"Xerostomia?"

Sepucat dinding yang membalut keseluruhan ruangan, selaras itu pula wajah Asano sekarang. Matanya memandang hasil x-ray dengan mata terbelalak, tangan terkepal gerah. Sementara di satu bentangan sama, pria berumur empat puluhan awal berbalut jas lab menunjuk bagian-bagian tertentu dengan pointer laser.

"Bentuk lain dari kanker tiroid. Menyerang kepala leher dan organ telan sehingga fungsi saliva menurun."

Berkacak pinggang tidak sabar, "Bisa langsung ke penjabaran intinya, Ayah?"

"Kau ini calon dokter tapi mendengar penjelasan mudah begini saja tidak mau." Asano muda kalah total, "Pasang telingamu baik-baik!"

Mengeringkan kerongkongannya sebentar, pria itu melanjutkan.

"Walau pasien Xerostomia kehilangan immunoprotein aktif yang merupakan komponen dari sekresi, penyakit ini tidak menular. Untungnya. Dan tidak serta merta berpengaruh pada ketahanan tubuh, hanya—"

"Hanya?"

Delik singkat yang membungkam Asano Gakushuu sekali lagi.

"Saat saliva dalam rongga mulut kehilangan proses asam di titik tertentu, dia membutuhkan bantuan serum berupa xylitol sebagai pengganti lubrikasi." tidak mendengar sanggahan selama jeda, yang profesional kembali bersuara, "Awalnya aktif beberapa bulan sekali dan masih mudah ditangani, tapi semakin lama temponya semakin cepat. Bisa sampai hitungan minggu bahkan hitungan jam. Suplai air liur yang ditawarkan juga harus semakin banyak."

"Jadi karena itu Maehara menciumnya... sebagai upaya transfer air liur?" ujung kuku ibu jarinya digigit keras selama Asano bergumam untuk dirinya sendiri.

"Telat penanganan sedetik saja akan berakibat fatal pada nyawanya. Dampaknya persis seperti penyakit jantung koroner."

Peluh melewati dagu yang remaja, "Apa... tidak ada cara menolongnya?"

"Bedah. Kemoterapi. Radioterapi. Tapi karena kasusnya termasuk langka, aku belum mendapat ijin untuk melakukan operasi..." desah kecewa, "Tidak, sampai disertasiku melewati tahap uji kelayakan."

"Akankah sukses 100%? Tidak ada efek samping?"

"Setelah operasi, kemungkinannya dia akan kesulitan bicara..."

Strawberry blonde ingin menutup pasang telinganya rapat-rapat. Menyesal telah bertanya.

"...karena akan ada alat yang ditanam sebagai pengganti lidahnya."


Sebelum Sakura

.

.

.


Chapter 06 : Forthright


"Hei... Isogai." sejenak napas, "Ada tempat yang ingin kau kunjungi sebelum lulus?"

"Uh? Kenapa tiba-tiba?"

Lamunan Isogai pecah. Tidak sepenuhnya berkhayal, tapi harum cinnamon dari gelas kaca, empuknya sofa, serta ketuk hujan lebat di ambang jendela hampir merenggut kesadarannya. Benar-benar suasana yang pas untuk beristirahat nyaman di balik selimut hangat. Bahwasanya akhir-akhir ini Takebayashi lebih banyak mengurus keperluan pra wisuda di ruang guru, tabuh keyboard komputer harus absen menemani kegiatan dua adam yang paling rajin bertatap muka di ruangan sama.

"Minggu depan aku dapat SIM. Kupikir ini kesempatan bagus untuk membawa motor baruku berjalan-jalan."

"Loh? Usia Asano delapan belas tahun?" antena Isogai mencuat kaget, "Kukira kita seumur!"

"Aku bersekolah di Amerika sebelum pindah kemari lalu masuk SMP. Satu tahunku terbuang percuma untuk belajar bahasa."

"...luar biasa."

Pujian spontan dari mulut bersangkutan membuat Asano sedikitnya berbunga-bunga, "Jadi kau mau ke mana? Taman bermain atau apa?"

Sebagian besar murid Kunugigaoka akan menganggap Isogai sangat beruntung. Menjadi anak IPS yang sedang dimanja di kawasan gedung satu kemudian mendapat servis visual terbanyak bersama sang mantan ketua Osis pujaan, mereka yang lahir dari tulang rusuk akan bersedia melakukan apapun untuk bertukar peran. Tapi untuk ketua kelas E, ada sesuatu lebih berharga daripada hal-hal sekuler bersifat temporer. Sesungguhnya ialah yang rela melakukan apapun untuk bertukar nasib dengan mereka yang sanggup berlari bebas di luar sana tanpa kewajiban memasukkan jarum suntik ke dalam urat nadi secara berkala.

Ada senyum perlahan luntur, kembali pada kenyataan, "Tidak usah. Aku tidak ada waktu..."

"Kalau begitu beri aku waktumu! Aku yang memaksa kali ini."

Hampir dua setengah menit namun yang terdengar hanya deru tetes hujan berkala diiringi melodi petir menggema.

"...aku ingin ke rumah Asano."

Lawan bicaranya mengerjap.

"Kau memang minta diserang, ya?"

"A-apa maksudnya itu!?" darah dengan cepat berkumpul di pipi kenyal, merambat hingga punggung telinga si surai legam, "Aku tidak pernah bermain ke rumah teman selain rumah Maehara, itupun karena rumah kami bersebelahan. Kalau boleh, aku ingin punya pengalaman main ke rumah teman sekali-kali. Makan kue, baca komik, berbincang sambil bersantai..."

Sederhana. Itu ciri terutama dari seorang Isogai yang langsung ditangkap Asano. Tidak ada aji mumpung dalam tiap pintanya, tidak ada yang memberatkan dalam lantun ucapnya, dan tidak pernah ada sirat egois dalam segenap putusnya. Ada rasa malu mengalir dalam diri yang serba ada karena pernah mencoba mempermainkan entitas sebaya. Isogai Yuuma bukanlah lagi seonggok mainan, sosok itu telah bertransformasi menjadi malaikat yang mengubah hidupnya secara luar biasa.

Sedikit tekanan di ujung jari pada kertas yang tengah dipegangnya, menambah level rona di seputaran muka.

"Hei Isogai, kau tahu? Kurasa... aku sudah menyukaimu..."

Isogai mencoba mengerjap tenang, "Apa?"

"Kuralat. Aku mencintaimu."


.

.

[ Aku mencintaimu. ]


Isogai memasuki kamarnya tergesa-gesa. Tidak ada yang mengejarnya, tapi napasnya memburu, cepat dan panas. Tubuhnya merosot di balik pintu dengan paras terbakar hebat, menyadari segala darah dan sisa tenaga berpindah pada setiap buku jari yang tengah mengepal keras.

Marah. Isogai benar-benar marah.

Ingatkan bagaimana usahanya untuk tidak menangis atau berteriak ketika harus kembali bertatap muka dengan ketua kelas A setelah berbagai kasus yang membuatnya merasa hina bahkan mengecap pengalaman paling buruk. Kepalanya ditenggelamkan di dalam lipatan tangan, berbantalkan tempurung lutut. Segala pikirannya kacau balau karena insan bedebah bernama; Asano. Asano. Asano.

"Apa-apaan dia... sialan..."

Isogai merasa sangat tersiksa karena tidak tahu bagian mana dari tubuhnya yang gatal sementara ada seluk beluk sendi-sendinya memohon digaruk paksa. Remaja itu harusnya merasa jijik karena ia yakin sekali tidak memiliki bibit menyimpang. Bahkan seharusnya ia bisa tertawa keras tepat di muka strawberry blonde yang—entah serius atau masih mempermainkannya—termakan ucapannya sendiri. Sebuah balasan manis atas sakit hati dan pelecehan yang telah diterimanya sebelumnya.

Tersentak, pemilik helai obsidian itu keluar dari persembunyian ketika mendengar suara bel rumahnya berbunyi nyaring. Tergesa-gesa membuka pintu rumahnya untuk melihat sosok yang di kenalnya berdiri di hadapannya dengan napas terengah-engah. Sepertinya ia baru saja selesai berlari entah darimana.

"Maehara!?"

Yang membuat Isogai tidak kalah panik bukan karena kedatangan sahabatnya malam-malam di tengah hujan lebat, tapi karena sosok itu terbilas dari atas sampai bawah, tidak berbeda dengan daun-daun pepohonan di luar sana.

"Kenapa kau hujan-hujanan! Ayo masuk dulu, keringkan badanmu!"

"Aku baru putus."

Aksi Isogai melambat. Seakan ada jeriji lembab sang sahabat berhasil menggamit paksa pergelangan tangannya tak kasat mata sehingga kakinya gagal melangkah lebih jauh.

"—Ternyata tidak bisa, selama ini memang hanya kamu..."

Memutar badan, mulutnya berucap cemas, "Maehara, kita bisa teruskan bicaranya di dalam. Ayo, sebelum kau sakit!"

"DENGARKAN AKU! Dengarkan... kumohon..."

Meski intonasinya memaksa, nadanya terlalu lembut. Ada rasa sakit ikut bercampur di dalamnya

"Maehara..." Isogai hanya sanggup mematung dikelilingi derasnya bunyi hujan juga memandang raga sahabatnya yang semakin basah. Tubuhnya berjuang untuk tidak roboh di tempat ketika mendengar kelanjutannya, terutama ketika keemasan yang selalu dipandangnya bertahun-tahun mulai berubah bentuk—memancarkan sorot yang sulit dipahami maknanya.

"Aku mencintaimu Isogai."


.

.

[ Aku mencintaimu. ]


To be continued...

.

.

.

A/N:
SELAMAT ULANG TAHUN UNTUK SALAH SATU BANGSATSU TERCINTA; ZEFACCHI~ xDDD
Makasih udah mau direcokin (?) sama kami-kami... juga makasih untuk segala asupannya.
Wish U all the best, pokoknya! Tetaplah bertahta dan jaya sebagai mahadewi NTR di FAKI! #yha

Untuk pembaca sekalian, kita ketemu lagi di jadwal yang sama alias RABU depan, ya!

R&R Maybe? C: