~The Recon Shooter~
Fairy Tail Fanfic oleh Indra-Fernandes
Disclaimer : Fairy Tail milik Hiro Mashima-sensei, SAPD Coporation milik Author, dan Erza Scarlet selingkuhan Author...XD
Chara: Natsu D, Gray F, Lucy H, Gildarts C, Yukino A, Levy M, Erza S, Juvia L
Pairing : Masih belum ada ide...
Genre : Comedy, Friendship, Action
Warning : Typo, dll
Summary :
Lucy Heartfilia, seorang wanita yang telah menyandang gelar Bechelor Art of Scince di Columbia University itu telah resmi bekerja di SAPD Coporation dan sudah bekerja dengan baik selama satu bulan penuh. Ia telah mendapatkan misi penting yang diberikan atasannya bernama Gildarts lewat permintaan VIP hanya untuk melakukan mata-mata sebelum terjadi sebuah kasus pencurian terhadap sebuah berlian termahal di dunia yang akan di lelangkan di LA Museum.
~ Selamat Membaca ~
February, 02th 2016. CA, US.
10.00 AM, Los Angeles City – SAPD Coporation.
SAPD Coporation, salah satu gedung kantor Departement dalam bidang Law Enforcement Agency. Gedung kantor Departement itu tidak terlalu tinggi dan hanya memiliki tiga lantai, jika ada orang yang bertanya kenapa? Jawabannya karena gendung kantor itu hanyalah kantor cabang yang telah dibangun di tengah kota Los Angeles City.
Dua orang pasukan SWAT sedang berada di atas gedung, mereka berdua terjadwal dalam tugas keamanannya sambil mengintai lingkungan sekitar.
'Untuk saat ini tidak ada yang mencurigakan...'gumam hati seorang laki-laki dengan gaya rambut Raven hitam sedang menerawang berbagai sudut kota Los Angeles dengan Scope yang ada pada Sniper-nya.
ID : CT-07-06-19116403-A.
Name : Gray Fullbuster.
Age : 25 Year Old.
Job : SWAT.
"Natsu coba kau periksa dari arah barat dan~, eh?! Lagi-lagi dia..." ucapnya jengkel sendirian ketika menoleh ke arah laki-laki yang sedang menemani tugasnya.
"Zzzz...Zzzz..." disamping kiri seorang laki-laki dengan gaya rambut salmon merah muda malah bersandar dan tertidur di tembok balkon sambil membantalkan kedua tangannya.
ID : exCT-14-04-19116403-A.
Name : Natsu Dragneel.
Age : 25 Year Old.
Job : SWAT.
Pernah ada yang mengatakan bahwa orang yang sedang tidur itu terkadang bermimpi tentang sebuah masa lalalu yang pernah dihadapinya. Contohnya laki-laki yang sedang tertidur saat ini.
.
.
-Natsu's Flashback-
February, 02th 2014. CA, US.
11.15 PM, Los Angeles City – US Bank Tower.
Dua tahun yang lalu pada malam hari yang di kota Los Angeles yangmenegangkan untuk para polisi dari SAPD Coporation disaat sedang mengepung sebuah gedung bercakar langit US Bank Tower dengan ketinggian 1.018 kaki (310m).
'wiew~wiew~wiew' suara sirine dari beberapa mobil polisi yang sedang mengepung di depan gedung US Bank Tower.
"Pak! Sebagian orang sudah kami evakuasi..." ucap salah satu pasukan SWAT regu B kepada sang komandan setelah keluar menjauhi gedung sambil membawa salah satu korban yang dipenuhi dengan luka disekujur tubuhnya.
"Bagaimana dengan yang lainnya?!" tanya komandan.
"Kami belum menerima laporan Pak! Yang jelas untuk saat ini pasukan SWAT regu A masih berada di dalam gedung dan mencoba menyelamatkan beberapa orang yang masih di sandera teroris..." ucap sang bawahannya.
'DHUAR!' seorang teroris telah meledakan sebuah bom dilantai 70 US Bank Tower, sebagian serpihan-serpihan besar gedung telah melukai beberapa orang warga sipil disekitarnya.
"Sudah aku bilang! Kalian jangan mendekat!" teriak kesal komandan SWAT kepada mereka warga sipil yang masih berada dekat disekitarnya.
"Bawa korban-korban itu ke dalam Ambulance!" teriakan para polisi lainnya.
"Siap!"
Di dalam gedung lantai-70 dengan keadaan lampu-lampu yang telah mati, para pasukan SWAT regu A beranggotakan sepuluh orang sedang membagi-bagi tugasnya menjadi lima kelompok, lalu mereka berpencar segala penjuru gedung. Mereka semua ditugaskan untuk memeriksa seluruh isi ruangan gedung untuk mencari seorang teroris yang masih bersembunyi dan menyelamatkan beberapa orang sandera yang masih selamat.
Di suatu ruangan kantor di lantai-71, dua orang laki-laki pasukan SWAT regu A telah berhasil menemukan sebuah Bom Waktu yang terakhir. Dan salah satunya sedang mencoba menjinakannya.
"Gray! Waktu kita tidak banyak! Cepatlah!" ucap seorang laki-laki pasukan SWAT berambut salmon merah muda itu yang sedang berjaga di depan pintu sambil melepas helmnya, lalu ia menyalakan infra merah dari alat seperti kacamata yang menempel dimatanya hingga pandangannya berubah menjadi hijau agar bisa melihat seluruh isi ruangan yang gelap.
"N-Natsu! Bom waktu ini tidak bisa dijinakkan..." laki-laki pasukan SWAT berambut hitam model Raven yang sedang duduk dan berhadapan dengan sebuah Bom Waktu itu tiba-tiba panik. Setelah ia membuka kerangka bagian atasnya, Bom itu tidak memiliki kabel-kabel yang akan dipotong salah satunya untuk ia jinakan.
35 detik sebelum menjelang ledakan...
"Gray! Apa kau tahu radius ledakannya?" tanya Natsu, wajahnya langsung ikut panik setelah mendengar ucapan Gray yang sedang tidak berdaya melakukan tugasnya.
"Entahlah aku benar-benar tidak tahu, Bom ini dibuat oleh orang Rusia. Standarnya tidak sama dengan beberapa Bom yang aku temukan sebelumnya. Sial!" Gray benar-benar sangat prustasi, lalu ia memukul sebuah lantai disaat tidak bisa melakukan apa-apa lagi dalam waktu gentingnya.
25 detik sebelum menjelang ledakan...
"Mungkin sudah saatnya kita berdua menghadapi resiko kematian ini..." ucap Gray dengan senyuman pasrah dan duduk bersandar ditembok dekat jendela.
20 detik sebelum menjelang ledakan...
"Gray, pinjamkan aku pistol penembak tali milikmu..." Natsu menghampiri sebuah jendela dan membukanya, lalu mengambil Bom yang durasinya masih berjalan dan berdiri kembali di depan jendela sambil melihat ketinggian gedung disekitarnya.
15 detik sebelum menjelang ledakan...
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Gray sambil memberikan pistol penembak tali miliknya kepada Natsu.
"Aku hanya sedang ingin bertaruh dengan nyawaku. Jika malam ini aku masih hidup, kau harus mentraktirku minum. Bagaimana?" ucap Natsu dengan senyuman percaya diri sambil menancapkan ujung peluru pengait di pistol itu pada Bomnya, lalu mundur beberapa langkah untuk melakukan ancang-ancang. Sepertinya Natsu berniat melompat ke arah jendela yang terbuka itu sambil membawa Bom.
"Natsu! Kau jangan bodoh! Belum tentu kau bisa meledakan Bom itu di udara karena kita tidak tahu radiusnya! Kau akan mati sia-sia dan sebagian gedung akan tetap runtuh dan menimpa banyak orang dibawah!" ucap Gray panik.
"Sampai nanti Gray!" kata Natsu tersenyum menyeringai sambil melambaikan tangannya kepada Gray, lalu ia melompat ke jendela melayang sebentar di udara sebelum ia jatuh.
10 detik sebelum menjelang ledakan...
"T-tunggu! Natsu!" teriak Gray semakin panik melihat teman anggota regunya seperti berniat bunuh diri di udara.
Natsu tiba-tiba mengambil pistol penembak tali miliknya yang berada di dalam saku yang terletak pada sabuk senjata, lalu ia tarketkan ke arah puncak gedung sambil menarik pelatuknya.
'Duar!~' peluru pengait pun meluncur cepat sambil membawa tali dan mengarah tepat pada ujung gedung bercakar langit itu.
Para anggota polisi yang masih mengepung dibawah gedung sedang menyaksikan aksi yang dilakukan oleh Natsu.
"Lihat! Itu Dragneel..."
"Apa yang sedang dilakukannya?!"
"Cekala! Dia sedang membawa Bom!" salah satu anggota polisi yang berada dibawah gedung sedang melihat aksi yang dilakukan oleh Natsu lewat teropong.
5 detik sebelum menjelang ledakan...
'Siet!~' dengan nekad Natsu menekan tombol penggulung talinya dengan kecepatan tinggi, seketika ia terangkat dengan cepat dan terbang melewati ujung gedung itu.
"Hyaaaaa!" teriak Natsu ketika melayang di atas udara, tangan kiri yang sedang memegang pistol penembak tali milik Gray dengan bom diujungnya ia ayunkan ke atas.
'Duar!~' Natsu menekan pelatuknya, dan Bom itu pun akhirnya terlempar ke udara.
3 detik dalam jarak 1 meter dari Natsu.
2 detik dalam jarak 2 meter dari Natsu.
1 detik dalam jarak 3 meter dari Natsu.
'BHUUUM!~' akhirnya Bom pun meledak dengan radius 1 kilometer di udara dan mengobrak-ngabrik puncak gedung US Bank Tower.
"NATSUUUU!" terika Gray panik disaat sedang menerawang ke udara dari Jendela.
Sebuah Helicopter dari team penyelamat sedang terbang di puncak gedung yang telah hancur itu, lampu-lampu menyoroti puncak gedung yang masih tertutup dengan sebuah asap debu dari serpihan bangunan mencoba mencari keberadaan Natsu namun keberadaannya tidak ditemukan.
"Apa kalian menemukan Dragneel?" tanya salah satu orang dari regu team penyelamat yang memantau keadaan dari dalam Helicopter.
"Maaf Pak! Gara-gara radius ledakan Bom tadi membuat sinyal GPS-nya mengalami gangguan, jadi untuk sementara kita hanya bisa menunggunya..." kata pilot dari Helicopter itu.
Beberapa saat kemudian di reruntuhan puncak gedung US Bank Tower yang masih terselimuti sebuah asap tebal.
'grus!~' seseorang telah muncul dari tumpukan bangunan.
"Huph~, Haaaaaaa~, Tadi itu sangat berbahaya sekali...hihihi..." ucap seseorang yang telah terbangun dari tumpukan itu, ternyata itu adalah Natsu yang masih sempat tertawa setelah terhindar dari kematiannya.
"Siapa saja tolong aku!" teriak minta tolong dari seorang wanita dari arah lain.
'Sepertinya ada korban yang masih selamat...' batin Natsu.
"Kau dimana?!" terak Natsu yang mencoba menelusuri arah suara wanita itu, ia pun masuk kembali ke dalam kedung lewat celah-celah retakan hasil ledakan Bom tadi dan berjalan kesana-kemari disekitar koridor yang memiliki banyak pintu ruangan.
"Tolong aku! Aku berada diruangan 14-AB!" teriak wanita itu lagi setelah mendengar suara Natsu.
"Ruang 14-AB?" Natsu akhir berlari mencari-cari ruangan yang telah disebutkan oleh wanita itu tadi.
"Ini dia..." akhirnya Natsu menemukan pintu bertuliskan 14-AB itu.
'Clek' Natsu pun membuka pintunya, terlihat sosok wanita lansia cantik berambut di gelung dengan pakaian formal seorang pejabat yang sedang diborgol dengan sebuah tali.
"Nyonya, apa kau tidak apa-apa?" tanya Natsu sambil memotong borgol talinya.
"I-iya, aku tidak apa-apa..." kata wanita lansia itu dengan nada bicaranya yang lemas disaat Natsu mengulurkan tangannya, wanita itu pun menopangkan tangannya ke pundak Natsu.
"Baiklah, ayo kita keluar dari sini..." Natsu pun keluar dari ruangan 14-AB sambil membawa wanita lansia itu dan berjalan kembali disekitar koridor hingga menemukan arah tangga menuju kebawah.
"Nyonya, tunggu sebentar. Aku ingin menghubungi temanku..." kata Natsu sambil menekan tombol Earphone yang masih terpasang dibagaian telinga kanannya.
"~CT-07-06-19116403-A~"
"Gray, ini aku..." balas Natsu setelah panggilannya telah diterima.
"~Natsu, kau selamat?! sekarang kau dimana?!~"
"Saat ini aku berada di lantai-70, seorang wanita korban yang masih selamat saat ini sedang bersamaku..."
"~Siapa?~"
"Nona, bisa anda tunjukan kartu identitas anda..." pinta Natsu kepada wanita yang sedang ditolongnya itu.
"Iya, baiklah..." wanita itu pun mengambil kartu identitasnya dan menunjukannya kepada Natsu.
"Gray, wanita yang sedang bersamaku ini namanya..." disaat Natsu memberitahu nama wanita yang sedang bersamanya kepada Gray, tiba-tiba muncul bayangan seseorang yang sedang mengendap-ngendap menghampirinya dari belakangnya.
"~Natsu, aku hanya ingin menyampaikan bahwa teroris yang sedang kita cari masih berkeliaran di dalam gedung ini~"
'Buak!' "Akh!" orang yang terlihat samar-samar itu telah memukul bagian kepala Natsu dengan keras.
"Akh!" teriak Natsu yang akhirnya melemas dan menjatuhkan diri dilantai.
"Kyaaaaa!" teriak histeris wanita lansia yang sedang melihat laki-laki yang telah menyelamatkannya itu dihantam begitu saja.
"~Natsu! Apa yang terjadi?!~"
"G-Gray, a-ku..." ucap Natsu melemas terbata-bata, penglihatan matanya yang sedikit kabur mencoba tetap fokus melihat wajah teroris yang sedang menghampirinya. Namun pada akhirnya Natsu memejamkan matanya secara perlahan.
15 menit kemudian...
Natsu mulai membuka kedua matanya kembali dan membangunkan diri.
"Ita! Kepalaku..." ucap Natsu kesakitan disaat sedang mengusap bagian belakang kepalanya, lalu melihat bagian telapak tangan yang telah mengusap kepalanya itu ternyata sudah berlumur darah.
'Huh? Sejak kapan pistolku ini ada ditanganku? Seingatku aku tidak pernah mengeluarkannya...' batinnya setelah sadar bahwa ditangan kanannya sudah menggenggam pistol miliknya sendiri.
"Gawat! Dimana wanita yang sedang aku selamatkan tadi?!" ucap Natsu setelah menyadari keadaan, wanita yang sempat ia tolong sudah tidak ada.
"Nyonya! Kau dimana?!" teriak Natsu sambil berlarian kembali sambil menjelajahi beberapa ruangan yang ada di lantai-70untuk mencari wanita yang sempat ia tolong tadi.
Disaat sedang menelusuri tangga menuju lantai-69, wanita lansia itu sedang terkapar di sudut tembok dekat tangga.
"Nyonya!" Natsu pun menghampirinya.
"Nyonya! Kau tidak apa-apa?! Nyonya! sadarlah!" Natsu mencoba membangunkan wanita lansia yang sedang terkapar itu, lalu ia mengangkat dan membalikan tubuhnya.
"..." perlahan wanita lansia itu membuka matanya.
"A-ku..." wanita lansia itu berbicara pelan dan berbisik ke telinga Natsu, perlahan ia pun mentup matanya kembali dan menghembuskan nafas terakhirnya.
"Nyonya! Nyonya!" teriak Natsu panik disaat wanita lansia itu sudah tidak bernyawa lagi.
'Sial! Aku terlambat! Teroris itu telah menembak jantungnya! Sekarang wanita ini sudah tidak bernyawa lagi!' batin Natsu ketika melihat bagian dada dari wanita lansia itu sudah ada luka tembak yang melubanginya.
"Natsuuu!" teriak Gray memanggilnya disaat sedang berlarian menaiki sebuah tangga bersama pasukan SWAT regu A lainnya.
"Apa kalian sudah berhasil menangkap teroris itu?!" tanya Natsu disaat wanita lansia yang sudah tidak bernyawa itu masih bersandar ditubuhnya.
"Tadi kami berhasil mengepungnya, tapi sayang teroris itu lebih memilih untuk bunuh diri dari pada tertangkap..." ucap salah satu anggota SWAT yang sedang berada disamping Gray.
"Ch! Jika saja aku tidak lengah, mungkin wanita ini masih hidup..." ucap Natsu keluh kesal.
Pasukan SWAT regu A beranggotakan 10 orang termasuk Natsu akhirnya keluar dari gedung sambil membawa mayat wanita lansia itu. Beberapa pihak Ambulance mengambil alih tubuh wanita lansia yang sudah tidak bernyawa itu dan memasukannya ke dalam mobil Ambulance.
Natsu dan Gray saat ini sedang duduk bersandar disamping mobil patroli yang bertuliskan SWAT. Mereka berdua terlihat lelah setelah menjalankan tugas beratnya.
"Natsu, bagaimana kau bisa selamat setelah terkena ledakan bom itu tadi?" tanya Gray.
"Apa kau mengharapkan aku mati agar kau tidak mentraktirku?" jawab Natsu dengan tatapan penuh curiga.
"Dasar bodoh! Semua orang mengkhawatirkanmu setelah kejadian itu!" bentak Gray kesal melihat wajah Natsu yang begitu santai.
"Ghahaha! Baiklah, aku menyerah. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku..." Natsu kembali tertawa sambil menunjukan dua jari Piece-nya.
"Hmph~, benar-benar menyebalkan..." ucap Gray sedang jengkel, di sisi lain ia terlihat senang melihat Natsu masih hidup.
Tidak lama kemudian seorang Head Officer dari SAPD Coporation menghampiri Natsu dan Gray dengan wajahnya yang begitu serius.
"Yo! Pak Gildarts, anda mencariku? Ada apa?" tanya Natsu dengan sikap santainya.
"Dragneel, aku tidak bisa menolongmu untuk masalah yang kau buat kali ini.. " kata Gildarts masih mempertahankan wajah keseriusannya dihadapan mereka berdua.
"Maksud anda apa Pak?!" Natsu langsung terkejut, ia belum tahu masalah apa yang sedang dihadapinya.
"Mereka dari pihak Ambulance telah menemukan Peluru 9x99 mm Parabellum dari Pistol BERETTA 92 yang selalu kau pakai setelah mereka melakukan otopsi terhadap tubuh mayat wanita yang telah kalian berdua selamatkan tadi..." kata Gildarts sambil menunjukan sebuah peluru yang telah dibungkus dengan kantong plastik.
"..." Natsu tidak bisa berkata apapun setelah melihat sebuah peluru dari pistol miliknya yang dijadikan sebuah bukti.
"Dragneel, sepertinya kau telah melakukan kesalahan dalam melakukan sasaran tembak..." kata Gildarts yang terus menyudutkan permasalahan yang dihadapi oleh Natsu, namun di sisi lain Gildarts tidak bermaksud melakukannya dan hanya menjalankan sebuah tugas sebagai mana seorang Head Officer dari Departement kepolisian.
"Pak! Aku berani bertaruh, Natsu tidak pernah melakukan kesalahan seperti itu karena aku selalu satu team dengannya dan-" Gray sedang mencoba membela Natsu.
"Graaaay! Kau diam saja, ini masalahku!" bentak Natsu yang sedang memotong pembicaraan Gray.
"Natsu, k-kau..." Gray terkejut melihat wajah Natsu yang penuh dengan kemarahan.
"Baiklah Pak Gildarts, ini kesalahan pertamaku yang telah melakukan salah sasaran tembak. Aku menerima konsekuensinya..." kata Natsu dalam keadaan suasana hatinya yang dingin. Ia terpaksa harus menanggung segala resikonya.
'Sepertinya tadi Teroris itulah yang telah mengambil Pistolku setelah dia memukulku hingga aku pingsan, lalu dia membunuh wanita yang sedang aku selamatkan tadi dengan pistolku dan kemudian dia mengembalikan pistol miliku ini ke tanganku. Mungkin Teroris yang telah bunuh diri itu sedang mentertawakanku di alam sana, karena untuk saat ini membela diri pun percuma karena aku tidak memiliki bukti apa-apa...' gumam Natsu yang sedang tidak berdaya.
"Dragneel, maafkan aku. Aku hanya menjalankan tugas..." kata salah satu Polisi sambil memborgol kedua tangan Natsu, lalu membawanya masuk ke dalam Mobil Polisi.
"Kau tidak perlu minta maaf padaku Steve. Dan sebagai gantinya, bawakan aku jamuan perayaan untuk keberhasilan Departement kita ini jika aku berada di dalam Sel...hihihi..." kata Natsu yang sedang menutupi rasa kecewanya.
"Baiklah, nanti aku juga mengajak Gray..." ucap polisi bernama Steve itu.
Setelah kejadian itu Natsu di tahan dan di masukan ke dalam sel penjara SAPD Coporation. Benar-benar terasa aneh untuk dirinya di penjarakan di Departement tempat kerjanya sendiri selama setengah tahun. Begitu juga dengan gelar CT (Counter Terorist) yang dimilikinya telah di cabut sementara oleh pihak UMO (persatuan organisasi militer) hingga mereka menambahkan gelarnya menjadi exCT.
.
.
11.30 AM, Los Angeles City – SAPD Coporation.
"..." Natsu perlahan membuka matanya setelah bermimpi tentang masa lalu dua tahun silam.
'Akhir-akhir ini aku sering bermimpi tentang masa laluku yang suram itu. Padahal aku ingin melupakan segalanya. Ah sudahlah, lagi pula semua itu tidak mengganggu fikiranku. Dan yang jelas aku selalu mendoakan wanita lansia yang terbunuh itu agar dia bisa tenang di alam sana...'batin Natsu sambil membangunkan tubuhnya dan duduk kembali.
"Kau mimpi apa? Tidurmu itu terlalu lama tahu..." ucap dengan nada dingin Gray yang sedang jengkel, ia masih dalam keadaan sedang mengintai sudut-sudut kota Los Angeles.
"Hwaaa~" Natsu menguap sambil meregangka tubuhnya.
"Hihihi~, yang jelas mimpiku tadi benar-benar sangat indah..." kata Natsu yang sedang membalasnya dengan wajah keceriaan.
"Baiklah, terserah kau saja. Oh ya, apa kau sudah mendengar dua orang yang akan dimutasi menjadi anggota SWAT di Departement kita?" tanya Gray mengalihkan topik pembicaraan.
"Iya, aku sudah mendengarnya dari Pak Gildarts. Tapi aku belum bertemu dengan mereka berdua. Aku dengar salah satunya anggota SWAT Kelas S dengan pembaharuan ID : RCN-05-19-19116403-S, dan yang satunya lagi anggota SWAT Kelas A dengan pembaharuan ID : RCN-10-12-19116403-A. Itu saja yang aku tahu..." ucap Natsu.
"RCN? Aku kira mereka menyandang gelar CT seperti kita berdua..." kata Gray.
"Eh?! Jadi kau tidak mendengarkan semua penyampaian informasi dari Pak Gildarts? Payah sekali kau ini Gray..." kata Natsu dengan wajah ilfil.
"Kau juga tahu sendiri jika aku mendengar suara Pak Gildarts secara langsung mataku terasa ngantuk, jadi aku langsung tertidur dan tidak mendengarkannya secara tuntas..." kata Gray menunjukan wajah keseriusannya kepada Natsu.
"Benar-benar alasan yang tidak masuk akal..." kata Natsu menggerutu pelan, sebuah tanda keringat besar dibelakang kepalanya setelah melihat wajah keseriusan temannya yang satu itu.
"Baiklah, sekarang aku faham setelah mendengarkannya darimu. Jika mereka berdua menyandang gelar RCN, itu berarti mereka berdua adalah Recon. Yang aku tahu Recon itu terbagi ke dalam dua bagian dan masing-masing memiliki kemampuan yang berbeda. Yang pertama adalah Recon Shooter dan yang satunya lagi...Recon apa ya? Aku sedikit lupa..." ucap Gray dalam keadaan sedang berfikir.
"Kau benar, mungkin dua orang Recon yang akan di mutasikan ke Departement kita itu masing-masing memiliki kemampuan yang berbeda. Yang pertama adalah Recon Shooter, ia terkenal dengan kemampuan akurasi Sniper-nya untuk menembak target sangat menakutkan. Karena kemampuan jarak pandang seorang Recon yang satu itu di atas rata-rata dari pada kita semua Gray..." kata Natsu yang sedang menjelaskan kemampuan salah satu pasukan khusus itu.
.
.
11.35 AM, Los Angeles City – Broadway, US.
Dalam waktu yang bersamaan di kawasan Broadway, telah terjadi sebuah aktivitas kejahatan dimana dua orang perampok telah melakukan pencurian di satu toko perhiasan. Dua orang perampok itu saat ini sedang berpencar untuk mengalihkan perhatian para Polisi.
"Itu dia!" salah satu dari anggota kepolisian telah menemukan salah satu perampok yang sedang berlarian di sela-sela gedung.
'Duar!~'salah satu Polisi mencoba menembak bagian kaki si perampok itu dalam jarak 2km.
'Slep!~'"Akh!" teriak kesakitan si perampok itu disaat sebuah peluru tepat mengenai kakinya.
"Jangan bergerak!" ucap tegas Polisi lainnya yang tiba-tiba datang sambil menodongkan pistolnya.
"Sial!" ucap kesal si perampok itu disaat Polisi yang telah menembak bagian kakinya saat ini sedang memborgol kedua tangannya.
"Lapor Komandan! Salah satunya sudah kami tangkap!" ucap Polisi itu lewat Bolky talky miliknya.
"~Bagus! Sekarang kita hanya tinggal menangkap yang satunya lagi!~"
Komandan Polisi bersama para bawahannya yang lain sedang berlarian untuk mencari satu orang perampok lagi, namun mereka telah kehilangan jejaknya dan terhenti di perempatan kawasan Broadway.
"Sial! Kemana dia?!" ucap kesal salah satu anggotanya.
"RCN-10-12-19116403-A, kau dimana?"Sang Komandang Polisi sedang mencoba menghubungi seseorang lewat alat komunikasi Bolky talky.
"~Aku sedang berada di atas gedung US Bank Tower~"
"Kami butuh bantuanmu! Apa kau melihat kemana perampok itu pergi?"
"~Iya, aku melihatnya. Lokasinya berada di 615 South Broadway~"
"Itu lokasi LA. Teather, ayo kita kejar!" ucap Komandan Polisi untuk memerintah bawahannya.
"Siap Pak!"
"~Tunggu! Perampok perhiasan itu sepertinya membajak mobil seseorang~"
"Gawat! Kita tidak akan sempat mengejarnya!"ucap salah satu polisi bawahannya.
.
Di sisi lain, seorang Recon Shooter dengan pembaharuan ID : RCN-10-12-19116403-A saat ini masih mengintai keadaan kawasan Broadway dalam jarak 0.7 mile dari atas gedung US Bank Tower. Seragam SWAT yang sedang dipakainya masih sama seperti seragam SWAT pada umumnya, akan tetapi seorang Recon Shooter di bagian kepalanya selalu memakai tudung sehingga sebagian wajahnya tertutup oleh bayangan tudungnya. Kedua tangannya telah dilengkapi dengan sebuah Sniper yang menjadi senjata andalannya.
'Aku terlahir dengan kemampuan penglihatanku yang tidak biasa. Bukan semata-mata kerena penglihatanku bisa menjangkau jarak yang sangat jauh, melainkan aku bisa melihat wajah dan sifat sebagian orang yang penuh dengan kemunafikan...' batinnya.
"~Baiklah, mau bagaimana lagi? RCN-10-12-19116403-A, meskipun rasanya mustahil aku izinkan kau untuk menembak pencuri itu! Tapi kau harus ingat, peraturan SAPD Coporation dilarang membunuh meskipun orang itu penjahat. Kita hanya diwajibkan untuk melumpuhkannya saja! Apa kau mengerti?!~" sang Komandan Polisi sedang mencoba memperingatkannya.
"Serahkan semuanya padaku..." ucapnya dengan nada dingin.
'Bagiku tidak ada yang mustahil jika di awali dengan niat dan hati yang tulus...' batinnya disaat titik Scope itu mencoba mengunci targetnya menuju ke arah ban mobil yang telah dibajak si perampok itu. Salah satu jari telunjuknya sedang berancang-ancang untuk menekan sebuah pelatuk Sniper.
'Chieup!~'pelatuk Sniper telah ditekan bersamaan dengan sebuah peluru yang keluar dari ujung Sniper yang dilengkapi peredam suara itu. Peluru itu pun meluncur bergesekan dengan udara ke arah yang telah ditargetkan.
3 detik peluru meluncur ke arah ban mobil dalam jarak 0.6 mile.
2 detik peluru meluncur ke arah ban mobil dalam jarak 0.3 mile.
1 detik peluru meluncur ke arah ban mobil dalam jarak 0.1 mile.
'Buushhh!~' akhirnya peluru itu tepat sasaran dan mengenai ban mubilnya.
'Ckieet!~Ckiet!~Bruk!~'si perampok itu telah hilang kemudi dan mobilnya pun terhenti setelah menabrak salah satu tihang listrik yang ada di pinggir jalan.
"Sial! Kenapa ban mobilnya tiba-tiba meletus!" ucap kesal si perampok, ia tidak tahu bahwa dirinya sedang di incar oleh seorang Recon Shooter dari jarak 0.8 mile, lalu ia pun melarikan diri dan mencoba memasuki celah-celah kota.
'Seb!~Seb!~'datang lagidua buah peluru yang telah ditembakan kembali oleh Recon Shooter itu dari jarak 0.8 mile dan mengincar kedua betis si perampok.
"Akh!~" teriak si perampok itu yang tidak sempat memasuki celah-celah kota disaat kedua betis kakinya terkena luka tembak, lalu ia pun menjatuhkan diri karena sudah tidak bisa berjalan lagi dengan luka tembak dikakinya.
.
Sinar matahari mencoba untuk menerangi wajah seorang Recon Shooter itu, namun yang ada sinar matahari itu hanya menerangi senyuman kemenangan di bibir cantiknya yang begitu manis.
"Bingo..." satu kata darinya setelah menyelesaikan tugas dan pergi meninggalkan puncak US Bank Tower.
.
.
11.40 AM, Los Angeles City – SAPD Coporation.
Kembali ke dalam keadaan di atas gedung SAPD Coporation, dimana Natsu dan Gray masih berbincang-bincang masalah seorang Recon.
"Jika yang satunya Recon Shooter, Itu berarti Recon yang satunya lagi..." ucap Gray mencoba berfikir kembali namun masih tidak ingat jika melihat wajah datarnya.
"Seperti yang kau fikirkan Gray, yang satunya lagi adalah Ghost Recon..." kata Natsu dengan wajah yang penuh keyakinan.
"Ghost Recon?!" Gray terkejut mendengar nama seorang Recon yang telah dikatakan oleh Natsu. Saat ini ia sedang membayangkan hal yang tidak-tidak.
.
Suasana angker disekitar pemakaman Los Angeles, dimana Ghost Recon yang sedang terbayang oleh Gray itu adalah sesosok hantu memakai seragam SWAT keluar dari salah satu pemakaman pada pukul 01.00 AM.
"Sudah waktunya aku melakukan tugas~Hiiiii~Hiiii~" ucap dengan nada yang begitu menyeramkan dan angker. Hantu SWAT itu mulai berjalan dalam keadaan kaki yang melayang.
.
"Oii...oii...kenapa jalan fikiranmu mendadak bodoh seperti itu Gray?" kata Natsu menggerutu, disaat melihat wajah Gray begitu pucat dan berkeringat.
Beberapa saat setelah mereka berbincang-bincang.
'seb~seb~seb'debu-debu di atas gedung SAPD Coporation telah berterbangan memutar bersama angin disaat satu unit Helicopter tipe Mil Mi-17 Hip datang dan mendarat dihadapan mereka berdua.
'Clek'pintu Helicopter pun akhirnya terbuka. Munculah seorang pilot wanita cantik dengan gaya rambut pendek berwarna putih serta pakaian militer AF (Air Force/Angkatan Udara) berwarna abu-abu yang dirangkap rompi berwarna coklat melekat ditubuhnya.
"Gray, Natsu, lama tidak berjumpa...hmm..." sapa wanita itu setelah menghampiri mereka berdua.
ID : AF-25-01-19116403-A.
Name : Yukino Agria.
Age : 25 Year old.
Job : Air Force.
"あ、ゆきの。。。おげんきですか?(Ah, Yukino...bagaimana kabarmu?)" Natsu sedang berbicara dalam bahasa Jepang dengan Yukino.
"はい、げんきです。。。(Ya, aku baik-baik saja...)" balas Yukino memakai bahasa Jepang juga.
"Natsu, tolong beritahu aku bahasa Jepangnya 'Tolong pakai bahasa Inggris'..." bisik Gray di telinga Natsu.
"Pss...pss...pss..." Natsu membalas bisikannya.
"Ehem~" Gray sedang melegakan tenggorokannya.
"ゆきの、ぬぎってください!(Yukino, mohon untuk telanjang!)" ucap Gray berbicara bahasa Jepang dengan spontan, ia tidak tahu arti yang telah ia ucapkan.
"Heh?!" Yukino terkejut sambil memeluk tubuhnya sendiri, wajahnya langsung merah padam.
"Hmpf~" Natsu dengan wajah jahatnya menahan tawa puas dibelakang mereka berdua.
'PLAK!~PLAK!'suara tamparan keras yang bergeming dua kali.
Kembali ke suasana normal dimana mereka bertiga berbincang-bincang kembali menggunakan Bahasa Inggris.
"Baiklah Yukino, ada apa kau datang kemari?" tanya Natsu bersikap biasa disaat kedua bagian pipinya terdapat tanda tangan dari Yukino.
"Tadi pagi Pak Gildarts menghubungiku untuk datang kemari. Katanya satu unit pesawat Grumman F-14 Tomcat baru tadi pagi datang setelah beliau memesannya dua bulan kemarin. Aku datang kesini untuk melakukan uji coba untuk menerbangkan pesawat itu..." ucap Yukino dengan alasan kedatangannya.
"Eh?! Tomcat?! Pesawat macam apa itu?!" tanya Gray terkejut dan tidak tahu jenis pesawat yang satu itu. Dalam fikirannya hanya sedang terbayang sebuah pesawat berkulit manusia yang tercemar penyakit Tomcat (bintik-bintik).
"Gray, kau jangan lebay~, pesawat Grumman F-14 Tomcat itu tidak seburuk yang kau fikirkan. Aku sudah pernah melihatnya di garasi pesawat..." balas Natsu dengan nada bicaranya yang pelan, kedua bola mata datarnya melirik kesamping Gray.
"Aku belum pernah melihatnya karena terlalu sibuk dengan pekerjaanku, makanya aku tidak tahu..." kata Gray yang masih mempertahankan ekspresinya.
"Itu pesawat tempur buatan Amerika dengan laju maksimum 1.544 – 2.485 km/h, benar-benar pesawat tempur yang sangat cepat...hmm..." sambung Yukino sambil menjelaskannya kepada Gray.
"Baiklah, aku pergi dulu..." kata Yukino sambil melakukan おじぎ (membungkuk hormat ala Jepang) dihadapan mereka berdua. Ia pun bergegas masuk ke dalam pintu menuju tangga bawah.
Beberapa menit kemudian setelah Yukino menghilang dari hadapan mereka berdua.
'SHEEAANG!~'terdengar suara pesawat tempur Grumman F-14 Tomcat yang sedang melayang di udara dengan kecepatan penuh. Menukik berputar ke bawah dan ke atas untuk mencapai langit adalah gaya terbangnya, asap hitam hasil pembuangan bahan bakar menjadi ekor hingga membentuk sebuah tanda tangan yang bertuliskan Yukino.
"Ghahahaha! Kau yang terbaik Yukino!" teriak Natsu sambil tertawa riang disaat memandang ke arah langit yang sedang ditanda tangani oleh asap hitam dari pesawat tempur itu.
"Melihat wajahmu yang seperti itu, sepertinya kau masih menyukai Yukino..." kata Gray yang ikut menyaksikan atraksi terbang yang dilakukan oleh Yukino.
"Aku menyukainya karena selain cantik, dia itu wanita yang sangat ramah dan sopan...haha..." balas Natsu dengan tawa khasnya.
"Selama satu tahun kemarin kau sudah berusaha mencoba melamar Yukino tapi lamaranmu di tolak olehnya sebanyak dua kali. Dan sekarang kau mendapatkan tamparan keras sebanyak dua kali sekaligus dari Yukino. Aku benar-benar salut melihat wajahmu yang selalu tahan mental seperti itu..." sindir Gray.
"Baiklah, aku sudah menyerah dengan perasaanku terhadap Yukino. Tapi setidaknya aku masih bisa berteman dengannya..." kata Natsu dengan santai dan masih mempertahankan wajah tawa khasnya.
"Lalu apa pendapatmu tentang Lucy? Bukankah kita berdua sudah mengenalnya selama satu bulan ini?" tanya Gray.
"Hah? Apa kau menyukai Lucy?" tanya balik Natsu.
"A-aku~, M-maksudku, aku tidak menanyakan hal itu. Aku tanya 'bagaimana pendapatmu tentang Lucy?' Hmph...dasar..." ucap Gray dengan pertanyaan yang sama, wajahnya sedikit merona setelah Natsu melontarkan pertanyaan yang begitu mengejutkan.
"Entahlah, aku tidak pernah melihat seorang wanita dari sisi kecantikannya meski pun Lucy itu cantik. Lagi pula jika kita berdua baru mengenal Lucy selama satu bulan, itu sama halnya dengan belum mengenalnya secara keseluruhan..." kata Natsu tersenyum sambil menatap langit yang cerah.
"Dasar sok bijak..." umpat Gray dari belakang Natsu.
'Kenapa laki-laki Amerika yang satu ini begitu bodoh? Bukankah dia sendiri yang meminta pendapatku tentang Lucy?'batin Natsu yang masih membelakingin Gray, kedua pipinya mengembung jengkel.
.
.
01.00 PM, SAPD Coporation – Office Room.
Suasana di lantai dua yang luasnya (20m x 30m). Terpadat 12 ruang kantor dan masing-masing ruangan kantor itu telah terisi oleh para pegawai yang sedang sibuk bekerja di SAPD Coporation. Sebagian pegawai sedang berjalan kesana-kemari disekitar koridor hanya untuk bertukar sebuah Dokument.
Lucy Heartfilia, seorang wanita yang telah menyandang gelar Bechelor Art of Scince di Columbia University itu telah resmi bekerja di SAPD Coporation dan sudah bekerja dengan baik selama satu bulan penuh. Seuntai tali hitam telah mengkalung dibagian kerah lehernya untuk menggantung sebuah ID Card miliknya.
ID : JNS-12-08-19116403.
Name : Lucy Heartfilia, BSc.
Age : 24 Year old.
Job : PERS
Ruang kantor miliknya yang berukuran (3m x 3m) itu terletak di sebelah pojok kiri dan berada dekat dengan pintu keluar menuju Lift dan tangga. Sebuah jendela yang terpasang di dalam ruang kantornya membuat sebagian pemandangan kota Los Angeles bisa terlihat dari sana.
Wajah cantiknya yang penuh dengan keseriusan terpaku memandang sebuah layar monitor yang menampilkan sebuah Layout berita tentang kriminalitas. Begitu juga dengan jemari tangannya yang terus bergerak di atas Keyboard hanya untuk memuat kata-kata yang berisi informasi dan fakta dari Layout itu sendiri.
"Heartfilia, apa kau sedang sibuk?" tanya dengan tegas dari seorang laki-laki berusia 45 tahun yang menjabat sebagai Head Officer itu kepada Lucy yang sedang bekerja diruang kantornya. Gaya rambut coklatnya menggolep kebelakang dan bulu-bulu disekitar bibir maconya menambah nilai plus untuk dirinya lebih terlihat berwibawa dan berkarisma. Begitu juga pakaian formalnya berupa Jas coklat tua dengan bet nama 'Gildarts Clive' dibagian kanan dada dari Jas yang sedang dipakai oleh beliau terlihat begitu rapih dan sopan.
ID : DL-07-03-19116403-S.
Name : Gildarts Clive.
Age : 45 Year old.
Job : SAPD Head Officer.
"Tidak terlalu, memang ada apa Pak?" tanya Lucy menghentikan pekerjaannya sejenak.
"Permintaan dari VIP, kita perlu memprosesnya..." kata Gildarts sambil menyerahkan sebuah Map Hitam berisikan dokument penting itu ke tangan Lucy, lalu Gildarts pun mulai undur diri dari hadapannya karena sedang terburu-buru.
"Baik Pak!" kata Lucy dengan nada tegas sambil menerima map hitam yang telah diberikan oleh Gildarts.
"Heartfilia..." kata Gildarts yang sedang berhenti di depan pintu sambil menoleh dengan wajah keseriusannya ke arah Lucy.
"I-iya, Pak?!" Lucy langsung terkejut disaat melihat wajah Gildarts.
'Kenapa dia menjadi seserius itu?! Apa aku melakukan kesalahan?'batin Lucy yang sedikit ketakutan.
"Setelah satu bulan kau bekerja di Departement ini..." kata Gildarts yang masih mempertahankan wajah keseriusannya.
"I-iya, kenapa memangnya?~" Lucy semakin gugup, bulir keringat di dahinya pun muncul.
"Aku hanya ingin mengatakan, sosok seorang Guru TK yang ada pada dirimu jadi hilang...hihi..." Gildarts seketika menurunkan wajah keseriusannya menjadi tawa yang begitu menyeringai sambil menunjukan dua buah jari Piece-nya.
"Eh?!" rasa segan Lucy mendadak berubah menjadi jengkel.
.
Beralih ke arah lorong koridor dimana para pegawai sedang melihat Gildarts dengan wajah (BICH PLEASE Face Mode) mendadak keluar dari ruang kantor Lucy dan langsung melesat ke arah pintu keluar.
"Tolong tangkap Akagami no Shank (One Piece) berambut coklat itu! Harga buronannya yang sekarang 850.000.000,- Beli (mata uang One Piece)" teriak Lucy marah dengan wajah merah padam setelah muncul dari depan pintu ruang kantornya.
Para pegawai disekitarnya mulai bergemuruh.
"Mmpf...hahahaha..."
"Lucy kau jahat sekali...hahaha..."
"Iya, kau menyamakan wajah Direktur kita dengan salah satu tokoh anime bajak laut..."
"Lu-chan, ada apa?" tegur salah satu pegawai SAPD Coporation dari belakang Lucy. seorang wanita cantik bertubuh mungil dengan sebuah bando yang melingkar di atas kepala berambut birunya.
ID : IT-12-13-19116403.
Name : Levy McGarden, BSc.
Age : 24 Year old.
Job : Programmer.
"Levy-chan, tidak...aku tidak apa-apa...haha...haha..." kata Lucy sedang mencoba tersenyum sambil menahan emosi dihadapannya.
.
Kembali ke dalam ruang kantor Lucy Heartfilia yang sedikit gelap. Lucy yang sedang duduk di kursi dekat meja kerjanya mulai mulai membuka isi dokument yang berada di dalam map hitam yang telah diberikan oleh sang Direktur, begitu juga dengan Levy yang sedang berdiri di samping Lucy ikut melihat isi dari dokument itu sendiri.
"The Sancy Diamond?" kata Levy berwajah serius setelah melihat isi dokumenya.
"Begitu rupanya? Baiklah, aku yang menyelidikinya...hmm..." kata Lucy langsung tersenyum percaya diri dengan wajah yang serius setelah memeahami isi dokument permintaan VIP itu.
"Lu-chan, memang ada apa?" tanya Levy yang tidak mengerti tentang keseriusan di wajah Lucy.
.
.
.
01.00 PM, Los Angeles City – Down Town.
LA Down Town ada salah satu kota daratan rendah yang ada disekitar Los Angeles dan letaknya relatif jauh dari gedung SAPD Coporation. Natsu dalam keadaan hanya memakai kaos singlet abu-abu dan celana hitam SWAT-nya sedang berjalan dipinggir trotoar untuk menelusuri jalan pulang. Disaat dirinya masih berjalan di sebuah trotoar, sebuah mobil MAZDA melaju pelan dari arah yang berlawanan dan tiba-tiba berhenti setelah melewati Natsu.
'Clek'pintu mobil pun terbuka, seorang wanita cantik dengan wajah kesalnya pun akhirnya keluar dari mobil.
"..." pandangan Natsu tertuju kepadanya dalam jarak dua meter. Ia melihat sosok seorang wanita cantik berambut merah darah yang panjang dengan gaya poni rambutnya yang menyamping. Begitu juga tubuh idelannya yang pakaian Warp Dress dan kalung Liontin dilehernya membuat wanita itu sangat anggun.
"Kenapa mobilku tiba-tiba mendadak mogok seperti ini? Padahal tidak pernah terjadi sebelumnya..." ucap wanita cantik itu dengan suara Alto-nya yang pelan dan khas. wanita yang masih dalam keadaan kesal itu langsung membuka bagasi bagian depan mobil untuk melihat keadaan mesinnya.
"Tidak ada yang aneh dengan mesin mobilku ini..." ucap wanita itu lagi setelah memeriksa mesinnya.
"Ada apa Nona?" tanya Natsu setelah memutar arah jalan pulangnya untuk menghampiri wanita yang terlihat kesal itu.
"Ah?! Ano~, mobilku tiba-tiba mogok. Dan aku tidak tahu penyebabnya karena aku tidak begitu memahami mesin mobil..." kata wanita itu yang memberitahu permasalahannya kepada Natsu.
"Coba aku lihat...mmm~" Natsu membaringkan tubuhnya dan masuk ke dalam kolong mobil untuk memeriksa mesin bawahnya seperti yang dilakukan oleh para montir mobil.
"Kondisi mesin yang ada di bawah mobilnya baik-baik saja nona!" ucap Natsu dengan keras.
"Ita!" teriak Natsu seperti sedang kesakitan.
"Kau tidak apa-apa?" ucap wanita itu sedikit khawatir mendengar teriakan Natsu.
"Aku tidak apa-apa Nona...haha..." kata Natsu yang keluar dari kolong mobil.
"Eh?! Wajahmu..." ucap wanita itu sedang melihat wajah Natsu menjadi hitam dan kotor.
"Em? Ghaaa! Wajahku jelek sekali!" teriak Natsu setelah melihat wajahnya sendiri dari kaca spion mobil itu.
"Hmpf!~" wanita itu sedang menahan tawa kecilnya, gurat rona di wajah cantiknya timbul setelah memperhatikan tingkah laku Natsu.
"Yosh! Sepertinya masalah mobil mogok ini terletak pada bagian mesin depan...hihi.." kata Natsu, langsung memeriksa bagian depan mobil wanita itu.
'Jika dia sudah mengetahuinya, kenapa dia malah memeriksa mesin mobil bagian bawah? Benar-benar orang yang aneh...'batin wanita itu, sebuah tanda keringat dibelakang kepalanya muncul tiba-tiba disaat sedang mengamati tingkah laku Natsu yang terlihat seperit orang bodoh.
"Nona, apa kau punya sebotol air mineral?" tanya Natsu kepada wanita itu dengan wajah seriusnya sambil mengutak-ngatik mesin mobil bagian depan.
"Iya aku punya, tapi untuk apa?" tanya wanita, ia pun langsung mengambil sebotol air mineral yang diletakan disamping kursi mobil dan memberikannya kepada Natsu, disisi lain dirinya sedang bertanya-tanya tentang hubungan mesin mobil dengan air mineral.
"Terima kasih, sebenarnya aku haus...Gluk~Gluk~Gluk..." Natsu tiba-tiba meminum seteguk dari botol air mineral itu.
'Burr!' lalu Natsu menyemburkan air yang telah ia minum itu ke udara.
"Haaa~, segarnya~" kata Natsu berwajah bahagia disaat air yang disemburkan olehnya itu berbalik menghujani tubuhnya.
'Sebenarnya orang itu mengerti tentang mesin mobil tidak sih? Dia hanya terlihat sedang buang-buang waktu...'batin wanita itu lagi sedikit kesal, perasaannya semakin aneh setelah sekian lama memperhatikan tingkah laki-laki yang ada dihadapannya itu.
Setelah wanita itu terlihat bosam memperhatikannya, ia pun masuk kembali ke dalam mobil sambil menunggu bantuan yang lain dari pada mengandalkan seorang laki-laki yang terhalangi oleh tutup bagasi bagian depan mobilnya itu.
"Baiklah Nona, coba nyakalan mobilnya..." perintah Natsu setelah menutup bagasi mobilnya.
"Em?" wanita itu sedikit tidak mengerti tentang perintah sederhana yang keluar dari mulut Natsu itu. Wanita itu sedikit ragu karena laki-laki yang sedang berada di depannya itu terlihat tidak melakukan apa-apa.
"Kau jangan hanya bilang 'Em?' saja Nona, cepat nyalakan mobilnya..." perintah Natsu lagi dengan tatapan datarnya.
"I-iya, baiklah..." kata wanita itu sambil mengkontakan kembali kunci mobilnya.
'Chieesh!~BHUUM!~'akhirnya mobil itu pun kembali menyala setelah wanita itu memutar Starter-nya.
"Eh?! Kok bisa?" tanya wanita itu kaget disaat mobilnya kembali menyala normal.
"Jika mobilmu tidak bisa bicara maka kau jangan membiarkannya kehausan sepertiku tadi...hihi..." kata Natsu dengan tawa khasnya setelah menghampiri wanita yang sedang duduk dikursi kemudi mobil miliknya itu.
Jika menerawang mesin bagian depan mobil yang sudah ditutup, ternyata Natsu menuangkan air mineralnya ke dalam wadah untuk air radiator mesin mobil itu.
"Aku sarankan kau membeli Jus dibengkel terdekat untuk mobilmu ini...hmm..." saran Natsu yang mengatakan secara tidak langsung tentang 'Jus' adalah air radiator khusus untuk mobil.
"Iya, aku mengerti. Terima kasih sudah membantuku..." ucap wanita itu sambil membinarkan senyumannya kepada Natsu.
"Baiklah, aku pergi dulu. Bye~" kata Natsu langsung berjalan kembali melewati mobil milik wanita itu yang masih berlawanan arah dengannya.
"Siapa namamu?" tanya wanita itu sambil menoleh kebelakang disaat disaat Natsu masih berjalan membelakinganya dalam jarak 1.5 meter.
"Natsu Dragneel, kau bisa memanggilku Natsu jika kita berdua bertemu lagi..." kata Natsu yang ikut menoleh ke arah wanita itu dan memberikan senyuman khasnya.
"Aku Erza Scarlet, baiklah sampai bertemu lagi...hmm..." ucap wanita itu membalas senyumannya. Lalu menutup kaca pintu dan menjalankan kembali mobilnya yang sedang berlawanan arah dengan Natsu.
'Eh?! Erza Scarlet?! Jangan-jangan...'gumam Natsu dengan ekspresi wajahnya yang terkejut dan kembali menoleh ke belakang, dan seketika pula ia tersenyum penuh dengan kecurigaan dan keyakinan.
.
Di sisi lain untuk wanita cantik bernama Erza Scarlet yang sedang memacu Mobil MAZDA dengan dalam kecepatan 80 mph.
'Natsu Dragneel, jadi dia salah satu anggota SWAT dengan ID :exCT-14-04-19116403-A yang telah membunuh Ibuku dua tahun di US Tower Bank...hmm...' batinnya disaat sedang termenung dengan sisi gelap di wajahnya.
.
February, 03th 2016. CA, US.
10.00 AM, Airport – Immigration Office.
Suasana kantor imigrasi yang berada di Bandara Amerika Serikat, dimana para petugas keamaan berseragam biru dongker yang bekerja di kantor imigrasi itu telah mengisi masing-masing Loket antrian untuk mengurus banyak warga negara asing yang ingin berkunjung ke Amerika Serikat. Dan hari ini Lucy sedang menyamar menjadi salah satu petugas keamanan, ia sedang berada duduk di dalam Leket nomor lima dari sekian banyak Locket antrian.
'Setelah aku membawa surat rekomendasi dari Pak Gildarts, akhirnya aku telah diberikan izin oleh IHO untuk menyamar sebagai salah satu petugas keamanan di kantor imigrasi yang berada di Bandara ini. Banyak orang-orang dari warga negara asing sedang mengantri di depanku untuk mengurus masalah VISA dan Passport mereka...' batin Lucy disaat dirinya sedang berhadapan dengan beberapa warga negara asing yang sedang berjajar dalam antriannya.
"Selamat siang, mohon tunjukan Visa dan Passport anda..." pinta Lucy dengan nada bicara yang baku dan sopan kepada seorang wanita dari warga negara asing yang berada di antrian paling depan.
"Iya, silahkan..." jawab wanita dari warga negara asing itu sambil memberikan senyumannya kepada Lucy disaat sedang menyerahkan Visa dan Pasport miliknya.
"Gisella Hazna, warga negara Hungaria..." kata Lucy sambil melakuka sensor terhadap VISA dan Passport milik wanita dari warga negara asing itu.
"..." wanita dari Hungaria itu memberikan senyumannya lagi kepada Lucy.
"VISA anda telah terdaftar ke dalam kategori wisata, dengan alasan anda akan berlibur besok pagi ke Walldisney. Apakah anda pergi bersama keluarga yang lainnya?" tanya Lucy setelah melihat keterangan VISA milik wanita itu yang telah tampil di layar monitor.
"Suamiku sudah menunggu di sebuah hotel yang berada disekitar Walldisney..." balas kembali dengan senyuman dari wanita asal Hungaria itu kepada Lucy.
"Baiklah, semoga liburan anda menyenangkan..." kata Lucy setelah melakukan ACC dengan stemple yang ada di tangannya. Lalu menyerahkannya kembali VISA dan Passport itu kepada pemiliknya.
"Terima kasih..." kata wanita asal Hungaria itu, lalu ia pun pergi dari hadapan Lucy untuk melakukan preses selanjutnya.
'Sampai saat ini belum ada satu orang pun yang bisa aku curigai, tapi aku harus tetap fokus memperhatikan orang-orang dari negara asing yang sedang mengantri di hadapanku sekerang...' batinnya sambil memperhatikan wajah-wajah orang asing dari berbagai negara.
"Selamat siang, mohon tunjukan Visa dan Passport anda..." pinta Lucy dengan nada bicara yang baku dan sopan. Kali ini Lucy sedang berhadapan dengan laki-laki lansia dari warga negara asing.
"Silahkan..." ucapnya sambil menyerahkan VISA dan Passport.
"Dr. Laurente Leongard, warga negara Rusia..." kata Lucy sambil memproses VISA dan Passport-nya.
"Nona, sepertinya anda petugas keamanan yang baru di kantor imigrasi ini..." ucap basa-basi laki-laki warga negara Rusia itu kepada Lucy.
"Apakah ada masalah Dr. Lenogard?" tanya Lucy dengan santai tanpa memperhatikan wajah laki-laki itu karena masih melakukan proses terhadap VISA dan Passportnya.
"Tidak ada, hanya saja aku baru melihat petugas keamanan seperti anda..." ucapnya yang sedang memperhatikan wajah Lucy begitu terlihat idealist
"VISA yang anda gunakan saat ini anda telah terdaftar ke dalam kategori VISA kedokteran sebagai alasan kunjungan menghandiri konferensi para dokter ahli kimia..." kata Lucy sambil membaca keterangan VISA yang telah tampil pada layar monitornya.
"Aku akan menghadiri pertemuan dengan para dokter Amerika yang memiliki bidang yang sama denganku..." balas laki-laki itu, sesekali siku tanganya bertumpu di papan Loker sambil menopang dagunya sambil menunjukan wajah keyakinannya kepada Lucy.
"Dr. Leondard, di dalam VISA anda ini disebutkan bahwa anda juga sebagai konsultan kesehatan untuk perusahaan farmasi Actavis..." kata Lucy dengan wajah yang serius langsung berpaling melihat wajah laki-laki dari warga Rusia itu dan menghentikan sejenak proses VISA-nya.
"Iya, aku juga telah diberi tugas untuk bekerja sebagai konsultan kesehatan di perusahaan itu..." ucap laki-laki dari warga Rusia itu yang masih menunjukan wajah santainya kepada Lucy.
"Yang saya ingin tahu, kenapa tidak ada surat rekomendasi dari pihak WHO?" tanya Lucy, disisi lain ia sedang mencoba mendesak laki-laki yang masih berada dihadapannya itu.
"Aku hanya bekerja disana untuk beberapa bulan..." ucapnya, ia sadar bahwa Lucy sedang mendesak dirinya.
"Apa ada masalah?" tanya seorang wakil kepala kantor imigrasi yang tiba-tiba muncul dari belakang Lucy.
"Aku harap tidak Pak..." balas laki-laki itu kepadanya.
"Aku ingin melihat berkasnya..." kata wakil kepala kantor itu disaat pandangannya tertunju ke arah layar monitor yang ada di hadapan Lucy.
"Pak, saya belum selesai memeriksanya..." kata Lucy berbisik pelan kepada seorang wakil kepala kantor itu, ia menunjukan wajah kecurigaannya disaat sedang membelakangi laki-laki dari warga Rusia yang masih berdiri di depan Loket antrian.
"Heartfilia, bisa kita bicara sebentar?" bisiknya kepada Lucy dan langsung pindah ke belakang Loket antrian.
"Baik Pak..." Lucy pun pergi meninggalkan tempat duduknya sejenak dan pindah ke belakang Locket antrian untuk hanya untuk mengikuti langkah wakil kepala kantor imigrasi itu.
.
.
"Pak! Apa menurut anda tidak merasa aneh? Seorang Dokter ahli kimia yang ingin menghadiri pertemuan para dokter dalam bidang yang sama tiba-tiba melakukan pekerjaan sebagai konsultan kesehatan tanpa membawa surat rekomendasi dari pihak WHO..." kata Lucy dengan nada bicara yang pelan untuk mencoba meyakinkannya.
"Heartfilia, kau jangan menghambat seorang Dokter yang ingin melakukan pekerjaannya. Menurutku tidak ada yang aneh dengan pekerjaan sampingan seorang Dokter sebagai konsultan kesehatan untuk menambah penghasilannya. Salah satu petugas keamanan yang lain sudah memeriksa tentang identitas Dokter dari warga negara Rusia itu dan tidak ada masalah..." wakil kepala kantor itu malah berbalik menasehati Lucy.
"Saya hanya ingin memastikan kembali identitas Dokter ahli kimia itu dan-" Lucy pun menyangkalnya dan mencoba memasuki ruang Loker antrian kembali.
"Heartfilia, aku tahu kau adalah salah satu orang penting di SAPD Coporation jika Gildarts selaku Head Officer telah memberikan surat rekomendasinya padamu..." ucap wakil kepala kantor imigrasi itu yang sedang kesal dengan sikap Lucy.
"Saya disini bukan sedang berlibur..." kata Lucy sambil menatapnya dengan tajam.
"Meski pun mengajuannya hanya sedikit kita harus cepat memprosesnya. Lihatlah gara-gara perbuatanmu, semua orang dari warga negara asing itu sudah mengantri terlalu lama. Jika sebagian orang yang sedang mengantri itu hanya melakukan transit mereka akan ketinggalan jadwal penerbangan mereka selanjutnya. Dan aku yang harus mengurus keluhan-keluhan mereka, apa kau mengerti? Kecuali kau ingin merasakan kemarahan dari pihak Kedutaan Besar Rusia yang berada di Amerika..." ucap peringatan wakil kepala kantor imigrasi itu sedikit kasar kepada Lucy.
"Aku hanya melakukan pekerjaanku..." kata Lucy dengan santai dan pergi dari hadapan wakil kepala kantor itu, di sisi lain wajahya terlihat kesal disaat memasuki kembali ruang Locker antrian.
.
.
Lucy kembali duduk di kursi ruang Loket antrian untuk melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda. Lalu ia pun langsung menyelesaikan proses VISA milik laki-laki dari warga Rusia itu dengan cepat.
"Maaf telah membuat anda menunggu. Semoga pekerjaan anda menyenangkan..." kata Lucy sambil menyerahkan kembali VISA dan Passport itu kepada pemiliknya setelah melakukan ACC dengan sebuah cap Stemple.
"Terima kasih, nona Heartfilia..." ucapnya sambil membaca bet tanda pengenal yang menempel dibagian dada seragam biru dongker yang sedang dipakai oleh Lucy.
.
.
.
04.00 PM, Airport.
Lucy pun keluar dari pintu utama kantor imigrasi setelah menyelesaikan pekerjaan samarannya sebagai salah satu petugas keamanan di kantor itu. Ia masih mempertahankan wajah kekecewaannya disaat sedang berjalan menghampiri jalan raya hanya untuk menghentikan sebuah mobil Taxi, namun masih belum ada satu pun mobil Taxi yang melewatinya.
"Apa yang terjadi dengan wajah cantikmu yang tiba-tiba menjadi kesal seperti itu?" tegur seseorang laki-laki dengan gaya rambut Raven yang sedang bersandar di tiang listrik dekat jalan raya dan tidak jauh berada disamping Lucy.
"Gray, kau rupanya. Tidak, aku tidak apa-apa..." kata Lucy dengan nada dinginnya.
"Tidak mungkin ada orang yang mengatakan 'tidak apa-apa' dengan wajah kesal seperti itu..." sindir Gray sambil melirik ke arah lain disaat sedang berhadapan cukup dekat dengan Lucy yang masih terlihat kesal itu.
"Lalu apa yang harus aku lakukan dengan wajah kesalku ini?" tanya Lucy.
"Ini, ambilah..." Gray melemparkan sebuah es kirim (sejenis Conello) yang masih dingin.
"Gray, aku bukan anak kecil..." ucap Lucy sambil menyudutkan pandangannya setelah menangkap es krim yang melayang ke arahnya.
"Tidak ada keterangan untuk batasan umur dari bungkus es krim itu..." balas Gray sambil membukan tutup es krim miliknya yang sama dengan Lucy.
"..." Lucy hanya diam dengan rona di wajahnya muncul secara tiba-tiba disaat masih memperhatikan wajah tampan Gray yang begitu kalem dan santai. Lalu ia pun membuka tutup es krim yang ada di tangannya itu.
"Oh ya Lucy, kenapa kau malah menyamar sebagai salah satu petugas keamanan di kantor imigrasi? Bukankah malam ini kau mendapatkan perintah dari Pak Gildarts untuk menghadiri pameran berlian yang di akan di LA Museum? Dan aku dengar seorang pengusaha besar akan melakukan pelelangan di LA Museum itu untuk salah satu berlian termahal di dunia yang bernama The Sancy Diamond. Yang membuat Pak Gildarts khawatir adalah akan ada seseorang yang melakukan kejahatan dalam kesempatannya untuk mencuri berlian itu.." kata Gray sambil berjalan beberapa langkah untuk mendekati Lucy.
"Kau tahu sendiri bukan? Pastinya akan hadir beberapa orang dari warga negara asing yang ingin ikut serta untuk menawarkan harga yang pantas untuk salah satu berlian termahal di dunia yang bernama The Sancy Diamond itu. Makanya aku harus bergerak cepat untuk melakukan penyelidikan sebuah data identitas beberapa warga negara asing yang tersaring di kantor imigrasi di negara kita ini. Bukankah itu lebih efektif?" kata Lucy yang menjelaskan tujuan penyamarannya kepada Gray.
'Begitu rupanya? Dia telah melakukan penyelidikannya sejauh ini, bahkan orang lain pun tidak bisa melakukan apa yang sedang dilakukan olehnya saat ini. Dia benar-benar wanita yang sangat hebat...' batin Gray sedang terkagum kepada Lucy.
"Baiklah, aku mengerti. Lalu, berapa banyak informasi yang kau dapat dari hasil penyelidikanmu Lucy?" tanya Gray dengan wajah yang serius.
"Sedikit, bahkan aku hampir tidak menemukan informasi untuk orang-orang dari warga negara asing yang akan kita curigai nantinya. Karena pekerjaanku terhambat oleh seorang wakil kepala kantor imigriasi. Menurutnya cara kerjaku ini telah menghambat mereka para warga negara asing yang akan masuk ke negara kita..." kata Lucy dengan wajah kecewanya yang kembali muncul setelah memberitahu informasinya kepada Gray.
"..." Lucy menghentikan pembicaraannya sejenak.
'Plek'Lucy perlahan bersandar di pundak Gray untuk menutup wajah prustasinya.
"Gray, aku harus bagaimana? Pekerjaanku yang melelahkan ini hanya menghasilkan informasi yang sia-sia..." keluh Lucy.
"Lucy, bicara apa kau ini? Menurutku kau telah melakukan tugasmu dengan sangat baik, untuk sisanya serahkan semuanya padaku dan Natsu..." kata Gray sambil meletakan telapak tangannya di atas kepala Lucy.
"Iya, terima kasih..." kata Lucy berbicara pelan.
.
.
.
08.00 PM, Los Angeles City – LA Museum's Hall.
Suasana malam hari di Aula dalam gedung LA Museum yang telah di hiasi dengan banyak meja untuk para tamu yang ikut berpartisipasi sebagai peserta lelang. Banyak orang yang sedang memakai pakaian formal, dimana para lelaki telah memakai Jas hitam dan para wanita memakai gaun. Sebagian dari mereka ada yang duduk berpasangan, dan ada pula yang sedang melihat-lihat berbagai lukisan mahal yang menghiasi seluruh dinding Aula. Salah satu di antara mereka yang ikut menghadiri pameran itu adalah Lucy yang telah berpakaian formal dengan gaun merah yang di pakainya.
'Sesuai janjiku kepada Pak Gildarts untuk melakukan tugasku yang sebenarnya. Saat ini banyak sekali orang-orang yang ikut menjadi peserta lelang. Melihat cara mereka berpakaiansepertinya mereka adalah orang-orang yang sangat kaya. Sampai saat ini mereka masih menunggu untuk melihat salah satu berlian termahal di dunia yang bernama The Sancy Diamond...'batin Lucy sambil melihat-lihat beberapa lukisan, dan secara tidak langsung ia juga sedang memperhatikan banyak orang termasuk warga asing yang ikut perpartisipasi di dalamnya. Lalu ia pun menghampiri salah satu meja yang masih kosong dan mengambil tempat duduknya.
"Suasana pameran akan lebih berkelas jika anda menikmati segelas Wiskey, nona Heartfilia..." sapa dari salah satu pelayan laki-laki berambut salmon merah muda dengan pakian pelayan formalnya disaat sedang membawa dua botol Wiskey di atas baki di tangan kanannya, begitu juga dengan selembar serbet putih yang mengait di tangan kirinya.
"Natsu! Haha~, kenapa kau berpakaian seperti itu?" tanya Lucy sambil menunjukan tawa riangnya.
"Bukankah sebelumnya aku sudah pernah bilang padamu? Aku ini tipe orang yang selalu melakukan Hobby yang lain..." kata Natsu dengan sikapnya yang sempurna sambil menuangkan segelas Wiskey untuk Lucy, lalu gelas yang berisi Wiskey itu ia letakan di atas meja yang sedang di tempati oleh Lucy.
"Aku kira Hobby-mu itu bekerja di pembangungan..." kata Lucy sambil menikmati segelas Wiskey yang telah diberikan oleh Natsu tadi.
"Tidak juga, aku selalu melakukan apa yang bisa kulakukan. Dan tidak pernah melakukan apa yang tidak bisa aku lakukan..." balas Natsu.
"Oh ya, apa Gray juga ada disini?" tanya Lucy.
"Entahlah, dari tadi aku tidak melihatnya, dan aku juga tidak tahu dia akan datang atau tidak. Aku datang kesini lebih awal karena tugasku sebagai pelayan pengantar minuman di pameran ini...hmm..." jawab Natsu sambil memberikan senyumannya kepada Lucy.
.
Time Skip...
.
"Kalian berdua disini rupanya..." sapa laki-laki yang ada di belakang mereka berdua, begitu juga pakaian formal hitamnya yang begitu rapih dengan gaya rambut hitam yang menggolep ke belakang.
"Gray?!" Lucy dan Natsu tercengang melihat penampilannya.
"Hmpf!~, Ghahaha! Aku baru melihat gaya rambutmu yang seperti itu..." kata Natsu yang sedang mentertawakan gaya rambut Gray yang telah disisir golep kebelakang.
"Hahaha...aku juga baru melihatnya..." kata Lucy dengan tawa kecilnya.
"Aku hanya mengikuti peraturan jika ingin mendatangi pameran ini..." balas Gray mendadak BT.
"Lucy, coba kau berdiri dan rentangkan tanganmu..." perintah Natsu sambil menuntun tangannya.
"Eh?! Kenapa?" tanya Lucy sambil berdiri, dengan polosnya ia pun merentangkan tangannya.
"Gray! Sekarang kau berdiri di belakang Lucy..." Natsu mendorong Gray ke belakang Lucy, lalu menuntun kedua tangan Gray untuk merah dua tangan Lucy yang sedang direntangkan itu.
"Oii...oii...kau-" Gray merasa risih dengan kelakukan Natsu.
"Posisi yang bagus! Sekarang kalian bayangkan sedang berada di ujung kapal pesiar yang besar sambil merasakan angin...hahaha..." kata Natsu dengan tawa riangnya.
Sebagian orang di dalam Aula sedang memperhatikan aksi yang dilakukan Lucy dan Gray.
"Wah! Coba lihat, mereka berdua sedang menjadi Jack Dawson dan Rose Dewiit Bukater..."
"Hahaha, maksudmu tokoh yang ada di film Titanic itu?
"Iya, hahaa..."
"Eh?! N-Natsu, kau telah mempermalukanku..." ucap Lucy sedikit geram terhadap Natsu sambil menurunkan kedua tangannya.
"Aku hanya bercanda...hahaha...Baiklah, aku akan menawarkan Wiskey ke yang lainnya. Permisi..." Natsu pun pergi dari hadapan mereka berdua untuk melayani tamu yang lainnya.
"Hmph~, terkadang si bodoh itu selalu melakukan hal-hal yang tidak wajar..." ucap Gray menggerutu pelan setelah menghela nafasnya.
"Mungkin Natsu melakukan hal seperti itu gara-gara gaya rambutmu yang seperti ini Gray..." kata Lucy sambil mengacak-ngacak rambut Gray.
"L-Lucy, apa yang kau lakukan?! Aku sudah susah payah merapihkan rambutku..." kata Gray yang akhirnya kembali dengan model rambut Ravennya seperti semula.
"Baiklah semuanya! Maaf membuat kalian menunggu! Karena acara pelelangannya pukul 09.00 PM, mari kita isi waktu yang luang ini untuk melakukan pesta dansa berpasangan!" ucap seorang MC dalam acara pelelangan itu, lalu ia pun memutar salah satu Music Classic.
"Wah! Instrument Classic yang sangat indah..." kata Lucy terkagum mendengarkan kemewahan dari Music Classic berkelas yang menggema di seluruh ruangan Aula.
Mereka para tamu pun akhirnya mulai melakukan dansa berpasangan untuk mengisi waktu luangnya.
"Sall we dance?" tanya Gray sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah Lucy.
"I'd Love to..." Lucy pun menerima tawaran Gray untuk berdansa.
Mereka berdua pun akhirnya melakukan dansa mengikuti alunan Instrument Music Classic yang sedang bergema di dalam Aula itu.
.
Di sisi lain untuk Natsu yang telah selesai melayani beberapa tamu yang hadir, ia pun meletakan dua botol Wiskey yang ada di tangannya di atas meja yang berada dekat di sampingnya.
"Wah! Mereka semua saling berpasangan..." kata Natsu sambil memperhatikan beberapa pasangan yang sedang melakukan dansa. Termasuk Gray dan Lucy yang sedang berdansa di tengah-tengah para tamu yang sedang melakukan dansa pula.
"Kau disini rupanya, Natsu Dragneel..." tegur seorang wanita berambut merah dengan gaun biru langitnya yang tiba-tiba sudah berada di samping Natsu.
"Oh, Erza Scarlet. Maaf tadi aku tidak menyadari keberadaanmu..." balas Natsu sambil memberikan senyuman khas miliknya kepada wanita yang bernama Erza Scarlet yang berada disampingnya itu.
"Jangan terlalu difikirkan. Oh ya, kau tidak ikut berdansa bersama yang lainnya?" tanya Erza.
"Bagaimana aku mengatakannya ya? Disini aku hanya bertugas untuk melayani para tamu..." jawab Natsu.
"Oh Begitu? Lalu bagaimana jika seorang tamu yang menghadiri acara ini tiba-tiba meminta pelayananmu untuk melakukan dansa?" tanya Erza lagi.
"Jika memang ada, maka dengan senang hati aku akan melayani permintaannya...hmm..." balas Natsu sambil menunjukan wajah percaya dirinya kepada Erza.
"Kalau begitu tunggu apa lagi? Kau jangan membuat tamu yang ada di hadapanmu ini terlalu lama menunggu, tuan pelayan..." balas Erza.
"Baiklah kalau begitu, shall we dance?" kata Natsu sambil memberikan telapak tangannya kepada Erza.
"I'd Love to..." Erza pun menerimanya.
Akhirnya mereka berdua pun pergi ke tengah-tengah Aula dan ikut melakukan dansa berpasangan. Sambil melakukan dansa mereka berdua mulai melakukan percakapan ringannya.
"Caramu berdansa tidak buruk, Tuan Pelayan...hmm..." kata Erza disaat tangan kanannya bertopang di pundak Natsu dan tangan kirinya sedang di genggam oleh Natsu.
"Aku hanya sedang memberikan pelayanan yang terbaik untuk seorang tamu wanita yang satu ini, Nona Scarlet..." balas Natsu disaat tangan kirinya sedang bertopang bagian pinggang lawan dansanya.
"Malam ini kau terlihat sangat berbeda, waktu kemarin ketika kau memperbaiki mobilku sikapmu tidak seperti yang sekarang..." balas Erza dengan nada bicara yang idealis.
"Benarkah? Tapi setidaknya aku masih mempertahankan jati diriku, dan lagi aku bukanlah tipe orang yang suka melakukan 'penyamaran'..." balas lagi Natsu, disisi lain perasaannya penuh dengan kecurigaan terhadap wanita yang sedang berdansa dengannya itu.
"Lucu sekali cara bicaramu itu Natsu Dragneel, kau berbicara soal 'penyamaran' tapi kau sendiri sebagai salah satu anggota SWAT dari SAPD Coporation malah menyamar dengan pakaian pelayan yang sedang kau pakai ini..." kata Erza sambil menelusuri leher Natsu dengan telunjuknya. Begitu juga dengan bibir cantiknya begitu dekat dengan bibir Natsu seperti nyaris ingin berciuman.
"Baiklah, kau yang menang Nona Scarlet. Lebih baik kita berdua menikmati acara pesta dansa ini..." kata Natsu yang bibirnya sudah terlalu dekat beberapa mili dengan bibir Erza.
"Aku setuju...hmm..." kata Erza sambil membinarkan senyuman cantiknya.
.
Sudut pandang Lucy yang masih melakukan dansa dengan Gray, ia sedang memperhatikan Natsu saat ini sedang berdansa dengan wanita lain.
"Gray? Apa kau tahu wanita yang sedang bersama Natsu itu?" tanya Lucy yang penuh dengan rasa curiga.
"Sepertinya Natsu sedang menguji keberuntungan bodohnya..." balas Gray yang ikut memperhatikan mereka berdua.
"Apa maksudmu?" tanya lagi Lucy yang tidak mengerti tentang apa yang telah di ucapkan oleh Gray tadi.
"Nanti juga kau akan mengetahuinya..." jawab Gray sambil menunjukan wajah keyakinannya kepada Lucy.
Pandangan Lucy kembali melirik kesana-kemari hanya untuk mengamati beberapa orang tamu yang patut untuk ia curigai.
"Em?" perhatian Lucy tertuju ke arah pintu masuk Aula. Disana ada seorang wanita cantik berambut biru ikal yang panjangnya sebahu (Juvia) sedang bersandar di tembok dekat pintu masuk sambil melipat kedua tangannya, begitu juga dengan gaun biru tua yang sedang di pakai oleh wanita itu semakin mempercantik penampilannya.
"..." wantia yang sedang di perhatikan oleh Lucy itu langsung membalas tatapannya, seketika wanita itu pun pergi menuju pintu keluar dan meninggalkan Aula LA Museum.
"Gray maaf, aku ingin pergi dulu. Sebentar saja kok...hmm..." kata Lucy sambil melepaskan genggaman tangan Gray, lalu ia pun mengikuti kemana arah wanita berambut biru yang sedang dicurigai olehnya.
.
Lucy mencoba keluar dari pintu masuk, namun keberadaan wanita berambut biru ikal itu sudah hilang keberadaannya.
'Kemana dia? Apa dia menyadari keberadanku yang sedang mengikutinya?'batin Lucy disaat berada di sekitar halaman gedung sambil berpaling kesana-kemari.
"Baiklah sudah waktunya untuk puncak acara kita, anda semua pasti akan terkejut melihat salah satu benda berkilau termahal di dunia yang satu ini. Silahkan untuk para tamu duduk dan menyiapkan harga tawaran tertingginya..." terdengar suara seorang MC dari luar gedung yang telah membuka acara pelelangannya.
'Acaranya sudah di mulai...'gumam Lucy, ia pun berjalan kembali memasuk pintu Aula gedung LA Museum.
.
09.00 PM
Kembali ke dalam suasana tenang di dalam Aula LA Museum dimana para tamu yang sedang berpartisipasi sudah tidak sabar untuk menunggu salah satu benda akan di lelangkan di atas panggung.
"Kau dari mana saja Lucy?" tanya Gray dengan nada bicara yang pelan disaat Lucy muncul kembali di hadapannya.
"Gray, mungkin ini hanya firasatku. Tapi kita harus tetap waspada sebelum berlian yang bernama The Sancy Diamond itu dilelangkan. Oh ya, dimana Natsu?" bisik Lucy.
"Tadi setelah acara pesta dansa selesai Natsu langsung pergi bersama wanita yang telah berdansa dengannya tadi. Dan aku tidak tahu mereka berdua pergi kemana..."
.
"Ladies and Gengtlemen! Mari kita buka kain yang menutupi sebuah kota kaca ini dan kita lihat seperti apa bentuk rupa The Sancy Diamond. Kita hitung mundur sama-sama!"
"...1..."
"...2..."
"...3..."
Lampu yang ada di dalam Aula pun menjadi redup setelah MC itu membuka kainnya, dua buah lampu sorot tertuju ke arah kota kaca yang berisi sebongkah berlian berwarga kuning keemasan yang begitu mengkilap dan cantik.
"Wah! Jadi itu The Sancy Diamond?!"
"Hebat! Sepertinya berlian itu sangat mahal"
"Apa kau berani menawar harga mahal untuk berlian yang satu itu?"
"Entahlah, kita lihat situasinya saja..."
"The Sancy Diamond adalah salah satu berlian termahal di dunia yang konon katanya telah ditemukan di negara India pada abad ke-14. Berlian ini memiliki berat 55,23 carat (11,05 gram). Jadi siapakah yang pantas mendapatkan berlian termahal yang satu ini? Kami serahkan kepada nona-nona dan tuan-tuan untuk memberikan harga tawaran yang pantas! Silahkan..."
"$ 7.000.000,-!" seseorang telah membuka tawaran pertaman sambil mengangkat tangannya.
"$ 7.000.000,-! Tawaran dari tuan Albert! Harga yang cukup tinggi! Apakah ada lagi dari anda-anda semua yang berani menawar harga lebih tinggi dari tawaran tuan Albert?!"
"$ 12.000.000,-!"
"Owh! $ 12.000.000,-! Benar-benar harga yang tinggi dari tuan Emerson! Apakah ada tawaran yang lebih tinggi lagi dari tuan Emerson?!"
"Wah gawat! Padahal aku akan menawarnya dengan harga $ 7.500.000,-..."
"Baiklah aku menyerah!"
"Iya aku juga menyerah!"
.
Sudut pandang Lucy disaat sedang bersama Gray di belakang para peserta lelang yang sedang berperang tawar harga The Sancy Diamond.
"Gray, aku peringatkan padamu sekali lagi. Kau harus tetap waspada dan fokus memperhatikan di sekelilingmu. Karena firasatku sekarang benar-benar tidak enak..." kata Lucy dengan wajah seriusnya disaat kedua matanya tertuju fokus ke arah berlian itu.
"Baiklah Lucy, serahkan semuanya padaku..." Gray mulai berjaga-jaga sambil memasukan tangannya ke dalam Jas yang sedang ia pakai. Perlahan ia memegang sebuah pistol yang diletakan di saku bagian dalam dari Jas miliknya itu.
Beberapa saat kemudian Natsu pun akhirnya datang dan menghampiri mereka berdua.
"Natsu, kau dari mana saja?" tanya Lucy.
"Tadi aku sedang mengantar seseorang ke depan pintu gerbang, katanya dia ada keperluan mendadak sehingga dia harus meninggalkan acara ini..." kata Natsu dengan wajah santainya.
"Dia? Siapa?" tanya Gray.
"Wanita yang telah berdansa denganku tadi, namanya Erza Scarlet..." jawab Natsu.
'Srep'tiba-tiba semua lampu padam hingga seisi Aula menjadi gelap.
"Apa yang terjadi?!"
"Kenapa tiba-tiba lampunya padam?!"
'Duar!~'terdengar suara tembakan di dalam Aula yang masih gelap itu.
"Dari mana suara tembakan itu?!"
"Entahlah! Lebih baik kita keluar!"
"Tunggu! Jangan tinggalkan aku!"
Mereka para tamu pun semuanya berbondong-bongdong pergi keluar dari Aula itu.
"Gray?! Natsu?! Kalian berdua dimana?!" tanya Lucy yang sedang panik disaat masih berada di dalam Aula yang masih dalam keadaan gelap gulita.
"Aku disini Lucy, tetaplah berada di dekatku..." jawab Gray dalam keadaan siaga setelah mengeluarkan pistolnya, begitu juga dengan tanggung jawabnya untuk menjaga Lucy yang berada di dekatnya.
"Natsuuu?! Kau dimanaaa?!" teriak Lucy yang sedang memanggil Natsu, namun tidak ada jawaban sama sekali.
.
.
Natsu saat ini sedang berada di belakang Aula untuk melihat keadaan di pusat pembangkit listrik.
'Ada seseorang yang telah memutuskan kabelnya. Baiklah, aku akan menyambungkannya kembali...'batin Natsu, lalu ia pun bergerak cepat mematikan saklar arus listriknya. Lalu menyambungkan kembali kabel yang terputus itu dan menghidupkan kembali saklarnya.
.
.
Ruangan Aula pun kembali terang, The Sancy Diamond masih terpajang utuh di dalam kotak kaca dan masih berada di atas panggung. Namun telah terjadi sesuatu dimana seorang MC yang tadinya sedang membawakan acara pelelangan tiba-tiba terkapar di atas panggung.
"Gawat! Tolong panggil Ambulance! Dia terkena luka tembak di bagian bahunya!" kata Gray setelah menghampiri seorang MC yang masih terkapar di atas panggung itu.
"G-Gray, kita terlambat. Ada seseorang telah menukar The Sancy Diamond ini dengan yang palsu..." kata Lucy langsung terkejut disaat sedang memperhatikan berlian yang masih berada di dalam kotak kaca itu.
"Apa?! Bagaimana bisa? Bukankah kotak kacanya masih utuh?" balas Gray sambil memperhatikan berlian yang ada dihadapannya.
.
.
Natsu dengan wajah yang tergesa saat ini sedang berkeliaran di halaman gedung LA Museum.
'Aku yakin pelakunya masih disekitar sini. Tapi dimana dia?!' batinnya sambil memandang kesana-kemari, namun ia hanya beberapa orang yang sedang panik dan ketakutan. Lalu ia menghampiri gerbang keluar menuju jalan raya.
"Natsuuu!" teriak Lucy yang sedang berlarian bersama Gray dari belakang untuk menghampirinya.
"hosh...hosh...Natsu, apa kau menemukan orang yang mencuri berlian itu?" tanya Gray yang sedikit kelelahan setelah berlarian menghampirinya.
"Aku sedang mencarinya. Orang yang mencuri berlian itu harusnya masih di sekitar sini karena halaman LA Museum sangat luas..." kata Natsu.
"Kejadian ini benar-benar diluar perkiraan kita. Dengan mudahnya orang yang mencuri berlian itu melarikan diri begitu saja. Padahal aku melihat La Museum ini penjagaannya begitu ketat..." sambung Lucy yang sedang termenung.
"Melihat hasil rekaman CCTV dalam Aula pun percuma, karena tadi lampu seisi ruangan telah dipadamkan..." sambung Gray yang ikut termenung.
Apa yang terjadi pada malam ini membuat tiga orang dari SAPD Coporation itu kebingungan setengah mati.
"Kita berempat masih ada harapan untuk menangkap pelaku pencurian The Sancy Diamond itu..." tegur seseorang dari belakang mereka bertiga dengan nada bicara santainya yang sedikit misterius.
"Em?" mereka bertiga langsung menoleh ke belakang.
Terlihatlah seorang wanita berseragam SWAT yang kepalanya tertutup tudung kain tebal, sehingga hanya bisa melihat bagian bibir cantik di wajah wanita itu. Begitu juga dengan senjata andalannya yaitu sebuah Sniper telah melengkapi bagian punggunya.
"Jika dilihat dari seragam SWAT yang kau pakai itu, sepertinya kau adalah Recon Shooter..." ucap Natsu.
"Kau benar, aku seorang Recon Shooter. Kode pembaharuanku di SAPD Coporation adalah ID : RCN-10-12-19116403-A. Namaku Juvia Lockser, kalian boleh memanggilku Juvia...hmm..." ucap wanita itu setelah menyingkirkan tudung di kepalanya, terlihat sudah seluruh wajah cantiknya dengan gaya rambut panjang ikal berwarna biru.
ID : RCN-10-12-19116403-A.
Name : Juvia Lockser.
Age : 24 Year Old.
Job : SWAT Recon Shooter.
"Eh?! Bukankah kau itu orang yang aku kejar tadi?" tanya Lucy yang sempat mengenalinya.
"Sebenarnya Juvia juga mendapatkan tugas yang sama seperti kalian bertiga dari Pak Gildarts..." kata Juvia.
"Oh ya, sebenarnya apa yang akan kau rencanakan tentang kita berempat masih ada harapan untuk menangkap pelaku pencurian The Sancy Diamond itu? Juvia..." tanya Gray yang sedang bicara berbelit-belit.
"Heeeh~, cara bicaramu benar-benar sangat aneh Gray..." kata Lucy disaat tanda keringat dikepalanya tiba-tiba muncul.
"Baiklah, Juvia mengerti maksudnya. coba lihat ini..." Juvia langsung menunjukan layar gadged yang menampilkan sebuah peta Los Angeles, terdapat sebuah titik merah yang bergerak ke arah tujuannya.
"Haha! Juvia, kau benar-benar hebat..." kata Lucy dan langsung menangkap Juvia ke dalam pelukannya.
"hmm..." Juvia tersenyum.
"Apanya yang benar-benar hebat? Harusnya dari tadi kau menangkapnya..." kata Natsu dengan tatapan polosnya ke arah Juvia.
"Sebenarnya rencana Juvia adalah untuk mencari tahu, siapa dalang dibalik pencurian berlian termahal itu. Jika kita hanya menangkap orang yang mencuri berlian itu kita tidak akan mendapatkan informasi apa-apa. Apa kalian mengerti?" kata Juvia yang sedang memberitahu rencana matanya kepada mereka bertiga.
"Oh iya, benar juga...haha..." kata Natsu sambil tertawa, di sisi lain ia sedikit malu karena sempat meremehkan Juvia tadi.
"..." perasaan aneh yang dirasakan oleh Gray dan Lucy muncul begitu saja hingga tanda keringat di kepala mereka berdua pun akhirnya muncul.
"hmm..." Juvia hanya membinarkan senyumannya disaat melihat tingkah laku Natsu.
.
.
February, 04th 2016. CA, US.
08.00 AM, Los Angeles City – Gardena.
Di sisi lain seorang laki-laki berpakaian formal serba hitam dengan sebuah koper kecil warna abu-abu di tangannya sedang memasuki salah satu Apartement yang berada di wilayah Gardena, tempatnya masih satu kawasan dengan kota Los Angeles. Laki-laki itu berjalan menuruni tangga menuju bawah tanah. Ternyata di dalamnya sudah ada segerombolan Mafia yang sedang berkumpul meja besar di dalam ruang bawah tanah itu.
"Sepertinya misi pencurianmu itu berjalan dengan baik..." ucap pemimpin Mafia kepada laki-laki berpakaian hitam itu disaat wajahnya tertutup oleh sebuah bayangan sekitar ruang.
"Yah, seperti itulah...mungkin anda akan terkejut melihat benda berkilau yang satu ini, Tuan Leongard..." balasnya sambil membuka isi Koper abu-abu yang ada di tangannya itu hingga terlihatlah sebuah batu mulia berwarna kuning keemasan di dalamnya..
"Seperti yang kuharapkan, kau berhasil mencuri The Sancy Diamond. Benda berkilau berwarna kuning keemasan ini adalah salah satu berlian termahal di dunia, harganya mencapai $ 400.000.000,- bahkan lebih dari itu..." kata pemimpin itu yang akhirnya menunjukan wajahnya, ia adalah orang dari warga Rusia yang sempat di introgasi oleh Lucy ketika di kantor imigrasi.
"Aku mengetahui harga pasaran dunia untuk The Sancy Diamond itu..." ucap seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari arah pintu masuk yang di penuhi bayangan-bayangan gelap, lalu ia pun menunjukan wajahnya di hadapan mereka semua.
"Owh~Erza, akhirnya kau datang juga..." sambut pemimpin Mafia kepada wanita berambut merah itu yang sedang berjalan secara perlahan menghampiri meja hanya untuk melihat The Sancy Diamond yang masih di letakan di koper yang terbuka.
"Jika kalian ingin tahu, The Sancy Diamond ini harganya bisa mencapai lebih dari $ 700.000.000,-...hmm..." balas Erza dengan senyuman dinginnya kepada mereka semua setelah menghampiri salah satu batu mulia termahal di dunia itu.
"$ 700.000.000,- hanya untuk berlian yang beratnya beberapa gram seperti ini? Yang benar saja..."
"Iya, benar...rasanya tidak mungkin..."
"$ 400.000.000,- menurutku sudah terlalu mahal..."
"Itu terserah kalian mau percaya atau tidak. Dan yang jelas harga yang telah aku sebutkan tadi adalah harga pasar gelap..." ucap Erza yang sedang meyakinkan para Mafia itu.
Siapakah sebenarnya wanita yang bernama Erza Scarlet itu? Mungkin itu adalah pertanyaan yang terlontar untuk orang yang baru mengenal sebagian tentang dirinya. Jika mengenan wanita itu secara keseluruhan, dia terlihat seperti salah satu orang di balik dalang dari kasus pencurian The Sancy Diamond.
.
.
=To be Continue=
Di luar perkiraan Author sendiri...
Jumlah word-nya kelebihan... X(
