~The Ghost Recon~

Fairy Tail Fanfic oleh Indra-Fernandes

Disclaimer : Fairy Tail milik Hiro Mashima-sensei, SAPD Coporation milik Author, dan Erza Scarlet selingkuhan Author...XD

Chara: Natsu D, Gray F, Lucy H, Gildarts C, Yukino A, Erza S, Juvia L

Pairing : Unknown XD

Genre : Comedy, Friendship, Action, Parody

Warning : Typo, dll


Summary :

Intinya Lucy melanjutkan kasus penyelidikan tentang pencurian The Sancy Diamond bersama Gray dan Juvia, karena masih berhubungan sama Chapter-2


Yah, akhirnya selesai juga Chapter-3
Jangan ada yang protes jiga dari salah satu adegan ada Parody yang Author ambil dari salah satu adegan Film XD


.

.

February, 04th 2016. CA, US.
08.30 AM, Los Angeles City – United Militer Organisation.

Satu hari setelah kejadian di LA Museum yang telah kehilangan salah satu berlian termahal di dunia yang bernama The Sancy Diamond. Gildarts selaku kepala Departement Kepolisian San Andreas (SAPD Coporation) bersama kepala Departement Kepolisian lain sedang menempati meja ruang rapat di gedung UMO (United Militery Organisation/Persatuan Organisasi Militer).

"Bagaimana semua ini bisa terjadi?!" bentak kepala UMO kepada semua kepala Departement kepolisian.

"M-Maafkan kami Tn. Hunley, kami sudah berusaha memperketat penjagaan di wilayah LA Museum. Tapi entah bagaimana orang itu bisa mencuri The Sancy Diamond itu begitu saja..." ucap dengan perasaan gugup kepala Departement dari LAPD Coporation yang sedang duduk di samping Gildarts.

"Dan kau Gildarts! Bukankah bawahanmu itu sedang berada di lokasi?! Dan aku dengar kau juga melibatkan Natsu Dragneel dalam kasus seperti ini! Sekali lagi aku tegaskan! Jangan pernah melibatkan seorang anggota SWAT yang masih menjalani proses hukuman! Apa kau mengerti?!" bentak kepala UMO lagi kepada Gildarts.

'Sebenarnya aku sudah muak dengan rapat perkumpulan ini, mereka pihak UMO hanya bisa menyalahkan semua kepala Departement Kepolisian tanpa melihat kejadian yang sebenarnya...' batin Gildarts yang sedang merenung bersama kepala Departement kepolisian lainnya.

.

Time Skip...

.

09.00 AM, Los Angeles City – SAPD Coporation Office.

Siang hari di wilayah zona aman kota Los Angeles, lebih tepatnya lagi di sekitar gedung kantor SAPD Coporation. Terdapat banyak jendela untuk masing-masing ruang kantor yang terpasang di setiap sisi gedung kantor tersebut. Terlihat Lucy sedang bertopang dagu di bibir jendela kantornya yang berada di sebelah kanan Lantai-2. Kedua matanya tertuju melihat pemandangan kota Los Angeles yang begitu ramai dengan banyak orang dan berbagai kendaraan yang sedang melaju di jalan raya, namun jika melihat raut wajahnya Lucy saat ini sedang merenung karena sedikit kecewa berat.

Lucy P.O.V

Kasus pencurian kali ini benar-benar rumit. Aku ingin tahu siapa orang yang menjadi dalang dibalik kasus ini? Bisa-bisanya si pelaku itu kabur dengan mudah tanpa diketahui siapapun setelah mencuri The Sancy Diamond di LA Museum. Aku merasa diriku benar-benar tidak berguna dalam penyelidikan kasus kali ini karena aku sendiri saat ini tidak tahu harus melakukan apa.

Normal P.O.V

Sekali-sekali Lucy melihat ke arah bawah gedung kantornya. Terlihat sebuah lapangan pelatihan Militer seluas 400 meter. Di sana ada 20 orang anggota SWAT Trainer sedang latihan baris-berbaris membentuk formasi pertahanan dan tentunya di bimbing oleh satu orang anggota SWAT Senior kelas-A agar latihan bisa berjalan dengan semestinya.

'Tap' tiba-tiba saja ada seseorang yang sedang mencolek bahu Lucy dari atas jendela kantornya saat Lucy sedang dalam keadaan melamun.

"Em?" Lucy menoleh ke atas.

"Hihihi~" terlihat sosok laki-laki berpakaian kaos Singlet abu-abu dan celana hitam SWAT sedang menyeringaikan tawa khasnya yang begitu dekat di wajah Lucy, namun tawa laki-laki itu malah terlihat sedikit menyeramkan di saat laki-laki itu sedang dalam keadaan posisi merangkak terbalik di atas jendela ruang kantor Lucy.

"Kyaaa!" teriak Lucy kaget sekaligus panik hingga sempoyongan kebelakang dan jatuh ke lantai ruang kantornya.

Laki-laki yang masih dalam posisi terbalik itu perlahan menurunkan tubuhnya, dan ternyata laki-laki itu sedang di gantung dengan seuntai tali hitam di bagian depan sabuknya yang terhubung dengan puncak gedung kantor. Posisi tubuhnya yang terbalik itu kini berada tepat membingkai di jendela. Kedua tangannya menahan tali dan kedua kakinya menekuk ke samping sambil mengapit tali hilam itu dengan kedua telapak kakinya.

"Yoo~ Luce...hihi..." sapanya yang penuh dengan tawa manis sambil melambaikan tangan dalam posisi terbalik itu ke arah Lucy, dan ternyata laki-laki itu adalah Natsu.

"N-Natsu, rupanya kau...Humfh...dasar..." sahut Lucy telapak tangan kananya menyentuh bagian sekitar dada hanya untuk mencoba menenangkan kembali jantungnya yang sedang berdetak kencang dan nafasnya yang sedikit diburu.

"I'm not Natsu~, I'm Spiderman~" ucap Natsu sambil mencuatkan bentuk matanya.

"Haha~" suara tawa khas Lucy yang menggelitik menandakan bahwa dirinya sedang merasa terhibur. Lucy pun kembali terbangun dan menghampiri Natsu yang masih mempertahankan posisi tubuh terbaliknya. Wajah Lucy yang sedang merasa terhibur itu kini berada dekat dalam jarak 10 cm dengan wajah Natsu.

"Kenapa tadi kau melamun Merry Jane?" tanya Natsu dengan wajah polosnya.

"Hmpf~ kau jangan seenaknya merubah namaku..." Lucy kali ini menahan tawanya karena merasa geli setelah mendengar Natsu memanggil namanya dengan nama orang lain.

"Kau sendiri sedang apa bergelantungan terbalik seperti itu?" tanya Lucy.

"Hupf...ah..." Natsu membalikan posisi tubuhnya kembali hingga akhirnya ia pun hinggap dan jongkok di bibir jendela ruang kantor Lucy. Lima jari tangan kanannya ia topangkan di bibir jendela tepat di antara kedua kakinya agar tubuh jongkoknya itu tetap tertahan.

"Tadi aku hanya sedang memberbaiki salah satu jendela kantor Lantai-3, karena aku melihat salah satunya ada yang rusak..." jawab Natsu santai dan masih mempertahankan wajah cerianya.

"Bokis Ah! Aku belum pernah melihat ada orang yang mau memperbaiki jendela kantor dengan cara bergelantungan seperti yang kau lalukan sekarang..." Lucy pun menyangkalnya, kedua matanya yang sedikit sayu itu terus menatap wajah Natsu.

"Tapi hari ini kau sudah melihatnya bukan? Ghahaha!~" balas Natsu dan tawanya kali ini terdengar keras.

"Hmm~" Lucy pun tersenyum kembali di saat sedang melihat tawa khas dari wajah manis dan tingkah laku konyol milik si laki-laki SWAT berambut tajam berdiri berwarna pink itu.

'Dari semua laki-laki yang pernah aku temui hanya Natsu seorang yang bisa menghiburku perasaanku yang sedang penat seperti ini...' batinnya merasa senang.

"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah hari ini aku sudah melihatmu memperbaiki sebuah jendela kantor, Tn. Spiderman?" tanya Lucy sambil melipat kedua tangannya, begitu juga dengan senyuman cuek beridealisnya ia dekatkan lagi dalam jarak 5 cm dengan wajah Natsu.

"Mmmm...Kalau begitu aku ingin memperbaiki suasana hati murung milik si wanita cantik berambut pirang dihadapanku ini...hmm..." kata Natsu melempar senyuman menggodanya kepada Lucy.

"Oh ya? Bagaimana cara kau melakukannya?" tanya Lucy yang masih mempertahankan sikapnya, dan kali ini sikap Lucy malah terlihat seperti menantang seolah-olah sedang menawarkan bibir tersenyum manisnya itu kepada Natsu.

Perlahan Lucy memejamkan kedua matanya sambil meresapi rasa hangat yang begitu dekat saat bibir tipis cantiknya itu mulai berdekatan dan saling bertukar nafas dalam jarak 3 cm dengan bibir Natsu.

Jarak 2 cm...

Jarak 1 cm...

Jarak 0.5 cm saat ujung bibir mereka berdua semakin nyaris bersentuhan.

"Are?!" tiba-tiba saja Natsu kehilangan keseimbangan tubuhnya yang sedang jongkok di bibir jendela kantor itu.

"Ghaaaaa!~" teriak Natsu panik saat tubuhnya akan jatuh ke bawah gedung.

"Natsuuu!~" teriak Lucy ikut panik sambil mencoba meraih tangan Natsu.

'Tap~' untuk saja Natsu reflek saat tangan kanannya menangkap bibir kusen jendela kantor Lucy. Akhirnya akhirnya Natsu berhasil menyelamatkan tubuhnya yang nyaris terjatuh ke bawah gedung itu.

"Hupf..Ah...Abunee..." hela Natsu merasa lega setelah nyaris jatuh, lalu ia memanjatkan tubuhnya kembali hingga duduk bersandar di sisi samping bibir jendela.

'Tadi itu benar-benar nyaris...' batin Lucy wajahnya sedikit bete, kata batinya itu mengandung dua arti sekaligus antara nyaris berciuman dan nyaris melihat Natsu akan jatuh ke bawah gedung.

"Oh ya Luce, apa kau masih berniat melakukan penyelidikan lebih lanjut tentang kasus pencurian The Sancy Diamond itu?" tanya Natsu.

"Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya kembali Lucy heran dengan pertanyaan Natsu.

"Yang ingin aku tanyakan sebenarnya The Sancy Diamond itu milik siapa? Itulah pertanyaan yang tiba-tiba timbul dalam diriku saat aku jadi seorang pelayan di acara pelelangan di LA Museum karena yang aku tahu jika berlian itu milik negara kita, kenapa malah di lelangkan? Dan aku rasa benda termahal di dunia itu harusnya di abadikan saja..." Natsu sedang mengemukakan persepsi yang ada dalam fikirannya.

'Benar juga, kenapa tidak terfikir olehku? Dari kemarin aku hanya memikirkan tentang siapa pelaku dibalik kasus pencurian The Sancy Diamond itu tanpa memikirkan siapa pemiliknya...' batin Lucy dan bergegas membuka laci meja kerja yang menyimpan banyak dokument penting. Lucy mengambil kembali Map Hitam berisikan dokiment permintaan VIP yang sempat diberikan oleh Gildarts kemarin, lalu membaca ulang isi dokument permintaannya.

'Sudah kuduga, dokument permintaan VIP ini hanya diajukan oleh satu pihak saja yaitu LA Museum sendiri. Mereka hanya meminta bantuan kepada semua pihak Departement untuk ikut berpartisipasi dalam masalah keamanan agar acara pelelangan itu bisa berjalan dengan semestinya, tapi aku rasa sebenarnya bukan seperti itu...' Lucy pun memasukan kembali dokument itu ke dalam laci meja kerjanya itu setelah membacanya. Tiba-tiba saja Lucy bergegas keluar dari ruang kantornya.

"L-Lucy tunggu!" Natsu mencoba menghentikannya, namun Lucy malah mengabaikannya.

"Haaah~ terkadang jalan fikirannya itu benar-benar sulit difahami..." keluh Natsu mengenduskan nafasnya yang panjang setelah Lucy menghilang dari hadapannya.

.

.

Lucy berjalan sedikit tergesa-gesa di koridor melewati bebarapa ruang kantor disampinya hingga akhirnya ia pun sampai di depan pintu Lift. Lucy sedang menunggu pintu Lift yang nantinya akan terbuka itu ketika ia melihat layar hitam berangka digital merah di samping kanan pintu Lift itu sedang menunjukan keterangan angka 1, lalu tanda panah ke atas. Akhirnya pintu Lift itu terbuka dan terlihatlah di dalamnya Lift itu ada sang Head Officer berpakaian Jas coklat yang bernama Gildarts Clive.

"Yo~ Heartfilia...hihi..." sapa Gildarts sambil melambai tangan dan menyeringaikan tawanya kepada Lucy, jika melihat sikap Gildarts saat ini sepertinya Gildarts melupakan sikap wibawanya.

"Maaf Pak, saya sedang buru-buru..." kata Lucy serius dan langsung menerobos masuk ke dalam Lift sambil menekan tombol yang ada di sudut kanan Lift menuju Lantai UG-1 (Lantai bawah tanah). Lalu pintu Lift itu pun langsung tertutup secara otomatis dan Lift nya pun perlahan turun ke bawah menuju Lantai UG-1 tanpa memberikan kesempatan kepada Gildarts untuk keluar dari ruangan Lift.

"H-Heartfilia...tunggu..." Gildarts merasa serba salah saat menghadapi sikap Lucy yang benar-benar sedang serius.

"Pak, sepertinya Dokument permintaan VIP yang anda berikan kemarin ada yang tidak beres..." Lucy masih mempertahankan sikap seriusnya langsung menatap Gildarts.

"Hoooh~ ternyata kau menyadarinya juga..." kata Gildarts mencoba mengembalikan sikap wibawanya kembali, namun bentuk sorot matanya malah membulat seperti seperti ingin menggoda Lucy.

"Maksud anda apa Pak?" tanya Lucy.

"Ehem!~ Maksudku...sebelumnya aku juga sempat membacanya dan ternyata isi dokument itu memang ada yang tidak beres...tadinya aku berniat menganalisa dokument itu lebih dalam, tapi karena aku akhir-akhir ini sangat sibuk pertemuan rapat antar kepala Departement jadi menyerahkan dokument itu kepadamu..." kata Gildarts.

"Kenapa kemarin anda tidak memberitahu saya langsung Pak?!" ucap Lucy kesal.

"Aku hanya ingin menguji seberapa cermat seorang guru TK menganalisa kasus seperti ini...hihi..." kata Gidarts yang akhirnya malah mencoba untuk bercanda dengan Lucy.

"Hmfh?!" Lucy pun memplototi Gildarts sambil menunjukkan wajahnya yang memerah padam karena rasa kesalnya sudah di ambang batas.

'Celaka...firasatku kali ini benar-benar sangat buruk...' batin Gildarts langsung Sweatdrop seketika, dan wajahnya pun langsung Bitch Please saat setelah berpaling membelakingi Lucy. Semua itu menandakan bahwa dirinya sedang ketakutan karena terancam bahaya.

.

.

Lantai-1

.

.

Lantai UG-1

Pintu Lift pun terbuka secara otomatis dan akhir Lucy keluar dari Lift itu. Terlihat olehnya sebuah koridor yang memiliki jarak 10 meter dan lampu-lampunya sedikit redup sehingga membuat suasana di sekitar koridor itu agak gelap. Di sisi tengah koridor itu terdapat dua buah pintu masuk dari bahan baja yang tertutup rapat dan saling bersebrangan. Pintu masuk ruangan sebelah kiri memuat keterangan Technology's Room dan pintu masuk sebelah kanan memuat keterangan Weapon's Room.

"Terima kasih mengantar saya kemari...hmm..." ucap Lucy tersenyum dengan wajah tanpa dosa.

"Hmmmfh!~ &%&# $#!# Hmmfh!~" kata-kata Gildarts terdengar tidak jelas, dan ternyata Gildarts sedang dalam keadaan dibungkam mulutnya dengan selembar Solatif hitam serta kedua tangan dan kakinya sedang di ikat oleh Tali kur warna putih.

'nit~'Lucy pun menekan tombol yang ada di sebelah kanan pintu Lift hingga pintunya tertutup secara otomatis, dan terdengarlah suara Lift saat sedang bergeser ke atas hanya untuk mengantarkan kembali Gildarts ke Lantai-2.

'Aku harus membicarakan masalah ini dengan Gray dan Juvia...'batinya sambil berjalan di sekitar koridor hanya untuk mencari Gray dan Juvia.

.

.

Weapon's Room

Suasana pencahayaan yang sedikit redup di dalam ruang persenjataan/Weapon's Room. Banyak berbagai jenis senjata api yang terpajang di sisi tembok sebelah kiri pintu masuk, dan juga terdapat sebuah lemari berukuran volume Panjang 2 meter, lebar 1 meter, dengan ketebalan 0.5 meter dan juga memiliki 100 buah laci yang berisikan amunisi/peluru untuk berbagai jenis senjata. Terlihat disana Gray sedang mengambil sebuah Sniper SR-25 yang dilengkapi dengan Barrel peredam, lalu membuka salah satu laci lemari hanya untuk mengambil amunisinya.

Di sisi tembok sebelah kanannya lagi setelah melewati sudut sisi tembok persenjataan terdapat sebuah lemari yang memiliki ukuran yang sama, hanya saja lemari itu terdapat 10 buah pintu sekat dan di dalamnya terdapat banyak pakaian-pakaian SWAT serta perlengkapannya. Terlihat bagian pintu lemari pertama dalam keadaan terbuka saat Juvia di depannya sedang melepas Vest/rompi anti peluru dan juga membuka kemeja hitamnya sehingga Juvia hanya memakai singlet hitam bertuliskan SWAT di bagian punggungnya serta celana hitam SWAT yang masih ia pakai.

Juvia pun ikut menghampiri dindin persenjata hanya untuk mengambil satu set rangkaian Pistol yang masih belum dirakit, lalu Juvia duduk di kursi meja yang ada di tengah-tengah ruangan dan mulai merakit rangkaian Pistol yang telah di pilih olehnya tadi.

Di sebelah kanan pintu masuk terdapat lima buah jendela besar secara berurutan mulai dari 1 s/d 5 dan setiap masing-masing jendela terdapat mesin panel kendali. Jika melihat ke depan lima buah jendela itu ternyata ada ruangan lagi seluas maksimal 50 meter. Ada lima buah papan target berbentuk menyerupai tubuh manusia dan setiap papan target itu memiliki lingkaran Spiral di bagian dada dan kepalanya, tentunya jika kita melihat lingkaran Spiral terkecil berwarna merah tua adalah bagian titik terfatal di bagian tubuh manusia bila di umpamakan. Masing-masing papan target berhadapan dengan masing-masing setiap jendela dalam jarak 10 meter dan jika ingin mengatur jarak papan target itu kita hanya tinggal mengatur di mesin panel yang terpasang di setiap jendela.

Gray sedang menghampiri jendela yang pertama karena ingin mencoba kembali untuk mengasah kemampuan membidik target dengan sebuah Sniper SR-25 di tangan kanannya. Gray pun mengoprasikan mesin panel yang ada di dekat jendela tersebut sehingga papan targetnya pun mulai menjauh ke dalam jarak maksimal 50 meter. Perlahan Gray mulai membidikkan Sniper di tangannya itu ke depan, lalu mata kirinya terpejam dan mata kanannya tetap terbuka karena sedang menerawang titik target terfatal dari papan target itu lewat selongsong Scope yang terletak di bagian tengah atas Sniper-nya.

Scope : Lensa alat bantu seperti teropong dan biasanya lebih sering di paasang pada Sniper karena membutuhkan jangkauan tembak yang efektif.

'Selama ini aku hanya bisa membidik target dalam jarak 30 meter, dan itu pun sangat sulit karena hasil ukur dari titik Scope saat membidik target terkadang tidak selalu tepat setelah aku menembakkan pelurunya...'batin Gray sambil tetap fokus membidik papan targetnya, perlahan jari telunjuk kanannya ia gerakan maju-mundur menyentuh Trigger/Pemicu hanya untuk mengambil ancang-ancang saat ingin menembakkan pelurunya.

'Shiuutt!~'satu buah peluru telah dilontarkan menuju papan target setelah Gray menarik Trigger/Pemicu di bagian Sniper-nya.

45 meter...

30 meter...

15 meter...

05 meter...

'Shuutt-Tap!~' peluru yang berputar melesat cepat itu pun menembus bagian dada papan target itu, namun tidak tepat mengenai titik tengah terfatal dari lingkaran Spiral-nya.

"Hmph~ lagi-lagi meleset..." keluhnya mengendus, lalu Gray menarik tuas Slide yang ada di bagian belakang Sniper-nya untuk mengisi ulang kembali amunisi/peluru.

"Hmm~" Juvia hanya tersenyum manis saat mendengarkan keluhan dari Gray.

"Yah~, paling tidak hari ini aku berhasil membuat seorang wanita Recon Shooter tersenyum manis hanya untuk mengejek kemampuanku dalam membidik Sniper..." tiba-tiba saja Gray menjadi sedikit Sensitif.

"Maaf, Juvia tidak ada waktu untuk melakukan hal seperti itu..." balas Juvia ramah.

Juvia akhirnya selesai melakukan pekerjaannya untuk merakit sebuah Pistol, dan ternyata Pistol yang telah ia rakit itu menghasilkan Pistol Magnum Desert Eagle Silver. Kapasitas Magazine (wadah peluru) pada Pistol itu hanya bisa menampung 7 butir peluru saja karena kaliber peluru nya itu memiliki diameter 0.5 inch. Juvia pun mulai memasang 7 butir Amunisi nya ke dalam Magazine dan memasukkan ke dalam Pistol tersebut.

"Juvia sarankan untuk lebih tenang lagi jika ingin membidik sasaran target, karena sangat berbahaya jika kita sampai salah sasaran dan melukai orang yang tidak berdosa..." saran Juvia sambil menghampiri Gray dan berdiri di samping kanannya.

"Kalau begitu bisakah kau tunjukkan padaku bagamana cara membidik target dengan baik? Nn. Recon Shooter..." Gray mencoba memberikan Sniper SR-25 di tangannya kepada Juvia.

"Hmm..." Juvia tersenyum ramah kembali, sikapnya terkesan sedang menolak secara halus untuk menerima Sniper yang sedang diberikan oleh Gray itu kepadanya.

'Crek-crek!'terdengar suara Reload saat jari tangan kiri Juvia menarik Slide di bagian atas Pistol Magnum Desert Eagle Mk. II Silver yang sedang di genggam oleh tangan kanannya.

Lalu Juvia memposisikan tubuhnya dan membidikkan Pistol yang ada di tangannya itu ke arah papan target yang sempat di lubagi oleh Gray tadi dalam jarak 50 meter.

"Eh?! Kau berniat membidik target dalam jarak 50 meter dengan Pistol itu?" tanya Gray sedikit ragu karena belum pernah melihat kemampuan Juvia dalam membidik target. Ia melihat ke arah Pistol yang ada di tangan Juvia itu tidak dilengkapi dengan sebuah Scope di bagian atasnya.

"Bukankah jarak lontar peluru Pistol Desert Eagle Silver itu bisa mencapai 250 meter? Bagi Juvia jarak 50 meter itu terlalu dekat..." ucap Juvia santai saat mata kirinya terpejam dan mata kanannya tetap membidik lurus dengan tatapan yang sedikit intens menuju ke arah papan target.

'T-Terlalu dekat? Yang benar saja...apa mungkin Lensa di bagian retina matanya itu memiliki kemampuan jarak pandang seperti Scope? Ah sudahlah...lebih baik aku memperhatikannya saja...'batin Gray sambil memperhatikan sikap Juvia yang begitu tenang saat membidik targetnya.

'Duar!~'terdengar suara ledakan api tembak setelah jari telunjuk tangan kanan Juvia menarik Triggel/Pemicu di bagian Pistol-nya. Sebuah Peluru Kaliber 0.5 inch pun muncul dan meluncur untuk melubangi papan target itu dalam jarak 50 meter.

45 meter...

30 meter...

15 meter...

05 meter...

Gray tidak bisa melihat dengan mata telanjak untuk hasil lubang peluru yang telah di tembakkan oleh Juvia tadi. Lalu Gray mencoba menerawangnya dengan Scope Sniper yang masih ia genggam.

"Bokis Ah!" Gray langsung tercengang saat melihat titik lingkaran Spiral kecil terfatal yang berada di bagian kepala papan target itu telah dilubangi dengan sempurna oleh sebuah peluru setelah Juvia menembaknya.

"Mau mencobanya?...hmm..." tawar Juvia sambil tersenyum manis, dan kali ini Juvia yang menyodorkan Pistol Magnum Desert Eagle Silver di tangannya itu kepada Gray.

"Hmph~ lagi-lagi kau mengejekku..." keluh Gray sedikit salah sangka lagi kepada Juvia.

"Ya sudah..." kata Juvia cuek, lalu Juvia memasukkan Pistol di tangan kanannya itu ke dalam sarung yang terletak di bagian kanan sabuk yang masih ia pakai.

'Clek!~' tiba-tiba saja pintu ruangan Weapon's Room terbuka lebar, dan terlihat Lucy dengan wajahnya yang masih serius langsung menghampiri Gray dan Juvia.

"Gray! Juvia! Bisakah kita bertiga bicara sebentar?" tanya Lucy dan kali ia menanatap sedikit intens kepada mereka berdua.

"Ada apa?" tanya Gray heran.

Lucy pun mulai bercerita tentang masalah hubungan keterkaitan antara kasus pencurian The Sancy Diamond yang terjadi di LA Museum dengan masalah Dokument permintaan VIP yang sempat ia dapatkan dari Gildarts selaku Head Officer di SAPD Coporation.

"Kita tidak tahu bahwa The Sancy Diamond itu milik siapa. Jika memang salah satu berlian termahal di dunia itu milik negara kita, seharusnya memang di abadikan di LA Museum. Aku menyadarinya setelah Natsu mengatakan semuanya padaku..." ucap Lucy menyampaikan persepsi yang sama seperti Natsu.

"Itu berarti The Sancy Diamond itu hasil curian seseorang yang kemudian di pamerkan kembali dan dilelangkan di LA Museum, namun sayang saat pada dilelangkan kembali malah di curi lagi oleh pihak lainnya. Kasus ini benar-benar cukup rumit..." kata Juvia sambil ikut berfikir dalam pembicaraannya dengan Lucy.

"Jika aku ingat-ingat waktu itu memang tidak ada seseorang yang berteriak jika memang The Sancy Diamond itu miliknya..." sambung Gray ikut berfikir juga.

"Gray, Juvia, biarkan aku malam ini ikut bersama kalian berdua untuk menyelidiki kasus ini lebih dalam..." pinta Lucy serius.

"Eh?! Apa kau berniat untuk..." Gray terkejut mendengar keputusan Lucy.

"Bukankah Natsu masih belum bisa menjalankan tugas dengan semestinya karena masih dalam proses hukuman yang di berikan oleh pihak UMO? Jadi untuk sementara biar aku saja yang menggantikan posisinya..." pinta Lucy lagi setelah yakin dengan keputusannya.

.

.

05.00 PM

Hari semakin terasa petang di wilayah Los Angeles, termasuk lingkungan sekitar SAPD Coporation. Namun 20 orang anggota SWAT Trainer bersama satu orang SWAT Senior Kelas-A masih melakukan latihan baris-berbaris membentuk formasi pertahan di lapangan Militer seluas 400 meter yang ada di sebelah kanan gedung kantor. Dan kali ini 20 orang anggota SWAT Trainer itu masing-masing telah memegang senjata api yang sama yaitu AK-47.

"Barisan pertama siap?!"

"Aye, Sir!"

"Delapan orang lagi tolong bentuk barisan formasi sayap pertahanan!"

"Aye!"

"Hey! Kau yang disana! Kenapa kau malah melamun?!"

"M-maaf!"

Di sisi kiri lapangan terlihat Natsu sedang duduk sambil memeluk lutut di tanah rumput yang memiliki kemiringan 30 derajat. Kedua matanya sedang serius memperhatikan mereka yang sedang berlatih di tengah lapangan Militer. Terlihat sehelai batang rumput sedikit bergoyang kesana-kemari di bibir Natsu yang masih tertutup rapat, mungkin ujung batang rumput itu sedang di kunyah giginya.

'Tap~' tiba-tiba saja ada seorang wanita dibelakangnya menepuk pelan bagian belakang pundak Natsu.

"Em?" Natsu pun menoleh kebelakang.

"Hmm~" wanita itu langsung tersenyum smile eyes saat Natsu menoleh, dan ternyata wanita itu adalah Yukino.

"Yukino ternyata, maaf aku tidak menyadari keberadaanmu..." sambut Natsu dan wajahnya tiba-tiba saja menjadi ceria.

"Boleh aku ikut duduk?" pinta Yukino.

"Silahkan..." balas Natsu sambil menyuraikan tangan kanannya yang mengarah ke tanah rumput.

Yukino pun langsung duduk dan memeluk lututnya di samping kanan berdekatan dengan Natsu, dan juga Yukino ikut memperhatikan mereka para anggota SWAT Trainder yang masih berlatih di tengah lapangan Militer.

"Sampai sekarang kebiasaanmu yang selalu menyendiri masih tidak berubah..." ucap Yukino dan kali ini tatapannya tertuju ke arah langit yang sedang lembayung di sore hari.

"Ghahaha~, ternyata selama ini kau selalu memperhatikanku..." balas Natsu tertawa GR.

"Oh ya Yukino, apa kau ingat ketika pertama kali kita bertemu tiga tahun yang lalu di Bandara Amerika? Waktu itu di kantor imigrasi dari sedikit jumlah orang Jepang hanya aku sendiri satu-satunya orang Jepang yang payah sekali berbicara Bahasa English sampai-sampai aku di curigai sebagai imigran ilegal, padahal aku sudah menunjukan VISA milikku yang tergolong dalam kategori Pertahanan Militer..." Natsu sedang membicarakan tentang kisah hidupnya ketika pertama kali bertemu Yukino.

"Iya, aku ingat...waktu itu aku ada dibelakangmu saat mengantri di Loket antrian untuk para warga negara asing yang akan mendaftar kepedudukan di kantor imigrasi. Pertama kali aku melihatmu ketika sedang di uji oleh seorang petugas keamanan dengan sebuah pertanyaan menggunakan Bahasa English 'Are you illegal Immigrant?/Apakah anda ini adalah seorang imigran ilegal?', lalu dengan percaya dirinya kau menjawab 'Of Course/Tentu saja'...hmm...hmm..." Yukino ikut melanjutkan ceritanya, terlihat bibir Yukino yang sedikit bergetar karena sedang menahan tawanya.

"Setelah itu tiba-tiba saja lima orang Security langsung mengintrogasiku dan memeriksa semua barang-barang bawaanku, dan yang lebih parahnya lagi mereka mengira bahwa aku ini seorang Teroris karena menemukan Pistol dan beberapa perlengkapan SWAT lainnya di dalam tasku...Ghahaha...hahaha..." Natsu kali ini malah tertawa terbahak-bahak.

"Seharusnya kau membawa pakaian SWAT milikmu juga agar bisa menjadi bukti bahwa kau bukan seorang Teroris, tapi kau seorang Counter Terorist/Pemburu Teroris..." sambung Yukino.

"Untung saja waktu itu kau datang di saat yang tepat dan membantuku meluruskan semua permasalahannya sehingga aku diberikan izin tinggal dan mendapatkan kependudukanku. Jujur saja waktu itu aku benar-benar sangat panik karena baru pertama kalinya aku menginjakan kaki di negara lain...Yah, maksud negara Amerika ini...hahaha..." sambung Natsu melanjutkan kembali ceritanya.

"Oh ya, waktu itu aku benar-benar tidak menyangka karena ternyata kau dan aku di mutasikan untuk bekerja di kantor yang sama, yaitu tempat kita bekerja sampai sekarang...SAPD Coporation...disini pertama kali juga kita berdua bertemu Gray, sehingga kita bertiga bisa menjalin hubungan pertemanan yang begitu dekat sampai sekarang...hmm..." terlihat wajah Yukino seperti sedang bernostalgia saat masih memandang ke arah langit.

"Yah~, kau benar...kita bertiga benar-benar berteman sangat dekat..." Natsu pun ikut tertuju memandang ke arah langit menemani Yukino.

Tiba-tiba saja Yukino menundukan kepalanya saat masih dalam keadaan duduk memeluk lutut, begitu juga dengan Natsu yang kehabisan bahan pembicaraan membuat suasana dirinya malah menjadi canggung. Lho, apa yang terjadi? Tiba-tiba saja selaput di bagian mata Yukino menjadi berkaca-kaca saat Natsu berpaling melihat wajah Yukino, padahal Natsu tidak mengatakan hal-hal yang membuat Yukino tersinggung.

"Ada apa Yukino?" tanya Natsu heran, namun tiba-tiba saja Yukino melelehkan air matanya.

"Eh?! Yu-Yukino, kau itu kenapa?" tanya Natsu lagi yang kali ini panik melihat Yukino di sampingnya seperti ingin menangis karena sesuatu.

"Natsu, kau adalah laki-laki yang sangat baik dari semua laki-laki yang pernah aku temui...hiks...tapi aku malah mengecewakan perasaanmu waktu kau tiba-tiba memiliki perasaan untuk mencintaiku, dan juga aku sudah menolak lamaranmu..." kata Yukino menyesal.

"A-aku...mmm...masalah itu kau jangan terlalu memikirkannya...sungguh...aku tidak apa-apa kok...hahah..." balas Natsu sambil menunjukkan tawanya untuk menghibur Yukino, namun tawanya kali ini malah terlihat sedikit memaksakan diri jika melihat ujung kedua alis matanya yang sedikit mengerut.

"Sebelum kau mencintaiku ada seorang laki-laki SWAT sepertimu yang bekerja di LAPD Coporation mencoba untuk melakukan pendekatan denganku. Waktu itu aku sendiri bingung dengan perasaanku karena kau sangat di sibukan dengan pekerjaanmu sehingga kau hampir tidak punya waktu untukku, dan itu semua membuatku benar-benar merasa kesepian. Tapi aku mengerti kenapa kau sibuk dengan pekerjaanmu itu karena kau juga ingin merencanakan tentang masa depan, tapi waktu itu aku tidak tahu kalau kau ingin merencanakan masa depan bersamaku..." Yukino pun akhirnya mengatakan alasannya kenapa selama ini menolak Natsu.

"Sebenarnya waktu itu kau ingin mengatakan padaku bahwa aku sudah terlambat menyatakan perasaanku sehingga laki-laki itu telah lebih dulu menyatakan perasaannya dan melamarmu, benarkan? Sudahlah, kau tidak perlu merahasiakannya lagi padaku karena aku bisa mengenebaknya dengan cara melihat raut wajahmu itu. Selama ini kau tidak pernah mengatakannya karena kau juga sedang mengalami kesulitan untuk tega mengatakannya padaku..." Natsu mencoba bersikap santai di hadapan Yukino.

"Mungkin laki-laki itu lebih tampan dariku, atau mungkin laki-laki itu lebih kaya jika melihat dari segi finansial..." kata Natsu, namun kata-katanya seperti sedang menyinggung Yukino.

"Natsuuu!" bentak Yukino dengan raut wajah yang terlihat kesal.

"Yah~, mungkin sebagian laki-laki yang sedang cembur akan mengatakan hal seperti itu, tapi aku percaya dengan laki-laki pilihanmu itu bukan karena tampan atau pun kaya raya...melainkan dia adalah satu-satunya laki-laki yang bisa membuatmu merasa nyaman jika berada di dekatnya. Benarkan apa kataku?..hehe..." terlihat sikap Natsu kali ini sedang menggoda saat siku tangan kanannya meninggung pelan ke bagian pinggang Yukino.

"Natsu..." lirih Yukino dan kali ini raut wajah kesalnya berubah menjadi terharu saat mendengar ucapan Natsu yang terakhir.

"Oh ya, jika nanti kau menikah dengan laki-laki maka aku akan..." kata Natsu, ucapan terakhirnya tidak begitu jelas karena terhalangi oleh suara-suara 20 orang anggota SWAT Trainer yang masih melakukan latihannya di tengah lapangan Militer.

"Kau yang disana kenapa melamun lagi?! Aku bilang konsentrasiii!"

"Siaaap komandaaan!"

"Baiklah, karena waktunya sudah habis kita akhiri dulu latihannya sampai disini!"

"Aye, sir!"

"Are?! Apa benar kau benar-benar bisa melakukkannya?!" tanya Yukino terkejut, dan hanya dia yang bisa mendengar ucapan terakhir Natsu tadi.

"Lihat saja nanti...hihihi..." jawab Natsu santai sambil kembali menunjukan seringaian tawanya.

"hmm~" Yukino pun membalas senyumannya kepada Natsu.

'Cup~'satu kecupan kening dari Yukino kepada Natsu.

"Hahaha~, hari ini aku malah mendapatkan satu kecupan manis dari seorang wanita yang ingin menikah..." kata Natsu merasa geli saat menyentuh dahinya.

"Anggap saja itu adalah hadiah pertemanan dariku..." kata Yukino.

"Baiklah Yukino, aku tinggal dulu karena malam ini ada pekerjaan sampingan lain yang sedang menungguku...sampai nanti..." Natsu langsung membangunkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu gedung kantor yang berada dekat dengan sisi lapangan Militer.

"..." Yukino yang masih duduk memeluk lutut di sisi lapangan langsung berpaling kebelakang hanya untuk memandang bagian punggung Natsu yang semakin menjauh darinya.

"Natsuuu! Semoga pekerjaanmu menyenangkan!" teriak Yukino saat Natsu berjalan meninggalkannya, dan Natsu yang masih membelakangi Yukino langsung membalasnya dengan sebuah lambaian tangan.

'Natsu, terima kasih atas segala pengertianmu selama ini padaku. Aku tidak tahu harus bagaimana membalas semua kebaikanmu itu padaku. Aku harap kau juga mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku dan selalu ada untukmu...' batinnya.

.

Time Skip...

.

Weapon's Room

Kembali ke dalam ruangan redup tempat persenjataan yang berada di Lantai UG-1. Gray dan Juvia sedang melengkapi tubuhnya kembali dengan beberapa perlengkapa SWAT seperti Vest (rompi anti peluru) dan dua buah jenis senjata api yang mereka berdua simpan di pungggungnya.

Gray melengkapi punggungnya dengan senjata api utama (Main Weapon) SMG P90 dan senjata api cadangan (Secondary weapon) Pistol PT92 Taurus 9mm pada saku Pistol yang terletak di sebelah kanan sabuknya. Juvia melengkapi punggungnya dengan senjata api utama (main weapon) Sniper M-200 dan senjata apu cadangan (Secondary Weapon) Pistol Desert Eagle Silver pada saku Pistol yang terletak di sebelah kanan sabuknya. Tidak lupa dengan sebuah Earphone (sejenis Earphone Bluetooth) menempel dibagian telinga kiri mereka berdua, dan juga sebuah Knife yang menggantung dibagian kiri sabuknya.

Tunggu dulu! Apa yang terjadi dengan pakaian Lucy kali ini? Tidak tahu kenapa Lucy kali ini malah memakai pakaian seragam SWAT juga, namun Lucy belum sama sekali melengkapi dirinya dengan senjata api apapun. Hanya sebuah Knife yang menggantung di sebelah kiri sabuknya. Saat ini Lucy tinggal melengkapi tubuhnya dengan sebuah Vest.

'Clek!~' tiba-tiba saja pintu ruangan pun terbuka saat mereka bertiga masih berada di dalam, ternyata yang membuka pintu itu adalah Natsu.

"Haaaaah~ Lucy, kau sangat cocok memakai seragam SWAT seperti itu..." puji Natsu tercengang sedikit lebay hingga mengenduskan nafas berisiknya saat menghampiri Lucy.

"Lucy, apa kau sudah benar-benar siap dengan keputusanmu untuk ikut bersamaku dan Juvia? Aku takut penyelidikan kasus kali ini akan sangat berbahaya untukmu..." saran Gray sedikit khawatir.

"Apa? Jadi ternyata kau ingin ikut menjalankan penyelidikan kasus selanjutnya bersama Gray dan Juvia?" Natsu sedang berpura-pura terkejut, namun raut wajahnya itu malah terlihat seperti sedang meremehkan Lucy.

"...?!" seketika Lucy menatap intens kepada Natsu, dan tanpa basa-basi Lucy langsung mengayunkan sebuah tendangan kaki kanannya dengan sempurna menuju ke arah kepala Natsu.

'Tap!~' dengan mudah tangan kiri Natsu menangkis dan menangkap pergelangan tendangan kaki kanan Lucy.

"L-Lucy?~" Gray tercengang saat melihat tendangan kaki kanan Lucy yang begitu sempurna, dan Juvia hanya diam memperhatikannya.

"Seperti yang kau lihat Gray, kau tidak perlu ragu-ragu membawa Lucy untuk menggantikanku. Karena sepertinya Lucy juga memiliki teknik bela diri yang cukup bagus...hmm..." kata Natsu langsung tersenyum dan menatap intens saat masih menggenggam pergelangan kaki kanan Lucy.

"Hmm~" Lucy membalas senyuman dan tatapan intens nya kepada Natsu, lalu Lucy kembali menurunkan tendangan kaki kanannya.

"Baiklah kalau begitu, ayo Juvia..." perintah Gray bersikap dingin, lalu ia pun keluar dari pintu ruangan dan Juvia mengikutinya dari belakang.

Natsu langsung membuka pintu lemari urutan ke-3 dari 10 pintu lemari yang menyimpan pakaian dan perlengkapan SWAT miliknya. Sebenarnya Natsu ingin mengambil apa di dalam lemari itu? Ternyata Natsu mengambil Vest (rompi anti peluru) miliknya dan langsung kembali menghampiri Lucy.

"Lucy, sebenarnya saat ini aku sendiri yang paling khawatir dengan keputusanmu untuk ikut terlibat dalam penyelidikan kasus lanjutan bersama Gray dan Juvia. Tapi jika kau masih bersih keras ingin melakukannya, maka aku pun tidak bisa memaksakan diriku untuk melarangmu karena pekerjaan utamamu memang menyelidiki sebuah kasus. Karena aku masih tidak diberikan izin oleh pihak UMO untuk menyelidiki kasus seperti ini maka mau tidak mau aku harus menyerahkan semuanya padamu untuk menggantikan posisiku. Jadi bawalah sebagian diriku yang mati ini bersamamu meskipun hanya bisa melindungimu sementara waktu..." kata Natsu sambil memakaikan Vest miliknya kepada Lucy.

Natsu mengatakan sebagian dirinya yang mati maksudnya adalah Vest/rompi anti peluru miliknya yang diberikan kepada Lucy.

"Kau tahu? Setelah aku diterima bekerja di Departement kepolisian ini aku sudah memutuskan untuk menghadapi segala resiko yang akan aku hadapi nantinya. Jadi apapun yang akan terjadi padaku kau harus tetap mendukung keputusanku..." pinta Lucy sambil tangan kirinya menggenggam tangan Natsu yang sedang menjepitkan pengikat Vest di bagian bahunya.

"Baiklah Nn. Heartfilia yang cantik, aku mengandalkanmu karena malam ini aku juga harus menjalankan misi sampinganku. Jika kau sedang benar-benar terdesak, sebut namaku tiga kali...hihi..." kata Natsu tertawa.

.

Time Skip...

.

08.00 PM, Los Angeles City – Gardena, Marine Ave.

Malam hari pun tiba di sekitar kota Gardena, melihat suasana gelap di kawasan kota itu malah terlihat seperti kota mati. Terutama di kawasan Marine Ave terlihat beberapa orang preman yang selalu berkeliaran malam hari di pinggir jalan raya dekat Halte Bis. Jika kita hitung jumlah preman itu ada empat orang. Obat-obatan terlarang, beberapa botol minuman keras, jarum suntik medis, serta gilingan daun ganja kering adalah makanan mereka di malam hari.

"Hahaha~ disinilah surga kita..." ucap si preman satu yang terlihat seperti sedang mabuk.

"Hahahah~ kau benar, akan lebih hebat lagi jika ada seorang wanita sendirian melewat ke tempat seperti ini..." sambung salah satu temannya yang ikut dalam keadaan botol.

"Hahaha~" dua orang temannya lagi hanya ikut tertawa.

Tunggu! Sepertinya ada seorang wanita berpakaian Jaket bahan Levis dan celana Jean's hitam sedikit ketat sedang berjalan sendirian melewati mereka berempat. Bukankah sangat berbahaya untuknya jika sedang sendirian? Tapi melihat wanita yang sedang lewat itu sepertinya terlihat tidak asing lagi. Oh, ternyata wanita itu Erza Scarlet, tapi apa yang sedang dilakukannya berkeliaran malam hari seperti ini? Dan lagi jika melihat raut wajahnya malah terlihat santai-santai saja saat sedang berjalan melewati empat orang itu. Lalu tiba-tiba saja wanita berambut merah berbelok mengambil jalan di sela-sela gedung yang sedikit sempit.

"Hey, wanita itu benar-benar cantik...hihi..." ucap peraman itu melihatnya.

"Melihat dari cara penampilannya, sepertinya wanita itu orang kaya..." kata temannya.

"Lebih baik kita ikuti saja wanita itu..." sambung yang lainnya.

"Hahaha~ ternyata surga yang sebenarnya malah muncul..." sambug yang lainnya lagi.

Tiba-tiba saja wanita berambut merah itu berhenti melangkah di tengah jalan, dan kali ini suasana sekitarnya terlihat lebih gelap dari sebelumnya setelah ia cukup lama berjalan. Banyak beberapa kantong sampah pelastik yang berserakan di sekitarnya karena tempat sampah yang ada di sekitarnya melebihi kapasitas, dan juga jalan yang sempit itu terlihat becek karena tergenang oleh air berbau menyengat yang tercemar oleh sampah-sampah yang ada di sekitarnya. Begitu juga dengan beberapa kabel listrik yang terputus dan mengeluarkan percikan-percikan api terpasang di tembok bangunan disekitarnya. Tanpa di sadari wanita berambut merah itu sedang di buntuti oleh empat orang preman yang tadi, namun wanita itu masih dalam keadaan santai-santai saja.

"Nona, sepertinya anda sedang tersesat...hihi..." ucap preman itu menatap intens bergairah bersama tiga orang temannya dibelakang.

"Oh Begitu? Kalau begitu bisakah kalian menunjukkan jalan yang benar untukku?" pinta Erza bersikap santai dan berbalik menghampiri empat orang preman itu.

"Boleh saja, tapi dengan satu syarat...Nona harus melayani kami dulu dengan tubuh indah milik Nona ini...hihi..." pinta preman itu sambil menghembuskan hawa nafas berbau Alkhohol dari wajahnya yang penuh kegairahan itu tepat berada dekat dengan wajah Erza.

"Baiklah jika kalian memang sudah tidak sabar untuk menyentuh tubuhku, tapi aku tidak yakin kalau kalian berempat bisa melayaniku dengan baik karena kalian sedang dalam keadaan mabuk...hmm..." balas Erza yang masih bersikap santai sambil melempar senyuman manisnya yang begitu menggoda.

Erza langsung melepas Jaket Levis yang melekat di tubuhnya sehingga hanya ada Singlet warna abu-abu tua yang masih melekat di tubuhnya. Bagian belahan dadanya yang begitu menantang serta bentuk pinggang seksinya yang begitu sempurna membuat penglihatan empat orang preman itu terasa di manjakan.

"Tenang saja Nona, kami bisa melakukannya dengan sangat baik..." kata preman itu semakin bergaira, lalu tiga orang temanya langsung mengepung Erza dari belakang agar tidak bisa kabur.

"Wah~wah~, jika aku melihat wajah kalian itu sepertinya sudah tidak sabar untuk menyentuh seluruh tubuhku. Bakilah kalau begitu, silahkan kalian nikmati tubuhku ini sepuasnya...hmm..." balas Erza yang kali ini menunjukkan wajah smile eyesnya.

"Nona, aku sarankan padamu untuk tidak macam-macam dengan kami...hihi..." ancam salah satu temannya di belakang Erza, dan terlihat sebuah pisau tajam di tangannya itu mengarah tepat di bagian leher Erza.

"Hey kalian berdua! Tunggu apa lagi? Cepat pegang kedua tangan wanita ini...hahaha..." perintah dari preman yang berada di depan Erza itu kepada dua orang temannya yang berada di samping kanan dan samping kiri Erza.

"Oke!" tanpa buang-buang waktu lagi dua orang temannya itu mencoba menangkap kedua tangan Erza dari arah dua samping.

"Hmm..." Erza hanya tersenyum sebelum kedua tangannya tertangkap oleh mereka berdua.

Tunggu dulu?! Apa yang terjadi?! Entah trik apa yang dilakukan oleh Erza kali ini karena tiba-tiba saja seluruh tubuhnya menjadi Fatamorgana dan terbelah seperti kabut patat saat tangan-tangan dua orang teman dari preman itu menangkap tubuhnya. Perlahan seluruh tubuh Erza yang terlihat seperti fatamorgana itu pun memudar dan melenyap seperti terhempas oleh angin.

"Eh?! Kenapa bisa begini?! Kemana dia?!" ucap preman itu terkejut dan tidak menyangka atas apa yang sedang dilihat di depan kedua matanya.

"Sayang sekali, sepertinya kalian masih harus berlatih 100 tahun lagi agar bisa menyentuh tubuhku...hmm..." tiba-tiba saja Erza sudah berada di belakang preman yang sempat berada di depannya.

"Ha-Hantuuuuu!" teriak preman itu dan langsung berlarian terbirit-birit bersama tiga orang temannya karena benar-benar sangat ketakutan melihat apa yang terjadi barusan.

"Hmph~ payah..." keluh Erza mengendus setelah empat preman itu menghilang dari hadapannya.

Erza pun kembali berjalan ke depan menelusuri jalan di sela-sela gedung yang sempit dan gelap itu hingga akhirnya ia keluar menemukan jalan raya dan berjalan kembali sambil berbelok ke samping kiri trotoar jalan raya yang sepi tanpa ada satu pun kendaraan yang lewat. Hanya ada kabut malam hari di sekitar jalan raya itu yang menemani langkahnya.

'trang!~trang!-trang!~' tiba-tiba saja ada suara ketukan besi disekitar trotoar itu.

"Em?" Erza pun langsung mengikuti arah dari mana asalnya suara ketukan besi itu.

'trang!~trang!-trang!~' suara ketukan besi itu pun terdengar kembali sehingga membuat Erza berhenti melangkah di dekatnya.

Ternyata suara itu berasal dari lingkaran besi penutup saluran pembuangan air berdiameter 35cm, banyak lubang pentilasi yang terpasang pada lingkaran besi penutup saluran pembuangan air itu.

'Trang!~' tiba-tiba saja lingkaran penutup saluran pemuangan air itu terlontar ke atas samping dan seorang laki-laki berpakaian tukang ledeng muncul dihadapan Erza.

"Haaah~ akhirnya aku menemukan jalan keluar...haha..." ucapnya sambil menghela nafas setelah naik keluar dari lubang saluran pembuangan air itu, dan yang lebih mengejutkannya lagi laki-laki berpakaian tukang ledeng itu adalah Natsu yang tidak menyadari ada Erza dibelakangnya.

"Kau sedang apa?" tegur Erza di belakang Natsu.

"Em? Rupanya kau Erza, maaf aku tidak tahu kalau kau ada dibelakangku..." balas Natsu bersikap santai setelah menoleh kebelakang, lalu Natsu mengangkut satu kantong sampah besar yang masih tertinggal di dalam lubang saluran pembuangan air itu dan meletakannya di pinggir trotoar.

Yah~ Seperti yang kau lihat, aku sedang menjadi seorang Mario Bross..." Natsu pun langsung jongkok lagi di dekat lubang saluran pembuangan air sambil membelakangi Erza.

Mario Bross : salah satu karakter Game Nintendo yang menceritakan tentang petualangan seorang tukang ledeng untuk menyelamatkan seorang tuan putri.

"Oh ya, tadi aku mendengar ada empat orang sedang berlarian disekitar sini sambil berteriak tentang 'Hantuuu!'. Sepertinya mereka benar-benar sangat ketakutan..." kata Natsu sambil berpaling kebelakang menunjukan raut wajah polosnya kepada Erza.

"Maaf, aku sedang buru-buru...permisi..." ucap Erza dingin dan langsung berjalan melewati Natsu.

'Tap!~' entah di sengaja atau tidak tiba-tiba saja bagian betis Erza menyenggol pantat Natsu yang masih jongkok dekat lubang saluran pembuangan air itu karena Natsu sedang mengambil satu kantong sampah yang masih tertinggal di dalam saluran pembuangan air.

"Ghaaa!~" teriak Natsu saat tubuhnya kehilangan keseimbangan.

'Brug!' Natsu langsung terjatuh lagi ke dalam lubang saluran pembuangan air itu, dan Erza pun melangkah semakin lebih jauh darinya.

"Ita!" rintih Natsu kesakitan sambil mengusap kepalanya saat terbangun kembali di dalam lorong gelap saluran pembuangan air.

"Hmph~ benar-benar menyebalkan..." keluhnya mengendus setelah membangunkan tubuhnya kembali.

'Oh ya, sepertinya malam ini mereka bertiga sudah mulai bergerak untuk menyelidiki kasus itu, tapi apa Lucy baik-baik saja bersama Gray dan Juvia? Sepertinya aku juga harus menyusul mereka setelah aku selesai dengan pekerjaanku ini...' batin Natsu dalam ke khawatirannya.

.

.

10.00 PM, Los Angeles City – Gardena, Ardarth Ave.

Beralih ke kawasan Ardarth Ave yang masih berada di sekitar kota Gardena. Disana juga terdapat banyak gedung-gedung tinggi, dan salah satu gedung yang berada di tengah-tengah sekitar kawasan itu adalah gedung apartement tua yang telah di jadikan sebagai sarang para Mafia. Terlihat tiga orang laki-laki berpakaian hitam Mafia sedang membentuk formasi pertahanan dan saling membelakangi membentuk titik segi tiga saat menempati sudut-sudut di atas gedung apartement tua itu. Masing-masing dari mereka telah membawa sebuah Sniper untuk memperketat penjagaannya, namun yang menjadi kesalahan mereka bertiga adalah hanya fokus memperhatikan area bawah halaman markas mereka itu karena mereka berfikir bahwa akan ada pihak kepolisian yang akan mengincar markas mereka secara sembunyi-sembunyi.

"Tetap fokus! Jangan biarkan beberapa orang dari pihak kepolisian mendekati wilayah kita!" perintah pelan dari salah satunya yang sedang melakukan komando sambil memperhatikan area depan.

"Roger!" ucap dua orang temannya yang sedang memperhatikan area belakang secara berlawanan.

Salah satu dari meraka mencoba melakuan sebuah Zoom pada Lensa Scope Sniper-nya dan mengabsen satu-persatu dari sekian banyak puncak gedung yang ada di sekitar markasnya.

"Shimatta?!" ucapnya langsung panik ketika menerawang salah satu puncak gedung paling tinggi dalam jarak 3 km. Lensa Scope di bagian Sniper-nya sedang membingkai senyuman manis milik seorang wanita berpakaian Recon Shooter yang telah lebih dulu membidik Sniper terhadap dirinya.

'Pshiuut~' satu peluru Sniper dari wanita Recon Shooter itu terlontar cepat begitu saja dan mengarah ke bagian leher milik seorang laki-laki Mafia yang sedang membidiknya itu.

'Bruk!' laki-laki Mafia itu pun langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai.

"Apa yang terjadi?!" ucap temannya panik.

Kali ini hanya tinggal mereka berdua, dan pertahanan markas pun jadi melonggar karena salah satu dari mereka sedang menghampiri temannya yang telah di lumpuhkan.

"Di bagian lehernya terkena peluru bius!" serunya setelah menghampiri dan memeriksa bagian tubuh temannya yang telah dilumpuhkan itu.

"Beritahu yang lainnya bahwa markas kita sedang tidak aman! Aku akan tetap berada disini!" perintah orang yang satunya lagi.

"Baik!"

'Shoot!~Shoot!~'dua batang peluru bius dari wanita Recon Shooter itu datang lagi dan mengincar bagian yang sama sehingga dua orang laki-laki Mafia itu pun ikut pingsan.

.

.

Seperti biasa seorang wanita cantik berpakaian Recon Shooter dengan kode ID : RCN-10-12-19116403-A yang bernama Juvia itu selalu melakukan pengintaiannya dari atas salah satu gedung yang lebih tinggi. Posisi tubuhnya yang sedang tiarap itu membuat dirinya tetap terjaga fokus membidik sasaran dalam jarak 3 km lewat Scope yang terpasang pada bagian tengah atas Sniper M-200 di tangannya.

"~Juvia, apa semuanya sudah aman?~" suara Gray terdengar masuk ke dalam Earphone yang terpasang di telinga kiri Juvia.

"Masih belum, tunggu sebentar..." jawab Juvia lembut, namun nada bicaranya sedikit misterius.

Sekali-sekali Juvia memainkan panel putar di bagian tengah selongsong Scope yang terpasang pada Sniper M-200 miliknya itu dengan jari tangan kirinya. Pandangan lensa hijau bertitik target itu pun memfokus lebih dekat lagi, lalu Juvia mengabsen satu-persatu dari sekian banyak jendela yang terpasang pada apartement tua itu.

"Lucy, coba gunakan Scane Device untuk memindai gedung apartement itu..." pinta Juvia sambil menyentuh batang Earphone yang menjalar di bagian pipi kirinya.

"~Iya, aku mengerti~" suara Lucy pun terdengar masuk ke dalam Earphone milik Jivia.

'Shuu~TRANG!~'

"Kya!~" teriak kecil Juvia langsung terkejut disaat ada sebuah peluru yang tiba-tiba melesat cepat dan menembus bagian depan lensa Scope miliknya hingga hancur, tapi untungnya Juvia memiliki respon menghindar yang bagus sehingga peluru yang melesat itu hanya menggores bagian pelipis kanannya.

"~Juvia, apa yang terjadi?~" tanya Lucy.

'Gawat! Juvia ketahuan!' batin Juvia mencoba tetap tenang disaat nafasnya sedang diburu dengan perasaan panik. Secara perlahan darah pun meleleh keluar dari luka goresan peluru di bagian pelipisnya.

"Gray, Lucy, kita beralih ke rencana B..." Juvia langsung mengambil tempat untuk menyembunyikan dirinya di balik tembok balkon yang berada di atas gedung tinggi itu.

"~Iya, tapi sebenarnya apa yang terjadi?~" tanya Lucy lagi.

"Lakusan saja, cepat..." kata Juvia lagi pelan sambil melepas Scope di bagian Sniper miliknya yang telah rusak.

Tanpa di sadari satu orang laki-laki berpakaian hitam Mafia lainnya muncul dari belakang Juvia. laki-laki itu berjalan mengendap-ngendap sambil membawa pisau di tangannya untuk mencoba menikam Juvia dari belakang. Juvia tidak menyadari laki-laki di belakangnya itu karena sedang sibuk mengganti Scope Sniper miliknya dengan yang baru.

'Craath!~' segumpal darah merah pun menciprat ke udara saat laki-laki itu menikam Juvia dari belakang, dan entah milik siapa darah yang menciprat ke udara itu.

.

.

Satu unit Armored Truck (Mobil hitam angkut-serbu personil komando SWAT) berlogo SAPD Coporation sedang bersembunyi di sela-sela gedung dalam jarak 500 meter dari belakang apartement tua/markas para Mafia itu. Mobil itu di terdapat sepuluh orang pasukan SWAT regu A termasuk Lucy dan Gray di dalamnya. Lucy berada duduk di dibangku panjang samping kiri depan paling ujung bersama empat orang anggota SWAT lainnya duduk di sampingnya berjajar. Empat orang berada di seberangnya dan duduk di bangku yang sama. Gray berada duduk dibangku tengah paling depan berdekatan dengan Lucy di samping kirinya. Baru kali ini Gray menjadi komando regu SWAT dalam misi penyelidikannya.

Gray dan Lucy gak pake Helm PASGT SWAT

"Dengar semuanya! Target kita Tama Riyadi. Saya yakin disini sudah tahu siapa dia. Semua penjahat di kota ini menganggap dia sebagai legenda dunia hitam. Mulai dari bandar narkoba, pembunuh, sampai geng preman kecil sekalipun! Selama 10 tahun terakhir ini markasnya menjadi zona bebas polisi. Saya nggak peduli siapa di belakangnya, dan seberapa besar pengaruhnya! Karena dia berani-beraninya menyewakan kamar-kamar di gedung apartemennya. Tugas kita sederhana. Kita masuk, tangkap dan seret dia keluar!" Gray sedang berdeklarasi ketika sedang menjadi komando regu SWAT. Yah, semua orang sudah tahu apa yang di ucapkan oleh Gray itu seperti Jaka dalam adegan film The Raid.

"Siap!" serentak tegas delapan anggota SWAT lainnya, kecuali Lucy terlihat sedang Sweatdrop saat memperhatikannya.

"Dia punya dua orang kepercayaan, satunya bernama Mad Dog! Anjing gila yang dipungutnya dari jalanan yang rela melakukan apa saja, dan rela mati demi dia! Satu lagi bernama Andi, otak dari bisnis Tama. Dan dia satu-satunya orang yang bisa memegang ekor Mad Dog. Saya minta waspai dua orang ini. Jika kalian lengah, kalian yang akan di bantai!" Gray malah melanjutkan kembali dialognya.

"Fokus yang penting! Amankan lantai demi lantai! Semua konsen disasaran tembang masing-masing!" Gray malah semakin mendramatisir saat masih berperan sebagai Jaka (Joe Taslim).

"Kenapa kita? Kenapa hari ini?" tanya satu di antara mereka sedang berperan sebagai Rama (Iko Uwais).

"Kenapa nggak?" sambung satu orang lagi yang disamping kanan Lucy, ia mencoba berperan sebagai Bowo (Tegar Satrya).

"Lho, itu pertanyaan yang sah!" sambung lagi yang sedang berperan sebagai Rama.

"Sama sahnya dengan jawaban gua!" balas cerca yang berperan sebagai Bowo.

"Udah selesai?!" sambung Gray yang masih mengambil perannya saat berekting membelot.

'PLAK!~' terdengar suara telapak tangan Lucy saat sedang menampar bagian depan wajah paras tampan milik si laki-laki SWAT berambut model Raven itu.

"Sudah cukup bermain adegan film The Raid nya..." lirih Lucy menggeram sambil menunjukkan kepalan tangannya. Lucy di dapati empat buah tanda siku-siku dibagian dahinya karena sedikit tidak tahan mendengar tiruan adengan film tersebut.

"Semuanya dengarkan aku baik-baik! Ini perintah dari Juvia untuk beralih melakukan rencana B! Gray dan aku akan menyelundup lebih dulu ke dalam markas mereka! Tunggu perintah dariku atau Gray untuk rencana selanjutnya dan jangan lupa untuk membawa Juvia bersama kalian. Mengerti?!" perintah tegas komando sementara dari Lucy sambil melipat kedua tangannya.

"Siap! Laksanakan!" seru mereka semua bersiaga.

"Ayo Gray, kita pergi!" pinta Lucy dan keluar dari pintu Mobil Armord Truck lebih dulu.

"Oke~" Gray mengikutinya dari belakang, wajahnya masih terlihat bete setelah menerima tamparan Lucy.

'Aku akan berusaha keras semaksimal mungkin untuk penyelidikan kasus kali ini, dan aku tidak tahu hambatan apa nantinya yang akan menimpa diriku...' batin Lucy sambil berjalan bersama Gray untuk menghampiri pagar tembok bagian belakang gedung markas Mafia itu, dan jaraknya masih berada dalam 350 meter.

.

200 meter...

.

50 meter...

.

Mereka berdua akhirnya sampai dan berdiri di depan pagar tembok apartement itu. Lucy pun langsung memakai Scane Device yang sebelumnya sempat diberikan oleh Juvia.

Scane Device : sebuah alat mirip dengan Kacamata Vuzix yang biasa di pakai oleh para Agent FBI.

Pandangan Lucy terhadap apartement itu kini menjadi transparant dan tembus pandang setelah menyalakan tombol Scane Divice yang terpasang di kedua matanya. Lensa Scane Device itu menampakan kerangka gedung apartement itu dan ternyata terdapat 10 lantai menuju ke atas. Berbagai warna-warni hawa panas berbentuk raga manusia tampak jelas menempati masing-masing ruang kamar yang ada di setiap lantai apartement itu, entah itu orang-orang yang sedang menyewa tempat tinggal ataukah masih anggota-anggota Mafia. Lalu dua orang lainnya sedang mondar-mandir di balik pagar tembok. Sepertinya dua orang di balik pagar tembok itu termasuk anak buah Mafia yang sedang berjaga-jaga di halaman belakang markas mereka.

"Lucy, apa kau melihat sesuatu?" tanya Gray yang sedang berdiri disampingnya.

"Penjagaan mereka cukup ketat, dua orang sedang berdiri dibalik tembok ini..." jawab Lucy berwajah serius.

"Baiklah, serahkan padaku..." Gray pun langsung melompat meraih bibir pagar tembok, lalu mengangkat tubuhnya hingga berdiri di atas pagar tembok itu.

Benar apa yang di katakan Lucy, dua orang laki-laki anggota Mafia sedang berjaga-jaga dekat pagar tembok itu. Lalu Gray mencoba turun mengendap-ngendap tanpa bersuara untuk menghampiri salah satunya.

"Hmpf!" salah satu anggota Mafia itu mencoba berteriak, namun Gray sedang membungkam mulutnya.

'Bug!~' satu hantaman siku yang dilakukan oleh Gray mengarah ke pundak orang yang di bungkam mulutnya itu hingga pingsan.

"Siapa kau!" satu orang lagi sedang menodongkan pistol dari belakang Gray.

'Tap!~'Gray yang masih masih membelakanginya langsung berbalik sambil melakukan tendangan tangkisan dari kaki kanannya sehingga menghantam pistol yang sedang di todongkan itu terlempar dari tangan sang pemilik.

"Brengsek!" serunya kesal sekaligus panik sehingga orang itu mencoba melakukan perkelahian dengan Gray.

'Bug!-Bug!~' Gray mengayunkan dua pukulan tangannya mengarah tepat ke bagian ulu hati dan berikut pundaknya hingga orang itu pun ikut pingsan.

Satu orang berpakaian hitam lainnya lagi tiba-tiba muncul dari bayang-bayang gelan dan mengendap-ngendap dibelakang, dan Gray terlihat sedang lengah. Lalu orang yang sedang mengendap-ngendap dibelakang Gray itu mencoba menikamkan sebuah pisau yang ada di tanganya.

'Tap!~' tiba-tiba saja sang penyelamat datang sambil melakukan satu kali salto hanya untuk mengapitkan dua buah kakinya di kepala orang yang sedang ingin menikam Gray itu. Yah, ternyata sang penyelamat itu adalah Lucy.

'Krek!~' terdengar suara patah tulang di bagian leher orang itu disaat Lucy memutar tubuhnya.

"Akh!~" teriak sekejap setelah orang itu di patahkan lehernya oleh kedua kaki Lucy, dan orang itu pun akhirnya pingsan.

"Jangan lengah..." kata Lucy, kedua matanya yang terhalang oleh Scane Device itu menatap intens kepada Gray.

"Baiklah, ayo ikut aku..." balas Gray sambil mempercepat langkah kakinya hingga sampai di depan pintu belakang markas.

'Itulah kenapa aku mengatakan hambatan apa yang akan terjadi padaku nantinya, karena aku baru belajar bela diri selama satu bulan setelah bekerja di SAPD Coporation dan itu pun masih belum cukup...' batin Lucy saat sedang menemani Gray di belakangnya.

.

.

Kembali ke dalam sudut pandang bawah gedung tinggi yang bagian puncaknya sempat di hinggapi oleh Juvia tadi. Dan..tunggu dulu! Tiba-tiba saja ada orang yang melompat dari puncak gedung tinggi itu hingga terjun bebas dalam posisi kepalanya lebih dulu ke bawah menghempas udara sekitarnya. Jika di lihat baik-baik orang yang sedang terjun bebas itu ternyata Juvia karena ada sebuah Sniper M-200 yang terpasang kembali dibagian punggungnya. Tapi jika melihat wajah Juvia yang sedang terjun bebas itu malah terlihat begitu tenang. Apa Juvia sedang bunuh diri? Meskipun wajahnya begitu tenang, tapi kedua matanya berkaca-kaca seperti ingin menangis. Lalu kemana seorang laki-laki anggota Mafia yang sempat ingin menikam Juvia dari belakang? Karena tidak ada seorang pun yang berdiri di sisi puncak gedung itu.

'Shiiuu~' tiba-tiba saja seuntai tali hitam muncul di bagian belakang sabuknya, dan tali hitam itu meluncur ke atas karena terbawa oleh sebuah peluru pengait. Dan peluru pengait yang membawa tali hitam itu pun langsung menancap di sediktar tembok gedung tinggi itu sebelum Juvia terjatuh ke daratan.

'Sheerr~' tali hitam yang terhubung dengan bagian belakang sabuknya semakin memanjang, sehingga memperlambat laju tubuh Juvia yang sedang terjun bebas itu. Juvia pun akhirnya dapat berlarian bebas di tembok gedung dalam kemiringan -90 derajat menuju ke daratan.

'Kehidupan itu benar-benar sangat kejam! Jika kita tidak ingin dibunuh, maka kita sendirilah yang harus membunuh orang yang berniat membunuh kita. Itulah yang dulu Juvia pelajari di Akademy, tapi Juvia tidak menyangka malam ini telah melakukannya...' batin Juvia, terlihat bulir-bulir kecil air matanya tertinggal di udara di saat Juvia mempercepat langkah kakinya di tembok gedung tinggi itu, dan sebentar lagi Juvia akan berpijak ke daratan.

Apa yang telah terucap oleh hati Juvia tadi ternyata benar-benar terjadi jika kita kembali melihat ke puncak gedung itu. Seorang laki-laki Mafia yang sempat ingin menikamkan pisaunya di belakang Juvia tadi malah terbaring dengan raut wajah kematian. Terlihat di bagian leher laki-laki Mafia itu ada sebuah pisau yang menancap dan menembus tenggorokannya, dan juga darah merah yang mengalir disekitar pisau yang menancap itu.

.

.

Kembali ke Apartement tua yang telah di jadikan markas Mafia itu berada. Lucy dan Gray telah masuk ke dalamnya lewat pintu belakang, dan ternyata itu adalah pintu menuju ruang dapur yang sudah tidak terpakai. Perlahan Gray menghampiri pintu dapur yang ada di depan matanya, dan sepertinya pintu itu menuju koridor. Lucy di belakangnya yang masih memakai Scane Device membantu memindai keadaan ruangannya apakah di sekitarnya ada orang lain atau tidak.

"Aman..." kata Lucy setelah memindai bagian pintu menuju ruang koridor di depannya itu tidak ada siapapun.

Lantai-1

Gray perlahan membuka pintu itu, lalu berjalan mengendap-ngendap sambil menggenggam tangan Lucy agar tetap berada di dekatnya. Setelah sampai di sudut tembok belokan ke kanan menuju koridor, mereka berdua pun berhenti sementara dan bersembunyi untuk melihat-lihat keadaan.

"Gray, ada satu orang sedang berjalan menuju kemari..." kata Lucy saat memindai sekitar koridor, dan ternyata ada hawa panas manusia lainnya sedang berjalan di sekitar koridor.

Gray sedikit mengintip arah koridor dari sudut tembok persembunyiannya dan ternyata ada satu orang laki-laki berpakaian hitam Mafia sedang berjalan di sekitar koridior. Orang itu terus berjalan semakin mendekat hingga berdiri tepat di sudut tembok dan melihat Gray dan Lucy sedang bersembunyi disana.

'Bug!~' tanpa basa-basi Gray langsung menghantam wajah orang itu dengan sebuah tendangan sabit, namun orang yang sedang dihadapi Gray itu terlihat kuat.

Orang itu mencoba melakukan perkelahian dan langsung membalasnya hingga Gray terjatuh ke lantai saat di dapati sebuah pukulan di wajahnya. Lucy mencoba menghentikan pergerakan orang yang ingin menghajar Gray itu dari belakang.

'Prak!~' tiba-tiba saja orang itu mengayunkan pukulan sikunya kebelakang sehingga menghantam alat Scane Device yang sedang di pakai oleh Lucy. Scane Device itu pun hancur dan Lucy terdorong jatuh kebelakang.

"Lucy!" Gray panik saat orang itu telah berpaling kebelakang karena ingin menyerang Lucy.

'Buak!~' satu buah tendangan dari Lucy yang masih terduduk di lantai mengarah tepat di wajah orang itu hingga terdorong kembali kebelakang.

"Hyaaa!" Gray dari belakang langsung menangkap dan mengunci tangan orang yang terdorong ke belakang itu.

'Buak!-Krek!~' terdengar suara patah tulang di bagian punggung orang itu saat Gray menghantamnya dengan tumit kaki.

'Buak!~' satu buah tendangan sabit dari kaki kanan Lucy menghantam pipi kanan di wajah orang itu hingga orang itu langsung tidak sadarkan diri.

"Lucy, kau tidak apa-apa?...hosh...hosh..." tanya Gray saat melihat wajah Lucy yang penuh ketegangan.

"Aku tidak apa-apa, tapi Scane Device yang aku pakai sudah hancur. Aku jadi tidak bisa memindai keadaan seluruh ruangan gedung ini..." jawab Lucy sambil memungut serpihan-serpihan alat pemindai yang berserakan disekitar koridor.

"Masalah itu kita fikirkan nanti, ayo kita pergi!" pinta Gray sambil mengeluarkan Pistol PT92 Taurus 9mm miliknya dari saku yang terpasang di bagian kanan sabuknya, lalu Gray mulai melangkahkan kakinya kembali ke depan koridor karena ingin menghampiri tangga yang menuju Lantai-2.

"Iya, ayo!" Lucy pun kembali mengikuti Gray dari belakang.

Setelah melewati pintu-pintu ruang kamar yang ada di Lantai-1, akhirnya mereka pun sampai ke tangga menuju Lantai-2 dan menaiki satu-persatu anak tangga yang berbelok-belok itu.

.

.

Kembali ke Juvia yang masih berada di sekitar kawasan Marine Ave. Juvia berlarian di sisi jalan raya melewati gedung-gedung tinggi yang berada di sekitarnya. Sekali-sekali Juvia berbelok kesana-kemari melewati sela-sela gedung yang gelap hanya untuk mengambil jalan pintas. Dalam jarak 100 meter Juvia akhirnya menemukan Mobil Armored Truck yang terparkir di sela-sela gedung dan juga delapan orang pasukan SWAT regu A sedang berdiri di sekitar mobil itu. Juvia pun mempercepat laju larinya untuk menghampirinya.

"Itu Juvia..." salah satu anggota SWAT yang berada di sekitar mobil itu menyadari keberadaan Juvia yang sedang berlarian dari jauh.

"Juviaaa!" teriak yang lainnya sambil melambaikan tangan ke arah Juvia.

'Tap~tap~tap~' sebuah bom Geranat yang sudah dilepas pemicunya tiba-tiba saja terlontar menggelinding ke bawah mobil Armored Truck milik pasukan SWAT SAPD Coporation itu.

"Em?" salah satu anggota SWAT menyadari keberadaan Geranat itu sudah berada di bawah kakinya. "Menyingkir dari siniii!" teriaknya.

3 detik...

2 detik...

Salah satunya terlambat menyingkir saat tujuh orang pasukan SWAT regu A itu sedang berlarian menjauh dari mobil dalam jarak 2 meter.

1 detik...

'BUMM!~'

Terjadi sebuah ledakan hebat dari mobil Armored Truck milik pasukan SWAT itu. Tujuh orang terlempar ke sembarang arah karena terhempas angin dari radius ledakannya. Dan apa yang terjadi dengan satu orang terlambat itu?!

"Minna..." lirih Juvia melemas saat mobil itu tiba-tiba meledak begitu saja. Perasaan Juvia yang telah terlambat datang itu membuat air matanya meleleh seketika. Lalu Juvia semakin mempercepat larinya.

"Kaaarl" salah satunya sedang meneriaki temannya yang terlambat menyingkir dari ledakan itu.

"Siapa yang melakukannya?!"

"Aku tidak tahu! Granat itu tiba-tiba saja datang tanpa kita ketahui!"

"Bawa Karl pergi dari sini!"

"Karl! Karl! Bangun!"

"Dia sudah tidak bernafas! Dan detak jantungnya juga berhenti"

"Apa?!"

"Drurururu!~' tiba-tiba saja banyak peluru Pistol yang bermuncul di balik kabut malam menghempas mereka bertujuh yang masih berada dekat di sekitar mobil itu.

"Aaaakh!"

"Menyingkir!

Lima orang dari mereka berhasil bersembunyi di sela-sela gedung, namun dua orang lagi terjatuh di jalan raya karena terkena luka tembak. Tapi mereka berdua masih bisa bergerak dan merangkak untuk berusaha menyingkir dari tempat yang berbahaya itu. Terlihatlah lima orang berpakaian hitam Mafia bersenjata Assault muncul dari kabut jalan raya itu secara bersamaan dan berjajar.

"Cih!" Juvia mencedih kesal dengan perasaan ingin menangis.

Juvia langsung bersembunyi di sela-sela gedung dalam jarak 10 meter dari mobil yang telah meledak itu. Juvia langsung meraih kembali Sniper M-200 miliknya yang terpasang di punggung dan langsung bersiap siaga membidik sasaran tembak terladap lima orang Mafia itu dari sudut gedung. Sekali-sekali Juvia mencoba menghubungi Lucy dan Gray lewat Earphone yang terpasang di telinga kirinya itu.

'Drududuu!~'

Terjadi sebuah baku tembak antara lima orang dari pasukan SWAT yang sedang bersembunyi di sela-sela gedung dengan lima orang Mafia yang sedang berjalan menghampirinya sambil menembakkan senjatanya.

"~Ada apa Juvia?~" suara Gray pun masuk ke dalam Earphone miliknya.

"Gray! Kita di telah di jebak oleh mereka! Satu orang dari pasukan kita telah tewas dan dua orang pasukan kita terluka! Lima orang lagi sedang diserang oleh lima orang Mafia itu!" seru Juvia memberitahu keadaan sekitarnya kepada Gray lewat alat komunikasi.

"~Apa?! Bagaimana bisa?! Bukankah mereka semua berada di dalam Apartement?!~"

"Entahlah! Juvia tidak memperhitungkannya! Lebih baik kalian berdua keluar dari Apartement itu?!" perintah Juvia sambil memposisikan tubuhnya dan mengarahkan Sniper miliknya ke salah satu dari lima orang Mafia yang masih berada jauh di depan matanya itu.

'Pshiuu!~' satu lontar peluru dari Sniper Juvia tepat mengarah ke bagian dada salah satu dari lima orang Mafia itu hingga terjatuh.

'Seb!-seb!-seb!~' tiga buah peluru balasan menepis sudut tembok dimana Juvia bersembunyi, dan untungnya Juvia berhasil menghindar.

.

.

Kembali ke dalam Apartement tua untuk Gray dan Lucy yang saat ini sedang berada di Lantai-5. Setelah menerima konfirmasi dari Juvia mereka berdua pun langsung turun kembali menelusuri tangga tangga yang ada di Apartement itu. Mereka berdua berhasil turun melewati dua lantai hingga sampai di koridor Lantai-2.

'Duar!~' satu buah peluru Pistol meluncur dari belakang dan mencoba menghantam bagian punggung Lucy yang sedang berlarian bersama Gray untuk menuruni tangga ke Lantai-1.

"Awaaas!" teriak Gray sambil mendorong dan menangkap tubuh Lucy ke dalam pelukannya untuk menghindari peluru itu sehingga mereka berdua pun terjatuh di sudut tembok dekat tangga menuju Lantai-1.

Satu orang laki-laki anak buah Mafia terkuat pun muncul dari ruang kamar sebelah kiri paling ujung dekat tangga menuju Lantai-3 disaat Gray sedang melindungi Lucy dengan dekapan tubuhnya. Jika melihat wajah laki-laki anak buah dari Mafia itu seperti orang Korea Utara.

"Lucy, orang itu benar-benar mirip Lee Seung-gi yang ada dalam film Love Forecast..." Gray malah membicarakan nama arist tokoh film drama Korea.

"Iya, sangat..." balas Lucy ikut mempehatikan wajah orang korea itu.

"Nan jeongmal dangsin-i modu bonsa-e waseo gamhi gyeonglye / Aku benar-benar salut, ternyata kalian berdua berani masuk ke dalam markas kami..." ucapnya dalam Bahasa Korea sambil berjalan menghampiri dan menodongkan Pistol di tangannya ke arah Gray dan Lucy.

"Gray, apa kau mengerti ucapannya?" tanya Lucy bingung sambil berpaling kepada Gray disampingnya.

"Sedikit..." lirih Gray sambil menatap intens kepada orang korea itu.

"Kalau begitu balas ucapannya..." pinta Lucy.

"Baiklah, aku akan mencoba membalas perkataannya...Ehem!~" Gray sedang melegakan tenggorokannya untuk membalas ucapan orang Korea itu.

"Saranghaeyo / Aku cinta kamu..." balas Gray memakai Bahasa Korea juga.

"Gray, ini bukan Drama Korea..." lirih Lucy sweatdrop karena Bahasa Korea yang diucapkan Gray tadi terlalu umum.

"Lucy, kau pergilah duluan. Biar aku saja yang menghadapi orang ini..." pinta Gray serius.

"Tapi..." Lucy sedang mengkhawatirkan Gray.

"Cepat!" bentak Gray menatap intens.

"Baiklah..." Lucy pun segera pergi meninggalkan Gray dan menuruni tangga menuju Lantai satu.

"Hage uliui sa-eob-eul mamulihaja / Baiklah, ayo selesaikan urusan kita dengan cepat..." ucap Gray sambil meremaskan sepuluh jari tangannya. Ternyata Gray bisa Bahasa Korea dengan lancar.

"Hmm..." orang Korea itu tersenyum sinis saat mendekati Gray.

"Hyaa!" Gray meluncurkan pukulan pertamanya namun berhasil di tepis oleh orang korea itu.

Terjadi pertarungan sengit dari Gray dengan orang korea itu. Mereka berdua saling memukul dan menangkis. Tidak lupa untuk beberapa tendangan bela diri yang sedang mereka mereka berdua.

Lantai-1

Lucy sedang berlarian kembali di Lantai-1 untuk mencari pintu keluar, namun ada sesuatu yang membuat kedua matanya tertarik untuk menatap ke arah salah satu jendela ruangan dan Lucy pun menghampiri jendela tersebut. Terlihat olehnya ada seorang laki-laki lansia berwajah Rusia berikut empat orang Bodiguard yang salah satunya sedang membawa sebuah koper abu-abu. Mereka berlima pun memasuki sebuah Mobil NISSAN yang berada disekitar halaman gedung apartement itu.

' Laurente Leongard?! Jadi dia dalang di balik kasus pencurian The Sancy Diamond itu?!' batin Lucy saat melihat laki-laki Rusia itu benar-benar tidak asing, namun terlambat baginya saat Mobil yang di tumpangi oleh orang yang sedang ia incar itu sudah melaju ke luar gerbang depan Apartement dan berbelok ke sebelah kiri menuju jalan raya.

Lucy bergegas kembali mencari pintu jalan keluar dari apartement tua saat ia masih berada di sekitar koridor Lantai-1. Lucy menemukan belokan sudut tembok lain yang berada dekat dengan ruang kamar yang pintunya terbuka, namun Lucy terlihat sedang mengabaikan pintu yang terbuka itu.

'Buak!~' satu buah tendangan sabit tiba-tiba muncul dari ruang kamar yang pintunya terbuka itu dan menghantam bagian belakang punggung Lucy.

"Akh!~" teriak Lucy hingga jatuh menghantam pintu seberang kamar yang terbuka itu, lalu Lucy mencoba membangunkan tubuhnya dan membuka kedua matanya.

Terlihat sosok wanita berambut merah panjangnya sepinggang dengan poninya yang menyamping ke kanan. Yah, bisa dibilang jika melihat wajah cantiknya wanita itu adalah Erza Scarlet.

"Wah~wah~, ternyata ada seekor tikus betina yang masuk ke dalam Apartement kumuh ini...hmm..." ucapnya sambil tersenyum sinis.

"Aku ingin tahu bagaimana reaksi Natsu setelah mengetahui identitasmu yang sebenarnya..." balas Lucy menatap intents saat duduk bersandar di pintu tertutup ruang kamar sebelah.

"Maaf, aku tidak mengenal orang yang kau maksud..." balas Erza santai.

"Cih!" Lucy mencedih kesal dan langsung mengayunkan pukulan mengarah ke wajah berambut merah itu.

'Tap!~' dengan mudah Erza menangkap pergelangan tangannya.
'Krek!~' suara tulang yang meregang disaat Erza memelintir pergelangan tangan kanan Lucy.

"Akh!~" rintih Lucy berwajah kesakitan.

'Bug!~' Erza menendang bagian pinggang perut Lucy.

"Akh!" rintih Lucy terpental kebelakang saat setelah terkena tendangan dari Erza, dan Lucy pun akhirnya ke Lantai lagi.

"Hmm..." Erza tersenyum sinis kembali saat memperhatikan wajah Lucy sedang kesakitan, lalu Erza mengeluarkan sebuah pisau yang berada disaku celananya sambil menghampiri Lucy yang masih terduduk di lantai. Tanpa belas kasihan Erza langsung mengayunkan pisau di tangannya itu menuju ke arah bagian leher Lucy.

"Iksh!" rintih Lucy sambil memejamkan matanya saat sebelum pisau itu menembus bagian lehernya.

'Tap-tap-tap' suara langkah kaki seseorang yang sedang berlari cepat di sekitar koridor Lantai-1.

'Trang!~' terjadi sebuah bentrokan Pisau milik Erza dengan pisau milik seseorang yang telah berlarian menyelamatkan Lucy, dan ternyata itu adalah Juvia.

'Buak!~' satu buah tendangan dari Juvia menuju bagian perut Erza

"Akh!~' Erza pun terpukul mundur kebelakang.

"Juvia..." lirih Lucy saat nyawanya berhasil terselamatkan oleh Juvia.

"Maaf, Juvia terlambat...Lucy istirahat sajalah dulu...biar Juvia saja yang menghadapi wanita penuh dengan kepalsuan ini..." ucap Juvia misterius sambil menatap intens kepada lawan bertarungnya.

.

.

Natsu kembali memakai pakaian SWAT miliknya, dan saat ini ia sedang mengendarai motor BMW K1200R miliknya dan melaju kencang di jalan raya kawasan perkotaan Ardarth Ave menuju kawasan perkotaan Marine Ave. Jarak di antara kawasan itu mencapai 37 km. Namun melihat laju motornya yang melebih dari 150 mph, sepernya Natsu akan cepat sampai ke tempat tujuannya.

'Lebih baik aku melanggar hukum yang diberikan oleh pihak UMO. Bagiku tidak masalah jika memang nantinya aku akan di keluarkan dari daftar perserikatan Militer, dari pada aku harus mematuhi aturan mereka sehingga aku kehilangan teman-temanku...' batinya dengan wajah yang serius.

'Ckieeet!~BUUUM'suara ban motor yang berputar bergesekan menghempaskan asap disaat Natsu menekan tuas rem dan menekan tuas koplinnya karena Natsu sedang mendapati belokan ke kiri perempatan jalan raya menuju perbatasan kawasan perkotaan Marine Ave.

.

.

Kembali ke kawasan Marine Ave dimana lima orang anggota SWAT regu A masih bertahan dalam melakukan peperangan baku tembak dengan anak buah Mafia yang hanya tersisa tiga orang. Namun jika melihat keadaan lima orang anggota SWAT itu sepertinya sudah mulai kelelahan karena tiga orang anak buah Mafia itu cukup tangguh dan lihai untuk menghindari sebuah peluru.

'Drudududu!~' suara seruan senjata api dari mereka berlima yang sedang berperang melawan tiga orang anak buah Mafia itu.

"Sial! Peluruku mulai habis!"

"Sepertinya kita harus melawan mereka bertiga dengan tangan kosong..."

"Kau benar, lebih baik kita mati saat melawan mereka dari pada kita hanya mati sia-sia..."

'tap-tap-tap' terdengar suara langkah kaki seseorang dibelakang tiga orang anak buah Mafia itu, namun keberadaannya tidak terlihat karena tertutup sebuah kabut malam yang menyelumuti jalan raya.

'Bug!-Bug!~'

"Akh!~"

'Bug!-Bug!~'

"Akh!~"

'Bug!-Bug!~'

"Akh!~"

Entah dari mana asalnya pukulan bertubi-tubi itu, jika dilihat-lihat seperti ada hantu yang sedang menghantam tiga orang Mafia itu dalam sekejap sehingga tiga orang itu berhasil dilumpuhkan. Akhirnya seorang wanita bertudung dan berpakaian SWAT yang sama persis dengan Juvia muncul dibalik kabut jalan raya itu. Wanita itu langsung menghampiri mereka berlima yang sedang menamani dua orang temannya yang telah terkena luka tembak yang cukup parah.

"Juvia, kenapa kau datang kemari? Bukankah kau sedang membantu Gray dan Lucy?" tanya salah satu dari mereka karena ia menyangka bahwa itu adalah Juvia.

"Tunggu! Sepertinya wanita itu bukan Juvia..." satu orang lagi menyadarinya saat melihat perbedaan bentuk bibir dan hidung dari setengah wajah cantiknya yang tertutup oleh bayangan tudung di kepala wanita itu.

"Kode pembaharuan ID : RCN-05-19-19116403-S, namaku...###########...aku seorang Ghost Recon..." ucap wanita itu memperkenalkan dirinya sambil menyebutkan nama dengan suaranya yang di samarkan.

Siapakah wanita itu? Jika melihat bentuk matanya yang kecoklatan dan tajam saat sedang terhalangi bayangan tudung di kepalanya itu benar-benar mirip sekali dengan Erza Scarlet, tapi saat ini Erza Scarlet sedang bertarung melewan Juvia Lockser.


=To be Continue=


Hayo...siapa wanita Ghost Recon yang mirip Erza itu? :D
Rahasianya bisa kita ketahui jika faham tentang kode ID yang Author buat sendiri untuk setiap Character yang bekerja di SAPD Coporation...

Monggo Review sebanyak-banyaknya untuk Fanfic SAPD Coporation...
Warning : Jangan pernah Review tentang masalah kapan update MHS 2016 di Fanfic ini, Oke...