Kertas-kertas di tangannya terlanjur berhamburan ke lantai akibat menabrak seseorang di persimpangan. Setelahnya Isogai tidak sendiri, ada sosok mungil bernuansa biru membantu usahanya mengumpulkan kembali hasil kerja yang sempat berceceran ke dalam pelukan tangan yang berkepentingan.

"Maaf, Shiota. Aku melamun!"

Tangan kecil itu masih gesit menarik helai demi helai dari permukaan ubin, "Bukan salahmu. Aku yang tidak hati-hati saat berbelok."

"Kau juga mau ke ruang Osis?"

Bluenette menggeleng.

"Aku baru dari sana tapi tidak ada siapa-siapa. Jadi hanya sekedar mengambil kerjaan sisa dan tadinya mau pulang sampai... menabrakmu."

Tawa manis Nagisa kemudian membuat Isogai merasa lapang. Setelah sekian bulan terjebak dalam urusan yang melibatkan dirinya sebagai satu-satunya anak IPS, ternyata tidak semua anak gedung satu mendiskriminasinya berdasarkan karakteristik . Mungkin sempat beberapa kali ia menerima kata-kata kurang pantas, tapi untunglah tidak sampai melibatkan adu fisik.

"Benar-benar kosong? Bahkan Takebayashi?" kedip mata tidak percaya, "Tumben sekali."

"Kalau Akabane, dia sepertinya bolos seperti biasa," desah napas pasrah, "Tapi aku setuju kalau Asano ikut-ikutan absen merupakan kejadian langka."

Semua risalah sudah kembali ditimang sang empunya peran. Isogai sangat berterima kasih mendapati Nagisa menemaninya melipir dan dengan sabar menunggunya mengurutkan semua kembali sesuai urut halaman.

"Shiota paham sekali soal Akabane, ya."

Untunglah sang ketua kelas E masih sibuk dengan urusannya, atau Nagisa akan sangat malu mendapati mukanya bersemu barang sekejap. Lengkung senyum meluas di paras keduanya yang kemudian bertatap tatkala gepokan setebal kamus bahasa asing sudah rapi seperti sedia kala. Bagi Isogai, itu artinya ia hanya perlu meletakkannya di atas meja Asano lalu pulang untuk terlelap.

"Kalau begitu aku akan mencoba menghubungi Gakushuu... siapa tahu hari ini dia memang berhalangan, jadi besok kita tidak perlu cemas." telepon genggam dari dalam sakunya segera difungsikan, berupaya menelusuri nama yang bersangkutan.

"Isogai, kau—"

"Ya?" dijawab dalam sela-sela kesibukannya bersama di ponsel. Sama sekali tidak menyadari syok tersirat dalam sapaan untuknya.

"...kuharap kau secepatnya jadian dengan Asano,"

Jika sedang minum, dengan senang hati Isogai akan menyemburkan semua isi mulutnya keluar. Jari tangannya berhenti mengetik, memandang Nagisa dengan wajah syok, "...maaf?"

"B-bukan apa-apa! Ucapanku tadi jangan dianggap serius, OK?"

Biru langit menjauhi obsidian setelah membungkuk singkat.


Sebelum Sakura

.

.

.


Chapter 02 : Cordialy


.

.

[ Kenapa tidak masuk hari ini? Sakit? :x ]


"Kau yakin tidak mau mengangkat teleponnya?"

Si merah menutup cemas, mengamati pirang stroberi di seberang hanya memandang layar ponselnya yang terus berkedip, menampilkan sederet coretan kanji dari nama seseorang yang terlalu banyak menyita waktunya akhir-akhir ini.

"Aku akan menjelaskannya sendiri pada Yuuma Nanti. Dia pasti mengerti."

Karma hampir tersedak di sela-sela kegiatannya menyesap segelas jus buah melalui sedotan, merajuk saat mendengar nama yang baru disebut.

"Kalau begitu matikan benda itu. Kukira hari ini hanya ada kau dan aku."

Bukan implikasi perintah dari yang di depan, Asano memang berniat memadamkan barang elektronik di tangannya. Menekan tombol off kemudian melesakkan benda mungil itu ke dalam tas sebelum menikmati potongan lain sachertorte di atas meja. Menikmati sofa empuk dan alunan melodi khas, juga memesan menu-menu serupa sebagai obyek nostalgia. Hanya saja kali ini ia datang bersama sosok yang sama sekali berbeda.

Hening berikutnya hampir merenggut kewarasan. Mereka seharusnya tidak datang hanya untuk duduk diam dan membiarkan detik demi detik terbuang tanpa alasan.

"Asano..." lirih lembut, hampir tak terdeteksi, "Apa kau membalas ciumanku karena kasihan padaku?" sisi kuat karma sepertinya sudah tidak mampu menopangnya lagi, buktinya garpu yang seharusnya dipakai menciduk camilan kini dialihfungsikan untuk menusuk pahanya diam-diam.

"Aku menciummu karena memang membutuhkannya... sama seperti Shiota membutuhkanmu."

Hujaman tajam di pangkuan semakin menyakitkan, Karma hampir menjerit, "Aku sudah bilang, hari ini hanya ada kau dan aku. Untuk apa membawa-bawa nama lain?"

"Kau tidak bisa menutup matamu selamanya, Akabane."

Senyum pasrah Karma diselingi hembus napas panjang perlahan. Utensil bermata tiga di tangannya bekerja lagi secara semestinya, menyapa lembutnya marzipan yang seketika mengisi manis kerongkongan. Sangat berbanding terbalik dengan ucapan sang pujaan yang terasa pahit di area pendengaran.

Tidak ada yang mengeluarkan suara lagi setelahnya. Keduanya hanya menghabiskan sajian sambil mencerna, bahwa apa yang terlanjur dilewati telah menjadi bagian masa lalu semata. Sangat mustahil mengharapkan kelanjutannya jika salah satunya tidak mampu—tidak bisa.

"Shiota pasti sedang menertawakanku..."


.

.

[ Aku harap semua baik-baik saja. Sampai besok! :* ]


"Astaga, apaan sih Maehara!?"

"Ini hukuman karena kau mengabaikanku dan malah sibuk dengan mantan ketua Osis sialan itu— eiiits! Tiga meter!"

Pasrah dengan sikap si rambut senja yang kekanak-kanakan, Isogai memutuskan untuk berjalan beberapa langkah di belakang sesuai pesanan. Hanya mampu memandang punggung di depan mata yang semakin lama seakan menghilang padahal jarak untuk bertukar sapa masih terbilang relevan.

"Aku bahkan sudah pamit padamu sebelum ke rumah Gakushuu. Apalagi yang masih kurang?"

Maehara sengaja tidak menggubris, malah melantunkan siulan pura-pura. Seandainya sahabatnya tahu ia kesal karena hal yang lebih sepele. Terutama karena sejak tadi yang dilakukan Isogai hanya memerhatikan handphone miliknya dan meloloskan rasa cemasnya terhadap sang Ace Kunugigaoka yang sulit dihubungi atau desah protes karena pesannya belum ada yang dibalas sama sekali.

"Apa yang kalian lakukan? Apa dia melakukan sesuatu padamu?" nadanya lazim, berjuang tidak terkesan penasaran.

Bermain game? Mengobrol? Mengerjakan urusan Osis? Maehara berharap satu dari pilihan standar yang muncul dalam imaji menjadi jawaban. Ia merasa bumi akan segera terbelah jika bibir yang selama ini mengisi miliknya mengucapkan hal yang tidak ingin didengarnya, merusaknya perlahan.

"Meminta maaf."

Iris almond Maehara membulat.

"—dia meminta maaf padaku. Dan aku sudah memaafkannya, apapun itu."

"Memberi maaf itu... bukannya sulit sekali?"

Mahkota malam mengangguk tanpa segan, membenarkan, "Tapi kita tidak akan pernah tahu sebelum mencobanya."

Alas sepatu beberapa kali menghentak agrerat, menemani gemersik dedauan. Menjadi deklarasi alam tersirat bahwa sebentar lagi mungkin akan hujan. Sebuah pertanda bagus agar Maehara tidak perlu mencari banyak alasan untuk menyembunyikan air matanya nanti. Nanti, andai terjadi. Karena saat ini ia masih mempertahankan harga diri yang terus diperjuangkannya sampai mati.

"Isogai. Selama ini aku berpikir... sampai kapan kita akan memanggil nama keluarga? Bukannya sudah seharusnya aku memanggilmu Yuuma?"

Yang mengekor jangkah sempat menghentikan kedua tungkainya beberapa detik, "Kau mau memanggilku begitu?"

"Sudah ada orang yang memanggilmu begitu, kan?"

Selain keluarganya, tentunya. Isogai mengangguk samar yang tidak mungkin terlihat jika Maehara masih menolak melangkah bersisian kembali. Pihaknya bahkan tidak ingat sejak kapan hubungan di antara mereka semakin renggang, seakan tidak ada jembatan apapun yang sanggup menghubungkannya lagi.

"B-begini..." pria sejati akan menerima konsekuensi, apapun yang terjadi. Pemilik julukan casanova sebenarnya hanya butuh waktu untuk membulatkan hati, "Aku ingin minta maaf, sebenarnya yang menolongmu waktu itu buka—ISOGAIII?!"

Bunyi debam keras dari arah belakang membuat Maehara berbalik cepat. Mengguncang tubuh ringkih yang mendadak roboh itu sebelum dunianya ikut menjadi gelap.


To be continued...

.

.

.

A/N:
Terlambat apdet satu hari karena sampai jam 11 malam kemarin gagal masuk ke FFN yang masih maintenance aja. Maaf banget O)—[

Juga maafkan author yang lagi hiatus nyumbang di FAKI karena terlilit (sangat banyak) hutang fic di fandom lain ;w;
Akan diusahain kembali secepatnya. Sampai saat itu, ngutang review dulu di fic2 Bangsatsu yang baru nongol yaaa~

R&R Maybe? C: