Chapter 4 :

Breathless


Aku pergi ke Stadion SHOOT pada siang hari, setelah selesai mengurus administrasi pada pagi harinya dan aku kini resmi memiliki nama 'Maxime'. Kenapa aku menyebutnya 'stadion'? Yah, sebenarnya bukan aku yang mengatakannya, tapi Gab. Tapi, kalau kau berada di sini sekarang, ku rasa kau akan setuju tempat ini disebut sebagai stadion—kata ini terasa familiar bagiku. Tempat ini sangat, sangat luas.

"Aku masih tidak percaya mereka mau menerima satu-nama milikmu itu begitu saja," Aku menoleh dengan ekspresi datar ketika perasaan kagumku terhancurkan oleh kekeh yang sedari tadi tidak berhenti bersuara itu. Gab sedang menggelengkan kepalanya dan mengangkat bahu ketika menangkap kejengkelanku.

"Masih ada yang namanya 'Finnian' saja, kan, katamu?" gerutuku. Gabriel mengatupkan mulutnya dan tersenyum menyeringai; jelas dia masih geli.

"Tadinya aku ingin menambahkan nama marga 'Jung', berhubung kau bersama Yunho—tunggu, itu terdengar salah. Yah, maksudku… kau tahu maksudku, kan?"

Aku memutar kedua mataku sebelum menancapkan tatapan tajam ke arahnya sebagai tanda itu sudah cukup. Namun Gabriel tidak perduli. "…atau, Hwang juga bagus. Itu marganya si Jackson." Tambahnya.

"Tapi itu kan untuk yang berkeluarga—oh ayolah, daftarkan saja aku." Gumamku pasrah, dan kurasa itu berhasil membuat Gabriel khilaf juga akhirnya. Dia langsung melambaikan tangan meminta maklum seraya tersenyum dan mulai berjalan mendahuluiku sebagai pemimpin. Kini, aku bisa menikmati pemandangan di sekelilingku lagi.

"Aku tahu kau tidak bodoh, Max. Ditambah lagi kau sudah mempelajari cukup banyak buku-buku di rumahku. Jadi… kuharap kau berhasil melewati tes masuk nanti." Ujar Gabriel tanpa menoleh ke arahku.

"Tes masuk? Tes yang bagaimana?" Entah kenapa tiba-tiba aku merasa sedikit gugup.

Aku mendapati Gabriel mengangkat bahu, "Tiap tahunnya selalu berubah. Tidak pernah sama, dan itu selalu pasti."

"…memangnya, tidak ada semacam 'inti dari tes' atau semacamnya?" tanyaku, masih berusaha memancing.

"Hmm, berhubung ini adalah negara… militer, jika kau mau menyebutnya begitu, jadi sudah pasti yang di tes adalah kekuatan fisik, mental, dan strategi." Gabriel memperlambat jalannya, sebelum akhirnya menatapku dengan ekspresi yang membuat cemas. "Kau bukan orang yang sakit-sakitan, kan?" Aku baru saja ingin bersikap sinis ketika Gabriel menepuk dahinya keras-keras. "Ah ya! Maaf, maaf. Aku lupa kau amnesia."

…aku bisa saja tertawa mendengar keironisan yang ada dari kata-kata itu jika saja saat ini aku sedang tidak merasa gugup. "Jadi…?" tanyaku hati-hati.

"Hmm, kasus yang sepertimu ini cukup jarang, sebenarnya. Hanya ada tiga orang luar sepertimu begini. Dan masalahnya… aku tidak terlalu mengenal sisanya selain kau." Gabriel terlihat murung, dan dia kembali berjalan seperti biasa lagi. "Mari persiapkan diri untuk yang terburuk dulu." Gumamnya.

Aku mengangguk setengah hati menanggapinya, kembali mengikutinya. Tak berapa lama kami pun sampai di sebuah kantor yang sepi. Saat masuk, kami berdua disambut oleh sebuah bilik yang di atasnya bertuliskan 'Administrasi pendaftaran'. Dan hanya ada satu orang di situ, yang dengan datar memperkenalkan dirinya sebagai Zac Millin—panggilannya Zac—ketika melihatku, tapi langsung berubah ceria ketika berjabat tangan dengan Gab. Melihat hal itu, aku pun langsung angkat tangan dan mundur untuk membiarkan Gab mengurus segalanya.

"Aku punya anak baru untukmu—maksudku, untuk departemen ini." Ujar Gabriel. Zac menengadah ke arahku, kemudian mengangguk.

"Dia tinggi, badannya lumayan juga." Ujarnya pada Gab, kemudian tahu-tahu langsung berbicara sendiri. "Tapi bukan itu yang terlalu penting di sini, oke nak? Yang penting itu adalah isi kepalamu." Oke, dia berbicara padaku, tanpa berkedip, seraya menunjuk-nunjuk pelipis kepalanya. Dan aku hanya dapat mengangguk saja, merasa aneh dipanggil dengan sebutan 'nak', padahal kalau dilihat-lihat umurku dan pengurus administrasi ini tidak terlalu jauh. Atau mungkin penampilannya memang sengaja dibuat menipu begitu.

"Karena di sini, tidak ada yang namanya ragu-ragu. Kita yang bunuh, atau mereka yang membunuh kita. Mengerti…Maxime?" tambahnya lagi. Dan dengan semeyakinkan mungkin, aku mengangguk mantap. Berharap dengan melakukan hal itu bisa membuatnya bungkam. Dan nampaknya berhasil, karena kini dia kembali berbicara ke Gab; menanyakan apakah serius namaku hanyalah sekedar 'Maxime' saja.

Aku mundur teratur, dan memastikan berada cukup jauh karena mendadak aku merasa lelah. Mungkin aku sudah terlalu banyak mendengarkan banyak komentar orang-orang terhadapku. Jadi, aku pun pergi untuk menunggu di depan pintu di luar kantor berukuran sedang itu.

Kembali aku memandangi apa yang ada di depan mata. Aula raksasa penuh orang berlalu-lalang, yang kebanyakan berpakaian rapi dan berseragam. Ada beberapa petugas keamanan di sana-sini juga, dan… hmm, yang mengherankannya, aku tidak melihat adanya satupun tanda-tanda prajurit SHOOT dengan Velo dipunggungnya, atau tanda berciri khas begitu yang menandakan 'aku ini prajurit SHOOT, loh' atau apalah.

'Stadion SHOOT' tanpa adanya 'prajurit SHOOT' terlihat satu pun? Terdengar seperti sebuah lelucon garing.

Merasa bosan dengan pemandangan yang sama, dengan perlahan aku berjalan maju untuk melihat-lihat lebih banyak lagi. Namun, setelah aku merasa jarakku dengan kantor tadi sudah agak jauh, aku berhenti dan berputar untuk kembali lagi—karena jujur saja, tidak ada yang menarik juga di sepanjang mata memandang.

Tapi, ketika aku baru saja memutar badan sedikit, aku langsung membeku di tempat. Tak jauh dari tempatku berdiri, ada sebuah lorong agak besar yang nampaknya adalah sebuah penghubung gedung satu ke gedung sebelah dengan dinding-dinding berupa jendela lebar-lebar hingga ke ujungnya. Membuatku bertanya-tanya, seberapa besar sesungguhnya tempat ini?

Karena penasaran, aku pun dengan senang hati turut mengikuti kakiku melangkah, yaitu memasuki daerah lorong itu. Tapi, ketika baru saja beberapa meter berada di dalamnya dan menoleh untuk melihat apa yang ada di luar jendela, aku terpaku.

Sebuah benda besar yang nampaknya terbuat dari logam atau apalah, berwarna putih keperakan dan berjendela kecil-kecil dengan tulisan 'Airlines' di sisi tubuhnya yang panjang, terlihat begitu familiar di benakku. Benda apa ini? Airline atau apalah itu, memiliki… semacam sayap-sayap kaku panjang di sisi-sisinya, dengan warna yang sama. Apa benda ini untuk… untuk terbang? Kurasa benda ini bisa mengangkut banyak orang di dalamnya. Tapi, tunggu. Apa benda ini bahkan memang untuk mengangkut orang? Airlines… Airlines…

Aku tidak menyadari kalau ternyata kedua kakiku, tanpa seizinku, bergerak mundur begitu saja. Efek samping dari kepalaku yang tiba-tiba penat, bingung karena benda besar di hadapanku itu, serta kata 'Airlines', terasa begitu familiar. Tapi aku tidak bisa memanggil memori apapun tentang itu semua, sampai akhirnya punggungku tanpa sengaja menabrak sesuatu yang agak keras, dan dua buah tangan mencengkram kedua lenganku seolah menahanku untuk tetap berdiri seimbang.

"Halo, jangan bengong di tempat ramai begini, ya." ujar Gabriel dengan ekspresi memaklumi ketika aku membalikkan tubuhku untuk meminta maaf—tapi tidak jadi. Aku mengangguk menanggapi, tapi buru-buru bertanya seraya menunjuk ke belakang punggungku. "Itu benda apa namanya?"

Gabriel menelengkan kepalanya sedikit untuk bisa melihat apa yang kutunjuk, "Oh, itu pesawat. Azkart Airlines." Dia menyeringai ketika aku menoleh kembali untuk melihat benda besar bernama pesawat itu. Aku mengernyit ketika mendengar penjelasan kecil itu, karena bahkan kata 'pesawat' juga terasa begitu familiar untukku. Sial, untung sakit kepalaku tidak kambuh.

Benda sebesar itu di tempat ini? Sekali lagi aku jadi tidak bisa membayangkan seberapa besar sesungguhnya keseluruhan ukuran stadion ini.

"Apa gunanya?" tanyaku yang nyaris terdengar seperti gumaman.

"Untuk terbang, tentu saja."

"Tolong jelaskan secara spesifik," aku memutar kedua bola mataku.

Gabriel menyeringai melihat responku, "Kita berpindah-pindah antar Negara menggunakan kendaraan itu. Pe-sa-wat. Tapi itu dulu." Aku menoleh dan mendapati Gabriel menggedikkan bahu.

"Kenapa? Apa sekarang sudah tidak dipakai lagi?" tanyaku heran.

Gabriel mengatupkan bibirnya rapat-rapat, seolah sedang menimbang-nimbang apakah aku cukup bisa dipercaya untuk bisa diberikan sebuah rahasia. Tapi akhirnya dia tetap mengatakannya juga. "Tidak ada lagi yang model seperti itu."

"Kenapa?" pancingku terus.

"Karena," Gabriel menghela napas, "Kata pemerintah, limbah dalam jenis apapun tetap saja dianggap limbah. Begitu juga bahan bakar untuk pesawat. Semenjak… yah, kau tahu. Yang ada sekarang hanyalah pesawat tempur bertenaga panas matahari. Semua di sini memanfaatkan energi matahari. Makanya tidak ada mobil, atau motor, atau kendaraan apapun—"

"Tunggu, mobil? Motor?" aku memotong penjelasan Gabriel cepat-cepat. Sekali lagi, kata-kata baru yang terdengar familiar.

Aku mengira Gab akan mengacuhkanku karena terlalu banyak tanya, tapi dia justru malah tersenyum ketika melihatku kebingungan setengah mati. Seraya menepuk bahuku, dia berujar. "Kita bicara sambil jalan pulang, ya? Mobil dan motor itu kendaraan juga. Tapi berhubung kini sudah ada Velo—bertenaga matahari juga—jadi kendaraan seperti itu sudah tidak diperlukan lagi."

Aku mengangguk dan dengan sabar menyeimbangi kecepatan jalan Gabriel yang tahu-tahu menyusut menjadi sangat pelan dan santai. "Loh, bukannya Velo hanya khusus untuk prajurit saja?"

Gabriel mengangguk teratur, "Ya, dan kita—para masyarakat biasa, dengan senang hati berolahraga tiap hari dengan berjalan kaki ke mana-mana."

"Bagaimana dengan tempat-tempat yang jauh? Maksudku, yang benar-benar sangat jauh? Seperti… seperti…" aku melihat ke sekeliling, dan memelankan suaraku. Entah kenapa aku merasa ini akan terdengar sedikit… mengganggu. "Seperti ke luar kota, misalnya?"

Gabriel tidak langsung menjawab, dan aku jadi ragu. Apa suaraku tadi terlalu pelan sampai dia tidak mendengarnya? Atau, apakah dia diam-diam menyuruhku untuk diam karena telah menanyakan hal yang terlarang? Err, kurasa yang terakhir itu agak berlebihan. Aku pun dengan sabar tetap menunggu selama sampai akhirnya Gab kembali bersuara, karena bingung juga mau melakukan apa. Suaranya terdengar lembut sekaligus tegas secara bersamaan, dan kudapati bahwa kini Gab sedang menerawang entah ke mana.

"Itu lah gunanya orang-orang seperti Prajurit Yu, Max."

Aku ingin berhenti mendampinginya berjalan begitu saja ketika mendengar hal itu, tapi dengan susah payah aku tetap berusaha terlihat tenang dan mengontrol emosiku agar tidak terlihat aneh oleh orang-orang di sekitar. Kemudian dengan hati-hati aku bertanya, "Kau… mau tidak, menjelaskan kepadaku tentang semuanya? Maksudku, nanti, kalau sudah sampai di rumahmu?"

Gab melirikku untuk beberapa saat, sebelum akhirnya mengangguk. Dan setelahnya, kesepakatan untuk tidak berkata apapun lagi secara resmi berlangsung hingga kami benar-benar sudah berada di dalam rumah Gab yang sumpek, setengah jam kemudian.

"Apa sebenarnya pekerjaan Yunho, Gab?" tanyaku bablas, mengekori Gabriel kemanapun ketika sudah sampai di rumah agar dia tidak bisa mengelak dari pertanyaan-pertanyaanku, dan langsung salah tingkah kalau ternyata dia hanya sedang ingin minum di dapur.

"Yunho-hyung untukmu, Maxime." Ujar Gabriel dengan ekspresi serius setelah menegak habis sebotol penuh air mineral, dan menyodorkan sebotol penuh yang satu lagi ke arahku.

"Ah, ya. Yunho-hyung." Aku menerimanya dan melakukan hal yang sama. Berjalan kaki selama setengah jam lumayan melelahkan juga.

Gabriel bersandar pada meja bar kecilnya, pandangan lurus ke depan dengan kedua alis saling bertautan. Ia terlihat sedang berpikir keras.

"Semua prajurit SHOOT sebenarnya memiliki tugas yang sama. Menjaga dan mengawasi. Tapi, untuk mereka yang… hmm, bagaimana menyebutnya, ya? Superior? Senior? Ah, ya. Senior yang sudah berpengalaman, akan ditempatkan di divisi-divisi khusus." Gabriel mengangkat satu tangannya, yang kuperkirakan bahwa dia sedang berencana untuk menghitung sesuatu. Dan benar saja, ia kembali menjelaskan seraya menegakkan jari telunjuknya.

"Ada yang bekerja dengan pesawat tempur; hanya beroprasi tiap malam untuk patroli dan tersebar hingga ke pelosok negeri. Posnya tersebar dimana-mana, walaupun untuk tiap pos hanya dapat menampung kurang lebih tiga pesawat tempur saja, dengan tujuh member. Tiga penerbang, empat yang tinggal. Tapi shift kerjanya berganti tiap hari." Kemudian, jari ke dua mengacung.

"Ada juga yang bekerja sebagai… Hmm… peneliti? Ya, ya. Meneliti tentang parasit dan Nevoa. Lumayan ekslusif untuk yang satu ini. Butuh otak di atas rata-rata, kenekatan yang tidak masuk akal, serta skill penuh dalam segala bidang untuk bisa bergabung. Makanya anggotanya sangat sedikit. Bila di hitung yang ada di Negara ini baru ada dua puluh orang—eh, salah. Dua puluh orang di tiap kota utama. Kalau jumlah keseluruhan yang ada di Negara ini… entahlah, seratusan? Kurang lebih." Gabriel mengangkat bahu.

Kini, jari manis pun muncul. "Nah, yang terakhir ini lah yang paling sial. Dan Yunho masuk ke divisi ini; seorang pengawal. Deliverer, semacam bodyguard atau sejenisnya. Loyalitas total. Mental baja, dan skill bertarung di atas rata-rata. Tugas mereka itu mengawal barang-barang, orang-orang atau apapun yang dikirim antar kota. Memastikan untuk tidak terserang Nevoa. Berbaya, memang. Karena harus rela mempertaruhkan nyawa. Tapi tentu saja pengawal-pengawal ini di bayar yang paling mahal—kalau tidak salah. Dan karena uangnya yang cukup besar ini lah kenapa banyak yang rela-rela saja untuk bergabung. Menyedihkan, ya?"

Aku tidak sadar bahwa sedari tadi aku telah menahan napas, tapi berkat ucapan terakhir Gab barusan, aku jadi ingat bagaimana caranya bernapas lagi—dan entah kenapa, rasanya jadi seperti tercekik ketika menghirup udara yang ada. Aku tidak langsung merespon, dan kurasa Gab memaklumi hal itu karena dia langsung memalingkan muka ke arah lain seraya mendengus lembut, tapi aku bisa melihat ekspresinya berubah suram.

"Apa… Apa Yunho-hyung termasuk orang-orang yang… seperti itu?" tanyaku hati-hati, merasa tenggorokanku kering. Dan aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara batuk, terkejut, karena Gabriel mengangguk samar kepadaku. Entah kenapa aku refleks membuang muka menanggapinya, tidak percaya—atau lebih tepatnya, belum percaya sepenuhnya.

"Yah, aku tidak bisa menyalahkannya, sih. Dia sudah hidup sendiri sejak kecil. Ibunya meninggal karena sakit bawaan genetik saat Yu masih kecil, sedangkan ayahnya… menghilang ketika sedang mengawal sekelompok prajurit dan persenjataan baru untuk dipindahkan ke kota lain." Gabriel pun melemparkan pandangannya ke arah lain. Jelas-jelas merasa bersalah.

"Aku… turut menyesal," gumamku, dan kaget sendiri karenanya. Tapi karena sudah terlanjur, aku membiarkannya saja seraya tetap mengawasi tiap pergantian emosi dari diri Gabriel yang kini sedang menunduk, mengangguk samar.

"Tenang saja, bukan salahmu." Balasnya, dan ia melemparkan sebuah senyuman sekilas kepadaku, kemudian menghela napas tanpa suara.

"Dia… semenjak kejadian itu, jadi berubah. Yah… tidak secara terang-terangan, sih. Tapi, aku yakin dia selalu menyimpan dendam dan tentu saja, masih penasaran dengan keberadaan ayahnya yang tiba-tiba menghilang itu. Jadi… yah… aku tahu kau pasti bisa menyimpulkan itu semua sendiri." Aku mengangguk, dan perasaan bersalah jadi semakin menumpuk. Jadi kuputuskan untuk mengalihkan topik.

"Oh iya. Nomong-ngomong… tes masuk SHOOT-nya kapan?" tanyaku hati-hati setelah jeda beberapa saat.

Gabriel menoleh ke arahku dan bergumam. "Kalau Sumber Daya Manusia yang diperlukan sudah mencukupi, maka tes diselenggarakan."

Kedua alisku langsung terangkat ketika mendengar hal itu. "Apa maksudnya?"

Gabriel menarik diri dan berjalan melewatiku seraya menjelaskan. "Zaman, semakin ke sini, semakin sulit, kau tahu. Apalagi di tengah-tengah 'krisis hidup' seperti begini. Sulit mendapatkan SDM yang… maaf, berkualitas bagus baik dari segi jasmani maupun rohani."

"Maksudmu… sekarang ini banyak yang sekarat?" tanyaku seraya (mencoba) mengikuti Gab yang kini dengan cekatan menyusup masuk ke ruang perpustakaan-kecilnya yang penuh buku-buku di sana-sini.

"Awas, kalau tersenggol dan jatuh bertebaran, kau sendiri yang harus memungutnya dan membenahinya kembali, mengerti? Dan… yah, kurang lebih begitu lah." Jawab Gab yang mengerti dengan ketidakterbiasaanku melakukan apa yang biasa ia lakukan itu, berhenti untuk menungguku. Kemudian, setelah aku sudah berjarak cukup dekat untuk bisa menyusulnya, dia kembali melangkah seraya memeriksa tiap tumpukan buku yang ada dengan teliti. Jelas sekali bahwa dia sedang mencari sesuatu. Heran, bagaimana caranya dia bisa mengingat tiap detail di sini, dalam keadaan seruwet ini? Nampaknya aku tidak akan pernah bisa paham dengan sejarawan, atau apapun yang ada di dalam pikiran mereka.

"Sedang mencari apa?" tanyaku memecah keheningan.

Gabriel tidak menjawab, tidak menghiraukan, sibuk dengan dunianya sendiri ketika tengah mengobrak-abrik sebuah rak dengan cekatan. Mungkin barang yang satu ini bukan buku sembrangan. Atau bahkan bukan sebuah buku sama sekali. Jadi aku pun hanya dapat mengangkat bahu dan menunggu Gab dalam diam, terduduk di atas salah satu tumpukan buku.

Baru sekiranya lima menit kemudian, Gabriel akhirnya berseru penuh kemenangan dari balik lorong rak buku ke tiga, "Ketemu! Max, kau masih bersamaku?" tanyanya seraya berjalan menghampiriku yang kelabakan kaget nyaris terjatuh karena seruannya barusan. Di tangannya terdapat sebuah—yah, memang buku, dengan sampul polos berwarna merah agak gelap.

"Apa ini?" tanyaku ketika Gabriel menyodorkan buku tersebut kepadaku dengan ekspresi puas sekaligus lelah.

"Buku tentang SHOOT." jawabnya ringan. Aku mengangkat sebelah alisku dan tanpa disuruh langsung membuka halaman pertama; yang memampangkan sebuah foto lelaki separuh baya yang berdiri berdampingan dengan seorang pemuda yang mungkin seumuran denganku.

"Itu Ardantha Boaz dan anak angkatnya, Andy Norlan Boaz. Pendiri SHOOT." jawab Gab sebelum sempat aku bertanya.

"Andy…? Bukan Andy… Dokter Andy, kan?" tanyaku yang tiba-tiba teringat.

Gabriel mendengus tertawa, "Tentu saja bukan. Dua orang ini sudah meninggal. Ini foto lama." Aku manggut-manggut mendengar jawaban itu, dan kembali melanjutkan ke halaman-halaman selanjutnya.

Pada bab pertama, sebagian besar adalah sejarah umum tentang SHOOT; alasan kenapa didirikannya, kapan didirikan, dan lain-lain. Sedangkan di bab kedua menganut tentang Nevoa; sosok-sosoknya, jenis-jenisnya, senjata-senjatanya, sejak kapan muncul yang pertama…

…dan tepat pada halaman 40, Sub-bab 'Kerusakan yang Ditimbulkan Nevoa pada Manusia.', mataku terpana pada sebaris kalimat;

"Berhati-hatilah dengan luka bekas serangan Nevoa,
karena luka terbuka akibat dari serangan Nevoa akan memunculkan reaksi mengejutkan berupa: tergantinya daging dan darah dari luka tersebut menjadi cairan besi yang akan langsung mengering dengan sangat cepat. Perhitungan waktu hal itu terjadi adalah sekitar 20-30 menit."

Kemudian pada paragraf selanjutnya,

"Jika pergantian ini terjadi terus menerus, sesuai hasil penelitian dari Dr. Domar Arlent, peneliti Angkatan kedua, maka anggota tubuh korban yang mengandung terlalu banyak besi, perlahan memunculkan tanda-tanda pergantian menjadi prototipe yang memiliki unsur besi yang sama seperti anggota tubuh Nevoa—"

Dan seterusnya, dan seterusnya. Butuh waktu bagiku untuk mencerna hal itu dengan membacanya berulang kali. Kedua alisku saling bertautan, diam-diam aku bisa merasakan adanya perasaan terteror perlahan menggerogotiku ketika membacanya; sampai akhirnya suara Gabriel menarikku kembali ke kenyataan.

"Kalimatnya seperti iklan peringatan di dalam bungkus rokok, ya?" Suaranya terdengar bercanda, tapi ketika aku mendongak, wajahnya terlihat khawatir. "Tapi sayangnya itu sungguhan..." Tambahnya.

Aku terdiam, dan membiarkan jeda agak lama karena aku nyaris lupa bagaimana caranya berkata-kata. "Pernah ada korbannya? Maksudku…" kalimat itu tidak terselesaikan. Aku tahu Gabriel mengerti apa maksudku.

Gabriel menghela napas pelan dan mengangguk samar. Ekspresi khawatirnya kini berubah menjadi murung. Aku pun menambahkan dengan hati-hati, "Dan bagaimana nasib mereka setelah itu?"

"Sulit untuk berpikir bahwa hal ini masuk akal, sebenarnya, tapi… mereka yang sudah terlalu banyak memiliki luka yang tergantikan oleh prototipe Nevoa, bisa mempengaruhi mental korban. Mereka jadi… liar. Kasar, bringas, dan seolah-olah… sisi kemanusiawian mereka juga ikut tergantikan oleh sifat Nevoa." Gabriel menjelaskan dengan ekspresi ngeri samar. Tapi sedetik kemudian, ekspresi penuh rasa bersalah muncul, dan ia melanjutkan. "…jadi, pemerintah membuang mereka. Atau, bahasa halusnya, 'memberikan' mereka ke Nevoa."

Mendengar hal itu, entah kenapa dadaku terasa terhimpit. Ada perasaan kesal ketika mendengarnya. Tapi aku membiarkan Gabriel untuk tetap meneruskan penjelasannya.

"Reaksi ini, setelah diteliti lebih dalam lagi, rupanya juga termasuk akibat dari 'kerja sama' antara Dominy dengan… apapun itu yang ada di dalam tubuh Nevoa. Mengerti maksudku? Berhubung seluruh isi tubuh kita ini sebenarnya sudah penuh dengan Dominy, yang tadinya kami kira tidak memiliki efek samping sama sekali, tapi rupanya hanya perlu sedikit goresan dari Nevoa untuk memancingnya, mengubahkany menjadi cairan besi calon pembentuk prototipe yang akan tertanam nantinya di tubuh korban." Ujar Gabriel sarkasme; ekspresinya dipenuhi dengan kejijikan dan dia terlihat sudah sangat muak dengan kebenaran itu. Kemudian Gab meraih buku di tanganku, membuka beberapa lembar halaman selanjutnya, dan mengembalikannya lagi untuk menunjukkan apa yang ada di halaman itu.

"Tapi anehnya,—" Gab menunjuk sebuah gambar setengah anatomi Nevoa yang menempel sebelahan dengan setengah anatomi tubuh manusia, "—korban-korban ini, seolah tidak bisa mati. Mereka hanya akan menjadi sekarat hingga tahap maksimum perubahan mereka dari manusia menjadi Nevoa seutuhnya—"

Mendengar hal itu, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak berseru kaget, "Berubah menjadi... Nevoa... seutuhnya?"

Gabriel berkedip kepadaku beberapa kali, mungkin terkejut, tapi kemudian ekspresinya kembali melunak maklum, dan dia mengangguk menyayangkan. "Ya. Berubah menjadi Nevoa, seutuhnya. Jadi, inilah jawaban dari pertanyaan; kenapa manusia yang sudah terlalu banyak menanggung luka-luka dari Nevoa menjadi lebih kasar, brutal, dan sangat tidak manusiawi."

Gabriel menarik diri untuk menegakkan tubuhnya, kemudian menghela napas pendek. "Tapi, di situ ada penyakit, di situ juga ada antibiotic pengebal." Dia mengumumkan ringan.

"…maksudmu, ada obat untuk mengenyahkan Prototipe Nevoa di tubuh manusia?" tanyaku bingung. Tapi Gabriel menggeleng, sehingga rasa lega yang tadinya mau muncul langsung luluh lantak.

"Maksudku, ada juga orang-orang yang kebal mentalnya walaupun tubuhnya sebagian besar sudah terselimuti prototipe Nevoa." Gabriel mendekatiku dan menunjuk gambar anatomi. "Nah, orang-orang kebal ini lah yang disebut dengan Outcast. Tapi, walaupun para outcast itu kebal, kami harus menjaganya untuk tetap… 'murni', 'terdominasi kemanusiaan'. Karena berhubung para outcast ini tidak bisa divonis secara langsung—tidak ada gejala-gejala khusus sama sekali untuk bisa mendeteksi apakah seseorang adalah seorang outcast, juga tidak bisa melakukan tes pembuktiannya, makanya semuanya jadi sulit. Jadi… yah, itulah kenapa dibentuk SHOOT, sebagai tambahan."

"Jadi maksudmu… para outcast ini… ehh, langka?" tanyaku setelah jeda cukup lama bagiku untuk mencerna itu semua. Gabriel terlihat ragu-ragu untuk sesaat, sebelum akhirnya menjawab dengan anggukan.

"Bahkan," Gabriel mengatupkan mulutnya rapat-rapat, "Outcast yang baru diketahui sekarang masih satu orang." Aku mengangkat kedua alisku karena cukup terkejut dengan berita itu. Namun, sebelum sempat aku membuka mulut untuk bertanya siapakah orang itu, suara hologram dan munculnya salah satu pelayan Gabriel memotong pembicaraan.

"Tuan Gabriel, mohon maaf mengganggu." Ujarnya seraya membungkuk sedikit ketika menyadari bahwa ia baru saja memotong sebuah pembicaraan dengan tidak mengenakkan, kemudian mengangguk ke arah Gabriel ketika sang tuan rumah melemparkannya dengan pandangan penuh tanya. Dia pun melanjutkan, "Tuan Yu sudah kembali, dan dia mengirim pesan untuk Anda dan Tuan muda ini, agar segera menemuinya di Rumah Sakit."

Aku tidak bisa berbohong bahwa aku sepenuhnya terkejut dengan berita baru yang satu itu hingga nyaris terjengkang jatuh dari tumpukan buku yang aku duduki sedari tadi. Tapi kurasa tidak ada yang menyadarinya karena kini Gabriel terlihat tegang dan tahu-tahu melangkah tanpa sadar meninggalkanku, tapi dia sempat berbalik padaku seolah baru ingat bahwa aku masih ada di situ. "Tidak perlu ganti baju, kita langsung ke sana sekarang. Kuharap kau sudah tidak terlalu capek...?" Ujarnya seolah bingung mau memastikan keadaanku atau memerintahkanku untuk tidak capek.

Aku bangkit dengan mantap sebagai jawabannya, dan mengangguk sebelum akhirnya mengekori Gabriel yang berjalan terburu-buru keluar.


Saat kami berdua sampai di sebuah kamar, yang mengatakan bahwa ada Yunho di dalamnya, di Rumah Sakit dua puluh menit kemudian—aku dan Gabriel berlari-lari kecil agar bisa lebih cepat sampai, jadi berhasil menghemat lima menit lebih cepat—Yunho menyambut kami dengan punggungnya. Tubuhnya berdiri tegap menghadap keluar jendela, dan baru mau membalikkan badan ketika pintu sudah ku tutup kembali dari dalam.

Saat aku melangkah masuk, barulah aku sadar bahwa kamar ini ternyata bukan kamar untuk merawat Yunho. Karena ada sosok asing seorang pemuda tengah terbaring di tempat tidur, memejamkan mata seolah sedang tidur.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara di antara kami bertiga—aku bisa merasakan Gabriel sedang menilai Yunho dari atas ke bawah, Yunho menoleh ke arah kami, sementara aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik ke arah si pemuda yang ada di atas tempat tidur karena bingung. Bertanya-tanya…

"Jackson." Tahu-tahu Yunho bersuara memecah keheningan, dan aku langsung menoleh kembali padanya ketika mendengar nama itu. Kini aku hanya dapat melongo memandangnya yang dengan perlahan berjalan mendekati kami seolah tidak ingin membangunkan si pemuda yang sedang terlelap. "Dia lah yang telah menemukanmu, bocah." Ujarnya sebagai tambahan.

Aku merasa kakiku tiba-tiba terasa lemas ketika mendengarnya, dan aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak berjalan mendekati tempat tidur untuk melihat wajahnya dengan lebih jelas. Tapi, suara Gabriel yang tegas tahu-tahu menahanku.

"Ke mana saja kau? Tumben sekali pulangnya cepat?" Entah kenapa, pertanyaan yang dilontarkan Gabriel ini mengandung unsur amarah. Dengan hati-hati aku menoleh mengawasi Gabriel lewat ekor mataku; dan Gabriel memang sedang memasang ekspresi sinis. Tapi Yunho hanya memandangnya dengan dingin sebelum akhirnya menoleh ke arahku, lalu ke arah… 'Jackson'.

"Aku sudah membereskannya," Ujar Yunho—yang untuk pertama kalinya aku lihat, dia tampak ragu-ragu. Apa maksudnya? Apa yang sudah 'dibereskan'?

"Tentu saja!" sahut Gabriel setelahnya dengan suara pelan yang sepertinya setengah mati ia kontrol. Dia terlihat letih dan seperti ingin meledak, tapi pada akhirnya dia hanya dapat menghela napas. Yunho menggeleng pelan, entah kepada siapa atau untuk apa. "Tentu saja. Kau kira aku tidak tahu niat gilamu yang satu itu, hah?" tambah Gabriel.

Untuk sesaat, Yunho pun jadi terlihat ingin meledak juga. Tapi ketika ia membuka mulut, "Gab—", pandangannya tahu-tahu tertancap padaku dan dia langsung kembali menutup mulutnya seolah tidak yakin dengan ucapannya. Hal itu jelas cukup bisa membuatku bersuara pada akhirnya, kesal karena curiga.

"Ada apa dengan kalian, sih? Kalau ingin bertengkar lebih baik di luar saja." sindirku dingin. Gabriel langsung menoleh ke arahku dengan ekspresi terkejut sekilas, yang langsung berubah menjadi ekspresi bersalah. Yunho pun langsung membuang mukanya. "Dia benar, kita bicara di luar saja. Dan kau, tetap di sini." Ujar Yunho—nada tegasnya kembali terdengar—seraya ia berjalan melewati Gabriel, dan mereka berdua pun meninggalkanku.

"Bagus sekali." Gerutuku seraya bersandar pada dinding di samping dekat tempat tidur, dan kembali menatap pemuda di depanku. Apa dia sungguhan Jackson yang telah menolongku? Apa… apa gara-gara perbuatannya itu, dia jadi… begini?

Aku menghela napas, perasaan bersalah membuncah dengan seenaknya di dadaku, dan itu tidak bisa menghentikanku untuk bertekuk lutut dengan menggumamkan permohonan maaf berkali-kali kepada Jackson—walau aku tahu dia mungkin tidak bisa mendengarku. Aku sungguh, sungguh merasa tidak enak padanya.

"Hey, kau mungkin tidak tahu siapa aku, tapi… terima kasih, sudah terlintas di pikiranmu untuk menolongku waktu itu. Aku… kalau kau nanti sudah sadar… kau… kau boleh salahkan semuanya kepadaku jika kau mau, kau tahu? Salahkan saja semuanya padaku. Ya. Jika saja saat itu kau meninggalkanku saja, mungkin saat ini kau masih… sehat. Mungkin saat ini, aku tidak perlu merasa kebingungan seperti ini. Mungkin… mungkin semuanya akan terasa lebih mudah." Suaraku perlahan mulai terdengar bergetar dan aku tidak perduli.

"…karena itu, kalau sudah sadar nanti, salahkan saja semuanya padaku sepuasmu. Tapi tolong jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri, oke? Karena... karena aku benar-benar bersyukur kau mau menolongku waktu itu. Terima kasih banyak, Jackson. Lekas lah sembuh."

Di antara semua perasaan yang sejauh ini aku rasakan selama berada di sini, mungkin ini lah yang terburuk sejauh ini.


Aku merasa dadaku sesak, tapi bersyukur tidak ada airmata tergenang sama sekali di pelupuk mataku. Jadi, aku pun hanya dapat menunggu selama sekiranya sepuluh menit dalam diam, sampai akhirnya seorang perawat masuk dan mengatakan bahwa jam besuk sudah habis. Dengan linglung aku berjalan keluar kamar meninggalkan Jackson yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Tapi ketika sudah di luar, aku tidak menemukan adanya sosok Yunho atau Gabriel sama sekali di sejauh mata memandang; yang ada hanya dokter dan perawat berlalu lalang seraya beberapa kali melemparkan senyuman kepadaku.

"Ke mana mereka? Ngobrolnya lama sekali." Gumamku cemas seraya dengan perlahan mulai berjalan untuk mencari.

Aku terus melangkah, berjalan melewati lorong-lorong, hingga akhirnya sampai di depan lift yang mengangkut aku dan Gabriel tadi, dan secara mengejutkannya berpapasan dengan Dokter Andy.

"Hey, kau yang waktu itu kan?" demikian dia menyapaku, membuatku tersentak kaget dari lamunanku. Dia tersenyum cerah, tapi ada yang berbeda darinya. Dia sama sekali tidak mengenakan jas dokternya saat ini, dan aku terbelalak ketika menyadari bahwa ternyata dia mengenakan seragam yang sama seperti milik Yunho—seragam prajurit SHOOT.

"Eh, Dokter Andy? Anda…" Aku berkedip dua kali, "Anda seorang prajurit juga?"

Dia tertawa kecil dan menelengkan kepalanya sedikit seolah sedang berpikir. "Tidak perlu bicara seformal itu. Tapi, yah… kurang lebih begitulah. Staff prajurit sedikit, sih, dan berhubung aku ini 'kebetulan' pernah menjadi anggota peneliti, jadi…"

"Anggota peneliti?" tanyaku masih takjub, dia mengangguk dengan ekspresi polos, "Jadi… sekarang kau mau terjun ke lapangan?"

Andy mengangguk lagi tanpa berkata apa-apa. Untuk sesaat aku merasa khawatir akan sesuatu, jadi dengan gamblang aku kembali bertanya. "Apa… kau akan dikawal oleh Prajurit Yu?"

"Tentu saja tidak," jawabnya langsung seraya melambaikan tangannya, membuatku langsung merasa lega. "Dia kan baru sampai. Lagipula…" dia terdiam sejenak seolah sedang mendapati ada sesuatu di wajahku sebelum akhirnya dia kembali melambaikan tangannya, "…bukan apa-apa. Tapi tenang saja, kalau tidak salah... dia diperbolehkan istirahat sehari untuk besok, sebelum shift selanjutnya. Dan, oh iya, kenapa kau ada di sini?"

Aku ragu untuk beberapa saat, menyadari bahwa dia pasti sedang menutupi sesuatu. "Aku… menjenguk seseorang. Tadinya Gabriel bersamaku, tapi sekarang dia menghilang."

"Oh, apa kau menjenguk Jackson?" tanya Andy polos. Aku mengangguk teratur, merasa tidak enak. Tapi dia kembali tersenyum, dengan tambahan menepuk bahuku dengan bersahabat; mungkin dia mengerti apa yang telah aku alami tadi. Aku membalas senyumannya sekilas.

"Pantas saja aku melihatnya tadi. Ku kira itu hanya perasanku saja bahwa aku melihat Gabriel tadi, wajahnya terlihat gusar. Apa kau tahu kenapa dia?" tanyanya. Aku hanya dapat menggeleng pelan.

"Aku juga sedang mencaritahu kenapa. Tapi, di mana kau terakhir melihatnya tadi?" tanyaku sopan. Andy mengatakan bahwa ia bertemu Gabriel di dekat resepsionis, dan dengan itu lah aku langsung berpamitan padanya, dan langsung pergi menuju tempat yang ia beritahukan.

Tapi, ketika baru kurasa setengah dari perjalanan, secara kebetulan aku malah bertemu dengan Yunho.

"Baru saja mau disusul tadi." Gumamnya ketika berpapasan denganku. "Mau pulang sekarang?" tanyanya—dengan nada yang lebih jelas.

"Di mana Gabriel?" tanyaku tanpa bersusah payah menutupi nada dingin yang ada ketika mengucapkannya, karena aku masih agak sangsi dengan apa yang terjadi di kamar Jackson tadi. Yunho tertegun melihatku setelah mendengarnya, mungkin kaget. Tapi ekspresinya tetap terlihat normal.

"Dia ada urusan dengan seseorang bernama Zac, entah urusan apa itu." Yunho menggedikkan bahunya, dan matanya kembali menelusuriku seolah tengah menilai.

Mendengar nama 'Zac' sontak membuatku melunak untuk sesaat. Aku lupa kalau Yunho sama sekali belum tahu tentang aku dan niatku untuk masuk SHOOT. "Apa kau ada masalah dengan itu?" tanyanya tiba-tiba dengan nada sopan yang terdengar aneh.

"Tidak." Jawabku setenang mungkin, serileks mungkin. "Apa kau akan menitipkanku untuk shift lagi?" tanyaku berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

"Kau tidak penasaran siapa si Zac ini?" tanya Yunho tiba-tiba, menolak bantingan setirku. Tapi sekeras mungkin aku tetap memasang ekspresi biasa untuk menutupi kegugupanku, hanya saja rasanya sangat sulit jika harus berhadapan dengan pandangan mengintimidasi dari Yunho; seolah menuntut kebenaran yang—menurutku—amat sangat tidak penting.

"Memangnya siapa dia?" tanyaku akhirnya, diam-diam berharap itu adalah hal yang tepat untuk dikatakan.

"Pengurus administrasi di tempatku." Jawab Yunho datar.

Oke, kali ini aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menelan ludah dengan susah payah karena jelas saja, Yunho baru saja menekankan bahwa dia memergokiku.

Sayangnya, aku sudah bertekad untuk tidak mengaku, jadi aku langsung menimpali agar tetap terlihat natural, "Apakah dia penting untukku?" Dan ada jeda cukup lama. Keheningan di antara kami berdua membuat segala suara terpelan sekalipun yang ada di sekitar kami jadi terdengar dua kali lipat lebih berisik.

Tapi tak berapa lama, Yunho kembali bersuara. Tenang, dan sepertinya dia sudah menyerah. "Sudahlah. Aku lapar. Ayo, kita cari makan."

Aku menganggap itu sebagai genjatan senjata pertamanya terhadapku, dan mengangguk dengan terlalu cepat, dan tanpa banyak bicara lagi langsung mengikuti Yunho.

.

.

.

Aku dan Yunho makan di sebuah restoran makanan cepat saji tak jauh dari Rumah Sakit — tepat berjarak sepuluh meter di sebelahnya, malah. Dan aku duduk dalam diam di sebuah meja yang sebenarnya untuk empat orang, menunggu, sementara Yunho pergi memesan makanan.

Selama di perjalanan tadi, tidak ada yang berbicara, dan ini membuatku merasa tertekan. Aku sepenuhnya yakin kalau Yunho pasti sudah tahu, atau bahkan, Gabriel mungkin saja sudah memberitahunya tentang aku ingin masuk SHOOT. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, rasanya itu tidak mungkin juga—mengingat yang 'menyarankanku' untuk masuk SHOOT awalnya, kan, dia.

Aku mendesah lelah, mungkin memang sudah seharusnya mengatakan yang sebenarnya kepada Yunho sekarang. Tapi… apa itu tidak apa-apa?

"Kuharap kau belum makan karena aku membeli ini." suara Yunho yang tahu-tahu muncul membuatku refleks terlonjak samar. Dan aku berani sumpah kalau dia berusaha mati-matian untuk tidak tersenyum ketika melihatnya, jadi dengan salah tingkah dan terburu-buru aku langsung menerima nampan di tangannya—mengakibatkan tanganku nyaris goyah karena tidak menyadari kalau makanan yang ada di atas nampan jumlahnya cukup banyak; dua mangkuk nasi, dua mangkuk sup kental kaldu ayam, kentang goreng ukuran besar, dua gelas besar minum—entah minuman apa, dan semangkuk besar mi.

"Astaga, kau sudah tidak makan berapa tahun?" komentarku tanpa sadar karena heran. Yunho tidak langsung menjawab melainkan dengan santainya dia meletakkan masing-masing makanan untuknya, dan untukku—demikian lah aku akhirnya menyadari kalau ternyata itu semua tidak hanya untuknya seorang.

Karena semakin merasa salah tingkah dengan kekonyolan tambahan itu, aku pun hanya dapat menciut diam di tempat dudukku. Tidak berani bersuara atau bergerak—dan ini akhirnya berhasil membuat Yunho tersenyum.

"Di lapangan, kami hanya diperbolehkan makan garam saja, jika kau belum tahu tentang hal ini, Max."

Aku mendongak menatapnya, terkejut dia memanggil namaku. Dan dapat kulihat juga Yunho tengah menyesali perkataannya sedetik setelahnya—tubuhnya mendadak kaku dan dia berhenti mengunyah. Seketika kami berdua terselimuti kecanggungan tiada tara.

Tidak ada lagi melarikan diri, pikirku pasrah. "...Gabriel sudah cerita?" tanyaku hati-hati pada akhirnya, tetap dengan lekat mengamati gejolak yang ada di wajah Yunho. Menunggu dengan was-was ketika Yunho nampaknya menyerah juga akhirnya—yah, dia sudah tertangkap basah dengan sendirinya juga, kan.

"Bukan cerita, tapi kelepasan." Kini tatapannya melekat padaku. Sosoknya yang tegas seperti biasanya kembali muncul. Kemudian, seolah tidak terganggu sama sekali, ia mulai memakan makanannya.

"Jadi?" setelah beberapa saat, akhirnya aku kembali memberanikan diri untuk bersuara lagi. "Bagaimana menurutmu?"

Yunho menjawab setelah selesai mengunyah, "Nama yang bagus, walaupun agak susah diucapkan bagiku. Max shim, kan?"

Aku harus mati-matian menahan diri untuk tidak menepuk dahiku secara terang-terangan, dan memutuskan untuk menghela napas saja. Haaah. Gabriel benar. "Bukan itu." Gumamku lelah.

"Oh iya? Apa, itu... Maxime, ya? Maaf." Sahutnya, malu. Aku hanya dapat geleng-geleng kepala dan tidak bisa menahan senyuman berkembang di bibirku. Kenapa jadi konyol begini? Apa ini berarti dia…?

"Tapi… yah, setelah Zac datang menemuinya, tentu saja aku meminta penjelasan padanya pada apa yang sedang terjadi. Dan, yah… Zac menceritakannya; dia menyebutkan tentang nama Maxime, kau, dan nyaris semuanya—kurasa." Yunho melanjutkan seolah dapat membaca isi pikiranku. Pandangannya kembali terkunci padaku. "Dan kalau kau tanya bagaimana pendapatku, aku akan dengan jujur mengatakan kalau aku tidak setuju. Sama sekali. Mendaftar SHOOT sebagai orang luar bisa dibilang sama saja dengan bunuh diri."

Mendengar hal itu entah kenapa membuat sebuah perasaan kesal perlahan bergejolak di dalam dadaku, tapi aku tetap berusaha terlihat senetral mungkin. "Kenapa? Gab bilang itu satu-satunya cara untuk bisa lebih mengenal tentang diriku sendiri—dengan masuk ke SHOOT, maksudku."

"Itu jelas bukan satu-satunya jalan, kawan." Yunho menanggapi dengan cepat dan dingin. "…dan sejujurnya, ini membuatku jadi merasa bersalah telah menjerumuskanmu kepada dia." Kini dia bergumam pada dirinya sendiri, tapi aku tahu itu juga termasuk sebuah sindiran—walau aku tidak tahu kalau itu lebih ditujukan kepadaku atau untuk Gabriel yang sedang tidak ada di sini bersama kami.

"Oh, ayolah," Aku menghela napas frustrasi, "Memang apa lagi yang bisa dilakukan seorang pengidap Amnesia sepertiku ini di tempat ini?" balasku tajam. "Kau tidak tahu betapa mengesalkannya menjadi serba bingung!" tambahku dengan nada meninggi; yang tentunya mampu menarik perhatian orang-orang, tapi aku tidak perduli. Aku janji tidak akan membuat hal itu berlangsung lama.

Yunho masih menatapku lekat-lekat—dia nampaknya juga tidak perduli menjadi pusat perhatian sekarang. Namun, air mukanya sulit dibaca, dan itu membuatku jadi ragu untuk sesaat. Dan setelah jeda berapa saat—aku bisa menyadari kalau kini orang-orang perlahan tidak lagi memperhatikan kami—Yunho akhirnya berbicara lagi dengan nada yang lebih lembut. "Kau pasti sudah tahu konsekuensi menjadi prajurit SHOOT, kan?" tanyanya.

Aku mengangguk perlahan, dan untuk sesaat aku membiarkan diriku untuk ikut hanyut pada ketenangan yang Yunho tawarkan lewat tatapan matanya. "Tapi itu tidak akan menghentikanku untuk tetap menjadi prajurit di sana." Kemudian dengan bermaksud bercanda aku menambahkan, "Siapa tahu juga aku ini ternyata seorang outcast."

Secara mengejutkan, Yunho malah tersenyum samar setelah mendengarnya. Dan kini dia kembali memakan makanannya, tidak berbicara lagi hingga akhirnya dia menyuruhku untuk memakan makananku juga. Untuk beberapa lama, semuanya kembali seperti 'biasa' dengan anehnya. Membuatku kembali merasa curiga, tapi aku tidak memaksakan.

Bahkan, semuanya berjalan tanpa pembicaraan lagi sampai kami selesai makan sekalipun, atau ketika keluar pergi dari restoran itu juga untuk berjalan pulang. Hanya saja, ketika kami sudah dekat dengan rumah—kembali ke rumah Yunho sekarang—akhirnya prajurit di sebelahku kembali bersuara.

"Aku yang akan melatihmu sendiri." Umumnya seraya memasukkan kedua tangannya ke kantung celananya. Aku tidak langsung merespon, menunggu hingga kami berdua benar-benar sampai di rumah. Tapi rupanya aku pun juga masih tidak tertarik untuk membalas ketika sudah sampai di rumah, bahkan yang ada malah dengan malas aku berjalan naik ke lantai atas menuju kamarku, sampai ketika akhirnya aku mendengar suara langkah kaki Yunho dengan sedikit terburu-buru menyusulku dan menghentikanku di tengah jalan.

"Aku tahu kalau aku pasti tidak akan bisa membuatmu berubah pikiran, tapi aku benar-benar menginginkan kau untuk memikirkan keputusan ini dengan amat sangat cermat, penuh perhitungan." Ujarnya dengan nada serius yang membuatku agak merasa seram. Tatapan matanya seolah mampu menembusku, tapi sedetik kemudian dia seolah terlihat sedang menerawang jauh entah ke mana—dan itu membuatku entah kenapa jadi merasa sediki menyesal.

"Tentu saja, itu sudah pasti." Jawabku seraya mencoba tersenyum menenangkan. Dan Yunho langsung mengangguk menanggapi hal itu, sebelum akhirnya dia kembali menuruni tangga. Namun, baru beberapa langkah kami berpisah, Yunho kembali memanggilku.

"Kau dengar tadi ada yang memanggilmu dengan sebutan 'Charming', di restoran?" tanyanya dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca, dan aku hanya dapat menggeleng dengan jujur. "Aku salah dengar tadi, soalnya." Yunho terlihat semakin bingung, dan melanjutkan. "Keberatan jika aku memanggilmu dengan sebutan 'Changmin'? Karena bagiku nama itu lebih mudah diucapkan ketimbang 'Maxime'. Kuharap kau tidak tersinggung."

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum geli. Yunho jadi terlihat seperti anak kecil sekarang, dan itu membuatnya jadi terlihat aneh. Tapi, ya sudahlah. "Yah, selama tidak aneh-aneh, boleh saja." jawabku seraya mengangkat bahu.

Yunho mengangguk sekali sebagai tanda puas bahwa persetujuan singkat itu berjalan lancar, sebelum akhirnya dia kembali melangkah menuruni tangga. Aku mengawasinya di tempatku, takut dia masih ingin mengucapkan hal lain.

Dan benar saja, beberapa saat kemudian aku bisa mendengarnya menyahutkan; "Selamat malam, Changmin-ah. Latihan akan dimulai besok pagi."

…kali ini akhirnya aku bisa dengan bebasnya menepuk dahiku, pasrah.

[ To be continued ... ]


TENG-TERENG-TENG-TENG-TEEEEENG!

Yo, thanks a lot udah baca sampai sejauh iniii! Hahah, semoga abis ini saya enggak kena writer's block...

Please, tolong, review biar saya dapet kemajuan juga :"D