©Anggara Dobby
Not Perfect
..
Adult content. Hardscene. Boring! BL. YAOI. Bullying! GangsterLife! FailedAction!
HunHan
Oh Sehun. Lu Han.
"Ciuman pertamamu."
"Berhentilah membahas itu, brengsek."
Jongin terbahak puas dan berlari sebelum Sehun memukul kepalanya dengan tongkat baseball miliknya. Sementara si pemuda dengan kulit pucat mendengus keras-keras, merasa geram bukan main dengan temannya yang satu itu. mungkin Jongin fikir itu adalah topik pembicaraan yang pas untuk dijadikan hiburan, tetapi bagi Sehun membahas soal ciumannya dan Luhan adalah suatu hal yang paling mengerikan untuk dibahas.
Sehun mengusap wajahnya dengan kasar. Dia benar-benar tidak tahu hal gila macam apa yang baru saja Ia lakukan. Mencium Luhan tepat dibibirnya dihadapan seluruh teman-temannya? Sial, itu memang hal yang sangat gila yang pernah Ia lakukan seumur hidupnya. Bahkan rasanya masih sangat jelas di pengecapan Sehun, bagaimana tekstur dan rasa bibir Luhan—oh shit, jangan dibahas. Sehun merasa ingin mengutuk dirinya sendiri.
Tetapi jauh didalam lubuk hati Sehun, dia merasa ada hal yang aneh saat dirinya dan Luhan berkontak fisik. Begitupula saat dirinya memandangi wajah Luhan, mustahil rasanya jika Sehun tidak memperhatikan bagaimana cantiknya wajah Luhan. Mata indahnya, hidung bangirnya, bibir kecilnya, dagunya—Sehun merasa tolol sekali sekarang karna membayangi wajah Luhan yang setiap harinya selalu mengganggu fikirannya.
Bodoh, apa sekarang kau mengakui jika kau mulai terjerat pesona bocah tengik itu?! Menyukai bocah yang jelas-jelas selalu membuatmu dalam kesusahan? Sadarlah Sehun, jangan menjadi seseorang yang tolol karnanya. Jatuh cinta adalah opsi yang paling sinting dihidupmu. Enyahkanlah Luhan dari pikiranmu, teman.
Sehun berdecak dan menyandarkan kepalanya pada kepala sofa. Otaknya serasa diputar-putar, pusing. Hanya memikirkan Luhan saja sudah membuat kepalanya pening. Memang benar, apapun yang berurusan dengan Luhan tidaklah pernah bagus. Perasaan Sehun seperti diombang-ambing. Dia jelas membenci kehadiran Luhan yang selalu mengganggu dan menyusahkannya, tetapi disisi lain ada rasa asing yang menyelimuti dirinya. Sehun tidak tahu apa itu, dan dirinya tidak akan mau tahu—karna perasaan itu pasti tidaklah bagus jika terus menerus ia biarkan tumbuh. Sekarang Sehun hanya bisa mengutuk takdirnya yang selalu buruk.
"Aku memang tidak pernah bisa menebak jalan pikiranmu, tetapi kali ini aku yakin kau pasti sedang memikirkan Luhan."
Sebuah suara bass yang sudah sangat Sehun hafal menyapa gendang telinganya. Sehun melirik kearah pemuda tinggi dengan telinga elf yang duduk disampingnya tanpa minat. Chanyeol terlihat memandang lurus kedepan—dimana ada sebuah teve yang menyala tengah menayangkan sebuah drama picisan, ditangannya ada sekaleng soda yang sudah siap untuk diminumnya. Wajahnya menampakan ketidak-sukaan sama sekali pada drama yang ada didepannya.
"Percuma jika aku mengelak. Kau memang benar, Park." Ucap Sehun. "Tetapi sayangnya aku tidak memikirkan Luhan seperti yang ada dibayanganmu. Aku memikirkannya bukan karna aku sedang jatuh cinta dengannya."
"Mulai menyukainya?"
Keparat kau Park Chanyeol!
"Menjijikan. Aku tidak akan pernah menyukai bocah tengik itu." sahut Sehun dengan wajah tergganggunya. Disebelahnya, Chanyeol mulai mentertawakannya. Bagus sekali, sekarang dirinya menjadi bahan tertawaan teman-temannya.
Chanyeol berdehem pelan, "Tidak apa-apa, Sehun. kau juga hanya pemuda biasa yang suatu-waktu bisa saja memiliki rasa ketertarikan dengan seseorang. Kau itu manusia, teman. bukan sebuah robot yang tidak memiliki hati. Suatu hal yang wajar jika kau menyukai seseorang."
Sehun memejamkan matanya, berusaha menulikan pendengarannya dari kalimat-kalimat yang diucapkan Chanyeol. dia menepis jauh-jauh jika dirinya menyukai Luhan—shit, Sehun sama sekali tidak menyukai anak itu. mana mungkin Ia menyukai pemuda dengan kadar penasaran yang tinggi dan terlampau ceria macam Luhan? dia sama sekali tidak pantas mendapat tempat dihati Sehun! dia bukanlah siapa-siapa yang berhak membuat dunia Sehun berubah drastis. Luhan sama sekali tidak berarti apa-apa untuk Sehun.
"Aku akan tetap menjadi diriku yang seperti ini selamanya, Chanyeol. Aku tidak akan pernah menyukai siapapun didunia ini, dan tidak akan membiarkan siapapun masuk kedalam hidupku. Aku sudah sangat nyaman dengan diriku yang seperti ini. Aku tidak butuh seseorang yang spesial dihidupku."
Chanyeol tersenyum miring mendengarnya. Dia memang tahu jika Sehun adalah seseorang yang sangat keras kepala dan berhati layaknya batu. Namun entah kenapa Chanyeol begitu yakin jika Luhan bisa mengubah segalanya. Mengubah pendirian Sehun yang tidak butuh siapapun didunia ini, Mengubah sikap dingin Sehun, dan juga mengubah hidup Sehun yang kelam dan jauh dari kata kebahagiaan.
Ya, Chanyeol yakin Luhan bisa mengubah semuanya.
"Tidakkah kau merasa ada yang aneh dengan Yixing? Dia.. seperti menyembunyikan sesuatu."
Suho menoleh pada Luhan. "Maksudmu?"
Luhan terdiam sesaat, seperti tengah berfikir. "Aku..tidak percaya jika Yixing mengalami kecelakaan kecil. Dia seperti banyak menyembunyikan sesuatu."
Suho membisu. Sebenarnya selama ini dia juga merasakan hal yang sama seperti Luhan, namun karna tidak ada seseorang yang bisa diajak berbicara hal ini, dia memilih bungkam. Berteman hampir setahun dengan Yixing tentu saja membuat Suho merasa ada yang aneh dengan gerak-gerik pemuda manis itu. Saat bel pulang sekolah berbunyi, maka Yixing langsung pergi dengan terburu-buru. Dia juga kerap kali tidak masuk sekolah tanpa alasan yang jelas.
Dan setiap Yixing tidak bersekolah, entah kenapa selalu bersamaan dengan absennya kawanan Sehun.
Hal ini membuat Suho mau tidak mau ikut mencurigainya.
Suho tersadar dari lamunannya saat mendengar Luhan terbatuk-batuk kecil disebelahnya.
"Ugh, sudah berapa lama perpustakaan ini tidak dikunjungi?" dengus Luhan, mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir beberapa kepulan debu yang muncul saat Ia membuka pintu perpustakaan.
Suho terkekeh melihat wajah tergganggu Luhan. "Kau tidak berniat mengajakku membaca didalam tempat kotor ini 'kan?"
Luhan meliriknya dengan sebal. "Tenang saja, aku hanya ingin melihat-lihat beberapa ruangan disekolah ini." Mata rusanya memandangi ke seluruh penjuru ruang perpustakaan. Tempat ini benar-benar sudah tidak terawat. Mungkin bisa dibilang tempat ini adalah sarang para serangga bukan sebuah perpustakaan. "Benar-benar buruk." Komentarnya dengan nada pelan.
"Lalu kau mau aku mengantarmu kemana lagi setelah ini?" suara Suho yang berada didepan pintu perpustakaan membuat Luhan menoleh. Pemuda itu tidak mau untuk masuk kedalam perpustakaan, karna banyak sekali debu yang bisa mengganggu pernafasannya nanti—begitulah katanya. Suho memang seseorang yang sangat menjaga kesehatan sepertinya.
"Beberapa ruang klub." Sahut Luhan.
"Baik. Kau harus membayarku setelah ini karna sudah menjadikanku sebagai Guide-mu."
Luhan tertawa kecil mendengarnya. "Akan kubayar nanti dengan gula-gula kapas oke?"
Suho mendengus geli, "Kau pikir aku masih bocah sepertimu?"
Pemuda berkulit seputih susu itu semakin tertawa saat mendengar protesan sebal Luhan didalam sana. Semakin lama, Suho semakin mengenal Luhan—dia kekanakan sekali, mudah terpancing sesuatu, mudah kesal namun juga mudah memaafkan, dan juga selalu ingin mengetahui sesuatu yang dianggapnya mencurigakan. Luhan itu seperti anak kecil yang selalu ingin mengetahui segalanya dan berusaha mencari tahu sendiri. Luhan itu agak unik dan periang. Suho sangat menyukai semua sifatnya itu.
…
"Ah, Han. Sepertinya aku tidak bisa menemanimu lagi." Suho melirik kearah Luhan setelah memandang kearah arloji hitamnya. "Ada sesuatu yang harus kuurus sebentar, Kau tidak apa-apa jika sendirian 'kan?"
Luhan mengangguk. "Tidak apa-apa. Lagipula kau sudah menemaniku ke beberapa ruang klub tadi. Terimakasih, Junmyeon-ah."
"Baiklah, aku pergi dulu." Suho baru saja akan berbalik, meninggalkan Luhan. tetapi Luhan secara tiba-tiba menahan pergelangan tangannya. Mau tidak mau Suho menghentikan semua pergerakannya.
"Apa?" Suho menahan degupan jantungnya yang berlomba-lomba membuat dadanya sesak saat melihat Luhan dihadapannya yang tengah tersenyum childish. Uh sial. Suho merutuk dalam hati. Luhan semakin membuatnya frustasi dalam jarak sedekat ini.
"Sebelum kau pergi, bisa beritahu aku dimana kolam renang sekolah?" tanya Luhan dengan kilatan mata polosnya.
Suho memejamkan matanya sejenak, berusaha mengendalikan suaranya agar tidak terdengar gugup. "Kau hanya perlu berjalan ke ujung koridor lantai dasar. Disana kau akan temukan pintu besar berwarna biru tua. Itulah kolam renang sekolah."
"Terimakasih, Junmyeon."
Suho mengangguk, dan merasa lega saat Luhan melepaskan genggamannya pada pergelangan tangannya. Percayalah, itulah penyebab yang membuat tubuhnya tiba-tiba sulit dikendalikan.
Luhan berjalan menuju ke kolam renang sekolah sesuai petunjuk dari Suho. Sekolah ini memiliki banyak klub-klub seperti sekolah lainnya, namun sayangnya tidak ada satupun murid yang berpartisipasi dalam klub-klub non-akademik ini. Luhan ingin mengajak mereka untuk mengikuti ekstrakurikuler yang ada disekolah ini, siapa tahu saja dengan mengikuti sebuah klub, murid-murid disini akan jauh lebih baik dari sebelumnya. Namun Luhan bukanlah seorang Pahlawan super yang bisa mengubah karakter buruk seseorang dalam sekejap mata. Mengajak murid-murid OX 86 dalam hal kebaikan pasti sangatlah sulit, karna keseharian mereka dihabiskan dengan kesenangan tidak berguna—mereka pasti sudah sangat nyaman dengan kebiasaan buruk itu.
Luhan masuk kedalam tempat dimana kolam renang sekolah berada. Seperti ruangan lainnya, tempat ini juga sudah tidak terurus. Kolam renang sekolah ini cukup besar dan bagus, tetapi sayangnya air didalamnya sudah keruh dan terlihat beberapa sampah bungkus makanan menggenang disana.
Luhan memberanikan diri untuk berjongkok dipinggir kolam renang, memperhatikan airnya yang sudah keruh. Luhan memang tidak terlalu pandai berenang, maka dari itu Ia sangat berhati-hati agar tidak terjatuh kedalam kolam renang ini yang sepertinya cukup dalam.
"Aku yakin pasti dulu banyak yang mengikuti klub renang." Gumam Luhan. klub renang pasti dulunya banyak diminati pada murid-murid, entah apa penyebabnya kini kolam renang ini sangat sepi.
Luhan menjulurkan tangannya, merasakan dinginnya air kolam yang menyentuh telapak tangannya. Seulas senyumnya mengembang di wajah manisnya. Suho tidak salah, sifat Luhan memang kekanakan—lihat saja sekarang, pemuda manis itu kini tenggelam dengan dunianya sendiri. Memainkan air kolam dengan tangannya sendiri.
Tanpa Luhan sadari ada bahaya yang mendekatinya.
Kaki yang terbalut sepatu hitam itu semakin melangkah, mendekati kearah Luhan yang berjongkok membelakanginya. Seulas senyum miring terpatri diwajahnya yang tertutupi sebuah masker hitam. Melihat posisi Luhan yang sudah sangat strategis untuk diserang membuat adrenalinnya semakin terpacu untuk segera menghabisi bocah manis itu.
Dia sudah berada tepat dibelakang Luhan. anak itu masih belum menyadari kehadirannya. Bukankah dia sangat bodoh? masuk kedalam kandang singa yang memang sedang mengincar dirinya. Sama saja Luhan menyerahkan tubuhnya untuk segera dimakan oleh singa kelaparan itu.
Tanpa menunggu Luhan menyadari kehadirannya, dia segera menendang punggung kecil itu dengan keras. Menyebabkan teriakan Luhan dan bunyi tubuhnya yang terjatuh kedalam kolam menggema diruangan itu. tidak cukup sampai disitu saja, seseorang dengan masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya itu ikut turun kedalam kolam renang. Bukan untuk menolong Luhan. melainkan menarik rambut Luhan dengan kasar dan semakin menenggelamkannya kedasar kolam.
Mati kau, Luhan!
Dada Luhan sesak, dia tidak bisa bernafas dengan benar. Belum lagi rasa sakit yang menjalari punggungnya, seperti baru saja ada sesuatu yang menghantam punggungnya dengan keras. Tubuhnya sudah sangat basah, dia tercebur kedalam kolam renang. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Ada seseorang yang sedang berusaha mencelakai dirinya dan Luhan sama sekali tidak bisa melawan. Mengingat dirinya tidak pandai berenang, dan kolam renang ini sialnya sangat dalam untuk seukuran tubuhnya yang kecil. Dia memberontak, berusaha melepaskan tangan yang mendorong kepalanya kedasar kolam. Tetapi usahanya nihil, hal itu hanya membuat Luhan semakin tidak bisa bernafas. Sebagian airpun sudah masuk kedalam mulutnya, membuat Luhan mual.
Sial, siapa yang melakukan ini padaku?!
Suara air yang beriak keras menggema diruangan luas itu, yang berasal dari pemberontakan tidak berguna Luhan. Tidak ada satupun seseorang yang bisa menolongnya kali ini. Bahkan Sehun sekalipun…
Luhan pasrah. Tubuhnya melemas, dan pandangannya menggelap.
Untuk yang terakhir kalinya Luhan bisa mendengar samar-samar suara tertawaan puas seorang lelaki—yang Luhan yakin adalah dia yang mencelakainya. Sebelum akhirnya tubuhnya benar-benar terasa ringan, dan semuanya menjadi gelap.
"Cepatlah ambil barangmu itu, satu jam lagi kita harus berangkat ke Bandara." Ujar Sehun dengan wajah tergganggunya —wajahnya memang selalu seperti itu— kepada Chen. Mereka akan berangkat ke Tokyo hari ini—tepatnya sekarang, tetapi sialnya Chen meminta Sehun untuk menemaninya ke sekolah untuk mengambil beberapa barangnya yang tertinggal disana.
"Baiklah, kau jangan kemana-mana. Aku akan bergerak cepat." Chen menunjuk wajah Sehun dengan sengit, lalu segera berlari menjauh.
"Dasar menyusahkan." desis Sehun. dia berdecak kecil melihat penampilannya yang harus memakai seragam sekolah lagi. Sehun tidak mungkin datang ke sekolah tanpa memakai seragam, bisa-bisa hal itu dicurigai oleh beberapa mata-matanya. Sehun tahu, ada banyak sekali murid-murid disini yang diam-diam mengawasinya. Entah mereka mata-mata musuhnya atau mata-mata Ayahnya. Yang jelas, Sehun selalu tahu siapa saja yang selama ini mengawasinya. Dia bukanlah seseorang yang bodoh yang tidak bisa membedakan mana yang benar-benar hanya sekedar melihatnya, dan mana yang terus mengawasi gerak-geriknya.
"A—apa? Jadi maksudmu menghabisi dalam arti yang lain? Bukan benar-benar menghabisinya hingga mati?"
Sehun melirik singkat kearah seorang siswa yang berdiri tidak jauh darinya, dia sedang berbicara lewat telepon. Posisi siswa berbadan kurus itu membelakanginya membuat Sehun tidak bisa melihat wajahnya. Seluruh tubuhnya basah, padahal tidak ada hujan sama sekali hari ini. Dia cukup mencurigakan.
"Apa peduliku?" dengus Sehun. pemuda berparas dingin itu kembali berkutat pada ponsel canggihnya. Mengirim pesan pada Baekhyun kalau dia dan Chen akan telat sampai ke Bandara.
"Ah sial. Bagaimana ini? Aku sudah benar-benar menenggalamkannya dikolam. Sudah bisa dipastikan saat ini dia sudah mati. Kenapa kau tidak bilang dari awal brengsek?! Apa kata boss nanti? Dia pasti akan membunuhku.. dan Sehun juga akan membunuhku.."
Sehun mengangkat sebelah alisnya. Apa-apaan ini? Kenapa namanya dibawa-bawa oleh siswa yang tidak dia kenali itu? dia benar-benar mencurigakan. Pasti ada yang tidak beres disini.
"Tentu saja Oh Sehun akan membunuhku jika dia tahu kekasihnya sudah mati karna kesalahanku—oh bukan, ini salahmu, brengsek. Argh sial! Aku harus apa sekarang? Tidak mungkin aku kembali kekolam renang dan menyelamatkannya 'kan? Itu pasti mustahil!"
"Kekasihku? Mati?" entah kenapa Sehun jadi penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh siswa itu dengan temannya diseberang telepon. Jelas-jelas ini menyangkut dirinya. Tetapi siapa yang dibunuh oleh siswa itu? Sehun jelas tidak mempunyai seorang kekasih—dan dia mengatakan sudah membunuh kekasihnya. Oh menggelikan sekali. Dia pasti salah orang. Dan siswa itu pastilah kaki-tangan musuhnya yang ingin mencoba menghancurkan Sehun dengan cara kuno.
Sekelebat bayang seluruh murid yang tengah membicarakan dirinya menghampiri otak Sehun. pembicaraan yang membuat Sehun muak sekali. Tentang hubungannya dan Luhan—karna insiden ciuman kemarin. Bahkan beberapa wanita menggosipi jika Luhan adalah kekasih Sehun. walau jelas-jelas para wanita itu tidak melihat kejadian ciuman itu secara langsung, namun para wanita itu pandai sekali mengarang cerita hanya demi memuaskan hasrat perbincangannya.
Tunggu!
Luhan.
Si ayam kecil itu—pasti bukanlah orang yang.. dibunuh oleh siswa itu kan?
Entah kenapa pemikiran itu membuat Sehun tidak nyaman. Siapa lagi orang disekolah ini yang digosipi sebagai kekasihnya selain Luhan? tidak, tidak. Tidak mungkin Luhan. walau Sehun tidak mengenal pemuda itu lebih jauh, namun Sehun tahu persis bagaimana sikap Luhan—dia tidak mungkin mudah untuk dibunuh atau diserang. Dia memiliki kadar keberanian yang tinggi yang sulit untuk melawannya dalam waktu singkat.
Tetapi tetap saja Luhan adalah sosok yang lemah, Sehun-ah.
Sehun menggeram rendah sebagai balasannya. Pemikiran ini semakin membuatnya tidak nyaman. Sial, ada apa dengan dirinya? Apa sekarang dirinya sudah mulai mengkhawatirkan Luhan?
Brengsek, brengsek. Sehun ingin sekali mengutuk dirinya saat ini.
Saat Sehun ingin melangkah mendekati siswa itu, tetapi secara tiba-tiba siswa bertubuh kurus itu membalikan tubuhnya—hingga langsung berhadapan dengan Sehun. siswa itu nampak sangat terkejut hingga melebarkan kedua bola-matanya keukuran maksimal. Bibirnya seketika memucat seiring genggamannya pada ponselnya melonggar. Ekspresi terkejut dan takut yang sangat berlebihan. Sehun mendecih melihatnya. Apa wajahku semenyeramkan itu?
"Aku akan mengingat wajahmu—" Sehun melirik kearah name-tag siswa itu. "—Jung Daehyun-ssi." Desisnya bagai seekor ular.
Siswa itu terlihat meneguk liurnya dengan kasar sebelum pada akhirnya berjalan terburu-buru melewati Sehun.
Sehun tidak tahu siapa yang sudah anak itu celakai. Tetapi perkiraan besarnya adalah Luhan. tunggu! Jika Sehun mengira yang didalam kolam sana adalah si ayam kecil itu, berarti secara tidak langsung dirinya mengakui jika Luhan adalah kekasihnya? Sial sekali. Sehun dibuat semakin kacau dengan pemikirannya. Dia melirik kearah pintu kolam renang dengan perasaan bimbang. Apa dia harus masuk kesana? Dan memastikan siapa yang sudah terbujur kaku disana?
Tidak. Untuk apa Sehun mengurusi hal konyol macam ini? Siapapun yang ada didalam sana, Sehun tidak mau peduli padanya sama sekali.
Sehun mengumpat dalam hati, dan pada akhirnya kaki panjangnya melangkah menuju kolam renang sekolah. Dia ingin memastikan siapa orang malang yang sudah mati karna dikira sebagai kekasih Oh Sehun —yang memang mempunyai banyak musuh dimana-mana— banyak yang tidak suka melihat Sehun bahagia, pastilah mereka akan mengincar orang yang disayangi Sehun sebagai kelemahan pemuda berparas dingin itu. karna berusaha mencelakai Sehun sama saja menyerahkan nyawa sendiri pada dewa kematian—maka dari itu mencelakai orang yang disayang oleh Sehun adalah hal yang mudah untuk membuat Sehun hancur.
Tetapi mereka salah. Saat ini bahkan tidak ada satupun seseorang yang Sehun anggap sebagai kekasihnya.
Netra tajamnya menangkap seseorang yang sudah mengapung diatas kolam. Sehun semakin mendekat, berusaha mengenali siapa siswa itu. oh sial, dia lelaki—jadi musuh-musuhnya mengira Sehun mempunyai kekasih seorang lelaki?
Sehun memicingkan matanya. Dia seperti mengenal siswa itu. Rambut yang berwarna coklat madu, tubuh kecil—Luhan?! Sehun yakin dia adalah Luhan. dilihat dari segi manapun, Sehun bisa mengenalinya.
"Brengsek." Sehun menggeram tanpa alasan yang jelas. Tanpa sadar dia mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Dengan kemarahan yang meledak-ledak, Sehun memanggil-manggil Luhan. walau nyatanya mustahil karna Luhan pastilah tidak akan bisa menjawab dengan keadaan seperti itu.
"Luhan!"
Sehun membuang nafasnya kasar. "YA! Luhan!"
Sehun bergerak dengan panik. Menimbang-nimbang apakah dia harus turun kesana? Dan menyelamatkan Luhan? dia tidak cukup berarti untuk diselamatkan olehnya, Sehun juga seharusnya tidak boleh ada disini. Dia harus pergi dari sini. Tidak seharusnya dia mempedulikan Luhan yang entah sudah mati atau belum disana. Luhan bukan siapa-siapanya. Dia tidak berarti untuknya.
Ya, seharusnya Sehun melakukan semua itu—meninggalkan Luhan. tetapi kenyataannya saat ini dengan gerakan refleks, dia membuka almamater sekolahnya dan segera terjun kedalam kolam renang. Sehun agak menggigil merasakan dinginnya air yang memeluk seluruh tubuhnya. pemuda itu berenang menuju kearah Luhan yang terdiam kaku. Bajingan! Sudah berapa lama Luhan menggenang disini? Anak itu bisa mati kapan saja jika Sehun tidak datang menolongnya. Dengan umpatan-umpatan kasar didalam hati, Sehun segera menarik lengan Luhan dan mendekap anak itu erat-erat. Dia sempat memandang kearah wajah Luhan yang sudah sangat pucat. Hal itu membuat Sehun bergerak cepat untuk segera membawa tubuh Luhan kedaratan.
Sehun mengatur nafasnya setelah berhasil membawa Luhan ke pinggir kolam. Beberapa tetes air yang berasal dari rambut Sehun terjatuh ke wajah Luhan yang memucat. Luhan tampak begitu mengenaskan, namun paras manisnya tidak hilang sama sekali saat keadaannya seperti ini. Sehun semakin frustasi melihat wajah Luhan.
"Hei, Luhan." Sehun menepuk-nepuk pipi putih itu cukup kasar, dia sedikit panik. Sehun meraih pergelangan tangan Luhan, mengecek denyut nadinya. Hembusan nafas lega keluar dari bibir Sehun saat nadi Luhan masih berdenyut dengan normal. Hal itu cukup membuat Sehun lebih tenang dari sebelumnya. Tetapi walaupun seperti itu, Sehun harus tetap berusaha membangunkan anak ini, sebelum keadaannya semakin parah.
Dia menaruh kedua tangannya didada Luhan, menekan-nekannya agar air didalam tubuh Luhan bisa keluar. Namun hasilnya nihil. Luhan sama sekali tidak menunjukan akan memuntahkan air dari mulutnya. Sehun mengumpat. Dia menatap lama pada bibir pucat Luhan—haruskah…dia memberi nafas buatan? Sehun tidak pernah membayangkan akan menolong seseorang sampai sejauh ini. Pada akhirnya, Sehun menyerah. Lelaki itu memegang kedua pipi Luhan dan mendaratkan bibirnya (lagi) pada bibir Luhan. Memberinya nafas buatan agar anak ini cepat sadar dan tidak lagi menyusahkan dirinya.
Perut Sehun tergelitik, dia merasa sangat tolol melakukan semua ini. Entah ini sudah keberapa kalinya dia menolong Luhan. yang jelas Sehun bersumpah dalam hati, ini adalah terakhir kalinya dia menolong Luhan. Sehun tidak mau lagi berurusan dengan Luhan.
Sehun cepat-cepat menjauhkan wajahnya saat merasakan Luhan tersedak kecil. Luhan tidak boleh tahu apa yang baru saja Ia lakukan. Dia memandangi Luhan yang terbatuk-batuk dan memuntahkan air dari mulutnya. Perlahan kelopak mata pemuda manis itu terbuka, dan manik indahnya langsung bertubrukan dengan manik tajam Sehun yang memang sedang memperhatikannya.
"Sehun?" Luhan bersuara pelan. Dia mendudukan dirinya, mengabaikan tubuhnya yang masih terasa lemas demi melihat dihadapannya benar-benar Sehun atau bukan. Dan itu benar, Sehun kini dihadapannya—dengan seluruh tubuhnya yang basah. Sehun menyelamatkannya lagi?
"Bagus jika kau sudah sadar." Sehun berucap dengan sangat dingin. Dia segera berdiri dan meraih almamaternya yang tergeletak tidak jauh dari mereka.
"Sehun, tunggu!" Luhan ikut berdiri. "Kau yang menolongku?"
"Menurutmu?" Sehun menyunggingkan senyum mencelanya, dan melangkah menjauhi Luhan. urusannya dan si ayam kecil itu sudah selesai. Dan Sehun tidak perlu repot-repot menjelaskan apa yang sudah terjadi. Sial, sekarang penampilannya berantakan sekali. Memang benar, semua yang berhubungan dengan Luhan tidaklah bagus.
Sementara itu Luhan berjalan, mengikuti Sehun. kepala Luhan terasa sangat berat, dia merasa mual dan sangat pusing. Luhan mengabaikan semua itu, dia hanya ingin mengucapkan terima kasih pada Sehun yang lagi-lagi menjadi penyelamatnya. Luhan juga merasa agak bersalah pada Sehun yang kini seragamnya telah basah semua. Anak itu pastilah merutukinya lagi.
"Sehun!"
Sehun menulikan pendengarannya pada Luhan yang memanggil-manggilnya dibelakang. Persetan dengannya! Yang Sehun inginkan sekarang adalah menjauh darinya, tidak berurusan lagi dengannya agar pikiran dan perasaannya tidak terombang-ambing lagi.
"Seh—"
BRUGH!
Sehun segera menoleh kebelakang mendengar suara debaman kecil itu. pemuda tampan itu mengusap wajahnya dengan kasar melihat Luhan yang sudah tergeletak pingsan. Bedebah! Apa lagi ini sekarang? Apa harus dirinya yang menyelamatkan anak itu lagi?
"Luhan kau itu—" Sehun menggeram kesal. Dengan langkah cepat-cepat dia menghampiri tubuh mungil Luhan. menghembuskan nafas kasar, Sehun mulai mengangkat tubuh kecil Luhan. menggendongnya seperti para pengantin —sial, ini menggelikan sekali— untuk membawa Luhan menuju Unit kesehatan sekolah.
"Tidak ada pilihan lain. Anggaplah hari ini aku sedang berbaik hati."
Dan pada kenyataannya kau memang selalu berbaik hati pada Luhan, Sehun-ah.
Sehun menatap lekat-lekat kearah Luhan yang masih terpejam dihadapannya. Dia merasa heran sekali dengan pemuda yang kini terbaring diranjang kesehatan sekolah ini. Baru beberapa hari mereka bertemu, tetapi hebatnya Luhan sudah berhasil mengacak-ngacak pikiran Sehun. lihat saja sekarang, dengan bodohnya Sehun bahkan membiarkan seragam sekolah serta almamaternya terpakai ditubuh kecil Luhan. setelah merutuki pengurus kesehatan sekolah yang memaksanya agar meminjamkan seragamnya untuk Luhan, Sehun kini duduk disebuah kursi yang berada disisi ranjang yang sedang Luhan tempati. Memperhatikan wajah bocah itu yang masih memucat. Ya, Luhan harus berterimakasih pada Sehun yang menyimpan seragam lain dilokernya, membuat tubuh mungilnya kini tidak lagi terselimuti air.
Mengabaikan penampilannya yang masih basah, Sehun menjatuhkan kepalanya diatas lipatan tangannya yang berada dipinggir ranjang. Menenangkan sejenak tubuhnya yang tiba-tiba merasa lelah. Dia tidak tahu mengapa rasanya begitu panik sekali saat melihat Luhan dalam keadaan seperti ini. Oh sial, dia memang tidak menyukai Luhan. namun ini pastilah gejalanya. Sehun tidak bisa membiarkan ini berlanjut! Brengsek, ini menjijikan.
Sehun mengangkat kepalanya, hanya untuk memperhatikan wajah Luhan. dilihat dari jarak sedekat ini, wajah Luhan begitu halus saat dipandang—begitu manis dan polos. Bagaimana rasanya jika Ia mendaratkan tangannya dipipi putih itu? kenapa dia begitu bodoh karna baru menyadari jika Luhan memang benar-benar..indah? pemikiran itu semakin membuatnya pusing. Dia pastilah sudah tidak waras karna secara langsung telah memuji anak sialan bernama Luhan.
Sehun menggelengkan kepalanya. Ini tidak boleh terjadi. Dia harus menjauhi Luhan.
"Sehun.."
Jantung Sehun seperti mencuat keluar saat tiba-tiba Luhan menggenggam tangannya, seperti menahan dirinya agar tidak pergi. Dia menahan nafas saat kelopak mata Luhan terbuka, menampilkan bola matanya yang sangat bening dan jernih. Untuk sesaat Sehun tidak bisa merasakan kakinya menapak kedaratan, dia seperti masuk kedalam dimensi lain saat Luhan memandangnya seraya tersenyum tipis.
Palingkan wajahmu, Sehun. palingkan! Jangan balas memandangnya!
"Terima kasih, kau sudah menolongku lagi hari ini.." bisik Luhan masih dengan senyuman kecilnya. Sorot matanya begitu tulus, membuat Sehun mengepalkan tangannya kuat-kuat. Apa baru saja dia berniat membalas senyuman Luhan? dirinya pasti sudah gila!
Sehun memalingkan wajahnya, tidak bisa berlama-lama memandang Luhan. dengan kasar, dia menepis tangan Luhan yang berani-beraninya menggenggam tangannya. Cih dia pikir dia siapa? Sok akrab sekali.
"Dan terimakasih karna sudah menyusahkanku untuk yang kesekian kalinya." Balas Sehun, ada nada kegeraman disana. dengan cepat, dia bangkit dari duduknya dan meninggalkan Luhan. Chen pasti sudah menunggunya. Mereka harus cepat ke Bandara sekarang. Tidak ada waktu lagi bagi Sehun untuk mengurus si ayam kecil itu.
Luhan memandangi punggung tegap Sehun yang menghilang di balik pintu. dia memberengut kesal. Sehun itu aneh sekali. Pemuda itu jelas sangat tidak menyukainya, tetapi kenapa terus menyelamatkannya? Tetapi walaupun seperti itu, Luhan tetap sangat berhutang budi pada Sehun.
Dia adalah penyelamatnya.
Sehun adalah pahlawannya.
Entah kenapa Luhan begitu mempercayai jika Sehun akan selalu melindunginya. Pemuda dingin itu memang sangat merasa terganggu dengan kehadirannya, namun seperti disebuah skenario—Sehun selalu datang tepat waktu saat dirinya butuh bantuan.
Tanpa sadar, Luhan kembali melebarkan senyumnya. Kali ini lengkap dengan pipinya yang memunculkan sebuah semburat kemerahan tipis. Manis. Oh, apa sekarang dia mulai menyukai kehadiran Sehun?
Kyungsoo berjalan terburu-buru menuju ruang kesehatan. Berterimakasihlah pada Taehyung yang memberitahunya jika Luhan saat ini berada disana. walau anak itu memberitahunya dengan penyampaian yang salah; Hei mata bulat! Sepupumu yang bernama Luhan itu sedang sekarat di ruang kesehatan. Kau tidak pergi kesana untuk mengucapkan kata-kata terakhir? ; kurang lebih seperti itu. Kyungsoo berusaha menahan diri agar tidak mencekik pemuda bermata sipit itu.
Kyungsoo berjengit kaget kala sesosok pemuda tinggi baru saja keluar dari ruang UKS dengan terburu-buru. Sehun meliriknya sebentar, lalu melanjutkan jalannya. Mau tidak mau berbagai pertanyaan muncul diotak Kyungsoo. Apa yang Sehun lakukan pada Luhan? dia pastilah penyebab Luhan berakhir di ruang kesehatan sekolah.
Tidak sengaja mata bulatnya melihat pemuda lain yang berdiri didepan pintu ruang UKS seraya memandangi punggung Sehun yang menjauh. Kyungsoo bisa melihat tatapan ketidak-sukaan yang dilontarkan pemuda itu untuk Sehun. bahkan tatapannya terlalu tajam dan dingin. Ugh, apa murid-murid disini memang bermusuhan semua?
"P—permisi.." Kyungsoo sempat menahan nafas saat pemuda berkulit seputih susu didepannya meliriknya dengan dingin. "Apa kau ingin masuk kedalam? Jika tidak, bisa kau berikan aku jalan untuk masuk kedalam?"
Pemuda itu tidak menjawab, dan memilih masuk kedalam tanpa menghiraukan Kyungsoo yang menggeram kecil, sebal.
"Luhan, kenapa kau bisa ada disini?!"
'Dia mengenal Luhan hyung?' —batin Kyungsoo. "Luhan hyung, kau tidak apa-apa? Taehyung bilang kau dicelakai seseorang?" Kyungsoo buru-buru menghampiri Luhan yang sedang terduduk diatas ranjang kesehatan sekolah. Menyela pemuda yang tidak dia kenali, membuat pemuda itu memandangnya heran. Kyungsoo khawatir sekali dengannya. Dan syukurlah Luhan saat ini terlihat baik-baik saja. Dia bahkan masih bisa tersenyum kekanakan saat ini.
"Dicelakai?" Suho —yang Kyungsoo sebut sebagai Sehun kedua— itu ikut menghampiri Luhan. dia ikut memandang Luhan dengan cemas, membuat Kyungsoo yakin jika dia adalah teman Luhan.
"Mm-hm. saat aku mengamati kolam renang sekolah tadi, ada seseorang yang tiba-tiba mendorongku. Aku tidak pandai berenang, dan ditambah seseorang itu menenggelamkanku. Well, beginilah akhirnya." Jawab Luhan. dia memandang Kyungsoo dan Suho bergantian.
Suho mendesah panjang. "Maafkan aku, seharusnya aku menemanimu tadi."
"Bukan salahmu." Luhan tersenyum kecil.
"Apa kau melihat siapa yang mencelakaimu? Lalu bagaimana kau bisa terselamatkan? Siapa yang menyelamatkanmu?" tanya Kyungsoo bertubi-tubi.
"Aku tidak tahu siapa yang mendorongku." ucap Luhan. dia baru saja masuk kesekolah ini beberapa hari, tetapi sudah banyak sekali yang ingin mencelakainya. Luhan tidak habis pikir, memang apa salahnya?
"Kenapa kau memakai seragam sekolah Sehun?" tanya Suho melirik kearah seragam yang dikenakan Luhan. Kyungsoo ikut melihatnya. dan dia baru menyadari jika almamater yang dikenakan Luhan terdapat name-tag Oh Sehun disana.
"Ah, ini." Luhan mengulum senyumnya, tidak menyadari perubahan wajah Suho yang sangat kentara. "Sehun yang menyelamatkanku."
"Kau yakin bukan dia yang mencelakaimu?" tandas Suho.
Luhan menggeleng cepat. "Bukan, bukan. Dia tidak mungkin yang mendorongku. Sehun bahkan rela turun kedalam kolam untuk menolongku, dia juga yang membawaku kesini. Dia baik sekali."
Kyungsoo menggumam pelan. "Sulit dipercaya."
Suho mendengus, tampak geram. Kyungsoo yang melihat raut wajah pemuda yang berada disebelahnya itu memicingkan matanya. Tampaknya Suho benar-benar tidak menyukai Sehun.
Sehun menahan segala ucapan kotor yang hendak keluar dari belah bibir tipisnya. Alisnya menukik tajam, menandakan jika Ia benar-benar tidak menyukai situasi seperti ini. Memang, tidak ada yang salah dengan ruangan luas—seperti ruang meeting diperusahaan, lengkap dengan AC dan kursi yang empuk ini. Namun yang membuat Sehun geram adalah—
"Mmh..Yeol,"
"Baek, apa kita harus melakukannya disini?"
"Aahh..terserahmu.."
Shit. Chanyeol dan Baekhyun itu memanglah tidak tahu situasi dan kondisi. Kedua orang itu bahkan tidak malu-malunya untuk saling melumat dan melenguh. Entah mereka lupa atau memang sengaja melupakan fakta bahwa saat ini mereka berada diruangan penting milik Kim Yunho—ayah Kai.
"Oh sial, apa kalian akan benar-benar bercinta disini?! Tahanlah sebentar nafsu setanmu itu, Park Byun!" suara Chen mewakili isi hati Sehun dan Kai yang memang sejak tadi mendesis sebal melihat Chanyeol dan Baekhyun.
"Jika nanti ayahku melihat kalian, maka aku yang akan mendapat omelan darinya." Sahut Kai. "Aku akan memesankan kamar untuk kalian berdua setelah ini."
"Ah, kau baik sekali." Ujar Chanyeol tanpa minat. Dengan terpaksa dia menjauhkan wajahnya dari wajah manis Baekhyun, sebelum Kai dan Chen berceloteh lebih panjang lagi. Percayalah, kedua anak itu memang sangat pintar dalam berbicara.
"Kenapa kalian tidak diam saja sih seperti Sehun?" kali ini Baekhyun yang membuka suara. Cukup sebal juga karna tidak bisa lebih jauh dimanjakan oleh Chanyeol. pemuda mungil itu merubah posisi duduknya yang tadi berada dipangkuan Chanyeol menjadi lebih normal.
"Dia memang diam, tetapi lihatlah wajahnya—Ckck, menyeramkan sekali." Chen menunjuk wajah Sehun yang duduk diseberangnya. "Dengan dia diam seperti itu saja kita sudah tahu apakah dia menyukai kegiatan kalian atau tidak."
"Dia pasti sedang memikirkan Luhan." Kai kembali tertawa. Menurutnya, Sehun yang dekat dengan Luhan adalah hiburan tersendiri untuknya. Rasanya menyenangkan sekali saat membuat Sehun kesal karna disangkut-pautkan dengan bocah manis bernama Luhan.
"Diam kau, brengsek." Desis Sehun. "Bukankah akhir-akhir ini kau yang sedang memikirkan anak baru dengan mata bulat itu? bahkan kau menyelipkan secarik surat ditasnya. Oh, menjijikan sekali kau Kim Jongin."
Terkutuklah Sehun dengan lidah berbisanya!
Telinga Kai memerah. Darimana Sehun tahu jika dia menyelipkan surat untuk Kyungsoo? Matanya saja yang sipit, tetapi penglihatannya sangat tajam. Padahal Kai sudah sangat berhati-hati menaruh surat ditas Kyungsoo agar tidak ada yang tahu. Tetapi sekarang apa? Sehun dengan kurang-ajarnya membongkar aib memalukannya didepan semua teman-temannya. Sial.
"Woah, benarkah?! Apa itu surat cinta?" Chen terlihat bersemangat sekali dengan pembicaraan kali ini. Pembicaraan santai seperti anak remaja pada umumnya—bukan pembicaraan yang membahas seputar penyusunan rencana menghabisi seseorang atau melakukan misi penting tertentu seperti yang selalu mereka perbincangkan.
"Tentu saja bukan, bod—"
"Lalu kalau bukan surat cinta, apa?" Baekhyun langsung menyela ucapan Kai. "Kau menyukai Do Kyungsoo? Hahaha, haruskah aku membantumu agar bisa mendapatkan anak itu?"
"Jonginnie sedang jatuh cinta~" Chanyeol bernyanyi sumbang, membuat ruangan itu dipenuhi gelak tawa Baekhyun dan Chen yang melengking. Kai dikursinya hanya menekuk wajahnya kesal. Ingin membuka suara, memproteskan apa yang mereka katakan, namun selalu saja tidak bisa. ketiga temannya itu paling pintar berbicara dalam hal mengejek seperti ini.
Sehun menyeringai. Kena kau Kai! Suruh siapa dia membawa-bawa nama Luhan disaat seperti ini? Rasakan sekarang, karna dia yang ditertawakan kali ini.
"YA! Aku tidak menyukai Kyung—"
BRAKKK!
Kelima pemuda yang tengah terduduk santai itu menoleh bersamaan kearah pintu masuk—yang baru saja didobrak dengan kasar. Sekitar dua puluh lelaki dewasa berbaju formal hitam-hitam masuk kedalam ruangan ayah Kai dengan pistol ditangan masing-masing yang ditujukan kearah Sehun dan teman-temannya. Sontak kelima pemuda itu berdiri dari duduknya, memandang awas pada gerombolan orang-orang mencurigakan itu. ini bukanlah pertanda baik.
"Berikan kami dokumen itu!"
Salah satu diantara mereka mendekat, berbicara lantang dalam bahasa Jepang. Yang mengerti ucapannya hanyalah Kai dan Baekhyun—mengingat mereka pintar dalam berbahasa Jepang.
"Mereka bawahannya Kiyoshi dan Yoshida. Mereka meminta kita untuk menyerahkan dokumen yang sudah ditanda-tangani oleh dua boss mereka." Ucap Kai. Perlahan-lahan, tangannya masuk kedalam sakunya—mengambil handgun yang ia simpan disana.
"Yoshida dan Kiyoshi pastilah tidak terima untuk menyerahkan perusahaan mereka pada Ayahmu. Mereka tahu kita sekarang ada di Tokyo. Bodoh sekali karna repot-repot datang menemui kita dikandang sendiri, pasti mereka sudah tidak sayang nyawa." Ujar Chen. Ekspresi wajahnya berubah menjadi sangat serius memandangi orang-orang dihadapannya. "Ah sial, dimana ayahmu Kai? Mereka bersenjata semua, kita bisa langsung habis ditangan mereka."
"Ayahku masih dalam perjalanan kesini. Aku juga bingung, kenapa mereka bisa sampai disini?" bisik Kai penuh penekanan.
"Apa ini yang kalian cari?" Sehun mengacungkan tinggi-tinggi map berwarna coklat tua yang berisi dokumen perusahaan. Membuat para pasang mata diruang sana tertuju pada benda tipis itu. Kai mendelikan matanya melihat kelakuan Sehun. apa-apaan dia? Mereka sedang terdesak saat ini, dan dengan mudahnya Sehun memberi tahu dimana dokumen itu berada. Sial. Dia pasti sudah gila.
"Sehun—"
"Jika aku katakan 'merunduk' kalian harus menurut. Oke?" Sehun segera menyela ucapan Kai—yang sepertinya akan memaki-maki dirinya.
Salah satu diantara kaki-tangan Yoshida, melangkah maju, mendekati Sehun. senyum mencela tercetak diwajahnya, merasa akan berhasil untuk melumpuhkan bocah-bocah ini. Dia mengarahkan pistolnya kearah dahi Sehun, dengan tangan kiri yang menengadah—meminta dokumen.
"Aku percaya kau tidak sebodoh itu sampai menyerahkan file itu, teman." bisik Kai penuh kegeraman. Sehun menyeringai mendengarnya. "Kita lihat saja nanti."
Setelah ucapan itu, Sehun melayangkan tendangannya pada wajah orang dihadapannya hingga tersungkur kelantai dengan senjatanya yang jatuh tidak jauh darinya. Bersamaan dengan jatuhnya lelaki tua itu, belasan peluru-peluru diluncurkan kearah Sehun dan teman-temannya.
"MERUNDUK!"
Beruntung, Sehun sudah terlebih dahulu membaca pergerakan mereka. Hingga teman-temannya tidak ada yang satupun terkena peluru-peluru panas itu. peluru itu hanya menghantam dinding dan menimbulkan suara ledakan yang memekakan telinga. Dan pada saat kegaduhan itu dimulai, Pria berwajah dingin alami itu merampas pistol milik seseorang yang tadi Ia tendang. Mulai menembaki satu persatu diantara banyak orang berbaju hitam itu. keempat pemuda lainnya juga mulai meraih handgun masing-masing, mulai menyerang. Tidak ada alasan untuk menyerah, mereka harus melawan balik—walau jumlah orang-orang ini tiga kali lipat dari jumlah mereka berlima.
Sehun berlari, melompati beberapa kursi demi menghindari empat orang lelaki dewasa yang mengejarnya. Dia yang memegang dokumen itu, ingat? Maka dari itu Sehun adalah incaran empuk untuk orang-orang tidak dikenal itu. Sehun berlari secara zig-zag untuk mengecoh orang-orang yang hendak menembakinya. Dia berhasil menghindari beberapa peluru yang nyaris mengenai tubuhnya. terus berlari, seraya mengarahkan pistol curiannya kearah orang-orang yang mengejarnya. Berusaha melawan mereka. Dia bukanlah tipe seseorang yang mudah putus-asa hanya karna kalah dalam jumlah.
Dua orang yang mengejarnya berteriak-teriak, entah membicarakan apa—karna Sehun tidak mengerti bahasa mereka. Seharusnya dia belajar bahasa Jepang dulu, agar tidak penasaran dengan apa yang mereka bicarakan seperti saat ini. Oh ayolah, ini bukan saatnya memikirkan bahasa mereka, Sehun.
Sehun menghentikan langkahnya kala seseorang berbadan tangguh menghadangnya dengan sebuah pistol yang diarahkan ke kepalanya. Belum sempat menerobos lelaki itu, dua buah pistol sudah menyentuh sisi kanan dan kiri kepalanya. Oh sial, dia dikepung! Sehun menggeram melihat lelaki didepannya menyeringai kearahnya. Itu adalah senyuman mencela, dan Sehun sangat benci saat seseorang tersenyum seperti itu padanya.
Lelaki tangguh itu mengatakan sesuatu—yang Sehun yakin seperti ejekan, menilik dari raut wajahnya. Kedua lelaki yang berada di dua sisi tubuhnya tertawa. Mungkin mentertawakan dirinya yang dianggap sudah kalah. Sehun mendelik gusar saat lelaki didepannya bersiap-siap untuk menembak dirinya. Disaat genting seperti ini, teman-temannya tidak datang membantunya. Mereka juga tengah sibuk menyelamatkan diri masing-masing.
Hanya ada dua pilihan, menyerahkan dokumen itu dan selamat—tetapi akan dibunuh ayah Kai keesokannya atau melawan walau hanya satu persen kemungkinan berhasilnya.
Sehun mengembangkan senyum miring andalannya. "Jika kau hanya menganggapku sebagai seorang bocah yang mudah ditakuti hanya dengan sekali ancaman, maka kau salah."
Sehun menyiku perut kedua orang dewasa disisinya dengan siku tajamnya. Erangan kesakitan kedua orang itu berbaur dengan suara debuman jatuhnya. Dengan gesit, pemuda itu meraih pistol mereka yang terjatuh. Mengarahkan kearah dahi kedua orang yang memucat takut itu. oh, Sehun senang sekali saat melihat seseorang bereekspresi takut dibawah kakinya. Suara ledakan peluru menggema diruangan bersamaan dengan teriakan dua orang yang menjadi sasaran peluru Sehun.
Pemuda itu hampir terhuyung jatuh saat sesuatu yang besar mengenai punggungnya, menghantamnya dengan kasar. Membuat beberapa senjata ditangannya terlempar. Dia terbatuk keras merasakan sakit menjalari punggung dan dadanya. Sehun melihat lelaki yang tadi berniat menembaknya, kini berada dihadapannya dengan mata berkilat-kilat murka. Dia pasti kesal karna dua temannya kini sudah tergeletak tak bernyawa dibawah kaki Sehun. dia kembali mengarahkan handgun-nya kearah Sehun, bersiap-siap membunuh anak itu.
Namun untuk beberapa saat, lelaki dewasa itu terdiam dengan mata mendelik. Pegangannya pada pistol melonggar, bahkan senjata itu terjatuh kelantai hingga menimbulkan sebuah bunyi keras. Sehun terdiam, memandangnya dengan bingung. Beberapa detik kemudian, tubuh lelaki itu mengejang dengan aliran darah yang mulai mengalir deras dari mulutnya. Dia terhuyung kedepan, dan terjatuh tepat dibawah kaki Sehun. saat itulah Sehun tahu pelaku penyebab matinya lelaki dewasa itu.
Chen tersenyum lebar dengan sebuah suntikan ditangannya. Didahinya terdapat sebuah luka baru, yang membuat sebercak darah menghiasi dahinya. Sehun tahu, temannya selalu ada untuk membantunya.
"Barang ini sangat berguna, bukan?" Chen melirik suntikan ditangannya.
"Yeah." Sehun mengangguk dengan perasaan lega. Dia melihat kesekelilingnya, suara-suara ledakan dan teriakan sudah lenyap. membuatnya heran.
"15 menit menghabisi dua puluh orang. Rekor baru, teman-teman." Suara melengking Baekhyun menyadarkan Sehun dari keterdiamannya. Pemuda itu bergumam takjub, melihat anak buah Yoshida dan Kiyoshi sudah terkapar dilantai seperti kumpulan ikan-ikan kecil yang terdampar didaratan. Sehun melihat Chanyeol tengah berdiri diatas meja dengan nafas terengah-engah, di kedua tangannya terdapat dua buah spuit yang berisi cairan berwarna ungu pekat—itulah penyebab terbesar singkatnya penyerangan kali ini.
"Terimakasih, Jongdae. Kau membuat penemuan ini lebih berguna dari senjata api." Ucapnya.
Chen hanya mengedipkan matanya dengan senyum riangnya. "Kalian harus mentraktirku untuk ini, teman-teman!"
Suara derap kaki yang tengah berlari terburu-buru membuat kelima pemuda itu kembali menoleh was-was kearah pintu masuk. Apa kaki-tangan Yoshida dan Kiyoshi masih tersisa diluar?
Dan yang ternyata datang adalah sesosok lelaki dewasa dengan penampilan formalnya.
"Kai—Astaga!" Lelaki berpostur tinggi-tegap itu membeku didepan pintu masuk, menatap terkejut pada sekeliling ruangan pentingnya. "Apa aku melewatkan sesuatu?"
Kai memandang lelaki itu dengan pandangan malasnya. "Sangat, ayah. Kau banyak tertinggal sesuatu hari ini."
"Sehun, ada telepon untukmu."
"Terima saja, Baek. aku malas sekali."
Baekhyun mendengus melihat Sehun yang memejamkan matanya dengan malas disebuah sofa. Dengan terpaksa, Baekhyun meraih ponsel pemuda itu dan segera menerima sebuah panggilan yang masuk dari nomor yang tidak dikenal.
"Hall—"
"Matamu cantik sekali, pantas Sehun sangat menyukainya."
Baekhyun mengernyit bingung. Suara berat yang menyapa gendang telinganya terasa tidak asing untuk Baekhyun. Seseorang diseberang sana sepertinya sedang berbicara dengan orang lain. "Hallo?"
"Siapa?" tanya Sehun. Baekhyun menggelengkan kepalanya, dia menjauhkan ponsel itu dari telinganya dan mengaktifkan loudspeaker agar Sehun bisa mendengarnya.
"Kurasa tid—tunggu, kau mengenal Sehun?"
Sehun terhenyak. Ini suara Luhan. si ayam kecil itu…sedang berbicara dengan siapa disana? kenapa membawa-bawa namanya? Ada apa lagi ini?
"Hahaha, tentu saja. Siapa yang tidak mengenal pemuda arogan itu? apa kau dekat dengannya?"
Sehun mulai merasakan firasat buruk kali ini. Dia seperti tidak asing dengan seseorang bersuara baritone yang berbicara dengan Luhan.
"Tidak. Aku tidak dekat dengan Sehun."
"Benarkah? Lalu kenapa, Sehun terlihat sangat khawatir saat melihatmu tenggelam dikolam sekolah hari ini?"
"Darimana kau tahu? Aku bahkan tidak menyinggung soal itu sejak tadi."
Sehun menahan nafasnya. Perlahan-lahan tangannya mengepal keras. sementara Baekhyun disebelahnya hanya membuka bibirnya tidak percaya. Ada apa sebenarnya ini?
"Ah benarkah? Sial sekali karna aku kelepasan berbicara. Bagaimana ini, Luhan?"
"K-kau—!"
"Brengsek." Sehun menggeram rendah. Luhan sedang dalam bahaya sekarang. Sial, kenapa anak itu sangat ceroboh sekali sih sampai mau-mau saja berbicara dengan orang asing?
"Kau sudah dengar percakapan mereka Oh Sehun? bagaimana tanggapanmu?" kali ini suara berbeda yang terdengar disambungan telepon. "Apa Luhan memang kelemahanmu? Kau menyukainya? Bagaimana dengan mata indahnya yang kau gemari itu jika aku mengeyahkannya? Sepasang mata yang mirip dengan mata mendiang Ibumu yang sudah kau bunuh itu. Apa kau akan khawatir Luhan? Menolongnya bak pahlawan kesiangan? Datang untuknya?"
"Jangan membawa-bawa Ibuku dalam hal ini, bedebah!" Sehun menggeram bahaya. Kali ini matanya benar-benar menyalang murka. Sial, jadi benar perkiraannya jika Luhan diincar para musuhnya untuk menjebaknya? Tidak semudah itu. Sehun tidak akan termakan dengan ancaman-ancaman remeh seperti itu. lagipula apa pentingnya Luhan untuknya?
Dia bahkan tidak pantas sama sekali untuk mendapat perhatiannya.
"Aku akan sangat berterimakasih padamu jika kau membunuh anak itu. dengan begitu tidak ada lagi yang menyusahkanku." Ucap Sehun dengan tenang. Membuat Baekhyun mendelikan mata sipitnya. Sehun itu benar-benar jelmaan iblis sepertinya. Walau Baekhyun tidak tahu persis apa akar permasalahannya, tetapi dia yakin Luhan pastilah sedang dijadikan sebuah boneka ancaman untuk Sehun. malang sekali nasib anak itu karna Sehun sendiri sama sekali tidak peduli.
"Memangnya kau tahu siapa yang bersama dengan Luhan saat ini?"
Sehun semakin mengepalkan tangannya kuat-kuat, membuat beberapa kuku jarinya menyakiti telapak tangannya sendiri. Persetan dengan semua itu!
"Kau—Kris…hyung?"
To be continued.
a/n :
sorry for typo, guys. I'm too lazy to edit. wkwk
Ayo, tebak. Apa Sehun bakal nyelametin Luhan? atau orang lain yang bakal nyelametin Luhan duluan? :D
Yang berhasil nebak, gue kasih kolornya Jongin nanti wkwk.
Niatnya semalem mau gue publish ini, buat pengusir rasa badmood para jones disini /plak/ tapi sinyalnya sekarat, jadi pagi ini aja oke? Wkwk. Iya tau lah gue telat banget updatenya—tapi seenggaknya gue tetep lanjutin. Ngga discontinued, karna gue gamau ngecewain readers setia FF abal ini.
Well, review again?
See you!
[Anggara]
