©Anggara Dobby
An Hun-Han Fanfiction;
NOT PERFECT
Oh Sehun—Lu Han
.
Warn: YAOI. Slash. Shounen-ai. AU. Typo(s). Boring! DLDR; Don't Like Don't Read; Tidak suka, tidak usah membaca. Easy, right?;)
a/n : sebelum membaca chapter ini, tolong baca authornote dibawah terlebih dahulu, oke?
Kyungsoo refleks menjauh dari intercom saat pintu didepannya mulai terbuka. Pintu berwarna silver itu terbuka selebar sepuluh centi lebih, hingga yang terlihat hanyalah kepala Sehun saja yang menyembul dari sana. Mata kiri Kyungsoo berkedut, lelucon apa ini?
"Jangan berteriak didepan pintuku, atau aku akan memanggil keamanan." Seperti biasa, Sehun hanya berbicara datar dengan desisan tajam. Mengundang dengusan sebal Kyungsoo.
"Dimana Luhan hyung?" tanyanya, tanpa basa-basi. Karna Kyungsoo tahu, Sehun juga tidak menyukai basa-basi.
"Ada dikamar mandi." Sehun jujur saat mengatakan itu, karna memang Luhan saat ini sedang berada didalam kamar mandinya. Pemuda manis itu dengan panik masuk kedalam kamar mandi demi membersihkan dirinya yang berantakan. Apa kata Kyungsoo nanti jika melihat Luhan hanya memakai selembar baju Sehun?
"Buka pintunya, Sehun!" Kyungsoo dengan sebal mendorong pintu didepannya agar terbuka lebih lebar, dan Sehun sama sekali tidak mencegah hal itu. pemuda bertubuh pendek itu melebarkan matanya saat melihat Sehun tidak memakai apa-apa sebagai atasan tubuhnya.
Pikiran-pikiran buruk singgah diotak Kyungsoo, merangkai bayang-bayang yang pastinya akan sangat buruk jika benar-benar terjadi.
"Jawab aku dengan jujur, dimana Luhan hyung?!" kali ini Kyungsoo meninggikan suaranya, membuat Sehun agak gusar mendengarnya. Si pendek ini, berani sekali membentaknya. Jika dia bukan sepupu Luhan, maka Sehun sudah menghabisinya dari tadi. "Dan kau apakan dia semalam? Kau tidak memukulinya 'kan?"
Tuduhan macam apa itu?
Sehun kira Kyungsoo akan menuduhnya telah memperkosa Luhan, ternyata tuduhan yang dilontarkan pemuda bermata bulat itu hanya sekedar pemukulan? Kyungsoo ini sepertinya terlalu paranoid dengannya—atau mungkin terlalu polos. Sehun mana mungkin tega memukuli Luhan.
"Kenapa kau diam? Tuduhanku benar, ya?"
Sehun memundurkan tubuhnya beberapa jarak dan segera menangkap kaki kecil Kyungsoo yang hendak menendang lututnya. Benar apa kata Luhan, Kyungsoo akan menendangnya. Dan Sehun tidak semudah itu untuk ditendang oleh si pendek ini.
Sehun menyeringai pada Kyungsoo yang mencoba melepaskan kakinya, "Jangan berani-beraninya mencoba menendangku, Do Kyungsoo." lalu mendorong kaki Kyungsoo yang berada dicengkeraman tangannya.
Kyungsoo terhuyung kebelakang, tetapi untungnya Kai dengan cepat menangkap tubuhnya. Sehun baru menyadari ada Kai disini, dan kenapa dia bisa bersama Kyungsoo? pemuda berparas dingin itu tersenyum miring melihat kecanggungan antara dua orang didepannya. Sepertinya temannya itu memang mulai menyukai seseorang. Sehun belum pernah melihat wajah Kai segugup itu.
"Kau!" Kai menunjuk diri Sehun dengan tajam, sementara yang ditunjuk masih tersenyum miring, tampak mengejek dan menggoda. "Jangan kasar seperti itu dengannya!"
"Wow, kau membelanya?" Sehun tampak terkejut sesaat.
Kai sempat salah tingkah beberapa detik. "Bukan seperti itu, brengsek. Dia sudah menunggu kau membuka pintu sialanmu itu bermenit-menit demi menemui Luhan yang sudah kau culik dari semalam. Dan saat kau sudah membukanya, kau bertindak kasar dengannya." Alibi Kai, yang masuk diakal.
"Ada dua kesalahan dalam teorimu. Pertama, aku tidak menculik Luhan—dia senang aku bawa kesini. Kedua, aku hanya membela diri dari dia yang berusaha menendangku."
Kai mengumpat dalam hati. Percuma saja jika berdebat dengan Sehun, hanya mempermalukan diri saja. "Lupakan. Panggil Luhan kesini, agar anak ini senang dan tidak menyusahkanku lagi." Dia melirik Kyungsoo dengan ketus disela-sela sindirannya.
"Luhan sedang mandi, sudah kalian pulang saja! Aku berjanji akan membawanya pulang siang ini, atau sore ini—mungkin besok, atau keesokannya lagi."
"Oh Sehun!" geram Kyungsoo.
"Baiklah, baiklah. Siang ini, kau puas?"
"Aku akan menelepon orangtua Luhan hyung jika kau melanggar janjimu." Ancam Kyungsoo, bersungguh-sungguh. Pemuda didepannya ini bukanlah pemuda yang masuk kedalam kategori anak baik-baik—maka dari itu Kyungsoo harus ekstra berhati-hati dengannya.
"Ya, ya. Lakukan sesukamu." jawab Sehun acuh. "Bawalah kekasihmu ini pergi, Kai. Dia cerewet sekali, dan telingaku terganggu mendengarnya."
"AKU BUKAN KEKASIHNYA!"
"DIA BUKAN KEKASIHKU!"
Sehun menyeringai dan segera menutup pintunya. membiarkan dua orang didepan sana mulai bertengkar lagi dan merutuki dirinya. Dia memandang kearah pintu kamar mandi yang tak jauh darinya. Sepertinya mandi bersama Luhan, ide yang bagus.
Luhan terlonjak sedikit saat keluar dari kamar mandi sudah ada Sehun yang berdiri tepat dihadapannya. Sehun senang sekali membuatnya terkejut tiba-tiba. Mengabaikan tatapan menusuk dari pemuda itu, Luhan lebih memilih berjalan melewatinya. Dia tahu saat ini Sehun sedang kesal padanya karna Luhan menolak ajakan mandi bersama dari Sehun. Yang benar saja, Luhan tidak mau Sehun melihat tubuhnya lagi—itu sangat memalukan. Apalagi untuk mandi bersama, itu bukanlah opsi yang bagus.
Luhan kembali dikejutkan dengan kedua lengan kekar yang melingkari perutnya, disertai sebuah dagu lancip yang mendarat dibahunya. Siapa lagi pelakunya jika bukan Sehun.
"Kau menggoda sekali menggunakan bathrobe-ku ini." Suara berat Sehun menyapa telinga Luhan, membuat pemuda manis itu merasakan darahnya berdesir menuju kedua pipinya.
"B—bukankah kau sedang marah padaku?" tanya Luhan, seraya menoleh kearah Sehun. dan dia harus menyesali perbuatannya, karna jarak wajahnya sangat dekat dengan Sehun.
"Marah?" Sehun tampak heran.
Luhan mengangguk, "Tadi kau menatapku sangat tajam, itu pasti karna aku menolak ajakanmu untuk mandi bersama." Jawabnya dengan lugu.
Sehun tertawa membuat gigi taringnya terlihat. Itu mempesona sekali untuk Luhan. "Mana mungkin aku bisa marah padamu." Ucapnya, diakhiri dengan kecupan pada bahu mungil Luhan. "Kau seksi saat mengenakan bathrobe ini, itulah mengapa aku tidak bisa menjaga pandanganku. Maaf, kalau tatapanku terlalu tajam."
Bahkan Sehun meminta maaf hanya karna hal spele. Luhan benar-benar membuat dunianya jungkir-balik.
"Mesum." gerutu Luhan.
"Aku tidak suka dibilang mesum." ujar Sehun, seraya meremas sebelah bokong Luhan.
Luhan berjengit, dan segera melepaskan diri dari pelukan Sehun. "Kau memang mesum, Oh Sehun!" ucapnya, jengkel.
"Salahkan dirimu. Aku selalu kehilangan kendali saat berdekatan denganmu."
"Yasudah, menjauhlah dariku!"
Sehun mendengus, tak percaya. "Apa itu perintah yang mutlak harus kulakukan?" dia memberi jeda sejenak untuk memandang pemuda mungil didepannya dengan tajam, "Jika iya, aku akan menjauh darimu mulai sekarang."
Luhan membelalakan matanya, tampak panik melihat raut serius Sehun. "Aku hanya bergurau! Kau itu sensitif sekali sih."
"Aku juga hanya bergurau, mana mungkin aku menuruti perintahmu itu." Sehun melebarkan senyum miringnya.
Luhan mendengus keras-keras, "Menyebalkan sekali." gerutunya. "Ah iya, dimana Kyungsoo?" seketika dia ingat jika Kyungsoo datang kesini.
"Dia sudah pergi."
"Benarkah? Kau apakan dia?"
"Aku hanya bilang akan memulangkanmu siang ini, dan anak itu segera pergi bersama Kai."
"Kyungsoo bersama Kai?" tanya Luhan, tidak percaya.
Sehun mengangguk. "Mereka terlihat serasi."
"Serasi darimana?! Aku tidak akan membiarkan Kai mendekati Kyungsoo. anak itu terlalu berbahaya untuk Kyungsoo. sampai kapanpun aku tidak akan menyetujuinya!" ujar Luhan, menggebu-gebu. Sehun memutar bola-matanya, acuh. Tidak Luhan, tidak Kyungsoo—mereka sama saja. Sama-sama mengidap brothercomplex. Keduanya sangat sulit dipisahkan dan keduanya sama-sama melindungi satu sama lain. Sehun cukup iri melihatnya. andai saja dia dan Junmyeon bisa seperti itu lagi.
Sehun melingkari pinggang ramping Luhan dengan kedua lengannya. Alih-alih menyeramkan, Luhan malah menggemaskan ketika sedang marah.
"Se—sehun, aku harus memakai baju."
"Nanti saja, Lu."
Sehun merapatkan tubuh shirtless-nya kearah tubuh Luhan, menempelkan dahi mereka, dan menatap kedalam mata Luhan dengan penuh kasih. Sehun sangat mencintai pemuda manis ini, dan dia tidak bosan untuk mengatakan hal itu. dia sangat memuja Luhan, Sehun tidak tahu mengapa dirinya sudah terjerat begitu dalam kedalam pesona Luhan. Apa, mengapa, bagaimana—Sehun tidak tahu pasti penyebabnya, yang jelas selalu ada perasaan nyaman tersendiri ketika bersama Luhan. perasaan yang benar-benar membuatnya lahir kembali, reborn.
"Sehun, apa kau akan berubah?" tanya Luhan pelan dengan pancaran mata penuh kecemasan. Nafas halusnya menerpa wajah Sehun, membuat pemuda itu terpejam.
Sehun menggeleng, "Tidak, aku tidak akan berubah lagi." Dia sangat tahu apa maksud pertanyaan Luhan. pemuda manis itu pasti mengira dirinya akan berubah sikap lagi, menjadi Oh Sehun yang selalu melontarkan puluhan kalimat tajam pada Luhan disertai pandangan rendah yang sangat mencemooh. Sehun sudah menyadari perasaannya sepenuhnya, mana mungkin dia akan menyia-nyiakan Luhan. "Sampai kapanpun, aku tetap akan mencintaimu."
Luhan tersenyum mendengarnya, dia mengalungkan tangannya pada leher Sehun. "Aku tahu hatimu terlalu dingin dan beku karna masa lalu, maka dari itu izinkan aku menjadi Mataharimu untuk mencairkannya."
Sehun membuka matanya, dan kembali terpana melihat senyuman cantik Luhan. dia merasa menjadi orang paling beruntung didunia karna memiliki kekasih seperti Luhan. Dia seperti malaikat tanpa sayap, begitu indah dan memiliki hati yang bersih.
"Ya, aku izinkan kau menjadi Matahariku."
Wajah Luhan merona, "Wo ai ni," bisiknya.
"Apa itu artinya?" Sehun sebenarnya tahu arti dari kalimat yang diucapkan Luhan, karna dia sempat mempelajari bahasa China beberapa waktu yang lalu. Tetapi dia ingin mendengar Luhan mengatakannya dalam bahasa dinegara ini.
"Kau harus cari tahu sendiri." Luhan memandangnya dengan jahil.
Sehun tersenyum geli. "Dasar!" dia menyentil sekilas hidung Luhan, membuat pemuda manis itu tertawa kecil.
Sehun menyentuh pipi Luhan menggunakan jemarinya, membelainya dengan begitu lembut. Kulit Luhan sangat halus seperti kulit bayi, dan Sehun sangat suka menyentuhnya. Terlebih saat Luhan mulai memejamkan matanya seperti saat ini, menikmati setiap sentuhan yang Ia berikan. Membuat Sehun semakin tergila-gila dengan paras cantiknya.
Jemari kokoh Sehun menyusuri hidung bangir Luhan, dan turun menuju bibir merah-muda pemuda manis itu. Luhan refleks membuka kedua belah bibirnya membuat Sehun mendesah berat. Lantas, Sehun mempertemukan kembali bibir mereka. Menghisap bibir atas Luhan sarat akan pemujaan yang dibalas oleh Luhan dengan lembut. Bagaimana Sehun tidak selalu lepas kendali jika didekat Luhan? semua yang ada pada dirinya terlalu memabukan, bahkan melebihi wine. Ada gempa bumi pribadi setiap kali Sehun mencium bibir Luhan.
Lidah Sehun menyusuri setiap inchi permukaan bibir Luhan, menikmati benda kenyal nan lembut itu. dia bisa merasakan tangan Luhan merambat menuju kepalanya, dan meremas rambutnya. Sehun sangat menyukai reaksi Luhan yang seperti ini.
Sehun membaringkan tubuh Luhan diatas ranjangnya tanpa melepas ciuman mereka. Tangannya dengan refleks masuk kedalam bathrobe yang dikenakan Luhan, membelai paha pemuda itu dengan gerakan lambat yang begitu sensual. Mengakibatkan kekasih cantiknya itu menggeliat disela-sela lumatan panasnya. Sehun semakin terbakar gairah. Ini masih pagi, dan kenapa suhu disini sangat panas?
Sehun hampir saja melepas tali ikatan bathrobe Luhan, jika saja dia tidak ingat Luhan masih mengeluh bagian belakangnya terasa sakit. Sehun tidak mau menyakiti Luhan hanya karna libidonya yang tiba-tiba menaik itu. Akhirnya Sehun melepaskan pagutan bibirnya dan mengecup hidung Luhan sebagai gantinya.
"Maaf, aku hampir lepas kendali." Sesal Sehun seraya membelai lembut pipi Luhan.
Luhan dengan wajahnya yang memerah menggelengkan kepalanya diselingi senyuman kecil. "Tidak apa-apa."
"Aku mandi dulu, kau pakailah bajuku. Setelah itu kita cari sarapan diluar, mengerti?"
Luhan mengangguk patuh. Dia memandangi punggung telanjang Sehun yang berjalan menjauh. Senyuman manis terukir diwajahnya.
"Aku mencintainya," gumam Luhan.
"Errr, tuan muda. Kita sudah sampai."
Paman Kim berujar dengan ragu-ragu seraya memperhatikan dua anak majikannya lewat kaca spion dalam mobil. Dua pemuda manis itu sejak kemarin saling membuang muka, terkadang berdebat hal-hal yang tidak dimengerti Paman Kim. Pria paruh baya itu heran, apa yang terjadi pada Luhan dan Kyungsoo? mereka terlihat tidak akur saat ini. Lihat saja saat ini, keduanya duduk berjauhan seraya tidak mau memandang satu sama lain. Mengherankan sekali, karna biasanya keduanya terlihat sangat dekat.
Luhan dan Kyungsoo keluar dari mobil mereka, berjalan menuju gerbang sekolah beriringan dengan jarak yang berjauhan.
"Lihat cara berjalanmu! Sehun pasti sudah menyakitimu, tetapi kau masih saja membelanya. Aku bingung apa yang ada diotakmu, hyung."
Luhan menghela nafas gusar mendengar ucapan Kyungsoo. "Jangan mulai, Kyung. Ini masih pagi." Dia berusaha berjalan senormal mungkin, agar Kyungsoo tidak bertanya ini-itu. tetapi tetap saja, mata burung hantu pemuda itu lebih tajam. Dia selalu mengira Sehun telah menyiksa Luhan malam kemarin, dan Luhan tidak bisa menjawab apa-apa. jika mengatakan hal yang sejujurnya, pasti Kyungsoo akan marah sekali. Yang benar saja, jika dia mengatakan kalau cara berjalan anehnya ini buah hasil dari percintaannya dan Sehun kemarin malam.
"Kau juga, kenapa meminta tolong pada Kai? Seperti tidak ada orang lain saja." Luhan mulai membalas.
Langkah kaki Kyungsoo terhenti, dia memandang balik pada Luhan dengan sebal. "Karna kau tidak mau menjawab teleponku, aku sudah mengkhawatirkanmu tetapi kau malah lebih memilih Sehun berandal itu."
"Sudah kubilang, Sehun tidak seburuk itu."
"Nah, kau membelanya lagi."
Beginilah pertengkaran mereka dari kemarin. Terlalu overproktektif satu sama lain, membuat keduanya selalu curiga jika salah satu diantara mereka mulai dekat dengan seseorang.
"Kyung—eh?!" Luhan memotong ucapannya, dan memundurkan langkahnya sedikit. Matanya melebar melihat apa yang ada dibawah kakinya. Begitupula Kyungsoo yang buru-buru mendekati Luhan.
Tepat didepan gerbang sekolah mereka, ada dua buah gambaran sketsa tubuh seseorang dipermukaan jalan. Seperti sehabis ada sebuah kejadian dua orang yang tewas disana. digambar dengan sebuah kapur, seperti telah dibuat oleh pihak kepolisian. Mau tak mau hal itu membuat Luhan dan Kyungsoo terheran-heran. Apa telah terjadi kecelakaan disini? Tetapi kenapa tepat sekali didepan sekolah mereka?
"Buatan anak AHS, Hanbin dan teman-temannya yang menggambar. Keparat!"
Luhan menoleh pada sumber suara, mendapati Sehun dan keempat temannya sudah berdiri didepan gambaran tubuh itu. Yang baru saja berbicara adalah seorang pemuda tinggi dengan mata bulat, Luhan tidak mengenalinya. Tetapi dia sering melihat pemuda itu selalu bersama Sehun.
"Si bajingan itu menginginkan dua orang, aku tidak akan membiarkannya." Sehun membuka suaranya. Dan pada saat Luhan menatap kearahnya, dia mendapat sebuah senyuman kecil dari pemuda tampan itu. Luhan tersipu, Sehun tidak berubah. Dia tersenyum kepadanya tanpa sepengetahuan yang lain.
Tanpa Luhan duga, Sehun berjalan menghampirinya. Membuat beberapa pasang mata disana mulai memandangnya. Tidak, jangan saat ini! Luhan takut Kyungsoo akan tambah marah dengannya dan berfikiran macam-macam lagi. Luhan belum siap memberitahukan hubungannya dan Sehun pada sepupu mungilnya itu.
Luhan menahan nafas saat Sehun sudah berdiri dihadapannya. Dia masih belum mempercayai jika saat ini dia telah memiliki hubungan spesial pada pemuda yang selalu Ia anggap anak kurang-ajar itu.
"Aku akan menemuimu nanti." ujar Sehun diselingi senyum tipis. Tangannya terulur menyentuh dagu serta bibir bawah Luhan, membuat pemuda manis itu tersenyum gugup.
Setelah itu Kyungsoo langsung menariknya pergi, membuat senyuman Sehun hilang—digantikan dengan wajah datar andalannya. Sial, untung saja Kyungsoo adalah sepupu Luhan. kalau tidak, Sehun sudah menguburnya hidup-hidup.
"Wow!" Baekhyun berseru heboh. "Sehun, ceritakan perkembangan hubunganmu dan Luhan! Aku penasaran." Ujarnya dengan antusiasme tinggi.
Kai langsung menyahut dengan malas, "Andai saja kau datang kemarin pagi ke Apartemen Sehun, kau pasti akan terkejut. Tebak apa yang ku lihat? Sehun membukakan pintu dengan shirtless, dan dia mengatakan jika Luhan sedang mandi didalam tempat tinggalnya." Diakhiri seringaian menggoda kearah Sehun.
Baekhyun menganga, tak percaya. Mata sipitnya membelalak kearah Sehun seolah-olah mengatakan, 'Apa yang kau lakukan?' ekspresi yang menurut Sehun sangat berlebihan. Maklumi saja, Baekhyun itu memang sangat hiperbolis.
"Menurutku wajar, mereka pasti habis bercinta." Sahut Chen, diselingi cengiran bodohnya.
"Apa yang kau lakukan pagi-pagi di Apartemen Sehun?" tanya Chanyeol. memandang penuh selidik pada Kai.
Kali ini Sehun yang menjawab, "Mengantar Kyungsoo."
Baekhyun dan Chen langsung menyerbu Kai dengan berbagai pertanyaan. Membuat Chanyeol dan Sehun menyeringai puas. Ah, Chanyeol memang satu hati sekali dengan Sehun.
"Ah sial, aku dijebak!" Kai berseru frustasi seraya menghindar dari Baekhyun dan Chen.
Keadaan kelas masih sama seperti minggu-minggu sebelumnya, belum banyak yang datang saat Luhan masuk kelas. Kebanyakan dari mereka memilih telat, kalaupun ada yang didalam kelas—mereka akan membuat keributan atau sekedar memejamkan mata diatas tumpukan buku. Luhan melihat dua temannya sudah datang, Junmyeon dan Yixing tengah berbincang-bincang dikursi mereka.
"Pagi," Luhan merangkul bahu keduanya disertai senyuman riang.
"Semangat sekali." ujar Yixing. Luhan tertawa kecil dan mendudukan dirinya ditengah-tengah dua pemuda itu. suasana hatinya sedang bagus hari ini. Entahlah, mungkin semua ini karna Sehun. rasanya melangkah disekitar sekolah ini menjadi ringan sekali, tidak ada yang perlu dicemaskan.
"Bahkan senyummu mengalahi sinar matahari diluar sana." ucap Junmyeon.
"Kau berlebihan, Myeon." Luhan memukul bahu pemuda pemilik senyum malaikat itu sekilas.
Junmyeon terkekeh, "Ah, aku membawa buku yang kau akan butuhkan saat Ujian nanti." Pemuda itu mengambil beberapa buku tebal dari dalam tasnya. Luhan maupun Yixing memperhatikannya secara seksama.
"Ambil ini." Junmyeon menyodorkan setumpuk buku pada Luhan. "Disini juga ada buku sejarah, aku tahu kau belum mengetahui banyak tentang sejarah negara ini."
Mata rusa Luhan berbinar melihatnya. "Terima kasih, Myeon. Kau memang teman yang pengertian sekali." Dia melempar senyum terbaiknya pada Junmyeon, membuat pemuda itu membalasnya dengan tulus.
"Aku masih punya banyak buku dirumahku, jika kau mau kita bisa kerumahku sepulang sekolah nanti."
"Bolehkah?" tanya Luhan antusias.
"Tentu saja, Han."
"Kau mau ikut, Xing?" tanya Luhan pada Yixing.
Yixing terdiam sesaat. Dia tahu Junmyeon menyukai Luhan dari segi manapun, Junmyeon pasti sangat senang jika hanya bersama Luhan. dari pancaran matanya, Yixing sudah tahu jika Junmyeon mempunyai perasaan tersendiri pada Luhan, dan Yixing tidak mau menjadi pengganggu dan diacuhkan saat mereka bertiga ada didalam ruangan yang sama. Walaupun Yixing yakin, Luhan dan Junmyeon bukanlah tipe teman yang suka mengacuhkan orang lain. Tetapi tetap saja Yixing merasa tidak enak hati. Memangnya menyenangkan saat melihat orang yang kau sukai melempar pandangan sangat memuja pada orang lain? Dan selalu tersenyum padanya?
Yixing tidak bisa melihatnya. bukan dia yang menginginkan perasaan ini terhadap teman baiknya sendiri. Orang yang disukai bahkan selalu menganggapnya sebagai teman, tidak pernah memandangnya sebagai seseorang. Disini Yixing ditugaskan hanya untuk mengawasi dan menjaga Junmyeon, bukan untuk menyukainya diam-diam.
"Aku masih ada urusan pulang sekolah nanti, kalian saja berdua yang pergi." Yixing mengembangkan senyum simpulnya, seperti biasa. Apapun yang membuat Junmyeon senang, akan dia lakukan. Walaupun dirinya sendiri tidak dia pikirkan.
"Baiklah." Luhan mengangguk paham.
"Jika aku boleh tahu, kenapa kau repot-repot bersekolah disini kalau di Cina sana banyak sekolah bagus?"
Luhan yang sedang melihat-lihat sampul buku tersebut menjawab pertanyaan Junmyeon. "Ayahku membangun perusahaan di Cina sementara ayah Kyungsoo mendirikan perusaahaan dinegara ini. Mereka berdua rekan kerja. Ayahku dan paman Do sedang membuat cabang perusaahan disini, jadi untuk tahun ini dan kedepan, aku akan disini bersama ayahku. Tetapi ternyata setelah aku pindah kesini, perusahaan ayahku yang di Beijing sedang mengalami krisis jadi untuk beberapa waktu dia akan disana. Dan, untuk alasan yang tidak logis Ayahku salah mendaftarkanku sekolah." Jelas Luhan. "Mungkin dia sudah terlalu pusing memikirkan kerjanya, maka dari itu sampai sekolahku saja dia tidak mengurusi dengan benar."
"Tidak apa-apa, kau hanya setahun disekolah ini." hibur Junmyeon.
"Tapi aku juga berencana akan menetap di Seoul, Aku menyukai negara ini." ujar Luhan. dia tidak bisa begitu saja pergi meninggalkan Sehun setelah kelulusannya dari sekolah ini. Entah kenapa, Sehun menjadi prioritas utamanya untuk menetap di Seoul. "Dan bagaimana denganmu Xing? Kau juga dari Cina, 'kan?"
Yixing mengangguk. "Aku hanya ingi bersekolah disini, dan setelah kelulusan aku akan kembali ke Changsa."
"Kau tidak pernah mengatakan itu padaku." Junmyeon tampak tidak terima dengan perkataan Yixing. "Kukira kau akan melanjutkan pendidikanmu disini."
"Rumahku disana, dan keluargaku semuanya ada disana. aku tidak mungkin meninggalkan mereka."
Junmyeon menghembuskan nafasnya, pelan. "Baiklah, aku akan sering mengunjungimu di Changsa."
"Benarkah?"
"Tentu saja." Junmyeon terkekeh seraya mengusak rambut hitam milik Yixing. Membuat pemuda berdimple manis itu agak tersipu. Jarang sekali Junmyeon menunjukan sikap manis seperti ini padanya, dan Yixing senang sekali ketika Junmyeon memperlakukannya dengan manis. Walaupun Junmyeon tidak ada maksud lain saat melakukannya, kecuali rasa sayang dan perhatian untuk teman dekat.
Junmyeon melihat kearah Luhan yang sibuk membolak-balik halaman buku yang baru saja Ia berikan. Pemuda manis itu nampaknya sangat menyukai buku-buku itu. saat itu pula, Junmyeon menyadari ada sesuatu yang aneh pada sekitar leher Luhan. ada beberapa bercak merah keunguan yang mengintip dari balik kerah seragamnya, dan Junmyeon tidak bodoh untuk mengetahui apa itu.
"Luhan, semalam kau dimana?" tanya Junmyeon tanpa melepaskan pandangannya dari leher Luhan. semoga pemikiran buruknya hanyalah angan semata. Luhan tidak mungkin serendah itu.
"Aku dirumah."
"Kemarin malam?"
Kali ini Luhan mendongakan kepalanya, memandang Junmyeon dengan ragu. "Aku…di apartmen Sehun?" jawabnya ragu-ragu. "Kenapa memangnya?"
Raut Junmyeon mengeras saat itu juga, dan Luhan meneguk liurnya mendapat tatapan sedingin itu dari Junmyeon. "Apa yang kau lakukan disana?"
Luhan menggigit bibir bawahnya, kebiasaannya saat sedang gugup. "Aku hanya berbicara padanya sebentar."
"Kau yakin hanya itu yang kau lakukan?" mata Junmyeon memicing tajam, membuat Luhan harus menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Te—tentu saja!"
Junmyeon menghela nafasnya. Mungkin dirinya yang terlalu paranoid. Luhan tidak mungkin melakukan itu, walau dia baru mengenal pemuda cantik itu—tetapi Junmyeon yakin Luhan bukanlah tipe seseorang yang mudah menyerahkan dirinya pada anak brengsek macam Sehun. tetapi entah kenapa, Junmyeon tidak bisa mempercayai perkataan Luhan sepenuhnya.
Sehun menyandarkan punggungnya pada pohon beringin besar yang tumbuh subur dibelakang sekolah. Dia diusir dari kelas, karna memaki balik guru fisika yang memang selalu menjadi musuh bebuyutannya. Song seonsaengnim memanglah guru yang paling Sehun benci diantara guru lainnya. Bukan karna dia sangat killer, tetapi sikap suka meremehkan murid-muridnya itu yang membuat Sehun muak. Si dungu, si tolol—itulah panggilannya ketika memanggil murid-murid didalam kelasnya. guru yang tidak punya moral seperti itu harusnya dimusnahkan saja dari bumi ini.
Retina hitam pekatnya memandang kearah gedung belakang sekolah. Setahun yang lalu, tempat itu dijadikan sebagai zona Masa Orientasi Siswa—mungkin lebih pantas disebut zona penyiksaan. Sehun yang kala itu baru beranjak tujuh belas tahun harus mengalami siksaan dari para sunbae haus kekuasaan disini. Karakter Sehun memang sudah buruk sejak dia tinggal di Amerika selama beberapa bulan, tetapi disekolah ini jauh lebih buruk dari negeri Paman Sam sana. Kehancuran keluarga membuat dirinya benar-benar hancur dan sakit.
Disini tidak ada yang memanggil nama asli seseorang, melainkan dengan julukan yang kasar. Bodoh, Keparat, Bajingan, Bangsat—bahkan nama binatang sekalipun terpakai disini.. Mereka ditampari satu persatu, dibentak, dan dimaki habis-habisan. Pihak sekolah tentu saja tidak mengetahuinya, tetapi jika ada siswa baru yang mengadu maka habislah riwayatnya. Dia tidak akan selamat jika masih bersekolah disini. Sehun tidak tahu harus berbuat apa. dia ketakutan, tentu saja. Dia berasal dari Keluarga baik-baik dan tidak pernah terlibat perkelahian, tetapi pada Masa Orientasi disini dirinya diajarkan berkelahi oleh para senior. Saat itu dirinya dan Kai yang dianggap sebagai siswa baru jagoan —karna sikap acuh Sehun dan sikap berani Kai— menjadi bulan-bulanan para sunbae. Mereka tidak menyukai sikap pongah keduanya, disaat murid baru lain menundukan kepalanya tetapi tidak untuk Kai dan Sehun.
Sehun ditantang berduel dengan salah satu sunbae. Ditarik kedepan, dan dipukuli serta ditendang. Dia masih terdiam, tetapi saat diludahi, Sehun tidak bisa menerimanya. Ada dorongan dalam dirinya untuk membalas, bara api didadanya membuat Sehun panas dan akhirnya meledak. Dia membalas pukulan sunbae yang bernama Kwon Jiyoung itu dengan membabi buta. Mengundang reaksi terkejut dari senior yang lainnya. Bukan memukuli Sehun ramai-ramai, para senior itu mengangkat tangan Sehun keatas dan memproklamirkan jika dirinya berhak menjadi siswa yang dihormati disekolah ini. Dia masuk kedalam jajaran 'generasi baru' OX 86. Sehun tidak bangga disayang oleh para senior beringas itu. dia hanya melakukan perlawanan. Tidak lebih. Sehun tidak haus akan kekuasaan dan kehormatan.
Begitupula Chanyeol. saat itu, Chanyeol dicaci maki dan diejek habis-habisan ditengah lapangan sekolah karna selalu menundukan kepalanya dan selalu diam. Para sunbae mengejeknya si cupu, dan si banci. Tak jarang melemparkan beberapa telur kearah kepala Chanyeol. Sehun hanya bisa melihatnya dengan diam, dia belum mengenal Chanyeol saat itu. tetapi pada hari itu, Chanyeol membalas perlakuan para sunbae. Dia menyerang mereka dengan tangan kosong. Membalaskan dendamnya. Lapangan sekolah menjadi ricuh, Chanyeol yang sendirian harus melawan beberapa belas kakak kelas mereka. Dengan insting, Sehun membantunya, melawan para senior sialan itu.
"Aku tak butuh bantuan yang didasari atas rasa kasihan." Ujar Chanyeol saat itu, dengan keadaan yang sangat berantakan. Luka disana-disini menghiasi wajahnya yang dingin dan tak bersahabat. Sehun tahu dia bukan anak yang pengecut, dari segimanapun Chanyeol adalah orang yang pemberani dan sama-sama hancur seperti dirinya.
"Aku hanya tak mau diperbudak oleh mereka. Aku bukan membantumu, tetapi karna ingin menghabisi mereka." Sehun tersenyum kecil saat itu. sarat akan kesinisan.
Dan sejak saat itulah dirinya dan Chanyeol berteman. Pemuda tinggi itu mengenalkannya pada Baekhyun, dan Sehun mengenalkan Kai pada mereka. Lalu seiring berjalannya waktu, mereka berteman akrab dengan Chen sebagai orang terakhir bergabung dalam kelompok EXruciates Ominous—EXO. Dan saat itupula Sehun merasa dirinya bukan 'dirinya' lagi—dia mengalami sebuah perubahan yang sangat besar. Kepribadiannya yang kasar dan dingin secara alami terbentuk dari segala kebusukan di sekolah ini. Disekolah ini berbagai macam anak sampah berkumpul. Rata-rata mereka semua berasal dari anak broken home dan pembangkang. Ada anak pembunuh disini, Siswi pekerja seks komersial, Siswi hamil diluar nikah, Anak pecandu dan segala macam anak perusak bangsa ada disini. Sehun tidak memusingkan kenapa ayahnya menyekolahkannya disini. Perintah Ayahnya adalah sebuah perintah mutlak yang harus dipatuhi, dia begitu diktaktor. Tetapi sekeras apapun sikap Ayahnya, Sehun tetap menyayanginya. Oh Seunghyun adalah orangtua satu-satunya yang Ia miliki didunia ini, dia bukan Ayah terbaik didunia tetapi dia adalah Ayah yang sempurna untuk Sehun.
Pluk!
Sehun mengerutkan dahinya saat bola kertas dilemparkan kearah dahinya. Sialan, siapa yang melakukan ini padanya?! Sehun meraih gumpalan kertas lusuh itu yang terjatuh diperutnya. Instingnya memerintah untuk membuka kertas itu, dan Sehun menemukan sederet kalimat menggemaskan dari sana.
'Keparat! Kau membolos ya?'
Sehun melunak. Tentu saja dia tahu siapa yang menulis ini. Pemuda itu menegakan duduknya, dia melihat sosok manis yang sedang berjalan mendekatinya dengan wajah tertekuk. Helaian rambut coklat madunya berterbangan halus, menambah kesan manis pada Luhan.
Itulah dia.
Orang yang entah mempunyai keajaiban apa, sehingga membuat Sehun kembali menemukan dirinya yang dulu. Kembali memberikan warna terang pada hidup Sehun yang penuh kegelapan.
Sehun tetap memerhatikan Luhan yang kini sudah duduk dihadapannya dengan wajah jengkel. Biar Sehun tebak, dia kesal pasti karna menemukan dirinya yang terduduk dibelakang sekolah ditengah jam pelajaran seperti ini.
"Aku diusir dari kelas, Lu." jawab Sehun, mengerti arti pandangan Luhan.
"Kau pasti membuat masalah dikelas."
Sehun menggelengkan kepalanya. "Tidak. Guru fisika itu meremehkanku dan mengataiku dungu. Jelas, aku tidak terima. Aku balas memakinya, dan dia mengusirku." Sehun mengangkat bahunya acuh, "Lalu aku keluar dengan senang hati."
Luhan mendesis sebal, dan itu mengundang senyuman geli dari Sehun. apa-apaan itu? mengapa jadi dia yang sebal?
"Guru-guru disini memang seperti itu, menyebalkan. Jujur saja, aku juga tidak suka guru-guru disini. Mereka tidak benar-benar mengajar, melainkan menghajar."
Sehun melongo mendengar jawaban Luhan. dia kira, Luhan akan sebal dengannya. Dan ternyata apa? pemuda semanis dia pun bisa berkata seperti itu. mencengangkan sekali.
"Kau juga salah, Sehun. memaki guru itu tidak baik, bagaimanapun juga seorang guru adalah sosok yang harus kita hormati—sebagai pelajar kita harus punya attitude."
Sehun memutar bola matanya, malas. "Dasar kau labil, disatu sisi kau menyalahkan guru tetapi disisi lain kau juga membelanya."
Luhan hanya tertawa manis, dan mengambil alih tempat kosong disisi kanan Sehun.
"Kau juga membolos?" tanya Sehun, tangannya dengan sigap meraih kepala Luhan dan menyandarkannya pada bahu tegapnya. Luhan tidak mengeluarkan protesannya, tetapi samar-samar Sehun melihat wajah Luhan merona.
"T—tidak, beberapa menit lagi jam istirahat tetapi Ahn seonsaengnim sudah keluar lebih dulu sebelum bel. Jadi, aku kesini saja daripada didalam kelas." Jawab Luhan. dia ikut merilekskan tubuhnya pada batang besar pohon beringin dibelakangnya.
Hening beberapa saat. Hanya terdengar suara desauan angin dan samar-samar suara keributan dari dalam kelas. Sehun menikmati waktu ini dengan lamat-lamat, rasanya menyenangkan sekali jika sudah bersama Luhan. sementara Luhan sendiri tengah memperhatikan sekitar yang ditumbuhi berbagai pohon rindang dengan kepalanya yang nyaman bersandar dibahu tegap Sehun.
"Apa kau akan meninggalkanku?" pertanyaan Sehun memecahkan kesunyian yang nyaman itu.
"Tentu saja." Jawab Luhan, mengundang perubahan raut wajah Sehun. "Didunia ini tidak ada yang abadi, jadi suatu saat nanti jika bukan aku yang meninggalkanmu lebih dulu pasti kau yang akan meninggalkanku. Semua yang hidup didunia ini pasti akan mati, cepat atau lambat." Lanjutnya dengan taraf kepolosan yang semakin menyedihkan.
Sehun menghela nafasnya, antara lega dan juga geli. "Aku tidak mau membahas masalah kematian, sayang."
Luhan masih berdebar kencang setiap kali Sehun memanggilnya 'sayang'. "Lalu?"
"Dari dalam hatimu sendiri, apa kau akan meninggalkanku?"
Luhan terdiam sesaat, lalu Sehun merasakan kepala Luhan menggeleng. "Tidak." Suara Luhan begitu pelan dan halus saat mengatakan itu. seolah-olah sangat menjaga perasaan Sehun. "Malah semakin lama aku yang takut kau akan meninggalkanku."
Sehun mengecup kepala Luhan dengan sayang. "Mana mungkin aku meninggalkan ayam kecilku?"
"Sehun!"
Sehun terkekeh, "Ah, bayi rusa, kalau begitu?"
"Kau—Dasar serigala busuk!"
"Beraninya," Sehun memelototi Luhan yang sudah duduk tegak disampingnya. Pemuda manis itu tertawa, dan mengundang Sehun juga untuk tertawa.
Sehun bahagia? Ya, karna dia memiliki Luhan saat ini.
Ini pertama kalinya Sehun sangat membenci kantin saat jam istirahat. Dimana biasanya dia akan senang karna bebas dari ruang kelas yang panas, tetapi sepertinya hari ini kantin jauh lebih panas. Luhan menolak makan bersamanya, dan lebih memilih duduk bersebelahan dengan Junmyeon—tepat didepan Sehun. bisa dibayangkan bagaimana perasaan Sehun saat ini, dia rasanya sebentar lagi akan meledak seperti bom. Memang tidak ada yang berlebihan dengan interaksi Luhan dan Kakaknya, mereka hanya sekedar makan seraya mengobrol sesekali tertawa bersama. Tetapi tetap saja, rasa panas itu seakan menyelimuti tubuh Sehun.
"Melihat wajahmu, aku jadi tidak berselera makan." Baekhyun membanting sumpitnya cukup kasar. "Oh Sehun, berhentilah mendelik seperti itu! Aku jadi tidak bisa makan!"
"Bukan kau yang kutatap, Baekhyun. Jika kau kira aku ini mengganggu selera makanmu, silahkan kau makan saja dilapangan sekolah sana." tukas Sehun.
Baekhyun merengut, dan Kai dengan sok perhatian menepuk-nepuk bahu kecilnya.
"Kau cemburu?" tanya Chen, dia mendekatkan diri pada Sehun. "Pukul saja Kakakmu itu karna sudah merebut kekasihmu. Habisi saja sekalian." Bisiknya penuh provokasi.
"Jongdae, kau jangan jadi provokator." Chanyeol memperingati dengan acuh.
Sehun tidak menanggapi perkataan Chen sedikitpun. Dia tahu jika teman-temannya memang sangat 'gemas' ingin sekali dirinya membalas perlakuan Junmyeon selama ini. Mereka selalu menyarankan agar sesekali Junmyeon diberi satu-dua pukulan, untuk membuktikan jika Sehun bukan adik yang lemah. Tetapi Sehun tidak pernah menggubrisnya. Biarkan saja semuanya mengalir seperti air, Sehun sudah mati rasa dengan semua sikap kasar Junmyeon kepadanya.
"Sehun, Sehun!" seorang siswa bertubuh kurus dari kelas yang sama dengan Sehun berlari cepat memasuki kantin dengan seruan-seruan panik. Mengundang perhatian seluruh orang yang sedang menikmati jam istirahat ini.
Sehun memandang Taehyung yang sedang berdiri didepannya dengan nafas tersengal-sengal disertai beberapa peluh diwajahnya.
"Anak-anak Ares akan datang!" seru Taehyung.
Seketika suasana menjadi hening dan tegang. Sehun masih terdiam menunggu perkataan selanjutnya dari Taehyung.
"Mereka mempercepat penyerangan. Aku melihatnya di perempatan jalan sana, mereka mengarah kesini. Ada dua bus! Dan mereka bersenjata!" Raut wajah pemuda sipit itu tampak gelisah. Tugasnya memang selalu memantau dijalanan untuk melihat apa ada penyerangan dari sekolah lain atau tidak. Karna perkelahian antar sekolah —tawuran— akan terjadi setiap sebulan sekali.
Wajah Baekhyun pias, rasa takut menjalari tubuhnya. "Sehun, bagaimana ini?" ini sungguh tak diduga, hari perayaan Ares High School masih dua hari lagi—dan mereka sudah ada didepan sekolah mereka untuk menyerang? Gila, apa yang ada diotak anak-anak AHS sampai berani-beraninya masuk ke kawasan mereka? Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Dan lagi, Baekhyun dan teman-temannya tidak mempersiapkan apapun. Ini sangat tiba-tiba, mereka semua bisa hancur ditangan Ares.
Sehun berdiri dari duduknya, raut wajahnya tetap tenang. "Berkumpul dikelasku semuanya."
Dan seluruh siswa-siswa yang berada dikantin, yang memang selalu mengikuti tawuran antar pelajar, menuruti perintah Sehun. mereka semua keluar dari kantin, membuat tempat itu sangat sepi—hanya ada beberapa siswi serta Luhan dan teman-temannya.
"Junmyeon, apa yang terjadi?" tanya Luhan, bingung. Dia dan Kyungsoo adalah orang yang tidak mengerti apa-apa disini.
"Tanda bahaya. Peperangan akan dimulai lagi, seperti tahun lalu." Jawab Junmyeon acuh, tampak sangat tak peduli. "Kita harus tetap berada didalam sekolah jika tidak mau celaka."
"Lalu bagaimana jika aku pulang?" tanya Kyungsoo.
"Diluar keadaannya sangat tidak kondusif, seperti apa kata anak tadi—anak-anak dari sekolah lain sudah datang dan mereka bersenjata, sudah siap menyerang. Kau akan mati jika keluar." Kali ini Yixing yang menjawab.
Luhan mulai diselimuti perasaan gelisah. Oh tidak lagi. Jangan tawuran lagi, Luhan sudah pernah melihatnya dan terjebak ditengah-tengahnya saat pertama kali masuk kesekolah ini. Itu sangat mengerikan. Mata rusanya menerawang jauh keluar kantin.
Luhan mengkhawatirkan Sehun.
Anak-anak OX berjalan keluar gerbang sekolah dengan senjata masing-masing. Kebanyakan dari mereka membawa pecahan botol, batu-batuan, belati, gear motor yang dililitkan pada ikat pinggang, pukulan baseball, dan masih banyak senjata berbahaya lainnya. Untung saja Kai menyimpan semua senjata mereka dibelakang gedung sekolah, membuat mereka tidak begitu kelabakan menghadapi Ares. Mereka berjalan layaknya para bandit yang siap terjun ke medan perang. Peringatan dari beberapa Satpam penjaga sekolah pun tidak dipedulikan. Para guru tidak tahu-menahu karna mereka semua sedang mengadakan rapat diruang guru, dan siswi-siswi enggan memberi tahu, mereka sibuk dengan urusan perempuannya masing-masing.
Beberapa kedai dan toko dipinggir jalan dekat sekolah menutup toko mereka. Tidak mau terlibat dan terkena masalah apapun dari anak sekolah ini. Terakhir kali mereka tawuran, beberapa pemilik kedai harus merelakan kedainya hancur terkena batu-batuan yang dilemparkan oleh mereka.
"Dasar anak-anak tidak ingat orangtua." Seorang bibi pemilik kedai menyeletuk dengan kesal.
Sehun menoleh kearahnya, dan bibi itu buru-buru berjalan masuk kedalam kedainya, ketakutan. mereka tentu saja ingat orangtua, tetapi orangtuanya yang tidak ingat pada mereka.
Sehun melihat kearah pasukannya, dan jumlah mereka cukup banyak. Ada sekitar limapuluh anak yang ikut, sementara sepuluh anak sudah berjalan lebih dulu—mengintai anak-anak AHS yang menunggu mereka diperempatan jalan. Kelompok mereka dibagi dua, attacker dan defender.
Sehun tidak sengaja melihat kearah sekolah, dan dia menemukan Luhan berdiri diatap sekolah, memandangnya. Dari jarak seperti ini, Sehun masih bisa melihat kekasihnya diatas sana. Sehun tahu, Luhan pasti tidak menyukai ini. Dia akan sangat marah nantinya. Tetapi ini sudah mendarah-daging didiri Sehun, jika dia tidak melawan maka semuanya akan hancur. Anak-anak AHS itu harus diberi pelajaran, mereka akan merasa menang jika Sehun dan teman-temannya tidak ikut dalam perkelahian ini. Dan pemuda dingin itu tidak akan membiarkan mereka menjadi pemenang. Sampai kapanpun.
"Kai," Sehun melihat Kai disebelahnya sedang 'memakai' sesuatu.
Kai buru-buru mengantongi barangnya itu. "Ini yang terakhir, Sehun. Aku berjanji."
"Aku tidak yakin pada janjimu." Sehun berdesis tajam. Dia sudah berjanji pada Ayah Kai untuk mengawasi anaknya itu ketika Kai mulai mengonsumsi obat-obatan lagi. Kai dilarang keras oleh Ayahnya untuk mengonsumsi barang itu lagi, yang hampir membuatnya OD —Overdosis— seperti setahun yang lalu.
"Aku bersumpah, ini terakhir kali. Hanya untuk nyali booster. Jangan katakan pada Ayahku!" ucap Kai. Dia perlu obat ini untuk meningkatkan keberaniannya. Penyerangan ini sangat tiba-tiba, dan Kai belum mempersiapkan apa-apa.
"Aku mengawasimu." Sehun menunjuk kearah hidung Kai, membuat pemuda berkulit tan itu memutar bola-matanya malas.
Tepat diperempatan jalan, Sehun melihat sekumpulan anak-anak AHS sudah berdiri didepan mereka dengan jarak kurang lebih dua meter. Mereka mengenakan almamater sialan kebanggaan mereka, warna kuning-hitam. Sehun mencibir, cerah sekali—seperti anak-anak TK. Mereka banyak, dan bersenjata lengkap. Sepertinya mereka memang sudah mempersiapkan penyerangan ini dari lama. Sehun melihat Hanbin dan Mino berdiri paling didepan diantara kelompoknya. Menyeringai remeh kearahnya.
"Ares Keparat! Mati kalian hari ini!" Teriak sebuah suara dari dekat Sehun. dia mengenalinya sebagai suara Namjoon, siswa dari kelas XI-4. Dia sangat jago dalam penyerangan, attacker.
"Yang takut atau mau pipis dahulu, silahkan balik kedalam sekolah, brengsek! Besok pakai rok kesekolah! Sialan!" teriak Chanyeol. "Kita hanya butuh lelaki pemberani!"
Tidak ada satupun anak yang memundurkan langkah mereka, tidak mau harga diri sebagai lelaki hancur karna masalah ini. Rupanya teriakan Chanyeol menambah keberanian mereka untuk menyerang anak sekolah lain.
Pelajar dari sekolah Ares mulai berteriak-teriak, mengejek anak-anak OX dan melontarkan kata-kata kotor. Mereka mengacungkan senjata-senjata mereka dengan mata menyalang tajam, siap menerkam.
"OX 86 Sialan! Kumpulan pengecut!"
Dan batu-batuan itu mulai berterbangan disekitar, seiring kedua kelompok pelajar dari sekolah yang berbeda saling berlari, maju kelawan masing-masing. Kendaraan yang hendak berlewatan memilih putar-balik, tidak mau terkena serangan dari mereka.
Keadaan mulai tidak terkendali, suasana benar-benar mencekam dan penuh ketegangan saat kedua kelompok itu saling menyerang, melemparkan apapun yang ada digenggaman tangan mereka. Batu dan pecahan kaca berterbangan diudara, siap menghajar tubuh siapapun. Begitupula belitan gear pada ikat pinggang yang berputar-putar, siap menggores kepala siapa saja.
Kedua sekolah ini memang dari dulu sudah bermusuhan dan bersaingan. Entah apa penyebab awalnya, yang pasti saat mereka bertemu akan terjadi lemparan ejekan dan lemparan senjata. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada alumni kedua sekolah ini yang mereka lakukan dulu hingga menyebabkan peperangan sampai sekarang. yang pasti mereka harus saling melawan dan menjadi pemenang dengan cara seperti ini. Sangat ironis, karna tawuran ini tidak pernah benar-benar bisa dihentikan oleh pihak pemerhati pendidikan maupun pihak kepolisian.
"Brengsek, maju kalian!"
"Hajar, bangsat!"
"Pengecut!"
"Ares sampah! Musnah kalian!"
Teriakan-teriakan itu berbaur menjadi satu dengan suara klakson-klakson kendaraan yang menyalak marah. Memberi kode untuk berhenti. Tetapi mereka tidak mempedulikan kemarahan umum. Memangnya masyarakat selama ini peduli pada mereka?
Suasana semakin menegangkan saat salah satu pelajar Ares terkena serangan Kai hingga tersungkur dijalan dengan darah yang muncrat dari lehernya. Kai mengayunkan belatinya tadi. leher anak itu menganga seiring bibirnya yang ikut menganga—mengerang panjang, begitu kesakitan. Pemuda yang sangat malang, sakit dan perih yang tak bisa dibayangkan. Sehun tahu, Kai memang pemuda yang sangat ganas dan tidak main-main jika menyerang. Sebagian anak OX yang melihat bersorak heboh, seolah-olah menyatakan awal dari kekalahan Ares High School.
Dan teriakan memilukan kembali terdengar saat gear yang diputar oleh Chanyeol mengenai kepala pelajar Ares hingga jalan aspal kini dipenuhi oleh genangan darah. Hal itu membuat nyali para anak Ares mulai mengecil, dan berfikir untuk mundur. Teriakan-teriakan masih terdengar ramai, dan juga suara serangan-serangan yang mencekam. Kata-kata kotor masih keluar dari bibir mereka, menandakan jika perkelahian ini belum selesai.
Semakin lama korban semakin banyak yang berjatuhan, membuat Baekhyun yang masih berdiri ditengah-tengah tawuran tersebut memundurkan langkahnya. Sekolahnya memang menunjukan kemenangan, tetapi jalan aspal yang dihiasi genangan darah membuat wajah Baekhyun pucat pasi. Keberaniannya yang semula membara, mulai meredup. Chanyeol tidak ada disampingnya—biasa pemuda itu selalu ada disampingnya, menjaganya. Karna Baekhyun memang tidak terlalu pintar dalam perkelahian seperti ini. Sekarang Baekhyun mulai gelisah dan ketakutan.
Pemuda manis itu melirik kesana-kemari. Sehun masih terlibat perkelahian dengan Hanbin dan Mino, sementara Kai masih menyerang membabi-buta keseluruh anak AHS, Chanyeol tidak terlihat, sementara Chen sedang melakukan perlawanan dengan dahi berdarah. Genggaman tangan Baekhyun pada belatinya mulai gemetar. Dia ingin kembali kesekolah.
Disaat Baekhyun memundurkan langkahnya, punggungnya menabrak para pelajar Ares yang berada dibelakangnya. Mereka menyeringai tajam, dan Baekhyun mulai panik. Dia terperangkap diantara lima anak-anak Ares. Sial, tidak adakah yang lebih buruk dari ini?
"Kekasih Park Chanyeol." desis siswa yang diketahui bernama Kim Jiwon atau kerap dipanggil Bobby. "Wow, mangsa yang sangat bagus."
"Sebagai ganti karna si brengsek Park itu sudah menewaskan Chanwoo, kita akan membalaskan padamu." Junhoe ikut menyeringai dengan pukulan baseball ditangannya. Keempat lainnya memandang Baekhyun dengan buas, seolah-olah ingin menelannya hidup-hidup.
Saat Baekhyun hendak menyerang mereka, dia harus tersungkur diatas jalan aspal yang panas karna pukulan membabi-buta didadanya. Hujanan pukulan tak bisa dihindari Baekhyun, dia kalah jumlah. Pukulan baseball milik Junhoe menghantam punggungnya berkali-kali membuat pemuda mungil itu berteriak kesakitan. Para anak-anak Ares seperti kesetanan melihat Baekhyun mulai bangkit. Mereka kembali menghajar pemuda manis itu tanpa ampun.
Bobby mendaratkan sebuah batu kekepala Baekhyun, membuat Baekhyun menjerit kesakitan seraya memegangi kepalanya yang mengucurkan darah. Matanya mulai mengabur karna tidak bisa lagi menahan tangisnya, dia sangat pusing dan kesakitan. Baekhyun sangat berharap Chanyeol atau siapapun datang menolongnya. Taehyun mendaratkan pecahan botol ke bahunya, membuat luka bertambah dikulit Baekhyun. Ini sangat menyakitkan, Baekhyun belum pernah menerima serangan seperti ini.
"Chan—AAAAKKH!"
Baekhyun mengerang panjang merasakan ada sesuatu menghantam kaki kirinya. Tubuh bagian sana terasa kebas, dan dia tidak bisa lagi menahan semua serangan ini. Pandangannya menggelap, dan sebelum Ia benar-benar menutup mata, dia melihat Junhoe dan Bobby berlari masuk kedalam sekolahnya.
"Junmyeon," Luhan memandang Junmyeon yang berdiri disampingnya dengan gelisah. "Tolong, lakukan sesuatu." Dia menggenggam tangan pemuda itu, berharap Junmyeon bisa menghentikan tawuran dibawah sana. Luhan bisa melihat korban mulai berjatuhan, dan itu membuatnya khawatir.
"Aku akan menghubungi polisi." Ujar Junmyeon, memandang Luhan dengan penuh perhatian. Memberinya ketenangan. Walau Junmyeon tidak tahu apa yang begitu dikhawatirkan Luhan.
"Polisi?" ulang Luhan. "Mereka semua bisa ditangkap!"
"Biarkan saja. Mereka hanya akan ditahan dua hari dan selama itu mereka diberikan pelajaran dan pengarahan agar tidak lagi melakukan hal bodoh ini." Junmyeon mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi kepolisian. Mereka tidak akan berhenti jika polisi belum turun tangan.
"Yixing dimana?" tanya Luhan. dia tidak melihat Yixing sejak tadi.
"Aku tidak tahu, Han." Jawab Junmyeon, dia terlihat sama khawatirnya seperti Luhan tetapi raut wajahnya tetap terlihat tenang.
Luhan menggigit bibir bawahnya, melihat kembali tawuran dibawah sana. Dia benar-benar khawatir pada Sehun. perkelahian disana sangatlah mengerikan. Luhan tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya saat serangan-serangan itu mengenai dirinya. Luhan akan memarahi Sehun, jika anak itu terluka nanti.
"Hyung, aku kekelas dulu. Tasku ada disana." ucap Kyungsoo.
Luhan memandangnya, lalu mengangguk. "Ya, jangan mendekati gerbang dan lapangan sekolah. Mengerti?"
Kyungsoo mengangguk dan mulai berjalan menuju kekelasnya. Pemuda mungil itu menelusuri lorong sekolah yang sangat sepi, tidak seperti biasanya yang selalu ramai. Entah kenapa ada rasa khawatir terselip dihatinya melihat perkelahian diluar sana. Dia tidak tahu siapa yang dia khawatirkan, tetapi rasa gelisah itu muncul begitu saja.
Kyungsoo melihat ada dua orang siswa dengan almamater lain sedang menulis sesuatu didinding koridor menggunakan pylox. Siapa mereka? Dan apa yang mereka lakukan disini?
Salah satu diantara siswa itu menoleh kearahnya, dan Kyungsoo mulai merasakan firasat buruk dengan pandangannya.
Sial, Kyungsoo baru ingat jika mereka adalah pelajar dari sekolah lain yang sedang terlibat tawuran dengan sekolahnya. Almamater kuning-hitam itu sama dengan yang dikenakan oleh pelajar dari musuh sekolah ini.
"Jiwon, bukankah itu Do Kyungsoo?!"
Kyungsoo menegang ditempatnya. Kenapa mereka mengenalnya?
Siswa yang satunya ikut memandang kearahnya. Dan mereka berdua menyeringai.
"Brengsek, ini keberuntungan kita!" seru Bobby. Junhoe mengangguk, dan keduanya mulai berjalan kearah Kyungsoo.
Kyungsoo membalikan tubuhnya dengan segera, dan mulai berlari menghindari dua siswa yang tak dikenalnya itu. Kyungsoo berharap Luhan menolongnya saat ini.
Anak-anak Ares mulai mundur saat suara sirine polisi terdengar. Mereka mengendurkan serangan dan mundur, sebagian anak Ares membawa temannya yang sudah bersimbah darah. Kepuasan tercetak jelas diwajah anak-anak OX 86, mereka berhasil mengalahkan Ares yang sudah berani-beraninya mengganggu ketenangan mereka.
Sehun melepaskan tongkat baseballnya dan tersenyum puas dengan beberapa luka diwajah rupawannnya. Begitupula dengan teman-temannya yang lain yang masih menyoraki anak Ares dengan ejekan-ejekan menyakitkan.
"Loser!"
"Pecundang!"
"Jangan pernah injakan kaki kalian lagi disini, sialan! Loser! Payah!"
Chen menepuk bahu Sehun, "Kita harus pergi dari sini sebelum polisi sampai."
"C—chanyeol.." seorang siswa menghampiri Chanyeol dengan raut wajah pucat pasi. Chanyeol mengerutkan dahinya, bingung.
"B-baekhyun.." siswa itu menunjuk kearah seorang pemuda mungil yang sudah tergeletak mengenaskan dengan simbahan darah disekujur tubuhnya.
Waktu terasa berhenti untuk Chanyeol. pecahan botol minuman keras ditangannya terlepas. Dengan secepat kilat, dia menghampiri Baekhyun. Begitu pula yang lainnya, yang mulai mengerubungi pemuda manis itu.
Chanyeol berjongkok disebelah tubuh Baekhyun. Matanya memandang sosok itu dengan tidak percaya. Baekhyun terlihat sangat menyedihkan, luka-luka memenuhi kulit putihnya dan warna darah yang begitu cerah sangat kontras dengan kulitnya. Chanyeol segera meraih kepala Baekhyun dengan tangan bergetar.
"Baek—tidak, bangun! Baekhyun!" suara Chanyeol terdengar parau. Dia menepuk-nepuk pipi itu, Chanyeol bisa melihat airmata disudut mata Baekhyun—dia pasti sangat kesakitan hingga menangis. Baekhyun tidak pernah menangis sebelumnya, jika tidak benar-benar kesakitan.
Chanyeol benar-benar panik, dia terus menggumamkan nama Baekhyun berkali-kali. Telapak tangannya sudah penuh dengan darah Baekhyun. Chanyeol tidak bisa berfikir jernih saat ini.
Sementara Sehun dan yang lainnya hanya menatapi dengan khawatir. Mereka sama paniknya dengan Chanyeol.
"Baekhyun, kumohon.." airmata mengalir begitu saja di pipi Chanyeol. dia menangis. Dan ini adalah pertama kalinya dia menangis. Membuat anak-anak OX lainnya melihat sisi lain dari pemuda dingin itu.
"Ares brengsek! Sampah! Aku akan membunuh mereka semua, sialan! Aku berjanji." Geram Chanyeol, kilatan matanya sangat sungguh-sungguh saat mengatakan hal itu. airmata masih menggenangi matanya, wajahnya memerah—memendam amarah yang begitu besar menggerogoti dadanya.
"Chanyeol, sebaiknya kita harus cepat membawanya ke Rumah Sakit." Ujar Sehun. "Jangan menunda waktu."
Saat suara sirine semakin dekat dengan teriakan para polisi, mereka semua mulai berlari kabur. Chanyeol segera menggendong tubuh lemah Baekhyun dan membawanya pergi. Sehun yang ikut berlari, tak sengaja melihat Junhoe keluar dari gerbang sekolahnya. Anak itu masuk kedalam mobil hitam, yang diyakini didalamnya ada teman-temannya.
Apa yang dia lakukan didalam sekolahnya? Sehun mulai gelisah memikirkan Luhan yang memang berada didalam sekolah. Sial. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan kekasih manisnya.
Tobecontinued—
a/n :
katanya ada kesamaan bagian NC kemarin.
Jika ada kesamaan cerita mohon dimaafkan—mungkin ada yang bilang saya sedang mengelak atau membela diri, tapi yang kemarin itu memang benar-benar pure tanpa disengaja. Terserah mau percaya atau engga. Dan lagi—saya tidak stuck saat mengerjakan chapter 12, terbukti dari saya fastupdate kan? Kalau saya stuck, FF ini saya akan telantarkan berminggu-minggu seperti waktu itu(dan saat ini,pfft :v). jujur aja, rasanya menyakitkan dibilang mencuri inspirasi orang lain. Ibaratnya sih kayak penjual yang dapet banyak keuntungan, terus dituduh uang keuntungannya hasil curian. Sakit ngga? Kalau ada yang mau kecewa sama saya karna ada kesamaan cerita, yaudah gapapa—silahkan kecewa. Berhenti membaca dari sini juga ngga apa-apa. saya hanya menerima orang yang MAU membaca aja kok :D Apa keseluruhan cerita saya selama ini sama dengan karya orang lain? Enggak kan? Lalu, apa saya termasuk plagiat? Jika kalian menganggap saya plagiat, tolong berhenti membaca FF saya dari sekarang. saya hanya butuh pembaca yang percaya dengan saya :)
Saya lebih memperhatikan 100 orang yang suka dengan cerita ini daripada satu-dua orang yang gak suka. Lagipula DLDR tertulis jelas di peringatan, jika kalian masih bisa membaca.
Just remember, ini bukan unek-unek! Ini 'hanya' sekedar memberi tahu dan mengingatkan.
Maaf kalo telat update. Udah masuk sekolah. Taulah tugas pelajar—eaa xDD dan buat kasus 'mengambil siswa dari sekolah lain sebagai tumbal' itu emang ada di daerah gue. Beneran terjadi. Kalo ada ulangtahun sekolah lain, pasti ngambil anak dari sekolah musuhnya buat dijadiin 'tumbal' perayaan ulangtahun. Disiksa, terus dibunuh. Gue ngga mau nyebut sekolahnya, pokoknya ada di Jakarta.
oh iya, yang mau liat vidfict 'not perfect' liat aja diakun fb gue. baru semalem gue upload, link fb ada di bio :D
Yaudah deh, bacot banget ini. Semoga chapter depan fastupdate yaaa! Thanks yg udah review, fav, follow—Ailafyuuu /tebar hati/
[17/01/2016, Anggara Dobby]
