"Melodies"

Disclaimer : Masashi Kishimoto

WARNING: OOC, Miss-typo, alur kecepetan, gj, etc


Halo semuanya. Terimakasih untuk masih mengikuti fic ini hehehehe /tebarmawar/

Dan fic ini sudah sampai ke chapter 3 hwhwhw

Oke, selamat membaca!


Chapter 3


.

.

.

Hinata yang baru saja memasuki apartemen Gaara segera menundukkan wajahnya malu-malu. Baru kali ini Ia memasuki kamar lelaki yang bahkan baru beberapa hari ini Ia kenal. Hinata memang masih ragu dengan keputusannya sekarang, tapi nasi sudah menjadi bubur, koper Hinata yang berisi pakaiannya tersebut sudah diangkat oleh Gaara dan memasuki kamar yang berada di sebelah ruang tamu.

"Hoi, jangan hanya duduk disana. Kemarilah," panggil Gaara menyadarkan lamunan Hinata yang buru-buru berlari kecil mengikuti Gaara memasuki sebuah kamar depan tepat di sebelah ruang depan.

'Apa boleh aku tinggal di kamar ini?' tanya Hinata menggerakan tangannya ragu-ragu.

'Boleh.' balas Gaara singkat membuat Hinata mengembangkan senyumnya. Setelah membantu Hinata mengangkat kedua kopernya, Gaara buru-buru keluar dari kamarnya dan melihat jam dinding tergesa-gesa.

'Ada apa?'

"Aku ada shift malam. Kau tidak apa kutinggal?" tanya Gaara tampak tak enak hati meninggalkan Hinata yang baru saja pertama kali adaptasi di ruangannya.

'Tidak apa.' Hinata menganggukkan kepalanya dan memberikan tas kerja Gaara yang tergeletak di atas sofa. 'Itterashai.'

Hinata lalu mengantar Gaara ke pintu depan dan menutupnya kembali saat Gaara akhirnya pergi beranjak dari rumahnya. Hinata tengok kanan-kiri. Ia begitu canggung untuk melakukan sesuatu. Mengingat ada kopernya yang masih tersusun manis di kamar tamu yang kini menjadi kediamannya, Hinata buru-buru bergegas merapihkan pakaiannya ke dalam lemari.

Hinata yang sudah terbiasa merapihkan barang-barangnya sendiri tampak tak kesulitan. Ia malah terlihat gesit dan apik saat menata barang miliknya. Sesaat setelah merapihkan barangnya, Hinata pandangi jendela kamar yang terlihat terang karena jendelanya berhadapan dengan jalan raya tersebut. Beruntung ruangannya kedap suara hingga tak bisa mendengar suara lalu lintas yang tampaknya masih ramai oleh para pengendara mobil.

Hinata perhatikan dirinya yang terpantul di depan kaca. Baru kali ini Hinata bicara dengan seseorang mengenai banyak hal. Ia malah belum bisa percaya bahwa kini Ia duduk di rumah seorang lelaki yang bahkan baru dikenalnya. Yang lebih Hinata tak bisa percaya bahwa orangtuanya setuju dengan hal ini. Entah apa yang Gaara katakan hingga membuat kedua orangtuanya bisa setuju anak gadisnya tinggal dengan lelaki.

Lelaki yang datang tiba-tiba ke dalam hidup Hinata. Sama seperti saat 20 tahun lalu. Memikirkannya saja sudah membuat Hinata tak bisa lagi menahan senyumnya.

.

.


"Gaara! Kau telat datang ke acara rapat tadi sore. Senior sudah bilang padamu untuk datang, 'kan?'' Kiba yang melihat Gaara baru saja datang segera menghampirinya setengah berlari.

"Aku ada urusan.'' jawab Gaara seadanya.

"O,ya.. Kau dapat hasil medis dari Hinata?'' tanya Kiba ingat akan mengapa Gaara keluar tadi siang.

"Ini,'' Gaara serahkan amplop cokelat ke arah Kiba dan melaju ke arah ruangan miliknya. Ia tidak sekalipun terlihat ingin bicara lagi, membuat Kiba langsung paham dan kembali menuju tempatnya.

Gaara yang akhirnya sampai di ruangannya buru-buru merenggangkan tubuhnya dan kembali duduk di bangku miliknya. Ia lihat catatan-catatan yang ditinggalkan dan beberapa rekam medis pasien-nya yang diberikan Matsuri.

''Sensei, pasien anda meminta untuk bertemu siang besok. Apakah ada jadwal lain?'' seorang suster yang memasuki ruangan Gaara menyerahkan note kecil dan menunggu akan jawaban Gaara yang terlihat malas.

"Ya, atur saja jadwalnya.''

"Baiklah, lalu─'' gadis itu kembali menatap Gaara serius. "B-bisakah aku meminta waktumu sebentar?''

Wajah sang suster yang memerah menatap Gaara penuh harap. Entah sudah keberapa kalinya Gaara mengalami hal ini.

"Tidak, aku sibuk.'' balas Gaara cepat sembari membuka lembar demi lembar dokumen di depannya. "Bisakah kau pergi sekarang? Aku butuh konsentrasi.''

Suster muda itu segera menatap Gaara sedih. Ia paham maksud Gaara ─penolakan─. Dengan terburu-buru suster itu segera keluar tanpa menutup kembali pintunya. Gaara yang melihat pemandangan tersebut langsung menghela nafasnya dan kembali berkutat dengan kertas di tangannya.

"Kejam sekali, Gaara-senseii─'' suara wanita yang terdengar memasuki ruangannya segera muncul dengan pemilik suaranya. Matsuri, asisten Gaara yang baru saja mendengar kejadian tadi tertawa kecil. "Anda benar-benar tega. Dia juga pasti menahan diri dan berusaha sekuat tenaga untuk berkata begitu.''

"Matsuri, pasien ini akan keluar minggu depan. Bisa kau hubungi keluarganya besok?'' balas Gaara tak menggubris perkataan Matsuri sedikitpun.

"Baik, baik.'' Matsuri mau tak mau mengambil berkas dari tangan Gaara dan menatapnya lagi. "Sensei, apa kau punya pacar?''

"...Matsuri, ada saus menempel di wajahmu.''

"Eh?! Mana? Aah, pasti karena tadi aku makan takoyaki!'' seru Matsuri panik dan buru-buru mencari kaca, menghapus saus di pipinya tersebut. "Hoi, Sensei! Harusnya kau bilang dari tadi!''

"Hmm─'' lagi-lagi Gaara terlihat tak peduli membuat Matsuri hanya bisa pasrah melihatnya.

''Benar-benar,'' Matsuri tersenyum kecil dan kembali menjalankan tugasnya. "O,ya Sensei. Ayah anda tadi datang dan bilang jika anda tak datang rapat besok Ia akan datang ke apartemen anda.''

"Hah? Apa katamu?''

"Begitulah,'' Matsuri terkekeh geli dan segera keluar dari ruangan Gaara.

"Lelaki tua itu─''

.

.


Hinata yang baru saja menyiapkan sarapan untuk Gaara hanya bisa terpaku melihat Gaara sedang tergesa-gesa meski jam masih menunjukkan pukul 5 pagi.

'Ada apa?' tanya Hinata saat mata Gaara kebetulan melihatnya.

"Ah, bukan apa-apa. Ada rapat pagi nanti dan aku sudah harus menyiapkan berkasnya. Benar-benar, lelaki tua itu sengaja memberitahuku mendadak begini.''

Gaara yang kini memasang dasinya tampak terburu-buru dengan wajah masam. Rapat ini adalah rapat dimana seluruh Dokter spesialis dan kepala-kepala dokter berkumpul membicarakan berbagai hal dan setiap dokter diminta menjelaskan perkembangan akan jalannya dari bagian mereka. Tak terkecuali untuk Gaara. Berkat itulah dia sepanjang malam begadang hingga suntuk untuk mengerjakan presentasinya nanti.

"Hinata, apa kau akan pergi hari ini?'' tanya Gaara sembari mengambil roti sandwich dan meneguk segelas kopi di tangannya. Memang sudah dari pagi tadi Hinata menyiapkan sarapan sebagai balasan karena sudah diperbolehkan tinggal di rumah Gaara.

'Tidak, aku tidak pergi kemanapun' jawab Hinaya sendu. Ia memang tidak bekerja dan tidak pula melanjutkan studinya karena Ia sudah melakukan home-schooling. Beda dari yg orang pikir, otak Hinata sangat encer membuatnya dengan mudah untuk bekerja dimanapun. Sayang niat dalam dari hati Hinata belum muncul.

"Baiklah, aku terburu-buru. Malam nanti aku baru pulang. Kunci bisa kau bawa jika kau mau keluar." Gaara yang segera mengenakan sepatu hitamnya segera mengambil jas putihnya yang tergantung dan dengan secepat kilat menuju ke arah pintu keluar. Sebelum keluar dari ruangannya Ia lihat Hinata yang masih berdiri di samping meja makan diam. "Hinata, nomor teleponku ada di memo di samping meja telepon. Telepon aku jika ada sesuatu. Ittekimasu."

Hinata tengokkan kepalanya ke arah pintu yang sudah mulai menutup. Ia menunduk dalam sembari menatap meja telepon di sudut ruang tamu dan menghela nafasnya panjang.

'Kau tahu aku tak bisa menggunakan telepon.' bisik Hinata dalam hati.

.

.

.

Hinata yang baru saja merapihkan meja makan melihat jam dinding dan tersenyum lega. Sudah satu jam berlalu. Benar apa yang dikatakan Gaara, jika Hinata tinggal di rumahnya maka Hinata memiliki hal-hal yang bisa Ia kerjakan. Tidak seperti dulu, 5 menitpun terasa lama bagi Hinata saat itu. Selagi membereskan piring di meja, tiba-tiba mata Hinata menangkap sebuah plastik biru tergeletak di sebelah gelas yang Hinata yakin Ia pernah melihatnya sebelumnya. Dengan cepat Hinata ambil plastik kecil tersebut dan langsung membulatkan matanya melihat apa yang tertulis di plastik biru tersebut.

'I-ini.. obat rutin milik Gaara-san' Hinata dengan segera berjalan menuju kearah meja telepon da menekan tombol di atasnya. Berusaha tersambung dengan nomor yang ada di memo tersebut. 'Gaara-san baru berangkat satu jam lalu. Mungkin dia sudah sampai RS sekarang.''

"Halo?'' sesaat setelah Hinata bicara dalam hati, suara Gara dari balik telepon mulai terdengar. Dengan segera Hinata tersenyum lebar mendengar suaranya.

"..!'' Hinata yang baru saja mau mengeluarkan suaranya, Ia langsung membisu diam. Dirinya tiba-tiba terpaku diam, bukan karena Gaara, melainkan Ia kaget akan dirinya sendiri. Lidahnya yang berusaha Ia gerakan tak kunjung mengikuti kemauannya. Suara Hinata yang tak keluar membuat Hinata menatap dirinya yang terpantul dari kaca seakan tak percaya. 'Kenapa?'

"Halo?'' lagi-lagi Gaara mengeluarkan suaranya. "Hinata, ini kau 'kan? Ada apa?''

"...'' Hinata masih diam. Tanpa sadar Hinata jatuhkan gagang telepon ke atas lantai. Badannya terasa kaku seakan dunianya terhenti sesaat. Lagi-lagi gemelut perasaan ini menyelimuti Hibata. Takut, takut. Begitulah yang Hinata ucapkan dalam kepalanya. 'Kenapa.. kenapa tidak mau keluar? Suaraku.. lidahku..'

Hinata jatuhkan dirinya ke atas lantai. Bisa Ia dengar dari gagang telepon yang tergeletak manis dimana suara Gaara yang berteriak dari balik telepon. Tak menghiraukan panggilan Gaara, Hinata memeluk kedua lututnya dalam dan menundukkan kepalanya. Tangisan yang tak bersuara kini mulai menemani Hinata saat ini.

.

.

"Gaara-san? Ada apa kau teriak-teriak begitu?'' Kiba yang baru saja datang menemui Gaara didepannya menatap lelaki bermata emerald bingung.

"Ada yang aneh..''

"Apanya?'' tanya Kiba bingung.

"Hoi, kau dokter penanggung jawabnya, 'kan?'' Gaara memandang Kiba serius.

"Eh? Siapa?'' Kiba tampak berpikir dan segera ternyum lebar. "Ah! Maksudmu Hinata?''

"Apa kau memeriksanya dengan sungguh-sungguh? Apa dia benar-benar tak mau bicara atau benar benar tidak bisa bicara?''

"Eh? Yah─ Orangtuanya hanya mengatakan untuk periksa dirinya seperti umumnya. Aku sudah memeriksa pita suaranya, tak ada yang rusak dan─''

"Bukan itu..'' gumam Gaara dengan nada beratnya. "Apa kau sudah dengan sungguh-sungguh menyuruhnya bicara?! Apa kau sudah periksa?!''

"Eh, itu─'' mendengar jawaban Kiba, Gaara hanya bisa menghela nafasnya panjang. Sudah pasti Kiba tidak akan melakukan diluar proses pemeriksaan yang ditunjukkan. Gaara lalu melihat jam tangan di pergelangannya dan segera berjalan menuju ruang rapat membuat Kiba ikut mengikutinya. "Eh! Tu-tunggu, Gaara-sensei. Tidak perlu terburu-buru begitu."

"Aku banyak urusan." balas Gaara singkat sembari memasuki ruang rapat yang sudah penuh akan para dokter yang saling bercengkrama satu sama lainnya. Gaara lihat sang Ayah sudah menduduki bangku di podium. Dengan berat hati Gaara duduk di bangku tengah dan menyiapkan dokumen di tangannya. Entah apa yang Gaara lakukan, Ia terlihat terburu-buru. Apapun itu, ada satu hal yang selalu memenuhi kepala Gaara.

'Aku harus segera pulang.'

.

.


Gaara yang baru kembali ke apartemennya melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 7 malam. Meski ini adalah jam tercepat Gaara bisa pulang selama ini, dia sangat kesal karena tidak bisa pulang lebih awal lagi karena sang Ayah tak mau melepas Gaara keluar dari ruang rapat. Setelah membuka pintu apartemennya, Gaara dikagetkan dengan sosok Hinata yang sedang menyiapkan makan malam. Wajahnya terlihat santai seperti kejadian tadi pagi tak berlaku untuknya.

"Hinata, apa yang kau lakukan?" Gaara melepas sepatunya dan berjalan menuju ruang makan, membantu Hinata menyiapkan piring yang berada di lemari.

"..." Hinata hanya tersenyum pahit. Kedua tangannya sedang memegang piring, membuatnya tak bisa menggerakannya untuk bicara dengan Gaara. Mengerti dengan keadaan di depannya, buru-buru Gaara mengambil piring di kedua tangan Hinata dan menatapnya tajam.

"Tadi pagi, kenapa meneleponku?"

Hinata terlihat ciut mendengar pertanyaan Gaara. Ia menolehkan wajahnya ke samping, ragu untuk melihat wajah Gaara yang terlihat serius.

"Hinata─"

'Aku tidak sengaja' jawab Hinata cepat.

"Kau bohong, 'kan? Katakan padaku, kenapa meneleponku?" Gaara taruh kedua piring putih itu di atas meja dan kembali menatap Hinata yang seperti ketakutan.

'Obat. Kau meninggalkannya di meja.'

"Hah?" Gaara memiringkan kepalanya bingung. Ia belum mempelajari gerakan tangan Hinata itu. "Maaf─ aku meninggalkan apa?"

Hinata yang melihat Gaara tak mengerti perkataannya kaget dan segera menunduk dalam. Ia buka mulutnya dan menggerakannya seakan berbicara. Gaara yang melihatnya hanya diam. Ia kini tahu alasan mengapa telepon tadi pagi terputus.

"Jadi begitu, suaramu tidak keluar?"

Dengan kalimat Gaara itu, Hinata segera mengangguk cepat. Ia lalu mengangkat tangannya untuk kembali berbicara tapi Ia urungkan niatnya membuat Gaara menariknya ke arah ruang tamu dan duduk di atas sofa. Hinata yang duduk di samping Gaara menatap lelaki itu bingung. Gaara sendiri kini sibuk mengambil tasnya dan mengeluarkan buku-buku di dalam tasnya. Hinata lihat buku-buku tersebut dan menatapnya kaget. Buku-buku untuk mempelajari bahasa isyarat itu kini membuat Hinata segera menatap Gaara tak percaya. Ia tak tahu bahwa Gaara mempelajarinya dengan sungguh-sungguh.

"Jangan ragu. Bicaralah sesuka hatimu, jika aku tak mengerti aku akan mempelajarinya. Aku tahu bahasa isyarat yang kupelajari masih kurang. Jika aku belum mengerti juga, kau bisa menuliskannya. Kau tidak perlu takut untuk berbicara. Aku akan mendengarnya, bahasa isyaratmu."

"..." Hinata menahan air matanya. Ia tahu perasaan Gaara tulus dari nada suaranya. Hinata memang ragu menggunakan bahasa isyarat pada Gaara. Terkadang Ia malah malu untuk menggunakannya, tapi perkataan Gaara barusan membuatnya semakin percaya diri. "..ka..al..a.."

"─!? Hinata, kau─" Gaara menatap Hinata tak percaya. Hinata menggerakan bibirnya meski suara yang Hinata keluarkan hampir tak terdengar dan tak jelas. Tapi Gaara tahu, Hinata memanggil namanya. "Jadi seperti ini suaramu.."

"..." Hinata tersenyum manis dan kembali menggerakan tangannya. 'Aku akan berusaha untuk berbicara, kumohon bantuannya.'

"Ah, tentu saja." Gaara menganggukkan kepalanya. "Kau sudah terlalu lama tak bicara hingga otot-ototmu hampir hilang fungsinya dan menjadi kesulitan untuk kembali merangsangnya. Aku yakin semakin kau sering berbicara, semakin cepat kau bisa."

Hinata yang paham dengan perkataan Gaara kembali tersenyum. Ia bersyukur bisa bertemu Gaara. Hinata tahu, sejak pertemuannya dengan Gaara saat itu Ia berubah banyak. Hinata yakin semakin hari hidupnya akan berubah sejalannya waktu yang Ia lalui. Hinata memandang Gaara yang sedang membereskan bukunya kembali. Ia pegang erat dadanya, seakan menyimpan sesuatu. Hinata masih ragu, tapi dadanya bergemuruh. Ingin rasanya meluapkan kata-kata itu. Hinata ingin menceritakannya pada Gaara. Tapi Ia takut, jika Ia menceritakannya maka keadaan ini akan hilang. Cerita dimana Hinata yang masih berumur 5 tahun.

Saat dimana Ia memutuskan untuk tidak akan pernah bicara.

.

.

.


Pagi-pagi buta, Hinata bangun dari tidurnya. Ia lihat jendela masih gelap. Biasanya jam segini Gaara sudah berisik dan bersiap-siap di ruang tamu, tapi entah mengapa tak ada suara apapun diluar hingga membuat Hinata penasaran. Ia buka pintunya dan bukan main kagetnya melihat Gaara ternyata sedang tertidur di atas sofa dengan televisi yang masih menyala di depannya. Buku-buku sudah berhamburan di sofa dan di bawah lantai.

'Gaara-san tertidur disini?' pikir Hinata dalam hati. Ia lihat jam dinding masih pukul jam 5 pagi. Meski ini hari Jumat, Gaara tidak bangun pagi seperti biasanya. 'Apa dia tidak tahu? Apa aku harus membangunkannya? Tapi─'

"...Hinata? Apa yang kau lakukan?" Gaara yang tiba-tiba terbangun mengusap matanya dan kembali melihat Hinata yang sedang membatu kaget berdiri di depan sofa. "Ah, masih jam segini?"

'Kau tidak kerja?'

"Ng? Tidak, aku dapat libur dua hari." Gaara kembali menyenderkan kepalanya ke atas sofa. "Apa kau akan pergi hari ini?"

'Aku harus menemui Kiba-sensei hari ini.'

"Tidak perlu. Kemarin aku mengajukkan berkasmu atas ijin orangtuamu. Dokter penanggung jawabmu kini di alihkan kepadaku."

Hinata menatap Gaara kaget. Setahu Hinata bidang Gaara adalah penyakit dalam, dan Hinata yakin ini tak ada hubungan dengan dirinya.

"Kenapa wajahmu seakan tak percaya begitu? Begini-begini aku awalnya dokter umum meski spesialisku penyakit dalam." Gaara menghela nafasnya dan segera bangun. "Aku hari ini mau keluar. Kau mau ikut?"

'Baik!' Hinata menganggukkan kepalanya bersemangat. Ini pertama kali bagi Hinata untuk berjalan bersama seseorang selain Ibunya. Saat dulu Hinata tak punya kesempatan untuk berjalan dengan temannya, bahkan bisa dibilang hal itu adalah hal yang mustahil. Hinata tak mempunyai teman untuk diajak berpergian sejak dulu. Teman sekolahnya tak ada, teman di daerah rumahnya pun nihil. Karena itulah Hinata merasa tidak sabar untuk pertama kalinya jalan bersama seseorang yang Hinata masih bingung menyebutnya... Teman? Wali? Dokter penanggung jawabnya? Hinata tak peduli, dia tak butuh sebuah status bersama Gaara karena keduanya terlalu sibuk untuk berpikir nama bagi status mereka berdua. Toh, tampaknya Gaara juga tak peduli orang mau bilang mereka berdua apa.

Setidaknya untuk saat ini.

.

.


"Hinata, kau sudah siap?'' Gaara yang baru keluar dari kamarnya mengenakan kemeja merah tua dan celana denim. Ia terlihat santai, tidak seperti biasanya yang mengenakan pakaian formal dibalut dengan jas puthnya yang kini tergantung di penyangga yang tertempel di tembok.

'Kita mau kemana?' Hinata yang mengenakan baju terusan berwarna pink pastel datang menghampiri Gaara yang sedang mengenakan sepatunya.

"Hmm─Toko buku.'' Gaara segera berdiri setelah memasang sepatunya dan mengambil ponselnya yang langsung ditaruh di saku celananya. "Apa kau tidak apa jika tidak mengenakan mobil?''

'Aku senang!' Hinata mengangguk cepat. Dibanding menaiki mobil, Hinata ingin sekali-sekali mencoba jalan-jalan dengan berjalan dan menaiki kendaraan umum. Setiap ke RS pun Hinata selalu diantar oleh supirnya atau dengan taksi, jadi Hinata benar-benar tak keberatan dengan hal ini.

"Baiklah, ayo.''

Gaara dan Hinata lalu keluar apartemennya. Jam masih menunjukkan pukul 8 pagi. Memang terlalu pagi bagi mereka untuk berjalan keluar, orang-orang yang berlalu lalang kebanyakan orang yang pergi bekerja dan beberapa anak muda yang tampaknya akan menuju ke sekolahnya untuk kegiatan ekstra di sekolah. Entah apa, cuaca yang segar dan pemandangan yang menarik membuat Hinata semakin bersemangat.

"Hinata, apa kau tahu dimana toko buku disini?'' ujar Gaara tiba-tiba.

'Kau tidak tahu?' jawab Hinata lebih bingung. Ia lihat raut wajah Gaara, tampaknya Gaara juga benar-benar tidak tahu lokasinya.

''Yah, aku juga jarang melihat-lihat di daerah sini selain daerah RS." Gaara membuka ponselnya dan tampak mencari lokasi toko buku di sekitar mereka.

"..A..ra.." panggil Hinata pelan. Hinata awalnya ragu mengeluarkan suaranya yang menurutnya aneh, Ia takut suara pelannya tak terdengar di telinga Gaara karena kebisingan di kota.

"Hm?" Gaara menoleh ke arah Hinata di sampingnya datar.

"..." Hinata menatap Gaara tak percaya. Ia tak menyangka Gaara akan benar-benar menyahuti panggilannya meski kondisi jalanan ramai akan suara-suara dari kendaraan sekitar.

"Ada apa?"

Hinata menggeleng cepat seraya menyembunyikan senyumannya. Ia benar-benar senang akan hal ini. Hati Hinata seakan bisa meledak akan kesenangan yang baru kali ini Ia rasakan, Ia serasa ingin mencengkram dadanya tetapi Ia urungkan agar tak terlihat aneh di sebelah Gaara yang masih berjalan santai.

"Toko bukunya cukup jauh. Butuh 20 menit jalan dari sini. Bagaimana? Mau naik mobil saja?" tanya Gaara setelah mencari lokasi toko buku melalui ponselnya tersebut.

'Tidak apa! Aku mau jalan!' Hinata gerakkan tangannya bersemangat membuat Gaara tersentak. Ia sedikit malu menyadari betapa berapi-apinya dia menjawab pertanyaan Gaara.

"Baiklah kalau maumu begitu─"

Gaara dan Hinata lalu kembali berjalan berdampingan. Lalu lalang para penduduk tak membuat Hinata resah sedikitpun, biasanya dia ingin cepat-cepat pulang saat berada di luar. Tapi kali ini rasanya Hinata ingin waktu berjalan lebih lambat dibanding sebelumnya. Hinata menyukai suasana ini.

'Gaara-kun mau membeli buku apa?' tanya Hinata sembari berjalan.

'Buku mengenai penyakit dalam. Aku kurang sumber untuk penelitianku.' jawab Gaara dengan tangannya yang Ia gerakan santai. Bisa dilihat bahasa isyarat Gaara semakin terlatih karena Gaara menggerakkan tangannya lebih cepat dari sebelumnya.

'Karena itu kau sampai ketiduran di sofa?'

'Tidak juga. Mungkin karena aku kelelahan.'

Hinata tertawa kecil tanpa suara dan segera menatap Gaara malu-malu. 'Kalau begitu, aku akan memasak makanan yang kau sukai malam ini.'

"..." Gaara menatap Hinata yang segera mengalihkan pandangannya dan tersenyum tipis. 'Aku akan menantikannya.'

Melihat jawaban Gaara, Hinata segera tersenyum senang. Ia rasanya ingin buru-buru mengecek resep masakan setelah sampai di rumah nanti. Sembari melewati penyebrangan, Hinata dan Gaara saling berbicara dengan bahasa isyaratnya membuat Hinata tak merasa canggung sedikitpun.

"Hei, hei. Kau lihat? Mereka menggunakan bahasa isyarat!" seru seorang gadis berseragam sekolah yang baru saja melewati Gaara dan Hinata di lintas penyebrangan.

"Benar! Apa mereka berpacaran? Kasihan sekali!" balas temannya yang tertawa kecil sembari berbisik-bisik. Tapi sayang, tampaknya bisikkan mereka terlalu kencang hingga sampai di telinga Hinata yang langsung menoleh ke arah mereka.

Hinata menautkan kedua alisnya sedih. Dengan segera dada Hinata berdetak kencang. Ia tiba-tiba ingat akan seluruh suara-suara yang menghina dirinya selama ini. Suara-suara para orang yang menatapnya hina dan merasa aneh padanya. Suara yang selalu Ia dengar selama 20 tahun lalu mulai masuk kembali di ingatannya. Keringat dingin mulai membasahi pelipis Hinata yang kini mengucur hingga ke pipinya diikuti matanya yang segera Ia tutup erat. . Dengan cepat kedua tangan Hinata mencengkram kedua telinga miliknya erat. Menutupnya erat-erat agar tak ada lagi suara yang memasuki pendengarannya.

'Memang sebaiknya aku tidak bisa mendengar apapun─'

"Hinata!" suara Gaara yang berseru kencang langsung membangunkan Hinata dari pikirannya. Gaara lalu melepas kedua tangan Hinata yang menutup kedua telinganya cepat dan menariknya melewati penyeberangan sebelum lampu merah menyala. Dengan terburu-buru Gaara membawa paksa Hinata ke pinggir jalan dan menatapnya tajam. "Buka matamu, apa yang kau pikirkan?"

"..." Hinata perlahan membuka matanya dan menatap Gaara kaget.

"Kau bisa mendengarku?" tanya Gaara serius.

Hinata dengan perlahan mengangguk pelan. Melihat jawaban Hinata, Gaara menghela nafasnya lega. Gaara benar-benar tidak menginginkan Hinata untuk 'menutup' telinganya. Gaara tidak ingin Hinata kembali menujukkan bahwa dirinya tidak bisa mendengar, lagi. Tidak untuk kedua kalinya.

"Baiklah, sebaiknya kita mengisi perut dulu. Kau pasti lapar, 'kan?" ujar Gaara ingin mengalihkan topik. Ia tidak mau Hinata berpikir macam-macam untuk saat ini. Gaara sesungguhnya mendengar ucapan kedua gadis berseragam tadi. Tapi Gaara tahu, jika Gaara bertindak maka hal itu sama saja menunjukkan bahwa Gaara setuju dengan ucapan kedua gadis itu dan Hinata akan lebih sedih nantinya.

'Gaara-kun, apa aku boleh mencoba kafe itu?' Hinata menunjukkan telunjuknya ke arah kafe kecil yang berada di salah satu jejeran toko di pinggir jalan. Sebuah kafe manis dengan model yang disukai para wanita umumnya. Sepertinya Hinata sedikit tertarik untuk melihat apa isi di dalam keafe tersebut.

"Kafe itu? Baiklah" Gaara lalu kembali berjalan diikuti Hinata yang kembali menselaraskan dirinya berada di samping Gaara. Mood Hinata yang terlihat membaik membuat Gaara bisa bernafas lega kembali. Dia benar-benar cepat membuat lelaki berambut marun ini jantungan jika terjadi satu hal kecil saja.

Baru Gaara dan Hinata mau membuka pintu kafe tersebut, tiba-tiba pintu kaca itu terbuka diikuti bunci krincingan yang terpasang di pintu. Saat pintu tersebut dibuka, keluar sosok lelaki berambut pirang dengan senyum lebarnya yang tampak sudah tertanam di wajahnya. Mata birunya kini bertemu dengan mata emerald milik Gaara. Hanya dengan sepersekian detik, wajah laki-laki itu langsung berubah kaget seketika. Tubuhnya yang terbentur dengan gagang pintu membuat Gaara dan Hinata hanya bisa menatapnya bingung.

"Ga-GAARA?! KAU GAARA, 'KAN?!" teriak lelaki berambut jabrik itu kencang. Ia langsung mendekati Gaara dan menatapnya lekat-lekat dengan senyuman lebar di wajahnya. "YA TUHAN, INI BENAR KAU! KAU TIDAK INGAT AKU?"

"...Tidak, menjauh dari wajahku." ujar Gaara datar sembari mendorong wajah lelaki pirang tersebut.

"Jadi benar kau Gaara?!" ujarnya tampak senang.

"Lalu?"

"Kau tidak ingat aku? Aku Uzumaki Naruto! Kita satu TK dulu!" seru Naruto bersemangat sembari menaruh kedua tangan di pinggangnya.

Baik itu Gaara maupun Hinata langsung menatapnya kaget. Ia benar-benar tidak menyangka takdir bisa menyatukan mereka bertiga. Seseorang dari masa lalu kelam keduanya kini hadir di depan mereka berdua. Bukan hanya Gaara, Hinata ikut mengingat kejadian 20 tahun lalu dimana saat-saat kelam bagi keduanya dimulai.

"Tunggu..Kau..." Naruto mengangkat salah satu alisnya dan menatap Hinata kaget. "Hinata?!"

.

.

.


TBC

Akhirnya aku selesaikan juga chapter ini hehe

Semoga chapter ini seru dan semoga kedepannya juga makin seru ya hehe

Hinata-hime sudah mulai belajar bicara. Semoga dia bisa ceritain Gaara alasan kenapa dia ga ngomong ya /oi

Terimakasih banyak sudah mau membaca fic ini sampai sini. HUHUHU

Makasih yang udah review /Gelindingan/ T_T

Aku usahakan chapter depan lebih cepat lagi updatenya!

Sampai ketemu chap depan!

Ditunggu review kalian semua hehehew /

Bye bye~