Asano menatap lekat papan ruang operasi yang menyala terang di depan mata dengan tangan terkepal, menyayat permukaan kulitnya hingga merah. Hampir berdarah. Alir laminar yang sayup-sayup mengisi telinga terkontaminasi ketuk elektrokardiografi yang bunyinya semakin dan semakin lemah.
Tidak ada yang bisa melukiskan emosinya saat ini mengetahui Isogai dalam keadaan kritis akibat luka tembak. Antara marah pada dirinya sendiri karena tidak menghabisi Terasaka dalam kasus pertama atau marah pada sosok tidak jauh dengan lembayungnya merunduk tajam.
"Ini salahku..."
Semua mata beralih fokus menuju Maehara yang tengah berdiri dengan bantuan kruk penyangga difabel daksa satu kaki. Mujur hanya kulit luar dari pahanya yang robek, tidak sampai menyentuh tulang sehingga kemungkinan cacat permanen bisa dihindari.
"IYA, INI SEMUA SALAHMU, KEPARAT!" sebuah tinju keras menghantam telak pipi Maehara, seakan mengembalikan hutang lama atas perlakuan serupa yang pernah diterima, "KENAPA KAU TIDAK BISA MENJAGANYA!? UNTUK ORANG YANG PERNAH MENGANCAMKU, NYALIMU SEKELAS TERI!"
"ASANO! CUKUP!" Karma yang pertama kali menahan Asano agar tidak merusuh lebih jauh, bagaimanapun Maehara masih berstatus pasien dan mereka sedang berada di tempat umum.
"LEPAS, AKABANE!"
"Kau tidak apa-apa?" Takebayashi dan Nagisa berusaha membantu Maehara berdiri. Yang biru segera membasahi sapu tangan dengan minumannya untuk segera menghapus jejak luka di penghujung bibir si mahkota senja.
"Terima kasih,"
"Ini bukan saatnya menyalahkan siapa dan siapa! Kita berharap saja ayahmu dan regu-nya bisa melakukan yang terbaik." butuh tenaga ekstra bagi Karma sampai berhasil menenangkan predator kambuh yang ditahannya dengan susah payah.
Hanya lima remaja yang kemudian mengisi sudut-sudut unrestricted area. Bergeming tanpa mampu saling bicara.
Sebelum Sakura
.
.
.
Chapter 00 : Petrichor
.
.
[ Sakura tahun ini terlalu cepat mekar. ]
.
.
Riuh tepuk tangan seluruh guru dan wisudawan masih bergema padahal Asano sudah cukup lama meninggalkan podium utama. Langkahnya diayun terburu-buru menuju mobil pribadi yang tengah menunggunya di depan gerbang sekolah. Bahkan tidak meminta ijin terlebih dulu dari pihak-pihak terkait, malah serta merta meninggalkan momen puncak dengan semena-mena.
"Pidatomu bagus, hei, super star Kunugigaoka. Bukannya kau yang bersusah payah demi kelancaran wisuda ini, kenapa malah pergi tanpa pamit?" tepukan di bahu sekilas mencuri perhatian tepat ketika remaja itu membuka pintu mobil.
"Minggirlah, Akabane. Aku ada keperluan penting."
"Mau memberikan ijazah kelulusan Isogai, kan?" seringai Karma lebih lebar saat berhasil menghentikan lagi gerakan si pirang stroberi, "Kebetulan aku juga berniat ke sana karena Takebayashi dan Nagisa sudah pergi duluan, jadi aku akan senang kalau mendapat tumpangan gratis."
Pusat alis hampir bertaut. Ingin rasanya mengajak pitam menaiki sumbu emosi karena dua anggota penting yang sempat dicari-carinya di tengah acara baru diketahui keberadaannya, "Mereka juga?"
Pada akhirnya tidak ada yang bisa dilakukan Asano selain mendesah panjang dan mempersilakan mantan rivalnya ikut duduk bersamanya di bangku penumpang.
"Ngomong-ngomong selamat ya, disertasi ayahmu mendapat nobel. Tinggal menunggu beliau dilantik menjadi guru besar dan kepala rumah sakit." Karma mengulurkan tangan, meminta sambutan, "Selamat juga untukmu. Gadis-gadis akan berjuang mendekatimu yang akan menyandang gelar dokter setelah ini, Tuan masa depan cerah."
Diabaikan. Asano malah membuang pandangan ke luar jendela, "Memangnya semua itu ada artinya?"
"Halo, Mr. Perfect. Bukan hanya dirimu yang tersiksa di sini. Pikirkan juga perasaan ayahmu... perasaan Nagisa dan Takebayashi..." Karma menarik napas, berjuang meloloskan suara tanpa membuat wajahnya senada warna rambutnya, "...perasaanku."
"Jangan mendadak amnesia. Kau sudah bersama Shiota."
"Tidak berarti perasaanku padamu luntur."
Belum sempat menimpali, mobil yang ditumpangi mereka berhenti. Membuat keduanya terpaksa mengentikan konversasi lalu turun secepatnya, menyambut tiga sosok yang tengah bercakap-cakap sambil berdiri di dekat sebatang pohon rindang—area ternyaman untuk berlindung dari sengatan mentari di titik tertinggi.
"Oh, Karma! Kau akhirnya bolos juga?"
"Yang benar saja... harusnya itu kata-kataku," si rambut merah tergelak sembari mencubit pipi Nagisa yang baru saja menyambutnya.
"Kalian pasti lupa keberadaanku di sini!" satu-satunya yang berkacamata merajuk terang-terangan.
Tidak ikut tenggelam dalam basa-basi, Asano berinisiatif mendekati Maehara yang masih berdiri memunggunginya, bergumam pelan tanpa berbalik, "Akhirnya kau datang..."
"Aku mau memberikan ijazah ini langsung pada Yuuma."
Berlapang dada, Maehara menyingkir sedikit. Memberikan akses agar Asano bisa berdiri di sampingnya untuk memandang pujaan hati yang sudah berkonfigurasi dalam balutan granit putih bersih yang menurut versi mereka masih kalah putih dari hati Isogai sendiri. Sebuah nisan kaku sederhana bertuliskan nama lengkap yang sangat disayangkan Asano karena belum sempat menyematkan marganya untuk mengganti nama tersebut.
"Aku datang, Yuuma. Selamat atas kelulusanmu..." ijazah dalam bentuk gulungan itu diletakkan di dekat bokor dupa baru terbakar, satu kakinya bertelut saat dua tangannya menangkup kemudian merapal doa. Doa yang mungkin hanya bisa didengar olehNya yang bertahta dalam surga namun tidak akan pernah dikabulkan bahkan hingga akhir hidupnya.
"—aku yakin kami akan menunggu saat sampai bisa bertemu denganmu lagi..." sebuah potongan lirik dari lagu Sakura yang belum beberapa jam dinyanyikan saat kelulusan seakan sanggup memprediksi kenyataan akan masa depan. Suaranya memang bergetar, tapi Asano terus berjuang agar tidak ada air mata meleleh, "Terima kasih sudah pernah mengisi kehidupanku walau singkat."
Syahadat sederhana itu ditutup tidak rela bersama frasa Amin.
"Hei," Mau tidak mau Maehara harus bereaksi saat tatapan Asano jelas berpindah padanya, "Apa dia menyebut namaku di saat-saat terakhir?"
"...maaf?"
"Apa Yuuma menyebut namaku saat itu, sebelum dia tertembak?"
Yang ditanya meringis perlahan, membentangkan ujung-ujung bibirnya perlahan seraya menggeleng, "Jangan besar kepala, Asano. Sampai detik terakhir tidak ada yang tahu jawaban Isogai... kau belum keluar sebagai pemenang hatinya."
Asano kesal karena pernyataan Maehara memang benar adanya. Luka keduanya seakan terukir di atas luka lama yang bahkan belum sempat kering, hanya kembali menutup mata dan memanjatkan harapan terakhir agar isogai berbahagia bersama ibunya di surga.
"Aku harap kita tidak bertemu lagi, Maehara. Kau bagian masa lalu terburukku."
"Ternyata kita sama-sama mengerti."
Nagisa yang mewakili dua temannya berpamitan sebelum kwartet itu berlalu dengan mobil Asano. Meninggalkan Maehara yang sekarang duduk termenung sambil memandang ijazah milik sahabatnya yang tergeletak kaku tanpa bisa didekap pemiliknya.
"Kau lihat dia, Isogai? Tetap sombong seperti biasanya. Kau pasti bercanda kalau sampai memilih makhluk sialan seperti itu." tangan Maehara mengusap granum licin sembari berceloteh, menempelkan kening pada benda tersebut sebelum memejamkan mata; mengenang, menikmati, bahkan menyesali apa yang telah terjadi.
Mengingat bagaimana tembakan kedua Terasaka menembus kembali sisi perut Isogai dan hampir merenggut nyawanya juga seandainya peluru itu tidak hanya meleset di kulit kakinya sekali lagi. Walau diakui sang casanova ia sudah mati saat itu, terbunuh oleh ucapan Isogai sendiri di detik-detik penentuannya. Tercenung ketika kalimat pengisi rongga pendengarannya berhasil memadamkan sistem degeneratif syaraf bicara.
Paru-parunya mulai sesak, berganti dengan isakan dan derai tangis yang membuat rongga lehernya mendadak serak.
[ "Maaf, Maehara..."
.
—aku..."
.
.
.
"...mencintai Gakushuu." ]
Maehara akan menutup rapat-rapat kekalahannya sampai di saat ia akan bertemu kembali dengan Isogai di alam sana, meminta maaf sebesar-besarnya akan dua kebohongan terbesar dalam hidupnya.
[ THE END ]
.
.
.
*Sakura: oleh Naotaro Moriyama, salah satu lagu yang biasa dinyanyiin pas kelulusan di Jepang.
A/N:
Headcanon nyonya Asano, diambil dari fic 'See You Again' karya ZEFACCHI. Baca fic itu berkali2 teteppp selalu bikin baper :') #sob
Btw, dengan sangat menyesal, ternyata ngga ada yang berhasil melewati tantangan chapter pertama hkhkhkhkh jadi hadiahnya dibungkus buat event selanjutnya yaaa~ (dan maaf sekali permintaan sequel juga harus ditahan, belum ada ide sama sekali mau dibikin spin off bagian mananya hkhkhkhk). Sekali lagi TERIMA KASIH BANYAK untuk semua pihak yang udah dukung sampai akhir baik log-in maupun ngga log-in, baik yang terlihat maupun terselubung (?), respon dan review kalian akan selalu menjadi harta karun berharga. Semoga kita ketemu lagi di FAKI dalam waktu dekat (*´ч ` *)
Ratu Obeng, log out!
