©Anggara Dobby
Not Perfect
..
Adult content. Hardscene. Boring! BL. YAOI. Bullying! GangsterLife! FailedAction! Dirtytalk!
HunHan—slight! Kaisoo and Chanbaek—
Oh Sehun. Lu Han.
School!AU
a/n : DLDR baby :*
.
..
…
…
..
.
Luhan melangkahkan kakinya keluar dari supermarket dengan dua cup ramyeon ditangannya, dilengannya juga tergantung satu plastik besar berisi belanjaan yang baru saja Ia beli. Pemuda manis itu tersenyum lebar memandang makanan yang masih mengepulkan asap ditangannya. Perutnya semakin mengerang meminta segera diisi melihat ramyeon-ramyeon itu.
"Aku makan dimana?" gumamnya melihat semua kursi didepan supermarket sudah terisi semuanya. Rupanya banyak orang yang mau makan ramyeon instan malam-malam begini seperti dirinya. "Tidak mungkin makan dirumah, nanti tidak hangat lagi."
Manik coklat beningnya melihat sebuah taman diseberang jalan, lantas Luhan melangkahkan kakinya kesana. Ditaman pasti ada sebuah bangku, dan Luhan bisa makan disana. Luhan mengulum senyumnya dan mempercepat langkahnya. Udara malam ini cukup dingin, untungnya Kyungsoo dengan segala kebaikan hatinya menawarkan mantel tebal dan syal untuk Luhan. hingga pemuda manis itu tidak menggigil kedinginan malam ini.
Bibir Luhan membulat kagum melihat sebuah mobil mewah berwarna merah-hitam terparkir sembarangan dipinggir taman. Mobil itu bagus sekali dan Luhan yakin itu pasti sangat mahal. Warna mobil itu mengingatkan Luhan akan seragam sekolahnya—identik dengan warna kebanggaan OX 86 High School—merah hitam. Pemuda manis itu mengelilingi mobil yang entah dimana pemiliknya itu, Luhan benar-benar akan meminta pada Baba-nya untuk membelikannya mobil seperti ini. Tidak sengaja Luhan melihat sebuah cairan hitam menetes-netes dari arah bawah mobil. Itu oli.
"Oh, pasti pemiliknya sedang mencari bengkel." gumam Luhan sok tahu.
Luhan menghampiri seseorang berjaket hitam yang duduk dibangku taman sendirian. Luhan yakin, orang itu adalah si pemilik mobil maka dari itu Luhan ingin memberitahunya kalau ada bengkel yang dekat dari sini.
Semakin Luhan mendekat, semakin Ia merasakan kalau Ia tidak asing dengan orang itu. lantas Luhan memajukan kepalanya sedikit untuk mengintip siapa orang itu. detik selanjutnya bibir Luhan membulat, mengucapkan sebuah nama tanpa suara.
"Sehun.."
Anggaplah Luhan bodoh karna bukannya menjauh, Ia malah semakin mendekati seseorang yang ternyata Sehun itu. Sejauh ini Sehun belum menyadari kehadirannya. Luhan heran mengapa anak seperti Sehun bisa ada ditaman malam-malam begini. Apa Sehun sedang menunggu kekasihnya? Mungkin saja. Sehun itu 'kan tampan, tidak mungkin jika dia tidak memiliki kekasih—kurang lebih begitulah spekulasi Luhan yang memang sok tahu.
Luhan memandang dua cup ramyeon-nya. Ia memang lapar, tetapi mungkin saja Sehun sudah lama berada disini dan dia merasa lebih lapar darinya. Membagi makanan ke orang lain adalah hal yang baik—maka dari itu Luhan melebarkan senyum polosnya dan menyodorkan satu ramyeonnya ke depan wajah Sehun yang tengah terpejam itu.
"Untukmu, keparat."
Entah Luhan masuk kekategori anak baik-baik atau bukan, karna membagi makanan ke orang yang Ia benci dengan begitu mudahnya ditambah memanggil orang itu dengan sebutan 'keparat'.
Sehun membuka matanya, dan segera memandang kearah Luhan dengan tajam. "Apa yang kau lakukan disini, Little chicken?"
Little Chicken yang artinya ayam kecil, Luhan merasa dirinya tidak seperti anak ayam. Banyak orang yang memanggilnya rusa, tetapi hanya Sehun yang memanggilnya ayam. Luhan tidak tahu itu hinaan atau apa, yang pasti Luhan tidak mau mempermasalahkannya.
"Aku habis dari supermarket." Luhan menunjuk keseberang jalan dengan ibu jarinya. "memangnya kau saja yang boleh ke taman?" lanjutnya skeptis.
Sehun mendengus kecil dan kembali memandang kearah depan, terlihat malas sekali memandang kearah Luhan.
Luhan ikut mendengus melihat tingkah Sehun. Ia segera mendudukan bokongnya disamping pemuda dingin itu, namun dengan jarak yang cukup jauh—Luhan sadar diri, jika dirinya dan Sehun bukanlah teman akrab yang harus duduk berdekatan.
"Apa tidak ada tempat lain untukmu duduk?" tanya Sehun ketus. Masih memandang kearah depan.
Luhan yang merasa tersindir berdecak jengkel. "Diam saja, taman ini bukan milikmu." Lalu pemuda manis itu menyodorkan kembali ramyeon cup-nya yang belum sama sekali diterima oleh Sehun.
"Mau tidak? Ini untukmu."
Sehun menoleh kearah Luhan, lalu tertawa sinis. "Hei, ayam kecil. Sebenarnya apa maumu?" Sehun cukup bingung dengan jalan fikiran Luhan, dia datang menghampirinya dan memberinya ramyeon tetapi bersikap tidak ada manis-manisnya sama sekali pada dirinya. Apa maksud Luhan? mau mengejeknya?
"Aku hanya mau memberi ini padamu." Luhan balas memandangnya dengan tatapan lugu. Lalu menggoyang-goyangkan sedikit cup ramyeon didepan wajahnya. Sehun melirik kearah ramyeon yang masih mengepulkan asap itu, lalu menepisnya dengan kasar hingga makanan berkuah itu jatuh ke tanah dengan begitu saja.
"Tapi aku tidak mau." Ujarnya dengan tenang.
Sehun melirik Luhan dengan senyum mencelanya. Bisa ia lihat wajah si menyebalkan itu mendadak murung dan menatap kearah ramyeon yang tercecer ketanah dengan pandangan sendu. Rasakan itu bocah! Sehun tidak akan mau menerima makanan dari tangan bocah tengik macam Luhan.
"Kalau kau tidak mau jangan membuangnya! Kenapa kau jahat sekali sih?" seru Luhan kesal. Kali ini memandang Sehun dengan mata menyalang marah. "Dasar keparat!"
"Aku memang jahat," sahut Sehun santai tanpa merasa bersalah sama sekali. Entah sejak kapan wajah kesal Luhan adalah hal yang sangat menyenangkan untuk dipandang. Sehun bahkan melupakan sedikit rasa jengkelnya pada polisi-polisi tua yang sudah membuat lecet mobilnya.
"Brengsek." umpat Luhan.
Sehun mengabaikan Luhan dan kembali memejamkan matanya. Sebenarnya Ia ingin sekali pindah dari tempat ini—karna ada Luhan— tetapi mengingat mobilnya tidak bisa dijalankan, dengan terpaksa Sehun harus duduk ditaman berdua dengan si menyebalkan Luhan. oh, ini menggelikan sekali. Sehun merasa ia sangat sial hari ini—benar-benar sial.
"Pindah dari sini!"usir Sehun. "Aku tidak mau berdekatan dengan bocah sepertimu."
"Bocah? Faktanya, kau lebih muda dariku keparat. Kau bahkan tidak memanggilku sunbae atau hyung, sopan sekali kau."ketus Luhan seraya memakan ramyeon instannya dengan lahap.
Sehun mendengus geli melihat cara memakan Luhan yang bar-bar, malah seperti anak kecil. Ia tidak menjawab perkataan Luhan barusan. Terlalu malas meladeninya. Lagipula mana mau Sehun memanggil Luhan dengan embel-embel sunbae—terlebih hyung. Sehun berjanji pada dirinya jika memanggil hyung hanya pada kakaknya. Tidak pada orang lain. Masa bodoh dengan orang yang lebih tua darinya, Sehun bukanlah anak yang sopan yang senantiasa membungkukan badan dan berbicara formal pada orang yang lebih tua darinya.
Terlebih pada Luhan, memangnya siapa Luhan bagi dirinya?
Bodoh sekali Luhan itu.
"Yang disana itu mobilmu?" tanya Luhan.
Sehun hanya membalasnya dengan gumaman gusar. Luhan itu sudah menyebalkan, banyak bertanya pula—rasanya Sehun ingin mencekik anak itu.
"Mobilmu mogok?"
"Bukan urusanmu."
"Ada bengkel didekat sana!"
"Aku tidak perduli."
"YA!"
Sehun menaikan sebelah alisnya melihat Luhan sudah berdiri dihadapannya dengan wajah kesal. Sial, dia sedang kesal atau sedang beraegyo? Kenapa wajahnya —urh, ini memalukan— menggemaskan begitu? Sehun menggeram rendah, dia rasa otaknya kembali bergeser. Mungkin ini efek wine yang ia tegak sebelum balapan tadi, hingga Sehun merasa dirinya sedang mabuk.
"Kau itu!" Luhan menunjuk wajah Sehun dengan lancang. "Apa orangtuamu tidak mengajarkan tata karma pada orang lain hah?"
Kali ini Sehun ikut berdiri, hingga dirinya dan Luhan saling berhadapan satu sama lain. Ia sedikit menunduk untuk memandang mata Luhan yang masih mendelik sebal. Sehun benar-benar geram pada Luhan. mengapa dia harus dipertemukan oleh makhluk menyebalkan macam Luhan?
Sehun ingin sekali mengarahkan baretta-nya ke wajah polos Luhan, namun entah kenapa tangannya tidak mau bergerak untuk mengambil baretta disakunya.
"Kau itu pengganggu. Aku tidak butuh kebaikan dari sampah sepertimu." Sehun mendesis geram, "Lebih baik kau menjauh dariku dari sekarang, sebelum aku benar-benar membunuhmu."
Sehun menaikan satu sudut bibirnya melihat wajah Luhan berubah menjadi…murung? Entahlah, yang jelas dimata Sehun wajah Luhan sekarang seperti orang yang putus asa. Haha, rasakan itu! pergilah jauh-jauh dari hidupku lintah sialan!
Sementara itu Luhan masih bungkam seraya memandang mata tajam Sehun. Mata itu..tidak memancarkan kebaikan sama sekali. Wajahnya pun sedingin batuan es. Sebenarnya makhluk seperti apa Sehun ini? Cara bicaranya sangat tidak bersahabat dan pandangan matanya selalu berkilat marah. Dia seperti bukan manusia.
"Apa hatimu terbuat dari batu?" tanya Luhan polos, Ia hendak menyentuh dada Sehun namun dengan sigap pemuda berambut kelam itu memundurkan tubuhnya—menjauhi Luhan.
"Sudah kubilang, jangan mencoba menyentuhku sialan." geram Sehun.
Luhan memutar bolamatanya jengah, dan mengambil plastik belanjaan yang sempat ia letakan diatas kursi taman, "Jika sikapmu terus seperti itu, kuyakin tidak akan ada yang mau menyayangimu, keparat."
Luhan membalikan tubuhnya dan melenggang pergi, meninggalkan Sehun yang masih berdiri memandangi punggung kecilnya. Sehun mendengus mendengar perkataan Luhan barusan. Cih, tahu apa anak itu tentang dirinya? Dia bahkan tidak berhak menasehati Sehun. Menggelikan sekali sikapnya itu.
Sehun menggeram rendah dan segera meraih baretta disaku celananya. Ia mengarahkan baretta itu kearah punggung Luhan yang belum terlalu jauh darinya, bagaimanapun juga Sehun sudah muak dengan Luhan. pemuda manis itu membuat fikiran Sehun tumpang-tindih tidak beraturan. Mungkin ini saatnya Luhan benar-benar musnah dari bumi ini.
Sehun menyeringai, dan bersiap menembak Luhan dengan pistolnya. Namun tiba-tiba bayang senyuman pemuda manis itu melintas hingga membuat Sehun menjatuhkan baretta-nya ketanah.
Sehun berdecak geram, "Bedebah! Ada apa denganku sebenarnya?!"
…
..
…
Luhan berjalan dikoridor sekolah sendirian, hari ini Kyungsoo tidak masuk sekolah karna Luhan memaksanya agar tidak masuk sekolah terlebih dahulu. Awalnya Luhan juga ingin membolos, tetapi rasanya aneh sekali jika dia harus membolos hanya karna takut berakhir seperti Kyungsoo—dipukuli siswa sini. Akhirnya Luhan memutuskan untuk tetap bersekolah, walau pelajaran yang Ia dapat hanya beberapa menit saja.
Pagi ini Hyosin jadi bulan-bulanan warga sekolah karna kejadian memalukan kemarin sudah tersebar begitu cepat keseluruh penjuru sekolah. Entah siapa yang sudah memfoto Hyosin yang sedang membersihkan air seninya sendiri didepan kelas, yang jelas foto-foto itu sudah tertempel dimading. Dengan bahagianya, murid-murid semakin mencemooh Hyosin. Itu membuat Luhan merasa kasihan pada anak itu. pasti malu sekali menjadi dirinya..
"Hyosin.." Luhan hendak memegang bahu Hyosin yang sedang menunduk. Siapa tahu Luhan bisa menghiburnya sedikit.
"Apa?! Kau mau menghinaku juga, anak baru?" Hyosin menegakan kepalanya dan memandang Luhan dengan mata yang memerah. Luhan tercengang dan menurunkan tangannya yang menggantung diatas bahu Hyosin.
"Bukan begitu, aku hanya…ingin menghiburmu sedikit." cicit Luhan. seluruh murid yang tadinya sedang mencemooh Hyosin kini terdiam melihat kearah Luhan dan Hyosin.
"Menghiburku atau mengejekku?" Hyosin terkekeh sinis. "Jangan coba-coba menjadi orang yang paling baik disini—karna disini tidak ada yang namanya kebaikan."
Luhan terdiam. Kata-kata itu seperti dejavu.
"Wah, Luhan! kau berhasil membuat si bodoh itu marah dan menangis!" seorang anak berseru dan berlari menghampiri Luhan. dengan sok akrabnya, dia merangkul bahu Luhan dan tertawa lebar. "Luhan, kau resmi bergabung dikelas ini."
Luhan melepas rangkulan anak berambut hitam gelap itu. "Aku tidak mau bergabung dengan kalian!" ujarnya. Luhan menghela nafasnya melihat Hyosin yang berjalan keluar kelas seraya menangis. Luhan tidak bermaksud mengejeknya! Dia tulus ingin menghibur Hyosin. Kenapa jadi serumit ini?
"Kenapa? Disini surganya para pelajar, bung!" seorang siswa yang duduk dipojok kelas menyahut.
"Ya, kau bisa bebas melakukan apa saja disini Luhan. kau mau apa? Wanita? Kau tinggal pilih saja yang mana, mereka akan dengan senang hati melebarkan pahanya untukmu."
Seluruh murid-murid dikelas itu tertawa dan bersorak heboh. Luhan merasa menjadi orang yang paling sial didunia ini karna telah masuk kesekolah setan ini.
"Kau bisa membolos setiap waktu. Kau bisa memaki guru yang tidak kau suka, kau bisa memukuli anak yang kurang-ajar padamu, kau bisa melakukan apa saja man!" siswa yang tadi merangkul bahu Luhan itu kini menepuk-nepuk kepala Luhan seolah-olah dia adalah seorang kakak yang sedang mengajari adik kecilnya.
"OX 86, Surganya para pelajar! Yang setuju tolong tepuk tangannya, teman-teman.."
Seluruh murid itu bertepuk tangan heboh membuat Luhan semakin muak. Surga, mereka bilang? Oh jika sekolah ini adalah surga, bagaimana neraka nanti? Mungkin semua makhluknya seperti Sehun.
"Aku tidak setuju denganmu." tukas Luhan. dia memandang siswa bername-tag Jung Hoseok dihadapannya itu. "Kau dan teman-temanmu bukan seorang pelajar. Tidak ada pelajar seperti kalian, kalian itu hanya seorang anak pemberontak yang tidak mengerti apa makna sekolah dan pendidikan itu."
Semuanya terdiam.
Hoseok tersenyum sinis. "Kau fikir aku perduli? Aku tidak mau repot-repot memahami apa makna sekolah dan pendidikan, itu tidak penting. Masa remajaku akan membosankan jika hanya berkutat pada buku-buku dan materi yang memuakan."
"Disitulah masalahmu. Kau hanya memikirkan kesenangan saat ini dan tidak memikirkan bagaimana masa depanmu nanti." Jawab Luhan.
Hoseok pura-pura menguap bosan, "Hhoahm…sepertinya ada yang mau menggantikan Mr. Lee disini." Sebagian anak tertawa mencemooh pada Luhan. "Dengar Luhan-ssi, jangan pernah mengguruiku atau kami semua, nasihatmu tidak penting kawan! Jangan sok paling benar, nanti juga kau akan seperti kami."
Luhan tersenyum kecil, "Bermimpi saja jika aku seperti kalian. Aku masih waras, aku tahu mana yang baik untukku atau tidak—bukan seperti kalian yang jalan fikirannya sudah buntu." Luhan membalikan tubuhnya dan beranjak pergi keluar dari kelas. Mungkin hari ini Luhan memang harus membolos dulu.
Hoseok menggeram rendah. "Baiklah, Luhan. kau sudah sukses membuatku kesal, aku akan mengajakmu bersenang-senang sepulang sekolah nanti. Bersiaplah, Princess Lu."
.
..
…
-oOo-
…
..
.
"Kemana kalian semalam?" Sehun bertanya dengan nada datar. Dia melempar-lempar asal gumpalan bola kertas yang dibuat Chen kearah wajah siswa yang tengah menunduk dalam dihadapannya. Siswa itu memejamkan matanya takut saat lemparan Sehun selalu mengenai wajahnya.
"Harusnya kami yang bertanya seperti itu. polisi-polisi keparat itu mengejar kami hingga ke daerah Songpa-ku. Untungnya Baekhyun membawa beberapa handgun, jadi kita bisa bersenang-senang dengan mereka." Jawab Chanyeol. "Kau sendiri kemana? Aku dan Baekhyun mencarimu."
"Mobilku mogok karna polisi sialan itu, dan aku harus mencari bengkel." Sehun melempar keras gumpalan bola kertas yang cukup besar kewajah siswa itu sebagai pelampiasan rasa kesalnya saat mengingat kejadian semalam.
"Apa polisi-polisi itu akan mencari kita…lagi?" Baekhyun menopang dagunya dengan kedua tangannya dan memandang malas kearah siswa yang hari ini menjadi sasaran Sehun.
"Tentu saja, sayang." sahut Chanyeol. "Tapi kau tenang saja, dengan uang semuanya akan selesai."
Chen mengangguk-angguk. "Uang..uang..uang, semua masalah pasti selesai jika sudah menyangkut uang."
Sehun melirik kearah satu temannya yang biasanya banyak berceloteh kini hanya terdiam seraya memandangi pintu masuk kelas. Kai. "kenapa anak itu?"
Chen mengangkat bahunya acuh, "Entahlah, dari kemarin dia menjadi pendiam."
Kai hanya memandangi pintu masuk kelas dengan wajah malasnya. Entah apa yang sedang dia lakukan. Kai pun tidak tahu. Rasanya hari ini seperti ada yang kurang..sangat tidak menyenangkan rasanya. Dia terbayang saat memukuli si anak baru—Kyungsoo. dan ngomong-ngomong soal Kyungsoo, hari ini anak itu tidak menampakan batang hidungnya. Apa dia sakit? Atau sudah pindah sekolah?
Harusnya Kai senang jika kedua hal itu terjadi. Tapi sekali lagi, entah kenapa rasanya sangat tidak menyenangkan memikirkan itu. sialan, ada apa sih dengan dirinya? Kai juga merasa jika dirinya juga sudah keterlaluan—heck,
Keterlaluan katamu? Keterlaluan kenapa? Keterlaluan karna sudah memukuli Kyungsoo dengan tidak manusiawi? Jangan bercanda teman, ada apa dengan dirimu bodoh?!
"Sehun, wajahmu kenapa?" tanya Baekhyun menunjuk-nunjuk wajah Sehun yang terdapat beberapa bekas luka kebiruan. Baekhyun yakin itu luka baru, karna semalam wajah Sehun belum seperti itu.
"Tidak mungkin dipukuli polisi 'kan?" tambah Chanyeol.
Sehun mendengus, "Ayolah, teman. kita sudah saling mengenal lama. Jangan pura-pura tidak tahu seperti itu."
Baekhyun dan Chanyeol saling berpandangan. "Kakakmu?"
"Kenapa kau diam saja sih setiap dipukuli seperti itu? cobalah sekali-kali kau balas perlakuan si brengsek itu. Aku menjadi geram sekali dengannya." Sahut Chen.
"Benar, Sehun. kau bahkan berani membunuh seseorang, tetapi kenapa dengan kakak sialanmu, kau selalu diam? Dimana keberanianmu huh? Payah sekali kau bodoh." Ujar Baekhyun berapi-api. Sebagai teman Sehun, dia juga tidak bisa membiarkan ini terus terjadi. Entah Sehun terlalu bodoh atau terlalu sayang pada kakaknya, hingga ia tidak pernah melawan apapun yang dilakukan kakaknya pada dirinya. Baekhyun rasa opsi yang kedua yang tepat.
"Apa..kami yang harus turun tangan?"tanya Chanyeol.
Sehun menggeleng singkat dan bangkit berdiri. Dia mendekati siswa dihadapannya, lalu mendorongnya dengan kasar hingga anak itu tersungkur dilantai. Siswa itu gemetar takut dan sontak mengerang sakit saat kaki panjang Sehun menendangnya bagaikan sampah tak berguna.
"Keluar!" ucap Sehun singkat. Siswa itu menurut dan segera berlari keluar dari kelasnya terburu-buru.
Sehun mendudukan kembali dirinya. bukannya apa-apa, Sehun hanya tidak mau ada orang lain mendengarkan masalah pribadinya kecuali teman-temannya. Biarlah hari ini siswa itu terbebas sementara dari Sehun.
"Tidak usah repot-repot, memang itu yang kumau—biarlah dia puas memukuli dan menyiksaku.." ujar Sehun dengan nada mengambang seperti orang yang hanyut dalam fikiran.
"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu." Baekhyun mendekati Sehun dan memandangnya heran. "Kau bisa mati karnanya, Sehun.."
Inilah mengapa Sehun memilih mereka sebagai teman-temannya. Baekhyun dan lainnya memang dikenal sebagai anak nakal, pengacau, dan hal-hal buruk lainnya. Tetapi jika sudah menjadi teman mereka, kau akan tahu bagaimana perhatiannya mereka sebagai teman dan bagaimana tingginya solidaritas mereka. Sikap mereka akan sangat berbanding terbalik jika sudah menyangkut teman-temannya.
Mereka adalah orang-orang yang membuat Sehun bangkit sedikit demi sedikit dari keterpurukannya.
"Baekhyun, jangan memandangku seperti itu..nanti aku akan menyukaimu." Ujar Sehun bercanda. Aneh sekali karna biasanya orang yang sedang bercanda akan tersenyum lebar atau mengerling jahil, tetapi saat ini wajah Sehun tetap datar dan dingin—maklumi saja karna yang bercanda itu adalah orang macam Sehun.
"Ya! Ya! Kau mau kulindas dengan ban mobilku?!" Chanyeol berseru marah dan menarik tangan Baekhyun agar menjauhi Sehun.
Sehun mengendikan bahunya acuh, dan Chen malah tertawa lepas. "Hei, Chanyeol. lebih baik kau relakan Baekhyun untuk kita semua. Satu untuk semua, bagaimana?" Chen nyengir bahagia.
Dan semakin murkalah seorang Park Chanyeol.
"KIM JONGDAE!"
Baekhyun memutar bolamatanya jengah melihat Chanyeol dan Chen kini saling adu pukul bohongan. Sesaat Baekhyun mengulum senyumnya melihat kepossesifan Chanyeol kepada dirinya.
'Kau selalu bersikap seolah-olah kita adalah sepasang kekasih..tetapi kau selalu menganggapku hanya teman dekatmu. Sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku, Chanyeollie?'
…
..
-oOo-
..
…
Luhan berjalan menuju halaman belakang sekolah. Ya, itu adalah tempat tujuannya untuk membolos. Pemuda manis itu mengerutkan bibir merahnya sesaat, kenapa saat ini dia merasa seperti anak-anak OX 86 yang lain? Yang suka membolos? Tetapi yang pasti Luhan membolos bukan karna tidak suka pada guru-guru atau materi pelajaran yang membosankan, Luhan hanya tidak tahan berada dikelasnya lama-lama.
"Junmyeon?" Luhan mengerutkan dahinya dan menghampiri Suho yang kebetulan juga berada dihalaman belakang sekolah. "Sedang apa kau disini?" tanya Luhan.
"Membolos." Suho melebarkan senyum tidak berdosanya.
Luhan duduk disebelah pemuda berwajah tenang itu. "Ternyata kau sama saja dengan yang lain." Cibir Luhan.
"Tidak ada guru yang mengajar dikelas, daripada aku disana hanya mendengarkan keberisikan anak-anak, lebih baik aku disini."
Luhan mengangguk-angguk menyetujui. "Omong-omong, dimana Yixing? Aku tidak melihatnya berada dikelas."
"Dia dirumah sakit."
"Kenapa? Yixing sakit?"
"Tentu saja, Luhan. dia tidak mungkin berada dirumah sakit jika tidak sakit." Jawab Suho dengan malas.
"Sakit apa?"
"Tanyakan saja pada Yixing jika dia sudah masuk sekolah."
"Dasar menyebalkan!" Luhan meninju pelan bahu Suho dan pemuda itu hanya tertawa melihat raut kesal Luhan. sesaat Suho sempat terdiam melihat wajah Luhan, membuat Luhan mengernyit heran. Ada apa dengan wajahnya? Luhan rasa wajahnya baik-baik saja, kenapa Suho memandangnya intens seperti itu?
"Junmyeon?" Luhan mengibaskan tangannya didepan wajah Suho, dan pemuda tampan itu segera mengerjabkan matanya—kembali ke raut normalnya.
"Han, matamu…"
Luhan mengerjab beberapa kali, "Ada apa dengan mataku?"
"…Seperti rusa." Suho melebarkan cengirannya dan mengaduh-aduh sakit saat pemuda manis dihadapannya mencubit perutnya beberapa kali. "Akh—Luhan! hentikan—sial, sakit sekali!"
"Siapa suruh kau mengataiku rusa?!" Luhan tertawa bahagia dan semakin semangat menyiksa Suho. Dan melihat Luhan tertawa, tanpa sadar Suho ikut tertawa. Entah kenapa Suho merasa dadanya menghangat melihat tawa Luhan yang mengingatkannya pada sosok yang telah lama hilang dihidupnya. Tawa itu…sangat manis, dan membuat siapapun yang melihatnya akan ikut bahagia. Termasuk Suho, dia merasa ada sesuatu yang besar masuk kedalam tubuhnya—tepatnya dihati Suho.
Sesuatu yang sudah lama Suho tidak rasakan.
Tanpa sadar ada seseorang yang sudah lama memerhatikan mereka dari balik kaca jendela sebuah kelas dilantai tiga. Seseorang itu memandang keduanya dengan pandangan yang sulit diartikan karna wajahnya yang tanpa ekspresi sama sekali. Seseorang itu tersenyum tipis—hampir tidak terlihat seperti senyuman dan berbalik untuk tidak memandang kearah Suho dan Luhan.
..
…
-oOo-
…
..
Luhan mengucek kedua matanya dan mengerjab beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya disekitarnya. Luhan menguap kecil, dan mendapati dirinya masih dihalaman belakang sekolah. Pemuda bersurai coklat madu itu mendengus kecil. Sial, dia ketiduran disini—dan lebih parahnya Suho sudah meninggalkannya sendirian. Tega sekali anak itu tidak membangunkan Luhan.
Luhan melirik arloji hitam yang melingkar manis dipergelangan tangannya. Jarum jam menunjukan pukul 17:12 PM.
"Pantas saja sekolah sudah sangat sepi ternyata sudah sangat sore. Sial, kenapa aku tidur begitu lama? Ck, paman Kim pasti sudah menjeputku jam tiga tadi." Luhan menggerutu dan bangkit berdiri. Ia membersihkan seragamnya yang menempel beberapa rerumputan yang bekas ia tiduri tadi.
Luhan berjalan masuk kedalam lorong sekolah untuk segera pergi dari sekolah yang sudah sepi ini. Suasana disekitar berbeda sekali ketika murid-murid belum pulang sekolah, sangat hening—tanpa suara keributan anak-anak yang berlarian dikoridor ataupun sekedar melakukan kenakalan. Luhan benci suasana hening seperti ini, menyeramkan sekali rasanya.
"Oh lihat! Siapa yang baru mau pulang sekolah sekarang."
"Wow, Jey-hope. Dugaanmu tidak meleset, sasaran kita akhirnya datang juga."
Luhan membatu ditempat melihat empat orang anak yang baru saja keluar dari sebuah ruangan dan sekarang tengah mengelilinginya. Salah satu diantara mereka adalah yang tadi pagi sempat berdebat dengannya. Luhan ingat nama anak itu adalah Hoseok, seseorang yang dipanggil Jey-hope atau J-hope.
"Hei, Luhan. kau bilang kau tidak akan seperti kami—yang kau sebut anak pemberontak tidak tahu makna sekolah dan pendidikan, tetapi nyatanya…" Hoseok tertawa mencemooh. "kau membolos disepanjang pelajaran. Jangan menjilat ludah sendiri, kawan."
Luhan mendecakan lidahnya. Kenapa dia harus bertemu dengan Hoseok disaat seperti ini sih?
"Ini tidak seperti yang kau lihat, brengsek." Geram Luhan.
"Aw, jey-hope. Dia berani sekali!" ujar anak yang Luhan ingat adalah teman sekelas Kyungsoo yang sikapnya sangat menyebalkan itu—Taehyung. Dia memanggil Hoseok dengan nada seperti seorang DJ Proffesional.
Hoseok melangkah semakin mendekati Luhan, membuat pemuda asal tiongkok itu memandangnya dengan was-was.
"Seharusnya kau sudah tahu Luhan, jika anak baru itu memang harus diberi pelajaran agar terbiasa dengan tradisi disini dan juga..tidak kurang ajar, sepertimu." Hoseok menyeringai.
Selanjutnya Hoseok melayangkan pukulannya telak diperut Luhan membuat Luhan membungkukan tubuhnya seraya mengerang sakit. Pukulan Hoseok begitu keras, hingga Luhan merasa ia ingin memuntahkan semua isi perutnya. Begitupula dengan teman-teman Hoseok lainnya, mereka memukuli tubuh kecil Luhan beramai-ramai. Luhan tidak sempat melawan karna mereka terus menggiring tubuhnya kesana-kemari. Lelaki manis itu merasakan perutnya mual dan nyeri disekujur tubuhnya.
Luhan berusaha berdiri, hendak melawan. Namun tiba-tiba sesuatu yang sedikit basah menyekap hidung dan mulutnya.
Bau yang sangat menyengat langsung menyergap pernafasan Luhan, dan saat itu pula Luhan merasa kepalanya sangat berat. Semuanya berputar-putar dan berbayang—ia melihat Hoseok dan teman-temannya tertawa puas. Detik selanjutnya Luhan merasa pandangannya memburam, lalu menjadi sangat gelap..
…
..
…
Beberapa jam kemudian..
Luhan mendengar suara keramaian didekatnya dan suara tertawaan beberapa anak lelaki disekitarnya. Luhan juga merasa kepalanya masih terasa sangat berat dan pening. Pemuda itu ingin membuka matanya, namun rasanya enggan sekali. Luhan mengingat-ngingat apa yang baru saja terjadi padanya. Dan seketika mata Luhan segera terbuka, menyadari jika terakhir kali Ia pingsan karna dikeroyok oleh Hoseok dan teman-temannya.
Yang pertama Luhan lihat adalah, wajah menyebalkan Hoseok dan teman-temannya yang tertawa lebar.
"Ouh! Tuan puteri kita sudah bangun!" seru Jimin.
"Kau tertidur sangat lama seperti Sleeping Beauty, hahaha." sahut Taehyung bersemangat.
Sialan.
Luhan menggeram rendah, dan hendak berjalan menghampiri mereka lalu memukuli wajah-wajah menyebalkan itu dengan tangannya sendiri. Namun Luhan merasa aneh dengan tubuhnya. Ia merasa tubuhnya seperti dilapisi sesuatu yang ketat—juga kepalanya yang terasa sedikit gatal. Belum lagi tangannya yang seperti diikat oleh sesuatu.
Tunggu! Diikat?
Luhan segera menoleh keseluruh tubuhnya, dan mata rusanya langsung membelalak melihat apa yang terjadi pada dirinya. Luhan tidak terkejut jika ia diikat dengan sebuah tali kasar—ini sudah biasa dilakukan oleh anak-anak nakal yang ingin menghabisi lawannya. Yang membuat Luhan terkejut hingga rasanya ia ingin terjun dari lantai tiga adalah sebuah gaun pendek berwarna hitam melekat pas ditubuhnya, dan juga sebuah payudara palsu besar yang tercetak jelas didadanya.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN PADAKU?!" teriak Luhan murka. Ia berusaha melepaskan ikatan ditangannya. Jadi ini yang mereka lakukan selama dirinya pingsan? Merubahnya menjadi seorang wanita?
Hoseok menghampirinya dan mengelus rambut palsu Luhan yang berwarna coklat keemasan itu, "Sudah kubilang anak baru harus diberi pelajaran. Dan ini pelajaran untukmu, Luhanna." Hoseok terkekeh sendiri, "Hey, 'Luhanna' terdengar sangat manis 'kan?"
"Jauhkan tanganmu dari kepalaku, brengsek. Oh yatuhan, kau bahkan memakaikanku rambut palsu? Kalian benar-benar…" Luhan menggeram kesal, "keparat!"
Taehyung ikut mendekati Luhan—masih dengan tawa lebarnya yang menyebalkan. "Luhan, kau beruntung karna kami hanya mendadanimu seperti wanita jalang dan tidak menghabisimu. Jika kau mau salahkan, salahkanlah wajahmu yang cantik itu. itu membuat kami berfikir akan sangat seru jika kau menjadi wanita untuk semalaman ini."
"Dan omong-omong Luhan, tubuhmu cukup bagus. Kami sempat melihatnya tadi." Sahut Jimin. Dan ketiga orang itu terbahak puas, kecuali Jungkook yang hanya terdiam dan memandang Luhan dengan kasihan.
"Kulitmu itu..ouh, lebih baik kau operasi kelamin menjadi wanita saja!"
"Untung kami tidak memperkosamu."
"And.. that's dick! Aw, little! Hahaha."
Luhan mendesis geram. Wajahnya sudah memerah matang karna kesal dan malu. Rasanya Luhan ingin mecabik-cabik wajah anak-anak kurang ajar itu. tapi disatu sisi, Luhan ingin menangis. Harga dirinya dipermalukan dan diinjak begitu saja.
"Aku akan membunuh kalian setelah ini." Desis Luhan.
Hoseok mengangguk-angguk seperti anak kecil. "Aku akan menunggumu, cantik."
"Jangan banyak berbicara kau jalang! Ayo layani kami, Hahaha." Taehyung melakukan high-five dengan Jimin seraya tertawa.
"Kalian sudah cukup memberinya pelajaran, sudah lepaskan saja Luhan-sunbae." Ujar Jungkook yang memang sudah tidak tahan melihat kelakuan teman-temannya. Dia memandang Luhan kasihan. Jungkook akui, Luhan memang cantik dan bertambah beribu kali lipat lebih cantik saat menjadi wanita seperti ini. Taehyung dan Jimin memang pintar mendandani Luhan. lihatlah garisan eyeliner yang sangat rapi itu dimata Luhan, ditambah sebuah polesan bedak yang tipis dan juga lipgloss dibibir Luhan membuat bibirnya terlihat sangat manis dan menggoda.
Balutan dress ketat berwarna hitam yang panjangnya hanya diatas lutut, hingga menampilkan kaki Luhan yang putih bersih tanpa cacat. Lalu sebuah red stiletto ikut andil menghiasi kaki Luhan—entah darimana Taehyung mendapatkan itu, Jungkook pun tidak tahu. Terakhir sebuah wig berwarna coklat keemasan yang ujungnya sedikit ikal, membuat siapapun yang melihat akan tidak percaya jika Luhan adalah lelaki.
"Ah kau tidak menyenangkan, Kookie." ketus Taehyung. Tetapi melihat Jungkook melototinya, Taehyung memilih menyerah. "Baiklah, baiklah. Aku akan melepaskan dia, tapi tidak disini.." Taehyun menyeringai membuat Luhan merasakan firasat buruk yang akan terjadi sebentar lagi pada dirinya.
…
…
"Kau mau membawaku kemana, sialan?!" Luhan terus berusaha melepaskan ikatan ditangannya. Serius, pergelangan tangan Luhan terasa sangat nyeri karna ikatan yang kencang itu.
"Ketempat dimana para jalang-jalang berkumpul." Jawab Hoseok yang sedang menyetir mobilnya dengan santai.
Luhan mendelik, "APA?! Kau mau membawaku kesana? Untuk apa?!"
"Ya! Luhanna. Itu kan tempatmu, sayang."
"Dasar bedebah sial!" Luhan merasakan ada sebuah lahar panas dikepalanya yang siap ia ledakan. Dia benar-benar geram. Lebih baik Ia dipukuli daripada harus didandani seperti wanita kurang harga diri macam ini.
Mobil yang dikendarai Hoseok berhenti disebuah pinggir jalan, lalu pemuda itu memerintahkan Taehyung untuk membukakan ikatan ditangan Luhan. sejenak pemuda manis itu merasa lega karna tangannya sudah bisa bebas bergerak namun selanjutnya, dirinya sudah didorong keluar dari mobil oleh anak-anak setan itu.
"Selamat tinggal Luhanna, selamat bersenang-senang!" seru Hoseok dan teman-temannya dengan bahagia. Mereka melambaikan tangannya lewat jendela mobil kearah Luhan yang masih mematung dipinggir jalan. "Layani para lelaki haus seks dengan baik, bitch!"
"Seragam sekolahmu ada padaku, besok kau bisa ambil!" Hoseok berseru untuk terakhir kalinya lalu menancapkan gas mobilnya meninggalkan Luhan.
Luhan menganga tak percaya.
Mereka benar-benar sangat keterlaluan.
"Siapapun tolong antarkan aku pulang.." gumam Luhan putus asa. Ia memandang kesekitarnya. Benar kata Hoseok, disini adalah tempat para wanita-wanita malam berkumpul. Dimana mata Luhan memandang, pasti ada wanita yang berjalan kesana-kemari dengan pakaian minimnya. Tak jarang Luhan melihat banyak pasangan yang bercumbu terang-terangan atau bahkan hampir bercinta.
Luhan mendesah halus. Ia benci tempat ini.
Dan sialnya ia terjebak disini dengan tatanan sebagai wanita.
Bagaimanapun caranya Luhan harus segera pulang. Tetapi ia bingung dengan apa ia kembali kerumah? Ponselnya ada ditas sekolahnya, dan seluruh alat sekolahnya ada pada Hoseok. Luhan tidak bisa menghubungi paman Kim ataupun Kyungsoo. disini tidak ada Bus, dan disini juga tidak ada yang bisa Luhan mintai untuk mengantarnya pulang. Sial sekali.
Luhan mulai berjalan dengan susah payah karna kakinya saat ini sedang memakai red stiletto yang tingginya hampir 8cm—heck, Hoseok memang niat sekali ingin mengerjainya. Dia terlihat aneh karna ini pertama kalinya memakai higheels. Luhan adalah lelaki tulen oke? Jadi wajar saja jika dia tidak bisa memakai stiletto.
Pemuda manis itu merasa risih dengan tatapan para lelaki disana—mereka rata-rata memandang kearah dadanya dan bagian tubuhnya yang terbuka; bahu, kaki. Uh, mengingat dada, Luhan rasanya ingin mengeluarkan sesuatu didalam tubuhnya yang mengganjal dibagian dadanya. Payudara palsu ini sangat menganggu. Luhan merasa geli dan jijik dengan dirinya sendiri.
Tak jarang beberapa remaja lelaki bersiul pada dirinya, membuat Luhan ingin berteriak kencang 'AKU INI LELAKI, SIALAN!' didepan mereka semua.
PLAK!
"Malam, sayang.."
Luhan berjengit merasakan bokongnya ditampar oleh seseorang. Dia menoleh dan mendapati lelaki berwajah teler sedang berusaha mengendus-ngendus lehernya. Luhan sontak memundurkan tubuhnya takut-takut. Dan ia baru menyadari ada tiga lelaki yang berada didekatnya.
"Sendiri saja?" tanya salah satunya. "Bagaimana kalau menemani kita minum?" dia menyeringai mesum.
"Menemaniku tidur juga tidak apa-apa. Karna itu memang perkerjaanmu, bitchy." Pemuda berambut merah menyala yang paling dekat dengan Luhan itu ikut menyeringai dan meremas bokong Luhan dengan kurang-ajar.
"Dalam mimpimu, sialan! Jauhkan tanganmu dari tubuhku, brengsek. Menjauhlah!" Luhan mulai bergerak menjauhi tiga pemuda yang Luhan yakin sedang setengah mabuk itu, karna Luhan sempat mencium bau alcohol yang menguar dari mulut mereka.
"Wah, wah, dia ketus sekali. Aku semakin tertarik denganmu, kau pasti liar diranjang. Benarkan sayang?"
"Kau jalang paling cantik yang pernah kutemui. Bidadari yang menyamar sebagai wanita malam, heh?"
"Oh, bentuk tubuhmu bagus sekali—errr so hot." Salah satu pemuda itu hendak menggapai payudara (palsu) Luhan, namun dengan cepat Luhan memukul tangannya.
"Dasar sinting! Aku ini lelaki!" Luhan berseru kesal dan dengan cepat ia mencoba berlari dari tiga pemuda gila itu. bukannya menjauhi Luhan karna pernyataan Luhan barusan, tiga pemuda itu malah mengejar Luhan.
Oh shit, apa mereka tidak bisa melihat guratan kelelakian diwajahku?
Luhan meringis saat kakinya sempat keseleo, namun dengan cepat ia membuka stiletto-nya dan berlari lagi menjauhi tiga pemuda itu. sial, apa sebegitu terobsesinya mereka pada dirinya hingga tetap mengejar Luhan? sekarang Luhan terlihat seperti wanita frustasi yang melarikan diri dari kejaran kekasihnya.
Namun naas, salah satu pemuda itu berhasil menangkap pergelangan tangan Luhan dan mendekap tubuh kecil Luhan kedalam dekapannya dengan erat. Luhan berteriak meminta dilepaskan. Tetapi memang nasib baik tidak berada disisi Luhan saat ini, kedua pemuda lainnya tertawa dan ikut mencoba memperkosa Luhan—oh, ini menggelikan sekali. Luhan tidak pernah membayangkan dirinya akan diperkosa dengan sesama jenisnya. Uh, dimaklumi saja karna saat ini Luhan berpenampilan seperti perempuan seksi maka dari itu mereka bernafsu melihat penampilannya hanya dengan satu kedipan mata. Luhan bersumpah, akan benar-benar membunuh Hoseok si dalang dibalik semua ini.
"Lepaskan aku! Aku ini lelaki, aku berani bersumpah!" erang Luhan berusaha menjauhi tangan-tangan nakal para pemuda itu yang menjamahi tubuhnya.
"Ayolah, noona. Jangan bergurau, walau suaramu agak berat tetapi mana ada lelaki yang berpenampilan menggoda seperti ini? Ini memang perkerjaanmu kan?" tukas salah seorang pemuda. "Kau hanya perlu membuka pahamu noona dan nikmati saja apa yang kami lakukan."
"SIALAN! JANGAN SENTUH-SENTUH TUBUHKU!"
Luhan didorong kesebuah gang sempit. Mereka menghimpit Luhan dan hendak mencium paksa bibir Luhan yang terus mengeluarkan umpatan dan makian kasar, tetapi Luhan masih bisa menghindari itu. Luhan tidak tahu apa kesalahannya dimasa lalu hingga tuhan membuat hidupnya menjadi penuh masalah seperti ini.
"Brengsek, jalang! Jangan sok jual mahal kau!"
PLAK!
Luhan menangis saat dirinya mendapatkan tamparan yang sangat keras diwajahnya. Sudah Luhan katakan, dia benci kekerasan. Apa wanita-wanita diluar sana sering diperlakukan seperti ini? Entah kenapa Luhan menjadi sangat sedih membayangkan hal itu. kaum lelaki akan menjadi sangat brengsek ketika libidonya sudah menaik, jika para wanita menolaknya. Mereka akan memperlakukan wanita itu sesuka hati—menjadi budak seks, salah satunya. Luhan tidak mau menjadi lelaki yang seperti itu. dia masih menghargai para wanita.
Saat Luhan sudah hampir berhasil dijamah, seseorang tiba-tiba datang dan menarik kepala pemuda yang hendak mencium Luhan. kepala pemuda itu dibenturkan didinding berkali-kali membuatnya berteriak kesakitan. Luhan tidak bisa melihat jelas siapa seseorang yang sudah menolongnya dari pemuda haus seks itu, karna pencahayaan disini sangat minim.
"Jangan menjadi lelaki yang sangat bajingan, bung."
"KEPARAT! SIAPA KAU? MAU MENJADI PAHLAWAN?!"
"Sebenarnya aku bukan pahlawan, tetapi menjadi pahlawan hanya untuk malam ini sepertinya menyenangkan."
"BRENG—AAAAAARRGGHH!"
Luhan melihat pertengkaran itu. seseorang itu memukuli pemuda yang hampir memperkosa Luhan dengan brutal hingga pemuda itu mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya. Luhan ngeri melihatnya. tetapi pemuda brengsek itu memang pantas mendapatkannya.
Luhan meraih stiletto didekatnya dan memukuli dua pemuda lain yang hendak menyerang seseorang penyelamat itu dari belakang dengan higheelsnya. Kedua pemuda itu berteriak kesakitan merasakan kepala mereka terhantam sesuatu yang lancip dan menyakitkan. Keduanya hendak melawan Luhan, namun dengan cepat si penyelamat —Luhan memanggilnya seperti itu— menendang perut kedua pemuda itu hingga tersungkur kepojok gang. Si penolong menginjak leher kedua pemuda itu dengan tekanan yang keras, hingga kedua pemuda itu mengeluarkan suara rintihan kesakitan tertahan.
"Jika kau tidak bisa menyewa para jalang, jangan memaksa wanita lain untuk memenuhi hasrat seks-mu, brengsek."
Luhan tersenyum lega dan menghapus kasar airmatanya. Akhirnya ada juga orang baik hati yang mau menolongnya. Pemuda manis itu merasa sangat lega sekarang.
Luhan menghampiri seseorang yang menyelamatkannya itu dan segera memeluknya dengan erat—seolah-olah dia sudah menyelamatkan nyawa Luhan. ya, dia memang menyelamatkan nyawaku dan harga diriku.
Luhan kembali menangis merasakan betapa nyamannya tubuh seseorang ini—mungkin ini efek karna Luhan sudah diselamatkan olehnya. Tubuhnya hangat dan harumnya sangat menenangkan. Luhan mengucapkan kata terimakasih kepada orang itu berulang-ulang dengan suara yang serak.
"..terimakasih, terimakasih sudah menolongku.."
Luhan mendongak untuk melihat wajah penolongnya yang memang lebih tinggi darinya itu, dan Luhan langsung terperanjat menyadari siapa orang yang sudah menyelamatkannya sekaligus yang Ia peluk saat ini.
Luhan mengerjabkan matanya beberapa kali. Ia tidak mungkin salah lihat!
"Sehun…"
.
…
-oOo-
…
.
To be continued.
..
a/n :
TBC disaat yang gatepat, nyiahaha :v
anjiranjir gue nulis apaan ini? -_- kenapa jadi drama begini, elah.
Abaikan aja kalo ada adegan yang mendrama bgt, hueehehe. Karna sejujurnya ini Cuma diketik selama sehari—beberapa jam, jadi wajar kalo rada aneh dan banyak typo. Maafkan daku yang penuh typo ini, kawan :') Akupun tidak mengedit ulang lagi, karna…males. Heheh.
Oh, kenapa banyak yg kira Suho adalah kakaknya Sehun? =_=a
Coba jelaskan padaku/?
Dan pada kepo tentang Suho juga. Ciyee, yang kepo sama abang gue/?
Pada nerror gue supaya banyakin moment Hunhan, duh guys..maaf sekali. Masih banyak yang harus dijelaskan dan lagipula Hunhan musuhan dulu baru nanti yang sweet-sweet (entah itu kapan-_-) wkwk.
Yaudahlah, gue lg keabisan kata-kata, bingung mau ngomong apalagi. Yang jelas thanks a lot buat yg udah review. Kalian kece, mwah. Review lagi yap, sipp oke ;;) Ilysm 3
p. s : gue fastupdate kan? Muehehe /plak
pss : ada yang suka baca FF Horror, gore, suspense (yang bener-bener horror) ? mana coba? Nanti gue PM :D gue mau nanya-nanya wkwk.
…
[Anggara; 19/08/2015]
