©Anggara Dobby

NOT PEFECT

Hun-Han

Oh Sehun-Lu Han

[Warn!] Shounen-ai/YAOI/BoyxBoy. Too much typo(s) cause I'm too lazy to edit.

Saya menjunjung tinggi istilah "Don't like, Don't read" okay cantik? ;)

.

..


"Bukankah aku sudah berjanji untuk mentraktirmu karna kau sudah menemaniku berkeliling sekolah hari ini?"

"Tapi keadaanmu belum pulih benar. Seharusnya kau langsung pulang saja dengan Kyungsoo." Suho mendesah gusar melihat Luhan menggelengkan kepalanya, bersikeras untuk tetap mentraktirnya. Dia memang memegang teguh janjinya, tanpa mau mempedulikan tubuhnya yang masih perlu istirahat. Jika sudah begini, Suho hanya bisa pasrah ditarik oleh pemuda manis itu ke sebuah tempat dimana banyak jajanan manis dijual. Jajanan manis? Uh, Suho bahkan lebih menyukai minuman bercaffein daripada harus meminum yang manis-manis.

"Aku sudah tidak apa-apa. Kalian hanya perlu duduk disini, dan nikmatilah semua makanan yang aku belikan." Luhan menarik tangan Kyungsoo dan menyuruhnya duduk disisi kanan Suho. "Aku akan keseberang sana untuk membeli minuman."

"Apa dia memang sangat keras kepala?" tanya Suho pada Kyungsoo, tanpa mengalihkan pandangannya pada Luhan yang berjalan menjauh.

"Ya, Luhan hyung memang seperti itu." Kyungsoo masih belum mau berbicara banyak pada Suho. Selain karna kesan pertama mereka bertemu sangatlah buruk —Kyungsoo masih mengingat wajah sedingin es beku milik Suho tadi pagi— dan juga Kyungsoo masih belum mempercayai benar pemuda didepannya ini. Dia memang terlihat baik diluar, tetapi siapa tahu dia juga salah satu gangster di sekolahnya kan? Kadang apa yang kita tangkap dengan mata telanjang kita tidak pernah sesuai dengan kenyataan yang ada. Kyungsoo harus tetap menjaga jarak pada Suho.


Luhan mengetuk-ngetukan sepatunya dilantai, menimbulkan irama yang cukup enak didengar. Seraya menunggu pesanannya datang, pemuda bersurai kecoklatan itu mengamati beberapa orang yang berlalu lalang didepannya. Sore ini cukup cerah dan sepertinya orang-orang ini dalam mood yang bagus. Luhan termangu untuk beberapa detik, memikirkan siapa kiranya orang yang telah menenggelamkannya tadi pagi dan apa motif orang tersebut. Luhan yakin, dia tidak pernah membuat masalah dengan anak OX 86—kecuali Sehun, Luhan seringkali membuatnya kesal. Dan juga jika Hoseok yang menenggelamkannya, Luhan tidak yakin. Akhir-akhir ini Hoseok dan teman-temannya tidak lagi mengganggunya. Lalu, siapa?

"Luhan?"

Luhan kembali pada kesadarannya saat suara baritone menyapanya seiring tepukan pada bahu mungilnya. Luhan mendongakan kepalanya, melihat siapa yang menyapanya. "Yifan?"

Luhan menghentikan ketukan sepatunya dilantai saat melihat sosok tinggi Yifan yang berada dihadapannya. Yifan terlihat lebih berkarisma dengan setelan santainya, ini kali pertama Luhan melihat Yifan tanpa mengenakan jas sekolah kedokterannya.

"Ah kau masih mengingatku ternyata." Yifan tertawa jenaka sesaat, dan memposisikan duduknya didepan Luhan tanpa sungkan.

"Tentu saja." Luhan melebarkan senyumnya, jelas tidak keberatan sekali dengan kehadiran Yifan—yang baru dikenalnya. Melihat Yifan tidak sendirian, Luhan memerhatikan seseorang yang juga kini duduk disisi kanan Yifan. Pemuda manis itu menautkan kedua alisnya saat melihat seorang lelaki berambut hitam didepannya. Luhan seperti pernah melihatnya.

"Bukankah kau salah satu murid di OX 86?" ujar Luhan, dia mengingat lelaki didepannya adalah seseorang yang Ia temui saat pertama kali menginjakan kaki di SMU 86. Seseorang yang menjadi korban bully dari Sehun dan Kai—yang belum Luhan kenali saat itu.

Jungshin —nama lelaki itu— mengangkat sebelah alisnya, "Darimana kau tahu?"

"Aku juga bersekolah disana. Aku yang waktu itu menawarkan untuk mengantarkanmu ke UKS saat kau dipukuli oleh dua orang siswa. Kau ingat?"

"Aah, aku tidak mengingatnya." Jungshin terkekeh canggung, berbanding terbalik dengan Luhan yang memberengut kesal.

"Kau bersekolah disana juga?" tanya Yifan. Tampak memasang ekspresi terkejut yang tidak terlalu tulus.

Luhan mengangguk. "Ya, kenapa?"

"Ah tidak apa-apa. Omong-omong sedang apa kau disini?" Yifan bertanya seraya melirik kesana-kemari, berusaha menemukan seseorang yang kiranya datang bersama Luhan.

"Aku sedang menunggu minuman pesananku." Yifan mengangguk-angguk mendengar jawaban yang keluar dari bibir Luhan. sejenak keheningan tercipta diantara ketiganya. Hanya ada suara beberapa pelayan yang sibuk berjalan kesana-kemari mengantarkan pesanan.

"Matamu cantik sekali, pantas Sehun sangat menyukainya." Ucap Yifan tiba-tiba, membuat Luhan segera memandang kearahnya. Yifan tengah memandanginya dengan pandangan meneliti, membuat Luhan agak risih. Sehun menyukai matanya? Jangan bercanda. Sehun bahkan seperti memandang seekor lalat pengganggu saat dirinya muncul dihadapan pemuda berparas dingin itu. mustahil sekali jika Sehun menyukai salah satu bagian yang ada tubuhnya.

"Kurasa tid—tunggu, kau mengenal Sehun?" Luhan baru sadar jika Yifan bukanlah satu bagian dari SMU 86. Darimana dia mengenal Sehun? dan kenapa Yifan mengatakan hal itu?

Yifan tertawa, membuat Luhan menautkan alisnya, bertambah bingung. "Hahaha, tentu saja. Siapa yang tidak mengenal pemuda arogan itu? apa kau dekat dengannya?"

Luhan mengangguk dalam hati. Benar, siapa yang tidak mengenali Sehun? semua orang dikota ini mungkin mengenal pemuda itu. hanya Luhan saja yang sepertinya belum mengenal Sehun lebih jauh. Yang Luhan tahu, Sehun adalah sosok yang tidak bersahabat sama sekali. "Tidak, aku tidak dekat dengannya." Luhan menjawab pertanyaan Yifan.

'Aku memang tidak dekat dengannya, tetapi aku sering menyusahkannya..'—tambah Luhan dalam hati.

"Benarkah? Lalu kenapa, Sehun terlihat sangat khawatir saat melihatmu tenggelam dikolam sekolah hari ini?"

"Darimana kau tahu? Aku bahkan tidak menyinggung soal itu sejak tadi." kali ini Luhan benar-benar dibuat bingung oleh Yifan. Mengapa pria itu tahu semuanya? Luhan berani bersumpah jika tidak ada orang yang melihat saat Sehun menyelamatkannya. Apa mungkin Jungshin yang memberitahunya? Tetapi sekali lagi—tidak ada satupun orang yang berada ditempat kejadian saat Sehun menyelamatkannya.

Luhan melirik kecil kearah pemuda yang berada disebelah Yifan. Tetapi tampaknya Jungshin tidak tertarik sekali dengan pembicaraan ini. Dia hanya memainkan ponselnya dan sesekali mengulum senyumnya. Percayalah, Luhan mulai merasa tidak nyaman dengan situasi seperti ini. Dia merasa ada yang mencurigakan disini.

"Ah benarkah? Sial sekali karna aku kelepasan berbicara. Bagaimana ini, Luhan?"

Luhan meneguk liurnya dengan susah payah. Oh sial, Yifan dan seringaiannya itu membuat kecurigaan Luhan terkuak sudah. "K—kau!" suara Luhan tercekat dengan mata yang terfokus pada Yifan yang masih tersenyum santai kearahnya. "—Jelaskan padaku Yifan, apa maksudmu?"

"Kau sudah dengar percakapan mereka Oh Sehun? bagaimana tanggapanmu?"

Mata Luhan mendelik saat mendengar Jungshin membuka suaranya. Oh Sehun? jadi sedari tadi, Jungshin sedang berteleponan dengan Sehun? apa maksudnya semua ini? Luhan merasa pusing dengan situasi sekarang. Belum lagi melihat sosok Yifan yang masih menyunggingkan senyum mencela padanya. Membuat Luhan yakin, Yifan bukanlah orang baik-baik. Dan Jungshin adalah salah satu orang yang termasuk musuh besar Sehun.

"Apa Luhan memang kelemahanmu? Kau menyukainya? Bagaimana dengan mata indahnya yang kau gemari itu jika aku mengeyahkannya? Sepasang mata yang mirip dengan mata mendiang Ibumu yang sudah kau bunuh itu. Apa kau akan khawatir pada Luhan? Menolongnya bak pahlawan kesiangan? Datang untuknya?"

Luhan menggelengkan kepalanya pelan, merasa kejadian-kejadian yang dia alami hari ini adalah potongan-potongan susunan rencana si sialan Jungshin—dan juga Yifan, tepatnya. Jantung Luhan berdetak dengan degupan yang luar biasa kencang, dia tidak menyangka akan berada dalam bahaya lagi. Yifan—dia memang orang yang baru Luhan kenali, tetapi entah kenapa Luhan dengan begitu bodohnya langsung mempercayai bahwa dia adalah orang yang baik dan bisa diajak untuk berteman. Tetapi kenyataannya, dialah salah satu penjahat yang ingin mencelakai dirinya hanya karna ingin membalas dendam pada Sehun. Luhan tidak tahu mengapa dirinya yang dijadikan sasaran empuk para musuh-musuh Oh Sehun. Luhan jelas tidak pernah bersangkutan dengan mereka semua, dia bahkan baru mengenal Sehun. ini sulit dipercaya. Luhan tidak mau perlahan-lahan masuk kedalam masalah mereka semua.

Luhan mengepalkan tangannya yang berada dibawah meja, menimbang-nimbang apa yang harus Ia lakukan sekarang. Menghajar Yifan dan Jungshin bukanlah hal yang tepat, mengingat mereka sedang berada disebuah kedai minuman dan juga Luhan tidak mau dirinya yang berakhir terkapar diatas lantai dengan wajah babak belur—melihat sosok Yifan dan Jungshin yang sepertinya sudah sangat ahli dalam menghabisi seseorang. Luhan tidak pandai dalam bela diri. Dia harus mengenyahkan opsi untuk menghajar dua pemuda didepannya. Menyebalkan sekali saat mengetahui bahwa saat ini Ia sedang bersama dua orang yang mengincar dirinya—lebih tepatnya matanya. Luhan ngeri membayangkan kedua bola matanya harus dimusnahkan oleh Jungshin. Oh sial, mereka orang-orang yang mengerikan. Seharusnya Luhan mendengarkan ucapan Suho; Jangan terlalu ramah pada orang asing; dan sekarang berakibat dirinya yang menjadi incaran orang-orang asing ini.

Luhan melirik pintu masuk lewat ekor matanya, lalu melirik kearah Yifan yang memandangnya dengan pandangan tajam penuh intimidasi. Telapak tangannya mulai basah oleh keringat, Luhan —bagaimanapun caranya— harus segera pergi dari hadapan dua orang ini. Pemuda manis itu mulai menghitung dalam hati tanpa mengalihkan pandangan dari Yifan dan Jungshin, membaca gerak-gerik mereka. Dan tampaknya mereka berdua dalam posisi yang belum siap untuk mengejar. Maka dari itu saat seorang pelayan datang untuk membawakan minuman pesanan Luhan, pemuda manis itu segera mendorong kursinya dengan kasar hingga menimbulkan suara decitan yang memekakan, lalu berlari secepat mungkin kearah pintu masuk. Dia apapun caranya, harus segera menghindar dari Yifan dan Jungshin. Mereka berbahaya.

Suasana didalam kedai mulai tidak terkendali saat Yifan mengumpat kasar dan melakukan hal yang sama seperti yang Luhan lakukan. Seorang pelayan berteriak-teriak, memanggil kearah Luhan yang menjauh tanpa mengambil pesanannya yang sudah siap. Yifan dan Jungshin berlari mengejar Luhan, tanpa mempedulikan beberapa orang yang merutuk kasar saat keduanya menabrak bahu mereka dengan keras.

"Kau tangkap Luhan, dia berlari kearah seberang jalan."

Yifan menutup sambungan teleponnya seiring langkahnya yang terhenti. Pria itu menyeringai saat melihat kearah seberang jalan didepannya. Dimana ada segerombolan lelaki yang mengepung jalan Luhan. "Bagaimana tanggapan Oh Sehun, Jung?"

"Dia tidak terlalu peduli. Bahkan menyuruh kita untuk membunuh anak itu saja." Jungshin memandangi kearah Luhan yang memberontak saat tubuhnya ditarik kearah sebuah mobil Jeep hitam. "Kau yakin Sehun akan datang?"

Yifan mendengus, sinis. "bagaimana kalau kita kirimkan mayat Luhan saja kepadanya? Apakah si brengsek itu masih mempertahankan tampang ketidak-peduliannya?"


"Kau—Kris…hyung?"

Sehun melirik kearah Baekhyun yang baru saja menjawab pertanyaan dari si penelepon brengsek itu. Si mungil itu terlihat menekuk alisnya dalam-dalam dengan ekspresi yang sulit ditebak. Apa katanya? Kris hyung? Sehun seperti tidak asing dengan nama itu.

"Ada apa? Kenapa kau membawa-bawa nama mantan kekasihmu itu, Baek?"

Baekhyun melirik sosok tinggi yang baru saja datang dengan tajam. Tampak tidak menyukai nada sakartis yang digunakan Chanyeol kepadanya. "Sudah berapa kali kubilang dia tidak pernah menjadi kekasihku!" bantahnya dengan keras.

Chanyeol tertawa kecil dengan sungging senyum mencelanya, "Mm-hm, mungkin waktu itu mataku yang salah lihat. Kalian berciuman didepan rumah si brengsek itu."

"Aku tidak menyukai pembicaraan ini, Chanyeol." geram Baekhyun. Tampak tidak menyukai perubahan wajah Chanyeol yang kentara. Chanyeol akan menjadi orang yang paling menyebalkan sedunia saat membahas tentang Kris—yang dari dulu Ia anggap sebagai mantan kekasih Baekhyun.

"Dia hanya cemburu, Baek." Chen mendudukan dirinya disebelah Baekhyun. "Maklumi saja."

"Tunggu dulu—apa yang kau maksud itu, Wu Yifan Kris?" Sehun menautkan alisnya dengan bingung. Jika tebakannya benar, maka Sehun harus merasa bingung berkali-kali lipat. Karna yang Sehun kenali, Kris hanyalah seorang kakak dari teman lamanya yang menghilang setahun lalu. Tidak ada masalah apapun diantara mereka. Lalu, mengapa Kris dengan sengaja mengincar Luhan untuk memancing dirinya? Ini benar-benar membingungkan.

"Ya, Wu Yifan. Sepertinya dia mulai menunjukan bisa ularnya, Sehun."

Sehun berdecak pusing, merasa tidak mengerti dengan perkataan Baekhyun. "Apa maksudmu? Apa dia punya masalah denganku?"

"Hei, kau tidak mengingat perkataannya setahun lalu? Saat insiden kecelakaan yang menewaskan adiknya itu?" Kai memandang satu persatu teman-temannya yang menunjukan raut bingung, kecuali Baekhyun yang sepertinya masih mengingat kecelakaan yang menimpa mereka setahun lalu. "Dia menyalahkan kita atas kematian adiknya, kalian ingat? Dan dia mengatakan—"

"Aku akan membalas kalian disaat kalian yakin tuhan benar-benar ada dipihak kalian." Sehun menjawab dengan tenang. "Aku mengingatnya sekarang."

Pikiran Sehun melayang saat kejadian tahun lalu, saat insiden kecelakaan yang menewaskan satu teman dekatnya. Sehun tidak begitu mengingatnya karna dirinya juga mengalami luka-luka yang cukup parah. Belum pulih benar luka-lukanya, Sehun sudah dikejutkan dengan berita bahwa salah satu temannya tewas. Dan lagi yang cukup mencengangkan, dirinya yang menjadi sasaran kemarahan Kris—kakak temannya. Memang benar, saat itu Sehun yang menyetir mobil untuk yang pertama kalinya dijalan raya. Tetapi tetap saja, Sehun tidak bisa menerima jika dirinya yang lagi-lagi disalahkan. Sudah cukup dia berdiam seperti orang tolol saat Ayahnya menyerukan dirinya yang membunuh Ibunya. Sehun muak sekali dijadikan sasaran kesalahan. Bukan dia yang melakukan itu semua, dan Sehun tidak perlu menanggung rasa bersalah karna itu. karna kesalah-pahaman itu membuat hidup Sehun harus terbayang-bayang dengan perasaan bersalah yang tak berarti. Menurut Sehun, kekejaman yang sebenarnya adalah mereka yang menjebloskan seseorang yang tak bersalah sama sekali kedalam lubang penuh penyesalan. Mereka tidak pernah tahu, hidup diliputi dengan perasaan bersalah yang tak beralasan sama saja tidur ditengah keramaian. Sangat tidak tenang—itulah yang dirasakan Sehun selama ini.

"Dan sekarang dia ingin mencari-cari kelemahanmu, Sehun. kau jangan terpancing olehnya." Ujar Baekhyun.

"Memang apa yang sudah terjadi?" tanya Chen.

"Kris berusaha mencelakakan Luhan, dan memastikan apakah Luhan itu kelemahan Sehun atau bukan."

Sontak jawaban serius Baekhyun itu ditanggapi tertawaan dari Kai dan Chen. Sehun mendelik tak suka kearah keduanya. Apa-apaan reaksi itu? Sehun juga ingin sekali terbahak melihat kebodohan Kris yang menjadikan Luhan sebagai sasarannya. Kenapa harus anak bodoh itu? Sehun bahkan tidak pernah membayangkan jika Luhan harus menjadi sasaran para musuh-musuhnya untuk menghancurkannya. Man, Luhan bukanlah siapa-siapa untuk Oh Sehun. silahkan saja bunuh anak itu, Sehun ikhlas sekali.

"Apa saat ini Luhan sedang dalam bahaya?" gumam Chen, cukup prihatin. "Kau tidak berniat menolongnya?" dia memandang kearah Sehun.

"Jangan bodoh! jika Sehun menolongnya, maka Kris sudah berhasil menemukan titik kelemahan Sehun. dan itu artinya, dia akan terus mencelakai Luhan sampai Sehun benar-benar kalah telak." Balas Baekhyun.

"Tetapi jika Sehun tidak menolongnya, anak itu bisa mati, Byun." geram Chen. "Memangnya Luhan salah apa hingga dia harus berkorban nyawa untuk Sehun? Kris tidak akan main-main kali ini."

"Aku setuju dengan Chen." Sahut Chanyeol, tampak tak terlalu tulus. Baekhyun melirik sebal kearahnya. 'Bilang saja kau tidak mau mendukung ucapanku karna kau masih marah denganku. Biasanya saja kau selalu mendukung apapun keputusanku' —gerutu Baekhyun dalam hati.

"Bagaimana keputusanmu Sehun?" Kai menyeringai kearah Sehun yang tampak tidak terlalu mengurusi permasalahan ini.

Mendengar perdebatan Chen dan Baekhyun membuat kepala Sehun rasanya ingin pecah. Dia sudah bertekad, tidak mau lagi berurusan dengan Luhan dan apapun yang menyangkut anak itu. Sehun selalu memegang teguh janjinya. Tetapi disatu sisi, hati kecilnya berteriak—menyuruh agar menyelamatkan Luhan. Sehun tahu, Kris tidak main-main dengan ucapannya. Luhan bisa saja mati kapanpun, dan Kris tidak akan segan-segan melakukan hal itu. Luhan memang tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah yang dialami Sehun dan Kris. Tidak seharusnya dia menderita karna semua ini. Disisi yang lain, ucapan Baekhyun ada benarnya. Jika Sehun menyelamatkan Luhan, maka Kris akan mengira Luhan adalah kelemahan Sehun—dengan begitu dia akan semakin gencar mencelakai Luhan sampai Sehun benar-benar menyerah, dan mengakui jika Luhan memanglah titik kelemahannya. Ouh brengsek.

Sehun meremas tangannya dengan kencang. Merasa pusing dengan pikirannya yang tumpang-tindih. Belum lagi yang Kris incar adalah mata Luhan yang memanglah persis dengan milik mendiang Ibunya. Sehun benci sekali jika mengingat Luhan memiliki sesuatu yang dia sukai dan mengingatkannya pada sosok Ibunya.

"Kai—" Sehun berucap dengan penuh penekanan. "Katakan pada ayahmu kalau aku meminjam pesawat pribadinya, sekarang."


"Kau yakin ini tempatnya?"

Sehun mengangguk sekilas, menjawab pertanyaan ragu-ragu Baekhyun. Mata bermanik kelamnya memandangi sebuah bangunan tua yang belum sepenuhnya selesai dibangun—dibiarkan begitu saja, tanpa ada pembangunan lagi. Bangunan yang belum dicat dan terdapat banyak coretan-coretan remaja-remaja iseng itu besar dan berlantai tujuh. Sepertinya bangunan tua ini hendak dijadikan sebuah sekolah. Tetapi entah karna alasan apa, bangunan ini dibiarkan begitu saja dan dijadikan sebuah markas pemuda-pemuda berandal.

"Aku mendengar suara Jungshin ditelepon tadi, Kuyakin si sialan itu terlibat dengan semua ini." Suara Sehun terdengar sangat mengerikan disepanjang lorong bangunan tua tersebut. Suaranya yang dingin dan terdapat kemarahan didalamnya terdengar menggema dan membuat siapa saja yang mendengar bergidik ngeri. "Ini adalah tempat brengsek-brengsek itu berkumpul."

"Kurasa kau memang sudah menyukai Luhan." Kai dengan bodohnya masih saja menggoda Sehun dengan kalimat-kalimat serupa seperti kemarin. Pemuda berkulit tan itu langsung menatap kearah depan saat Sehun memandangnya seolah-olah ingin mengulitinya hidup-hidup. Bagaimana Kai tidak mengira jika Sehun menyukai Luhan, kalau akhir-akhir ini saja Sehun –kebetulan ataupun tidak— selalu berurusan dengan Luhan. kemarin Sehun mencium Luhan didepan murid-murid (kejadian yang begitu mengejutkan) lalu hari ini Ia menolong Luhan sebanyak dua kali. Dua kali! Bayangkan itu! Seorang bajingan seperti Sehun, menolong seseorang yang sama sebanyak dua kali dalam sehari? Gosh, Kai tidak salah mengira kalau Sehun memang menyukai Luhan. Kai berani bertaruh, beberapa minggu kedepan akan ada sesuatu yang lebih mengejutkan lagi terjadi diantara mereka berdua.

"Kita datang sangat terlambat. Bagaimana jika Luhan sudah mati?" suara berat Chanyeol bagaikan gemuruh petir untuk Sehun. entah mengapa kalimat itu membuatnya merasa marah bukan kepalang. Rasa-rasanya dia ingin sekali merobek bibir Chanyeol yang sesuka hatinya berbicara sembarangan. Bukan salah Sehun jika mereka datang empat jam setelah ancaman kuno yang Jungshin lontarkan padanya ditelepon tadi. hei, memangnya jarak Tokyo ke Seoul itu dekat?! Sehun bahkan rela memaksakan diri datang ke Seoul untuk menolong Luhan—ah tidak, itu terdengar menggelikan sekali. Sehun kesini bukan untuk menolong si ayam kecil itu, tetapi hanya untuk memastikan apa motif sebenarnya Kris melakukan ini. Ya, hanya itu.

Sehun tidak peduli pada Luhan.

"Baguslah jika dia sudah mati." Ucapan itu keluar begitu saja dari bibir tipis Sehun, berbanding terbalik dengan pikiran dan kata hatinya yang seperti dilanda hujan badai saat mengatakan hal itu.

"Berhentilah bersikap konyol, Sehun!" Baekhyun tiba-tiba sudah berdiri dihadapan Sehun, membuat pemuda tinggi itu menghentikan langkahnya. "Aku tahu kau peduli padanya! Aku tahu kau khawatir padanya. Kau tidak mungkin dengan mudahnya pergi ke Seoul hanya untuk datang ke markas si brengsek Jungshin karna ancaman tololnya 'kan? Kau bukan orang bodoh, Sehun.."

Baekhyun menurunkan sedikit nada suaranya yang sempat meninggi beberapa saat lalu, "—Kau peduli pada Luhan. kau khawatir apa yang dikatakan Chen sebelum kita berangkat benar-benar terjadi. Luhan tewas hanya karna kesalah-pahaman ini, padalah dia tidak salah apa-apa. kau ingin menolong Luhan, tetapi semua ego dan rasa harga diri tinggimu itu selalu mengelaknya. Membuat kau menjadi orang yang munafik, karna jalan pikiran dan kata hatimu selalu berbeda. Benar?"

Setiap kata yang dilontarkan Baekhyun seperti panah yang menusuk dadanya. Tepat dan sangat menyesakan sekali. Sehun diam seribu bahasa, merasa kalah telak oleh Baekhyun. Tetapi sifat tidak ingin kalahnya, membuat Sehun berdecih dan menyunggingkan senyum miringnya yang terlihat sangat arogan itu.

"Jangan berbicara seolah-olah kau tahu isi pikiranku, Byun." Sehun melanjutkan langkahnya, melewati Baekhyun setelah memandang pemuda mungil itu dengan tajam.

Baekhyun menghela nafasnya. "Ha-ah, lihat saja sampai kapan kau akan mengelak."

"AAAAKHH!"

Suara derap langkah kaki yang tadinya menggema disepanjang lorong tiba-tiba berhenti bersamaan setelah teriakan seseorang yang menyiratkan kesakitan. Sehun membeku ditempatnya. Tidak perlu waktu lama bagi Sehun untuk mengetahui siapa pemilik suara itu. suara yang akhir-akhir ini selalu memenuhi gendang telinganya dengan celotehan-celotehan —yang menurut Sehun— menyebalkan. "Luhan," gumamnya tanpa sadar. Dengan tergesa-gesa dan tanpa berkata apapun pada keempat temannya yang masih terdiam terkejut, Sehun menuju ujung lorong yang dia yakini sumber dari suara Luhan berasal.

"Lihat, dia memang peduli pada Luhan!" ucap Baekhyun penuh kemenangan.

Kai bersiul jahil sejenak, "Sebentar lagi kita akan melihat sisi kepahlawanan dari tuan muda Oh."

Keempat pemuda itu tertawa bersamaan, sebelum pada akhirnya berjalan tergesa-gesa menyusul langkah Sehun yang bisa dibilang sangat cepat.


Sehun merasa dirinya sedang berada ditengah-tengah kobaran merahnya api yang membakar seluruh tubuhnya beserta organ dalamnya saat mata dengan manik kelamnya melihat sesosok tubuh kurus yang meringkuk lemah diatas lantai seraya memegangi perutnya, sesekali ringisan menghiasi wajahnya yang dipenuhi luka-luka lebam. Nafas Sehun tidak beraturan, dada bidangnya naik-turun seiring kilatan matanya yang menyalang marah. Dia tidak tahu mengapa semarah ini hanya karna melihat Luhan yang dipenuhi luka-luka itu tengah dikelilingi para lelaki berkaus hitam. Para pasang mata itu memandang Sehun dengan terkejut—bahkan seorang pemuda berandal yang berada tepat disamping Luhan, mulai beringsut mundur secara perlahan, merasa terancam dengan tatapan Sehun yang begitu mematikan.

Sehun dengan langkahnya yang terburu-buru menghampiri pemuda itu dan segera mencekal lehernya, mendorongnya hingga terhimpit ke dinding yang penuh dengan coretan tidak jelas. Manik kelamnya memandang pemuda itu dengan tajam—benar-benar tajam dan bengis. Hingga kumpulan pemuda yang tadinya mengerubungi sosok Luhan menahan nafas bersamaan seraya melihat apa yang akan terjadi pada salah satu teman mereka.

"Senang bertemu denganmu lagi Jung Daehyun." Sehun mendesis bagai ular. Yang Ia ingat pemuda yang tadi pagi menjadi tersangka utama atas tenggelamnya Luhan dikolam renang sekolah. Dugaan Sehun benar, Daehyun pastilah salah satu mata-mata dari musuhnya.

Perkelahian tak bisa dihindarkan saat Sehun melayangkan pukulan telaknya pada rahang Daehyun hingga pemuda kurus itu tersungkur kelantai yang dingin. Begitupula pemuda-pemuda yang lain —yang hendak menyerang Sehun ramai-ramai— harus menelan bulat-bulat kekesalannya karna harus berhadapan dengan teman-teman Sehun yang datang bersamaan, mulai meramaikan perkelahian ala anak lelaki.

Sehun memukuli Daehyun dengan membabi-buta, meluapkan betapa marahnya Ia saat ini. Apa yang telah si brengsek ini dan teman-temannya lakukan pada Luhan sebelum Ia datang? Melihat sosok ringkih Luhan yang dipenuhi luka-luka lebam membuatnya bertambah jengkel bukan main. Sehun akan memberikan pelajaran yang setimpal untuk Daehyun, maka dari itu tanpa senjata apapun ditangannya, Sehun menghabisi Daehyun dengan tangan kosongnya.

"Dimana Jungshin dan Kris, brengsek?!" geram Sehun memberikan Daehyun celah untuk bernafas sejenak setelah merasakan betapa sakitnya pukulan bertubi-tubi yang Sehun lontarkan kewajahnya.

"Aku—tidak tahu," Daehyun terbatuk, mengeluarkan darah segar dari mulutnya. Wajahnya mengenaskan bukan main. Sehun benar-benar bengis jika dalam keadaan marah. Dia bahkan terheran-heran, apakah Oh Sehun memang seorang manusia atau iblis?

Daehyun berteriak saat Sehun mencengkeram lehernya dengan jari-jemari kokohnya. Walau kuku-kuku jari Sehun tidak begitu panjang, namun Daehyun merasakan kulit lehernya panas, dan perih.

"Mau mengelak, eh?" Sehun menyunggingkan seringaian andalannya. "Katakan padaku, dimana dua pengecut itu?"

"Mereka sudah pergi sejam yang lalu." Daehyun berusaha keras mengontrol suaranya agar tidak terdengar gemetar. Jangan salahkan dirinya yang terlalu pengecut, bahkan untuk sekedar bertemu pandang dengan Sehun, dia hanyalah pelajar biasa yang dipaksa Jungshin untuk melakukan ini semua. Daehyun masih sangat amatir dalam masalah seperti ini. Terlebih jika lawannya adalah seseorang yang disegani disekolah, Oh Sehun. membuatnya sangat kalang kabut dan tidak tahu harus berbuat apa dalam keadaan seperti ini. Kemampuan bela dirinya pun sangat menyedihkan. jadi, Daehyun hanya berharap dirinya masih bisa melihat sinar mentari besok pagi. "Mereka pikir kau tidak akan datang, maka dari itu—" dia menarik nafas sebentar, rasa sakit pada wajahnya membuat Daehyun sulit berbicara dengan benar. "—mereka memerintahkan kita untuk melakukan apa saja pada Luhan."

Sehun menghempaskan tubuh Daehyun begitu saja, membuat pemuda itu terbatuk-batuk sekaligus bernafas lega. Percuma saja jika Sehun menghabisi Daehyun, dia tidak mendapat keuntungan apa-apa dari bocah amatir itu. Daehyun adalah tipe pemuda yang akan diam jika sudah mendapat gertakan.

Sehun mengepalkan tangannya kuat-kuat, merasa kesal bukan main dengan sikap pengecut Jungshin dan Kris. Mereka hanya mengandalkan berandal-berandal kelas teri ini untuk melawannya. Sehun tidak menyangka Kris sebodoh itu. tetapi apapun itu, Kris pastilah mempunyai rencana dibalik ini semua. Sehun tidak boleh bernafas lega dulu atas kejadian ini. Kris tidak akan semudah itu menyelesaikan perkara ini, dan membiarkan Sehun lolos sebelum berhasil membalaskan dendamnya. Sehun sangat tahu, seseorang baru akan merasa puas jika dendamnya sudah terbalaskan.

"Sehun—Awas!"

Sebuah suara yang memekik disertai tubrukan pada tubuhnya, menyadarkan Sehun dari keterdiamannya. Tubuh Sehun memutar arah, yang tadinya menghadap kearah utara kini menjadi menghadap kearah selatan. Dengan refleks, Sehun melingkarkan tangannya pada tubuh seseorang yang berada didalam dekapannya, agar keseimbangan tubuhnya tidak terjatuh akibat tubrukan orang ini yang terlalu tiba-tiba.

Dan kesadaran Sehun kembali penuh saat seseorang dalam dekapannya membenamkan wajahnya didada bidangnya, dan meremat punggungnya dengan kencang disertai teriakan tertahannya yang menyiratkan kesakitan. Sehun baru mengerti ketika melihat salah satu pemuda berandal dihadapannya melepas sebuah tongkat baseball dan memandangnya takut-takut, lalu kemudian berlari secepat yang Ia bisa. Dia telah menggunakan tongkat baseball itu memukul seseorang yang berada didekapannya—yang seharusnya Sehun 'lah yang kena pukulan itu.

Itulah mengapa sebabnya orang ini menahan teriakannya dengan cara membenamkan wajahnya didada bidang Sehun.

Sehun merasa aliran darahnya terhenti saat seseorang yang masih berada didalam dekapannya, mendongakan kepalanya, hingga onyx tajam milik Sehun bersirobok dengan manik coklat indah yang sudah sangat basah—oleh airmata. Sehun menahan nafasnya, membiarkan nafas seseorang itu yang ternyata adalah Luhan menerpa dagu runcingnya.

"Terimakasih sudah datang, Sehun." Luhan berbisik lirih, suaranya agak serak. Terlihat sekali jika Luhan sudah mengalami penyiksaan beberapa jam yang lalu hingga membuatnya yang biasanya sangat periang itu terlihat sangat lemah. Pemikiran itu membuat dada Sehun seperti disirami lelehan logam panas, begitupula matanya—yang masih memandang lekat-lekat ke wajah Luhan yang dipenuhi luka-luka yang masih baru. Entahlah, terakhir kali Sehun mengalami hal ini saat Ayahnya mengusirnya pergi dari rumah.

"Ya, terimakasih sudah menyusahkanku lagi." Sehun tidak bisa mengontrol suaranya, hingga yang terdengar hanyalah sebuah bisikan yang hanya bisa didengar oleh Luhan. Sehun merasa degupan jantungnya memompa lebih cepat, membuat dadanya agak sesak—tetapi disatu sisi, rasanya…menyenangkan.

Tangan Sehun yang melingkari pinggang ramping Luhan —Sehun agak tidak percaya ada pinggang lelaki yang seperti ini— dia remas pelan, menahan diri untuk tidak mengusap sekitar mata Luhan yang basah. Memalukan sekali jika dia bertindak seolah-olah dia adalah kekasih Luhan. sudah cukup saat ini dia membiarkan Luhan berada dalam dekapannya—karna Luhan telah menyelamatkannya dari tongkat baseball yang akan melukai punggungnya, maka Sehun dengan berbaik hati membiarkan Luhan menumpukan semua berat tubuhnya didadanya.

Tunggu dulu—! jika Sehun tidak kena oleh pukulan itu, maka Luhan yang—

"Luhan?" Sehun memegang erat pinggang Luhan dengan satu tangannya, karna tangan yang satu lagi Ia gunakan untuk menepuk-nepuk pipi Luhan. Mata rusa itu sudah tertutup beberapa detik yang lalu, dan bahkan tidak mau terbuka kala Sehun berusaha membangunkannya. Mau tak mau, hal itu membuat Sehun –agak- panik. Dia mencoba mengontrol dirinya (Sehun masih belum mau mengakui kalau dia tengah khawatir), suatu hal yang wajar jika saat ini Luhan tidak sadarkan diri. Dia baru saja mengalami penyiksaan, dan pastilah menahan rasa sakit berjam-jam membuatnya merasa lebih tersiksa. Pada akhirnya, Luhan memilih menyerah. Memilih memejamkan matanya dalam dekapan hangat Sehun yang membuatnya tenang dan tidak mau membuka matanya.

Sehun merutuk kasar pada siapapun berandal yang sudah mencelakai Luhan. jika sudah begini, Sehun yang akan mengurusnya lagi. dia memandang kesegala arah, melihat teman-temannya yang masih hanyut dalam adrenalin perkelahian. Mendengus pelan, akan sikap haus-darah teman-temannya, Sehun menginterupsi perkelahian mereka.

"Orang yang kita cari tidak ada disini, lebih baik kita kembali." Sehun memasang wajah tergganggunya kala keempat temannya memandangnya dengan bingung, karna Sehun terlihat sedang memeluk Luhan dengan possesif. Sehun beralih memandang Daehyun yang masih meringkuk diujung ruangan. "Katakan pada dua pengecut itu untuk menghadapiku secara langsung kalau mereka memang benar-benar ingin menghabisiku."

"—Dan aku tidak segan-segan menghabisimu jika kau muncul lagi dihadapanku, Jung Daehyun." Untuk yang terakhir kalinya, Sehun memberikan tatapan tajamnya pada Daehyun—juga dengan pemuda-pemuda yang terkapar dilantai, seusai berkelahi.

"Apa yang kalian lihat?" Sehun bertanya risih pada teman-temannya yang kini memandangnya dengan pandangan menggoda. Oh, Sehun benci sekali melihat seringaian menyebalkan diwajah Kai.

"Baguslah jika anak itu mati, aku tidak peduli padanya." Chanyeol menyeringai seraya menirukan gaya bicara Sehun saat mengatakan kalimat-kalimat itu beberapa jam yang lalu. "Dan pada akhirnya kau peduli pada Luhan, Sehun-ah."

Ketiga lainnya tertawa bersamaan, merasa senang telah membuat si dingin Oh itu terdiam dengan wajah terganggunya.

Sehun mendengus tak percaya, merasa jengkel dan malu bersamaan dihadapan teman-temannya. Bagus sekali, dirinya lagi-lagi menjadi bahan tertawaan teman-teman sialannya.


Luhan membuka kelopak matanya perlahan disertai desisan lirih. Seluruh tubuhnya terasa sakit, terlebih punggungnya. Kepalanya pun masih terasa berdenyut-denyut pusing. Berapa banyak pukulan yang Ia terima di bagian-bagian tubuhnya? Luhan tidak tahu, yang pasti saat ini Ia hanya ingin kembali memejamkan matanya dan tertidur sepanjang hari. Melupakan potongan-potongan kejadian hari ini yang membuatnya merasa berada diujung kematian. Luhan hendak menutup kembali kelopak matanya, kalau saja dia tidak merasakan ada seseorang yang sedang memerhatikannya sedari tadi.

Perlahan, Luhan menolehkan kepalanya kesamping—dan dia baru sadar jika saat ini dirinya berada didalam sebuah mobil. Mata Luhan langsung terbuka lebar saat mendapati Sehun sedang memandanginya dengan kedua tangannya yang masih memegang kemudi mobil. "S—sehun?" cicitnya. Entah kenapa Luhan merasa lebih gugup dipandangi sebegitu intens-nya oleh Sehun.

"Baguslah jika kau sudah sadar." Ujar Sehun dengan singkat.

Luhan menautkan alisnya, bingung. "Memangnya aku kenapa?"

Sehun memutar bolamatanya, malas. "Kau pingsan, bodoh."

Luhan mendengus kecil, berusaha tidak membalas ucapan sakartis pemuda bertampang dingin disebelahnya. Bagaimanapun juga Sehun telah menyelamatkannya lagi dan lagi. Luhan bahkan tidak bisa mengeekspresikan kebahagiaannya saat melihat Sehun datang dan membawanya keluar dari gerombolan berandal-berandal yang telah berusaha membunuhnya. Luhan sangat berhutang nyawa pada Sehun. Apapun yang dikatakan orang-orang mengenai Sehun yang berhati layaknya batu, Luhan tidak mau mendengarkannya. Sehun memang terlihat beku dari luar, tetapi Luhan sangat yakin kalau Sehun adalah seseorang yang masih memiliki hati nurani. Bagaimanapun dia adalah manusia, bukan iblis.

"Kita ada dimana?" tanya Luhan seraya memperhatikan gedung pencakar langit didepannya lewat kaca jendela mobil.

"Apartmenku."

Mata Luhan membelalak seketika, "Ap—"

"Aku malas membawamu ke Rumah sakit, aku sudah sangat lelah hari ini. Aku akan memanggil Dokter pribadiku, kau tenang saja." Ucap Sehun cepat-cepat, tampak sangat acuh dan terganggu dengan ekspresi terkejut Luhan. "Bagaimanapun juga ini semua salahku, kau tidak ada kaitannya sama sekali dengan orang-orang sialan tadi."

Luhan membungkam bibirnya rapat-rapat, dia melihat Sehun yang tengah membuka pintu mobilnya. Sebelum benar-benar keluar dari mobil, Sehun membalas pandangannya, membuat Luhan merasa wajahnya menghangat. Mereka sempat bertatapan dengan canggung, lalu pada akhirnya Sehun memutuskan pandangan itu dan berjalan keluar—membukakan pintu mobilnya untuk Luhan.

"Naiklah kepunggungku."

"Huh?" Luhan mengerjabkan matanya beberapa kali, merasa not connected dengan ucapan Sehun. pemuda berparas dingin itu membelakanginya seraya berjongkok, menampilkan punggung tegapnya yang terbalut sebuah jaket hitam.

Sehun terlihat mendesis sebal, "Aku tidak sengaja melihat luka disekitar kakimu, kau pasti sulit berjalan. Naiklah kepunggungku dan jangan bertanya apa-apa lagi." Terselip nada kekhawatiran diperkataan ketus Sehun, membuat Luhan merasa sangat diperhatikan oleh Sehun. uh, dia tidak boleh percaya diri dulu. Sehun hanya merasa bersalah padanya, maka dari itu dia melakukan ini semua. Luhan mengangguk-angguk kecil akan pemikirannya itu.

"Aku masih bisa berjalan." Ujar Luhan, sama sekali tidak sinkron dengan keadaan kakinya yang berdenyut-denyut sakit. memalukan sekali jika dirinya digendong oleh Sehun. Akan hancur harga diri Luhan sebagai lelaki manly.

"Aku tidak suka penolakan, dan asal kau tahu—ayam kecil, aku jarang sekali berbaik hati pada seseorang. Jadi, sebelum aku berubah pikiran dan meninggalkanmu disini, lebih baik kau turuti perintahku."

Luhan memajukan sedikit bibir pucatnya, mendengar kalimat tak terbantahkan dari bibir Sehun. Dengan wajah bersemu merah, Luhan perlahan menempelkan tubuh depannya pada punggung tegap Sehun. dia bisa merasakan betapa hangatnya tubuh Sehun yang berbaur dengan aroma khas pemuda dingin itu—harumnya tidak terlalu menyengat, tetapi sangat menenangkan. Tangan Luhan mengalungi leher Sehun, begitupula kakinya yang melingkari pinggang Sehun. ugh—Luhan benci posisi seperti ini, dirinya terlihat seperti bocah kecil yang tidak bisa melakukan apa-apa.

Jantung Luhan semakin berpacu dengan cepat saat Sehun memegang kedua kakinya agar tidak terjatuh. Dengan posisi piggy back seperti ini, Luhan bisa melihat dengan jelas wajah Sehun dari samping. Dia memang tampan, dan itu tidak dibuat-buat. Pahatan wajahnya begitu sempurna membuat Luhan agak iri. Disaat lelaki yang lain —terutama Sehun— dibilang tampan, dirinya malah dibilang cantik. Itu membuat Luhan jengkel.

"Sejak kapan kau mengenal Kris?" pertanyaan Sehun membuat Luhan tersadar dari lamunannya yang tengah membanding-bandingkan dirinya dengan Sehun—yang pada akhirnya, Luhan mengalah, karna Sehun selalu jauh berada diatasnya.

"Kris?" ulang Luhan, dia asing dengan nama itu.

"Ya, Wu Yifan."

Luhan membulatkan bibirnya seraya mengangguk-angguk kecil, paham. Terlihat seperti anak kecil yang manis. "Aku baru mengenalnya sehari." Ucapnya jujur.

Sehun berhenti melangkah dengan perubahan wajah yang sangat kentara, mau tak mau hal itu membuat Luhan terheran-heran.

"Sehari?" Sehun menoleh kearahnya, dimana posisi itu membuat wajah keduanya sangat dekat—benar-benar dekat. Luhan hanya mengangguk, mengiyakan. "Dan kau langsung mempercayainya? Begitu saja?" geram Sehun, tampak emosi dengan sikap Luhan yang memang sangat kekanakan.

Luhan meneguk liurnya, gugup. Entah karna wajahnya terlalu dekat dengan Sehun, atau karna geraman mengerikan dari pemuda tampan itu. "A—aku hanya bersikap ramah dan mencoba untuk berteman."

"Seharusnya kau jangan terlalu sopan pada orang asing, lihat—akibat kebodohanmu, kau terjebak sendiri." Sehun benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Luhan. berapa sih usia anak itu sebenarnya? Sehun jadi ragu dia sudah mau beranjak dewasa. "Kau itu—aish, dasar bocah!"

Luhan merengut mendengar omelan dari Sehun. tetapi disatu sisi, Luhan merasa ini dejavu. Kalimat-kalimat yang dilontarkan Sehun sama persis dengan kalimat yang diucapkan Suho saat mereka berada dirumah sakit—tepat setelah Luhan berkenalan dengan Kris.

"Aku percaya padamu walau baru mengenalmu beberapa hari." tukas Luhan tiba-tiba.

Sehun terdiam beberapa saat, entah apa yang dipikirkannya. Luhan masih dengan wajah tertekuknya melanjutkan ucapannya dengan lugu. "Karna menurutku semua orang asing itu tidak memiliki niat jahat. Kau memang jahat, bahkan aku memilih memanggilmu keparat. Tetapi karna kau menolongku beberapa kali, aku percaya kau adalah orang baik, Sehun."

Ucapan Luhan seperti ucapan seorang anak kecil tentang mendeksripsikan orang asing. Pemikirannya yang lugu itu membuat Sehun tidak bisa berbicara apa-apa. 'Kau tidak mengenalku, Luhan. kau tidak tahu apa-apa tentang diriku.' –batin Sehun.

"Apa yang mereka lakukan padamu?" Sehun kembali bertanya seraya berjalan, menuju apartmennya.

"Mereka menginginkanmu datang tepat waktu, jam enam sore. Tetapi kau datang sangat terlambat, jam sepuluh malam. Setiap tigapuluh menit kau tidak muncul, mereka memukulku atau menendangku. Dan—" Luhan memelankan suaranya, merasa tidak nyaman mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. "—Untunglah kau datang disaat yang benar-benar tepat, mereka hendak membunuhku. Dan Yifan bilang, dia akan mengirim mayatku kepadamu. Aku tidak mengerti apa maksud mereka semua."

Sehun menghembuskan nafasnya. Jawaban Luhan memperburuk suasana hatinya. Membuat kepala Sehun seperti tertimpa sesuatu yang besar, dia tidak tahu apa yang Ia rasakan saat ini. Rasanya yang pasti—ini agak memalukan— dia ingin kembali memeluk Luhan, memejamkan matanya diatas helaian rambut halus pemuda manis itu dan membisikan kata maaf sebanyak-banyaknya. Sehun mungkin sudah gila karna mendapat pemikiran konyol seperti itu, tetapi memang itulah yang ingin Ia lakukan saat ini. Membayangkan Luhan dipukuli ramai-ramai membuat nafas Sehun tidak beraturan. Dia kesal, tentu saja. Sehun sangat tahu bagaimana rasanya menjadi objek kesalah-pahaman seseorang.

Sehun kembali menghembuskan nafasnya, kali ini lebih halus. "Maafkan aku." Ucapnya begitu pelan, namun masih bisa didengar oleh Luhan. walau matanya masih tertuju kearah depan, tetapi sorot mata Sehun terlihat tidak fokus.

Luhan tersenyum kecil. Mendengar ucapan Sehun membuat hatinya menghangat. Dia tidak salah dengar saat Sehun menggumamkan kata Maaf. Luhan tidak merasa ini bukan salah Sehun—sama sekali bukan. Sehun sudah menolongnya, menyelamatkannya, bukan seseorang yang telah mencelakainya. Jantung Luhan kembali berpacu dengan cepat, memompa aliran darahnya hingga berdesir merambat menuju kedua pipinya yang putih. Semburat kemerahan kembali muncul diwajah manisnya, bertepatan dengan Sehun yang memandangnya dengan tiba-tiba.

Luhan membeku, cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Tidak mau Sehun melihat wajahnya yang memerah-memalukan-menggelikan itu.

Tanpa Luhan sadari, Sehun tersenyum geli melihat sikapnya. Lucu sekali melihat raut wajah Luhan yang merona—entah karna apa, Sehun pun tidak tahu. Dia tidak mau membahas lebih lanjut, karna Sehun yakin Luhan akan berteriak mengelak. "Sampai."

Luhan kembali pada raut normalnya saat mendengar ucapan Sehun. mereka sudah sampai di Apartemen pribadi milik Sehun. Seusai menekan beberapa digit angka yang diketahui adalah password Apartemen-nya, Sehun membawa Luhan masuk kedalam tempat tinggalnya yang sudah Ia huni tiga tahun ini. Informasi saja, Luhan adalah orang pertama yang Ia ajak masuk kedalam tempat tinggalnya—setelah teman-temannya, pasti. Entah Sehun berpikiran apa hingga begitu mudahnya mengizinkan Luhan —yang disebutnya ayam pengganggu— masuk kedalam Apartemennya.

Luhan sendiri tengah terkagum-kagum dengan Apartemen terkesan elegan dan maskulin milik Sehun. semuanya didominasi warna merah-hitam (khas OX 86) dan Silver—warna kesukaan Sehun. Suasananya sangat hangat, jauh berbeda dengan ekspektasi Luhan yang mengira tempat tinggal Sehun akan sangat berantakan khas anak lelaki berandalan dengan kaleng minuman dimana-mana. Nyatanya, tempat ini sangat rapi dan nyaman. Sepertinya Sehun memang tipe seseorang yang perfectionis—dan bukan berandalan.

"Kau tunggu disini sebentar." Sehun menurunkan tubuh Luhan didekat sofa berwarna merahnya. "Jangan menyentuh apapun!" tegasnya saat melihat Luhan hendak menyentuh miniature mobilnya yang terletak dimeja samping sofa.

Luhan berdecak kecil. "Baik, baik." Pemuda manis itu sempat menggerutu, mungkin Sehun berpikir apa yang akan disentuhnya akan rusak. Hal itu membuat Luhan jengkel. Tanpa sengaja mata rusa miliknya menangkap sebuah objek yang menarik perhatian.

Sebuah frame besar yang tergantung didinding, memperlihatkan sebuah foto keluarga—yang Luhan yakini, keluarga Oh. Luhan dengan langkah pelan-pelan, karna kakinya masih sakit, menghampiri foto besar itu. Dia melihat sesosok pria dewasa dengan aura tegas yang sangat kental tengah tersenyum tipis disana, Luhan yakin itu adalah ayah Sehun. sekarang Luhan tahu, darimana fisik Sehun diturunkan. Dia begitu mirip dengan ayahnya.

Lalu, Luhan melihat disebelahnya ada sesosok wanita cantik dengan senyuman yang sangat manis. Tidak diragukan lagi itu adalah Ibu Sehun. Tubuhnya sangat ramping dengan balutan gaun hitam yang elegan. Rambut coklat sepunggungnya pun menambah poin kecantikannya, dan juga bola matanya yang—mirip dengannya? Perkataan Jungshin benar.. Luhan merasa matanya mirip dengan mata milik Ibunya Sehun. Dilihat dari wajahnya, sepertinya Ibu Sehun adalah sosok wanita yang hangat dan baik hati.

Kemudian terakhir, Luhan melihat dua orang anak lelaki—kira-kira berusia 14-tahunan didepan kedua orang dewasa tadi. Luhan baru tahu jika Sehun memiliki seorang kakak lelaki. Sehun terlihat tersenyum difoto itu, senyuman yang Luhan belum pernah lihat. Wajahnya nampak berbinar-binar dan sangat bahagia, berbeda dengan rautnya yang sekarang—begitu mengerikan dan dingin. Luhan merasa terpesona pada senyuman Sehun kecil, entah apa yang membuat Sehun menjadi sosok yang tidak pernah tersenyum seperti saat ini, padahal senyumannya sangat memikat (Luhan tidak sadar telah memuji Sehun). Dan mata Luhan beralih pada anak lelaki yang satunya—yang Luhan yakini adalah kakak lelaki Sehun.

Luhan mengerjab beberapa kali. Memastikan penglihatannya tidak salah. Tetapi tetap saja yang ada dipandangannya adalah orang yang sama. Tidak, tidak mungkin. Tidak mungkin hyung Sehun adalah dia. Luhan yakin itu. mereka sangat berbeda. Semoga perkiraan Luhan salah besar.

"Sehun," Luhan buru-buru memanggil Sehun yang berjalan disampingnya dengan menggenggam ponselnya, dia habis menghubungi dokter pribadinya.

"Hm?" Sehun hanya bergumam untuk menjawabnya.

Luhan menarik nafasnya sejenak seraya memandang Sehun lekat-lekat, "Apa kakak lelakimu adalah—" Luhan menjeda sejenak, "Junmyeon?"

Sehun balas memandangnya, meneliti Luhan dengan pandangan tak bisa diartikan. Yang pada akhirnya Sehun mengangguk tanpa ragu,

"Ya, dia hyung-ku."


Tobecontinued—


(long) a/n :

E-YO EVERYONE!

Udah lama gak ketemu, ciyeee yang putihan ciyee. Ada yang nunggu kelanjutan FF ini? Ada yang mau marah-marah sama gue karna udah nganggurin FF ini beberapa minggu (atau mungkin sebulan-_-)? Atau ada yang mau meluk gue karna kangen? XD

Maaffff sekali karna gue hiatus gak bilang-bilang, soalnya emang beneran gak sempet bilang. Gue sempet kena WB, bawaannya kalo buka laptop males aja buat ngetik wkwk. Padahal ide udah ada. Semoga suka deh sama chapter ini yang menurut gue makin ngebosenin=_=

Well, pertama gue mau bilang.. SELAMAT BUAT YANG UDAH NEBAK SUHO ADALAH KAKAKNYA SEHUN DARI AWAL CERITA! CONGRATS! Kalian dapet piring cantik dari Kyungsoo(?) gue emang sengaja bikin kalian bingung dulu dengan munculin Kris, wkwk ternyata banyak yg kira Kris hyungnya Sehun. padahal si botak itu kakaknya gue/? Penjelasan tentang seluk-beluk keluarga Oh dichap berikutnya aja oke.

Kedua, ada kabar bahagia buat kalian. Chap depan gue bakal bikin Hunhan full moment (mungkin) karna Luhan kan lagi ada diapartemennya Sehun. wkwk enaknya mereka ngapain? Chap depan gue udah mulai ngebahas perasaan mereka masing-masing, karna menurut gue mereka lama banget jadiannya-_- greget sendiri/?/ dan Gue ngerubah konfliknnya, Sehun gak bakal berantem-beranteman sama mafia dkk macem Yoshida kayak kemaren. Menurut gue itu berlebihan-_- karna mereka masih SMA, jadi gue bikin Sehun konfliknya sama anak-anak sebayanya. Macem berantem ala anak SMA gitulah. Setuju? Oke.

Terakhir, gue gabisa janjiin kapan update. Takutnya PHP, karna gue tau di php-in itu rasanya gaenak:(( gue usahain secepatnya, oke yang?;D Ini gue update karna liat review2 dari kalian yg bikin gaenak hati buat gantungin cerita. Thanks ya reviewnya:* Lafyu. Kalian semangat aku. Mumumu~

p.s : ada yang nanya 'author panutan siapa?' honestly, author panutan gue itu…ThehunGoGreen. Lafyah Elva/Ahri nunna muah/? I'm big yourfans. Cuma dia author yg gue suka hehe.

SEE YOU IN NEXT CHAPTER LOVE~

[AnggaraDobby; 08/11/2015]