OX 86 Senior High School.

Yaa, itu nama sekolahku. Sekolah yang bagaikan rumah kedua bagi murid-murid yang menuntut ilmu disanatermasuk aku. Sekolah yang nyaman dengan fasilitas memuaskan, guru-guru yang ramah dan sangat menyayangi murid-muridnya serta materi pelajaran yang tidak akan membuatku bosan. Semua guru bagaikan teman yang siap kapan saja mendengarkan curahan hati muridnya dan selalu mendukung murid-muridnya.

Ruang kelas bersih dan terisi murid-murid yang menyenangkan dan berprestasi. Mereka baik, sangat baik. Tersenyum dan saling menyapa selalu. Mereka juga tidak pernah membeda-bedakan teman bahkan jarangatau hampir tidak ada permusuhan disini. Solidaritas sangat dijunjung tinggi disini. Aku menyukainya.

Yang membuatku lebih betah bersekolah disini adalah; lingkungan sekolah yang asri, penjagaan ketat, kedisiplinan yang sangat diutamakan, dan juga bidang Akademik maupun non-akademik yang mengasah kemampuan kita dan juga sangat mengasah otak. Lihat! Sekolahku sangat sempurna bukan? Ini adalah sekolah yang sangat diidam-idamkan oleh setiap anak yang ingin masuk ke jenjang SMU. Beruntung, aku bisa bersekolah disini. Yeah…beruntung sekali.

Datanglah ke sekolahku, OX 86 Senior high School.

Dan…kau akan menemukan kebohongan besar yang sudah kukatakan tadi disana..

Gara's present:

Not Perfect

.

Genre : Romance. Action. Friendshipp.

Main Cast : Oh Sehun and Lu Han.

Support Cast : EXO's member

Rating : MFor bullying scene and sex! Tfor teenage life.

.

Disclaimer : ©Story's by Anggara Dobby. EXO masih milik SM—damn.

.

[WARN!] that's Yaoi! BoyxBoy! Dirty joke and Dirty talk everywhere. Gangster! Bullying! HardScene! Yang tidak suka adegan bullying, bisa tinggalkan area ini.

..

Enjoy this time!

.

..

.

Chapter 1 : [prolog] New School!

..

..

"Errrr paman Kim..kau yakin ini jalan menuju sekolah baru kami?" tanya seorang pemuda berambut coklat almond manis di kursi belakang mobilnya. Matanya menyusuri setiap jalan yang sedang mereka tempuh lewat jendela mobil yang Ia buka. Semilir angin membelai surai coklatnya membuat beberapa helai poni rambutnya menutupi matanya.

Dia terlihat sangat indah dengan pancaran matahari menerpa wajahnya.

Sang supir mengangguk, "Benar ini jalan menuju sekolah baru kalian, tuan muda."

Luhan—pemuda yang bertanya tadi—memekik kecil merasakan jalan yang sedang mereka lewati bertambah buruk menyebabkan tubuhnya sedikit bergoyang-goyang bahkan tak sengaja menubruk sepupunya yang duduk disampingnya.

"O-oh! Maafkan aku Kyungsoo-ya.. jalanan ini buruk sekali."

Pemuda bermata bulat lucu disampingnya itu hanya mengangguk maklum. "Tidak apa Luhan hyung." ucapnya dan kembali melakukan hal yang sama pada Luhan, melihat-lihat kesekitar dari jendela mobil.

Luhan kembali berdecak melihat tembok-tembok disekitar jalanan menuju sekolah barunya yang penuh dengan coretan-coretan keluh kesah anak nakal maupun kata-kata kasar dan graffiti-graffiti besar, yang menarik perhatiannya adalah graffiti bertuliskan kata EXO besar-besaran dengan warna hitam-merah, seolah-olah graffiti itu adalah inti dari coretan lainnya.

Apa benar ini jalan menuju sekolah baruku yang Paman Do bilang sangat bagus dan menjadi idaman anak-anak lain? –pikir Luhan heran. Pasalnya, jalan ini sangat buruk dan sepi, hanya ada beberapa kedai kecil disekitarnya. Dan juga tembok-tembok pembatas yang sangat kotor, bahkan tak jarang Luhan melihat ada beberapa gang sempit yang menjadi tongkrongan beberapa pemuda-pemuda yang Luhan yakin bukan anak baik-baik. Tentu saja, mana ada 'kan anak baik-baik yang sedang membolos di gang sempit padahal jam ini harusnya jam belajar?

"Aku heran mengapa tuan Do memasukan kalian ke sekolah baru ini." Ucap paman Kim disela-sela kegiatan mengemudinya.

Baik Luhan maupun Kyungsoo mengalihkan pandangannya dari luar.

"Memangnya kenapa paman?" tanya Kyungsoo.

"Bukankah sekolah baru kita bertaraf bagus?" Sahut Luhan.

Paman Kim terdiam beberapa saat, seolah tidak mau menjawab pertanyaan kedua anak majikannya itu. Tidak lama, paman Kim menghentikan laju mobilnya ketika sudah sampai ditempat yang mereka tuju.

"Nah, kita sudah sampai."

"Selamat datang disekolah baru kalian, tuan muda." ujar paman Kim setelah membukakan pintu mobil untuk Luhan dan Kyungsoo. Lelaki berumur 50-tahunan itu meringis melihat wajah kedua tuan-mudanya yang seperti baru saja melihat Sadako keluar dari layar ponsel mereka.

Luhan terperangah—bukan bukan! Bukan karna terpesona pada bangunan berlantai 4 didepannya. Tetapi sungguh! Inikah sekolah yang disebut-sebut sebagai sekolah idaman di Seoul?

Dua penjaga sekolah yang sedang terlelap diposnya dengan kaleng soda kosong dimana-mana, gerbang usang yang terbuka lebar-lebar begitu saja—seperti habis diterobos oleh sekumpulan gajah liar. Dan terpampang nama sekolah itu diatas gerbang yang usang.

OX 86 Senior High School.

Sementara Kyungsoo hanya terdiam seraya membenarkan letak tas punggungnya yang tadi sempat melorot. "Aah, aku gugup. Bagaimana teman-teman baruku nanti ya?" ucapnya mengabaikan pemandangan tak mengenakkan didepannya.

"Pasti menyenangkan, Kyung." Ujar Luhan yang sudah mencoba berfikir positive pada sekolah barunya. Mungkin saja, dalam sekolah ini lebih baik daripada tampilan luarnya. Yeah mungkin.

"Baiklah, tuan muda. Saya harus kembali kerumah, nanti saya akan menjemput kalian disini ketika jam pulang tiba." Pamit paman Kim. Luhan dan Kyungsoo hanya mengangguk sebagai balasannya.

"Nde, hati-hati paman Kim!" seru Kyungsoo seraya melambai-lambaikan tangannya dan tersenyum pada supir pribadinya yang sudah mengantarnya kesana-kesini sejak umurnya 14 tahun itu. Paman Kim tersenyum ramah dan melajukan mobilnya meninggalkan kedua pemuda manis itu didepan sekolah barunya.

"hyung, ayo kita masuk kedalam!" ajak Kyungsoo menggenggam tangan Luhan dan menariknya agar berjalan menuju halaman sekolah. Luhan melirik Kyungsoo, anak itu sepertinya excited sekali dengan sekolah barunya. Lihat saja senyum kekanakan dibibirnya itu membuat Luhan mau tak mau ikut tersenyum. Ah, Luhan juga tidak sabar ingin melihat wajah-wajah teman-teman barunya.

Mereka terkikik kecil ketika melewati dua penjaga yang sedang terlelap dengan mulut terbuka, astaga! Wajahnya konyol sekali.

"Woah.." mata bulat Kyungsoo terperangah melihat bangunan berlantai empat, dengan lapangan hijau didepannya. "bagus.." komentarnya.

"benar Kyung." sahut Luhan, seketika keraguannya tadi meluap begitu saja dan digantikan dengan rasa excited. Kedua lelaki berwajah manis itu terlihat seperti dua anak kecil yang baru saja melihat bangunan istana dongeng didepannya.

Sampai mereka tersadar ketika tubuh keduanya oleng,hampir terjerembab ketanah akibat tiga orang siswa yang berlari melewatinya dengan sengaja menyenggol bahu mereka dengan kasar.

"BRENGSEK! YODA KEMBALIKAN ALMAMATERKU!"

"Kau lebih cocok tanpa almamater, Bacon! Hahaha Chen! tangkap ini!"

"Ayo pendek! Kejar aku!"

"YA! Kau juga tidak terlalu tinggi keparat!"

Luhan menggeram ketika anak-anak itu malah berlari-larian disekitarnya, tanpa meminta maaf sedikitpun padanya karna telah menabraknya dengan kasar. Luhan juga heran, bukankah harusnya jam-jam pagi ini diisi dengan pelajaran? Kenapa anak tiga ini malah diluar kelas?

"Heiii! Kalian bertiga!" seru Luhan kesal. Kyungsoo mengenggam tangan Luhan erat, agar sepupu dari Beijingnya itu tidak tersulut emosi.

Ketiga pemuda itu menghentikan aktivitasnya dan beralih menatap Luhan.

"Apa yang kau maksud itu kami?" tanya salah satu darinya dengan nada datar dan tidak bersahabat. Suara beratnya membuat Kyungsoo benar-benar takut. Tetapi tidak untuk Luhan,

"tentu saja. memang ada siapa lagi disini?"

Ketiga pemuda itu melangkah mendekati Luhan membuat Kyungsoo semakin menggenggam tangan Luhan erat—takut kejadian yang tidak diinginkan terjadi. Lihatlah wajah ketiga siswa itu! Mereka sepertinya bukan anak yang mudah diajak bicara baik-baik.

"Beraninya kau berbicara pada kami dengan nada semenyebalkan itu!" ketus salah satu dari mereka, mata sipit berhiaskan eyeliner tebal itu menatap tajam Luhan. Namun, Luhan tidak merasa takut sedikitpun. Dia ini wanita atau lelaki? Wajah cantik dan mata bereyeliner..itu kan hanya dimiliki perempuan –batin Luhan tidak tahu diri karna wajahnya juga tidak menunjukan tampang lelaki sama sekali.

"Kalian menabrakku dan sepupuku, apa kalian tidak melihat kami? Setidaknya meminta maaf lah!" ujar Luhan.

"Apa? Meminta maaf?"

"Hei, dia ingin kita meminta maaf!"

"Hahahahaha"

Luhan mendengus sebal melihat ketiga siswa didepannya malah tertawa. Tangannya terkepal, Luhan sangat tidak menyukai orang-orang yang semacam ini. Bagaimana bisa sekolah sebagus ini memiliki siswa-siswa kurang ajar seperti ini?

"Hei bung! Jangan bermimpi kami akan meminta maaf padamu. Tidak ada kata 'maaf' dalam kamus hidup kami." desis siswa yang paling tinggi diantara mereka, matanya menelisik kearah Luhan dan Kyungsoo dari atas hingga bawah. Lalu mendengus, "Bodoh!"

"Ku akui kau cukup berani mengatakan hal itu pada kami, tapi aku terlalu malas melayangkan pukulanku pada wajah cantikmu. mungkin lain kali." Ucap siswa berwajah agak kotak dengan nada menyebalkan.

Ketiga siswa itu segera pergi dari hadapan Luhan, tak lupa dengan decihan dari siswa bermata eyeliner tadi sebagai salam perpisahan mereka.

Luhan menggeram, wajahnya memerah kesal. Pertama, Ia tidak suka dibilang cantik ; astaga dia lelaki. Kedua, Luhan tidak suka diremehkan dan ketiga sekaligus yang terakhir, Luhan tidak menyukai anak bar-bar. Benar-benar mereka itu!

"hyung..tenanglah. lebih baik kita segera masuk dan mencari ruang guru." ucap Kyungsoo. Agak ngeri melihat wajah emosi Luhan. Sepupunya itu memang gampang tersulut emosi, beda dengan Kyungsoo yang tidak mau berurusan dengan orang-orang semacam itu dan lebih memilih diam.

"Baiklah. Akan kuingat wajah ketiganya dan aku bersumpah akan menendang wajah ketiganya dengan bolaku!"

"Aish kau tidak boleh dendam seperti itu! Kajja hyung.."

"tapi Kyung, mereka menyebalkan."

"Iya iya aku tahu. Sudahlah ayo hyung!"

..

..

"Yatuhan.."

Luhan dan Kyungsoo speechless, melihat dinding-dinding disepanjang koridor sekolah yang penuh dengan coretan dan graffiti-graffiti. Yang lebih mengejutkan adalah, banyak gambar-gambar tak senonoh didinding itu. Gambar wanita berbikini, gambar botol-botol vodka, gambar sekumpulan gangster bahkan ada gambar sepasang lelaki yang sedang bercinta.

Astaga! Sekolah bagus macam apa yang mengizinkan muridnya menggambar ini di dinding koridor?!

Tak sengaja mata Luhan menangkap sederet kalimat menarik disamping gambar botol Grey goose vodka ;

Murid bukan kerbau yang selalu disalahkan! Dan guru bukan dewa yang selalu benar. Guru yang tak tahan kritik lebih baik masuk saja ke keranjang sampah!

"Siapapun yang menulis itu pasti siswa yang berani menentang guru." hipotesa Luhan.

"Kyungsoo-ya, Aku harus menutup matamu!" Luhan segera menutup mata Kyungsoo dengan tangannya, tidak mau sepupunya yang terkesan masih polos itu (ini hanya menurut Luhan) melihat gambar-gambar menjijikan itu.

"Seharusnya aku yang menutup matamu hyung."

"Sudah diam saja!" ucap Luhan, wajahnya dihiasi semburat merah karna gambar-gambar itu. Luhan terus berjalan seraya menutup mata Kyungsoo. Luhan tidak menyangka dan terus bertanya-tanya dalam hati. Kenapa kenapa dan kenapa?

Mata Luhan lagi-lagi tidak sengaja melihat graffiti besar didinding. Graffiti yang sama dengan yang Ia temukan didinding jalanan tadi.

EXO.

"Apa itu EXO?" gumam Luhan karna tulisan Exo ada dimana-mana. Apa mungkin itu semacam nama yang sedang popular disekolah ini?

Luhan dan Kyungsoo bisa mendengar suara keributan dari dalam kelas yang mereka lewati. Begitu berisik dan ramai. Tak jarang Luhan mendengar suara jeritan, membuat bulu kuduknya meremang.

"Ada apa sih didalam? apa gurunya tidak mengomel?"

..

..

"Kyungsoo-ya! Hwaiting!"

Kyungsoo tersenyum dan mengangguk pada Luhan yang sedang bersama Lee seonsaengnim, guru yang tadi mereka temui dikoridor untuk mengantarkannya kekelas masing-masing. Luhan dan guru muda itu beranjak meninggalkan Kyungsoo didepan kelas barunya bersama Kim seonsaengnimguru wanita yang akan membimbing Kyungsoo dikelas barunya.

Kyungsoo menatap pintu kelas didepannya yang bertuliskan 'XI-3' . Ah kelas ini akan menjadi kelas barunya yang menyenangkan.

"Ayo masuk, Kyungsoo-ya."

Kyungsoo mengangguk dan mengikuti Kim seonsaengnim dari belakang. Sebenarnya Kyungsoo agak heran, suara-suara didalam begitu berisik. Apa mereka sedang tidak belajar? Entah kenapa feeling Kyungsoo jadi tidak enak.

Kim seonsaengnim memegang kenop pintu kelas dan membukanya. Guru wanita itu melangkahkan kakinya kedalam, baru tiga langkah akan tetapi…

SPLASH!

PLUK!

—sebuah balon berisikan cairan hijau kental mendarat diwajahnya dengan sempurna.

Kyungsoo membulatkan matanya dan agak mundur beberapa langkah, terkejut? Tentu saja. Untunglah bukan wajahnya yang terkena balon berisi entah apalah itu.

"Ah! Seonsaengnim! kenapa berdiri disana? Lemparanku jadi tidak mengenai sasaran!" seru salah satu siswa yang Kyungsoo yakin adalah pelaku dari tindakan itu. Kyungsoo tidak mengerti, kenapa anak itu tidak takut pada Kim Seonsaengnim yang –jelas-jelas- korban lemparan balon itu. Malah beberapa siswa didalam terang-terangan menertawai wajah gurunya yang dipenuhi cairan hijau kental itu.

"S-seongsaengnim..i-ini bersihkan dulu wajahmu." Kyungsoo menyodorkan sapu tangannya takut-takut kearah guru wanita itu yang terdiam –masih shock- disertai geraman kesal.

Kim seonsaengnim menerima sapu tangan Kyungsoo dan membersihkan wajahnya penuh kekesalan. Setelah wajahnya sedikit bersih, guru wanita itu melangkahkan kakinya kedalam kelas disertai tatapan mematikan untuk murid-muridnya. Namun, tidak ada tanda-tanda ketakutan yang dikeluarkan dari murid-murid didepannya.

"Kim Taehyung! kau ikut denganku habis ini keruangan guru." Ucap Kim seonsaengnim penuh penekanan. Murid yang tidak lain adalah pelaku kenakalan itu hanya mendesah malas dan menatap gurunya dengan pandangan tidak suka.

"Baiklah kita lewatkan yang tadi. Bisakah kalian tenang sedikit? Aku membawa teman baru untuk kalian!" ujar Kim seonsaengnim. Tanpa meminta persetujuan lebih pada murid-muridnya, guru itu segera memanggil Kyungsoo yang berdiri diambang pintu untuk mendekat.

"Kyungsoo-ya, kemarilah."

Kyungsoo melangkahkan kakinya dengan ragu-ragu menuju Kim seonsaengnim yang berada didepan kelas. Bisa Kyungsoo rasakan kalau saat ini seluruh pasang mata murid-murid tengah menatapnya. Bahkan Kyungsoo samar-samar mendengar mereka berbisik-bisik.

"Nah, Kyungsoo-ya ayo perkenalkan dirimu."

Kyungsoo mengangkat wajahnya dan menatap murid-murid didepannya. Ah yatuhan! Tatapan-tatapan orang-orang didepannya sungguh membuat Kyungsoo tidak nyaman. Tatapan tajam, tidak bersahabat, dingin dan sinis. Mereka seperti predator lapar yang melihat seekor kelinci sendirian.

"A-annyeong.. namaku Do Kyungsoo. Aku pindahan dari Xian High School. Salam kenal semuanya." Kyungsoo membungkukan tubuhnya sekilas dan memberikan senyuman manis –terpaksa- pada teman-teman barunya. Entahlah jika masih bisa disebut 'teman'.

"Aku harap kalian memperlakukannya dengan baik." Ujar Kim seonsaengnim. "Apa ada yang ingin bertanya pada Kyungsoo?"

Seluruh tangan murid-murid didalam mengacung membuat Kyungsoo membuka mulutnya sedikit. terkejut. Mereka semua ingin bertanya apa?

"Kenapa kau pindah kesini? Apa kau tahu dimana kau berada sekarang?"

"Apa kemampuanmu? Kau bisa membunuh orang dalam 10 menit?"

"Hey mungil! Berapa ukuran penismu?"

"Kau mengonsumsi apa? valium, heroin, amphetamine atau shabu?"

"Apa kau liar jika diranjang?"

"Homoseksual atau heteroseksual?"

"Sepertinya kau anak yang tidak pernah memanjakan penismu sendiri dengan tanganmu benar 'kan?"

Mata Kyungsoo melebar mendapati pertanyaan-pertanyaan sefrontal itu dari murid-murid disana. Tidak tahu ingin berkata apa-apa. yang jelas, Kyungsoo ingin segera berlari menghampiri Luhan dan mengajaknya pulang.

Demi tuhan! Ini sekolah mengerikan!

..

..

"Kenapa kau ingin bersekolah disini? Kulihat kau bukan anak yang sering terkena masalah?"

Luhan mengernyit heran mendapat pertanyaan semacam itu dari Mr. Lee. Apa sekolah ini isinya anak-anak bermasalah semua? Sepertinya tidak.

"Memangnya kenapa saem?"

"Errrr tidak apa-apa. Hanya sedikit bingung, dari sekian banyak sekolah di Seoul, kenapa kau dan sepupumu memilih disini?"

"Um, sebenarnya ini pilihan paman Do. Aku dan Kyungsoo hanya menurutinya, lagipula paman bilang sekolah ini bagus dan salah satu sekolah terfavorit di Seoul."

Guru Lee menatap Luhan dengan satu alis terangkat, "Sekolah terfavorit? Hahaha pamanmu itu suka melucu ya?"

Luhan semakin bingung. Ia yakin ada yang tidak beres dengan sekolah barunya ini. Mereka terdiam sesaat, dan berjalan menuju tangga yang menghubungkan kearah lantai tigadimana kelas Luhan berada. Tetapi belum sampai tangga, Luhan sudah mendengar suara-suara aneh dari arah tangga. Suara pukulan benda keras dan erangan seseorang.

BUGH! BUGH!

"A-akh! B-brengsek! Kalian pecundang. Hanya berani keroyokan. PayahUhuk uhuk.."

"Kai, Sundut bibirnya dengan rokokmu."

"Dengan senang hati, Sehun. hey Jung! Ini cara yang ampuh agar kau berhenti mengoceh."

"AAARGH!"

Mata Luhan membulat dan buru-buru menatap guru disampingnya, "Seonsaengnim! Sepertinya ada perkelahian disana! Bagaimana ini?"

Rahang guru muda itu mengeras dan tangannya terkepal kuatmembuat Luhan agak menjauh sedikit takut.

"Pasti Exo.."

Bibir merah Luhan terbuka sedikit, EXO? Lagi?

..

..

To be continued…

A/N :

ASSALAMUALAIKUM! HAI HAI? GARA'S BACK XDD

ada yang kangen? /ih

Gue bawa FF baru nih yg gue janjiin dua bulan lalu sama My Jeje noona dengan tema gangster, semoga noona suka ya? ;;) dan semoga aja banyak yg suka sama FF ini hehe. Ini baru prolog sih makanya pendek.

Gue tau ini mungkin keliatannya mainstream—but, I'll try made this being anti-mainstream.

bagaimana? Tertarik untuk lanjut? Yang mau lanjut, sok tulis dikotak review! Tapi jangan ngeripiu kata 'Lanjuuut' doang ya -_- kasih pendapatnya tentang ff ini. Karna fuckyeah! gue excited bgt buat ff gangster-gangster begini. Bcs, I love bully and all of badboy things.

...

Peacesign,

Anggara Dobby.