Imperfections

©Anggara Dobby

Oh Sehun—Lu Han

With others pairing

Warn! YAOI, Shounen-ai, AU, Gay content, Mature, Typo(s), Boring! DLDR.


Jika saat ini tidak ada yang namanya kesopanan dalam diri Luhan, mungkin Ia sudah berjalan acuh kedalam rumah melewati Paman Do dan tatapan membunuhnya itu—yang Luhan pun merasa kepalanya akan berlubang jika balas memandangnya. Tapi dia cukup waras untuk tidak melakukan itu. Paman Do adalah manusia yang paling menjunjung tinggi yang namanya tata krama dan kesopanan. Itulah penyebab Kyungsoo terdidik begitu baiknya dalam didikan Ayahnya. Dan sekarang Luhan pun harus berada dalam didikannya karna Ia berada dibawah tanggung jawab Pamannya itu saat ini.

Seperti tidak cukup dengan pertanyaan sengitnya, Paman Do berjalan menghampiri Luhan yang masih berdiam diri didepan gerbang rumahnya sendiri. Pria dewasa berwajah tegas itu sempat melirik kearah Sehun sekilas. Tatapan sengit yang tidak bersahabat sama sekali.

"Siapa dia? Kekasihmu?" tanyanya, nyaris tanpa ekspresi diwajahnya. Sangat to the point sekali.

Luhan mengontrol dirinya agar tidak gelagapan saat itu juga. "B—bukan, dia temanku."

"Oho, teman? Apa aku salah lihat saat dia menciummu tadi?"

Luhan melebarkan sedikit matanya. Wajahnya memerah, antara jengkel karna nada bicara Paman Do yang begitu menyebalkan, dan malu karna tindakan memalukan Sehun tertangkap oleh mata pria itu. sial, kenapa harus itu yang dibahas pertama kali.

"Mungkin kau memang salah lihat, tuan. Aku tidak menciumnya sama sekali." Sehun menjawab dengan tenang. Luhan bersyukur mendapati kenyataan kalau Sehun pandai mengontrol ekspresi wajahnya.

"Ya, aku pun berharap aku hanya salah lihat." Paman Do berujar cukup sinis. "Kau tahu ini jam berapa, Luhan?" kali ini pria tua itu memandang kearah Luhan.

Luhan memiringkan kepalanya sedikit dengan senyuman kikuk, "U-uhm, jam sebelas?"

Mata Paman Do memicing tajam dengan satu alis terangkat. Oh, betapa Luhan membenci raut itu. Dia merasa sangat terancam dengan tatapan itu. "Apa yang kau lakukan hingga pulang selarut ini?"

Sehun menghela nafasnya, bosan. Pantas saja Luhan memiliki sikap seperti anak-anak, ternyata sampai sekarang pun Ia masih diperlakukan seperti anak-anak oleh keluarganya. Sehun tidak heran kejadian ini akan terjadi. Serangkaian pertanyaan beruntun berlomba-lomba akan keluar dari mulut pria tua itu, Sehun bisa memastikannya. Dan pertanyaan itu tidak akan jauh-jauh dari 'Mengapa kau pulang malam, Luhan?' Sehun tidak perlu repot-repot untuk membantu kekasihnya itu. karna tampaknya, Paman Do lebih mempercayai keponakannya sendiri dibanding orang asing.

"Sebaiknya aku segera pulang," ujar Sehun, memecah suasana tidak nyaman antara Luhan dan Pamannya sendiri.

"Kau mau pulang dengan mobil penuh tanda peluru itu?" tanya Paman Do, menyunggingkan senyum miring.

"Apa tuan akan mengizinkanku menginap semalam setelah melihat mobilku?" balas Sehun dengan ringan.

Luhan memandangnya dengan sorot tak percaya. Dia tahu benar jika Sehun memang tidak pernah takut pada apapun dan siapapun. Tetapi, tidak bisakah lelaki itu bersikap lebih wajar sedikit saat ini? Setidaknya, Luhan berharap Sehun cepat-cepat pulang tanpa menjawab sedikitpun perkataan Paman Do. Celakalah dirinya sekarang.

"Masuklah, mobilmu akan dibawa ke bengkel nanti oleh assistenku." Ujar Paman Do seraya berjalan masuk kedalam rumah. Dan Luhan bertambah tak percaya ketika mendengar kalimat itu dari Paman Do. Ia memandangi punggung pria itu dengan takjub. Bagaimana bisa Paman Do mendadak baik hati pada orang asing? Sementara beberapa saat yang lalu, pria itu tampaknya sangat tidak menyukai Sehun.

"Tunggu apalagi, anak muda? Aku tidak akan berbuat baik dalam waktu yang bersamaan." Paman Do kembali melanjutkan jalannya setelah mengucapkan kalimat tersebut.

"Wah, aku pasti akan menjadikan Kyungsoo sebagai sahabat baikku jika anak itu menuruni sifat Ayahnya." Ujar Sehun terkagum-kagum, yang dihadiahi delikan sebal oleh Luhan.


Satu hal yang mampu Luhan lakukan saat melihat siapa 'tamu' yang tengah duduk didalam rumahnya adalah menghampiri orang itu dan mencengkeram kerah bajunya dengan kasar. Hal itu mendapatkan pelototan mata mengerikan dari Paman Do, dan pandangan tak percaya dari Kyungsoo dan Sehun. Seorang tamu yang membuat Luhan mendadak menjadi gangster gila berkelahi adalah Kris Wu. Pemuda berparas manis itu tak segan-segan langsung menghantam wajah Kris saat melihat pria itu ada didalam rumahnya, tengah terduduk santai layaknya tuan rumah. Pelayan wanita yang kala itu tengah menyiapkan minuman bahkan memekik bersamaan dengan Kyungsoo.

"Luhan!" bentakan Paman Do menggema diseluruh ruangan. Pria itu segera menarik tubuh Luhan menjauh dari Kris—yang sepertinya terkejut dengan pukulan tiba-tiba itu.

"Sedang apa keparat itu ada disini?!" Luhan menunjuk-nunjuk wajah Kris dengan sengit. Dia memandang kearah lelaki itu dengan penuh dendam. Jangan mengira Luhan sudah melupakan kejadian 'penyiksaan' itu dan memaafkan Kris dengan mudah. Jangan berharap. Luhan masih punya otak untuk bisa memaafkan keparat yang satu itu. sial, dia tak sudi sekali melihat Kris lagi dalam hidupnya.

"Jaga bicaramu, Luhan." geram Paman Do. Matanya menyalang tajam pada Luhan. sejak kapan anak itu menjadi bengis seperti ini? Ini pertama kalinya, Ia melihat Luhan menghajar seseorang. Biasanya, Luhan sangat menjaga sikapnya terhadap orang-orang. "Dia anak dari kolegaku. Ada masalah apa kau dengannya?" Paman Do bertanya seraya mencengkeram kuat-kuat tangan Luhan yang tengah memberontak meminta dilepaskan.

"Dia—!" Luhan menunjuk Kris dengan penuh rasa amarah memuncak. "Orang yang ingin sekali aku enyahkan saat ini."

"Apa sekolahmu tidak mengajarkanmu tata krama, Luhan?" tanya Paman Do tidak habis pikir. Dia akan merasa bersalah sekali pada tuan Wu atas kejadian tak terduga ini nanti.

"Ya, sekolahku tidak mengajarkan itu semua. Yang diajarkan adalah bagaimana cara memusnahkan orang yang sudah membuat kita menderita." Desis Luhan dengan mata yang tetap tertuju pada Kris. Luhan bersumpah telah melihat seulas seringaian tipis diwajah pria itu. rasa-rasanya Luhan tidak bisa lagi membendung emosinya yang sudah bergulung-gulung itu.

Sementara itu, Sehun menjadi penonton yang hanya bisa terdiam. Dia pun tidak menduga ada Kris disini, dan lebih tak menduga saat kekasih manisnya melakukan hal yang sulit dipercaya olehnya. Saat ini, dia melihat sisi lain dari Luhan. ternyata lelaki mungil itu mengerikan juga jika sedang emosi. Sehun tak perlu repot-repot berkelahi didalam rumah orang, karna Luhan sudah menggantikannya terlebih dahulu. Tetapi bukan berarti Sehun menerima dengan lapang dada Luhan berkelahi. Dia tidak ingin Luhan menjadi seperti anak bar-bar lainnya. Pemuda manis itu akan lebih cocok dengan kepribadian kekanakannya.

"Naik keatas, Luhan. Atau aku akan lepas kendali dan menamparmu disini." Geram Paman Do. Kyungsoo terperanjat mendengarnya. Ini adalah pertengkaran hebat pertama antara Luhan dan Ayahnya.

Gigi Luhan bergemeletuk geram. Dia menghempaskan tangan Pamannya yang masih mencengkeram lengannya. Dan berjalan dengan langkah lebar-lebar ke lantai atas.

Paman Do beralih kearah Kris dan memasang wajah penuh penyesalannya. "Maafkan aku Kris, aku merasa malu denganmu. Luhan tidak biasanya seperti itu. aku benar-benar minta maaf."

Kris tersenyum simpul, "Tidak apa-apa, Tuan. Dulu kami memang sempat bermasalah, maka dari itu Luhan emosi saat melihatku. Aku memakluminya." Ujarnya dengan tenang.

"Astaga, Luhan harus benar-benar dihukum karna sudah melakukan itu pada orang sebaik dirimu." Tukas Paman Do. "Aku akan mengambil obat untuk lukamu. Tunggu sebentar, Kris."

Selepas kepergian Paman Do, diruangan itu hanya tersisa Kyungsoo, Kris dan Sehun. Kris tiba-tiba berdiri dari duduknya dan menghampiri Sehun dengan seulas senyum merendahkannya. Sehun hanya balas memandangnya tanpa minat. Oh, jika bukan karna saat ini Ia dirumah Luhan, Sehun mungkin sudah menghabisi bajingan ini.

"Bukankah dunia itu sangat sempit, Oh Sehun?" ucap Kris. Kyungsoo yang tidak mengerti apa-apa, sempat terhenyak beberapa saat melihat perubahan wajah Kris dari yang dewasa dan tenang menjadi wajah orang yang sangat licik. Kyungsoo bisa tahu itu dari seringaian yang terpatri diwajah anak kolega Ayahnya itu. Kyungsoo memang tidak mengenal Kris—dan Luhan tidak menceritakan apapun padanya perihal Kris. Tetapi dia bisa menebak jika hubungan antar Kris dan Luhan benar-benar tidak baik. Luhan tidak akan menjadi 'Singa' seperti itu jika tidak ada yang membuat masalah padanya.

"Ya, sangat sempit." Desis Sehun. "Dan cukup untuk menemukanmu dan membunuhmu didunia yang sempit ini, Kris." Sehun balas menyeringai. Dia menepuk bahu Kris sekilas, dan berjalan untuk menyusul Luhan yang saat ini dalam suasana hati yang buruk.

Kris mengepalkan tangannya dan memandang punggung Sehun yang menjauh dengan pandangan dendam. Lihat saja, Oh Sehun, siapa yang akan tertawa nantinya. Kris bersumpah akan menghabisi anak tengik itu suatu saat nanti.


"Sayang," Sehun menghampiri punggung mungil Luhan yang berhadapan langsung dengan jendela kamarnya yang terbuka lebar. Ia memeluk tubuh kecil kekasihnya yang tengah merasa panas itu. Luhan tidak menjawab sapaan mesranya, dia tetap menatap lurus kedepan dengan kedua alis menukik kesal. Sehun mendengus geli. Semarah apapun Luhan, dia tetap terlihat menggemaskan dimatanya.

"Kau kesal dengan Wu Brengsek itu, tetapi kenapa aku yang didiamkan?" tanya Sehun, dengan dagu lancipnya yang Ia daratkan dibahu Luhan. Sesekali bibir usilnya mengecupi daerah sana. Aroma Luhan selalu berhasil membuatnya bertindak seenaknya. Entah cologne apa yang Luhan pakai, tetapi setiap saat aroma tubuhnya tidak pernah berubah sekalipun.

"Bisakah kau memusnahkannya untukku?" Luhan akhirnya menoleh ke sisi kanannya, dimana wajah rupawan Sehun langsung memenuhi pandangannya. Pemuda bermarga Oh itu tertawa lepas, membuat Luhan bingung, dimana letak kelucuan pada pertanyaannya barusan?

"Jika kau meminta Tembok Raksaksa China menjadi benteng rumahmu pun aku akan membawakannya untukmu." Sehun tersenyum jenaka, yang dibalas dengan wajah cemberut kekanakan dari Luhan.

"Aku sedang tidak ingin digombali!"

Sehun mengeratkan lingkaran lengannya pada pinggang ramping Luhan. hidung dan bibirnya pun semakin usil menjalar diantara bahu dan leher Luhan. Membuat lelaki manis itu jengkel bukan main. Dia sedang serius saat ini, tetapi Sehun malah bermain-main. Dimana keseriusan mengerikan yang selalu ditunjukan Sehun selama ini?

"Sudahlah, sayang. Aku yang akan mengurus Kris, kau tidak perlu memikirkannya. Pikirkan aku saja, oke?"

Luhan mengangguk kecil, Ia percaya Sehun akan memberi pelajaran pada Kris mengingat betapa sengitnya permusuhan diantara keduanya. Orang yang tak sengaja menumpahkan minuman ke baju Sehun saja langsung mendapat bogeman manis dari si empunya baju, apalagi Kris, yang notabene sudah sangat kurang-ajar padanya. Luhan mendesis ngilu, tidak mau membayangkan bagaimana nantinya Sehun dan Kris akan berkelahi.

Luhan memegangi lengan Sehun yang berada diperutnya, diam-diam bibirnya mengulas sebuah senyum kecil. "Aneh sekali rasanya, kemarin kau masih memandangku seperti seonggok sampah, dan kini kau terus menempeliku seperti seekor lintah." Ujarnya seraya memandang lurus kedepan. Entah kenapa, dia tiba-tiba mengingat saat pertama kali bertemu dengan Sehun. Pemuda arogan yang Luhan sangat hindari tapi sialnya mereka selalu dipertemukan dalam sebuah masalah. Luhan tidak pernah menyangka dirinya akan terus berakhir dipelukan Sehun setiap malam, mendapat ciumannya setiap saat, dan mendengar kalimat sok romantisnya yang menggelikan—Sehun adalah penggombal yang sangat buruk— melihat perbandingan dulu dan sekarang, rasanya sangat jauh berbeda. Siapa yang mengira seseorang yang bisa menaklukan Sehun adalah anak macam Luhan? Dan itu tidak membutuhkan waktu bertahun-tahun.

"Ya, dan lebih anehnya lagi, kau mau-mau saja berada dipelukan orang yang pernah mengataimu sampah." ucap Sehun. aroma tubuh Luhan yang menenangkan sekaligus menyegarkan membuatnya matanya mengantuk. Rasanya dia ingin segera berlayar kealam mimpi, tetapi Luhan sepertinya belum mengantuk. Sehun tidak mau mendengar rajukan kekasih manisnya karna tidur terlebih dahulu. Luhan akan menjadi sangat cerewet jika sedang merajuk. Sehun pusing mendengar gerutuan bahasa Mandarinnya.

"Karna pelukan orang itu sangat nyaman." Luhan terkekeh genit. Sehun yang mendengarnya dengan senang hati menghadiahkan Luhan sebuah ciuman singkat dipipinya.

"Dasar! Kau pintar sekali membuatku senang."

"Karna itu tugasku."

Sehun terkekeh seraya memberi Luhan bonus hadiah gigitan kecil pada dagunya. Semakin lama, Sehun semakin merasa jika si manis yang ada dipelukannya ini semakin pintar menggodanya.

Mereka tetap pada posisi seperti itu hingga beberapa menit, saling terdiam. Menikmati angin malam yang diam-diam masuk ke celah jendela Luhan yang terbuka sedikit. Si manis maupun Si rupawan sama-sama memejamkan matanya. Terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka yang tenang, tanpa ada gangguan dari ancaman-ancaman musuh Sehun, ataupun dari hal lainnya. Hanya ada mereka berdua dengan deru nafas tenang masing-masing dan dentingan jarum jam yang terus berjalan.

"Lu," Si Rupawan akhirnya memecahkan keheningan itu terlebih dulu. Luhan hanya menjawabnya dengan sebuah gumaman singkat. Mendapati Luhan tidak tidur seraya berdiri, Sehun melanjutkan ucapannnya. "Bisa kau tatap aku?"

Luhan segera membalikan tubuhnya, hingga menghadap ke Sehun. "Ada apa? Wajahmu tetap tampan walau aku tidak menatapmu."

"Terimakasih pujiannya, sayang." ujar Sehun, yang dibalas anggukan tidak tulus dari Luhan. Dia sedang tidak memuji pria itu padahal.

"Kris pernah bilang akan merebutmu dariku." Sehun memandangi wajah Luhan saat mengatakan itu. Polesan eyeliner yang masih berbekas dimata Luhan menjadi fokus perhatiannya. Sehun menyukainya. Luhan terlihat seksi dan menantang dengan garisan hitam dibawah matanya itu. Jangan sampai dirinya lepas kendali dan kembali menghabisi Luhan. Ia akan terlihat maniak sekali jika kembali menggagahi kekasih manisnya itu.

"Dan kau akan membiarkannya?" tanya Luhan dengan mata memandang lurus kedalam manik Sehun. pemuda manis itu menyerah kala Sehun mengulas seringaian tipisnya yang kelihatan sangat merendahkan sekali. Sungguh, kenapa dia selalu terlihat tampan walau dengan senyuman penuh hinaan sekalipun?

Luhan menahan lidahnya yang akan mengalunkan lenguhan saat Sehun mencengkeram pinggangnya dan menarik tubuhnya, hingga Ia merasakan dada bidang Sehun menempel dengan tubuhnya. Hanya pergerakan sederhana yang sialnya mampu membuat Luhan menahan getar nafas gairahnya.

"Membiarkanmu jatuh dalam tubuh si bajingan itu? Jangan bercanda, sayang. Dalam khayalannya pun aku tetap tidak akan membiarkan hal itu terjadi."

Wajah Sehun semakin lama semakin mendekat, hingga Luhan merasa sulit bernafas. Ditatap sedemikian intens disertai seringaian oleh Oh Sehun, siapa yang tidak merasa sulit bernafas? Kau akan tersedot kedalam gelap matanya dan lengkungan di bibirnya yang melumpuhkan. Luhan merasakan semua itu. Hingga akhirnya, lagi-lagi, dia memasrahkan diri kedalam cumbuan liar Sehun. Membiarkan bibirnya dilumat sekasar mungkin, membiarkan gigi tajam Sehun menjepit habis bibirnya dan melenguh tatkala lidahnya dipermainkan sedemikian rupa oleh Sehun. Luhan menyukai semua perbuatan Sehun, dari yang lembut hingga yang kasar sekalipun. Semuanya terasa memabukan dan membuatnya nyaris kehilangan akal.

"Bibir ini hanya milikku," Sehun berbisik setelah membuat bibir Luhan kembali memerah dan sedikit membengkak.

"Mata ini—" Sehun mengecup kedua mata Luhan yang terpejam, "Hanya milikku." Lalu setelah itu dia melakukan hal yang sama pada hidung, pipi serta dagu Luhan. Mengklaim kalau seluruh bagian yang baru saja Ia kecupi adalah miliknya.

"Termasuk seluruh tubuhmu dan hatimu. Itu semua hanya milikku." Ujar Sehun, memandang wajah Luhan dengan sungguh-sungguh. Dia sangat serius dengan perkataannya barusan. Luhan adalah miliknya, dan seseorang yang berusaha merebut miliknya, maka Sehun tidak mau menunggu lebih lama untuk melenyapkan orang itu. Dia bisa melakukan apa saja yang dia mau. Sehun tidak pernah memikirkan dampak akibat untuk bisa mempertahankan Luhan agar tetap disisinya, walau itu harus membahayakan dirinya sekalipun.

Luhan menyunggingkan senyum main-mainnya, "Milikmu? Apa kau tidak lihat jari manisku masih telanjang? Itu artinya aku masih bebas, Sehun." ujarnya seraya menunjukan jari-jemari mungilnya kearah Sehun.

"Kau baru saja memberiku kode, ya?" Sehun mendengus geli.

"Kode apa maksudmu?"

Sehun menarik lengan Luhan yang hendak berjalan menuju tempat tidurnya, hingga mereka kembali berhadapan dengan posisi dekat. Sehun meraih telapak tangan kanan Luhan, lalu menciummi satu per-satu jari-jemari kekasih mungilnya dengan lembut. Luhan yang mendapat perlakuan itu hanya bisa mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Wajahnya mulai diselimuti warna kemerahan yang berpendar hingga ke telinganya. Sehun dan segala tingkah tak terduganya, selalu sukses membuat kendali tubuhnya berhenti mendadak.

"Suatu saat nanti, jari manismu ini akan dilingkari dengan cincin perak cantik yang ditengahnya akan terukir nama Oh Sehun. Dengan begitu, kau akan menjadi milikku seutuhnya." Ujar Sehun dengan senyum paling teduh yang dimilikinya. Luhan merasa menjadi orang yang paling beruntung karna selalu mendapat perlakuan manis dari Sehun.

"Aku akan menunggu 'Suatu saat nanti' itu."

Sehun segera membawa Luhan kedalam dekapannya dan mengecup keningnya dengan lama. Meresapi perasaannya yang tersalurkan lewat kecupannya. Lalu lelaki itu membisikan Luhan dengan kalimat yang mampu membuat rusa manis itu semakin tenggelam dalam permen-permen kapas fiktif.

"Aku mencintaimu."

Dan Luhan lebih mencintainya.


Kyungsoo menghiraukan tatapan-tatapan menghakimi dari orang-orang disekolah barunya. Para gadis memandangnya dengan takut-takut lalu kemudian pergi, sementara para lelaki selalu melengoskan wajah darinya. Pemuda bertubuh kecil itu tetap memantapkan langkah kakinya untuk menuju gerbang sekolah, dia ingin cepat-cepat pulang. Bukan karna merasa terancam seperti saat di OX 86 High School, dia hanya merasa belum nyaman di sekolah barunya ini. Tidak ada yang mau berteman dengannya, setidaknya belum. Murid-murid disini selalu menjauhinya seolah-olah Kyungsoo adalah sosok bandit yang gila membunuh hanya karna dirinya pindahan dari sekolah OX. Padahal Kyungsoo bukanlah preman sekolah ataupun pembully anak-anak geek. Mungkin semua persepsi orang tentang sekolah OX memang tidak jauh-jauh dari gangster. Haah, dia akan kesulitan mendapat teman baru jika seperti ini caranya. Kyungsoo tidak mau berakhir menjadi penyendiri di sekolah barunya hingga kelulusan tiba. Kenapa nasibnya selalu seperti ini saat masuk ke sekolah baru?

"Andai saja Luhan hyung juga bersekolah disini." Gumam Kyungsoo. Awalnya dia memang merasa kasihan pada Luhan yang tidak bisa pindah sekolah, tetapi tadi pagi, teman-teman Sehun datang kerumahnya dan menjemput Luhan untuk pergi kesekolah bersama, dan Luhan terlihat senang-senang saja akan hal itu. Kyungsoo tidak jadi mengasihaninya. Luhan tampaknya sudah nyaman dengan sekolah mengerikan itu. Kyungsoo hanya bisa berharap Luhan tidak akan menjelma sebagai preman sekolah setelah ini.

Pemuda bermata bulat itu tak sengaja menyenggol bahu seorang murid yang berdiri ditengah jalan. Salahnya sendiri melamun sambil berjalan. Lantas, Kyungsoo dengan cepat meminta maaf pada murid itu.

"Maaf, aku tak sengaja. Kau baik-baik saja 'kan?" tanya Kyungsoo.

Murid itu memundurkan tubuhnya saat melihat Kyungsoo, raut wajahnya yang semula kesal langsung sirna. "T—tidak, maksudku aku baik-baik saja. Maafkan aku sudah menghalangi jalanmu. Maaf." Lalu setelahnya, murid itu berjalan meninggalkan Kyungsoo terburu-buru.

Kyungsoo mengerutkan dahinya, "Aku yang bersalah tapi dia yang meminta maaf." Gumamnya heran.

Kyungsoo kembali melanjutkan jalannya. Mata burung hantunya melihat para gadis berbisik-bisik didekat gerbang didepan sana seraya menunjuk-nunjuk ke satu arah. Tepatnya kearah seseorang yang sedang berdiri disamping motor hitam besarnya. Kyungsoo seperti tidak asing dengan orang itu. Apalagi ketika melihat seragam sekolah yang dikenakannya. Ada sebuah logo OX 86 di saku seragamnya. Kyungsoo mengenali wajah orang itu saat orang itu tak sengaja memandang kearahnya. Pemuda mungil itu refleks mengumpat dalam hati ketika wajah Kim Jongin tertangkap oleh matanya. Sial, mau apa orang itu disini? Tidak cukupkah dia mengganggunya saat mereka masih satu sekolah?

"Dia pasti sedang menunggu temannya itu. Anak baru yang bernama Do Kyungsoo. Bukankan dia pindahan dari sekolah OX?"

"Sekolah itu sangat menakutkan. Apalagi murid-muridnya. Kenapa salah satu anak OX harus pindah kesini sih? Sampah seharusnya dibuang pada tempatnya."

Celetukan pedas seorang siswi membuat Kyungsoo mengalihkan pandangannya dari Kai dan berjalan cepat-cepat tanpa mempedulikan Kai. Dia harus terlihat tak mengenal pemuda tan itu disini. Semua orang benar-benar akan mengiranya sebagai gangster jika Ia mengatakan mengenal pemuda dengan motor besar itu.

"Do Kyungsoo!"

Sial.

Kenapa Kai harus memanggilnya? Kyungsoo mendapati pandangan murid-murid yang berada disana langsung tertuju kearahnya. Sudah terlambat. Setelah ini, dirinya pasti akan bertambah dijauhi. Dalam hati Kyungsoo berterimakasih pada Jongin yang sukses membuat namanya tambah tercemar.

"Kenapa menghindariku?" Tubuh tinggi Kai tiba-tiba sudah berada dihadapannya. Hebat. Dia memiliki kekuatan teleportasi ya? Pemuda berkulit tan itu memandangnya dengan wajah arogan khasnya. Kyungsoo malas sekali jika harus berurusan dengannya.

"Sedang apa kau disini?" tanya Kyungsoo tanpa menjawab pertanyaan Kai.

Kai menjawab dengan acuh, "Menemuimu."

"Aku tidak ingat kita memiliki hubungan sedekat ini hingga kau mau repot-repot menemuiku disekolah baruku." Ujar Kyungsoo dengan raut wajah heran. Dia kira, pindahnya Ia ke sekolah baru akan memutuskan hubungan dengan anak-anak OX sampai kapanpun. Nyatanya tidak.

"Aku ingat jika kita memiliki hubungan dekat." Balas Kai dengan ulasan seringaian tipis. "Bagaimana keadaanmu? Apa lukamu sudah sembuh?"

Kyungsoo merasa pusing dengan sikap Kai yang seperti ini. Pasti ada maksud terselubung dengan kedatangan pemuda itu disini. Lantas, Kyungsoo memicingkan matanya kearah Kai dengan sengit, "Jangan berbasa-basi, Kim Jongin. Kau ingin memukulku lagi 'kan? Kali ini apa salahku?"

"Astaga, pendek." Kai mendesah jengah, membuat Kyungsoo mendelikan matanya sebal karna dirinya baru saja dikatai pendek oleh pemuda itu. "Apa di otak kecilmu itu tidak ada perasangka baik untukku?"

"Bagaimana aku bisa berperasangka baik padamu jika kau saja sangat menjengkelkan seperti ini?"

"Menjengkelkan bagaimana? Setidaknya kau harus bersikap manis padaku karna aku sudah menolongmu waktu itu." ketus Kai dengan alis menukik tajam.

"Orang baik itu menolong tanpa pamrih." Tukas Kyungsoo, membuat kekesalan Kai semakin menjadi-jadi. Kenapa pemuda mungil ini pintar sekali membalik-balikan katanya? padahal niat Kai tulus sekali ingin menemuinya disini. Hanya untuk sekedar melihat keadaannya saja, oke? Dia tidak memiliki maksud lain dari kedatangannya ini. Lagipula, entah kenapa, Kai merasa aneh saat melihat bangku didepannya kosong. Biasanya disana dia selalu melihat wajah kesal Kyungsoo saat diganggu habis-habisan oleh Chanyeol dan Chen. Entahlah, dia hanya merasa sepi. Tidak ada yang bisa dia ganggu lagi saat disekolah. Maka dari itu Ia menemui Kyungsoo disini tanpa sepengetahuan teman-temannya. Kai tidak mau mendengar ejekan-ejekan memalukan dari teman-temannya.

"Tapi, Terimakasih karna sudah mau menolongku." Lanjut Kyungsoo dengan tulus. "Aku mungkin tidak akan selamat jika kau dan teman-temanmu tidak datang malam itu."

"Mana senyummu saat mengucapkan Terimakasih?"

Mata kiri Kyungsoo berkedut jengkel mendengarnya. Tetapi dengan segenap hati, Kyungsoo tetap melengkungkan bibirnya membentuk sebuah senyuman yang amat manis.

"Terimakasih karna sudah mau menolongku, Jongin."

Kai sempat terdiam beberapa detik tanpa ada kedipan dimatanya. Senyuman itu—kenapa terasa menarik sekali dimatanya? Ini pertama kalinya dia melihat Kyungsoo tersenyum kearahnya dan untuknya. Ternyata wajah anak itu lebih enak dipandang saat sedang bersikap manis. Jika seperti ini caranya, Kai akan sering-sering menolong Kyungsoo untuk bisa melihat senyumannya. Oh sial, apa sekarang dia mulai tertarik dengan si burung hantu itu?

"Mau ikut denganku?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Kai.

"Kemana?" tanya Kyungsoo.

"Tempur dengan anak sekolah lain."

Kyungsoo langsung mendelikan matanya saat itu juga, siap-siap menolak ajakan Kai dengan keras. "Kau—"

"Bercanda. Aku akan mengajakmu ke Gazillion Bubble Show di Sam-dong."

"Aneh sekali, kau sedang bercanda tetapi aku tidak tertawa sama sekali."

Kai malah tertawa mendengarnya, membuat Kyungsoo meliriknya dengan malas. Dasar aneh! Kyungsoo 'kan sedang tidak bercanda, tetapi dia malah tertawa. Tetapi, sejujurnya, Kyungsoo diam-diam menyukai cara tertawa Kai yang lepas seperti ini. Berbeda sekali dari Kai yang biasanya. Dia terlihat manis dan mempesona dalam waktu yang bersamaan. Ah, apa yang baru saja Ia pikirkan?

"Aku tidak menerima penolakan, jadi, ayo sekarang kita pergi." Kai menarik tas punggung Kyungsoo hingga si empunya juga ikut tertarik. Membuat Kyungsoo melayangkan protesan-protesan atas tindakan semena-mena Kai. Tidak bisakah anak itu bersikap lebih 'baik' sedikit padanya?

"Jangan tarik aku seperti ini! Aku bukan anak kucing! Ya!"

Kai hanya tertawa-tawa, "Siapa bilang kau anak kucing? Kau itu anak burung hantu." Dalam hati, Kai membenarkan jika dia memang mulai tertarik dengan Kyungsoo.


Luhan menutup hidungnya ketika dirinya sudah sampai di atap sekolah. Bau disekitar sini tidak enak sekali, banyak asap yang langsung menyergap tubuhnya. Darimana asap-asap ini berasal? Luhan tidak yakin ada yang membakar sesuatu disini. Tetapi, pemuda bersurai coklat madu itu tetap melanjutkan langkah kakinya untuk mencari Sehun. Jam sekolah sudah berakhir, tetapi Sehun tidak ada didalam kelasnya. Luhan yakin pemuda itu ada disini.

"Hoi, manis!"

Luhan tidak berharap bukan dirinya yang dimaksud oleh salah satu dari gerombolan anak-anak disana. Dia baru menyadari banyak orang disini. Gerombolan siswa dengan wajah tidak baik-baik itu memandang kearahnya, dan Luhan tidak senang dengan pandangan mereka. Wajah mereka terlihat teler dan kepulan asap rokok berlomba-lomba keluar dari mulut mereka. Luhan tidak yakin itu 'hanya' sebuah rokok.

"Kau mau bergabung bersama kami?" teriak salah satu diantara mereka. Pemuda dengan mata paling sayu itu bangkit dari duduknya dan berjalan kearah Luhan. Luhan mulai membolakan matanya. Dia mau menghampirinya? Ugh, Luhan benci sekali dengan keadaan yang seperti ini. Kenapa banyak sekali orang-orang tidak benar yang mau mendekatinya?

Belum sampai dihadapannya, pemuda itu sudah tersungkur lebih dulu ketanah akibat sebuah tendangan yang mendarat di tubuhnya. Luhan berjengit kaget saat itu juga.

"Balik ke gerombolanmu!" Luhan melihat Sehun berujar dingin kearah pemuda itu. Wajahnya memang tenang-tenang saja saat mengatakan itu, tetapi berhasil membuat pemuda dengan rokok mengapit ditangannya itu buru-buru kembali ke gerombolannya. Seharusnya Luhan tahu siapa yang bisa menendang orang seenak hatinya dan memerintah semaunya, kalau bukan Sehun.

"Kenapa kau kesini?" tanya Sehun.

Luhan dengan mata yang masih melirik kesana-kemari itu menjawab pertanyaan Sehun, "Aku ingin menemuimu. Kau tidak ada dikelas dan diruangan kelompokmu." Luhan baru tahu jika saat jam berakhir, atap sekolah akan bertransformasi menjadi tempat para siswa maupun siswi bersenang-senang. Layaknya bar, tempat ini digunakan untuk bercumbu, merokok, bahkan minum-minum. Luhan tak habis pikir dengan semua ini. Apa tidak ada satupun pihak sekolah yang mengetahui ini?

"Kau bisa tunggu aku dibawah. Aku tidak mau kau melihat ini." Ujar Sehun.

Luhan melipat kedua tangannya didada dan memandang Sehun dengan pandangan menyelidik, "Melihat tempat bersenang-senangmu, maksudmu?"

Sehun mendesah malas, "Aku hanya menemui Chen disini. Percayalah, aku tidak pernah bergabung dalam kelompok orang-orang ini."

Luhan masih memandangnya menyelidik. Dia tidak akan percaya begitu saja pada ucapan Sehun. Walaupun Sehun adalah kekasihnya, tetapi Luhan tidak bisa memungkiri kalau dirinya masih curiga terhadap Sehun perihal mengonsumsi sesuatu. Sehun adalah salah satu dari sekian banyak gangster disekolah ini, kemungkinan besar Ia juga pernah atau memang mengonsumsi narkotik. Dan Luhan bersumpah, dia akan memutuskan hubungannya dengan Sehun jika itu benar. Errr, mungkin ada beberapa keringanan sedikit dari Luhan. tidak mungkin mereka berpisah dengan mudahnya, 'kan?

"Oke, aku pernah merokok weed." Luhan langsung melotot mendengar pengakuan Sehun. Astaga, jadi benar kecurigaannya ini?

"Weed? Ganja, maksudmu?" ulang Luhan, masih dengan mata rusanya yang mendelik tajam. Luhan merasa kepalanya mulai mendidih. Ingin menendang Sehun saat itu juga.

"Tapi itu dulu, Lu. Aku berani bersumpah, aku tidak mengonsumsinya lagi setahun belakangan ini." Tukas Sehun cepat-cepat. Dia tidak pernah tahu jika hari ini Luhan akan bertanya tentang ini dengan nada yang sengit. Gawat jika Luhan sampai meninggalkannya karna masalah ini.

"Aku masih belum percaya."

"Baiklah, kau bisa cium aku jika kau tidak percaya. Rasakan bibirku, jika kau menemui bau rokok dari sana, kau bisa melakukan apapun yang kau mau padaku." Ujar Sehun.

Luhan langsung melunturkan delikan matanya detik itu juga. Sial, dia tahu jika Sehun sedang tidak menggodanya saat ini, tetapi perkataan itu cukup membuat tengkuknya meremang. Disisi lain, Luhan memang ingin memastikan apakah Sehun memang benar bisa dipercaya atau tidak. Apa mencium Sehun adalah cara satu-satunya untuk memastikan? Luhan tidak bisa melakukannya disini. Banyak mata yang memandang kearah mereka.

Tidak! Ini hanya test, bukan sebuah ciuman! —batin Luhan.

Luhan memandang kearah bibir Sehun untuk beberapa saat, hal itu malah mempercepat degupan jantungnya duakali lipat. Ia mulai mendekatkan wajahnya kearah wajah Sehun, terutama pada bibir pemuda bersurai kelam itu. Luhan tidak merasakan bibir Sehun dengan bibirnya, melainkan dengan hidungnya. Ia mengendus bagian sana, memastikan apakah ada bau rokok atau tidak dari sana. Dan ternyata hasilnya positif tidak. Yang tercium oleh Luhan hanyalah hembusan nafas Sehun yang segar. Luhan ingat itu adalah bau lemon ice yang tadi diminum Sehun bersamanya saat jam istirahat.

"Aku suruh kau merasakannya, bukan hanya mengendusnya seperti anak kucing." Ujar Sehun.

Luhan kembali menjauhkan wajahnya. "Apa kau mau aku menciummu dihadapan mata orang-orang ini?"

"Wah, itu artinya kau mau menciumku ditempat yang sepi?"

Luhan mendengus melihat seringaian menjengkelkan Sehun. "Lupakan saja. Aku percaya padamu sepenuhnya, jangan kau rusak kepercayaanku ini. Aku tidak mau kau kembali smoke weed. Karna aku sangat membenci orang yang merusak dirinya sendiri. Kau mengerti?"

"Apapun perintahmu, Yang Mulia." Ucap Sehun yang dibalas senyuman geli dari wajah cantik Luhan.

"Baiklah, sekarang kau harus temani aku mencari Kyungsoo." Luhan meraih tangan Sehun dan menariknya untuk berjalan.

"Ada apa lagi dengan anak itu?" tanya Sehun. Dia heran dengan Luhan yang setiap saat pikirannya hanya Kyungsoo dan Kyungsoo saja. Tidak bisakah Luhan satu hari saja melupakan burung hantu itu?

"Kai mengajaknya ke Sam-dong. Aku tidak percaya pada temanmu itu. Ayo, kita ikuti mereka."

Sehun tidak tahan untuk tidak berdecak malas saat itu juga. "Astaga. Biarkan saja mereka berkencan, Lu. lagipula, Kai sudah menyelamatkan nyawa sepupumu itu kemarin, dan kau masih tidak mempercayainya?" tanya Sehun tak habis pikir.

"Berkencan?" ulang Luhan dengan wajah terganggu. "Jadi mereka akan berkencan? Ini semakin tidak bisa dibiarkan. Aku harus menghentikan mereka! Ayo, cepatlah, Sehun!"

Sehun hanya mendesah pasrah saat Luhan kembali menarik tangannya dan berjalan terburu-buru. jika dirinya keras kepala, maka Luhan lebih keras kepala lagi. Apapun yang diinginkannya harus tercapai saat itu juga—apalagi jika menyangkut Kyungsoo, Luhan akan berubah menjadi orang yang posessif sekali.


"Serius. Kau itu pengendara paling buruk yang pernah kutemui." Ujar Luhan setelah Sehun memakirkan motornya. Dia nyaris saja melayang dan terpental kebelakang jika saja tangannya tidak memegang erat-erat pinggang Sehun. padahal jarak Sam-dong dari sekolah mereka tidak terlalu jauh, tetapi Sehun mengemudi layaknya di arena balap. Luhan heran sekali dengan pemuda itu, dia sepertinya tidak tahu caranya mengemudi pelan-pelan.

"Lain kali aku akan mengajakmu ke California, disana ada jalan yang bagus sekali untuk menunjukanmu bakat berkendaraku." Dengan wajah serius, Sehun mengatakan itu.

Luhan rasanya ingin sekali memukul Sehun. Bukannya meminta maaf, pemuda itu malah mengajaknya untuk kembali ugal-ugalan dijalan. "Terimakasih, Sehun. Lebih baik uangmu itu kau belikan sepeda saja. Kurasa kau lebih cocok memakai sepeda." Dengusnya sinis.

Sehun mengangguk-angguk, "Baiklah. Besok aku akan memakai sepeda ke sekolah."

Luhan tersenyum geli menanggapinya, mana mungkin pemuda macam Oh Sehun mau memakai sepeda didepan teman-temannya. Dengan harga diri setinggi langit, Luhan yakin perkataan Sehun barusan adalah hanyalah omong kosong belaka.

"Disini ramai sekali." mata rusa Luhan berkeliaran kesegala arah, melihat-lihat disepanjang jalan Sam-dong yang diramaikan oleh para pedagang makanan maupun cinderamata. Juga, banyak pemuda-pemudi yang berjalan kesana-kemari meramaikan jalan ini. Ini pertama kalinya Luhan berkunjung kesini. Tidak dia sangka, Kai memiliki selera tempat yang bagus untuk mencuri-curi kesempatan dengan Kyungsoo.

"Ya, dan bagus untuk berkencan denganmu." Sehun meraih bahu mungil Luhan dan merangkulnya. Dia melempar senyum manis kala Luhan mendongak untuk memandangnya.

"Kita disini untuk mencari Kyungsoo, kau ingat?"

"Tidak. Aku mendadak amnesia." Luhan mendelik mendengar jawaban Sehun yang menjengkelkan itu. "Yang kuingat adalah disini kita akan menghabiskan waktu berdua." Lanjut Sehun, masih dengan senyuman yang membuat matanya melengkung seperti bulan sabit.

"Sehun—"

"Mari kita berkencan, kekasihku." Sehun menarik tubuh kecil Luhan dan mengajaknya berjalan.

Luhan akhirnya mengalah, memilih mengikuti kemauan Sehun. Sekejap keinginannya untuk mencari Kyungsoo mendadak hilang begitu saja. Ini pertama kalinya Sehun mau mengajaknya berkencan secara normal seperti pasangan lainnya, bukan berkencan ditengah-tengah jalan dengan ancaman peluru mengenai tubuh mereka. pemuda manis itu mengaitkan lengannya pada lengan Sehun. Membalas senyuman kekasihnya tak kalah manis.

"Belikan aku apa saja, oke?"

Sehun mengangguk, "Baiklah, Yang Mulia."


"Disana kalau tidak salah sedang ada pertunjukan boxing. Ayo, kita kesana."

Luhan melepaskan tangan Sehun yang merangkul bahunya, tiba-tiba dia berhenti berjalan. Membuat Sehun harus menengok kearahnya dengan bingung. Luhan mengulas senyum setengah hatinya kearah Sehun, "Wah, aku tidak menyangka kau seromantis ini sampai-sampai mengajak kekasihmu berkencan didalam stadion boxing. Apa nanti kau juga akan menciumku ditengah-tengah ring tinju?" tanyanya, sinis. Sehun itu memang berbeda sekali dengan yang lain. Dia adalah kekasih paling manis yang pernah ada didunia. Disaat orang-orang mengajak kekasihnya kesuatu tempat yang romantis seperti halnya Sungai Han atau Namsan maka Sehun akan mengajak kekasihnya ke arena balap dan stadion boxing. Disaat orang-orang memberikan sebuket bunga cantik pada kekasihnya maka Sehun akan memberikan Luhan sebuah revolver sebagai hadiah hari jadi mereka yang ke-satu bulan. Bukankah dia sangat manis?

"Ayolah, sayang. Aku tidak mungkin mengajakmu menonton gelembung-gelembung idiot yang ada disana 'kan?" ujar Sehun menunjuk sebuah kerumunan yang tengah menonton Gazillion Bubble Show.

Layaknya anak kecil, Luhan langsung berbinar-binar melihatnya. "Itu bukan gelembung idiot. Lihat itu! Wah, bagus sekali! Besar sekali gelembungnya. Bagaimana bisa mereka membuatnya?"

Sehun menepuk dahinya keras-keras. Seharusnya dia tidak memberitahu Luhan tentang pertunjukan gelembung-gelembung bodoh itu. Sekarang, pemuda bermata cantik itu pasti akan menariknya kesana. Sial, Sehun tidak mau membuang waktunya untuk menonton pertunjukan menggelikan itu.

"Sehun, ayo kesana!"

Tepat. Tidak meleset sama sekali. Sehun hanya pasrah saat tangannya ditarik oleh Luhan menuju kerumunan orang yang tengah menonton pertunjukan anak kecil itu. Kesukaan Luhan dan dirinya memang jauh berbeda sekali. jika Sehun menyukai hal-hal yang berbau tantangan, maka Luhan lebih menyukai hal-hal yang berbau kekanakan. Kekasihnya itu selalu mengklaim dirinya adalah lelaki manly, tetapi anehnya setiap malam dia selalu memakai piyama bermotif kartun dan duduk manis didepan teve bersama kucingnya dan menonton acara anak kecil bersama. Tetapi Sehun diuntungkan dengan perbedaan itu semua. Karna Luhan lebih cocok dengan kepribadian menggemaskannya. Sehun tidak bisa membayangkan jika Luhan adalah seseorang bertattoo dan berbadan besar, serta memiliki hobby yang sama seperti dirinya. Itu agak… mengerikan.

"Lebih baik melihat ini 'kan daripada menonton dua orang lelaki saling adu tinju?" suara Luhan agak teredam dengan suara musik pertunjukan. Sehun mengangguk, mengiyakan ucapan kekasihnya, walau dalam hatinya dia menentang keras ucapan Luhan.

Luhan tampaknya senang sekali melihat pertunjukan tiga orang ditengah-tengah sana yang sedang membuat gelembung raksaksa dengan alat mereka, terbukti dari mata rusanya yang berbinar-binar dan bibirnya yang terus membulat kagum. Sehun tidak masalah jika harus menonton gelembung-gelembung tidak berguna ini kalau balasan yang Ia dapat adalah wajah manis Luhan.

"Wah.." Luhan beribu kali lipat lebih menggemaskan ketika melihat sebuah gelembung menghampiri dirinya. Dia sampai mengabaikan eskrim ditangannya yang mulai meleleh. Luhan mengarahkan jemarinya kearah gelembung itu, hendak menyentuhnya. Tetapi belum sampai menyentuhnya, gelembung itu sudah pecah terlebih dahulu.

Sehun ikut tertawa bersama Luhan saat gelembung itu pecah didekat mereka dan mengenai wajah keduanya. Mereka terlihat seperti pasangan paling bahagia diantara kerumunan orang-orang disini. Tertawa bersama dengan memandang satu sama lain, seolah-olah semua orang didekat mereka hanyalah daun-daun musim gugur yang tidak berarti.

"Kyungsoo?"

Sehun mengurungkan niatnya untuk membersihkan sisa eskrim disudut bibir Luhan ketika pemuda itu menyebutkan nama sepupunya. Luhan melengoskan wajah begitu saja dari hadapannya, membuat Sehun menahan dirinya untuk tidak mengumpat. Kyungsoo lagi. Kapan dirinya dan Luhan akan menghabiskan waktu bersama tanpa ada orang ketiga?

"Biarkan saja mereka berkencan." Sehun meraih lengan Luhan yang akan pergi menghampiri Kyungsoo dan Kai yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. "Mereka terlihat senang menikmati waktu bersama." Lanjut Sehun, Disana terlihat Kai dan Kyungsoo yang juga menonton Bubble Show dengan makanan ringan ditangan mereka masing-masing. Keduanya terkadang tertawa bersama, seperti tidak pernah ada permusuhan diantara mereka. Sehun tidak menyangka temannya itu akan secepat ini berani mendekati Kyungsoo. Dasar menggelikan! Pantas saja dia terlihat buru-buru saat bel pulang sekolah berbunyi, ternyata ini alasannya. Sehun yakin, Chanyeol dan Chen akan senang mendengar berita ini.

"Kyungsoo selalu melarangku untuk pergi denganmu, kali ini aku akan membalasnya. Dia tidak meminta izin padaku terlebih dahulu untuk pergi dengan Kai." Tukas Luhan.

"Ah, ternyata ini balas dendam." Sehun nyaris tertawa mendengar pernyataan kekasihnya. "Baiklah, ayo kita hampiri mereka."

Luhan melirik Sehun sejenak, "Sepertinya kau senang sekali dengan yang namanya balas dendam." Yang lebih tinggi hanya menjawab dengan senyuman menjengkelkan.


Kai merasa seperti orang sinting karna tidak henti-hentinya tersenyum seraya memandangi makhluk mungil disampingnya. Dia tidak ingat kapan terakhir kalinya Ia tersenyum sebebas ini. Rasanya menyenangkan sekali, seperti tidak ada beban berat dalam hidupnya. Dia baru tahu jika Kyungsoo bisa membuatnya seperti ini. Senyuman pemuda mungil itu terlihat lucu dan menarik dalam waktu yang bersamaan. Ketika tertawa, pipi gembilnya akan terangkat, dan itu membuat Kai gemas pada Kyungsoo. Dia seperti anak kecil.

Pemuda berkulit tan itu meraih tangan kiri Kyungsoo yang bebas, dan menggenggamnya. Yang lebih kecil mendongak, memandangnya dengan 'apa-maksudnya-ini?' dan Kai membalasnya dengan senyuman playboy kelas kakap.

"Agar terlihat seperti yang lain." Jawabnya, dengan enteng.

Tidak seperti dugaan Kai, Kyungsoo membalasnya dengan senyuman geli disertai pipi apelnya yang memerah. "Kau konyol." Ujarnya. Kai tertawa mendengarnya dan semakin mengeratkan genggamannya. Ini lucu sekali, kemarin mereka masih bertengkar dan saling berpandangan dingin tetapi sekarang saling melempar senyum satu sama lain. Perubahan memang tidak pernah diketahui siapapun.

"Ternyata jika dilihat dari dekat, kau itu manis sekali. Menggemaskan, seperti anak kecil." Ujar Kai tanpa penyaringan terlebih dahulu. Dia tidak pernah suka menyembunyikan apapun yang mengganjal dalam pikirannya. Kai selalu mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya secara blak-blakan. Ayahnya pernah berpesan; 'kau itu harus jadi orang jujur! Katakan yang ada dipikiranmu walau itu menyakitkan. Ayahmu ini walau bajingan seperti ini, sangat menjunjung tinggi yang namanya kejujuran.'

Kyungsoo mendengus, "Kenapa kau jadi seperti ini?" dia mengalihkan pandangannya dari Kai yang masih saja memandanginya. Pemuda itu membuatnya gugup mendadak. Kyungsoo nyaris tersedak makanannya sendiri karna perkataan Kai barusan.

"Entahlah. Aku juga tidak tahu." Jawab Kai dengan asal.

"Kau pasti selalu seperti ini pada orang lain." Kyungsoo melepas tangannya yang berada didalam genggaman Kai, tetapi pemuda itu tidak membiarkannya.

"Kenapa memangnya?"

Si eksotis kembali mengukir senyum menggodanya, membuat Kyungsoo ingin menampar wajah Kai agar pemuda tan itu kembali menjadi dirinya yang kemarin-kemarin.

"Jongin—"

"Aku hanya menggenggam tangan orang yang menurutku menarik."

Kyungsoo mengedipkan matanya sekali, "Huh?"

"Aku hanya menggenggam tangan orang yang menurutku menarik, jika kau butuh pengulangan." ujar Kai, tangannya yang satu hendak mendarat diatas kepala Kyungsoo—ingin mengacak rambutnya—tetapi, seseorang sudah terlebih dahulu menangkap pergelangan tangannya. Kai menoleh ke si pemilik tangan tersebut, dan dia merasa terkejut saat melihat sosok Luhan sudah berdiri didekatnya.

"Luhan hyung?" bukan Kai yang mengucapkan, melainkan Kyungsoo dan mata membulatnya.

"Sehun, lepaskan tangan mereka." titah Luhan, tanpa menjauhkan pandangan tajamnya pada Kyungsoo dan Kai. Sehun menuruti perintah kekasihnya dengan patuh. Pemuda itu meraih kedua tangan Kai dan Kyungsoo yang bergenggaman, lalu melepaskannya dengan paksa. Sehun hanya tersenyum miring kala Kai memandangnya dengan tatapan 'apa-apaan kau!'

"Bagus sekali. Bukannya pulang kerumah, kau malah pergi dengan anak ini setelah pulang sekolah. Aku ingin tahu apa pendapat Appamu tentang ini." Ujar Luhan, agak ketus.

"Hyung, aku hanya melihat pertunjukan ini. Jangan berlebihan seperti itu."

Kai mengangguk, menyetujui ucapan Kyungsoo. "Ya, aku hanya mengajak Kyungsoo kesini."

Luhan beralih menatap Kai, kali ini pandangannya bertambah tajam. Sehun rasanya akan tertawa sebentar lagi. "Kau!" pemuda bermata rusa itu menunjuk wajah Kai dengan sengit, "Berani sekali mengajak Kyungsoo. Kau mau kupukul, ya?!"

"Luhan Hyung! Kenapa kau jadi seperti ini? Lihatlah dirimu, kau juga pergi dengan Sehun. Kau bahkan selalu pulang malam dengannya. Kau tidak pernah mendengarkanku! Sekarang, jangan melarangku untuk pergi dengan Jongin. Kau tidak berhak!"

Luhan langsung membungkam bibir merahnya saat itu juga. Dia mengedipkan matanya beberapa kali, sementara didepannya Kyungsoo tengah menatapnya dengan pandangan sebal.

"Kyungsoo," desis Luhan.

Kai hendak melerai pertengkaran sengit dua pemuda manis itu, tetapi Sehun langsung menarik lengannya. "Kita tidak perlu ikut-campur oke? Biarkan mereka berdebat." Ujar Sehun. Kai hanya menghela nafasnya melihat Kyungsoo dan Luhan mulai sibuk berdebat dan melupakan jika disekitar mereka banyak orang.

"Perasaanku mengatakan jika kau mulai tertarik dengan Kyungsoo." tukas Sehun.

Kai meliriknya cukup sengit. "Memangnya kau punya perasaan?" dia masih kesal dengan kehadiran Sehun dan Luhan yang mengganggu waktunya dengan Kyungsoo. "Kenapa kau harus datang dengan Luhan kesini sih?"

"Luhan ingin mencari Kyungsoo karna kau menculiknya tiba-tiba. Karna kau, waktu berkencanku harus terganggu."

"Kau juga bersalah, sialan. Karna kedatanganmu kesini, semuanya jadi kacau." Geram Kai, membalas pandangan tajam Sehun yang menusuk matanya.

Sehun berdecak kesal, "Sial, kenapa kita jadi ikut-ikutan berdebat."

Kai menghela nafasnya, lagi. "Sepertinya Luhan sangat anti padaku. Bagaimana caranya agar aku mudah menjadi Adik iparnya?"

Sehun langsung terbahak mendengarnya. Sudah dia duga jika temannya itu mulai tertarik dengan Kyungsoo. Menarik sekali melihat Kai yang seperti ini. Temannya itu jarang sekali menampakan rasa kesukaannya pada orang-orang, tetapi sekarang, dia terlihat baik-baik saja mengungkapkan perasaannya. Chanyeol dan Chen harus benar-benar tahu soal ini.

"Sehun, Luhan itu 'kan kekasihmu. Tolong, kau bujuk dia agar mau menyetujui hubunganku dan Kyungsoo. Bukankah akan menyenangkan jika kita menjadi sepupu? Aku akan menjadi adikmu, Kakak ipar."

Sehun memasang wajah terganggunya melihat Kai yang memohon-mohon padanya. Apa-apaan anak itu?! Belum tentu Kyungsoo mau menerimanya. Kepercayaan dirinya memang tinggi sekali. Dan membayangkan dirinya menjadi Kakak Ipar untuk seorang Kim Jongin, mendadak membuat Sehun merasa geli sendiri.

"Aku tidak mau mempunyai adik ipar se-brengsek dirimu."

"Bajingan. Kenapa kau sangat jahat padaku?! Kau dan Luhan itu sama saja!"

Sehun tertawa puas. "Ya, karna itulah kami berdua cocok jadi sepasang kekasih."


Luhan memukul tangan Kai yang merayap mendekati tangan Kyungsoo, membuat pemuda berkulit tan itu membatalkan niatnya untuk bergenggaman dengan Kyungsoo. Luhan memicingkan matanya kearah Kai, lalu berdesis tajam,

"Jangan sentuh Kyungsoo."

"Kau jahat sekali." gumam Kai, jengkel.

Jika Luhan bukanlah sepupu Kyungsoo dan kekasih temannya, maka Kai dengan senang hati akan mengikat pemuda rusa itu dipohon seberang sana. Sehun pasti sudah banyak mengajari kekasihnya itu cara bersikap pada orang-orang. Lihat saja sekarang, Kai bisa melihat ada diri Sehun dalam tubuh Luhan. bedanya, Sehun akan mengerikan saat berbicara sedangkan Luhan malah terlihat lucu.

"Kalian berdua memang mengidap Brothercomplex." Sehun mengutarakan pendapatnya, seraya menyesap Americano miliknya. Saat ini mereka memang berada di salah satu café yang tidak jauh dari Gazilion Bubble Show. Setelah lelah berdebat, Luhan dan Kyungsoo kembali bersikap biasa-biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa. Sehun sampai heran, kenapa mereka berdua bisa cepat berbaikan seperti itu?

"Aku hanya tidak mau Kyungsoo jatuh ke tangan orang yang salah." Ujar Luhan, seraya melirik Kai.

"Dan aku juga tidak mau Luhan hyung berdekatan dengan orang mengerikan sepertimu." Kyungsoo langsung menohok dada Sehun.

"Kyungsoo!"

"Luhan Hyung!"

Sehun memutar bola-matanya, "Berhentilah bertengkar." Dia meraih tangan Luhan dan memandang kekasihnya itu dengan penuh perhatian, mengabaikan diseberang sana, Kyungsoo tengah mendelik kearahnya. "Sayang, dengarkan aku. Bagaimana perasaanmu saat Kyungsoo melarangmu untuk berdekatan denganku?"

Luhan mendengung sesaat, "Kesal dan tidak nyaman."

"Nah, begitu juga dengan Kyungsoo. dia pasti merasa tidak nyaman saat kau melarangnya pergi dengan Kai. Biarkan saja dia melakukan apa yang dia mau. Kalian berdua terlalu kekanakan, memangnya seburuk apa aku dan Kai dimata kalian?" tukas Sehun.

Kyungsoo dan Luhan sama-sama terdiam. Menunduk seperti anak kecil yang tengah dimarahi. Sementara itu, Kai diam-diam melakukan high-five dengan Sehun.

"Maafkan aku,"

Sehun menepuk-nepuk pipi Luhan dengan lembut, "Jangan meminta maaf padaku. Minta maaflah pada Kyungsoo. Aku tidak mau kalian bertengkar karna aku dan Kai." Pemuda bersurai hitam kelam itu tersenyum tipis saat dua bersaudara didepannya saling meminta maaf. Ah, mereka memang seperti anak kecil. Sangat mudah diajari.

"Wow, kau hebat." Bisik Kai.

"Itu hal yang mudah." balas Sehun, dengan wajah datar andalannya.

"Sehun, aku suka sikap dewasamu." Ujar Luhan seraya tersenyum manis pada Sehun. Yang mendapat senyuman, memberikan Luhan sebuah ciuman singkat dipipinya.

Wajah Luhan berangsur-angsur memerah, dia melirik kesegala arah, memastikan jika tidak ada orang yang melihat perlakuan Sehun barusan. "Sehun!" —dan sedikit memberikan kekasihnya itu tendangan dibawah sana.

"Apa aku boleh melakukan hal yang sama pada Kyungsoo?" tanya Kai, dengan wajah berharap-harap. Detik selanjutnya, pemuda itu langsung terdiam mendapat delikan tajam dari Luhan dan Kyungsoo bersamaan.

"Ya, ya. Aku mengalah saja." Gumam Kai, seraya meminum minumannya malas-malasan.

Trrrring!

Luhan mengambil ponselnya yang berdering didalam sakunya. Dia melihat kearah layar ponselnya. Ada panggilan masuk, dan itu dari Mama-nya. Ada apa wanita itu mendadak menghubunginya?

"Tunggu sebentar," Luhan bangkit dari duduknya dan berjalan menjauh sedikit untuk menerima telepon.

"Kira-kira siapa yang menghubunginya?" tanya Sehun, entah pada siapa. Dia memandangi punggung mungil Luhan yang berdiri tak jauh darinya.

"Gadisnya, mungkin." ceplos Kai. Dia menggeser duduknya agar lebih berdekatan dengan Kyungsoo, tetapi pemuda mungil itu malah menjauhinya. Oh sialan! Kenapa susah sekali melakukan yang namanya 'pendekatan' itu?

Sehun menjawab ucapan Kai dengan tenang, "Luhan hanya milikku, keparat."

Luhan kembali duduk ditempatnya setelah menerima telepon. Wajahnya mendadak terlihat khawatir dan itu membuat Sehun dan Kyungsoo memandangnya dengan bingung. Pemuda bermata rusa itu terlihat gelisah ditempat duduknya.

"Ada apa?" tanya Sehun, tanpa bisa menyembunyikan perasaan khawatirnya.

Luhan memandangnya dengan sedih. "Aku harus ke Beijing."


Tobecontinued—


a/n :

dua bulan lebih kita tak berjumpa:')) apa kabar kalian? Hehe.

Dobby yang tukang php kambek nih. Tapi yang ini anggep aja chapter spesial gue balik ke ffn/?, chapter depan baru serius-seriusan lagi. Penulisan gue makin ancur ya? Huhuhu. Sedih.

Udah segini aja, gatau gue mau ngomong apaan lagi. As always, terimakasih banyak yang udah mau nyempetin baca FF ini terus kasih review terus nge-fav terus nge-follow. Aku padamu, muah:* Not Perfect gabakal lanjut tanpa semangat dari kalian :* /ewh sok chessy ewh/

Btw, Minal Aidzin Wal Faidzin buat yang merayakan hari raya:)) Maafkan daku jika daku banyak salah sama kalian:) InsyaAllah chapter depan cepet publishnya ((kalo bisa)) hehe.