"Isogai..."

Sapaan itu alhasil membebaskan pasang iris cerah yang sekian lama bersembunyi di balik pelupuk. Memandang langit-langit bersih sejenak sembari mengumpulkan kesadaran, menangkap derik sendi-sendinya sendiri tatkala meneleng lemah—menyapu paras kacau dengan kantung mata mencolok yang terpapar jelas.

"Maehara...? Ini..."

"Rumah sakit." belaian menenangkan, memindahkan gerai poni sewarna bulu gagak yang mengganggu ke arah samping, "Kau sempat tidak sadar dua hari."

Isogai belum bergerak banyak, hanya bisa merasakan pegal karena pergelangan kirinya terjejal infus. Ditambah perasaan mual jika mengingat apa yang sudah terjadi padanya yang hanya bisa dipendam dibalik paksaan senyum. Setelah sahabatnya pergi nanti, ia bersumpah akan menghiasi ubin dengan seluruh isi perutnya.

"...kau yang menolongku?"

Maehara terpaksa menekan senyum. Karena pertanyaan itu menuntutnya kembali pada sebuah memori ketika Asano mengirim email berisikan sebuah lokasi padanya. Kemudian ia seperti kesetanan ketika berlari menuju tempat yang tertera pada layar ponsel,

—untuk sampai ke sebuah bangunan terbuang yang menimbun bahan-bahan bangunan, juga segelintir remaja sebaya terlihat tumbang sambil mengerang. Dengan Isogai di dalam pelukan Asano, Maehara menganalogikan semua perspektif sebagai adegan klimaks sebuah film laga, di mana sang pemeran utama berhasil membebaskan sang pujaan dari kuasa tangan jahat. Oranye itu tertawa kecut. Menyesali kenapa bukan dirinya yang beruntung mengisi posisi tersebut.

Setan apapun yang merasuk ke dalam Maehara sekarang berhasil membuat kepalanya mengangguk, "Aku yang menolongmu..."

"Aku sudah menduganya... terima kasih..."

Senyum polos yang terbit lagi seperti biasa bukan membuatnya lega, malah terlanjur menyayat nurani. Maehara bersumpah akan membayar kebohongannya suatu saat nanti.

"Jangan membuatku khawatir lagi. Jangan menjauh lagi..." Maehara membenamkan kepala di leher sahabat tercinta, mungkin gagal menahan afeksi bermuara air mata.

"—menciummu seumur hidup juga tidak masalah. Berjanjilah jangan pernah menghilang lagi."


Sebelum Sakura

.

.

.


Chapter 07 : Cantaloupe


"Hari ini pun tetap tidak bersemangat, eh? Memikirkan si rambut bertunas?"

Tidak bergerak dari posisinya yang sedari tadi menandatangani berkas di atas meja, Asano terkekeh nyeri menyadari dirinya kembali menjadi korban regulasi bakat cenayang alami ketua kelas B. Helai strawberry blonde itu baru terangkat dua setengah menit sesudahnya, menatap iris mercury cerah.

"Terima kasih, Akabane."

Merahnya miring sedikit, kurang begitu paham.

"—karena berkatmu, aku tahu lebih dulu siapa lawanku dan bisa mempersiapkan mental sebelum menghajar mereka semua."

"Hanya kebetulan mata canggihku melihat sekumpulan yang sangat dikenal sedang memapah malaikat nyasar di pinggir jalan." kali ini tidak ada teguran berarti saat dua tungkai jenjang Karma kembali menginvasi permukaan dipan. Mungkin juga diiringi raut wajah penyesalan.

"Terasaka dan geng-nya pasti sudah bersantai di penjara." Takebayashi ikut menyela puas dari balik komputer, "Video menjijikkan yang dikirim ke ponsel Asano sudah sangat cukup untuk menjadi bukti kuat."

"Belum. Gosipnya mereka baru sekedar diinterogasi. Lagipula anak di bawah umur tidak akan dipenjara, hanya dikirim ke tahanan anak nakal." dari arah pojok, ada biru menjelaskan detil bersama dengan buku catatan lengkap di kedua tangan.

"SHIOTAAA!? Kenapa ada di sini?"

"Keterlaluan, Akabane! Sebagai ketua kelas C, aku juga berhak membantu mantan Osis lain!" ujung mulut si mungil bermodel rambut twintail mengerucut kesal, diiringi pose berkacak pinggang, "Walau tidak bisa menyumbang tenaga terlalu total, aku juga akan berusaha membantu sebisaku."

"Bukan begitu... aku hanya kaget. Wow."

"Sepertinya kekagetanmu ada terselip makna lain."

"Kalian berdua! Tolong biarkan aku mengetik dengan tenang!"

Terdistraksi dari ribut-ribut satu ruangan, Asano merestorasi pandangannya pada sofa di depan jalur mata yang tetap kosong. Menengadah beberapa kalipun hasilnya tetap sama; tidak ada Isogai yang biasa duduk menemaninya di sana. Bagian-bagian pelipis dan pipi yang masih dihinggapi plester luka akibat pukulan Maehara dan tendangan Terasaka diusap lagi, memanggil ulang denyut perih.

Asano Gakushuu adalah abstraksi yang sangat posesif dan egois.

Karenanya tidak boleh ada yang menyentuh mainannya, apapun yang digugat sebagai miliknya, bahkan hanya untuk sekedar memandang pun ia harus berpikir ulang untuk memberi ijin dengan rela. Tapi kali ini berbeda. Mainannya dirusak di depan mata dan ia hampir tidak bisa berbuat apa-apa, sepintas geram hampir saja merajalela andai saja—

"Asano! Jangan melamun... tanda tanganmu kepanjangan."

Lonjakan singkat untuk menyaksikan semua kata-kata Karma yang tidak terbukti di dunia nyata. Si merah terbahak puas, melepaskan kebahagiaan dirinya melihat reaksi Asano yang terlalu di luar dugaan. Takebayashi mau tidak mau ikut tergelak walau dipaksakan, kacamatanya hampir tenggelam dalam kerutan pangkal hidung, membuat Asano mendecih terang-terangan.

Hanya tiga dari empat yang tenggelam dalam situasi.

Sebab biru yang terjebak dalam ajang keributan malah sibuk terpaku, menatap dia yang masih ramai tertawa geli.


.

.


Sekuntum bunga dengan buket putih di tangan kanan. Sementara tangan yang lainnya membawa keranjang mungil buah-buahan, termasuk seonggok melon jingga mahal kesukaan.

Asano tidak mengerti kenapa ia harus repot-repot menjenguk Isogai dan bukannya menunggunya hingga sembuh lalu meneruskan sesi perbudakan seperti minggu-minggu terakhir. Kepalanya mengingat mundur klausa cerca Terasaka padanya yang paling membekas.

Sejujurnya sang ketua Osis sendiri tidak paham dengan apa yang berubah dalam dirinya. Ia bukan tipe galau yang terlalu sering berpikir terperinci, khususnya hal yang bersinggungan dengan perasaan hati. Mungkin benar kalau ketua kelas E itu mulai mengisi apa yang selama ini sempat kosong dalam alur kehidupan bak metronom ketukan jari.

"Jangan diteruskan..."

Jelas itu bukan suara pasien. Terlihat sekilas dari balik pintu, Maehara sedang berdiri, tepat di sebelah Isogai yang tengah berbaring lemah. Tangan mereka menangkup satu sama lain mesra, menimbulkan denyut aneh pada salah satu bagian dada Asano. Seperti marah namun lebih menyakitkan, ia sendiri tidak mengerti. Memutuskan memantau keadaan sejenak, Asano menyandarkan punggung di balik dinding, mendengarkan percakapan yang teresonansi cukup jelas akibat suasana yang terlampau sepi.

Bibir angkuh itu merekah lagi mengingat ini bukan kali pertama dirinya melakukan hal sama—mencuri dengar pembicaraan dua sahabat penuh romansa. Sulit dipercaya titel mereka hanya sebatas sahabat jika berkali-kali memergoki aksi ambigu lain yang terlalu nyata.

"Doakan saja aku masih bernyawa sampai kita lulus."

Mata Asano membelalak lebar di titik ini.

"Hentikan." Maehara mengencangkan tangkupan tangan, membawa jari-jari mungil sahabatnya dalam dekapan dada yang seakan perih tersakiti, "Kau akan tetap hidup, Isogai. Hentikan bicara seperti itu, sama sekali tidak lucu..."

"Kalau begitu, ijinkan aku tidur..."


.

.

Apa anak IPS itu berarti sekali bagimu?


To be continued...

.

.

.

A/N:
Ngomong2, buket yang dibawa Asano terinspirasi dari fic 'Pertemuan Tengah Bolong' karya Fvvn (Pair Asa(sr)Iso)
dan sekaligus rasa terima kasih karena itu fic asupan OTP untuk pertama kali buat author di FAKI *pelukin kembaran*

Sampai jumpa RABU depan untuk apdet selanjutnya~ ;3

R&R Maybe? C: