Gasolin masih tersisa seperempat di dalam tangki sehingga jalan yang diambilnya sengaja diputar jauh—menantang tampar angin juga dedaunan dari pohon yang bergerak mundur. Dari spion motornya, Asano bisa melihat pelupuk Isogai mengatup erat ketakutan—berbanding lurus dengan tangan yang memeluk daerah perutnya kencang, hampir membuatnya sesak napas.
"Buka matamu, Isogai. Pemandangannya sangat luar biasa!"
"INI GILA! TURUNKAN KECEPATANMU, ASANOOO!"
Menolak mendengar, sang pengemudi menyeringai puas di balik visor gelapnya, "Gila? Menurutku ini asik!"
"TIDAK MAUUU! AKU BELUM MAU MATI!"
Aku belum mau mati.
Sepasang violet segera memancarkan teduh, "Kalimat yang bagus..."
.
.
Tangan kanan Asano memutar handle gas lebih dalam.
Sebelum Sakura
.
.
.
Chapter 04 : Hornswoggle
"Maaf... a-aku akan mengganggu... hh,"
Mengetahui nyawanya sudah lepas dari marabahaya, Isogai bernapas lega. Disusul tawa kecil Asano saat memperhatikan lutut ketua kelas E yang masih gemetar ketika berjuang melepas alas kaki di genkan*. Setelah mengganti dengan sandal yang tersedia, keduanya menyusuri area lorong cukup panjang karena kamar Asano berada di bagian ujung.
"Sudah pulang, Gakushuu? Memang sekolah sudah selesai?"
Dari balik pintu ruang kerja, seorang pria paruh baya menegur. Isogai yang sudah hitungan minggu mengenal baik identitas sang tuan rumah segera membungkukkan badan untuk menyapa, "Selamat siang, Dokter Gakuhou."
Asano muda mengerutkan alis.
"Oh, Yuuma. Apa kabar?!"
Kerutan tahap dua.
"Sangat baik. Maaf bertamu mendadak tanpa oleh-oleh, saya bahkan akan merepotkan hari ini."
"Tidak perlu sungkan. Melihatmu sehat saja sudah menjadi oleh-oleh luar biasa." tangan kekar itu mengoyak gemas pucuk di kepala Isogai yang tersenyum riang dengan muka bersemu. Ditambah sedikit basa-basi yang melibatkan istilah medis dan beberapa judul antibiotik yang sanggup membuat lidah tergigit, dunia mereka berdua lamat-lamat bagai terbungkus kosakata histopatologik.
Maaf saja, Asano tidak sudi menjadi kacang di sini, sehingga ia segera menarik pergelangan tangan si rambut obsidian dan menyeretnya setelah sekilas berpamitan.
"Sejak kapan kau dan ayahku saling memanggil nama kecil?" Asano menutup pintu di belakang punggung sekenanya.
"Asano, kamarmu Luar biasa rapih dan bersih... aku seperti tidak bisa menemukan debu sedikitpun..."
Mata itu berbinar melihat ruangan luas dengan beragam benda unik bertebaran, tidak fokus lagi pada alat pendengaran. Asano cukup bersyukur Isogai mengabaikan (tanpa sengaja) pertanyaan spontannya yang tergolong ganjil, bahkan sekali lagi ia ikut menikmati pancar reaksi unik dari yang bertamu. Niatnya mengambil minuman dan makanan ringan bahkan harus tertunda sampai Isogai selesai menjelajah isi kamarnya persis seperti kucing yang baru diajak mencicipi tempat tinggal baru.
Kaki Isogai bergerak sedikit demi sedikit, menghindari niatnya untuk menerobos privasi. Hingga matanya berhenti pada sebuah pigura indah yang mencolok karena menjulang sendirian di tengah meja belajar.
"Ini foto ibumu? Beliau..."
Asano sangat paham nada gantung yang dibunyikan Isogai dan melanjutkan fakta, "Sudah meninggal."
"Oh... b-bukan maksudku,"
"Tidak apa-apa... dia pasti senang aku akhirnya berhasil membawa teman ke rumah."
"Jadi ini juga pertama kali ada teman yang pernah menginjak kamarmu? Berarti kita sama-sama pertama, ya." kalimat polos itu disambut senyum terbaik.
Isogai mengedik pada Asano sekilas sembari menjulurkan tangan, memberanikan diri menyentuh horison pigura yang permukaanya ternyata dipenuhi ukiran. Menyadari tidak ada protes menyambut, remaja itu mengangkat benda di tangan untuk meninjau isinya lebih jelas.
"Kalau boleh tahu, beliau sakit apa...?"
"Kanker pita suara... sampai menjelang kepergiannya, dia gagal menyebut namaku."
Mahkota yang legam menunduk dalam, memperhatikan foto seorang wanita cantik dengan potongan rambut sebahu. Sapuannya stroberi kemerahan, lebih gelap daripada Gakushuu sendiri yang tergolong pucat. Lima huruf yang diyakini sebagai namanya terpatri jelas di sisi bingkai tersebut.
Tepukan di bahunya meminta perhatian, membuatnya segera memandang ungu yang menghisap, seakan mengajaknya bertualang ke lubang dimensi tak berpenghuni. Tanpa meminta ijin, Asano menarik tengkuk tamunya, mengecup kening remaja itu dari balik gerai poni. Yang memisahkan mereka hanyalah sebuah pigura tipis sang ibu di genggaman Isogai.
"Berjanjilah. Saat menghembuskan napas terakhirmu, sebutlah namaku."
Ada pekat menjalari kedua pipi, "M-maksudnya...?"
Isogai tidak bisa berkutik ketika bibir di seberang lancang berpindah, menyapa labium miliknya. Berbeda dengan kasus ciuman pertama, Asano menempelkannya lembut dan perlahan. Tidak ada yang bersuara setelah itu. Yang ada hanya desah napas terputus dan decak dari dua lidah yang saling beradu.
.
.
[ Saat kau punya seribu alasan untuk meninggalkanku, aku akan memperjuangkan satu alasan untuk mempertahankanmu. ]
.
.
Isogai tidak ingat kapan melihat—apa yang disebut dengan—neraka.
Mungkin saat itu, suatu hari di mana rongga mulutnya mendadak sakit dan menangis hebat ketika dokter menyisipkan fiberscope ke dalam tubuhnya kemudian memvonis penyakit luar biasa yang dideritanya. Dari sejak saat itu Isogai menjadi lebih sering menangis.
"Anak laki-laki harus kuat!" hingga setibanya tetangga baru bersurai serupa senja, menasihatinya sok tahu di tengah isaknya kala ia menduduki ayunan sendirian di hari pertama kakinya menginjak sekolah menengah pertama. "Memang kenapa kalau kau tidak punya air liur? Aku punya banyak, sini kubagi untukmu! Gratis!"
Dan itulah ciuman pertama mereka.
Maehara Hiroto, tidak pernah meninggalkannya Isogai Yuuma sejak saat itu.
Intermitten bergeser menjadi kontinyu. Sebanyak kebutuhan injeksi ke dalam intravena, sebanyak itu pula sosok terang berhasil hadir melindungi bayangan. Membuat yang hampir kehilangan harapan memperoleh tempat berlindung aman.
Nyaman.
Namun ketika menampakkan iris keemasannya perlahan, Isogai tidak melihat pijar lembayung yang selama ini menaunginya. Bukan almond, tapi violet. Bahkan Isogai tidak ingat sejak kapan ia terjebak dalam posisi berbaring dengan tangannya sedang melingkar di leher seseorang.
"Asano... Gakushuu?"
Nama itu lolos hanya untuk memastikan, seandainya remaja sepantaran berjarak beberapa senti dari mukanya hanyalah ilusi semata. Mulutnya dipagut lagi, menerima kucuran cairan yang sengaja diberikan untuknya, ditelan seluruhnya dengan senang hati tanpa meninggalkan sisa.
"Isogai... Yuuma,"
Merasakan jemari sang helai pucat yang awalnya menjelajah seputaran rambut dan leher turun ke bagian dada, lalu ke daerah perut. Mungkin lebih bawah lagi ketika ia mengerang geli.
"Asano aku... a-ku..."
"Bisikkan semuanya di telingaku. Harapanmu."
Air matanya jatuh lagi. Tangannya mencengkeram bagian rambut Asano semakin erat, berusaha mengucapkan sesuatu yang selama ini terkunci—disembunyikan erat-erat dengan sombong seakan keteguhannya terbuat dari bijih besi.
"Asano... a-aku sungguh... tidak mau mati..."
Napasnya memburu dalam hentakan. Tangis Isogai luruh semakin deras.
"Ucapkan lagi."
"...aku tidak mau mati,"
"Lagi."
"Aku tidak mau mati... aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! AKU TIDAK MAU MATIII—AHHHN! ASANOOO!"
Isogai terus menangis selama hujan membasuh kulit bumi.
To be continued...
.
.
.
*Genkan: Jalan masuk, merupakan tempat untuk melepaskan sepatu, meletakkannya, dan mengenakannya kembali. Setelah melepaskan sepatu, orang Jepang mengenakan sandal rumah.
A/N:
Hkhkhkhk biasanya apdet pagi2, tapi kali ini telat SANGAT karena kelupaan *buta kalender*
Akhirnya terpaksa nunggu pulang dulu buat aplot di laptop... maafkan kecerobohan ini ;;m;;
Kita ketemu lagi Rabu depan yaa~
R&R Maybe? C:
