Chapter 5:
Breath. Just Breath.
Aku melihat banyak orang berlalu-lalang. Aku tidak kenal mereka, dan mereka pun tampak seolah tidak menyadari kehadiranku juga. Aku menoleh ke kiri, dan ke kanan, mencari tahu dimanakah diriku sekarang ini, tapi yang kudapati malah, aku terebah dan terikat diatas sesuatu yang datar dan keras, dengan kedua tangan saling terikat melintang horizontal di sisi-sisi tubuhku. Kucoba mengepalkan kedua tanganku—berhasil—tapi untuk mencoba memeriksa tubuh bagian bawahku, aku tidak bisa melakukannya. Seramnya, aku bahkan tidak bisa melihat apapun dibawahku, dan jarak pandang paling mentok yang bisa aku lihat adalah ujung kaki orang-orang berbaju setelan terusan berwarna jingga menyala yang berlalu-lalang tanpa peduli di hadapanku.
Dan tiba-tiba, entah kenapa aku jadi teringat pada sesuatu. Aku tidak bisa mengingat secara spesifik, tapi...
...ah, ya. Serangga. Aku pernah melakukan sesuatu terhadap seekor serangga yang kuletakkan diatas sebuah papan besi, dan... mem..bedah...nya? Tunggu, berarti... bukankah posisiku sekarang ini, mirip seperti itu juga? Pembedahan tubuh. Aku dan sang serangga yang dulu pernah kubedah sama sekali tidak jauh berbeda, ya, kan? Ya, ya. Aku ingat betul bagaimana aku melakukannya, serta kenapa aku melakukannya. Organ-organnya harus dikeluarkan, tentu saja. Organ-organ bagian dalam, cari tempat yang tepat. Tempat yang tepat! Jangan... jangan mengacaukan keteraturan urat-urat yang ada. Perhatikan baik-baik, dan kerjakan dengan teliti, nak!
Potong... yang.. rapi. Dan halus. Dan harus... profesional.
Suara-suara itu...
...Tidak.
Aku... tidak ingin merasakannya. Aku... aku tidak ingin dibedah.
Aku menunggu dalam antisipasi. Tapi, tidak ada tanda-tanda apapun tentang hal itu—seseorang yang memegang alat tajam untuk bersiap melakukannya. Apa... apa aku hanya terlalu banyak berpikir? Hahah. Yah, mungkin saja. Ini... ini konyol sekali...
"Selamat datang di Brazil. Apa anda sudah bangun, tuan?"
Aku terkesiap dan nyaris tersedak air ludahku sendiri ketika mendengar sebuah suara tahu-tahu menghantam gendang telingaku—arahnya dari sebelah kanan. Dan saat aku mendongak, aku harus susah payah menelan ludahku bulat-bulat, seolah aku baru saja menelan sebuah batu solid, karena di hadapanku telah berdiri... seseorang yang tidak bisa kulihat. Dan kata-kata itu, kata-kata yang pernah aku dengar atau yang pernah diajarkan seseorang, dulu, kepadaku, meluncur begitu saja di dalam benakku.
Seperti menyelam dengan mata terbuka di air penuh buih, dan mencoba berenang menembus ombak pasang naik. Seperti menengadah ke atas saat hujan, untuk memastikan apakah langit baik-baik saja karena kau merasa senang—kau tidak sendirian di dalam keterpurukan—langit pun menangis. Seperti mengaduk air kubangan setelahnya, sereda hujan. Setara melihat embun diatas daun talas. Seimbang dengan pantulan cahaya lampu lalu lintas di atas bulir-bulir air yang ada di permukaan tubuh mobil.
Orang itu ada di hadapanku, aku bisa meraskannya. Aku bisa merasakannya.
...dan aku tidak bisa melihatnya.
Mengerjapkan mata selama beberapa kali dengan cepat bahkan tidak membantuku. Malah itu membuat keadaan di sekelilingku jadi begetar tak terkendali untuk beberapa saat, sehingga aku harus dengan susah payah menarik napas secara otomatis untuk bisa menenangkan diri, karena tiba-tiba saja kepalaku perlahan mulai terasa berat. Dan aku mendengar suara-suara itu lagi.
"Dia bangun?"
"Ah, ya... padahal yang lain belum selesai."
"Kau seharusnya sedang tidur sekarang, bocah. Lanjutkan permainannya. Banyak yang bertaruh untukmu."
Dan dengan kalimat terakhir itu, yang terdengar paling jelas di telingaku, sedetik kemudian tahu-tahu aku merasa tanganku mendadak kesemutan—tangan kiriku. Lalu dunia kembali berputar, semakin lama semakin cepat, hingga akhirnya aku tidak sanggup lagi untuk bisa berpikir lagi, sebuah sistem rahasia di dalam otakku—otak manusia pada umumnya, secara otomatis memerintahkan diri untuk berhenti berfungsi.
Dunia menjadi gelap dan terang secara beruntun, hingga akhirnya berakhir pada kelabu. Apa aku sedang menengadah ke langit mendung, sekarang?
"—ax? Max! Maxime! Hey, Changmin!"
Ketika dunia kembali menjadi normal dalam sekali hentakan, aku pikir aku akan langsung muntah. Tapi tidak. Dan satu-satunya yang berhasil menyambutku adalah suara Yunho—sementara sosoknya sudah berdiri beberapa meter di depanku dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca.
Dan... yeah. Rupanya aku sungguhan sedang menengadah ke langit untuk beberapa saat tadi. Tapi... apa-apaan yang tadi itu?
"Hey, apa ada yang salah?"
Lagi-lagi aku disadarkan kembali oleh suara Yunho, dan aku pun sadar kalau dia tengah memandangi tanganku yang secara tidak sadar telah aku letakkan di atas kepalaku untuk mengusap-usap rambutku sendiri—refleks menenangkan diri, sepertinya.
"Apanya yang salah?" balasku, yang sejujurnya sungguhan bingung secara keseluruhan.
Yunho menautkan kedua alisnya, "Kau bersikap agak... aneh tadi." Jawabnya sekenanya.
"Oh ya?" gumamku, merasa malu sendiri. "Aku... tidak... apa-apa. Hanya..."
Tunggu... apa— Memangnya, apa yang terjadi padaku barusan?
"Aku... tidak... aku tidak ingat," jawabku lambat-lambat. Tidak yakin. Aku memandang Yunho, bingung. "Memangnya apa yang kulakukan tadi?" tanyaku akhirnya.
"Kau tiba-tiba jadi pendiam. Tidak menjawab perkataanku, atau bahkan tidak menyahut ketika kupanggil." Ujar Yunho datar tanpa ekspresi. Dan untuk beberapa lama, kami hanya dapat saling lihat-lihatan dalam diam—aku tidak tahu harus berkata apa. Namun, lewat pandangannya, aku yakin Yunho masih menuntut jawaban, walaupun tidak secara frontal ia paparkan. Dia terlihat... penasaran dan khawatir, menurutku.
"Ah, aku pasti terlalu banyak berpikir, sampai tidak menyadari keadaan sekitar." Jawabku dengan akting senormal mungkin, dengan kemampuan terbaikku,—berharap Yunho tidak menyadari betapa aku juga tidak tahu sama sekali atas apa yang terjadi.
Yunho tetap terdiam, dan aku mau tak mau harus dengan sigap kembali mengumpulkan segenap jiwaku untuk kembali fokus pada apa yang sedang akan kulakukan sekarang. Berlatih bersama Yunho untuk bisa menempu ujian masuk SHOOT yang jangka waktunya (katanya) sudah tinggal dua bulan lagi. Dan saat ini, aku ingat, bahwa kami seharusnya sedang jogging mendaki gunung untuk pemanasan.
Sudah nyaris selama... dua bulan—mungkin?—aku merutini semua ini. Sedangkan kehadiranku sudah memasuki bulan ke empat, di tempat aneh ini. Mulai dari push-up, sit-up, dan sejenisnya yang kian hari makin bertambah jumlahnya, hingga memanjati beberapa jurang yang tidak terlalu tinggi tanpa bantuan alat apapun. Latihan menembak—baik senjata api maupun busur panah—hingga belajar berpedang, atau melempar pisau, atau melempar apapun yang tajam hingga mampu menancap cukup dalam di sebuah batang pohon ek. Yunho terus-terusan menggenjot kemampuan bertarungku habis-habisan, sampai akhirnya aku mulai terbiasa dengan push-up dan sit-up sebelum tidur. Dan untungnya, walaupun dia tegas, dia bukanlah tipe prajurit yang kasar. Dia mengerti batas limit.
Dan begini lah aku jadinya; berat badan bertambah bukan karena makanan, melainkan tubuh yang semakin bugar—dan untuk tidak membuat diriku sendiri geli dengan jumlah otot yang terlalu over, dengan senang hati aku akan terus berpegang teguh pada pola makanku yang sering aku ajak bermain-main. Cokelat setelah salad, atau puding setelah es krim—ehh ralat, maksudnya puding dan es krim setelah makan garam seharian—Yunho sering bilang itu sudah harus dibiasakan sejak dini, hanya makan garam sachet selama beberapa hari, karena prajurit tidak dibiasakan membawa makanan sama sekali ke 'medan perang', cukup garam dan beberapa botol air putih, mengingat bawaan mereka sudah berat karena sebagian besar mengandung senjata-senjata beserta amunisi-amunisinya.
Sisanya, aku tidak berani makan sama sekali jika sudah melihat kalau tubuhku semakin berkembang besar karena otot—dan berakhir dengan aku sengaja bermalas-malasan selama tiga hari berturut-turut atau bahkan nyaris seminggu penuh, hingga Yunho mendampratku dengan dingin.
Tapi, di antara semua latihan yang ada, Yunho hingga saat ini pun masih belum sudi untuk mengajariku menggunakan Velo. Dia bilang aku masih belum siap untuk hal sedetail itu, dan saat aku balas dengan; bagaimana jika tiba-tiba ada invasi Nevoa dadakan, menguasai kota, dan yang lain berhasil meloloskan diri dengan Velo sementara aku tertinggal karena tidak tahu bagaimana caranya menerbangkan Velo... Yunho malah pergi dalam diam meninggalkanku.
...baiklah, oke, aku juga sadar itu hanyalah pemikiran konyol yang kekanak-kanakan.
Dan untungnya, sisanya Yunho benar-benar melaksanakan janjinya dengan sangat baik sebagai pelatih yang baik. Dia... cukup sabar menghadapiku ketika aku sudah terlalu frustrasi untuk melakukan sesuatu, hingga pada akhirnya dia pun turun tangan, atau langsung membuatku melakukan hal lain sebagai pengalih perhatian...
...seperti saat ini. Di mana aku yang baru saja berbohong, dan aktingku tadi mungkin benar-benar buruk, atau mungkin Yunho terlalu sensitif untuk bisa mendeteksi hal-hal yang seperti ini, dan tahu-tahu aku merasakan adanya sebuah sengatan pedih dari pipi kiriku. Aku melemparkan pandanganku kembali pada Yunho dengan penuh tanya, dan kudapati dia sudah bersiap dengan posisi—kedua tangan penuh dengan pisau-pisau kecil.
Darimana dia mendapatkan pisau-pisau itu...? Aku bertanya-tanya.
"Apa—"
Swoosh. Sebelum sempat aku selesai berkata-kata, Yunho tahu-tahu melempar sebuah pisau ke arahku, dan karena aku kurang cepat bertindak, pisau itu berhasil menggores pipiku yang satu lagi.
"Hyung!" desisku kaget.
"Lawan aku. Musuh tidak akan perduli kau sedang meratapi nasib atau tidak, mereka tetap akan menyerangmu, ingat, Max?" Ujar Yunho dengan suara rendah bernada mengancam seperti biasa. Dan kini, aku mengerti apa maksudnya. Jadi, sebelum sempat Yunho berkata 'lawan aku' lagi, aku sudah beranjak dari tempatku berdiri, berlari seraya menghindari beberapa lemparan pisau dari Yunho lagi, mengincarnya balik dengan tangan kosong.
Setelah beberapa lama aku mencoba membuat Yunho kehabisan amunisi dengan menghindar berkali-kali maju-mundur—dan kini dia benar-benar sudah kehabisan pisau—aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dan langsung memburunya secepat mungkin. Melemparkan satu-dua pukulan, disusul satu atau dua kali tendangan, putar badan, menghindar dengan menyamping, menahan dengan sisi-sisi tanganku, menangkap beberapa tendangan darinya, hingga nyaris wajahku terkena tendangan back-up dari kakinya yang satu lagi. Dan walaupun aku sudah terbiasa berlatih dengannya, entah kenapa Yunho seperti semakin bertambah mahir, dan cepat, hingga aku nyaris kualahan.
"Ada ruang kosong—" Ucap Yunho pelan seraya menarik rambutku dan memutar tubuhku 180 derajat, menendang sendi lutut belakangku hingga aku nyaris bertekuk lutut, tapi dengan sigap aku berhasil menendang kaki Yunho dengan kaki yang satu lagi—aku jadi jatuh sungguhan, tapi usaha terakhirku tadi tidak sia-sia karena Yunho pun ikut limbung, walau tidak sepenuhnya jatuh sepertiku, membuat cengkraman tangannya pada rambutku terlepas, dan aku langsung berguling menjauhinya. Dan untuk sesaat, kami berdua hanya sibuk terengah-engah dua-tiga kali sebelum akhirnya aku kembali bangkit dan menerjangnya kembali.
"Jangan terlalu agresif dengan musuh—" ujar Yunho seraya menangkis pukulanku untuk yang ke sekian kalinya.
"Kau yang memintanya duluan tadi." Balasku seraya mencoba mencoba meraih kerah baju Yunho yang bagian belakang, tapi gagal karena dia berhasil menghindar dengan membungkuk sangat rendah, dan dengan hentakan mendadak yang cukup kuat langsung mendorongku mundur. Kami berdua pun terjerembab ke tanah dengan aku yang menjadi alas bagi Yunho. Sial.
"Kau selalu mudah sekali jatuh pada jurus yang satu itu." Komentar Yunho seraya terengah-engah, dan bertumpu pada kedua tangannya karena belum cukup mampu untuk berdiri. Sementara aku? Aku bahkan terlalu lelah, terlalu kesakitan, dan terlalu sudah-tidak-perduli-lagi untuk bisa berkata-kata.
Kami bertahan pada posisi masing-masing—yang sebenarnya terlihat sangat amat canggung ini—untuk beberapa saat, sampai akhirnya Yunho bangkit setelah berhasil menormalkan napasnya, dan mulai berjalan mengumpulkan pisau-pisaunya. Sedangkan aku tetap merebahkan diri di tanah seraya sesekali mengusap darah dari luka segar di kedua pipiku yang sedari tadi tidak berhenti menetes, dan sayangnya, kembali mencoba mengingat tentang apa yang terjadi padaku tadi. Sebelum semua ini. Dan, astaga... tetap saja gagal. Aku sama sekali tidak bisa mengingat apapun!
"Masih hidup, kan? Kalau begitu, cepat bangun dan kita pulang." Tanya Yunho akhirnya setelah beberapa lama, menawarkan uluran tangan padaku, dan berjalan mendahuluiku—seolah tidak perduli dengan keinginanku untuk membalas hal itu atau tidak. Tapi aku sudah terlalu lelah untuk berdebat dengan diriku sendiri, jadi aku pun memutuskan untuk lebih baik terus berjalan saja.
Pada pagi, dua hari kemudian, aku dibangunkan oleh suara pembicaraan dari lantai bawah. Tidak terlalu kencang, tapi karena ada cukup banyak mulut yang berbicara, dan... terlalu bernada ceria, tentu saja aku langsung terbangun. Dan saat aku keluar kamar untuk memeriksa apakah ada Yunho atau tidak, yang menyambutku malah seorang laki-laki berwajah tegang dengan rambut cukup tebal yang agak bergelombang dan tertata rapi, sedang berjalan menaiki tangga.
Kami berdua saling pandang-pandangan dengan canggung untuk beberapa saat, sampai akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari kamar dan membuka mulut untuk menyapanya.
Tapi laki-laki dihadapanku sudah keburu bersuara duluan, sebelum sempat aku selesai memilih kata-kata sapaan yang tepat padanya.
"Apa kau... Mak..shim Changmin?" tanyanya agak kaku.
"Ehh, iya...? itu aku, dan... maaf, apa aku mengenalmu?" tanyaku hati-hati.
Laki-laki di hadapanku tahu-tahu mengubah ekspresinya—dia tersenyum simpul seraya mengulurkan tangannya padaku, yang langsung kusambut agar tidak berkesan lancang. "Aku Minho. Choi Minho. Kita seumuran, dan mungkin itu berarti kita akan satu angkatan di SHOOT nantinya." Ujarnya.
Aku tidak bisa menahan diri untuk mengangkat kedua alisku ketika mendengarnya. "O-oh? Hai, aku Max... atau Maxime... atau... Changmin. Terserah mau pakai yang mana." Balasku seraya terkekeh kaku, salah tingkah. Minho hanya manggut-manggut seraya memandang ke sekitar, dan tahu-tahu melemparkan pandangan ke balik bahunya—ke arah tangga.
"Oh, ya. Aku di sini dengan kakakku dan kedua temannya. Mereka rekan-rekannya Yunho-hyung. Apa..." Minho terlihat ragu untuk beberapa saat, tapi pada akhirnya dia seperti 'yah sudahlah, langsung saja', dan kemudian dia menyelesaikan kalimatnya, "Apa kau mau bertemu dengan mereka? Akan kukenalkan."
Aku pun mendapati diriku sudah berada di bawah dengan mengikuti Minho, untuk bertemu tamu-tamu yang ada, tak berapa lama kemudian. Tiga orang laki-laki tengah berbincang-bincang dengan Yunho di ruang tamu; yang satu bermata bulat besar seperti Minho, jadi aku dapat dengan langsung menilai bahwa itu adalah kakaknya, tingginya se-Yunho, ramping, dan cukup tampan serta berkarisma. Yang satu lagi berwajah cerah dan bersahabat, menyambutku dengan riang, sementara yang terakhir berambut pirang dengan jawline yang cukup mencolok, menyapaku dengan anggukan simpel dan berekspresi agak datar.
Secara berurutan, mereka memperkenalkan diri mereka masing-masing. Choi Siwon si mata bulat kakaknya Choi Minho. Lee Donghae si wajah inosen, dan Lee Hyukjae si pirang. Atau, kalau lewat 'jalur resmi', mereka adalah Prajurit Won, Prajurit Hae, dan Prajurit Jay.
"Wah, baru bangun ya?" tanya Lee Donghae seraya tersenyum memaklumi ke arahku, kemudian menggerakkan salah satu tangannya dan menggerak-gerakkannya di sekitar kepalanya sebagai kode. Dan aku yang langsung memahami apa maksudnya, buru-buru membenarkan rambutku yang ternyata memang sungguhan masih berantakan. Tentu saja hal ini langsung membuat Lee Donghae dan Choi Siwon terkekeh-kekeh, sementara Lee Hyukjae mendengus seraya meminum minumannya.
"Di SHOOT nanti, jam segini kalian sudah diharuskan untuk berlatih di lapangan, loh." Ujar Choi Siwon seraya melipat kedua tangannya di dadanya, dan melemparkan pandangannya ke arah rekan-rekannya. Donghae mengangguk menyetujui, sementara Yunho hanya menggerakkan kedua alisnya sekilas. "Daripada kaget, lebih baik biasakan sedari awal." Tambahnya.
"Dan belajar masak juga. Semakin enak makanan kalian, semakin beruntung kalian. Mengingat kalian akan tinggal di dalam sebuah asrama awalnya, dan kalian akan merasa beruntung jika bisa membuat makanan enak, begitu pula orang-orang yang lain." Sambung Donghae. Aku tidak tahu apa dia lebih tua atau lebih muda dariku, tapi lebih baik berjaga-jaga.
Yang terakhir, adalah nasihat dari Lee Hyukjae. "Dan jangan pernah sekali-kali, kalian mengeluh di depan senior atau mentor. Sekali pun. Seringan apapun." Ujarnya dengan nada bicara yang sedikit tajam, seraya memandang lurus ke arah Minho. Diam-diam aku melirik ke arah laki-laki seumuranku itu, dan mendapati dia langsung menunduk sedikit ketika mendapati dirinya ditatap langsung oleh seorang prajurit senior.
"Sisanya, kalian akan baik-baik saja." Sahut Siwon, memecah keheningan seraya memutar tubuh ke arah Yunho, dan berkata, "Apa semua ini termasuk nge-cheat, menurutmu?" Aku tidak tahu apakah dia bermaksud bercanda atau tidak, tapi jikalau Siwon memang sedang bercanda, dia sangat baik dalam menyembunyikan ketertarikannya, beserta dengan petunjuk sekecil apapun kepadaku dan Minho.
"Oh, ayolah. Kau baru berkata itu sekarang?" balas Donghae seraya mengibaskan tangannya di udara seolah sedang mengusir sesuatu dari wajahnya. Dan hal itu membuat Siwon akhirnya tersenyum simpul, dan kembali melemparkan pandangannya ke arah sang adik, lalu ke arahku.
"Aku hanya bercanda. Kalian beruntung."
Aku bisa melihat lewat ekor mataku kalau Minho hanya merespon hal itu dengan memutar kedua matanya malas.
"Ah, iya ngomong-ngomong... Hey, bocah, aku dengar kau berhutang pada salah seorang rekan kami." Ujar Hyukjae tiba-tiba. Tatapannya yang tajam entah kenapa langsung teroper ke arahku, terlihat menusuk. Dan hal itu dengan sukses mampu membuat perutku bergejolak tidak enak, tapi aku tetap berusaha untuk terlihat normal-normal saja.
"Maksudmu... Jackson?" tanyaku pelan, dan hati-hati. Kemudian tahu-tahu Donghae menyikut teman pirangnya.
"Oi, kita sudah membahas tentang hal ini sebelumnya, kan? Sudahlah." Ujarnya. Kemudian sesaat setelahnya, dia melemparkan tatapan aneh yang terlihat lembut ke arahku seraya tersenyum... memohon maklum. Sebelum sempat dia berkata apa-apa, cepat-cepat aku menyambungi.
"Aku mengerti. Dan maaf jika ini lancang, tapi... sungguh. Aku tidak tahu siapa yang sebenarnya harus disalahkan tentang hal ini. Aku benar-benar tidak tahu, tapi aku sungguh-sungguh minta maaf."
Kata-kata itu meluncur dengan lancar begitu saja, tapi cukup cepat untuk bisa menghentikan gerakan Hyukjae yang tiba-tiba berubah agresif, berdiri dari tempat duduknya, dan langsung menyergap kerah bajuku. Ekspresinya terlihat kelam, dan dingin. Aku paham jika dia saat ini pasti sedang merasa marah padaku, walaupun aku tidak tahu apa hubungan dia dengan si Jackson, jadi aku tidak melawannya. Sementara itu, tiga orang di belakangnya; Donghae, Siwon, dan Yunho otomatis langsung bergerak mendekat, tapi tidak berani untuk menjadi terlalu dekat, karena sesaat kemudian, Hyukjae berkata dengan nada mengancam yang monoton.
"Dia bukan outcast, dan itu sudah diumumkan dengan resmi oleh para dokter. Tapi kau pasti belum tahu, kan, bagaimana rasanya terpengaruh Dominy setelah mendapat serangan separah itu? Kau pasti sudah menjenguknya, kan? Jika belum, aku dengan senang hati mau mengatarmu ke sana, dan kau LIHAT baik-baik prototipe menjijikan itu!"
"Lee Hyukjae, sudahlah! Hentikan. Dia tidak salah." Aku bisa mendengar suara Yunho memanggil, tapi tidak cukup berani untuk mengalihkan pandangan dari Hyukjae di hadapanku. Aku tahu, itu tidak boleh kulakukan—terlalu lancang. Api dilawan api hanya akan menambah buruk keadaan, tapi api dilawan angin juga bisa berakibat sama, atau bahkan lebih parah.
Dan Hyukjae pun diam-diam berkompromi denganku akan hal itu, jadi, dia melanjutkan; namun kali ini cengkraman kedua tangannya perlahan mengendur, dan tatapan matanya pun perlahan turut melembut. Dia jadi terlihat terluka sekarang, alih-alih emosi.
"Dan walaupun aku benci mengatakan hal ini, tapi kau benar. Tidak ada yang bisa disalahkan di sini. Tapi, aku peringatkan kau, Shim Changmin, kalau kau berani-beraninya mencoba show off nantinya, aku akan menjadi orang pertama yang memburumu. Kau bukan dari sini, ingat itu. Kau bukan salah satu dari kami, dan sudah menjadi hak apalagi kewajiban bagi kami untuk curiga padamu." Dan dengan itu, Yunho tahu-tahu menepis Hyukjae dariku, dan menyuruhnya mundur sesopan mungkin. Donghae langsung menyambutnya dalam rangkulan untuk menenangkan, tapi Hyukjae masih terlalu panas untuk bisa berdamai dengan siapapun.
Jadi, dia pun langsung memanggil monolog menuju luar setelah mengatakan 'Prajurit Jae membubarkan diri', dan meninggalkan tiga orang temannya yang kebingungan.
Yang pertama bersuara setelah jeda hening beberapa saat adalah Siwon. Ia berkata dengan murung, "Aku... kami sungguh minta maaf jika dia membuatmu merasa tidak nyaman, Changmin."
"Ya, sungguh. Tapi aku berani sumpah, dia hanya begitu jika dia benar-benar sedang merasa kesal. Aslinya dia tidak se...parah itu." Tambah Donghae, terlihat bimbang apakah lebih baik tetap tinggal atau mengejar rekannya tersebut. Aku hanya dapat mengangguk mengerti, mencoba meyakinkan, sementara sejujurnya aku pun masih merasa sedikit shock pada apa yang terjadi. Dan sebelum sempat aku menyadari, aku mendapati Minho sudah memanggil monolog juga untuk berjalan keluar.
"Kau mau ke mana?" tanya Siwon cepat-cepat kepada adiknya.
"Mengejar si tukang marah-marah itu sebelum tiba-tiba ditabrak pengendara Velo." Ujarnya sebelum monolog tertutup, tapi dengan cepat berhasil Donghae cegah. Dan tanpa mengucapkan apapun, dia pun turut pergi bersama Minho, meninggalkan Siwon yang hanya dapat menepuk kepalanya pelan.
Melihat kegundahan rekannya, Yunho akhirnya angkat bicara. "Kalau kau mau mengejarnya, pergilah. Urusannya sudah selesai, kan?"
"Aku... astaga, hari yang aneh. Sudahlah. Terima kasih atas semuanya, Prajurit Yu. Dan... ah, apa yang bisa aku lakukan untuk menutupi hal ini?" tanya Siwon, menatap Yunho dengan ekspresi merasa-tidak-enak. Aku menoleh ke arah Yunho dan mendapati dia hanya menggedikkan bahu.
"Itu tidak terduga, jadi tidak masalah." Jawabku akhirnya, mewakili Yunho.
"Tapi kau bisa, sih, meminta atasan kita untuk menjadikan anak ini menjadi didikanku nantinya." Sambung Yunho tahu-tahu, seraya menepuk-nepuk bahuku. Tentu saja aku langsung melemparkan tatapan tidak percaya ke arahnya.
"Ah, itu. Baiklah, akan kucoba. Terima kasih, dan... maaf, sekali lagi." Sahutnya, sesaat sebelum memanggil monolog dan berpamitan pergi.
Untuk beberapa lama, setelah akhirnya ditinggal berdua saja dengan Yunho dan keadaan menjadi sepi. Yunho melirikku sekilas, kemudian berjalan untuk membereskan gelas-gelas yang sudah kosong di atas meja, dan meninggalkanku untuk mengembalikan gelas-gelas kosong di tangannya ke dapur. Aku tetap berdiri di tempatku, dan membiarkan pikiranku menjelajah dengan sendirinya. Penasaran dengan kaitan antara Jackson dengan laki-laki bernama Hyukjae tadi. Apa dia kakaknya? Ah, tapi rasanya tadi kudengar nama marganya 'Lee'. Atau, mungkin dia sepupunya? Apapun itu, jika bisa membuatnya semurka itu padaku, mereka mungkin sangat dekat. Keluarga, atau mungkin sahabat karib.
"Hyung, apa kita bisa menjenguk Jackson hari ini?" tanyaku ketika melihat Yunho sudah kembali dari dapur seraya mengelap kedua tangannya yang basah di celananya. Dia berhenti dan menatapku dalam diam, kemudian memalingkan kepalanya sebentar untuk melihat ke luar jendela, seolah berharap hujan turun.
"Kumohon? Maksudku, sudah lama aku tidak melihatnya. Sudah berbulan-bulan, sepertinya? Lagipula dia—"
"Aku khawatir kita sudah tidak bisa lagi menjenguknya," Ucap Yunho tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela. Suaranya terdengar lirih dan aneh.
"...Apa?" sahutku tidak mengerti. "Apa maksudmu dengan 'sudah tidak bisa lagi menjenguknya'? Hyung, jangan berkata seolah dia sudah... sudah..."
Aku tidak menyelesaikan kalimatku, tapi aku tahu Yunho pasti mengerti. Jadi, aku tetap memandangnya lurus, tajam, menuntut jawaban.
"Hyung, jawab!" gubrisku tidak sabar, "dan lihat aku!"
"Tidak, Max. Tenang saja, dia tidak mati. Tidak. Belum. Dominy sama sekali tidak mematikan, tapi ada efek samping yang lain." Jawab Yunho akhirnya, dengan nada tegas seperti biasanya—dan kali ini, dia benar-benar menoleh ke arahku. Kemudian, entah kenapa tiba-tiba dia menghela napas dan menunduk. Rahangnya mengencang.
"Hyung, aku tahu kau adalah orang penting di sini. Aku tahu, seburuk apapun keadaan, hyung pasti... hyung pasti bisa meminta orang-orang hyung untuk membiarkanku menjenguk Jackson. Kumohon, hyung..." aku mencoba dan terus mencoba membujuknya. Semakin lama, aku tidak tahan lagi untuk memelas, dan kesabarankupun menipis.
Tapi, untungnya, pada akhirnya Yunho menjawab,"Jika kau benar-benar begitu keras kepalanya untuk mau melihatnya sendiri, baik. Tapi aku ingatkan, jangan menyesal nantinya."
Yunho membawaku menuju sebuah tempat yang arah jalannya amat sangat berlainan dari Rumah Sakit—tempat terakhir aku menjenguk Jackson, di mana dia terakhir dirawat. Kami berjalan kaki seperti biasanya, dan tidak ada yang bersuara selama perjalanan. Terlalu sibuk pada pikiran masing-masing.
Terkadang aku tidak mengerti orang ini. Yunho. Mood-nya lumayan gampang berubah-ubah. Tapi, saat ini aku tidak terlalu memikirkan tentang itu. Aku lebih memikirkan kenapa aku tahu-tahu begitu menginginkannya — bertemu dengan Jackson.
"Hyung, kita mau ke mana sebenarnya?" tanyaku akhirnya, memecah keheningan yang tidak mengenakan selama nyaris sepuluh menit perjalanan.
"Menjenguk Jackson," jawab Yunho sekenanya seraya menoleh ke kiri, dan ke kanan. Jelas dia sedang tidak fokus.
"Tapi, bukannya seharusnya kita ke Rumah Sakit...?" Karena mulai merasakan ada yang aneh, aku pun menyuarakannya langsung. Dan semakin yakin dengan kecurigaanku ketika Yunho tidak menjawab. Bahkan tidak juga dijawab beberapa menit kemudian. Akhirnya, aku pun memutuskan untuk pasrah saja dan terus berjalan mengikutinya.
.
.
.
Sepuluh menit berganti menjadi lima belas-
Kemudian dua puluh-
Kemudian menjadi setengah jam. Namun, kami benar-benar belum sampai di tempat tujuan yang aku sama sekali tidak tahu dimana keberadaannya. Dan semakin lama kami berjalan—tetap saling diam-diaman, semakin jauh kami dari kota, dari desa, dan mulai dikelilingi pepohonan.
"Kita akan memasuki hutan?" tanyaku akhirnya dengan suara yang sedikit serak karena tidak berbicara lama. "Kita mau ke mana, sih?"
"Tempat ini cukup aman, tenang saja. Ini masih dilindungi dinding." Jawab Yunho, sekali lagi dengan sekenanya saja. Membuatku nyaris muak, tapi mati-matian kutahan untuk tidak komplain.
"Hyung, kita sudah berjalan selama nyaris satu jam, dan sekarang sudah mau menuju dua jam, tapi kita belum sampai-sampai juga..." aku tahu ini terdengar berlebihan, dan seolah aku ini tolol, tapi mana tahan, kan, jika tidak mengetahui kebenarannya. Jika terus-terusan diacuhkan, tanpa penjelasan apapun.
"Sebentar lagi." Katanya, tapi, baru lah tampak tempat itu, sebuah bangunan besar yang terlihat kokoh, minimalis, dan monoton, dua jam kemudian. Di mana aku dan Yunho sudah mandi keringat, dan pepohonan semakin rimbun di sekitar—hanya membiarkan sinar lembut matahari menjadi penerang.
"Ini tempatnya?" tanyaku setelah sampai, dan mengamati kelilingan tembok dengan ujung runcing-runcing dan terbelit-belit kawat listrik tinggi yang nyaris mengurung keseluruhan luas bangunan dan halamannya, serta dijaga oleh banyak prajurit yang terlihat tidak bersahabat di sana-sini. Aku tetap berjalan dekat Yunho ketika sudah memasuki batas wilayah, sampai akhirnya seorang prajurit mendatangi Yunho dan menanyakan ini itu.
"Lapor, saya Prajurit U14-H602. Jung Yunho, dari Distrik 2. Datang kemari untuk mengunjungi pasien bernama Hwang Jackson. Dan ini adalah S—Maxime. Dia bersama saya." Jelas Yunho.
"Mohon ke sini untuk deteksi identitas." Ujar sang prajurit berekspresi datar itu seraya mempersilahkan Yunho dan aku untuk berjalan mendekati sebuah mesin. Yunho duluan melakukan pemeriksaan dengan mendekatkan wajahnya pada sebuah alat untuk mata, kemudian setelahnya berdiri tegak dan membiarkan sinar-sinar berwarna hijau seperti jaring-jaring menyiraminya dari atas ke bawah. Scanning, katanya.
Aku menunggu prajurit tadi membaca hasilnya seraya memandang ke sekitar. Tapi kemudian, sang prajurit pun akhirnya memanggil namaku untuk melakukan hal yang sama seperti Yunho, dan aku melakukannya.
"Hmm, hanya 'Maxime'?" tanya sang prajurit pelan ketika membaca hasil scan-ku. "Dan... seorang outsider?" Kini prajurit itu mengangkat kepalanya dari hasil scan di tangannya, dan menatapku dengan ekspresi yang sulit dibaca. Kemudian mengopernya ke Yunho yang menatapnya dengan ekspresi datar.
"Dia bersamaku. Aku juga prajurit, jadi kalian aman. Dan dia aman. Tidak perlu khawatir." Ujar Yunho akhirnya. "Lagipula kami hanya sebentar di sini." Tambahnya.
Untuk sesaat, sang prajurit terlihat bimbang. Tapi pada akhirnya dia pun menyerahkan hasil scan milikku kepada salah seorang rekannya, dan berkata, "Baiklah. Aku akan mengantar kalian." Dan kami pun berjalan memasuki bangunan tersebut.
Saat aku memasukinya, hal pertama yang terlintas di kepalaku adalah... tempat ini terasa familiar, sekaligus asing pada waktu yang bersamaan. Bagian luar gedung mungkin memang sengaja di cat dengan warna krem pudar dan pucat, tapi bagian dalamnya benar-benar terang dengan dinding bercat putih cemerlang dan enak dilihat mata, serta tidak seseram bagian luarnya sama sekali. Anehnya, justru tempat ini mengingatkanku pada Rumah Sakit di kota.
Kami berjalan sepanjang lorong putih, hingga akhirnya berakhir pada sebuah pintu lebar yang menampakkan sebuah ruangan maha luas bercat hitam kelam, berlantai semen. Banyak orang berlalu-lalang, dan sama sekali tidak berpakaian seragam sama sekali. Sementara di tengah ruangan terdapat sebuah meja bundar besar dari kaca yang dijaga oleh empat orang wanita, dan bertengger empat komputer di depan mereka masing-masing. Dan beberapa meter di atas mereka terdapat banyak layar TV dengan beragam penampilan; berita, ini itu. Semuanya terdengar ramai, tapi ramai yang tidak terlalu memusingkan, bagiku.
"Selamat datang di Penangkaran. Baru pertama kali datang ke sini?" Ujar sebuah suara asing, yang sontak membuat kami bertiga langsung menoleh ke arah sumbernya. Aku mendapati seorang laki-laki bersetelan rapi datang mendekatiku seraya mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya tanpa menutupi kebingunganku.
"Anda bisa memanggilku Benjamin, dan aku salah satu pekerja di sini. Apa yang bisa kami bantu?" tanyanya setelah selesai berjabat tangan dan menyapa Yunho dengan 'Ah, Jung Yunho! Bagaimana kabarmu?'
"Halo, Benjame. Aku baik. Kami di sini hanya untuk kunjungan singkat." Balas Yunho seraya melemparkan senyuman bersahabat kepadanya sekilas, kemudian menunjukku. "Lebih tepatnya, dia ini yang meminta."
Aku mengangguk sopan, dan Benjamin membalasnya dengan tersenyum, kemudian menoleh ke arah prajurit yang mengantar kami. "Dan apakah Anda mau ikut atau kembali ke pos, Brad?" tanyanya dengan tutur kata formal.
"Berhentilah berbicara dengan formal begitu, Ben. Aku... ikut saja. Bosan juga di luar." Jawab prajurit bernama Brad itu malas-malas. Benjamin mengangguk memaklumi, kemudian mulai berjalan mengajak kami menyebrangi ruangan menuju sebuah... elevator, katanya.
"Jadi... uh, 'Penangkaran'?" tanyaku setelah pintu elevator tertutup, dan kami bergerak turun. Sengaja menekankan untuk menyindir Yunho yang sampai saat ini masih mengunci mulutnya untuk menjawab kebingunganku.
"Ah, kau benar-benar baru pertama kalinya di sini, ya?" tanya Benjamin murung, terlihat kaget, dan aku hanya dapat mengangguk. Melihat responku tersebut, Benjamin mengatupkan mulutnya rapat-rapat sebelum akhirnya menjelaskan. "Yah... sesuai namanya, tempat ini adalah sebuah tempat Penangkaran. Semacam karantina. Untuk orang-orang yang... atau lebih tepatnya, sih, prajurit-prajurit yang mengalami cedera parah karena terserang Nevoa di medan perang."
"Memangnya... apa bedanya tempat ini dengan rumah sakit? Maksudku..."
"Saya mengerti," potong Benjamine dengan senyum simpul memaklumi, "Kalau boleh tahu, sebelum saya menjawab pertanyaan itu, siapa kah yang ingin Anda kunjungi di sini?"
"Jackson, Ben." Jawab Yunho sebelum sempat aku menjawab.
Mendengar nama itu, entah kenapa tahu-tahu ekspresi wajah Benjamin berubah suram dan murung, membuatku merasa tidak enak sekaligus semakin heran. Dan ketika aku melirik Yunho, tanpa sengaja aku melihat Brad tiba-tiba memalingkan pandangan, terlihat murung juga walau tidak terlihat sejelas Benjamine.
"Oh... ah, yah... Anak itu memang pantas mendapat banyak orang untuk mengunjunginya." Ujar Benjamine akhirnya seraya mengetik sebuah nama di atas sebuah papan yang tiba-tiba muncul dari balik tombol-tombol lantai tujuan—nama Hwang Jackson—dan memencel sebuah tombol hijau, dan kami pun
"Semua orang di sini juga pantas." Sahut Brad, lebih seperti gerutuan. Dan itu sama sekali tidak membantu menjernihkan kembali suasana kelam di sini. Aku mencoba meminta bantuan lewat pandangan kepada Yunho, tapi dia hanya memandang lurus seolah tahu apa yang kupikirkan dan menolak bekerja sama. Terima kasih banyak, Yunho. Kau sangat membantu.
"Aku... tidak tahu apa yang terjadi padanya. Aku outsider, jadi... bisakah kalian menjelaskan padaku tentang keadaan Jackson sekarang?" Tanyaku, berusaha mendorong terus peruntungan yang sebenarnya pahit ini.
Tapi, sebelum sempat Benjamine membuka mulut untuk berbicara, elevator berbunyi dan pintunya terbuka. Dan saat aku mengalihkan pandangan dari Benjamine ke arah luar elevator, aku langsung terpaku dan tidak mampu menahan mulutku untuk terbuka menganga.
Di hadapan kami kini terpampang sebuah ruangan bercahaya redup serba putih yang di dalamnya terdapat sebuah ruangan berkaca dengan sosok seorang anak laki-laki yang dililit oleh sebuah baju biru gelap yang menutupi—mengikat—keseluruhan tubuhnya selain... kaki-kakinya. Satu kaki normalnya, sementara kaki yang satunya lagi... adalah sebuah kaki robot yang terlihat rusak dan berbahaya. Dan saat dia menyadari kehadiran kami, dia menoleh dengan sangat pelan ke arah kami, lalu berkata dengan nada... senang, yang jelas-jelas terdengar aneh, karena ekspresinya benar-benar datar.
"Ah, berat. Menjadi manusia sungguh menyedihkan, ya? Lihat betapa lemahnya kalian. Lihat betapa lemahnya kakiku yang satu ini. Berdaging, dan lemah."
.
.
.
.
.
Baik aku, maupun Yunho, tidak ada yang bergerak dari elevator. Aku bisa mendengar Ben mencoba menyadarkanku, dan entah kenapa aku bisa merasakan kalau Yunho menungguku bereaksi. Apapun itu. Dan aku teringat bahwa ini adalah ideku.
"Halo, Jackson." Aku bersuara. Kemudian, dengan berusaha bersikap setenang mungkin, aku melangkah keluar dari elevator, mendekati ruangan kaca di hadapanku. Aku bisa mendengar Yunho mengikutiku, tapi yang duluan berada di sisiku adalah Ben, dan Brad si prajurit.
Aku tidak bisa mengalihkan tatapanku dari Jackson, yang kini masih menatap kami secara bergantian. Kulitnya terlihat sangat pucat di bawah sinar lampu, dan aku mengira-ngira, apakah kepucatan itu bisa sampai membuatnya terlihat bersinar jika dia berada di tempat gelap. Namun, aku langsung mengenyahkan pemikiran itu karena merasa ngeri.
"Jackson, kau kedatangan dua orang tamu. Semoga kau tidak keberatan," ujar Ben akhirnya, dengan nada seramah mungkin.
Kedua mata berwarna cokelat itu langsung tertuju padaku, dan Yunho, dengan penuh selidik dan kesuraman. Tapi, pada akhirnya dia memusatkan perhatiannya pada Yunho, sebelum akhirnya bersuara kembali—kali ini dengan nada yang lebih normal. "Aku mengerti. Tinggalkan kami."
Aku menoleh kepada Ben, yang terlihat maklum, dan Brad yang rupanya tengah menatap ke arah kami berdua dengan ragu. Tapi pada akhirnya mereka pun mundur dan kembali memasuki elevator. Ben mengatakan jika kami membutuhkan apa-apa, yang perlu dilakukan hanyalah memencet sebuah tombol biru bercahaya di sebelah tombol pemanggil elevator, dan mereka akan muncul lebih cepat dari perkiraan. Sedangkan Brad hanya diam saja, mengangguk berpamitan pada kami tepat sebelum pintu elevator tertutup. Benar-benar meninggalkan kami bertiga, sendirian.
"Jadi," Aku mendengar Jackson mendengus, dan kulihat kini posisi duduknya sudah lebih terlihat santai dari yang tadi. Tatapannya tetap terlihat kelam, dan kini tertuju padaku. "Biar kutebak. Kau ingin menangis memelukku dan mengatakan 'maaf' dan 'terima kasih' jutaan kali, hm? Maaf saja, ya, sayangnya kau tidak bisa melakukannya sekarang. Sudah terlambat, kau tahu maksudku, kan?"
Aku tidak langsung menjawab, karena mendadak kepalaku terasa kosong. Tidak tahu harus berkata apa. Jadi aku hanya bisa menarik napas, dan mengatakan satu-satunya ucapan yang terlintas di otakku. "Jadi, kau ingat padaku."
Jackson mencibir keras, dan menengadah. Sebuah senyuman tersungging lebar, dan dia mulai tertawa aneh. Tawa pelan bertahap, dan semakin lama semakin terdengar nyaring dan tidak terkendali. Aku dan Yunho hanya bisa menatapnya dalam diam. Menunggu tawa aneh itu mereda dengan sendirinya, sekalipun aku merasa sedikit terganggu mendengarnya.
"Apa kau dengar itu, hyung?" Dia berkata di sela-sela tawanya, dan dengan sekali hentakan dia mengembalikan posisi kepalanya dan langsung menoleh ke arah Yunho yang memandangnya dengan ekspresi yang tidak dapat kubaca. "Kau dengar, kan? Dia bahkan tidak bisa berbicara dengan benar! Dan kau masih mau mempercayakan dia untuk masuk SHOOT?!" Dia kembali tertawa. Lebih keras, dan sedikit terdengar gila.
"Sesungguhnya, Jackson," Akhirnya Yunho bersuara. Ada jeda baginya untuk menghela napas. Mungkin dia sudah tidak tahan. "Tidak ada yang tahu, anak ini harus diapakan."
Tunggu, apa maksudnya? Kenapa dia justru berkomplotan dengan Jackson? Apa yang sebenarnya mereka berdua sedang bicarakan — tentang aku? Kenapa Yunho tidak mau menatapku, dan menjelaskannya padaku?
"Ah, Max-hyung..." tawa itu perlahan mereda, dan berganti kekehan yang tetap terdengar aneh. Aku langsung menoleh kembali ke Jackson, dan mendapati dia tengah memandang kakinya yang normal dengan ekspresi yang tidak dapat kulihat jelas. Bagaimana dia bisa mengetahui namaku? "Oh? Kenapa tiba-tiba kaku begitu? Kau kaget aku mengetahui namamu?" dia tahu-tahu melanjutkan.
"Yunho sudah menceritakan semuanya, sebelum ini." Aku berkata, pelan, dan tidak tahu sebenarnya ditujukan padanya sebagai jawaban, atau kepada diriku sendiri—sebagai sebuah penarikan kesimpulan. Tapi setelahnya, Jackson bersiul singkat, seolah kagum.
"Kurasa Yunho-hyung sudah melatihmu dengan benar," sebuah senyuman tersungging sekilas, sebelum ekspresi kelam itu muncul lagi. Dia pun bergumam-gumam tentang betapa sesaknya, dan dilanjutkan dengan satu tarikan napas keras. Menggeliat sedikit, dan menggeram karena bajunya benar-benar mengunci pergerakan tangannya. Rasa iba mulai menerpaku melihatnya seperti itu, tapi aku masih merasa canggung dengan ketiba-tibaannya. Lagipula, tidak banyak yang bisa kami lakukan karena kami tidak berada di dalam ruangannya.
"Aaah," dia menghela napas pasrah, kelelahan. "Kenapa aku diperlakukan seperti iniiii." Dan Jackson pun menghempaskan tubuhnya untuk tiduran di lantai. Dia menggerutu, dan menggerutu, seolah lupa dengan keberadaan kami untuk sesaat. Tapi kemudian dia bangkit lagi ke posisi duduknya. Ekspresi jengkel terukir jelas di wajahnya. Dia memandang lurus, melewati kami berdua. Dan Yunho pun kembali menghela napas.
Aku tidak tahu kenapa dia seolah menjadi kehilangan fokus seperti itu, jadi aku pun mulai mendekati Yunho dengan perlahan. Dengan pelan aku membisikkan isi pikiranku, "Aku juga memikirkan hal yang sama. Maksudku—"
"Itu demi dirinya sendiri." Yunho memotong kata-kataku dengan nada pelan yang sama. Matanya tidak beralih dari Jackson. "Aku juga tidak setuju dengan metode seperti itu, tapi banyak orang paranoid dia akan memperburuk keadaannya sendiri. Apalagi prototipe itu sudah tumbuh dengan solid."
"Kalau begitu, kenapa tidak membungkus kaki robotnya saja?" Tanyaku hati-hati, dan dibalas dengan gelengan pelan dari Yunho.
"Pertamanya memang begitu. Tapi dia anak yang tidak sabaran, dan itu semakin memperburuk mentalnya. Dia berusaha membuka pembungkus prototipe-nya dengan kedua tangannya sampai luka-luka. Tidak terima dengan parasit itu tumbuh dan perlahan seolah menggerogoti kakinya. Padahal prototipe tidak akan menjalar, dan hanya akan menetap pada luka yang ditinggalkan pembuatnya." Yunho menjelaskan dengan tenang dan sabar. Aku pun mengerti, dan maksudku dengan mengerti adalah, aku mengerti dengan perasaan Jackson. Entah bagaimana, dan kenapa. Pasti ada rasa tidak terima ketika salah satu anggota tubuh kita tergantikan dengan sesuatu yang... asing. Aku jadi bertanya-tanya, apakah aku juga akan melakukan hal yang sama.
Aku kembali mengalihkan perhatianku pada Jackson, yang kini terlihat kelelahan dan sedih. Tapi kejengkelan itu masih ada di sana, terlihat samar tetapi kuat. Aku pun angkat bicara lagi. "Jackson, aku tidak tahu apa kau ingat atau tidak tentang hal ini, tapi..." Aku berhenti sebentar ketika Jackson melirik dengan cepat ke arahku, kembali fokus dan terlihat sedikit kaget. Apa dia benar-benar lupa pada kami sesaat tadi? "...tidak. Maksudku, aku ingin bertanya, kenapa kau menolongku waktu itu?"
"Bicara yang jelas, bisa, tidak?" hardiknya dingin. Dan aku pun mengulangi pertanyaanku dengan lebih tegas, dalam hati semakin bingung dengan sikapnya. Dia tidak langsung menjawab, dan malah bergumam-gumam tidak jelas. Setelah tak berapa lama, dia bangkit untuk berdiri—dengan sedikit kesusahan, dan mulai berjalan ke sana dan ke mari tanpa ada tujuan jelas. "Aku tidak tahu," sebuah gumaman seperti kumur-kumur tertangkap olehku. "Aku... tidak tahu. Aku hanya terdorong untuk menolong. Aku takut..."
"Apa yang kau takutkan, Jackson?" tanyaku hati-hati.
Jackson melemparkan tatapan sendu kepadaku, dan dia pun langsung berjalan mendekati kami. Berhenti ketika sudah berjarak beberapa meter di depan kami, dan menunduk terdiam begitu saja.
"Jackson," Kali ini Yunho angkat bicara, dan kegusaran mewarnai nadanya berbicara, "Katakan saja. Apa... apa ada yang bisa hyung bantu? Apa yang kau takutkan?"
"Hyung," dia memanggil, dan seketika aku berubah waspada. Dia terlihat putus asa, dan senggukan itu pun perlahan terdengar. Halus, dan menyakitkan untuk didengar. Dengan perlahan diangkatnya kepalanya. Ekspresi kegilaan itu lenyap sudah, terganti dengan rasa sakit yang dapat kurasakan juga, "Hyung, aku pernah bilang kalau aku tidak takut mati, kan? Aku memang tidak takut mati," Dia berujar. Berusaha mengatur napasnya yang semakin memburu seiring tangisannya semakin menjadi. Saat air matanya menetes, dia memalingkan wajahnya. Terdiam sebentar, tidak melanjutkan kata-katanya yang menggangung. Kemudian, tahu-tahu dia tersenyum begitu saja. Dan itu... adalah pertama kalinya aku melihatnya tersenyum tulus;
"Aku hanya... takut kalau mereka memberikanku kepada makhluk-makhluk sialan itu. Dan aku tidak akan pernah lagi bisa merasakan bagaimana rasanya... menjadi... seorang manusia."
[ To be continued ... ]
Aayeeeee, makasih banyak atas waktunya udah mau bertahan buat membaca sampai sejauh iniii !
Dari sini, saya harapkan kesabaran kalian, karena chapter-chapter selanjutnya belum siap... maaf banget ^^;;
Tidak bosan-bosannya, demi bagusnya cerita ini berlangsung, gimana kalo kalian ninggalin review? komentar apapun bakal diterima kok! Review dari kalian itu penyemangat, tahu? Oke, jujur, saya tidak lihai dalam berkata-kata, jadi... saya curhat sedikit, boleh, ya?
Setelah lulus tahun lalu, saya melanjutkan pendidikan di sebuah institut/universitas yang letaknya jauh dari kota kelahiran saya. Dan berhubung baru memulai kehidupan baru sendirian, I can't help but to imagine myself as Changmin here. Totally lost, and fragile(?). Especially dalam segi ekonomi(?). Terus, gara-gara ini lah saya pun jadi bertanya-tanya: Kok bisa-bisanya ya saya berani nulis tentang kehidupan Changmin di sini yang kayak 'gini-gini amat' ini? Maksudnya, dia kan benar-benar seorang diri yang tersesat di dunia entah-berantah... dan ini benar-benar pertanyaan jebakan yang sering kali langsung menelan saya telak ke dalam kesuraman(?) writer's-block.
Tapi, kalau dipikir-pikir lagi... enggak heran, sebenarnya. Karena bisa dibilang saya ini benar-benar seorang penulis yang "urakan", dan tidak tahu struktur apapun dalam dunia tulis-menulis. Padahal menulis sudah menjadi hobi yang mengental sejak kecil, tapi entah kenapa semakin sering saya menulis, saya semakin kelabakan dengan plot, alur, bahkan segi bahasa.
Kalau dianalogiin, mungkin itu kayak saya bakal langsung 'cegukan' kalo mulai nulis. Terus, cegukannya makin lama malah makin bikin saya keselek, terus megap-megap nyari oksigen jenis lain, sedangkan menulis itu udah kayak oksigen utama buat paru-paru kehidupan saya...
...Ngerti? Enggak? Yaudah, gapapa.
Yah... intinya, sih, ya... saya cuma minta pengertian dari kalian aja kalau-kalau tau-tau plotnya kerasa aneh banget gitu jadinya, soalnya saya enggak kayak penulis-penulis profesional pada umumnya yang merancang plot dan tektek-bengeknya di kertas sampai berlembar-lembar, bahkan buku-buku dan semacamnya. Ini lah sisi negatif dari cara saya menulis. Saya menulis dengan spontan. Seperti lari tanpa pemanasan, makanya sering keseleo atau bahkan cedera sampai butuh waktu lama untuk sembuh.
Oke, oke... kayaknya segitu dulu cukup, ya? Have a good one, everyone!
