[ Penghujung musim gugur menjadi awalku mencicipi beragam kehilangan. ]

.

.

[ Pertama; kamu ]


Asano masih berkutat mesra bersama pulpen dan puluh lembaran yang memohon bubuh cap darinya saat seseorang berambut merah masuk tanpa sedikitpun mengetuk—belum ditambah fakta pintunya dibuka dengan cara ditendang. Tatakrama memang tidak pernah tercatat sebagai salah satu kosakata kamus hidupnya, bahkan kini sang pelaku sudah duduk santai di permukaan sofa sembari menyeruput jus buah favorit.

"Turunkan kakimu dari atas meja, Akabane Karma."

Seringai bosan, "Kaku seperti biasanya, Asano. Mungkin kau sesekali butuh hiburan."

"Tidak usah repot-repot. Aku sudah mendapat hiburanku."

"Ooh~? Apa itu?" si merah pekat tertarik, mencondongkan badan ke depan seakan hendak mendengar gosip yang sangat spektakuler, "Ada murid yang berhasil kau keluarkan lagi dari sekolah?"

"Kalaupun ada, kau orangnya." geram rendah, tangannya menjulur menunjuk tumpukan diktat di tengah-tengah, "Kerjakan ini saja, jangan menggangguku!"

"Apa-apaan!? Padahal aku masih sakit hati karena kau tidak memberitahuku soal perkumpulan pembina Osis."

"Semua ketua kelas tiga sudah diberi pengumuman. Aku lupa ada seseorang yang lebih senang bolos pelajaran sehingga melewatkan pemberitahuan penting."

Karma menghujani ruangan dengan tawa. Asano mengabaikannya. Ia tahu tanpa petunjuk non-verbal pun, Akabane Karma dan kemampuan otaknya yang di atas rata-rata akan meringankan beban tugasnya dalam persentase luar biasa. Hanya perlu mengabaikan sikap desktruktif sebagai isu utama, maka sebutlah ketua kelas B sebagai partnernya yang paling sempurna se-Kunugigaoka.

"Cukup koreksi bab tanpa garis kuning. Bagian anggaran sudah dikerjakan Isogai."

"Ahh, anak IPS berambut lucu itu, ya?! Kalian tampaknya semakin akrab, aku cemburu."

"Turunkan kakimu." repetisi perintah sama.

"Tapi kudengar dari Takebayashi, beberapa hari ini dia absen kemari. Apa sudah menyerah dan pulang ke gedung dua sambil menangis?"

Cemooh Karma luntur menyaksikan kilat tidak biasa memancar dari sepasang ungu di hadapannya. Bergairah dan memesona, hal yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Dadanya mencelos. Perih.

"Jangan khawatir. Aku tidak akan membiarkan mangsaku lari."

Kaki-kaki Karma menanggalkan permukaan meja.


Sebelum Sakura

.

.

.


Chapter 10 : Scarecrow


Dinding yang keseluruhannya putih bercampur bau antibiotik sudah menjadi bentuk kebutuhan primer keempatnya sejak menjajaki bangku SMP, Isogai pasrah pada takdirnya yang satu ini.

"Semua serum sudah disiapkan sampai minggu depan, ini resepnya." kertas yang ada di tangan dokter berpindah tangan ke pasien, "Masih seperti biasa, gunakan tiga jam sekali. Abaikan pemakaiannya saat tertidur."

"Terima kasih..."

Bukti itu disambut enggan. Matanya memindai bosan nama-nama dari jenis obat yang sangat dihapalnya selama bertahun-tahun secara konstan. Melabeli situasi yang tengah dijalaninya dengan rutuk dan makian hanya membuat isi kepalanya penuh beban yang jauh dari kata menyenangkan. Ya, Persetan.

"Ah, selain itu, Yuuma... untuk selanjutnya dokter jagamu akan diganti."

"Eeh? Mendadak sekali?!" cicit protes.

"Beliau calon kepala rumah sakit ini. Sedang mengerjakan disertasi untuk keperluan akademis dan meminta ijin supaya penyakitmu menjadi sumber risalah dalam penelitiannya." terangnya.

"Maksudnya, saya jadi semacam kelinci percobaan?!"

Ada alasan kuat di balik pepatah; profesi dokter bisa berasal dari semua orang, tapi tidak semua orang bisa berprofesi menjadi dokter. Satu kesalahan frasa berujung fatal pada sebuah nyawa. Apalagi pasien yang dihadapinya baru akan menginjak usia tujuh belas, sangat rentan terhadap stress dan depresi—penyakit kronis kawula remaja.

"Seandainya berhasil, bukannya tidak mungkin penyakitmu akan sembuh. Beliau sudah memerhatikan kasusmu dari sejak lama."

"Terima kasih kasih atas hiburannya, Dok..." yang remaja berjuang agar tidak termakan rayuan.

"Baiklah. Hari ini seluruh medical check-up sudah selesai. Kau bisa bertemu dan berkenalan dengan dokter Asano minggu depan."

Jerit refleks, "SIAPA?"

"Dokter... Asano."

"..."

Padahal beberapa hari ini remaja itu sudah berjuang keras untuk lepas dari ingatan buruk yang menimpa benaknya—juga lebih akurat; bibirnya—namun Tuhan seperti sengaja mengerjainya. Merasa sukses dihantui nama paling menyebalkan di hari-hari damai kehidupannya kemudian, membuat batinnya tersenyum kecut. Setelah ini, Isogai mungkin harus lebih percaya pada ramalan feng shui.

"Jaga kesehatanmu baik-baik, Yuuma. Kita akan bertemu lagi di jadwal rontgen bulan depan."

"Tentu saja," Isogai bangkit, tersenyum lepas sebelum benar-benar menghilang di balik pintu, "...kalau saya masih hidup."


.

.

[ Kedua; waktu ]


"Maaf, jadi lama!" lambaian tangan, menuai reaksi dari yang beriris almond cerah.

"Akhirnya beres?" menjauhi pohon yang menjadi tempat singgah punggungnya sementara, Maehara menepuk-nepuk belakang celana dan bahu dengan gerakan menepis debu, "Ada yang seru?"

Gelengan singkat, "Selain dokter jagaku diganti, tidak ada lagi hal menarik. Sama seperti sebelum-sebelumnya termasuk resep." secarik kertas penuh coretan menyakitkan mata dikibas Isogai tidak senang.

"Kenapa? Dokter yang biasanya sudah bosan melihatmu?"

Sekilas tawa polos ikemen yang dilakukan sembari menginjak sengaja sepatu Don Juan kelas E. Kira-kira ada sebentar adegan kejar-kejaran penuh energi hingga keduanya terengah lalu berjalan bersisian, memproses langkah sesuai detak nadi ditemani wajah berseri-seri. Seperti biasa, di tengah perjalanan pembicaraan mereka berkisar seputar menu baru di tempat makan langganan, judul-judul film kesukaan, sampai urusan teman kencan.

"Akhir-akhir ini kau tidak terlalu semangat... bertengkar dengan pacar?"

Maehara mengusap tengkuk, "Sedikit. Dia mulai mengeluh karena kami jarang bertemu,"

"...maaf, karena aku—"

"Bukan! Perempuan memang seperti itu, diberi hati malah minta jantung. Selalu meminta lebih."

Untuk kesekian kali, Isogai tidak pernah sekalipun menjadi beban untuknya. Dan Maehara tidak mau keputusannya yang sering menghilang di tengah kencan buta jika menerima pesan dari dial utama dijadikan alasan primitif sahabatnya untuk terus menyalahkan diri. Bukan salah siapa-siapa, semua murni karena pilihan hati.

Touch down di gerbang rumahnya, Isogai berbalik untuk membungkuk pelan, "Terima kasih sudah mau repot mengantarku tadi,"

Maehara memutar kelereng matanya jenuh. Catatan mentalnya tidak membutuhkan basa basi kampret sebagai taktik hutang budi. Jari tengah dan ibu jari bertaut lalu disentil cepat ke arah kening yang memekik singkat. Serangan kedua mendarat di ujung hidung saat tangan Isogai berjuang mengalihkan proses nyeri di pusat jembatan alisnya.

"Sama-sama, bodoh. Tidak usah sok formal begitu..."

"Kalau begitu sampai besok." buru-buru Isogai merogoh isi tas, mencari kunci rumah, "Leherku mulai panas..."

Cengkeraman tak diduga di pangkal lengan menghentikan aksi si mahkota legam. Wajah tampan Maehara berubah serius ketika menguntai desis.

"Buka mulutmu!"

Berani bertaruh, bisik rendah Maehara barusan mampu membuat mantan-mantannya menyesal telah menyandang huruf dari tiga abjad terakhir. Dan kalau Isogai dilahirkan dengan gender berbeda, bukannya mustahil ia bisa mabuk bahkan terjatuh.

"E-eh?" antena Isogai sibuk bergoyang gusar ke kanan-kiri, menilik sekeliling khawatir, "Tidak di sini, Maehara. Lagipula aku masih punya sisa serum!"

Seolah tidak mendengar, tangan cekatan Maehara menarik dagu Isogai dan mendekatkan bibirnya. Yang segelap bayangan langsung pucat pasi. Aksi nekat itu malah meletupkan kenangan buruk yang belum lama ini ia terima dari sang ketua Osis. Tangannya menangkup mulutnya sendiri dengan gemetar, irisnya membulat gentar.

Detik berganti detik, dan mereka bertahan dalam posisi yang sama. Sedikit genangan dalam bulat ivory cerah di hadapannya membuat Maehara memutuskan menyerah. Kepalanya hanya bergerak maju untuk mencium dalam punggung tangan Isogai sejenak sebelum melangkah mundur, memberi ruang keduanya untuk kembali bernapas lega.

"Sampai besok." ucapnya, "Pulang sekolah aku akan menjemputmu di ruang Osis."

Hingga punggung Maehara menghilang, Isogai tetap gagal bersuara.


.

.

[ Ketiga; aku ]


To be continued...

.

.

.

A/N:
Hobi nendang2 (?) Karma ini udah nongol dari sejak Author nulis fic 'Lewat Ujung Jari' (pair KoroKaru).
Dan kenapa setelah new challenger appear, ceritanya malah jadi makin sinetronn? (;ಥ;ω;ಥ;) #buangdiri

Tengkyu muach-muach buat yang rajin dukung. Sampai jumpa di RABU mendatang!

R&R maybe? C: