"Melodies"

Disclaimer : Masashi Kishimoto


Halo semuanya. Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk mau membaca fic ini

Terimakasih banyak yang baca dan sempet untuk review hehe /tebarmawar

Maaf ya apdetnya lama /dibuang

Silahkan menikmati :D

WARNING: OOC, Miss-typo, alur kecepetan, gj, etc


Chapter 1


.

.

.

Gaara yang masih menatap mata indigo milik Hinata segera mengalihkan pandangannya saat menyadari dadanya mulai merasa sakit kembali. Dengan cepat Gaara ambil gelas di depannya dan meminumnya perlahan. Hinata yang juga kembali duduk di tempatnya ikut meminum minuman yang sedari tadi di atas meja tersebut.

"Maaf, bisakah kita bicara lagi nanti? Kondisiku sedang tidak baik.'' Ujar Gaara pelan tanpa memandang Hinata.

'kau baik-baik saja?' Tulis Hinata di atas papan yang Ia ambil kembali.

"Hm.. tenang saja.'' Gaara lalu mengangkat kepalanya kembali saat menyadari pelayan yang datang dengan pesanan mereka. Setelah seluruh pesanan siap di atas meja, Gaara langsung mempersilahkan Hinata untuk menyantapnya. Mereka berdua kembali diam. Tidak ada yang membuka pembicaraan tabu bagi keduanya meski kepala masing-masing penuh akan tanda tanya.

Sembari memakan hidangan di atas piringnya, Gaara melirik ke arah Hinata. Ia makan dengan dengan perlahan, gerakannya terlihat indah. Bisa Gaara tahu bahwa gadus ini mempelajari tata krama dengan baik. Entah apa yang Gaara rasakan, sakit di dadanya perlahan mulai membaik saat melihat mata Hinata yang bahkan tidak menatapnya. Hangat. Itulah yang Gaara rasakan sekarang.

.

.

'terimakasih sudah mengajakku makan malam. Aku benar-benar tidak tahu harus membalas dengan apa' Hinata menyerahkan papannya saat sudah berada di luar restoran bersama Gaara yang hanya diam.

"Kau langsung pulang?''

Hinata mengangguk cepat. Hinata menggerakkan tangannya, menunjukkan bahas isyarat yang tiba-tiba.

''Hmm.. Maaf, aku belum mengerti bahasa isyarat.'' balas Gaara tidak enak hati membuat Hinata segera menuliskannya di atas papan yang berada di tangannya.

'Aku minta maaf jika ada perkataanku yang salah barusan'

"..kau─'' Gaara menutup mulutnya, membatalkan ucapannya yang ingin kembali mendapat keterangan akan kejadian dulu. Gaara tidak yakin, tapi masih ada beban berat yang Ia rasakan.

Hinata menarik lengan kemeja Gaara yang langsung mengangkat kepalanya menatap Hinata yang terlihat cemas. Hinata tampak menunggu akan kalimat Gaara barusan yang terpotong hingga kini.

"Ah, tidak─sampai jumpa.'' Gaara menundukkan kepalanya untuk berpamitan sebelum akhirnya Ia sadar akan perkataan petugas RS sebelumnya. Ia mengatakan bahwa ada pembunuh disekitar daerah ini. Mengingat hal tersebut, buru-buru Gaara mengangkat tubuhnya dan menatap Hinata tajam. "Aku akan mengantarmu.''

"..!'' Hinata menggeleng kepalanya cepat. Baru mau menuliskan sesuatu di papannya, Gaara langsung mencuri tangannya dan menariknya paksa. Tidak sanggup menahan kekuatan lengan Gaara, Hinata dengan segera ikut terbawa oleh Gaara di kerumunan orang. Hanya dalam beberapa menit, mereka berdua sampai ditempat Gaara memarkirkan mobilnya.

"Ada apa? Dimana rumahmu?'' tanya Gaara seaya membuka pintu mobil depan untuk Hinata.

'Rumahku cukup jauh, aku harus naik kereta. Jadi, kau tidak perlu mengantarku.' Hinata menatap Gaara takut-takut.

"Bagus kalau begitu. Kebetulan aku juga sedang ingin menghabiskan waktu.'' balas Gaara santai. Hinata kembali menggelengkan kepalanya dan menunjukkan Gaara papannya.

'Aku tidak mau merepotkanmu lagi'

"Sama sekali tidak!'' balas Gaara lebih keras dan menatap Hinata tajam. "Masuklah.''

Takut dengan tatapan Gaara, Hinata mau tak mau menaiki mobil sport hitam itu dan duduk di sebelah Gaara yang ikut memasuki mobilnya. Ia lihat mata Gaara yang menatap ke depan, mulai fokus dengan jalan raya. Hinata sedikit ragu pada awalnya, tapi entah kenapa Hinata bisa percaya pada lelaki stoic yang satu ini.

"Dimana rumahmu?'' tanya Gaara meski tatapannya tetap ke jalanan.

'Dekat stasiun kereta, di blok A.'

"Hmm─''

Gaara dan Hinata kembali diam. Hinata juga tidak mau membuka topik karena akan mengganggu Gaara jika tiap mereka berbincang, Gaara harus melihat papan di tangan Hinata. Mencegah kejadian yang tak diinginkan, Hinata segera memasukkan kembali papan kecil itu ke dalam tasnya.

"Kenapa dimasukkan?'

"...'' Hinata menatap Gaara kaget saat tahu bahwa Gaara sedang melirik ke arahnya. Ia buru-buru menggeleng pelan dan tersenyum tipis ke arah Gaara.

"Kau bisa mendengar, kenapa kau tidak bicara saja..'' gumam Gaara kecil meski Hinata yang bisa mendengarnya hanya tersenyum pahit.

Hinata lalu melirik ke arah Gaara yang diam. Ia tampak tertarik mengetahui lebih jelas wajah sang pemilik tato di keningnya itu. Hinata sedikit memiliki bayangan akan kejadian dulu, Hinata ingat siapa laki-laki ini. Dengan sembunyi-sembunyi Hinata terseyum kecil. Ia ingin sekali memberi tahu pada Gaara akan alasannya yang tidak biacara, tapi entah apa, ada sesuatu yang menahannya untuk mengatakannya.

.

.


''Jadi, disini rumahmu?'' tanya Gaara saat sampai di sebuah rumah besar di depan jalan yang sekitarnya juga merupakan rumah-rumah dimana Hinata menunjukkannya tadi.

''..'' Hinata menundukkan kepalanya sebelum Ia menatap rumahnya lewat jendela mobil. Ia lalau tersenyum tipis ke arah Gaara dan membuka pintu mobilnya.

"Kenapa kau ragu?'' tanya Gaara melihat Hinata belum juga beranjak ke arah rumahnya. Hinata yang menyadari Gaara masih diam ditempat segera menggeleng pelan dan mengeluarkan papannya.

'Pergilah duluan. Terimakasih sudah mengantarku'

Gaara yang melihat tulisan di papan tersebut segera menutup kembali jendela mobilnya meski matanya tetap menatap Hinata yang sedang membuka pintu gerbang rumahnya. Gaara tetap mematikan mobilnya, belum ada keinginan sedikitpun untuk menyalakan mobilnya meski kini Hinata sudah mulai memasuki rumahnya. Merasa tidak ada yang perlu dilakukan lagi, Gaara lalu menyalakan mobilnya yang segera menyalakan lampu mobil. Ia oper gigi mobil dan segera menahan kakinya untuk menancap gas saat tiba-tiba terdengar suara pecahan kaca dari belakang.

Prang

Prang

"...hm?'' Gaara menolehkan kepalanya ke arah belakang. Tidak terdengar lagi suaranya. Merasa hanya salah dengar, Gaara lalu kembali menjalankan mobilnya meninggalkan jalanan itu cepat. Tidak mengetahui bahwa arah suara tersebut datang dari rumah Hinata.

.

.


Gaara yang sedari pagi datang ke Rumah Sakit segera menuju ke arah Universitas yang berada di bangunan sebelahnya. Dilihatnya sudah banyak mahasiswa yang datang serta beberapa dokter pengajar disana. Tanpa banyak alih, Gaara dengan terburu-buru segera menuju ke arah perpustakaan dan mencari rak buku yang berada di ujung lorong.

Diambilnya beberapa buku dan segera ia taruh di atas meja perlahan. Dibukanya buku pertama dan lembar demi lembar Ia lihat dengan teliti. Dipahaminya segala hal disetiap lembar tersebut dikepalanya yang tampak membayangkan gerakan-gerakan yang tertulis diatas buku tersebut.

"Bahasa isyarat?'' seorang Dokter yang tiba-tiba berada di belakang Gaara, segera tersenyum tipis melihat Gaara ─yang juga kaget─ melihat siapa di belakangnya sedang membaca tulisan sebuah buku yang Ia pegang.

"Temari-nee..sedang apa kau disini?''

"Aku sedang mengambil berkas milik Ayah. Bagaimana denganmu? Setahuku kau ini spesialis penyakit dalam, apa aku lupa ingatan?'' Temari tersenyum simpul dan menarik buku yang berada di atas meja. "Bahasa isyarat bagi pemula, hmm-''

"Apa ada yg salah? Aku sedang mempelajari ini untuk pasienku.'' balas Gaara seadanya dan kembali fokus ke arah buku yag ia pegang. "Dan sebaiknya kau pergi. Kau terlalu berisik.''

"Dasar. Padahal sudah 2 minggu kita tidak bertemu, kau malah mengacuhkanku.'' Temari menatap Gaara kesal dan langsung menaruh buku ditangannya cepat. "Sebaiknya tidak usah mempelajari seperti ini jika hanya membuang waktumu. Istirahatlah, kau tahu kondisi tubuhmu kan?''

"Haah-'' Gaara menghela nafasnya panjang dan menatap Temari di belakangnya. "Bisakah tidak mencampuri urusanku? Dan lagi, tubuhku baik-baik saja, aku seorang dokter. Aku tahu apa yang kurasakan pada tubuhku.''

" ..Terserah padamu.'' balas Temari tak kalah ketus. "Aku harus kembali ke RS. Sampai jumpa.''

Gaara hanya diam melihat sang kakak sudah keluar dari perpustakaan. Ia kembali memfokuskan dirinya ke arah buku dan menutupnya perlahan. Ia ingat bagaimana wajah Hinata semalam, hatinya kini tak terasa sakit sangat kembali mengingatnya.

.

.

Selesai bekerja, Gaara menyempatkan dirinya ke lantai atas, menuju ruangan sang Ayah. Atau lebih tepatnya, melihat ruangan yang berada di lorong yang sama dengan sang Ayah. Ya, dia hanya ingin melihat ruangan Kiba yang kini sedang duduk manis di bangku dekat kamar pasien saat Gaara ingin menghampirinya. Kiba terlihat santai dengan buku di tangannya.

"Kiba," panggil Gaara terdengar akrab di telinga Kiba yang langsung menyambutnya dengan senyum lebar.

"Oh! Gaara-sensei, ada apa?"

"Apa─ pasienmu.. Maksudku, apa gadis itu datang lagi?" tanya Gara ragu-ragu.

"Hm? Pasienku? Gadis yang mana? Hari ini aku bertemu pasien lebih dari 10 orang, Sensei." Kiba tertawa kecil. Gaara tahu, Inuzuka yang satu ini hanya ingin mengetesnya.

"Jangan bercanda, Inuzuka-sensei." balas Gaara kembali mengganti panggilan Kiba, yang membuat Kiba sendiri langsung gusar.

"Ahaha, jangan serius seperti itu!" Kiba tersenyum penuh makna dan kembali menatap Gaara. "Hinata bilang dia tidak bisa datang hari ini. Atau bisa dibilang, setiap hari ini memang Ia tidak bisa datang."

"Kenapa?" tanya Gaara bingung. Ini hari Sabtu, sudah pasti Hinata luang kecuali Ia memang gadis super sibuk yang bahkan di hari Sabtu tak mendapat libur seperti Gaara sekarang.

"Setiap hari Sabtu, keluarganya pulang. Ah, untuk informasi, Hinata tinggal sendiri atas kemauannya. Tapi keluarganya selalu mengecek setiap Sabtu."

"Hm─ begitu." Gaara kembali ingat kejadian semalam. Rumahnya memang besar, tapi tak ada hawa akan penghuni saat itu. Bahkan lampu rumah yang menyala hanya lampu depan saja.

"Bagaimana kalau kau datang kesana?" ujar Kiba spontan.

"Hah?"

"Sudah kubilang tiap Sabtu Ia tidak datang, 'kan? Jadi penggantinya, aku harus datang setelah shift ke rumahnya. Selalu seperti itu, semenjak dia jadi pasienku. Keluarganya memang terlalu berlebihan." Kiba tersenyum pahit. Kini Gaara tahu, mengapa lelaki bertaring ini selalu terlihat terburu-buru pulang setiap Sabtu.

"Lalu, kenapa kau menyuruhku?" Gaara memandang Kiba datar.

"Bukankah kau mau bertemu dengannya?" Kiba menyerahkan secarik kertas dari dalam kantung kemejanya. "Ini, hal-hal yang harus dicek pada tubuhnya. Hanya kondisi suhu badan, dan hal dasar. Bukankah ini malah bidangmu?"

Gaara mengambil kertas dengan catatan-catatan kecil tersebut dan menatap Kiba bingung. "Dia tidak sakit, tidak memiliki penyakit, dan dia tidak tuna rungu. Kenapa harus dicek seperti ini?"

"Sudah kubilang orang tuanya berlebihan, 'kan? Mereka rela mengeluarkan uang sebanyak apapun demi anak itu. Aneh memang. Tapi, kau akan tahu saat kau melihatnya nanti." Kiba melihat arlojinya dan menatapnya kaget. "Gawat! Aku telat 10 menit untuk kembali! Ah, pokoknya, setelah selesai serahkan hasilnya padaku besok, ya! Bilang saja aku ada urusan, dan kau penggantiku. Terimakasih, Gaara-sensei!"

Kiba dengan secepat kilat berlari pelan, dan memasuki lift. Gaara yang masih mematung hanya bisa diam melihat kertas ditangannya. Ia lihat hal-hal yang harus dicek dan mendecih pelan.

"Kenapa dia diperlakukan seperti orang sakit?"


Gaara yang sudah berada di depan rumah Hinata, keluar dari mobilnya dan dengan segera beridri tepat depan pintu rumahnya. Setelah beberapa detik Gaara pencet tombol pintu berwarna putih itu, terdengar suara langkah kaki yang dengan perlahan datang ke arahnya. Gaara sendiri segela mengambil nafasnya dalam-dalam, dia sedikit menyesal kenapa harus datang dengan masih mengenakan pakaian kerjanya lengkap.

''Selamat sore, ada keperluan apa?" tanya seorang wanita berumur setelah membuka pintu rumah tersebut. Ia terlihat paham bahwa tamunya adalah tamu dari Hinata, karena Gaara mengenakan jas putihnya dengan name tag yang masih terpampang di sakunya.

"Saya mewakili Inuzuka-sensei hari ini karena Ia ada keperluan. " jawab Gaara seadanya.

"Ah, pantas saja saya baru pertama kali melihatmu." wanita dengan sanggulnya segera tersenyum tipis. "Nona Hinata─ Ia sedang di rehabilitasi. Jadi─"

"Rehabilitasi?" Gaara menautkan kedua alisnya dan menegok masuk ke dalam isi rumah yang tampak sunyi. "Boleh aku lihat keadaannya?"

"M-maaf, tuan besar pasti akan sangat marah jika ada yang mengganggu Nona─"

"Kalau begitu, aku ingin bertemu dengan tuan rumah ini." ujar Gaara tanpa takut.

"Tapi─"

"Ada keributan apa ini?" tiba-tiba suara berat dari dalam rumah mulai terdengar dan muncul sesosok lelaki tua berambut panjang dengan yukata rumahnya berdiri di belakang sang pelayan. "Siapa kau?"

"..Saya dokter penanggung jawab Hinata untuk sementara." kilah Gaara palsu.

"Anak itu sedang di rehabilitasi. Kau tidak perlu datang hari ini." balas lelaki itu dingin.

"Tidak bisa. Sebagai dokternya, saya harus tahu proses rehabilitasi dan metode apa yang digunakan." jawab Gaara tak kalah dingin.

"─bawa dia masuk." lelaki tua itu menatap Gaara tajam dan segera meninggalkan Gaara beserta sang pelayan. Gaara yang tahu bahwa Ia mendapat izin untuk memasuki rumah tersebut segera mengikuti sang pelayan menuju salah satu ruangan besar di dalamnya.

"Tuan Hiashi, apa perlu saya panggilkan nona Hinata?" tanya sang pelayan ragu-ragu setelah melihat Gaara dan sang tuan telah duduk di atas sofa.

"Tidak perlu, aku hanya ingin bicara pada dokter ini. Tinggalkan kami."

"B-baik, saya permisi." sang pelayan wanita berambut pendek itu membungkuk dalam dan meninggalkan ruangan yang kini hanya berisi Gaara dan Hiashi di dalamnya.

"Jadi, apa maksud kedatanganmu?" tanya Hiashi membuka pembicaraan yang beraroma kelam itu.

"Saya kemari untuk melakukan pengecekkan pada kondisi Hinata dan menyerahkannya kepada kepala bagian. Itu adalah tugas wajib bagi kami karena anda sendiri sudah mendaftarkan anak anda menjadi pasien tetap kami." jawab Gaara tanpa ragu.

"Lalu? Sudah berapa lama kau menjadi dokter penggantinya?" tanya Hiashi membuat Gaara terdiam. Hinata bukanlah pasien Gaara, bahkan Gaara sendiri tidak tahu pasti apa detail secara keseluruhan akan kondisi Hinata yang bisa memperakurat jawabannya.

"Saya kemari hanya ingin melakukan pengecekkan. Menjawab pertanyaan diluar hal tersebut, saya tidak bisa melakukannya."

"─Bukan maksudku menyombong, tapi aku cukup pintar. Apa seorang Dokter penyakit dalam bisa berhubungan dengan Hinata yang tuna rungu?" Hiashi memandang Gaara tajam. Gaara yang mendengarnya segera melirik ke arah name tag di sakunya dan hanya bisa bersumpah dalam hati akan kebodohannya untuk tidak menyembunyikan tanda pengenalnya tersebut. Merasa tidak bisa berbohong lebih jauh, Gaara segera menghela nafasnya panjang.

"Saya kemari atas keinginan saya sendiri atas bantuan Inuzuka-sensei." balas Gaara terang-terangan. "Saya bisa bertaruh dengan pasti, Hinata tidaklah tuna rungu ataupun sakit. Dia adalah anak normal pada umumnya yang bisa bicara maupun mendengar."

"Apa maksudmu? Anak itu bisu, tuli!" Hiashi meninggikan volume suaranya dan mulai mengeratkan kepalan tangannya. "Betapa memalukannya ada lebih banyak orang yang tahu hal ini."

"..Memalukan?" Gaara menyeringai tipis dan kembali membuka suaranya. "Kupikir, orang tua sepertimu yang lebih memalukan karena kau sendiri merasa malu akan kehadiran Hinata."

Mendengar jawaban Gaara, Hiashi segera berdiri dan menarik jas putih Gaara kencang. Ia tatap wajah Gaara yang tak terlihat tergetak sedikitpun. Hanya wajah datarnya yang menghiasi muka dengan tato di keningnya tersebut.

"Bocah sepertimu tahu apa?"

"...!" tiba-tiba terdengar suara buku berjatuhan, dan terlihatlah Hinata yang baru memasuki ruangan dengan wajahnya yang sudah tak bisa diungkapkan lagi dengan kata-kata. Ia sendiri tidak tahu harus memasang wajah seperti apa melihat keadaan di depannya ini.

"Hinata─" Gaara yang melihat Hinata dengan balutan baju terusan dengan jaket tebal itu buru-buru melepaskan dirinya dari cengkraman Hiashi. Ia sedikit lega melihat wanita berambut indigo itu kini ada di depan matanya.

"Hinata! Apa yang kau lakukan keluar kamarmu? Cepat masuk!" seru Hiashi kencang membuat Hinata langsung ciut melihat amarah sang Ayah.

'Kenapa Ayah melakukan itu pada Gaara-san?' tanya Hinata dengan bahasa isyaratnya.

"Apa yang kau katakan? Tulis di papan sialmu itu!" seru Hiashi yang terlihat kesal melihat gerakan-gerakan tangan Hinata yang tak Ia mengerti.

Hinata yang memang tak membawa papan di tangannya hanya bisa menunduk sedih. Tiba-tiba matanya menangkap suatu gerakan di depannya, tepat dihadapannya Gaara menggerakan tangannya, mengungkapkan sebuah kata demi kata yang Ia mengerti.

'Tenang saja, kami hanya beragumen'

Hinata yang melihatnya segera menatap Gaara tak percaya dan tampak bertanya-tanya.

'Kau mengerti bahasa isyarat?'

'Semalam penuh aku mempelajarinya. Meski aku harus pelan-pelan melakukannya'

'Tidak, kau hebat! Aku butuh 5 hari untuk menghapalkan beberapa kalimat saja.'

Gaara yang melihat Hinata terlihat sangat senang hanya bisa bersyukur Ia mempeajari bahasa isyarat tersebut meski kantung matanya semakin bertambah karenanya.

"Apa yang kalian bicarakan?! Hinata, sedang apa kau disini?" Hiashi yang melihat percakapan isyarat Hinata dan Gaara memandang keduanya kesal.

'Aku ingin memberikan buku-buku yang Ayah mau. Aku mencarinya sejak kemarin.' Hinata menggerakan telunjuknya ke arah Gaara. 'Gaara-san mengantarku kemarin setelah aku pulang dari mencari buku.'

"Hah? Aku tidak mengerti, ambil pap─"

"Dia bilang dia ingin memberikan buku yang kau mau. Ia mencarinya sejak kemarin." ujar Gaara ke arah Hiashi yang hanya bisa diam mendengarnya. Hiashi melihat buku-buku yang berserakan memang buku-buku yang Ia cari beberapa minggu ini.

"Lalu apa maksudnya menunjuk ke arahmu?"

"...Itu─"

'Gaara-san mengantarku!' Hinata kembali menggerakan tangannya lagi lebih lambat. Sayang sang Ayah tetap tak bisa menangkap perkataan Hinata.

"Hinata berkata bahwa Gaara-san yang mengantarnya pulang." seorang wanita yang tiba-tiba memasuki ruangan segera tersenyum tipis. Wanita mirip dengan Hinata itu melihat ke arah jam dan kembali memandang Hiashi. "─lalu, sudah saatnya kau bergegas bukan? Sudah lewat dari jam 7 malam. Rapat anda akan berlangsung 2 jam lagi."

Hiashi yang segera melihat ke arah jam dinding hanya bisa terdiam. Ia lalu tatap Gaara baik-baik dan menghela nafasnya panjang. "Hei, biarkan aku bicara denganmu. Hinata, masuk ke kamar."

"..?" Hinata memandang sang Ayah bingung.

"Tenang saja, masuklah dulu. Nanti Ibu akan memanggilmu lagi." wanita yang merupakan Ibu Hinata tersenyum santai, membuat Hinata menurut dan meninggalkan Gaara bersama kedua orang tuanya.

"Ada hubungan apa kau dengan anakku?" tanya Hiashi tanpa basa-basi.

"...Kami─ baru saja kenal." Gaara mendengus pelan. "Atau lebih tepatnya, kami baru bertemu lagi setelah sekian lama."

"Apa maksudmu?" Ibu Hinata yang ikut mendengarnya mulai berjalan di sebelah sang suami untuk menatap Gaara lebih jelas.

"Aku mengenalnya, karena kami satu tk dulu." Gaara berkata seakan berbisik.

"Saat itu─" Ibu Hinata yang tampaknya mulai mengingat kenangan saat Hinata TK, segera menunduk dalam. "Apa kau tahu sesuatu?"

"..." Gaara hanya diam. Ia tidak tahu harus membalas perkataan Ibu Hinata seperti apa. "Maaf,"

"Kenapa kau minta maaf?" Hiashi membuka suaranya tajam.

"Aku melihatnya, dulu.. anak-anak itu menyakiti Hinata─" Gaara mulai menundukkan kepalanya perlahan. "Dan aku tidak berbuat apa-apa."

"...Gaara-san," Ibu Hinata yang ikut menautkan kedua alisnya segera menunduk dalam. "Kalau begitu, kau bukan salah satu dari mereka, 'kan?"

Gaara yang mendengarnya langsung merasa sakit di dadanya dalam, dengan refleks Gaara mencengkram dadanya erat sembari mengangkat kembali wajahnya. "Dibandingkan anak-anak itu, aku lebih sampah karena membiarkannya."

"Gaara-san, kau tidak perlu merasa seperti itu. Bahkan kami orangtua Hinata pun bingung, hingga menelantarkannya. Bukankah kami juga lebih buruk?"

Hiashi yang mendengar perkataan sang Istri hanya bisa diam. Ia juga tidak tahu harus bagaimana sekarang. Ketiganya seakan dikemeluti rasa bersalah akan masing-masing hal.

"Maafkan aku, andai saja aku menolongnya saat itu─"

"Hentikan. Kau berkata begitupun takkan ada yang berubah." Hiashi memotong ucapan Gaara dan mencengkram pundak Gaara dengan satu tangannya. "Kau tidak menolongnya saat itu. Kenapa kau tidak menolongnya saat ini?"

"..eh?"

"Benar juga." Ibu Hinata tersenyum tipis. "Bisakah kami meminta bantuanmu? Tolong, kembalikan lagi masa-masa anak itu. Setidaknya, sekali saja aku ingin lihat anak itu tersenyum. Aku ingin─ anak itu berbicara, seperti anak lainnya─"

"Apa maksud anda?"

"Sejak dia di-bully pada umur 5 tahun itu, kami memberhentikkannya sekolah. Sejak itu anak itu tak mau bicara, bahkan mendengar apapun yang kami katakan. Bahkan, tidak ada sekolah manapun yang mau menerima Hinata. Aku tidak mau anakku masuk ke Sekolah khusus, padahal dia tidak tuli maupun bisu. Aku hanya ingin anak itu menjalani hidupnya seperti gadis-gadis lainnya─"

Gaara yang melihat Ibu Hinata menahan tangisnya paham, bahwa kedua orang tua ini tidaklah seburuk yang Ia dengar. Mereka hanya sulit memperlakukan Hinata yang tidak juga mengatakan apa yang Ia inginkan.

"Aku mengerti. Aku juga ingin kembali merebut kebahagiaan Hinata yang hilang dulu."

.

.

.


Tok Tok

Gaara membuka pintu kamar Hinata perlahan dan menemukan Hinata sedang duduk di atas lantai sembari bersandar di pinggir kasurnya yang besar. Melihat siapa yang memasuki kamarnya, Hinata buru-buru merapihkan posisi duduknya dan menatap Gaara bingung.

"Orangtuamu sudah pergi. Mereka tidak sempat menemuimu karena terburu-buru." ujar Gaara bohong. Sesungguhnya, orangtua Hinata tidak kuat melihat Hinata karena mereka takut menangis jika melihat Hinata lagi. Karena itu keduanya menitipkan Hinata pada Gaara yang memang harus mengecek kondisi Hinata sebelum kembali.

'Kenapa kau ada disini?'

'Karena aku menggantikkan Kiba'

Hinata yang melihat jawaban Gaara tersenyum simpul membuat Gaara tak percaya. Baru kali ini Hinata tersenyum seperti itu. Mungkin inilah wajah yang ingin dilihat sang Ibu dari Hinata.

'Kenapa kau tertawa?'

'Karena aneh'

"Hah?" Gaara menatap Hinata bingung dan berjalan mendekati Hinata. "Apanya yang aneh?"

'Ini pertama kali ada orang yang mau melakukan bahasa isyarat denganku' Hinata tersipu malu dan kembali menggerakan tangannya 'Aku senang'

"Bukannya kau melakukannya dengan Kiba?" Gaara menatap Hinata bingung.

'Kiba-sensei melakukannya karena pekerjaan' Hinata menatap Gaara sedikit sedih. 'Jadi aku senang karena ini pertama kali ada orang yang bicara denganku selain dari pekerjaan'

Gaara menatap Hinata datar. Benar katanya, Gaara belajar bahasa isyarat ini bukan karena dia dokter atau apa, dia ingin bicara dengan Hinata dan mengerti secara baik apa yang dikatakannya.

'Kau lebih aneh' balas Gaara cepat membuat Hinata menggeleng tak setuju. "Baiklah, aku akan memeriksa kondisimu. Apa kau sudah makan hari ini?"

Hinata menggeleng pelan dan memperlihatkan bukunya ke arah Gaara.

"Kau menulis buku seharian?"

Hinata mengangguk senang. 'Aku suka menulis'

"Hm─" Gaara menatap buku tebal itu paham seraya menyiapkan peralatannya. "Kau menulis apa?"

'Kau mau lihat?'

"Tidak, aku sibuk." balas Gaara membuat Hinata menggembungkan kedua pipinya membuatnya tampak manis. "Baiklah, cek temperatur. Buka jaketmu."

'Kenapa?'

"Bagaimana bisa aku mengecek temperaturmu jika kau memakai jaket tebal begitu. Pasang ini, setelah bunyi berikan padaku." Gaara menyerahkan termometernya ke arah Hinata yang malu-malu menerimananya. Gaara sendiri hanya tak peduli dan tetap mempersiapkan lembaran untuk pencatatan medis Hinata.

'Sudah selesai' Hinata menyerahkan kembali termometer ke arah Gaara yang langsung mencatat hasil dari suhu tubuhnya ke atas papan.

"Buka mulutmu." ujar Gaara yang langsung diikuti oleh Hinata. "Tidak ada pembengkakkan, tapi kau sedikit demam. Karena itu kau pakai jaket tebal?"

'Aku baru tahu pagi ini'

"Jangan minum obat dulu jika panasmu tidak menaik. Jika semakin menaik, minum ini dan langsung tidur." Gaara menyerahkan sebuah bungkus obat dan kertas resep yang Ia tuliskan. "Lalu, dimana pelayan yang tadi kulihat?"

'Dia bukan pelayan disini, tapi pelayan rumah orangtua ku' Hinata menjawabnya dengan perlahan agar Gaara menangkap gerakan tangannya.

"Jadi, kau sendirian?" tanya Gaara dibalas anggukkan ringan dari Hinata. "Haah─"

'Kenapa?'

"Carilah pelayan. Kau tidak bisa mengandalkan dirimu sendiri jika sedang sakit, 'kan?" Gaara lalu berdiri setelah membereskan peralatannya dan kembali mengenakan jasnya. "Aku harus kembali ke RS, karena aku ada shift malam ini. Apa ada yang kau butuhkan?"

'Tidak' Hinata tersenyum tipis. 'Terimakasih'

"...Hm." Gaara diam. Ia tidak tahu harus berkata apalagi. Langkah kakinya sesungguhnya seakan terantai, Ia merasa berat meninggalkan ruangan itu menyadari jika Ia pergi Hinata akan sendirian di rumah ini. Sendirian, tanpa siapapun yang akan datang untuk menemuinya malam ini hingga bertemu pagi. Dengan berat Gaara lalu keluar dari kamar Hinata.

Hinata yang melihat Gaara keluar dari kamarnya mulai memudarkan senyumnya dan kembali melihat buku di atas kasurnya. Ia buka lembar demi lembar kertas yang sudah penuh dengan tulisan tangannya. Ia tatap satu demi satu kata yang Ia tuangkan di atasnya dengan wajahnya yang kosong seakan tidak berada di sana. Sunyi. Ruangan yang awalnya masih ada akan hawa kehidupan kini redup. Dirinya yang masih berada di atas lantai seakan keluar dari tubuhnya, mengelana kesana kemari, membuat pikirannya melayang-layang. Hinata sesungguhnya tidak suka ini. Ia ingin pulang. Pulang ke rumah orang tuanya yang entah apa mereka mau menerima Hinata tinggal disana setelah menyuruh Hinata tinggal sendiri dengan alasan agr Hinata mandiri. Hinata tahu sesungguhnya orangtua nya menyuruh Ia tinggal sendiri, memaksa Hinata untuk bicara meski hasilnya nol.

Hinata yang menghentikkan pergerakkannya menatap lembaran yang masih kosong, Ia tidak punya ide akan tulisan untuk yang berikutnya. Kepalanya kosong seakan jika diisi Ia akan memuntahkan segala hal. Hinata terkadang bingung, untuk apa dia hidup?

Tes

Tes

Dua tetes air mulai membasahi lembaran kosong tersebut. Menyadari hal tersebut, Hinata segera menghapus air matanya dan menggeleng cepat. Belum sempat Hinata bangun dari duduknya, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka kencang membuat Hinata kaget dengan apa yang Ia lihat sekarang. Baru ingin Hinata menggerakkan tangannya, tiba-tiba tangan kanannya ditarik kencang oleh lelaki berambut marun itu.

"Jangan tanya kenapa." Gaara yang baru kembali dengan nafas memburu karena berlari segera menarik Hinata keluar dari kamarnya. "Baru 3 meter aku menjalankan mobil, aku langsung khawatir. Mungkin saja kau sedang menangis."

Ucapan Gaara yang mengena di hati Hinata segera membuat gadis bermata lavender itu kaget bukan main. Ia masih terus mengikuti jalannya Gaara menuju keluar rumah. Tangan keduanya masih berpautan, tak ada keinginan untuk melepaskannya saat itu.

"Aku sudah menelepon orangtuamu meminta izin. Mulai hari ini, kau akan tinggal di apartemenku." ujar Gaara saat sampai di depan mobilnya.

"..!" Hinata menatap Gaara bingung, kaget, entahlah─ raut wajahnya tak bisa dibaca lagi.

"Aku tidak memaksamu." lanjut Gaara lagi. "Memang akupun jarang ada di rumah, tapi─"

"..?"

"Setidaknya kau berada dirumah dan memiliki alasan menungguku pulang, bukan?"

Hinata yang mendengarnya terdiam. Benar kata Gaara, Hinata yang sekarang tidak tahu alasannya untuk hidup. Dirumahpun Hinata bingung harus berbuat apa. Dan jika Ia berada di rumah Gaara, maka Hinata memiliki alasan untuk berada di rumah itu. Hinata punya alasan untuk hidup.

"Bagaimana?"

Hinata tersenyum tipis dan mengangkat tangannya.

'Aku mohon bantuanmu.'

.

.

.


TBC

hahaha finally aku update juga yaaaw hehe /dibuang

aah aku tahu alurnya ringan sekali tapi emang pembawaan untuk nulis gaahina itu menyenangkan heheu

Terimakasih banyak untuk kalian yang masih setia baca fic usang ini hiks;;; kedepannya aku akan lebih baik lagi

Kutunggu review kaliaaaaan!

.

.