Anggara Dobby
Not Perfect
..
Adult content. Hardscene. Boring! BL. YAOI. Bullying! GangsterLife! FailedAction!
HunHan—slight! Kaisoo and Chanbaek—
Oh Sehun. Lu Han.
..
…
..
"Kyungsoo, bisakah kau kecilkan sedikit besar matamu itu?" Luhan mengibaskan tangannya diwajah Kyungsoo, memberi gesture agar sepupunya itu berekspresi seperti orang normal pada umumnya. Sejak lima menit kepulangan Luhan, Kyungsoo masih betah membulatkan matanya yang memang sudah bulat itu kearah Luhan. memandang Luhan seolah-olah dia datang dari planet lain.
Dan itu membuat Luhan agak risih—juga takut.
"Kenapa kau bisa seperti ini?" tanya Kyungsoo yang pada akhirnya membuka suara. Masih dengat mata membulat, dia memperhatikan penampilan Luhan yang seperti perempuan malam itu. Kyungsoo tidak bisa bereekspresi banyak seperti berteriak saat melihat Luhan atau memanggil paman Kim untuk mengusir perempuan — yang ternyata Luhan— yang sembarang masuk kedalam rumahnya, dia hanya cukup membesarkan ukuran matanya, dan Luhan sudah tahu ekspresi macam apa itu. terkejut.
Sementara Luhan tengah berusaha melepaskan benda-benda aneh yang melekat ditubuhnya menjawab pertanyaan Kyungsoo dengan jengkel. "Aku di bully. Lebih baik aku dipukuli sepertimu, daripada harus didandani seperti ini dan ditinggalkan di area para jalang. Ini hari tersialku, Kyung."
"Luhan hyung.." Kyungsoo mendesah, memandang Luhan dengan prihatin. "Sekolah itu memang buruk sekali, sebaiknya kita harus cepat pindah dari sana."
"Aku juga berpikiran seperti itu." sahut Luhan. dari nada bicaranya, Kyungsoo menangkap keraguan disana. apa mungkin Luhan tidak ingin pindah dari sekolah itu?
"Tapi tadi Appa sempat menghubungiku, Perusahaannya sedang mengalami penurunan. Mungkin appa tidak bisa kembali minggu ini ke Seoul. Kita tidak bisa pindah sekolah jika appa tidak menandatangani surat kepindahan sekolah." jelas Kyungsoo dengan raut putus-asanya.
"Mau tidak mau kita harus bertahan disana sampai ayahmu kembali, benarkan?" ujar Luhan. "Lagipula aku..sepertinya, tidak ingin pindah sekolah."
"Apa?" alis Kyungsoo bertautan heran mendengar jawaban Luhan. apa karna kejadian malam ini otak Luhan agak tergeser?
Luhan meraih sebuah tissue dan membersihkan sisa-sisa make-up menggelikan yang masih melekat diwajahnya. "Kyungsoo-ya, aku ingin mencari tahu apa penyebab OX 86 menjadi sekolah yang sangat buruk. Tidak mungkin sekolah itu sejak pertama dibangun langsung buruk 'kan? Dan sepertinya bukan hanya muridnya yang bermasalah, tetapi guru-gurunya juga."
"Hyung, memangnya kau mau masa remajamu dihabiskan disekolah itu? kau akan menjadi bad boy seperti yang lain." Kyungsoo sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Luhan. dia baru saja dibully hari ini, dan Luhan malah ingin tetap tinggal di sekolah sana. Yang benar saja, Luhan pasti sudah gila.
"Ayolah, aku masih waras." ucap Luhan. "Aku ingin merubah sistem pembelajaran disana, beri aku waktu beberapa minggu—jika aku gagal, maka aku angkat kaki dari sekolah itu."
Luhan sudah sangat yakin dengan keputusannya itu. memang agak gila dan sangat sedikit kemungkinan keberhasilannya, namun Luhan tidak mau menyerah sebelum berusaha. Membaca kalimat-kalimat yang waktu itu Luhan lihat saat pertama kali Ia masuk sekolah —kalimat yang ditulis oleh Sehun— membuat Luhan ingin mengetahui latar belakang para murid di SMU 86. Bukannya ingin bersikap sok pahlawan, Luhan hanya ingin mengetahui saja. Jika dia gagal, maka Luhan akan segera pindah dari OX 86 Senior high school.
Hanya itu. tujuan Luhan hanya ingin mengetahuinya. Bukankah sangat sederhana?
Kyungsoo mengusap wajahnya dengan kasar. "Kau tidak akan bisa merubah sistem pembelajaran disana. murid-murid disana tidak mempunyai masa depan semua, mereka hanya pemberontak."
"Hey!" Luhan membentak Kyungsoo membuat pemuda kecil itu agak berjengit kaget.
"Hyung, kau membentakku!" rengek Kyungsoo tidak terima.
"Itu karna kau yang meremehkanku, dan lagipula jangan berbicara tentang masa depan seseorang. Kita tidak akan pernah tahu, Kyung."
"Baiklah, aku menyerah. Aku akan tetap disekolah sana dan menemanimu. Tetapi jika kau terlibat dalam dunia mereka, aku tidak mau lagi menemanimu." Kyungsoo mengalah, Luhan memang pemuda yang sangat keras kepala.
Luhan mengembangkan senyum lebarnya dan merentangkan tangannya, hendak memeluk Kyungsoo. "Kau memang sepupu terbaikku. Biar aku memelukmu sebentar Kyungsoo-ya!"
"Hyung jangan mendekat! Kau menggelikan sekali dengan gaun itu, aku risih melihatmu." Kyungsoo memundurkan tubuhnya, menghindar dari pelukan Luhan.
"KYUNGSOO!"
"Luhan hyung, jangan membentakku!"
…
...
"Ketahuan memakai obat ya, anak muda?"
"Hn."
"Pakai apa?"
"Obat penurun panas, kau puas, pak?" Sehun memberikan tatapan dinginnya pada salah seorang polisi yang kelihatannya masih baru disini. Jika dia polisi lama, maka dia pasti sudah mengenal Sehun dan tidak akan bertanya dengan pertanyaan bodoh seperti itu.
Kai menepuk bahu polisi yang masih cukup muda itu dengan gaya sok akrabnya. "Aku menjual beberapa macam psikotropika, kau mau? Hidupmu tidak akan membosankan dengan mengonsumsi itu, pak."
"Bedebah kecil." Geram si polisi. Dia hendak memberi pelajaran pada pelajar-pelajar berandal itu, namun kelima pemuda itu sudah digiring menuju ruang interogasi oleh dua orang polisi senior.
Diruang interogasi, Sehun serta teman-temannya duduk dikursi yang sudah disediakan dengan raut tidak bersalahnya—bahkan terkesan sangat santai, seolah-olah mereka akan baik-baik saja dan tidak akan dijebloskan ke sel tahanan. Ya, memang kenyataannya mereka tidak akan pernah bisa dijebloskan di sel.
"Aku bosan sekali mengunjungi tempat ini terus. Seperti mengikuti sebuah organisasi, kita datang kesini setiap seminggu sekali." desah Baekhyun dengan raut bosannya yang sangat kentara.
"Ini pasti akan sangat lama. Nasihat, petuah, ancaman, cemoohan—oh, aku bosan sekali mendengarnya." Kali ini Chen yang bersuara. Pemuda bersuara melengking itu menidurkan kepalanya di meja dan mulai memejamkan matanya.
"Jika kalian bosan, maka berhentilah berbuat kenakalan." Seorang polisi yang sering menangani mereka muncul dan duduk tepat dihadapan kelima pelajar itu. polisi yang usianya berkisar 40-tahunan itu bernama Jang Wooyoung.
"Memangnya apa yang sudah kami perbuat?" tanya Sehun dengan ekspresi bingung yang dibuat-buat.
Wooyoung mendengus sinis. "Beberapa kasus yang mungkin bisa membuat masa remaja kalian terbuang sia-sia disel tahanan."
"Membunuh seorang aparat kepolisian, balap liar, perkelahian antarpelajar yang membuat beberapa nyawa anak melayang. Dan untungnya tidak ada pesta narkoba seperti bulan lalu."sahut seorang polisi berbadan tegap lainnya yang Sehun kenali bernama Kangin.
"Benar-benar anak pemberontak yang tidak mempunyai masa depan." Wooyoung memulai cemoohannya seperti biasa. Tipikal seorang polisi yang selalu menghina beberapa penjahat kriminal agar dirinya merasa disegani dan ditakuti.
Chanyeol menyandarkan tubuhnya pada kursi dan menyahut dengan ketus. "Segini saja kemampuanmu dalam menginterogasi seseorang setelah belajar beberapa tahun? Sepertinya kau harus ikut kembali ujian kepolisian, pak."
Kedua polisi itu mulai menggertak meja didepan Chanyeol, berharap anak muda itu menunduk takut padanya. Namun apalah daya, Chanyeol memanglah pemuda dengan lidah setajam bisa ular dan tidak menciut takut hanya karna dipelototi oleh dua orang aparat kepolisian berbadan tegap.
"Aku sudah muak dengan kalian berlima, orangtua kalian pasti lebih muak dengan kalian. Ini keenam kalinya kalian datang kesini dan selalu bersikap kurang-ajar. Dasar anak-anak sampah!"
Mereka sudah biasa dengan cemoohan seperti itu.
"Ya, orangtua kami memang muak dengan kami. Maka dari itu kami dibuang dan menjadi seperti ini."sahut Kai.
Kangin mulai memandang Kai dengan pandangan geramnya. "Kalian bangga bisa bisa duduk disini? Bangga jadi pelajar yang bahkan tidak pantas-pantasnya disebut pelajar? Akan kuberi tahu pada kalian, sebentar lagi kalian akan tahu bagaimana hebatnya ruang tahanan ini dibuat. Bukan hanya membuat tubuh kalian dingin, tetapi ini seperti neraka dunia yang menjadikan berandalan bertattoo pun lupa dengan kegagahan mereka."
Kelimanya sama sekali tidak terpengaruh dengan ancaman itu. karna mereka yakin, para polisi-polisi bodoh ini tidak akan bisa memenjarakan mereka berlima.
"Aku merasa kecewa dan malu mendengar kalian bicara. Mengancam, mencemooh, lalu mengancam lagi—begitu anak kecil."desis Sehun. dia mengeluarkan beberapa gepok lembaran uang diatas meja yang tengah mereka tempati, lalu memandang dua polisi itu dengan sungging senyum mencelanya.
"Terimalah ini, dan semua persoalan selesai. Kau tidak perlu repot-repot menahan hasrat untuk menembak kami berlima karna jengkel dengan sikap kami."
"Apa kau mau menyogok lagi, tuan muda Oh?" Wooyoung memicingkan matanya kearah Sehun dengan pandangan geram yang sangat kentara. Sehun hanya mengangkat bahunya dengan acuh.
"Begini saja, Wooyoung-ssi. Jika aku dan keempat teman-temanku masuk ke sel tahananmu itu, lalu kau akan mendapat uang darimana? Kriminalitas dikota Seoul kebanyakan disebabkan oleh kami, dan jika kami masuk penjara—kau tidak akan ada pekerjaan, yang ada kau hanya mengurus kasus perampokan Bank yang sudah biasa atau kasus pemerkosaan anak kecil." tukas Chen. Dia memberi jeda sebentar, lalu melanjutkan dengan kepintaran berbicaranya itu.
"Bukankah itu sangat membosankan? Dan reputasimu sebagai polisi hanya dipandang sebelah mata karna hanya menangani kasus-kasus kelas rendahan. Jika kami kau bebaskan lagi, otomatis kau bisa terus mendapatkan uang dari kami. Uang yang kami berikan padamu bahkan empat kali lipat lebih besar dari gajimu, pak. Kau bisa membahagiakan anak dan istrimu dirumah. Lagipula aku dan teman-temanku tidak sampai membuat kasus besar seperti membunuh Presiden Korea atau mem-bom Negara ini hingga membuatmu kewalahan menanganinnya. Kami mempermudah pekerjaanmu, benarkan?"
"Sepertinya kau berbakat sebagai ahli debat, Chen." Baekhyun terkikik mendengar penuturan Chen yang menurutnya tidak masuk akal itu.
"Terimalah. Kau sudah membuat kami terlambat untuk kesekolah." Ujar Chanyeol dengan jengkel. Polisi-polisi keparat ini dengan seenaknya menyeret mereka berlima saat mereka hendak masuk kedalam area sekolah beberapa menit tadi, membuat Chanyeol jengkel setengah mati karna tidak bisa menikmati tidurnya dipojok kelas pagi-pagi seperti ini.
Setelah beberapa menit terdiam, dan pada akhirnya dua polisi itu menyetujui ucapan Chen. Mengambil uang yang tersedia diatas meja mereka, uang yang jumlahnya tidak sedikit itu cukup membuat kedua polisi itu tergiur.
Sehun, Chen serta Baekhyun menyunggingkan senyum miring mereka dengan bersamaan. Uang selalu menang disaat-saat seperti ini. Bahkan dinegara yang makmur seperti ini, uang bisa meruntuhkan segalanya—pangkat, jabatan, dan ketegasan. Contohnya saja dua polisi gila uang ini, mereka sudah meruntuhkan harga diri dan jabatan mereka dihadapan pelajar-pelajar badung seperti Sehun dan teman-temannya. Bukankah sangat memalukan menerima uang sogokan dari pelajar SMU?
Tetapi sekali lagi, uang adalah segalanya.
"Saat muda dulu, apa cita-citamu menjadi seorang polisi? Jika iya, berarti hidupmu sangat menyedihkan karna menjadi seorang penegak hukum yang bahkan tidak pantas disebut sebagai aparat kepolisian." Sehun memberikan senyum tipisnya dan membungkuk sopan, lalu berjalan pergi bersama teman-temannya meninggalkan ruang interogasi.
Sudah enam kali mereka datang kekantor kepolisian, dan sudah enam kali pula mereka berakhir seperti ini. Tidak dipenjarakan, malah dibebaskan. Entah sampai kapan kejadian ini akan berakhir. Ini sama saja seperti membiarkan para penjahat berkeliaran dikota dan membuat ulah terus-menerus.
"Ayahku bilang kita harus ke Tokyo besok." Ujar Kai.
Chanyeol yang tengah mengemudi, melirik Kai dari kaca spion dalamnya. "Terkadang aku ingin bebas dari semua ini, dan beraktifitas seperti anak normal lainnya."
"Kita tidak bisa seperti itu Yeol. Semua orang sudah menganggap kita sebagai anak-anak sampah." sahut Baekhyun yang duduk tepat disamping Chanyeol.
"kau ingin seperti anak-anak lain?" tanya Chen. "Menghabiskan hari-hari dengan belajar? Membaca buku hingga matamu minus dan memakai kacamata dengan lensa super tebal? Lalu kau akan dicap sebagai kutu buku dan menjadi korban bully-an anak-anak yang lebih kuat. Itu buruk sekali, Yeol."
Kai tertawa, entah untuk alasan apa. "Aku setuju dengan Chen. Jika kita bisa lebih kuat kenapa harus menginginkan menjadi yang lemah?"
Sementara Sehun hanya diam, tidak mengikuti perbincangan teman-temannya. Yang dia tangkap dari pembicaraan itu hanyalah keinginan Chanyeol yang ingin beraktifitas seperti anak normal lainnya. Sejujurnya Sehun juga ingin seperti itu, meninggalkan dunia kelam ini yang semakin membuatnya menjadi seorang pelajar pecundang. Tetapi sepertinya menjadi seorang gangster sudah menjadi darah daging dihidupnya.
Yang Sehun butuhkan adalah seseorang yang bisa merubah hidupnya.
…
..
…
"Sehun dan teman-temannya tidak ada, kau selamat hari ini Kyungsoo-ya." Luhan menepuk bahu sempit Kyungsoo. dia melirik kedalam kelas Kyungsoo yang ternyata lebih buruk dari kelasnya. Tetapi kabar bagusnya, tidak ada tanda-tanda Sehun dan teman-temannya didalam. Mungkin mereka membolos—pikir Luhan.
"Aku malas sekali bersekolah hari ini." Desah Kyungsoo lalu melangkah kedalam kelasnya. Meninggalkan Luhan yang memandang Kyungsoo dengan takjub. Ya, karna ini pertama kalinya dia mendengar Kyungsoo malas untuk bersekolah. Karna biasanya Kyungsoo adalah pelajar terajin sedunia karna senang sekali bersekolah, atau bahkan bisa dibilang Kyungsoo itu gila belajar.
Luhan melangkahkan kakinya, mulai menjauhi kelas Kyungsoo. namun dari arah yang berlawanan, Hoseok dan teman-teman keparatnya berjalan mendekati Luhan. membuat Luhan agak was-was. Apa lagi yang akan dilakukan anak-anak sialan itu padanya? Luhan sudah bersiap-siap meregangkan otot tangannya jika mereka macam-macam dengannya lagi.
"Aku ingin mengembalikan seragammu." Hoseok menyodorkan paper bag yang berisi seragam sekolah Luhan yang kemarin ia ambil.
Luhan mengernyit heran dan meraih paper bag itu dengan ragu. Jauh sekali dari ekspetasinya. Ia mengecek isinya dan ternyata memang benar itu seragamnya.
"Maafkan aku dan teman-temanku, Luhan." Hoseok dan ketiga temannya membungkuk pada Luhan, membuat pemuda manis itu bertambah heran. Ada apa dengan mereka? Apa mereka mau mengerjai Luhan lagi?
"Kami bersumpah tidak akan mengganggumu lagi." ujar Jimin. Luhan memerhatikan keempat pemuda didepannya, dan Ia baru sadar jika keempat anak itu memang memasang wajah menyesal yang serius. Menandakan jika mereka benar-benar ingin meminta maaf pada Luhan. Wajah mereka juga terdapat lebam-lebam keunguan seperti habis dipukuli atau mungkin…ditendang.
"Wajah kalian kenapa?" tanya Luhan tanpa bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Kami—" Hoseok hendak berbicara, namun tiba-tiba ia segera membungkam bibirnya dan memandang Luhan dengan takut. Sekarang apa lagi ini? Luhan bertambah bingung. Tetapi ada sesuatu yang janggal, fokus mata Hoseok bukan tertuju padanya. Melainkan kearah belakang Luhan.
"Kami harus pergi, Luhan." dan dengan secepat kilat, Hoseok dan teman-temannya berjalan terburu-buru meninggalkan Luhan yang masih tetap pada raut bingungnya.
Luhan membalikan tubuhnya, berniat melihat apa yang Hoseok dan teman-temannya takuti. Tetapi tubuh kecilnya langsung berhadapan dengan tubuh tinggi tegap milik seseorang. Lantas, Luhan mendongakan kepalanya dan melihat seorang Oh Sehun sudah memandangnya terlebih dahulu dengan tatapan mematikannya.
Jadi ini penyebab Hoseok dan teman-temannya pergi?
Pantas saja. Luhan juga rasanya ingin sekali pergi dari hadapan pemuda mengerikan ini.
"Minggir!" desis Sehun pelan seraya menggerakan jari telunjuk panjangnya kesamping, member gesture agar Luhan menyingkir dari hadapannya.
"Apa tangamu sudah kau obati?" bukannya menuruti perintah Sehun, Luhan bertanya tentang keadaan tangan pemuda dingin itu yang sempat terluka semalam. Jujur saja, Luhan agak khawatir melihatnya, bagaimanapun juga Sehun sudah menolongnya kemarin. Jadi mau tidak mau, Luhan harus mengesampingkan rasa bencinya dahulu pada Sehun.
"Memangnya tanganmu kenapa, Hun?" Kai yang memang berada disebelah Sehun segera meraih pergelangan tangan kirinya dan melihat telapak tangan pucat Sehun. selanjutnya Kai menggumkan kata 'Wow' melihat telapak tangan Sehun yang terdapat goresan luka yang cukup panjang.
"Kenapa anak ini bisa tahu?" Kai menunjuk Luhan dengan dagunya sendiri.
Sementara Sehun segera menghempaskan tangannya yang masih dipegang oleh temannya itu. pandangan matanya masih tertuju pada Luhan yang keras kepala tidak mau menyingkir menghalangi jalannya. "Apa pedulimu?"
"Aku bertanya bukan berarti aku peduli." Luhan mengalihkan matanya dari pandangan Sehun yang tiba-tiba membuatnya gugup.
"Sial, aku diabaikan." gerutu Kai.
"Sekarang menyingkirlah, Luhan." Sehun berujar dengan tenang, walau didalam hatinya ia ingin sekali mendorong kasar pemuda kecil dihadapannya agar segera menyingkir dari hadapannya. Entahlah, Sehun rasanya tidak pernah bisa untuk mengkasari makhluk menyebalkan didepannya ini.
"Wah, kau bahkan tahu nama anak ini—sebenarnya apa hubungan kalian?" celoteh Kai. Sehun segera melemparkan pandangan tajamnya yang sukses membuat Kai bungkam. "Baiklah, berhenti memandangku seperti itu Sehun."
"Apa kau tidak mengerti bahasa manusia?" geram Sehun.
Luhan mendengus sebal dan segera menyingkir dari hadapan pemuda arogan itu. setelah itu Sehun dan temannya yang Luhan tidak kenal sama-sekali melangkah pergi. Sehun benar-benar orang yang dingin dan tidak bersahabat, Luhan jadi urung untuk menanyakan hal yang menyangkut sekolah ini padanya.
"Lagipula kenapa aku bodoh sekali sampai-sampai berpikiran untuk bertanya pada si keparat itu?" gumam Luhan.
"Yixing tidak masuk sekolah lagi?" tanya Luhan pada Suho yang tengah mencatat sesuatu di buku catatannya. Luhan mendudukan dirinya disebelah pemuda itu dan menaruh kepalanya diantara lipatan tangannya diatas meja, memandangi wajah Suho yang serius dengan kegiatannya. Setidaknya disini Luhan masih mempunyai teman yang waras seperti Suho dan Yixing.
"Tidak, hari ini aku berniat ingin menjenguknya. Kau mau ikut?" Suho menoleh pada Luhan, Ia sedikit terkejut saat Luhan tengah memandanginya dengan mata berbinarnya yang cantik itu.
Luhan mengangguk antusias. "Aku mau. Tetapi sebenarnya Yixing sakit apa?"
"Entahlah. Maka dari itu aku ingin menjenguknya." Suho melakukan hal yang sama pada Luhan. menaruh kepalanya diatas lipatan tangannya dan memandangi wajah Luhan yang berada tepat dihadapannya. Wajah Luhan benar-benar membuatnya tidak mau berkedip. Dengan jarak sedekat ini, Suho bisa memperhatikan pahatan hampir sempurna didepannya. Luhan terlihat sangat indah, apalagi jika Ia tersenyum—maka Suho harus benar-benar memujinya. Suho berusaha merekam semua yang ada dihadapannya dengan jelas.
Oh sial, apa sekarang dia sedang terpesona pada Luhan?
Luhan tertawa kecil dan memukul kepala Suho. "Jangan menatapku seperti itu!"
"Jujur saja Luhan, aku sangat menyukai saat aku memandangimu."
Wajah Luhan merona tipis mendengarnya. Ditambah Suho mengatakan hal itu seraya tersenyum kecil, membuat Luhan menjadi sedikit gugup. Maka dari itu, Luhan mengangkat kepalanya dan memutuskan kontak matanya dari Suho.
"Junmyeon, aku ingin menanyakan sesuatu padamu." Ujar Luhan sekaligus mengalihkan pembicaraan. "Apa sekolah ini seperti ini dari dulu?"
"Aku tidak tahu, karna baru setahun yang lalu aku masuk ke sekolah ini."
"Jadi, kau murid baru juga?"
Suho mengangguk. "Mm-hm. sangat menyebalkan bukan bersekolah ditempat yang buruk seperti ini?"
"Kau benar. Kulihat seluruh murid disini adalah gangster, terlebih Sehun dan teman-temannya. Kau kenal dengan mereka 'kan?" tukas Luhan.
"Jangan bercerita tentang mereka padaku. Aku muak sekali mendengarnya." Suho mengibaskan tangannya acuh, dan memasang wajah yang tidak minat sekali untuk membahas Sehun dan teman-temannya.
Luhan mencebikan bibirnya sebal. ternayata Suho juga tidak bisa ditanyakan tentang sekolah dan murid-murid disini, karena alasan pertama dia adalah murid baru juga dan alasan kedua, dia membenci murid-murid disini. Bagaimana Luhan bisa tahu tentang seluk-beluk SMU ini?
Apa Luhan harus mengabaikannya saja dan segera pindah sekolah?
"Junmyeon, kau tidak berniat untuk pindah dari sini? Kau bukan salah satu gangster 'kan?"
Suho tertawa singkat. "Yang benar saja, Lu. aku adalah anak baik-baik, asal kau tahu saja. Dan untuk masalah pindah sekolah, aku tidak bisa."
"Kenapa?" tanya Luhan.
"Aku akan memberitahumu ketika aku sudah selesai mengurus semuanya."
…
..
…
Hari ini terasa begitu cepat untuk Luhan.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi membuat Luhan bahagia bukan main. Dia hanya mempelajari beberapa materi membosankan hari ini. Luhan menyebutnya materi membosankan, karna guru yang menjelaskan terlihat begitu malas-malasan dan kurang dapat dipahami. Kalau seperti ini terus, otak Luhan tidak akan maju ke taraf cerdas.
Pemuda manis itu buru-buru memasukan semua alat belajarnya ke dalam tasnya. Dia ingin melihat apakah Kyungsoo berakhir babak belur seperti kemarin atau tidak. Jika diwajahnya terdapat luka-luka lebam lagi, maka Luhan akan bersumpah akan mencincang Oh Sehun dan teman-teman keparatnya itu.
"Kau jadi ikut denganku untuk menjenguk Yixing kan?" ujar Suho. Heran melihat Luhan yang begitu terburu-buru. Suho mengambil beberapa buku catatan Luhan yang terjatuh, dan ikut memasukannya kedalam tas Luhan.
"Tentu saja, tetapi aku harus melihat sepupuku dulu."
"Sepupumu?"
Luhan mengangguk. "Iya, dia bersekolah disini juga. Kemarin dia dipukuli habis-habisan oleh sekawanan Oh-keparat-Sehun, maka dari itu aku harus memastikan apakah dia di bully lagi atau tidak." Celoteh Luhan. "Terimakasih, Junmyeon." Pemuda itu masih sempat tersenyum saat Suho membantunya.
"Kau juga harus berhati-hati dengan Sehun. jika dia mengganggumu, kau katakan saja padaku. Aku bisa membantumu." Suho dengan segala kebaikan hatinya menawarkan diri untuk membantu Luhan.
"Bukan dia yang menggangguku, tetapi aku yang selalu mengganggunya." Luhan terkekeh kecil, mengingat selama ini dia yang selalu bertemu dengan Sehun dan menyusahkannya. Pemuda manis itu menyampirkan tasnya dibahunya. "Aku akan menemui sepupuku dulu, kau tunggu disini ya?"
Luhan melambaikan tangannya dan berlari kecil menjauhi Suho yang terdiam. Bingung dengan apa yang baru saja Luhan katakan. Aku yang selalu mengganggunya—maksud Luhan apa? Apa dia dekat dengan Sehun? entah mengapa hal itu mengganggu pikiran Suho.
Kyungsoo membaca ulang setiap kalimat di secarik kertas ditangannya. Hanya berisi beberapa kalimat pendek, tetapi mampu membuat Kyungsoo tersenyum geli. Ingin tertawa tetapi rasanya tidak baik menertawakan ketulusan seseorang—itupun jika masih dibilang ketulusan. Karna di kertas kumal (seperti habis diremas) itu tertulis; Do Kyungsoo. jika pukulan menyakitkanku kemarin terlalu berlebihan, kau boleh membalasku lagi dengan pukulan yang setimpal. Aku tidak akan menangis sepertimu, cengeng!
Benar, itu dari Kim Jongin.
Pemuda berkulit Tan itu menyisipkan kertas itu dibuku catatan Kyungsoo saat bel pulang terdengar tadi. selanjutnya Jongin pergi dengan acuh seolah-olah tidak melakukan apapun pada Kyungsoo. Alih-alih berisi permintaan maaf,Jongin malah mengejeknya. Untuk orang sebrengsek Kim Jongin, kalimat-kalimat itu sama saja dengan perkataan 'Maafkan aku telah memukulmu kemarin.'
Kyungsoo tersenyum geli. Apa salahnya sih meminta maaf? Pasti harga diri seorang Kim Jongin sangatlah tinggi. Tetapi apapun itu, Kyungsoo bersyukur—setidaknya hari ini Kyungsoo tidak diperlakukan kasar oleh teman-teman sekelasnya. Dan Jongin sudah menyadari kesalahannya secara tidak langsung.
"Kyungie!"
Kyungsoo berjengit kaget mendengar teriakan melengking itu. ia mendapati Luhan berlari-larian kearahnya, lalu saat tiba didepannya langsung menangkup kedua sisi wajah Kyungsoo—mengeceknya kekanan-kekiri. Membuat kepala Kyungsoo pusing.
"Hyung, apa yang kau lakukan?!"
"Kau tidak dipukuli lagi?"
Kyungsoo menggeleng dan melepas tangan Luhan yang masih setia berada diwajahnya. "Tidak. Mereka tidak menggangguku sama sekali. Entah kenapa."
Luhan mendesah lega mendengarnya. "Syukurlah. Jadi, apa hari ini kau mau menemaniku?"
Kyungsoo mengedipkan mata bulatnya, bingung. "Kemana?"
"Aku ingin menjenguk temanku yang sedang sakit. Kau mau ikut?" tawar Luhan.
"Kau punya teman?" ulang Kyungsoo dengan nada pelan. Sedikit iri pada Luhan yang mempunyai teman disekolah ini, tidak seperti dirinya yang dianggap makhluk dari planet lain oleh murid sekelasnya. Kyungsoo anak baik-baik adalah hal yang asing dikelasnya. "Aku tidak ikut. Aku langsung pulang kerumah saja."
"Kenapa?" Luhan mulai merajuk seperti anak kecil.
"Aku malas saja." tolak Kyungsoo dengan acuh. Luhan mencebikan bibirnya lucu. Menyebalkan sekali sepupunya itu.
"Yasudah kau pulang duluan dengan Paman Kim. Aku bersama temanku. Omong-omong, dimana Sehun dan teman-temannya?" Luhan mengedari pandangannya kedalam kelas Kyungsoo. sepi sekali, itu tandanya Kyungsoo yang pulang paling akhir.
"Kenapa kau menanyakan mereka?"tanya Kyungsoo, bingung.
Luhan menunduk, menatapi sebuah jaket hitam yang berada ditangannya. Ini milik Sehun yang tertinggal semalam,dan Luhan berniat untuk mengembalikannya. Tetapi Kyungsoo tidak boleh tahu soal ini. Anak itu pasti akan menanyakan dengan sangat detail pada Luhan mengapa jaket Sehun bisa berada ditangannya. Sungguh, Kyungsoo itu tidak akan berhenti bertanya sebelum rasa penasarannya dipuasi—sama seperti Luhan.
"Aku hanya bertanya." elak Luhan. Kyungsoo menghadiahkannya picingan mata curiga, membuat Luhan mendengus gusar. "Benar, aku hanya bertanya. Jika tidak mau menjawab, tidak apa-apa."
Kyungsoo mendengus keras. "Mereka baru saja keluar dari kelas. Mungkin saat ini sudah berada dibawah."
"Terimakasih, Kyungsoo. aku pergi dulu." Luhan melambaikan tangannya dan berlari lagi untuk mengejar Sehun.
"Keparat! Berhenti!"
Seluruh pasang mata murid OX 86 yang berada diparkiran sekolah menoleh bersamaan kearah pemuda kecil yang berteriak barusan seraya berlari-lari menghampiri sosok dingin yang paling disegani disekolah.
Sehun memejamkan matanya geram, mendengar suara Luhan. dia tidak menghentikan langkahnya untuk menuju mobilnya yang terparkir diujung sana. Mengabaikan Luhan yang terus berteriak menyuruhnya berhenti. Bajingan. Mau apa sih ayam kecil itu mengganggunya lagi? Tidak cukupkah ia semalam sudah menyusahkan dirinya? Sehun benar-benar tidak habis pikir pada pemuda itu. ingin sekali rasanya langsung membunuh Luhan, tetapi sekali lagi—Sehun tidak bisa melakukannya.
Sial.
"Sehun, apa dia sedang memanggilmu?" bisik Baekhyun, menatap ngeri pada Luhan yang meneriaki Sehun dengan 'keparat' . "Wow, berani sekali dia."
"Handgun untukmu." Chen menyodorkan sebuah handgun kearah Sehun, siapa tahu pemuda dingin itu membutuhkannya untuk menembak Luhan dengan bibir kecil kurang ajarnya itu. tetapi Chanyeol segera merampas handgun itu dan melirik Chen dengan tajam. "Kau pikir membunuh seseorang diarea sekolah hal yang bagus?"
Chen merengut mendengar ucapan sinis Chanyeol. "Menurutku bagus." Gumamnya kecil.
"Oh Sehun! aku memanggilmu, sialan!"
Persetan kau Luhan!
Sehun geram bukan main. Disini banyak murid-murid lain, dan mau ditaruh mana harga diri Sehun saat dirinya dipanggil dengan kurang-ajar seperti itu oleh pemuda yang bahkan wajahnya tidak menakutkan sama sekali macam Luhan?
"Wah, keberanian anak itu patut diberi awards." Komentar Kai. Memandang takjub pada Luhan yang kini sudah berada dibelakang tubuh Sehun.
Pada akhirnya, Sehun berbalik, berhadapan dengan tubuh kurus Luhan. memandang Luhan yang tengah mengatur nafasnya yang tersendat-sendat karna terus berlarian. Hey, sekolah ini luasnya bukan main asal kalian tahu saja. Dan Luhan harus mengejar Sehun dari lantai dua hingga ke parkiran. Itu melelahkan sekali.
Sehun menghembuskan nafasnya kasar. Bingung harus melakukan apa kepada Luhan saking kesalnya. Lihatlah sekarang mereka berdua menjadi tontonan gratis murid-murid yang hendak mengambil kendaraan mereka.
"Aku hanya ingin mengembalikan jaketmu yang semalam tertinggal." Luhan menyodorkan jaket hitam ditangannya ke hadapan Sehun membuat anak-anak lain berbisik-bisik, apa hubungan mereka dan apa yang sudah terjadi diantara keduanya. Hal itu membuat Sehun ingin sekali membunuh satu per-satu anak-anak yang tengah berbisik-bisik membicarakannya.
Sehun menepis tangan Luhan, membuat jaket mahal itu terlempar ke tanah. Mata rusa milik Luhan mendelik sebal padanya, yang sama sekali tidak terpengaruh pada Sehun. dia malah terlihat seperti anak anjing yang sedang merajuk.
"Kau pikir aku mau memakai jaket itu setelah kau yang memakainya?" desis Sehun dengan angkuh. "Barang itu sudah menjadi sampah sekarang."
"Tapi itu milikmu!" mata Luhan melotot kesal—lucu. "Semalam kau yang memberinya langsung padaku, bukan aku yang memintanya! Bahkan kau memakaikannya di—hmp?!"
Sehun kehabisan akal. Otaknya sudah tidak waras. Silahkan katakan dirinya gila, sinting dan semacamnya. Karna saat ini, dirinya merunduk dan segera membungkam bibir Luhan dengan bibirnya sendiri. Satu-satunya cara agar Luhan berhenti mengocehkan hal yang membuat harga diri Sehun luntur. Tetapi nyatanya harga dirinya benar-benar akan luntur karna sudah mencium Luhan didepan teman-temannya.
Bajingan! Sehun benar-benar tidak bisa berfikir jernih. Luhan memandangnya dengan terkejut. Anak itu bahkan mencengkeram bahunya, tanda jika Ia tidak menginginkan ciuman menjijikan ini. Namun terlepas dari semua itu, Sehun belum bisa melepaskan tautan bibirnya pada Luhan. dia masih melumatnya dengan kasar dan menghisap benda kenyal yang terasa manis itu. tetapi tidak sampai pada tahap memasukan lidahnya kedalam mulut Luhan—Sehun masih cukup waras melakukan itu.
Samar-samar terdengar pekikan tertahan dari semua anak yang berada disana saat menyaksikan hal itu. Baekhyun bahkan harus membekap mulutnya sendiri melihat Sehun memagut bibir Luhan dengan kasarnya. Oh sial, apa besok akan terjadi bencana alam?
Luhan sendiri tidak tahu apa yang harus Ia lakukan. Mendorong tubuh Sehun pun sia-sia saja sepertinya mengingat tenaga Sehun yang kuat bukan main. Luhan tidak menginginkan ciuman ini. Ini—ugh, entah Luhan bagaimana harus mendeskripsikannya. Antara marah, jengkel, jijik dan—terbuai disaat bersamaan.
Mungkin ini akan menjadi sejarah bagi anak-anak OX 86 High School dimana hari sosok dingin yang tidak pernah mau disentuh oleh seseorang seperti Oh Sehun mencium si anak baru yang memiliki kadar penasaran tinggi dan mudah marah seperti Luhan. Woah.
Sehun melepaskan tautan bibir mereka, menyebabkan untaian liur diantaranya dan Luhan terputus. Dia melihat pemuda kecil itu menunduk seraya menghapus jejak saliva disudut bibirnya, telinganya memerah matang—dan Sehun yakin wajahnya pun juga begitu. Sehun mengusap wajahnya dengan kasar. Mencium Luhan adalah hal yang paling tolol yang pernah ia lakukan selama hidupnya. Sekarang apa kata semua orang? Mereka pasti lebih gencar membicarakan apa sebenarnya hubungan mereka, walau mereka nyatanya tidak mempunyai hubungan apapun. Selain si keparat dan si ayam kecil yang selalu bertengkar saat bertemu, tentunya.
Luhan mendongakan wajahnya membuat Sehun berhenti bernafas sejenak, entah untuk alasan apa. Wajah dengan kerlapan indah dimatanya itu membuat Sehun tambah tidak bisa berpikir jernih. Brengsek benar kau Luhan! kau sudah mengobrak-abrik otak Sehun dalam sejekap mata, sialan.
"Kau!" Luhan menunjuk Sehun tepat didepan wajahnya dengan sengit. Membuat Sehun memutar bolamatanya, enggan. Ekspresi Luhan sama sekali tidak menunjukan jika dia sedang kesal. "—benar-benar menjijikan! Keparat ulung! Aku—urgh, sangat Sehun sialan." Geram Luhan sampai menggertakan gigi kecilnya.
"Enyahlah dari hadapanku! Aku muak melihatmu." Sehun mengibaskan tangannya, menyuruh Luhan agar segera pergi dari hadapannya. Anak itu hanya membuat hari-hari Sehun kacau saja.
Luhan menghentakan kakinya jengkel, dan berjalan menjauhi keparat Sehun.
Sehun mendengus geli melihatnya. anak itu tidak memikirkan berapa usianya, masih saja bertingkah layaknya bocah ingusan.
Sehun mengedarkan pandangannya kearah murid-murid yang masih memperhatikannya. Pandangan datar nan arogannya cukup membuat anak-anak itu langsung menancap gas masing-masing, menghindari peluru senapan Sehun yang bisa saja tiba dikepala mereka sebentar lagi.
"Sehun—kau, astaga, tadi itu? kau melakukan apa? Kau baik-baik saja 'kan, temanku?" sial, Baekhyun cerewet sekali. Sehun jadi ingin melakban bibir tipisnya itu.
"Ini kesekian kalinya, aku bertanya. Apa hubunganmu dengannya?" tanya Kai dengan penekanan. Berusaha agar Sehun tidak mengabaikan pertanyaan pentingnya lagi. Tetapi rupanya Sehun masih betah mengabaikannya dan pertanyaan tidak bermutunya itu.
"Teman-teman, jangan menambah buruk keadaanku." Ucap Sehun pelan. "Aku butuh seseorang untuk kujadikan sasaran tembakku saat ini." Setelahnya pemuda itu langsung masuk kedalam mobilnya.
Chanyeol dan Chen berdecak malas pada Kai dan Baekhyun yang terlampau penasaran itu hingga mengikuti Sehun kedalam mobilnya. Biar saja kedua anak itu yang akan menjadi tumbal untuk kemurkaan Sehun saat ini.
Beberapa menit kemudian, setelah mobil-mobil mewah itu pergi. Seseorang muncul dari balik mobil hitamnya, dia memperhatikan kepergian Sehun dan teman-temannya seraya berbicara lewat sambungan teleponnya.
"Aku menemukan informasi baru. Sehun memang sepertinya memiliki hubungan dengan anak yang bernama Luhan. beberapa kali aku memergokinya saat Sehun menolong anak baru itu—kau dengar itu? Sehun menolong seseorang! Hal yang langka bukan?" pemuda berambut oranye gelap itu mengibas-ngibaskan selembar foto yang ia ambil beberapa menit yang lalu, saat Sehun mencium Luhan.
"Dan hari ini, Si keparat ulung itu bahkan mencium Luhan. mereka sepertinya memang benar-benar memiliki sesuatu. Kita bisa memanfaatkan Luhan untuk hal ini, memancing Sehun." pemuda itu mengulas seringaian berbahaya. Dan seseorang diseberang sana menyetujui ucapannya.
"Awasi mereka terus, Jungshin."
Pemuda itu tambah melebarkan seringaiannya. "Akan kulaksanakan, Yifan."
"Kenapa lama sekali?"
Luhan tersenyum tipis pada Suho yang ternyata memang benar-benar menunggunya didepan kelas mereka. "Ada hal yang harus kuurusi sebentar tadi. maaf jika membuatmu menunggu lama, Myeon."
Suho tersenyum seperti biasa dan mengusak rambut coklat madu Luhan. "Tidak apa-apa. Ayo kita berangkat."
"Ah, sebaiknya. Kau lepas almamatermu, Han."ujar Suho membuat Luhan mengernyitkan dahinya bingung. "Kenapa?"
"Orang-orang diluar sana selalu mempunyai pikiran buruk pada anak-anak OX 86. Daripada kau dan aku dituduh yang tidak-tidak, lebih baik melepas almamater sekolah ini dan menghilangkan tanda kalau kita bukan murid disini." Ujar Suho seraya melepas almamater yang melekat ditubuhnya. Sekarang dia terlihat jauh lebih tampan hanya dengan seragam putih dan dasi hitam yang menggantung disana.
Luhan mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti. Dia ikut membuka almamaternya dan menyimpannya kedalam tas. Benar-benar mengerikan sekolah ini. Sampai masyarakat umum saja mengecapnya sangat buruk. Mereka mulai berjalan beriringan menuju parkiran, tempat Suho menaruh kendaraannya disana. kembali lagi ke tempat parkir, membuat Luhan teringat kejadian beberapa menit yang lalu.
Sehun menciumnya—ugh. Luhan merasa terbakar dibagian wajahnya saat mengingat itu.
Apa yang ada dipikiran pemuda dingin itu sih sebenarnya? Luhan tidak bisa menebaknya sama-sekali. Dia bersikap kasar padanya, tetapi saat Luhan dalam keadaan susah, Sehun datang menolongnya—dengan tidak sengaja. Sehun selalu memakinya, tetapi tadi dia mencium Luhan dihadapan banyak orang. Dia gila, dan sinting! Dia seperti memiliki kepribadian ganda yang mengerikan.
Tetapi walau didalam hati Ia terus merutuki dan mengumpat pada Sehun. Luhan merasakan jantungnya berdegup duakali lipat dari biasanya. Tubuhnya serasa digelitik membuat Luhan merinding bukan main. Apakah ciuman Sehun sedahsyat itu hingga membuat Luhan merasa gejala-gejala aneh menyergapnya sekarang?
"Han, kau kenapa?" suara Suho membuyarkan lamunan Luhan.
"A—ah memangnya aku kenapa?" Luhan terlihat linglung sendiri.
Suho mendecakan lidahnya, gemas. "Kau mematung didepan pintu mobilku. Ayo masuk."
…
Mereka tiba di sebuah Rumah Sakit besar didaerah Cheongdam-dong.
Luhan berjalan-jalan disekitar lorong rumah sakit sebentar, seraya menunggu Suho yang bertanya pada resepsionis dimana pasien yang bernama Zhang Yixing dirawat. Saat berhenti didepan sebuah pintu ruang rawat, Luhan terlonjak kaget sedikit saat tiba-tiba seorang lelaki bertubuh tinggi menjulang keluar dari sana—yang artinya sama saja hampir menabrak Luhan yang berada didepan pintu.
"Maaf, kau tidak apa-apa?" Lelaki bersuara baritone itu bertanya pada Luhan yang jelas-jelas tidak kenapa-kenapa sedikitpun. Tersentuh saja tidak.
Luhan memperhatikan lelaki yang masih muda itu—sepertinya seumuran dengannya. Dia memakai sebuah jas putih seperti kebanyakan dokter lain pakai, namun terdapat logo sekolah di bagian dada kirinya. Menandakan jika Ia masih bersekolah di sekolah kedokteran. Lelaki itu tinggi, dengan tubuh tegap bak seorang model. Wajahnya tampan bukan main, dengan rahang tegas dan alis tebal. Matanya juga sangat tajam, seperti mata burung elang. Serta rambut pirangnya yang membuat dirinya semakin terlihat seperti Pangeran di masa lalu.
Wajahnya mengingatkan Luhan akan…Sehun.
"Maaf?"
Oh sial, Luhan memperhatikannya terlalu intens. Dia jadi malu saat lelaki itu memandang kearahnya dengan bingung.
"A—ah maafkan aku." Luhan membungkuk sekilas. "Aku tidak apa-apa, hehe."
Lelaki itu tersenyum tipis. "Apa..kau sedang mencari seseorang disini? Kelihatannya kau kebingungan sekali."
Luhan tertawa canggung. "Aku ingin menjenguk temanku yang sakit. Aku tidak tahu dimana ruangannya, tetapi temanku yang satu sedang bertanya pada resepsionis."
Lelaki itu mengangguk, paham. "Ehm, maaf. Apa aku boleh tahu namamu?" dia bertanya hati-hati pada Luhan. takut semisal anak didepannya malah menertawainya karna tiba-tiba menanyakan namanya. Tetapi sepertinya mustahil, melihat anak didepannya ini tipikal seorang yang ramah dan ceria.
"Aku Luhan." Luhan dengan santainya menyodorkan tangannya, berniat mengajak lelaki didepannya berjabat tangan untuk berkenalan.
Lelaki didepannya sempat terdiam beberapa detik, lalu menyembunyikan wajah terkejutnya dengan sebuah senyuman tipis. "Aku Yifan." Dia membalas uluran tangan Luhan.
Luhan hendak membuka bibirnya, ingin bertanya lebih lanjut—namun Suho tiba-tiba sudah berada disampingnya. "Han, aku sudah tahu dimana ruang inap Yixing. Ayo kita segera kesana."
"Ah iya. Yifan-ssi, aku pergi dulu." Sebelum pergi Luhan sempat membungkukan badannya sekilas dan melempar senyuman ramah. Lalu melangkah menjauh di lorong rumah sakit.
"Seharusnya kau jangan bicara pada orang asing, Han! Kau terlalu ramah, astaga."
"Memangnya kenapa? Aku 'kan hanya bersikap sopan."
"Kau itu—aish. Dasar bocah!"
Yifan memandangi punggung kedua orang itu. bisa dilihat teman Luhan tengah menceramahi pemuda manis itu sesekali menyentil keningnya hingga membuat Luhan mengaduh-aduh. Yifan tertawa kecil melihat Luhan. sikapnya kekanakan, dan sangat mudah baik pada orang lain. Dasar bocah tolol!
Tawa Yifan digantikan dengan sebuah seringaian tipis. "Jadi…dia orang yang sedang dekat denganmu, Oh Sehun?" memberi jeda sebentar,Yifan melanjutkan dengan bisikan berbahaya."Kalau begitu biarkan aku menjauhi kalian berdua dengan sebuah bencana yang tidak terduga."
…
…
…
"Yixing!"
Yixing terbatuk kecil saat Luhan menghambur ke pelukannya dengan tiba-tiba. Dia sangat terkejut dengan kedatangan Suho dan Luhan yang menjenguknya hari ini. Tidak menyangka ada juga orang yang menjenguknya dalam keadaan yang menyedihkan ini. "Kau sakit apa Xing? Kenapa harus dirawat seperti ini?"
Yixing tertawa dan meringis bersamaan kala lengan Luhan tidak sengaja menyenggol perutnya. Hal itu sontak membuat Luhan beringsut mundur panik. "Tidak apa-apa, Lu. aku tidak begitu sakit."
"Jelas kau sedang sakit, Xing." Suho berdecak kesal.
"Katakan padaku! Kau sakit apa?"cerca Luhan. Yixing tidak mungkin hanya sakit biasa. Buktinya terdapat beberapa luka perban dibagian wajahnya, dia seperti habis kecelakaan. Juga ada sesuatu yang terluka pada bagian perutnya. Luhan yakin itu, karna Yixing sempat berdesis nyeri saat lengan Luhan tidak sengaja mengenai perutnya—padahal hanya sentuhan biasa.
"Aku hanya kecelakaan biasa, Lu." Yixing tersenyum melihat Luhan yang begitu khawatir padanya. Mereka baru kenal selama beberapa hari dan Luhan sudah memperlakukannya seperti teman lama. Yixing senang bukan main.
Luhan mencebikan bibirnya kesal, namun sorot matanya sangat khawatir pada Yixing yang terbaring lemah diranjang kecil itu. "Berhati-hatilah jika berkendara."
"Nah, dengarkan kata Luhan, Xing. Apa kau ugal-ugalan dijalan seperti anak-anak lain ya? Hingga kecelakaan?" sahut Suho yang entah sejak kapan sedang mengupasi buah apel yang tadi dibawanya.
Jika Yixing sehat, maka dengan senang hati dia melempar kepala temannya itu dengan buah jeruk didekatnya. "Tidak! Aku tidak ugal-ugalan."
"Luhan.." Suho menyodorkan potongan apel kedepan bibir Luhan yang langsung dilahap oleh pemuda manis itu dengan senang hati. Membuat Yixing berteriak protes pada Suho. "Ya! Aku yang sakit disini, kenapa Luhan yang diberi buah?!"
Suho terkekeh menyebalkan, "Aigoo, uri Yixing merajuk rupanya." Dia menyuapi sepotong buah apel kemulut Yixing yang langsung diterima malu-malu oleh pemuda berdimple manis itu. Luhan tertawa melihatnya, Suho dan Yixing terlihat cocok jika menjadi sepasang kekasih.
Selanjutnya yang Yixing saksikan adalah Suho yang terus menggoda Luhan yang tengah mengupasi buah apel untuk dirinya sendiri. Entah itu mengejeknya ataupun sekedar mengganggunya, yang selalu dihadiahi pukulan dikepala Suho oleh Luhan. mereka tertawa bersama. Pemandangan itu sedikit mengganggu Yixing. Suho terlihat bahagia sekali, tawanya pun sangat lepas—dan arah pandangannya selalu menatapi wajah Luhan.
Yixing merasa ada yang nyeri dibagian dadanya. Ada apa ini? Yixing harus mengeyahkan perasaan ini bagaimapun caranya. Karna sampai kapanpun Suho tidak akan pernah bisa melihat perasaan sepihaknya…
Setelah menghabiskan dua jam disana. akhirnya Suho dan Luhan pamit untuk pulang. Hari sudah hampir malam, dan keduanya harus segera pulang kerumah masing-masing. Luhan terlihat tidak rela sekali meninggalkan Yixing sendirian diruang ini dengan keadaan yang cukup parah itu.
"Cepatlah sembuh Xing, agar bisa menemaniku disekolah." Suho tersenyum dan mengusap dahi Yixing sekilas membuat pemuda manis itu merona tipis. Dia sangat menyukai sikap Suho yang perhatian dan lembut itu. tetapi terlepas dari semua itu, Suho melakukannya hanya sebatas teman. mereka teman. Ya, hanya itu.
Luhan yang berdiri disebelah Suho mengangguk. "Kami pamit pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik,aku dan Junmyeon akan sering-sering menjengukmu."
"Terimakasih teman-teman. hat-hati dijalan!" Yixing melambaikan tangannya lemah kearah Suho dan Luhan yang mulai menghilang dibalik daun pintu. setelah kepulangan kedua temannya, Yixing kembali menidurkan kepalanya diatas bantal. Menghembuskan nafas halus dan tidak mau memikirkan lebih lanjut perasaan Suho terhadap Luhan.
Ponsel Yixing dimeja nakasnya berdering. Dengan sigap, Yixing terduduk dan menerima panggilan dari seseorang yang sangat penting itu. seseorang yang sudah menjamin hidupnya di Seoul beberapa tahun terakhir ini. Seseorang yang juga sudah menyeret Yixing kedalam kehidupan kelam anak-anaknya.
"Yeoboseyo, sajangnim?"
"Kau masih sakit,Yixing-ah?"
Yixing tersenyum tipis mendengar nada kekhawatiran itu. dia selalu baik padanya—bahkan terlalu baik hingga tidak pantas disebut seorang atasan kepada bawahan. "Sudah sedikit baikan. Sajangnim, maafkan aku—karna keadaanku sekarang, aku tidak bisa mengikutinya dan mengawasinya."
"Jangan menyalahkan dirimu, Yixing-ah. Bagaimanapun juga ini salahku yang menyeretmu kedalam semua ini. Kau tertembak, dan itu cukup membuatku terkejut saat mendengarnya dari salah satu asistenku. Jika aku sedang tidak ada di Amerika, aku pasti sudah menjengukmu. Apa kau diberi perawatan yang baik disana?"
"Ah, tidak perlu khawatir seperti itu Sajangnim. Aku baik-baik saja." Yixing terkekeh kecil. "Mungkin aku bisa mengawasinya dua hari kedepan lagi."
"Jangan paksakan dirimu. Aku masih mempunyai banyak mata-mata untuk mengawasi anak itu. kau istirahatlah dan pikirkan saja kesehatanmu terlebih dahulu."
"Nde, sajangnim." Yixing menaruh kembali ponselnya diatas meja nakas saat seseorang disana sudah memutuskan sambungan telepon mereka. Lelaki manis itu menyingkap baju Rumah Sakitnya dan terlihatlah sebuah luka dipinggir perutnya yang masih dibalut kain kasa. Yixing memejamkan matanya, luka itu masih berdenyut-denyut nyeri. Jelas masih basah dan baru.
"Aku tidak boleh menyerah hanya karna ini. Aku harus tetap mengawasinya dan patuh pada perintah tuan Richard."
TBC!
a/n :
Ini telat bgt publishnya. Tau kok, tau.
Apa alurnya terlalu bertele-tele? Maaf yaaaaaa kalo alurnya kelamaan, soalnya menurut gue masih harus banyak penjelasan disini. Lama-kelamaan bakal ketahuan kok siapa kakaknya Sehun, siapa Yixing, siapa Suho dan siapa Jodohnya Anggara Dobby/?
Yang minta Hunhan cepet jadian—sini gue sentil dulu hidungnya. Mereka belum ada benih-benih cinta, teman-teman. nanti aja pacarannya kalo udah ena-ena :D
Buat ff penuh konflik begini, susah lho gaiss. Makanya gue sering telat apdet. Karna biasanya kan gue sukanya buat ff yg ringan-ringan. Dan ini kerasa bgt beratnya/? Jadi mohon dimaklumi kalo telat melulu ya. Gue juga belum kepikiran gimana endingnya nanti. Sad atau happy. Tapi yg pasti gue lebih suka yg happy-happy :D
Ada yang gasuka karakter Luhan disini? Tapi gue sukaaa:D kalo nanti gue rubah lagi sifatnya Luhan, takut ngerubah alur ceritanya juga. Jadi buat yg suka aja yg baca, yang gasuka..sok atuh go away.
..
carolinekim : Pft, lu stalker gue ya dek? Tau bgt kalo gue lg nunggu2 ThehunGoGreen kambek xDD
Long : hai juga, Long. Lama gak ketemu/? Apakabar? Udah gemukan? Ciyee selamat ya/?
Cherry EXOL : Entah kenapa review kamu ngundang perhatian saya buat ngehibur kamu(?) Jangan bersedih dek. Ada kakak disini /apaansih
(itu saja sih. Pengen gue bales semua reviewnya tapi ini wordsnya udah kepanjangan-_- maaf ya.)
..
See you!
Anggara Dobby
[26/09/2015]
