"Masuk ke jajaran Osis pembimbing?"

Strawberry Blonde duduk angkuh di seberang, mengangguk cekatan. Pertama-tama menghampar carik dokumen berisi keterangan sulit di atas meja kayu bernilai, menjabarkan satu demi satu butir perincian dan informasi yang mustahil diingat hanya dalam sekali dengar.

"Ada keluhan?"

Daripada bertanya, nada Asano lebih cocok disebut mengancam. Jelas sekali tanda tanya di penghujung eliptis hanyalah kamuflase murahan untuk mengikat mati elemen bernama kebebasan.

Lagu klasik samar mengalun tenang, berbenturan dengan deru napas berat Isogai. Sesaat saja tubuhnya rileks di atas sofa—saat penciumannya menghirup aroma pekat teh darjeeling yang suhunya terlanjur merosot karena kalornya memilih berinduksi melalui penampung keramik.

"K-kukira di tahun terakhir seperti kita sekarang, tidak boleh ada yang ikut kegiatan apapun."

"Red alert. Aku terpaksa meminta semua ketua kelas tiga untuk membantu, tidak terkecuali satu-satunya kelas IPS dari gedung berbeda."

Teguk ludah yang sangat berharga. Sang presiden kelas E tidak berani menampik sedikitpun.

"—walau kenyataannya, mungkin hanya kita bertiga yang akan totalitas mengurus semuanya. Perkenalkan di sana, ketua kelas D." dari kursi sedikit jauh, Takebayashi berangguk dalam di sela pekerjaannya bersama komputer. Isogai menyambut sapaan itu gugup.

"...lalu ketua kelas lain?"

"Aku tidak mau terlalu berharap pada ketua kelas B yang kelakuannya membuatku sakit kepala dan ketua kelas C yang nilai akademiknya selalu memprihatinkan. Lebih baik fokus pada individu yang bisa segera bekerja tepat sasaran."

Si rambut obsidian meringis canggung, "Aku... paham,"

Seringai kemenangan eksesif, "Kuanggap itu sebagai pernyataan setuju. Untuk selanjutnya bantuan darimu akan sangat diharapkan, Isogai Yuuma."

Sudah sangat terlambat kalau Isogai ingin mengutuk dirinya sekarang.


Sebelum Sakura

.

.

.


Chapter 11 : Dionaea


"MASUK KE JAJARAN OSIS PEMBIMBING?"

Isogai menghentikan gerakan sumpit di mulut, mencoba tidak tersedak efek kalimat familier yang baru saja terlontar dari karib masa kecilnya. Tunas di pucuk kepala yang bersangkutan bergoyang pelan, membenarkan.

"Semua serba mendadak. Tadi pagi dia tiba-tiba muncul di depan ruang guru waktu aku dipanggil untuk mengambil fotokopi soal, lalu memaksa—"

"KENAPA TIDAK KAU TOLAK?!"

Seandainya bisa segampang itu.

Emosi Maehara kian tersulut, "Anak-anak IPA seperti mereka bisanya hanya mengolok-olok kita, anak IPS. Apalagi penghuni kelas A dan ketua kelasnya yang jahanam."

"Iya. Dia memang jahanam."

Masih teringat di benak Isogai, bagaimana dirinya terintimidasi sosok arogan yang tidak punya celah untuk dibantah sama sekali. Degupan jantungnya menekuk-nekuk di antara rasa cemas dan afeksi, terutama karena pribadinya tidak pernah mengijinkannya untuk berteriak histeris selain dalam hati.

"Mentang-mentang anak dokter, otak encer dan kaya raya lalu jadi sombong," omelan Maehara belum putus, "Aku benci tipe begitu!"

Wow, "Kau tahu banyak, ya."

"Jangan membuatku harus berterima kasih pada mantan-mantanku. Itu menyakitkan."

Maehara merengut, Isogai terbahak. Dari level tertinggi gedung sekolah bertajuk dua, pandangan keduanya berlabuh lurus pada bangunan megah yang terletak tidak jauh. Melintasi satu demi persatu anak jendela yang tampak seperti kuman berhimpit. Menyentil fakta bahwa salah satu dari mereka akan lebih sering menghabiskan waktu di sana hingga kelulusan tiba.

"Kau tidak apa-apa, Isogai?"

Kerjapan bingung, "Eh? Apanya?"

"Saat-saat tertentu di jam istirahat atau pulang sekolah, mungkin kita tidak bisa bertemu sebebas sebelumnya. Kita tidak akan bisa—"

Kalimat Maehara diinterupsi sepihak oleh deru termal.

"Bukannya ini kesempatan bagus?" sumpit di tangan ikemen hampir kesakitan akibat tekanan jari sang empunya, "Kau bisa berhenti mengurusiku..."

Atmosfernya tidak hancur, hanya berubah.

Diam-diam senyum Maehara pudar beberapa derajat. Mempertanyakan kenapa ia tidak berhasil menebak arah kalimat dari seorang Isogai Yuuma, sama halnya seperti kenapa bumi harus bulat dan pelangi harus tersapu warna jingga. Atau kenapa mereka tetap bersahabat—di tengah hujaman duri-duri yang menusuk sayapnya sehingga tulang raganya kikuk. Takluk tak bergerak.

"Berapa menit lagi sisa waktu istirahat...?"

Buru-buru Isogai memeriksa empat digit angka yang tertera pada selularnya, "Sepuluh menit."

"Lalu berapa menit lagi waktumu yang tersisa...?"

Ivory dan almond berbenturan keras dalam paham tersirat.

"...sepuluh menit,"

Sepintas labium itu dibuka lebar-lebar, seakan menyimpan banyak madu yang menggoda para kumpulan lebah untuk menerkam manisnya. Mungkin Maehara telah bertransformasi menjadi salah satu imago ketika lehernya menukik sensual, memastikan jalur agar lidahnya berhasil menyusup.

Dan terjebak.


.

.


Asano sempat berpikir sekujur tubuh Isogai dipenuhi amis fosil.

Sesungguhnya ia masih terbelenggu paradigma stereotip keparat. Bahwa pahamnya belum berhenti membedakan kasta berdasarkan jurusan semata; eksakta merupakan bibit unggul sementara kirtya hanyalah rakyat jelata. Sayang fakta berhasil menampar kedua pipinya, melihat makhluk di hadapannya begitu kompeten melebihi ekspektasi setaraf hina. Kelerengnya membelalak tidak percaya.

"A-apa ada yang salah?"

Sepertinya Isogai masih belum terbiasa dengan atmosfer baru yang nyaris seminggu mengukungnya. Lihat saja kini poninya jatuh dan bibirnya dikatup kuat. Ujung-ujung jarinya bertaut tumpang tindih, bermain satu sama lain. Tidak satupun tulang punggungnya ada yang berhasil rileks.

Bagi Asano, pemandangan itu menjadi hal yang sangat menggiurkan. Darah predator alaminya bergejolak hebat melihat seekor mangsa berserah untuk didominasi secara sukarela, sukses mengukir senyum culas di wajah nan rupawan.

"Tidak. Hanya—"

Cemas di paras Isogai gagal sembunyi, "Ha-hanya?"

Benar, kan? Menarik.

"Hanya kau lupa membubuhkan tanggal hari ini di bagian keterangan."

Mengerjap paham, "Ooh..."

Tidak hanya terburu-buru menulis hingga pena di tangannya sempat tergelincir, reaksi-reaksi senewen Isogai lainnya membuat Asano lebih sibuk menahan kram di daerah perut. Mendapat kepuasan mental tersendiri dengan mengerjai ketua kelas E habis-habisan—ditambah menyaksikan antena hidup yang rajin menari di pucuk kepala bersangkutan—maka Asano memutuskan untuk berterima kasih sedalam-dalamnya pada Takebayashi selepas kelulusan nanti.

Mengingat nama Takebayashi dan keberadaan si tokoh berkacamata yang sepertinya masih sibuk di ruang guru, Asano melancarkan serangan lanjut.

"Hei," sapa itu menarik lagi perhatian si rambut gelap, "Kau punya pacar? Teman sekelas, mungkin?"

Terkesiap, "APA? Jangan bercanda. Kunugigaoka kan sekolah khusus laki-laki!"

Mendapat respon setengah menjerit, salah satu ujung bibir Asano naik, "Tidak ada yang bilang sesama jenis diharamkan di sini... siapa tahu kau salah satunya."

Pandangan mereka hanya bertemu singkat sebelum dimentahkan terang-terangan. Isogai berusaha menahan semu dan geram yang seketika menggebu, "Aku... tidak seperti itu..."

"Oh, ya?"

Susunan kertas di tangan dihempas ke meja. Asano bangkit untuk menginvasi jarak, menempelkan ujung sepatu mereka telak. Alarm tanda bahaya yang berbunyi membuat Isogai sontak menegapkan postur, menyejajarkan level pandang miliknya waspada pada yang sudah berdiri tepat di muka.

"M-mau apa?"

Waktu seakan berhenti ketika Asano bukannya menjawab, malah menarik kasar dagunya kemudian mempertemukan sepasang fisik melalui tekanan di area bibir. Isogai terbelalak, mendapati syok sebagai impuls gelombang pendek.

"LEPASS!"

Setelah bunyi derap tergesa-gesa menjauh dan pintu berdebam keras, Asano tertawa sejadi-jadinya.


[ Oii! Isogai! ]

.

[ Isogai...? ]

.

[ ... ]

.

.

[ Ada apa? Kenapa menangis? ]


To be continued...

.

.

.

A/N:
Ditegasin lagi, fic ini per chapternya cuma ficklet. FICKLET. Jadi lompat2 scene, chara non-fokus, plus deskripsinya ngga bakalan detil syalala.
Kalau penjelasan terkesan kelewat, itu emang disengaja. Biasanya jawaban ada di salah satu dialog atau adegan tertentu yang ngajak pembacanya mikir *tolong diiyain aja* #prang

(Btw ngga ada maksud ngejelek2in anak IPS ya, walau kenyataannya author penghuni gedung satu wkwkwkwkwkw #dibuang)

Chapter ini spesial buat Biji Nangka yang kemungkinan besar bakal hiatus panjang. I'm gonna miss you (╥ᆺ╥;)

Sampai jumpa di update SS RABU depan!

R&R Maybe? C: