"Tumben datang cepat."

Disapa frontal, pertama-tama Karma membalas biru itu nonverbal melalui jari-jarinya yang teracung di sisi pelipis.

"Yo, Shiota."

Pintu ruang Osis terbuka, membiarkan dua pasang kaki bergesekan dengan tegel licin bermerek ternama. Karma menghempas punggung ke sofa seenaknya sementara Nagisa beringsut memeriksa beberapa pengumuman yang tertempel di white board.

"Aku akan mencatat pekerjaan hari ini dan mengerjakannya di rumah. Kuberi tanda juga supaya Asano tahu bagian mana yang akan kukerjakan." seperti kebiasaannya, sang ketua kelas C asik menyalin apa yang dibutuhkan ke dalam notes di tangan.

"Kenapa kau memaksakan diri untuk ikut jadi pembina? Jelas-jelas nilaimu hancur lebur... apa kabar ujian kelulusan minggu depan?"

Terganggu sindiran menusuk, Nagisa meringis kecut.

"Aku... punya alasan sendiri."

"Oh, ya? Apa?"

Karma adalah orang yang gampang terpancing oleh rasa penasaran, Nagisa sudah hapal mati tanpa perlu lagi membuka halaman dua belas dari buku saku miliknya. Tapi kepalanya hanya menggeleng untuk menjawab, meredam segala bentuk pertanyaan dengan sikap defensif.

"Baiklah. Asano tidak ada hari ini, aku juga mau pulang," mulutnya menguap panjang. Seperti tidak tertarik lagi menunggu jawaban dari lawan bicara. Hanya satu hal yang belum diketahui Nagisa; apakah sang ketua kelas B termasuk yang gampang bosan atau terbilang pengertian karena setiap aksinya lebih sering menciptakan rasa heran.

Atau mungkin itulah magnetnya.

"Akabane," kaki yang menjauh berhenti. Kepalanya menoleh, "Kau selalu melihat Asano, ya..."

Falu—merah karat mengangguk-angguk afirmatif.

"Tentu saja, dia kan leader kita. Memangnya kau tidak?"

Gelengan samar lagi-lagi menjadi jawaban, juga nada serupa bisik yang tidak luput dari telinga Akabane muda, "Selama ini aku hanya melihat ke arahmu..."

Berusaha sekeras apapun untuk bersembunyi, kelir padat di tengah aquamarine memang terlalu mencolok, Nagisa lebih memilih menundukkan kepalanya dalam alih-alih beradu pandang. Saat keadaan berbalik—bahwa kini gilirannya yang harus menunggu jawaban—detak jantungnya mengetuk keras mengalahkan derit kusen karena angin tengah berusaha meringsek dari kisi jendela.

"Sebaiknya kau hentikan. Arah pandangku saat ini belum mau berubah."

Hanya sakit. Nagisa terus menatap lantai bahkan ketika punggung itu berbalik, menghilang di seberang pintu yang tertutup.


Sebelum Sakura

.

.

.


Chapter 05 : Trignal


Pagi itu tidak berbeda, dua sahabat berbeda gradasi mahkota berangkat menuju sekolah bersama seperti kebiasaannya. Yang mencolok mungkin hanya arah pandang mereka; satu ke kiri, satu ke kanan. Seperti akan ada musibah terjadi jikalau pasang manik yang ada bertabrakan satu dengan lainnya.

"Isogai..."

Maehara menyalurkan desis canggung.

"—Kau masih marah?"

Dengus kesal tanpa bubuhan vokal yang terdengar sudah lebih dari cukup sebagai jawaban.

"—Ternyata memang marah, ya..."

Riam bulir transparan yang menghujam bumi semalam membuat jalanan kotor dan licin. Tapak-tapak kecil mereka baik di ujung kaki maupun lidah tidak setajam hari-hari biasa, malah cenderung berhati-hati. Tidak ada dari keduanya membahas pengakuan heroik ala Maehara di malam sebelumnya seakan hujan berhasil mengelabui memori.

"Tentu saja aku marah! Lihat siapa yang sekarang akhirnya kena flu dan harus membungkus mulutnya dengan masker!"

"Akui saja, kau kecewa karena aku tidak bisa menciummu hari ini." serangan ala casanova dimulai lagi, sebuah kepura-puraan untuk memperbaiki melodi yang tengah timpang. Seringai lebar tetap dipaksakan di balik masker abu-abu dengan hias tengkorak mencolok.

Isogai makin gencar membuang muka padanya yang telah berani jujur mengungkapkan pendam rasa, "Siapa yang mau mencium orang sakit?! Lebih baik dicium kambing."

Ah, hati Maehara tersangkut di sawah. Siapa yang tidak tersinggung jika disamakan dengan hewan ternak berkaki empat. Tapi kesalahan kali ini murni karena kebodohannya, jadi Maehara hanya mengerucutkan bibir sembari menendang-nendang kerikil yang ditemui ujung sepatunya.

"Kalau Asano?"

Bunyi sepasang tapak kaki berhenti. Milik Isogai.

"Kalau Asano yang menawarkan. Apa kau akan menciumnya?"

Si rambut obsidian terhenyak. Hanya bisu sebagai jawaban.

Sementara Maehara menulikan diri, tidak mampu melihat lubang yang baru saja ia gali sendiri. Dua penyandang cacat mencoba beradu hanya membuat suasana semakin buruk, ia sangat memahami. Sehingga kakinya memutuskan mempercepat langkah, meninggalkan sahabatnya semakin jauh di balik punggung yang merangkul ironi.


.

.


Isogai memaksakan senyum melihat Asano tengah melipat tangan dan bersandar di dinding, tepat ketika ia baru saja kembali dari toilet dengan bebat adesif menutup lipatan di balik siku.

"Kau mulai sering menggunakan serumnya akhir-akhir ini."

"Entahlah... akhir-akhir ini pangkal lidahku cepat gatal," disusul bunyi kaget, "E-ehh? KENAPA KAU TAHU?"

"Lamban sekali?! Atau anak IPS memang tidak diberkahi otak yang layak?" sarkasme lancang berbau hirarki memang sudah menjadi kebiasaannya, tanpa peduli bahwa anak buah dadakannya berkubang dalam jurang yang sama.

"Kenapa... kau tahu, Asano?" panik terlanjur mengerogoti permukaan pori-pori. Pada dasarnya, Maehara seharusnya menjadi satu-satunya murid yang mengetahui penyakit yang ia derita, sehebat apapun jaringan informasi sang ketua Osis. Tubuh Isogai gagal mengikuti kata hati untuk lari, karena ia menolak beranjak saat Asano berjalan santai memasuki wilayahnya yang terlalu pribadi dengan harapan mendapat jawaban pemuas hati. Mungkin saat ini mereka hanya berjarak enam puluh puluh senti.

"Wajar saja, kan? Karena ayahku yang selama ini menangani penyakitmu."

"Eh? Dokter Asano? Ahh! Ja-jadi itu alasan nama keluarga kalian sama?!" Asano ingin sekali menepuk dahi mendengar komentar polos makhluk di hadapannya, "T-tunggu, jangan terlalu dekat!"

Empat puluh.

"Hei, Isogai. Tinggalkan Maehara..." ada ungu berkilat terang, mencari celah tepat untuk menundukkan mangsa, "Kalau hanya air liur, aku juga bisa memberikannya..."

Dua puluh.

"Sebentar, Asano... apa maksudmu? Lagipula aku baru memakai serum—ASANO!"

Ckrek.

"Asano, kau dipanggil wali kelas."

Tepat sekali ketika Karma menerobos masuk ke dalam ruang Osis dan Asano belum sempat melancarkan aksinya lebih jauh. Syukur babak dua, ketua kelas berkelakuan buruk itu tidak menendang pintunya kali ini.

"Biasakan mengetuk dulu sebelum masuk, Akabane?!" Asano bertitah jengkel.

"Simpan dulu kotbahmu. Cepatlah, beliau menunggu!"

Mungkin Asano sekalian bertekad mengutarakan keluhan agar kunci ruang Osis diganti dengan gembok tebal atau sensor retina. Sambil mendecih terang-terangan, pintu ditutup keras dan hening menyapa dua obyek tersisa yang berdiri mematung. Merah kemudian tersenyum pada hitam yang gugup.

"A-ada apa melihatku seperti itu?" Isogai berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, walau berakhir sia-sia. Gelagatnya yang emosionil dengan muka semakin merona menjelaskan semuanya, berhasil menyakiti hati insan yang lainnya.

"Hanya menebak bagian mana darimu yang sangat disukai oleh Asano yang tidak ada padaku."

Warna kulit apel merambat hingga daun telinga, "Kurasa kau salah paham, Akabane. Maaf, aku permisi dulu!"

Sekali lagi pintu dibuka. Memperlihatkan punggung mungil yang segera lenyap di baliknya sebagai saksi bisu, bahwa Akabane Karma tengah berjuang menahan geram pun permata bening di sudut-sudut matanya.


To be continued...

.

.

.

A/N:
Mau lempar piring banyak-banyak soalnya chapter ini sempet kedelet dan terpaksa ditulis ulang dari awal O)—(
Tapi mau bilang MAKASIH BANYAK untuk semua yang udah review dan senggol2 azeek di PM. Maaf ada beberapa yang belum kenotis karena author masih dalam masa ujian. Hutang review pun mendadak numpuk, diusahain ngeberesin semuanya di akhir bulan ini deh #lelah

Sampai jumpa Rabu depan, everyoneee~!

R&R Maybe? C: