"ASANO!"

Maehara—Asano masih mengingat nama itu dengan jelas namun ia tidak buru-buru bersuara. Responnya semata-mata menghentikan langkah dengan dagu terangkat jumawa seperti kebiasaannya, bahkan tidak bereaksi apa-apa selain menatap tajam makhluk tak diundang yang tengah berlari melewati kerumunan kemudian berhenti di depan mata. Ia juga sedang tidak tertarik untuk mencela kenapa ada anak IPS bisa lancang menyebut namanya.

"—Isogai tidak bersamamu?! Di mana dia?" remaja itu menumpu kedua tangan di lutut sejenak karena kelelahan. Napasnya belum berangsur stabil.

Decih jengkel terang-terangan, "Kalau kau takut sekali dia hilang, ikat saja lehernya dengan rantai."

"Aku sedang tidak main-main. Di mana isogai!?"

"Sopan sedikit kalau bicara, satwa purba!" hanya salah satu ejekan kaum intelek Kunugigaoka pada kaum teraniaya.

"KAU—"

Gerakan Maehara terhenti, otaknya masih lebih jernih untuk memilah prioritas diri. Tangan terkepal itu diturunkan lagi, memaksa untuk melemaskan bagian jari, "...anak Osis berkacamata yang memberitahuku, katanya kalian pergi bersama setelah membereskan dokumen. Aku hanya cemas karena tidak biasanya dia tidak membalas emailku."

Seringai menyebalkan singgah, "Tadi kami mampir ke kafe, tapi dia sudah pulang."

"Kau yakin?"

Asano bukan tipe yang menjawab pertanyaan dua kali.

Kemudian dilihatnya Maehara sibuk mengorek isi tas, mengambil sebuah kertas memo dan mencoret-coret sesuatu dengan bantuan telapak tangannya sebagai alas. Menjulurkan hasilnya dengan gestur memaksa, "Ini alamat emailku, langsung kontak kemari kalau kau bertemu dengannya!"

"Siapa kau berani memerintahku!?" merendahkan suara, Asano merebut kertas dari tangan lawan bicaranya tidak suka, meremasnya tanpa hati, "Yang selama ini kau lakukan hanya mengikatnya lalu mengikutinya kesana-kemari seperti anjing, menjijikkan."

"Apa maksudmu?!" emosi Maehara yang sempat surut kembali menampar urat nadi.

"Aku sudah di depan rumahmu, aku tunggu lima belas menit lagi di pintu masuk, aku tidak melihatmu di gerbang, hari ini pun ayo kita ke atap saat istirahat," diikuti gestur tangan dan bahu mengolok, "Padahal Isogai bilang kalian hanya teman, tidak lebih. Kasihan. Apa kau bertepuk sebelah tangan?"

"Kau... jangan-jangan... menghapus emailku?"

Iris violet membulat kagum, "Tidak kusangka kau lebih cerdas dari perkiraanku,"

BUAGHH

Sebuah pukulan dahsyat mengenai pipi kiri Asano telak, tampak darah mengalir dari ujung bibirnya yang berangsur lebam. Tidak berhenti, Maehara segera menarik paksa kerah korbannya, mengabaikan emblem merah kebanggaan terpelanting mencicipi kerasnya tanah juga kerumunan pedestrian yang kini menjadikan mereka pusat perhatian.

"KALAU TERJADI SESUATU PADA ISOGAI AKU AKAN MEMBUNUHMU, BRENGSEK! INGAT ITU!"


Sebelum Sakura

.

.

.


Chapter 08 : Mariposa


Lehernya sakit.

Itu yang Isogai yakin sebelum pupilnya bersinggungan dengan cahaya, menatap langit-langit asing. Tubuhnya kedinginan karena terbaring begitu saja di atas aspal. Beberapa kali ia terbatuk dan rasa terbakar di pangkal lidahnya tidak kunjung berhenti. Ditambah satu pertanyaan berhasil membuatnya panik; jam berapa sekarang?

"Sudah bangun, manis?"

"...siapa?"

Syukurlah ia masih bisa bersuara di antara perih yang menjadi-jadi.

"Tidak penting. Kami hanya membawamu kemari untuk memancing seseorang."

Kerut alis dari pemilik helai obsidian mulai terbentuk, mencoba mereka ulang macam-macam kejadian sebelum ingatannya mendadak putus. Isogai ingat sekali ia pergi dengan Asano ke sebuah kafe lalu meninggalkannya di tengah acara. Setelahnya ia hendak pulang menuju rumah seperti biasa saat tiga orang menghadangnya untuk mengalihkan perhatian, sementara orang keempat memukul kepalanya dari belakang. Buru-buru Isogai beralih ke posisi duduk sambil memijat daerah tengkuk yang ikut berdenyut pelan.

"Kami melihatmu dengan Asano di kafe, tumben sekali makhluk arogan itu mau bersinggungan dengan..." yang paling besar dan terlihat sangar dari gerombolan berjongkok lalu menarik fabrik kemeja Isogai kasar agar terpaku padanya, mengacuhkan emblem hijau muda perlambangan kasta, "Sampah gedung dua."

"Siapa...?" Isogai mengulang pertanyaan, menyembunyikan ketakutan, "Kalian juga murid Kunugigaoka?"

"Mantan," dijawab terkekeh dari suara berbeda yang kini ikut mendominasi sisi berlawanan, mengunci dagu sang korban supaya menatapnya, "Ketua Osis sialan itu berhasil mengeluarkan kami dari sekolah beberapa bulan lalu karena memergoki kami mengedarkan obat terlarang di gedung satu."

"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Asano. Tolong biarkan aku pergi." pangkal lidah Isogai mulai kesemutan, bukan sebuah pertanda baik.

"Tentu saja. Setelah kau mencicipi ini..." sebuah sachet yang terjepit di antara jempol dan telunjuk menjadi fokus utama.

"Terasaka, apa itu tidak keterlaluan? Dosisnya tinggi, dia bisa mati..."

"Jangan sekaligus... kita lihat sementara reaksinya. kalau bagus, mungkin hasil rekamannya bisa laku di situs populer." ditambah pecah tawa dari mereka yang Isogai tidak mengerti bagian mana lucunya, "Cepat lakukan lalu kirim videonya pada Asano brengsek itu supaya dia datang dan bisa kita bunuh ramai-ramai."

Tubuh kurus itu berontak mati-matian saat seseorang menahan pinggangnya dari belakang sementara satu orang lagi menjejal bubuk pahit ke dalam mulutnya. lidahnya menolak, mencoba memuntahkan semuanya ke lantai. Begitu berulang kali.

"Tidak bisa, dia keras kepala!"

"JANGAN MAIN-MAIN!" tendangan dari ujung sepatu terasaka ke bagian perut membuat Isogai menggeliat hebat menahan nyeri.

Menjambak helai yang segelap bayangan, Terasaka menarik paras manis itu mendekati wajahnya, "Kau pilih menelan ini, atau kami siksa ramai-ramai. Bagaimana?"

Isogai hampir tidak mampu menenggak ludah. Rongga mulutnya kering total dan ia terpaksa bicara melalui desah, "A-asal... kau minumkan lewat..." air mata isogai luruh akhirnya, "...mulutmu."

Sejenak semua yang di ruangan tercengang lalu tertawa terbahak untuk kesekian kali.

"Lihat! Ternyata yang bersama Asano tidak lebih dari pelacur. Apa begini caramu untuk menggoda ketua Osis sialan itu?" Terasaka tertantang memasukkan isi pundi-pundi di tangan ke dalam mulutnya, menarik tengkuk isogai kasar lalu mempertemukan bibir dan lidah mereka segera.

—dan Isogai tidak berpikir dua kali untuk menerimanya dengan rakus.


.

.

From: gakushuuu0902. co. jp

To: maeharahiroto22. co. jp

sent a google map

.

.


Tidak ada yang lebih menyedihkan dari sebuah kaca riben yang dipecah paksa, mengelupas bagian-bagian telapak yang sekarang dihiasi beberapa garis merah panjang dan perih.

"Lepaskan dia, Terasaka."

"Ini hebat! Kau benar-benar datang!"

Tidak terpukau dengan pujian sarkastik, Asano Gakushuu berjalan tenang ke arah segerombolan yang mulai bersiap dengan bermacam senjata—meninggalkan titik-titik darah yang menetes dari buku-buku jari. Sekilas matanya memastikan sosok yang tergeletak tidak jauh masih dalam keadaan tetap bernapas supaya ia bisa beraksi lebih bebas. Entah apa yang sudah terjadi karena pakaian dan rambut Isogai sudah berantakan dan Asano yang mendidih ingin secepatnya melihat lebih jelas.

"Sekarang, aku akan memastikan kalian benar-benar dipenjara."

"Coba saja, sialan!"

Asano berlari cekatan ke arah pintu, memancing anak buah Terasaka mengejarnya sebelum membuat mereka roboh dengan tendangan beruntun. Jarang berlatih fisik akhir-akhir ini karena fokus pada masalah Osis tidak membuat performanya menurun. Motoriknya masih mengingat dengan baik cara menghindar dan menepis ketika ada elemen berbahaya mengarah padanya. Sepertinya mereka lupa kalau mantan ketua Osis Kunugigaoka tidak hanya sempurna fisik, pengetahuan bidang musik, maupun urusan akademik.

Tiga berhasil tumbang, Asano sedikit mencuri oksigen.

"Khh!"

Lengah. Asano mengumpat mendapati tendangan keras Terasaka diterima telak di area rusuk.

Terasaka terbahak puas melihat Asano berhasil terjungkal ke tanah, "Refleksmu jadi kurang bagus. Apa anak IPS itu berarti sekali bagimu?" tanpa ampun Kepala Asano diinjak bertubi-tubi, menghasilkan darah segar mengalir melalui pelipis.

"BEDEBAH!"

Mengambil momen Terasaka melancarkan serangannya lagi, Asano meraih pergelangan kaki itu untuk diputar dan dibanting sekuatnya ke level pandang terbawah. Belum sempat menjerit kesakitan, remaja itu memiting area tangan dan leher lawan dalam posisi yang tidak menyenangkan. Sakit yang luar biasa membuat Terasaka lambat laun hilang kesadaran dan pingsan.

Tidak memedulikan pekat merah di wajahnya yang masih jatuh, Asano segera meraih Isogai yang tergeletak tak berdaya ke dalam tangannya. Menyapu sisa-sisa liur dan cairan lengket di sekitar bibir anak itu dengan sapu tangan miliknya sembari menunggu pertolongan datang. Bahkan di dalam sebuah pelukan, Isogai terlihat begitu rapuh dan menyedihkan.

Asano berupaya mengumandangkan bisik sembari menggigit bibir,

"Maafkan aku..."


To be continued...

.

.

.

A/N:
Bisa ditebaklah ya tiga member lain yang bareng sama Terasaka siapa aja. Yah, pokoknya mereka #SIAPAAAA
Dan maafkan karena Terasaka jadi antagonis di sini. Author sendiri doyan TeraIso kok, gak maksud bashing :')

Sama mau bilang makasih banyak buat semua yg udah dukung sejauh ini, baik yang terlihat maupun yang klenik (?)
Ketemu lagi RABU depan yaaa,

R&R Maybe C: