[ Aku akan sedikit terlambat. Tunggu saja di depan ruang Osis. ]

.

.


Pip.

Senyumnya terukir penuh arti ketika Asano menekan tombol delete sementara pemilik ponsel masih mendekam di toilet.

Semenjak kejadian terakhir, sang mantan ketua Osis kembali menyambangi gedung dua dan menagih kesepakatan tanggung jawab di tengah kerumunan massa yang membuat ketua kelas E gagal berkutik. Tidak dengan ancaman, cukup dengan sedikit ucapan sehingga mangsanya terpojok, terperangkap, lalu terperosok dalam jebakan apostrophic.

Dan kini strawberry blonde itu duduk santai menunggu di atas sofa empuk bersama segudang rencana sambil memandang puas berkas-berkas harian yang berhasil diselesaikan sangat sempurna demi kelangsungan acara kelulusan. Tak lupa benda elektronik murahan di tangannya dikembalikan ke tempat asal, tidak merasa bersalah dengan aksinya yang baru saja mempermainkan privasi orang.

Sosok rapuh yang ditunggu-tunggu akhirnya menampakkan diri. Pipi seliat bunga karang yang tampak halus dan bibir kemerahan di tengah-tengahnya paling berhasil mencuri perhatian. Tautannya terus terbelenggu bahkan sampai obyek visualnya duduk berhadap-hadapan dengannya. Sempat terbesit pertanyaan, apa yang membuat murid berotak mampu seperti Isogai memilih jurusan IPS di dalam sekolah yang terkenal minim toleransi seperti Kunugigaoka.

"Kau ada waktu setelah ini?" seringai langka Asano membuat Isogai ingin mundur lima langkah, "Aku mau mengajakmu ke kafe. Ada yang merekomendasikanku sebuah tempat yang teh dan kue-kuenya katanya enak."

"Tidak perlu, aku harus pulang. Terima kasih banyak ajakannya." Isogai mencuri pandang gelisah ke arah jam dinding ruangan.

"Hanya sebentar. Anggap ini permintaan maafku karena sempat keterlaluan waktu itu." pancar matanya sengaja dibuat memohon, "Ya?"

Isogai semakin salah tingkah. Ia mengambil handphone miliknya dari atas meja lalu memeriksa isinya, mendesah akhirnya ketika nama yang dicarinya tidak mengirimkan pesan padanya seperti biasa sehingga tidak memiliki alasan kuat untuk menolak.

"Asal... tidak lebih dari satu jam—" nada itu mengambang tapi tidak ada kelanjutan.

"Tentu. Aku janji."

Senyum Asano kembali merekah, kontras dengan antena di pucuk mahkota Isogai yang mendadak jatuh.


Sebelum Sakura

.

.

.


Chapter 09 : Kolibet


Sekiranya hampir dua puluh menit Maehara Hiroto hanya melakukan dua hal; mengeluarkan tangannya dari kantong celana untuk melihat jam di pergelangan tangan kiri lalu memasukkannya kembali. Atau mengeluarkan ponselnya dari saku dengan tangan kanan untuk memeriksa email lalu memasukkannya kembali. Terus begitu berulang kali.

Tumitnya diketuk berkala pada dinding tempatnya bersandar, rasanya belum pernah ia segelisah ini.

"Wah, wah... ada perlu apa anak IPS di gedung satu?"

Senja terik memutar kepala. Menyadari ledekan itu datang dari seseorang berambut merah menyala dengan senyum paling menyebalkan yang pernah dilihatnya, Maehara berusaha tidak terpancing.

"Aku menunggu temanku... dia ketua kelas E."

"Oh. Si rambut lucu." bunyi kepalan menumbuk telapak, tanda mengerti, "Kau siapanya? Pacarnya?"

"Aku sudah punya pacar."

Maehara malas berargumen. Cukup bagian kepalanya saja tertimbun peta buta berjam-jam di hari yang sama, jangan sampai resistensinya hancur akibat kelebihan muatan hingga menekan urat emosi lalu meledak. Sepertinya lawan bicaranya juga mulai tidak berselera menghadapi penantang yang tidak bergairah, karena sikap profokatifnya berangsur menyusut. Ia kemudian melenggang begitu saja menghampiri mesin penjual minuman otomatis terdekat, memasukkan beberapa koin untuk mendapatkan jus rasa stroberi segar.

"Percuma terus menunggu, anak Osis lain sudah pulang."

"Semua?"

"Semua." Karma membeo.

Maehara menyipitkan sebelah mata curiga pada sosok di depannya. Kalau tidak melihat badge merah dengan lambang khusus tersapih pada salah satu kerah lawan bicara, informasi yang baru didengarnya tadi pasti sudah dibuang jauh-jauh.

"Oke." merasa sudah cukup, Maehara tidak mau berurusan dengan anak Osis gedung utama, "Terima kasih informasinya."

Malas berlama-lama, penghuni bangunan berbeda bergegas angkat kaki.

"Hei, pirang." Karma tidak buta warna, hanya gagal mendeskripsikan oranye bercahaya Maehara dengan frasa tepat, "Awasi baik-baik teman kurusmu. Aku khawatir kalau-kalau Asano terinfeksi kuman penyakit."

Tidak usah diberi penjelasan lanjut, Maehara sangat mengenal nama mantan ketua Osis yang termasyhur. Nama yang akhir-akhir ini terlalu sering menusuk kupingnya hingga ia mual.

"Wah, perhatian sekali. Kau siapanya? Pacarnya?"

Hanya sebuah balas dendam kecil atas lidah banal Karma sebelumnya. Dan Maehara meninggalkan gedung utama dengan senyum selebar yang ia bisa.


.

.

[ Kau di mana? Aku terus menunggumu dari tadi. ]

.

.


Jika dijabarkan dari kacamata interior; konsep yang ditawarkan bernuansa rustic. Kayu import asal Belanda dengan dominasi warna tenang memanjakan keseluruhan mata sehingga pengunjungnya terpesona. Pelayan di sana menaruh masing-masing teh dengan aroma berbeda ke atas meja berserat yang telah dilindungi oleh melamin berwarna, tidak lupa irisan sachertorte menggiurkan juga ikut mempercantik suasana.

Dua yang menempati pojok ruangan sedari tadi berhadap-hadapan namun irisnya tidak saling menyapa. Lebih tepatnya, satu dari mereka menolak melakukannya.

"Aku serius, Asano. Rasanya ada orang-orang mencurigakan di luar jendela yang terus melihat kemari."

"Jangan mengalihkan perhatian. Jawab saja!"

Isogai meremas fabrik di sekitar lutut. Sudah kehabisan akal untuk menghancurkan fokus agresif yang diberikan padanya dalam bentuk pernyataan dan pertanyaan monotematik. Ia bahkan tidak diperbolehkan memeriksa isi ponselnya sama sekali dan terpaksa mematikannya saat terdengar nada dering yang mengganggu, "Harus berapa kali kubilang, aku dan Maehara hanya teman."

"Oh, namanya Maehara." Asano mencatat dalam mentalnya. "Akan kuingat mulai sekarang."

Yang legam menghela napas jenuh "Kenapa kau begitu bersikeras?"

"Karena..." aroma kayu manis mengucur sejenak di tenggorokan ketua kelas A, "Aku pernah melihat kalian berciuman—"

Deg.

Degup jantung Isogai dipaksa bekerja keras tiga kali lipat.

"—di atap gedung dua."

Deg. Deg. Deg.

"I-itu..."

Asano ketagihan. Puas melihat mangsa di depannya tidak berkutik, dengan kulit pipi terbakar ditambah sikap gugup yang membuatnya pemandangannya semakin menggemaskan. Terlebih karena mangsanya terpaksa menelan sedikit kue coklat yang tersaji untuk menekan tumpukan kortisol dalam adrenalin.

"Kau hanya salah paham... k-kami tidak seperti yang kau pikirkan."

Malang bagi Isogai, sesungguhnya masih tersimpan berjuta muslihat Asano untuk melancarkan agresi. Bukan hanya karena ia memergoki sepasang adam bercumbu mesra di lingkungan sekolah, namun area atap sendiri merupakan kawasan haram untuk disambangi para murid meski alasannya hanya sekedar melepas lelah atau meregang nyawa ketika tidak sanggup mengatasi masalah pribadi. Isogai dan maehara bisa saja dihukum berat karena alasan terakhir tadi, meskipun Asano masih penasaran dari mana mereka mendapatkan kuncinya.

"Oh, ya? Walau kalian berciuman panas beberapa menit?" Asano menekan siku ke atas meja, mengintimidasi, "Aku tidak menyangka di balik wajahmu yang terbilang lugu, aksi lidahmu begitu brutal. Membuatku penasaran ingin mencobanya."

"Aku pulang!" tidak tahan, Isogai menyambar tas sekolahnya dan meninggalkan meja mencapai pintu keluar.

Bisa saja Asano menarik pergelangan kurus itu agar tidak pergi. Memaksanya dengan perintah-perintah mutlak yang mustahil disangkal mati. Tapi tidak. Pancar violetnya tersamar dalam balutan gengsi, juga rasa tidak percaya diri. Ia lebih memilih menekan kaca jendela dengan dahi, mengawasi kepergian sosok yang entah sejak kapan menciptakan keingintahuan alami.

"Isogai... Yuuma..."

Mengesampingkan miliknya, Asano lebih memilih menghabiskan sachertorte yang telah terpotong.


.

.

[ Isogai, tolong jawab aku. Aku cemas! ]


To be continued...

.

.

.

A/N:
Ada yang nyadar ngga kalo per chapter selalu dibagi 3 sequence terpisah (karena author males bikin jembatan ceritanya) #bukan

Terus apa2an minggu ini apdetnya cuma (kerasa) seuprit. Yah, yang penting interaksi KaruMae berjalan lancar sesuai harapan,
*yang dari dulu pengen nulis slight KaruMae dan baru kesampean*, minggu depan udah naik level konflik kok, soalnya kebentur durasi chapter hkhkhkhk

Sampai bertemu lagi RABU depan!

R&R maybe? C: