"Melodies"
Disclaimer : Masashi Kishimoto
WARNING: OOC(maybe haha), Miss-typo, alur kecepetan, gj, etc
Halo semuanya~ Terimakasih untuk masih mengikuti fic ini hihi /tebarbunga/
Walaupun sudah chapter 4 tetapi tampaknya perjalanan kita masih jauh /plak
Semoga kalian tetap bertahan membaca fic ini sampai akhir ya hehe
Oke, selamat membaca!
Chapter 4
.
.
''Kau─ Hinata, 'kan?'' ujar Naruto.
"Mau apa kau?'' Gaara segera berdiri di hadapan Hinata tanpa menunggu Naruto berucap kembali. Ia menutupi Hinata dari pandangan Naruto yang semakin lekat menuju ke arahnya.
"Hei, santai saja! Tapi, itu benar-benar Hinata 'kan?'' Naruto tersenyum penuh makna. "Si domba kecil.''
Hanya dengan kalimat Naruto yang satu itu, tubuh Hinata langsung bergidik. Merinding akan kalimat yang diberikan Naruto di depannya. Tiba-tiba saja beberapa gambaran yang dulu hampir terlupakan mulai muncul kembali di kepalanya.
"Jadi, kau salah satu orang mengacaukan hidup gadis ini.'' Gaara menyeringai tipis dan langsung menarik kerah baju Naruto cepat. "Apa yang kau lakukan dulu padanya?''
Hinata segera terkejut melihat pemandangan di depan matanya. Para orang yang sedang melewati jalanan tersebut langsung melihat ke arah mereka bertiga, pelayan kafe yang ikut keluar juga hanya bisa ketakutan untuk melerai keduanya.
"A..a..'' Hinata menarik lengan baju kanan Gaara sementara lengan kiri Gaara masih mencengkram kerah kemeja Naruto. Ia benar-benar ketakutan melihat apa yang Gaara lakukan di depannya kali ini.
"Hoi, hoi─ Gadismu sudah memintamu berhenti. Tidakkah kau turuti saja?'' Naruto tertawa pahit sesaat sebelum Gaara akhirnya menghempas dirinya yang langsung terjatuh ke jalanan.
"Pergi kau dari sini.'' titah Gaara seraya menatap Naruto mematikan. Mata Gaara memicing ke arahnya, tak ada niatan untuk melepaskan tatapannya dari mata Naruto sedikitpun.
BRAKK!
Suara tabrakan yang nyaring terdengar hingga ke telinga Gaara. Meski penasaran, Ia tak memiliki niat untuk membalikkan badannya sekalipun meski tampaknya suara riuh para pejalan kaki mulai terdengar berteriak. Gaara lebih memilih menatap baik-baik Naruto yang masih tersenyum-senyum berusaha untuk berdiri.
"U-uh..'' Hinata menggenggam lengan Gaara dan di gerakkannya lengan Gaara pelan membuat Gaara menoleh ke arahnya. "A-a..i..yu..''
"Ada apa?'' Gaara tolehkan kepalanya ke belakangnya dan sedikit terkejut melihat seorang lelaki sedang berada di atas aspal tergeletak manis dengan bersimbah darah di kepala serta kakinya. Pasti itu sumber dari suara kencang barusan.
"Dokter! Apa ada dokter disini?!'' seru seorang wanita yang tampaknya kekasih dari lelaki tersebut, Ia berteriak kencang sambil menangis deras.
"Kesempatan!'' celoteh Naruto terdengar mengejek saat melihat Gaara lengah dan berlari kencang meninggalkan Gaara serta Hinata yang hanya bisa bersumpah dalam hatinya.
'Gaara-san! Kumohon tolong dia.' Hinata gerakan tangannya cepat ke arah Gaara yang lansung kembali melihat kerumunan tersebut. Sesungguhnya kalau boleh jujur, Gaara paling malas berurusan dengan korban kecelakaan seperti yang satu ini. Dia akan dipenuhi dengan pertanyaan dan mewajibkan memberi informasi lengkap tentang korban pada pihak Rumah Sakit nantinya. Tapi, dari awal Gaara lulus menjadi Dokter Ia sudah mengucapkan ikrar yang wajib dibacakan tiap lulusan dan Gaara selalu ingat ikrar tersebut. Sejahat-jahatnya Gaara, Ia tidak mau ada korban atau pasien yang mati selagi dia bisa melakukan sesuatu.
"Kau coba panggil ambu─ '' Gaara hentikan ucapannya saat menyadari ucapannya. Ia lihat raut wajah Hinata juga ikut kaget mendengarnya. "Ma-maaf, aku akan minta orang memanggil ambulans, bisakah kau bantu aku?''
"...uh'' Hinata mengangguk lemas. Ia lalu mengikuti Gaara yang berlari cepat ke arah kerumunan dan menemukan sosok lelaki itu sudah pingsan di pangkuan kekasihnya.
"Aku Dokter, akan lebih baik jika kau tidak memegang kepalanya seperti itu.'' Gaara berjongkok di samping korban sembari menunjukkan name tag yang selalu Ia bawa di sakunya.
"Kumohon, dia tertabrak mobil yang langsung kabur!'' teriak sang gadis yang masih menangis kencang.
"Kau sudah telepon ambulans?''
"A-aku akan telepon sekarang!'' seru gadis itu panik dan langsung berusaha mengeluarkan ponsel dari tasnya terburu-buru.
Gaara lalu mengecek detak jantung sang pasien dan bernafas lega bahwa denyut nadi nya masih berada dalam kadar normal. Gaara lalu melihat ke arah kepala pasien yang berlumuran darah dan melihat sang gadis tajam. "Apa kau punya saputangan, kain atau apapun?''
"T-tidak, aku hanya membawa ponsel dan dompet ini,'' ujar gadis berambut pirang tersebut.
"Hmm─ Siapapun! Apa ada yang punya?!'' seru Gaara menatap kerumunan yang langsung mengalihkan pandangan mereka. Mereka tampak tak mau ikut campur dalam peristiwa ini, bahkan ada beberapa orang yang pura-pura tak mendengar dan kabur mendenhar ucapan Gaara. "Sial..''
Hinata yang berdiri di depan Gaara hanya bisa termenung dalam. Ia lihat di dalam tasnya juga tak ada saputangan atau kain. Dengan cepat Hinata menunduk dalam. Lagi-lagi ia tak bisa membantu Gaara. Saat menunduk, Hinata lihat baju terusannya yang panjang hingga selutut, mendapat ide cemerlang Hinata dengan segera menarik kain ujungnya dan merobeknya horizontal, sekeliling baju itu langsung terobek indah membuat Gaara ikut terkejut melihat kelakuan Hinata yang tiba-tiba. Kain panjang yang Hinata robek segera Ia beri ke arah Gaara sambil tersenyum.
'Gunakan ini.'
"Hinata─ '' Gaara yang terkejut langsung kembali fokus dan menggigit kain panjang tersebut untuk membaginya menjadi dua. Setelah mengikatkan kain di kepala serta kaki sang korban untuk menghentikan pendarahannya, Gaara segera membantu para perawat yang baru saja datang dengan ambulans untuk menaikkan sang korban ke mobil putih itu. Entah berapa lama Gaara ditanya-tanya oleh sang petugas hingga muak, Gaara ingin segera kembali. Ia ingin secepatnya kembali ke Hinata yang sedang menunggu di jalanan.
"Hinata! Maaf lama menunggu,''seru Gaara yang berlari pelan ke arah Hinata yang kini terlihat compang-camping karena mengenakan baju terusan robek hingga diatas pahanya tersebut.
'Apa korban tadi baik-baik saja?'
"..Yah. Bicara hal lain, terimakasih sudah membantuku.''
'Aku membantumu?'
"Tentu saja, bisa fatal jika pendarahannya tak dihentikkan tadi.''
Mendengar jawaban Gaara, Hinata langsug tersenyum senang dan mengeratkan tangannya gembira.
"Bajumu sampai begini.'' Gaara sedikit menghela nafasnya dan membuka kemejanya. Tubuhnya yang hanya mengenakan kaos pendek hitam itu segera melingkarkan kemeja yang Ia kenakan tadi di pinggang Hinata, menutupi kaki belakang Hinata yang terekspos manis. "Gunakan tasmu untuk menutupi kaki depannya.''
"U-uhm..'' Hinata mengangguk malu-malu.
"Kita pulang saja, rencana kita jadi kacau.''
'Tidak apa. Tadi benar-benar menyenangkan.'
"O,ya? Baguslah kalau begitu.''
.
.
.
Gaara bolak-balikkan album tk nya disaat Hinata sudah terlelap. Matanya langsung tertuju ke arah lelaki kecil yang tersenyum lebar di belakang diri Gaara. Ia tahu pasti laki-laki itu adalah Naruto yang Ia temui barusan. Ia lihat nomor kontak yang bisa dihubungi dari nama Uzumaki Naruto cepat.
"Nomor yang anda tuju tidak─''
"Shit!'' Gaara lempar ponselnya dan menatap kembali murid-murid yang berbaris di dalam foto tersebut tajam. "Siapa saja diantara kalian yang menyakiti Hinata─ ''
Bisikan Gaara tampak berdengung di ruangan kamarnya. Kegelapan malam yang menyelimuti jendelanya mulai dibasahi oleh langit yang ikut menangis. Gemericik hujan terdengar kencang di balkon kamarnya membuat Gaara tiba-tiba mengingat satu peristiwa. Entah apa ada yang terlintas di pikirannya, seakan memutar ulang rekaman kejadian di otaknya. Hanya sebesit gambar yang muncul di kepalanya, di saat hujan deras, saat Gaara pulang dari tk nya yang besar, Ia berdiri di atas rumput yang bukan berwarna hijau, tetapi merah. Ya, warna merah segar yang mengalir mengikuti aliran hujan saat itu.
"Ukh─ !'' Gaara cengkram kepalanya erat. Rasa sakit luar biasa mulai dirasakan oleh kepala marun itu. Ia tak bisa mengingat kejadian itu, seakan rekaman itu kusut di pikirannya. Tetapi semakin Gaara berusaha menghentikkan rasa sakitnya, semakin banyak pula rekaman kejadian yang muncul di kepalanya, membuat denyutan di kepalanya semakin menjadi-jadi.
Gaara lalu menarik tangan kanannya yang langsung mencengkram dadanya yang kini mulai sakit. Saat kepalanya mulai tenang, dadanya kembali nyeri kala Gaara mengingat hal tersebut. Jantungnya bahkan bisa dirasakannya berdegup dengan kencang tanpa ada jeda sedikitpun dari luar. "Hah─ hah─ ''
Gaara lihat sekelilingnya, obatnya tidak ada disana. Gaara ingat terakhir kali Ia menaruhnya di dapur, tapi rasa sakit di dadanya tampaknya tak bisa membuat Gaara melangkah sedikitpun.
"..Tsk! Dimana obatku─"
Bruk
Suara dentuman kencang terdengar menggema. Tubuh Gaara ambruk begitu saja sambil tetap mengontrol pernafasannya yang tersendat. Ia benar-benar yakin ini adalah yang terburuk dari yang pernah Ia alami selama ini. Bukan hanya dadanya yang sakit tapi nafasnya seakan tercekat. Belum sempat Gaara menyeret tubuhnya ke pintu, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan terlihat Hinata yang tampak histeris sedang menatapnya terkejut. Tanpa banyak basa-basi, Hinata kembali keluar dan memasuki lagi kamar Gaara cepat dengan obat dan air putih di tangannya.
Hinata posisikan kepala Gaara di pangkuannya dan segera memberikan obat ke arah mulut Gaara dengan paksa. Ia tahu Gaara akan langsung memuntahkannya jika Hinata tak memaksanya untuk menelan pil tersebut. Hinata pernah melihatnya sekali, saat Gaara memuntahkan obat yang Ia minum di wastafel saat malam hari tempo lalu.
"Ugh─ '' Gaara angkat kepalanya untuk menelan obat tersebut dan menatap Hinata di atas kepalanya sembari mengatur laju pernafasannya saat dadanya dengan perlahan kembali membaik meski kali ini lebih lambat dari sebelumnya. Tampaknya Gaara butuh obat yang lebih efektif untuk kedepannya.
Hinata menatap Gaara sedih. Ini kedua kalinya Hinata melihat kondisi Gaara seperti ini, dan ini yang terparah. Ia bisa membayangkan betapa sakitnya Gaara mengalami hal barusan.
"Kenapa.. wajahmu..begitu?'' Ucap Gaara pelan seakan nafasnya hanya cukup mengucapkan satu kalimat saja.
'Aku dengar bunyi jatuh yang kencang. Jadinya aku masuk, maaf.'
"Hmm.. Begitu,''
'Kenapa bisa seperti ini?'
"Hah?''
'Tidakkah kau menyembuhkannya?'
Gaara dengan perlahan bangun terduduk di atas lantainya dan menatap Hinata dalam. "Ini bukan penyakit.''
"E─?''
"Mungkin aku haru kembali di rehabilitasi.'' bisik Gaara sembari menyeringai tipis. Ia lalu bangun dan menarik lengan Hinata untuk ikut berdiri. "Terimakasih, maaf membangunkanmu malam-malam. Kau bisa kembali ke kamarmu sekarang.''
'Tidak apa.'
.
.
Hinata yang sudah bersiap merapihkan rumah tersenyum manis melihat apartemen Gaara sudah kembali bersih. Ia lihat jam sudah pukul 9 pagi, Gaara sudah berangkat 3 jam lalu. Rumah tampak sepi jika Hinata hanya sendiri saat ini.
Kriing
Tiba-tiba bunyi telepon rumah mengagetkan lamunan Hinata yang terlonjak kaget meski buru-buru mengangkat teleponnya ragu.
"Halo? Hinata?" Hinata bernafas lega sat mendengar suara Gaara dibalik telepon. Ia sesungguhnya mengira-ngira mengapa Gaara menghubunginnya meski Ia pasti tahu dengan pasti Hinata sulit menggunakan telepon.
"Aara..an?'' ujar Hinata perlahan.
"Ya, maaf. Bisakah aku minta tolong?''
"E? Awa..afwa?'' tanya Hinata ragu.
"Ada map coklat di meja tepat di sebelah lemari kamarku. Bisa kau bawakan ke RS? Aku butuh dokumen itu nanti sore untuk rujukkan ke Dokter kepala.''
"Ah, um!" seru Hinata kencang menerima permintaan Gaara yang terlihat darurat
"Lalu, Hinata─'' potong Gaara tiba-tiba sebelum Hinata menutup teleponnya. "Kau mulai berbicara semakin baik. Sampai jumpa.''
Klik
Wajah Hinata yang memanas langsung tersenyum senang. Ia benar-benar ingin meloncat senang, tapi Ia urungkan mengingat apartemen dibawah adalah sepasang kakek nenek. Tidak lucu 'kan jika saat Hinata melompat hal tersebut malah mengagetkan pasangan manis tersebut.
Setelah mengganti pakaiannya, dengan buru-buru Hinata keluar dan menaiki taksi menuju ke tempat Gaara berada. Ia berusaha secepat mungkin agar Gaara tak menunggunya terlalu lama karena lokasi dari apartemen menuju RS memakan waktu sekitar 1 setengah jam. Setelah sampai Rumah Sakit, Hinata buru-buru menuju ke arah resepsionis untuk menanyakan dimana ruangan Gaara.
"Ada yang bisa saya bantu?'' tanya sang resepsionis.
"A..au..aara..''
"E-eh? A-ano, apa Anda mau membuat janji dengan Dokter?'' tanya sang resepsionis bercepol itu kebingungan.
"U...uh..'' Hinata menggeleng cepat. Ia benar-benar kesal pada dirinya karena tak bisa menyampaikan hal yang ingin ia katakan.
"A-ano, Sa-saya akan mengecek jadwal Dokter T.H.T, Anda bisa menuliskannya kapan Anda mau membuat janji.''
"..'' Hinata menunduk dalam, Ia sedikit kesal dengan wanita yang salah tanggap itu meski Ia tak salah apa-apa. Hinata sedikit menyesal Ia tak membawa memo kecilnya kali ini.
"Eh?! Hinata-san? Kenapa kau disini?'' tiba-tiba Kiba yang sedang melewati lorong RS melihat sosok Hinata dan menghampirinya cepat. Sang resepsionis yang awalnya sedang menulis langsung bernafas lega melihat kehadiran Kiba.
'aku mau menemui dokter Gaara.' Hinata menggerakan tangannya cepat.
'dia ada di lantai 2.' balas Kiba dengan senyuman lebar. Ia senang melihat wajah Hinata lebih cerah sekarang. 'cepatlah kesana, kau janji dengannya kan?'
'terimakasih' Hinata langsung bungkukkan tubuhnya dalam lalu buru-buru menaiki lift di ujung lorong, meningglkan Kiba yang terdiam dengan senyum terselip di wajahnya.
"Kiba-sensei, tadi pasienmu?'' tanya sang resepsionis cemas. "Aku sedikit kebingungan tadi."
"A-ahaha, bukan. Dia bukan pasien, dia kenalan Gaara-sensei.''
"Eh─?! Gaara-sensei?!'' sang resepsionis langsung terngaga lebar, ia benar-benar tak menyangka Dokter idola di Rumah Sakit itu memiliki teman wanita. Hampir semua perawat bahkan resepsionis wanita ini tahu bahwa Gaara tidak pernah mau mengobrol dengan wanita selain urusan pekerjaan.
"Akhirnya gadis itu tersenyum.'' bisik Kiba puas.
.
.
Gaara yang sedang berdiri di samping ruangannya langsung mendongakkan kepalanya saat melihat Hinata berlari kecil ke arahnya yang ikut menghampiri dirinya.
"Maaf, kau pasti sedang sibuk.''
"i..da..a..ha..''
"..'tidak apa'? Benarkah?''
Hinata mengangguk cepat. Ia lalu menyerahkan amplop cokelat di tanganya ke arah Gaara yang langung menerimanya.
"Aku ada pasien 15 menit lagi. Lalu, aku akan pulang cepat sekitar jam 3 nanti. Kau mau menunggu atau pulang?'' Gaara lihat jam-nya masih menunjukkan pukul setengah 12 siang. "Kau bisa pulang sekarang jika kau mau.''
'boleh aku menunggu?'
"Tentu saja. Ada cafetaria dilantai paling bawah. Lalu, disebelah gedung RS ada perpustakaan Universitas, ada banyak buku selain buku tentang kesehatan.'' Gaara mengeluarkan sebuah kartu didalam sakunya. "Ini tanda pengenalku, kau bisa masuk perpustakaan itu dengan menempelkan kartunya di pintu perpustakaan nanti.''
'a-arigatou'
"Kau bawa ponsel?''
Hinata menggeleng pelan. Ia baru ingat Ia lupa membawa ponselnya karena terburu-buru tadi.
"Baiklah, sekitar jam 3 lewat 15 aku tunggu di cafetaria, bagaimana?''
"Uhm.''
Hinata tersenyum senang. Rasanya ia sedikit penasaran juga dengan lingkup kerja Gaara saat ini.
"Gaara-sensei! Pasien anda sudah datang. Tolong bersiap!'' Matsuri menyundulkan kepalanya keluar dari ruangan Gaara dan melambaikan tangannya riang.
"Ah, asistenku sudah memanggil. Baiklah, hati-hatilah jangan sampai tersesat. Kita bertemu lagi nanti.''
Gaara dengan segera berlari pelan memasuki ruangannya. Meninggalkan Hinata sendiri yang kini berdiri diam. Merasa penasaran dengan perpustakaannya, Hinata buru-buru menuju lift dan keluar dari gedung Rumah Sakit, Ia bisa lihat Universitas yang terbangun tepat di sebelah Rumah Sakit besar tersebut. Hinata pijakkan kakinya ke dalam Universitas ragu-ragu. Baru kali ini Hinata memasuki ruang lingkup pelajar setelah sekian lama. Hinata bisa lihat banyak para anak-anak muda sedang berjalan dan berbicara satu sama lain dengan riang. Meski iri, Hinata hanya bisa menutup mulutnya dengan senyuman simpul. Berusaha mengalihkan perhatiannya, Hinata dengan segera menuju ke arah perpustakaan. Dilihatnya pintu menuju ke perpustakaan besar yang terletak di bagian barat Universitas, tepat di sebelah laboratorium praktik.
'Tampaknya disini,' ujar Hinata dalam hati. Belum sempat melangkahkan kakinya, tiba-tiba suara dentuman keras terdengar dari belakang badan Hinata. Ditengoknya dengan membalikkan tubuhnya perlahan dan melihat seorang wanita terjatuh dengan buku-buku berserakan di sekelilingnya. Kaget, Hinata dengan sigap menghampirinya dan menatapnya cemas.
"U-uhm.'' Hinata coba keluarkan suaranya pelan membuat gadis berwarna merah jambu itu mengangkat kepalanya.
''Ah, Apa kau pasien disini?'' ujar wanita itu tiba-tiba.
Hinata menggeleng cepat. Hinata mengarahkan telunjuknya ke papan perpustakaan membuat gadis bermata emerald tersebut langsung bangun tiba-tiba.
"Aaaah! Ini di Universitas?! Harusnya aku menyerahkan buku ini ke RS sekarang!" gadis berambut pendek tersebut langsung mengambil buku-buku di sekelilingnya cepat. Ia tampak tergesa-gesa dengan wajah yang ketakutan. Merasa canggung, Hinata ikut membantu mengumpulkan buku-buku setebal novel itu dan menyerahkannya ke gadis cantik yang ikut berdiri setelahnya.
"..." Hinata menyerahkan buku-buku di tangannya yang langsung diterima senang.
"Terimakasih banyak! Kau sangat membantuku. Aku belum tidur dari malam kemarin jadinya otakku sedikit konslet, hahaha!" gadis itu tertawa malu dan kembali menatap Hinata akrab. "Apa kau murid di sini juga?"
Hinata menggeleng perlahan dan menatap wajah gadis di depannya. Tampaknya gadis ini juga seorang dokter, atau mungkin perawat. Entahlah, tapi Hinata punya firasat besar seperti itu. Semakin diperhatikkan, tiba-tiba mata Hinata terbuka lebar. Mata emeraldnya, rambutnya yang senada dengan warna bunga sakura, pita merah yang terpasang di kepalanya. Semuanya tampak familiar di mata Hinata.
"Ehm, halo? Apa kau mendengarkanku?" gadis itu menatap Hinata bingung.
"..U-uhm."
"Eh? Tunggu dulu, mata itu─" Sakura mulai mendekatkan wajahnya ke arah Hinata, menatap mata Hinata jeli. Hanya dalam beberapa detik, wajah Sakura langsung berubah cerah dan tertawa kencang. "Ahahaha! Aku ingat sekarang! Kau─ Kau Hyuuga Hinata, 'kan?!"
Bingo.
Bagaimana bisa Hinata tidak ingat gadis ini. Tiba-tiba hanya dalam satu detik, kenangan-kenangan yang diberikan Sakura padanya saat dulu terbangun satu demi satu. Hinata tidak akan lupa bagaimana perlakuannya terhadap Hinata saat TK dulu. Hinata hanya bisa menahan nafasnya saat gadis berambut peach itu menatapnya angkuh. Hinata ingat siapa dia, Haruno Sakura.
"Hei, domba kecil." Sakura tersenyum polos dan mendekati Hinata sampai Ia tersudut di arah dinding. Hinata langsung merinding mendengar kalimat Sakura tersebut. Kalimat yang diucapkan dengan intonasi yang sama oleh Uzumaki Naruto sebelumnya. "Kenapa kau ada disini?"
Hinata menunduk dalam. Beruntung ada buku-buku yang dipegang Sakura di depan dadanya, jika tidak pasti Sakura sudah menyudutkannya lebih dari ini.
"..."
"Hei, kau tuli?!" seru Sakura kencang. Hinata melirik Sakura takut-takut, dibanding membalas ucapan Sakura yang tajam Hinata lebih memilih diam. "Kau mengacuhkanku?"
"..."
"Jawab aku!"
"─TSK. Bisakah kalian minggir? Aku mau masuk ke perpustakaan." tiba-tiba seorang lelaki berambut hitam menatap keduanya tajam dengan raut wajah tak mengenakan terpasang di wajahnya. Lelaki dengan jubah putih itu menatap sinis Sakura yang terlihat terkejut dan buru-buru menjauhi Hinata yang memang menutupi scanner pintu di sudut ruangan.
"Sa-Sasuke-san! Aku tadi─"
"Urusai." Sasuke menghela nafasnya panjang dan menatap Sakura yang terlihat cemas di belakangnya. "Yamato-sensei menunggumu menyerahkan buku itu."
"Ah! Baik, saya akan langsung kesana!" Sakura yang awalnya tampak seperti iblis langsung terlihat berbeda saat ada lelaki berambut hitam tersebut. Hinata yang melihat Sakura sudah menghilang langsung bernafas lega, tanpa banyak basa-basi Hinata membatalkan rencanya menuju ke perpustakaan dan segera berjalan untuk keluar.
"Hoi," suara berat di belakang Hinata menghentikkan langkahnya. Tak ingin mendengar, Hinata tetap berjalan hingga kakinya terhenti karena sebuah tangan menarik lengannya erat. "Kau Hyuuga Hinata, 'kan?"
"..." Hinata menatap lelaki beramata onyx tersebut kaget. Hinata tidak ingat siapa lelaki ini, tapi tampaknya Ia berkaitan dengan masa lalu Hinata karena lelaki ini mengenal dirinya.
"Sebaiknya kau tidak usah kemari lagi. Ada beberapa anak yang membully-mu saat dulu adalah mahasiswa disini, bahkan Dokter di RS sebelah. Jika kau bertemu dengan mereka seperti tadi, pasti kau akan diperlakukan sama seperti dulu," ujar lelaki tersebut dingin meski ada nada cemas yang terselip di suaranya. Hinata menatapnya datar, Ia berusaha tampak terlihat tuli meski wajahnya tak terlihat seperti itu.
'Aku tidak peduli lagi, aku tidak mau berurusan lagi dengan hal itu' Hinata menggerakan tangannya cepat tanpa ada jeda. Beda dengan yang Ia lakukan saat berbincang dengan Gaara. Hinata biasanya menggerakannya lambat agar Gaara menangkap apa yang Hinata katakan. Tapi tidak untuk kali ini, Hinata seakan sengaja menggerakkan bahasa isyaratnya lebih cepat.
"..." Hinata lihat wajah lelaki di depannya termenung diam. Hinata sedikit merasa puas lelaki ini tak lagi bicara.
"Pasti dia kaget." bisik Hinata dalam hati puas.
Belum ada satu langkah Hinata berjalan, tiba-tiba dirinya dikagetkan sesuatu. Matanya langsung menangkap gerakan-gerakan mulus di depan matanya yang sama cepat dengan yang Ia lakukan tadi, bahasa isyarat.
'Aku tahu, karena itu lebih baik kau menjauhkan dirimu dibandingkan kau mendapat perlakuan kejam lainnya'
Bibir Hinata terbuka saat melihatnya. Hinata bisa lihat lelaki di depannya sudah mempelajari bahasa isyarat lebih lama dari Gaara, bahkan bahasa-bahasa yang Hinata sulit gunakanpun di gunakan oleh lelaki itu.
"..."
'Aku ingin bicara denganmu, boleh?'
"..." Hinata tundukkan wajahnya dalam. Ia lihat jam sudah menunjukkan pukul 1 siang, yang berarti hanya tinggal 2 jam lebih waktu janjinya dengan Gaara.
'Aku tahu rahasiamu'
Hanya dengan gerakkan tersebut, wajah Hinata langsung terangkat cepat. Matanya menatap lelaki di depannya setengah tak percaya. Jantung Hinata berdetak cepat, Ia tak percaya akan ada hari dimana seseorang mengatakan kalimat tersebut tepat di depan matanya. Rahasia yang selalu Hinata tutupi pada keluarga, serta orang-orang di sekelilingnya.
'Kenapa kau tahu?'
'Karena aku melihatnya.' lelaki bermata onyx itu tersenyum tipis. Entah ada perasaan apa, tapi Hinata yakin itu bukan senyuman, tapi sebuah peringatan yang diberikan pada Hinata dengan perlahan-lahan. Dalam beberapa detik lelaki itu mengulurkan tangannya ke arah Hinata dan menatap Hinata dingin.
Hinata tatap wajah lelaki di depannya tersebut ragu dan mau tak mau Hinata ikut mengulurkan tangannya, menerima uluran tangan dari lelaki yang bahkan Hinata tak ingat apa yang laki-laki ini lakukan padanya dulu.
.
.
TBC
Hehe banyak karakter baru keluar XD
Chapter depan semoga bisa buat lebih seru lagi /guling-guling/
TERIMA KASIH BANYAK BUAT REVIEW KALIAN SEMUA /NANGIS/
Kutunggu reviewnya untuk chapter ini hehe
bye bye~~~
