Suara gelas beradu gelas terdengar sama jelasnya dengan keramaian di sekitar, tapi berbeda dengan suara ocehan anak laki-laki di hadapanku ini. Padahal dia sudah menghabiskan empat, lima... di tangannya sudah gelas berisi tequilla ke-tujuh! Hmm. Aku jadi bertanya-tanya. Apa efek tequilla memang sangat lemah, atau dia nya saja yang sudah biasa, bahkan tahan banting jika disodorkan lebih dari dua puluh gelas sekalipun? Untuk opsi yang pertama, aku tidak terlalu tertarik untuk mencobanya sendiri. Tapi, untuk opsi yang ke-dua... apa ruginya melihat bocah 'sehebat' Jackson mabuk berat di tempat kekuasaannya sendiri?
"Pada bab pertama... Tokoh utamanya – pastikan dia adalah laki-laki, karena aku tidak suka melihat perempuan dikelilingi begitu banyak laki-laki – ehem, mendapati dirinya... mendarat di suatu tempat. Terserah kau mau menyebutnya apa..."
"Bagaimana kalau kita anggap saja dia tahu-tahu tersadar saja?" tanyaku bingung pada topik pembicaraan yang baru saja kami mulai setelah berdebatan panjang tentang tema cerita sedari tadi. Aku terlalu malas untuk membahasnya ulang, tapi yang pasti kami nyaris berkelahi seperti sabung ayam.
"...yah, itu juga boleh. Nah, si tokoh utama mendapati dirinya terbangun di sebuah tempat yang sangat asing—dan tidak hanya itu saja! Tapi, dia rupanya sedang berada di tengah-tengah pertempuran baku tembak—sstt, hyung, biarkan aku menyelesaikannya dulu. Kepalaku rasanya ringan sekali, aku takut kalau disela mendadak semuanya jadi buyar..." Aku mengangguk samar, dan pandanganku mulai teralihkan dari Jackson yang mulai terlihat tanda-tanda kemabukannya, ke laptopku. Dan dengan hanya berfokus pada suaranya, jariku pun mulai bergerak mengikuti tiap kata-kata yang diucapkannya.
"Dia amnesia. Dia tidak tahu dirinya di mana, dan bahkan tidak tahu identitasnya sama sekali – dan maksudku dengan amnesia ini adalah... dia hanya tidak ingat identitasnya. Dia tidak lupa dengan ilmu pengetahuan yang... pernah... ada di otaknya," Racau Jackson, tersendat-sendat karena cegukan-cegukan ringan, "HAH! Yah. Hyung pasti mengerti maksudku."
Tokoh utama yang amnesia. Bukankah sudah terlalu mainstream? Pikirku. Maksudku, aku sering sekali mendapati buku-buku yang menceritakan tentang tokoh utama yang terkena amnesia. Aku juga sudah sering membahas tentang hal ini dengan editor, dan mereka bahkan setuju bahwa hal-hal seperti itu sebaiknya dihindari, karena; pertama, amnesia seolah sudah ketinggalan jaman. Kedua, amnesia yang sebenarnya tidak pernah terasa se-menyenangkan yang ada di cerita fiksi manapun. Ketiga, jangan buat susah dirimu sendiri, Kyungsoo. Membuat karakter yang berotak normal saja sudah sulit, malah membuat yang tidak utuh...
"Apa yang hyung pikirkan?" Jackson menyeruput kembali tequillanya, seolah itu hanya air putih.
"Tidak. Hanya saja — yah... menurutmu, tidak kah karakter yang terkena amnesia itu sudah terlalu... entahlah, ketinggalan jaman?" Sebenarnya, kalau dipikir-pikir ulang, aku tidak bisa seenaknya saja mengatakan kalau karakter yang amnesia itu sangat cliche. Karena, sejauh ini aku hanya memberanikan diri untuk mengeluarkan uang demi buku-buku yang menurutku genre dan ceritanya menarik saja. Dan seingatku, dari semua buku-buku yang kupunya, baru dua buku yang memiliki karakter amnesia. Itupun hanya satu juga yang benar-benar bertokoh-utama amnesia.
Bisakah dua buku ini mewakili ke-mainstream-an tokoh amnesia di dunia cerita? Ku rasa tidak juga.
Kulihat kedua mata Jackson berubah sayu, dan dia terlihat rileks untuk beberapa saat. Entah itu efek mabuk, atau dia sebentar lagi akan pingsan; dua pilihan yang sama-sama merugikanku — aduh, aku harus apa kalau dia sampai pingsan? Sudah berapa banyak yang dia minum? Aku hanya bisa menunggu dengan sabar dan was-was. Akankah dia pingsan? Rupanya tidak. Sepertinya tidak. Kelihatannya sih begitu... Daaan... Jackson pun mengurut kepalanya dengan sabar. Dia seolah tengah berkutat dengan sakit kepala yang membuat isi kepalanya buyar ke mana-mana.
"Aku... punya seorang kenalan yang amnesia," Aku menghembuskan napas lega saat mendengarnya. Maksudku, aku lega karena dia masih cukup sadar untuk berbicara. Walaupun jawabannya sedikit tidak nyambung dengan pertanyaanku. Yah... namanya juga mabuk.
"Benar-benar tangguh..." gumamku secara verbal, I mean, dia sudah minum berapa gelas, tuh...?
"Yeah. Dia memang anak yang tangguh. Padahal amnesia permanen." Balas Jackson sekedarnya; membuatku langsung tertegun selama beberapa detik untuk menyadari bahwa dia salah paham. Atau, jangan-jangan aku yang salah...? Ah, ya sudahlah.
"Kalau boleh tahu, bagaimana dia bisa kena amnesia?" tanyaku akhirnya. Menyeruput satu-satunya minumanku sedari tadi yang tak kunjung berkurang.
Jackson menggedikkan bahunya sekilas, "kecelakaan mobil saat sedang pergi dengan pacarnya." Setelah mengatakan hal itu, Jackson mengangkat kepalanya, mata kami bertemu, dan untuk pertama kalinya sejak beberapa jam yang lalu, dia terlihat sangat, amat sedih.
Harus ku akui, efek alkohol memang luar biasa mengaggumkan. Setelah wajah melas, Jackson tiba-tiba berubah serius kembali, dan dengan secuil pancingan saja dia pun memulai kisah tentang kawannya yang setengah-malang-setengah-beruntung bernama Kim Namjoon. Seorang pemuda yang dikenalnya selama hampir 10 tahun, dan sudah dianggap saudara sendiri, harus menukarkan nyawanya dengan memori tentang kehidupannya selama 19 tahun. Inilah sebabnya Jackson menjulukinya 'setengah-malang-setengah-beruntung'. Entah sial, entah beruntung, nyawanya seolah seharga satu nyawa orang yang dicintainya plus memori kehidupannya.
Yap. Namjoon memang selamat dari kecelakaan hanya dengan luka-luka ringan di sekujur tubuh (dan amnesia total), tapi pacarnya tidak.
Padahal saat itu mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju rumahku, begitu yang kutangkap dari bisikan samar yang keluar dari mulutnya. Jackson yang kulihat sekarang benar-benar terlihat murni, bocah yang menyedihkan. Jika membicarakan tentang hidup dan mati, sulit rasanya untuk mengatakan bahwa yang hidup lebih beruntung daripada yang mati, tambahnya. Dan aku, yang setuju akan hal itu, membiarkan Jackson tenggelam pada masa lalunya.
Bagaimana, ya, rasanya ketika sahabat terdekatmu dari kecil tiba-tiba kehilangan ingatannya? Bagi Jackson, hal itu merupakan magnet terkuat untuknya berbalas budi kepada Namjoon. Sekalipun memori yang lama menghilang, dia tetap masih hidup, dan dia layak mendapatkan memori baru tentang kehidupannya. Jackson tidak mengatakan hal ini secara langsung, pastinya, tapi aku tahu dia mau memperjuangkannya. Kecelakaan itu terjadi dua tahun yang lalu, dan Namjoon telah melakukan progres dengan sangat baik.
Jackson berkata, "Dia mungkin telah lupa padaku aku, atau persahabatan 10 tahun kami. Aku tidak masalah dengan hal itu. Hanya saja... dia sangat dicintai orang-orang. Kerabat, keluarga, bahkan teman-temannya. Dia anak yang sangat cemerlang dan rendah hati, dan menurutku... itu lah yang yang kuanggap tidak adil. Karena menurutku, dia pantas untuk terus dicintai, dan diingat, sampai kapanpun."
Aku tidak bisa berbuat apa-apa jika sudah seperti ini. Sudah kah kukatakan kalau efek alkohol itu benar-benar luar biasa?
.
.
.
.
.
Chapter 6:
Note to self.
.
.
.
.
.
Kami sampai di rumah Yunho pada malam harinya karena kami makan malam terlebih dahulu di sebuah tempat makan yang kami lewati.
Selama di perjalanan tadi, aku memutuskan untuk tidak tinggal diam. Aku menuntut berbagai jawaban tentang Jackson kepada Yunho. Tentang dirinya, nyaris semuanya – yang dulu hingga sekarang. Dan Yunho pada akhirnya menceritakan banyak hal tentang bagaimana dia mengenal Jackson saat dia masuk SHOOT dan berhasil masuk ranking 10 besar seangkatannya. Jadi, walaupun dia lebih muda, tapi kemampuan bertarungnya tiga kali lipat lebih jago dariku. Umurnya dan umur Yunho bahkan selisih 9 tahun, sedangkan dia selisih 6 tahun denganku. Akan tetapi, dia memiliki potensi yang luar biasa di usia mudanya, sehingga banyak yang segan padanya. Yunho mengenalkanku pada Jackson yang dahulu sebagai anak yang iseng, namun baik dan sopan, serta pekerja keras yang keras kepala.
Cerita Yunho tentang Jackson berakhir pada kecelakaan besar yang pernah menimpa keluarga Jackson. Rumahnya dibakar oleh kakak perempuannya yang sudah terkena begitu banyak parasit di tubuhnya dan tidak bisa dikendalikan. Sebenarnya seluruh anggota keluarganya selamat, tapi kakaknya jadi terkena kecaman besar dari pemerintah karena dianggap melanggar janji untuk bisa mengendalikan diri setelah 'rehabilitasi'. Jackson yang saat itu baru berusia lima belas tahun tentu tidak bisa berbuat apa-apa ketika kakaknya dibawa pergi untuk diberikan kepada Nevoa. Ibunya jatuh sakit hingga meninggal karena terpukul, sedangkan ayahnya menghilang begitu saja—rumor mengatakan kalau Ia pasti dengan sukarela mencoba mencari anak sulungnya setelah kematian istrinya.
Setelah tidak punya siapa-siapa lagi, keluarga Lee Hyukjae—teman Yunho-hyung yang waktu itu sempat berkunjung dan mengancam ini-itu padaku—merawatnya karena kasihan. Hyukjae dulunya adalah teman kakaknya Jackson, jadi dia tidak merasa keberatan dengan kepindahannya. Justru, dia sudah menganggap Jackson sebagai adiknya sendiri, mengingat dia hanyalah anak tunggal.
Kami berdua sempat melewati tanah lapang yang ditumbuhi rumput liar, dan Yunho mengatakan bahwa itu adalah bekas tanah rumah Jackson yang terbakar. Kejadiannya pasti sudah lama sekali, dan kerusakannya pasti terlalu parah sehingga rumahnya diratakan seutuhnya. Namun, untungnya tiga tahun kemudian dia pun memasuki SHOOT, dan tentu saja dibimbing dengan senang hati oleh Hyukjae, senior 9 tahun diatasnya.
"Dia bilang, dia juga tidak tahu kenapa dia menolongku," gumamku tiba-tiba setelah memasuki rumah, merasa putus asa, "Apa dia benar-benar lupa dengan dirinya yang dulu, gara-gara parasitnya?" tanyaku seraya menoleh kepada Yunho yang masih berdiri di depan lemari pendingin, memilah-milih minuman keduanya setelah botol air mineralnya yang pertama tandas.
"Aku tidak terlalu suka berspekulasi seperti itu," jawabnya sekenanya, "Semua orang yang terkena serangan Nevoa itu adalah orang-orang pemberani terpilih yang kutahu. Tapi, ironisnya... untuk terkena parasit itu seolah-olah sudah satu paket dengan kontrak di SHOOT." Yunho menarik keluar sebuah botol minuman rasa buah, dan menawariku juga. Tapi, setelah mendengar jawabannya barusan, tiba-tiba rasa hausku jadi hilang, jadi kutolak tawarannya dan memilih untuk merebahkan diri di sofa. Memandang langit-langit seraya mencari-cari adanya sesuatu yang membuatku merasa janggal, seperti biasa.
"Hyung, kalau begitu..." Aku menimbang-nimbang, teringat pada sesuatu, "Kata Gabriel, outcast tidak bisa dideteksi. Tapi... seingatku dulu teman hyung berkata kalau dokter-dokter sudah memastikan kalau aku bukan outcast. Dan itu mutlak. Jadi, yang benar itu yang mana?"
Yunho melirikku seraya meneguk minumannya. Aku membiarkannya dan menunggu dengan tenang seraya berusaha menyamankan diri di sofa. Tak lama, Yunho menyahut, "Tidak ada yang tahu pasti, sebenarnya. Outcast itu seperti bakat alami sejak kandungan. Seperti sebuah berkat-" Kemudian kulihat dia mengangkat jari telunjuknya, seolah menyadari ada yang salah, "Ralat. Menjadi seorang Outcast itu lebih seperti... menjadi sepolos anak kecil, selamanya." Mengakhiri kata-katanya dengan anggukan samar, dan Yunho pun mengembalikan minumannya yang sepertinya sudah habis setengah ke lemari pendingin.
Menjadi sepolos anak kecil... selamanya?
"Aku tahu itu terdengar tidak masuk akal. Dunia akan selalu berevolusi, dan menjadi semakin kompleks. Tapi... yah, begitulah kurang lebih perumpamaannya." Yunho melanjutkan dengan helaan napas. Dan aku terdiam, tidak tahu harus merespon apa. Ada sesuatu yang menggelitik di kepalaku bagian belakang setelah mendengar kata-kata itu. Hanya saja, aku tidak bisa menemukannya, dan aku tidak mengerti. Tapi, berbulan-bulan dilatih oleh Yunho, yang memiliki kepekaan firasat dan ketajaman dalam menilai sesuatu, dengan hebatnya jadi mampu membuatku memutuskan bahwa ada yang aneh dengan dirinya.
Hanya saja, untuk menanyakannya sekarang terasa tidak tepat.
"Kusarankan kau untuk mandi, dan langsung istirahat. Besok kita latihan lagi. Aku duluan." Pamitnya memecah keheningan. Suara langkahnya yang halus pun dalam sekejap lenyap, ditelan ukuran luas rumahnya, ketika dia pergi meninggalkanku yang masih menatap kosong langit-langit.
.
.
.
.
.
Terjadi lagi. Aku kembali memikirkan segala hal ketika aku merebahkan tubuhku di tempat tidur.
Sengaja kunyalakan lampu kamar mandi, dan kubuka sedikit pintunya agar aromaterapi dari sabun mandiku bisa kucium untuk membantuku tidur. Tapi nyatanya, sekalipun aku sudah mandi dengan air hangat, dan mencium bau aromaterapi dari sabun mandi, aku tidak merasa mengantuk sama sekali.
Banyak pertanyaan mengalir begitu saja dengan teratur di kepalaku, tanpa sedikitpun bisa tergenggam dengan baik. Mulai dari pertanyaan tentang Jackson, sampai kenapa aku bisa ada di sini. Ah... itu dia. Kurasa pertanyaan 'kenapa aku bisa ada di sini' sudah menjadi motto hidupku sekarang, karena pertanyaan itu hanya terkubur dalam-dalam, tanpa jawaban. Dan akan selalu berada di sana sampai dia merangkak keluar lagi dengan sendirinya. Aku tidak benar-benar bisa menguburnya, atau menghindarinya. Kenapa aku bisa di sini? Bagaimana aku bisa ada di sini? Apa yang terjadi padaku waktu itu? Apa, atau siapa yang menyerangku sampai aku terkena amnesia? Siapa aku yang dulu, sebelum sampai di tempat ini? Dan kalaupun memang tempat ini adalah tempat tujuanku, lalu, apa tujuanku yang sebenarnya?
Aku menunggu sakit kepalaku datang. Lima, sepuluh, lima belas detik. Tapi yang kurasakan justru kekosongan, dan rasa jengkel yang perlahan menggerogoti. Ini tidak akan berhasil. Mungkin otakku akhirnya tidak perduli lagi dengan memori masa laluku, sehingga memutuskan untuk menutup dirinya agar tidak perlu merasakan rasa sakit lagi. Tapi... Kalau begitu, di keadaan seperti ini, yang lebih kejam itu sebenarnya aku, atau otakku?
.
.
.
.
.
Aku tidak ingat kapan aku jatuh tertidur, tapi saat aku bangun, di luar masih gelap, kemudian terdengar ketukan pintu.
"Changmin, bangun." ...dan, yep. Seperti biasa, Yunho menepati janjinya.
"Sudah, hyung." Sahutku seraya bangkit dari tempat tidur tanpa berpikir dua kali.
Latihan kali ini terasa aneh. Entah itu karena aku, atau karena Yunho.
Kami berdua, entah kenapa, terasa seperti dua orang asing yang baru bertemu dan terpaksa harus saling mendekatkan diri antar satu sama lain untuk latihan fisik yang perlu penjelasan ini-itu. Maksudku, aku sudah terbiasa dilatih olehnya berbulan-bulan, tapi kali ini... rasanya seperti... ada yang mengganjal di pikiran kami masing-masing.
Maksudku, setidaknya aku tahu ada yang salah denganku, karena perasaanku masih terasa kosong karena pemikiranku semalaman. Tapi aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya Yunho.
Kurasa, kita perlu bicara...
"Hyung—"
"Changmin,"
Kami berdua tiba-tiba menjadi saling merefleksikan gerakan masing-masing, dan aku jadi tidak tahu harus takjub atau heran dengan hal itu. "Ada apa, hyung?" tanyaku memberanikan diri setelah melihat Yunho berhenti, dan dengan kaku duduk meluruskan kaki di atas rerumputan.
"Kita istirahat dulu." Jawabnya dengan helaan napas. Dia jadi terlihat 20 atau 30 tahun lebih tua dari usia aslinya jika seperti ini, sampai-sampai aku tidak bisa merasa konyol ketika rasa iba tiba-tiba muncul begitu saja setelah aku memikirkannya. Ditambah lagi ketika Yunho menyuruhku untuk menghampiri dan duduk di sebelahnya.
Aku menurut, dan duduk dengan posisi tubuh mencondong ke belakang, bertumpu pada kedua tanganku. Langit yang tadinya hitam gelap sudah mulai menampakkan tanda-tanda waktu terbitnya matahari, sehingga terlihat warna gradasi biru yang terlihat unik di garis horizon. Dan untuk beberapa menit, kami berdua tidak berbicara. Sekali lagi, sibuk dengan pikiran masing-masing — atau mungkin juga sibuk menyusun kata-kata yang akan diutarakan.
"Hyung," aku memulai untuk memecah keheningan, dan bisa kurasakan tatapannya tertuju padaku lewat ekor mataku, walau dia tidak bergerak sedikitpun. "Menurut hyung... apa aku bisa pulang suatu saat nanti, ke tempatku yang sebenarnya?" Aku... tidak mengira kenapa yang malah keluar justru kata-kata itu...
Aku mendengar Yunho bergerak untuk membenarkan posisi duduknya. Kini, dia duduk sepertiku. Memandang langit dengan hampa, seraya berkata dengan tak kalah hampanya juga. "Changmin, sebelum kujawab pertanyaan itu, ada yang aku ingin kau pikirkan terlebih dahulu."
"Tidak, tunggu. Baiklah, aku—" Nah, kan, sudah kuduga kalau pertanyaanku tadi benar-benar terdengar konyol... dia pasti tidak punya jawabannya, tentu saja. "—Aku rasa aku sudah salah bicara." Aku menoleh kearahnya, dan memaksakan diri untuk menyunggingkan senyum bersalah, tapi yang kulihat hanyalah... ekspresi yang tidak bisa aku artikan di wajahnya. Apa dia sebenarnya... serius merasa iba atas nasibku?
"Max—"
"Hyung, lupakan saja." Cegahku. Sejujurnya, jika benar dia sungguh merasa iba padaku... rasanya — tidak adil. Benar-benar tidak adil. Dan aku bahkan tidak tahu juga kenapa. Tapi...
"Changmin, ada yang ingin kutanyakan padamu. Ini tentang SHOOT." Aku terdiam kaku, dan jantungku terpeleset satu langkah ketika mendengarnya. Dengan hati-hati aku menatap matanya, mencari-cari sesuatu — pertanda buruk, atau apa lah, agar aku bisa mengantisipasi apapun. Namun yang justru kutemukan hanyalah diri Yunho yang biasa. Diri Yunho yang tenang, dan jernih. Dan saking jernihnya, dia seperti cermin yang memantulkan kembali ketakutanku, kepanikanku, kekhawatiranku... dan...
Rasa kasihan itu...
Aku membuang muka cepat-cepat. Dalam hati menertawakan diriku sendiri. Betapa konyolnya pikiranku semakin menjadi. Ini benar-benar tidak adil. Ada apa denganku.
"Apa yang ingin hyung tanyakan?" Akhirnya aku hanya bisa pasrah.
Yunho tidak langsung menjawab, tapi aku bisa mendengarnya mendengus pelan. "Kenapa kau ingin sekali masuk SHOOT? Apa yang membuatmu berpikir... kau sanggup masuk ke SHOOT? Apa kau yakin kalau kau akan diterima, dan bertahan di dalamnya?"
Ah, pertanyaan yang bagus sekali. Kalau dipikir-pikir, benar juga, sih. Sebenarnya, kenapa aku begitu tertarik untuk masuk SHOOT, ya?
"Aku... tidak tahu," Jawabku gamang, "Selama ini aku hanya mengira kalau... ada hyung. Jadi, aku bisa masuk SHOOT. Aku pikir hyung bertanggung jawab atas kehadiranku, jadi... aku mungkin bisa melatih diriku untuk menjadi kuat. Tapi..." ternyata hal ini jauh lebih sulit dari yang kukira.
"Shim Changmin," Suara Yunho menarikku dari kerunyaman pikiranku sendiri, "Aku kira kau mengerti pertanyaanku."
Aku tertegun keheranan, tidak sadar menyuarakan 'Hah?'. Apa maksudnya aku tidak mengerti pertanyaannya...? Bukankah pertanyaannya itu sudah jelas?
Yunho malah menatapku lama. Dia terlihat... redup. Dan rapuh. Seperti air yang siap membias pada sentuhan sehalus apapun. Dan ini lah kenapa aku tidak akan pernah bisa mengerti dia. Pada suatu waktu, dia bisa berubah menjadi orang yang bisa melakukan apa saja sendirian. Namun, ketika aku memalingkan wajah sebentar saja darinya, tahu-tahu yang kulihat adalah seorang prajurit yang lelah dengan semua pertarungan yang ada, dan menginginkan untuk kembali ke rumah...
"Aku..." sebuah kesadaran menghantamku, dan membekukan lidahku hingga kelu.
...Oh.
Oke, baiklah. Aku rasa aku paham sekarang. Aku telah salah menilainya.
"Shim Changmin, apa yang membuatmu ingin masuk SHOOT?" Yunho mengulangi pertanyaannya, seolah dengan hati-hati dia mencoba untuk membacaku yang sedari tadi tak kunjung menjawabnya. Dan asal kau tahu saja, ya. Dari hari yang tadinya gelap sampai berubah menjadi terang benderang – matahari menjulang dengan tingginya, selang seminggu kemudian, pertanyaan itu masih menghantuiku dua puluh empat jam sekali.
[ To Be Continued ... ]
Author's note:
Wow! Akhirnya ngupdate juga!
...iya, iya, ampun...
Udah berapa tahun, nih?
Anyway, how to plot honestly?
Please give me back my holidays.
