Tiga tahun yang lalu…

PLAKK!

Wajah itu sontak oleng kesamping dengan memar kemerahan yang kini menghiasi pipi putihnya. Anak itu memejamkan matanya menahan rasa sakit yang baru pertama kali Ia dapat. Ia bisa merasakan rasa besi bercampur liur didalam mulutnya, berdarah. Bukan pipinya saja yang nyeri tapi hatinya juga. Ini pertama kali Ia mendapat perlakuan sekasar ini dan rasanya sangat menyesakan—seperti ada puluhan semut merah yang menggerogoti dadanya.

"Tinggalah di Amerika, ayah tidak mau melihat wajahmu."

Anak itu sontak menangis. Airmatanya mulai bercucuran membasahi wajahnya, Ia tak berani menatap lelaki berusia 47-tahunan yang merangkap sebagai ayahnya didepannya. Ia tahu, ayahnya marah besar walau wajahnya masih terkesan datar seperti biasa. Anak berambut coklat gelap itu menatap kesamping—dimana seorang pemuda berseragam sekolah tengah menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Hiks..hyung.." anak itu mengusap matanya yang sembab dengan punggung tangannya, seraya menyerot kembali cairan dihidungnya.

Seseorang yang dipanggil 'hyung' tidak bereaksi apa-apa, Ia mengalihkan pandanganya dari tatapan pedih anak berbaju Superman didepannya.

"Turuti kata ayah, aku juga tidak mau melihatmu disini."

Anak itu menangis kencang dan berlari kearah 'hyung'-nya, menarik-narik almamater hitam-putih yang melekat ditubuh pemuda itu. "Hyunghiksaku tidak mau tinggal sendiri disana! Andwaeyo! Kumohon—hiks—hyung.."

"..Aku tidak bisa membantumu. Pergilah, anak pembawa sial."

Dan kata-kata itu selalu tertanam diotak Anak tersebut. Kata-kata sederhana nan menyakitkan yang membuat dirinya berubah tigaratus enampuluh derajat.

.

Gara's present:

Not Perfect

.

Genre :Romance. Action.

Main Cast : Oh Sehun—Lu Han.

Support Cast : EXO's member

Rating : M—For bullying and sex scene! T—for teenage life.

Length : chaptered

.

Disclaimer : ©Story's by Anggara Dobby, Do not coppy or re-post allowed.

.

[WARN!] that's Yaoi! BoyxBoy! Dirty joke and Dirty talk everywhere. Gangster! Bullying! Adegan kekerasan anak sekolah yang tak patut dicontoh!

Yang tidak suka adegan bullying, bisa tinggalkan area ini.

..

Enjoy this time!

.

..

Chapter 2 : First—Bad—day!

.

.

Suara deruman mesin motor terdengar sangat memekakan telinga disepanjang jalan. Orang-orang yang melihat kedua motor besar itu melaju sangat kencang bagaikan kilatan petir merutuki si pengendara yang sangat kurang ajar melakukan ugal-ugalan dipagi hari yang tenang ini. Demi tuhan! Ini masih pagi! Orang gila mana yang melakukan hal semacam itu pada saat matahari baru muncul?

Oh ya, mereka ingat. Siapa lagi kalau bukan—

"SEHUN!"

Pengendara motor berwarna hitam bermodif menoleh pada si pengendara disampingnya tanpa mengurangi kecepatan laju mesinnya. "Apa?" –ia agak berteriak agar suaranya terdengar, karna mesin motor keduanya yang sangat berisik.

"Kita langsung kesekolah!" ujar si pengendara motor berwarna merah. Seseorang yang dipanggil Sehun itu mengangguk dari balik helm-nya. Kedua motor besar itu melaju menerobos jalan dengan kecepatan diatas rata-rata—mengabaikan beberapa pejalan kaki yang berteriak karna hampir ditabrak olehnya.

Tibalah keduanya didepan gerbang sekolah, mereka masuk kedalam area sekolah dan lagi-lagi mengabaikan teriakan kedua penjaga sekolah yang melihat ulah keduanya yang seenaknya saja menerobos gerbang tanpa mengurangi laju mesin motornya.

"OH SEHUN! KIM JONGIN!"

Yang diteriaki menghentikan gas motornya tiba-tiba hingga menimbulkan suara yang memekakan serta pusaran debu yang menyesakan pernapasan akibat ulahnya. Satu diantaranya melepas helm yang ada dikepalanya, dan terlihatlah wajah tampan bersurai hitam pekat dengan ekspresi dinginnya.

"Yo! captain?!" Ia menampilkan senyum mengejeknya pada kedua penjaga sekolah yang tengah berkacak pinggang kesal. "Apa kami terlambat?"

"Oh c'mon bro, ini baru jam setengah tujuh. Ini rekor pertama kita tidak telat masuk sekolah." Si pengendara motor merah ikut melepas helm-nya menampilkan wajah bermata tajam dengan kulit tan yang tidak dimiliki rata-rata orang Korea.

"Kalian memang tidak terlambat, tapi membuat kekacauan." geram penjaga sekolah, walau sudah biasa melihat tingkah keduanya namun tetap saja kedua anak itu selalu membuat naik darah.

"Sudahlah, ini untuk kalian! Parkirkan motor kami ditempat biasa, oke?"

Kedua anak itu melempar kunci motornya beserta sekantung plastik yang berisi soft drink. Kedua penjaga sekolah segera menangkapnya, dan membiarkan kedua siswa itu berjalan kedalam gedung sekolah. Sudah terbiasa dengan tingkah mereka, bukan hanya mereka yang berkelakuan seperti ini namun semua murid disekolah ini memang seperti itu.

Mirisnya.

Dia, Oh Sehun.

Pemuda tinggi dengan ukiran wajah yang sangat sempurna. Ia mempunyai mata tajam yang siap mengintimidasi siapa saja yang menatapnya—mungkin jika matanya mempunyai energy laser, maka siapapun yang berada didekatnya sudah meleleh mengenaskan— Ia memiliki hidung mancung dengan pahatan sempurna, alis tebal yang menghiasi atas matanya, rahang tegas dan tubuh tegap yang menambah poin kesempurnaannya. Tampan. Ia memiliki fisik yang mendekati kata sempurna.

Sehun adalah orang yang mengerikan. Dia dingin, kaku dan sangat menakutkan. Setiap kata yang meluncur dari bibirnya seperti bisa ular. Hatinya seperti batu, dan miskin ekspresi. Dia hanya akan tersenyum—itupun jika masih bisa dibilang senyuman karna sangat kaku—jika melihat seseorang sudah tergeletak tak berdaya dikakinya. Dia bukan orang yang bersahabat dan mengasyikan tetapi semua orang segan padanya. Karna Sehun memiliki pesona yang kuat.

Semua wanita (dan lelaki yang berstatus bottom) tidak akan mampu menolak pesonanya yang sangat kuat, mereka semua akan bertekuk lutut seraya memohon cinta—atau sekedar belaian tangan Sehun. ditambah sifat dingin dan irit bicaranya membuat kesan Pangeran melekat pada dirinya. Sayangnya dia tidak berkuda putih, melainkan bermotor besar berwarna hitam yang selalu menemaninya kemana-mana. Yeah, Sehun adalah pangeran di masa kini. Pangeran atau bajingan? Entahlah.

Sempurna? Mungkin semua orang yang melihatnya akan berkata seperti itu, namun hanya Sehun yang tahu kalau dirinya begitu tak sempurnasangat tidak sempurna.

Sehun adalah salah satu siswa popular di OX 86 High School, sekolahnya. Bukan karna popular akan prestasi, tapi karna...

"Dimana kelas si bedebah sial itu?! aku sudah tidak sabar ingin merobek kulit wajahnya."

..Sikap kejamnya.

Ya, dia sangat senang melakukan penyiksaan—pembully-an, tidak perduli siapa yang menjadi lawannya yang terpenting hasrat kesalnya bisa terlampiaskan. Ia senang melihat lawannya berteriak, memuncratkan darah, dan memohon padanya. Bagi Sehun, itulah hidupnya. karna dihidupnya tidak ada kasih sayang dan keperdulian. Sehun bukan orang yang tidak bisa mengendalikan kontrol emosinya, ia hanya ingin bersenang-senang dengan caranya sendiri.

Sehun muak melihat orang yang lemah. Mereka diberi akal dan potensi untuk melawan namun, mereka lebih memilih berteriak dan memohon agar tidak disiksa. cukup bodoh. Sehun tidak segan-segan menghabisi seseorang yang membuatnya kesal—walau hanya karna masalah spele. Sehun juga benci jika dinasihati, rasanya mau muntah dan mulas. Muak sekali mendengar orang-orang yang memberinya nasihat, kata-kata penenang dan sebagainya. Omong kosong!

Sehun seorang gangster? Ya mungkin bisa dibilang seperti itu. Tepatnya satu diantara lima gangster yang terkenal disekolah ini—atau malah dikota Seoul karna semua orang tahu kalau lima pemuda kelas tingkat dua itu sering berurusan dengan polisi dan dibenci oleh umum.

Nama kelompoknya adalah EXO, singkatan dari EXcruciate Ominous; penyiksaan yang tak menyenangkan. Ya, anak balita juga tahu kalau penyiksaan itu memang tidak menyenangkan. Nama konyol yang terkesan mengerikan ini dibuat oleh Kai dan Chanyeolanggota Exo juga. Sehun hanya menyetujuinya dengan malas. Toh diberi nama maupun tidak, kelompok mereka memang yang paling mengerikan—bahkan para aparat penegak hukum sudah sangat bosan melihat wajah mereka.

Orang-orang hanya tahu Sehun hanyalah anak baru puber yang suka membuat onar dimanapun bersama kelompoknya, yaa hanya sekedar itu.

"kelasnya disini, Hun." ucap pemuda berkulit tan disamping Sehun, pemuda itu menunjuk sebuah ruang kelas dengan dagunya.

Namanya, Kim Jongin. Orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan Kai. teman Sehun sejak SMP yang sama-sama badung seperti Sehun. Pemuda yang sama tingginya dengan Sehun ini memang tidak pernah terpisahkan oleh Sehun. bahkan mereka sama-sama di 'pindahkan' di Las Vegas oleh orangtua mereka tahun lalu untuk membuat kenakalan mereka berkurang, tetapi faktanya Sehun dan Kai malah menjadi-jadi, mengikuti budaya barat yang semakin merusak otak remaja mereka dengan mengikuti aksi balap liar, party seks—untuk yang ini Sehun tidak pernah mengikuti—, minum-minum, bahkan mengonsumsi psikotropika.

Berbeda dengan Sehun yang jarang bicara dan lebih suka membunuh orang secara perlahan-lahan, Kai malah terkesan banyak bicara, dan langsung menghabisi seseorang dengan beringas. O-oh jangan salah paham! Mereka bukan seorang pembunuh, hanya mencoba membunuh saja.

BRAKK!

"Aku mencari Jungshin." suara dingin Sehun dan tendangannya pada pintu kelas menggema diruang kelas XI-4 membuat semua orang didalam sana menghentikan segala aktivitas mereka, terkejut dengan kedatangan dua anak yang paling disegani disekolah itu.

Mata tajam Sehun menelisik keseluruh penjuru kelas, dan tatapannya langsung berhenti pada seorang siswa yang tengah menegang dikursi pojoknya. Si bedebah sial itu terlihat sangat pucat melihatnya.

Sudah takut heh?

"Kami sengaja datang pagi-pagi untukmu, Jung. kau terpana?" Kai berjalan kedepan kelas, dan duduk diatas meja guru dengan tidak sopan. Tangannya bermain-main pada vas bunga yang berada dimeja guru. Selanjutnya vas bunga kaca itu terbentur dilantai dengan keras hingga pecah berkeping-keping. Sebagian siswi memekik kaget sekaligus bergetar takut.

Semuanya masih terdiam, jujur saja kedua orang itu membuat mereka takut. Terlebih pada orang yang dicari Sehun, ia menggenggam kaleng minumannya erat-erat. Oh kasus pembully-an ditengah lapangan kemarin saja masih terbayang-bayang dipenglihatan mereka semua, dan pagi ini harus melihat lagi?

Sehun menghampiri kursi lawannya, Ia langsung meraih dasi anak itu dan menariknya hingga anak bernama Jungshin itu terbatuk-batuk karna tercekik. "Ikut aku!"

"Kalian jangan mencoba-coba ikut campur, ini urusanku dengan keparat ini." tukas Sehun menunjuk satu persatu teman-teman Jungshin yang berniat berdiri membantu Jungshin. "Jika kalian masih ingin hidup tenang, duduk manislah dikursi kalian."

Sekelompok teman Jungshin itu menunduk, tidak berani meneruskan niat baiknya untuk menolong teman mereka. Sehun mendengus, Solidaritas mereka lemah sekali. hanya sekali ancaman, langsung mati kutu. Bukan tipe pertemanan yang kuat.

Sehun berjalan seraya menarik dasi Jungshin hingga anak itu terpaksa mengikuti Sehun dari belakang dengan nafas yang tersendat-sendat akibat cekikan dasi dilehernya. Kai bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti Sehun, sebelum benar-benar pergi meninggalkan kelas itu, Ia tersenyum miring pada anak-anak disana.

"Semoga hari kalian menyenangkan, teman-teman."

BRUG!

Sehun segera menghempaskan tubuh anak dibelakangnya kelantai membuat erangan kesakitan terdengar dari bibir Jungshin. Masih dengan wajah dinginnya, Sehun melepas ikat pinggang dicelana seragamnya.

"Selamat pagi, Jung. siap bermain denganku?" pemuda berkulit seputih susu itu memutar-mutar ikat pinggangnya. Wajah Jungshin pucat, shit apa yang akan dilakukan Sehun padaku? –batinnya ngeri melihat ikat pinggang Sehun yang siap kapan saja mencambuk tubuhnya.

"S—sehun..kau mau apa?" tanya Jungshin terbata-bata.

"Hei jangan gugup seperti itu. Memangnya aku sedang menyatakan perasaanku padamu?" dengus Sehun. dia muak melihat setiap orang yang akan menjadi lawannya pasti berkata demikian; "Sehun kau mau apa?" atau "tolong, lepaskan aku."

"Jika wajahnya merona berarti dia memang mengira kau akan menyatakan perasaanmu padanya." Kai terkekeh lalu mengeluarkan sebatang rokok dari saku seragamnya. Ia mematiknya dengan korek api gas dan segera mengapit rokok itu dibibirnya. Kai kembali terkekeh disela-sela kegiatan merokoknya melihat Sehun mendecih.

"Semalam kau sangat berani padaku Jung, sampai sengaja menumpahkan cocktail kebajuku. Dan sekarang, mana wajah angkuhmu?" tanya Sehun dingin, ada nada keretorisan disana.

"S-sehun..ma-maaf..aku, aku tidak sengaja."

"Oh tidak sengaja?" ulang Sehun pelan, "baiklah..aku maafkan." Sehun mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti membuat Jungshin mendesah lega, Ia tidak menyangka Sehun akan berubah pikiran secepat ini. Ia kira dirinya akan habis dengan luka-luka disekujur tubuhnya. Tch, Sehun bodoh juga ternyata, dia tidak seperti yang dikatakan orang banyak –batin Jungshin.

CTAK!

"AAARGH!"

—nyatanya salah besar.

Jungshin langsung berteriak kesakitan begitu ikat pinggang Sehun menyapa kulit wajahnya, rasa nyeri menjalar dipermukaan wajahnya. Hipotesisnya salah, Sehun tetaplah Sehun. Ia tidak akan membiarkan lawannya pulang dengan kulit utuh.

"Aku tidak sebodoh itu untuk kau bohongi, keparat!" Sehun kembali mengayunkan ikat pinggangnya dan mencambuki wajah Jungshin tanpa henti. teriakan dan erangan Jungshin menggema dilorong dekat tangga itu merasakan betapa perihnya ketika kulitnya bersentuhan dengan ikat pinggang Sehun. sementara Kai hanya merokok dan menonton adegan itu dengan pandangan biasanya, tidak berniat sekali membantu Jungshin.

Memangnya mau dihajar Sehun jika Ia menolong Jungshin? Tch, lagipula Kai tidak sebaik itu menolong orang yang sedang disiksa. Ia malah menikmatinya. Kai mengumpat dalam hati, betapa bodohnya si Jungshin itu membuat gara-gara dengan Sehun dan juga membohonginya. Kai tahu, kalau Sehun memang paling tidak suka dibohongi.

"AKHH! Berhenti mencambukku brengsek!" teriak Jungshin.

Sehun segera menghentikan kegiatannya dan begitupula dengan Kai yang terkejut mendengar teriakan berani Jungshin.

Kai bertepuk tangan, "Woah, kau memanggil Sehun brengsek. Nyalimu bagus juga Jung.." Ia memuji Jungshin dengan segenap hati.

"Memangnya dia siapa yang harus kuhormati dan kutakuti hah?" Jungshin tahu bahwa hidupnya akan berakhir pagi ini karna telah berkata demikian, tetapi Itu memang Ia sengaja agar Sehun tersulut emosi dan menghabisinya. dengan begitu, Sehun akan berurusan dengan polisi lagi—dipenjara. Jungshin mati, Sehun dipenjara? Yeah, Jungshin akan puas jika itu terjadi. Makhluk bajingan seperti Sehun memang pantasnya mendekam dan membusuk di penjara.

"Nah, aku menyukai Jungshin yang berani seperti ini. bukan pengecut seperti tadi." Sehun menunjukan seringaiannya, membuat Jungshin meneguk ludahnya. Ia ingin segera berlari melihat seringaian sinis itu, tetapi semuanya sudah terlanjur; Ia menghina salah satu gangster kejam itu.

"Enyahlah kau dari dunia Oh Sehun keparat! Brengsek! Hahaha" seru Jungshin disela-sela ringisan sakitnya karna kulit wajahnya sedikit terkelupas akibat cambukan Sehun. Ia tertawa bagaikan psikopat yang tengah menyiksa korbannya. Kai yang sedari tadi hanya menjadi penonton kini menghampiri Jungshin dan segera menendang anak itu dengan kuat.

"Nyalimu memang bagus, tapi jangan kurang ajar seperti itu!" bentak Kai kesal.

Jungshin kembali mengerang merasakan tendangan kencang diperutnya, "A-akh! B-brengsek! Kalian pecundang. hanya berani keroyokan. payahuhuk uhuk.." Jungshin sedikit mengeluarkan darah segar dari mulutnya.

Sehun berujar santai, "Kai, sundut bibirnya dengan rokokmu."

"Dengan senang hati, Sehun. hey Jung! Ini cara yang ampuh agar kau berhenti mengoceh." Kai mengarahkan puntung rokoknya dibibir Jungshin dan menyundutnya disana dengan penekanan.

Mata Jungshin membulat sempurna, dan detik itu juga Ia berteriak kesakitan, "ARGHH!"

"BERHENTI! OH SEHUN, KIM KAI!"

Sehun dan Kai segera menoleh kebelakang mereka dan mendapati Mr. Lee tengah menatapnya bengis. Sehun dan Kai mengumpat bersamaan, sial! Kalau sudah seperti ini, mereka akan berurusan dengan guru konseling mereka yang terkenal kejam itu lagi.

Mereka bukan takut. Guru konseling mereka selalu punya cara untuk membuat keduanya gerah.

—nasihat keagamaan disertai pukulan rotan.

Itu lebih mengerikan daripada dikuliti lalu disiram dengan alkohol.

Mr. Lee menghampiri kedua pemuda berandalan itu, Kai segera membuang rokoknya sembarangan dan berpura-pura bersikap biasa saja. "Selamat pagi seonsaeAkh!" sapaan Kai terpotong oleh erangan sakit karna Mr. Lee memukul kepalanya dengan keras.

"Akhh!" Sehun ikut mengerang ketika tangan Mr. Lee sampai dikepalanya. Jika Ia bukan guru disini, Sehun sudah menghabisinya dari dulu.

"Sampai kapan kalian terus seperti ini ha?!" bentak Mr. Lee, Ia sudah lelah dengan kelakuan murid-muridnya yang kurang ajar—terlebih Exo. Rasanya ingin sekali Ia mengundurkan diri sebagai guru dari sekolah ini namun apalah daya mencari pekerjaan sangatlah susah di Seoul saat ini. Dan Sekolah buangan ini masih memelurkan tenaga kerjanya dan memberinya gaji besar tiap bulan.

Sementara Mr. Lee mulai mengomel panjang lebar, Sehun mengalihkan pandangannya dari guru muda yang setiap hari memukul kepalanya itu; malas sekali melihat dan mendengarkan Mr. Lee. Ia menatap Jungshin yang masih duduk meringkuk seraya meringis kesakitan dengan seseorang berambut coklat almond halus yang tengah berjongkok membantunya.

Tunggu! Siapa itu? kenapa Sehun baru menyadari ada orang lain selain mereka dan Mr. Lee?

Sehun menatap orang itu yang tengah mengatakan –entah apa- pada Jungshin, wajahnya menunduk membuat Sehun tidak bisa melihat wajah orang yang sok pahlawan itu. tapi yang jelas Sehun bisa melihat tangan putih yang terkesan lembut itu sedang menyentuh wajah Jungshin yang terluka. Ada sebuah cincin perak dikelingkingnya membuat jarinya terlihat sangat manis mengenakan itu.

Sehun muak sekali dengan orang-orang yang sok pahlawan macam itu.

"Oh Sehun! kau mendengarkanku tidak?!"

Sehun tersadar dan segera menoleh ke Mr. Lee, Astaga kenapa Ia bisa memperhatikan seseorang dengan sedetail itu hingga tidak menyadari suasana?

"Hhh, sudahlah. Kalian! Ayo ikut aku menghadap guru konseling." ujar Mr. Lee yang dibalas gerutuan oleh Sehun dan Kai. Mr. Lee melirik kebelakang dimana korban pembully-an Sehun dan Kai sedang dibantu oleh murid barunya.

"Luhan-ah, aku tinggal kau sebentar. kau tunggu disini dan bantu Jungshin ya?"

"baik, seonsaengnim."

Dan sialnya Sehun tidak sempat melihat wajah itu karna orang itu menunduk lagi untuk membantu Jungshin. Ah tapi apa perdulinya.

..

..

"Astaga wajahmu parah sekali!"

"A-akh! Jangan sentuh!" Jungshin mengerang membuat Luhan segera menarik tangannya dari pipi Jungshin. Luhan ikut meringis, tidak menyangka dihari pertama Ia sekolah mendapat tontonan mengerikan seperti ini. Ternyata pembully-an itu masih ada..

"O-oh, maafkan aku." ucap Luhan menyesal, Ia cukup prihatin dengan keadaan namja didepannya ini. "Mau kuantarkan ke UKS?" sebutlah Luhan bodoh karna menawarkan hal itu pada seseorang yang tidak dikenalnya sama sekali, terlebih Ia siswa baru disini mana mungkin tahu jalan kearah UKS.

Jungshin berusaha bangkit berdiri dan menatap Luhan dari atas kebawah (Luhan risih akan hal itu), tanpa Luhan duga, anak yang berusaha Ia bantu itu mendecih kearahnya.

"cih, anak baru." Jungshin terkekeh sinis, "Kuperingatkan agar kau jangan sok pahlawan disini. Disekolah ini tidak ada yang namanya bantu-membantu dalam hal kebaikan."

Lelaki berambut yellow dark itu mengusap aliran darah dipinggir bibirnya dan pergi meninggalkan Luhan masih dalam posisinya dengan berjalan tertatih-tatih.

"niatku baik, kenapa dia seperti itu?" pikirnya. Entah perasaan Luhan saja atau apa, Ia merasa ada yang aneh dengan sekolah ini.

"Bagaimana dengan Kyungsoo ya?" gumamnya.

..

..

..

..

"Aku ingin pulang.." gumam Kyungsoo dengan mata yang fokus kearah bukunya saja—buku kosong sih, tapi itu lebih baik daripada Ia mendongak dan mendapati seluruh teman (jika bisa dibilang begitu) tengah menatapnya tajam bagaikan sekumpulan zombie ingin memangsa satu manusia.

Seluruh dinding kelas penuh coretan, yang lebih dominan adalah graffiti hitam besar bertuliskan 'E-X-O' ditengah-tengah dinding kelas. Oh yaampun, lagi-lagi exo. Kyungsoo tidak tahu itu nama apa. Satu jendela kaca kelas yang pecah, beberapa kursi tidak utuh dipojok kelas, tidak ada guru yang mengajar, dan anak-anak yang sangat berisik.

Ini bukan tempat Kyungsoo.

"Heii anak baru!" Kyungsoo menegang merasakan tepukan dibahunya serta beberapa anak yang mulai mengelilinginya.

"Kenapa kau pindah kesini?" tanya seorang siswa (yang Kyungsoo ingat bernama Taehyung) dengan ketus. Kyungsoo tetap tidak mau mendongak ataupun menjawab, takut jika Ia salah jawab maka wajahnya akan berakhir dengan memar-memar.

"Ya! Jawab pertanyaanku!" bentak Taehyung. Kyungsoo memejamkan matanya rapat-rapat bersiap-siap menerima pukulan yang akan mendarat dipermukaan wajahnya. Tetapi sebuah suara dobrakan dipintu kelas menghentikan kepalan tangan Taehyung didepan wajah Kyungsoo. Seperti memiliki kontak batin, seluruh murid-murid yang berada disana menoleh kearah pintu kelas secara bersamaan.

Lima orang siswa yang sedang berjalan memasuki kelas.

Taehyung dan kawan-kawannya segera berlari secepat kilat menuju kursinya membuat Kyungsoo bingung. Kyungsoo menatap kelima pemudaah astaga! Tiga dari segerombolan pemuda itu adalah yang menabrak bahunya dan Luhan tadi pagi. Mata Kyungsoo melebar, apa aku akan sekelas dengan mereka? Bagaimana ini?

Kyungsoo juga sangat bingung dengan situasi semacam ini, seluruh murid yang tadinya sangat berisik sekarang terdiam tidak melakukan apapun, dan mereka semua menunduk—tidak mau menatap siswa-siswa itu. ada apa sih? Siapa mereka?

Kelima pemuda itu melangkah mendekati Kyungsoo dengan wajah datar mereka, Kyungsoo meneguk liurnya dan cepat-cepat menunduk lagi. Ia yakin, sangat yakin kalau mereka bukan anak baik-baik.

"Siapa kau?" satu pertanyaan ketus meluncur dari bibir salah satu pemuda diantara mereka. Jelas itu pertanyaan untuk Kyungsoo. dan lagi-lagi Kyungsoo lebih memilih diam. "Kenapa berani duduk dibarisan kami?"

Bolehkah Kyungsoo lari secepatnya dari sini dan tidak akan balik lagi?

"Dia tidak menjawabmu Kai." pemuda bermata sipit berhiaskan eyeliner itu terkekeh pelan.

"Kurang ajar. Jawab pertanyaanku!"

Kai menggeram kesal dan meraih dagu Kyungsoo—mencengkeramnya kuat-kuat dan mendongakan wajah itu. Kyungsoo meringis merasakan kuku tajam seseorang itu menembus kulit wajahnya.

Ketika wajah itu berhadapan dengan wajahnya, untuk sesaat Kai tertegun.

"tunggu! Bukankah dia orang yang tadi pagi kita temui dihalaman depan?" ujar pemuda berambut agak kriting dari kelimanya—bername tag Kim Jong Dae. Baekhyun dan Chanyeol mengangguk, menyetujui ucapan Chen, nickname Jongdae.

"Ya, yang bersama namja menyebalkan itu." imbuh Baekhyun. "Tch, ternyata anak baru."

Kai segera menghempaskan wajah Kyungsoo membuat wajah Kyungsoo terlempar kesamping, Ia mendesis sakit. "Pantas. Anak baru memang kurang ajar."

"Kau tahu dimana kau berada sekarang?" tanya Sehun pelan, Ia terduduk diatas meja yang ditempati Kyungsoo. Sementara murid lain hanya menjadi penonton tanpa berniat membantu atau membelanya sama sekali; mereka tidak mau menanggung resikonya jika berurusan dengan Exo.

Exo? Iya, kelima pemuda itu adalah anggota Exo yang sudah sangat terkenal disekolah ini—bahkan sekolah-sekolah lain karna sering mengadakan tawuran antarsekolah. Oh Sehun si Drift King dan pemimpin kejam; Kim Jongin si pengedar heroin kelas atas; Park Chanyeol si Disc Jokey; Kim Jongdae si pemilik klub dan Byun Baekhyun si mungil pembisnis senjata online illegal. kelima pemuda berandal (yang sialnya tampan-tampan itu) yang sudah dicap sangat buruk oleh umum, mungkin pengecualian untuk Baekhyun—wajahnya terkesan cantik nan polos dengan tubuh mungil membuat orang-orang tidak percaya kalau Ia juga salah satu gangster terkenal itu. Tapi jangan dilihat dari fisiknya yang terkesan feminim, Baekhyun jago dalam berkelahi dan siap melayangkan cutter yang selalu Ia bawa kemana-mana kewajah orang yang membuatnya naik pitam.

Mereka bukanlah pemuda biasa yang merangkap sebagai berandalan kelas teri. Mereka lebih dari sekedar itu.

Kembali ke permasalahan Kyungsoo. Anak itu tetap terdiam, bahkan mengeluarkan satu kata saja sepertinya haram. Membuat Sehun marah dan sangat kesal—ia tidak suka diabaikan.

"Dia bisu." tukas Chanyeol.

"tepatnya juga tuli, Yeol." sambung Baekhyun. kedua anak itu tertawa mengejek yang membuat Kyungsoo lama-lama kesal.

"Baiklah..kalau kau memang bisu dan tuli. Aku mentoleransinya, lagipula tidak seru memukuli orang cacat." ucap Sehun datar.

"nanti mendapat dosa." sambung Chen. Mereka berlima tertawa mengejek bersama, tawa yang sangat menyebalkan ditelinga Kyungsoo.

Kyungsoo mengepalkan tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih, Ia berdiri dan dengan secepat cahaya memukul wajah Kai hingga wajah pemuda berkulit tan itu terdorong kesamping.

BUGHH!

Seluruh murid-murid disana melotot kaget bahkan keempat teman Kai yang melihat itu secara langsung dari dekat sangat terkejut. Tidak menyangka dengan reaksi tiba-tiba 'si anak baru' yang sangat berani itu. sementara Kyungsoo menegang dengan tangannya yang masih terkepal perlahan-lahan menurun, Ia juga tidak menyangka melakukan hal itu—niatnya Ia ingin memukul wajah Sehun, tetapi Sehun seperti bisa membaca fikiran Kyungsoo segera menghindar dan malah mengenai wajah Kai.

Tubuh Kyungsoo bergetar, entahlah dia menjadi takut seperti ini. Ia merutuki kebodohannya yang tidak bisa dikontrol itu. apalagi melihat sekarang wajah Kai yang menatap kearahnya dengan pandangan mengerikan. Sungguh! Itu mengerikan sekali.

"Woah! Kau pemberani juga ya?" tukas Chen.

"Sial, dia tidak cacat." desis Chanyeol. Menelisik kearah Kyungsoo dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Kau!" Kai menunjuk Kyungsoo dengan tajam, matanya berkilat emosi—sebelumnya Ia tidak pernah dipukul didepan murid-murid seperti ini, memalukan! Apalagi dengan pemuda yang tubuhnya lebih kecil darinya. "Selamat, kau sudah menggali kubur untuk hidupmu sendiri."

Kai berjalan menuju kursinya setelah menabrak bahu Kyungsoo dengan kencang, membuat Kyungsoo agak terhuyung kebelakang.

Sehun mendekatkan wajahnya kearah Kyungsoo membuat Kyungsoo menegang takut, "Selamat datang di OX 86 High School.." bisiknya mengancam.

Baekhyun tersenyum sinis, "Kau 'teman' sebangkuku sekarang.."

Chanyeol menatap Baekhyun dengan pandangan protes, "Lalu aku? Aku duduk dengan siapa ha? Aku tidak mau berpisah denganmu Baek!"

"Astaga, masih ada Chen. duduklah dengannya, karna aku…ingin membuat anak ini tahu bagaimana merasa nyaman disekolah ini, Bukankah begitu Sehun, Kai?"

..

..

Entah sudah berapa puluh kali hari ini Luhan mengeluarkan sumpah-serapahnya dalam hati sejak menginjakan kakinya disekolah baru ini ; apalagi ketika kakinya yang terbalut sneakers hitam itu menginjak lantai kelas barunya, XII-2. Semua hipotesisnya tentang sekolah ini buruk, memang benar. seluruh pasang mata tidak bersahabat menatapnya dengan dingin, beberapa murid yang melakukan tindakan tak patut (merokok, menaruh kaki diatas meja, bahkan bercanda) didalam kelas, dan keadaan dalam kelas yang lebih pantas disebut tempat tongkrongan anak nakal.

Benar-benar buruk. Bahkan ketika Luhan memperkenalkan diri didepan kelas, seluruh anak-anak itu menatapnya seperti ingin menelanjanginya. Luhan yang memang mudah tersulut emosi namun bisa dikontrol itu hanya membuang jauh-jauh niatnya untuk menancapkan garpu dimata anak yang menatapnya tidak suka. padahal Luhan sudah membayangkan wajah ramah-tamah temah barunya, tapi harapan itu nyatanya tidak akan terjadi.

"Kenapa pindah kesini?" suara lembut itu menyapa pendengaran Luhan, Luhan menoleh kesampingnya—mendapati 'teman' sebangku barunya yang tersenyum tipis, sangat tipis. Luhan yakin anak ini ramah namun dari pertanyaannya Luhan menduga itu bermakna 'Jangan injakan kakimu disini! Pergilah!'

"Usul pamanku." jawab Luhan sekenanya. Pemuda itu hanya membulatkan bibir merahnya tanda mengerti dan mulai menyumpal kedua telinganya dengan earphone, memejamkan mata menikmati alunan musik seraya bersandar dikursi. Tanpa berniat bertanya apa-apa lagi.

Luhan mengernyit heran melihat tingkah lakunya, mungkin anak disebelahnya masih wajar melakukan hal itu dibanding siswa-siswa lain yang berceloteh heboh dengan rokok mengapit dibibirnya atau siswi-siswi yang sibuk bergossip seraya memoles wajah mereka. Luhan mendengus keras-keras, sekolah macam apa sih ini?

"Hey Sica! Kenapa baru datang?"

Luhan menolehkan kepalanya kearah pintu masuk, terdapat seorang wanita cantik (yang diyakini siswi dikelas ini) dengan rambut pirang platina panjangnya, serta seragam yang melekat pas ditubuh seksinya. Luhan kembali kebingungan, ini sudah hampir jam sembilan! Dan siswi itu baru datang? Bukankah itu melanggar peraturan?

"Kau seperti tidak tahu saja, Jessica semalam melayani ahjussi-ahjussi haus seks. Aku melihatnya memasuki mobil lelaki itu. bukankah begitu Jung?" sahut salah seorang siswa dengan santai.

"Bukan urusanmu, Jonghyun keparat." Perempuan bernama Jessica itu menjawab datar dan berjalan menuju kursinya yang dekat dengan Luhan.

"Jam sembilan malam, Apartmen Yanggu nomor 110. Jangan lupa Sica, aku membayarmu lebih." Seru siswa lain yang bergabung dipojok kelas seraya bermain monopoli dengan teman-teman berisiknya. "Kuharap kau tidak ada jadwal malam ini."

Jessica mendengus, "Maaf saja Kim, Oh Sehun sudah terlebih dulu mengajakku." Mendengar 'nama' itu disebut, seluruh pasang mata siswi menoleh tajam kearah Jessica. Tatapan yang seolah-olah menguliti Jessica, dan bermakna 'Pasti-kau-yang-menggodanya-terlebih-dahulu-jalang!' dan beberapa siswa yang berdecak seraya bergumam, "Si brengsek itu."

"Ada apa dengan tatapan kalian? Iri?" Jessica tertawa merendahkan. Siswi-siswi disana sudah siap berlari menghajar wajah Jessica, namun diurungkannya karna ada assistent divisi disiplin disini—tepatnya disebelah Luhan.

Sementara Luhan benar-benar dibuat kebingungan dengan situasi ini, belum sepenuhnya sadar akan pikiran kritisnya, Luhan merasakan tangan lembut menyentuh dagunya dan mengangkat wajahnya. Luhan segera sadar begitu matanya bertemu pandang dengan mata berhiaskan mascara itu didepannya.

"Hei, kau anak baru?" tanya Jessica dengan mata berkilat senang. Luhan gugup seketika, karna jarak wajah mereka yang terlampau dekat. Luhan bisa melihat dengan jelas wajah cantik itu. Ia mengangguk patah-patah.

"Siapa namamu?"

"Luhan."

"Woah, kau cantik. Kukira kau perempuan tadi, hampir saja aku berniat ingin meludahi wajahmu. tetapi mendengar suara pubermu, ku urungkan niatku." ujar Jessica. Luhan segera berekspresi datar dan menarik segala persepsinya jika wanita ini cantik.

"Maaf, aku tidak cantik." Luhan melepaskan tangan Jessica dari dagunya perlahan. Bisa Luhan dengar derai tawa siswa-siswi disekitarnya, jelas mereka menyetujui ucapan Jessica. Dengan wajah putih tanpa ada cacat sedikitpun, mata bermanik coklat yang terkesan indah, bibir mungil dengan warna merah muda alami serta ditunjang ukuran tubuh tidak berotot membuat siapapun yang melihatnya akan berkata Cantik pada Luhan. jika Ia perempuan mungkin akan bangga mendapat pujian itu, tapi dirinya adalah lelaki. Bagi Luhan itu penghinaan.

"Seberapa kuat kau jika diranjang? Aku meragukanmu."

Mata Luhan melebar mendapat pertanyaan semacam itu dari perempuan yang belum dikenalnya samasekali. Astaga, dia vulgar sekali. Luhan tahu kemana arah pembicaraan ini. Tidak jauh-jauh dari seks.

"Duduklah dikursimu Jung, jangan buat anak baru tidak nyaman dihari pertama Ia masuk sekolah." Ujar seorang pemuda berwajah (entah perasaan Luhan saja atau memang benar) angelic, tidak seperti wajah siswa-siswa lain. Ia berdiri disamping Jessica membuat perempuan itu cepat-cepat kembali kekursinya.

"Aku memang sudah tak nyaman." batin Luhan.

Pemuda bertubuh agak pendek itu tersenyum pada Luhan, "Maafkan dia. Kuharap kau tidak terlalu serius menanggapi ucapannya."

Luhan mengangguk, lagipula siapa yang mau menganggap serius ucapan wanita itu? dan Luhan berfikir, mungkin siswa didepannya ini adalah ketua kelas, karna sikapnya yang paling 'waras' diantara yang lain.

"Aku Kim Joonmyeon, kau bisa memanggilku Suho. Aku divisi disiplin disini, salam kenal."

Pantas..ternyata divdis. "Aku Luhan, salam kenal juga Suho-ssi." Luhan membalas jabatan tangan itu dan tersenyum kikuk.

"Semoga kau nyaman disini.." ucap Suho lalu duduk dikursinya yang berada didepan Luhan. Luhan meringis, tidak yakin akan nyaman bersekolah disini mengingat kesan pertama sangat buruk berada disini, padahal baru satu jam dia merangkap sebagai siswa OX 86 High School.

"Kurasa hanya dia yang baik diantara seluruh murid disini." gumam Luhan yang masih bisa didengar orang disebelahnya yang masih asik memejamkan matanya.

Orang itu terkekeh, "Murid disini tidak ada yang baik, seseorang didepanmu lebih berbahaya dibanding semuanya."

Suho bisa mendengar itu karna suara orang disebelah Luhan yang sengaja dibesarkan. Ia menyahuti dengan santai, "Benarkah begitu Xing?"

"Mm-hm, mana ada orang baik yang suka memukuli adiknya sendiri hingga masuk ke Rumah sakit."

"Dia bukan adikku Xing." jawab Suho dengan nada dingin dan tak bersahabat.

Dan Luhan merasa hidupnya akan berubah seratusdelapan puluhderajat jika Ia ada disini, Luhan tidak bisa bertahan disini. Karna Ini bukan tempatnya…

..

Bel istirahat terdengar membuat murid-murid langsung berhambur keluar kelas, padahal sang guru belum beranjak keluar kelas. Termasuk Luhan, Ia segera melangkahkan kakinya cepat-cepat keluar dari kelas yang Ia sebut sebagai 'ruangan setan' itu.

Kenapa ruangan setan? Yeah, siapapun akan berkata demikian ketika melihat ruang kelas bertransformasi sebagai tempat tongkrongan anak-anak nakal. Bahkan seseorang yang disebut-sebut sebagai divisi disiplin malah berjalan keluar ketika suasana kelas tak terkendali—ada perkelahian antar siswi tadi. Bukannya melerai, Suho malah berjalan keluar kelas dengan santai seraya menggandeng tangan wakilnya-nya, Yixing. Dan demi tuhan! Bahkan guru yang sedang mengajar tadi tidak perduli, malah memainkan ponselnya seraya merokok, yang benar saja.

"Aku akan protes pada Paman Do dan Baba, mereka sepertinya sengaja memindahkanku kesekolah ini agar aku ikut-ikutan menjadi anak berandalan yang tidak tahu etika. Yatuhan, lebih baik aku tetap di Beijing saja." gerutu Luhan. Ia berjalan cepat mencari-cari kelas Kyungsoo, perasaannya tidak enak. Ia takut Kyungsoo diapa-apakan oleh murid disini.

Kyungsoo memang pendiam tapi jika Ia sudah marah..menyeramkan! Luhan saja takut jika anak itu sudah terbakar emosi. Bagaimanapun juga Kyungsoo seorang lelaki yang punya batas kesabaran. Janganlah berbuat macam-macam pada Kyungsoo selama Ia masih berkata baik-baik.

Luhan mengabaikan tatapan-tatapan murid yang Ia temui disepanjang koridor, Urgh sial! Anak-anak sini seram-seram sekali, kebanyakan dari mereka bertindik ditelinga dan mewarnai rambut dengan warna mencolok sekali. Luhan jadi ingat preman-preman di jalan.

"Tidak adakah yang wajahnya enak dilihat diantara mereka?" –batin Luhan.

Luhan berdecak kecil, "Dimana ya kelas Kyungsoo?"

Ia merutuki otaknya yang cepat sekali lupa. Luhan ingin bertanya pada salah satu siswa, tapi tidak yakin melihat wajah tidak bersahabat mereka. Sungguh tidak lucu jika Luhan tersesat dihari pertama Ia sekolah. Luhan memutuskan untuk bertanya, masa bodoh jika Ia akan dipukul atau dicaci karna Luhan sudah siap melawan jika itu terjadi.

"Permisi?"

Siswa bermata sipit itu menoleh kearah Luhan, Ia memandang Luhan dari atas hingga bawah—seperti yang dilakukan murid lainnya—lalu mengangkat sebelah alisnya, "Kenapa? Mencari kakakmu yang bersekolah disini adik kecil?"

Luhan menahan emosi, jelas-jelas didepannya terlihat anak yang jauh lebih muda darinya. "Bukan, aku mencari kelas XI-3. Kau tahu?"

"Oh, itu kelasku. Kenapa banyak sekali sih anak baru yang masuk kekelasku?" dengus siswa itu seperti tidak terima. Teman siswa bermata sipit itu menepuk bahunya, "Taehyung, bukankah hanya dua orang?"

"diamlah Jungkook, sebut saja banyak."

Luhan menyela pembicaraan kedua anak itu, "Bisa kau antar aku kesana?"

"Memangnya kau pikir aku pemandu wisata?" dengus Taehyung. Luhan menggeram, ingin rasanya meninju wajah menyebalkan anak itu. akhirnya Ia memilih berjalan tanpa berkata apa-apa lagi pada kedua anak itu. percuma saja bertanya, kalau dapat jawabannya tidak berguna sama sekali.

"Apa ini ruang guru? Mungkin saja aku bisa dapat informasi dari sini.." Luhan menatap pintu bercat hitam-coklat didepannya, dengan ragu Luhan memutar handle pintu itu dan melongokan kepalanya kedalam sedikit—mengintip, begitulah.

Ruangan kosong yang sepertinya ruang kelas yang sudah tak terpakai, terbukti dari beberapa kursi dan meja usang dipojok kelas.

Luhan melangkahkan kakinya kedalam karna penasaran. Matanya mengelilingi kesekitar ruangan itu, dindingnya penuh coretan dan gambar-gambar bajak laut. Ditengah-tengah ruangan terdapat satu meja besar dan lima kursi yang mengelilinginya. Diatas meja itu Luhan melihat beberapa kaleng soda kosong dan kulit-kulit kacang bertebaran.

"Apa..ini ruangan osis? tapi sepertinya tidak mungkin." gumam Luhan.

Luhan kini menatap kearah papan tulis yang ada beberapa paragraf kalimat menarik perhatiannya, Itu sepertinya ditulis dengan spidol permanent. Kalimat yang membuat Luhan tercengang;

Something is gonna very wrong with our school..

Kami hidup didunia yang tak sempurna, saat pagi memaksa kami pergi kesekolah dan bekerja keras demi masa depan yang tak jelas. Guru-guru bagai diktator yang menerror kami agar menanam pohon masa depan yang seragam, disirami hafalan yang memuakan dan dipupuki serangkaian ujian yang membuat kami ketakutan.

Kamilah anak-anak sampah seperti kata tuan dan puan pemerhati pendidikan, tak punya masa depan! Maka kami ledakan amarah dan kesedihan kami dijalanan, jadi tawuran atau perkelahian yang berujung kematian. Kami rayakan kesedihan kami dengan pesta narkoba, meminum vodka dan menghabiskan malam diklab. Tapi dimana para orangtua saat kami rindukan kasih sayang mereka? Kenapa mereka selalu sibuk? Dimana pemerintah, penegak hukum dan pemuka agama? Kenapa pelajaran moral tak pernah sungguh-sungguh kami dapatkan dari lingkungan kami yang nyata? Dibahu siapa kami menangis? Didada siapa kami bisa menemukan rasa bangga dan rasa percaya?

Demi kebahagiaan dan waktu bermain kami yang direnggut, direbut, diringkas dan diringkus..kami menyatakan perang pada segala bentuk perampokan dan pengkhianatan terhadap hak-hak kami baik sebagai anak sekolah maupun manusia!

Tertanda : EXruciate Ominous—EXO.

..

..

Luhan membulatkan bibirnya, kagum. "Woah..siapapun yang menulis ini pasti bukan anak berandal biasa."

Jujur saja, walau Luhan tidak tahu siapa yang menulis ini dan siapa Exo itu, tapi Luhan yakin mereka menjadi anak nakal pasti ada alasan yang kuat. Kalimat-kalimat itu bukan hanya sekedar curhatan anak-anak yang kurang kasih sayang, tapi kalimat itu bentuk amarah mereka agar mereka lebih diperhatikan.

"Tapi sebagus-bagusnya kalimat itu, tetap saja itu buatan anak-anak yang tidak bermoral. Anak yang hanya menghabiskan masa remajanya dengan pemberontakan tak berguna.." dengus Luhan, yaa maklumi saja Luhan memang plin-plan, tadi memuji sekarang mencemooh.

"Siapa yang kau sebut tidak bermoral?"

DEG!

Sebuah suara dengan nada dingin itu mengagetkan Luhan, ditambah sebuah tongkat baseball berwarna merah yang kini berada dibahunya membuat Luhan meneguk salivanya dengan jantung yang mulai berdetak kencang. Uh sial, pasti anak-anak berandal itu datang.

Luhan menoleh kesamping dan langsung terpaku melihat seseorang—ugh, Luhan malu mengatakan ini karna mereka sesama lelaki—tampan sekali! Benar-benar tampan..mengingatkan Luhan akan Draco Malfoy difilm Harry potter hanya rambut pemuda didepannya tidak pirang melainkan hitam pekat.

Tongkat baseball itu kini menyentuh kulit pipi Luhan, membuat nyali Luhan tiba-tiba ciut takut-takut tongkat itu memukul wajahnya. Oh, hari pertama Ia sekolah disini memang benar-benar buruk.

Mata tajam seseorang itu menatap Luhan dengan pandangan menusuk namun juga..terpana? entahlah, Luhan hanya mengarang saja untuk yang 'terpana', otaknya agak lambat jika dalam situasi seperti ini.

"Kau…cantik?"

Rahang Luhan hampir jatuh mendengarnya. Ia melirik name-tag seseorang yang lebih tinggi beberapa centimeter darinya itu—ingin mengingat nama orang ini kedalam list 'orang yang akan Luhan tendang dengan bolanya'

Oh Sehun, sial kau!

-oOo-

To be continued

-oOo-

a/n :

kalimat yang dibaca sama Luhan itu gue ambil dari kutipan di novel Tak Sempurna karya kak Bondan Prakoso and Fade2black (FYI, tuh novel bagus bgt! Gue rekomendasiin kekalian dah) tapi gue utak-atik juga dikit. FF ini emang 'terinspirasi' dari novel itu sih—bukan remake ya, karna FF ini melenceng jauh dari novelnya. Palingan gue cuma ngambil garis besarnya aja—kenakalan remaja dan system pembelajaran yang salah. Just it! And..FF ini ga bermaksud menyinggung siapapun—terutama pendidikan diIndonesia (walau faktanya gitu XD) dan anggep aja, pembelajaran di sekolah Sehun dkk kayak di Indo gitu ya? Pls ya plis? –maksa-

dan quote kemarin yg 'guru bukan dewa yg selalu benar dan murid bukan kerbau blablabla..' itu emang karyanya Soe Hok Gi, gue lupa nyantumin di authornote kemarin. Maaf ya :'D

oh iya, yang bilang ini bakal mirip Crows Zero kayaknya engga deh. Ini akan beda dari film itu.

Epilog I'm normal sama 89,5 TRFM minggu depan aja baru gue update ya? Minggu ini gue gabisa -_- dan makasih yang udah mau review, gue hargai setiap komentar kalian;;) dan mau 'kan review lagi? Biar gue tau dimana letak kesalahan gue dan juga gue ngerasa karya gue dihargai/? xD thanks before, i love you all :* muahmuah.

p.s : Chapter depan baru banyak Hunhan moment-nya ;D