"Hun-ah, aku sudah tidak sabar melihat adik kita nanti. Apakah dia perempuan atau lelaki ya?"
Anak berusia 14 tahun itu tersenyum lebar dengan mata menerawang keatas, membayangkan hal menyenangkan beberapa bulan lagi yang akan terjadi. berbeda dengan anak disebelahnya yang kini melepas joystick ditangannya perlahan, wajahnya menampakkan raut tidak suka.
"Aku tidak ingin mempunyai adik, hyung." ucapnya.
Anak lelaki yang diketahui adalah hyung-nya itu segera menoleh, "Wae?"
"Jika nanti Ibu melahirkan, aku pasti akan dilupakan olehmu. Karna hyung nanti pasti sibuk bermain dengan adik baru."
Hyung-nya terkekeh dan mengusak rambut adiknya yang hanya selisih satu tahun darinya itu, Ia berfikir adiknya hanya takut kasih sayang yang ia dapatkan berkurang, seperti fikiran anak kecil lainnya saat mengetahui akan memiliki adik, "Itu tidak mungkin, Hun-ah. kita akan bermain bertiga, bukankah seru punya teman baru?"
Anak itu menggeleng dan membanting joysticknya dengan kasar, Ia berdiri. "Aku tidak mau punya adik! Aku tidak mau punya adik! Hyung akan pilih kasih nanti!"
Ia berlari kencang—menghiraukan panggilan hyung-nya dan beberapa maid agar tidak berlarian, takut jika nanti Ia terpeleset dari tangga yang sedang dipijakinya. Namun semua itu terlambat saat tubuh anak itu tidak sengaja menabrak kencang tubuh Ibunya yang sedang berjalan menuruni anak tangga..
Dan teriakan memilukan itu terdengar…
Anak berusia 13 tahun dengan baju Superman kesukaannya itu menegang dan bergetar melihat sang Ibu sudah tergeletak dibawah sana dengan bersimbah darah.
Semenjak saat itu pula Ia kehilangan semuanya. keluarga, keperdulian dan kasih sayang..
..
..
Gara's present:
Not Perfect
.
Genre : Romance. Action(maybe).
Main Cast : Oh Sehun—Lu Han.
Support Cast : EXO's member
Rating : M—For bullying and sex scene! T—for teenage life.
Length : chaptered
.
Disclaimer : ©Story's by Anggara Dobby, Do not coppy or re-post allowed.
.
[WARN!] Yaoi! BoyxBoy! Dirty joke and Dirty talk everywhere. GangsterLife! Bullying! OOC! Typo(s)!
..
Enjoy this time!
.
..
Chapter 3 : Bastard!
.
.
.
"Ikut kami."
"Aku tidak mau." protes Kyungsoo berusaha melepaskan cengkraman tangan Kai dipergelangan tangannya, "Lepaskan aku, tolong."
Kyungsoo kali ini benar-benar takut, keinginannya agar bertemu dengan Luhan seusai pelajaran tidak dikabulkan. Ia malah terjebak diantara lima pemuda ini. Kyungsoo tahu, sehabis ini Ia tidak akan bisa dilepaskan karna kesalahannya telah memukul Kai. walaupun Ia bilang berpuluh-puluhan kali kalau Ia tidak sengaja memukul, tetap saja Ia akan mendapat masalah dari anak-anak ini. Kyungsoo sangat tahu bagaimana perilaku anak berandal, mereka selalu mencari kesalahan orang yang dianggap lemah lalu dijadikannya orang itu sebagai bahan permainan mereka.
Kai tidak menghiraukannya dan menariknya dengan kasar keluar kelas diikuti teman-temannya yang lain. Murid-murid yang melihat itu berharap agar anak baru itu akan selamat dan kembali lagi ke sekolah besok.
"Ayolah, santai saja. tadi kau sangat berani padaku." tukas Kai tanpa memandang kearah Kyungsoo, tetap memperhatikan jalannya menuju ruangan khusus mereka.
Sepanjang koridor mereka jadi pusat perhatian—terlebih Kyungsoo yang masih asing disini. Sehun yang berjalan paling depan bersama Chanyeol tidak menghiraukan Kyungsoo yang terus meronta meminta dilepaskan, itu bagian milik Kai mereka tidak perlu mengurusinya.
"Kenapa pintunya terbuka?" tanya Baekhyun melihat pintu ruangan mereka terbuka.
Sehun segera melangkahkan kaki panjangnya untuk masuk kedalam ruangan mereka, Ia sudah bersiap-siap akan memuji orang yang sudah berani masuk kedalam ruangan mereka tanpa izin. Sehun selalu menyukai orang yang pemberani—lebih tepatnya berani padanya.
Yang pertama Sehun lihat adalah seorang murid yang sedang berdiri membelakanginya karna tengah membaca tulisan yang ada dipapan tulis. Beberapa kalimat yang ditulis oleh tangannya sendiri tiga bulan lalu. saat dirinya benar-benar muak dengan semua guru disekolah ini.
Jika dilihat dari belakang, Sehun yakin murid itu adalah juga anak baru karna tidak memakai seragam sekolah ini. pantas saja dia berani masuk kedalam sini..
"Woah..siapapun yang menulis ini pasti bukan anak berandal biasa."
Sehun mendengus mendengar nada kekaguman dari siswa itu. Sehun tidak suka dibilang berandal atau semacamnya, karna Sehun fikir dirinya bukan berandalan—ia tidak berpenampilan berantakan khas berandal, atau menindik wajahnya seperti khas seorang berandalan. Sehun tidak menyukai hal-hal seperti itu. membuat seseorang takut padamu tidak harus merubah diri dengan membuat penampilan terlihat menakutkan tetapi bagaimana cara kita membuat diri kita seolah-olah memiliki ketegasan yang kuat dan membuat orang disekitar segan.
"Tapi sebagus-bagusnya kalimat itu, tetap saja itu buatan anak-anak yang tidak bermoral. Anak yang hanya menghabiskan masa remajanya dengan pemberontakan tak berguna.."
Oke ini sudah keterlaluan.
Tadi berandal dan sekarang tidak bermoral katanya? Sehun benar-benar tidak suka. siswa didepannya ini tidak tahu apa-apa dan seenaknya menjudge dirinya. Sehun paling benci dengan orang yang seperti itu, menganalisa sesuka hatinya tanpa mengetahui apa-apa.
Sehun meraih tongkat baseball miliknya yang tadi sedang dipegang oleh Baekhyun, Ia mendekati siswa itu. Keempat temannya tidak ada yang bersuara, bahkan Kyungsoo yang sejak tadi meronta kini terdiam menahan nafasnya. Kyungsoo tahu siapa orang yang sedang didekati oleh Sehun itu.
Luhan hyung—Kyungsoo membatin takut.
"Siapa yang kau sebut tidak bermoral?" tanya Sehun dingin seraya menaruh tongkat baseballnya dibahu seseorang itu. Sehun bisa merasakan seseorang itu menegang terkejut.
Detik kemudian Sehun tidak berkedip untuk beberapa saat ketika seseorang itu menoleh kearahnya dengan perlahan-lahan—gerakan yang membuat Sehun menghirup aroma rambutnya yang manis dan melihat wajah itu dengan jelas. Ada sesuatu dalam perut Sehun yang tergelitik dan nafasnya yang tiba-tiba terhenti—Sehun merasa mual.
Bibir seseorang didepannya ranum sekali, berwarna merah muda alami dengan philtrum mungil dan mata bermanik coklat yang terlihat selalu berbinar dan ceria. Wajahnya cantik, sempurna.
Sehun mengarahkan tongkat baseball-nya kewajah seseorang itu dan menempelkan tongkat berwarna merahnya kepipi putih itu tanpa sadar. Tangannya tiba-tiba gatal ingin menyentuh kulit seputih susu didepannya, sepertinya sangat lembut dan menggoda untuk dikecup ataupun digigit.
Bedebah! Apa yang baru saja terlintas diotakmu Sehun?
Jangan sebut Sehun sedang terpesona oke? Sehun sama sekali tidak terpesona pada orang yang baru beberapa detik bertemu pandang dengannya. tidak ada dalam hidup Sehun yang namanya terpesona—oh shit,itu menjijikan sekali.
"Kau…cantik?"
Dan kalimat memalukan itu keluar dari bibirnya tanpa sadar. Sehun jadi ngeri, kenapa tiba-tiba seluruh tubuhnya bekerja tanpa Ia sadari? Sehun mengumpat keras-keras dalam hati.
Mata seseorang dihadapannya membelalak, tampak kesal. "Siapa yang kau sebut cantik?"
Sehun tidak mungkin menarik kata-katanya kembali, karna itu membuatnya terlihat seperti orang bodoh nantinya. Sudah terlanjur—batinnya
Ia menatap seseorang didepannya dengan pandangan datarnya seperti biasa seolah-olah tidak pernah mengatakan apapun, "Tentu saja kau. siapa lagi wanita diruangan ini?"
"Wanita?" Luhan—seseorang itu—mengernyit bingung. "kau baru saja mengiraku sebagai wanita?" ulangnya tidak percaya dengan tangan yang menunjuk kearah dirinya sendiri. Dan Sehun hanya mengangguk malas sebagai balasan.
Luhan menarik nafasnya dalam-dalam, menetralisir emosinya sebentar. Ia menurunkan tongkat baseball yang masih menempel dikulit pipinya dengan kasar, "Aku tidak punya dua buah dada besar. Kau lihat kan?" Luhan menunjuk dadanya sendiri.
"Payudaramu kecil ya?"
Mata Luhan berkedut jengkel, "Oh lucu sekali. Kau bisa menyentuhnya kalau kau tidak percaya, aku memang bukan wanita."
Sehun menyeringai yang membuat Luhan tiba-tiba merinding. tangan Sehun terulur hendak menyentuh dada Luhan namun dengan cepat Luhan menepisnya kasar.
"Astaga, kau benar-benar tidak percaya padaku?" Luhan mendengus. Lama-lama dia sudah tidak tahan untuk menendang wajah pemuda ini dengan bolanya. Ini namanya penghinaan harga diri. Luhan berfikir orang didepannya adalah orang paling sinting yang pernah Ia temui selama delapanbelas tahun hidupnya.
"Mana bisa aku percaya jika kau saja menepis tanganku untuk menyentuh dadamu." ujar Sehun. padahal Ia sudah membayangkan akan meremas payudaranya hingga seseorang didepannya ini mendesah. Sehun yakin sekali dia adalah seorang wanita. Walau agak aneh, karna seseorang didepannya memakai celana bukan rok seperti siswi lainnya.
"Dengar ya, aku punya apa yang ada dibalik celanamu!" Luhan menunjuk kearah selangkangan Sehun dengan sebal.
Sehun bergumam 'woah' menurutnya wanita didepannya ini sangatlah berani, mungkin Ia sedang mencoba menggodanya. Sehun senang dengan wanita yang pemberani seperti ini. Ia jadi bersemangat untuk bermain-main dengannya.
"Buka celanamu jika kau memang lelaki."
Luhan meneguk salivanya. Bukan karna Ia takut, tetapi ayolah! Ia harus membuka celananya dan menunjukan kelaminnya pada seseorang yang bahkan Luhan tidak kenal sama sekali ini? astaga, keluarganya saja tidak pernah lihat.
Baiklah, demi harga diri Lu! "Ba-baiklah, akan kubuka.." Luhan memegang zipper celana seragamnya dan menatap pemuda didepannya yang tengah tersenyum mengejek. ugh, Luhan benci senyum itu.
Sementara kelima orang yang berada diambang pintu mulai menyaksikan dengan serius. Kyungsoo menutup matanya dengan tangannya yang bebas dari cengkraman Kai, "Astaga, Luhan hyung bodoh." rutuknya.
"Kau kenal dengannya 'kan?" tanya Baekhyun pada Kyungsoo. Kyungsoo hanya mengangguk. "Dia lelaki 'kan?" tanya Baekhyun lagi dan lagi-lagi Kyungsoo hanya mengangguk. Jika seperti itu mereka terlihat seperti sudah berteman lama.
Baekhyun menggigit kuku jarinya resah, "Sehun bisa mengamuk kalau tahu ternyata dia memang benar lelaki. astaga, aku merasa Sehun sangat bodoh hari ini."
Kai hanya bersiul menggoda, Ia suka pemandangan seperti ini.
Kembali lagi dengan Luhan. Luhan masih enggan membuka zipper celananya, walau mereka sama-sama lelaki tapi tetap saja Luhan merasa malu. ini benar-benar penghinaan harga diri.
Sehun jengkel melihat orang didepannya mengulur-ngulur waktu. Sehun tidak suka menunggu lama.
"kau..yakin..aku harus membukanya?" cicit Luhan takut-takut. keberaniannya yang tadi meluap entah kemana digantikan rasa gugup dan takutnya.
Sehun mengangguk, "tentu, mau kubukakan?"
"terimakasih brengsek." desis Luhan. Luhan heran bagaimana pemuda didepannya masih bisa berekspresi begitu datar saat ada seseorang yang mau menunjukan kelamin padanya. Dia memang sinting sepertinya.
tangan Luhan mulai membuka zippernya membuat seringaian Sehun kembali muncul dan lebih lebar. Luhan hendak menurunkan celana seragamnya namun gerakannya terhenti ketika sebuah suara berteriak,
"tidak! Luhan hyung jangan!"
Luhan menoleh, dan melihat Kyungsoo menggeleng panik didepan pintu. "Kyungsoo?" gumamnya, Luhan segera berlari menuju Kyungsoo yang sedang dikelilingi oleh empat pemuda yang Luhan yakini bukan teman baru Kyungsoo. ada dua hal; Luhan ingin menjauhi pemuda sinting itu dan ingin menyelamatkan Kyungsoo.
"Ya! kau mau kemana?" Sehun tidak terima mainannya pergi begitu saja.
Luhan mengabaikan Sehun, dan Ia segera menarik Kyungsoo menjauh dari para siswa itu. "kita pergi!" dan mereka berdua segera berlari cepat dari sana.
Kai menendang pintu didepannya dengan kasar, mata tajamnya memandangi dua punggung Luhan dan Kyungsoo yang mulai menjauh, "Aku akan menandai dua orang itu."
..
..
"Sehun, bodoh! Dia lelaki bukan wanita. Kau tidak dengar anak bermata bulat tadi memanggilnya dengan sebutan hyung?" Chanyeol masuk kedalam dan segera duduk dikursinya. Diikuti yang lainnya. Ruangan ini bukanlah tempat khusus mereka yang disediakan oleh sekolah dengan sukarela seperti para tuan muda didrama Boys Before Flower—gosh, sekolah mereka tidak sebaik itu hingga membuatkan ruangan khusus untuk para bajingan ini. Ruangan ini hanya sebuah kelas yang tidak terpakai dan sekejap bertransformasi menjadi ruang berkumpul kelima pemuda ini. Sebenarnya siapapun boleh masuk kesini, hanya saja tidak ada yang berani.
"Aku tahu." tukas Sehun. "Aku sempat melihat gundukan dicelananya tadi, aku hanya ingin mengerjainya."
"karnamu aku jadi kehilangan si mata bulat itu." ketus Kai.
"Oh tenang saja kawan, dia satu kelas dengan kita." Sehun menepuk bahu Kai sekilas dan mendudukan bokongnya disebelah Chanyeol. Kai hanya mengangguk malas, Ia jadi kehilangan selera makannya. Kai sangat-amat dendam dengan si anak baru. Apapun caranya ia akan mendapatkan anak baru itu dan segera menghabisinya.
Chen menatap kearah jam tangannya, "Aku yakin beberapa jam lagi kita akan mendapat masalah."
"kenapa?"
Chen menatap Baekhyun dengan dahi mengernyit, "Baek, kemarin kita membunuh siswa JHS. Mereka pasti datang nanti." Baekhyun menggelengkan kepalanya dengan cepat membuatnya terlihat seperti anak balita yang menolak meminum obat, "Aku tidak suka kata-kata membunuh, kita bukan pembunuh atau psikopat."
"Lalu apa?" tanya Chanyeol malas. Jelas-jelas kemarin mereka berurusan dengan siswa-siswa sekolah tetangga hingga membuat nyawa beberapa siswa disana melayang.
Baekhyun melebarkan senyum mengerikannya, "kita tidak membunuh mereka tetapi membuat mereka terbebas dari dunia yang semakin tidak adil. Kita telah memulangkan mereka kembali ke tuhan, bukankah kita sangat baik?" Ia tersenyum polos diakhir kalimat.
Chanyeol tertawa dan segera memeluknya dengan gemas, Baekhyun ikut tertawa dan membiarkan teman raksasanya itu terus memeluknya. Kai dan Chen mendengus geli.
Sementara Sehun hanya terdiam seraya menepuk-nepuk tongkat baseball-nya. Sehun menepis dirinya yang terpesona pada pemuda berambut almond tadi, namun Ia terus terbayang wajah kesal—yang sialnya terlihat manis—dimatanya itu, Sehun sepertinya tertarik untuk mengerjainya lebih lanjut.
Sehun tertarik untuk mengerjainya oke? bukan menyukainya—hell, Sehun sangat jijik dengan hal yang berbau roman dan cinta. Sesuatu abstrak yang membuat orang menjadi bodoh dan kehilangan kewarasannya, dengan bangganya mereka (orang yang sedang jatuh cinta) mengatakan tidak bisa hidup tanpa pasangannya—Ouh! memikirkannya membuat Sehun mulas dan ingin melempar wajah pujangga mereka dengan kotoran anjing. Apalagi dengan yang namanya cinta pada pandangan pertama—cih, menggelikan.
Sehun tersenyum miring, "Siapa nama siswa tadi?"
"Yang mana?"
"tentu saja si bodoh yang ingin membuka celananya didepanku."
"Lu—luna..?" jawab Chen ragu-ragu yang langsung dapat pukulan telak dikepalanya dari Baekhyun. "Luhan, bodoh! bukan Luna. Kau teringat mantan kekasihmu itu ya?"
Chen memberengut kesal.
Sehun mengangguk-angguk, "Luhan…" bisiknya dengan senyuman sinis, dan nama itu terus teringat diotaknya.
…
-oOo-
…
"Kyungsoo-ya, kau tidak di apa-apakan 'kan oleh mereka?" Luhan bertanya disela-sela nafasnya yang tersengal akibat berlari. Mereka berhenti ketika merasa sudah jauh dari ruangan anak-anak berandal tadi.
Kyungsoo menggeleng, "Ani, aku memukul salah satu diantaranya dengan tidak sengaja. Mereka marah padaku dan yah, aku mendapat masalah."
"Kau memukulnya?" Luhan membelalak, sudah Luhan katakan jika Kyungsoo marah maka Ia akan menjadi menyeramkan.
Kyungsoo mengetuk-ngetukan sepatunya dilantai dengan kikuk, "Mereka menghinaku, awalnya aku ingin memukul Sehun—orang yang bersamamu tadi, tetapi malah mengenai temannya yang hitam."
"bagus, Kyung. teruskan saja, mereka pantas dipukul kalau perlu kau cekik sekalian."
Kyungsoo tidak membalas ucapan Luhan hanya terdiam seraya mengerjab-ngerjabkan matanya, Ia melihat wajah Luhan merah padam. Entah karna kelelahan, kesal atau malu. mungkin semuanya.
Luhan memandang tulisan-tulisan yang berisi peraturan sekolah dihadapannya. Kyungsoo ikut memandangnya dan mereka membacanya bersama. Ada sekitar duapuluh lima peraturan yang tercantum disana, dibawah peraturan itu ada sederet tulisan dengan spidol berwarna merah menyala;
Peraturan dibuat untuk dilanggar.
Luhan mendengus keras, "pasti siswa yang menulis. Astaga, sekolah ini mengerikan."
"Kyungsoo-ya, kita pindah sekolah besok."
..
…
..
Bel pulang sekolah terdengar tepat jam tiga sore. Luhan merasa dirinya benar-benar bahagia akan meninggalkan sekolah—Luhan menyebutnya tempat setan—ini. Luhan cepat-cepat memasukan beberapa bukunya yang tercecer diatas mejanya, setidaknya Luhan belajar hari ini. walau satu pelajaran, itupun hanya berlangsung 20 menit karna sang guru yang tiba-tiba merasa pusing. Luhan yakin, salah satu murid disini menaruh semacam obat diminuman guru tadi agar guru itu tidak berlama-lama mengajar.
See, ini bukan sekolah.
"Luhan-ah bagaimana kesan pertamamu bersekolah disini?"
Luhan menoleh kearah Suho, mereka langsung cepat akrab ketika keduanya sama-sama menyukai pelajaran kalkulus tadi. Suho orang yang menyenangkan dan baik, dia memiliki pesona kepemimpinan yang kuat namun Luhan merasa Suho tidak perduli pada jabatannya—divisi disiplin—sama sekali. Terbukti Ia hanya diam ketika beberapa siswa mulai membolos dipelajaran.
"Buruk—sangat buruk." Luhan tersenyum kikuk. Ia ingin melihat bagaimana ekspresi Suho.
Suho mengangguk-angguk, masih tersenyum. "Bagus, berarti kau masih waras."
Luhan mengerjab beberapa saat. "kau juga berfikir sama sepertiku?"
Suho berdiri dan membenarkan letak almamaternya yang sama sekali tidak berantakan. "tentu saja, aku masih waras Han. Sekolah ini bagus namun berisi iblis yang menjelma sebagai manusia semua, memuakan sekali."
Luhan tidak menyangka pemuda berwajah kalem seperti Suho berkata dengan sedemikian kasarnya, terlalu banyak kejutan yang Ia dapatkan hari ini. "kenapa kau masih mau bersekolah disini? aku saja ingin pindah besok."
Dan jawaban yang Luhan dapatkan sangat membuatnya penasaran.
"karna aku diberi tugas. Aku menjaga dan mengawasi seseorang yang sama sekali tidak ingin kujaga, aku membencinya—sangat membencinya hingga rasanya ingin kubunuh dengan tanganku sendiri. Mungkin setelah kelulusannya nanti, aku akan benar-benar membunuhnya." Suho masih tersenyum kalem, lalu menarik tangan Yixing yang hanya terdiam daritadi. "Aku duluan, Han!"
Luhan tercenung beberapa saat, "Kau juga iblis yang menjelma sebagai manusia Suho.." gumamnya. Luhan berusaha tidak mau mengetahui namun semuanya membuatnya penasaran—siapa itu Exo, siapa sebenarnya Suho, dan mengapa sekolah ini masih dibuka jika siswa-siswinya seperti ini semua?
Masih belum banyak yang Ia ketahui.
..
..
..
..
..
"kemana paman Kim..ini sudah jam pulang sekolah." Luhan memandangi jam tangan hitamnya dengan resah, begitupula dengan Kyungsoo. mereka menunggu supir pribadinya menjemput didepan gerbang sekolah sejak 10 menit yang lalu. namun paman Kim belum menandakan akan menjemput membuat Luhan resah karna tidak mau berlama-lama disini.
"hyung, bagaimana kalau kita berjalan saja dulu. aku risih karna tatapan mereka." Kyungsoo balas memandangi beberapa murid yang berjalan keluar gerbang sekolah seraya memandangi kearahnya dan Luhan. masih dengan tatapan tidak bersahabat dan dingin. Disini benar-benar tidak ada pertemanan.
"Baiklah."
Kedua namja manis itu berjalan menjauhi gerbang sekolah. daerah disekitar sekolah mereka memang sepi, hanya terdapat beberapa kedai kecil dipinggir jalan dan pohon-pohon yang tidak terlalu lebat. Disepanjang pinggir jalan ada tembok panjang yang penuh coretan dan graffiti yang Luhan lihat saat Ia menuju sekolah barunya tadi pagi. benar-benar daerah yang strategis untuk anak-anak berandalan.
"ITU MEREKA!"
Luhan dan Kyungsoo refleks memundurkan langkahnya ketika segerombolan—mungkin lima puluhan anak lelaki—keluar dari beberapa gang sempit dan menunjuk-nunjuk kearah mereka. Pemuda-pemuda yang berseragam berbeda dan sebagian dari mereka memakai masker hitam, Luhan yakin mereka dari sekolah lain.
Kedua pemuda manis itu tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya melihat mereka semua bertampang lebih tidak bersahabat dengan benda tajam ditangan mereka—sebagian ada yang memegang samurai dan pecahan botol minuman keras. Ini bukan hal yang menyenangkan. Mereka terlihat seperti sekumpulan orang yang mau berperang.
"Itu anak OX 86!" teriak salah satu diantara mereka. Dia sepertinya pemimpin karna posisinya yang berada didepan sendirian, pemuda itu memegang sebuah ikat pinggang yang berbandul gear motor. Dia mengayun-ngayunkan benda itu kearah Luhan dan Kyungsoo membuat keduanya membelalak terkejut.
"Baiklah Kyung, ini bukan kabar baik. kita lari dalam hitungan ketiga.." bisik Luhan memberi aba-aba. Kyungsoo hanya mengangguk pelan—sungguh dia sangat takut saat ini. mungkin jika hanya ada tiga orang, Luhan bisa mengatasinya. Tetapi ayolah! Mereka sangat banyak, Luhan bisa jadi daging cincang nanti.
"satu..dua…TIGA!" bersamaan dengan teriakan itu, Luhan dan Kyungsoo membalikan tubuhnya dan mulai berlari.
Langkah Luhan langsung terhenti melihat puluhan anak—yang Luhan kenali adalah murid-murid disekolah barunya—kini sedang berdiri dan juga memegang beberapa benda tajam dengan wajah siap bertarung.
Oh sial. ini tawuran.
Luhan merasa tak nyaman berada ditengah-tengah keadaan seperti ini. yatuhan, ini mengerikan sekali. Ia melihat Kyungsoo terus berlari menerobos kumpulan anak-anak OX 86, Kyungsoo sepertinya berlari menuju sekolah mereka lagi. Luhan menarik nafasnya dan kembali berlari mengejar Kyungsoo—tidak apa-apa berada didalam gedung sekolah yang terpenting Ia bebas dari keadaan yang mengerikan seperti ini.
Belum sampai menerobos kerumunan anak OX 86 yang kini mulai berlarian untuk menghajar lawan masing-masing, tubuh Luhan sudah berada dalam dekapan seseorang. Oh tidak, Luhan panik. Ini firasat buruk. Jantungnya bertalu-talu cepat karna Ia benar-benar takut. Ia bahkan tidak sempat melihat seseorang yang mendekapnya.
Selanjutnya tubuh Luhan sudah terlempar kepinggir jalan, membuatnya mengerang sakit merasakan lengannya terseret aspal. Luhan melihat seseorang yang mendekapnya sekaligus melemparnya begitu saja ke sisi jalan.
Pemuda yang tadi pagi mengiranya wanita kini tengah terlibat perkelahian dengan siswa sekolah lain didepannya. Oh Sehun.
"Jadi..dia melindungiku atau mencelakaiku?" –tanya Luhan dalam hati. Tetapi apapun itu, Luhan menganggap Sehun sudah menyelamatkannya dari hantaman kayu yang dipegang siswa sekolah lain untuk menyerangnya.
Luhan meringis menahan rasa sakit dan melihat Sehun yang begitu beringas menghajar orang-orang disekitarnya. Sehun sendiri dengan tangan kosong melawan tiga orang pemuda dengan senjata ditangan mereka. Wajah Sehun tidak berubah sama sekali, tetap datar—tidak menunjukan kalau Ia marah ataupun Ia senang.
Teriakan-teriakan antar perkelahian siswa itu memenuhi jalan raya yang tadinya sepi menjadi sangat ramai. Ramai yang menyeramkan—bahkan banyak suara ledakan sana-sini. Sejauh Luhan memandang hanya ada orang-orang berkelahi dan memaki satu sama lain. Bahkan Luhan melihat salah seorang siswa tergeletak dengan bersimbah darah dan terinjak-injak sana-sini atau seorang yang sedang dipukuli dengan balok kayu besar ramai-ramai. Luhan tidak perduli dimana Kyungsoo sekarang, mungkin Ia sudah selamat sampai didalam sekolah tidak seperti dirinya yang terjebak diantara orang-orang penuh amarah ini.
"Kau telah membunuh temanku! Aku akan membalasnya keparat."
"Bunuhlah."
Luhan membelalak melihat Sehun menegakan tubuhnya seolah-olah Ia pasrah akan dibunuh. Tiga orang siswa yang berkelahi dengan Sehun sama membelalak seperti Luhan, tidak menyangka gangster terkenal itu menyerah begitu saja. tetapi melihat seringaian sinis Sehun mereka tidak yakin Sehun benar-benar menyerah.
Salah satu siswa itu mengarahkan samurai panjangnya kearah dada Sehun, dengan cepat Sehun menghindar gesit dan yaa, kau tahu kejadian selanjutnya apa. siswa itu menusuk perut temannya sendiri yang berada dibelakang Sehun. teriakan memilukan terdengar seiring cairan kental berwarna kemerahan merembes dari seragamnya.
Siswa pemegang samurai itu panik dan bergetar takut, Ia menghampiri temannya yang terjatuh dengan nafas tersendat-sendat itu.
Sehun tersenyum—yang Luhan lihat bukan seperti senyuman, itu seringaian iblis. "Lihat, kau membunuh temanmu sendiri. Menyedihkan."
"Bajingan kau Oh Sehun!"
"Oh ayolah, jangan kasar seperti itu kawan."
Luhan merutuki wajah Sehun yang kelewat santai seolah-olah Ia sedang berada didalam ruang refleksi bukan sedang tawuran. Luhan mengakui kalau Sehun benar-benar pintar dalam bela diri, mungkin dia sudah memegang sabuk hitam.
Mereka terlibat adu pukul dan tendangan, berkali-kali Sehun menginjak leher ataupun dada orang yang melawannya hingga orang itu mengeluarkan darah segar dari mulutnya. Luhan memundurkan tubuhnya hingga punggungnya menyentuh dinding bangunan dibelakangnya, ngeri melihat pemandangan didepannya. sudah banyak siswa yang tergeletak mengenaskan dijalan. Ini pertama kalinya Luhan melihat langsung adegan seperti ini, dan rasanya benar-benar membuatnya ingin menangis dan mual.
Ini bukan tawuran antar pelajar tetapi seperti pembantaian.
Luhan menekukan lututnya dan membenamkan wajahnya diatas lutut, tidak mau melihat yang lebih mengerikan lagi. oke baiklah, Luhan pasrah akan keadaan—dia benar-benar lemas dan tidak bisa menggerakan kakinya untuk sekedar berjalan.
Luhan tidak tahu Ia masih bernafas atau tidak esok hari. Yang jelas Ia hanya bisa berdoa dalam hati berharap ada seseorang yang membawanya pergi dari tempat ini.
"hei, bodoh. Ayo bangun."
Luhan segera mendongakan kepalanya dan melihat Sehun berdiri dihadapannya dengan angkuh. Keningnya terlihat membiru dan berdarah. Darahnya mengalir disekitar wajahnya yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Sepertinya Sehun terkena lemparan batu didahinya.
Sehun berdecak geram, "Kubilang bangun bodoh! kau mau terus berada ditengah-tengah orang-orang ini?"
Luhan hanya menggeleng dan tidak bergeming dari posisi duduknya dengan lutut ditekuk. Wajahnya seperti seorang anak kecil yang kehilangan Ibunya, polos dan ketakutan.
Sehun sebenarnya tidak mau memperdulikan anak didepannya, namun mengingat Ia akan menjadikan Luhan sebagai boneka bully-an membuat Sehun mau tak mau mengurusnya. Cih menyebalkan. Jika saja Luhan takut padanya mungkin Sehun sudah menendangnya ke tengah-tengah anak tawuran agar Ia terinjak-injak. Sehun menarik lengan Luhan untuk berdiri dan Luhan langsung memekik sakit.
"Lenganku sakit keparat! Kau tidak bisa pelan-pelan?" sungut Luhan melihat lengannya lecet dan tergores aspal. Luhan belum pernah berbicara kasar namun orang didepannya memang pantas mendapatkannya.
"kau fikir aku perduli?" Sehun mendengus, agak emosi Luhan menyebutnya keparat. Entah anak ini terluka ataupun tertusuk, itu bukan urusan Sehun. Sehun kembali menarik Luhan, kali ini bukan dilengannya mengingat lengan putih lembut itu terluka karnanya tetapi dipergelangan tangan Luhan. bukan karna Sehun perduli, tetapi Ia hanya tidak mau Luhan terus mengatainya 'keparat'. Itu membuat telinganya sakit dan kepalanya mendidih.
"kenapa kau membawaku kesini?" tanya Luhan ketus. Sehun membawanya ke gang sempit nan kumuh didekat mereka.
Ini yang membuat Sehun tertarik untuk membuat Luhan sebagai boneka bully-an selanjutnya, Luhan sangat berani padanya. Akan terlihat menyenangkan jika Ia menghabisi Luhan dan Luhan akan melawannya. "Menurutmu?"
"Me-membunuhku?"
Sehun hampir tertawa mendengar jawaban polos itu. Ia memandang Luhan yang kini berdiri tegang siap siaga. "setidaknya aku akan bermain denganmu dulu, baru aku membunuhmu."
"Apa salahku padamu Oh Sehun hah? brengsek! keparat! bajingan! sialan! Bedebah—akh!"
Sehun segera mendorong Luhan ke belakang dengan kasar hingga tubuh Luhan bertabrakan dengan dinding cukup keras. Itu menyakitkan kau tahu?
Sehun menaruh tangannya disisi kepala Luhan—mengurungnya, dan mendekatkan wajahnya ke wajah namja cantik itu. memandangnya dengan pandangan menusuk yang tajam. Luhan benar-benar sudah kurang ajar padanya, Sehun belum pernah mendapat makian sebanyak itu dalam satu kalimat untuknya. Luhan yang pertama—oh atau mungkin yang terakhir juga, karna Sehun sudah gatal sekali ingin membunuh pemuda ini dengan tangannya sendiri.
Sehun merasakan denyar aneh didadanya melihat wajah Luhan sedekat ini. sialan, Oh Sehun jauhkan pandanganmu dari wajah si kurang-ajar ini! Ia terlalu bagus untuk mendapatkan tatapanmu. Tetapi semua terasa berhenti tiba-tiba, wajah cantik dan Indah Luhan membuatnya terpaku. Sial, Luhan benar-benar terlihat sangat manis dan tidak bisa dijauhi dari pandangan matanya.
Sehun jangan tatap dia seperti itu! C'mon teman, dia sudah mengataimu 'keparat' habisi dia! Jangan biarkan harga dirimu hilang begitu saja karna bocah tengik ini.
Luhan meneguk ludahnya. Ia meremang mendapat tatapan setajam itu seolah-olah mengulitinya hidup-hidup. Wajah Sehun dekat sekali dengannya membuat Luhan bisa melihat jelas ukiran sempurna diwajah itu dan nafas menyegarkan Sehun yang menerpa kulit wajahnya. Disaat seperti ini jantungnya berdegup kencang, entah karna takut atau karna hal lain.
Sehun menyunggingkan senyum mencelanya. "Bibirmu kurang ajar sekali. Boleh aku memberinya pelajaran?"
Sialan, suaranya terdengar menggoda sekali.
Dan selanjutnya Luhan hanya bisa terpaku dengan mata melebar merasakan benda kenyal nan dingin menyentuh bibirnya. jantung Luhan berdetak tidak normal dan seluruh sendi tubuhnya melemas. Astaga, dia ini kenapa?
tidak sampai dua detik, bibir Sehun yang menempel pada bibirnya terbuka dan Ia menggigit bibir bawah Luhan dengan kasar—benar-benar sangat kasar—membuat Luhan tersadar dari keterdiamannya, ia memekik sakit dan mendorong Sehun kuat-kuat. Kejadian itu berlangsung sangat cepat.
Jika kalian berharap Sehun akan mencium Luhan dengan penuh kenikmatan seperti didrama-drama menggelikan, maka semua itu salah. Hollyshit—mana mungkin Sehun melakukan hal yang menjijikan seperti itu? ditambah dengan anak kurang-ajar seperti Luhan? maaf saja kawan, Sehun bukan maniak seks atau maniak ciuman.
"Kau!" Luhan menunjuk Sehun dengan bengis, wajahnya memerah karna amarahnya yang seperti lahar yang ingin meledak. "benar-benar keparat!"
Sehun merapikan seragamnya yang sedikit berantakan akibat tangan Luhan yang mendorongnya kasar, Ia menatap Luhan remeh, bibir pemuda itu mengeluarkan darah akibat gigitannya tadi. Sudah Sehun katakan, Ia akan memberinya pelajaran.
"Sinting!" maki Luhan untuk yang terakhir kalinya sebelum Ia berjalan cepat meninggalkan Sehun, Luhan bahkan mengacungkan jari tengahnya untuk Sehun dan menghilang dipersimpangan luar gang.
Sehun terdiam sesaat, memegangi bibirnya sendiri—masih terasa jelas tekstur lembut dan kenyal bibir Luhan walau ia hanya menempelkan bibirnya selama tiga detik. Dadanya terasa menghangat dengan dentuman-dentuman keras, sensasi yang sangat asing. Astaga, ini berbahaya! Baiklah ini hanya perasaan biasa karna Sehun belum pernah melakukan hal gila tadi. Kau tahu, Sehun melakukannya tanpa sadar dan Ia segera menggigit bibir Luhan ketika kesadarannya kembali.
Sehun sama sekali tidak berniat melakukan hal itu—yang benar saja. Luhan benar-benar membuat seluruh saraf tubuhnya bekerja sendiri. Ini diluar kendalinya!
Sehun menggelengkan kepalanya, "Ini bukan ciuman. Ini hanya hukuman untuknya—shit, Luhan brengsek. Aku akan benar-benar menghabisi anak itu."
Dan seharusnya Sehun tidak menemui Luhan lagi, karna Luhan benar-benar berbahaya—bukan dalam arti sebenarnya, melainkan membuat Sehun terjebak dalam lingkaran rumit sesuatu yang abstrak. Sesuatu yang sangat dibenci dan dihindari Sehun.
Cinta.
..
..
…
…
….
Kyungsoo menatap khawatir kearah sofa panjang yang berada diseberangnya, disana sudah ada Luhan tergeletak mengenaskan seraya mengompres bibirnya sendiri dengan gumpalan kain yang berisi es batu kecil. Sepupunya itu terus menggerutu dan kadang mengumpat kasar.
Kyungsoo belum pernah melihat Luhan sekesal itu, mulut terpelajarnya hilang begitu saja digantikan mulut yang terus mengatakan hal-hal kurang sopan seperti; "Oh Sehun brengsek." "wajah datar sialan." "anak kurang ajar."
Ditambah paman Kim mengatakan kaca mobil mereka pecah akibat terkena lemparan batu anak-anak tawuran, itu yang membuatnya terlambat untuk menjemput dua tuan muda manisnya. Ah itu hanya salah satu hal kecil yang membuat Luhan kesal dan hal besarnya, kau tahu apa?
Ya, dengan seenak pusar perutnya, paman Do berada di China dan Baba-nya juga. Kedua orangtua itu mengatakan agar Luhan dan Kyungsoo bertahan saja disekolah sana untuk beberapa saat sampai paman Do kembali ke Korea untuk mengurus kepindahan mereka. Ini bukan sepenuhnya salah paman Do, Ia salah memasukan Luhan dan Kyungsoo ke sekolah itu.
harusnya XO Dongshin High School bukan OX 86 High School.
Paman Do salah dengar ketika Ibu Kyungsoo menyarankan sekolah yang bagus untuk putra mereka dan juga Luhan.
Bagus sekali. Bisa dipastikan di Beijing sana, Baba Luhan dan ibu Kyungsoo tengah memarahi habis-habisan paman Do yang ceroboh itu.
Pupus sudah harapan Luhan untuk bersekolah di tempat yang bagus dan mendapat teman-teman menyenangkan. Ia malah terjebak diantara ratusan anak-anak iblis disekolah mengerikan itu. Luhan tidak tahu bagaimana nasib kedepannya nanti, di hari pertama saja sudah begini apalagi besok dan besoknya lagi?
"hyung sebenarnya bibirmu kenapa?" tanya Kyungsoo bingung.
Luhan membenamkan wajahnya dibantal dengan telapak tangan bergoyang kekanan-kekiri memberi gesture Ia tidak mau membahasnya. Setiap kali Ia mengingat bibir Sehun menempel diatas bibirnya dengan nista, membuat Luhan mengerang tidak jelas. Entah untuk alasan apa.
Luhan tidak menyebutnya ciuman—ewh menjijikan sekali—tetapi itu adalah pertama kalinya seseorang berani menempelkan bibirnya dibibir kecil Luhan. rasanya aneh sekali, seperti ada benda hidup didalam perutmu dan menggelitiknya.
Luhan mengangkat wajah manisnya dari atas bantal, "Kyungsoo-ya, bagaimana jika kita tidak bisa pindah dari sekolah sana?"
"Appa bilang kita harus bertahan disana karna kita anak lelaki."
Great. Kyungsoo polos sekali dan Paman Do menyebalkan sekali.
"Memangnya siapa bilang kita anak perempuan?" Luhan sudah jengkel ditambah jengkel lagi. rasanya kepalanya mau meledak saja. Kyungsoo hanya menggeleng lugu dan berlalu kearah dapur, mungkin untuk mengambil beberapa camilan untuk mereka.
Luhan mengerang keras dan menggoyangkan kakinya seperti anak balita yang merengek minta susu. Terlihat menggemaskan tetapi sebenarnya dia sedang kesal dan dalam mood yang buruk. Luhan tidak bisa membayangkan dirinya memakai seragam merah-hitam OX 86 High School dan dikenal sebagai murid sana yang terkenal karna kenakalannya.
Benar-benar mimpi buruk—oh! Bukan, tetapi kenyataan buruk.
…
…
..
…
…
Voltaire Club. 22:37 PM.
.
"Apa ini? dia tidak memesan barangku tetapi memintaku untuk melayaninya?!" mata sipit Baekhyun membelalak sebal melihat layar monitor laptopnya yang menyala. Baekhyun menganga tidak percaya melihat deretan kalimat vulgar salah satu pengunjung di website-nya.
"Siapa orang kurang ajar itu?" Chanyeol duduk disebelahnya dan bertanya dengan nada sangat dingin.
Baekhyun menoleh, "Aku tidak tahu.." ucapnya setengah merengek, sedetik kemudian Ia tersenyum lebar kekanakan melihat Chanyeol yang berada disebelahnya, "Woah! Chanyeollie, kau tampan."
Baekhyun mengacungkan dua ibu-jarinya melihat penampilan Chanyeol yang setiap hari semakin tampan. Sebuah headphone melingkar dilehernya—Chanyeol adalah seorang Disc Jokey di klub ini—membuatnya terlihat lebih cool, ditambah jaket hitam yang melekat ditubuhnya membuat Baekhyun semakin memuja Chanyeol.
Chanyeol tersenyum miring, "terimakasih Baek, kau juga semakin manis. Kemarikan bibirmu!" Ia menggerakan jari telunjuknya kedepan-belakang memberi gesture agar Baekhyun mendekat. Baekhyun segera mendongakan kepalanya sedikit dan meraih bibir Chanyeol. Chanyeol mendominasi ciuman mereka dengan pagutan liar dan basah.
Dan mereka terlarut dalam ciuman panas.
Sehun mengalihkan pandangan dari adegan tersebut, dan lebih memilih memandangi bartender yang sedang meracik minuman dengan lihainya. Oh dimaklumi saja, Chanyeol dan Baekhyun sudah sering sekali atau bahkan setiap hari seperti itu. mereka mungkin juga sudah pernah bercinta, karna Sehun pernah mendengar desahan Baekhyun saat Chanyeol mengajaknya kedalam kamar mandi sekolah. Mereka bukan sepasang kekasih—hanya sekedar teman. Iya teman, hanya lebih spesial karna mereka saling mengikat dan ketergantungan.
Chanyeol tidak suka berpacaran, dia lebih menyukai Baekhyun sebagai sahabatnya. hubungan yang rumit. sebenarnya bukan hanya Chanyeol yang sering menikmati bibir Baekhyun, Kai juga sering. namun, Kai hanya mengecupnya bukan melumatnya seperti Chanyeol.
"Bentuk kasih sayangku pada hyung-ku yang manis." Setidaknya itulah jawaban Kai saat ditanya oleh Chanyeol kenapa dia suka sekali mengecupi bibir Baekhyun.
"Astaga, DJ Park! sudah saatnya bekerja." Chen menarik kerah baju Chanyeol dari belakang hingga ciumannya dan Baekhyun yang semakin panas terhenti. Jangan terkejut, Chen adalah pemilik klub ini. usaha kakeknya yang Ia turunkan pada cucu kesayangannya. Dan itu tidak sia-sia, karna Chen berhasil mengelolanya dengan baik. Maka dari itu ia berani bertingkah like a bigboss pada Chanyeol yang notabene adalah anak buahnya saat diklub.
Chanyeol mendengus dan berjalan menuju podium DJ dengan tidak rela. Baekhyun hanya mengepalkan tangannya tinggi-tinggi dan berteriak 'Fighting!'
"kemana Kai?" tanya Chen yang kini duduk disebelah Sehun. Sehun memang jarang bicara jadi Chen memakluminya jika anak itu sedari tadi hanya terdiam seraya melihat bartender dengan malas.
Baekhyun menyahut, "dia sedang menjalankan misi. Kau tahu siswa JHS tadi siang diam-diam menyisipkan heroin disakunya dan Kai dipukuli habis-habisan oleh ayahnya karna dikira memakai heroin lagi. padahal dia hanya pengedar bukan pemakai."
"kurang ajar. Lalu kenapa Kai hanya sendiri?"
"karna Kai hanya mengincar satu orang, kita tidak perlu membantunya." Baekhyun kembali fokus ke laptop miliknya. Jemari lentiknya terus menggerakan kursor kebawah dan senyumannya semakin mengembang. "Aku akan mendapat keuntungan lebih besar.."
Baekhyun memang seorang pembisnis online yang sudah terkenal, dia bukan menjual barang-barang biasa yang bisa ditemui diberbagai online shop lainnya. Baekhyun menjual senjata seperti senapan dan handgun dengan illegal. Banyak yang memesan pistol padanya—tentu saja dengan beberapa syarat dan harga yang tinggi. Baekhyun bukan orang bodoh, Ia bisa saja dijebak oleh polisi yang sedang mengincarnya tetapi karna kepintarannya (atau kelicikannya?) bisnis illegalnya tidak tercium sampai sekarang.
"Sehun kenapa tadi siang kau menghilang tiba-tiba?" tanya Chen.
"Aku ada urusan dengan Luhan." sungguh Sehun tidak mau menyebut nama itu. Ia lebih baik menyebutnya 'anak kurang-ajar' atau 'anak bodoh' . Luhan terlalu bagus untuk terucap dibibirnya.
"Woah-woah, kau apakan anak itu?"
tidak mungkin Sehun bilang Ia menggigit bibir Luhan hingga berdarah, terdengar sangat bodoh dan konyol nantinya. "hanya memberinya sedikit pelajaran."
"Chen, aku ingin glenlivet-21." Sehun segera mengalihkan pembicaraan dan memesan minuman pada pemilik klub itu. Sehun benar-benar tidak mau membahas apapun yang menyangkut Luhan. Ia muak dengan Luhan. entah kenapa Sehun merasa Ia sangat membenci Luhan dan harus menyingkirkan anak itu dari muka bumi.
"Ah aku cosmopolitan!" sahut Baekhyun.
"Baek, kau seperti wanita. suka sekali dengan cosmopolitan." tukas Chen heran.
Baekhyun memutar bola-matanya jengah, "Aku suka rasa cranberry yang bercampur dengan vodka-nya. Daripada aku memesan es krim strawberry.. Sudah turuti saja kemauanku!"
"Irene, glenlivet-21 dua, dan cosmopolitan, bawakan kesini!" Chen mengode dengan telunjuk pada pelayan wanita yang berdiri paling dekat dengan sofa mereka. Pelayan wanita itu mengangguk dan berjalan untuk mengambil pesanan mereka. "Okay, boss!"
"Sehun, kudengar kau meniduri Jessica?" Baekhyun bertanya tanpa memandang Sehun, Ia menatapi Chanyeol yang ikut menggerak-gerakan tangannya menikmati musik yang dihasilkan dari mixtape-nya dari balik podium DJ. Chanyeol adalah Disc Jokey terfavorit disini, banyak wanita yang menyukainya membuat Baekhyun mendecih tidak suka. Chanyeol hanya miliknya. Tidak ada yang boleh menatapnya selain dirinya.
"untuk apa aku meniduri jalang itu?" terdapat nada tidak suka dalam ucapan Sehun. "Memandangnya saja aku tidak sudi."
Oh seharusnya Baekhyun tahu jawaban menyakitkan itu. mulut Sehun adalah yang paling beracun didunia ini setelah bisa ular. mungkin akan terdengar mustahil, tetapi percayalah Sehun belum pernah melakukan seks dengan siapapun dan belum pernah berciuman—Luhan adalah orang pertama yang 'beruntung' bisa merasakan bibir Sehun. Sehun bukan orang yang menjujung tinggi keperjakaan demi Istrinya nanti, tetapi Sehun tidak mau memberikan tubuhnya pada siapapun. Sehun berfikir dirinya terlalu berharga hanya untuk wanita-wanita haus seks. Dan Sehun juga bukan anak polos yang tidak tahu apa-apa tentang seks—hell! Sehun tahu segalanya. Seks itu hanya kenikmatan sementara. Hanya menyatukan tubuh, menggenjot dengan liar, mendesah dan mencapai klimaks. Sudah. Tidak ada yang istimewa dari seks.
Fyi saja, Sehun satu-satunya pemuda yang belum pernah dijamah maupun menjamah diantara mereka berlima.
"Jessica mengatakannya dikelasnya, bahkan membuat semua siswi dikelas XII-2 menghajarnya habis-habisan. Itu memalukanmu Sehun. kau dianggap telah menidurinya."
"Aku heran, kenapa semua wanita sekarang tidak ada yang mempunyai harga diri?" tukas Chen. "Aku takut nanti tidak bisa mendapatkan wanita baik-baik untuk kujadikan istri."
Baekhyun sontak tertawa mendengar perkataan konyol Chen dan Sehun mendengus geli—ia tidak bisa berekpresi banyak seperti Chanyeol ataupun Baekhyun.
"Yasudah, lelaki saja."
"Menjijikan baek, sama-sama mempunyai penis." Chen mengernyit jijik. Baekhyun hanya memutar bola-matanya malas, agak tersinggung.
Chen memang lurus, dia sangat memuja kaum perempuan—terlebih yang menurutnya mempunyai wajah manis dan polos serta tubuh yang mungil, Chen sering gemas dengan perempuan yang seperti itu. Chanyeol tidak mengatakan dirinya homoseksual atau heteroseksual, dia hanya mengatakan kalau Ia menyukai Baekhyun saja. dan Baekhyun juga sama seperti Chanyeol. Lalu Kai, dia pemakan segala—dengan kata lain, Ia menyukai perempuan dan lelaki. tidak perduli kelamin, yang terpenting hasrat seksualnya terpenuhi, namun dia bukan Maniak seks—Kai hanya melakukan seks jika dirinya benar-benar sedang hard dan waktu yang genting. Sementara Sehun sendiri tidak pernah mengatakan ia menyukai lelaki atau perempuan, Sehun membatasi dirinya agar tidak masuk kedalam pesona seseorang lalu jatuh cinta. Sudah Sehun katakan, Ia mual dengan hal berbau roman dan cinta.
"Sehun..kau tidak membunuh Luhan 'kan?"
"Oh astaga, Baekhyun. jangan menyebut nama si kurang-ajar itu." geram Sehun.
"Kenapa? kau kesal karna dia bukan wanita?"
Persetan dengan mulut cerewet Baekhyun. Sehun ingin sekali menyumpal mulut itu dengan botol vodka. Baekhyun selalu berhasil membuat kepalanya berdenyut-denyut emosi.
"tetapi tadi pagi kau mengatakan dia cantik. Itu pertama kalinya kau memuji seseorang Hun. Kau tertarik padanya ya?"
"Baekhyun, aku pesan satu pistol revolver." tukas Sehun dingin. Mata Baekhyun berbinar-binar, jika Sehun yang membeli Ia akan mendapat uang lebih banyak—Sehun itu seorang tuan-muda, asal mau tahu saja. "untuk apa?" tanya Baekhyun antusias.
"menembak bibirmu."
senyuman Baekhyun hilang, "Ma-maaf Sehun…revolver-ku habis."
…
..
…
Tobecontinued—
..
…
a/n :
Setiap flashback yg diawal cerita itu, flashbacknya Sehun ya. Bukan Luhan. Semuanya masih belum jelas disini, karna ini masih chapter-chapter awal. Disetiap chapter bakal ada penjelasannya kok siapa sebenarnya Sehun itu dan kenapa dia jadi badboy—buat yg jeli/peka pasti ngerti.
Info : -Sehun bukan maniak seks kayak di I'm normal, dia masih perjaka oke?
Untuk adegan action/?/ belum ada di chap-chap ini. Karna ini chapter awal, masih perkenalan dan penjelasan dulu oke?
Dan kalo ada kesamaan cerita, mohon maaf. Itu ga disengaja. Gak bermaksud niru ini-itu, karna sejujurnya ini emang asli dari pemikiran otak separo/?/ saya. Tema badboy kaya gini emang bejibun—saya akuin itu, tetapi ff ini bakal saya buat berbeda kok :D /senyum pepsodent/
Untuk penulisan, mohon maaf (lagi) saya masih anak SMA bukan anak kuliahan, jadi penulisan dan pendeskripsiannya masih amatir dan jelek—saya berusaha agar bagus walau tidak sebagus anak sastra. Saran dan masukan sangat dibutuhkan, tapi jangan bashing—yg gasuka gausah baca dan komen, itu aja intinya mah.
Oh iya, yg berteman dengan saya difb, maaaaf bgt udah bikin kecewa—karna saya bilang mau hiatus, saya emang mau hiatus. Tapi saya usahain ngepost ff kalo sempat dan kalo bisa nyelundupin laptop kedalam asrama xD makanya ayo kasih saya support biar usaha saya gak sia-sia ngepublish ff ini.
..
Siders, pls go tobat(?) .
Wanna give me some review again? ^^
[Anggara. 30/07/2015]
