Maehara bukan fokus melihat pucuk senjata api yang diarahkan tepat ke kepalanya, tapi lebih di bawah—pada Isogai yang terduduk sambil meremas pangkal leher. Ketakutannya akan kehabisan waktu jauh lebih mengerikan dari menyadari kalau ia terbangun di sebuah bangunan terlantar dengan kaki dan tangan terikat.
"Aku tidak ada urusan denganmu. Kau hanya sedang sial," suara berat mengalihkan perhatian dari bercak merah di tanah sekitarnya yang disinyalir sebagai darah. Berasal dari area belakang kepala yang sedari tadi berdenyut seakan jantungnya seakan berpindah. Baginya, suasana sekeliling tampak tidak terlalu asing. Maehara ingat google map yang pernah dikirim oleh Asano menunjukkan lokasi yang sama.
"ISOGAI!"
Berbeda dengannya, si rambut hitam di bawah injakan sang pelaku kejahatan terbebas penuh dari belenggu raga. Apa yang telah terjadi masih menjadi tanda tanya, "APA-APAAN INI SEMUA?!"
"Mae... mh—diamlah! Dia serius...!"
"Tuli." nada menghina, "Sudah kubilang kau hanya sedang sial. Urusanku hanya dengan pelacur sialan ini. Aku akan membalaskan dendam kaki tanganku yang dikirim Asano keparat ke panti anak-anak nakal."
"B-bagaimana caranya kau bisa kabur... Terasaka, itu kan namamu?" Tampaknya baru terjadi kekerasan tidak menyenangkan, terlihat dari beberapa lebam yang menghiasi kulit putih Isogai di bagian pipi dan lengan. Ditangkap netranya, Isogai mencoba menarik oksigen diiringi napas memburu tertahan. Termasuk usahanya untuk mengeluarkan sesuatu dari balik saku celana yang tidak ikut luput dari penglihatan.
"Kabur? Katakan aku bebas. Uang bukan masalah untukku."
Terasaka menyeringai bengis, memutar jumawa senjata laras pendek berbahaya di salah satu tangannya. Hanya gertak sambal pura-pura, yakin Maehara. Mana mungkin ada figur sebaya yang mau menghabiskan sisa hidupnya di penjara karena bermain-main dengan hidup manusia.
"S-sebelum aku mati," terus berjuang memancing atensi, oranye itu mencoba memutar akal, "Setidaknya ijinkan aku memberi ciuman perpisahan padanya."
Tawa membahana yang tiba-tiba, "Oh! Astaga. Berapa banyak yang berhasil terjatuh dalam pesonamu? Hei, kau terlalu luar biasa?!" helaian jelaga itu ditarik kasar, membawa kepala korbannya lebih mendekat pada langit-langit. Sekilas Isogai memekik sakit.
"Tentu saja. Aku... hanya mau sesuatu yang berkualitas." Maehara cukup kaget mendengar kalimat isogai yang begitu menjurus, berbanding terbalik dengan wajah polos yang selama ini diperlihatkannya. Jambakan pada rambutnya dilepas hati-hati sembari memutar tubuhnya, sengaja memunggungi Maehara, "Daripada terus menyiksaku, mau mencoba hal lain? Menurutku kau juga tidak buruk..."
"KAU BICARA APA? YANG BENAR SAJA ISO—"
Maehara baru menyadari benda yang sempat susah payah dikeluarkan isogai adalah sebuah ponsel. Benda itu dilindungi sementara di bawah pijakan kaki, lalu dengan cekatan mengoper alat penghubung tersebut selama ia berhasil membuat lidah terasaka sibuk bermain dalam mulutnya.
"Sial." rutuk lirih itu ditujukan terutama karena dia harus membiarkan Isogai mencium orang lain di depan matanya. Lebih sial, dia terpaksa meminta tolong Asano sebagai satu-satunya nomor kontak yang dikenal Maehara dalam ponsel yang ada. Segera tangannya sibuk mengetik tanpa memperdulikan berbagai typo efek tangan yang terlalu gemetar.
Iblis itu terlihat menyeret lalu membenturkan punggung sang malaikat ke dinding terdekat. Mulai memasukkan tangan ke dalam fabrik seragam putih yang tengah dikenakan korban. Menyapa kulit halus dan area menonjol di bagian dada yang sangat mencolok. Isogai mulai ketakutan dan menghentikan tangan Terasaka secepatnya, menyadari permainan sudah terlalu jauh, "H-hentikan..."
"Kenapa? Sudah menyerah?"
Terdistraksi deru desah bercampur kesakitan yang menggema dalam ruangan, semakin mustahil bagi Maehara untuk bisa konsentrasi pada layar.
Sebelum Sakura
.
.
.
Chapter 01 : Apocalupsis
Muak dengan aksi bungkam yang menjadikan atmosfer bersama satu-satunya anggota keluarganya sangat tidak nyaman sebenarnya membuat Asano malas menginjakkan kaki ke dalam rumah. Berbekal petunjuk Karma, ia ikut menggunakan fasilitas luar biasa ruang Osis untuk sejenak bermalam. Memang tidak ada yang lebih membuatnya letih daripada komplikasi tenaga dan pikiran agar mampu terbebas dari beragam masalah.
Tapi remaja itu tahu ia tidak bisa lari selamanya.
Terutama saat figur setengah baya yang berupaya dihindarinya kini tengah berdiri di depan mata, lengkap dengan jas lab putih kebanggaan. Samar-samar mendengar deru knalpot mobil dari arah garasi dan seketika mengerti—ayahnya hendak pergi ke rumah sakit untuk melakukan eksekusi pada entah pasien mana lagi.
"Gakushuu..."
Tidak menyahut, starwberry blonde memilih menurunkan level pandangnya jauh ke bawah.
"Semalam kau tidak pulang."
"Aku hanya butuh waktu dan tempat lain untuk berpikir."
Asano berjalan acuh melewati yang lebih tua, namun di titik setelahnya, kakinya bergeming entah kenapa. Punggung keduanya saling menyapa belasan detik dalam dilema, penuh sesak akan pertimbangan untuk mengeluarkan seluruh frasa tanya yang berputar dalam kepala.
"Aku berhasil menyempurnakan penelitiannya. Disertasiku dinyatakan lolos uji."
Apa?
Tubuh yang remaja berbalik diiringi getar hebat seketika, memandang violet teduh yang tanpa ragu membalas tatapannya. Sesuatu di dalam hatinya seketika meledak-ledak, persis seperti balita yang kegirangan saat membuka bungkus hadiah tak terduga di hari ulang tahunnya.
"Setelah hampir empat tahun berjuang, kali ini aku yakin bisa menyelamatkan Yuuma."
"...ayah?"
"Kuharap, dengan begini aku bisa meminta maaf pada ibumu di surga sana. Dan kau juga memaafkanku."
Kata-kata seakan tidak cukup. Asano muda tidak kuasa menengadah lagi. Hanya mengumpulkan keberanian di seluruh kaki untuk mengikis jarak lalu merenggut sedikit bagian dada jas putih sang ayah sebelum membenamkan wajah, menyembunyikan air mata bahagia.
"M-maafkan aku sudah berkata kasar. Aku tahu... aku tahu ayah sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan ibu saat itu... m-maaf... maaf!"
Seandainya bisa, Asano ingin menahan keberadaan ayahnya sebentar lagi. Namun ketika nyawa sesama mungkin menjadi taruhannya, anak itu terpaksa melepas sang ayah pergi. Yang pasti, akan ada banyak pertanyaan setelah pria itu pulang nanti, juga beribu ucapan maaf tanpa henti.
Tidak ada pembicaraan lagi setelahnya, sang ayah pamit karena harus secepatnya pergi ke rumah sakit. Dengan perasaan bahagia luar biasa, Asano segera menyambar ponselnya dan mengetik cepat dengan senyum merekah sempurna. Apalagi setelah menyalakan ponselnya kembali terlihat misscall dan beberapa pesan dari sang pujaan yang sangat mencemaskan dirinya.
.
.
Sial bagi Maehara. Sial bagi Isogai. Tidak ada yang ingat kalau ponsel di tangan si rambut senja belum memasuki mode silent. pesan yang terkirim menimbulkan bunyi yang begitu jelas. Mengalihkan fokus utama sang antagonis yang tengah berkuasa ganas.
"KAU! BRENGSEK!"
"H-hei kita belum selesai..." menarik kemeja pria sebaya yang berukuran dua kali tubuhnya tidak menghasilkan apapun, Isogai malah dipaksa beradu dengan tanah setelah mendapat pukulan telak di wajahnya.
"KAU SENGAJA AGAR AKU LENGAH DAN PACARMU MENCARI BANTUAN KAN!? BEDEBAH!"
"BAJINGAN! BERANINYA KAU!" emosi berujung meledak melihat Isogai tersungkur dan merintih. Mengabaikan ponsel, Maehara menggigit-gigit tali yang menyandera kedua tangannya. Mencabik-cabik ikatan di pergelangan kakinya. Berharap segera terbebas dan menghajar makhluk jahanam di depannya hingga tak bernyawa.
"Kalau setelah ini harus benar-benar ditangkap, lebih baik kubunuh yang mengganggu dulu."
Belenggu baru berhasil terlepas dari tangannya kala menyadari moncong pistol terarah padanya sekali lagi. Menggunakan telapak dan pergelangan sebagai sumbu, tubuhnya berguling ke samping secara refleks ketika pelatuk ditarik ganas.
"ARGHHHH—"
Maehara menjerit kesakitan sambil memegangi bagian luar paha yang sekarang berdarah hebat akibat tertembus timah panas.
"MAEHARA!" Isogai melonjak ngeri, "MAE! MAEEE!"
"Cih, meleset." Terasaka kembali mengambil ancang-ancang. Lebih mudah karena mangsanya sekarang tergeletak hampir tak berdaya, sibuk mengerang di lantai menahan sakit teramat sangat di antara ceceran darah miliknya.
DOR!
Sepasang almond terbelalak dengan cipratan darah tepat membanjiri muka. Bukan—bukan darahnya. Liquid kental itu berasal dari perut sosok yang tertembak karena menghambur untuk melindunginya.
"Isogai..."
Tubuh ringkih itu ditangkap dalam pelukan. Tampak darah ikut mengalir dari bibirnya yang sewarna sakura, tempat mereka sering bersentuhan dan bertukar sapa melalui perantara sekresi.
"...Maaf, Maehara,"
.
.
—aku..."
.
.
Bahkan hingga mendengar letup tembakan kedua, Maehara belum sanggup berkedip.
.
.
[ Yuuma, aku punya berita luar biasa! Lekas hubungi aku kalau kau sempat. ]
.
.
[ Karena terlalu bersemangat aku sampai lupa bilang... ]
.
.
[ Aku sangat mencintaimu. ]
To be continued...
.
.
.
A/N:
Sempet berpikir buat namatin di sini dan bikin open ending, tapi tak tega :") #yha
Hanyalah sebuah permintaan maaf yang sama seperti Gakushuu untuk seseorang tercinta dengan alasan dan kasus serupa.
Maaf selama ini udah numpuk dendam dan selalu menyalahkan. Kalau pulang nanti, MAAF—itu yang bakal diucapin pertama :)
Maaf juga kalau ternyata fic ini dari awal hanyalah curhat terselubung. Yah... anggep aja buang sial dan dosa selama masih bisa.
Ngga kerasa udah mau chapter penghujung aja. Ketemu lagi RABU depan, ya~ ILU ILU ILU
R&R Maybe? C:
