Kehidupan Im Yoona sangatlah sempurna. Hidup dikelilingi oleh orang-orang yang sangat mengasihi dan menyayanginya, membuat perempuan berparas anggun itu mempunyai karakter yang lugu dan sangat baik. Yoona selalu mempunyai poin plus-plus didirinya, selain karna parasnya yang sangat cantik, dia juga memiliki otak yang pintar. Selalu menjadi juara kelas setiap tahunnya, membuat semua orang menganggumi dirinya—tak terkecuali mahasiswa pindahan yang berasal dari Washington, Oh Seunghyun. Lelaki Korean-America itu diam-diam mengagumi si Primadona kampus mereka, apalagi binar cantik matanya yang sangat indah, yang selalu berhasil menghipnotis Seunghyun. Beruntung, Dewi Fortuna selalu memihak pada lelaki bermata elang itu, karna Yoona selalu membalas pandangannya saat mereka tak sengaja bertemu—atau disengaja, karna Seunghyun kerap kali mengikutinya, stalker.

Hubungan mereka mulai terjalin dengan baik saat Dosen Kimia mereka menyatukan mereka dalam satu kelompok, membuat projek penelitian selama tiga bulan. Seperti sebuah pepatah yang mengatakan; semakin sering bertemu, semakin timbulah rasa-rasa yang lain;

Setelah didesak habis-habisan oleh teman-temannya, akhirnya Seunghyun menyatakan segala perasaannya yang selama ini Ia pendam dalam-dalam pada Yoona, tepat setelah jam pulang dan diruang Laboratorium. Yeah, setidaknya itu cukup romantis untuk orang se-kaku Seunghyun. Lelaki berparas tampan itu bahkan hampir berteriak saat Yoona dengan malu-malu menerima pernyataan cintanya. Untung saja Seunghyun ingat harga diri setinggi langitnya, dia hanya melebarkan senyumnya dan menahan diri sekuat mungkin untuk tidak memeluk gadis didepannya.

Kehidupan Yoona bertambah sempurna, saat dirinya dan Seunghyun memutuskan untuk menikah setelah setahun lamanya menjalin hubungan antar kekasih. marganya berganti menjadi Oh, Oh Yoona. Mereka dikarunia dua jagoan kecil yang sangat pintar, mereka hanya selisih satu tahun. Oh Junmyeon dan Oh Sehun. dimana kepribadian keduanya sangatlah berbeda. Junmyeon yang sangat pintar berbicara dan penurut, sementara si kecil Sehun yang hiperaktif dan sangat nakal. Walaupun begitu keduanya sangat akur dan tidak pernah bertengkar—karna Junmyeon selalu mengalah. Apapun untuk adik tersayangnya. Sehun cenderung lebih mirip dengan Ayahnya, sementara Junmyeon sifatnya sangat mirip dengan Ibunya.

Semua orang mungkin sangat iri pada kehidupan keluarga kecil yang sangat bahagia itu, namun ini bukanlah sebuah dongeng yang kehidupannya sangat mulus dan memiliki akhir yang bahagia. Keinginan Yoona untuk tetap bersama Seunghyun sampai rambut mereka memutih, dan melihat kedua anaknya memiliki pendamping—tidak tercapai. tepat saat bulan ketujuh kehamilan anak ketiganya, insiden besar menimpanya.

Yoona tahu, Sehun tidak pernah bersalah.

Hanya dia yang tahu bahwa putra kecilnya itu tidak sengaja mendorongnya hingga jatuh dari anak tangga, hingga menyebabkan janinnya yang hilang. Juga..nyawanya. Sehun-nya tidak bermaksud seperti itu. ini murni sebuah kecelakaan.

Yoona berusaha sekuat tenaga untuk tetap hidup, kala melihat Sehun bergetar dan menangis kencang melihat dirinya. Yoona berusaha membuka matanya kembali saat melihat Junmyeon memandang adiknya dengan penuh kebencian dan berkata 'Kau membunuh Ibu..'

Dan Yoona ingin sekali hidup kembali untuk menyatukan kembali keluarga kecilnya yang retak—bahkan hancur. Karna meninggalnya dirinya, tidak ada lagi hubungan Kakak-adik atau Ayah-anak dikeluarga kecilnya.

Mereka, sekarang, seperti orang asing yang tidak pernah saling kenal dan membagi kasih sayang. padahal beberapa tahun yang lalu, canda-tawa selalu menjadi penghangat didalam rumah mereka.

"Ayah ingin kau menjaga adikmu, Junmyeon." Suara dingin itu memecah keheningan yang sempat terjadi beberapa detik yang lalu, di sebuah ruangan yang didominasi warna gelap. Pemuda yang berada dihadapan lelaki dewasa itu tampak mengerutkan keningnya, ada raut kesal diwajahnya.

"Untuk apa?"

Seunghyun tahu, Junmyeon tidak akan menyukai keputusannya ini, apalagi setelah setelah pecahnya hubungan mereka bertiga (Seunghyun-Junmyeon-Sehun) tetapi keputusannya sudah bulat. Seunghyun ingin kedua anaknya bisa tetap akur lagi seperti dulu. Ini adalah rencananya. Sudah waktunya Seunghyun berfikir secara dewasa, dia bukan lagi anak remaja yang suka mengolok teman-temannya seperti dulu. Sekarang, dirinya adalah Orangtua tunggal dari kedua puteranya yang mulai beranjak dewasa. "Kau tahu, Sikap Sehun akhir-akhir ini sangat mengecewakan. Keputusanku membawanya ke Amerika sangat salah. Dia semakin menjadi-jadi. Aku memasukannya ke sekolah swasta, OX 86 High School. Kau harus menjaganya, Junmyeon. Aku percaya padamu, kau bisa mengontrol sikap Sehun yang sudah keluar batas."

Sejak meninggalnya Yoona, semuanya sangatlah berubah. Seunghyun sadar dirinya sudah terlalu kasar pada Sehun dan mengusir anak itu tinggal dirumah kakeknya, di Las Vegas. Dia tidak bisa mengontrol dirinya saat mendengar Junmyeon dan seorang pelayannya mengatakan jika Sehun sengaja mendorong Yoona dari tangga atas. Dia bahkan memukul putera bungsunya itu. sekarang, setelah sekian lama merenungi, Seunghyun yakin Sehun tidak berbuat hal keji seperti itu. karna yang Seunghyun tahu, Sehun sangat menyayangi Ibunya.

"Lalu bagaimana dengan sekolahku?" tanya Junmyeon. Segala sifat Yoona yang diturunkan padanya sudah hilang. Junmyeon cenderung mirip Seunghyun sekarang. Dingin, keras kepala dan arogan—sama halnya seperti Sehun.

"Kau pindah kesekolah Sehun."

Junmyeon mendelik, tak percaya. "Aku harus meninggalkan sekolah kedokteranku, kalau begitu?!" tukasnya sakartik. "Dan bersekolah ditempat anak-anak berandal?! Apa yang ada dipikiranmu, ayah?"

Seunghyun menghela nafasnya, dia tahu kejadiannya akan seperti ini. "Kau bisa ambil fakultas kedokteran saat kuliah nanti, untuk saat ini, jagalah Sehun. Aku akan sibuk di Amerika tahun depan dan seterusnya. dan ingat Oh Junmyeon, Aku tidak suka dibantah." Ucapnya dengan nada tegas tak terbantahkan dibagian akhir.

Junmyeon mendengus tak percaya. Hendak berbicara –protes- lebih lanjut, namun diurungkannya. Pemuda itu dengan segala emosi meledak-ledak keluar dari ruangan Ayahnya tanpa bicara apa-apa lagi. Bahkan menutup pintu dengan suara debuman yang keras.

"Menghilangkan nyawa Ibu, menghancurkan cita-citaku, lalu apa lagi yang akan kau lakukan pada hidupku Sehun?! Great, kau membuatku semakin membencimu."

Tepat saat Junmyeon mengatakan itu, Sehun berjalan dihadapannya. Mengabaikan rasa berdenyut nyeri didalam dadanya, Sehun menghampiri Junmyeon dengan senyuman tipis.

"Apapun yang kau katakan padaku, apapun yang kau lakukan padaku, kau tetap Hyung-ku. Junmyeon hyung.."


©Anggara Dobby:

NOT PERFECT

Oh Sehun—Lu Han

Hun-Han

.

Warn: YAOI. Slash. Shounen-ai. AU. Typo(s). Boring! DLDR.

a/n : Yang diatas itu flashback yo. Semoga dapat dipahami.

.


"Mengapa bisa?"

Sehun mengernyit heran mendengar pertanyaan yang menurutnya sangat bodoh itu, keluar dari bibir Luhan setelah berdetik-detik terdiam. "Tentu saja karna kita memiliki ikatan darah." Ujarnya sakartis. Lagipula ada apa dengan anak ayam itu, yang sepertinya terkejut sekali mendengar bahwa Junmyeon adalah kakaknya. Mengabaikan Luhan yang kini terdiam lagi, seperti memikirkan sesuatu, Sehun lebih memilih mendudukan dirinya disofa tunggal disana. Hari ini sangat melelahkan baginya, Sehun berharap malam ini dia bisa tertidur tenang—tetapi rasanya mustahil, mengingat ada Luhan disini. Dia juga tidak tahu kenapa bisa-bisanya membiarkan Luhan masuk kedalam tempat tinggalnya, bahkan menyuruhnya untuk bermalam disini.

Sehun pasti sudah gila.

Sementara Luhan masih berdiri didepan Sehun dengan dahinya mengernyit, tanda berfikir. Kenapa selama ini Junmyeon tidak mengatakan apapun padanya tentang Sehun? Luhan tahu, mereka baru mengenal minggu-minggu ini. Tetapi Luhan tidak pernah sekalipun melihat Junmyeon berinteraksi dengan Sehun layaknya kakak-adik? Mereka bahkan terlihat seperti orang asing yang tidak saling mengenal.

"Mm-hm, mana ada orang baik yang suka memukuli adiknya sendiri hingga masuk ke Rumah sakit."

"Dia bukan adikku Xing."

Luhan seketika mengingat ucapan Yixing dan Junmyeon pada saat dirinya pertama masuk kesekolah. Junmyeon terlihat sangat berbeda saat Yixing berbicara mengenai adiknya. Nada bicaranya sangat dingin dan pancaran matanya yang tidak bersahabat.

"Benarkan Junmyeon sering memukulimu?" pertanyaan itu tercetus begitu saja dari bibir Luhan.

Sehun balas memandang Luhan dengan satu alisnya yang terangkat. "Mengapa kau bertanya seperti itu?"

"Jawab saja."

"Memangnya kita sudah tahap seperti apa sampai aku harus menjawab pertanyaanmu itu?"

Luhan mendecakan lidahnya, merasa jengkel bukan main dengan sikap Sehun yang arogan itu. "Mengapa kau dan Junmyeon sangat berbeda?" kali ini pertanyaan lain yang keluar dari bibir Luhan, membuat raut wajah Sehun ikut bertambah jengkel. Mengapa anak ini memiliki rasa keingin-tahuan yang sangat tinggi, sih?

"Kau tanyakan saja padanya. Bukankah kau dengannya sangat dekat?" balas Sehun. "Bahkan terlihat seperti sepasang kekasih." imbuhnya dengan nada merendahkan.

Kenapa jadi dia yang kesal? –batin Luhan. "Aku tidak berpacaran dengannya!" protes Luhan dengan wajah memerah, entah kenapa.

"Kau pikir aku peduli?"

Luhan rasanya ingin sekali melempar wajah Sehun dengan vas bunga didekatnya. Bagaimana bisa didunia ini ada orang yang sikapnya sangat arogan seperti Sehun? wajar saja jika Luhan mengatakan Sehun dan Junmyeon sangat berbeda. Sikap dan karakter mereka berlawanan sekali.

Keheningan mengambil alih keduanya. Sehun yang masih terduduk disofa dengan gaya like-a-boss-nya memandangi Luhan yang berdiri dengan wajah lugunya—atau mungkin wajah blank-nya. Seperti terhipnotis, Sehun tidak bisa menjauhkan pandangannya dari wajah Luhan. entah kenapa semuanya terasa sangat menyenangkan melihat raut Luhan yang tengah berfikir, sesekali matanya mengerjab pelan atau dahinya mengernyit. Walau terdapat beberapa lebam kebiruan diwajah Luhan, Sehun masih bisa melihat dengan jelas betapa halusnya wajah Luhan saat dipandang dari dekat. Sehun tidak tahu apa yang pemuda itu pikirkan—mungkin masih tentang mengapa bisa Ia menjadi adiknya Junmyeon—yang jelas Sehun sangat menikmati pemandangan didepannya.

Menikmati? Oh, saking lelahnya dirinya, Sehun merasa otaknya agak tergeser. Kejadian ini selalu terjadi jika ada Luhan didekatnya. Cukup membingungkan, karna disatu sisi Ia merasa terganggu dengan kehadiran Luhan, tetapi di sisi lain, Ia merasa nyaman. Sehun tidak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaannya saat ini. Seperti ada sesuatu yang Sehun rasakan yang dulunya telah hilang. Perasaan asing yang muncul kembali, membuat dadanya terasa hangat.

Mengikuti insting, Sehun bangkit dari duduknya. Hingga kini Ia berdiri tepat dihadapan Luhan. memperhatikan lebih detail paras Luhan. kini Sehun tidak bisa mengelak lagi, seseorang dihadapannya memang memiliki wajah yang sangat manis dan cantik—bahkan melebihi seorang perempuan. mengabaikan pandangan bingung dari pemuda bermanik coklat itu, Sehun tanpa sadar mendekatkan wajahnya.

Mendekat.

Luhan mengedipkan matanya bingung.

Mendekat.

Luhan menahan nafasnya secara refleks.

Mendekat.

Luhan mulai memejamkan matanya rapat-rapat, merasakan hembusan nafas Sehun menerpa halus wajahnya.

Mendekat,

Dan—TING TONG!

"Kenapa kau memejamkan mata?" tanya Sehun , menjauhkan kembali wajahnya dari Luhan, begitu bel berbunyi. Sehun menyeringai melihat Luhan membuka matanya dengan semburat kemerahan mulai menghiasi pipinya. "Aku hanya melihat lukamu, bukan menciummu." Senyuman menggoda terlukis diwajah Sehun, membuat Luhan semakin merasakan aliran panas diwajahnya.

Sehun tertawa pelan —yang tidak diketahui Luhan, karna pemuda itu sibuk memandangi kearah lain, karna salah tingkah— dan berjalan menuju pintu depan. Dokter pribadinya pasti yang datang. Sehun merasa kehadiran Luhan di Apartemennya malam ini membuat mood-nya membaik. Tidak tahu kenapa, Sehun merasa senang—terbukti dari keberhasilan Luhan membuat dirinya tertawa, walau bukan sebuah tawaan yang terbahak, namun berefek sangat besar pada tubuhnya yang kini seperti diberi suntikan penyemangat.

Dia pasti sudah gila.


Sehun yakin ada yang salah dengan dirinya malam ini. Setelah menolong Luhan untuk yang kesekian kalinya, dia membawa Luhan kedalam Apartemen-nya—bahkan menggendongnya (catat itu, Menggedongnya! Hal yang belum pernahSehun lakukan pada orang lain seumur hidupnya) memanggilkan dokter pribadinya untuk pemuda itu, dan kini membiarkan Luhan tertidur satu ruangan dengannya. Bloody hell. Sehun yakin jika teman-temannya mengetahui ini—terutama Kai—mereka pasti akan tertawa habis-habisan. Sehun memejamkan matanya ngeri, dia tidak akan membiarkan siapapun tahu hal ini.

Sehun melirik kearah Luhan yang terbaring diatas sofa yang terdapat didalam kamarnya. Ya, Luhan berada di sofa dan Sehun berada diatas tempat tidurnya. Memangnya apa yang kalian harapkan? Mereka akan satu ranjang? Bermimpi saja, karna Sehun tidak akan mau berbagi tempat tidurnya dengan pemuda bersurai coklat madu itu. sudah cukup kebaikan hatinya hari ini untuk Luhan, tetapi jika untuk satu tempat tidur—Sehun tidak siap. Luhan kini sudah mengganti bajunya, dia memakai kaus putih milik Sehun dan celana hitam selutut. Setidaknya Sehun masih memiliki hati nurani untuk meminjamkan bajunya kepada Luhan, yang tadinya penampilannya sungguh berantakan. Kurang baik apa Ia hari ini?

Sehun memandangi langit-langit kamarnya dengan satu lengannya yang Ia gunakan untuk bantalan kepalanya, dia belum bisa tertidur. Sejak kedatangan dokter pribadinya tadi, Luhan lebih banyak terdiam. Tidak bertanya ataupun membicarakan hal yang tidak penting padanya seperti saat mereka baru sampai disini. Mungkin karna godaan Sehun tadi yang tidak Ia sengaja, membuat keduanya menjadi canggung. Jujur saja, Sehun tidak menyukai suasana seperti ini. Walau hari-hari biasanya dia lebih suka ketenangan ditempat tinggalnya, namun kali rasanya berbeda. ada seseorang yang menemaninya malam ini, setidaknya Sehun ingin berbicara satu-dua kata—yang pastinya sangat mustahil, karna dirinya selalu saja bertingkah arogan ketika Luhan membuka suara.

"Sehun,"

Sehun menyembunyikan rasa antusiasnya saat mendengar Luhan membuka suaranya. Ternyata pemuda itu belum tertidur juga. "Hn?" dia hanya membalas dengan gumaman singkat, tampak acuh walau sebenarnya dia bersyukur karna suasana hening yang menjengkelkan tadi akhirnya hilang juga.

"Kenapa kau selalu menolongku?"

Pertanyaan bagus, karna Sehun tidak bisa menjawabnya sama sekali. Dia juga tidak tahu mengapa bisa terus bertemu dengan Luhan dalam keadaan yang mendesak. Jika menyalahkan takdir rasanya sangat menggelikan. Karna akan terdengar seperti; dia selalu menolong Luhan karna takdir yang selalu mempertemukan keduanya. Tch, seperti drama romansa.

"Aku tidak tahu." Sehun menjawab.

Luhan mengernyit heran mendengar jawaban tidak berarti itu. Dia memposisikan dirinya hingga menghadap kearah Sehun yang berada diseberangnya. "Apa kau membenciku?"

"Atas dasar apa aku harus menjawab pertanyaan tidak bermutu seperti itu?"

"Dasar menyebalkan." Gerutu Luhan.

"Hei, aku mendengarnya!"

"Bagus, jika kau mendengarnya. Kau memang menyebalkan, arogan, dan kaku."

"Sopan sekali, Luhan. kau berbicara seperti itu pada seseorang yang sudah menolongmu berkali-kali." Sindir Sehun, kali ini berbaring menghadap kearah Luhan yang juga sedang memandangnya.

"Maaf, aku hanya menyampaikan pendapatku."

Sehun mengibaskan tangannya acuh, "Yeah, aku sudah biasa mendapatkan kalimat seperti itu."

"Maka dari itu kau harus berubah." sahut Luhan. Si pemilik wajah manis itu buru-buru merubah posisinya, menjadi duduk tegak menghadap kearah Sehun. "Aku bisa membantumu, jika kau mau."

"Berubah seperti apa maksudmu?" tanya Sehun tidak mengerti. Apa yang harus dirubah dari dirinya? Sikap arogannya? Sehun sudah nyaman dengan dirinya yang seperti ini.

"Seperti aku." Luhan menunjuk dirinya sendiri, lalu tersenyum lebar yang terlihat seperti cengiran seorang bocah berumur lima tahun. Manis dan menggemaskan sekali dilihatnya, namun tidak terpengaruh oleh seseorang macam Sehun. Yeah, mungkin berpengaruh sedikit. Sejujurnya.

Sehun mendengus geli, "Aku? Jadi sepertimu?" dia berusaha menahan tawanya yang sebentar lagi akan meledak. "Jika maksudmu menjadi ceroboh, kekanakan dan kelewat ceria. Tidak, untuk jawabanku. Aku lebih menyukai diriku yang seperti ini." Cibir Sehun.

"Aku tidak ceroboh!" protes Luhan seraya melemparkan sebuah bantal kearah wajah Sehun. Sehun terlihat terkejut menerima serangan tiba-tiba itu, buru-buru terduduk tegak dan memicingkan matanya dengan tajam kearah Luhan. "Jangan mulai sebuah peperangan, Luhan. kau pasti tahu, kau akan kalah nantinya." Ujar Sehun dengan nada penuh ancaman.

"Aku tidak yakin dengan ucapanmu." Balas Luhan dengan nada mengejek.

Sehun menggeram rendah, "Baiklah, kau yang memulai semua ini. Tanggung sendiri akibatnya." Dia meraih sebuah bantal didekatnya, dan melemparkannya kearah Luhan. Sehun menyeringai puas karna sasarannya tidak meleset. Bisa dia lihat Luhan tengah menggerutu dan meraih-raih bantal yang lain untuk dijadikan senjata.

"Cabut kata-katamu, Sehun! aku tidak kekanakan!" seru Luhan seraya melemparkan serangan balik untuk Sehun.

Sehun menghindar dengan gesit, hingga bantal yang dilemparkan Luhan terlempar sia-sia. "For what? Aku mengatakan sebuah fakta, little chicken."

Begitulah peperangan bantal-bantal dimulai. Entah bagaimana caranya kini keduanya saling berkejaran seraya melemparkan sebuah ejekan dan juga bantal, tentunya. Sehun bahkan tidak lagi mempermasalahkan betapa berantakannya kamarnya saat ini, semuanya terasa tidak penting dipenglihatannya. Kecuali Luhan dengan wajah kesalnya yang tengah berusaha memukulinya dengan sebuah bantal sofa saat ini, itu terasa menyenangkan sekali bagi Sehun. melihat raut kesal Luhan, membuatnya bersemangat. Sehun belum pernah merasa sesenang dan bersemangat seperti sekarang. Seperti ada sebuah sesuatu yang besar dalam dirinya yang akan meledak. Agak heran juga dengan Luhan yang sangat hiperaktif, harusnya pemuda asal Beijing itu tetap terbaring lemas diatas sofa karna seluruhnya tubuhnya yang belum pulih benar dari luka-luka. Sehun harus mengakui kalau Luhan memang bukan orang yang lemah dan mendramatisir segalanya.

Lihat saja sekarang, Luhan berlari-larian mengejar Sehun, berusaha memukul pemuda itu yang masih saja mengejeknya dengan sebutan little chicken atau menyebutnya kekanakan juga ceroboh.

"Berhenti memanggilku ayam kecil, keparat!"

"Lalu kau mau aku panggil apa? Rusa betina?"

"AKU JANTAN!"

Mereka saling melempar, memukul menggunakan bantal, bahkan aksi dorong-mendorong dilakukan. Mengabaikan fakta bahwa saat ini mereka berdiri diatas ranjang, dan juga bantal-bantal yang sudah berserakan dibawah. Luhan dan Sehun memperebutkan satu bantal yang tersisa, untuk dijadikan senjata. Aksi saling tarik-menarik pun tak bisa dihindarkan.

"Kau, serigala busuk! Berikan ini padaku!"

Sehun mendelik mendengar sebutan baru Luhan untuknya. "Dan membiarkanmu memukuliku dengan bantal ini? Mimpi saja, rusa."

"Berikan!"

"Tidak."

"Beri—U-uaahh!"

SREEET!

Bulu-bulu angsa berwarna putih cantik itu berterbangan diudara saat bantal yang menjadi objek tarikan kuat Sehun dan Luhan menimbulkan suara yang khas, suara robekan. Begitupula Luhan yang sudah terjungkal kebelakang, hingga tubuhnya kini berbaring diranjang milik Sehun. belum sempat Luhan sadar sepenuhnya dari apa yang telah terjadi, Ia sudah dikejutkan dengan tubuh besar Sehun yang menimpanya. Salahkan kaki Luhan yang tak sengaja menendang pelan kaki Sehun yang tengah menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak terjatuh. Dan pada akhirnya Sehun terjatuh juga.

Tepat diatas tubuh Luhan.

Gosh.

Untungnya Sehun buru-buru menopang berat tubuhnya dengan kedua tangannya yang berada disisi kepala Luhan, agar tubuhnya tidak menempel dengan tubuh Luhan. Sehun bisa merasakan aliran panas yang merambat menuju wajahnya, menyadari betapa intimnya posisi mereka. Dengan posisi seperti ini, Sehun sadar, kalau mata Luhan memang sangatlah mirip dengan mata Ibunya. Cantik dan indah. Seperti ada banyak kerlapan bintang disana. mengagumkan sekali.

"Hatchih!"

"Hahahahaha"

Keadaan yang sempat canggung beberapa detik itu berakhir saat Sehun akhirnya mengeluarkan suara tertawanya. Luhan yang bersin karna ada sebuah bulu angsa dihidungnya adalah pemandangan yang sangat lucu untuk Sehun. Luhan sempat memandang Sehun dengan bingung, tetapi setelah itu Ia ikut tertawa lepas. Mentertawakan diri masing-masing yang terjatuh akibat pertengkaran ala anak kecil yang konyol.

Luhan tertegun memandangi wajah Sehun yang tengah tertawa dengan lepas. Ekspresi yang baru kali Ia tunjukan. Sorot matanya yang dingin dan wajah arogannya menghilang, digantikan wajah yang begitu bahagia dan gelak tawanya yang dipendengaran Luhan sangatlah menyenangkan. Sehun terlihat sangat lepas dan bebas saat ini, seperti tidak ada tekanan dan masalah dihidupnya. Luhan tanpa sadar merubah tertawaannya menjadi sebuah senyuman lembut. Entah kenapa, Luhan sangat menyukai ekspresi Sehun saat ini.

Sehun yang menyadari perubahan raut wajah Luhan, sontak menghentikan tawanya. Dia juga tidak sadar telah tertawa begitu lepasnya, seolah-olah beban berat dihidupnya sudah tidak ada lagi. Memang seperti itulah yang Ia rasakan saat ini. Melihat senyuman manis yang terukir diwajah Luhan, membuat tubuhnya menghangat.

Sensasi asing ini datang lagi..

Entah apa yang telah terjadi pada detik-detik yang terasa sangat lama bagi keduanya, Sehun memutuskan kontak matanya pada Luhan. Tangannya yang tiba-tiba merasa lemas, Ia biarkan. Dan Sehun sepenuhnya menumpukan berat tubuhnya diatas tubuh Luhan. mengabaikan rasa-rasa aneh yang menjalari tubuhnya kala kulit keduanya bersentuhan, mengabaikan sensasi menyengat kala dada Sehun menyentuh dada Luhan—hingga merasakan betapa cepatnya degupan jantung masing-masing, Sehun memilih memposisikan kepalanya diperpotongan leher Luhan.

Sehun tahu, Luhan tengah terkejut saat ini. Tetapi sekali lagi, Sehun mengabaikan apapun yang ada disekitarnya. Dia hanya ingin merasakan kenyamanan walau hanya seperkian detik. Dia tidak berbohong tentang betapa nyamannya berada didekat Luhan, bahkan bisa menghirup aroma tubuhnya yang menenangkan seperti menghirup bunga-bunga yang dibasahi embun saat pagi hari. Kenyamanan ini membuat Sehun melupakan segala yang mengganjal diotaknya. Semuanya terasa blur, yang ada hanya sosok Luhan saat ini.

Bermenit-menit mereka terdiam dengan posisi seperti itu, membiarkan bulu-bulu angsa yang tadinya berterbangan kini menempel disekitar tubuh mereka. Yang terdengar hanyalah detakan jantung keduanya, dan juga hembusan nafas Luhan yang bergerak lambat, sangat kontras dengan detakan jantungnya. Tidak, Luhan tidak tertidur. Dia hanya mencoba bersikap setenang mungkin walau hembusan nafas Sehun dilehernya sangat mengganggu, membuatnya ingin menggeliat geli.

Dan pada akhirnya keheningan itu terpecahkan juga oleh suara lugu Luhan.

"Sehun, kau berat."


"Baekhyun, maafkan aku."

"Baek? Ayolah, jangan diamkan aku seperti ini. Aku tidak bisa."

"Baekkie~"

Kai mengerang kesal seraya membanting dua sumpitnya diatas meja makan. Pemuda berkulit tan itu memandang kearah dua temannya yang bisa-bisanya melakukan sebuah adegan yang biasa Ia lihat di drama-drama anak remaja. Chanyeol yang tengah membujuk Baekhyun adalah pemandangan yang sangat menjengkelkan, dimana suara beratnya diusahakan menjadi lembut, dan juga sikapnya yang sangat berlebihan. Seolah-olah Baekhyun adalah nyawa keduanya.

"Byun Baekhyun, aku menyayangimu. Jangan diamkan aku, please?"

Kai mengernyit jijik kala melihat Chanyeol meraih tangan mungil Baekhyun dan mengecup punggung tangannya. Oh shit, dia memang berlebihan sekali jika sudah menyangkut Baekhyun. Dan anehnya, pemuda mungil yang tadinya menekuk wajahnya itu kini balik memandang Chanyeol dengan rona kemerahan dipipinya.

"Aku maafkan, Yeollie."

Kai memutar bola-matanya bosan saat Chanyeol membawa tubuh kecil Baekhyun kedalam pelukannya. "Aku hanya mengingatkan kalau saat ini kita berada disebuah Restaurant, oke?"

"Aku tahu, jangan kau ingatkan lagi. Bilang saja kau iri." Sahut Chanyeol membuat Kai mendelikan matanya kesal. "Kau 'kan tidak pernah mempunyai seseorang yang kau sayangi." Imbuhnya lagi, dengan lidah berbisanya itu.

Chen tergelak membuat Kai bertambah jengkel, mungkin jika saat ini ada Sehun maka Ia akan mempunyai teman seperjuangan. Dalam kasus ini yang selalu menjadi sasaran tertawaan karna tidak pernah merasakan jatuh cinta adalah dirinya dan juga Sehun. sialan.

"Aku akan memotong telingamu nanti, Yoda." Desis Kai, lalu melanjutkan acara makannya dengan lahap—menulikan pendengarannya dari derai tawa ketiga temannya. Ditertawakan karna tidak punya kekasih? Ouh, konyol sekali. Kai bahkan tidak pernah berfikiran sampai sana, dia memang sering melakukan one night stand dengan beberapa orang, tetapi itu tidak membuat dirinya jatuh kedalam pesona orang lain yang ditidurinya. Kai hanya bersenang-senang. Lagipula Sehun lebih parah dari dirinya, yang tidak mau mempunyai pasangan seumur hidupnya dan sangat menjauhi hal-hal yang berbau kasih-sayang. setidaknya Kai masih mempunyai hati untuk dibagikan ke seseorang yang bisa membuatnya tertarik.

"Jika saat ini kau membanding-bandingkan dirimu dan Sehun, maka kali ini kau tertinggal jauh." Chen membuka suaranya, seolah-olah bisa membaca pikiran Kai. "Setidaknya Sehun yang berhati beku itu tengah dalam proses mencair karna adanya Luhan."

"Omong-omong soal Sehun, dia bahkan membawa Luhan kedalam mobilnya. Kau lihat tidak bagaimana pandangan Sehun saat melihat Luhan pingsan? Wajahnya memang seperti biasa-biasa saja, tetapi aku tahu kalau dia merasa khawatir!" sahut Baekhyun dengan menggebu-gebu, dia memang senang sekali jika sudah menyangkut hal seperti ini. "Kira-kira kemana Sehun membawa Luhan pergi? Ini adalah kemajuan yang sangat pesat!"

Kai memakan sepotong daging ayamnya dengan perasaan jengkel, "Kalian tidak tahu saja jika aku sudah mempunyai kekasih." ucapnya tanpa bisa dicegah.

"Benarkah?" tanya ketiga temannya dengan serempak, mereka seperti memiliki kontak batin.

"Ya, dan—Eh?" Kai seketika menyadari kebodohannya dalam berbicara asal. Bisa dilihat ketiga temannya memandangnya dengan pandangan mengintimidasi. Oh sial. Kai 'kan hanya asal bicara, karna sejujurnya dia memang tidak memiliki seorang kekasih.

"Kau benar-benar sudah memiliki kekasih?" tanya Chen spontan.

"Sejak kapan?" kali ini Baekhyun.

Dan Chanyeol yang terakhir sekaligus menambah pusing kepala Kai, "Siapa kekasihmu?"

"Aku, kekasihku—" Kai menggantung ucapannya. Sial, dia harus menjawab apa? jika mengatakan kalau dia hanya berbicara asal —berbohong— maka dirinya akan ditertawakan habis-habisan lagi. Siapa kiranya seseorang yang bisa dijadikan sasaran kebohongannya kali ini. Krystal? Tidak, Chen pasti akan bertanya padanya. Seulgi? Bukan pilihan tepat.Chorong? Tidak, tidak. Aish sial sekali. Dia harus bagaimana sekarang?

"Siapa?" tanya ketiga temannya, mendesak.

"Kekasihku—Do Kyungsoo?"

"Do Kyungsoo?!"

Dan ketiga pasang mata itu hanya bisa membelalak melihat Kai yang sudah melarikan diri kearah Kyungsoo —yang entah kebetulan apa hingga Ia bisa disini—bersama seseorang berambut hitam kelam.

Mengejutkannya, seseorang itu adalah Junmyeon.

...

Kai melarikan diri kearah pemuda bermata bulat yang tengah berdiri didepan pintu Restaurant, untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan mendesak teman-temannya. Dia tidak tahu apa yang dia pikirkan hingga dengan refleks menggumamkan nama Kyungsoo dan langsung berlari kearahnya. Yeah, setidaknya dia terhindar dari desakan Baekhyun, Chanyeol dan juga Chen.

"Jongin?"

"H—hai?" Kai merutuki suaranya yang agak gugup. Sial, apa itu barusan? Hai? Sapaan menggelikan macam apa itu?

Dia melihat pemuda pendek yang pernah menjadi bahan bully-annya itu memasang raut wajah heran, dan Kai baru menyadari jika Kyungsoo tidaklah datang seorang diri. disebelahnya terdapat seorang pemuda berambut hitam kelam dengan tatanan yang di keataskan, hingga menampilkan dahinya yang putih. Sial, dia tampan dan terlihat dewasa sekali—dan Kai mengenalinya sebagai kakak dari sahabat baiknya, Sehun.

"Junmyeon hyung?"

"Kenapa kau selalu terkejut saat bertemu denganku, Kai?" Junmyeon mengangkat sebelah alisnya, dan balasan Kai hanya tertawa canggung. Tentu saja dia terkejut, mengapa Kyungsoo bisa mengenal Junmyeon? Dan mengapa mereka bisa datang berdua ke Restaurant di malam-malam begini?

"Kau mencari Luhan?" tanya Kai spontan saat melihat Kyungsoo yang memandang kesegala arah dengan gelisah, penampilannya juga terkesan berantakan. Kai bisa menyimpulkan jika Kyungsoo tengah mencari Luhan yang memang menghilang dari sore tadi.

"B-bagaimana bisa kau tahu?" Kyungsoo memandangnya dengan mata bulatnya yang penuh rasa ingin tahu.

Kai berdecak dalam hati, rambut halus berwarna hitam milik Kyungsoo yang menutupi dahinya tampak mengganggu penglihatan Kai. Rambut itu terlihat halus sekali. Sial. "Hanya insting," jawab Kai singkat dan tidak jelas.

"Kau tahu dimana Luhan?" kali ini Junmyeon yang bertanya, lengkap dengan pandangan tajam meneliti yang membuat Kai merasa ngeri, karna kesehariannya harus dihiasi dengan tatapan-tatapan tajam milik Sehun dan juga Junmyeon.

"Aku tidak tahu, yang pasti Luhan sudah sangat aman." Kai berkata yakin. Ya, dia yakin Sehun menjaga Luhan dengan baik. Walau masih ragu-ragu sedikit sih. Sehun itu adalah tipe seseorang yang kebaikan hati dan kepeduliannya tidak mau terlihat.

Junmyeon mengangkat sebelah alisnya, "Apa menghilangnya Luhan ada sangkut-pautnya denganmu dan teman-temanmu itu?" tanyanya, menyelidik.

Kai menyesali telah berlari kearah sini. Karna disini dia juga diberi pertanyaan yang mendesak. Sial sekali nasibnya. "Y-yeah, sepertinya."

"Aku ingin bertemu Luhan hyung." Ucap Kyungsoo dengan nada memohon, wajahnya masih gelisah dan khawatir sekali.

"Aku tidak tahu dimana dia!" geram Kai, entah mengapa dia merasa kesal sendiri melihat wajah berantakan Kyungsoo. "Tenang saja, besok Luhan akan kembali dengan selamat. Dan yang pasti aku dan teman-temanku bukanlah penyebab utama menghilangnya Luhan." tambah Kai buru-buru saat melihat Junmyeon melayangkan tatapan mematikan kearahnya.

"Berarti kalian penyebab kedua?"

"Oh sial, Junmyeon hyung, tak bisakah kau berbaik sangka sedikit pada kami?" Kai bertanya dengan sinis.

Dan balasan Junmyeon hanya seulas senyum tipis yang merendahkan, "Tak ada alasan bagiku untuk berbaik sangka padamu dan teman-temanmu." Dia meraih lengan Kyungsoo dan membawanya keluar dari Restaurant. "Kita tunggu kabar Luhan selanjutnya, kau pulanglah dulu, Kyungsoo."

Kai yang melihat itu mendengus kesal. "Akrab sekali." Cibirnya.


Disinilah Luhan berada sekarang. Di balkon Apartemen milik Sehun dengan segelas susu coklat ditangannya. Waktu sudah menunjukan hampir tengah malam, tetapi sepertinya Sehun tidak membiarkannya tidur tenang malam ini. Setelah melewati beberapa menit yang awkward diatas ranjang Sehun, Luhan buru-buru menuju sofa dan memejamkan matanya—berusaha untuk tertidur dan menenangkan degupan jantungnya, namun Sehun dengan tidak berkeprimanusiaan menepuk-nepuk pipinya cukup kencang dan membangunkannya. Luhan hampir saja mencekik Sehun kala pemuda itu mengatakan dia tidak bisa tertidur dan meminta Luhan untuk menemani dirinya di balkon. Seperti saat ini.

Angin malam yang sejuk menerpa wajah Luhan dan membelai-belai helaian rambutnya hingga menjadi tak beraturan, hal itu membuat Luhan ingin memejamkan matanya dan mulai berpetualang dialam mimpi. Dia sangat mengantuk, asal kalian tahu saja. Jika Luhan tidak ingat Sehun adalah seseorang yang sering menolongnya, mana sudi dia menemaninya malam-malam seperti ini. Jarak Sehun berada dua langkah dari dirinya, membuat mereka berdua terlihat seperti sepasang kekasih yang tengah bertengkar.

Luhan melirik kecil kearah Sehun dan dia harus kehilangan fokusnya sementara. Karna pemuda tinggi itu terlihat sangat memukau dengan helaian-helaian surai kelamnya yang tertiup angin lembut. Sehun terlihat tidak tergganggu sama sekali dengan semua itu, matanya tetap terfokus kearah depan, sesekali meneguk soft drink yang berada digenggaman tangannya. Dia menawan dan sulit untuk dipahami. Dia kembali menjadi Sehun yang biasanya, kaku dan dingin—tidak seperti beberapa menit yang lalu, saat tertawa dengan lepas dan sorot matanya yang hangat. Luhan benar-benar tidak bisa memahami Sehun. dia sulit sekali untuk diketahui jalan pikirannya.

Luhan membuka bibirnya sedikit, hendak membuka suara—karna suasana hening seperti ini sangat tidak menyenangkan. Tetapi gerakan Sehun yang menoleh kearahnya dengan tiba-tiba membuat dirinya bungkam.

"Ada yang ingin kau tanyakan?"

Luhan memerah, merasa malu karna Sehun memergokinya memandangi pemuda itu. "Sebenarnya, banyak yang ingin kutanyakan. Tetapi aku tidak yakin kau mau menjawabnya."

"Tanyakan saja, aku risih kau terus menatapku dengan mata yang penuh keingin-tahuan itu." tukas Sehun dengan acuh.

Luhan mendengus kecil. "Apa hubunganmu dan Junmyeon tidak baik?" tanyanya penuh dengan kehati-hatian. Luhan tahu ini adalah pertanyaan pribadi, tetapi salahkan rasa keinginan-tahunya yang sangat tinggi itu.

"Bisa dibilang begitu," Sehun kembali memandang lurus, menatapi gedung-gedung pencakar langit dihadapannya. "Kenapa kau ingin tahu masalah itu? Kau menyukai Junmyeon hyung?"

Luhan memasang ekspresi aneh. Memangnya pertanyaan barusan berhubungan dengan perasaan? Sepertinya tidak sama sekali. Kenapa Sehun selalu mengiranya ada hubungan dengan Junmyeon? Luhan harus mengganti topik pembicaraan ini, sebelum dirinya dan Sehun berdebat panjang lagi.

"Errr, sebaiknya kita bahas yang lain saja."

"Hah, kau mengalihkan pembicaraan. Kau benar menyukai Junmyeon hyung?"

Luhan bisa melihat senyuman miring Sehun yang menurutnya sangat menyebalkan itu. "Tidak—maksudku, aku menyukainya hanya sebatas teman." protes Luhan cepat, "Dia baik, hangat, dan—Astaga! Dia dan Kyungsoo pasti mencariku karna aku menghilang tiba-tiba. bagaimana ini?!"

Sehun menoleh kearah Luhan yang tiba-tiba menjadi panik. "Sepertinya kau memang sangat dekat dengan Junmyeon hyung." Ketusnya.

"Lalu apa masalahmu?!" Luhan hampir berteriak, saking jengahnya dengan perkataan menjengkelkan Sehun. mungkin dirinya memang ditakdirkan untuk menjadi seseorang yang selalu terlibat masalah dengan Oh Sehun.

Sehun memandang Luhan terkejut, sedikit. Mungkin karna bentakan Luhan tiba-tiba. Sedetik kemudian seringaian melecehkan terpampang diwajah rupawan Sehun. "Kasihan sekali Junmyeon hyung, disukai oleh orang sepertimu."

Luhan bersidekap tangan dan memicingkan matanya kearah Sehun. "Oh Sehun, jika kau tidak membiarkanku tertidur malam ini hanya karna ingin mengajakku bertengkar, lebih baik aku pulang saja!"

Sehun kali ini melangkah mendekati Luhan dengan tangan yang ikut bersidekap didepan dadanya. Ekspresi wajahnya melunak dan tawa ringan kembali meluncur dari bibir tipisnya, membuat Luhan yang berada tepat didepannya kembali termangu beberapa detik.

Oh Sehun memang mempesona.

"Luhan, kau itu seperti anak kecil." Ucap Sehun, masih diselingi tawa ringannya. "Kau mudah terpancing emosi, tetapi mudah juga untuk tertawa lebar. Kekanakan sekali."

Luhan lebih memilih memandang kearah bawah, dimana kaki telanjangnya tengah mengetuk-ngetuk pelan lantai dingin dibawahnya. "Dan kau dewasa sebelum waktunya." Ujar Luhan pelan.

"Tatap aku jika kau memang berani padaku, Luhan!"

Luhan sontak mendongakan kembali wajahnya, hendak melotot pada Sehun tetapi diurungkannya. Sehun tengah memandangnya dengan mata hitamnya, kali ini bukan tatapan tajam ataupun tatapan merendahkan, melainkan tatapan hangat yang membuat jantung Luhan berdentum keras.

Luhan tiba-tiba ingin sekali menyentuh wajah Sehun. oh, berdekatan dengan Sehun pada malam hari memang buruk sekali. Tidak bagus untuk tubuhnya—terutama bagian dalam dadanya.

Tubuh Luhan menegang saat tangan dingin Sehun menyentuh kulit wajahnya, lebih tepatnya pada pipi kanannya. Luhan tidak bisa mengalihkan pandangannya pada mata Sehun yang perlahan-lahan menyedot tenaganya. Dalam hati, Luhan bertanya-tanya apa yang akan Sehun lakukan padanya kali ini. Pemuda itu mendekatkan wajahnya kearah wajah Luhan, yang mendapat respon sangat lugu dari Luhan—dia memundurkan sedikit wajahnya dengan mata yang terpejam rapat-rapat.

Luhan tidak tahu apa yang akan Sehun lakukan. Mungkin…menciumnya seperti dua hari yang lalu? Uh, tidak, tidak. Tidak mungkin.

Diluar dugaan Luhan, Sehun ternyata mengecup keningnya. Hal itu bisa Luhan rasakan. Bibir Sehun mengecup lembut keningnya, persis seperti kecupan Ibunya saat Luhan mengalami situasi yang buruk. Benar-benar lembut dan membuat tenang.

Ada rasa hangat menjalari tubuh Luhan, dan jantungnya semakin berdentum-dentum keras. Luhan memberanikan membuka matanya, dan Ia langsung bertatapan dengan Sehun. ada kehangatan yang terpancar dari matanya yang biasa menatapnya dengan tajam, mengakibatkan sapuan merah tipis menjalar dipipi putih Luhan. entah siapa yang mulai, tetapi kini tubuh keduanya sudah saling berpelukan dengan erat.

Pelukan Sehun sangat hangat, berbeda dengan aura-nya yang dingin. Tubuh Luhan sangat pas berada dalam dekapan Sehun, seolah-olah mereka memang sepasang puzzle yang sudah seharusnya tersusun. Luhan merasa sangat nyaman dan terlindungi didalam dekapan Sehun. hal itu membuat Luhan membiarkan dirinya sepenuhnya terjatuh dalam pelukan seseorang yang selalu ia panggil keparat. Jantungnya tidak lagi berdetak-detak kencang, kini bekerja dengan normal seolah-olah tubuhnya memang menginginkan ini semua.

Luhan kembali mendongak, untuk menatap Sehun yang membalas tatapannya. Dan dengan alaminya, Luhan memejamkan matanya ketika Sehun mempertemukan bibir mereka. Awalnya hanya menempel selama beberapa detik, tetapi lama-kelamaan Sehun menggerakan bibirnya dengan hati-hati. Tidak seperti dua hari yang lalu, saat Sehun mengklaim bibirnya dengan paksa—kali ini benar-benar manis, dan sangat lembut. Membuat Luhan terbuai, dan mengikuti alur permainan Sehun.

Luhan awalnya memang terkejut, meski akhirnya menikmati juga. Ia meresapi bibir Sehun yang lembut, ikut menggerakan bibirnya dan menyusuri inchi demi inchi permukaan bibir tipis Sehun yang memabukan. Pemuda manis itu tidak tahu mendapat keberanian darimana, hingga berani melakukan ini semua. Luhan tidak menyangka ia akan membiarkan dirinya terbuai dalam perlakuan Sehun. ini bukan bagian dari rencananya. Tidak seharusnya mereka melakukan ini, tetapi semuanya mengalir begitu saja. Seperti air.

Sehun menggigit bibirnya dengan sensual, membuat Luhan melenguh pelan. Perut Luhan bergejolak hebat dan tergelitik. Ini sangat memabukan juga membuatnya seperti diselimuti kapas-kapan lembut yang hangat, menenangkan. Luhan yang awalnya memang sudah mengantuk, akhirnya mengalah. Memejamkan matanya didalam dekapan Sehun setelah membiarkan pemuda tampan itu mengecapi rasa bibirnya.

"Luhan, apa yang telah kau perbuat padaku?" gumam Sehun seraya memandangi Luhan yang menyandarkan kepalanya didadanya.

Sehun mengembangkan seulas senyum tulusnya. Senyum yang sudah lama yang tidak terlukis diwajahnya. Pemuda itu menjilat bibir bawahnya sendiri, yang masih tertinggal rasa manis dari bibir Luhan. dia memandang langit kelam diatasnya beberapa detik, entah kenapa Sehun merasa ada yang lain dengan tubuhnya. rasa-rasanya hatinya yang kosong kini sudah terisi lagi..

"Mimpi indah, Luhan." bisik Sehun seraya mengeratkan pelukan hangatnya.


Jika Luhan seorang gadis, maka dengan senang hati saat ini Ia akan berteriak sekencang-kencangnya.

Luhan baru saja bangun dari tidurnya, dan yang pertama Ia lihat adalah wajah Sehun yang berada tepat didepannya tengah terlelap. What the—kenapa Sehun bisa ada dihadapannya, disampingnya, satu ranjang dengannya? Mata Luhan kemudian melebar, menyadari jika semalam Ia telah…berciuman dengan Sehun hingga menjatuhkan kepalanya didada Sehun, terpejam erat.

Lalu apa yang terjadi setelah itu?!—pekik Luhan, dalam hati.

Sehun terlihat sangat mengagumkan saat tertidur. Wajahnya begitu tenang, dengan rambut-rambut hitam halus yang terjatuh dikeningnya—dia bahkan terlihat tampan walau sedang tertidur sekalian. Hembusan-hembusan nafas halusnya menerpa wajah Luhan, membuat pemuda manis itu kembali memanas. Sial. Luhan bisa melihat Sehun yang 'tidak menyebalkan' hanya dalam waktu sepuluh detik, karna setelah itu Sehun membuka kedua matanya. Itu menambah warna merah pada wajah Luhan.

"Ada apa dengan matamu?" Sehun bertanya dengan suara khas bangun tidurnya.

"Kenapa aku tidur disampingmu?!"

Sehun memutar bola-matanya, malas. "Kau tertidur dipelukanku, dan aku dengan terpaksa menaruhmu ditempat tidurku. Tidak mungkin aku tidur disofa sementara kau diranjangku."

Luhan semakin merasakan wajahnya akan terbakar sedikit lagi. Mengapa Sehun begitu tenang saat menjelaskan itu? sementara semalam mereka melakukan—ugh sudahlah, Luhan tidak mau membahasnya lagi.

"Tapi kita—"

"Tidak terjadi apa-apa, Luhan. kau pikir aku akan menyetubuhimu saat kau tertidur?"

Luhan sontak melayangkan kepalan tangannya ke kepala Sehun, membuat pemuda bersurai kelam itu mengaduh sakit. "Argh sial! Kenapa? Kau kecewa karna aku tidak menyetubuhimu?" ketus Sehun disela-sela erangannya, tetapi masih sempat menyeringai.

"Keparat mesum!"

"Aku tidak suka dipanggil mesum." Dengus Sehun. "Inikah balasanmu setelah membuat lenganku sakit karna semalaman harus menopang kepalamu itu?"

"Huh?" Luhan mengerutkan dahinya, bingung.

"Coba angkat kepalamu, dan lihat apa yang menjadi bantalanmu saat tertidur."

Mungkin jika ada warna lain yang lebih merah dari warna merah maka itulah yang terjadi pada wajah Luhan saat melihat lengan Sehun berada dibawah kepalanya. "Kenapa kau tidak membangunkanku saja?" tanya Luhan, pelan. Astaga, dia tertidur diatas lengan Sehun. bukankah itu sungguh memalukan? Membayangkan dirinya tertidur disamping Sehun dengan posisi seintim itu, membuat Luhan ingin segera kembali kerumahnya dan menenangkan tubuhnya.

"Aku tidak bisa melawan kerbau kecil yang sedang tertidur." Sehun menjawabnya dengan acuh. Luhan menggerutu pelan mendengarnya.

Sehun mengangkat tubuhnya dari sisi Luhan saat mendengar suara bel yang berbunyi. Siapa yang berkunjung dipagi-pagi seperti ini? Mengabaikan rasa bingungnya, Sehun memilih berjalan menuju pintu utamanya. Meninggalkan Luhan yang terduduk diatas tempat tidurnya dengan wajah lugu khasnya itu.

Sehun memutar kenop pintunya dan membukanya. Seketika matanya melebar saat melihat siapa yang berkunjung ke Apartemennya pagi-pagi buta ini.

"J—junmyeon hyung?" gumamnya, pelan. Dia mungkin salah lihat, atau hanya berimajinasi tetapi seseorang didepannya sangat nyata. Junmyeon berdiri dihadapannya dengan ekspresi dinginnya. Mau apa dia mengunjunginya? Ini pertama kalinya Junmyeon mengunjunginya. Sehun tidak bisa menahan rasa kesenangannya.

"hyung—"

"Dimana Luhan?"

Sehun mengerutkan dahinya. "Kau kesini hanya mencari Luhan?" tanyanya dengan nada tidak percaya. Si pemuda berambut kelam sama dengannya itu hanya mengangguk singkat sebagai jawaban. Sehun menyeringai tipis, seharusnya dia tahu itu sejak awal. Mana mungkin Junmyeon benar-benar mengunjunginya.

"Aku tahu Luhan ada disini." tukas Junmyeon dengan datar.

Sehun tidak perlu heran darimana kakaknya itu tahu mengapa Luhan bisa ada disini. Dia itu sama seperti Ayahnya, bisa melacak apapun yang dia mau dengan mudahnya. "Luhan!" Sehun memanggil Luhan dengan keras. dan setelah itu Luhan segera datang dengan berlari-lari kecil.

"Ada ap—O-oh, Junmyeon?!" mata Luhan melebar saat dirinya sudah sampai disamping Sehun, melihat Junmyeon yang berdiri didepan pintu. Luhan segera menunduk kebawah, melihat kearah tangannya yang tiba-tiba digenggam erat oleh Sehun.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Junmyeon, sarat akan kekhawatiran. Melihat itu, Sehun hanya bisa menelan bulat-bulat kegeramannya. Entah karna Junmyeon lebih perhatian kepada Luhan atau karna Luhan yang diperhatikan oleh Junmyeon, Sehun rasa dia tidak menyukai keduanya.

"Aku baik-baik saja." Luhan berusaha melebarkan senyumnya, walau rasanya sangat susah karna Sehun menggenggam erat pergelangan tangannya. Luhan tidak menyukai berada ditengah-tengah kakak-beradik yang memiliki hubungan tidak baik ini. Rasanya sangat aneh melihat cara Junmyeon berekspresi pada Sehun. sangat tidak bersahabat—begitupula Sehun. mereka seperti orang asing, jadi wajar-wajar saja jika Luhan mengira mereka tidak memiliki hubungan darah apapun.

"Sebaiknya kau harus segera pulang, Luhan. Kyungsoo sangat mengkhawatirkanmu."

Luhan mengangguk. Dia menatap kearah Sehun, dan saat itu pula pemuda itu melonggarkan genggamannya dan akhirnya terlepas. Luhan merasa ada yang hilang.

"Sehun, terimakasih atas semuanya." Luhan mengembangkan senyum manisnya dan balasan Sehun hanya anggukan singkat yang tidak terlalu tulus. bukannya Luhan percaya diri, tetapi dilihat dari raut wajahnya Sehun tidak menginginkan dirinya pergi—dengan Junmyeon. "Aku akan mentraktirmu Bubble tea," tambah Luhan agak berbisik.

Sehun memutar bola-matanya, jengah. Dan Luhan tertawa kecil melihatnya. itu baru Sehun yang biasanya.

Pergelangan Luhan pindah tangan, kini digenggam oleh Junmyeon. Dan mereka melangkah pergi meninggalkan Sehun yang masih berdiri diambang pintu Apartemennya.

Sehun menyandarkan tubuhnya pada dinding dibelakangnya. Wajahnya tidak terbaca, terlihat begitu bingung.

"Apa Junmyeon hyung menyukai Luhan?" gumamnya, bertanya pada dirinya sendiri. Pemikiran itu sedikit mengganggunya. Haruskah kali ini dia berkompetisi pada Kakak kandungnya sendiri?


Tobecontinued—


a/n : Gimana chapter ini? Tolong kasih komentarnya dikotak review.

Sorry telat lagi, karna seminggu ini Ffn gabisa dibuka dilaptop-_-gatau kenapa. Padahal rencananya gue mau fastupdate, tapi ffn-nya gabisa diakses. Dan, gue makin semangat deh liat review-review yg antusias. Wkwk lucu yg pada minta nc, masih terlalu awal kali buat begituan hehe xDD seenggaknya udah gue kasih kisseu-kisseu disini. NC-nya paling dua chap mendatang, maybe.

Ada yg suka JunmyeonxLuhan? Cinta segitiga seru kayaknya heheh. XD /ditabokYixing

Kenapa Ibunya Sehun itu Yoona? Haha, simple aja, gue rasa ada kemiripan matanya Luhan sama Yoona (deer sama deer yakan ;v) . Makanya gue milih Yoona ini buat jadi mamanya thehun. Lagipula Yoona bias gue hehe /gananya ya/

Last but not least, Thanks reviewnya yaaaa! Yg udah ngingetin buat publish juga, yg udah caci-maki gue karna sering telat, thanks a lot pokoknya:*

See yaaaa!

[Anggara; 25/11/2015; Bekasi]