pipa besi itu menghantam kedua orang yang tidak ia kenal.
"Pak, itu dia pencurinya!" teriak wanita yang sedang berlarian bersama dua orang Polisi dari arah dimana Lucy telah berlari untuk mengejar si pencuri, itu adalah wanita yang sempat kena copet bersama Lucy.
"Ayo tangkap dia!" perintah dari polisi atasan kepada polisi bawahannya.
"Siap, Pak!" seketika bawahannya langsung menyergap si pencuri yang sudah terkapar pingsan karena benturan pipa besi tadi, ia pun menggeledah semua pakaian si pencuri itu hingga berhasil menemukan dua buah dompet.
"Kau tidak apa-apa? Maaf tadi aku tidak sengaja..." kata laki-laki itu sambil meraih salah satu tangan Lucy sudah sadarkan diri dan duduk di trotoar.
"I-iya, aku tidak apa-apa..." akhirnya Lucy pun terbagun dari duduknya disaat laki-laki pekerja bangunan itu menarik tangannya.
"Anda Lucy Heartfilia bukan? Ini dompet milikmu..." Polisi itu menyerahkan dompet hasil geledahannya, dan tentunya dompet itu milik Lucy karena terselip sebuah kartu penduduk di dalamnya.
"Nona, tadi Map anda tertinggal. Ini, ambilah..." wanita itu menyerahkan Map merah itu kepada Lucy.
"Terima kasih..." kata Lucy yang menerima Map merah miliknya kembali.
Lucy melihat ke arah jam tangan miliknya, waktu menunjukan 07.55 AM.
"Ah?! Maaf aku harus segera pergi. Permisi semuanya..." Lucy undur diri dari hadapan semuanya hingga ia pun berlari dan berbelok ke arah kiri di pertigaan kota, Lucy pun terfokus kembali ke arah tujuannya.
08.00 AM, SAPD Coporation
Suasana gedung SAPD Coporation, Lucy telah sampai di depan gedung tersebut dengan tepat waktu. Ia berjalan sambil melihat-lihat sekikarnya. Para anggota kepolisian pemula sedang melakukan Push Up dan Shit Up, tentunya di pimpin oleh para atasanya. Ada pula para pasukan khusus SWAT (Special Weapons And Tactics) yang sedang berlatih meneruruni dengan sebuah gedung SAPD Coporation dengan alat bantu tambang khusus militer, ada juga beberapa orang yang sedang latihan melubagi sebuah kaca dengan peralatan khusus hingga kaca itu berlubang dengan sempurna. Lucy tersenyum melihat orang-orang yang sedang berlatih itu begitu bersemangat.
Lucy memasuki gedung SAPD Coporation dan berjalan hingga menemukan tempat duduk kosong yang telah disediakan untuk orang-orang yang akan melakukan Interview. Lucy pun menunggu untuk panggilannya bersama mereka.
'Ini gawat! Sainganku terlalu banyak, apa aku bisa melakukannya? Melihat wajah-wajah serius itu membuatku semakin gugup saja. Ah biarlah, bagaimana nanti' gumam hatinya yang sedang merasakan kegugupan, ia melihat wajah orang-orang itu benar-benar terlihat serius seolah-olah sudah propesional.
20 menit kemudian...
"Lucy Heartfilia, giliran anda untuk melakukan Interview..." seorang wanita telah mengabsennya di dekat pintu ruang interview.
"Baik!" Lucy bergegas masuk, lalu ia duduk berhadapan dengan lima orang team penguji yang akan menginterview kepada dirinya.
"Silahkan perkenalkan diri anda..." perintah dari salah satu orang yang sedang melakukan Interview kepada Lucy sambil membuka dan melihat isi dokument yang ada di dalam Map merah miliknya. Ia seorang laki-laki dengan gaya rambut yang menggolf, kumis dan jenggot tipisnya menyatu. Terlihat ada sebuah bet nama 'Gildarts Clive' di dekat saku Jasnya.
"Nama saya Lucy Heartfilia. Saya berumur 24 tahun, kelahiranku di Ibu Kota New York. Satu tahun yang lalu saya baru lulus di Columbia University kota Los Angeles. Sewaktu masih kuliah, saya mengambil Jurusan Jurnalism hingga saya menyandang gelar Bechelor Art of Jurnalism. Bisa dilihat dari fotocopy hasil tugas akhir saya dalam sebuah penelitian tentang tragedi-tragedi kriminal yang ada di Los Angeles pada tahun 2014. Itu saja dariku, terima kasih..." Lucy berhasil melakukan Interviewnya dengan sempurna.
Kelima orang yang team penguji sempat terkagum ketika melihat Lucy yang begitu terampil dalam memperkenalkan dirinya, hanya saja kelima orang itu bingung jika melihat isi dokument milik Lucy.
"Pak bagaimana ini?"
"Entah...bla..bla...bla..."
"Isi dokumentnya benar-benar aneh..."
"Iya, aneh sekali...bla...bla..."
"Maaf, apa ada yang salah?" tanya Lucy dengan heran ketika melihat sikap kelima orang team penguji itu saling berbisik-bisik dan berunding.
"Begini, sebelum kami melakukan Interview untuk selanjutnya kami ingin bertanya kepada anda. Kenapa isi dokumentnya seperti ini?" salah satu orang yang sedang menginterviewnya menunjukan isi dokument tersebut.
"Heeeeh?! Kenapa bisa begini?" Lucy benar-benar terkejut hingga matanya melebar nyaris menangis. Ternyata Map merah itu berisi beberapa kertas gambar. Lucy melihat ada gambar gunung, hewan-hewanan, gambar rumah dan yang lainnya. Semua itu adalah hasil tugas dari guru terhadap murid TK yang telah dikemas ke dalam sebuah Map merah.
"Kami tahu, anda itu terlihat cukup pintar dan terampil. Tapi sayangnya isi dokument ini tidak sesuai. Kami tidak mengharapkan hal seperti ini dalam hal Interview perektrutan yang kami lakukan. Jadi, mungkin anda bisa mencobanya lain kali ketika kami membuka kembali lowongan kerja..." kata orang yang bernama Gildarts Clive.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu..." Lucy kecewa dan langsung undur diri dari hadapan mereka berlima, ia pun keluar dari pintu ruang Interveiw dan berjalan hingga keluar dari gedung SAPD Coporation.
06.00 PM, Los Angeles City
Malam hari disekitar kota Los Angeles dengan cuaca yang cukup menyengat, Lucy berjalan sendirian dengan wajah murung karena kesal, ia sedang menelusuri jalan untuk kembali ke apartementnya.
"Apa yang sudah aku lakukan sih? Kenapa semuanya jadi kacau seperti ini? Padahal aku melakukannya dengan sempurna tadi..." Lucy menggerutu sendirian ketika sedang berjalan, wajah kesalnya masih tetap dipertahankan.
"Kyaaa! Aku benar-benar sangat kesal!" 'Trang!' Lucy semakin kesal hingga menendang sebuah kaleng minuman kosong yang tergeletak dipinggir jalan dan terlempar keras melayang ke udara.
'Trung!' "Itaa!" teriak suara seorang laki-laki di depan Lucy dalam jarak 3 meter, wajahnya terkena kaleng yang sempat ditendang oleh Lucy tadi.
"Are?! Maaf, aku tidak sengaja! Eh?! Kau itu yang kerja dibagian Genba tadi pagi bukan?" tanya Lucy ketika menghampirinya, ia melihat sosok laki-laki itu terasa tidak asing lagi.
"Oh, ternyata kau yang melakukannya..." keluhnya, ia menggosok wajahnya kerena masih terasa sakit setelah terkena lemparan kaleng minuman.
"Lebih baik dilempar kaleng dari pada dihantam sebuah pipa besi..." balas Lucy cemberut mendengar keluhannya.
"Baiklah, aku menyerah. Kita impas...hihi..." laki-laki itu tiba-tiba malah menyingraikan senyumannya, taring giginya itu cukup panjang dan begitu manis jika dipandang.
"..." rona merah diwajah Lucy muncul ketika melihat senyuman laki-laki itu.
"Oh ya, siapa namamu?" tanya Lucy yang sedikit ada ketertarikan kepada laki-laki yang ada dihadapanya itu karena terlihat baik.
"Natsu Dragneel, panggil saja Natsu. Lalu kau?" ucapnya yang sedang memperkenalkan diri, lalu laki-laki itu ingin tahu nama wanita yang sedang ada dihadapannya itu.
"Aku Lucy Heartfilia, salam kenal..." balas Lucy yang ikut memperkenalkan dirinya.
"ルーシィ・ハートフィリア(Rūshii Hātofiria), nama yang bagus..." laki-laki yang bernama Natsu itu sedang mengejah nama lengkap Lucy.
"Eh?! Caramu mengejah namaku itu, apa kau ini orang Jepang?" tanya Lucy.
"Apa aku terlihat seperti orang China?" keluhnya.
"Orang Asia itu susah dibedakan tahu..." Lucy cemberut dihadapannya.
"Oh ya, aku hampir lupa. Map merah milikmu sepertinya tertukar dengan wanita yang sedang bersama polisi tadi..." Natsu menyerahkan dokument milik Lucy yang asli.
"I-Iya, ini dokument milikku. Terima kasih Natsu...hmm..." Lucy senang setelah menemukan dokument aslinya kembali, namun dirinya kembali murung mengingat dirinya ketika sedang melakukan Interview tadi siang.
"Ada apa?" tanya Natsu ketika melihat kemurungannya.
"Tidak ada...baiklah, bagaimana kalau kau kuteraktir minum? Anggap saja sebagai ucapan terima kasih...hmm..." Lucy menunjukan kembali senyumannya, namun disisi lain kemurungannya masih ada.
07.00 PM, Long Beach
Cafe kecil itu berada di pinggir jalan cukup dekat dengan pantai Long Beach. Lucy bersama Natsu sedang minum satu botol Bir untuk berdua. Lucy sedang menghibur diri atas kekecewaanya sambil menuangkan Bir itu ke dalam gelas kecil miliknya, begitu juga dengan Natsu melakukan hal yang sama.
"Jika aku melihat caramu berpakaian dan membawa sebuah dokument, sepertinya kau sedang melamar pekerjaan disebuah perusahaan. Jadi, bagaimana hasil Interviewnya?" tanya Natsu untuk membuka pembicaraan ketika sedang minum bersama Lucy.
"Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya..." Lucy menunjukan kembali wajah cemberutnya disaat dirinya sedikit mabuk.
"Ghahahaha! Melihatmu prustasi seperti itu, sepertinya kau gagal melakukan Interview..." Natsu malah mentertawakannya.
"Jika kau sudah tau, kenapa malah bertanya?!" Lucy semakin kesal ketika mengingat kegagalanya.
"Ayolah Lucee, kau jangan marah seperti itu. Ada pepatah mengatakan 'Kegagalan adalah awal keberhasilan', jadi kau harus tetap semangat..." Natsu menghiburnya, salah satu tanganya sedang menepuk-nepuk pundak Lucy dengan sangat lembut.
"Apa kegagalan sepuluh kali adalah awal keberhasilan sepuluh kali juga?" Lucy memandang sayu kepada Natsu, begitu juga dengan cara bicaranya yang sedikit menggerutu.
"Eh?! Sepuluh kali? Kalau itu aku tidak tahu...hahaha..." Natsu terkejut mendengar jumlah gagalnya, tanpa bisa berkata apa-apa Natsu akhirnya terdiam beberapa saat.
'Aku ingin tahu, perusahaan mana yang telah menolaknya?Jika aku melihat wajah Lucy, sepertinya dia itu orang yang cukup pintar...' gumam hati Natsu sedang hatikan wajah Lucy, ia menilai dari cara pandangnya meski pun sedang mabuk.
"Natsu, apa kau tidak merasa pusing setelah minum Bir?" tanya Lucy, ia memperhatikan wajah Natsu tidak mabuk sedikit pun.
"Aku baru bisa mabuk kalau minum Sake, jika hanya sekedar minum Bir menurutku terasa seperti minum Jus..." katanya.
"Enak sekali menjadi orang Jepang..." Lucy tertunduk dan menopangkan dahinya dibagian lengan yang sedang diletakan diatas meja, mungkin rasa mabuk Lucy sudah bertambah.
"Aku tidak mengerti, kenapa kau selalu membahas tentang negara?" tanya Natsu sedang merasa bingung dengan ucapannya.
"Karena aku terta...zzz...zzz..." Lucy tidak menyelesaikan pembicaraanya dan langsung tertidur dimeja karena mabuk.
"L-Lucy...Oiii...Lucy...kau jangan tidur disini, hmph...bagaimana ini? Aku tidak tahu alamat tempat tinggalnya..." Natsu semakin bingung dengan keadaannya dan berusaha membangunkan Lucy.
'plak' tanpa disengaja Natsu telah menjatuhkan Map merah milik Lucy yang tadinya diletakan dimeja hingga isinya berserakan.
"Em? SAPD Coporation?" Natsu mengambilnya, lalu melihat dan membaca sebuah surat lamaran kerja yang telah ditulis oleh Lucy. Begitu juga dengan tempat tinggal Lucy yang tertulis dalam sebuah Biodata.
January, 08th 2016
08.00 AM, Lucy's Room
Suasana pagi hari untuk hari esok, Lucy berada dikamar telah terbangun dari tidurnya. Sepertinya Lucy tidak ingat apa-apa tentang kejadian semalam.
Lucy P.O.V
"Em? Aku dimana?" ucapnya ketika membangunkan tubuhnya dari tempat tidur, lalu menggosok kedua matanya dengan tangan dan bergegas pergi ke kamar mandi untuk cuci muka.
Jika aku ingat-ingat, aku bertemu seorang laki-laki yang bekerja di kontruksi bagunan...
Kalau tidak salah, namanya Natsu Dragneel...
Setelah bertemu dia kembali di malam hari, aku mengajaknya untuk minum...
Setelah itu aku tidak tahu kelanjutannya karena aku tiba-tiba mabuk duluan...
Dan setelah aku terbangun, aku sudah berada dikamarku...
Apa dia yang sudah mengantarku pulang?
Tapi, dia baru mengenalku bukan?
Rasanya mustahil jika dia langsung tahu alamat Apartementku...
"Heeeh?! Kenapa aku memakai Piama?! Siapa yang mengganti pakaianku?!" Lucy terkejut setelah dirinya sadar telah memakai pakaian tidurnya.
Lucy keluar dari kamar mandi untuk mencari sesuatu, seketika Lucy langsung panik karena merasa ada yang hilang.
Gawat! Dokumentku tidak ada!
Apa Dokumentku terjatuh? Padahal aku sudah susah payah untuk membuatnya...
'tok-tok-tok' "Heartfilia, apa kau sudah bangun?" teriak seorang wanita sambil mengetuk pintu kamar Lucy dari luar, jika mendengar suaranya itu sepertinya pemilik apartement dimana Lucy tinggal.
'clek' "Aku akan membayarnya, tunggu sebentar..." kata Lucy, ia membuka isi dompetnya untuk membayar sewa apartement.
"Terima kasih..." kata pemilik apartement itu sambil menerima beberapa dollar uang yang diberikan oleh Lucy.
Uangku tinggal sedikit lagi...
sembilan kali ditolak oleh perusahaan, satu kali ditolak oleh sebuah Departmenet...
Baiklah, aku menyerah...
Sepertinya aku akan kembali ke New York...
Kedua orang tuaku pasti akan marah padaku...
Karena semenjak masuk kuliah hingga lulus, aku masih belum mendapat pekerjaan...
"Heartfilia, semalam kau mabuk. Seorang laki-laki telah menggendongmu dan mengantarmu kemari.." katanya memberitahu kejadian semalam kepada Lucy.
"Apa dia Natsu Dragneel?" tanya Lucy ketika pemilik apartement itu memberitahunya.
"Entahlah, aku tidak tahu. Dia tidak memberitahu namanya..." ucapnya.
"Lalu, siapa yang mengganti pakaianku dengan Piama? Apa dia yang melakukannya?" tanya Lucy dengan wajah kecurigaan.
"hmph, kau ini wanita yang aneh. Tentu saja aku yang melakukannya, aku sudah bosan menampung beberapa wanita yang selalu datang malam-malam dalam keadaan mabuk..." katanya yang sedang menunjukan wajah jengkelnya.
Aku fikir Natsu yang melakukannya...
Syukurlah kalau begitu, tadi aku sempat mencurigainya karena aku dan Natsu baru pertama kali kenal...
"Heartfilia, ini ada surat untukmu. Aku mendapatkannya tadi pagi, ambilah..." pemilik apartement itu menyerahkan suratnya kepada Lucy, ia pun pergi dari hadapannya.
"Sepertinya surat ini dikirim lewat Express, dari siapa ya?" Lucy membuka surat itu dan membacanya, seketika wajah Lucy berubah menjadi gembira setelah membaca surat tersebut.
"YATTA!" teriak gembira Lucy sambil melempar suratnya.
Lucy tiba-tiba bergegas mandi, lalu memakai pakian formalnya kembali dan bergegas pergi keluar dari kamarnya.
Isi surat yang tergeletak dilantai kamarnya.
Los Angeles, January 08th 2016
To Lucy Heartfilia, BSc
Dear Lucy Heartfilia
Based on a job application you have sent to our company on January 07th 2015, then we hereby inform you that you are entitled to participate in the written test and interview that will be held on,
Day : Tuesday, January 08th 2015
Place : SAPD Coporation
Time : 09.00 am – 11.00 am
We expect your peresence at the address in accordance with a predetermined time.
Thank You.
Best redard,
(Tanda tangan Gildarts Clive)
Gildarts Clive
SAPD Head Officer
08.30 AM, Los Angeles City
Dengan penuh semangat, Lucy kembali berlarian di keramaian kota Los Angeles tanpa memikirkan perasaan lelah karena merasa senang atas kesempatannya yang kedua.
Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini...
Dewi keberuntungan telah berpihak padaku...
Oh ya, kira-kira siapa yang menyerahkan dokumentku?
Apakah Natsu yang melakukannya?
Ah tidak mungkin, pekerjaan Natsu itu di Kontruksi bangunan...
Mungkin Dokumentku terjatuh hingga seorang Polisi menyerahkan dokuement itu ke SAPD Coporation...
Jika memang seperti itu, aku benar-benar ingin bertemu Polisi itu dan mengucapkan terima kasih banyak karena telah membantuku...
.
09.00 AM, SAPD Coporation
Suasana gedung SAPD Coporation, setelah sekian lama berlarian akhirnya Lucy telah sampai di depan gedung tersebut. Lucy masuk kembali ke pintu utama dan berjalan untuk menghadapi kesempatan Interveiwnya yang kedua.
"Silahkan masuk nona Heartfilia..." perintah seorang wanita berada di depan pintu ruang Interview. Jika dilihat kali ini wanita itu berbeda dari yang kemarin, dia seperti asistent direktur SAPD Coporation.
"Terima kasih..." sebelum Lucy memasuki ruangan Interview nya, ia membersihkan keringat diwajahnya dengan sapu tangan. Akhirnya Lucy pun masuk ke ruang interview.
Lucy duduk dikursi yang telah disediakan dan berhadapan kembali dengan lima orang team penguji yang sama, dan sebentar lagi mereka akan melakukan Interview kepada Lucy.
Ternyata orang yang bernama Gildarts Clive adalah seorang Head Officer di SAPD Coporation ini...
Aku baru tahu setelah membaca surat dan tanda tangan darinya...
Dan sekarang aku malah semakin gugup jika sudah mengetahui identitasnya...
Baiklah, aku akan berusaha untuk tenang...
"Baiklah, ini kesempatan anda yang kedua. Karena kemarin ada salah satu anggota SWAT dari Departement kami yang menyerahkan dokument milik anda ini. Kalau begitu silahkan perkenalkan kembali diri anda dari awal..." kata Gildarts menyuruh kembali Lucy untuk melakukan Interview ulang.
"Baik, nama saya Lucy Heartfilia. Saya berumur 24 tahun, kelahiran saya di Ibu Kota New York. Satu tahun yang lalu saya baru lulus di Columbia University kota Los Angeles. Sewaktu masih kuliah, saya mengambil Jurusan Jurnalism hingga saya menyandang gelar Art of Jurnalism. Bisa dilihat dari fotocopy hasil tugas akhir saya dalam sebuah penelitian tentang tragedi-tragedi kriminal yang ada di Los Angeles pada tahun 2014. Itu saja dariku, terima kasih..." Lucy berhasil melakukan Interviewnya lagi dengan sempurna.
Bagus, sepertinya aku sudah bisa mengatasi rasa gugupku...
Aku siap menghadapi pertanyaan dari mereka berlima...
"Apa ada sudah punya pengalaman kerja, Nona Heartfilia?" tanya asistent Gildarts yang berada disamping kiri.
"Pengalaman saya hanya ditolak oleh sembilan perusahaan dalam bidang Media Sosial, mereka bilang saya itu naif karena terlalu jujur dalam memuat sebuah berita. Kemudian saya menyimpulkan bahwa perusahaan dalam bidang Media Sosial terkadang menjual sebuah kebohongan untuk membuat berita itu agar menjadi laris, dan saya tidak ingin melakukan hal seperti itu. Mungkin saya akan cocok jika saya bekerja di Departement Kepolisian..." jawab Lucy dengan tegas serta penjelasannya.
Kelima orang yang melakukan interview itu mulai saling memandang setelah Lucy menjelaskan semua tentang pengalaman hidupnya.
"Lalu, apa kekuatan terbesar anda untuk bekerja disini Nona Heartfilia?" tanya asistent samping kiri paling ujung.
"Saya belajar dengan cepat dan bisa bekerja dengan baik dalam sebuah team, itu saja..." jawab Lucy dengan tegas.
"Apa yang anda harapkan ketika sedang bekerja di SAPD Coporation ini?" tanya asistent samping kanan Gildarts.
"Saya berharap untuk bisa berkembang secara professional dan memiliki masa depan yang cerah" jawab Lucy dengan tegas.
"Bagaimana cara anda bekerja dibawah tekanan?" tanya sang asistent sebelah kanan paling ujung.
"Tetap tenang, saya fikir yang akan membantu saya dalam sebuah tekanan itu adalah kesabaran dan juga kempampuan untuk multi tasking..." jawab Lucy.
"Baiklah nona Heartfilia, ini pertanyaan terakhir dari kami. Apa yang akan anda tanyakan untuk kami?" tanya Gildarts.
Eh?! Pertanyaan macam apa itu?
Direktur itu menyuruhku untuk bertanya kepada mereka berlima...
Lucy, ayo berfikir...
"..." Lucy berfikir sejenak untuk membuat pertanyaan.
T-tunggu dulu...
Sepertinya aku mulai mengerti apa yang mereka maksud...
Jika aku bertanya hal yang macam-macam mereka akan menjawabnya dengan sebuah serangan hingga aku gagal dalam Interview...
Baiklah sebelum mereka berlima menyerangku lebih dulu dengan sebuah jawaban...
Aku akan menyerang mereka duluan dengan pertanyaanku...
"Kalau begitu, kapan saya mulai bergabung dengan SAPD Coporation?" tanya Lucy kepada mereka berlima.
"..." serentak mereka berlima para team penguji yang sedang melakukan Interview kepada Lucy langsung terdiam beberapa saat.
"Hmpf...hahaha...hahaha..." Gildarts malah mentertawakan Lucy sambil memukul-mukul sebuah meja yang ada dihadapannya.
"hahaha...hahaha...pertanyaanya lucu sekali...haha..." serentak empat orang asistentnya ikut tertawa.
Gawat! Sepertinya aku sudah gagal dengan Pertanyaan yang aku buat tadi...
Mereka malah mentertawakanku begitu saja...
Perasaanku begitu sakit ketika mereka melakukan hal seperti itu padaku...
Tapi, aku tidak boleh menunjukan rasa sakit hatiku kepada mereka...
"Mau bagaimana lagi? Tadi kata Pak Gildarts menyuruhku untuk bertanya. Jika itu jawabannya, saya mohon maaf. Terima kasih atas Interview nya, permisi...hmm..." Lucy menundukan kepalanya, ia sedang memberi tanda hormat kepada mereka berlima. Lalu ia pun mulai melangkahkan kakinya untuk keluar dari pintu ruang Interview.
"T-tunggu nona Heartfilia, jangan pergi...hmfh...hahaha..." Direktur itu mencoba menghentikan Lucy, namun rasa tertawanya masih tersisa.
"Eh? Bukankah SAPD Coporation sudah menolakku?" tanya Lucy melirik ke belakang ketika sedang membelakangi mereka berlima.
"Begini nona Heartfilia, pertanyaan yang anda lontarkan tadi itu sangat baru dan pertama kali kami mendengarnya. Kebanyakan orang-orang yang sedang melakukan Interview disini memberikan pertanyaan yang sama kepada kami dan itu membuat kami terasa bosan..." kata Gildarts sambil menjelaskan pertanyaan terakhirnya.
"Nona Heartfilia, semua yang melamar kemarin di Departement SAPD Coporation sudah kami tolak karena mereka semua membocorkan pertanyaan kami yang terakhir, jadi mereka yang ber interview membuat pertanyaan yang begitu sama persis. Itu semua sama saja dengan mencelakakan diri sendiri mau pun orang lain. Tapi tidak untuk anda nona Heartfilia, anda tadi sempat berfikir hingga memutuskan membuat pertanyaan secara mendadak. Itulah ciri-ciri seseorang yang memiliki ide dan akal sehat..." kata sang asistent sebelah kanan paling ujung.
"Anda ahli dalam bidang Jurnalism bukan? Berarti anda itu selalu mengedepankan sebuah fakta..." sambung Gildarts.
"Iya, saya memang lebih suka menyimak sebuah fakta dari pada menyimak sebuah kebohongan. Saya selalu turun tangan di lapang untuk mencari tahu fakta-fakta itu..." kata Lucy, ia masih belum mengerti sikap mereka berlima setelah melakukan Interview terhadap dirinya.
"Kalau begitu, mulai besok anda bisa bekerja pukul 08.00 AM. Jadi, selamat bergabung di SAPD Coporation. Lucy Heartfilia..." sang Head Officer bernama Gildarts Clive telah mengulurkan telapak tangannya untuk melakukan jabat tangan dengan Lucy.
"Haaa! Baiklah, dengan senang hati saya akan bergabung di SAPD Coporation...hmm..." ucap Lucy sambil menunjukan wajah bahagianya karena ada Departement yang mau menerima dirinya untuk bekerja. Lucy pun akhirnya berjabat tangan dengan Gildarts dan para asistent nya.
Sungguh suatu keajaiban untukku...
Baiklah, aku akan bekerja keras untuk Departement ini...
Karena ini pekerjaan pertamaku sebagai Jurnalism...
Aku akan menjadi seorang Jurnalism yang hebat untuk SAPD Coporation...
Normal P.O.V
Lucy keluar dari ruang Interview, perasaan senang telah meliputi dirinya tidak tergantikan tergantikan dengan yang lain. Ia berjalan sebuah lorong koridor hingga keluar dari pintu utama gedung SAPD Coporation.
"Lalalala~" kali ini Lucy malah bernyanyi sambil berjalan jingkrak setelah keluar dari pintu gedung SAPD Coporation.
"Melihat wajahmu yang seperti itu, sepertinya kau telah diterima di Departement kami Lucy..." tegur seorang laki-laki di belakang Lucy, ia sedang bersandar di pilar dekat pintu utama.
"Hah?" Lucy menoleh kebelakang.
"N-Natsu?! Kenapa kau ada disini? Bukankah kau itu bekerja di sebuah kontruksi bangunan?" tanya Lucy yang tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya, itu adalah Natsu yang sedang bersandar melipat kedua tangannya sambil memakai pakaian serba hitam seperti militer dan ada tulisan SWAT di bagian depan rompi anti pelurunya.
"Aku hanya melakukan sebuah Hobby yang lain..." jawab Natsu sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain setelah Lucy mengetahui identitas yang sebenarnya.
"Oh ya, aku dengar yang menyerahkan dokument tanpa seizinku adalah salah satu anggota dari 'SWAT' SAPD Coporation, apa kau yang sudah melakukannya Natsu?" tanya Lucy menunjukan wajah kecurigaannya dalam jarak 20cm dari wajah Natsu.
"Ghahaha! Baiklah, aku menyerah..." Natsu tertawa menyeringai sambil menunjukan dua jari tangannya kepada Lucy.
-Natsu Flashbac P.O.V-
Ceritanya berawal kemarin malam ketika Lucy sedang tidur disebuah meja Cafe dan Natsu menjatuhkan dokument milik Lucy hingga berserakan.
"Eh? SAPD Coporation? Ternyata Lucy melamar pekerjaan disana. Tapi dokument miliknya tertukar dengan orang lain. Aku ingin melihat dokument seperti apa yang telah tertukar hingga membuat Lucy menjadi terlihat prustasi seperti itu?" kata Natsu yang sedan berbicara sendirian dihadapan Lucy yang telah tertidur karena mabuk.
'set' Natsu perlahan mengambil sebuah Map merah yang sedang ditindih oleh Lucy, lalu ia pun melihat isi dokument tersebut.
"Hmpf..." Natsu sedang menahan tawa hingga bagian pipinya kembung.
"Ghahahahaha! Ini menggelikan sekali! Para team Interview pasti akan mengira bahwa Lucy seorang Guru TK yang ingin bergabung dengan SAPD Coporation..." Natsu akhirnya meledakkan tawanya ketika melihat isi dari Map merah itu terdapat lembaran-lembaran gambar dengan pulas Crayon hasil anak-anak TK yang telah dinilai oleh Gurunya.
"Heartfilia, apa kau sudah memotret sebuah tragedi yang terjadi di Los Angeles?" Natsu sedang meniru gaya sang Head Officer bernama Gildarts Clive, dan gaya bicara tegasnya pun sama.
"Sudah Pak Gildarts, ini hasilnya..." kemudian Natsu mengecilkan suaranya untuk meniru suara dan gaya Lucy sambil menunjukan sebuah gambar Panda sedang memakan sebatang bambu dengan pulas Crayon.
"Ghahahahaha! Pasti jadinya akan seperti itu jika Lucy diterima di SAPD Coporation..." Natsu masih tertawa setelah membayangkannya.
"..." Natsu berhenti tertawa disaat melihat mata Lucy yang tertutup tiba-tiba air matanya mengalir.
"Hmph...sudah ah, sekarang aku benar-benar kasihan melihat keadaanya begitu prustasi seperti itu..." Natsu mengambil sebuah Smartphone dan menghubungi seseorang.
'~nut~' suara nada tunggu ketika Natsu sedang memanggilnya.
"~Gildarts Clive dari SAPD Coporation, ada apa Dragneel?~" panggilannya telah diterima.
"Begini, waktu tadi pagi apa wanita yang bernama Lucy Heartfilia melakukan Interview di Departement kita?" tanya Natsu yang ingin mengetahuinya.
"~Lucy Heartfilia? Oh, maksudmu Guru TK itu?~" tanya Gildarts dengan spontan
"Hmpf...Pak, aku serius. Sekarang wanita ini sedang bersamaku. Mungkin waktu tadi pagi setelah mengejer seorang pencuri, dokumentnya tertukar dengan seorang Guru TK yang telah kecurian dompetnya. Aku juga menyaksika kejadian itu ketika aku sedang membantu pekerjaan di Genba..." kata Natsu sambil tidak tahan untuk menahan tawanya.
"~Benarkah? Kalau begitu bisakah kau antarkan dokumentnya ke ruanganku? Aku ingin melihat dokument yang sebenarnya. Karena ketika pertama kali aku mendengar cara dia melakukan Interview, dia cukup bagus~" pinta Gildarts.
"Tapi sebelum itu aku akan mengantarnya pulang dulu. Saat ini dia sedang mabuk, mungkin dia sedang prustasi..." kata Natsu sambil melihat kembali keadaan Lucy.
"~Baiklah, terserah kau saja. Tapi kau harus segera datang ke ruanganku, karena 2 jam lagi aku akan pulang. Oh ya, pastikan Ibu Guru itu pulang dengan selamat~" katanya.
"Hmpf...baik Pak, aku mengerti..." 'nit' Natsu mengakhiri panggilannya sambil menahan tawanya kembali.
"Huph...Ah...Lucy ternyata berat..." komentarnya setelah menggendong Lucy, lalu Natsu pun berjalan pada malam hari disekitar kota Los Angeles untuk menuju apartment dimana Lucy tinggal.
Apartement itu sepertinya berada dekat dengan Los Angeles City Hall. Akhirnya Natsu pun telah sampai di depan pintu jeruji sebuah apartement.
'ting-tong' suara Bell khusus untuk tamu telah berbunyi ketika Natsu menekan tombolnya dekat gerbang apartement yang dikunci, suara Bell itu menuju kamar pemilik apartement.
'clek' "Siapa?" tanya pemilik apartemet ketika membukanya.
"Maaf mengganggu istirahat anda nyonya, apa Lucy Heartfilia tinggal disini?" tanya Natsu.
"I-Iya, sekarang dia dimana?" tanya kembali.
"Dia sedang aku gendong karena sedang mabuk berat..." Natsu mendadak jengkel karena pemilik apartement itu tidak pekak dengan penglihatannya.
"Oh...hmm...hmm...aku baru menyadarinya, maaf telah merepotkanmu nak..." kata pemilik apartement itu sambil mengambil alih Lucy dari punggung Natsu..
'Eh?! Sepertinya tenaga pemilik apartement itu lebih besar dariku. Dengan mudahnya memangku Lucy begitu saja. Padahal aku membawa Lucy sampai menggendongnya karena cukup berat...' gumam hati Natsu yang terkejut disaat Lucy sedang dipangku oleh wanita pemilik apartementnya.
"Baiklah nyonya, saya permisi dulu..." Natsu undur diri dan pergi ke arah tujuan selanjutnya.
Natsu berlarian kembali di sekitar keramaian kota Los Angeles dan akhirnya sampai di gedung SAPD Coporation sambil membawa Map merah yang berisi dokument milik Lucy untuk diserahkan kepada Direkturnya. Ia pun bergegas menuju pintu ruang kantor Direktur dimana Gildarts selaku Direkturnya masih melakukan lembur untuk memeriksa laporan tentang kriminalitas yang ada di Los Angeles.
'tok-tok-tok' Natsu mengetuk pintu ruang kantornya.
"Siapa?" tanya Gildarts masih berada di dalam ruang kantornya
"Ini aku, Dragneel..." jawab Natsu yang masih berhadapan dengan pintu tertutup ruang kantor Head Officer.
"Masuk saja Dragneel, pintunya tidak dikunci..." katanya.
'clek' "Ini dokument Lucy Heartfilia yang anda minta Pak..." Natsu membuka pintu dan langsung menyerahkan dokument tersebut kepada Gildarts.
"Em? Lucy Heartfilia, BSc. Lulusan Columbia University. Hebat juga dia...hmm..." kata Gildarts ketika sedang melihat semua isi dokumentnya, lalu ia melihat lembaran-lembaran dokument lainnya.
"Apa ada sesuatu yang menarik Pak Gildarts?" tanya Natsu ketika ia melihat Gildarts cukup terkagum setelah melihat hasil dokumentnya.
"Coba lihat ini, biasanya seorang mahasiswa yang melakukan tugas akhirnya hanya memecahkan kasus-kasus kriminal seperti pembunuhan atau pun pencurian dan menurutku itu hal yang biasa. Tapi dia malah melibatkan tugas akhirnya untuk menyelidiki dan memecahkan sebuah kasus Mafia yang ada di Los Angeles, benar-benar wanita yang sangat pemberani..." katanya, ia menunjukan tugas akhir milik Lucy mengenai sebuah organisasi kriminal kelas S kepada Natsu.
"Eh?! Kasus Mafia? Bukankah itu sama dengan bunuh diri jika kita tidak bisa menyelidikinya dengan baik Pak?" tanya lagi Natsu yang terkejut setelah melihatnya, foto-foto berukuran 3R yang telah ditempel di beberapa kertas menunjukan keadaan dimana para Mafia itu sedang berkumpul dan melakukan transaksi terlarang disela-sela kota yang sepi. Entah bagaimana Lucy bisa melakukan hal seperti itu hingga terdapat beberapa foto dan keterangan para Mafia itu akhirnya tertangkap oleh Polisi karena Lucy sendirilah yang melaporkannya.
"Masalah itu kita bicarakan nanti, yang terpenting kita harus memanggilnya kembali untuk melakukan Interview ulang sebelum Departement lain merekrutnya. Kita harus benar-benar melindungi wanita seperti Lucy Heartfilia. Baiklah, aku akan mengirim sebuah surat Express..." kata Gildarts dengan keputusannya.
"Bukankah lebih mudah jika kita mengirim pesan lewat Smartphone? Disitukan ada nomor kontaknya..." Natsu memandang heran kepada direkturnya yang terkadang tidak bisa difahami sikapnya.
"Aku bermaksud untuk memberinya sebuah kejutan dalam kesempatan yang kedua untuk Ibu Guru itu...hahaha..." Direktur itu tertawa ketika mengingat Lucy sedang melakukan Interview.
"..." Natsu semakin bingung melihat sikapnya yang begitu misterius meskipun sedang tertawa.
Normal P.O.V
"Kenapa kau melakukan semua ini padaku Natsu? Padahal kita ini baru kenal kemarin malam..." tanya Lucy yang tersenyum kepadanya setelah Natsu menceritakan kejadian semalam, rona merah diwajahnya pun timbul.
"Anggap saja sebagai ucapan rasa terima kasih dariku karena kau telah mentraktirku minum. Kau tahu, orang-orang Jepang menganggapnya sebuah tanda pertemanan jika kau mengawalinya dengan minum-minum bersama. Ketika kau melukan seperti itu kemarin malam aku sangat senang sekali...hahaha..." tawa khas darinya yang begitu manis telah ditunjukan kepada Lucy.
'Wiew-Wiew-Wiew' dua buah mobil Polisi dari Departement lain melewati gedung SAPD, sepertinya ada sebuah aktivitas kriminal.
"Em?" Natsu masih bersandar disebuah pilar gedung SAPD Coporation langsung memandang ke arah dimana dua buah mobil Polisi itu telah melintas di depan matanya.
"Natsu! ada sekelompok Gangster yang sedang mengacau di daerah 37km Bock C! Kita harus bergegas mengejarnya!" ujar salah satu Polisi yang bekerja di SAPD Coporation, ia mengetahui penyebab mobil-mobil Polisi itu berlarian melewatinya karena Departement lain memberitahunya lewat alat komunikasi darurat.
"37km Block C?!" kata Natsu, raut wajahnya menjadi bersemangat karena sudah lama tidak melakukan pekerjaannya sebagai SWAT.
"Itu wilayah dekat perbatasan menuju San Francisco. Namanya Bullbank.." kata Lucy.
"Eh?! Kau mengetahuinya Lucy?" tanya Natsu, ia terkejut ketika Lucy memberitahu lokasi itu tanpa melihat sebuah peta atau pun GPS.
"Nilai Geografiku A+..." kata Lucy sambil menunjukan dua buah jari dan Peace dihadapan Natsu.
"Baiklah, aku akan mengikutinya..." Natsu semakin bersemangat, ia bergegas mengambil sebuah motor BMW dengan modifikasi khusus untuk anggota SWAT yang berada di dalam garasi ujung sebelah kanan gedung SAPD Coporation.
'ctek-BUMM!~' suara dari motor BMW yang terdengar menggema ketika Natsu mengontakan sebuah kunci dan memutar Gasnya, lalu ia melaju menuju gerbang gedung dengan kecepatan 20mph dibelakang Lucy yang masih berdiri dekat pilar gedung.
"Natsu tungguuu!" teriak Lucy sebelum Natsu menuju gerbang gedung.
'ckiet!' "Em? Ada apa Lucy?" tanya Natsu ketika menekan tuas rem motornya hingga berhenti, ia menoleh kebelakang disaat Lucy sedang berlari menghampirinya.
"Lebih baik aku ikut denganmu, kita berdua bisa mengambil jalan pintas. Bagaimana?" saran dari Lucy untuknya.
"Benarkah? Kalau begitu naiklah..." ajak Natsu seketika menunjukan wajah senangnya kepada Lucy, mungkin Natsu merasa terbantu olehnya.
"Ok!" Lucy pun duduk dibelakang Natsu.
'BUMM!' suara motor yang telah diputar tuas gasnya, Natsu yang sedang membonceng Lucy dengan motor BWM-nya pun akhirnya keluar dari gerbang dan melaju di jalan yang ramai dengan beberapa kendaraan. Sesekali Natsu memainkan kemudinya untuk menyalip sebuah kendaraan yang menghambat lajunya.
"Natsu, lewat sini..." perintah Lucy untuk berbelok ke arah kanan pertigaan, ternyata Lucy bermaksud mengambil perkotaan daerah Hollywood.
"Disini tidak terlalu ramai ternyata..." kata Natsu, setelah memasuki daerah Hollywood dan melewati tanjakan dan turunan dengan mulus tanpa hambatan.
"Hmm..." Lucy hanya tersenyum dibelakangnya.
Daerah Hollywood pun akhirnya terlewati hingga mereka berdua berhadapan kembali dengan jalan pertigaan menuju ke daerah Bullbank.
"Apa kau siap dengan kecepatan diatas 150 mph Lucy?" tanya Natsu yang sedang melaju dengan kecepatan normal di daerah Bullbank bersama Lucy.
"Itu sama saja kita menaiki sebuah Jet Coaster bukan?" jawab Lucy dengan santai.
"Benarkah? Kalau begitu pegang aku erat-erat Lucy, kita akan menaiki sebuah Jet Coaster tanpa lintasan...hahahaha..." Natsu menemukan sebuah lokasi Marsh Street Skate Park dimana orang-orang Skater sedang bermain Skateboard dengan berbagai atraksi.
"Eh?!" Lucy terkejut dan tidak mengerti karena Natsu malah membawanya ke lokasi tersebut.
'BUMM!' Natsu menancap gasnya hingga motor BWM itu melesat cepat dan melewati sebuah track tanjakan 50 derajat, motor BMW pun terbang.
"KYAAA! APA KAU BERNIAT MEMBUNUHKU?!" teriak Lucy terkejut dan panik ketika sedang terbang besamanya.
"Tidak juga, aku sedang mengajakmu jalan-jalan di udara...hahaha...hahaha..." Natsu tertawa puas ketika sedang terbang.
'Ckieet!' suara ban motor yang telah mendarat dan bergesekan dengan aspal jalan, 10km lagi mereka akan sampai di lokasi TKP.
"Menyenangkan bukan! Ghahahaha..." Natsu tertawa puas ketika menoleh ke arah Lucy yang sedang ketakutan.
'PLTAK!' "Bertingkahlah seperti manusia normal Natsu!" Lucy menjitaknya kerana kesal.
"Itaa!" teriak Natsu kesakitan.
'Sebenarnya dia ini manusia macam apa sih? Apa yang dilakukannya terlalu Extrime buatku. Tapi dia begitu hangat ketika sedang tersenyum seperti itu. Sepertinya kehidupanku akan lebih menantang jika sedang bersamanya...hmm..." gumam Lucy sambil mengeratkan pelukannya.
"Natsu, berhenti!" perintah Lucy.
'Cieet!' "Ada apa Lucy?" tanya Natsu menoleh kebelakang melihat wajah Lucy, ia pun menghentikan motornya di tengah jalan dekat pertigaan akhir sekitar kota Bullbank dengan posisi menyamping.
"..." Lucy menatap ke arah timur laut.
"Mereka sudah sudah dekat..." kata Lucy kembali menatap dengan mata keyakinannya ke arah Natsu yang masih menoleh kepada dirinya.
"Hah? Apa kau yakin Lucy?" Natsu bingung dan masih tidak yakin.
"Sepertinya mereka melewati rute Block B, mereka akan muncul dari arah timur laut. Percayalah padaku..." kata Lucy.
Beberapa menit kemudia ketika mereka masih berada di tengah Jalan dengan posisi motor BMW yang masih menjadi palang jalanan.
'Bum!' "Simatta!" 'Cieet!-Gubrag!' lima orang pengendara motor telah telah berhenti mendadak dan terjatuh dihadapan mereka berdua. Jaket kulit yang dipakai kelima orang pengendara itu bertulisan Exile.
"Eh?! Jadi mereka Gengsternya? Payah sekali cara mereka mengendari motor..." komentar Natsu ketika kelima orang itu terjatuh dari motor dan tergeletak di jalanan, lalu mereka berlima terbangun dan bangkit kembali.
"Brengsek! Berani-beraninya kalian berdua menghalangi jalan kami!" bentak ketua Gangster sambil menghampiri Natsu.
"Bos! Hati-hati, dia salah satu anggota SWAT!" kata salah satu anak buahnya yang sedang melihat pakaian yang di pakai oleh Natsu.
"Maaf kami sedang diberi tugas untuk membersihkan sampah, iyakan Lucy?" Natsu dengan santainya melakukan akting bodohnya sambil memegang sapu dan menyapu jalanan dihadapan mereka berlima.
"Eh?! Sejak kapan anggota SWAT melakukan hal seperti itu?" Lucy terkejut melihat tingkah lakunya.
"Sssst~, aku sedang berpura-pura agar mereka tidak mencurigaiku..." kata Natsu sambil meletakan tenjuknya di mulut dan mengenduskan nafasnya lewat bibir.
"Percuma saja jika kau berbicara keras seperti itu! Kau ini bodoh!" bentak Lucy.
"..." mereka berlima binggung hingga tanda keringat dibelakang kepalanya muncul ketika melihat tingkah laku dua yang sedang berada dihadapannya.
"Baiklah, jika hanya satu orang anggota SWAT tidak masalah bagi kami. Anggota SWAT itu ada tingkatannya, dan sepertinya dia hanya anggota SWAT kelas C...hahaha..." ucap dari ketua Gangster yang sedang merendahkan Natsu.
"Kau tahu Lucy, ketua Gangster seperti tidak pernah sekolah. Bisa-bisanya mengejah sebuah Alfabet disaat-saat seperti ini..." bisik Natsu kepada Lucy, namun nada bicaranya bisa terdengar oleh mereka para Gangster.
'Cara bicara anggota SWAT yang satu ini seperti Po yang ada di film Kungfu Panda...' gumam Lucy hingga air matanya bercucuran deras, ia sedang memperhatikan Natsu yang tidak memahami situasi genting.
"Lucy, aku ingin kau menjauh dariku sebentar. Karena sudah lama aku tidak bersenang-senang seperti ini...hmm..." 'Krek-krek' ucap Natsu sambil melenturkan jemari tangannya hingga berbunyi.
"Apa kau yakin akan menghadapi mereka berlima sekaligus Natsu?" Lucy sedang meragukan keyakinannya.
"Lebih baik kau perhatikan saja, bukankah tugasmu itu merangkum sebuah berita fakta? Ambilah beberapa fotoku ketika sedang menghadapi mereka berlima..." ucapnya dengan penuh keyakinan.
"Baiklah, terserah kau Natsu..." Lucy pun menyingkir dan berdiri trotoar, ia mengambil sebuah Smpartphone merk Apple karena kualitas kameranya cukup bagus. Lucy sedang bersiap-siap mengambil beberapa adegan.
'Cekrek' "Sepertinya kau sudah siap mengantarkan nyawamu..." sebuah pistol telah ditodong oleh ketua Gangster kepada Natsu dalam jarak 2 meter.
"Eh?! Benar-benar curang!" Lucy sedikit khawatir melihat situasinya.
"Hahahaha..." ke empat anak buahnya tertawa secara bersamaan melihat Natsu sedang terdesak.
"Aku ingin mencoba beberapa gaya bertarung dari sebuah film...hihihi..." tawa Natsu menyeringai tanpa dosa dihadapan mereka berlima.
"Natsu! Bukan waktunya kau bercanda!" bentak Lucy dari jarak 3 meter darinya, ia sangat kesal melihat wajah Natsu yang begitu santai meski pun sedang terdesak. Tanpa Lucy sadari mode kameranya telah on dan menangkan semua pembicaraannya.
'Duar~' pelatuk pistol telah ditekan hingga pelurunya pun melesat menuju ke arah kepalan Natsu.
"Natsuuuu!" teriak Lucy panik melihat ledakan api pada ujung pistol yang sedang dipegang oleh ketua Gangster, sebuah peluru telah melaju bergesekan menembus udara menuju ke arah kepala Natsu.
'Sieet' untungnya Natsu berhasil menghindari pelurunya dengan sebuah gaya adegan salah satu film Hollywood.
"Eh?! Dia bisa melakukan gaya yang dilakukan Keanu Reeves ketika berperan sebagai Neo di film The Matrix..." Lucy sedikit terkagum ketika melihat posisi tubuh Natsu melentang kebelakang untuk menghindari sebuah peluru yang nyaris menghantam bagian kepalanya.
'Jedug!' "Itaa!" teriak Natsu yang tidak bisa menahan berat badanya hingga kepalan hingga terbentur ke aspal jalan.
"Eeeeeeeeeh?!" teriak cempreng Lucy semakin terkejut dan wajah kagumnya pun pudar seketika setelah melihat tingkah laku Natsu yang semakin aneh.
"hahahahha..." para Gangster itu mentertawakan Natsu lagi atas sikap bodoh yang dilakukannya.
"Baiklah, bagaimana kalau seperti ini..." Natsu sedang dalam posisi kuda-kuda untuk salah satu bela diri.
"Dia hanya buang-buang waktu, ayo cepat dia..." perintah ketua Gangster, ia pun mulai meluncirkan pukulannya ke arah Natsu.
"Baik Bos!" mereka berempat pun ikut meluncurkan pukulannya.
'Dia terlalu terinspirasi dengan film Bioskop, sekarang dia malah meniru gaya bertarung Iko Uwais yang ada di film The Raid...' gumam Lucy yang semakin menyerah dengan tingkah lakunya.
'Bug-bug-bug' ternyata benar, Natsu sedang menghajar mereka dengan gaya Iko Uwais dan itu sangat efektif. Mereka berlima terkapar begitu saja setelah berkelahi dengan Natsu.
"Hayaaaiii! (Terlalu cepat!)" teriak cempreng lagi Lucy yang tidak percaya Natsu mengalahkan mereka berlima dalam sekejap.
"Ghahahahaha! Kalian jangan meremehkan Iko Uwais versi Jepang!" kata Natsu, kedua tangannnya menopang di pinggang dan tertawa menyeringai puas.
"Aku menyerah..." ucap ketua Gangster yang sedang terkapar lemah dijalanan bersama kawan-kawannya.
'Wiew-wiew-wiew~Cikeet' "Jangan bergerak!" kelima mobil polisi yang sempat mengejar duluan malah datang terlambat, beberapa polisi menodongkan sebuah pistol ke arah para Gangster itu.
"Hmph...kalian itu dari mana saja sih?" tanya Natsu kepada para Polisi itu.
"Maaf, tadi di daerah 27km Block B macet total..." kata sang komandan Polisi.
"Kalau begitu kenapa kalian malah menodongkan pistol seperti itu? Cepat ringkus mereka berlima..." ucap Natsu, ia sedang menunjukan kelima Gangster itu masih tidak bangun juga.
"B-Baik, terima kasih exCT-Natsu Dragneel..." kata regu polisi itu yang memberi hormat kepada Natsu.
"exCT-Natsu Dragneel? Apa maksud kode dibelakang namanya itu?" tanya berbisik Lucy ketika menghampiri salah satu kepolisian dari Department lain. Lucy tidak tahu arti gelar tersebut.
"Memang dia tidak memberitahumu nona? Orang yang bernama Natsu Dragneel itu dulunya pasukan khusus SWAT Kelas A, dia bertugas dalam menangani kasus Terorisme dan penyandraan. Gelar CT dibelakang namanya telah diberikan langsung oleh UMO (Kesatuan organisasi Militer)" balas bisikan anggota kepolisian itu kepada Lucy.
"Benar nona, kami sendiri sebenarnya malu karena dia membantu menangani kasus kejahatan kelas C seperti ini..." sambung bisik salah satu Polisi yang lainnya.
"A-aku baru tahu kalau dia itu pasukan khusus, lalu apa maksud 'ex' dibelakang gelarnya itu?" Lucy memandang heran sekaligus terkejut mendengar identitas Natsu yang sebenarnya.
"Natsu Dragneel sedang dihukum oleh UMO karena kesalahan tugasnya dalam menangani kasus..." kata Polisi itu yang ikut memandang serius kepada Natsu yang sedang berunding kengan kepala regu polisi.
"Kesalahan? Aku benar-benar tidak mengerti..." tanya Lucy tiba-tiba serius, entah apa kesalahan yang dilakukan oleh Natsu.
"Apa waktu berkelahi dia mengeluarkan sebuah Pistol nona?" tanya kembali salah satu anggota kepolisian.
"Tidak, dia berkelahi dengan tangan kosong..." kata Lucy ketika melihat sebuah Pistol masih berada disabuk pinggang yang Natsu pakai.
"Sudah kuduga, dia akan menangani kasus kelas C seperti sedang bermain dengan anak kecil..." kata Polisi.
'Eh?! Anak kecil? Padahal dari tadi aku menganggap kasus seperti ini cukup serius. Mungkin aku saja yang terlalu berlebihan...' gumam Lucy.
"Sebenarnya Natsu Dragneel tidak pernah menggunakan sebuah pistol karena-" Polisi yang satunya lagi berusaha memberitahu yang sebenarnya kepada Lucy.
"Kenapa kalian bertiga berbisik-bisik seperti itu?" tanya Natsu dan tiba-tiba menghampiri Lucy yang sedang bersama dua orang Polisi.
"Eh?! Tidak-tidak! Kami hanya sedang bergosip! Iyakan...hahha...hhahaha..." ucap Lucy berbicara kepada kedua polisi itu, ia salah tingkah setelah dikagetkan oleh Natsu.
"Benar, katanya nona ini menyukai anda...hahaha..." kata polisi yang satunya.
"Kapan aku mengatakan hal itu?!" bentak Lucy kepada mereka berdua.
'BUUM!' suara tancap gas mode Gear normal motor BMW telah dinyalakan kembali oleh Natsu setelah Natsu menaikinya.
"Lucy, ayo naik..." ajak Natsu kepada Lucy yang masih berada dekat dengan kedua Polisi itu.
"Baik!" Lucy pun gerges naik dibelakangnya.
'Sieet-BUUM~' tarik tuas kupling dan tancap gas oleh Natsu hingga ban motor pun berputar dan bergesek di sebuah aspal, akhirnya mereka berdua pun melaju kembali dan meninggalkan semuanya.
Saat ini mereka berdua sedang melaju di jalan dekat lautan Long Beach.
"Lucy, ayo kita bermain Motor Boat dilautan..." ajak Natsu ketika sedang melintasi jalan dekat jurang lautan.
"Hee? Apa kau punya uang untuk menyewanya..." tanya Lucy heran mendengar permintaan Natsu yang lain terdengar aneh.
'BUUM-Ckieet!' tiba-tiba Natsu melakukan freestyle dengan motor BWM-nya hingga ban depan terangkat, lalu ia melompat ke jurang lautan dengan motor BMW-nya bersama Lucy.
"KYAAA! NATSU BODOH! KITA BERDUA BISA MATI!" teriak Lucy benar-benar panik disaat detik-deik akan jatuh ke lautan.
"Ghahaha!" tawa Natsu yang menyeringai tanpa mempedulikan teriakan Lucy dibelakangnya.
'Byurr~!' mereka berdua pun tenggelam ke laut bersama motor BMW-nya.
'Orang bodoh macam apa sih dia ini?! Sekarang dia benar-benar ingin membunuhku dilautan!' gumam Lucy yang sedang berada di dalam air laut sambil memejamkan matanya.
'nit' Natsu menekan sebuah tombol berada dekat dengan sebuah kunci kontak, seketika motor BMW-nya tiba-tiba berubah bentuk.
'Splas~' akhirnya mereka berdua muncul kembali dengan motor BMW-nya yang telah berubah bentuk menjadi Motor Boat. Air laut telah membasahi rambut dan pakian mereka berdua.
"Are?! Kau mendapatkan Motor Boat ini dari mana?" tanya Lucy setelah muncul dari tenggelamnya, Lucy tidak menyadari perubahan motor BWM itu karena tadi sedang memenjamkan matanya.
'Ngeeeng!' Natsu melajukan Motor Boatnya menuju tengah lautan. Angin laut sedang menerpa mereka berdua disaat Motor Boat itu sedang melaju.
"Sepertnya kau belum pernah nonton Dhoom 3 Lucy...Ghahahaha..." Natsu tertawa puas disaat Lucy sedang duduk dibelakangnya.
"Kau juga suka film Bollywood ternyata..." ucap Lucy.
"Hoooh...ternyata kau tahu ya?...hahahah...hahaha..." melihat raut wajah Natsu benar-benar sedang merasa senang ketika sedang bersama Lucy.
"Aku juga baru sadar, tadi itu kau bertingkah laku seperti Amir Khan ketika berperan sebagai Shahir khan dalam adegan dikejar Polisi dan melompat ke sungai dari Jembatan tinggi..." teriak Lucy dibelakangnya karena suara ombak lautan begitu bising.
"Sepertinya aku tadi sedang melakukan adegan film Dhoom 4!...hahahhaha..." teriak Natsu dalam keadaan yang sama.
"Kau jangan membodohiku! film Dhoom 4 itu belum ada!" ucap Lucy sedikit jengkel.
"Baiklah, aku menyerah..." kata Natsu, tanpa terasa ia sudah mengendarai Motor Boatnya cukup jauh dari lokasi daratan.
'Aku menemukan sesuatu kehidupan yang berbeda ketika sedang bersamanya. Natsu benar-benar orang yang menarik...hmm...' gumam Lucy terkagum dengannya.
'BUM!~ces~ces' tiba-tiba Motor Boatnya berhenti.
"Em? Kenapa kau berhenti Natsu?" tanya Lucy ketika sedang berada ditengah lautan bersamanya.
"A-aku lupa mengisi bahan bakarnya...hehe..." tawa malu Natsu telah ditunjukan ke arah Lucy.
"Eeeeeee?! Natsu kau jangan bercanda!" ucap Lucy yang panik dengan nada yang cukup keras.
"Aku tidak bercanda..." telunjuk tangan Natsu menunjuk ke arah parameter bahan bakar, ternyata sudah mencapai 0%.
"Jadi bagaimana sekarang?!" Lucy semakin panik.
"Baiklah, aku akan meminta bantuan SAPD Coporation..." Natsu mengambil Smartphone miliknya dari saku, ia menyalakan tombolnya.
"L-Lucy~" tiba-tiba wajah Natsu berkeringat dan penuh kekhawatiran, ia menujukan status sinyal disekitar lautan.
"N-No Signal!" Lucy pun ikut panik.
03.00 PM, Long Beach
Sudut pandang di dekat jurang lautan Long Beach, salah satu anggota SWAT SAPD Coporation kelas A dengan wajah tampan berambut hitam dengan model Raven sedang berjalan sendirian dan memperhatikan ke arah lautan. Ia sedang melihat salah satu rekan anggotanya sedang terapung di tengah lautan bersama seorang wanita berambut pirang, tentunya masih dalam keadaan menaiki Motor Boat.
"Apa yang sedang dilakukan si bodoh itu?" tanya dirinya, jika melihat ke arah kartu identitas anggota SWAT yang sedikit muncul dari saku celananya tertulis nama 'Gray Fullbuster'.
"Baiklah, aku akan menyelamatkan mereka berdua..." dia mencoba bersiap-siap melompat ke jurang lautan.
"Simatta! Aku tidak ingin berkelahi dengan mahluk alam liar seperti itu..." tiba-tiba ia pun terhenti ketika sedang melihat sirip ikan yang tiba-tiba muncul dan melaju dalam jarak 3km ke arah Natsu, mungkin itu ikan Hiu.
Bisakah anggota SWAT SAPD Coporation yang satu itu melakukan misi tanpa imbalan untuk menyelamatkan rekan anggotanya? Melihat wajah tampannya malah ada sedikit keraguan bercampur dengan kekhawatiran.
=To Be Continue=
Autor sedang mencoba iseng-iseng bikin fanfic lain meski pun masih sama fandomnya XD
Sebelumnya Author sempat berkhayal bagaimana kalau Natsu menjadi seorang anggota SWAT setelah melihat film The Raid...
Untuk MHS 2016, Author sedikit kesulitan untuk melakukan ending X(
Jadi selang dulu dengan fic ini sebagai hiburan...
Jika ada kritik pedas, :'( au ah gelap...
