©Anggara Dobby
NOT PERFECT
Oh Sehun—Lu Han
.
Warn: YAOI. Slash. Shounen-ai. AU. Typo(s). Boring! DLDR; Don't Like Don't Read; Tidak suka, tidak usah membaca. Easy, right?;)
.
"Kenapa kau baru pulang?"
Suara tegas Oh Seunghyun satu-satunya pemecah keheningan diruang makan selain dentingan garpu dan sendok yang bersentuhan dengan piring. Sehun, sebagai objek yang dituju Ayahnya hanya mengunyah makan malamnya dengan gerakan malas. Pemuda itu menjawab pertanyaan Ayahnya dengan singkat.
"Ayah sudah tahu jawabannya." —tersirat nada kesinisan disana.
Suasana makan malam yang dihadiri oleh Ayah dan dua anak itu berlangsung tidak menyenangkan. Tidak ada pembicaraan hangat diantara ketiganya. Jangankan berbincang, saling memandang pun tidak sama sekali. Seolah-olah mereka hanya rekan kerja yang tidak ada ikatan darah setetespun. Seunghyun, sebagai seorang Ayah, hanya menghela nafasnya dengan berat. Melihat kedua puteranya yang tak kunjung berbaikan, membuatnya merasa tak nyaman. Ini pertemuan pertama mereka setelah dirinya bertahun-tahun tak mengunjungi dua anaknya, tetapi keadaan belum juga membaik. Sehun maupun Junmyeon tidak menanyakan kabarnya sama-sekali, mengulas senyuman kearahnya pun tidak. Melihat kenyataan ini, membuat Seunghyun kecewa. Apa dua anaknya sudah tidak menganggapnya sebagai Ayah lagi?
"Jadi, bagaimana kabar kalian berdua?" Seunghyun mencoba mencairkan suasana dengan pertanyaan klise.
"Seperti yang Ayah lihat." Junmyeon menjawab dengan dingin. Tampak tak tulus sekali.
"Aku baik." Sehun mendongakan kepalanya, mengembangkan senyum tipis kearah Ayahnya. Bagaimanapun juga, Pria dewasa didepannya ini adalah orangtua tunggalnya. Hanya Seunghyun yang Sehun punya didunia ini sebagai orangtuanya. Dia harus bersikap lunak pada Ayahnya itu mulai sekarang.
"Tampaknya kau memang sangat baik, Sehun."
Sehun melihat ada makna lain dari senyuman Ayahnya itu. Pernyataan pria itu tidak ditujukan untuk fisiknya melainkan untuk hatinya. Tetapi Sehun tidak mau menggubrisnya, karna Ayahnya memang tahu segalanya. "Jadi, kenapa Ayah kembali ke Seoul?" tanyanya.
"Aku merindukan kalian berdua."
"Merindukan apa yang telah Ayah telantarkan selama ini?" ujar Junmyeon, dengan raut tenangnya. Tetapi nada bicaranya masih tidak bersahabat dan terkesan sinis. Sehun menyempatkan diri untuk melirik kearah Hyung-nya dengan tatapan tak percaya. Kenapa Junmyeon berbicara seperti itu? Sehun tak menyangkanya sama sekali.
Seunghyun menghembuskan nafasnya, "Aku tidak menelantarkan kalian, Junmyeon."
Junmyeon menyunggingkan senyum tipisnya. "Kau meninggalkan kami bertahun-tahun setelah kepergian Ibu, itu namanya menelantarkan." Kedua alis tebal Seunghyun menukik tajam mendengarnya, tampak tak menyukai perkataan Si Sulung.
"Ayah pikir itu tindakan yang bijak? Disaat kami butuh Ayah karna tidak adanya Ibu, Ayah tidak pernah ada. Kau tidak pernah memikirkan bagaimana kami disini. Lalu, sekarang kau muncul lagi dengan perasaan yang tak bersalah sama sekali. Memangnya aku tidak tahu apa tujuanmu datang kesini? Kau mau menikah lagi, bukan?"
"Oh Junmyeon." Suara tegas nan berat Seunghyun terasa memenuhi sudut ruangan itu. Mata tajamnya mulai menyalang kearah Junmyeon. "Apa seorang anak pantas mengatakan itu pada Ayahnya?"
"Anak tidak akan bersikap kurang-ajar jika Orangtuanya memperhatikannya dengan baik." Junmyeon mengangkat satu sudut bibirnya, menyeringai.
"Jika kau ingin menikah lagi, bawalah keluarga barumu ke Amerika sana. Jangan pernah bawa mereka kerumah ini, karna aku tidak sudi ada orang asing menggantikan posisi Ibu." Desis Junmyeon, setelah itu dia pergi meninggalkan ruangan makan. Dia mendorong kursinya agak kasar dan melangkah tergesa-gesa.
Seunghyun untuk yang kesekian kalinya, menghela nafasnya dengan berat. Ia memijat pelipisnya. Rautnya yang tadinya sempat mengeras, kini berganti dengan raut sedih yang amat kentara. Tampaknya sangat terpukul sekali dengan perkataan Junmyeon tadi. Anak itu sangat berubah, dia tidak lagi menghormatinya sebagai seorang Ayah. Dia bahkan nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja Junmyeon katakan.
Sementara itu, Sehun tidak bisa berkomentar apa-apa. Dia menyetujui semua ucapan Junmyeon, tetapi tidak menyalahkan Ayahnya juga. Hubungan keluarganya benar-benar sudah hancur. Sehun tidak tahu harus bagaimana menyikapinya. Kalaupun Ia bertindak, semuanya akan tambah rumit. Kaca yang sudah pecah akan sulit untuk dirangkai lagi seperti semula. Kalaupun bisa, pasti retakan-retakannya akan terlihat jelas. Tidak sempurna.
"Ayah, informasi apa saja yang disampaikan Zhang Yixing untukmu?" tanya Sehun, mengubah topik pembicaraan.
Seunghyun memandangnya dengan sedikit terkejut, "Kau—darimana kau mengenalnya?"
"Sudahlah, Ayah tidak perlu bertanya apa-apa lagi." Sehun mendesah malas. "Aku bukan anak kecil lagi. Jangan mengawasiku dengan puluhan mata-matamu yang tak berguna itu. Aku bisa menjaga diriku dengan baik."
Zhang Yixing sudah menceritakan semuanya tadi, dengan sedikit paksaan tentunya. Kecurigaan Sehun ternyata selama ini benar. Pemuda berdimple itu adalah kaki-tangan Ayahnya selama setahun terakhir ini. Dia yang selalu membantu Sehun tanpa Sehun ketahui sama-sekali. Dia juga yang selalu membuntuti Sehun kemana-mana dengan penyamaran yang begitu apik. Entah Sehun harus berterima-kasih padanya atau memaki-makinya, karna Sehun tidak menyukai saat dirinya diawasi kemana-mana. Tetapi berkat Zhang Yixing, nyawanya selalu terselamatkan hingga sekarang. perkataan Junmyeon salah, Ayahnya tidak mentelantarkan mereka. Faktanya, Seunghyun sangat memperhatikan mereka walau dengan cara yang berbeda.
"Kau pikir aku bisa tenang jika keseharianmu adalah berkelahi dan terus berkelahi tanpa ada pengawasan dariku?" ujar Seunghyun, memandang putera bungsunya dengan tajam. "Kau bisa mati kapan saja, Sehun."
Sehun mendengus, kesal. "Aku tidak selemah itu."
"Aku tidak percaya. Aku tetap mempercayakan Yixing untuk menjagamu dan Junmyeon."
"Sepertinya Ayah sangat percaya pada Yixing. Kenapa tidak angkat saja dia menjadi anakmu?" ucap Sehun, sakartik.
Seunghyun mengulas senyum miringnya, yang diturunkannya sama persis pada Sehun. "Aku memang berencana seperti itu."
…
"Hyung,"
Sehun melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar luas milik Junmyeon. Kamar yang masih sama seperti dulu saat mereka masih kecil dan senang bermain bersama disini. Kamar yang didominasi warna putih gading dan hijau muda, yang banyak tersusun rapi buku-buku tentang kesehatan. Junmyeon ingin sekali menjadi dokter dari dulu. Sehun merasa bersalah karna Junmyeon tidak bisa bersekolah kedokteran karna dirinya.
"Mau apa kau kesini?" Junmyeon yang tengah berdiri didepan jendela kamarnya itu bertanya tanpa melirik kearah Sehun.
"Aku hanya ingin kau bersikap lunak sedikit pada Ayah, dia tidak seburuk yang kau ucapkan tadi."
Junmyeon mendengus, "Jadi sekarang kau mulai menasehatiku?" Dia membalikan tubuhnya, hingga menghadap ke Sehun. "Kau pikir akar masalah ini darimana datangnya? Itu semua datangnya darimu, Sehun."
Sehun tidak menundukan kepalanya lagi seperti yang lalu-lalu, dia balas memandang tatapan tajam Junmyeon tak kalah dinginnya. Semua perkataan Luhan terngiang-ngiang diotaknya. Dia tidak boleh lagi mengalah pada Junmyeon dan terus-terusan membiarkan dirinya disalahkan atas perkara ini. Hal itu hanya membuat dirinya lebih tertindas dan disalahkan.
"Karna akulah penyebab kematian Ibu, itu yang mau kau katakan 'kan?" ucap Sehun dengan datar.
Junmyeon mengulas senyum mencemoohnya. "Kenyataan yang berkata seperti itu."
"Sampai kapan kau menganggap kesalah-pahaman itu adalah kenyataan?" geram Sehun. "Akhiri semua ini, hyung. Dendammu terhadapku itu tidak ada gunanya sama sekali, itu hanya membuat hidupmu dipenuhi bayang-bayang kemarahan yang tak berarti."
"Kau memang keparat, Sehun. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakan kesalahan terbesarmu itu."
"Disini kau yang bersalah, Junmyeon." Desis Sehun. "Akar permasalahan ini terjadi karnamu. Kau menuduh adikmu sendiri yang membunuh Ibu, karna itu semua orang juga menganggap seperti itu. Hidupku berantakan karna dirimu! Semua orang menganggapku sebagai anak kejam yang tega membunuh Ibunya yang tengah mengandung. Bahkan seluruh anggota keluarga juga menganggapku seperti itu. kau pikir, bagaimana perasaanku?"
Nada bicara Sehun meninggi. Matanya semakin menyalang tajam kearah Junmyeon, nafasnya pun mulai tak beraturan seiring amarahnya yang bergulung-gulung. Dia ingin mengungkapkan semuanya sekarang. mengungkapkan seluruh amarah dan rasa kecewanya pada Junmyeon yang selama ini selalu Ia pendam dalam-dalam. Sehun tidak bisa terus-menerus hidup dengan rasa bersalah—yang bahkan dirinya tidak bersalah sama sekali, sebenarnya— kondisi seperti ini hanya membuat hatinya digerogoti luka-luka tak kasat mata karna perlakuan Junmyeon. Dia ditendang kedasar jurang gelap yang hanya ada dirinya disana. tanpa ada siapapun yang menemaninya, hanya suara teriakan-teriakan penuh dendam yang memenuhi pikirannya. Bertahun-tahun Sehun tak bisa menggerakan wajahnya untuk mengulas sebuah senyuman, dan selama itu pula yang dipenglihatannya hanya warna abu-abu. Semuanya hancur berantakan.
Dan kini, Dewi Aphrodite mempertemukannya dengan Luhan. Sosok manis yang berhasil mengembalikan semuanya. Senyumnya, warna-warni pada hidupnya, kebahagiaannya. Tetapi tidak untuk senyum dari Keluarganya. Sehun masih belum bisa mendapatkan kebahagiaan dari keluarganya.
Atau memang tidak akan pernah bisa..
"Junmyeon hyung," lirih Sehun dengan sedikit helaan nafas halus keluar dari bibirnya, "Apa tidak ada sama sekali setitik kepercayaanmu untukku? Aku jadi seperti ini karna dirimu. Aku pembangkang, Aku biang onar, aku dibenci semua orang—itu semua karna aku merasa tidak ada lagi yang menyayangi diriku. Kau adalah Kakakku yang paling kusayangi dan kuhargai, tetapi sampai saat ini kau bahkan tak menganggapku sebagai adik. Berpikirlah dengan logis, mana mungkin aku membunuh Ibu? Kenapa kau terus memenuhi hidupku dengan tudingan-tudinganmu itu?"
Sehun mengepalkan tangannya kuat-kuat seiring airmatanya yang meluncur bebas dari matanya. Sudah cukup! Sehun tidak bisa menahannya lagi. Dia tidak bisa terus-terusan bertahan dibalik wajah datar dan sikap acuh tak acuhnya. Hidupnya sangat pahit. Perkataan Luhan sepenuhnya benar—dirinya terlihat sempurna diluar, tetapi kenyataannya dia sangat rapuh. Sehun butuh seseorang untuk menopang tubuhnya. dia tidak sekuat yang orang-orang bicarakan diluar sana dengan mulut cicitan burung mereka. Kenyataannya, Sehun juga hanya seorang manusia yang bisa merasakan sedih dan senang dalam hidupnya.
"Hidupku hancur karna kesalah-pahaman ini, hyung.."
Junmyeon hanya terdiam mendengarkan kalimat per-kalimat yang terlontar dari bibir Sehun. Bahkan tangannya yang tadinya ingin mencengkeram kerah baju Sehun kini hanya dikepalnya erat-erat. Rongga dadanya terasa menyempit mendengar ucapan Sehun. Menyesakan sekali. Dia tidak tahu perasaan apa ini. Namun, melihat Sehun yang menunjukan sisi lemah dihadapannya itu membuat Junmyeon diselimuti rasa bersalah yang mendalam.
"Silahkan pukul aku lagi, hyung. Bukankah itu yang selalu kau lakukan terhadapku?"
Junmyeon memejamkan matanya sesaat. Tenggorokannya serasa tercekat, dia berusaha mengeluarkan makian terhadap Sehun tetapi rasanya sulit sekali.
"Keluarlah dari sini." Hanya itu yang bisa diucapkan Junmyeon. "Kubilang, Keluar!" Junmyeon meninggikan suaranya melihat Sehun masih terdiam didepannya.
Junmyeon mengepalkan tangannya, dan memukul dinding didepannya dengan sangat keras setelah kepergian Sehun. Airmatanya tidak bisa lagi dibendung. Tetesan-tetesan itu mengalir bebas dari matanya. Tangannya tidak berhenti memukuli dinding didepannya, dia bahkan tidak peduli pada rasa sakit yang menjalari tangannya yang nyaris mulai membiru. Rasa sakit pada rongga dadanya lebih perih dari apapun.
Saat ini Junmyeon berada di ujung kegelapan yang sangat menyiksa. Dia diselimuti perasaan bersalah dan amarah yang menumpuk-numpuk. Dia tahu jika selama ini bukan Sehun yang menghilangkan nyawa Ibunya. Dia tahu. Karna Junmyeon yakin, adiknya tidak akan melakukan hal itu. tetapi setiap kali melihat wajah Sehun, yang terlintas adalah wajah pucat Ibunya yang sudah meninggal. Hal itu menyebabkan Junmyeon sangat membenci Sehun. Entah sampai kapan ini akan terjadi. Yang pasti, Junmyeon belum bisa menerima kembali Sehun sebagai Adik tersayangnya lagi.
Hidupnya hancur karna kepergian Ibunya.
Dan hidup Sehun pun hancur karna kesalah-pahaman yang dibuat olehnya.
…
Dua hari sudah berlalu begitu saja, dan kejadian perkelahian antar sekolah masih membayang-bayangi Luhan. Hari ini Kyungsoo diperbolehkan pulang oleh pihak Rumah Sakit. Keadaannya cukup membaik, walau cedera dibeberapa bagian tubuhnya masih belum mengering. Tak tanggung-tanggung, kedua orangtua Kyungsoo—terutama Tuan Do yang amat murka—langsung menuntut pihak sekolah yang menaungi kawanan yang menghajar Kyungsoo, bahkan hari ini Tuan Do langsung memindahkan putra tunggalnya ke sekolah lain. Kyungsoo resmi pindah sekolah. Sementara Luhan, harus tetap berada di OX 86 High School. Dia sudah kelas dua-belas, tidak mungkin harus pindah ke sekolah lain. Karna Ujian Sekolah juga akan diselenggarakan akhir bulan ini. Luhan terpaksa tetap disana, walau kenyataannya dia ingin sekali pindah sekolah bersama Kyungsoo.
Luhan menendang-nendang kerikil khayalan didepannya, seraya berjalan menuju ruang rawat Baekhyun dengan langkah gontai. Suasana hatinya sedang tidak baik. Dia juga ingin pindah sekolah. Sehun dan kawanannya di skors selama seminggu akibat perkelahian kemarin, dan hal itu membuat Luhan tidak bertemu dengan Sehun selama dua hari ini—karna kekasihnya itu sedang di 'kurung' oleh Ayahnya yang tengah berada di Seoul. Luhan merasa lucu saat mengingat Sehun tidak henti-hentinya mengiriminya pesan dan menghubunginya setiap saat. Pemuda itu malah terlihat seperti remaja-remaja labil yang sedang dimabuk cinta, bedanya Sehun tidak menggunakan emoticon disetiap teks pesannya. Sehun mana mungkin melakukan hal menggelikan itu.
Luhan membuka pintu ruangan didepannya. Chanyeol menyuruhnya untuk menemani Baekhyun yang belum sadar untuk saat ini, karna pemuda jangkung itu sedang pergi—entah kemana.
"Kau sudah sadar?" mata Luhan berbinar melihat sosok mungil diatas ranjang rawat itu sedang terduduk dengan mata yang sudah terbuka lebar. Luhan segera menghampiri Baekhyun dengan langkah riang, yang dibalas oleh Baekhyun dengan pandangan bingung.
"Ya, pagi tadi aku terbangun. Tetapi tidak ada siapa-siapa yang menemaniku disini."
Luhan bisa melihat sirat kekecewaan dari nada Baekhyun. Lantas, pemuda cantik itu mengembangkan senyum kekanakannya untuk menghibur Baekhyun. "Semalam Chanyeol menginap disini. Dia memang selalu disampingmu sejak kau koma, asal kau mau tahu. Tapi pagi ini dia bilang mau pergi, aku tidak tahu kemana."
Baekhyun mengedip-ngedipkan mata sipitnya melihat Luhan berbicara dengannya dengan begitu akrab, seolah-olah mereka selama ini adalah teman dekat. "Luhan, aku tidak ingat kita sudah berteman. Kau bahkan belum mengenalku, kenapa rasanya kau bersikap seolah-olah kita ini teman?"
Luhan hanya tersenyum tipis mendengarnya. "Aku membawakanmu banyak buah-buahan." Dia mengangkat sekantong plastik besar berisi buah-buahan yang dibelinya sebelum ke Rumah Sakit.
Baekhyun mendengus. "Kau tidak menjawab pertanyaanku."
"Apa salahnya aku bersikap seolah-olah kita ini teman dekat? Siapa tahu suatu saat nanti kita benar-benar menjadi teman."
Baekhyun tidak berkata apa-apa lagi setelah itu. Tidak tahu harus menjawab apa dan bagaimana. Baru kali ini ada orang yang ingin menjadi temannya, padahal mereka tidak saling mengenal. Luhan itu memang luar biasa sekali, pantas saja Sehun tunduk kepadanya—pikir Baekhyun.
"Bagaimana keadaanmu? Kakimu sudah baikkan?"
"Aku tidak berani mengatakan jika aku baik-baik saja. Kaki kananku kebas, aku sempat berpikir bagian sana sudah lumpuh atau yang lebih parah sudah diamputasi. Sebenarnya ada apa dengan kaki kananku?" Baekhyun memandang Luhan dengan pandangan bertanya bercampur takut. Saat dia tersadar tadi pagi, yang Ia lakukan hanya menangis karna kaki kanannya tidak bisa digerakan sama sekali. Perawat yang mengantarkan sarapannya hanya tersenyum dan berkata 'Kakimu akan sembuh beberapa hari kedepan, tenang saja.'—dengan entengnya. Dia nyaris saja ingin memaki-maki perawat itu. Baekhyun mana mungkin bisa tenang, dia takut terjadi apa-apa pada salah satu bagian tubuhnya.
"Kau patah tulang." Ringis Luhan. "Untuk beberapa hari ini, kau memang tidak diperbolehkan untuk berjalan dulu."
Baekhyun mengeluarkan desahan halus dari bibirnya. Tampak sangat tidak puas dengan jawaban Luhan.
"Kau mau buah? Aku akan mengupaskannya untukmu."
Baekhyun mengangguk dan membalas senyuman Luhan. Namun masih terlalu canggung. Mereka tidak dekat sama sekali, Baekhyun tidak tahu harus bersikap bagaimana.
"Baekhyun-ssi, aku ingin bertanya padamu. Apa selepas kejadian ini kau akan berhenti berkelahi?" tanya Luhan seraya menyodorkan sepotong apel pada Baekhyun.
Baekhyun terdiam beberapa saat. Sesekali ekor matanya melirik kearah kaki kanannya yang terbalut lilitan perban. "Aku… tidak tahu." Jujur saja, Baekhyun agak mengalami trauma pasca kecelakaan ini. Dia takut seumur hidupnya akan terus diatas kursi roda atau kruk, tidak bisa lagi berjalan seperti orang normal lainnya. Saat ini dia memang selamat dari kematian atau ancaman hilangnya kaki kanannya, tetapi siapa tahu dihari esok Ia benar-benar akan kehilangan salah satu bagian tubuhnya? itu adalah bayangan yang sangat mengerikan. Namun, jika Ia berhenti melakukan tindakan yang sangat-bukan-pelajar-sekali, dengan siapa dirinya berteman? Kehidupan Sehun dan teman-temannya memang seperti ini. Selalu dilingkupi bahaya dan ancaman kematian yang membayang-bayangi otak. Itu sudah resiko Baekhyun yang menjalin pertemanan dengan Sehun dan yang lainnya.
"Saranku, sebaiknya kau berhenti. Jika orangtuamu melihatmu seperti ini, mereka pasti akan sedih. Lagipula, apa kau tidak sayang pada tubuhmu sendiri? Kejadian seperti ini hanya akan membuat satu per-satu bagian tubuhmu akan hilang." Ujar Luhan.
Sedikit bingung dengan Baekhyun, disaat keadaannya memburuk seperti ini dimana orangtuanya? Sejak hari pertama pemuda itu dirawat disini, tidak ada tanda-tanda sanak keluarganya akan datang. Hanya Chanyeol dan yang lainnya saja yang menjaga Baekhyun.
Suara decitan pintu yang terbuka, membuat Baekhyun dan Luhan menoleh bersamaan kearah sana. Chanyeol, Kai dan Chen datang dari sana bersamaan. Tiga orang itu tampak terkejut melihat Baekhyun yang sudah membuka matanya kembali.
"Baekhyun.." Chanyeol bergumam, dengan pandangan mata tertuju pada satu fokus. Baekhyun. "Kau sudah sadar?" imbuhnya, lalu berjalan dengan tergopoh-gopoh kearah Baekhyun.
"Bagaimana keadaanmu?" Chanyeol dengan wajah berseri-seri, menangkup wajah mungil Baekhyun dengan dua tangannya. Bisa dia rasakan, kini kulit pemuda manis itu kembali menghangat lagi tidak seperti dua hari yang lalu, terasa amat dingin. Chanyeol senang sekali melihat Baekhyun sudah sadar. Matanya yang semula redup, kini bersinar lagi. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain kenyataan ini.
"Aku baik-baik saja, Chan." Baekhyun mengulas senyumnya yang sangat manis dan melumpuhkan itu.
Chanyeol dengan wajah—yang masih—berseri-seri, segera meraih tubuh Baekhyun dan membawanya kedalam dekapannya. Melampiasakan rasa bahagia dan leganya. Semua kekhawatirannya akhir-akhir ini yang menumpuk-numpuk dibahunya terangkat sudah.
Sementara itu, Luhan tersenyum kecil dan memberi kode pada Chen dan Kai untuk segera meninggalkan ruangan ini. Setidaknya, Baekhyun dan Chanyeol butuh waktu untuk berdua saja saat ini.
"Mencari Sehun?" Chen menyunggingkan seringaiannya melihat Luhan melirik-lirik kesegala arah setelah mereka keluar dari ruang rawat Baekhyun. Luhan terlihat salah tingkah saat itu juga, membuat Chen dan Kai nyaris tertawa melihatnya.
"Kau mau bertemu dengan kekasihmu?" kali ini Kai yang mencoba mengajak berbicara Luhan.
"Aku—"
"Dia sudah ada di Apartmennya. Malam ini kau temui saja dia, karna nanti malam dia akan pergi untuk balapan." Ujar Kai. "Asal kau tahu saja, Luhan. di area pertandingan itu banyak sekali gadis-gadis cantik nan seksi yang mencoba mendekati kekasihmu itu. kau tidak takut… Sehun akan berpaling?"
Chen hanya mengangguk-angguk, mengiyakan semua perkataan Kai yang enampuluh persen benar dan sisanya adalah kedustaan yang dibuat-buat. "Sebaiknya kau temui dia, sebelum Sehun berakhir tidur seranjang dengan salah satu wanita disana," tukasnya. Dia melihat perubahan pada wajah Luhan. Mata rusanya sedikit membulat dan berkedip-kedip lucu. Sebuah kenyataan yang pahit sekali mengingat Luhan lebih tua darinya, tetapi wajahnya terlihat seperti bocah umur lima tahun.
Chen kemudian melingkarkan lengannya pada bahu Luhan, merangkulnya dengan sok akrab. Yang diyakini jika Sehun melihatnya maka habislah riwayat hidup Chen.
"Aku punya usul jika kau mau bertemu dengan Sehun malam ini." Chen menyunggingkan senyum miringnya pada Luhan yang masih terdiam. Dia dan Kai menyeringai bersamaan dan mulai membisiki Luhan kalimat-kalimat provokasi yang nantinya akan menyusahkan Sehun.
Andai saja Luhan itu tidak terlalu polos.
…
"Kau mau membawaku kemana?" tanya Baekhyun saat Chanyeol menggendongnya dan menyuruhnya duduk diatas kursi roda. Baekhyun benci sekali melihat dirinya yang seperti ini. Terlihat sangat lemah, seperti seseorang yang mengidap penyakit ganas.
Chanyeol tidak menjawab pertanyaannya. Pemuda itu hanya mendorong kursi roda yang diduduki Baekhyun menuju halaman belakang Rumah Sakit.
"Aku bahkan baru tersadar tadi pagi, dan kau sudah mengajakku untuk jalan-jalan seperti ini? Bagus sekali." Ujar Baekhyun setengah sakartik. Dia menekuk wajahnya manisnya dengan sebal. Sejauh matanya memandang, hanya ada perawat-perawat dan beberapa pasien yang berlalu lalang. Tidak ada yang menarik sama sekali disini.
"Kau butuh udara segar, sayang."
"Berhenti memanggilku dengan sebutan seperti itu!" desis Baekhyun. Dia merasakan kursi rodanya tidak berjalan lagi, tepat ditengah-tengah halaman Rumah Sakit. Dimana banyak anak-anak kecil bermain disana, dan beberapa pasien tua yang berjalan pelan-pelan didampingi perawat. Mungkin para manula itu sedang melatih otot kaki mereka.
Chanyeol berjalan ke hadapannya, dan berjongkok dengan senyuman—yang menurut Baekhyun—sungguh menawan.
"Kenapa?" tanya Chanyeol. "Aku senang memanggilmu seperti itu."
Baekhyun lebih memilih memandangi kakek tua yang berlatih berjalan didepan sana, daripada harus melihat wajah Chanyeol yang tengah memandanginya penuh kasih. Angin sore hari menerpa kedua pipi gembil Baekhyun yang memerah tipis, membuat wajahnya terlihat lebih manis. Baekhyun tidak bisa bertahan dengan situasi seperti ini. Dia berharap Kai atau Chen datang untuk mengubah atmosfer disini.
"Karna kita hanya teman, jangan memanggilku seperti itu lagi." Ujar Baekhyun, setelah duapuluh detik terdiam. Nada bicaranya terdengar memerintah, tetapi diucapkannya nyaris seperti bergumam.
Anehnya, Chanyeol malah melebarkan senyumnya dan meraih tangan Baekhyun untuk digenggamnya. "Siapa bilang? Aku 'kan kekasihmu."
Baekhyun menoleh kearah pemuda tinggi itu dengan pandangan bingung. Pandangan yang menyiratkan 'sejak-kapan-kita-berpacaran?'
"Sekarang, aku adalah kekasihmu. Dan kau adalah kekasihku." Chanyeol memainkan jemari mungil yang –entah kenapa bisa— lentik milik Baekhyun. Dibawanya genggaman tangan itu kearah hidungnya, dan diciumi beberapa kali. Membuat Baekhyun hanya mampu terdiam seraya membuka-menutup kelopak matanya.
"…Apa kau sedang menyatakan perasaanmu?" tanya Baekhyun.
Sorot mata Chanyeol sangat lembut dan melumpuhkan, membuat Baekhyun tak kuasa menahan degupan jantungnya yang luar-biasa cepat.
"Kau tahu aku bukan orang yang romantis, Baek. Dan sampai kapanpun tidak akan pernah jadi seperti itu. Aku mencintaimu, dan kau pun juga. Kita saling mencintai. Jadi, apa salahnya sekarang kau harus menjadi kekasihku?"
Sebuah kalimat yang Baekhyun tunggu-tunggu selama ini akhirnya terlontar juga dari bibir Chanyeol. Mendadak kedua sudut bibirnya tertarik, membuat lengkungan senyum yang sangat manis. Baekhyun tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya saat ini. Pernyataan yang tak terduga dari Chanyeol, mampu membuat suasana hatinya membaik kembali—bahkan sangat baik dari hari-hari sebelumnya.
Chanyeol yang masih menggenggam tangan Baekhyun ikut tersenyum melihat raut wajah Baekhyun yang begitu menggemaskan. "Hey, jawab." Ujar Chanyeol, seraya mencolek hidung Baekhyun dengan iseng. "Kau harus mau menjadi kekasihku, karna aku tidak suka penolakan."
Baekhyun tertawa kecil, "Itu pemaksaan, bodoh."
"Aku yakin kau tidak terpaksa sama-sekali."
Baekhyun hanya tertawa dengan rona merah menjalari pipinya. Chanyeol tidak kuasa menahan hasratnya untuk memeluk tubuh mungil Baekhyun. Dia mengecupi beberapa kali bahu Baekhyun dengan sayang.
"Katakan kalau kau mencintaiku." Bisik Chanyeol.
"Aku mencintaimu, Chanyeol."
Chanyeol tersenyum, entah untuk yang keberapa kalinya. "Aku lebih mencintaimu." Dalam hati berterimakasih pada Luhan yang sudah menyadarkan dirinya.
…
Sehun terduduk ditepi ranjangnya menunggu balasan pesan dari Luhan—yang sampai sekarang juga tak kunjung membalasnya. Dia mencoba menghubungi rusa manis itu tetapi hasilnya menjengkelkan; Luhan tidak mengangkatnya sama sekali. Hal ini membuat kedua alisnya menukik tajam dengan wajah bersungut-sungut kesal. Dimana Luhan saat ini? Mengapa tidak membalas pesannya sekalipun? Tidak tahukah Luhan jika Sehun sangat merindukannya?
'Aku baru tahu jika cinta itu banyak sekali rasa-rasanya.'—pikir Sehun, setengah geli.
Tidak bertemu dengan Luhan selama dua hari membuat Sehun cukup uring-uringan. Kedatangan Ayahnya ke Seoul sungguh membawa malapetaka untuknya. Siapa yang mengira jika Seunghyun sampai mengurungnya dirumah hanya karna dirinya yang di skors akibat perkelahian kemarin? Sehun tak habis pikir pada Ayahnya yang masih saja memperlakukannya layaknya anak SMP yang baru beranjak remaja. Bukannya dia tak mau melawan Ayahnya—dia bahkan sempat mencoba melarikan diri kemarin, kalau saja beberapa pelayan tidak memanggil Ayahnya—tetapi sekarang masa 'pengurungannya' sudah habis. Maka dari itu disinilah dia berada. Tempat tinggalnya yang sesungguhnya. Apartmen yang sudah dihuninya dua tahun belakangan ini. Sehun memilih untuk tetap disini, daripada harus bersitatap tajam dengan Junmyeon setiap hari dirumahnya.
Ting Tong!
Sehun beranjak dari tempat duduknya dengan malas-malasan kala suara belnya berbunyi nyaring. Mungkin itu Kai atau Chen yang datang. Dengan mata yang terus tertuju pada layar smartphone-nya, berharap Luhan membalas pesannya. Dia menarik gagang pintu, membukanya.
Mengejutkannya, seseorang yang bertamu malam-malam ketempat tinggalnya adalah—
"Luhan?"
—Dengan tampilan tak kalah mengejutkan.
Sehun merasa rahangnya akan jatuh saat itu juga kelantai, kalau saja dia tidak ingat bahwa ekspresi itu sangatlah-tidak-Oh Sehun. bagaimana dia tidak membuka kedua belah bibirnya kalau dihadapannya Luhan —yang dia ingat adalah kekasih manis nan polosnya— berpenampilan… rock and roll? Entahlah, Sehun tidak bisa mengidentifikasikan secara rinci. Jaket hitam, T-shirt hitam dengan gambar kepala tengkorak—skull—, Jeans hitam yang bagian lututnya sengaja dirobek dan piercing perak cantik menggantung ditelinga kanan. Luhan terlihat berbeda sekali. Benar-benar berbeda. Sehun bahkan mengira ini hanya delusi anehnya saja akibat tidak bertemu kekasih manisnya selama dua-hari. Tetapi saat melihat mata rusa yang sudah dihiasi eyeliner itu berkedip-kedip, membuat Sehun yakin jika dihadapannya memanglah Luhan-nya.
"Aku ingin ikut duel race malam ini." Adalah kalimat pemecah keheningan diantara keduanya yang berasal dari bibir merah delima Luhan. kalimat yang bahkan tidak dibayangkan oleh Sehun samasekali.
"Apa?" Sehun sepertinya tuli mendadak. Dia masih terhanyut dengan wajah cantik Luhan yang sangat berbeda malam ini.
Luhan menghentakan kakinya sekali, membuat Sehun nyaris mendengus geli. "Aku ingin ikut balapan." Ujarnya penuh penekanan.
Sehun tersenyum miring, "Pernahkah aku bilang kau terlihat seksi dengan piercing dan eyeliner?" diselingi kerlingan mesum yang kentara sekali.
Luhan tampak bingung sesaat karna jawaban Sehun yang out of topic itu. Tetapi wajahnya berubah sebal melihat tatapan Sehun yang seolah-olah ingin menelanjangi dirinya. "Sehun, aku bilang aku ingin ik—H-hei!"
Ucapan Luhan harus terputus karna Sehun meraih pinggang rampingnya kedalam, dan menutup pintu Apartmennya menggunakan kaki kirinya. Sehun menyudutkan diri Luhan pada dinding, dan itu bukanlah pertanda bagus untuk Luhan. Tubuhnya terhimpit antara dinding dibelakangnya dan Sehun didepannya.
"S-sehun?" Luhan menahan dada bidang Sehun agar pemuda itu tidak berbuat apa-apa padanya. Tetapi yang ada, Sehun dengan mudah menarik dagunya dan mencium bibirnya saat itu juga. Tangan Luhan yang berada didada Sehun seolah-olah tak berarti, pada akhirnya Luhan memilih membiarkan tangannya turun perlahan dan memegang pinggang Sehun. Dia sudah tahu kejadiannya akan seperti ini, karna saat saling mengirim pesan, Sehun selalu mengatakan akan mencium bibirnya ketika mereka bertemu. Apapun, dan dimanapun itu. Luhan merasa Sehun berkali lipat lebih mesum saat berpacaran dengannya.
Luhan bergerak gelisah dalam himpitan tubuh besar Sehun. Ciumannya semakin menuntut dan terburu-buru. Dia tidak bisa mengimbanginya.
Sehun akhirnya menyudahi lumatannya pada bibir Luhan setelah menit ketiga. Dia mengusap sudut bibir Luhan yang terdapat jejak saliva dengan ibu jarinya. "Kenapa tiba-tiba kau datang kemari dan mengatakan ingin ikut balapan?" tanyanya setengah terengah. Nafsunya tiba-tiba saja membludak saat melihat Luhan. Ini mengerikan.
"Aku hanya ingin ikut denganmu." jawab Luhan. Dengan ragu, memeluk pinggang Sehun dengan kedua tangannya. Entah itu semacam godaan atau bukan, tetapi Sehun menikmatinya.
"Tapi malam ini aku tidak ada duel."
"Kai dan Chen bilang kau akan pergi bertanding malam ini."
Sehun mengernyitkan dahinya. Dia merasa ada yang tidak beres disini. "Apa mereka juga yang mendandanimu seperti ini?"
Luhan mengangguk-angguk, "Ya. Chen bilang anak balapan seperti ini penampilannya." Jawabnya dengan lugu.
Sehun memejamkan matanya sesaat, berharap dengan tertutupnya kelopak matanya dapat meledakan Chen dan Kai saat ini juga. Dua anak itu—Sehun akan mematahkan tulangnya karna sudah berani mengelabui Luhan. Lihat saja nanti.
"Bukan seperti ini, Lu. apa kau pernah lihat aku berpakaian seperti ini?" ujarnya. Luhan menggeleng sebagai jawabannya. Sehun tersenyum mencela, "Kau malah terlihat seperti rocker gagal."
Luhan mencebikan bibirnya, jengkel. "Jadi aku dibohongi?"
Sehun menghela nafasnya dramatis dan mengangguk. "Sialnya, iya." Pemuda tampan itu memainkan piercing cantik ditelinga Luhan dengan senyuman miring "Tapi keuntungannya adalah kau ada disini. Bersamaku. Hanya berdua."
Luhan mengembangkan senyum kecilnya, dengan sapuan merah tipis dipipinya. Dia membalas pandangan Sehun. "Apa kau merindukanku?" tanyanya dengan malu-malu.
Dan ciuman lembut yang diberikan Sehun adalah jawabannya.
…
"Sehun, aku ingin bertanya padamu." Ucap Luhan dengan tangan yang sibuk menekan-nekan tombol remote teve, menukar-nukar channel sesuka hatinya.
"Lalu, tanyalah." Sehun yang bersandar disofa itu tengah memainkan helaian rambut halus Luhan dengan iseng. Kepala Luhan bersandar pada dadanya, dan Sehun senang melihat Luhan seperti kucing yang ingin bermanja-manja seperti saat ini. Karna Luhan jarang sekali—atau mungkin tidak pernah—bersikap seperti ini.
"Kemana Orangtua Baekhyun?"
Kedua alis Sehun menaut, "Kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu?"
"Pertanyaan itu untuk dijawab, bukan untuk ditanya lagi." Gerutu Luhan.
Sehun menarik hidung Luhan cukup keras, membuat pemiliknya memekik kesal. "Kenapa kau senang sekali menggerutu padaku, huh?"
"Karna aku senang membuatmu kesal," adalah jawaban menyebalkan dari Luhan. Sehun hanya memutar bolamatanya imajinatif.
"Kau tahu 'kan kalau sejak hari pertama Baekhyun dirawat hingga dia pulih, tidak ada satupun keluarganya yang menjenguk? Aku ingin bertanya kemana orangtuanya, tetapi aku takut menyinggung perasaan Baekhyun." Ujar Luhan.
"Kau harus tahu, Lu. jika diantara aku dan teman-temanku sekarat, kau tidak akan melihat satupun Orangtua kami yang menjenguk. Bahkan jika kami mati sekalian, mereka hanya akan melihat selama beberapa menit lalu sesudah itu menjalani hidup seperti biasa lagi."
Luhan memutuskan kontak matanya pada layar teve yang menayangkan animasi kartun didepannya, dan mendongak untuk memandang Sehun. Dia agaknya terkejut dengan jawaban Sehun. "Mengapa seperti itu?"
Sehun menggeleng kecil, "Mana kutahu. Tanyakan saja pada Orangtua kami."
"Luhan, kau tahu apa alasannya aku melarangmu untuk berteman dengan teman-temanku?" tanya Sehun. Luhan hanya menggeleng sebagai jawabannya. Beberapa menit yang lalu, Sehun memang melarangnya dengan tegas untuk tidak terlalu dekat dengan Kai, Chen maupun Chanyeol—hal itu menimbulkan rasa tidak suka Luhan pada Sehun. Memang apa salahnya berteman dengan Kai, Chen, Chanyeol ataupun Baekhyun? Tidak ada pasal yang melarang untuk menjalin pertemanan 'kan?
Sehun memandang Luhan dengan sorot mata sungguh-sungguh. Pandangan yang menyiratkan jika Luhan harus mendengarkan kata-katanya dan menurutinya. "Hidupmu masih sempurna. Kau masih memiliki Orangtua yang sangat menyayangimu, dan kehidupan yang bahagia. Tidak seperti aku dan teman-temanku.."
Luhan masih terdiam, mendengarkan.
"Kami hanya anak-anak sampah, yang senang mencari keributan disana-sini. Semua orang membenci kami. Jangan merusak hidupmu hanya karna berteman dengan kami. Kau mengerti maksudku 'kan?"
Ini yang keberapa kalinya Luhan melihat sisi lain dari Oh Sehun. Saat ini dia terlihat begitu dewasa—dan juga ada sekilat rasa sedih dari nada ucapannya. Luhan memang belum tahu banyak soal Sehun, tetapi dia cukup peka untuk menangkap jika Sehun tidak sekuat yang kelihatannya. Mendadak Luhan ingin membawa kabur Sehun ke Beijing dan mengajaknya tinggal bersama dengan tenang disana. Tapi itu terdengar sinting sekali.
"Apa aku juga harus menjauhimu?" tanya Luhan, dengan nada yang tidak rela sekali. Mereka baru saja menjalin hubungan selama seminggu, dan Luhan tidak siap—dan tidak akan pernah—jika harus berpisah dengan Sehun. Seburuk-buruknya Sehun dimata semua orang, tetapi dimata Luhan, Sehun tetaplah sosok yang membuatnya bahagia.
Sehun mengulas sebuah senyuman menawan yang sangat disukai Luhan. Tangannya terjulur, mengelus-elus surai coklat Luhan.
"Kau kekasihku, Luhan. Satu-satunya orang yang paling kuharapkan akan terus bersamaku sampai kapanpun. Jangan pernah meninggalkanku. Karna aku akan membahagiakanmu apapun caranya, bukan menjerumuskanmu kedalam masalah-masalahku. Kau tidak boleh masuk sedikitpun kedunia kelamku, cukup temui aku sebagai kekasihmu. Karna aku akan menjadi sosok yang berbeda saat bersamamu."
Luhan tersenyum begitu manis, dan segera memeluk tubuh hangat Sehun dengan erat. Perasaan ini… Luhan tidak bisa menjelaskannya. Jantungnya selalu melonjak-lonjak senang ketika bersama Sehun. Seolah-olah kebahagiaannya didunia ini semuanya bersumber dari Sehun. Dia lega sekali mendengar pengakuan Sehun. Itu sudah cukup menjelaskan semuanya.
"Dulu aku sangat membencimu, tapi sekarang setiap detiknya aku merasa rasa sayangku selalu bertambah untukmu." Luhan tertawa dengan pipi yang memerah disela-sela ucapannya.
Sehun terbahak mendengarnya, "Darimana kau belajar menggombal?" tangannya ikutserta melingkari tubuh mungil Luhan.
"Tentu saja darimu."
Sehun semakin tertawa mendengarnya. Entah bagaimana bisa, semua yang dilakukan Luhan terlihat menggemaskan dimatanya. Dunianya menjadi indah sekali sejak kehadiran Luhan dihidupnya. Semua terasa begitu menyenangkan dilakukan. Tidak ada lagi malam-malam gulita yang dipenuhi setumpuk masalah pembuat pusing otak, sekarang Luhan selalu hadir dimalamnya dan memberikannya sebuah senyum dan tawa menyenangkan hati. Sehun memang benar-benar menjadi sosok yang berbeda—jika bersama Luhan.
"Kenapa kau manis sekali, Lu?" tanya Sehun, yang malah lebih mirip sebuah pernyataan. Kedua tangannya menangkup wajah Luhan, dan menggerakannya kesana-kemari. Memperlakukannya seolah-olah Luhan adalah bayi dibawah umur tiga tahun.
Luhan memasang wajah tidak sukanya, "Aku ini tampan!"
"Jangan bercanda."
"Jika aku bercanda maka kau akan tertawa, Sehun." desis Luhan, geram. Sehun malah terkekeh dan dengan gencar menghujani wajah Luhan dengan kecupan-kecupan ringan. Si manis itu hanya tertawa riang seraya mendorong-dorong tubuh Sehun agar menjauh darinya. Tetapi yang terjadi adalah tubuhnya terbaring diatas sofa, dengan Sehun yang menindihnya. Rupanya, Luhan memang selalu kalah dengan Sehun.
"Kau pintar sekali membalikan kata-kataku," puji Sehun.
"Aku tidak nyaman seperti ini. Kau berat." Ujar Luhan, mengeluh. Dia menghindari berkontak mata dengan Sehun, karna dia takut pemuda itu melihat wajahnya yang memerah. Sehun itu 'kan senang sekali mengejeknya.
Sehun menyeringai, "Aku nyaman. Sangat." Dengan hidung dan bibir yang sudah menjalar ke perpotongan leher Luhan. Mengendusnya seperti binatang, dan menciuminya dengan sensual.
Luhan bergerak-gerak gelisah. "Jangan mulai, Sehun."
"Luhan, jangan bergerak seper—Aahh,"
Luhan melebarkan matanya, dengan refleks menghentikan semua pergerakan tubuhnya. "Y-Ya! Jangan mendesah!" serunya dengan wajah semakin memerah. Tubuhnya meremang mendengar desahan berat Sehun tepat ditelinganya. O-oke, Luhan akui itu cukup menggairahkan dan seksi, tapi—Sial! jika sudah seperti ini dia tidak akan pulang dengan selamat.
"Kau menggesekan pahamu dipenisku." geram Sehun. Mata tajam bak manik elangnya mulai dipenuhi kabut-kabut gairah yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Kebersamaannya dan Luhan memang selalu berujung seperti ini. Entah feromon Luhan yang terlalu berbahaya, atau hormon dirinya yang berlebihan, Sehun tidak tahu pasti.
"S—sehun!" Luhan hanya bisa pasrah dan menerima saat Sehun menyerang bibirnya dengan bar-bar. Memangnya dia bisa melakukan apa dengan kekuatan yang jauh lebih kecil dari kekuatan Sehun?
"Bagaimana kalau kita melanjutkan yang di Rumah Sakit waktu itu?" tanya Sehun, setelah menyudahi lumatannya pada bibir Luhan. Nafasnya memberat, pertanda jika pemuda itu memang benar-benar menginginkan Luhan.
Luhan tidak punya pilihan lain selain menyetujui. "H-hanya sampai jam sebelas."
Dahi Sehun mengerut tidak senang. "Hanya dua jam?!"
"Astaga, dua jam itu tidak sebentar!" dengus Luhan, memutar bola-matanya jengah. "Aku harus pulang, soalnya."
Wajah Sehun bertambah tidak senang, dengan kedua alisnya yang menukik tajam. "Kukira kau akan menginap disini."
"Ada Paman Do dirumah, jika aku tidak pulang dia pasti akan mencariku—kau akan ngeri melihat keprotektifan-nya."
Sehun menghembuskan nafasnya panjang, berharap dengan nafasnya yang berhembus, mood buruknya juga akan ikut terhembus. "Baiklah. Dua jam daripada tidak sama sekali." Gerutunya.
Sehun membawa Luhan kedalam cumbuan panas, yang akan mengantar mereka ke sesi-sesi panjang berikutnya. Dan dengan waktu yang sudah ditentukan Luhan itu, mereka bercinta untuk yang kedua kalinya. Saling berbagi kasih-sayang yang berujung kenikmatan seolah-olah mereka adalah pasangan paling bahagia didunia ini.
…
"Tidurlah, jika kau lelah." Sehun berbisik seraya memasang sabuk pengaman pada tubuh Luhan. Jari panjangnya terangkat, menelusuri kontur wajah manis Luhan yang terlihat mengantuk. Lalu berhenti didagu Luhan, dia memegangnya dengan ibu jari dan telunjuknya, kemudian mengangkat dagu itu sedikit dan memberikan Luhan sebuah ciuman lembut yang manis sekali.
Luhan terlihat tak terganggu sekali, dia menikmatinya. Itu tidak berlangsung lama, karna Sehun kembali duduk tegak dikursi kemudinya, dan mulai menyalakan mesin mobilnya. Dia akan mengantar Luhan pulang, sesuai keinginan rusa kesayangannya itu. Tepat jam sebelas—oh mungkin lebih beberapa menit, sedikit.
"Sehun, nyalakan musiknya." pinta Luhan. Sehun menuruti keinginannya. Pemuda itu membiarkan kepala Luhan bersandar pada bahunya, dan dengan senang hati Sehun menepuk-nepuk kepalanya dengan satu tangan. Luhan selalu seperti kucing malas setiapkali habis bercinta.
Lagu bergenre R&B mengalun, memenuhi pendengaran keduanya. Lagu dengan judul Be With You yang dibawakan oleh penyanyi asal Amerika yang musiknya sudah dikenal diseluruh negara. Siapa lagi kalau bukan Akon, Sehun menyukai semua lagu yang dibawakannya. Menurutnya, lagu-lagu yang dinyanyikan oleh pria itu selalu bersahabat dengan telinganya. Sehun menyetir dengan satu tangan, dia mengemudi secara pelan. Menikmati waktunya bersama Luhan lama-lama. Sejujurnya, dia masih tidak rela jika Luhan harus pulang kerumahnya.
"Sehun, aku suka lagunya." Ujar Luhan dengan senyuman childishnya.
Sehun menampilkan senyum miringnya, "Berarti seleramu sama denganku." Pada saat itu juga Luhan melihat Sehun sesuai dengan umurnya; Muda, ceria, bebas, dan tentunya memiliki pesona yang tidak bisa dihindarkan. Tidak seperti yang lalu-lalu; kaku, tidak bersahabat dan arogan.
Jalan raya masih ramai, banyak kendaraan yang masih berlalu-lalang walau sudah nyaris tengah malam. Segerombolan pemuda-pemudi juga masih terlihat disepanjang jalan. Untuk beberapa menit, keduanya masih menikmati musik dengan tenang. Sampai pada akhirnya, empat mobil dengan trademark berbeda berusaha mendahului mobil Sehun. Keempat mobil mengkilap itu mengeluarkan suara yang sangat berisik, membuat Luhan dan Sehun terganggu mendengarnya. Dua mobil berjenis Ferrari 250 Testa Rossa menghadangnya disisi kanan dan kiri, sementara dibelakangnya ada Bugatti Veyron hitam dan Ford GT40 MKII. Gigi Sehun bergemeletuk mengerikan melihatnya. Apa-apaan semua ini?
"Anak-anak Tokyo itu. Bajingan!" geram Sehun. Dia mengenali mobil-mobil itu.
Luhan menegakan kepalanya. "Kau kenal mereka?"
"Musuh-musuhku."
"Sebenarnya ada berapa banyak didunia ini orang-orang yang menjabat sebagai musuhmu?" tanya Luhan dengan ngeri. Mereka baru saja menikmati waktu yang tenang beberapa menit, dan sekarang waktu itu harus hancur (lagi) karna kedatangan musuh-musuh Sehun? Luhan tak habis pikir, bagaimana Sehun menjalani hidup dengan musuh berceceran dimana-mana.
Sehun memutar bola-matanya, "Jangan dihitung jika kau tak sanggup, sayang."
"Oh Sehun!" sebuah kepala menyembul dari kaca mobil Ferrari disampingnya, Sehun melihat wajah dengan mata sipit khas orang Jepang dari sana. Pemuda yang Sehun kenali bernama Chiga itu tersenyum amat lebar dengan handgun ditangannya. Dan Sehun merasa Beentley Speed-nya tidak akan mulus lagi setelah malam ini.
"Apa kau merindukanku?" Teriaknya dengan bahasa Korea yang pas-pasan. Sehun tak ada niat untuk menjawab si sinting itu.
"Luhan, bersiaplah." Sehun yang belum memasang seatbelt itu segera memasangkan ditubuhnya. Kedua tangannya memegang kemudi mobilnya erat-erat, dan kakinya sudah bersiap-siap menginjak pedal gas sekencang-kencangnya dibawah sana.
"Siap untuk apa?" tanya Luhan, tanpa bisa menyembunyikan rasa paniknya. Bohong jika dia mengatakan kalau dirinya tidak merasakan firasat buruk yang sebentar lagi akan terjadi.
Sehun melirik kekasihnya itu sekilas, "Kau ingin ikut duel kan?"
"Ap—Iya, ma-maksudku tidak. Aku tidak mau ik—AAAAAAAA!" Luhan berteriak saat Sehun dengan mendadak menaikan kecepatan mobilnya diatas rata-rata. Pemuda itu menginjak pedal gasnya, memacu mobilnya untuk berlari dengan kecepatan cahaya ditengah-tengah jalan yang masih ramai. Keempat mobil yang sudah mengira-ngira kejadiannya akan seperti ini, ikut memacu kecepatan mobil mereka. Mengejar mobil silver Sehun yang sudah memimpin didepan sana.
Gaung mesin kelima mobil itu mengeluarkan suara yang sangat mengganggu. Berisik dan membuat telinga berdenging. Mereka saling mencoba mendahului tanpa mempedulikan kendaraan yang ada didepannya. Saling menyalip kesana-kemari dan menabrak sisi kendaraan didekatnya tanpa merasa bersalah sedikitpun. Beberapa orang memaki kasar, mengumpat dan tak jarang menyumpahi kelima mobil yang membelah jalan raya itu. Jalanan yang tadinya tenang dan teratur, kini berubah menjadi arena balap.
Luhan memejamkan matanya rapat-rapat dengan tangan mencengkeram sabuk pengamannya. Dia melupakan rasa kantuknya yang sekejap menghilang, digantikan rasa panik sekaligus takut bersamaan. Walaupun disampingnya ada Sehun—yang pasti akan melindunginya dari apapun—tetapi tetap saja, diluar sana ada empat mobil yang siap menghabisi mereka. Mereka kalah jumlah, Luhan tentu saja merasa takut dan khawatir. Apalagi dengan kecepatan mobil yang diatas rata-rata seperti ini, membuat jantungnya serasa akan putus sebentar lagi.
"Ini pertama kalinya aku balapan ditengah-tengah jalan raya yang ramai." Sehun menyeringai senang, tampak sangat bersemangat. Berbeda sekali dengan Luhan yang sudah pucat pasi.
"Sehun, pikirkan diriku!" seru Luhan. Oh, dia merasa perutnya mulai bergejolak mual.
"Aku selalu memikirkanmu, Lu."
"Bodoh! pelankan laju mobilmu!" Luhan nyaris berteriak frustasi. Bagaimana bisa Sehun tetap santai seperti itu?
"Dan membiarkan kita ditabrak ramai-ramai oleh mereka?"
Luhan mengerang seraya mengacak rambut coklat madunya. Sehun menggeleng-gelengkan kepala melihatnya. Mau bagaimana lagi, ini semua demi Luhan. Saat ini dia sedang bersama kekasih manisnya itu, dan dengan keadaan yang seperti ini membuat Sehun harus memacu mobilnya dengan cepat agar nyawa mereka tetap selamat. Dia sudah berjanji untuk menjaga Luhan dari apapun.
"Sehun, mereka menembaki kita!" ucap Luhan. Dia memandang ngeri pada kaca spion luar yang pecah, akibat tembakan peluru dari mobil dibelakangnya. Luhan berpikir, sedikit lagi peluru itu bukan hanya dikaca mobil, tetapi akan berakhir dikepalanya juga. Luhan mendesis ngilu memikirkannya. Kenapa disaat seperti ini imaji negatifnya terus muncul?
"Ambil box dikursi belakang, Lu."
Luhan tanpa bertanya lagi, langsung mencari box yang diperintahkan Sehun. Dia menemukannya. Sebuah box hitam berukuran sedang.
"Buka, dan ambil isinya." Titah Sehun, masih fokus menyetir.
Mata Luhan membulat saat box itu sudah terbuka. Isinya adalah beberapa handgun dengan jenis-jenis berbeda yang Luhan tak kenali satupun, serta ada box mini didalamnya tempat untuk menyimpan peluru. Dia tak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya saat itu juga.
"Sehun, apa musuhmu dan pistolmu itu sama banyaknya?" tanya Luhan, polos.
Sehun tertawa mendengarnya. Nyaris dia ingin menggigit pipi Luhan, kalau tidak ingat keadaannya sedang mendesak saat ini. "Berikan padaku satu, dan gunakan untukmu satu." Untungnya, dia selalu siap sedia membawa box itu kemana-mana. Karna Sehun tahu, musuhnya bisa kapan saja datang dan menyerangnya.
"Kau menyuruhku untuk menembak lagi?" desis Luhan, tidak percaya. Ini dejavu.
"Aku tidak memaksamu."
Luhan menggigit bibir bawahnya, bimbang. Dia melihat Sehun menyetir dengan satu tangan, karna tangan yang lain sibuk menembaki mobil-mobil disampingnya. Rautnya sangat fokus dan serius. Disaat seperti inipun, Sehun terlihat menawan dengan gun ditangannya. Luhan bertanya-tanya dalam hati, mengapa Tuhan memberikannya kekasih macam Oh Sehun, yang kehidupannya selalu dipenuhi bahaya-bahaya?
Luhan nyaris berteriak saat suara ledakan peluru terdengar sangat dekat dengannya. Dia yakin, body Beentley Speed milik Sehun sudah lecet sana-sini. Pemuda manis itu melirik box berisi pistol dipangkuannya. Dia merasa tak berguna karna diam saja dan tidak berbuat apa-apa. Kembali melirik Sehun yang masih fokus dengan kegiatannya, Luhan mulai menggenggam satu handgun ditangannya. Ia menarik nafas sesaat, lalu membuka kaca mobil disampingnya. Adrenalin Luhan berpacu cepat melihat keadaan diluar sana, suara ledakan peluru dan suara bising mesin mobil berlomba-lomba memenuhi indera pendengarannya. Dan pada saat itu juga, Luhan menggunakan handgun ditangannya untuk menembaki Chiga dan kawan-kawannya diluar sana.
"Wow, sayang. kau terlihat seksi sekali saat menembak."
Luhan mendesis mendengar perkataan bodoh Sehun, "Akan kutembak bibirmu, Sehun."
Sehun terkekeh sesaat, lalu membanting stir-nya ke kiri, memasuki tikungan tajam. Membuat mobilnya melaju dengan posisi miring. Dia melihat satu mobil musuhnya dibelakang sana hilang kendali karna tidak bisa mengikuti manuvernya. Ferrari 250 itu bertabrakan dengan mobil orang lain. Kecelakaan tidak bisa dihindarkan. Sehun menyeringai melihatnya.
Sehun berdecak kesal, saat mobilnya melaju ke jalan yang salah. Dia masuk ke dalam jalan yang tengah ramai oleh pemuda-pemuda yang sedang melakukan battle dance. Sehun menekan-nekan klaksonnya dengan tidak sabaran. Pemuda-pemuda labil diluar sana berteriak —bersamaan dengan Luhan yang juga berteriak— beberapa dari mereka tertabrak karna tidak sempat meminggir. Itu adalah detik-detik yang sangat menegangkan untuk Luhan. pemuda manis itu terdiam pucat dengan mata yang memandang kosong ke jalan didepannya. Luhan mungkin shock.
"Sehun, aku ingin segera pulang." Cicitnya.
"Sedikit lagi, Lu. Aku janji." Ujar Sehun bersungguh-sungguh. Dia benar-benar akan menghabisi Chiga malam ini. Karna pemuda berambut hitam sebahu itu sudah merusak waktunya dengan Luhan.
Sehun kembali memasuki jalan raya, dibelakangnya hanya tersisa dua mobil saja. Ferrari milik Chiga, dan Bugatti milik temannya yang masih bertahan. Sehun mengulum senyum sinisnya. Mari kita lihat, siapa yang akan bisa bertahan sampai akhir. Lagipula yang Sehun herankan, kenapa kawanan itu mengejarnya tiba-tiba? Darimana pula mereka tahu daerah tempat tinggalnya? Ini membingungkan. Pasti ada yang tidak beres disini.
Luhan berseru dengan mata membelalak, "Sehun ada truk didepan!"
Bukannya menurunkan speedmeter-nya, Sehun justru semakin menggila. Dia mengemudi dengan kecepatan penuh kearah Truk besar yang berjarak kurang lebih lima meter dihadapannya. Luhan semakin panik dibuatnya. Apa Sehun sekarang mengajaknya untuk mati bersama? Tidak, Luhan belum siap sama sekali.
Sehun melirik sekilas kebelakangnya, Chiga dan temannya masih setia mengikutinya dari belakang. Sehun kembali memfokuskan dirinya untuk menyetir. Saat jaraknya dan truk besar pengangkut balok-balok kayu itu semakin tipis, Sehun segera membanting stirnya ke kanan. Menyalip diantara truk besar itu dan mobil sedan yang kebetulan ada disana. Tidak ada tabrakan yang terjadi antara mobilnya dan truk itu, tetapi lawannya yang dibelakangnya lah yang hilang kendali dan menabrak truk besar itu.
Luhan membuka bibirnya tidak percaya. Dia melihat ngeri kebelakangnya, dimana beberapa mobil disana saling menabrak dan lepas kendali. Terlebih ada truk besar disana yang semakin memperparah kecelakaan. Sekarang, suara klakson memenuhi jalan raya.
"Sehun… bagaimana bisa?" tanyanya, dengan suara mengambang. Terlalu banyak kejutan malam ini.
"Mereka hanya fokus mengikutiku dari belakang, itulah sebabnya aku mengecoh mereka dengan cara mengikuti truk didepan. Mereka pikir aku akan terjebak diantara mereka dan truk itu, tapi lihat hasilnya? Keparat itu tidak akan pernah bisa mengalahkanku." Sehun mengulas seringaian andalannya, yang membuat Luhan agak takut melihatnya. "Itulah yang terjadi jika ingin mengejar seseorang tanpa strategi."
Luhan tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia akui, Sehun terlalu hebat untuk pembalap dijalanan. Sekarang mereka terbebas dari kejaran apapun, dan sudah memasuki jalan yang tenang dan teratur. Mereka sudah jauh dari kemacetan dibelakang sana. Luhan bernafas lega. Akhirnya dia masih bisa bernafas esok hari.
…
"Kau langsung pulang?" tanya Luhan, setelah mereka sampai didepan rumahnya. Sehun yang tengah mengitari mobilnya itu mengangguk. Dia sedang mengecek beberapa bagian tubuh mobilnya yang lecet parah akibat tembakan peluru dan tabrakan dari Chiga. Sial, ini adalah mobil kesayangannya setelah red Laren—begitulah dia menamakan mobil McLaren-nya— . Sehun bersumpah akan benar-benar menghabisi kawanan anak Tokyo itu nanti. Itupun jika Chiga masih hidup setelah menabrak truk.
"Bagaimana kalau diperjalanan pulang nanti, kau kembali dikejar oleh mereka?"
Sehun menghampiri rusa kesayangannya itu dan menepuk-nepuk pipinya dengan lembut, "Jangan mengkhawatirkanku." Ujarnya.
Luhan mendengus, "Apa salahnya aku khawatir padamu?!" tangannya bergerak untuk menepis tangan Sehun yang masih setia berada diwajahnya, tetapi Sehun justru menangkap tangannya dan menggenggamnya.
Sehun mengecup tangan Luhan yang berada digenggamannya dengan senyuman diwajahnya, "Baiklah-baiklah. Lalu kau mau bagaimana sekarang, Yang Mulia?"
Luhan berdehem kecil, berusaha mengusir rasa panas diwajahnya, agar tidak terlihat Sehun jika saat ini dia tengah tersipu. Harga diri Luhan itu tinggi sekali, padahal jelas-jelas tanpa ditutupi sekalipun, Sehun sudah bisa melihat gerak-gerik menggemaskan Luhan.
"Kau mau aku menginap disini?"tanya Sehun.
"Kau gila? Ada Paman Do didalam sana, apa yang akan dia katakan nanti?"
Sehun mendengus, "Kau bukan anak gadis, Lu. kau bisa katakan kalau aku ini temanmu kan?"
"Benar juga," Luhan mengangguk-angguk kecil. Mengundang Sehun untuk mencuri kecupan kecil dibibirnya. Pemuda manis itu tidak memprotes, tetapi sempat memukul perut Sehun. benar-benar memukulnya. Untungnya Sehun mempunyai kesabaran yang tinggi untuk menghadapi kekasih macam Luhan—yang susah sekali untuk diajak bermesraan.
"Dan.. kita bisa melanjutkan yang di Apartmenku tadi, bukan?" ujar Sehun dengan seulas seringaian menyebalkannya.
"Dalam mimpimu." Desis Luhan.
"Melanjutkan apa, Luhan?" tanya sebuah suara dingin, dibalik gerbang pintu halaman rumahnya.
Luhan dan Sehun dengan refleks menoleh bersamaan ke sumber suara. Terlihat sosok Pria dewasa dengan tubuh tinggi tegap di depan gerbang sana dengan mata menyalang tajam, bagaikan mata elang yang siap memangsa buruannya. Luhan menahan nafasnya saat itu juga. Ini bahkan jauh lebih mengerikan dibanding kejadian dijalan beberapa menit yang lalu.
"Paman Do…" gumam Luhan.
…
Tbc
…
a/n :
chapter apaan ini? Ancur bener. Gue gak tau ngetik apaan itu diatas. Ini chap paling ancur disejarah Not Perfect kalo bisa gue bilang-_- maafin gue ya semua, udah lelet update, sekali update malah ancur begini. Aduh. Silahkan yang mau kecewa, yang mau nendang Anggara Dobby ke laut mati, yang mau lemparin Anggara Dobby pake kulit kacang, silahkan.
Gue mau curhat bentar. Boleh ya? Ini nggak OOT kok :'D Honestly, gue ngerasa saat ini gue udah jauuuh banget sama dunia ini—dunia per-ff'an, dunia per-kpop'an sama dunia nulis-menulis. Gue gak tau apa aja yang udah terjadi didunia para fangirl dan fanboy ini. Gue gak se-update dulu. Dan udah gak seantusias dulu. Bahkan gue lupa jalan cerita FF yang gue tunggu-tunggu dari senpai-nim /plak/
Gue sempet—atau mungkin sampe sekarang—kehilangan feel nulis semua FF gue. Banyak yang belom gue lanjutin dan gue berpikir untuk ngediscontinued aja (terutama A Bodyguard From Beijing, gue stuck bgt buat yg satu ini). Ternyata efek kelamaan hiatus tuh kayak gini. Gak enak banget, sumpah. Tiba-tiba otak jadi buntu dan bawannya 'anjir males ah gue ngetik' kalo udah didepan laptop, especially didepan Ms Word. Terus ujung2nya gue malah main game -_-
Tapi ketika gue buka kolom review… mendadak gue mau nangis(?) banyak yang nunggu kelanjutan FF-FF abal gue. Banyak yg minta gue balik ke ffn. Terus gue mikir, kok gue jahat banget sih mau ngediscontinued-in semua ff gue sementara diluar sana ada yg nunggu? Emang gue siapa sih yang belagu banget pengen vakum padahal kesibukan di RL gak seberapa dibanding kesibukannya pak Ahok? Bikin org lain kecewa kan dosa, udah gitu gue tau rasanya udah nunggu lama tapi ternyata hasilnya mengecewakan itu ga enak, GA ENAK BANGET GAES (Anggara Dobby, 16th, selaku korban menunggu) JADIIII, gue usahain tetep stay disini dan berusaha lanjut semua FF gue sama happy ending :D for all of you, guys. Insya Allah.
Sooooo, inilah gue dan keterbatasan gue yang gak bisa update seminggu sekali kayak zaman I'M NORMAL? Dulu. Btw, gue kangen tuh zaman-zaman itu/?/
Kesimpulannya, selambat-lambatnya gue update, gue tetep update(?) jadi, makasih yang udah nyempetin diri buat baca FF gue, kalian luarbiasa :D yang siders, jangan sungkan mau maki-maki gue karna sering telat update, hayuk aja. Gue gak gigit kok, paling nyosor doang(?)
Ini udah panjang bgt gila, gak ada authornote sepanjang satu chap begini-_- yaudah, see you soon guyssss! ;DD
