Anggara Dobby
Not Perfect
..
Adult content. Hardscene. Boring! BL. YAOI. Bullying! GangsterLife! FailedAction! Dirtytalk!
HunHan—slight! Kaisoo and Chanbaek—
Oh Sehun. Lu Han.
..
.
..
…
…
..
.
"Sehun…"
Sehun memandang 'wanita' dihadapannya dengan sedikit bingung. Dia tidak mungkin salah dengar saat namanya digumamkan oleh wanita yang baru saja ia tolong. Omong-omong soal menolong, Sehun sangat geli pada dirinya sendiri yang entah kerasukan apa hingga mau menolong seorang perempuan malang yang hendak diperkosa tiga orang pemuda brengsek. Sehun bukanlah orang yang mudah merasa kasihan dan perduli pada sekitarnya, namun kali ini melihat kejadian langsung saat seorang perempuan hendak diperkosa ramai-ramai membuat hatinya sedikit goyah. Ada rasa marah yang amat besar tersendiri saat menyaksikannya.
Menolong SANGAT bukanlah gaya Oh Sehun—ingat, pakai cetak miring dan huruf tebal serta kapital disetiap hurufnya. dia bahkan lebih brengsek dari pemuda-pemuda yang ia hajar beberapa menit lalu hingga terkapar lemah itu. maka dari itu Sehun merasa geli dengan dirinya sendiri. Ternyata rasanya menolong itu…agak aneh. Dia merasa berbeda. Seperti bukan dirinya.
Sehun menyadari jika saat ini dirinya tengah dipeluk erat oleh seorang wanita yang baru saja Ia selamatkan. Pemuda tampan itu hendak mendorong kasar tubuh wanita ini yang telah lancang memeluknya, namun semua pergerakannya terasa terhenti. Aneh sekali, ada sesuatu yang menjalari masuk kedalam tubuh Sehun dan berpusat dijantungnya—menimbulkan efek detakan tidak karuan disana.
Sehun masih bungkam seraya memandang wanita dihadapannya dengan pandangan yang tidak bisa Sehun jelaskan. Antara ingin marah karna sudah seenaknya menyentuh tubuh Sehun, dan juga disatu sisi, Sehun merasa kasihan melihat tampilan wanita itu sekarang. Rambutnya sangat berantakan dengan mata yang berair hingga sedikit eyeliner dimatanya meluntur. Wajahnya juga terdapat kemerahan akibat tamparan salah satu pemuda tadi, dan terakhir bajunya yang sangat kusut. Dia benar-benar berantakan.
"Kau…tidak apa-apa?"
Sial, Sehun merasa ini bukan dirinya sendiri. Kenapa dirinya bersikap sangat sok pahlawan sekarang?
Wanita dihadapan Sehun yang ternyata adalah Luhan itu melepaskan pelukannya pada Sehun dan melirik kesana-kemari dengan gelisah. Apa Sehun tidak mengenalinya?
"Apa kau tidak mengenaliku?" tanya Luhan.
Sehun menaikan sebelah alisnya dengan bingung. Dan Luhan yang melihat itu lantas sedikit mencondongkan tubuhnya kearah Sehun. "Keparat?" cicitnya.
Mata Sehun melebar mendengarnya. Apa katanya? keparat? Hanya satu orang yang berani memanggilnya dengan sebutan seperti itu, dan orang itu adalah…Luhan. tetapi apa wanita didepannya ini adalah si ayam kecil itu? Dia memandang Luhan dari pucuk kepalanya hingga ke bawah kakinya. Lalu berhenti pada wajahnya. Sehun memang merasa tidak asing pada wajah perempuan dihadapannya.
Benarkah itu Luhan? kenapa –urgh- sangat can..tik? sial, Sehun bersihkan matamu sekarang teman!
"Jangan memandangku seperti itu!" geram Luhan risih. Apalagi saat mata Sehun tertuju pada bagian dadanya, urh Luhan sangat risih. Memalukan sekali dia bertemu si keparat Sehun dalam keadaan seperti ini. Bahkan beberapa detik yang lalu ia memeluk Sehun. Luhan benar-benar merasa malu dan ingin berlari menjauh dari Sehun.
"Mengapa kau berpenampilan seperti ini?" Sehun bertanya dengan wajah seperti biasa. Terkesan tidak perduli dan dingin—namun dari nadanya, ia penasaran kenapa Luhan berpakaian macam wanita malam seperti ini.
Luhan memainkan jarinya dengan gelisah. "Hoseok yang melakukannya, aku disekap saat pulang sekolah tadi dan dia mendadaniku seperti ini lalu meninggalkanku disini."
Sehun menghembuskan nafasnya. Siapa yang tidak kenal dengan Hoseok? Dia dan teman-temannya juga terkenal di OX 86. Jika Sehun dan teman-temannya dikenal karna sikap kejamnya maka Hoseok dan teman-temannya dikenal karna kejahilannya. Mereka selalu mengerjai seseorang dengan cara mereka sendiri. Mereka sangat senang membuat orang lain atau korbannya ditertawakan dan dipermalukan orang banyak. Banyak yang tidak mau berurusan dengan mereka, karna jika membuat kesalahan pada Hoseok dan teman-temannya maka siap-siap saja harga diri yang menjadi taruhannya.
"Jika aku tahu wanita itu adalah kau, aku tidak akan mau menolongmu." Ujar Sehun. "Kubiarkan saja tadi pemuda-pemuda itu memperkosamu. Aku menyesal telah membantumu."
Waktu Sehun terbuang sia-sia karna menolong Luhan. ini semua karna Kai yang memintanya datang kemari untuk menjebak musuh mereka yang kebetulan malam ini berada disini, alhasil dia bertemu (lagi) dengan Luhan. Sehun mengumpat, kenapa dia selalu dipertemukan dengan Luhan?
Luhan mengabaikan perkataan Sehun yang sedikit menusuk hatinya, dan melangkah cepat menyusul Sehun yang berbalik pergi meninggalkannya. Sehun adalah satu-satunya orang yang Ia kenal disini, maka dari itu Sehun adalah harapan satu-satunya Luhan untuk keluar dari tempat ini. Persetan dengan Sehun yang membencinya! Luhan tidak perduli dan akan tetap mengikuti Sehun sampai pemuda itu mau menolongnya. Luhan tahu itu mustahil, mana mau orang macam Sehun berbaik hati padanya? Tetapi setidaknya Luhan akan mencoba.
"Sehun!" panggil Luhan dengan susah payah mengikuti langkah cepat Sehun. pemuda manis itu merasa sedikit sakit pada kakinya yang saat ini tidak memakai alas kaki.
"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Sehun dengan geram.
"Aku tidak tahu daerah ini, dan aku tidak mau berada disini. Hanya kau yang kukenal disini, kumohon bantu aku.." Luhan memandang Sehun dengan tatapan memelasnya, namun hanya dibalas decihan oleh pemuda tinggi itu.
"Kau pikir aku sudi membantumu untuk yang kedua kali? Pergilah menjauh dariku!"
"Tidak! Aku tetap akan mengikutimu sampai kau mau mengeluarkan aku dari tempat sialan ini." ucap Luhan bersikeras.
"Astaga, aku jadi sangat menyesal telah bertemu denganmu." Sehun membalikan tubuhnya dan berjalan tanpa memerdulikan Luhan yang terus mengekor dibelakangnya. Inginnya dia menendang Luhan untuk menjauh, tetapi rasanya dia tidak punya banyak waktu untuk melakukan itu. Sehun merogoh sakunya saat merasakan ponselnya bergetar, dan itu sebuah panggilan dari Kai.
"Kau dimana, bodoh?!" terdengar geraman dari Kai diseberang sana, sudah pasti Kai sedang kesal saat ini.
"Aku sedang menuju tempat yang kau minta. Jangan berbicara denganku memakai nada seperti itu, sialan."
"Itu karna kau lamban! Cepatlah, sebelum para bajingan ini pergi."
"Hn." Sehun hanya bergumam singkat lalu memutuskan sambungan teleponnya. Pemuda tinggi itu masuk kedalam sebuah gedung berlantai empat yang diketahui adalah basecamp sang lawan. Tidak ada satupun penjaga yang berada disana membuat Sehun mudah masuk kedalamnya. Mungkin para bajingan itu merasa basecamp-nya sangat aman, maka dari itu mereka tidak menyewa beberapa penjaga. Bodoh sekali mereka.
Sehun memakai sebuah topi hitam dikepalanya dan memasang earphone ditelinganya. Itu bukan earphone biasa, karna dengan alat itu Ia bisa terhubung dengan semua teman-temannya yang sudah terlebih dahulu berada disini.
"Posisi kalian dimana?" tanya Sehun seraya melangkah masuk kedalam. Luhan masih mengekor dibelakangnya tanpa tahu apa-apa. Pemuda manis itu dengan polos memandang kearah Sehun yang menurutnya sedang berbicara sendirian. Lalu mengangguk-angguk saat melihat sebuah earphone ditelinga Sehun. mungkin dia sedang menelepon—fikir Luhan.
"Aku ada dilantai tiga. Pintu masuk disini menggunakan password, aku sedang melacaknya." Itu suara Baekhyun.
"Aku dan Chen berada dilantai dua, tepatnya sebuah ruangan yang dijadikan sebuah club malam kecil-kecilan. Kami sedang mengawasi ahjussi tua itu." terdengar suara Chanyeol diseberang sana dan Sehun bisa menangkap jelas suara dentuman musik serta keramaian disana.
"Aku sedang menuju lantai empat. Tuan Kiyoshi dan pengawal-pengawalnya berada disini, kau harus pergi kesini, Sehun." itu suara Kai.
"Bagaimana kau bisa ke lantai empat jika dilantai tiga menggunakan password?!" tanya Baekhyun.
"Itu mudah hyung, aku masuk kesini bersama seorang wanita. Kebetulan dia jalangnya tuan Kiyoshi."
"Apa kau tahu passwordnya?"
"Tidak. Karna aku percaya kau bisa melacaknya sendiri."
Sehun mendengar Baekhyun mengumpat diseberang sana. Si mungil itu pasti kesal karna sikap bodoh Kai. "Apa cctv disini sudah kalian urusi?"
"Tenang saja, Sehun. aku sudah melakukannya, hanya dilantai tiga-empat yang belum. Biar Baekhyun dan Kai yang melakukannya." Terdengar sahutan dari Chen kali ini.
"Great, aku datang." hanya itu balasan Sehun dan setelahnya sambungan mereka terputus. Kaki panjangnya mulai melangkah menjauh semakin masuk kedalam, dilantai dasar sangat sepi. Tidak ada orang satupun, hanya ada Sehun dan Luhan.
Omong-omong soal Luhan, Sehun seketika ingat jika si ayam kecil itu masih mengekorinya. Lantas, Sehun membalikan tubuhnya dan saat itu pula tubuh Luhan menabrak bagian depan tubuhnya. Sehun menarik nafasnya agar tidak mengumpat pada bocah itu saat ini.
"Kau membalikan tubuh dengan tiba-tiba, jangan memarahiku! Itu salahmu!" ujar Luhan seakan tahu makna tatapan tajam yang dilontarkan Sehun untuknya.
"Apa kau akan tetap mengikuti?" tanya Sehun sinis.
Luhan mengangguk tanpa ragu, "Tentu saja, hanya kau yang aku ken—"
"Kau tidak akan menyesal jika esok kau tidak bisa bernafas lagi atau berakhir dirumah sakit?"
"Apa kau sedang mengancamku untuk mencoba membunuhku lagi?" Luhan memicingkan matanya pada Sehun. Pemuda bersurai kelam itu mendengus geli melihat ekspresi wajah aneh Luhan.
"Bukan aku yang akan membunuhmu." Jawab Sehun, "..tetapi musuh-musuhku."
Luhan sontak mengatupkan bibirnya rapat. Apa maksudnya? Apa saat ini Sehun sedang menjalani sebuah misi berbahaya seperti yang Luhan tonton di film-film action? Luhan seketika ingat, hal itu bisa saja benar—mengingat Sehun sering terlibat perkelahian dan hal-hal kriminal.
Sehun tersenyum miring melihat keterdiaman Luhan. "Pergilah jika kau tidak mau terlibat dengan semua ini."
"Tapi aku.." Luhan menatap penampilannya sendiri. Tidak mungkin dia pergi dalam keadaan seperti ini, yang ada dirinya akan diperkosa ramai-ramai diluar sana. Disatu sisi, tidak mungkin juga ia ikut kedalam masalah Sehun. akan sangat berbahaya dan juga Luhan tidak mau terlibat apapun yang menyangkut kekerasan.
Sehun menghela nafasnya kasar. Lagi-lagi waktunya terbuang sia-sia karna bocah tengik ini. Pemuda tampan itu berbalik, hendak meninggalkan Luhan—karna demi apapun, ia tidak sudi untuk mengurusi Luhan lama-lama. Tetapi sebuah tangan menahan pergelangan tangannya membuat Sehun dengan sangat geram kembali menghadap kearah Luhan. berani-beraninya anak itu menghentikan langkahnya! Dia bersikap seolah-olah sudah lama mengenal Sehun , hal itu membuat Sehun jengah dengan Luhan.
"Sehun…" Luhan kembali memandang kedalam matanya, membuat Sehun diliputi rasa-rasa yang asing. Nafasnya tiba-tiba saja memberat seiring dadanya yang serasa menyempit. Sial, ada apa dengan tubuhnya?
"Sudah berapa banyak kubilang agar tidak menyentuhku, sialan?" tanya Sehun penuh penekanan.
"Ma—maaf.." Luhan melepas tangannya pada pergelangan tangan Sehun dengan pelan. Hal itu membuat Sehun merasakan lembutnya kulit Luhan yang bersentuhan langsung dengan kulitnya.
Oh bajingan, bahkan kau mengatakan kulit si ayam kecil itu lembut! Sadarlah Sehun, sadar!
"Pergilah ke mobilku, kau sudah tahu yang mana mobilku." Sehun melempar sebuah kunci mobil kearah Luhan yang langsung ditangkap oleh pemuda manis itu. lalu Sehun memberikan Luhan sebuah plastik kecil berisi sebuah bubuk berwarna ungu, yang diterima Luhan dengan bingung.
"Apa ini?" Luhan menatap benda ditangannya dengan bingung, "Kau tidak berniat menjadikanku pemakai narkoba 'kan?"
"Itu bukan narkoba, bodoh." Sehun memutar bolamatanya malas. Mana ada narkoba bubuk berwarna ungu? Bodoh sekali Luhan itu. "Itu Potasium sianida, jejalkan bubuk itu kemulut seseorang yang hendak macam-macam denganmu."
"Lalu apa efeknya?"
"Mereka akan mati."
Luhan meneguk liurnya dengan susah payah. Darimana Sehun mendapat benda berbahaya semacam ini?
"Bawalah mobilku kebelakang gedung ini, dan tunggu sampai aku datang. " ujar Sehun lalu benar-benar pergi meninggalkan Luhan.
Luhan memandang punggung tegap Sehun yang menghilang dibalik sebuah lorong. Seulas senyuman tipis terukir diwajah cantik Luhan. tanpa sadar Sehun sudah menolongnya untuk yang kedua kali—atau tiga kali, mengingat saat tawuran antar pelajar waktu itu, Sehun juga menyelamatkan dirinya. Entah tuhan sedang merencanakan hal apa, hingga selalu mempertemukan keduanya dalam keadaan yang berbahaya sehingga Sehun menjadi pihak penolong yang tidak disengaja untuk Luhan.
"Terimakasih, keparat. Terimakasih.."
..
…
-oOo-
…
..
"Bung, mana kartu identitasmu?"
Sehun melirik sebuah tangan yang mendarat dibahunya, lalu beralih melirik tajam ke dua orang berandalan didepannya. Penampilan dua orang lelaki itu memang benar-benar khas berandalan kelas teri. Lihat saja caranya berpakaian dan wajahnya yang sok disangar-sangarkan.
"Aku tidak bisa memberikannya padamu." ujar Sehun tenang. Dilantai dasar memang tidak ada satupun yang menjaga, tetapi saat ke lantai dua—tepatnya ditempat club, akan ada banyak penjaga.
"Bedebah! Kau tidak boleh masuk." Lelaki itu sedikit tersulut emosi melihat wajah tenang Sehun dan membuang permen karet didalam mulutnya kehadapan Sehun. lihat, mereka memang berandal kelas teri!
Sehun memandang permen karet yang berada dikakinya dengan seringaian tipis. Lalu secepat kilat Sehun memukul rahang lelaki yang sudah dengan kurang-ajar menghinanya. Lelaki itu tersungkur kelantai dan mengerang. Tanpa banyak berbicara lagi, Sehun melayangkan tendangannya ke wajahnya hingga lelaki itu mengeluarkan darah dari hidungnya.
"Brengsek!" Lelaki yang satu ikut tersulut emosi melihat temannya tersungkur kelantai akibat tendangan Sehun. lantas, dia hendak menyerang Sehun namun dewi fortuna sedang mengutuknya, hingga keberuntungan tidak memihaknya. Sehun menarik kepala lelaki berandal itu dan membenturkannya beberapa kali didinding dengan keras.
Kedua lelaki berandal itu mengerang dan terkapar dilantai. Hal itu Sehun manfaatkan untuk menginjak dada keduanya hingga nafas kedua lelaki itu mulai melemah.
"Aku hanya ingin masuk, jangan menghalangiku." Sehun mengibaskan kakinya yang tengah dicengkeram oleh salah satu diantara lelaki berandal itu dan berjalan masuk kedalam club dengan ringan. Dia disambut dengan dentuman musik keras dan pencahayaan yang terang dengan lampu beraneka warna. Netra tajamnya mengelilingi seluruh sudut ruangan, dan dia menemukan dua temannya yang duduk di sofa besar berwarna coklat tua dengan tiga orang wanita berdada besar yang mengelilinginya.
Sehun tersenyum miring dan mulai melangkah lebih dalam. "Hey, jadi selera kalian noona-noona berwajah badut?"
"Siapa yang kau maksud?" terdengar sahutan Kai dari earphone-nya.
"Kau menyindirku?" kali ini suara Chanyeol.
"Dimana kau?!" Chen bertanya. Sehun bisa melihat kepala Chen terangkat dan melirik-lirik kesekitar mencari dirinya.
"Aku sudah didalam club. Aku dimeja nomor empat, lebih baik kita tidak satu meja—aku malas mendekati jalang-jalang itu." balas Sehun.
"YA! Siapa yang menyewa jalang disaat seperti ini?! Apakah itu Chanyeol?! jawab aku Sehun!"
Sehun memejamkan matanya mendapati teriakan Baekhyun diseberang sana. Kai dan Chen terkekeh sementara Chanyeol mulai terdengar panik.
"Baek, tidak. Aku tidak menyewa—mereka yang mendekati dan aku—"
"Tunggu aku menghajarmu Park!"
Lalu terdengar suara 'Pip-pip' seperti suara sambungan telepon yang terputus. Sudah dipastikan itu adalah Baekhyun yang mematikan sambungan walkie talkie berbentuk earphone mereka.
"Sial! Bagus, Sehun. Baekhyun marah padaku."
"Itu salahmu, Park. Tunjukan aku dimana ahjusshi tua yang bernama Yoshida Kashidawa itu?" tanya Sehun. dia tidak suka terlalu banyak basa-basi dan bicara yang tidak penting.
"Jika dari mejamu berarti di arah jam sebelas."
Sehun segera mencari targetnya. Dan dia melihat lelaki yang umurnya berkisar 45-tahunan tengah duduk di sofa besar yang dikelilingi banyak wanita dan rekan-rekan bisnisnya. Mereka terlihat tertawa lebar seraya meminum banyak beberapa slot soju. Dia adalah Yoshida Kashidawa—target kedua setelah tuan Kiyoshi Saramura. Dua presdir di Jepang yang telah bersekutu mengambil alih perusahaan ayah Kai. Maka dari itu Sehun dan teman-temannya ditugaskan untuk memaksa mereka menandatangani file yang berisi untuk mengembalikan perusahaan ayah Kai sekaligus menyerahkan perusahaan mereka. Yoshida dan Kiyoshi memang sering berada di Seoul, karna di Seoul lah tempat mereka menyembunyikan beberapa dokumen perusahaan mereka.
Sehun segera mengalihkan pandangannya dari Yoshida saat merasakan ada seseorang yang duduk disebelahnya. alis Sehun bertaut tidak suka melihat satu jalang mulai mendekatinya. Wanita dengan gaun merah ketat itu tersenyum pada Sehun yang dibalas tatapan super datar dari si empunya. Ah, Sehun benci didekati orang macam ini.
"Kelihatannya tidak ada yang menemanimu, tuan." Wanita itu membawa gelas long island berisi cairan bening yang Sehun yakin adalah wine. Seketika Sehun memiliki ide untuk melemahkan Yoshida dengan cara cepat.
"Ya, dan aku butuh wanita untuk menemaniku." Sehun memandang wanita itu dengan senyum miringnya. Wanita itu tersipu melihat ketampanan Sehun yang tidak berkurang walau wajahnya sedikit tertutupi topi hitam.
"Kau tampan sekali."
Sehun menyentuh wajah wanita berambut pirang itu dengan terpaksa. "Dan kau cantik sekali.." jemari panjangnya membelai lembut pipi putih si wanita membuat wanita itu lemas. "Siapa namamu?"
"Eunsol, tuan."
"Baiklah Eunsol, apa kau mau menemani malamku?"
"YA! Apa yang kau lakukan bodoh?! Tugasmu bukan untuk meniduri jalang!" Sehun menggeram rendah mendengar Chen berseru kesal. Sehun lupa belum mematikan sambungan walkie talkie-nya.
"Waw, Sehun. apa sekarang kau mulai mencoba seks?" itu suara Chanyeol.
"Ini bagian rencanaku. Kau diam saja, sialan." Bisik Sehun penuh penekanan. Dia kembali tersenyum tidak tulus saat Eunsol menatapnya bingung.
"Baiklah, baik. Lakukan menurut caramu, Sehunna."
Ingatkan Sehun untuk mencekik Chen habis ini. Panggilan konyol macam apa itu? Sehunna? Oh, bitch please.
Sehun menahan hasratnya untuk tidak menendang jauh-jauh wanita dihadapannya ini yang tengah menyandarkan kepalanya dibahu Sehun dengan manja. Apa wanita sekarang memang agresif semua?
"Dimana kita akan bermalam, tuan?" Eunsol mendekatkan wajahnya kewajah Sehun.
'Bahkan dalam mimpi saja kau tidak berhak bermalam denganku.'
"Terserahmu saja." Tanpa sepengetahuan Eunsol, Sehun tengah membuka satu plastik kecil yang berisi bubuk sianida, dan membalurkan kejari-jemarinya sendiri. Lalu saat Eunsol hendak mencium bibir Sehun, dengan cepat Sehun menahan bibir Eunsol dengan satu jemarinya yang sudah dia balurkan sianida.
"Aku tidak suka French kiss ditempat ramai." Sehun menyentuh bibir Eunsol dengan jemarinya dan dengan sengaja meratakan bubuk sianida dibibir wanita itu. "..Aku lebih suka ditempat tertutup dan berlanjut ke sesi yang panas."
Nafas Eunsol memberat—terlihat mulai bernafsu karna perlakuan Sehun. "Baiklah, ayo kita segera pergi dari sini."
"Sebelum kita pergi. Aku ingin minta satu hal padamu, kau lihat lelaki yang disana?" Sehun menunjuk kearah Yoshida dan Eunsol mengangguk. "Itu pamanku, dan dia sedang berulang tahun sekarang. Aku belum memberikannya hadiah, maka dari itu aku ingin kau menciumnya sebagai hadiah dariku."
"Apa?"
"Ya, dia pasti senang dicium oleh wanita cantik dan menggoda sepertimu." Sehun dengan sengaja meremas payudara Eunsol membuat wanita itu mendesah singkat. "Setelah itu, kau boleh balik kesini dan kita segera ke Apartmenku."
"Baiklah, kalau itu bisa membuatku bisa bersamamu." Eunsol mengedipkan matanya kearah Sehun dan beranjak dari sana. Mulai mendekati Yoshida.
"Aku akan melihat rencanamu, Sehun.." suara Chanyeol kembali terdengar lewat earphone.
Sehun menyeringai saat melihat Eunsol dengan mudah mencium Yoshida, dan lelaki tua itu tampaknya sangat menikmati berciuman dengan Eunsol. Terlihat dari tangannya yang mulai menjalar kemana-mana.
"Teruslah lumat, Yoshida..hingga kau tidak bisa bernafas lagi." gumam Sehun. pemuda tinggi itu mulai berdiri saat Yoshida dan Eunsol menyudahi ciuman mereka. Beberapa detik kemudian, Yoshida mulai menggigil. Dan lelaki itu terjatuh kelantai seraya berteriak kesakitan. Para wanita didekatnya dan rekan-rekannya mulai panik dan mendekatinya, begitupula Eunsol yang terlihat terkejut.
Sehun membuka topinya dan memakaikannya pada salah seorang yang dia ketahui adalah rekan Yoshida. Setelah itu Sehun melangkah mulai keluar dari club.
"Wah! Jadi itu rencanamu?! Hebat, seperti biasanya." Ujar Chen diseberang sana.
"Kalian seret Yoshida kelantai empat saat keadaan mulai kacau. Aku menunggu didepan pintu club." tukas Sehun.
Keadaan didalam mulai panik. Beberapa wanita jalang disana menuduh Eunsol yang meracuni Yoshida karna setelah menciumnya, Yoshida menjadi kejang-kejang. Eunsol memprotes tidak terima dan menunjuk lelaki bertopi hitam yang menyuruhnya untuk mencium Yoshida. Sayangnya itu bukan Sehun, dan yang memakai topi hitam milik Sehun saat ini adalah rekan Yoshida sendiri. Hingga terjadi kesalah-pahaman dan rekan-rekan Yoshida yang lain mulai mengeroyok lelaki yang tidak bersalah itu. sebagian rekan Yoshida membela lelaki yang dipakaikan topi oleh Sehun, sebagian lagi menuduhnya. Hingga mereka bertengkar satu sama lain.
Chanyeol dan Chen yang melihat keberhasilan rencana Sehun, membawa Yoshida yang mulai drop tanpa sepengetahuan siapapun karna semuanya tengah sibuk adu pukul. Sebelum keluar, Chanyeol menaruh dua handgun dimejanya—agar orang-orang didalam sana menggunakannya, dan pada akhirnya mereka saling menembak, membunuh.
"Rencanamu berhasil. Mereka semua sedang berkelahi saat ini." Chanyeol dan Chen tiba didepan pintu masuk club seraya menyeret Yoshida yang tidak sadarkan diri.
Sehun mengeluarkan sebuah kunci dari saku jaketnya, dan mengunci pintu club. Berterimakasihlah pada dua lelaki berandal tadi yang menyerahkan kunci ruang club secara sukarela pada Sehun. "Biarlah mereka saling membunuh didalam sana."
"Ayo kita bekukan Kiyoshi sekarang."
…
-oOo-
…
"Baekhyun, Apa password dilantai tiga?"
"ByunBaekhyun."
"Hei, aku bertanya tentang passwordnya. Bukan namamu, bodoh." Chen menggerutu.
"Itu passwordnya! Aku sudah menggantinya. Aku tidak bodoh, bodoh." Baekhyun balas menggerutu diseberang sana.
"Sehun, passwordnya adalah ByunBaekhyun. Si pendek itu sudah menggantinya." Ujar Chen dan mengabaikan protesan tidak terima Baekhyun diseberang sana, karna sudah mengatainya 'Si pendek'.
"Kau dimana saat ini?" Sehun bertanya seraya mengelap tangannya menggunakan tissue basah. Menghilangkan jejak sianida dan juga membersihkan tangannya yang tadi ia gunakan untuk meremas dada Eunsol.
"Aku sedang mengurus beberapa orang disini. Kalian ke lantai empat saja duluan, Kai sedang terjebak disana." jawab Baekhyun.
Sehun, Chen serta Chanyeol segera menaiki anak tangga yang menuju ke lantai paling atas. Yoshida masih dalam keadaan tidak sadarkan diri dirangkulan Chanyeol. Sehun memang sengaja hanya memberinya sianida dengan dosis rendah agar lelaki itu tetap hidup sampai bisa menandatangani dokumen mereka. Hanya menunggu tiga jam lagi, maka Yoshida akan segera sadar.
"Kalian sudah berhasil menangkap Yoshida?" Suara Kai tiba-tiba terdengar setelah tidak muncul beberapa kali saat percakapan diantara mereka berlima.
"Yes, bung."
"Chanyeol hyung, tolong bawa dia kekamar 12, Disana kosong. Chen dan Sehun datanglah ke kamar 20, tuan Kiyoshi berada dikamar 21."
"Kau jadi pintar sekali memerintah sekarang." Dengus Sehun. dia dan Chen berjalan berlainan arah dengan Chanyeol. terlihat ada beberapa penjaga yang berdiri tepat didepan pintu kamar 21. Sudah pasti mereka sedang menjaga tuan besar mereka yang berada didalam.
"Aku sudah didepan kamar 20." Ujar Sehun pada Kai. Dia dan Chen pura-pura membungkuk formal pada para penjaga yang melihat mereka dengan curiga. Chen terkekeh-kekeh seraya memukul-mukul bahu Sehun dengan pelan. Dan Sehun hanya balas tersenyum kecil pada para penjaga itu, "Temanku mabuk.."
Penjaga itu kembali memandang kearah depan, tidak lagi kearah mereka. Menandakan jika mereka percaya pada keduanya.
Pintu kamar 20 terbuka, dan Kai langsung menarik tangan keduanya untuk masuk kedalam. Didalam kamar itu terdapat seorang wanita yang sedang berbaring dilantai dengan keadaan setengah telanjang.
"A-ah dia hanya jalang yang mengganggu rencana kita. Jadi kuputuskan untuk memukulnya hingga pingsan." Kai mengusap tengkuknya canggung mendapat tatapan tajam dari Sehun.
"Ayo cepat kita selesaikan semua ini. Aku ingin segera kembali ke Apartmenku." Tukas Sehun yang memang sudah merasa gerah dan bosan.
Tiga pemuda itu berjalan menuju balkon dan melewati pagar pembatas untuk bisa sampai ke balkon kamar milik Kiyoshi. Sehun menyempatkan diri untuk menengok kebawah, dan disana Ia melihat mobilnya sudah terparkir dibelakang gedung ini. Ternyata si ayam kecil Luhan menuruti perintahnya juga.
"Si tua itu sedang bercinta." Bisik Chen yang mengintip melalui celah kecil dari gorden yang tertutup.
Kai mengarahkan batu besar yang sedari tadi Ia genggam kearah kaca jendela kamar itu. dan selanjutnya batu berukuran kepalan tangan orang dewasa itu terlempar ke kaca jendela hingga kaca itu menjadi hancur dengan suara pecahan yang sangat keras. Terdengar suara pekikan terkejut dari dalam kamar itu.
Kai, Sehun dan Chen segera masuk melalui jendela yang sudah hancur itu kedalam. Diatas ranjang berukuran besar, seorang lelaki berusia 50-tahunan memandang ketiganya dengan terkejut. Begitupula dua wanita yang sedang menemani Kiyoshi, mereka tampak ketakutan dan sama terkejut. Dua wanita itu beringsut mundur ke pojok ruangan seraya menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut putih tebal.
"Ka—kalian…" Kiyoshi menunjuk-nunjuk wajah mereka dengan panik. "PENJAGA! PENJAGA!" Lelaki itu berteriak memanggil-manggil penjaganya dengan kencang, persis seperti seorang wanita yang baru saja melihat hantu.
"Selamat malam, tuan Kiyoshi yang terhormat." Sapa Kai dengan senyumannya.
"Mau apa kalian?! Pergilah bocah!" Kiyoshi mencoba meraih-raih sebuah pistol dari atas meja nakasnya. Dia tahu siapa ketiga pemuda ini. Salah satu diantaranya adalah anak dari orang yang sudah ia khianati. Dan Kiyoshi tahu apa yang akan mereka lakukan padanya.
"Kau takut, hm?" Sehun merampas pistol yang hendak diraih Kiyoshi dengan cepat, membuat Kiyoshi memandangnya dengan murka. Suara gedoran pintu dan para penjaga yang memanggil-manggil nama Kiyoshi membuat ketiga pemuda itu tidak gentar untuk membekukan si brengsek Kiyoshi.
"Ikutlah dengan kami, atau kau akan berakhir disini dengan kepalamu yang berlubang."
Kiyoshi menahan nafasnya melihat tiga handgun yang disodorkan didepan wajahnya. Membayangkan benda itu mengoyak isi kepalanya membuat dirinya mual dalam ketakutan. Apa sekarang dia sedang diancam oleh tiga bocah SMU? Yang bahkan belum lulus ujian? Terdengar menggelikan sekali. Namun Kiyoshi tahu, anak-anak ini tidak pernah bermain-main dalam ucapannya.
"tuan Kiyoshi! Tuan Kiyoshi!"
Chen menggeram rendah mendengar penjaga-penjaga Kiyoshi yang sangat berisik. Dengan kesal, ia menarik pelatuk pistolnya dan menembakan pelurunya kearah mulut Kiyoshi yang terbuka hendak berbicara.
"ARGGHHH!"
"JONGDAE!" Sehun dan Kai berteriak bersamaan. Akan gagal rencana mereka jika Kiyoshi mati. Chen itu bodoh atau apa sih?
"Calm down, dude. Itu hanya obat bius, bukan peluru asli. Ayo kita bawa si tua ini." Chen menyeringai seraya memapah tubuh Kiyoshi berjalan menuju balkon. Sehun dan Kai menghela nafas lega, Chen tidak mungkin melakukan kesalahan.
"HEY!"
Ketiga pemuda itu menoleh kebelakang dan mendapati banyak penjaga berpakaian hitam sudah berhasil mendobrak pintu. Para penjaga itu kalut melihat tuan besarnya yang kini tidak sadarkan diri dalam kukungan tiga pemuda yang menggenggam handgun ditangan mereka.
"Ayo kejar kami." Kai melambaikan tangannya dan mereka mulai berlari menuju balkon.
…
..
…
Luhan menggigit bibir bawahnya gelisah setelah mendengar suara pecahan kaca yang sangat keras dari atas gedung. Pemuda itu memberanikan diri untuk keluar dari mobil Sehun untuk melihat apa yang terjadi disana. Sebuah jendela disalah satu kamar yang berada dilantai empat terlihat pecah, dan tidak lama Luhan melihat seseorang muncul dibalkon dengan beberapa orang berpakaian hitam yang mengepungnya.
Mata Luhan melebar saat melihat wajah seseorang itu dengan jelas. "Sehun?"
"O-oh?!" Luhan bertambah panik melihat Sehun diatas sana yang mencoba turun kebawah seraya mengarahkan handgun ditangannya kearah para penjaga. Luhan memejamkan matanya mendengar suara tembakan yang dilontarkan Sehun untuk para penjaga itu.
"Tidak! Sehun! JANGAN!" Luhan berteriak kencang melihat kenekatan Sehun yang melompat kebawah. Luhan tidak berani melihatnya. Sehun tidak akan selamat! Melompat dari lantai empat? Yang benar saja, pemuda berwajah dingin itu pasti akan mati.
"Ada apa denganmu?"
Luhan membuka sedikit matanya saat mendengar suara dingin itu. Pemuda manis itu membelalakan matanya melihat Sehun sudah berada dihadapannya seraya membersihkan jaketnya yang terlihat terkena sedikit kotoran. "Kau…bagaimana bisa?" Luhan bertanya dengan bingung. Ia melihat kearah lantai empat dimana para penjaga itu masih berada disana seraya menatap mereka, lalu memandang Sehun lagi.
"Itu tidak penting. Ayo kita segera pergi dari sini!" Sehun meraih pergelangan tangan Luhan dan membawanya masuk kedalam mobil. "Mereka akan mengejar kita."
Luhan melirik kearah pergelangan tangannya yang digenggam Sehun. kenapa rasanya sangat aneh seperti ini?
Sehun melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Luhan saat menyadari Ia menyentuh si ayam kecil itu. Mereka segera masuk kedalam mobil, dan saat itulah Luhan menyadari jika tangan Sehun terluka dan berlumuran banyak darah. Wajah Sehun tetap terlihat tenang bahkan saat menyetir dengan tangan yang terluka.
"Tanganmu.." Luhan hendak menyentuh tangan Sehun yang langsung mendapat tatapan tajam dari Sehun. Luhan menarik kembali tangannya, tidak jadi menyentuh tangan Sehun.
"Jangan perdulikan aku." Tukas Sehun singkat.
"Tanganmu terluka! Biar aku saja yang menyetir. Kau pasti merasa sakit 'kan?" ujar Luhan.
"Apa kau bisa menyetir dengan baik saat mereka semua mengejarmu?" ucap Sehun tanpa melirik kearah Luhan.
Luhan menoleh ke luar jalan, disana terlihat beberapa mobil yang melaju kencang mengejar mereka. Luhan kembali menggigit bibir bawahnya resah. Dia benar-benar sudah terlibat dengan urusan Sehun yang berbahaya ini.
"Tembak mobil yang mendekati mobilku, dengan begitu kau sudah membantuku." Sehun menyodorkan sebuah revolver kearah Luhan yang diterima Luhan dengan ragu-ragu. Luhan memandang revolver itu dengan raut gelisah. "Aku tidak bisa membunuh orang! Aku bukan pembunuh!"
"Kubilang tembak mobilnya, bukan orangnya—jika kau bisa menembak orangnya, itu lebih bagus." Sehun menggeram rendah, kesal dengan sikap Luhan yang tiba-tiba menjadi penakut itu. "Atau aku akan menurunkanmu disini."
"Baik, baik! Akan kulakukan." Ujar Luhan dengan cepat. Pemuda manis itu menarik nafasnya dalam-dalam. "Aku tidak percaya, aku memegang revolver saat ini.." gumamnya kagum.
Suara klakson mobil-mobil yang mengejar mereka bersahut-sahutan kencang membuat Sehun menambah kecepatan laju mobilnya. Luhan sontak berteriak keras merasakan organ dalamnya yang serasa ingin keluar saat Sehun melaju dengan kecepatan hebat.
"Tembak mereka, sialan!" seru Sehun.
"Aku tidak pandai menggunakan pistol!"
"Lakukan saja Luhan!" Luhan menciut mendengar bentakan Sehun serta wajah marahnya yang begitu menyeramkan dimata Luhan. kenapa Sehun mengerikan sekali sih?
Luhan masih dengan jantung berdebar keras, mengarahkan revolvernya keluar jendela mobil dan menembakan peluru dengan asal kearah mobil-mobil yang mendekati mereka. Kini suara tembakan peluru dan juga deru mesin mobil saling bersahut-sahutan dijalan.
"MAAFKAN AKU! MAAFKAN AKU!"
Sehun memutar bolamatanya jengah melihat sikap Luhan. disaat seperti ini pun dia masih bisa meminta maaf pada orang lain—terlebih orang yang sedang berusaha membunuh mereka. Entah Luhan terlalu polos atau bodoh, Sehun rasa keduanya.
Sehun menginjak pedal gasnya dan menyetir dalam kecepatan diatas rata-rata, membuat Luhan kembali berteriak. Kenapa Sehun itu senang sekali membuatnya dalam keadaan menderita?
…
-oOo-
…
Sehun menghentikan laju mobilnya tepat didekat sebuah halte setelah memastikan para pengawal Kiyoshi dan Yoshida sudah tidak mengejarnya. Pemuda itu menyisir rambutnya kebelakang dengan jemarinya, merasa lega. Sehun melirik kearah seseorang yang duduk disebelahnya, Luhan. Dia melihat bahu Luhan bergetar dan beberapa kali tangannya mengusap matanya sendiri dengan isakan-isakan kecil dari bibirnya.
Sehun menghela nafasnya. "Kenapa kau menangis?"
"Jantungku rasanya sudah jatuh kebawah, kau menyetir dengan kecepatan mengerikan, brengsek." Luhan melayangkan tatapan tajamnya pada Sehun.
Sehun mendengus geli melihat mata Luhan yang semakin menyeramkan dengan eyeliner yang sudah luntur dan juga hidungnya yang memerah. Belum lagi rambut palsunya yang begitu berantakan, Sehun rasanya ingin tertawa—namun tidak bisa.
"Dasar cengeng!" ejek Sehun.
"Jangan mengataiku cengeng! Aku tidak menangis! Aku hanya takut." protes Luhan mengusap kasar matanya. Sehun memutar bolamatanya malas mendengar alibi Luhan yang jelas-jelas tidak berguna untuknya itu.
"Ya! Apa yang kau lakukan?" tanya Sehun melihat Luhan yang memegang dada palsunya sendiri. Sehun risih sekali melihatnya.
"Aku tidak nyaman dengan benda ini, aku mau melepasnya." Luhan berusaha memasukan tangannya kedalam gaun hitamnya untuk mengeluarkan sesuatu didadanya, namun Sehun segera membentaknya lagi.
"Jangan lakukan itu bodoh! Akan terlihat aneh jika seorang wanita tanpa payudara."
"Aku bukan wanita, keparat."
"Lihat tampilanmu sekarang. Kau seorang wanita saat ini, biarlah seperti itu dulu." Sehun memijat keningnya pusing. Kenapa dia selalu terlibat dengan Luhan? dan yang lebih menggelikan lagi, kenapa sekarang dia membiarkan Luhan duduk disampingnya? Sehun merasa otaknya berputar-putar sekarang.
Luhan menggerutu dengan wajah memerah matang, "Bilang saja kau ingin melihat dada besar menggelikan ini. Dasar mesum."
"Aku seperti bersama seorang jalang saat ini."
Luhan mengepalkan tangannya dan hendak melayangkan pukulannya pada kepala Sehun, namun pemuda itu dengan cepat memandang Luhan dengan mata tajamnya. "Apa kau mau menyentuhku?" desis Sehun pelan.
Luhan menarik kembali tangannya dan menyilangkan kedua tangannya didada. Bibirnya bergerak-gerak kecil, menggerutu.
"Apa kau mau menyentuhku?" "Jangan coba-coba menyentuhku, ayam kecil." "Jangan menyentuhku! Cih, kau fikir kau berharga sekali sampai aku tidak boleh menyentuhmu?"
Sehun melotot kesal melihat Luhan yang menggerutu mengikuti gaya berbicaranya. Berani sekali bocah itu mengejeknya! Sehun menyentil kening Luhan membuat pemuda yang masih menggerutu itu memekik sakit.
"YA!"
"Keluar!" desis Sehun.
"Kau mengusirku?" tanya Luhan tidak terima.
"Aku sudah membawamu keluar dari daerah tadi, sekarang keluarlah dari mobilku."
"Tapi—"
"Keluar, little chicken!"
Luhan mencebikan bibirnya kesal dan segera keluar dari McLaren milik Sehun. Dia menghentakan kakinya kesal saat Sehun kembali melajukan mobilnya, Sehun benar-benar meninggalkannya sendiri didekat halte yang sudah sepi seperti ini. Pemuda itu memang jahat sekali, dan Luhan benar-benar membencinya.
"Sehun keparat! Mati saja kau!" umpat Luhan.
Luhan berjalan menuju bangku yang terdapat dihalte, kakinya terasa sakit karna tidak memakai alas kaki. Luhan memeluk tubuhnya sendiri, udara malam ini masih sama seperti kemarin. Tidak bersahabat dan sangat dingin. Luhan agak menggigil karna pakaian yang Ia kenakan saat ini sangatlah terbuka.
"Aku tidak percaya malam ini adalah malam yang paling sial dalam hidupku.." Luhan menunduk dan memainkan jemari kakinya yang tidak tertutup apapun. Dia memandang pergelangan tangannya yang tadi sempat digenggam oleh Sehun. rasanya masih aneh dan membuat Luhan tergelitik.
"Mmh?" Luhan mengerjabkan matanya beberapa kali merasakan ada sebuah benda hangat yang kini menyelimuti tubuhnya. Dia melihat sebuah jaket hitam sudah terpasang ditubuhnya dan menutupi tubuh bagian atasnya. Luhan mendongakan kepalanya dan melihat seorang pemuda berkulit pucat berdiri disampingnya tanpa mau memandangnya.
"Kau sudah membantuku malam ini, Aku akan mengantarmu pulang."
Luhan melebarkan senyumnya dan segera berdiri dihadapan Sehun. "Terimakasih, keparat. Terimakasih. Aku tahu kau akan membantuku lagi, hehe." Luhan melebarkan cengiran polosnya yang tidak ditanggapi oleh Sehun.
Sehun menunjuk tangan Luhan yang memegangi pergelangan tangannya dengan erat, dan Luhan yang mengerti itu segera melepaskan tangannya.
"Ya, ya, aku tidak boleh menyentuhmu." Tukas Luhan dengan malas.
"Ayam kecil yang pintar." Sehun tersenyum palsu untuk satu detik, dan setelah itu kembali pada raut datarnya.
"Apa aku terlihat seperti anak ayam?" gumam Luhan memiringkan kepalanya bingung. Lalu segera berlari saat menyadari Sehun sudah berjalan jauh menuju mobilnya. "Hey keparat! Tunggu aku!"
…
…
"Kau dimana?"
"Aku sedang mengurus sesuatu sebentar."
"Sesuatu yang penting?"
"Mungkin…iya." Jawab Sehun ragu-ragu.
"Baiklah, kami menunggumu di rumah Chen."
Sehun melepaskan earphone ditelinganya dan kembali fokus pada jalan didepannya. Dia mendengus geli. Sesuatu yang penting? Sehun melirik kearah Luhan yang tertidur pulas disebelahnya. sebagian rambut coklat keemasan palsunya menutupi sebagian wajah Luhan. membuatnya terlihat seperti perempuan asli.
"Kau bahkan tidak penting sekali untukku." Tukas Sehun. "Tetapi kenapa sebegitu bodohnya aku hingga mau mengantarmu pulang dan mengabaikan teman-temanku?" Sehun bermonolog disertai dengusan-dengusan sinis.
Sehun meraih sebuah hoodie merah milik Baekhyun yang tertinggal dimobilnya dan menaruh hoodie itu di bagian paha Luhan yang terbuka karna gaun yang dikenakan memang benar-benar sangat pendek. Entah untuk alasan apa Sehun melakukan itu, dia pun tidak tahu.
Sehun menghentikan laju mobilnya saat sudah sampai di depan rumah Luhan. Si ayam kecil itu sempat memberitahu jalan menuju rumahnya tadi, jadi Sehun tidak mungkin salah jalan. Sehun melirik kearah Luhan yang masih tertidur. Apa dia selalu seperti itu? Tidur tanpa memperdulikan dimana dia berada? Oh baiklah, itu bukan urusanmu Sehun.
"Hey, little chicken. Bangunlah!"
Luhan tidak bergerak.
"Kita sudah sampai dirumahmu. Cepat turun dari mobilku!"
Luhan masih memejamkan matanya dengan tenang. Sehun menggeram kesal. Mungkin Sehun bisa menambah satu julukan untuk Luhan, 'kerbau kecil' itu terdengar bagus juga.
Luhan menggeliat kecil dan menghadapkan wajahnya kearah Sehun. Pemuda manis itu masih terlelap seolah-olah dia sedang tertidur dikamarnya saat ini. Sehun mengarahkan tangannya kewajah Luhan, Ia menyibak rambut palsu Luhan yang menutupi wajah pemuda itu. Dan saat itulah Sehun merasa waktu terhenti ketika wajah Luhan yang tengah tertidur itu terlihat jelas dihadapannya.
Apa semua orang ketika tertidur akan terlihat sangat indah seperti ini?
Sehun menahan nafasnya tanpa alasan yang jelas. Dia memandangi wajah Luhan lamat-lamat, dari mulai matanya yang terpejam lalu turun ke hidung serta philtrum mungilnya, Pipinya yang terlihat sangat halus ketika disentuh, dan terakhir ke bibir kecil Luhan yang berwarna merah muda alami. Tidak ada bagian yang terlewat dari pandangan Sehun. Luhan terlihat…sangat indah.
"Kurasa mataku mulai rusak." Gumam Sehun. Pemuda itu menggelengkan kepalanya singkat untuk mengusir pikiran-pikiran menggelikan diotaknya.
Sehun kembali mengarahkan tangannya kewajah Luhan. Tangannya tiba-tiba saja gatal untuk mencoba menyentuh pipi Luhan. Ya, Sehun merasa bukan hanya matanya saja yang rusak tetapi otaknya juga rusak.
Tangan Sehun sudah berhasil mendarat dipipi Luhan. rasanya sangat lembut dan…membuat dada Sehun berdebar-debar kencang.
Apa yang kau lakukan bodoh? Kau bertingkah seperti remaja yang tengah jatuh cinta! Kau menyebut mereka adalah orang tolol. Apa sekarang kau menjadi orang tolol, Sehun-ah?
Dan saat itu pula kesadaran Sehun kembali, Sehun menepuk-nepuk pipi Luhan cukup keras. "Hey, ayam kecil! Ayo bangun!"
"Mmh—kau berisik sekali, keparat." Luhan bergumam.
Sehun mendecakan lidahnya geram. "Sampai kapan kau akan tidur dimobilku huh?" Sehun menepuk pipi Luhan dengan keras membuat Luhan berhasil membuka matanya dan segera menepis tangan Sehun dengan kesal.
"Kau menamparku.." Luhan mengusap-ngusap pipinya sendiri yang agak memerah karna tepukan keras Sehun.
"Keluar dari mobilku! Kau sudah sampai dirumahmu."
Luhan kembali melebarkan senyum childish-nya. Mood-nya berubah sangat cepat, itu membuat Sehun heran, sebenarnya makhluk seperti apa Luhan ini. "Terimakasih keparat, kau sudah banyak menolongku malam ini."
Sehun mengibaskan tangannya dengan wajah angkuhnya. "Aku muak mendengar kata terimakasih darimu."
"Aku akan mentraktirmu bubble tea, karna kau sudah mengantarku pulang. Bagaimana?" Luhan memandang Sehun masih dengan senyum kekanakannya.
"Enyahlah dari hadapanku, dengan begitu kau sudah membalas kebaikanku." Sehun kembali mengibaskan tangannya, membuat gesture mengusir Luhan keluar dari mobilnya. Luhan merubah ekspresi wajahnya, dia memandang Sehun dengan jengkel. Anak itu tidak bisa bersikap lebih bersahabat sedikit sepertinya.
"Oh! Jaketnya!" seru Luhan menyadari jika dirinya masih memakai jaket hitam milik Sehun. Luhan memanggil-manggil Sehun yang baru saja tancap gas dari hadapannya. Namun usahanya sia-sia saja, karna Sehun melajukan mobilnya dengan kencang.
Luhan menghembuskan nafasnya. "Aku tidak perduli siapa kau, keparat. Yang terpenting bagiku, kau adalah…penyelamatku." Luhan tersenyum kecil dan menyentuh jaket milik Sehun yang melekat ditubuhnya. Sehun sudah banyak menolongnya hari ini. Jika tidak ada Sehun, mungkin saat ini Luhan sudah terkapar dipinggir jalan.
Luhan tertawa kecil menyadari malam ini Ia lewatkan dengan kejadian-kejadian mengejutkan bersama Sehun. lalu pemuda itu berlari menuju halaman rumahnya. Kyungsoo pasti mengkhawatirkannya.
…
-oOo-
…
Sehun melangkah kedalam rumahnya dan langsung disambut dengan beberapa pelayan yang membungkuk padanya. Para pelayan itu menyapanya dengan ramah yang tidak direspon sama sekali oleh Sehun. Ia melihat kesekeliling rumahnya yang tidak berubah sama sekali sejak Ia meninggalkan rumah ini selama setahun. Sejak kembali dari Amerika, Sehun memang memutuskan untuk tinggal sendiri di Apartmen, dan untungnya tidak ada yang melarang sama sekali.
Yaa, karna memang tidak ada yang perduli denganku…
Sehun memandang sebuah foto besar yang berada diruang keluarga. Foto yang berisi dirinya, Ayahnya, Kakaknya, dan juga..Ibunya. foto itu diambil saat Sehun berusia 13 tahun, dan kini Ia sudah berusia 17 tahun.
Sehun tersenyum memandang wajah mendiang Ibunya disana. senyum yang belum pernah Ia tunjukan pada siapapun, dan juga senyuman yang sudah lama tidak tercipta diwajahnya. Sehun sangat merindukan Ibunya. Hidupnya terasa sangat menyedihkan tanpa wanita itu disisinya. Sehun sadar, dirinya bukanlah apa-apa tanpa sang Ibu. Semua ketidak-adilan yang dialami Sehun karna kepergian Ibunya. Tidak ada lagi yang menyayanginya seperti Ibunya.
"Eomma.."
Semakin Sehun memandangi wajah ibunya, maka semakin besar rasa bersalah pada dirinya sendiri. Sehun yakin dia tidak bersalah atas meninggalnya Ibu, tetapi rasa bersalah itu semakin tumbuh seiring berjalannya waktu. Rasa bersalah itu menggerogoti tubuh Sehun, membuatnya semakin tenggelam dalam lubang keputus-asaan.
Sehun sangat menyukai mata Ibunya. Terlihat sangat indah dengan manik coklat cerah, membuatnya terlihat seperti selalu berbinar dan bersinar. Dan akhir-akhir ini Sehun menemukan seseorang dengan mata yang mirip sekali dengan mata Ibunya. Seseorang yang sialnya sangat ingin Sehun jauhi.
Seseorang yang membuat Sehun benci padanya saat pertama kali bertemu.
Dan orang itu adalah..Luhan.
Dia memiliki mata yang sama dengan Ibunya. Sehun benci mengatakan ini, tetapi dia tidak bisa berbohong jika dia menyukai mata Luhan—hanya karna mirip dengan mata ibunya, oke? Tidak ada makna lain. Setiap melihat mata Luhan maupun bertatapan dengannya, maka Sehun seperti melihat mendiang Ibunya. Sehun tidak bisa memandang Luhan dengan lama, karna Sehun khawatir sesuatu yang tidak dia inginkan terjadi.
"Ada apa hingga kiranya kau pulang, Sehun-ah?"
Sehun mengalihkan pandangannya dari foto keluarganya, dan menoleh ke sumber suara. Dia menemukan seorang pemuda tengah menatapnya dengan ekspresi dingin tidak bersahabatnya.
Itu kakaknya.
"Aku tidak akan lama disini, hyung." Sehun dengan sengaja menekankan kata 'hyung' dan tersenyum kecil pada pemuda itu. bagaimanapun juga dia adalah kakak kandungnya, walau selama ini pemuda itu (mungkin) tidak pernah menganggapnya sebagai adik.
"Baguslah kalau begitu." Pemuda berkulit seputih susu sama halnya seperti Sehun itu membalikan tubuhnya dan melangkah menjauh. "Lebih bagus lagi jika kau langsung pergi sekarang juga, Sehun."
Sehun menghembuskan nafasnya kasar mendengarnya. Jika ada pepatah mengatakan; Rumah adalah tempat dimana kau merasa disayangi; tetapi bagi Sehun pepatah itu tidak berlaku untuknya. Rumah adalah tempat dimana dirinya merasa dibenci dan tidak dianggap menjadi seorang anggota keluarga oleh keluarganya sendiri. Bukankah sangat menyedihkan hidupnya?
"Jika sikapmu terus seperti itu, kuyakin tidak akan ada yang mau menyayangimu, keparat."
Sebuah kalimat yang diucapkan Luhan kemarin malam terngiang diotaknya. Sehun menarik satu sudut bibirnya keatas, membentuk sebuah seringaian tipis.
"Kalaupun aku berubah menjadi malaikat sekalipun, keadaan menyedihkan ini tidak bisa kembali seperti dulu, Ayam kecil."
..
…
-oOo-
…
..
Tobecontinued..
…
a/n :
Hai? Ada yang kangen sama aku?
Mau peluk aku?
Ohaha, hayu atuh, dengan senang hati kalau mau peluk aku mah ;33 cium juga boleh ehehe.
/abaikan ketidak-jelasan diatas/
Ceritanya makin ngebosenin kayaknya nih=_= gue gatau ngetik apaan itu wkwk. Ah iya, chapter ini cuma ngeceritain malemnya Luhan sama sehun doang yaa. Banyak moment Hunhan-nnya kan? MUEHEHEHE.
Untuk Kaisoo—sowreeh, mereka Cuma slight disini. Jadi maap ya maap, kalo ada yg haus moment Kaisoo :D
Dan juga gue mau mintaa maaf buat yang minta FF Kaisoo yang oneshoot, 89,5 TRFM sama Three idiots—gue belum bisa apdet :(( tapi ketiga ff itu sedang dalam proses. Gue beneran sibuk aned sekarang :(( jadi ngerasa bersalah sama yang minta gue rajin apdet kayak dulu. MAAP JUGA KALO BANYAK TYPO, GUE NGGA EDIT LAGI DUH. Maap, maap, karna gue tbtb menghilang beberapa minggu ini macem hantu dan balik dengan chap tidakjelas-_-
...terakhir, maukah kalian memaafkan segala kesalahan-kesalahanku dan tetap review?:'))
Well, see you in the next chapter:D
Yosh! Lafyu guys :*
[05/09/2015] [Anggara Dobby]
