©Anggara Dobby

An Hun-Han Fanfiction;

NOT PERFECT

Oh Sehun—Lu Han


Warn: YAOI. Slash. Shounen-ai. AU. Typo(s). Boring! DLDR; Don't Like Don't Read; Tidak suka, tidak usah membaca. Easy, right?;)

..


Sehun memandangi siswa-siswa yang berlalu-lalang dihalaman belakang sekolah lewat kaca jendela disebelahnya. Mereka yang sedang membolos tengah bersenang-senang dibawah pohon beringin besar yang terdapat dihalaman belakang. Bersenang-senang disini memiliki makna yang lain, mereka berkumpul seraya tertawa bar-bar dengan rokok mengapit dibibir mereka serta kulit kacang dan kaleng soda yang berserakan disekeliling. Walau ruang kelasnya berada dilantai tiga, Sehun bisa melihat dengan jelas aktivitas siswa-siswa disana lewat kaca jendela disebelahnya. Termasuk tiga orang siswa yang tengah membaca buku mereka seraya sesekali tertawa, bukan tertawaan yang bar-bar melainkan tawa seperti remaja pada umumnya.

Junmyeon —kakaknya—, Luhan, dan seorang siswa yang Sehun kenali sebagai teman dekat kakaknya berada disana. tampak sangat akrab mereka. Melihat Luhan dari kejauhan, membuat bayang-bayang kejadian semalam terlintas diotak Sehun tanpa bisa dicegah. Pemuda bermarga Oh itu menyentuh bibir bawahnya, dan perutnya serasa tergelitik. Dia rasanya ingin tertawa seperti semalam. Merasa lucu dengan dirinya yang sangat Out of character, semua ini karna Luhan. ya, karna si little chicken itu. Tetapi bayang-bayang itu segera lenyap saat mengingat bagaimana posessif-nya Junmyeon saat menggenggam pergelangan tangan Luhan.

Sehun tidak tahu apa yang dia rasakan sampai saat ini. Seperti ada keinginan besar untuk menarik Luhan menjauh dari Junmyeon, dan membawa pemuda manis itu ketempat yang jauh. Dimana hanya ada mereka berdua yang bisa tinggal disana. Oh sialan, mengapa dirinya terdengar sangat protektif? Sehun bahkan masih menepis jauh-jauh jika dirinya menyukai Luhan—atau mencintainya. Persetan! Sehun bahkan tidak tahu apa itu cinta dan segala hal yang menyangkut susunan lima huruf yang sering disebut-sebut semua orang. Yang Sehun tahu, dia pernah merasakan diberi kasih-sayang sepenuh hati oleh keluarganya.

Dan Sehun belum pernah menjadi objek yang memberikan kasih-sayang. tidak peduli pada semua orang yang mengatakan dirinya berhati layaknya batu, karna Sehun sendiri tidak pernah mempermasalahkan hal itu. mereka tidak tahu-menahu kehidupannya dan kepribadiannya. Namun sekarang, rasa-rasanya Sehun ingin merobek mulut orang-orang yang menilainya sebagai berhati es beku, karna yang Sehun rasakan saat ini adalah perasaan ingin melindungi. Dia masih mempunyai hati. Dan itu sudah terbuktikan dengan adanya Luhan yang selalu berusaha Ia selamatkan dari bahaya apapun.

Mungkinkah dia…memang menyukai Luhan? kenapa ini semua begitu rumit saat dia yang memikirkannya?

"Oh Sehun!"

Sehun mengumpat mendengar suara menyebalkan itu. apalagi disertai nada yang kelewat antusias. Mengabaikan suara teman berkulit tan-nya, Sehun tetap pada aktivitasnya. Dia mempunyai firasat buruk dengan kedatangan Kai yang sedang berjalan tergopoh-gopoh kearahnya. Heran juga karna Ia datang sendiri, tanpa ditemani ketiga temannya yang lain.

"Hei, kawan." Kai mendaratkan bokongnya dikursi sebelah Sehun—yang memang kursinya. Menepuk bahu Sehun dengan keras lalu mulai membuka percakapan. "Bagaimana malammu dan Ayam kecil-mu?"

Perkiraan Sehun tidak meleset sama-sekali. "Apakah itu penting untukmu?" tanyanya dengan ketus.

"Tentu saja, teman." kali ini Kai memilih duduk diatas meja mereka dan menatap teman berwajah dinginnya yang masih memasang ekspresi tergganggu. "Kau sedang melihat apa sih dibawah san—OH? Luhan?!" Kai berseru heboh, "Fuck! Kau sedang memandangi Luhan daritadi? Pantas saja wajahmu sangat tergganggu saat aku datang."

Gigi Sehun bergemeletuk mengerikan, disertai geraman rendah. Sialan, mengapa dia bisa berteman dengan makhluk menjengkelkan bernama Kim Jongin ini? Sehun menyesali keputusannya telah membiarkan Kai duduk disebelahnya waktu SMP dan menjalin persahabatan sampai sekarang. Lihat saja sekarang, Kai begitu antusias. Apalagi dengan seringaian menyebalkannya dan tatapan jahilnya itu. betapa inginnya Sehun mendorong Kai dari atap sekolah.

"Jadi," Kai menggantungkan ucapannya—masih dengan seringaian menggodanya, "Kau sudah tidak perjaka?"

Kepalan tangan Sehun mendarat dengan jahatnya dikepala Kai. Habis sudah kesabarannya. Mengabaikan erangan berlebihan temannya, Sehun memilih melebarkan senyum kemenangannya dengan puas. "Apa yang membuatmu berfikiran seperti itu Kim?" tentu saja opini Sehun tentang 'semalaman-dengan-Luhan' sangat berbeda dengan opini milik tahu betul apa saja yang ada diotak teman idiotnya itu.

"Feromon Luhan cukup bagus, aku yakin kau juga merasakannya, Hun. Semalaman dengan Luhan, pasti membuat tubuhmu merasakan sesuatu."

"Tahu apa kau tentang feromon." Cela Sehun. Dia memang berbagi ranjang dengan Luhan, tetapi Sehun tidak merasakan apapun seperti apa yang ada dipikiran Kai. Dia bahkan berciuman dengan Luhan, dan tidak terjadi apa-apa pada selangkangannya. Yang Sehun rasakan mungkin lebih dahsyat dari nafsu yang ditimbulkan dari feromon Luhan. perasaan yang bukan menjurus kearah gairah dan seksual, tetapi perasaan hangat dan manis. Ingat, Sehun bukan seseorang yang mesum macam Kim Jongin.

"Tentu saja aku tahu! Aku lebih berpengalaman darimu," protes Kai, merasa direndahkan.

"Ya, maka dari itu otakmu menjadi bodoh karna isinya hanya pornografi saja."

"Brengsek." Kai mengumpat. "Aku jadi curiga kau impoten, Sehun. karna itulah kau menjauhi seks, benarkan?" tukas Kai dengan analisa kurang-ajarnya.

Sehun hendak mencengkeram kerah seragam Kai dan memberinya satu-dua bogeman mentah atas lidah kurang-ajarnya, tetapi kedatangan tiga orang temannya membuat Sehun mengurungkan niatnya. Bukannya apa-apa, tiga orang itu tiba-tiba saja menerjang tubuh Kai dan memberinya pertanyaan bertubi-tubi. Ada apa dengan keempat orang itu? Akhir-akhir ini Sehun merasa teman-temannya berubah menjadi orang-orang yang konyol, padahal sebelumnya tertawa saja mereka jarang sekali.

"Kabur kemana kau semalam Kim Jongin? Kau bahkan belum menjawab pertanyaan kami!" Baekhyun yang memegangi lengan kiri Kai mulai bertanya secara normal, yang sebelumnya bertanya dengan kecepatan luar-biasa—yang malah terdengar seperti berbicara bahasa kuman.

"Oh shit, Jongdae kau menekan bekas lukaku!" Kai mengeluarkan umpatan-umpatan serta makiannya, dengan diiringi usaha pemberontakan diri dari tiga temannya. "Pertanyaan yang mana?!"

"Pertanyaan tentang kekasihmu. Semalam kau mengatakan jika Do Kyungsoo adalah kekasihmu, itu benar?"

"Kekasih?"

Kai melotot dengan horror kala Sehun memandangnya dengan ekspresi tidak percaya. Dia menggeleng dengan keras, berusaha meyakinkan Sehun jika ucapan Chen hanyalah mitos. Jika Sehun juga ikut memberinya pertanyaan, maka tamatlah riwayat Kai. Sehun itu bukan hanya memberi pertanyaan mendesak, tetapi juga diselingi cemoohan dan ucapan pedas yang hanya akan membuat dirinya jengkel setengah mati.

"Iya, Sehun. anak hitam ini bilang jika dia sudah mempunyai kekasih, dan kekasihnya adalah Do Kyungsoo! dia bahkan berlari menghampiri si mata bulat itu yang kebetulan ada ditempat dimana kami sedang berkumpul. Bukankah terdengar sangat menggelikan?!" cerocos Baekhyun, menggebu-gebu.

"Do Kyungsoo kekasihmu?" tanya Sehun, lengkap dengan seringaian-nya.

"Bukan!" Kai hampir berjerit seperti perempuan. Mengakibatkan seluruh pasang mata dikelas memandang kearahnya dengan heran.

"Lalu kau hanya menjadikan nama Kyungsoo sebagai nama kekasihmu, padahal kau tidak punya kekasih. begitu?"

Fuck! Kai mengumpat dalam hati. Beginilah ruginya jika berteman dengan Sehun, dia selalu bisa menebak dengan benar tanpa harus bertanya ini-itu lebih detail. Kai juga merutuki sikap ingin-tahu berlebihan Baekhyun dan Chen. Lagipula apa pentingnya menanyakan dia sudah punya kekasih atau belum? Itu sangat tidak penting.

"Memalukan."

Kai mendelik pada Chanyeol dan Sehun yang berucap demikian.

"Kyungsoo!" Baekhyun tiba-tiba saja berteriak keras dan melambai heboh pada pemuda bermata bulat yang baru saja menginjakan kakinya didepan pintu kelas. Alhasil, Kyungsoo membalikan tubuhnya dan berjalan keluar kelas dengan terburu-buru. Melihat itu, Baekhyun —diikuti oleh Chen— mengejar Kyungsoo.

"Oh sial. Mereka pasti bertanya pada anak itu." Kai mengumpat dan menyusul langkah kedua temannya. Meninggalkan Chanyeol dan Sehun yang memandang datar pada ke-tiganya.

"Sehun," Chanyeol membuka suaranya.

"Hn?"

"Bagaimana malammu dan Luhan?"

"shit. Kau sama saja dengan Kai, Chanyeol."


"Apa yang terjadi padamu kemarin, Han? Kenapa kau bisa berada di Apartmen milik Sehun?"

Luhan mengalihkan pandangannya dari Yixing yang sedang menjelaskan beberapa materi yang tidak dimengertinya, dan memandang kearah Junmyeon yang baru saja bertanya. Sudah Luhan kira, Junmyeon pasti akan membahas ini.

"Ceritanya panjang, aku sedang malas berdongeng." Luhan mengibaskan tangannya, tak minat. Sebenarnya alasannya tidak mau membahas hal itu, karna hanya mengingatkannya pada kekerasan yang dilakukan kawanan Kris padanya. Luhan tidak mau lagi mengingatnya. Itu adalah hal terburuk yang pernah dialaminya selama delapanbelas-tahun hidupnya.

"Luhan,"

Luhan menghela nafasnya melihat Junmyeon memandangnya meminta penjelasan—begitupula Yixing, yang tidak tahu-menahu soal ini. "Sehun menyelamatkanku dari Kris—kau ingat pemuda yang kita temui di Rumah Sakit saat menjenguk Yixing 'kan?"

Junmyeon mengangguk, "Ya, kenapa dia?"

"Dia mencelakaiku karna dia mengira aku adalah teman dekat Sehun. Kris adalah musuh Sehun, tetapi untungnya Sehun menyelamatkanku."

"Jangan dekati Sehun. Dia berbahaya, Luhan." Junmyeon terdengar menarik nafasnya dengan halus. Raut wajahnya berubah serius, dan dia memandang Luhan dengan sungguh-sungguh.

Luhan menggeleng, "Dia tidak berbahaya, Myeon." Ucapnya nyaris berbisik. Luhan menepis jauh-jauh jika Sehun adalah orang yang berbahaya. Dia baik dan dia adalah penyelamat bagi Luhan. Sehun bukan orang yang jahat.

"Kau hanya belum mengenalnya, Han! Kau akan celaka jika berdekatan dengannya!"

"Kenapa kau berbicara seperti itu? Dia adikmu, Myeon!" Luhan menaikan nada suaranya tanpa sadar. Bisa Luhan lihat ekspresi terkejut Junmyeon.

"Luhan, bagaimana kau—"

"Aku melihat foto keluarga kalian di Apartmen Sehun. dia bahkan terlihat sangat menyayangimu saat aku menanyakanmu padanya. Kenapa kau bersikap seperti itu pada Sehun?" Luhan tidak tahu mengapa dia menjadi emosional seperti ini. Dia tidak suka saat Junmyeon melarangnya untuk berdekatan dengan Sehun hanya karna sebuah alasan yang tidak logis. Dan Luhan bingung, mengapa Junmyeon sepertinya sangat tidak menyukai Sehun—padahal jelas-jelas pemuda itu adalah kakak kandungnya Sehun.

"Masalahku dengan Sehun, bukan urusanmu Luhan." Junmyeon merapikan beberapa diktat-nya dan segera beranjak pergi dari sana, meninggalkan Luhan dan Yixing yang hanya bisa memandangi punggungnya yang menjauh.

Luhan menghembuskan nafasnya dengan pelan. "Yixing," dia beralih ke sosok manis disampingnya yang masih terdiam. "Bisa kau ceritakan padaku apa masalah Junmyeon dan Sehun?" Luhan tahu, ini memang bukan urusannya seperti yang dikatakan oleh Junmyeon tadi. tetapi apa salahnya jika Luhan hanya ingin tahu penyebab pecahnya kedua bersaudara itu walau hanya secuil? Setidaknya Luhan tidak akan menyinggung soal ini lagi jika mereka sedang membahas perkara ini.

Yixing tersenyum manis. "Akan kuberi tahu semuanya padamu, Lu."


Meninggalnya sosok Ibu, perpecahan keluarga, dan kesalah-pahaman. Hanya tiga unsur itu yang dapat Luhan simpulkan dari cerita Yixing beberapa saat yang lalu, mengenai keluarga Oh. Luhan hanya bisa termangu saat Yixing menceritakannya dengan sangat detail—entah darimana pemuda itu tahu tentang semuanya. Luhan tidak bisa memihak siapapun disini, Jika dia ada diposisi Junmyeon mungkin akan melakukan hal yang sama sepertinya. Memangnya apa lagi yang bisa kau lakukan saat melihat Ibumu sudah tergeletak tak bernyawa dikaki adikmu selain menuduhnya sebagai seorang pembunuh? Apalagi saat itu Sehun mengatakan dia tidak menginginkan kehamilan Ibunya, hal itu menambah keyakinan Junmyeon tentang Sehun adalah penyebab kematian Ibunya sangat kuat. Itulah alasan mengapa Junmyeon membenci Sehun hingga saat ini.

Tetapi disisi lain, Luhan merasa sangat iba pada Sehun. dia yang kena getah dari kecelakaan besar itu. dia jelas tidak bersalah—dari yang Yixing ceritakan, Sehun bukanlah penyebab kematian Ibunya—entah itu cerita asli atau ada sedikit rekayasa, tetapi Luhan begitu mempercayainya. Mana mungkin seorang anak kecil tega membunuh Ibunya sendiri? Sehun pasti tidak mungkin melakukan hal keji seperti itu.

Mungkin inilah faktor utama penyebab Sehun menjadi seorang anak pembangkang dan berandalan.

Luhan tidak menyangka hidup Sehun sekelam itu. jika Luhan mengetahui ini dari awal, dia mungkin tidak akan pernah menjudge Sehun dengan analisa sok tahu-nya. Selama ini Luhan hanya bisa melihat Sehun dari sisi buruknya saja. Dia arogan, pemberontak, pembully, berandal dan semua sifat yang berkaitan dengan seorang gangster. Luhan menyesal, dia rasanya ingin meminta maaf pada Sehun. tetapi sepertinya Sehun tidak akan mau memaafkannya—karna pasti pemuda itu mengira Luhan tengah mengasihani nasib hidupnya yang kelam.

Bugh!

"Hey!" Luhan refleks berseru pada siswa yang baru saja menabrak bahunya dengan kasar.

Beberapa siswa dan siswi berlarian melewati dirinya, membuat Luhan mengerutkan dahinya. Kenapa mereka ramai-ramai menuju kearah lapangan sekolah? Ada apa disana?

Insting penasaran Luhan menarik dirinya untuk mengikuti jejak-jejak para murid. Masa bodoh dengan kelasnya yang sebentar lagi akan memulai pelajaran, karna Luhan yakin hari ini kelasnya akan kosong seperti biasa.

"Ada apa disana?" Luhan bertanya pada salah seorang siswi yang berusaha menerobos masuk kelingkaran kerumunan murid-murid yang berada dilapangan sekolah.

Siswi itu memandangnya untuk beberapa detik, "Kekasihmu sedang berkelahi."

Luhan tak bisa menyembunyikan raut bingungnya. Kekasihnya? Siswi ini pasti salah orang, karna Luhan belum pernah memiliki riwayat berhubungan asmara sama sekali sampai saat ini. "Urr, maaf. Siapa yang kau maksud kekasihku?"

"Oh Sehun, memangnya siapa lagi?"

Luhan tidak bisa menahan diri untuk tidak memutar bola-matanya dengan malas. Oh, sejak kapan dirinya dan Sehun menjalin sebuah hubungan asmara? Mengabaikan siswi aneh itu, Luhan memilih untuk menerobos kerumunan yang tengah bersorak-sorai riuh. Semua murid disini memang gila, ada yang sedang berkelahi disana—dan mereka malah menyemangatinya? Luhan benar-benar tak percaya ini adalah sekumpulan para pelajar. Yang lebih parah lagi adalah tidak ada satupun tanda-tanda seorang guru yang akan hadir untuk membubarkan keramaian ditengah jam pelajaran ini. Ironis sekali.

Luhan sudah berhasil menerobos kerumunan itu berkat tubuh rampingnya yang mudah menyalip-nyalip, dan dirinya kini sudah berada dibarisan paling depan diantara kerumunan para murid.

Pemuda berparas cantik itu membulatkan mata rusanya saat melihat sosok tinggi Sehun tengah memukuli seorang siswa dengan brutal.

Siswa yang berada dibawah kukungan tubuh Sehun adalah Jungshin, dan Luhan bisa mengenalinya walau wajahnya sudah nyaris tidak bisa dikenali. Sehun menggulung lengan seragamnya hingga ke siku dan membuang almamater sekolahnya kesembarang arah. Dia memberikan pukulan bertubi-tubi kewajah Jungshin yang sudah sangat mengenaskan membuat sorak-sorai disekitar lapangan bertambah gaduh. Luhan memejamkan matanya ngeri. Dia tidak bisa menyaksikan semua ini. Kekerasan ini sangat mengganggunya.

Luhan kembali membuka kelopak matanya, ini semua harus dihentikan sebelum Jungshin benar-benar tewas ditangan Sehun. Kali ini Luhan melihat Sehun menjauh beberapa langkah dari Jungshin yang tengah meringkuk dan merintih kesakitan. Sehun mengambil sebuah tongkat baseball berwarna merah dari tangan Baekhyun, dan kembali melangkah mendekati sosok Jungshin.

Luhan melebarkan bola-matanya. Tidak! Jangan katakan jika Sehun akan menggunakan benda itu untuk menghabisi Jungshin?

"SEHUN, JANGAN!" Luhan sontak berteriak ketika Sehun hendak memukulkan benda keras itu tepat diwajah Jungshin.

Pergerakan Sehun berhenti, seiring suara riuh kerumunan murid-murid yang hilang—digantikan suasana yang sangat sunyi senyap. Luhan menarik nafasnya terlebih dahulu, sebelum akhirnya berjalan menghampiri Sehun dengan puluhan pasang-mata yang memandangnya dengan berbagai macam makna.

"J—jangan lakukan ini, Sehun." suara Luhan yang bergetar satu-satunya pemecah keheningan tersebut. Tangan Luhan perlahan-lahan menurunkan tangan Sehun yang sudah siap mengayunkan tongkat baseballnya kewajah Jungshin. Pemuda manis itu mendongak untuk memandang kedalam mata kelam Sehun.

"Kau tidak berniat untuk membunuhnya, 'kan?" tukas Luhan. dia bisa melihat ada sebuah luka kebiruan dengan setitik noda darah berada dipinggir bibir Sehun, yang Luhan yakini adalah luka akibat pukulan Jungshin.

"Memang itu yang ingin kulakukan, membunuh bajingan ini." Suara Sehun terdengar mengambang dan kosong, tetapi tatapan matanya terus mengarah ke mata bulat Luhan. seolah-olah kepalanya tidak bisa lagi digerakan kemana-mana, selain kearah Luhan. "Karna dia sudah membuatmu hampir mati, Luhan." lanjut Sehun.

Luhan menggelengkan kepalanya tidak percaya. Jadi semua ini, karna insiden kemarin? Luhan tidak menyangka, Sehun akan melakukan ini hanya karna semata-mata ingin membalas perlakuan Jungshin terhadapnya.

"Hampir, Sehun. nyatanya sekarang aku masih bisa berdiri dihadapanmu. Dan untuk apa lagi kau membuatnya mati? Itu tak ada gunanya, Sehun." ujar Luhan.

"Aku belum puas jika belum melihatnya mati, Luhan."

"Kekerasan bukanlah jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalah, Sehun. Aku yakin kau juga mengetahui benar hal itu." Luhan mengembangkan senyum tipisnya yang terlihat sangat manis. "Berhentilah."

Dan hanya dengan sederet kalimat sederhana itu, Sehun melepas genggaman pada tongkat baseballnya hingga benda itu terjatuh ketanah.

"Hanya karna permintaanmu, Luhan." ucap Sehun dengan datar. Hanya karna permintaanmu—ulangnya dalam hati.

Kali ini Luhan mengembangkan senyum yang lebih lebar. pemuda itu mengambil almamater Sehun yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri, lalu kembali menghampiri sosok tinggi Sehun dan menggenggam tangannya.

"Akan kuobati lukamu." Ujarnya.

Sehun memandang sejenak tangannya yang digenggam oleh Luhan, dan senyuman samar terlukis diwajahnya. Permukaan tangan Luhan terasa sangat halus dan hangat, menghantarkan rasa ketenangan untuk Sehun.

Kedua pemuda itu berjalan meninggalkan kerumunan dengan berpuluh-puluh pasang mata memandangnya tak berkedip. Semakin jauh langkah mereka, Luhan merasakan Sehun membalas genggaman tangannya. Dan semakin lama semakin mengerat disetiap langkah. Tanpa Sehun sadari, Luhan diam-diam menyembunyikan wajahnya yang kian memerah.

Untuk yang terakhir kalinya, teriakan melengking milik Baekhyun (teriakan excited melihat Sehun dan Luhan) menjadi pemecah keheningan dilapangan tersebut. Sebelum pada akhirnya kerumunan itu membubarkan diri mereka masing-masing dengan berbagai macam analisa mengenai hubungan Sehun dan Luhan.


"Kenapa kau repot-repot ingin mengobati lukaku?" tanya Sehun pada Luhan yang duduk dihadapannya dengan kapas dan cairan antiseptik ditangannya. Ini hanya luka kecil dan tidak ada apa-apanya, Sehun sudah terbiasa membiarkan beberapa luka ditubuhnya tanpa harus diobati.

Saat ini keduanya sudah duduk berhadapan didalam ruang Unit kesehatan sekolah. Hanya ada mereka berdua, entah kemana perginya penjaga UKS.

"Karna kau terluka dan itu harus diobati." Luhan menjawab seraya menuangkan sedikit cairan antiseptik ke kapas ditangannya.

"Yang benar saja," Sehun menahan dengusan gelinya. "Baiklah, obati lukaku ini."

"Tutup matamu selagi aku mengobatimu."

Sehun mengangkat sebelah alisnya, "Kenapa harus?"

"Tutup saja, Sehun!"

"Oh, aku suka nada memerintahmu, Luhan."

Luhan mengulum senyumnya saat Sehun sudah memejamkan matanya. Dengan begini, Luhan tidak perlu khawatir akan merasa gugup saat Sehun memandanginya selagi dia mengobati lukanya. Tatapan Sehun selalu berhasil membuatnya gugup.

Luhan hendak mengobati luka disudut bibir Sehun, tetapi wajah Sehun yang berada dekat dengan wajahnya seolah-olah menghipnotisnya. Parasnya benar-benar sungguh rupawan dengan pahatan-pahatan yang nyaris sempurna. Luhan tidak tahu, untuk apa Tuhan menciptakan seorang manusia dengan wajah sesempurna ini. Mungkin hanya untuk membuat orang disekitarnya merasa iri dan terpesona—seperti yang dirasakan Luhan saat ini.

Sehun memiliki alis yang hitam dan tebal, serta hidungnya yang begitu terbentuk sempurna. Jika kelopak matanya terbuka, maka akan terlihat dua buah bola-mata bermanik kelam yang memancarkan ketajaman yang jarang dimiliki setiap orang. Luhan begitu mengagumi paras Sehun.

"Kau mau mengobati lukaku atau memandangi wajahku?"

Luhan tersentak mendengar suara Sehun. bagaimana dia bisa tahu jika Luhan sedang memandanginya padahal matanya saja masih terpejam? "A-aku tidak memandangi wajahmu!" Luhan mengelak.

Bibir Sehun tertarik sedikit, membentuk senyuman geli. Dan Luhan yakin pemuda itu tengah mentertawakannya dalam hati.

Luhan mulai mengobati luka disudut bibir Sehun. Dan saat itu pula bayang-bayang tentang ciuman yang diberikan Sehun semalam membuat wajah Luhan terasa terbakar. Bagaimana lembutnya tekstur bibir pemuda itu yang menyapu halus permukaan bibirnya, dan bagaimana Sehun membuatnya merasa terbuai hanya karna sebuah ciuman. Luhan memejamkan matanya, berusaha mengusir bayang-bayang itu. ugh, bagaimana bisa Sehun membuatnya menjadi seperti ini?

Luhan memperhatikan jari-jemarinya yang berada disudut bibir Sehun. Bibir tipis berwarna merah-muda pucat itu membuat Luhan susah bernafas. entah mendapat keberanian dan dorongan dari mana, Luhan memberanikan diri untuk mengecup sudut bibir Sehun yang terluka.

Hanya beberapa detik.

Tetapi cukup untuk membuat Luhan merasa nadinya berhenti. Terlebih saat—

"Cara pengobatan yang bagus, Luhan."

—Sehun memergokinya dengan seringaian menggodanya.

Luhan menjauhkan wajahnya dari hadapan Sehun dengan mata membelalak. Wajahnya perlahan-lahan memerah kembali, kali ini telinganya juga ikut memerah. "S—sehun—YA! Aku belum menyuruhmu untuk membuka matamu." Luhan gugup setengah mati. Sial, seharusnya dia tidak lakukan itu. dasar bodoh! lihatlah sekarang Sehun tengah menatapnya dengan senyuman menyebalkan itu.

"Apa itu caramu menyembuhkan luka seseorang? Manis sekali," Sehun terkekeh geli melihat Luhan yang salah tingkah. Pemuda manis itu menaruh obat-obatan yang ada ditangannya alih-alih menjauh dari godaan-godaan yang dilontarkan Sehun.

"Luhan, sepertinya bagian sini juga terluka. Kau tidak mau menyembuhkannya?"

Luhan menoleh kearah Sehun yang menunjuk-nunjuk pipi kirinya. Mengundang dengusan sebal dari Luhan yang wajahnya kian memerah. Apa itu artinya Sehun memintanya untuk mengecup pipinya juga? Astaga, fokuslah Luhan!

"Bagian tubuhku juga banyak yang terluka, kau bisa mengobatiku 'kan?"

"Diamlah, Sehun!" geram Luhan. dia menatap jengkel kearah Sehun yang tengah menertawainya. Bagus, sekarang pemuda berparas dingin itu senang sekali menertawai dirinya.

"Aku akan kembali kekelasku." dengus Luhan.

"Hey, tunggu!" Sehun segera bangkit dari duduknya dan meraih pergelangan tangan Luhan. dia tidak tahu mengapa rasanya tidak ingin Luhan beranjak darinya. Ada kesenangan tersendiri bagi Sehun jika Luhan ada didekatnya.

"Mau membolos bersamaku?"

Luhan memicingkan matanya kearah Sehun, "Aku tidak sepertimu, dan aku tidak—" pemuda itu melepaskan genggaman tangan Sehun pada pergelangan tangannya, "Mem-bo-los." Ucapnya dengan pengejaan, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya seperti anak kecil.

Sehun tersenyum geli melihat ekspresi aneh nan menggemaskan itu. "Baiklah. Tapi, apa tawaran Bubble tea itu masih berlaku?"

Dan Sehun mengembangkan senyum lebarnya saat Luhan mengangguk dengan kecepatan penuh. Hanya dengan menghilangkan kata membolos, maka Luhan akan menyetujui kemanapun mereka akan pergi ditengah-tengah jam pelajaran seperti ini. Padahal maknanya sama saja dengan membolos, Sehun merasa lucu dengan namja cantik ini.

Sepertinya, dia memang menyukai—

Luhan.


Setelah melewati beberapa menit yang terasa menegangkan untuk Luhan, akhirnya mereka sampai disebuah tempat. Sehun itu pengendara sepeda motor yang sangat buruk —untuk Luhan— karna dirinya hampir saja melayang karna kecepatan berkendara Sehun yang tidak kira-kira. Dan dengan terpaksa, dia harus berpegangan erat pada pinggang pemuda dingin itu agar nyawanya selamat. Mungkin Sehun memang berniat ingin membunuhnya.

"Dasar payah." Sehun mencibir kala melihat raut pucat Luhan setelah turun dari motor besarnya.

Luhan meliriknya dengan galak, "Aku tidak mau lagi naik kendaraan ini denganmu!" Luhan menunjuk-nunjuk motor milik Sehun, seolah-olah kendaraan itu yang bersalah atas semua ini.

"Lagipula siapa yang mau mengajakmu untuk naik ke motorku lagi?" Sehun tersenyum mengejek dan dibalas rengutan sebal oleh Luhan. "Memangnya dimana mobilmu? Kenapa kau membawa motor ini?"

"Mobil itu hanya untuk balapan."

Mata Luhan berbinar, "Kau pembalap? Ah, pasti pembalap liar."

"Ada yang salah dengan pembalap liar?" tanya Sehun retoris.

"Tidak apa-apa, pantas saja mobilmu itu bagus."

"Kau mau?"

Kini mata membulat Luhan tertuju kepada Sehun, "Kau menawariku sebuah mobil?" tanyanya, tak percaya.

Sehun hanya mengendikan bahunya, acuh. "Aku punya banyak dirumah, aku bisa membagimu satu."

Luhan mendesis sebal. "Sombong sekali."

Sehun terkekeh mendengarnya. Pemuda manis itu begitu ekspresif, itulah hal yang membuat Sehun senang berada didekatnya. Ekspresi wajah yang ditunjukan Luhan sangat menarik dimatanya. Entah dia sedang kesal, marah ataupun senang—semuanya terasa menarik jika Luhan yang melakukannya.

"Sehun, disana ramai sekali. Kita harus buka almamater sekolah." Sehun membawanya kesebuah kedai Bubble Tea sederhana didekat Taman kota. Kedai itu terlihat ramai di siang hari seperti ini. Itulah yang membuat Luhan agak tidak nyaman. Mereka murid dari OX 86 High School, bisa dipastikan orang-orang disana akan memandangnya dengan pandangan tak suka. Luhan tidak mau acara minumnya tergganggu hanya karna pandangan-pandangan yang dilontarkan orang-orang kearahnya.

"Untuk apa membuka almamater?" tanya Sehun.

"Agar mereka tidak mengenali jika kita dari OX 86. Junmyeon bilang, orang-orang sangat tidak menyukai murid-murid dari OX 86."

"Jangan jadi pengecut Luhan. kau sedang bersamaku sekarang, bukan dengan Junmyeon hyung." ucap Sehun dengan nada dinginnya. Dia meraih pergelangan tangan Luhan, "Kau bilang ingin mentraktirku 'kan?"

Luhan memandangi pergelangan tangannya sejenak. Genggaman tangan Sehun seolah-olah mampu membuat rasa gelisahnya hilang. "Ba-baiklah."

Luhan hanya bisa menundukan kepalanya saat pemuda-pemudi yang berada di kedai memandangi mereka saat keduanya sudah masuk kedalam. Beberapa diantara mereka bahkan terlihat saling berbisik-bisik. Dan Luhan sekilas bisa mendengar nama Sehun disebut-sebut dalam perbincangan mereka.

"Angkat kepalamu, Luhan. aku tidak berjalan dengan seorang pengecut."

Luhan berdecak sebal mendengar nada ketus Sehun. tak bisakah pemuda itu berkata lembut sedikit? Tidak mau dikatai pengecut, Luhan akhirnya mengangkat kepalanya. Pandangan orang-orang langsung tertuju padanya, dan dia merasa sangat risih akan hal itu. Luhan tidak pernah menjadi pusat perhatian, rasanya aneh sekali saat semua orang memandanginya.

"Kau mau rasa apa?" tanya Sehun.

Luhan mendengung kecil seraya melihat rentetan varian Bubble tea di list menu. "Taro?" Luhan kembali menatap kearah Sehun, "Kau sendiri mau rasa apa?"

Sehun terdiam, tidak menjawab pertanyaan Luhan. dia memandang kearah Bibi penjual yang sedang berjalan menghampirinya. Senyuman Bibi itu masih sama seperti dulu.

Seperti beberapa tahun lalu, saat dirinya dan Junmyeon sering berkunjung ketempat ini.


Lima Tahun yang lalu..

"Siapa yang sampai duluan dikedai, dialah pemenangnya. Dan yang kalah harus membayar Bubble tea si pemenang."

"Baik! Aku pasti akan menang, kakiku lebih panjang dari milikmu hyung." Anak lelaki yang lebih muda itu menepuk-nepuk kakinya dengan bangga, diselingi senyuman lebar diwajahnya. Percaya akan dirinya yang pasti bisa mengalahkan kakaknya dalam lomba lari kali ini.

"Tapi aku lebih lincah darimu, Hun." Junmyeon tidak mau kalah. "Kita buktikan saja, siapa pemenang kali ini. Kau jangan menangis, jika harus membayar minumanku."

Sehun kecil menggeleng keras, "Anak lelaki itu pantang menangis, lagipula seharusnya aku yang berkata seperti itu padamu hyung."

"Baiklah, kita mulai. Aku akan menghitung sampai tiga."

Kedua anak lelaki itu melakukan start jongkok, seperti pelomba lari yang sebenarnya. mereka mengahadap kearah kedai Bubble tea sederhana yang akan menjadi garis finishnya.

"Satu—" Junmyeon mulai menghitung.

"Du—"

"TIGA!" Sehun berteriak keras dan segera berlari mendahului hyung-nya diselingi gelak tawa riangnya.

"YA! Sehun, kau curang!" Junmyeon segera mengejar langkah adiknya.

Bibi pemilik kedai itu tersenyum saat melihat dua orang anak lelaki yang masuk kedalam kedainya dengan berlari-larian. Mereka terkadang saling mendorong untuk saling mendahului menghampirinya. Ini terjadi setiap kali saat kedua anak itu berkunjung ke kedainya. Saat ada keduanya, kedai ini akan menjadi ramai dengan pertengkaran lucu mereka. Dan Bibi Kim sangat senang saat kedua anak itu mulai meramaikan kedainya.

"Bibi Kim! Aku sampai duluan, benarkan benarkan?" si kecil Sehun menarik-narik ujung bajunya dengan antusias.

"Kau curang seperti biasanya, Sehun! Bibi aku pemenangnya!" Junmyeon memprotes atas kelakuan nakal adiknya.

"Hyung, aku pemenangnya! Aku tidak curang."

"Aku!"

"AKU!"

Bibi Kim menengahi kedua anak lelaki itu yang mulai bertengkar. "Sudah, sudah. Kalian berdua pemenangnya." Dia memandang geli kearah Sehun yang merengutkan wajahnya.

"Mana bisa ada dua pemenang seperti itu." gerutunya.

"Lagipula, hari ini aku akan memberikan Bubble Tea gratis untuk kalian berdua. Kalian berdua adalah pengunjung kedai setiaku, kalian tidak perlu membayar hari ini."

"Benarkah?!"

Bibi Kim tersenyum geli melihat kakak-beradik ini menjadi kompak kembali. Lihat saja keduanya, kedua pasang mata mereka berbinar dan mereka melakukan high-five dengan riang.

Flashback-end


"Sehun?"

Bibi itu masih mengenalinya, walau sudah beberapa tahun dia tidak lagi berkunjung ke kedai ini. "Bibi Kim." Ucapnya dengan senyum kaku.

Wanita paruh baya itu tersenyum semakin lebar, "Aigoo, sudah bertahun-tahun kau tidak meramaikan kedaiku, aku tak menyangka kau sudah sebesar ini. Rasanya seperti baru kemarin kau setinggi dadaku." Bibi Kim terkekeh, "Dan kau menjadi pemuda yang sangat tampan, Sehun." dia berdecak kagum memandangi tubuh atletis Sehun.

"Junmyeon pasti juga sama tampannya denganmu, dimana dia?" Bibi Kim sudah seperti seorang nenek untuknya, maka dari itu Sehun tidak heran lagi jika wanita paruh baya ini menanyai Junmyeon kepadanya tanpa sungkan.

"Dia ada disekolah." Jawab Sehun.

Bibi Kim beralih memandang Luhan yang duduk disamping Sehun, "Kau pandai memilih kekasih, dia cantik sekali. Dan sangat cocok denganmu."

Sehun dan Luhan saling berpandangan untuk beberapa detik, sebelum akhirnya Luhan memutuskan kontak mata mereka dengan salah tingkah. "A-aku hanya temannya, bi."

"Sayang sekali jika hanya berteman, pasti Sehun tidak mau menyatakan perasaannya padamu. Aku sangat tahu watak anak nakal yang satu ini." Wanita itu kembali terkekeh, "Aku akan mengantarkan minuman untuk kalian berdua."

Selepas kepergian Bibi Kim, suasana disekitar keduanya menjadi canggung. Jangankan kekasih, disebut teman saja rasanya tidak pantas. Luhan tidak tahu apa sebenarnya hubungannya dan Sehun. Musuh? Bisa iya, bisa tidak. Mereka memang tidak terlalu dekat dan kerap kali bertengkar tetapi tidak pernah saling mengatakan benci, terkadang suatu-waktu mereka saling membantu dan tertawa bersama. Sehun memang menciumnya semalam, tetapi bukan berarti itu tandanya pemuda itu memiliki rasa ketertarikan dengannya 'kan? Bisa saja dia hanya…bermain-main. Luhan tidak mengharapkan hubungan apapun dari Sehun, karna setahunya Sehun adalah pemuda yang tidak peduli pada suatu ikatan. Dia Oh Sehun. pemuda dingin dan arogan. Bisa melihatnya tertawa beberapa detik saja sudah sangat menyenangkan untuk Luhan.

"Kenapa aku berfikir seolah-olah aku mengharapkan sebuah hubungan dengannya?" –batin Luhan.

"Jangan dipikirkan ucapan Bibi Kim barusan, dia hanya bergurau." ucap Sehun dengan singkat.

Luhan hanya mengangguk. Lihat 'kan? Sehun memanglah pemuda yang sulit ditebak jalan pikirannya. Sebentar-sebentar dia akan menjadi orang yang menyenangkan, tetapi setelah itu kembali lagi ke dirinya yang asli.

"Bibi itu sepertinya mengenalmu dengan baik." ujar Luhan.

"Aku memang sering berkunjung kesini dulu."

"Dengan Junmyeon?"

Sehun mengangkat sebelah alisnya melihat keantusiasan Luhan. dia agak tidak suka melihat wajah Luhan sesenang itu saat menyebut nama kakaknya. "Kenapa kau selalu antusias saat membicarakan Junmyeon hyung?"

"Oh, aku benci pertanyaan ini."

"Dan aku lebih benci saat kau menghindari pertanyaan ini."

Terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.

"Sehun, kau itu masih muda. Bersikap lunaklah sedikit, kau terlalu kaku. Bisa-bisa wajahmu bertambah tua sebelum waktunya." Luhan berkata dengan polosnya. Membuat Sehun mendelik tak suka. Entah Luhan sedang mencemoohnya atau memberi kritik pedas, yang pasti wajahnya sangat tidak berdosa saat mengatakan kalimat itu.

"Apa yang membuatmu berkata aku terlalu kaku?"

"Kau tidak bisa menempatkan perasaanmu dengan ekspresi yang benar." Jawab Luhan dengan lugas. Pemuda cantik itu menangkup wajah Sehun dengan kedua tangannya, membuat Sehun sedikit terkejut dengan perlakuan tiba-tiba itu. wajah Luhan terlihat sangat manis dilihat dengan jarak sedekat ini. Dan tangan Luhan terasa begitu hangat diwajahnya.

"Jika kau senang, tersenyumlah." Luhan menarik kedua sudut bibir Sehun hingga membentuk sebuah senyum diwajah tampan pemuda itu. "Jangan pernah ragu untuk tersenyum. Wajahmu lebih..emm, tampan. Saat tersenyum." Pipi Luhan merona saat mengatakan kata 'tampan' untuk Sehun.

"Jadi maksudmu aku tidak tampan saat biasanya?" Sehun menahan senyum gelinya melihat Luhan melirik kesana-kemari, seperti bingung mencari jawaban.

"B-bukan begitu. kau tampan, Tentu saja. tetapi wajahmu lebih enak dipandang saat kau tersenyum." Luhan menurunkan kedua tangannya dari wajah Sehun. "Jangan hanya berekspresi datar, perasaanmu jadi tidak diketahui. kau sedang marah maupun senang, wajahmu sama saja."

"Sepertinya kau sudah mengenalku dengan baik." Sehun mengembangkan senyum tipisnya untuk Luhan, membuat pemuda asal Beijing itu mengalihkan pandangannya dari Sehun.

"Baiklah, aku akan sering tersenyum—" Sehun memberi jeda pada kalimatnya, seraya meraih wajah Luhan agar menghadap kearahnya. "Hanya untukmu." Lanjutnya dengan senyuman.

Luhan tidak bisa berkata apa-apa mendengarnya. Apa saat ini Sehun sedang menggodanya? Tetapi wajahnya terlalu tulus untuk seseorang yang sedang menggoda. Luhan tidak bisa mengontrol detakan pada jantungnya melihat senyuman Sehun. dia akan sering tersenyum—dan itu hanya untuknya. Ya, senyuman Sehun hanya ditujukan untuknya. Entah kenapa kalimat itu terus terngiang ditelinga Luhan, hingga rasanya Luhan tidak bisa mendengar apa-apa lagi selain kalimat sederhana itu.

Satu yang baru Luhan sadari saat ini,

Dia menyukai Sehun.


Kyungsoo berjalan tergesa-gesa menghindari tiga orang siswa dibelakangnya yang masih saja mengejarnya. Ini sudah jam istirahat asal kalian mau tahu, dan ketiga berandalan itu masih belum menyerah mengejarnya setelah tadi sempat berhenti untuk melihat pertengkaran ditengah lapangan.

Baekhyun, Chen dan Kai.

Kyungsoo punya firasat buruk dengan tiga orang itu. mau apa sebenarnya mereka? Apa mereka ingin mengganggu dirinya lagi? Kyungsoo tidak tahu apa tujuan mereka, yang pasti saat ini dia harus menghindari ketiganya—yang sekarang menjadi empat, karna Chanyeol ikut-ikutan mengejarnya.

"Berhenti!"

"Aaaah!"

Kyungsoo berjengit kaget ketika Kai muncul dihadapannya dengan tiba-tiba. Bukankah dia tadi masih berada jauh dibelakangnya? Kenapa tiba-tiba sudah ada didepan? Apakah dia punya kekuatan teleportasi?—pikir Kyungsoo.

"Do Kyungsoo, dengarkan aku." Kyungsoo hanya bisa memandang kearah Kai dengan bingung saat pemuda yang pernah membully-nya itu memegang bahunya dengan raut serius.

Kyungsoo mulai takut. Apakah sekarang dia akan dipukuli lagi?

"Jangan memandangku seolah-olah aku penjahat!" bentak Kai, membuat Kyungsoo terkejut untuk yang kedua kalinya.

"Jangan membentakku!" Kyungsoo balas membentak, yang kali ini membuat Kai terkejut. Dia tidak suka dibentak, orangtuanya saja tidak pernah membentaknya—dan Kim Jongin yang bukan siapa-siapanya berani membentaknya? Kyungsoo tentu saja tidak bisa menerimanya.

"Baiklah, baiklah." Kai mendesah, menyerah. "Jika ketiga orang dibelakangmu itu sudah sampai kesini dan bertanya-tanya, kau harus menjawab iya-iya saja. Mengerti?" perintah Kai dengan tegas.

Kyungsoo berkedip-kedip bingung. "Bertanya-tanya tentang apa? dan kenapa aku harus menjawab iya?"

Kai memejamkan matanya, terlihat seperti seseorang yang sedang putus-asa. "Ini agak memalukan. Kuperintahkan kau jangan tertawa selagi aku menjelaskan ini."

Kyungsoo hanya mengangguk. Memangnya apa yang bisa Ia tertawakan dari ucapan si arogan Kim Jongin?

"Saat teman-temanku sampai disini, kau harus berpura-pura menjadi kekasihku." Kai berucap dengan nada final. Oh sial, ini tentang harga dirinya. Dia tidak mau terlihat skakmat didepan teman-temannya sendiri. Ini keterpaksaan yang harus ia lakukan. Dia melirik-lirik kecil kearah Kyungsoo. pemuda bermata bulat itu tidak ada tanda-tanda untuk mentertawakan dirinya. Aneh sekali. Ya walaupun Kai memerintahkan dia untuk tidak tertawa, setidaknya ekspresi menahan tawa Kyungsoo cukup wajar untuknya.

Tetapi saat ini, raut pemuda pendek itu tidak terbaca. Dia seperti kebingungan.

"Kenapa harus aku?" tanyanya, setelah berdetik-detik terdiam. Kai mengerutkan keningnya. Hanya itu yang dia tanyakan? Jauh sekali dari ekspektasinya.

"Sudah ikuti saja perintahku!" ketus Kai. "Aku tidak akan mengganggumu lagi setelah ini."

"Tetapi aku tidak mau menjadi kekasihmu." tolak Kyungsoo.

"Hey, ini hanya bohongan!" seru Kai. Kenapa penolakan Kyungsoo seolah-olah dirinya baru saja menyatakan perasaannya pada pemuda itu? ini mengganggu sekali.

"Aku tidak peduli, entah itu kebohongan ataupun asli. Aku tidak mau jadi kekasih dari berandalan sepertimu." Kyungsoo berkata dengan nada final, lalu berjalan melewati Kai yang terdiam mematung ditempatnya berdiri.

Kai menganga tak percaya. Astaga, ini pertama kalinya dirinya ditolak oleh seseorang. Dan seseorang yang menolaknya adalah anak macam Kyungsoo yang pernah dibully-nya. Ini memalukan sekali, padahal hanya memintanya untuk menjadi kekasih pura-pura—dan dia menolaknya? Kai tidak mau mempercayai ini. Apa pesona dan ketegasannya tidak mempan untuk Kyungsoo?

"Ternyata rasanya ditolak itu…menyakitkan." Gumamnya.

"Merasa sakit hati karna ditolak, Kim Kai?" suara Baekhyun menginterupsinya.

Dan Kai hanya bisa berteriak frustasi saat ketiga temannya mentertawakannya dengan terbahak-bahak.


Luhan tak henti-hentinya tersenyum sendiri seperti orang idiot saat ucapan Sehun kembali terngiang ditelinganya. 'Baiklah, aku akan sering tersenyum. Hanya untukmu.' —demi tuhan! Itu hanya kalimat yang sangat sederhana, tetapi itu kalimat termanis yang pernah keluar dari bibir Sehun. ditambah pemuda itu mengucapkannya diiringi seulas senyum yang sangat menawan, membuat Luhan merasa pipinya kembali memanas mengingatnya. Sepertinya dirinya memang menyukai Sehun. terdengar sangat aneh sekali, karna keseharian mereka hanya bertengkar dan saling melempar kalimat-kalimat ketus, tetapi siapa sangka Luhan malah menyukai pemuda bermarga Oh itu sekarang.

Luhan tidak berani berkata Ia jatuh cinta pada Sehun. karna dirinya tidak pernah terfikir sampai sana—dia hanya menyukai. Sekedar rasa suka, tidak ada embel-embel rasa yang lainnya. Karna mencintai Sehun sama saja dengan mencintai dinding. Keras dan susah dilunakan.

Tetapi seharusnya Luhan harus sadar jika rasa suka adalah awal dari rasa sayang.

"Luhan?"

Luhan menegang mendengar suara baritone itu. dia melunturkan senyumnya saat melihat seorang pria tinggi berdiri didepannya dengan wajah stoic-nya.

"Kris," Luhan segera memundurkan tubuhnya beberapa langkah. Merasa trauma bertemu dengan pemuda yang sudah menculiknya beberapa hari yang lalu. Luhan tidak mengharapkan dia bertemu lagi dengan Kris. Dia khawatir kejadian itu terulang lagi, Luhan sungguh tidak mau itu terjadi.

"Wah, kebetulan sekali kita bertemu disini. Bagaimana kabarmu Luhan?" Kris menyandarkan punggungnya pada mobilnya seraya menatap Luhan dengan senyuman miring.

Luhan melirik-lirik panik kesegala arah. Sial, mengapa Sehun lama sekali datangnya?

"Jangan lari dulu, Luhan. aku ingin berbicara sebentar denganmu."

"Aku tidak ada urusan denganmu, brengsek." Luhan mendesis.

"Ya, wajar jika kau marah denganku. Aku hanya ingin meminta maaf dan berterimakasih padamu." Kris berujar dengan santai. "Maaf karna sudah menculikmu waktu itu. aku tahu kejadian itu nonsense. Karna percuma saja kau tidak mati, dan Sehun tidak bisa masuk keperangkapku."

Luhan mengepalkan tangannya. Bersiap-siap memberi pukulan pada wajah blasteran itu.

"Sekarang aku jadi menyesal, karna tidak bisa lagi menjadi temanmu." ujar Kris dengan wajah tidak tulus. "Apa kau mau memaafkanku, Luhan?" seringaianya.

"Aku tidak memaafkan orang jahat sepertimu."

Kris kali ini mendekat kearah Luhan, membuat Luhan antisipasi takut-takut Kris akan memanggil kawanannya lagi dan kembali menculiknya.

"Lalu bagaimana dengan Sehun, apa dia bukan orang jahat?"

"Tidak. Dia bukan orang jahat!" bela Luhan. "Dia tidak sepertimu."

"Kau hanya orang baru disini, Luhan. kau tidak mengenalinya. Jangan hanya karna kau selalu dilindungi oleh si keparat itu, kau jadi berfikir dia orang baik." ucap Kris. "Semua orang disini tahu, dia bukan pemuda baik-baik."

Luhan menggelengkan kepalanya. Persetan dengan pandangan semua orang! Pandangan Luhan kepada Sehun berbeda. dia tidak mau melihatnya dari luar saja, karna Luhan tahu Sehun memang bukan pemuda baik-baik jika hanya melihatnya dari luar saja. Tetapi siapa yang tahu diri Sehun yang sebenarnya? dia pemuda baik, dan orang-orang hanya fokus kepada keburukan Sehun saja hingga mereka menyimpulkan dia anak berandalan yang tidak tahu diri.

"Bahkan kakak kandungnya sendiri membencinya." Kris semakin melebarkan senyum kemenangannya melihat keterdiaman Luhan. "Kurasa kau sudah mendengar kisah hidupnya, bukan? Jangan menutup matamu, Luhan. kau baru mengenalnya. Tahu apa kau tentang dia?"

Benar.

Luhan memang baru mengenal Sehun. dia bahkan belum mengetahui banyak tentang Oh Sehun. tetapi dengan mudahnya dia menyukainya? Pemuda yang jelas-jelas selalu mengira kehadirannya adalah sebuah kesialan dan pengganggu. Luhan merasa sangat bodoh, tetapi disatu sisi dia begitu mempercayai Sehun.

"Dan kau tahu apa tentangnya?!" Luhan bertanya ketus pada Kris. Bisa saja Kris hanya memprovokasinya agar tidak mendekati Sehun 'kan? Orang didepannya ini begitu licin seperti ular.

"Ooh, tentu saja aku mengenalinya dengan baik. Aku mengenalnya jauh lebih darimu. Dan aku sempat menjadi tolol karna mengira Sehun anak yang baik—bahkan menganggapnya sebagai adikku sendiri. Tetapi apa balasannya? Dia menghilangkan seseorang yang sangat kusayangi." Raut Kris berubah menjadi begitu dingin, banyak sekali kedendaman dari nada ucapannya.

"Sebagai teman yang baik, aku hanya memperingatkanmu Luhan. Jangan sampai kau bernasib sama dengan adikku."

"Kau bukan temanku," geram Luhan.

Kris terkekeh, "Aku suka sikapmu." Pemuda jangkung itu membalikan tubuhnya dan masuk kedalam mobilnya. Sebelum benar-benar pergi, Kris menyeringai untuk yang terakhir kalinya kepada Luhan.

"Ah, Jungshin berterimakasih padamu karna kau sudah menyelamatkan nyawanya hari ini. Dan, sampaikan salamku untuk Oh Sehun. katakan padanya kalau aku akan merebutmu darinya."

Luhan menatapi kepergian Kris dengan bibir yang terbuka. Apa maksud perkataannya?

"Menunggu lama?"

Luhan tersadar saat suara Sehun terdengar didekatnya. Dia tampan sekali saat duduk diatas motor besarnya itu.

"Bibi Kim berbicara sebentar padaku tadi. ayo, naik!"

Luhan menghampiri Sehun tanpa melepaskan pandangannya dari mata tajam pemuda itu. Luhan sudah sangat percaya pada Sehun, tetapi ucapan Kris membuat kepercayaan agak goyah. Sejujurnya, Luhan membenarkan semua perkataan Kris tetapi disisi lain dia tidak mau terpengaruh oleh kata-katanya.

"Hey, kau mau disini atau ikut aku kesekolah lagi?" tanya Sehun, malas.

"Sehun,"

Sehun memandang Luhan heran, "Ada apa?"

"Bisa kita berbicara?"

"Bicara saja, Luhan." Sehun memutar bola-matanya, jengah.

"—tentang kehidupanmu."

Raut wajah Sehun berubah drastis. "Tidak ada yang bisa kubicarakan tentang kehidupanku. Naiklah, Luhan! gurumu akan mencarimu nanti."

"Tapi aku butuh jawaban darimu agar aku bisa mempercayaimu!" Luhan menaikan nada suaranya tanpa sadar.

"Untuk apa kau mempercayaiku? Semua orang bahkan tidak peduli padaku. Kau pikir, siapa dirimu?!" Sehun ikut meninggikan suaranya, kali ini dengan mata yang menyalang tajam pada Luhan.

Luhan membungkam bibirnya. Pemuda bersurai coklat-madu itu menundukan kepalanya, "Karna aku menyukaimu, Sehun." ujarnya dalam hati.

"Maaf." Luhan berucap pelan. "Kita kembali saja kesekolah."

Sehun menghembuskan nafasnya kasar dan mulai menjalankan kendaraannya setelah Luhan sudah naik dibelakangnya. Ada perasaan bersalah terselip dihati kecilnya melihat raut wajah Luhan. Sehun hanya terbawa emosi. Dia tidak bermaksud mengatakan semua itu, Sehun memang sensitif dengan pembicaraan tentang kehidupannya. Kenapa semua orang ingin sekali mengetahui kehidupannya?

Dan kini Luhan juga ingin mengetahuinya.

Tetapi, tunggu! Bukankah tadi Luhan bilang ingin mempercayainya? Apa maksud perkataannya itu?


"Seminggu lagi perayaan ulangtahun Ares High School. Seperti tradisi sebelumnya, tetapi kali ini mereka menginginkan dua nyawa dari sekolah kita, Sehun."

"Aku sedang tidak mau memikirkan hal itu." Sehun berujar datar pada Chen. Dia melirik kearah arloji hitamnya, kenapa sepuluh menit rasanya begitu lama? Dia ingin cepat-cepat bertemu Luhan. perasaannya menjadi tidak karuan seperti ini hanya karna membuat wajah Luhan murung. Apa dia harus meminta maaf?—tetapi itu bukan gayanya sama sekali.

"Ada apa denganmu? kau mau Hanbin dan teman-temannya itu mengambil dua anak dari sekolah kita untuk tumbal?" tanya Chen, sakartis.

Sehun mendesis geram, "Kita bisa pikirkan itu nanti. Lagipula aku bisa meledakan sekolahnya itu dalam waktu seperkian detik jika aku mau."

Chen meringis ngeri, jangan sampai Sehun benar-benar melakukan itu. karna oknum yang ditunjuk oleh Sehun untuk merakit bom pasti dirinya. Dan Chen masih mempunyai otak untuk tidak mau melakukan hal gila itu. "Wajahmu banyak sekali kerutan. Ada masalah?"

"Mungkin dia punya masalah yang sama dengan Kai. Ditolak oleh orang yang disukainya." Sahut Chanyeol yang tengah bermain game bersama Baekhyun ditengah-tengah pelajaran.

"Aku tidak menyukai Kyungsoo, bung!" Kai melempar bola kertas kearah Chanyeol.

"Yeah, tapi faktanya kau baru saja ditolak oleh si mata bulat ini." Chanyeol menepuk-nepuk bahu Kyungsoo yang memang duduk tak jauh darinya, menghadiahkan tepisan kasar dari Kyungsoo yang sedang sibuk membaca.

"Baiklah jika kau tidak mau cerita." Chen berkata setelah melihat raut terganggu Sehun. "Tetapi malam ini kau harus datang ke klub Voltaire, kita akan membahas sekolah sebelah."

"Aku tidak berjanji." tukas Sehun. pemuda bersurai kelam itu buru-buru meraih tasnya dan berdiri saat bel pulang sekolah terdengar nyaring. Dia berjalan dengan cepat keluar kelas, meninggalkan teman-temannya yang memandangnya dengan bingung.

"Perasaanku saja atau apa, Sehun malam ini sepertinya mau berkencan dengan Luhan?" Baekhyun berkomentar.


Luhan tersentak kaget ketika tangannya tiba-tiba ditarik oleh seseorang saat kakinya baru saja melangkah keluar kelas. Pemuda manis itu mendelik pada Sehun yang seenaknya menarik tangannya.

"Sehun—"

"Aku akan menjawab setiap pertanyaanmu."

Luhan mengerutkan dahinya mendengar ucapan cepat Sehun. dia hendak bertanya apa maksud perkataan Sehun, tetapi kehadiran Junmyeon dan Yixing membuat bibirnya bungkam. Luhan hanya bisa terdiam melihat Junmyeon dan Sehun saling bertatapan dingin, kedua orang itu memang memiliki hubungan yang tidak baik.

"Luhan, bukankah sekarang kita ingin mengerjakan tugas dirumahmu?"

Luhan mengangguk kaku pada Junmyeon, "E-eum, ya." Luhan dapat merasakan tangannya dicengkeram kuat-kuat oleh Sehun, membuatnya harus menahan ringisan sakit.

"Mau apa lagi kau disini?" Junmyeon melempar pertanyaan dingin pada Sehun, "Mau mengajak Luhan membolos lagi?"

"Bukan urusanmu, hyung." Sehun menjawabnya dengan tenang, namun Luhan bisa melihat kilat sinis di matanya.

"Siapa yang kau panggil hyung?" Yixing meremas tangan Junmyeon saat pemuda itu melontarkan kalimat tersebut. "Myeon," Yixing berbisik memperingati.

Luhan menangkap Sehun menatap sejenak kearah Yixing, sebelum pada akhirnya pemuda itu melepaskan cengkeram tangannya.

"Kita akan membahas semua yang ingin kau ketahui di Apartemenku, aku akan menjemputmu malam nanti." Ujar Sehun seraya melirik sekilas pada Junmyeon dengan kilat kemenangan dimatanya. Junmyeon mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia tahu apa yang diinginkan adiknya itu sekarang.

Luhan.


Tobecontinued—


a/n :

HAAAAAAAAAI? GUE COMEBACK! WAKAKAK

Lama ngga ketemu. Kangen rasanya/?

Sempet stuck beberapa hari karna dua minggu kemaren lagi UAS—deminya, gua ngga belajar sekali karna tiga bulan Prakerin, dan sekalinya masuk sekolah langsung UAS. Gila, blank langsung-_-

Maaf kalo chapter ini mengecewakan. Mungkin banyak typo, mungkin penulisannya semakin menurun. Dan maaf karna Hunhan belum jadian:(

Waktu itu direview ada yg bilang, seharusnya FF ini rate-nya T aja, karna sampe 10 chapter ngga ada NC sama sekali. Gini, gue mau jelasin bentar; mungkin opini gue tentang rate M sama kalian itu beda. Menurut gue, rate M itu bukan cuma sex scene aja, tapi bisa kekerasan, kata-kata kasar, sama cerita yang bener-bener kelam. Dan gue ngerasa FF ini gak pantes ada di rate T. you know lah..

And then, menurut gue kalo tbtb NC tanpa cinta itu kayaknya kurang greget. Kesannya Cuma saling memuaskan hasrat tanpa perasaan doang. JADIIIIII, BESOK GUE BIKIN HUNHAN NC-AN DENGAN CINTA/? Istilahnya apa sih? Making love? Iya gitu.

Jadi siap-siap aja chap depan isinya desahan mulu.

Gue gak php lagi, kok. Janji /senyum pepsodent/ GUE EXCITED BIKIN NC LAGI. HAHAHA. Udah berapa lama gue gabikin adegan nc? Rasanya kangen(?)

Konfliknya gue cancel dulu kayaknya, gue lagi mau buat chapter yg manis-manis.

Chap depan gue usahain fastupdate. insyaAllah.

TERAKHIR, THANKS A LOT BUAT ALL READERS TERCINTAH, especially si lumut dan KECENGAN ELU (ini uname greget bgt, sumpah) yang rajin bgt ngingetin buat apdet. /tebar confetti/ I LAVAA YU:*

[Anggara Dobby; Bekasi 23/12/2015]