Pemuda bertubuh tinggi itu tersungkur kelantai seiring suara 'PLAK' menggema diruangan itu. Dia memejamkan matanya yang terasa berbayang, belum terlalu sadar akan apa yang baru saja terjadi pada dirinya. Yang ia dapat rasakan hanya rasa sakit dibeberapa bagian tubuhnya dan kepalanya yang berdenyut-denyut nyeri.

"Sikapmu semakin membuatku muak Sehun!"

Bentakan lagi yang ia dapat. Dia hanya terdiam pada posisi terjatuhnya, membiarkan dirinya disakiti lebih lanjut. Membiarkan lubang luka dihatinya semakin menganga. Dan membiarkan semuanya terjadi tanpa harus ia hentikan.

"Kau fikir dengan caramu berpesta narkoba, semua masalah akan selesai?!" pemuda berjas putih dengan logo sekolah kedokteran itu melayangkan tendangannya pada tubuh yang berada dikakinya. Tubuh adik kandungnya sendiri. "Bedebah sial! Kau hanya memalukan nama keluarga!"

Dia yang masih terjatuh mengusap wajahnya kasar yang sudah dipenuhi airmata dan noda darah. Airmata kepedihan dan darah yang mengalir disudut bibirnya akibat pukulan yang ia terima bertubi-tubi pagi ini. Selalu seperti ini.

Ia memandang pemuda yang masih berdiri angkuh dihadapannya dengan pandangan sedih bercampur emosi, "Kenapa..." gumamnya.

"Kenapa..hyung memperlakukanku seperti ini?" tanyanya dengan suara serak, "Kenapa sikapmu berubah sekali denganku? Aku bahkan tidak tahu dimana letak kesalahanku.."

Pemuda berjas putih itu terkekeh sinis. Andai pemuda itu bukanlah kakaknya, maka dengan senang hati Ia akan merobek bibir itu dengan tangannya sendiri.

"Kau telah membunuh Ibu dan calon adik kita, Sehun. Itu kesalahanmu. Dan sampai kapanpun aku akan membencimu."

Dia memandang punggung hyung-nya yang berjalan menjauh. Ia kembali menangis didalam keterpurukan yang semakin menggerogotinya. Ia berada didalam lubang dalam yang sangat gelap saat ini tanpa ada seorang pun yang bisa membuatnya bangkit dan memberikan kasih sayang walau hanya secuil.

"Itu bukan salahku, hyung..dan aku akan tetap menyayangimu.."

.

Gara's Present:

Not Perfect

.

Genre : Romance. Action.

Main Cast : Oh Sehun—Lu Han.

Support Cast : EXO's member

Rating : M—For bullying and sex scene! T—for teenage life.

Length : chaptered

.

Disclaimer : ©Story's by Anggara Dobby, Do not coppy or re-post allowed.

.

OOC! GangsterLife! failedAction! Dirty Talk! YAOI! BL! Typo(s)

..

Enjoy this time!

.

..

Chapter 4 : Hi, Little Chicken.

.

.

.

.

Dulu—sekitar delapan tahun lalu—nama sekolah itu bukan OX 86 High School, tetapi Seoul 86 HS. Entah bagaimana caranya nama sekolah itu berubah seiring perubahan besar lainnya. Dari sana dimulai pemberontakan murid, dan guru yang tidak lagi mengajar melainkan menghajar. Pertentangan dimana-mana, murid mulai merasakan mereka tidak dihargai..mereka selalu disalahkan dan selalu dipaksa ini-itu. para guru bertingkah seolah mereka dewa, mereka tidak mementingkan lagi bagaimana muridnya bisa sukses dan mendapat masa depan cerah di sepuluhtahun kemudian, para guru mementingkan uang—hanya uang.

Mereka mengajar hanya karna sebatas pekerjaan dan formalitas, tidak ada pelajaran berharga yang murid dapatkan, seperti nilai moral dan nilai kehidupan yang bisa membangkitkan semangat belajar murid-murid. Murid-murid hanya mendapatkan sejumput materi pelajaran membosankan dan tidak berguna untuk masa depan mereka nanti. Sekolah yang aneh bukan? Tetapi itu realita.

Di jaman yang sudah menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan uang seperti sekarang, hal tersebut bukanlah mustahil. Guru tidak perduli pada muridnya dan murid-murid yang menjadi pembangkang dan tidak lagi menghormati gurunya sendiri. Kenyataan yang sangat lucu dimana seharusnya guru berperan sebagai orangtua kedua bagi para pelajar.

Guru-guru selalu berkata "Kalian harus pandai disemua mata pelajaran!" dengan nada memerintah dan memaksa—kalau tidak ya, murid akan terkena hukuman. Yang paling ringan adalah berdiri ditengah lapangan seharian. Ya, perintah guru memang bagus dan mungkin akan bermanfaat tetapi lihat kenyataannya! Guru itu sendiri tidak mungkin menguasai semua pelajaran. Coba berfikir, memangnya ada guru olahraga menguasai pelajaran kalkulus? Guru sejarah yang menguasai pelajaran kimia? Atau guru agama menguasai pelajaran software engineering? Lucu sekali. Para guru sendiri hanya menguasai satu pelajaran saja sebenarnya. Munafik.

Setiap hari mereka mengoceh tentang masa depan cerah yang harus diraih dan memberikan serangkaian motivasi lama seperti; "Gapai cita-citamu setinggi langit." Atau "Rajinlah belajar karna dengan belajar kita akan blablabla" –hell mereka murid SMU bukan anak SD! Tetapi nyatanya semua itu hanya formalitas semata. Karna..bagaimana murid mendapatkan masa depan cerah jika sistem pengajarannya saja seperti ini?

Guru-guru hanya seonggok daging yang diberi nyawa dan hidup untuk mengincar uang. Untuk apa pusing-pusing memikirkan masa depan murid mereka—yang tidak ada ikatan darah oleh mereka—lebih baik mengumpulkan pundi-pundi uang untuk kelangsungan hidupnya.

Jika ada yang mengatakan Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, berarti IQ dan EQ-nya dibawah standar. Jika guru pahlawan tanpa tanda jasa, maka didunia ini tidak ada yang mau menjadi guru. Mana ada orang yang mau bekerja tanpa dibayar selama hidupnya? right? Kadang terdengar sangat lucu dizaman sekarang masih ada saja orang bodoh yang memuja para guru dengan mengatakan mereka pahlawan tanpa tanda jasa—faktanya mereka hanya manusia bertitel yang mengabdi pada uang.

OX 86 High School sudah terkenal dimana-mana. Bahkan banyak pelajar yang berbondong-bondong masuk kesana hanya demi kepopularitasan bukan karna sistem pengajarannya. Untuk anak lelaki, mereka akan diingat sebagai anak pemberani atau 'jagoan' karna telah masuk ke sekolah sana, dan untuk anak perempuan, mereka akan ditakuti oleh siswi-siswi dari sekolah lain karna murid di OX 86 High school terkenal sebagai anak-anak pembunuh. Cukup mengerikan.

Tetapi untuk Sehun..dia tidak mencari kepopularitasan. Dirinya masih waras, dan tidak mau bersekolah disekolah buangan ini. ini sekolah menyedihkan dimana tempat anak-anak kurang kasih sayang orangtua berkumpul dan melakukan pemberontakan dimana-mana. Tetapi Sehun sadar, dirinya adalah salah satu dari ratusan anak pemberontak itu. Ia pun harus menyukai tempat ini, karna ditempat yang diberinama sekolah ini membuatnya mendapatkan kebahagiaan—kebahagiaan yang semu..

Sehun merasa dirinya yang paling menyedihkan diantara anak-anak lain, Ia ingin mengakhiri hidupnya karna merasa sudah tidak berguna bagi semuanya—Ia malah menjadi pengacau kota dan sampah masyarakat—namun Sehun teringat salah satu perkataan yang diucapkan difilm barat yang pernah Ia tonton dikala dirinya belum menjadi seorang gangster;

"Perduli setan dengan aturan dan segala nilai kehidupan. Jika aku harus mati, aku akan mati setelah puas bermain! Ikatan darah keluarga hanyalah beban takdir. Pantaslah membenci orang yang membencimu walaupun Ia keluargamu sekalian."

Kata-kata itu selalu teringat oleh Sehun dan selalu memberinya kekuatan agar tidak menyerah pada keadaannya yang menyedihkan—semua orang tidak tahu kalau Ia bukan hanya sekedar anak puber yang sedang mencari onar. Mungkin Sehun terlalu serius menganggap semua prinsip yang mengkonsepkan agar tidak boleh membenci keluarga sendiri. Dia harus menanggalkan keidealan lamanya, Jika keluarganya membenci dirinya untuk apa Sehun masih menyayangi dan peduli pada mereka?

Bahkan hyung-nya yang dulu sangat menjaganya dan menyayanginya kini berubah menjadi orang asing dan mengincar dirinya untuk dibunuh. Sehun menghargai keputusan itu karna Sehun menyadari kesalahannya dimasa lalu, tetapi Ia tidak akan menyerah begitu saja pada kakaknya. Harus ada yang mati, kakaknya atau…dirinya.

"Aku merindukan saat kita bermain bersama seperti dulu hyung.."

Luhan menatap pantulan dirinya sendiri disebuah cermin besar yang terletak dikamarnya. Almamater merah dengan logo sekolah disisi kirinya dan name-tag di sisi kanan sudah membalut tubuh mungilnya, kemeja putih didalam dan dasi berwarna hitam dengan celana seragam berwarna senada dengan dasi.

Great, dirinya sudah resmi menjadi siswa OX 86 High School.

"Luhan hyung..kau cantik."

Luhan menoleh kearah Kyungsoo yang berjalan memasuki kamarnya, pemuda kecil itu juga sudah rapi seperti dirinya. Kyungsoo terlihat manis dengan seragam itu.

"Aku tampan." tukas Luhan seraya merapikan rambutnya yang halus. Kyungsoo hanya mendengus malas sebagai balasannya. Dirinya sudah sangat jujur berbicara, Luhan memang cantik..manis dan lebih-lebih dari seorang perempuan.

"Kyungsoo-ya, aku tidak siap bersekolah hari ini." Luhan menggerakan kakinya resah dan menggigit bibir bawahnya tanpa sadar—selanjutnya ia memekik sakit karna lupa bibirnya masih terluka. Hah sial sekali.

"Kau tidak apa-apa hyung?" Kyungsoo menatapnya khawatir. Ia menyipitkan matanya dan melihat kearah bibir Luhan yang terdapat sedikit luka kecil. Jadi itu penyebab semalam Luhan mengompres bibirnya sendiri. "kau habis berciuman?"

"Ya! mana mungkin Kyung!" Luhan merasa ada sesuatu yang naik ke pipinya dan membuat wajahnya terasa panas. Luhan tidak tahu kenapa, mungkin efek sedang kesal.

"lalu kau ken—"

"ayo berangkat!" Luhan segera berjalan tergesa-gesa meninggalkan Kyungsoo. Ia tidak mau membahas itu, sama sekali tidak mau. Luhan bersumpah akan memberikan pelajaran setimpal untuk si brengsek Oh Sehun. tidak perduli pemuda itu pembunuh atau apa, Luhan bisa menghajarnya balik.

Tetapi secara tidak sengaja Sehun telah menyelamatkanmu kemarin Lu! coba kau fikir jika tidak ada si brengsek itu..mungkin kau sudah masuk rumah sakit atau yang lebih parahnya kau sudah berada dipemakaman.

Luhan menghembuskan nafasnya kasar.

Luhan mengalihkan pandangannya dari luar kaca jendela mobil. Pemandangan diluar benar-benar tidak sedap untuk dilihat. Masih terlihat banyak ceceran pecahan botol, kayu-kayu dan beberapa batu-batu besar. Tidak jarang Luhan melihat ada beberapa darah yang sudah mengering dijalan. Akibat pertempuran antar pelajar kemarin.

"paman Kim lihat sendiri 'kan, sekolah ini benar-benar buruk." tukas Luhan seraya menyilangkan kedua lengannya didada. Beberapa menit lagi Ia akan sampai disekolah dan menjalani hari yang mengerikan seperti kemarin—oh atau lebih buruk karna kemarin Ia berurusan dengan Sehun yang Luhan kenali sebagai pemimpin tawuran kemarin.

"tenang saja tuan, hanya beberapa minggu. Setelah itu tuan Do akan memindahkan kalian ke sekolah lain."

"satu hari saja sudah terasa setahun, apalagi beberapa minggu?" kali ini Kyungsoo yang membuka suara. Kyungsoo tahu hari ini dan seterusnya Ia akan mendapat masalah dari Kai dan teman-temannya. Ditambah mereka sekelas dan ditambah Kyungsoo duduk dibarisan mereka. Tidak adakah yang lebih buruk dari ini?

Kyungsoo menarik nafasnya dalam-dalam dan mulai melangkahkan kakinya dengan mantap kedalam kelas barunya. Ini hari keduanya bersekolah disini semoga hari ini lebih baik dari kema—

SREET!

BUGGH!

—rin.

"Sshh.." Kyungsoo meringis sakit saat tubuhnya limbung jatuh ke lantai. Ia terjatuh karna ada sebuah kaki yang sengaja menendang pergelangan kakinya hingga tubuh Kyungsoo tidak seimbang. Hembusan nafas halus keluar dari bibirnya, seperti hari ini akan jauh lebih buruk dari hari kemarin.

Baru saja Kyungsoo hendak bangkit berdiri, tetapi pergerakannya segera terhenti saat Ia merasakan sebuah cairan dingin membasahi kepalanya dan sebagian seragamnya. Cairan berwarna merah dan berbusa, minuman bersoda. Kyungsoo memejamkan matanya mencoba bersabar.

Derai tawa murid-murid sekelas membuat Kyungsoo merasa ingin menangis. Tawa mereka terdengar sangat puas dan mencemooh. Kyungsoo dipermalukan, seharusnya ia tahu jika kejadian ini pasti akan terjadi. Anak baru pasti akan dibully untuk minggu-minggu pertama, itu selalu terjadi disekolah manapun. Sudah menjadi tradisi, apalagi disekolah ini yang isinya semua anak iblis. Pembully-an bukanlah lagi sesuatu yang tabu.

"Selamat pagi, Do Kyungsoo." Sepasang sepatu yang terlihat mahal berada didepan Kyungsoo yang masih dalam posisi terjatuhnya. Kyungsoo mendongak, dan mendapati si pemilik sepatu tengah memandangnya dengan mencela. Seseorang berkulit eksotis bernama Kim Jongin atau lebih akrab disapa Kai.

"Ini sambutan dari kami semua untuk menyambut keluarga baru dikelas ini. Oi dude, aku minta tepuk tangan untuk Do Kyungsoo!" koar Kai. Dan tepukan tangan murid-murid disana terdengar riuh disertai seruan-seruan mencemooh. Kyungsoo mengepalkan tangannya kuat-kuat, mungkin dia memang tipe orang yang mudah mengendalikan emosi tapi untuk yang satu ini Kyungsoo tidak bisa membiarkannya. Jika ia takut maka seluruh murid disini akan semakin berani mempermalukannya lagi.

Kyungsoo berdiri dan memandangi semua anak-anak yang masih menertawakannya, kecuali teman-teman Kai yang tampak tak perduli. Chanyeol, Baekhyun dan Chen terlihat fokus pada laptop mereka diujung kelas sementara Sehun duduk diatas meja dan memandangnya dengan datar. Kyungsoo dengan wajah yang dipenuhi cairan soda, menatap Kai dengan geram—betapa bencinya dia dengan pemuda berkulit tan itu.

"Kenapa menatapku seperti itu, mungil?"

BUGH!

Kyungsoo segera melayangkan pukulannya telak diwajah Kai. Suara tertawaan tergantikan dengan pekikan terkejut. Bahkan teman-teman Kai kini berdiri hanya untuk melihat Kai yang tersungkur kelantai akibat pukulan Kyungsoo yang keras itu.

"Dia memukul Kai, astaga!" Baekhyun menutup mulutnya tak percaya.

"Ckck, anak baru itu memang berniat minta dibunuh." Chen menggelengkan kepalanya prihatin.

Kai menggeram seperti binatang buas, ia berdiri dan segera mencengkeram kerah seragam Kyungsoo. Mendorong si pemuda mungil itu hingga membentur dinding kelas dengan kasar. Kai menatap Kyungsoo dengan pandangan benci yang sangat kentara, urat kepalanya berdenyut menandakan jika saat ini Kai benar-benar emosi dan sangat geram. "Ini kedua kalinya kau memukulku, kau fikir aku tidak bisa membalasnya?"

Selanjutnya, Kai melayangkan pukulannya bertubi-tubi kewajah Kyungsoo tanpa memerdulikan erangan sakit yang keluar dari bibir pemuda manis itu. Kai benar-benar memukuli Kyungsoo dengan tidak manusiawi.

Pukulan pertama.

Aku muak denganmu Do Kyungsoo.

Pukulan kedua.

Enyah kau dari dunia ini bedebah sial!

Pukulan ketiga.

Mati kau sampah!

Dan begitu seterusnya, Kai memaki keras dalam hatinya diiringi bogeman mentahnya yang mendarat berkali-kali diwajah manis Kyungsoo.

Tidak ada yang berani melerai itu. Semuanya terdiam menontoni adegan kekerasan didepan kelas sana. Bahkan Sehun tidak bisa menghentikan Kai. Kai jika sudah emosi sulit dihentikan. Biarlah pemuda itu mengurus sendiri urusannya.

Kai menghentikan pukulannya dan memandang wajah Kyungsoo yang sudah dipenuhi lebam kebiruan dan noda darah yang keluar dari hidung dan sudut bibirnya. Ia tersenyum mencela, "Bagaimana rasanya? Bukankah sakit?"

Kyungsoo mendongak, menatap Kai dengan nafas terengah-engah. Matanya sudah mengeluarkan airmata, bukan wajahnya saja yang sakit tetapi ulu hatinya juga. Kyungsoo belum pernah dipermalukan dan diperlakukan seperti ini, bahkan orangtuanya saja tidak pernah menamparnya barang satu kali. Kyungsoo benar-benar merasa sakit. Ini lebih dari sekedar kekerasan, namun juga penghinaan harga diri.

"Ya, ini sakit sekali dan cukup membuatku muak denganmu."

Kai kini terdiam mendapati Kyungsoo menatapnya seraya menangis. Entah kenapa seperti ada silet yang menggores sedikit demi sedikit organ dalamnya melihat mata bulat bening itu mengeluarkan airmata dengan deras. Ditambah Kyungsoo memberikannya senyuman—senyuman pedih dan benci, tentu saja.

Brengsek, apa yang kau fikirkan Jongin? Kau mau menghapus airmata si sialan itu? C'mon kawan, otakmu dimana huh?

Kai menggeram rendah mendengar kata hatinya.

"Apa kau puas, Jongin-sshi?" Kyungsoo melemparkan senyum mengejeknya, walau airmatanya terus mengalir. Kyungsoo tidak boleh terlihat lemah dihadapan si brengsek Kim ini.

"Aku membencimu, Kim Jongin." Kyungsoo melepaskan tangan Kai yang masih berada dikerahnya, dan berjalan meninggalkan Kai yang mematung dalam posisinya.

Kai bersumpah, ia sudah beribu kali memukuli orang bahkan menghabisi nyawa seseorang tetapi rasanya tidak pernah semenyesal ini. Hanya dengan dipandang oleh Kyungsoo, Kai merasakan matanya seperti ditaburi bubuk lada. Sial, dia ini kenapa sebenarnya?

"Dude, kau berhasil membuat anak baru itu terkesan pada hari kedua ia bersekolah."

Kai hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Chanyeol diseberang meja sana. Ya, Kai berhasil membuat Kyungsoo menangis. Dan Kai akan selalu membuatnya seperti itu karna Kyungsoo sudah lancang memukulnya sebanyak dua kali. Pembalasan Kai masih akan berlanjut, ia akan membuat Kyungsoo benar-benar tunduk padanya.

Tetapi yang menjadi pertanyaan, apa Kai bisa melakukan itu semua? Pertama kali ia menyiksa Kyungsoo saja hatinya kacau seperti ini. Sial, ada apa dengan Kai?

Luhan tidak begitu memperhatikan pelajaran yang sedang diterangkan malas-malasan oleh seorang guru wanita berkacamata minus didepan sana, Luhan hanya sedang memikirkan bagaimana nasib Kyungsoo dikelasnya. Anak itu sekelas dengan Sehun dan kawan-kawannya, Luhan sangat khawatir dengan Kyungsoo. Luhan percaya Kyungsoo bisa menjaga dirinya, tetapi mengingat 'lima lawan satu' membuat Luhan gelisah.

Luhan mengedarkan pandangannya kepenjuru kelas, murid-murid disini tidak memperhatikan pelajaran didepan sana—bahkan Luhan bisa melihat siswa yang duduk diujung kelas tengah menonton sebuah video dari ponselnya dibawah meja. Mata Luhan menangkap satu orang siswa yang tengah meliuk-liukan tubuhnya seperti ular dan berkeringat didahinya, Ia menahan buang air kecil. Siswa itu memiliki wajah yang kasar oleh jerawat dan tubuh yang sangat tinggi, ditambah mata bulat seramnya yang menambah kesan culun dan tidak tampan sama sekali pada dirinya.

"Namanya Hyosin asal kau mau tahu saja."

Luhan menoleh pada Yixing yang baru saja berbicara. Seperti tahu apa yang ada difikiran Luhan, Yixing menjawabnya dengan tepat. "Dia terlihat menderita sekali, memangnya tidak boleh izin ketoilet sebentar?" tanya Luhan.

Yixing menggeleng, "si Boa itu kejam sekali. Dia tidak akan membiarkan muridnya ketoilet sebelum pelajarannya berakhir."

"Jung Hyosin! Kerjakan soal ini didepan!"

Luhan memandang kasihan pada Hyosin yang menahan pipis itu maju kedepan kelas untuk mengisi soal-soal dipapan tulis. Hyosin yang meliuk menahan buang air kecil membuat Boa seonsaengnim tersenyum miring. Dari balik kacamata minusnya yang dipakai guru perempuan itu, Luhan bisa melihat Boa sedang ingin bermain. Menertawakan sesuatu. Dan Luhan bisa melihat si guru mau bermain lempar batu sembunyi tangan dan tinggalah korban yang dilempar, luka itu seolah kesalahan korbannya sendiri.

Apa yang diperkirakan Luhan tidak meleset. Mistar kayu dipukulkan kuat-kuat kepapan tulis membuat seisi kelas terperanjat kaget, terlebih Hyosin, tubuh bagian bawahnya yang menahan mati-matian air seninya tidak terkendali lagi. Apa yang ditunggu guru gila itu terjadi. Hyosin pipis dicelana. Dihadapan 46 orang murid-murid.

Sontak seluruh anak tertawa, menertawakan kebodohan Hyosin. Bagi mereka itulah hiburan yang sangat menghibur disaat materi yang membosankan ini—mereka tidak tahu dan tidak mau tahu penyebab Hyosin kencing dicelana. Para siswi mendesis jijik dan berekspresi berlebihan. Sementara Hyosin mengkerut pucat menahan malu.

"Oi Jung! Sudah besar kenapa mengompol? Hahaha."

"Ewh, Hyosin—kau menjijikan sekali. Lihat lihat! Air senimu mengalir ke bawah meja kami, errh."

"Hey kutu sialan, kenapa kau buang air kecil disini huh? Kau fikir kelas ini toilet?"

"Kenapa tidak sekalian saja beronani disini Jung?"

Sementara Boa yang usahanya berhasil, kini mulai mendramatisir dengan menutup hidungnya dan memasang wajah jijik. "Jung Hyosin, kau menjijikan. Cepat ambil kain pel dan bersihkan air senimu yang pesing ini—ewh."

Hyosin segera berlari untuk mengambil kain pel dan membersihkan air seninya sendiri didepan kelas. Anak-anak semakin keras tertawa dan melemparkan Hyosin dengan bola-bola kertas. Bisa Luhan lihat, mata Hyosin memerah hendak menangis. Bagaimanapun juga ini sepenuhnya bukan kesalahannya, Boa seonsaengnim penyebabnya.

"Disepuluh tahun kemudian, aku melihat Hyosin dengan tubuh gemuk dan hidup tidak bergairah. Dia tak punya semangat hidup dan hanya mengembangkan usaha bengkel. Usahanya tidak sukses, Hyosin merampok dan membunuh, ia akan hidup dipenjara sebagai pembunuh brutal yang tidak berkelas."

Luhan memandang Yixing dengan bingung, "Apa yang kau bicarakan Xing?"

Yixing melepas earphone ditelinganya. "Itu visi yang aku lihat. Sangat jelas lebih dari halusinasi, aku mengatakannya karna aku melihat wajah Hyosin saat ini yang begitu malu dan terdapat banyak dendam yang tergambar disana."

"Kau cenayang?" Luhan berbinar antusias. Dan Yixing tertawa sebagai balasannya. Oh dia manis sekali, Luhan baru tahu teman sebangkunya memiliki dimple yang menggemaskan dan suara tawa yang begitu lembut.

"Aniya, terkadang aku akan melihat sebuah gambaran yang sangat jelas dimataku saat aku memandang orang dengan intens." Ujar Yixing, "bukan Cenayang, itu terlalu istimewa."

"Woah, kau hebat sekali."

"Haha biasa saja Han. Dan aku melihat satu visi lagi, Hyosin akan bekerja sebagai guru honorer. Dia depresi dan akhirnya mati karena overdosis drugs."

"Hanya karna sebuah kecelakaan kecil seperti ini, masa depan Hyosin akan suram seperti itu?" tanya Luhan tidak percaya. Suho yang berada didepan kursinya kini menoleh dan menjawab pertanyaan Luhan dengan enteng.

"Kau tahu Han..terkadang sesuatu yang besar terjadi hanya karna sebuah kecelakaan kecil. Sebuah api kecil dari korek kayu bisa menyebabkan kebakaran hebat."

"Ya, sama sepertimu Myeon. Hanya sebuah kecelakaan kecil, kau menghancurkan hidupnya." Sahut Yixing.

Suho tersenyum dan mengusak surai Yixing. "Itu kesalahannya Xing, bukan kesalahanku."

Luhan terdiam. Selain sekolah ini isinya pemberontak semua ternyata sekolah ini juga penghancur mimpi, masa depan. Benar-benar mengerikan, Luhan tidak mau terlibat didalamnya.

"Xing, bisa kau beritahu aku. Apa itu Exo?"

"Seluruh orang di Seoul—bahkan di negara ini aku yakin tahu Exo. Singkatan dari EXruciate Ominous, penyiksaan tak menyenangkan artinya. Mereka sebuah..uhm apa ya? Jika disebut gank sepertinya bukan, Exo itu nama sebuah kelompok yang berisi lima orang pemuda. Mereka adik kelas kita, asal kau tahu saja."

"Adik kelas?" ulang Luhan.

"Ya. Mereka pemberontak yang luar biasa nakalnya. Berbeda dari gank-gank kelas teri biasanya, Exo itu…yeah bisa dibilang sekelompok orang yang mengerikan namun elite." Yixing menggaruk tengkuknya kaku, ia agak susah menjelaskannya pada Luhan.

"Biar kuperkenalkan satu persatu anggotanya. Yang pertama ada Oh Sehun, dia adalah face of Exo, jika orang mengenal Exo pasti mengenal Sehun. Dia pembalap mobil liar, seringkali kejar-kejaran dengan polisi di jalan. Bisa dibilang Sehun itu Drift King, dia pandai sekali menyetir mobil—dia selalu menang balapan. Aku sering melihatnya namun dia tidak pernah menampakan ekspresi selain wajah dinginnya. Yang aku tahu, dia anak yang mengerikan dan kejam. Pribadinya sangat tertutup, jadi aku tidak terlalu mengetahuinya, dan satu lagi, aku tidak pernah bisa membaca fikiran atau melihat visi-nya."

Luhan membenarkan dalam hati. Walau ia baru satu kali melihat Sehun terlibat perkelahian kemarin, namun Luhan yakin anak itu memiliki kemampuan membunuh yang handal. Luhan tidak mau terlibat lagi dengannya, Ia harus menghindar dari Sehun.

"Yang kedua ada Kai, dia pengedar heroin kelas kakap. Ayahnya adalah seorang mafia di Jepang, jadi Kai sering terlibat dengan para mafia-mafia disana. Begitupula Exo, setiap minggu mereka akan terbang ke Jepang untuk menyelesaikan misi disana. Kai adalah orang yang emosional, dia sering kehilangan kontrol dirinya dan menghabisi orang tanpa basa-basi, namun aku pernah melihatnya tersenyum sekali, itupun hanya dua detik—dan itu manis sekali."

"Dia mengerikan sekali, kuharap Kyungsoo tidak berurusan dengannya." gumam Luhan berharap.

"Lalu ada Chanyeol, sekilas kau melihatnya maka kau akan mengira dia orang yang asyik dan seru untuk dijadikan teman. Namun semua itu hanya topeng belaka, Chanyeol orang yang dingin dan penghancur hati—karna dia memiliki mulut yang berbisa. Kata-katanya akan sangat menyakitkan pada musuhnya, jika Kai dan Sehun membunuh dengan tangan kosong mereka maka Chanyeol membunuh hanya dengan ucapannya. Dia seorang Disc Jokey terkenal."

Luhan mengangguk-angguk mengerti. Dia bersumpah dalam hati, tidak akan mau berurusan dengan Chanyeol itu.

"Lalu ada Baekhyun, si mungil yang manis namun memiliki otak yang sangat licik. Dia pembisnis senjata online illegal, dia beroperasi dengan kepintarannya hingga para polisi sulit melacak Websitenya. Dia adalah brain of Exo, karna Baekhyun yang mengatur strategi misi dan planning mereka. Baekhyun orang yang ketus dan tidak bersahabat, dia senang merendahkan orang lain."

"Aku penasaran ingin bertemu, bagaimana rupanya si Baekhyun itu." ujar Luhan spontan.

Yixing tertawa kecil, "Lebih baik jangan jika kau tidak mau tersulut emosi, dia menyebalkan." Lalu ia melanjutkan, "Nah yang terakhir adalah Chen, di usianya yang masih sangat muda dia sudah berhasil mengembangkan klub dengan sukses. Voltaire Club, namanya. Ada dua lantai, dilantai bawah ada klub dan lantai atas adalah pub. Chen senang ilmu kalkulus, fisika dan kimia—maka dari itu Ia sering membuatkan sesuatu yang baru untuk kepentingan Exo."

"Misalnya?"

"Bom kecil, penetralisir alkohol, bubuk-bubuk campuran dari zat beracun, dan masih banyak lagi. Ia sangat pintar dalam membunuh orang tanpa jejak."

Luhan bergumam 'Wow'. Ternyata kelompok Exo itu memang bukanlah anak-anak berandalan kelas teri yang Ia kira. Mendengar profile mereka saja sudah membuat Luhan ngeri. "Kenapa kau sangat tahu Xing?"

"Aku mantan anggota Exo."

Luhan membelalak kaget, "Se-serius?"

"Mmpp—ahahaha aku bercanda, jangan memasang wajah seperti itu Han. Kau lucu sekali." Yixing menepuk bahu Luhan agak kencang membuat si manis itu mendengus sebal. "Aku tidak punya kemampuan untuk bergabung dengan Exo."

"Ada!" seru Luhan "Kau bisa melihat visi seseorang, itu memudahkan kau dalam melawan seseorang. Kau bisa tahu dari gerak-gerik dan fokus mata lawanmu dan kau akan tahu kapan lawanmu akan menyerang atau melawanmu."

"Sepertinya kau yang lebih cocok jadi anggota ke-enam EXruciate Ominous itu."

"YA!"

Yeah setidaknya Yixing bisa dijadikan teman.

Luhan melangkahkan kakinya ketika Bel istirahat terdengar, ia ingin menemui Kyungsoo. Perasaannya tidak enak pada sepupunya itu. Ia mengabaikan tatapan-tatapan tidak bersahabat disepanjang koridor. Luhan tidak perduli karna minggu depan Ia akan segera pergi jauh-jauh dari sekolah ini. Sekolah macam apa yang masih mempertahankan murid-murid kurang ajar seperti ini? Ini bukan tempat Luhan, okay?

"Ah, sial."

Luhan berjongkok untuk membenarkan tali sepatunya yang lepas.

TAP!

Sebuah sneakers hitam-putih berhenti tepat dihadapannya. Luhan hendak mendongak untuk melihat sipemilik sepatu itu namun tubuhnya sudah tergulir kesamping terlebih dahulu dengan rasa sakit menjalari area pinggangnya. Luhan ditendang.

"YA!" Luhan berseru kesal. Apa-apaan itu? Dia ditendang bagaikan bola ditengah lapangan hijau. Tentu saja Luhan emosi. Siapapun akan merasakan hal yang sama seperti Luhan.

"Jangan menghalangi jalan, ayam kecil."

Brengsek.

Luhan berdiri cepat dan menepuk-nepuk seragamnya yang agak kotor karna debu-debu dilantai. Ia memandang seseorang dihadapannya dengan tajam. Baru beberapa menit yang lalu Luhan berjanji tidak mau berurusan dengan salah satu anggota Exo, dan kini salah satu dari mereka membuat gara-gara dengan Luhan. Bagus sekali nasibnya.

Siapa lagi kalau bukan Oh Sehun.

"Siapa yang kau sebut ayam kecil, keparat?!" Ya, Luhan lebih suka memanggil Sehun dengan sebutan Keparat dibanding menyebut nama si brengsek wajah dingin itu.

"Jika kau punya otak, pasti kau tahu jawabannya." Sehun berlalu bersama salah seorang temannya yang bertubuh sangat tinggi. Luhan berlari kecil mengejarnya dan menarik kerah belakang seragam Sehun dengan kasar. Luhan tidak akan takut dengan Sehun walaupun Yixing bilang anak ini adalah anak yang mengerikan.

Sehun menepis tangan Luhan tidak kalah kasarnya dan menatap pemuda kecil itu dengan jijik, seolah-olah Luhan adalah bangkai binatang dijalan. "Jangan pernah menyentuhku, bodoh."

"Aku juga tidak sudi menyentuhmu. Aku tidak terima kau menendangku dan mengataiku 'ayam kecil' 'bodoh' dan 'anak kurang-ajar' terlebih kemarin kau menggigit bi—Akhhh!" Luhan memekik sakit saat Sehun tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya dan menyeretnya menjauh dari koridor yang ramai itu.

"Lepaskan aku keparat!"

Anak-anak disekitar koridor tidak memperdulikan Luhan—begitupula teman Sehun yang kini menyeringai dan berhenti berjalan mengikuti Sehun. Biarlah Sehun mengurus sendiri urusannya.

Sehun membawa Luhan kedalam sebuah ruangan—ruang teater yang sepi dan minim cahaya. Ia menghempaskan tubuh Luhan ke lantai begitu saja dan menendang pintu hingga tertutup.

Luhan mendesis sakit, punggungnya dan lengannya terasa nyeri. Kenapa si brengsek Sehun itu suka sekali memperlakukannya kasar seperti ini sih? Dia sepertinya memiliki dendam pada Luhan padahal Luhan tidak pernah mengusik hidupnya. Belum sempat ia melontarkan sumpah-serapahnya pada Sehun, pemuda tampan itu sudah berjongkok dihadapannya dan mencengkeram kerah seragamnya.

"Aku suka sekali sifatmu yang kurang-ajar itu." desis Sehun pelan. Nafasnya yang hangat menerpa bibir Luhan. Dikarenakan jarak wajah mereka yang terlampau dekat. Lagi-lagi Luhan merasa sesuatu yang panas mengalir kewajahnya dan membuat bibirnya bungkam.

"Maka dari itu aku akan senang sekali jika memiliki budak sepertimu, Little chicken." Sehun menyunggingkan seringaiannya membuat wajahnya berkali-kali lipat menggoda. Sial, Luhan apa yang ada diotakmu heh?

"Mimpi saja, aku tidak akan bisa kau jadikan sebagai budakmu keparat." Luhan balas mendesis. Persetan dengan kenyataan jika Sehun adalah seseorang yang paling ditakuti disini, Luhan tidak akan takut dengannya. Apalagi jika dijadikan budak oleh si brengsek ini, Luhan akan melawannya habis-habisan agar Sehun tahu jika dirinya berbeda dengan anak lain yang mau-mau saja tunduk padanya. Luhan masih punya keberanian dan otak untuk melawan Sehun.

Tetapi saat ini tubuhnya serasa dikunci hanya karna posisi Sehun sangat dekat dengannya.

Bagaimana Sehun memandangnya tajam dan senyum Sehun yang mencela itu, semuanya membuat Luhan bungkam. Harum parfume mahal Sehun pun ikut andil dalam membuat Luhan bungkam. Luhan tidak tahu apa yang salah pada dirinya, serasa semua sendi tubuhnya lumpuh seketika.

Luhan benci ini.

..

"Hei, ayam kecil. Apa kau tahu kau ada dimana sekarang?" tanya Sehun masih dengan nada rendah. Ia masih betah memandang tajam kearah pemuda kecil dibawahnya. Sehun penasaran sekali ingin melihat raut si bodoh itu yang ketakutan, tetapi nyatanya wajah Luhan tidak berubah sama sekali. Tetap menantang dan menyebalkan—manis—.

Luhan mengerjab sebentar dan melirik kesegala penjuru ruangan, lalu menjawab pertanyaan Sehun dengan lugu. "Di ruangan teater?"

Sehun menahan hasratnya untuk mencekik Luhan. "Bukan itu maksudku bodoh!"

"Lalu apa?! Kita 'kan memang sedang ada diruangan teater. Bukan aku yang bodoh, kau yang bodoh." Luhan mendelik sebal. Sehun memejamkan matanya seperkian detik, ia belum pernah merasa sejengkel ini. Pemuda berambut coklat dihadapannya memang selalu berhasil membuatnya merasakan campur-aduk didadanya.

Sehun melepaskan cengkramannya dari kerah seragam Luhan dengan kasar. Jika saja Luhan tidak mengatakan 'Aku juga tidak sudi menyentuhmu. Aku tidak terima kau menendangku dan mengataiku 'ayam kecil' 'bodoh' dan 'anak kurang-ajar' terlebih kemarin kau menggigit bi—'

Pasti Luhan akan mengatakan 'kemarin kau menggigit bibirku.' Dihadapan banyak anak-anak dikoridor.

Gila saja. Bisa sangat malu Sehun! Apa kata warga sekolah jika Oh Sehun menggigit bibir si anak baru bodoh ini? Bisa-bisa semuanya akan berfikiran yang tidak-tidak. Menggelikan sekali jika ia digosipkan yang tidak-tidak dengan bocah tengik macam Luhan.

Yeah, jika saja Luhan tidak mengatakan itu, Sehun tidak akan mau repot-repot berurusan dengannya lagi. Sehun memang sudah membatalkan niatnya untuk menjadikan Luhan sebagai boneka bully-annya (mengingat Luhan yang paling kurang ajar dengannya) karna Sehun tidak mau bertemu dengan Luhan lagi setelah kejadian kemarin saat tubuhnya bereaksi sendiri ketika memandang manik indah Luhan.

Seperti saat ini, Sehun tidak bisa menjauhkan pandangannya sedetikpun dari wajah Luhan. Sehun benar-benar muak dengan tubuhnya yang seperti ini. Ia tidak mau memandang Luhan—sama sekali tidak mau, tetapi faktanya untuk berkedip menatap Luhan pun tidak bisa. Ada apa dengan dirinya?

Mata bening dengan kerlapan indah itu seolah menghipnotis Sehun dan membawa Sehun kedalam lingkaran abstrak yang membingungkan namun juga...memabukan. pandangan Sehun kini tertumpu pada bibir kecil nan ranum Luhan—disana masih terlihat luka kecil mengering akibat perbuatannya kemarin. Cih sial, Sehun malas mengingatnya lagi. Bibir itu terlihat sangat menggo—oh stop! Stop! Apa yang kau fikirkan Sehun? Otakmu sudah bergeser ya?

"K-kenapa melihatku seperti itu?"

Sial.

Sehun mendengus, "Percaya diri sekali." Ia kembali menyunggingkan senyum mencela angkuhnya. "Aku hanya sedang berfikir cara apa untuk melenyapkan ayam kecil sepertimu."

"Jika kau fikir aku akan takut dengan ancaman pasaranmu, maka kau salah besar. Anak-anak lain mungkin memang tunduk padamu, tetapi aku tidak." Luhan tersenyum tipis, "Kau dengar itu baik-baik, hoobae." Ia menepuk-nepuk pipi Sehun cukup keras setelahnya dan menekankan kata hoobae.

Sehun menggeram rendah dengan mata menyalang murka.

"Oh, berani sekali kau menyentuhku." desisnya berbahaya. Ia mencengkeram dagu Luhan dan mengangkat wajah pemuda itu dengan kasar. Terdengar rintihan sakit keluar dari bibir Luhan membuat Sehun menarik satu sudut bibirnya keatas, menyeringai pongah.

"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Melenyapkan sampah sepertimu adalah hal yang mudah, Luhan." Sehun menghempaskan wajah Luhan begitu saja dan bangkit berdiri. Tanpa berbicara apa-apa lagi, kaki jenjangnya melangkah keluar meninggalkan Luhan sendirian masih dalam posisi setengah berbaringnya.

Sehun menghirup udara sebanyak-banyaknya saat dirinya sudah benar-benar menjauh dari ruangan teater. Raut wajahnya terlihat sangat gelisah. Kenapa denyar aneh didadanya masih belum mau berhenti juga? Hanya dengan melihat senyuman tipis Luhan membuat tubuhnya bereaksi aneh. Perutnya serasa digelitik dan juga beribu sengatan aneh menggerogoti jantungnya.

Begitupula saat tangan Luhan menyentuh pipinya. Sentuhan—atau tepukan kasar itu, seperti sapuan lembut yang menyapa kulitnya. Luhan itu lelaki 'kan? Kenapa tangannya bisa selembut dan sehangat itu? Damnit.

Ini bukan terpesona pada Luhan okay?

Itu adalah hal yang menjijikan yang tidak pernah Sehun bayangkan. Anak kurang ajar seperti Luhan tidak pantas mendapat perhatiannya—bahkan tatapannya pun Luhan tidak pantas. Luhan hanyalah anak baru yang belum mengetahui siapa Sehun sebenarnya itu. Ya hanya itu. Tidak ada yang berubah jika Sehun tidak berdekatan dengannya lagi.

Sehun harus menjauhi Luhan—kalau bisa melenyapkan anak itu dari muka bumi ini.

Ya memang seharusnya begitu Sehun. Luhan tidak pantas mendapatkan tatapanmu! Lenyapkan saja anak itu. Sebelum semuanya terlambat..saat kau benar-benar jatuh kedalam lubang pesona Luhan. Dia hanya lintah sialan yang akan membuat hidupmu terganggu dan terbebani dengan lingkaran menjijikan bernama Cinta. Cinta itu hanya membuatmu menjadi makhluk paling tolol, Sehun.

..

"Astaga! Ada apa dengan wajahmu?!" Luhan membuang tasnya sembarangan dan menghampiri sepupu manisnya yang tengah berbaring diatas sofa dengan lemas, Luhan bahkan tidak sempat membuka sepatunya terlebih dahulu. Mata Luhan membelalak tak percaya melihat wajah Kyungsoo sudah dipenuhi lebam-lebam kebiruan.

"Siapa yang membuatmu seperti ini?! Kau dipukuli oleh si brengsek Sehun ya? Kenapa kau tidak bilang padaku dan memilih pulang sendirian?" Luhan benar-benar panik dan khawatir. Luhan kira, Kyungsoo membolos karna tidak enak badan atau mau menghindari teman-teman Sehun maka dari itu Luhan tidak terlalu panik saat Kyungsoo tidak ada dikelasnya, tetapi ternyata Kyungsoo membolos karna ini.

Sementara Kyungsoo hanya tersenyum simpul menanggapi reaksi Luhan. "Aku tidak apa-apa hyung.."

"Apanya yang tidak apa-apa?! Lihat wajahmu! Sudah penuh dengan luka…pasti sakit sekali." Luhan mengusap airmatanya dengan kasar. Ya, dia menangis. Entah sejak kapan airmatanya itu berlomba-lomba jatuh. Luhan benci kekerasan dan sepupunya sekarang yang malah menjadi korban kekerasan, itu membuat Luhan merasa sangat sesak.

Luhan tidak tega melihat Kyungsoo yang seperti ini. Luhan marah—sangat marah, hingga akhirnya ia hanya bisa menangis tanpa bisa membantu apa-apa. Semuanya sudah terjadi, Kyungsoo menjadi bahan siksaan siswa OX 86. Perasaan gelisahnya memang terbukti benar, seharusnya Luhan bisa menjaga Kyungsoo.

"Aku tidak bisa menjagamu Kyung.."

"Luhan hyung, jangan menangis. Aku tidak apa-apa. Paman Kim sudah memberikan aku obat merah tadi, aku baik-baik saja." Kyungsoo terkekeh geli melihat raut Luhan yang sangat menggemaskan ketika menangis. Bagaimana cara Luhan menghapus airmatanya dengan gerakan menggemaskan dan wajah paniknya yang lucu, membuat Kyungsoo melupakan segala rasa sakit diwajahnya.

"Kyungsoo-ya, aku merasa menjadi sepupu yang buruk untukmu karna tidak bisa menjagamu." Luhan terisak kecil dengan tangan yang menggantung didepan wajah Kyungsoo, hendak menyentuhnya. Namun Luhan urungkan melihat luka Kyungsoo yang masih sangat baru, akan sangat sakit jika Luhan menyentuhnya.

"Jangan menyalahkan dirimu hyung. Ini hanya kecelakaan kecil, lagipula aku tidak sampai sekarat 'kan?"

"Memangnya kau mau sampai sekarat?!"

Kyungsoo kembali tertawa melihat Luhan mendelik sebal. Sedang marah pun Luhan masih terlihat manis. Kyungsoo bingung kenapa Luhan ditakdirkan menjadi lelaki dengan wajah secantik itu?

"Andai saja paman Do tahu kalau anaknya saat ini babak belur karna kesalahannya yang memasuki anaknya sendiri ke sekolah setan." ujar Luhan. "Pasti dia marah sekali.."

Kyungsoo adalah anak tunggal dari keluarga Do. Ayahnya sangat menjaganya dan sangat overprotektif padanya, seolah-olah Kyungsoo adalah anak gadis yang sangat perlu dijaga sebaik mungkin. Maka dari itu bisa dipastikan bagaimana murkanya tuan Do saat mengetahui anaknya sudah babak-belur seperti ini.

"Luhan hyung—"

"Aku akan mengadu ke paman Do!" Luhan berlari secepat mungkin kearah telepon rumah. Kyungsoo membelalakan matanya dan mengejar Luhan. "Jangan hyung! Appa akan marah besar! Aku tidak mau mengganggu pekerjaannya di China sana."

"Biarkan saja, agar kita cepat-cepat dipindahkan dari OX 86. Hahaha aku jenius 'kan?"

"Hyung!"

"Yeobose—kenapa tidak tersambung?!" Luhan memandang telepon rumah digenggamannya dengan bingung. "ada apa ini?"

"Aku tidak tahu." Kyungsoo menggeleng polos.

Luhan mendengus sebal dan membanting telepon itu. Ia berjalan dengan menghentak-hentakan kakinya kesal. "Argh sial! Kenapa tuhan sedang jahat sekali padaku?!"

...

Sebuah McLaren 650S berwarna merah-hitam mengkilat berhenti ditengah-tengah kumpulan pemuda-pemudi yang berkumpul untuk membicarakan sesuatu maupun saling melempar hinaan satu sama lain. Suara riuh dan ramai yang berasal dari remaja-remaja labil itu refleks terhenti saat pintu mobil sport bertrademark McLaren tersebut mulai terbuka. Dari arah sana, keluar seorang pemuda bersurai kelam malam dan wajah tidak bersahabatnya. Pemuda yang sudah sangat mereka hafal itu melepas earphone yang melekat ditelinganya—gerakan sederhana, namun cukup membuat gadis-gadis berpakaian minim disana menahan pekikannya. Mereka masih mau melihat Sehun disini, maka dari itu mereka tidak mengeluarkan pekikan nyaringnya—Sehun sangat membenci pekikan gadis. Membuat kepalanya mau pecah dan berdenyut pusing. Ya, pemuda itu adalah Oh Sehun. Si racer kebanggaan mereka semua.

Dua mobil lain menyusul, berhenti tepat dibelakang McLaren milik Sehun. Dari Chervolet Corvette Z06 berwarna merah menyala, keluar Kai dengan tampang bosannya. Pemuda berkulit eksotis itu mengacak rambutnya—yang dianggap gerakan menggoda oleh para gadis. Padahal Kai tidak bermaksud seperti itu, ia memang merasa sangat kacau malam ini. Dari arah pintu kursi penumpang, Chen keluar dari sana. Ponselnya menempel ditelinga pemuda itu, Chen tengah berteleponan dengan serius. Terlihat dari raut wajahnya yang tidak menampilkan ekspresi menyenangkan.

Di mobil ketiga, Bugatti Veyron berwarna biru bermodif, keluar sang Disc Jokey—Park Chanyeol. Kaki panjangnya segera berjalan menuju samping kiri mobilnya, membukakan pintu untuk seseorang disana. Si pemuda mungil nan manis keluar dengan tangan Chanyeol yang menggenggamnya—terlihat seperti seorang tuan puteri. Beberapa gadis disana mendesah geram. Sialan sekali, Baekhyun memang lebih memikat hati Park Chanyeol ketimbang mereka semua.

EXruciate Ominous sudah tiba. Dan itu artinya duel akan segera dimulai.

"Yo! Whassap Sehun!?" seorang pemuda dengan beanie hitam melekat dikepalanya menghampiri Sehun dengan gaya swag-nya. Dia mengabaikan tatapan tidak suka yang tajam dari Sehun.

"Jangan menepuk bahuku seperti kau menepuk yang lain, oke?" desis Sehun. Dan itu cukup membuat tangan pemuda itu melayang diatas bahunya, tidak jadi menepuk bahu Sehun. "O-okay..brother." pemuda itu tersenyum kikuk. Ia lupa jika Sehun sangat tidak suka disentuh oleh orang lain.

"Jangan banyak basa-basi, Baro. Aku hanya ingin tiga putaran malam ini."

Baro mengangguk mengerti, mood si Drift Prince itu sepertinya sedang sangat buruk, Baro tidak mau dilindas oleh ban McLaren Sehun apabila ia mengusiknya.

"Siapa yang akan menjadi lawan duelku?" tanya Sehun seraya duduk diatas mobilnya. Matanya hanya terfokus pada ponselnya, tidak berniat sama-sekali membalas tatapan memuja yang dilontarkan para gadis disana. Para gadis itu kenapa berlebihan sekali sih? Tetapi untungnya mereka hanya berani melirik Sehun dari jauh, tidak seperti gadis-gadis di Las Vegas yang terang-terangan menyentuh Sehun—bahkan hampir meremas kejantanannya. Sehun mual jika mengingat para gadis Amerika gila itu.

"Aku."

Sehun menoleh kesumber suara dingin itu. Ia mendapati seorang pemuda berambut blonde yang memandangnya dengan sebuah senyuman sinis. Sehun suka senyuman itu hingga membuatnya ingin merobek bibir pemuda itu.

Sehun menaikan sudut bibirnya membentuk seringaian, "Hai, Henry. Lama tidak bertemu, teman."

"Apa kau merindukanku Sehun-ah?"

"Ya, sangat." Sehun turun dari atas mobilnya dan berdiri congkak dihadapan pemuda yang dipanggil Henry itu. "Bagaimana rasanya makanan dipanti rehabilitasi?"

Henry tertawa senang, entah untuk alasan apa. Padahal pertanyaan Sehun tidak mengandung unsur lawakan sama sekali. "Enak sekali, cobalah Sehun."

"Ah, terimakasih. Aku lebih suka makan coca dibanding makanan dipanti rehab." Sehun mengibaskan tangannya acuh. "Taruhan apa?"

Henry menunjuk Ferrari 458 Spyder orange miliknya dengan santai. Sehun bersiul dan terkekeh kecil, ekspresi yang sangat menyebalkan dimata Henry. "Bersiaplah si jingga itu menjadi milikku, bung."

"Jangan senang dulu Sehun, jika aku yang menang…aku ingin kau menjadi budakku."

"Dalam mimpimu, dude."

Sehun ditakdirkan menjadi seseorang yang disegani bahkan dianggap sebagai penguasa, bukan sebagai budak. Bulan akan muncul disiang hari jika Sehun menjadi seorang budak yang pengecut.

"Uangnya transfer saja kerekeningku. Ini barangmu, bung." Kai menyelipkan seplastik hitam kecil ketangan Baro yang dibalas anggukan senang dari pemuda itu. Baro melihat isi plastik itu dan senyumannya semakin melebar melihat bubuk kristal kecil berwarna putih. Ia menghirupnya sebentar dan terkekeh puas.

"Thanks, ini yang kusuka."

"Biar kujelaskan cara memakainya, kau harus siapkan Spuit 1,0 cc, Spuit 5,0 cc, botol air mineral, gelas dan sendok pengaduk. Kau masukan heroin ini kedalam gelas, campurkan dengan air mineral lalu kau aduk dengan sendok. Setelah itu kau taruh kedalam kedua Spuit tadi. Dan kau langsung bisa suntikan ketanganmu ataupun bagian yang kau suka. Paham?" ujar Kai bagaikan seorang guru professional. Dan Baro mengangguk mengerti layaknya seorang murid yang sangat penurut pada gurunya. "Kau akan merasakan effect menyenangkan dari si putih ini."

"Sekali lagi thanks Kai-nim, selama ini aku hanya memakai XTC dan itu tidak memuaskan."

"Urwellcome, brother."

"Oi, Baro! Duel akan dimulai!" teriak salah seorang pemuda disana. Baro segera berlari kegaris start dengan membawa-bawa dua buah bendera hitam putih ditangannya.

"Disaat seperti inipun kau masih bisa bertransaksi. Aku iri." sindir Baekhyun. Kai terkekeh dan mengecup bibir mungil yang tengah mengerut sebal itu, tidak menyadari aura kelam mengelilingi Chanyeol. "Ditempat seperti ini, malah banyak yang memesan barangku. Ini yang dinamakan bisnis." Ujar Kai.

"Bisnis heroin, apa bagusnya." decih Chen.

"Kau sendiri, bisnis klub malam. Kita sama-sama brengsek, hyung. Jangan saling menjudge." Kai mencibir kesal. Chen tertawa nyaring dan segera memeluk pemuda yang lebih muda darinya itu. "Nde, aku hanya bercanda adik."

"Cih, menggelikan."

"Ayo kita lihat duel Sehun!"

Sehun sudah siap dikursi kemudinya. Ia mulai menyalakan mesin McLaren kesayangannya itu. Ia akan berduel dengan Henry dijalanan yang sudah dipersiapkan untuk balapan ini. Beberapa pemuda sudah memboikot beberapa jalan agar tidak ada kendaraan umum yang berlewatan—mengganggu acara duel ini. Bisa dipastikan beberapa masyarakat protes karna jalan yang akan mereka lewati ditutup oleh remaja-remaja nakal ini, namun apalah daya remaja-remaja ini selalu punya cara untuk membuat masyarakat umum bungkam melapor ke polisi jalan.

Diseberang sana, lewat kaca jendela mobilnya yang terbuka, Sehun melihat wajah Henry yang melempar senyum sinis padanya. Oh si brengsek itu percaya diri sekali bisa mengalahkan Sehun. Sehun jadi ingin tertawa keras. Mobil keduanya sudah berjejer digaris start. Banyak orang yang berjejer untuk melihat duel mereka. Sebagian gadis terang-terangan menyemangati Sehun membuat pemuda berwajah dingin alami itu memplay musik kencang-kencang dimobilnya. Sehun benci gadis berisik. Ia juga bisa melihat raut risih teman-temannya yang berada diantara himpitan gadis-gadis itu. Terlebih Baekhyun, dia terlihat tidak nyaman sekali. Berdoa saja agar Baekhyun tidak menggoreskan silet kewajah gadis-gadis berisik itu.

Gaung mesin kedua mobil itu melebihi teriakan-teriakan para gadis saat Baro berdiri didepan garis start dengan kedua bendera hitam-putih ditangannya. Baro merentangkan tangannya, lalu membuat tanda silang dengan kedua bendera itu. Sejenak Baro menghirup nafas dalam-dalam, dan…

"START! HAVE FUN GUYS!"

Ia kembali merentangkan tangannya seiring teriakannya barusan. Tanda duel sudah dimulai.

Sehun yang melihat tanda itu dengan cekatan menginjak pedal gasnya, memacu McLaren-nya dengan cepat untuk mengambil posisi memimpin. Suara mesin mobil menderu kencang saling bersahut-sahutan membelah malam yang sepi. Sehun tersenyum remeh melihat Ferrari Spyder yang berada dibelakangnya, berusaha mengambil posisi terdepan. Sangat mudah mengalahkan Henry, mengingat speedmeter McLaren kesayangannya bisa mencapai 328 km/h tanpa memakai NOS. berterimakasihlah pada Kakeknya yang menghadiahkan Sehun mobil inggris dengan harga menjulang ini saat ulangtahun ke-17 nya. Ini adalah satu dari 15 mobil tercepat didunia, maka dari itu Sehun sangat menyayangi McLaren ini.

Tetapi menjadi pembalap liar yang selalu unggul dijalan bukan hanya karna kecepatan mobilnya, kemampuan drifting Sehun yang memukau lah yang membuat ia selalu menjadi pemenang dijalan.

Sehun berniat melihat Henry dibelakangnya dari balik kaca spion mobilnya, namun yang Ia dapati adalah Ferrari orange itu tengah dikerubungi oleh mobil-mobil berlampu merah-biru diatasnya. Sehun membelalak.

Sial, polisi.

Sehun mematikan music playernya, dan barulah terdengar suara sirine mobil polisi yang begitu memekakan telinga. "Shit!" ia mengumpat keras dan menambah kecepatan laju mobilnya saat mobil-mobil polisi itu mengejarnya. Ada sekitar lima mobil disana. Mereka pasti berniat mengepung Sehun seperti mereka mengepung Henry—cih.

Sehun mengganti gigi sesaat sebelum membanting kemudi kekiri, memasuki tikungan yang tajam. Membuat mobilnya melaju dalam posisi miring yang memukau. Setelah mobilnya melewati tikungan, ia langsung tancap gas dengan kecepatan cahaya. Manuver yang professional membuat Sehun terlihat bukan seperti pembalap liar kelas teri.

Mobil Sehun masih dalam posisi memimpin dengan lima mobil polisi yang mengejar dibelakangnya. Suara sirine membuat beberapa pejalan kaki disana berhenti untuk melihat aksi kejar-kejaran itu, terlebih beberapa suara ledakan yang berasal dari tembakan para polisi ikut meramaikan jalan . Jalanan Seoul kini menjadi sangat ramai karna adegan itu. Sehun selalu berhasil menjadi pusat perhatian.

"Hey nak! Kau cukup pintar dalam menyetir!"

Sehun menoleh kearah jendela mobilnya. Ia mendecih melihat wajah si polisi tua yang mengejeknya itu. Apa katanya? Cukup pintar? Sehun ini lebih dari kata 'cukup'. Oh dimaklumi saja, mungkin polisi tua itu sudah rabun. Selanjutnya mata Sehun membelalak terkejut saat tembakan si polisi tua yang mengenai kaca spion mobilnya hingga pecah.

"Brengsek." umpat Sehun. Rupanya para polisi itu ingin bermain-main dengannya. Baiklah, akan Sehun turuti. Sehun menyetir dengan satu tangan karna satu tangannya lagi ia gunakan untuk meraih sebuah baretta dari saku celananya. Ia memang selalu menyiapkan baretta ini kemana-mana, karna musuh selalu datang menghampirinya dengan sukarela minta dibunuh.

Seperti saat ini.

Sehun tersenyum miring dan membuka kaca jendela mobilnya sedikit, Ia mengarahkan Baretta-nya kearah mobil polisi yang tepat disebelah mobilnya. Jemarinya menekan pelatuk pistolnya.

"Terimakasih pujiannya, pak!"

DARR!

Pelurunya tepat mengenai sasaran membuat suara ledakan memekan menggema dijalan. Darah segar kini menyeruak keluar dari kepala si polisi tua itu membuat Sehun tersenyum kecil—senang sekali rasanya. Bisa Sehun lihat beberapa mobil polisi yang mengejarnya kini berhenti dan memilih melihat keadaan teman mereka. Aparat hukum kalah dengan anak ingusan macam Sehun eh?

Setelah itu Sehun melajukan mobilnya dengan cepat membelah malam dengan udara yang kurang bersahabat ini. Sehun mengernyit bingung saat merasakan McLaren-nya semakin lama semakin melambat. Ada apa ini? Tidak mungkin Ia kehabisan bahan bakar, mobilnya selalu full.

Dan selanjutnya mobilnya benar-benar berhenti.

Sehun mengeluarkan umpatan kasar dan membuka pintu mobilnya untuk keluar. Mengecek apa yang salah pada mobilnya. Sehun melihat ban mobilnya yang mengempes dan cairan oli yang menetes-netes dari arah bawah mobilnya.

"Sialan! Pasti polisi-polisi tua itu yang melakukannya." Sehun menendang ban mobilnya dengan geram, "Mereka itu kenapa senang sekali sih menghancurkan kebahagiaan orang lain? Brengsek."

Sehun menghembuskan nafasnya kasar, emosinya sudah mencapai ubun-ubun dan siap untuk dilampiaskan kepada siapa saja. Ia meraih ponsel disakunya dan menghubungi Chanyeol. Tetapi tidak ada jawaban dari pemuda bertelinga lebar itu. Sehun kembali memaki kasar dan menghubungi teman-temannya satu per-satu. Semuanya tidak ada yang menerima panggilannya. Pasti saat ini mereka juga sedang kejar-kejaran dengan para polisi keparat itu.

Sehun menyisir surai kelamnya kebelakang dengan jemarinya dan memandang kearah sekitarnya. Dia berada dipinggir taman kota saat ini, suasana disini sangat hening dan hanya ada beberapa orang yang keluar-masuk minimarket yang tak jauh dari taman. Sehun melirik arlojinya.

23:07 PM.

"Pantas saja." dengus Sehun.

Kaki panjang Sehun melangkah mendekati kursi panjang yang terdapat ditaman dan mendudukan bokongnya disana. Bagi Sehun, hal ini sangat menggelikan—dia terduduk sendirian ditaman malam-malam dengan mood yang sangat buruk, terlihat seperti remaja labil yang baru saja putus cinta, apalagi udara dingin yang sedang tidak bersahabat ini membuat suasana semakin suram. Sehun mendengus geli memikirkan itu. Sebenarnya Sehun tidak mau duduk ditaman seperti ini, tetapi mengingat McLaren-nya dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk membawanya pulang. Mau tidak mau Sehun menunggu teman-temannya datang seraya beristirahat sejenak.

Sehun memejamkan matanya, menetralisir rasa lelah ditubuhnya dan fikirannya. Sehun tidak tahu apa yang ada diotaknya, namun Ia merasakan otaknya selalu penuh dengan fikiran-fikiran abstrak yang membuatnya geram. Bayangan masa lalunya tidak pernah mau hilang dari fikirannya, itu sangat membuat Sehun tersiksa. Masa lalunya tidak kelam dan menyedihkan—malah sangat menyenangkan dan membuatnya ingin kembali kesana—tetapi yang membuat Sehun tersiksa, kenapa masa lalunya lebih indah daripada saat ini?

Semua orang dimasa lalunya sangat berubah. Dan Sehun juga sadar jika dirinya juga ikut berubah. Tidak ada yang salah dengan perubahan 'kan?

Disaat Sehun terhanyut kedalam bayangan masa lalunya yang indah, Sehun merasakan ada seseorang yang kini menghampirinya. Memang tidak ada suara jejak langkah ataupun bunyi lainnya, tetapi Sehun mampu menyadari setiap ada orang yang mau menghampirinya. Mungkin karna terlalu banyak terlibat dengan musuh-musuhnya, Sehun menjadi pemuda yang sangat cekatan menyadari ada seseorang dibelakangnya. Otaknya cepat sekali menerima gelombang-gelombang yang hendak mendekati disekitarnya. Bersyukurlah akan hal itu, Sehunna.

Aroma bumbu ramyeon menyapa indra penciuman Sehun membuat mata sipitnya terpaksa terbuka. Ia melihat sebuah ramyeon cup berada tepat dihadapannya. Netranya mengikuti sebuah tangan terbungkus mantel biru muda yang sedang memegang ramyeon cup itu.

Dan betapa terkejutnya Sehun saat melihat siapa yang menyodorkan ramyeon itu padanya. Seseorang dengan mantel tebal dan syal melilit lehernya itu melebarkan senyum menyebalkan—menggemaskannya—pada Sehun.

"Untukmu, keparat."

Sehun menggeram rendah melihat pemuda kecil itu. "Apa yang kau lakukan disini, Little chicken?"

Tobecontinued—

a/n :

HAI?

Gimana chapter ini? Membosankan, pasti. Oke, jangan bash gue tentang kalimat-kalimat diawal cerita—itu hanya unek-unek gue yg gue kembangin jadi bagian cerita ini, jangan dianggep serius oke? Gue sayang guru gue kok ;3

Maaf kalo ngaret publishnya, soalnya lagi sibuk-sibuknya direal life. Rasanya mau tidur selama seminggu saking lelahnya gue dengan semua ini(?) maaf juga karna belum bisa lanjut THREE IDIOTS, itu masih dalam proses pengetikan.

Thanks, yang udah mau review, fav, follow. Laafffffffyu muahmuah.

Oh iya, gue mau bilang satu kata;

Don't judge author by the fanfiction! Yang dikomen itu FF-nya bukan authornya, oke? ;)

Dan…gimme some review again pls?

[Anggara]