©Anggara Dobby

An Hun-Han Fanfiction;

NOT PERFECT

Oh Sehun—Lu Han


Warn: YAOI. Slash. Shounen-ai. AU. Typo(s). Boring! DLDR; Don't Like Don't Read; Tidak suka, tidak usah membaca. Easy, right?;)


[!] Peringatan : chapter ini mengandung sex scene yang sangaaaat eksplisit;gamblang; jadi, bagi yang gak suka dan masih di bawah umur—tidak usah membaca, oke? Dosa dan resiko tanggung sendiri. Author sudah memperingati :D


10k+ words, gaess.

Happy reading~!


"Malam ini kau mau berkencan dengan Sehun, ya?"

Luhan yang sedang menyiapkan beberapa gelas jus refleks menghentikan pergerakannya. Dia memandang kearah Kyungsoo yang baru saja bertanya dengan picingan mata yang tajam. Apa katanya barusan?

"Ssstttt!" Luhan menutup bibir Kyungsoo dengan dua jarinya. Dia mendelik pada sepupu bertubuh mungilnya itu. "Jangan berbicara sembarangan! Nanti Junmyeon dengar."

Pemuda manis itu melirik-lirik kearah ruang tengah yang berdekatan dengan dapur, memastikan jika Junmyeon ataupun Yixing tidak mendengar pertanyaan Kyungsoo yang bisa membuat mereka salah-paham. Berkencan? Luhan bahkan tidak pernah sampai kepikiran kesana tentang dirinya dan Sehun. pemuda dingin itu hanya mengajaknya ke Apartmen untuk memenuhi keinginan penasaran Luhan, bukan untuk berkencan. Yang benar saja, Sehun mana mau melakukan kegiatan menggelikan itu.

"Kau takut Suho hyung mendengarnya? Kenapa? Takut karna tidak mau membuatnya cemburu?"

Luhan memukul kepala bagian belakang Kyungsoo. "Jangan sok tahu!"

"Kau memukulku!" tuding Kyungsoo, tidak terima. "Aku tahu. Jelas Suho hyung menyukaimu, dan kau pasti tahu itu."

"Yang benar saja, Kyung."

"Kau juga menyukainya!"

"Apa?" Luhan merasa ada yang tidak beres dengan otak Kyungsoo hari ini. Mungkin sekelas dengan Kai dan kawan-kawannya membuat Kyungsoo berfikiran sempit dan tidak logis. "Ya, aku menyukai Junmyeon. Dia baik, hangat, tampan, memiliki senyum yang memikat—tidak ada alasan untuk tidak menyukainya. Tetapi hanya sebagai teman, Kyung. Aku menyukainya hanya sebatas teman."

Kyungsoo bersidekap, wajahnya terlihat angkuh sekarang. "Kenapa hanya menyukainya sebatas teman? Ooh..atau kau sedang menyukai Sehun?" tudingnya, seperti peran-peran antagonis dalam sebuah teater drama.

Wajah Luhan memerah tanpa bisa dicegah. Bibirnya bungkam seketika. Pertanyaan jebakan, dan Luhan tidak menyukainya. "A—aku, YA! Kenapa kau malah menginterogasiku?!"tanya Luhan kembali pada kesadarannya.

"Karna aku ingin tahu. Akhir-akhir ini kau sering bersama Sehun, padahal awalnya kau sangat menghindarinya. Tadi kudengar Baekhyun mengatakan, jika malam ini Sehun akan mengajakmu berkencan. Dan aku tidak terima! Kau tidak boleh berpacaran dengan anak nakal itu!"

Luhan menganga, tak percaya. Yatuhan, apa yang terjadi dengan Kyungsoo yang biasanya pendiam itu? kenapa saat ini dia begitu cerewet dan ketus sekali? Yeah, Luhan harus berterima kasih pada Baekhyun yang sudah meracuni otak Kyungsoo.

Kyungsoo sepertinya sedang terkena sindrom brothercomplex.

"Kyungie, aku tidak berkencan dengan Sehun. malam ini aku memang akan pergi dengannya, untuk membicarakan sesuatu. Lagipula siapa yang berpacaran dengannya?" jelas Luhan.

"Tapi aku tidak akan mengizinkanmu pergi malam ini!"

"Kenapa?" Luhan bertanya, tidak terima.

"Karna aku melarang kau berdekatan dengannya. Kau sepertinya sudah sangat menyukainya, hyung. Dan aku harus mencegah itu." tutur Kyungsoo lalu berjalan meninggalkannya sendirian, didapur.

Luhan mengedip-ngedipkan matanya, bingung. "Kenapa semua orang melarangku untuk berdekatan dengan Sehun, ya?"

Lalu pemuda manis itu menatap kearah Junmyeon yang terduduk diruang tengah, tak jauh darinya berada. Junmyeon sedang tertawa bersama Yixing disana, entah mentertawakan hal apa.

"Memangnya aku terlihat menyukai Junmyeon?" gumamnya. "Kenapa Kyungsoo berkata seperti itu?"


Voltaire Club

"Sehun, absinthe?"

Sehun menggeleng, menolak tawaran minuman yang diberikan si pemilik klub, Chen. Suara musik khas klub terasa berdentum-dentum ditelinga Sehun, Chanyeol memainkan genre Dutch malam ini, begitu asing ditelinganya. karna biasanya Chanyeol memainkan Techno sebagai aliran musik DJ-nya. Dia bisa melihat Chanyeol dan Kai tengah melompat-lompat dibelakang podium DJ, mengajak beberapa orang dibawah lantai dansa untuk ikut menari-nari.

"Minuman ini enampuluh persen alkohol, katanya dibuat dengan mendistilasi alkohol dengan daun-daunan adas, ketumbar dan pala. Membuat kita berhalusinasi yang indah-indah." Baekhyun memutar-mutar gelas absinthe ditangannya seraya menganalisa seperti seorang ilmuwan kelas tinggi. "Jangan diminum, Sehun. kau 'kan tidak suka mabuk."

"Aku bawa susu penetralisir alkohol. Minum saja, Sehun." bujuk Chen, masih bersikukuh.

"Hey, dia 'kan mau berkencan! Jangan dicekoki minuman beralkohol tinggi, bodoh."

"Berkencan?" Sehun menoleh kearah Baekhyun, yang kini tengah mengerjab-ngerjabkan matanya dengan polos.

"Iya, bukankah kau dan Luhan mau kencan malam ini?"

Sehun sontak tertawa mendengarnya, membuat Chen dan Baekhyun melongo. Mereka pasti salah lihat. Sehun tertawa hanya karna kalimat tak berarti itu? Baekhyun merasa tak percaya. Jika boleh berkata berlebihan, ini seperti sebuah keajaiban. Melihat seorang Oh Sehun tertawa, adalah hal baru untuk keduanya.

"Humormu rendah sekali, kawan." ceplos Chen, masih melongo melihat temannya yang kaku itu tertawa seolah-olah tidak ada beban hidup.

"Kurasa itu ide yang bagus, Baekhyun."

Chen dan Baekhyun kembali melongo mendengar jawaban Sehun. mengejutkan sekali, apa itu artinya dia akan benar-benar berkencan dengan Luhan?

"Sehun, aku senang sekali kau seperti ini!" Baekhyun melompat kearah tubuh Sehun, dan memeluknya dengan senang. "Luhan membawa perubahan untukmu." Ujarnya dengan berlebihan. Pemuda mungil itu membuat suara menangis terharu bohongan, mengundang dengusan malas dari Chen. Baekhyun terlihat seperti seorang Ibu yang baru melihat anaknya bisa berjalan.

"H—hey! Chanyeol mendelik kearahku sekarang."

"Sejak kapan kau takut pada raksaksa telinga lebar itu?" Baekhyun melepaskan pelukannya dan menoleh kearah Chanyeol. diatas sana, Chanyeol mendelik kearahnya dengan tajam. Baekhyun terkikik geli seraya melambai-lambaikan tangannya kearah pemuda tinggi itu. senang sekali rasanya saat Chanyeol mulai bersikap possesif padanya.

"Sehun."

"Hm?"

Chen menyenggol siku Sehun dengan tidak sabaran, "Bukankah itu Kris?"

Sehun menoleh kearah yang ditunjuk oleh Chen. Didepan meja bar sana, terlihat seorang pemuda tinggi yang sedang bercengkrama dengan teman-temannya seraya meminum beberapa gelas wine. Mengejutkan sekali, Kris berada disini malam ini. Pria itu tentu saja tahu klub ini milik Chen dan menjadi tempat berkumpul Sehun dan kawanannya. Apa dia sengaja datang kesini untuk menemui Sehun? Oh, kebetulan sekali. Karna Sehun juga menantikan waktu-waktu seperti ini.

Sehun langsung bangkit dari duduknya dan berjalan kearah Kris dengan tergesa-gesa.

Chen menepuk dahinya, kasar. "Astaga, aku baru saja membuat klub-ku hancur dalam beberapa detik lagi." Ucapnya dengan nada gelisah. Dia tahu benar bagaimana watak Sehun. melihat raut wajahnya yang sudah semengerikan itu, Kris tidak akan selamat kali ini.

"Ini akan menjadi pertengkaran yang hebat." gumam Baekhyun.

Sehun menghampiri Kris dengan langkah pasti. Setiap langkah menuju kearah si brengsek itu, semakin bertambah rasa kebenciannya pula. Kris sudah menyakiti Luhan, dia hampir membuatnya mati dengan cara yang sangat hina. Luhan dipukuli ramai-ramai oleh kawanannya, Sehun geram bukan main dengan kejadian malam itu. dia tidak akan membiarkan si bajingan itu selamat. Sehun akan membalas semuanya.

Dengan tangan yang sudah terkepal erat, Sehun segera melayangkan pukulannya kerahang Kris yang belum menyadari kehadirannya.

Bugh!

Kris tersungkur kelantai, bersamaan dengan pekikan beberapa wanita yang melihat kelakuan Sehun. seluruh pasang mata kini memandang kearahnya dengan terkejut. Beberapa teman Kris mulai berdiri, ancang-ancang untuk membalas Sehun.

"Senang bertemu denganmu, Kris." Sehun menyeringai, memandang rendah pada sosok yang tersungkur dibawah kakinya.

Kris memegangi sudut bibirnya yang robek, seraya memandang Sehun dengan tatapan dendam yang begitu kentara. pria itu lantas berdiri dan membalas seringaian Sehun tak kalah sinisnya. "Ah, Oh Sehun—aku juga senang bertemu denganmu."

"Sudah lama sekali, bukan?"

Kris menggeram, "Ya, lama sekali kita tidak bertemu."

Sehun yang mempunyai insting setajam binatang buas segera mengelak dari pukulan yang akan Kris layangkan untuknya. Dia menendang perut pria itu hingga tubuhnya terdorong kebelakang, mengakibatkan beberapa gelas wine dimeja bar terjatuh kelantai dan pecah. Lagi, pekikan banyak wanita semakin meramaikan suasana. Ditambah Chanyeol berhenti memutar mixtape-nya, menjadi yang terdengar hanyalah pertengkaran Kris dan Sehun saja. Orang-orang mulai mengerubungi mereka, melihat dua lelaki yang tengah bertengkar hebat.

"Apa yang membuatmu semarah ini padaku, Oh Sehun?" Kris mencengkeram kerah baju Sehun dan mendorongnya kearah meja bar dengan kasar. "Bukankah seharusnya aku yang marah padamu, bocah sial?" matanya berkilat-kilat emosi, menandakan jika pria itu memang sangat membenci Sehun.

"Kau hanya seorang bajingan pecundang yang hanya mengeluarkan emosi nonsense pada orang lain. Apa yang kau perbuat pada Luhan, itu yang membuatku muak!" Sehun mendesis geram, dia sangat muak melihat wajah Kris. Sudah cukup kemarin-kemarin Ia menghormatinya sebagai kakak dari sahabat baiknya, tetapi kali ini tidak—Kris sudah mengibarkan bendera perang kepadanya. "Kau punya masalah denganku, lawanlah aku. Jangan Luhan, dia tidak punya salah denganmu, keparat!"

"Ah, membela si kecil itu?" Kris menyunggingkan senyum merendahkannya, persis seperti senyuman Sehun. "Seharusnya aku buat mati saja dia, agar kau semakin menderita. Benar?"

Sehun tersulut emosi mendengarnya. Pemuda itu mendorong Kris dengan kasar hingga tubuh pria itu terjatuh kelantai. Sehun memukulinya tanpa ampun, rasa muaknya sudah memenuhi seluruh sel diotaknya membuat darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun. Otaknya memerintahnya untuk segera menghabisi pria dibawah kukungannya ini. Sehun tidak tahu mengapa Ia bisa semarah ini hanya karna Kris berusaha mencoba menghabisi Luhan. jelas, Luhan bukan siapa-siapanya. Dia tidak berarti apa-apa dihidup Sehun, tetapi semakin kesini Sehun semakin sadar, apa yang Ia lakukan selama ini bukan hanya karna semata-mata suatu kebetulan saja untuk menolong Luhan—tetapi memang dirinya yang menginginkan untuk melindungi dan menyelamatkan pemuda manis itu.

Sehun menyukai Luhan.

Dan apapun yang tengah disukainya, tidak ada yang boleh menyentuhnya sedikit pun—bahkan seujung kuku pun, Sehun tidak akan membiarkannya.

Dia akan berusaha bagaimanapun caranya, agar seseorang yang disukainya tetap hidup dengan tenang, tanpa tersentuh sedikitpun dari musuh-musuhnya.

"Enyahlah kau, Wu Yifan." Sehun mendesis seraya mengarahkan handgun-nya kearah dahi Kris.

"Aku akan mati, jika kau sudah mati ditanganku, Sehun." Kris balas mengarahkan pistolnya kearah Sehun. wajahnya yang sudah dipenuhi lebam kebiruan tidak membuatnya gentar sedikitpun pada Sehun.

Beberapa orang yang tengah menontoni adegan itu, mulai memundurkan diri perlahan-lahan. Senjata api bukanlah hal yang bagus untuk didekati. Melihat dua orang lelaki yang sudah mengarahkan senjata masing-masing kearah lawannya, membuat beberapa orang mulai panik dan berlarian untuk segera keluar dari klub.

"Pelanggan-pelangganku.." ratap Chen. Selanjutnya pemuda itu melarikan diri saat mendengar beberapa peluru yang meledak didekatnya. Dia bisa melihat beberapa botol minuman didekatnya mulai pecah terkena peluru-peluru yang dilontarkan Sehun dan Kris.

Oh, bagus. Klubnya benar-benar akan hancur sebentar lagi.

"Tuan, mau kupanggilkan keamanan?" tawar seorang pelayan wanita yang bersembunyi tak jauh dari Chen.

"Ya, Irene. Panggil secepatnya, aku takut kakekku akan mencabut hak warisku jika klub ini hancur."

Pelayan wanita itu segera beranjak dari tempatnya. Menyisakan Chen dan Baekhyun yang menontoni perkelahian disana. bagus sekali, karna Chanyeol dan Kai sekarang tergabung dalam perkelahian tersebut. Mereka melawan beberapa teman Kris yang berusaha mengeroyok Sehun.

"Chen, apa sebaiknya kita bergabung disana?" bisik Baekhyun. Dia merasa seperti seorang pecundang berada dibalik meja bar ini, bersembunyi—sementara teman-temannya tengah berkelahi disana. padahal tangannya sudah gatal ingin ikut memukul.

"Kau mau menambah kehancuran ditempat usahaku ini? Hah, silahkan saja Byun! Sana pergi. Aku akan mencekikmu sehabis itu." ucap Chen, sakartis.

Baekhyun mengerucutkan bibir tipisnya. "Sinis sekali."

Chen memijat pelipisnya, pusing. Tampak seperti seorang pria dewasa yang mengalami krisis ekonomi. "Aku akan memblack-list Kris setelah ini."

Sementara ditengah lantai dansa sana, Sehun masih menghindari beberapa serangan dari Kris. Sehun akui, Kris cukup handal dalam menembak. Beberapa kali peluru nyaris mengenai bahunya, tetapi dirinya masih bisa mengelak dengan gesit. Darimana pria itu belajar menembak seperti ini? Setahu Sehun, Kris hanyalah seorang mahasiswa kedokteran yang tidak pernah terlibat dengan perkelahian apapun. Tetapi apa pedulinya, saat ini membalas serangan-serangan Kris lebih penting dari pemikiran-pemikiran randomnya.

Sehun menyeringai puas kala sasarannya tepat. Tembakan pelurunya berhasil mengenai pinggir bahu Kris, membuat pria itu sukses mengumpat kesakitan dengan tubuh yang nyaris limbung. Puas sekali rasanya. Tetapi ini belum apa-apa, dibanding dengan apa yang diterima Luhan malam itu.

Sehun menendang handgun milik Kris yang tergeletak tak jauh dari kakinya. Kris memandangnya sarat akan kebencian yang mendalam, Sehun tidak tahu sudah berapa jauh rasa benci pria itu padanya. Yang jelas, rasa benci itu hanya omong kosong untuk Sehun. karna Sehun tidak pernah membuat kesalahan apapun padanya, Kris adalah mahasiswa cerdas tetapi Ia menjadi bodoh hanya karna dendam masa lalunya pada Sehun yang jelas-jelas tak berarti. Sehun merasa kasihan padanya, kesalah-pahaman membuat seseorang berubah drastis.

"Kau tahu, Kris. Sejujurnya aku tidak pernah mau melawanmu seperti apa yang kulakukan saat Junmyeon hyung memukuliku. Aku akan diam. Tetapi jika kau menyentuh Luhan, aku tidak akan bisa diam."

Kris terkekeh sinis, "Maka dari itu aku menggunakannya agar kau bisa melawanku. Aku ingin memilikinya. Bukankah kau bilang kau tidak dekat dengan Luhan?" seringainya.

Sehun menggeram, secepat kilat mengarahkan handgunnya kewajah Kris. Bersiap-siap melemparkan pelurunya ke wajah keparat itu. tetapi tubuhnya tiba-tiba saja ditarik kebelakang oleh beberapa orang, begitupula dengan Kris. Sehun mengumpat geram. Sial, keamanan—ini pasti ulah Chen. Anak itu mana mungkin membiarkan uang-uangnya hangus hanya karna pertengkaran tak berguna ini.

Sehun menepis tangan-tangan beberapa staff keamanan yang memegangi lengannya. Dia bisa melihat Kris sempat tersenyum miring kearahnya dengan gerak bibir; aku akan merebut Luhan darimu; sebelum pada akhirnya pria itu dan kawanannya keluar dari klub.

Sehun mendengus tak percaya, "Kenapa banyak sekali yang menginginkan ayam kecil itu."


"Sehun?"

Luhan melebarkan matanya saat melihat Sehun sudah berdiri dihadapannya dengan senyum tipisnya. Pemuda itu tampak lebih mempesona malam ini, walau luka disudut bibirnya belum hilang. ini kejutan untuk Luhan, Sehun datang kerumahnya dengan sebuah senyuman terpatri diwajah rupawannya. Walau hanya senyuman tipis, tetapi cukup membuat Luhan ingin segera menutup kembali pintunya. Dia harus menetralkan degup jantungnya yang semakin menggila. Kenapa Sehun itu senang sekali membuat organ dalamnya bekerja dengan tidak benar? Ini berbahaya sekali, Luhan harus menjaga jarak dengan Sehun.

"Hyung, siapa yang datang?!"

Luhan mengabaikan teriakan Kyungsoo dari arah ruang tengah. Dia lebih memilih mengerjab-ngerjabkan matanya yang mulai perih, karna belum berkedip sejak beberapa detik yang lalu.

"Kau belum bersiap-siap?" Sehun bertanya seraya meneliti penampilannya. Luhan mengikuti arah pandang Sehun yang melihat kearah celana tidur bercorak bambi-nya, dan kaus kebesaran yang Ia gunakan. Seketika wajah Luhan memerah malu. Kenapa pertanyaan Sehun seolah-olah mereka akan pergi berkencan? Jelas-jelas mereka hanya akan pergi ketempat tinggal Sehun.

"Begini, Sehun." Luhan menarik nafasnya sesaat, seraya melirik-lirik kearah dalam rumahnya. Memastikan Kyungsoo tidak menghampiri mereka. "Kyungsoo tidak mengizinkanku keluar malam ini." Bisiknya.

Sehun menaikan satu alisnya, "Kau tidak mengikuti perintah si mata bulat itu 'kan?"

"Tentu saja, aku mematuhinya. Dia akan mengadu aneh-aneh pada Baba-ku nanti jika aku melanggar perintahnya." Luhan mengerucutkan bibirnya tanpa sadar, mengundang perhatian Sehun untuk menatap lama pada bibirnya. "Maafkan aku, mungkin lain kali aku bisa berkunjung ke Apartemenmu lagi."

"Aku akan bicara pada burung hantu itu."

"Tapi—"

"Kau tidak menerima kedatanganku?" tanya Sehun dengan sinis.

Luhan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bukan begitu, tetapi—oh sial, masuklah!"

"Sopan sekali, Luhan. kau baru saja mengumpat didepan tamumu."

Luhan mencebikan bibirnya sebal. "Kau tamu tak diundang!" tunjuknya tepat mengarah kewajah Sehun. yang mendapat delikan tajam dari pemuda berparas dingin dihadapannya.

"Baiklah, baiklah. Ayo masuk, Sehun-ah." Luhan mengembangkan senyum manisnya yang terlihat seperti dipaksakan. Salahkan wajah mengerikan Sehun yang membuat dirinya menciut. Pemuda itu memiliki aura kekuasaan yang tidak bisa dibantahkan, dan Luhan benci mengingat dirinya yang selalu mengalah pada Sehun.


"Hyung, siapa yang datang?" Kyungsoo mendengus jengkel, lagi-lagi Luhan mengabaikan pertanyaannya. Pemuda bertubuh mungil itu membalikan tubuhnya, hendak menyusul Luhan. tetapi kedatangan dua orang kearahnya membuat mata bulat Kyungsoo bertambah semakin bulat. Pemuda mungil itu menganga tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Oh Sehun?" dia hampir memekik seperti seorang perempuan.

"Ya! Kenapa ada dia disini?!" seru Kyungsoo seraya menunjuk-nunjuk kearah Sehun. dia tidak akan takut pada pemuda itu kali ini, karna saat ini Ia berada dirumahnya. Kyungsoo akan mengusirnya jika Sehun berbuat macam-macam kepadanya.

"Aku ingin membawa Luhan pergi." jawab Sehun dengan enteng.

"Aku tidak mengizinkanmu."

"Sayangnya, kekasihmu tidak datang bersamaku." Tukas Sehun saat Kyungsoo melirik-lirik kearah belakangnya. Kyungsoo mendelik kearahnya, "Aku tidak berpacaran dengan Jongin!" protesnya.

"Aku tidak bilang jika kekasihmu adalah Jongin." ujar Sehun, membuat Kyungsoo salah tingkah. Bisa Ia dengar Luhan tertawa kecil disebelahnya. "Kau bahkan memanggil nama aslinya, disaat yang lain memanggilnya Kai. Wah, ada apa ini?" Sehun semakin gencar membuat pemuda mungil dihadapannya bungkam. Menarik sekali, Kyungsoo yang biasanya pendiam saat dikelas menjadi sosok yang berbeda saat dirumahnya. Sehun baru tahu dia memiliki sisi ketus seperti ini.

"Hyung, kenapa kau membiarkan orang ini masuk sih?" Kyungsoo menoleh kearah Luhan yang berdiri disisi kanan Sehun. oh sial, Kyungsoo benci mengatakan ini—tetapi mereka terlihat serasi sekali dengan berdiri bersebelahan seperti itu.

"Dia yang memaksa." Luhan berujar malas. "Aku hanya akan berbicara padanya, Kyung. Sudah izinkan saja aku pergi."

Kyungsoo mendengus, tak percaya. "Berbicara? Aneh sekali, biasanya kalian berdua beradu mulut bukan berbicara layaknya orang normal." Gumamnya, seraya melihat dengan curiga kearah Luhan. Oh, apa sepupunya itu sudah tidak punya otak? Dia pasti sudah sangat terhipnotis dengan wajah tampan si berandal busuk itu. Kyungsoo tidak bisa terima ini. Apa yang sudah dilakukan Sehun terhadap Luhan? kenapa Luhan menjadi jinak sekali dengannya?

"Aku tidak akan mengizinkanmu pergi dengan Luhan hyung. Pulanglah, Oh Sehun. cari saja orang lain untuk kau ajak berkencan."

"Kyungsoo!" seru Luhan dengan wajah memanas. Sial, Kyungsoo dan mulut besarnya itu—Luhan rasanya ingin sekali membungkam bibir sepupunya itu dengan sebuah kaus kaki.

Sehun berjalan mendekat kearah Kyungsoo, membuat pemuda mungil itu memundurkan tubuhnya takut-takut. Bagaimanapun juga Kyungsoo sering melihat Sehun menghajar anak-anak disekolah, dia itu sangat bengis—dan Kyungsoo mulai takut jika keesokan harinya dia akan dipukuli ditengah lapangan.

"Bagaimana kalau aku memanggil Kai kesini untuk menemanimu?" Sehun menyeringai tipis kepada Kyungsoo.

Kyungsoo mendengus jengkel. "Aku tidak sudi ditemani olehnya."

"Bukankah seharusnya kau senang? Kau bisa menghabiskan waktu hanya berdua dengan kekasihmu disini. Aku akan menghubunginya kalau kau mau."

"Pergilah dengan Luhan hyung! Aku mengizinkanmu membawanya kemanapun yang kau mau." ucap Kyungsoo secepat kilat. Dia bisa melihat Sehun tersenyum penuh kemenangan seraya mengantongi kembali ponselnya. Sialan sekali, Sehun berhasil membuatnya mengalah. "Tetapi, aku minta nomor ponselmu agar aku bisa menghubungimu jika kau tidak membawa Luhan hyung pulang tepat waktu."

Luhan memicingkan matanya curiga melihat Sehun memberikan nomor ponselnya dengan mudah kepada Kyungsoo. Dia melongokan kepalanya, melihat kearah layar ponsel Sehun yang tertera sederet nomor telepon—yang akan diberikannya kepada Kyungsoo.

Ada nama 'Kai' tertera disana. Sehun tidak memberikan nomor ponselnya untuk Kyungsoo, melainkan nomor ponsel Kai. Licik sekali.

"Sehun—" Luhan berbisik memperingati. Kyungsoo akan marah jika mengetahui ini. Luhan membungkam bibirnya saat Sehun mengedipkan sebelah matanya kearahnya, gesture memperingati Luhan untuk menutup bibirnya rapat-rapat.

Luhan segera mengalihkan pandangannya dari wajah Sehun. ugh, Sehun keparat! Pemuda itu sekali lagi berhasil membuat bibirnya bungkam.


"Jadi, apa yang ingin kau dengar dariku?"

Luhan memainkan jemarinya seraya mendengung, seperti seorang anak kecil yang menginginkan sesuatu. Ini aneh sekali, sebenarnya. mengingat hari-harinya dan Sehun yang selalu bertengkar tanpa alasan, dan kini mereka berdiri berhadapan dibalkon apartemen Sehun—tanpa diselingi perdebatan ataupun sindiran-sindiran pedas. Aneh sekali rasanya. Sehun juga terlihat tidak keberatan sekali dengan kehadirannya kali ini. Pemuda itu biasanya akan berkata ketus padanya dengan mata yang bersorot tajam. Tetapi kali ini Sehun bertanya dengan nada manusiawi dan cukup bersahabat.

Luhan mendongakan kepalanya, langsung bersitatap dengan Sehun. seketika perkataan Sehun tadi siang menampar kesadarannya dengan telak.

"Untuk apa kau mempercayaiku? Semua orang bahkan tidak peduli padaku. Kau pikir, siapa dirimu?!"

Luhan merasa tidak enak hati. Dia sepertinya memang terlalu ingin mencampuri kehidupan orang lain, jelas-jelas dia bukanlah siapa-siapa Sehun yang berhak mengetahui urusan pribadinya. Luhan sadar dirinya terlalu kekanakan dan mudah penasaran.

"Sehun, kau tidak perlu memenuhi keinginan kekanakanku ini. Aku terlalu mencampuri urusanmu, dan aku sadar itu tidak sopan sekali. Maafkan aku, kau tidak perlu menceritakan apapun." sesal Luhan.

Sehun mengerutkan dahinya, bingung. Seketika dia mengingat perkataannya tadi siang yang mampu membuat Luhan menundukan wajahnya, murung. Mungkin itu sebabnya saat ini Luhan tidak menanyakan apapun padanya. Sehun berdecak malas dalam hati. Dia harusnya ingat jika pemuda didepannya ini adalah sosok yang sensitif dan labil. Luhan mudah terpancing emosi, mudah penasaran—juga mudah merubah-rubah keputusannya.

"Kau marah padaku karna perkataanku tadi siang?" tanya Sehun.

Luhan menggeleng cepat, hingga helaian rambut halusnya ikut bergoyang. "Aku tidak marah. Ucapanmu sepenuhnya benar. Aku bukan siapa-siapamu, jadi aku tidak berhak mengetahui urusan pribadimu."

Sehun merutuki dirinya yang mudah sekali terbawa emosi. "Dengar, Luhan." dia memandangi sosok manis didepannya dengan penuh perhatian. "Lupakan saja perkataanku tadi siang, anggap saja aku tidak pernah mengatakannya." Dia tersenyum untuk mengakhiri perkataannya.

Luhan tertegun sejenak, lalu ikut tersenyum lebar—seperti biasanya. Sehun bernafas lega melihatnya. untung saja Luhan adalah tipe seseorang yang mudah mengembalikan suasana hatinya lagi.

"Aku sudah dengar semuanya dari Yixing, tentang kau dan Junmyeon."

"Yixing?" Sehun agak tidak asing dengan nama itu.

"Ya. Zhang Yixing, teman dekat Junmyeon."

"Ah, jadi dia orangnya." Sehun menggumam pelan. Dia sempat mendengar Ayahnya berbicara dengan seseorang bernama Zhang Yixing lewat telepon, pria itu terlihat sangat dekat dengan Yixing. Sehun akan mencari tahu lebih lanjut apa hubungan Ayahnya dengan pemuda berdimple itu. dia agak mencurigakan akhir-akhir ini. Dan darimana Yixing mengetahui tentang kehidupannya? Semua orang bahkan tidak ada yang tahu, pengecualian untuk teman-temannya juga Kris. Tidak mungkin Junmyeon yang menceritakan semuanya, lagipula—

"Yixing bilang masalah diantara kau dan Junmyeon hanya salah paham."

—Junmyeon mana mungkin mengira masalah bertahun-tahun lalu ada sebuah kesalah-pahaman. Jika pemuda itu yang bercerita, maka Sehun 'lah yang menjadi peran antagonisnya didalam cerita itu. lalu, darimana Yixing mengetahui semuanya? Ini membingungkan sekali. Yixing tidak ada kaitannya sama sekali dengan keluarganya, Sehun benar-benar harus menyelidikinya nanti.

"Sehun, aku percaya kau tidak mencelakakan Ibumu."

Sehun memandang Luhan yang tersenyum kecil kearahnya. Kenapa pria mungil itu begitu mempercayainya? Selama ini Sehun selalu memperlakukannya dengan sangat buruk, dia selalu mengira kehadiran Luhan adalah sebuah kesialan dan pengganggu. Sehun bahkan pernah menendangnya, serta melontarkan kata-kata kasar padanya. Lalu, apa balasan Luhan? dia tidak henti-hentinya selalu tersenyum kearahnya, mengatakan kalimat-kalimat yang membuat jantung Sehun berdegup kencang, dan membawa perubahan pada dirinya sedikit demi-sedikit. Luhan seperti malaikat. Dia baik, cantik, indah—dan begitu memukau. Sehun merasa dirinya menjadi manusia yang paling bodoh karna baru menyadarinya akhir-akhir ini. Kemana saja dirinya? Ini pasti karna dia terlalu menutup hatinya dan membuang jauh-jauh perasaannya untuk Luhan.

Luhan percaya kalau dirinya adalah orang yang baik hati disaat orang-orang mengatakan dirinya adalah pemuda yang buruk. Luhan percaya kalau dirinya tidak mencelakakan Ibunya disaat keluarganya sendiri menuduhnya sebagai pembawa sial.

Luhan itu—entahlah, Sehun tidak bisa menjelaskan apapun saat ini. Dia menyukai pemuda mungil itu. sangat menyukainya. Setiap detakan jantungnya meneriakan dengan lantang kalau dirinya sudah terjatuh kedalam susunan lima huruf sialan yang bernama cinta. Sehun merasa dirinya tolol karna termakan omongan sendiri. Lihat sekarang, dia merasakan bagaimana rasanya tengah mencintai seseorang—dan itu membuat hatinya ringan sekali. Sialan, Sehun tidak tahu apakah perasaan menggelikan ini akan berakhir begitu saja atau tetap berlanjut.

"Kenapa kau sangat mempercayaiku, Luhan?" Sehun bertanya lirih. Dia harus mendapat jawaban yang pasti dari pemuda manis didepannya ini. Luhan sepertinya sangat senang membuat pikirannya tumpang-tindih dan meleburkan semua logikanya.

Luhan yang masih tersenyum itu, meraih tangan Sehun—dan menggenggamnya dengan erat. Seolah-olah menyalurkan sebuah kekuatan untuk Sehun.

"Karna aku tidak melihatmu dari sisi burukmu saja."

"Aku memang buruk."

"Itu kata dirimu sendiri, kau selalu mendengar perkataan orang-orang diluar sana. Alhasil perkataan mereka mempengaruhimu dan membuat kau selalu berbuat keburukan. Sesekali ikutilah kata hatimu, Sehun." Luhan menghela nafasnya, entah kenapa dia rasanya ingin sekali memeluk tubuh tinggi Sehun. "Kau selalu diam saat Junmyeon menyalahkanmu, seolah-olah kau memang membuat kesalahan. Disanalah letak masalahnya."

"Aku tidak bisa melawannya." Suara Sehun terdengar mengambang dan kosong. Junmyeon adalah sosok Idolanya. Dia pintar dan selalu menjadi kebanggaan orangtuanya. Sehun selalu menghargainya sebagai seorang Kakak, walaupun saat ini Junmyeon tidak menganggapnya sebagai adik. Sebuah kenyataan yang menamparnya dengan telak.

"Kau tahu pepatah yang mengatakan, tidak semua yang berkilau itu emas?" ujar Luhan. Sehun hanya mengangkat sebelah alisnya sebagai jawaban, dia tidak mengerti.

"Ya, Itu ibarat dirimu. Kau terlihat sangat sempurna diluar, tetapi kenyataannya kau tidak sempurna. Kau rapuh, Sehun."

Sehun merasa tertohok mendengarnya. Luhan seperti seseorang yang sudah lama sekali mengenalnya dengan baik. Sehun tidak menyangka, Luhan akan berkata demikian.

Sehun terkejut saat Luhan dengan tiba-tiba memeluk tubuhnya. pemuda manis itu melingkarkan tangannya dipinggang Sehun, dan menaruh kepalanya dibahu lebar Sehun. Pemuda tinggi itu bisa merasakan betapa hangatnya tubuh Luhan dimalam yang dingin ini.

"Ibuku selalu memelukku saat aku sedang terkena masalah. Dia bilang, sebuah pelukan bisa membuat seseorang melupakan sejenak masalah yang menimpanya." ucap Luhan dengan polos, pipinya merona tipis. Dia bisa menghirup aroma menenangkan yang menguar dari tubuh Sehun mengisi indera penciumannya.

Sehun tertawa kecil mendengarnya. Perlahan, dia membalas pelukan Luhan. rongga dadanya serasa menyempit, jantungnya semakin menggila. Merasakan bagaimana tubuhnya sangat pas mendekap tubuh kecil Luhan, seolah-olah Luhan memang sudah seharusnya berada dipelukannya. Harumnya rambut Luhan membuatnya mengantuk. Ini nyaman sekali. Sehun sangat menyukai sensasinya, ini menakjubkan. Dia belum pernah merasa sebahagia dan seringan ini.

"Urr, Sehun. kau tidak memarahiku karna aku menyentuhmu?" Luhan bertanya dengan lugu.

Sehun mencium bahu sempit Luhan, dan membiarkan hidungnya berlama-lama disana. "Aku menyukaimu." bisiknya.

Desauan angin malam memenuhi pendengaran Luhan, tetapi dia masih bisa mendengar jelas bisikan Sehun. Luhan bisa merasakan wajahnya memanas, dia mungkin salah dengar. Ya, dirinya pasti sudah salah dengar. Mana mungkin Sehun menyukai ayam kecil sepertinya.

"Aku menyukaimu, Luhan. jika kau butuh pengulangan."

Luhan segera melepas pelukannya dan memandang Sehun dengan tatapan tidak percaya. "Bohong!" dia menunjuk wajah Sehun dengan tidak sopan.

Sehun menurunkan jari telunjuk Luhan dengan malas. "Ya, aku memang berbohong." Ujarnya singkat.

Sehun bisa melihat perubahan raut wajah Luhan. dia bisa mendengar Luhan tengah menggerutu dengan bahasa Mandarin yang tidak dimengertinya. Bukankah dia begitu menggemaskan? Usianya saja yang sudah mencapai delapan-belas, tetapi tingkahnya setara dengan anak kecil.

"Aku memang tidak menyukaimu," Sehun menarik pinggang ramping Luhan dengan satu tangannya membuat pemuda manis itu nyaris memekik kaget. Sehun mengangkat dagu Luhan dengan tangan yang satunya, menatap manik coklat bening kesukaannya itu dengan kelembutan. "Tetapi aku sangat menyukaimu."

Sehun memiringkan kepalanya lalu mencium bibir Luhan yang setengah terbuka—pemuda itu tengah terkejut. Ini sudah ketiga kalinya dia mencium Luhan, tetapi inilah yang paling menakjubkan. Bibir mereka beradu dengan lembut, menyatu dalam sebuah pagutan yang menyalurkan perasaan masing-masing. Mungkin karna ini pertama kalinya Sehun mencium Luhan dengan kesadaran penuh akan perasaannya yang selama ini selalu Ia buang jauh-jauh, rasanya sangat berbeda. Berciuman dengan seseorang yang kau cintai, memang lebih nikmat. Rasanya seperti ada berbagai kembang api yang meletup-letup didadanya.

Luhan sendiri hanya bisa menerima perlakuan Sehun, tanpa bisa membalasnya. Ini memabukan sekali, membuatnya terbuai. Bagaimana lidah Sehun menginvasi seluruh mulutnya dengan lembut, bagaimana gigi tajam Sehun menggigit gemas bibir bawahnya—Luhan lemas, lututnya seakan sudah tidak mampu menahan tubuhnya. pertama kali Sehun menciumnya, Luhan memaki-maki pemuda itu. kedua kali Sehun menciumnya, Luhan dalam keadaan mengantuk. Dan ini yang ketiga kalinya, terasa begitu luar biasa. Ini manis dan lembut, membuat Luhan tidak bisa menolaknya. Dia memberanikan diri untuk memeluk leher Sehun, dan balasan pemuda itu semakin memagut bibirnya dengan bergairah. Luhan merasa akan meleleh sebentar lagi.

Sehun tidak bisa berfikir jernih. Rasa manis bibir Luhan terasa sangat adiktif, dia tidak mau melepasnya sedikitpun. Tubuh hangat Luhan yang menempel erat dengan tubuhnya, membuat nafasnya memberat. Lenguhan tertahan Luhan pun semakin membuatnya terlena. Tubuhnya memanas, bergairah. Otaknya mulai bekerja membayangkan hal-hal aneh—oh sial, ini hanya sebuah ciuman! Tetapi pengaruhnya begitu besar pada tubuhnya.

Merasakan Luhan mulai mencari-cari oksigen, Sehun menjauhkan tubuhnya. mereka berdua terengah-engah dengan wajah memerah. Luhan memanas karna perlakuan Sehun, dan Sehun sendiri memanas karna gairah yang sudah Ia ciptakan sendiri.

Sehun mengusap bibir bawah Luhan yang basah dengan ibu jarinya, "Peluk aku, jika kau mempunyai perasaan yang sama denganku."

Luhan segera masuk kedalam dekapannya dengan tawa riang khasnya. Dasar bocah ini! Dia pintar sekali membuatnya meledak-ledak senang. Sehun merasa beban yang menumpuk-numpuk dipunggungnya terangkat, otaknya yang dipenuhi masalah-masalah yang tak berujung menghilang begitu saja. Hatinya terasa sangat ringan, dan begitu lega.

Dia jatuh cinta.

Ya, mereka jatuh cinta.


"Kau lucu sekali saat masih kecil."

Luhan tertawa-tawa melihat foto Sehun didalam sebuah album foto keluarga. Dia tengah terduduk ditengah-tengah tempat tidur Sehun dengan album besar ditangannya. Ini menyenangkan sekali bisa melihat diri Sehun beberapa tahun yang lalu.

"Lalu bagaimana dengan yang sekarang?" tiba-tiba saja Sehun sudah bertanya padanya dan ikut duduk disampingnya. Luhan tersentak kaget, dia menoleh dan langsung mendapat kecupan pada pipinya. Wajahnya memerah kembali, sudah berapa kali Sehun berhasil membuat pipinya memerah matang dalam beberapa menit ini? Dia senang sekali membuat kejutan-kejutan tak terduga yang berhasil membuat tubuh Luhan tersengat hebat. "Kau menyebalkan," tukasnya.

"Dan orang yang kau sebut menyebalkan itu orang yang kau suka, Luhan." Sehun tersenyum separo, tampak mengejek sekaligus merasa lucu.

Luhan memberengutkan wajahnya, sebal. dan mengalihkan pandangannya dari Sehun. dia tentu saja menyukai pemuda itu, tetapi Luhan terlalu malu untuk mengatakannya dengan gamblang. "Benar, aku memang menyukai orang yang menyebalkan sepertimu." ucapnya dengan pelan, nyaris seperti sebuah bisikan.

"Yeah, aku tahu." Sehun terkekeh kecil, tampak puas dengan jawaban Luhan. "Kau tahu, menyukai sosok sepertimu itu banyak sekali rintangannya."

Luhan menggumam tidak mengerti. "Maksudmu?"

"Ya, aku harus berfikir ulang beberapa kali untuk menyukaimu—bahkan mencintaimu, karna seseorang yang sudah kusayangi tak akan pernah bisa kulepaskan lagi. Tidak ada yang boleh menyentuhnya sedikitpun. Kau akan merasa terganggu dengan sikap possesifku nanti." Sehun mengusap surai kecoklatan Luhan dengan sayang. seperti perkiraan Sehun selama ini, rambut Luhan benar-benar halus sekali.

"Mana mungkin aku merasa terganggu." Luhan tersenyum simpul. Sikap possesif Sehun menandakan jika dia benar-benar menyayanginya, bukan? Jika melihat perbedaan sikap Sehun padanya dulu dan sekarang, rasanya sangat aneh. Sehun sering kali melontarkan kata-kata kasar padanya, dan sekarang dia begitu menjaga nada ucapannya sekali. Luhan tak menyangka, dibalik sikap arogannya, Sehun mempunyai sisi yang sangat hangat sehingga mampu melelehkan hati Luhan dalam sekejap.

"Dan aku harus bersaing dengan banyak orang untuk memenangkan hatimu. Kau harus tahu banyak sekali orang diluar sana yang menginginkanmu." Sehun seketika teringat ucapan Kris serta tatapan mata Junmyeon padanya. Dua orang itu menginginkan Luhan. begitupula dengan siswa-siswa yang seringkali memandangi Luhan saat disekolah. Jangan kira Sehun tidak tahu apa arti pandangan mereka semua. Siapa yang tidak menginginkan Luhan? dia sosok yang manis, baik hati, serta menyenangkan. Banyak orang yang menginginkannya diam-diam. Dan Sehun geram bukan main melihat kenyataan itu.

"Aku yakin kau pemenangnya, Sehun." jawab Luhan dengan pasti. Dari jarak sedekat ini, tidak mungkin bagi Luhan untuk tidak terjerat pada ketampanan Sehun dan semua yang ada pada dirinya. Luhan yakin didalam hatinya hanya ada Sehun—hanya dialah yang orang pertama yang mampu membuat Luhan begitu nyaman, dan merasa terlindungi. Sehun adalah…cinta pertamanya.

"Aku memang selalu jadi pemenang."

Luhan memicingkan matanya kearah Sehun, "Karna kau tidak pernah mau mengalah sedikitpun."

"Ya, itulah aku. Oh Sehun." ucap Sehun, tak jelas.

Luhan memutar bola-matanya, malas. Dan Sehun tertawa melihatnya. interaksi mereka terasa menyenangkan sekali sekarang.

Luhan merona hebat saat Sehun melingkarkan tangannya dipinggangnya, dengan senyuman aneh diwajahnya. Luhan melongo, kenapa Sehun terus-terusan menempelinya seperti ini? Padahal kemarin-kemarin pemuda itu sangat tidak menyukai saat Luhan menyentuhnya. Tetapi harus Luhan akui, dia menyukai sikap Sehun yang sekarang.

"Luhan,"

Luhan merinding mendengar suara Sehun, nafas hangat pemuda itu menerpa sebagian lehernya, membuat Luhan agak bergidik geli. "Y-ya?" dia menjawab panggilan Sehun dengan suara yang bergetar.

"Menginaplah disini." pinta Sehun.

"Kyungsoo akan mencariku."

"Anak itu tidak akan mencarimu malam ini, dia akan sibuk bertengkar dengan Kai ditelepon." Sehun mendengus, gusar. "Ayolah," rengeknya.

Luhan menghela nafasnya, berlebihan. "Memangnya kau tidak bisa tidur sendiri?"

"Aku ingin tidur bersamamu." Sehun menyeringai aneh.

"Apa?!" Luhan mendelik berang, dia memukul lengan Sehun cukup kuat. Pemuda berparas dingin malah terkekeh menyebalkan, dasar gila! Luhan baru saja memukulnya, tetapi dia malah kesenangan seperti itu.

"Kenapa kau marah seperti itu? aku 'kan hanya memintamu untuk tidur bersamaku seperti kemarin malam." tukas Sehun, "Apa yang ada diotakmu, Luhan?"

"Sudah sana, menjauhlah dariku! Kau menyebalkan." Luhan melepas tangan Sehun yang menempel erat dipinggangnya, tetapi usahanya sia-sia saja—karna lingkaran tangan Sehun begitu kuat memeluknya. "Ugh, lepas!"

"Baiklah, aku akan melepaskanmu. Tetapi jangan salahkan aku jika aku tidak mengantarmu pulang, dan bisa saja dipertengahan jalan kau akan bertemu Kris. Dia sedang mengincarmu, asal kau mau tahu." Sehun melepaskan pelukannya, dan memandang Luhan dengan senyum miringnya.

Luhan menggigit bibir bawahnya, "Ta-tapi, ini sudah malam." Ujarnya. Luhan tidak mau lagi dipertemukan dengan Kris. Pria itu lebih mengerikan daripada Sehun. uh, kenapa Sehun tega sekali padanya?

"Memang, siapa bilang ini siang? Dan Kris pasti akan senang hati melihatmu berjalan sendirian malam-malam."

"Kau tidak setega itu." Luhan memberengutkan wajahnya. "Kau pasti akan menyelamatkanku."

Sehun terbahak, dan mencubit pipi Luhan dengan gemas. "Aku tidak menyelamatkan orang yang membantah kemauanku."

Luhan mengerang gusar, "Kapan aku membantahmu?"

"Baru saja. Kau tidak mau tidur denganku." jawab Sehun dengan santai.

"Aku mau tidur denganmu!"

"Sudah kuduga," Sehun mengecup sekilas bibir ranum Luhan, membuat si manis itu terkejut malu. "Kau tidak akan bisa menolakku, sayang."

Luhan tersedak ludahnya sendiri mendengar panggilan 'sayang' dari Sehun. dia merasakan perutnya serasa tergelitik disertai getaran-getaran aneh pada tubuhnya. ditambah Sehun mengatakannya sesudah mengecup bibirnya. Pikiran Luhan menjadi kacau karnanya.

"Kenapa?" Sehun terkekeh geli melihat raut Luhan. "Kau tidak suka kupanggil sayang?" tanyanya, setengah menggoda.

"Ya. Aneh sekali, Sehun."

"Bagaimana kalau honey? Itu terdengar bagus."

Luhan mengerutkan dahinya, nampak berfikir. "Ya! Kau kira aku ini madu? Itu terdengar menggelikan sekali." ringis Luhan. "Tunggu dulu, jika aku ini madu—berarti kau…seekor lebah?"

Sehun ikut mengerutkan dahinya, sok berfikir keras. "Jadi, kau mau aku hisap?" tanyanya, sok polos.

Wajah Luhan memerah matang. "Oh Sehun!"

Sehun tidak kuasa menahan tawanya. Ini sungguh gila, bersama dengan Luhan membuat waktunya terasa sangat menyenangkan. Bagaimana Luhan bisa melunturkan segala kekakuannya? Pemuda manis itu pintar sekali membuatnya merasa senang. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Sehun kembali bisa tersenyum lebar dan tertawa puas. Dia lebih manusiawi sekarang, dan itu karna Luhan.

Sehun tidak tahu, ternyata perasaannya sudah sedalam ini kepada Luhan. setiap menit perasaannya terus bertambah, membuat pikirannya terpenuhi oleh Luhan.

"Kau menggemaskan sekali, Luhan." Sehun menggigit pipi putih Luhan dengan berani. Entahlah, rasanya ada sesuatu yang mendorong tubuhnya untuk terus berdekatan dengan Luhan, dan melakukan hal-hal lain pada si manis itu.

"Aku bukan bayi!" bantah Luhan seraya mengusap pipinya dengan rengutan tidak terima. Sehun hendak menyentuh bahu kecilnya, tetapi langsung mendapat tepisan dari pemuda manis itu.

"Kau merajuk?" tanya Sehun, setengah geli.

"Tidak!"

"Ada bayi rusa sedang merajuk, apa aku harus menciummu agar kau tidak merajuk lagi?"

"Berhentilah menggodaku, Sehun." geram Luhan dengan jengkel.

Rasanya menyenangkan sekali membuat Luhan kesal. Dia berkali-kali lipat lebih menggemaskan dengan wajah ditekuk seperti itu. Sehun mendekatkan wajahnya kearah Luhan, membuat si mungil itu memandangnya dengan waspada. Apa yang akan Sehun lakukan kali ini padanya?

"Aku senang kau ada disini, Lu."

Luhan menggigit bibir bawahnya mendengar bisikan rendah Sehun tepat ditelinganya, panggilan 'Lu' itu terdengar manis sekali. Nafas hangat Sehun membuatnya agak merinding. Belum cukup sampai disitu, Luhan merasakan lidah Sehun menyapu daun telinganya disertai gigitan kecil yang begitu sensual. Luhan memejamkan matanya rapat-rapat, perlakuan Sehun membuatnya sulit bernafas.

Wajah Sehun turun menuju bagian lehernya. Pemuda itu menggesek-gesekan hidungnya disana, dan mengendusnya bagai seekor binatang. Lalu, Luhan merasakan lidah Sehun ikut andil dititik sensitifnya itu. Luhan seperti tersengat arus listrik saat Sehun menjilati dan menggigiti perpotongan lehernya.

"Uhhh." Luhan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak melenguh. Dia meremas tangan Sehun yang berada diatas pahanya. "S—sehun, apa yang kau lakukan?"

"Entahlah, Lu." gumam Sehun disela-sela kegiatannya. Benar, dia juga tidak tahu apa yang sedang dia lakukan saat ini. Tadinya dia hanya ingin menggoda Luhan, tetapi dia malah terjebak dalam pusaran gairah yang sudah Ia ciptakan sendiri. Tubuhnya dengan alami melakukan semua ini. Harum tubuh Luhan membuatnya kecanduan, membuat Sehun ingin melakukan sesuatu dengan pemuda manis ini. Sehun sempat mengira ini adalah efek absinthe, tetapi dia ingat, dia tidak meminum apapun diklub Chen tadi.

Atau mungkin ini karna feromon Luhan yang menyedot logikanya—seperti apa yang dikatakan Kai, Luhan memiliki feromon yang bagus.

Sehun menggigit leher Luhan agak kasar, membuat pemiliknya meloloskan sebuah desahan menakjubkan. Suara Luhan yang lembut terdengar sangat erotis, mengakibatkan sebuah monster dalam diri Sehun bangkit perlahan-lahan. Oh, Sehun belum pernah merasakan sensasi ini sebelumnya—ini benar-benar membuatnya menginginkan Luhan.

Sehun kembali meraup bibir Luhan penuh-penuh disaat pemiliknya hendak menyebut namanya. Dia melumat bibir ranum itu sarat akan pemujaan. Bibir Luhan terasa sangat adiktif, seperti wine. Membuatnya menginginkan selalu dan membuatnya mabuk. Teksturnya lembut dan begitu kenyal, Sehun tidak habis fikir—mengapa rasanya sangat nikmat sekali padahal ini hanya sebuah ciuman? Apapun yang ada pada Luhan, memang selalu mengacaukan logikanya. Sehun sadar benar hal itu.

Luhan kali ini membalas ciumannya, ikut berperan dalam magut-memagut. Sehun menggeram rendah saat tangan Luhan meremas gemas rambutnya, melampiaskan kenikmatan ini. Pemuda bersurai kelam itu menahan punggung Luhan, merasakan sedikit lagi tubuh Luhan akan terbaring lemas. Tetapi detik kemudian, Sehun membiarkan tubuh Luhan berbaring dengan dia yang berada diatasnya—tanpa melepaskan ciuman panas mereka.

Luhan tidak bisa mengimbangi ciuman Sehun saat pemuda itu memasukan lidahnya kedalam mulutnya. Dia begitu lihai mengeksploitasi mulutnya, dan hal itu membuat Luhan terhanyut.

"Se—sehun," Luhan mendorong dada Sehun, berusaha meraup oksigen walau hanya sejenak. Ciuman ini sungguh berbeda dengan ciuman mereka dibalkon beberapa saat yang lalu. Ini terlampau sensual, dan Luhan merasakan suhu tubuhnya mulai memanas.

"Kau menikmatinya, Lu?" deru nafas Sehun yang memberat menerpa wajahnya yang kian memerah. Jari telunjuk Sehun membelai wajahnya dengan lembut, membuat Luhan memejamkan matanya. "Jawab, sayang." bisik Sehun, kali ini disertai gesekan lembut diselangkangan mereka.

Luhan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, "Sehun.." bisiknya, memperingati. Oh, ini intim sekali. Dan Luhan merasa ini tidak akan berhenti sampai disini saja.

Sehun menyentuh bibirnya dengan lembut, "Aku ingin menggigit bibir ini." Dan dia merunduk sedikit, menggigit bibir bawah Luhan dengan sensual.

Luhan menggeliat tak nyaman, saat Sehun kembali menciumi area lehernya. Dia berdesis, bagian disana memang sensitifnya sekali. "Berhenti." Luhan berbisik gelisah diantara desahnya.

Sehun mengangkat wajahnya, gairahnya bergulung berkali-kali lipat melihat wajah memohon Luhan disertai nafasnya yang terengah-engah. "Kau yakin ingin berhenti?"

Luhan mengerang saat tangan nakal Sehun meremas bokongnya dengan sengaja. Dia memegang erat bahu Sehun dan menyebutnya nama pria itu berkali-kali. "Sehuun."

"Jawab aku, Lu." Sehun menyeringai tipis, bibirnya berulang kali menghujani wajah Luhan dengan kecupan-kecupan ringan. Wajah Luhan semakin memerah dan berpeluh, membuat mata Sehun menggelap melihatnya.

"Ya, aku ingin berhenti." jawab Luhan, pelan. Dia mendongakan kepalanya saat Sehun menjilati leher depannya, seolah-olah memberikan akses agar Sehun lebih leluasa menghabisi lehernya.

"Aku tidak yakin."

Dan Sehun kembali membawa Luhan kedalam cumbuan panas yang akan mengantarkan mereka ke sesi selanjutnya.


"Jangan menatapku seperti itu!"

Sehun merasakan kepalan tangan Luhan mendarat mulus dikepalanya, membuatnya agak meringis sakit. Si manis itu pasti sangatlah malu karna Sehun yang memandang tubuh atasnya yang sudah tidak tertutupi apa-apa lagi, tanpa berkedip. Sehun sendiri tengah terperangah dengan kesempurnaan tubuh Luhan yang terpampang didepannya. Dia memiliki kulit yang seputih porselen, tanpa cacat sedikitpun—begitu mulus dan sepertinya sangat lembut. Sehun membasahi bibirnya yang terasa kering saat netra tajamnya menangkap dua pucuk kemerahan dada Luhan yang seperti menantangnya. Luhan indah sekali.

Dan Sehun bersumpah akan mencekoki Hoseok dan kawanannya dengan obat penghilang ingatan, mengingat anak-anak nakal itu pernah melihat tubuh Luhan.

"Indah sekali, Luhan." Sehun tersenyum mengerikan, dengan jemarinya yang bergerak kesana-kemari diatas dada Luhan. Sehun membelai dada hingga ke perut kencang Luhan dengan gerakan selembut mungkin, dia ingin merasakan halusnya kulit Luhan diujung jemarinya.

Luhan hanya mampu mencengkeram erat sprei putih dibawahnya. Ini gila sekali. Mereka seharusnya tidak melakukan hal ini, tetapi setiap perlakuan Sehun membuatnya lupa diri. menghilangkan segala akal dan logikanya, hingga yang ada dipandangan Luhan hanyalah sosok tampan Sehun yang tengah memberikannya sebuah kenikmatan.

"Ahhh, Sehun.." Luhan meloloskan desahannya kembali, saat merasakan puting dadanya dipermainkan oleh mulut Sehun. "Lepaash." mohonnya. Dia tidak kuasa menerima semua ini. Ini terlalu membuatnya terlena.

Sehun tak mengindahkan permintaan Luhan, diam-diam tangannya sudah menjalar kearea selangkangan Luhan yang masih terbalut celana kainnya. Membelai lembut junior Luhan yang sepertinya belum terbangun. Sehun melepaskan celana pemuda manis itu dengan mudah, dan melemparkannya asal. Seperti apa yang sudah ia lakukan tadi pada T-shirt Luhan yang sudah dirobeknya.

Sehun mengumpat kasar melihat seluruh tubuh Luhan yang sudah naked dibawahnya. Dia baru tahu jika Luhan mempunyai tubuh semenggoda ini. Kulitnya sungguh putih dan bersih, keinginan Sehun untuk mengotori kulit itu sudah diubun-ubun. "Oh shit, I want you so bad, Lu."

Luhan hanya bisa mendesah pasrah saat jemari-jemari Sehun melingkari kejantanan miliknya. Bibir Sehun kembali menggapai bibirnya, dan mereka terlarut dalam sebuah ciuman panas yang semakin menyulut gairah.

"Aku sudah tidak tahan." Bibir Sehun semakin lama semakin turun kebawah. Dan mata Luhan terbelalak melihat dimana sekarang wajah Sehun berada. Dia hanya bisa mampu bersandar pada headbed dengan mata terfokus pada Sehun. Luhan melenguh panjang tatkala merasakan kehangatan dan sesuatu yang lembab memenuhi pusat sensitifnya. Luhan berusaha menggapai bahu kokoh Sehun, untuk dijadikannya pegangan. Tetapi tangannya tak mampu meraih, dia hanya bisa kembali meremas sprei malang dibawahnya setiap kali mulut Sehun menghisap penisnya.

"Se—hun, ssh.." Luhan berdesis lirih. Dia menggigit bibir bawahnya dengan kuat, hisapan dan jilatan Sehun dibawah sana semakin menerbangkan raganya. Terlalu menggoda dan nikmat.

"Ngh—ahh, Hun.." Luhan menaikan frekuensi desahannya seraya menggerakan pinggulnya tak tentu arah. Matanya terpejam, begitu menikmati apa yang tengah Sehun lakukan padanya. Dia merasakan sesuatu dalam perutnya mengencang dan ingin keluar. Hingga akhirnya Luhan benar-benar tidak tahan dan menumpahkan seluruh spermanya. Tubuhnya mendadak lemas saat semua cairan itu dihisap habis oleh Sehun.

Sehun sendiri dengan senang hati menelan semua cairan milik Luhan. terasa begitu manis dan gurih, dia menikmatinya. Dia kembali menindih tubuh Luhan dan memagut bibir pemuda manis itu. berbagi cairan yang tersisa didalam mulutnya dengan sebuah pagutan panas.

"Kau nikmat, Lu." Sehun berbisik tepat didepan wajah Luhan yang berpeluh. Luhan hanya mampu memandangnya dengan pandangan sayu.

Sehun mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Luhan. dia mulai membuka kemeja putih berantakannya yang masih melekat ditubuhnya, hingga menampilkan tubuh atletisnya pada Luhan yang memandangnya tak berkedip. Sehun memiliki tubuh yang bagus diusianya yang masih muda, terlihat sebuah abs yang belum terbentuk sempurna diperutnya. Dengan kulit seputih susunya yang berpeluh, Sehun terlihat seksi. Luhan merona melihatnya.

Detik selanjutnya, Luhan mengalihkan pandangannya dari Sehun yang tengah membuka celana jeans-nya. Oh, Luhan belum siap melihat kejantanan Sehun yang pastinya akan berbeda sekali dengan miliknya.

"Siap untuk sesi selanjutnya?" tanya Sehun seraya mengecup hidungnya dengan mesra. Luhan hanya mampu menganggukan kepalanya pasrah, dia merasakan milik Sehun yang mengeras menusuk-nusuk pahanya. Dan hal itu membuat Luhan hanya bisa mengiyakan semua pertanyaan Sehun—walau dia tidak tahu persis apa yang akan Sehun lakukan setelah ini.

"Ahnn—hh." Luhan menyembunyikan wajahnya diceruk leher Sehun, saat kedua kelamin mereka bergesekan. Rasanya sungguh menyengat. Dan dengan posisi seperti ini, Luhan bisa menghirup leluasa aroma maskulin yang menguar dari tubuh Sehun.

Sehun menggeram rendah, dan mengecupi bahu mulus Luhan berkali-kali.

"Hisap, Lu." Sehun menyodorkan jari telunjuknya pada Luhan. pemuda manis itu menurut, dan mengulum jari panjang Sehun dengan semangat. Akal sehatnya seperti tertutupi, semua perintah Sehun seakan menjadi sesuatu yang mutlak harus dituruti.

Sehun sedikit mengerang merasakan hisapan Luhan pada jarinya, dia kembali menggeseken miliknya dengan milik Luhan sebagai pelampiasan. Bagaimana jika kejantanannya yang berada didalam mulut Luhan? pemikiran itu membuatnya semakin kehilangan fokus.

Sehun menarik jarinya dari mulut Luhan, dia mengarahkan jari kokohnya kedalam lubang anal Luhan. Luhan mendesis ngilu, merasakan ada sesuatu yang masuk kedalam tubuhnya. rasanya aneh sekali, dan agak sakit. "Sehun—ah.."

Sementara itu, dada Sehun berdebar merasakan betapa sempit dan panasnya lubang Luhan. jika dia tidak ingat Luhan belum pernah disetubuhi—Sehun mungkin akan langsung menghentakan kejantanannya kedalam sana. Disaat seperti inipun dia tidak ingin menyakiti Luhan, walau gairahnya sudah mencapai ubun-ubun.

"Uh.." Luhan merintih sakit saat Sehun menambah satu jarinya. Dia menggeleng gelisah, hendak melepaskan diri dari dekapan Sehun.

Sehun memberikannya sebuah ciuman lembut yang membuat Luhan kembali melenguh. Gerakan jari Sehun dibawah sana, tidak lagi membuatnya sakit. Anehnya, malah semakin membuatnya bergairah.

"Aku akan masuk, Lu." Sehun berbisik ditelinganya. Luhan bisa merasakan nafas Sehun yang semakin menderu berat. Sehun mencium bahunya sekilas, lalu kembali mengangkat wajahnya.

Luhan menggigit bibir bawahnya ketika tangan kokoh Sehun memegangi pinggulnya. Sehun mengocok sekilas kejantanannya, dan mulai mengarahkan benda keras itu kedalam lubang Luhan. dia menjilat bibirnya saat melihat lubang Luhan yang seakan-akan menantangnya untuk segera masuk. Desahan berat mulai meluncur dari bibir tipisnya kala batang kejantanannya sedikit demi sedikit merangsek masuk kedalam lubang Luhan. ujung kejantanannya terasa dihisap oleh kontraksi lubang Luhan yang hangat, ini gila! Tak bisakah dia langsung masuk sekali hentak?

Luhan menggenggam lengan Sehun yang berada dipinggangnya. "Sehuun." Lirihnya. Bagian bawah tubuhnya terasa perih.

"Tahan sebentar, Lu." suara Sehun terdengar bergetar diselingi deru nafasnya. Dia merunduk, kembali mendekap Luhan. dan saat itu pula, dengan sekali hentakan dia langsung memaksakan seluruh penisnya masuk seluruhnya.

Luhan menjerit keras, bagian bawahnya terasa terbelah dua. Lubangnya terasa begitu penuh dan sesak. Dia bisa merasakan kejantanan Sehun yang mengganjal dibokongnya menggoda rektumnya. Sungguh, ini menyakitkan sekali. Luhan belum pernah merasa sesakit ini. "Sakit.." pemuda manis itu meringis ngilu.

Sehun yang sedang terdiam sejenak itu, mengecupi dahi Luhan dengan sayang. "Sabar, sayang. rasa sakitnya akan hilang sebentar lagi." Dia mengais beberapa helaian rambut yang menutupi dahi Luhan, wajah Luhan yang berpeluh semakin membuat libidonya menaik.

Luhan mengangguk pelan, dia memandang Sehun dengan matanya yang hampir berair. Sehun mendesah berat, dia mengerti tatapan itu. dengan segera kembali mempertemukan bibir mereka. Rasa bibir Luhan seperti madu, susu, atau hal-hal lainnya yang manis. Sangat candu untuk Sehun. dia rela sekali menjadi seekor lebah hanya untuk menghisap madu dari Luhan setiap saat.

"Aku akan bergerak, Lu."

Sehun menggeram saat mulai bergerak mengeluar masukan kejantanannya, pijatan dari lubang Luhan membuatnya nyaris kehilangan kendali. Penisnya itu semakin mengeras setiap kali menghujam hole sempit Luhan. Akhirnya mereka bersatu, Sehun sudah memiliki Luhan seutuhnya sekarang. siapapun diluar sana yang menginginkan Luhan, telah kalah telak oleh Sehun.

"Ssshh.. Luhan." Sehun mendesis dan menggerakan pinggulnya dengan hati-hati. Dia merasakan kedua tangan Luhan menjalar menuju punggungnya, mencengkeramnya dengan kuat. Sehun tak peduli pada rasa sakit dipunggungnya, dia tahu ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang sedang mendera Luhan.

"Ahhh..Se—hunna..h."

Sehun terpana melihat kepala Luhan yang mendongak disertai lenguhan panjang yang begitu erotis, mengakibatkan leher jenjangnya yang terdapat beberapa bercak merah terpampang jelas dimata Sehun. Dia menemukannya. Sehun menyentuh prostat Luhan. dan reaksi Luhan sungguh menakjubkan.

"Disini, sayang?"

Luhan hanya menggeleng tidak tahu saat kejantanan Sehun kembali menabrak sesuatu didalam didirinya. Yang Luhan tahu, rasa sakitnya berganti menjadi kenikmatan setiap kali Sehun memasukan lebih dalam miliknya. "Bergeraklah, Sehunhh.."

"Sabar, sayang." bisik Sehun. dia menyeringai saat merasakan pinggul Luhan mulai bergerak-gerak, mencari kenikmatannya sendiri.

"Sehuun. Kumohon.." erang Luhan.

Sehun mengumpat sesaat melihat raut Luhan. dia mulai mengeluar-masukan kejantanannya kedalam lubang Luhan dengan liar. Pemuda berparas rupawan itu mendesah berat. Kenikmatan ini membuat matanya menggelap, sesekali dia merundukan wajahnya hanya untuk menggigiti bibir Luhan atau sekedar memberikan Luhan berbagai pujian membuat si manis itu merona.

Tubuh Luhan terhentak-hentak. "Sehuuun—ahnn..ahhh."

"Kau luar biasa, Luhan." Sehun benar-benar sudah lepas kendali. Dia terus menubruk lubang Luhan tanpa ampun, memejamkan matanya dan mendesah berat saat lubang itu semakin mengetat.

Sehun mendekatkan wajahnya ketelinga Luhan, setiap kali dia menghantam tubuh Luhan maka sebuah kenyataan menyadarkannya dengan telak.

"Aku mencintaimu," bisiknya.

"Nghh—Sehun..ahh."

Luhan mendekap lehernya erat, setiap kali pemuda manis itu melenguhkan namanya, maka saat itu pula Sehun merasa telah menemukan cintanya.

"Aku mencintaimu, sayang." Sehun kembali berbisik. "Sangat mencintaimu, Luhan.." bisiknya berulang kali. Mendadak pikirannya hanya dipenuhi Luhan seorang. membuat Sehun kembali sadar, perasaannya sudah sedalam ini. dan dia berharap perasaan ini tidak akan hilang.

Luhan sendiri hanya mampu mendesah sensual. Tidak mampu berfikir dan mendengar bisikan Sehun dengan jelas. Bahkan bernafas dengan benar pun terasa sulit. "Sehun—Ahhh.."

Luhan merasakan perutnya mengejang. Ada sesuatu yang ingin keluar dari kejantanannya.

Sehun hanya menggeram bagai binatang buas, dekapan otot-otot lubang Luhan membuatnya ingin menumpahkan cairannya. Sehun menciumi bibir Luhan dengan liar, seraya menahan spermanya yang akan keluar. Luhan sendiri sudah tidak tahan lagi. Kenikmatan ini membuatnya buta. Dia tidak bisa menahannya seperti Sehun, dan dengan dorongan keras milik Sehun didalam lubangnya, dia pun klimaks.

"Sehunnn.." bibir merahnya melenguhkan nama pemuda tampan diatasnya seiring cairannya yang tumpah ruah mengenai tubuh keduanya.

Dengan nafas terengah-engah, Luhan menjatuhkan kepalanya pada bantal dibawahnya. Tidak peduli pada Sehun yang masih menggenjotnya dengan liar. Saat ini Luhan hanya butuh pasokan oksigen sebanyak-banyaknya, rongga dadanya mulai sesak karna tidak bisa bernafas dengan benar.

"Ohhh.. Luhan.."

Dengan satu hentakan keras diakhir, Sehun menyusulnya. Dia menyemburkan spermanya kedalam lubang Luhan dengan deras, hingga sebagian mengalir keluar dari sana. Pemuda itu menyisir surai kelamnya yang menutupi dahinya kebelakang, menggunakan jemarinya. Dengan nafas tersengal, Sehun membaringkan tubuhnya tepat disamping Luhan.

Sehun mendekap tubuh berpeluh Luhan dengan possesif. Sesekali mencium kening pemuda manis itu yang tampaknya kelelahan.

"Aku mencintaimu, Luhan." ujarnya sungguh-sungguh, dengan tatapan mata terfokus pada Luhan.

"Cinta?" Luhan balas memandangnya dengan lugu. "Kau mencintaiku?" tanyanya, mengulang.

Luhan terlihat begitu berantakan, bulir-bulir keringat menetes melalui dahinya membuat pemuda mungil itu terlihat menggoda berkali-kali lipat. Pipinya pun masih memerah, tampak seperti sebuah apel masak. Sehun menjilat bibir bawahnya yang mendadak kering, dia kembali menindih tubuh Luhan. saat kulit berpeluh keduanya bersentuhan, ada sensasi tersendiri yang mereka rasakan. Ini berbahaya sekali, dia baru saja berorgasme beberapa menit lalu dan kini adik kecilnya nyaris menegang kembali.

"Sangat mencintaimu, Luhan." Sehun menempelkan hidung mereka dan menggesek-gesekannya. Luhan tertawa kecil dibuatnya, tawa yang sangat mengalun indah dipendengarannya.

"Kau banyak berubah." Luhan membelai pipi kanan Sehun dengan lembut. Hatinya terasa menghangat sekali mendengar pengakuan Sehun. pemuda itu bukan hanya sekedar menyukainya, tetapi juga mencintainya. Entah Sehun jujur atau tidak, tetapi Luhan bisa menangkap kilat kesungguhan dimata pemuda itu yang membuatnya sangat percaya.

"Mm, karnamu aku berubah."

Sehun menggigit kecil dagu Luhan disertai gesekan sejenak pada kelamin keduanya.

"S—sehun," Luhan bisa merasakan kejantanan Sehun yang mengeras, membelai kulit paha dalamnya. "Belum puas?" tanyanya dengan polos.

Sehun mengerang gusar mendengarnya. Oh tentu saja dia belum puas. Dia menginginkan sesuatu yang lebih dari ini. Dia ingin mendengar Luhan mendesah lebih keras dan kuat karenanya. "I wanna have sex with you.." bisiknya dengan suara memberat.

Luhan mengerjab-ngerjabkan matanya, tampak begitu menggemaskan. "Seks?"

"Hm."

Luhan menggeliat gelisah ketika tangan nakal Sehun memainkan tonjolan didadanya. "B—bukankah tadi kita sudah melakukannya?"

"Berbeda, sayang." Sehun menjawab dengan tenang. "Yang tadi itu aku making love, aku melakukannya dengan hati-hati dan penuh kasih-sayang. kali ini aku ingin melakukannya dengan...kasar." diakhiri dengan hisapan nakal pada leher Luhan.

Luhan meneguk liurnya, "Kasar?" bisiknya, pucat.

Sehun menyeringai, dan Luhan merasakan firasat buruk dengan seringaian mengerikan itu. malam ini tampaknya akan menjadi malam yang sangat panjang untuk keduanya.


"Berbaliklah, Luhan."

Luhan mengikuti perintah Sehun dengan patuh. Dia merasakan tangan Sehun menarik pinggangnya, hingga posisi Luhan sekarang menjadi menungging. Dan itu membuat wajah Luhan sangat terbakar, dia yakin saat ini si brengsek Oh Sehun itu tengah memandangi tubuh bagian belakangnya.

Sehun sendiri hanya mampu menatap lubang anal Luhan tanpa berkedip. Hole mungil itu nampak berkedut-kedut meminta perhatian, dengan lelehan cum Sehun yang menghiasinya. Sial, Sehun bisa gila jika seperti ini.

Sehun meremas dua bongkahan bokong sintal itu membuat Luhan mendesah halus. Pemuda itu kembali mengarahkan kejantananya yang sudah menegang sempurna kedalam sana, sesaat dia mengecup punggung mulus Luhan, setelah itu memasukan penisnya dengan sekali dorongan kedalam lubang Luhan.

"Akhh—Sehun!" Luhan menjerit keras, tampak begitu kesakitan dan marah sekaligus. Si mungil itu pasti tengah merutuki Sehun saat ini.

Sehun mendesah berat, "Fuck! Kau sempit sekali, Luhan." tangannya menggapai penis mungil Luhan dan memijatnya sensual, mencoba meredakan rasa sakit yang dialami Luhan saat ini. Dan benar saja, pemuda manis itu kembali mengerang.

"Lu—ahhh," Sehun melenguh tertahan. Dia mulai menggerakan pinggulnya dengan cepat. Posisi seperti ini memudahkannya untuk menghantam lubang Luhan dengan liar. Dia merasakan asset pribadinya itu semakin mengeras setiap kali menghajar prostat Luhan.

Tubuh Luhan terhentak-hentak keras, dia mencengkeram apapun yang ada ditangannya untuk dijadikannya pegangan. "Anghh, pelan-pelan—Sehun!"

"Tidak bisa, Lu." Sehun meraba-raba dadanya dan memainkan nipplenya, Luhan termanjakan dengan dua kenikmatan sekaligus. Membuatnya merasa begitu lemas.

"Sehuuunn.. nghh.."

"Oh, shit."

Sehun begitu menyukai desahan yang meluncur dari bibir Luhan, suara erotis itu menambah semangatnya untuk menggagahi Luhan. pantas Kai sangat menyukai kegiatan panas seperti ini—ternyata ini memang sangat nikmat, tetapi jauh lebih nikmat saat melakukannya dengan orang yang disayang.

"Sehuunn—aku sudah lelah.." Luhan mengetatkan lubangnya secara tiba-tiba, menghasilkan geraman seksi meluncur dari mulut Sehun. pemuda itu mencengkeram kuat pinggang Luhan dan menggerakannya mengikuti irama. Bunyi perpaduan dua kulit yang saling menabrak satu-sama lain itu menambah suasana disekitar semakin bergairah. Ruangan didominasi warna abu-abu itu dipenuhi oleh desahan serta lenguhan dua insan yang sedang menyalurkan kenikmatan masing-masing diatas ranjang.

"Ahhh..Hun—ah.."

Luhan menggelengkan kepalanya tidak kuasa. Sehun benar-benar menggenjotnya dengan kasar, tubuhnya sudah merasa lemas sekali. Seluruh kenikmatan itu terasa berkumpul diarea selangkangannya, dan Luhan merasakan sebentar lagi dia akan kembali klimaks untuk yang ketiga kalinya. Anehnya, Sehun seperti memiliki tenaga berlebihan. Pemuda itu seperti tak kenal lelah mengerjai tubuhnya, dia bahkan baru satu kali orgasme. Luhan tak habis pikir dengannya.

"Sabar, sayang. aku belum ingin." Sehun menjilati punggung Luhan yang berkeringat tanpa mengurangi tempo dorongan-masuknya.

"Sehunn—ahh."

Panggilan itu menjadi pengantar orgasme ketiga Luhan malam ini. Ia kembali menumpahkan cairannya dengan nama Sehun diujung lidahnya. Luhan terengah dan memandang selimut putih halus dibawahnya dengan sayu.

Saat nafasnya mulai teratur, Luhan merasakan dibelakang sana Sehun melenguhkan namanya disertai cairan hangat memenuhi lubangnya. Sehun akhirnya mendapatkan klimaksnya, dan dia segera mencabut penisnya dari lubang Luhan. Sehun berbaring disebelah tubuh Luhan, dan si mungil itu dengan segera menjadikan lengannya sebagai bantalan.

Sehun terkekeh melihatnya, dia mengelus surai coklat madu itu dengan sayang. "Jadilah milikku, Luhan." ucapnya, diakhiri dengan kecupan dipelipis Luhan.

"Mm. aku milikmu, Sehun." Luhan berbisik lemas, kentara sekali jika dia sudah kelelahan dan mengantuk.

Keduanya saling melempar senyum hangat, sebelum pada akhirnya selimut putih tebal nan halus menutupi tubuh polos keduanya.


Kai menguap lebar-lebar dengan mata terkantuk-kantuk. Suasana hatinya sedang sangat buruk, tidur lelapnya yang nyaman diganggu. Dan dia dipaksa bangun dipagi-pagi buta ini oleh pemuda bertubuh pendek yang ingin sekali dia musnahkan dari bumi ini. Kai bersumpah akan menghajar Sehun habis-habisan yang telah memberikan nomor ponselnya kepada Kyungsoo, alhasil pemuda bermata bulat itu terus menghubunginya demi mengantarkan pemuda itu ke Apartemen Sehun. yang benar saja, kemarin Kyungsoo menolaknya habis-habisan dan sekarang, dia meminta tolong —memaksa— padanya.

Kyungsoo terus saja merengek, meminta agar dirinya mengantarkannya ke Apartemen Sehun. karna sejak semalam Luhan juga belum pulang kerumah. Hal itu membuat Kyungsoo geram bukan main pada si dingin Oh Sehun.

Dan entah kenapa, Kai menyerah—dan menuruti permintaan si burung hantu itu.

Disinilah dia berada sekarang, berjongkok didepan pintu Apartemen Sehun bagai anak hilang, dengan Kyungsoo yang terus-terusan memencet bel dan meneriaki nama Sehun lewat intercom.

Kai mendesah panjang, "Sudahlah, mereka pasti masih tertidur. Keduanya pasti lelah karna bercinta semalaman penuh." Ujarnya, tidak jelas.

Kyungsoo mengabaikan perkataan Kai yang tidak dimengertinya sama sekali itu. keinginannya untuk menendang Sehun sudah diubun-ubun, dia jelas tidak membawa Luhan pulang kerumah tepat waktu. Kyungsoo bahkan meminta nomor ponsel pemuda bermarga Oh itu kepada Kai, tetapi tetap saja Sehun tidak menjawab panggilannya—begitupula Luhan. apa yang sedang mereka lakukan hingga menjawab panggilannya saja sepertinya sangat enggan?

"Jongin, kau tidak tahu password Sehun?" tanya Kyungsoo, sedikit putus-asa.

"Anak itu mana mau memberi password tempat tinggalnya padaku." Sahut Kai dengan malas-malasan. "Jangan ganggu aku, aku ingin tidur sebentar. Kau berusaha 'lah lagi! Jangan menyusahkanku." Ketusnya.

Kyungsoo mencebikan bibirnya sebal. dia memandang pintu silver didepannya dengan pandangan tajam.

"Aku akan benar-benar menendang Oh Sehun, apapun resikonya." Gumamnya, bersumpah.


Sehun membuka matanya, merasakan cahaya matahari mengganggu tidurnya lelapnya. Dia lupa menutup gorden jendela kamarnya semalam, hingga sinar matahari terasa begitu menyilaukan pandangannya. Pemuda itu meregangkan otot lehernya sesaat, dan memandang lama pada sosok manis yang meringkuk malas dalam pelukannya. Melihat Luhan, membuat Sehun teringat dengan percintaan hebatnya semalam. Dia mendengus geli, yang semalam itu sangat luar biasa. Mungkin Sehun tidak akan mudah melupakannya, karna itu adalah pengalaman pertama dirinya bercinta dengan seseorang.

Sehun membelai lembut pipi Luhan dengan jari telunjuknya. Wajah Luhan terlihat lebih indah dan polos saat terpejam. Begitu tenang dengan deru nafas halusnya yang membelai-belai kulit telanjang dada Sehun. Luhan benar-benar membuat dunianya jungkir-balik, Sehun termakan omongannya sendiri. Dia selalu mengelak untuk tidak terjerat pada lingkaran sial bernama cinta, tetapi Luhan berhasil meluluhkan hatinya yang beku. Pemuda berparas cantik itu dengan mudah mematahkan seluruh logikanya hanya dengan sebuah senyuman dan kepolosan hatinya.

Sehun merasa beruntung sekali dipertemukan dengan Luhan. setiap kali melihat wajahnya, maka rasa cintanya semakin bertambah. Perasaan ini tidak akan menghilang begitu saja, karna Sehun yakin tiap harinya akan terus bertambah dan tidak terkurangi sedikitpun.

Luhan melenguh pelan, dan membuka kelopak matanya. Nampaknya dia juga terganggu dengan sinar matahari yang menerpa wajahnya.

"Pagi, Lu."

"Hmm, pagi.."

Sehun menarik hidung Luhan dengan gemas, "Sudah hampir jam tujuh, sayang. bangun."

"Aku malas." Luhan kembali menutup matanya dan bersembunyi didada bidang Sehun, persis seperti seekor anak kucing yang mencari perhatian. "Lagipula ini hari minggu." Gumamnya.

Sehun memutar bola matanya, malas. "Dasar ayam kecil pemalas."

"Jangan mengataiku pemalas, keparat."

Sehun tertawa mendengarnya. Luhan kembali memanggilnya dengan sebutan yang selalu ia gunakan saat mereka bertengkar.

"Lengket." Luhan tiba-tiba bergumam, sedetik kemudian membuka matanya lebar-lebar. Sehun mengernyit bingung mendengarnya. Dia membiarkan Luhan menindih tubuhnya dan memandangnya dengan ekspresi terganggu.

"Sehun, tubuhku rasanya lengket." Adunya, dengan kernyitan wajah risih.

Sehun mengelus punggung Luhan yang terbalut kemeja putihnya —Ya, semalam Sehun memakaikan pakaiannya ketubuh polos Luhan, dia tidak akan bisa tidur jika Luhan masih dalam keadaan telanjang disebelahnya— "Yeah, tubuhku juga. Tetapi tadi malam sangat luar biasa, bukan?"

"Tapi bagian bawahku agak sakit."

"Tetapi kau menyukainya." goda Sehun.

Wajah Luhan mulai memanas. "A-aku—"

"Jangan mengelak, Lu. kau bahkan mendesah keras dan menyerukan namaku berkali-kali." Sehun menyeringai menyebalkan.

"Aku membencimu!" Luhan memukul kepala Sehun sebagai gantinya.

"Terimakasih, Aku juga menyayangimu Luhan." Balas Sehun. "Sebaiknya, ayo kita bersihkan diri."

Luhan mengulum bibir bawahnya ragu, "Bersama?"

"Tentu saja." Sehun bangkit dari posisi berbaring malasnya. Dia berdiri disebelah ranjang, dan pipi Luhan muncul sebuah semburat kemerahan tipis melihat Sehun hanya memakai celana hitam panjang tanpa atasan.

"Aku akan membantumu berjalan kekamar mandi."

Luhan memekik kecil saat Sehun tiba-tiba mengangkat tubuhnya, menggendongnya dengan mudah. Luhan refleks melingkarkan tangannya dileher Sehun agar tidak terjatuh. Jantungnya berdebar kencang melihat seulas senyum terhias tampan diwajah Sehun, tangan pemuda itu menyangga paha serta lehernya dengan erat. Posisi ini membuat Luhan semakin tersipu malu, dia tidak memakai apa-apa ditubuhnya selain selembar kemeja putih kebesaran milik Sehun yang hanya mampu menutupi bagian atas tubuhnya sampai pahanya. Dan Luhan bisa melihat, Sehun sesekali mencuri pandang kearah bagian bawah tubuhnya.

Sehun mulai berjalan tanpa melepaskan pandangannya sekalipun dari wajah menggemaskan Luhan.

Sejenak langkahnya terhenti, pemuda berparas tampan itu merundukan wajahnya dan mempertemukan bibir mereka. Bibir Luhan yang sedang menganggur itu sayang sekali jika dilewatkan, Well—sebut saja ini morning kiss.

Sehun menghisap bibir bawah Luhan dengan lembut, berusaha menikmati lamat-lamat rasa memabukan yang menguar dari sana setiap kali lidahnya menyapu bibir Luhan. begitupula dengan Luhan yang hanya pasif, menerima ciuman dari Sehun.

Saat Sehun hendak menyerang leher Luhan, tiba-tiba suara bel yang ditekan tidak sabaran merusak suasananya. Pemuda itu berusaha mengabaikannya, karna dia yakin itu hanyalah tukang laundry yang menagih pakaian kotor darinya. Tetapi semakin lama, bunyi itu terdengar semakin menyebalkan.

"Belnya terus berbunyi Sehun, buka saja." Ujar Luhan menjauhkan kepala Sehun yang menyusup keceruk lehernya.

Sehun menggeram gusar, siapa kiranya orang sialan yang bertamu ke apartemennya pagi-pagi? Dia yakin itu bukan bibi laundry, karna wanita paruh baya itu tidak berani menekan bel-nya dengan ganas seperti itu.

Sehun berjalan menuju pintu utamanya dengan Luhan yang masih setia berada dalam gendongannya.

"OH SEHUUUUN! BUKA PINTUNYA ATAU AKU NEKAT MASUK LEWAT JENDELAMU?!"

Sehun dan Luhan langsung dikejutkan dengan suara teriakan kesal yang berasal dari intercom-nya. Mereka berdua melihat wajah pemuda bermata bulat yang sedang sangat jengkel dilayar sana.

Luhan menatap Sehun dengan meringis kecil. "Kyungsoo." bisiknya agak panik. "Dia pasti mau menendangmu, Sehun."

Dan balasan Sehun hanya memutar bola-matanya, malas.


Tobecontinued—


a/n :

Tarik nafas dulu gaess, terus keluarkan pelan-pelan.

Yap, bagus seperti itu. (?)

GUE FAST UPDATE KAN HUEHEHEHE. buat kalian lho gaess gue apdet kilat /emot cium/

Gimana chapter ini? Mature scenenya udah hawt belum?

Sejujurnya, gue gayakin sama making love scene diatas, gak manis sekali kayanya. Lebih suka bikin yg 'hard' soalnya wkwk. Maaf kalo gak sesuai ekspestasi kalian /sungkem/

And, HAPPY 1K+ REVIEW! YEAAAAH! Thanks a lot buat kalian yg masih kasih apresiasinya sampe sekarang, dan masih ikutin jalan cerita ngebosenin ini. Anggep aja NC diatas buat hadiah kalian(?) harepannya sih semoga gue gak sering2 kena WB dan terus lanjutin FF ini sampe Hunhan nikahan/? Dan siders-nya berkurang:v

Maaf yaa kalo banyak typo yang mengganggu mata kalian saat membaca, dan juga beberapa kata sok puitis narasi yang agak bikin geli-_- tbh, gue bukan org romantis jadi maklumi aja yap.

Oke, see yaaa in next chapter! Laafffyah.

p. s: yg kemarin nanya-nanya kenapa gue tutup akun fb, bisa di PM:)

pss : SELAMAT TAHUN BARU 2016 YAAA EVERYONE! /tebarpetasan mercon/ yang mau bakar2 yuk sama gue. Kita bakar-bakar rumah, tapi. XDD (gue ngucapin lebih awal, hehe)

[Anggara Dobby. Bekasi, 27/12/2015]