Melodies

Disclaimer : Masashi Kishimoto


Halo semuanya. Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk mau membaca fic ini

Lagi-lagi saya buat fic GaaHina /gulingguling/ Apalagi fic sebelah belum selesai omg

Maaf, tangan saya tidak bisa menahan untuk tidak menulis fic ini khu khu

Semoga fic ini disukai para readers! Silahkan menikmati :D

WARNING: OOC, Miss-typo, alur kecepetan, gj, etc


Prologue


.

.

.

"Menjijikan! Menjauhlah dari kami!" seru sang anak berusia 5 tahun dengan kawanannya yang ikut melakukan aksi yang sama dengannya, menendang keras ke arah tubuh gadis kecil berambut biru kelam di depannya yang sudah tersungkur di atas tanah.

"Hei, Gaara! Kau tidak mau ikut kami?" laki-laki lainnya menatap ke arah temannya yang sedang duduk di atas ayunan dekat mereka. Laki-laki berambut marun itu hanya diam sembari menyeruput minuman kotakan di tangannya tampak tak peduli.

Laki-laki bermata emerald itu hanya malas-malasan duduk tanpa melihat teman-temannya yang sedang asyik menendang serta memukul gadis berambut pendek yang tak terlihat untuk membalasnya sama sekali. Korban bully yang tepat sekali bagi kalangan anak kecil seperti mereka. Tak membalas, hanya diam.

"Matamu menjijikan! Jangan menatap kami!"

Gaara yang mendengar kalimat itu mulai penasaran. Dengan segera Ia tolehkan wajahnya ke arah teman-temannya dan melihat wajah gadis yang sudah penuh luka itu. Hanya dengan sesaat, Gaara bisa melihat matanya. Indah. Warna indigo yang pucat dan sendu itu seakan bercahaya. Gaara seakan terbius melalui mata gadis kecil itu. Dan, Gaara tidak tahu bahwa sepanjang hidupnya Ia akan menyesal karena sudah melihat mata milik gadis kecil itu. Mata yang membuat Gaara selalu terbayang-bayang akan perilaku teman-temannya yang mem-bully gadis indigo itu. Tapi, Gaara tahu. Sejahat-jahatnya teman-temannya memperlakukan gadis kecil tersebut, Gaara lah yang lebih kejam karena Ia melihatnya dan tidak menolongnya sama sekali.

Satu yang Gaara ingat, gadis kecil itu seakan bergumam ke arah Gaara.

'tolong'

Melihat gadis itu bergumam meminta pertolongannya, Gaara nampak tak peduli. Ia hanya terpaku diam tanpa membalas ucapannya sama sekali. Beda dari keinginan sang gadis kecil, Gaara langsung saja berlari. Ia pergi tanpa menoleh kebelakang. Tanpa menolong gadis kecil yang sudah kesakitan karena kekejaman para teman-temannya.

Esoknya, saat Gaara masuk ke Sekolah. Satu yang Ia sadari. Teman-temannya sudah tak membully gadis kecil itu. Bukan karena mereka sudah berbaikkan atau sudah berteman. Tapi itu semua karena sang gadis kecil sudah tidak ada. Ia sudah pindah sekolah dari yang Gaara dengar oleh guru mereka. Untuk pertama kalinya, Gaara merasa ada yang aneh dengannya. Entah apa, tapi terasa ada yang mengikat dirinya dari rasa kebersalahan mulai saat itu.

.

.


"Sei...Ra-sensei..Gaara-sensei!" suara gadis yang terdengar kencang di telinga Gaara membuatnya langsung membuka matanya dan melihat asistennya sedang berdiri sembari menatapnya kesal.

"Matsuri─ Ada apa?" tanya Gaara melihat gadis berpakaian suster itu menaruh beberapa kertas di atas mejanya.

"Anda tertidur saat jam kerja. Jika Ayah anda tahu, bisa gawat." gadis berambut cokelat itu menatap Gaara tajam. "Ada apa? Apa anda mimpi buruk? Anda keringat dingin, sensei."

"..Oh" Gaara menempelkan jarinya di kening dan merasakan butiran-butiran keringat membasahi pelipisnya. "Hm, aku teringat saat kejadian TK dulu."

"Heeee?! TK? Itu sudah kejadian berapa tahun lalu? Hmm─" Matsuri melonjak kaget dan mulai memikirkan perhitungan di kepalanya. "Ah! Sudah hampir 20 tahun yang lalu, 'kan?! Mana mungkin Sensei mengingatnya."

"..benar juga." Gaara lalu segera berdiri dari duduknya dan mengambil jas putih yang tergantung di sebelahnya. Ia lalu mengambil dokumen yang diserahkan oleh Matsuri dan melihatnya jeli. "Pasien ini sudah bisa keluar minggu depan. Sebaiknya kau cek dia sekarang."

"Baik─" Matsuri mengambil lagi dokumen yang berikan Gaara dan keluar dari ruangan pribadi Gaara yang segera kembali duduk di pinggir mejanya.

Gaara menghela nafasnya panjang seraya memegang kepalanya yang terasa pusing. Ia sudah hampir melupakan kejadian 20 tahun lalu. Usianya kini sudah beranjak 25 tahun dan sedang bekerja di Rumah Sakit milik keluarganya. Menjadi Dokter demi menjalankan kewajibannya yang di panutkan oleh sang Ayah yang juga merupakan kepala bagian di Rumah Sakit dimana terletak di pusat kota. Gaara sendiri memang menginginkan dirinya menjadi Dokter karena hal-hal tertentu. Tapi, diluar dari pekerjaannya, Gaara sendiri masih mengalami trauma. Trauma akan kejadian dimana Ia merasa bersalah akan gadis kecil yang tak Ia tolong saat itu. Ingatannya saat kejadian tersebut samar-samar. Bahkan Gaara tak ingat wajah gadis kecil itu, yang Ia ingat hanya mata gadis tersebut.

"Gaara-sensei!" Matsuri yang tiba-tiba memasuki ruangan Gaara, langsung memecahkan lamunan sang kepala marun. Ia tersenyum simpul dan menatap Gaara jahil. "Ah─ apa yang anda lamunkan, Sensei? Pasti pacarmu, 'kan?"

"...Ada keperluan apalagi?" tanya Gaara dingin tanpa menggubris pertanyaan Matsuri.

"Tadi saya berpapasan dengan Ayah anda. Ia meminta saya menyampaikan pesannya." Matsuri mengeluarkan memo dari sakunya. "Ehm, katanya anda diminta hadir pada acara rapat nanti. Tampaknya Ayah anda juga hadir, jadi anda diminta datang ke ruangannya sekarang untuk mengambil berkas."

Mendengar pernyataan Matsuri, Gaara hanya bisa mendecih pelan. Ia memang paling malas jika diminta berurusan dengan sang Ayah. Apalagi datang ke acara rapat yang hanya membicarakan tentang segala hal yang sama pada intinya.

"Baiklah, aku akan menemuinya sekarang. Aku harus menolaknya." Gaara lalu turun dari atas mejanya dan keluar ruangan. Dilihatnya lorong Rumah Sakit yang mulai kedatangan pasien dan beberapa pasien rawat inap yang berkeliaran bersama suster-susternya. Gaara lalu melihat ke arah anak-anak kecil yang sedang bermain di sudut ruangan. Tampak Ia sedang bermain dengan ceria meski Ia adalah seorang pasien disini. Gaara sering melihatnya, tapi Ia tak berani menyapanya. Ia terlalu takut, karena hanya mengingatkannya pada kejadian lampau.

Ingin cepat-cepat keluar dari lorong tersebut, Gaara mempercepat langkahnya. Ia berjalan sembari menundukkan wajahnya, tak mau melihat lagi para anak-anak yang berada di sekelilingnya. Dengan hanya beberapa menit, Gaara sudah memasuki lift. Ia beryukur tubuhnya cukup tinggi membuatnya lebih mudah mempercepat jalannya.

Setelah sampai di lantai 9, tempat dimana ruangan sang Ayah berada, Gaara segera keluar dar lift. Belum beberapa langkah, tiba-tiba tubuh Gaara langsung berhenti. Jantungnya seakan melompat saat melihat siapa yang ada di depannya sekarang. Gaara mematung diam. Ia yakin ini bukan mimpi, matanya melihat langsung seorang gadis yang sedang bersama dengan salah satu dokter. Waktu disekeliling Gaara seakan berhenti sekejap, keringat dingin kembali mengucur saat Gaara melihat mata sang gadis. Mata yang tak pernah Gaara lupakan sejak dulu.

"Ah! Gaara-sensei? Sedang apa kau disana?" dokter yang sedang berada di sebelah gadis itu, melambaikan tangannya. Gaara yang sadar akan shocknya segera menundukkan wajahnya dalam. Gaara yakin pasti, Ia gadis itu.

"..."

"Gaara-sensei? Kenapa?" dokter berambut cokelat itu menuju ke arah Gaara dan memandangnya bingung.

"K-kiba-sensei.. sedang apa kau disini?" tanya Gaara pelan, Ia terlihat gugup saat melihat Kiba dan gadis itu mendekat ke arahnya.

"Aku baru ingin mengantar pasienku ke luar. Ada apa?" dokter bernama Kiba itu tersenyum simpul. Gaara lalu memberanikan dirinya mengangkat kepalanya dan langsung terdiam saat melihat mata sang gadis yang kini berdiri di depannya.

Gadis itu bersurai biru kelam, panjang hingga sepinggang. Kulitnya putih dan pipinya kemerahan. Gaara tidak ingat wajah gadis itu saat dulu, tapi Gaara tahu pasti mata sang gadis tak berubah. Tetap sendu dan seakan ragu untuk menatapnya balik.

Gadis itu lalu menarik lengan jas putih Kiba dan menatapnya bingung. Kiba sendiri hanya tertawa kecil dan menggeleng perlahan.

"Ah!" Kiba seakan teringat sesuatu dan segera menggerakan tangan-tangannya cepat. Melihat hal tersebut, Gaara segera membuka matanya lebar. Ia tahu apa yang dilakukan Kiba. Setiap gerakan tangan yang Kiba lakukan adalah bahasa isyarat. Gaara lalu menatap sang gadis yang juga membalas gerakan tangan Kiba.

"K-Kiba-sensei.. Apa yang kau katakan?" tanya Gaara penasaran.

"Hm? Ah─ 'Aku akan mengantarmu sekarang', Seperti itulah." Kiba tersenyum simpul. Saat itulah Gaara baru ingat bahwa Kiba merupakan Dokter spesialis THT di Rumah Sakit ini. "Ah, Gaara-sensei, aku akan mengantarnya sebentar sampai depan RS setelah itu kita bicara, ya."

"Baiklah. Aku juga harus bertemu Dokter kepala. Aku akan menunggumu disini." Gaara menundukkan kepalanya seakan memberi salam pada Kiba dan gadis bermata indigo yang ikut membalas salamnya. Dalam beberapa saat, Kiba dan pasiennya itu menghilang masuk ke dalam lift. Menyadari hal tersebut, Gaara buru-buru duduk di bangku terdekat dan mengkontrol lajur pernafasannya yang mulai sesak. Keringat dingin yang semakin mengucur membuat basah kemeja yang sedang Ia gunakan sekarang. Sudah sejak bertemu gadis itu Ia menahan sakit di dadanya.

"Hah─hah─" dada Gaara naik-turun, berirama cepat sesuai dengan detak jantungnya yang masih berdegup kencang. "Kenapa─ gadis itu ada disini.."

Gaara mencengkram dadanya erat seraya menundukkan tubuhnya yang mulai kaku. Tak ada siapapun di sana. Lantai 9 memang tempat para Dokter dan tak ada ruang pasien disini. Sudah pasti kemungkinan kecil ada orang yang lewat di lorong ini. Berusaha menahan diri, Gaara mulai memejamkan matanya meski jantungnya seakan dicengkram erat.

Set

Masih mengatur pernafasannya, tiba-tiba pundak Gaara merasa tersentuh. Ia lihat sebuah tangan yang sedang memegang pundaknya erat. Diangkatnya wajah miliknya yang masih basah akan keringat dan menemukan sang Ayah sedang berdiri di hadapannya.

"Ada apa? Apa kau kambuh lagi?" lelaki dengan wajah yang hampir mirip dengannya itu segera bersimpuh di depan Gaara untuk lebih jelas menatap sang anak yang sedang duduk dan mengeluarkan stetoskop di sakunya. Dengan cekatan Ia memeriksa detak jantung Gaara yang hanya diam diperiksa oleh sang Ayah. "Mana obatmu?"

"Hah─hah─S..Saku.."

Mendengar jawaban Gaara, lelaki yang usianya sudah hampir setengah abad itu segera mengecek saku jas Gaara dan mengambil kotak kecil yang berisi obat di dalamnya. Dengan buru-buru Ia keluarkan obat tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut Gaara beserta air yang sedari tadi Ia pegang.

"Baru kali ini kau kambuh setelah beberapa bulan. Apa yang kau pikirkan." lelaki itu menghela nafasnya panjang seraya menatap Gaara yang mulai tenang secara perlahan. Ia sudah terbiasa dengan hal ini. Sejak usia Gaara yang beranjak 6 tahun, hal-hal seperti ini kambuh pada tubuh Gaara. Ayahnya sendiri yang seorang dokter sudah memeriksanya dan tidak ada yang salah pada jantung maupun hatinya. Semua bekerja dengan normal. Hanya saja jika Gaara memikirkan 'sesuatu', hal ini akan kambuh dan menyerang Gaara yang membuat anak berambut marun ini akan merasakan sesak pada pernafasan dan nyeri pada jantungnya. Dan sayangnya, sang Ayah tidak tahu apa 'sesuatu' itu. Pernah Ayah Gaara membawanya ke rehabilitas, tapi tak berhasil. Pada akhirnya semua berasal dari kegelisahan Gaara yang berlebihan hingga membuatnya seperti itu.

"Tou-sama, maafkan aku─" Gaara menatap sang Ayah yang berada di depannya. "Aku tidak bisa ikut rapat sekarang."

"...Jika kondisimu begitu, segeralah pulang dan beristirahat." tanpa banyak bicara lagi, sang Ayah segera berjalan meninggalkan Gaara yang masih duduk di atas bangkunya dan memasuki ruangan miliknya yang berada di ujung lorong. Gaara sendiri hanya bisa bernafas lega, karena Ia tidak harus mengikuti rapat membosankan itu.

"A-are? Ga-gaara-sensei? Bukankah tadi Pak kepala?" Kiba yang baru keluar dari lift segera menghampiri Gaara yang masih duduk di bangku. Dia memang sudah tahu kabar bahwa Gaara merupakan anak dari Kepala Rumah Sakit, tapi baru kali ini Ia melihat langsung Gaara dan sang Ayah berada dalam satu tempat.

"Kiba-sensei, anak gadis yang tadi itu pasienmu?" tanya Gaara tanpa menggubris pertanyaan Kiba barusan.

"Ah─ maksudmu Hinata-san?"

"Hinata?" ujar Gaara datar. Dia memang tidak pernah ingat nama gadis kecil di masa lalunya. Tapi, Gaara yakin Ia gadis yang sama dengan di masa lalunya tersebut. Mata gadis itu tak bisa berbohong.

"Dibilang pasien sih─ bagaimana, ya?" Kiba tertawa kecil. "Hinata-san dibawa oleh orang tuanya sejak dia masih kecil kemari. Dia sudah menjadi pasien langganan. Dulunya dokter penanggung jawabnya adalah dokter yang kugantikan, jadi sekarang akulah yang jadi penanggung jawabnya."

"...Memangnya, dia sakit?"

"Seperti yang kubilang, aku juga bingung dia pasien atau bukan." Kiba tersenyum penuh makna. "Anak itu─ sejak 5 tahun tidak mendengar dan bicara. Tapi saat diperiksa, seluruh pendengaran juga pita suaranya baik-baik saja."

"Eh?" Gaara membuka matanya lebar saat mendengar ucapan Kiba. Meski samar, Ia masih ingat bahwa gadis kecil yang Ia tahu itu tidaklah tuli maupun bisu, Dia seperti anak kecil pada umumnya. Ya, 'umumnya' jika saja tidak ada yang membullynya.

"Orangtuanya juga tidak tahu penyebabnya, karena itu mereka menelantarkan anak itu kepada para Dokter. Entah apa mau mereka, Orangtuanya sudah menganggap anak mereka itu tuli dan bisu."

"Begitu─"

"Ah! Aku ada pasien sebentar lagi." Kiba melihat ke arah jam tangannya dan menatap Gaara yang ikut berdiri. "Maaf, Sensei. Aku pergi duluan."

Setelah memberi salam pada Gaara yang ikut membalasnya, Kiba berjalan menuju ruangannya yang tak jauh dari tempat dimana Gaara berada. Gaara sendiri segera berjalan menyusuri lorong menuju lift yang kosong. Ia tekan tombol 2 dimana lantai tempat ruangannya berada.

"Jangan lagi mengingatnya─ Aku harus menghentikkannya."

Bisik Gaara pelan sembari mencengkram dadanya yang mulai terasa nyeri.

.

.


"Sensei─! Hari ini sudah tidak ada jadwal dengan pasien, kau bisa pulang sekarang." Matsuri yang baru selesai mengantar pasien terakhir menuju depan pintu segera memandang Gaara yang sedang bersandar di atas bangkunya.

"Kau sendiri sebaiknya pulang tanpa harus memperhatikan orang lain." balas Gaara yang mulai memainkan ponselnya serius.

"Aku masih ada jaga malam nanti. Lalu, dilarang menyalakan ponsel saat di Rumah Sakit, Sensei!" celoteh Matsuri. Gaara menghela nafasnya perlahan mengingat memang sudah aturannya untuk tidak menyalakan ponsel. Dengan malas Gaara membuka jas putih serta menaruh stetoskop di dalam tas kerja hitamnya. Hanya dengan mengenakan kemeja hitam dan celana berwarna senada, Gaara buru-buru keluar dari ruangannya tanpa peduli omelan Matsuri karena membiarkan berkas-berkasnya tidak dirapihkan di atas meja.

Gaara lalu segera melihat arloji di tangan kirinya. Sudah menunjukkan pukul 7 malam dan Rumah Sakit yang awalnya ramai kini mulai sepi. Suasana terasa dingin dengan suara-suara langkah kaki para suster penjaga dan satpam yang berkeliaran. Tanpa peduli semua itu, Gaara segera menginjakkan kakinya ke luar Rumah Sakit dan menuju parkiran secepatnya. Mencari mobil hitam yang Ia parkirkan tidak jauh dari pintu masuk.

"Gaara-sensei, kau pulang sekarang?" tanya petugas keamanan yang menjaga para mobil di parkiran khusus tersebut.

"Ya,"

"Berhati-hatilah, kemarin ada berita tentang pembunuhan di sekitar sini. Kurasa Dokter juga harus berhati-hati." petugas itu tersenyum baik meski Gaara hanya menganggukkan kepalanya sebelum memasuki mobilnya. Ia memang dengar ada kasus-kasus seperti itu, tapi Gaara tak cukup peduli. Toh, dia menggunakan mobil. Ia bisa menabrakkan pembunuh atau apalah itu dengan mobilnya. Walau itu terdengar gila bagi seorang dokter.

Setelah keluar dari kawasan Rumah Sakit menuju jalan raya, Gaara segera mengarahkan mobilnya ke arah pusat kota dimana apartemennya berada. Dia memilih tinggal sendiri dibandingkan harus tinggal bersama orang tua serta kedua kakakknya yang tak kalah membuatnya kesal. Kakak perempuannya adalah seorang ahli bedah mengikuti jejak sang Ayah, sedangkan Kakak laki-lakinya merupakan seorang Dokter hewan di klinik hewan terbesar di pusat kota. Semua mengikuti jejak sang keluarga begitupula Gaara, meski Ia merupakan spesialis penyakit dalam. Dia tidak mau mengikuti sang Ayah juga Kakaknya untuk berada di bidang yang sama dengan mereka.

Menunggu lampu merah, Gaara melihat ke sampingnya lewat jendela mobil. Terlihat para pasangan yang sedang menikmati waktunya berjalan-jalan di musim dingin ini. Musimnya para pasangan. Jika ditanya apakah Gaara memiliki kekasih, dia tidak tertarik. Atau lebih tepatnya, dia malas membuang waktunya untuk wanita. SD sampai SMP, Gaara harus belajar tekun agar masuk SMU ternama. Saat masuk Universitas, Gaara mati-matian belajar agar bisa lulus secepatnya dari kedokteran dan mengambil spesialis. Karena itulah usia Gaara tergolong muda bagi para dokter umumnya. Meski sesungguhnya di sekitar Gaara banyak juga dokter muda karena Rumah Sakit keluarga Gaara adalah Rumah Sakit Universitas yang dokternya diambil langsung dari lulusan Universitas yang tergolong masih cukup muda. Kiba contohnya. Dari hal-hal tersebutlah Gaara tidak punya waktu untuk mendapatkan pacar, apalagi mencarinya, meski kadang ada beberapa wanita yang mengekorinya dulu.

Merasa lapar, Gaara lalu melihat ke arah Restoran yang tak jauh darinya. Ia jalankan mobilnya ke arah restoran tersebut dan memarkirkan mobilnya mulus. Gaara memang belum sempat makan sedari tadi karena tubuhnya sedang lemas. Tapi, perutnya tidak berhenti meminta diisi membuat Gaara mau tak mau harus makan saat ini tanpa menunggu sampai di apartemennya. Gaara keluar dari mobilnya dan melihat ke sekelilingnya. Banyak jejeran restoran di tempat ini. Tak ada satupun yang menggunggah mata dan perut Gaara, meski sebenarnya makan apapun tak masalah untuknya. Merasa ingin mencari makan di sekitar tempat itu, Gaara lalu mulai berjalan di tempat pejalan kaki. Ia pandangi sekelilingnya yang ramai akan khalayak orang-orang yang juga mencari makan malam.

Belum dapat tempat dimana Ia akan makan, tiba-tiba mata Gaara lagi-lagi menangkap sosok yang familiar dengannya. Sosok gadis berambut panjang biru kelam dengan mata indigo yang cemerlang seakan menyala di malam ini. Gadis itu berjalan menuju ke arahnya perlahan. Dekat, dan semakin dekat hingga akhirnya kini Ia berada hanya 30 cm di depan Gaara yang masih mematung.

"─Kau!" seru Gaara kencang ke arah gadis itu. Bukannya berhenti, gadis itu tetap berjalan hingga akhirnya Ia melewati Gaara begitu saja. Bingung, Gaara tiba-tiba teringat dengan perkataan Kiba─ 'Gadis itu tidak mendengar juga tidak bicara'─. Ia lalu mulai memberanikan dirinya, Gaara segera berbalik dan berjalan secepat mungkin mengejar gadis itu yang mulai menjauh. Tanpa banyak bicara, Gaara segera menarik lengan sang gadis yang tampak rapuh. Membuat sang gadis bermata indigo itu membalikkan tubuhnya dengan wajah penuh tanda tanya.

"..?" gadis itu memiringkan kepalanya bingung. Sama bingungnya dengan Gaara akan perbuatannya sendiri.

"Apa kau Hinata?" tanya Gaara spontan. Ia benar-benar tidak tahu apa yang Ia perbuat, tapi tangannya yang tidak memegang lengan gadis itu sedang mencengkram dadanya erat.

"..." gadis itu mengangguk pelan.

'Rupanya Ia bisa mendengar' pikir Gaara dalam hati. Ia lalu melepas tangannya dari lengan Hinata yang menatap Gaara takut. Gadis itu menundukkan kepalanya meski matanya menatap wajah Gaara lurus.

Gaara yang kini berhadapan dengan Hinata menatapnya datar. Keringat dingin mulai bermunculan dan dadanya semakn berdebar kencang. Ia benar-benar tidak memikirkan apapun sekarang. Tiba-tiba kepalanya terasa kosong begitu saja.

'Lalu apa?! Setelah bertemu dengannya aku harus apa?'

Gadis bernama Hinata itu lalu mengeluarkan sebuah papan berukuran memo dan menuliskannya dengan spidol kecil yang terselip disana. Gaara yang melihat gerak-gerik gadis itu segera menatapnya penasaran.

'Ada perlu apa denganku?'

Gaara lihat tulisan Hinata yang tergores di papan kecil itu dan menatap Hinata tegas. Ia tidak mau melewatkan kesempatan ini. Sudah 20 tahun lamanya penyesalan yang Gaara rasakan, dan inilah saat dimana Gaara bisa melepaskan kegelisahannya selama itu. Hanya saat ini.

"Bisakah kita bicara? Aku ingin memberitahukan padamu sesuatu." ujar Gaara hati-hati meski nada dinginnya tak terlepas dari kalimatnya. Gadis bersurai panjang itu tampak ragu dengan membolak-balikan matanya ke kiri dan ke kanan. Ia lalu kembali menuliskan sesuatu di papan kecilnya dan kembali memperlihatkannya pada Gaara.

'Aku tidak bisa mengikuti orang asing. Maaf.'

"Ah─ Aku ini teman dari Kiba-sensei. Tadi kita bertemu, 'kan?"

"..!" gadis itu tampak mengingat kejadian tadi siang dan segera mengangguk setuju. Gaara yang melihat jawaban dari Hinata segera bernafas lega, bersyukur tadi Ia bertemu dengannya sebelumnya.

"Baiklah, kita bicara disini." Gaara menunjuk ke arah restoran yang kebetulan berada di samping mereka. Meski Hinata terlihat enggan, tampaknya tatapan tajam Gaara membuatnya mau tak mau mengikuti laki-laki ini hingga menuju kursi yang berada di sudut ruangan. Setelah memesan makanan, Gaara dan Hinata yang duduk berhadapan mulai saling bertatapan.

"Jadi, namamu─ Hinata?"

'Hyuuga Hinata.' tulis Hinata lebih cepat. Ia sudah mempersiapkan papan kecilnya di atas meja mempermudahkan Gaara agar bisa langsung membacanya.

"Begitu─"

'Lalu, apa yang ingin anda bicarakan?'

"..Apa─ kau masih ingat kejadian 20 tahun lalu? Saat kau berusia 5 tahun." ujar Gaara tiba-tiba langsung ke inti pembicaraannya. Hanya dengan kalimat itu, raut wajah sang gadis langsung suram. Ia segera menundukkan wajahnya dalam dan menata Gaara takut. "Aku salah satu dari mereka─ Yang membully dirimu."

Wajah Hinata langsung terangkat saat mendengar perkataan Gaara. Ia seperti mendengar sesuatu pernyataan terdahsyat hingga tubuhnya ikut melonjak kaget dengan perkataan Gaara. Dengan ragu-ragu Hinata menulis di atas papan miliknya dan menunjukkannya pada Gaara yang langsung menatapnya kaget.

'Apa kau datang untuk membalas perkataanku lagi?'

Gaara menatap papan itu bingung. Ia lalu bergantian menatap wajah Hinata yang hanya menunduk sedih tanpa menatap wajah Gaara sedikitpun. Gaara tidak paham maksud dari tulisan itu. Membalas? Membalas apa? Gaara memang tidak tahu awal mula Hinata di bully oleh teman-temannya. Ia hanya tidak menolong Hinata, dan itulah yang menjadi beban Gaara selama ini.

"Apa maksudmu?"

"..?" Hinata yang juga tampak bingung segera menatap Gaara dan menautkan kedua alisnya. Keduanya sama-sama dilanda kebingungan. Hinata juga tidak paham dengan situasinya.

"Apa.. kau ingat? Saat kau di perlakukan kasar oleh anak-anak kelas, aku─ aku hanya menontonnya." Gaara menundukkan wajahnya dalam. "Terlebih, saat kau meminta pertolongan aku hanya bisa lari. Sejak saat itu, aku terus merasa bersalah padamu─"

Hinata yang mendengar pernyataan Gaara tampak mulai mengingat-ingat dan tersenyum tipis. Ia ambil papan di atas meja dan kembali menuliskan sesuatu sebelum menyerahkannya pada Gaara.

'Aku ingat. Kenapa kau merasa bersalah? Kau tidak melakukan kesalahan apapun.'

Hanya dengan melihat kalimat itu, Gaara segera menatap Hinata penuh rasa bersalah. Dadanya yang Ia cengkram dengan tangannya mulai naik-turun sesuai pernafasannya yang mulai berat.

"Hah─ hah─ kenapa..Kenapa kau tidak menyalahkanku.." ujar Gaara pelan sembari tetap mengatur pernafasannya. Ia lihat wajah Hinata yang terlihat cemas, dan segera berdiri dari duduknya menuju ke arah Gaara yang mulai menyandarkan kepalanya ke atas meja.

"..." Hinata memegang pundak Gaara dan menatapnya penuh tanya. Gaara sendiri hanya diam, Ia masih sibuk mengatur dirinya untuk tetap tenang dari kecemasan serta kegelisahannya.

"...Kenapa kau tidak bicara? Apa karena kejadian saat itu?" tanya Gaara lagi saat merasa dirinya mulai bisa menyeimbangkan nafasnya.

Hinata menundukkan kepalanya dan mengambil papan yang langsung Ia tuliskan di atasnya. Ia lalu memperlihatkannya ke arah Gaara yang mulai mengangkat tubuhnya kembali.

'Aku takut berbicara.'

"Hah?" Gaara memandang Hinata bingung. "Kenapa?"

Hinata tidak terlihat ingin mengambil kembali papan di atas meja. Ia hanya berdiri di samping Gaara, tertunduk. Mata indigonya yang biasanya terlihat bercahaya kini redup. Mata yang sama dengan saat Gaara melihatnya untuk pertama kali saat 20 tahun lalu. Mata yang tak ada kehidupan di dalamnya. Saat itu Gaara tahu, 20 tahun lalu, sejak saat itu bukan hanya hidup Gaara yang berubah. Tapi gadis dengan mata indah ini juga mengalami perubahan hidup yang besar hingga kini Ia tidak mau bicara, bahkan mendengar.

Dalam beberapa detik mata Gaara bertemu dengan mata Hinata. Sama seperti saat 20 tahun lalu, mata mereka seakan berpautan. Seperti akan ada sesuatu yang berubah untuk kedua kalinya.

.

.

.


TBC


Sedikit banget ya. Yah, ini kan prologue heheu

Maafkan author yang belum publish fic satu lagi. Padahal itu duluan yang dibuat hiks T_T

Semoga para readers suka sama fic yang ini juga ya. Saya kembali lagi pada Pair pertama yaitu GaaHina khukhu

Dan, kali ini author buat mystery lagi wahaha omg emang gabisa lepas huhu maaf ya tapi ga akan berat seperti seblumnya kok

Dan, untuk fic ini aku akan berusaha lebih baik biar ga ada typo (meski pasti banyak miss-typo)

Semoga fic ini bisa terus berlanjut! Ditunggu review kalian semuaanya 3

Bagi yang baru pertama baca fic saya,silahakan baca yang lainnya juga #promosi#dibuang 3

Sampai bertemu chapter depan!

~AS~

-20150227-