Imperfections

Story belong to ©Anggara Dobby

Oh Sehun—Lu Han

With others pairing

[Warn!] YAOI, Gay Content, Mature, Alternative Universe, Typo(s), DLDR.


"Aku tidak bisa ke Voltaire."

Sehun menjawab panggilan dari Chen dengan malas, Dia menenggak sekaleng cocktail-nya hingga tak tersisa menyebabkan tenggorokannya terasa panas dan dia tersedak saat itu juga. Sial. Mood-nya semakin buruk saja kalau begini.

"Kau sedang sakit, ya? Mau obat batuk?"

Sehun memutar bola-matanya mendengar pertanyaan Chen, "Aku tersedak minumanku sendiri, bodoh." dan Sehun merasa kesal sendiri mendengar suara tertawa dari seberang sana. Chen dan tawa nyaringnya memang selalu membuat Sehun kesal.

"Jika keadaanmu sedang buruk, kenapa tidak datang ke klub? Semuanya ada disini. Chanyeol, Baekhyun. Tetapi aku tidak melihat Kai, anak itu tumben sekali tidak datang."

"Ayahku memintaku untuk datang ke acara makan malam sialan. Aku akan datang ke Voltaire setelah acara bodoh itu selesai." Jawab Sehun seraya meneguk kaleng minumannya yang ketiga. Oh, dia merasa mulai pusing sekarang.

"Good. Kutunggu kehadiranmu, Sehun."

Sehun menaruh kembali ponselnya didekatnya. Bagus. Luhan tidak menjawab atau membalas pesannya sama-sekali sampai saat ini. Pasti kekasihnya itu sedang sibuk menaruh pakaian-pakaiannya kedalam koper dan bersiap-siap untuk berangkat ke Bandara beberapa jam lagi. Luhan akan pergi ke Beijing untuk beberapa hari, dan itulah penyebab aura tidak enak mengelilingi tubuh Sehun. Luhan pergi ke negara kelahirannya bukan tanpa sebab yang membuat Sehun bisa menghentikannya. Kakaknya baru saja ditangkap polisi karna Black Market yang sudah lama dilakoninya diketahui polisi dan karna hal itulah Ayahnya mengalami serangan jantung, kini tengah dirawat di Rumah Sakit. Itulah mengapa Sehun tidak bisa mencegah Luhan untuk pergi ke Beijing. Pemuda manis itu terlihat sangat terpuruk, dan Sehun tidak mau menambah bebannya hanya karna ingin terus bersama Luhan. Sehun juga baru tahu jika salah satu anggota keluarga Luhan ada yang terlibat dalam bisnis illegal seperti perdagangan heroin lewat pelabuhan. Dia kira, keluarga Luhan adalah keluarga paling sempurna yang pernah Ia tahu.

Didunia ini mana ada yang sempurna—batinnya, mencela.

"Aku akan membuat surat perizinan untukmu. Baiklah, aku akan mengantarmu ke Bandara oke?"

Sehun mengalihkan pandangannya dari layar televise begitu melihat Junmyeon berjalan didekatnya dengan ponsel menempel pada telinganya. Dia terlihat sibuk menelepon dengan satu tangan yang lainnya menggenggam kunci mobil. Penampilannya juga cukup rapi. Mau kemana dia? Sementara beberapa menit lagi mereka harus pergi ke acara makan malam yang dibuat oleh Ayahnya.

"Tidak usah berterima-kasih, Luhan. Aku segera kerumahmu sekarang."

Sehun sontak mendengus, mengetahui Junmyeon sedang berteleponan dengan Luhan. Ah, jadi karna itu Luhan tidak menjawab panggilannya karna dia tengah sibuk berbicara dengan Junmyeon? Mendadak Sehun ingin menampar seseorang.

Pemuda bertubuh tinggi itu bangun dari duduk malasnya, menghampiri Junmyeon yang sama-sekali tidak mempedulikan kehadirannya disana. Sehun berdiri dihadapan Junmyeon, menghalangi jalan pemuda itu.

"Kau mau menemui Luhan?" tanya Sehun, tanpa berbasa-basi.

"Bukan urusanmu." Masih sama. Junmyeon masih bersikap dingin padannya, dan Sehun tidak mau peduli akan hal itu. Dia sudah terbiasa.

Junmyeon berjalan melewatinya, dan Sehun segera menghentikannya dengan ucapan datarnya. "Tetapi, Luhan itu kekasihku. Jadi itu termasuk urusanku, benar?"

Junmyeon membalikan tubuhnya, memandang Sehun dengan dahi yang berkerut dalam. Sesaat wajahnya terlihat tidak menyenangkan, tetapi dia menutupinya dengan dengusan mencela. "Sepertinya kau harus bangun dari tidurmu, Sehun."

Sehun menyeringai, "Tanyakan saja pada Luhan, dan tanyakan juga sudah berapa kali aku menidurinya."

Rahang Junmyeon mengeras, matanya berkilat tajam pada Sehun. "Kau memang keparat, Oh Sehun." geramnya dengan gigi bergemeletuk mengerikan. Sudah dia duga jika Hyung-nya itu memiliki perasaan lebih pada Luhan. Lihat, betapa marahnya dia sekarang. Sehun cukup puas dengan kenyataan kalau Luhan lebih memilihnya yang brengsek seperti ini ketimbang pemuda baik-baik seperti Junmyeon.

Sehun tersenyum simpul dan merampas kunci mobil yang ada ditangan Junmyeon. Yang lebih tua semakin emosi melihatnya.

"Aku saja yang menjemput Luhan. Aku yakin kau bukan tipe kakak yang ingin merebut kekasih adiknya sendiri." Ujar Sehun.

"Ah ya, ada seseorang yang sudah lama menyukaimu tapi kau tidak pernah melihat kearahnya. Lupakan perasaanmu pada Luhan. Aku berbicara seperti ini bukan sebagai kekasih Luhan, tetapi sebagai Adikmu." Lanjut Sehun, sebelum benar-benar pergi untuk menemui Luhan.

Junmyeon memandangi punggung Sehun yang menjauh dengan pandangan menusuk. Dia tidak bisa percaya jika Luhan mau menerima bajingan seperti Sehun menjadi kekasihnya. Tetapi melihat kedekatan keduanya disekolah, mungkin saja perkataan Sehun benar. Anak itu memang kurang-ajar tetapi Junmyeon tidak bisa berbohong jika disetiap perkataan Sehun pasti ada rasa kepedulian anak itu untuknya. Dan siapa yang dimaksud oleh Sehun? 'seseorang yang sudah lama menyukaimu'? Hah, omong kosong macam apa ini. Sehun mana tahu tentang percintaan. Junmyeon saja tidak yakin anak itu memiliki perasaan.


Luhan berhenti melangkahkan kakinya begitu melihat Sehun sudah ada didepan gerbang rumahnya. Pemuda itu bersandar dimobilnya seraya memutar-mutar kunci mobilnya dengan wajah yang tidak menyenangkan sama-sekali. Kenapa Luhan bisa menyukai orang yang miskin ekspresi seperti Sehun? Dia bahkan tidak menunjukan senyumnya sama-sekali pada kekasihnya. Luhan mendengus sesaat, lalu kembali berjalan menghampiri Sehun seraya menyeret koper besarnya. Dia ingin tahu apa yang diinginkan kekasihnya itu disini.

"Kenapa tidak menjawab teleponku?" Sehun bertanya cukup sinis.

"Aku sedang membereskan barang-barangku." Bersyukurlah karna Luhan memiliki kesabaran yang cukup tinggi untuk menghadapi kekasih macam Sehun. Sehun memang tengah dalam mode merajuk karna Luhan menolak permintaannya, yaitu hanya dua hari saja di Beijing. Luhan tidak bisa secepat itu pulang dari sana. Mama-nya membutuhkan dirinya. Wanita itu pasti sedang sangat terpuruk disana.

"Membereskan barangmu atau berteleponan dengan Junmyeon Hyung?"

Luhan menghela nafasnya, "Sehun—"

"Sudahlah, masuk saja kedalam. Aku yang akan mengantarmu ke Bandara." Tukas Sehun.

Luhan berdecak sebal melihat Sehun yang masih saja menampakan raut dingin menyebalkannya itu. Dia tidak bisa pergi dalam keadaan bertengkar dengan Sehun seperti ini. Bukan kemauannya pulang ke China dan meninggalkan Sehun untuk beberapa hari. Ini tentang keluarganya. Keluarga adalah prioritas nomor satu untuk Luhan.

Luhan memukul kepala bagian belakang Sehun saat pemuda itu hendak masuk kedalam mobil.

"Ya!" Sehun langsung membalikan tubuhnya dengan mata menyalang tajam. Sayangnya, Luhan sudah tidak takut lagi pada tatapan seperti itu. "Apa yang kau lakukan?" tanya Sehun dengan penekanan. Terlihat jengkel dengan perbuatan Luhan.

Luhan mengulas cengiran manisnya seraya menangkup wajah Sehun dengan kedua tangannya. "Berhentilah merajuk, Hunhun~" —jangan lupakan matanya yang mengerjab-ngerjab cepat seperti anak kecil yang tengah meminta sesuatu pada Ibunya.

Sehun masih mempertahankan wajah datarnya, "Aku tidak merajuk. Itu perbuatan yang dilakukan orang-orang idiot." Berusaha sekuat mungkin agar tidak terpengaruh dengan wajah menggemaskan Luhan.

"Uuh, lalu apa? Kau marah padaku karna aku akan pergi? Atau karna aku mengabaikan panggilanmu?" Kali ini, tangan Luhan mencubit-cubit pipi kekasihnya kesana-kemari. "Kau menggemaskan sekali jika sedang marah."

"Aku tidak cocok dengan kata 'Menggemaskan', Lu."

Tangan Luhan turun menuju bahu bidang Sehun, lalu mengalungkan kedua tangannya pada leher pemuda itu. Luhan mengulas senyum manisnya pada Sehun. Sementara yang lebih tinggi mengalihkan pandangannya, masih belum mau melunak.

"Aku tidak akan lebih dari seminggu di Beijing. Kau pasti tahu jika aku juga tidak bisa berlama-lama jauh darimu." Luhan melunturkan senyumnya, sesaat wajahnya nampak murung. Menunjukan suasana hatinya yang sebenarnya. Dia tidak pernah menyangka jika Kakaknya, Zhou, bisa terlibat dalam bisnis hitam seperti perdagangan heroin lewat pelabuhan. Selama ini, Luhan menganggap Zhou adalah idolanya. Dia adalah seorang kakak yang sangat perhatian pada adiknya, Dia selalu tahu bagaimana cara menyenangkan hati Luhan, dan dia selalu memperlakukan Luhan dengan sangat baik. Tetapi nyatanya, Zhou bukan seorang Kakak yang bisa menjadi panutan untuk adik-adiknya.

"Hey, kemana perginya senyuman cantik Luhan-ku?" Sehun meraih dagu Luhan saat pemuda manis itu malah termenung dengan wajah mendung.

Luhan tersenyum lagi, terkesan dipaksakan. "Aku tampan, jika kau lupa."

Sehun mendengus. Lagi-lagi berkilah. "Aku yakin para gadispun akan menangis karna kalah cantik denganmu."

"Sehun, jangan menghinaku." Luhan menggeram sebal.

"Kenapa kau lucu sekali sih? Membedakan pujian dan hinaan saja tidak bisa." cibir Sehun. Pemuda itu tertawa seraya menahan tangan Luhan yang melayang kearah kepalanya. Suasana hatinya yang tengah buruk hilang dalam sekejap hanya karna sudah bertemu dengan Luhan. Sehun tidak tahu bagaimana dirinya nanti saat Luhan tidak ada disampingnya untuk beberapa hari. Mungkin terdengar berlebihan, tapi percayalah, orang yang tengah dimabuk cinta itu adalah orang yang paling dramatisir yang pernah ada. Mereka akan resah saat kekasihnya pergi walau untuk beberapa menit sekalipun. Apalagi saat usia remaja seperti ini, Sehun sama seperti remaja-remaja lain yang masih labil. Bahkan orang dewasa sekalipun akan meraung-raung rindu jika ditinggal oleh pasangannya. Karna pasangan bukan hanya seseorang yang terus berada di sisi kita, tetapi juga yang membawa warna pada hari-hari kita. Saling melengkapi kekurangan satu sama lain dan saling berbagi apapun yang bisa kita berikan.

"Lu,"

Luhan menjawab panggilan Sehun dengan sebuah gumaman, "Hm?"

Perlahan tangan Sehun meraih pinggang kecil Luhan, membawa rusa manis itu pada jarak tubuh yang begitu dekat. Bibir tipisnya membisikan kalimat yang membuat pipi apel Luhan memanas, "Bisakah kita bercinta dulu sebelum kau pergi?"

"Y-Ya!" Luhan berseru gugup, seraya melepas tubuhnya dari dekapan Sehun. "J-jadwal penerbanganku hanya beberapa menit lagi. Jangan bicara omong kosong!"

Sehun berdecak kesal. "Satu ronde saja, bagaimana?"

Luhan menggeleng. "Kau tidak bisa dipercaya."

"Ck. Oral seks?"

"Astaga, Oh Sehun. Kubilang tidak, ya tidak."

"Hanya menggesek-gesek?"

"Apa maksudmu, bodoh?!" Wajah Luhan sudah sangat memerah sekarang. Antara malu dan jengkel bukan main pada kekasih mesumnya itu. Rasanya ingin sekali memukul hidung Sehun.

Sehun mengacak rambutnya sendiri hingga berantakan. "Baiklah. Aku akan menyewa jalang saja."

Luhan meraih gagang kopernya, bersiap-siap masuk kedalam mobil Sehun—sebenarnya itu mobil Junmyeon. Dia mengulas senyum miringnya mendengar ucapan Sehun.

"Kau hebat jika kau bertahan dengan tangan-tangan para jalang yang menyentuh tubuhmu dan bibir berlipstik merahnya yang menciumi wajahmu. Lalu kau akan melihat mereka orgasme dibawah tubuhmu. Silahkan saja sewa jalang-jalang untuk menemani malammu. Aku tidak keberatan." Ujar Luhan dengan santai, seraya masuk kedalam mobil.

Sehun meringis mual mendengar ucapan Luhan barusan. Dia memandangi tubuhnya sendiri, tidak bisa membayangkan wanita-wanita pelacur itu akan menempelkan tubuh mereka pada tubuhnya. Lalu mereka meneriakan namanya dalam lenguhan klimaks. Membayangkannya saja sudah membuat Sehun merasa pusing karna mual. Oh, Sialan. Kenapa dirinya tidak bisa bercinta dengan orang lain selain Luhan? dan yang lebih sialan adalah, kenapa Luhan sangat mengenal dirinya luar-dalam? Pemuda manis pasti tahu jika dirinya tidak bisa melakukan seks dengan orang lain.

Kepala Luhan menyembul dari kaca mobil, "Tunggu apalagi, Hunhun? Aku akan terlambat nanti!" Dibalik wajah polosnya, Sehun tahu si manis itu diam-diam mentertawakannya.

Sehun mendengus sesaat lalu masuk kedalam mobilnya. Lihat saja rusa itu, Sehun akan memberikannya pelajaran nanti.


Sehun mendekap Luhan dalam pelukannya, bibirnya berulang-kali mengecup kepala rusa manisnya itu, berusaha menenangkannya. Tiba-tiba saja Luhan menangis, Sehun tidak tahu apa penyebabnya. Dia jarang sekali menampilkan kelemahannya seperti ini didepan Sehun. Tak ayal hal ini membuat Sehun dilanda kebingungan. Entah Luhan sedih karna mereka akan berpisah beberapa hari atau karna keluarganya yang sedang diselimuti berbagai masalah. Sehun tidak tahu pasti.

"Aku akan merindukanmu," Luhan berbisik disela-sela tangisannya. Kedua tangannya memeluk erat tubuh Sehun seolah-olah jika terlepas satu detik saja, Sehun akan menghilang saat itu juga.

Jantung Sehun berdebar keras, antara terlalu senang mendengar pernyataan Luhan dan sesak dalam waktu yang bersamaan. Tanpa sadar Luhan sudah sangat bergantung padanya, kenyataan itu membuat Sehun senang bukan main. Tangannya bergerak untuk mengelus rambut halus Luhan.

"Kalau begitu aku akan ke Beijing untuk mengobati kerinduanmu." Ujar Sehun.

Luhan masih sempat untuk memukul punggung Sehun, "Jangan bercanda."

Sehun meraih wajah Luhan. Rautnya sangat menggemaskan dengan hidungnya yang memerah dan isakan-isakan kecil sesekali terdengar dari bibir mungilnya. Astaga, disaat seperti inipun rasanya Sehun ingin menggigit pemuda itu. Dia benar-benar seperti anak kecil. Tangan Sehun bergerak untuk menghapus pipi Luhan yang basah karna airmatanya sendiri, sementara yang lebih kecil hanya memandangi kekasihnya dengan mata rusanya yang lucu.

"Sehun, setelah ini kau akan kemana?" tanya Luhan, kedua tangannya masih memegangi pinggang kekasihnya.

"Aku akan makan malam dengan Ayahku. Dia ingin membicarakan sesuatu."

"Apa itu perjodohanmu?"

Sehun sontak tertawa mendengar pertanyaan polos Luhan. "Yang benar saja. Kau harus mengurangi menonton drama, Lu."

Luhan menggerutu, "Ya bisa saja itu terjadi." Lalu, matanya memandang lekat-lekat kearah Sehun dengan tajam. "Jika itu benar perjodohan, aku akan membatalkan perjodohan itu dengan segera."

"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Sehun. Ingin bermain-main sedikit pada kekasih manisnya itu.

"Aku akan menggunakan gun yang pernah kau berikan padaku untuk menembak orang yang dijodohkan untukmu lalu membawamu lari."

Pernyataan Luhan sukses membuat Sehun kembali tertawa. Entah kenapa jika sudah bersama Luhan, dia jadi senang sekali tertawa. Bahkan rahangnya sudah tidak lagi kaku untuk tertawa seperti dulu. Yang dikatakan oleh si mungil itu selalu membuatnya merasa senang dan bebas untuk berekspresi.

"Kau tahu, aku seperti melihat cerminan diriku sendiri saat ini." Ujar Sehun.

Luhan hanya tertawa kecil mendengarnya. Dia mana serius mengatakan itu. Luhan tidak memiliki keberanian seperti Sehun yang bisa menembaki orang-orang layaknya dalam sebuah game. Luhan melirik kearah arloji hitam yang melingkar manis dipergelangan tangannya. Dia terlalu menikmati waktunya bersama Sehun hingga tak menyadari jadwal penerbangannya tinggal beberapa menit lagi. Mendadak Luhan merasa ingin menangis lagi, kenapa rasanya berat sekali meninggalkan Sehun? Ada perasaan tidak enak yang diam-diam hinggap dihatinya, Luhan tidak tahu kenapa.

"Sehun, aku harus berangkat." Ujarnya.

Sehun terlihat menghela nafasnya, cukup berlebihan. Dia meraih wajah Luhan dan segera mencium bibir kekasihnya dengan lembut. Memejamkan matanya saat merasakan Luhan membalas lumatannya, Ia menahan tangan Luhan yang hendak meremas rambutnya, lalu menggenggam tangan itu disela-sela ciuman lembutnya. Tidak ada gairah dalam ciuman tersebut, hanya sekedar menyalurkan perasaan masing-masing lewat ciuman. Sehun tidak bosan untuk mengakui jika Ia merasa kecanduan dengan rasa bibir Luhan yang manis dan lembut. Adiktif melebihi heroin dan psikotropika lainnya.

"Jaga dirimu." Bisik Sehun, seusai mencium kekasihnya.

"Harusnya aku yang berkata seperti itu. Jangan melakukan hal yang aneh-aneh selagi aku tidak ada, karna aku tidak mau mendengar kabar kau berkelahi dengan siapapun." Tukas Luhan.

Sehun tersenyum, "Siap, Yang Mulia."

Luhan terkekeh dan memukul lengan Sehun sebagai balasan. "Aku berangkat." Pemuda bermata cantik itu meraih kopernya dan mulai berjalan kedalam Bandara (mereka tengah diparkiran saat ini). Sesekali Luhan membalikan tubuhnya hanya untuk melambaikan tangannya kearah Sehun disertai senyuman manisnya.

Sehun memandangi punggung Luhan yang mulai menjauh dengan hembusan nafas berat.


Kyungsoo tengah membuat susu coklat panas ketika suara bel terdengar nyaring, pemuda mungil itu meninggalkan kegiatannya sebentar untuk melihat siapa yang bertamu malam-malam seperti ini. Rumah sebesar ini jadi terasa kosong sekali karna hanya ada dirinya disini. Ayahnya dan Luhan pergi ke Beijing, sementara para pelayannya sedang pulang kerumah masing-masing. Jadilah Kyungsoo hanya sendiri dirumahnya untuk beberapa hari kedepan. Sungguh membosankan.

Kyungsoo belum sempat melepas genggaman tangannya pada gagang pintunya saat melihat seseorang yang baru saja menekan-nekan bel rumahnya dengan tidak sabaran adalah Kim Jongin—dengan wajah culasnya yang menyebalkan. Kyungsoo hendak menutup kembali pintunya karna dia tidak mau berandalan itu kembali mengganggunya, tetapi Kai sudah lebih mendorong pintu dan masuk begitu saja tanpa ada kesopanan sama-sekali dalam dirinya.

Kyungsoo menggeram kecil, "Mau apa kau kesini?"

Kai menjawab dengan mata yang melirik-lirik kesegala arah, mengamati isi dalam rumah Kyungsoo dengan seksama. "Menemuimu."

"Menemuiku?" ulang Kyungsoo dengan dahi berkerut bingung. "Ada apa lagi memangnya?"

"Hanya ingin menemuimu, apa salahnya sih?" kali ini Kai mengalihkan pandangannya kearah Kyungsoo. "Sepi sekali rumah ini."

"Sekarang kau sudah menemuiku. Jadi, bisa kau pergi?"

"Kau mengusirku? Kasar sekali." ucap Kai dengan raut tidak percaya. Kyungsoo hanya diam dengan bibirnya yang mengerut lucu.

"Baiklah, ayo duduk." Ujar Kyungsoo malas-malasan. Dia berjalan lebih dulu kearah ruang tengah, diikuti dengan Kai yang mengekor dibelakangnya dengan senyum kemenangan. Dia tidak percaya sudah membiarkan Kai masuk kedalam rumahnya. Jika Ayahnya tahu kalau orang sudah pernah memukul anaknya masuk kedalam rumahnya, pria itu pasti akan murka sekali. Ayahnya itu sangat keras, tetapi entah kenapa, Kyungsoo sama-sekali tidak menuruni kepribadian Ayahnya.

"Kemana orang-orang dirumah ini?" tanya Kai, yang sudah duduk manis disofa.

"Ayahku dan Luhan hyung pergi ke China."

"Jadi, kau sendirian?"

Kyungsoo merasa Kai banyak bertanya sejak kemarin. "Ya."

"Bagus. Jadi ada alasan untuk menemanimu agar kau tidak kesepian."

Kyungsoo mendelikan mata bulatnya. Alasan macam apa itu? Kenapa Kim Jongin jadi rajin sekali menemuinya? Kyungsoo cukup bingung dengan perubahannya itu, Padahal dulu, Kai tidak mau sama-sekali melirik kearahnya. Kalaupun melirik, itu adalah sebuah lirikan tajam yang tidak bersahabat sama-sekali. Pasti kepalanya terbentur sesuatu atau mungkin dia sudah salah meminum obat.

"Ah, aku membawakan ini untukmu." Kai menyodorkan sekantung plastik yang Kyungsoo tidak tahu apa isinya. Dia baru menyadari jika pemuda tan itu menenteng sesuatu.

"Apa ini?" tanya Kyungsoo.

"Hanya makanan ringan. Aku lihat tubuhmu cukup berisi, kau pasti suka ngemil." Ujar Kai, detik kemudian sebuah seringaian menyebalkan terlukis diwajahnya. "Apalagi… bokongmu. Bagian sana sangat berisi."

Warna merah matang langsung memenuhi pipi Kyungsoo, tangannya dengan gesit memukul kepala Kai hingga pemuda itu mengaduh kesakitan. Tubuhnya dihinggapi rasa malu dan kesal. Jadi selama ini pemuda berandalan itu memandangi bokongnya? Kenyataan itu membuat Kyungsoo ingin merendam wajahnya di air dingin.

"Jika orang lain yang memukulku, aku pasti akan membalasnya." Gerutu Kai dengan tangan mengelus-ngelus kepalanya sendiri.

Kyungsoo memutar bola-matanya imajinatif. "Salahmu sendiri kenapa berbicara omong kosong seperti itu. Sudahlah, kau ingin meminum apa? Aku akan membuatkannya." Tawar Kyungsoo. Semenyebalkan apapun Kim Jongin, dia tetaplah seorang tamu disini—dan Kyungsoo mau tidak mau harus melayaninya. Dia juga sudah berbaik hati membelikannya makanan ringan, walau Kyungsoo tidak tahu apa motifnya melakukan ini.

"Beer atau Wine."

Kyungsoo nyaris melempar vas bunganya kearah Kai saat itu juga. "Kau pikir rumahku bar?!" dia menyalak tajam. Tetapi si eksotis malah tertawa melihat ekspresinya. Selain menyebalkan, Kai juga sinting ternyata.

"Aku bercanda. Kenapa kau selalu serius sih?" tukas Kai. "Terserahmu saja. Tetapi jika kau ingin membuatkanku minuman dengan senang hati, buatkan saja coklat panas."

Lagi, Kyungsoo memutar bola-matanya. "Itu namanya bukan terserahku," lalu pemuda mungil beranjak dari duduknya, hendak membuatkan tamu tidak diundangnya minuman yang dia minta.

Kai menopang wajahnya dengan kedua tangannya, memandangi punggung Kyungsoo yang menjauh dengan senyuman aneh. Menurutnya, Kyungsoo itu menarik sekali. Sikap galak dan malu-malunya adalah point yang paling menarik bagi Kai. Pemuda pendek itu memang tidak terlalu menyukainya, tetapi anehnya, Dia selalu membiarkan Kai berada didekatnya. Kyungsoo sepertinya tidak bisa menolak apa yang diminta Kai. Masih dengan senyum anehnya, Kai menggeser layar ponselnya, menolak panggilan dari Chen. Anak itu pasti mengajaknya ke Voltaire. Kai sedang tidak mood kesana dan pikiran anehnya memintanya untuk datang kesini. Menemui Kyungsoo.

Sejak kemarin, entah kenapa, dia selalu memikirkan pemuda pendek itu. Bahkan bayangan senyum dan tawanya membuat Kai insomnia mendadak. Sialan sekali, perasaan ini sungguh menggelikan. Jika dulu dia selalu melempar tawaan cemooh pada anak-anak yang sedang dimabuk cinta dikelasnya, maka sekarang dia yang mengalami hal sinting itu. Kai rasanya ingin mentertawakan dirinya sendiri. Jatuh cinta—Sial, dia benar-benar sudah jatuh. Jatuh ke titik yang paling dasar dalam lingkaran pesona Kyungsoo. Ini sangat unexpected, jika bisa dibilang. Karna Kai tidak pernah sekalipun membayangkan dirinya menyukai Kyungsoo—atau jatuh cinta pada seseorang hingga berani datang kerumah orang itu dan duduk berhadapan dengannya. Perkataan Chanyeol memang benar, dia hanya jago dalam berkelahi saja tetapi masalah percintaan sangat nol besar. Jika sudah seperti ini, Kai merasa dirinya seperti Sehun. Menyukai seseorang yang pernah dibencinya.

"Aku baru tahu jika kau suka coklat panas."

Suara Kyungsoo, membuat Kai harus melunturkan senyum anehnya. Sial, rahangnya mulai pegal sekarang. Dia memandangi Kyungsoo yang tengah menaruh dua gelas coklat panas yang mengepul dengan beberapa makanan ringan.

"Semua orang suka coklat, kecuali Chanyeol dan Sehun." ujar Kai.

Kyungsoo tertawa kecil, "Aku bisa menebaknya." Dan Kai merasa bagian didalam dadanya melonjak-lonjak senang mendengar suara tawa Kyungsoo yang begitu manis.

"Omong-omong soal Sehun, dia pasti tersiksa sekali karna Luhan pergi ke China. Dia tidak berhenti mengumpat, bahkan aku dan Chen selalu menjadi sasaran tendangannya karna moodnya yang begitu buruk." Tanpa sadar Kai telah menceritakan kesengsaraan Sehun pada Kyungsoo.

Kyungsoo sepertinya menyukai topik pembicaraan itu, terbukti dari bibir heart-shapenya yang terus mengulas senyuman geli. "Yah, tidak diragukan lagi. Tadi Sehun datang kesini untuk mengantar Luhan hyung ke Bandara. Aku bisa melihat wajahnya sangat kusut saat melihat koper besar Luhan hyung." Dia mengintip melalui jendela saat Sehun datang, omong-omong.

"Dia jadi lemah sekali jika sudah bersama Luhan. Semua orang takut padanya, tetapi dia sendiri takut pada anak macam Luhan."

Kyungsoo tergelak, dan Kai ikut tertawa bersamanya. Tawa keduanya tergabung dalam ruangan itu, melupakan fakta bahwa keduanya pernah saling memukul dan membenci satu sama lain. Kai merasa bahagia dan bebas saat melihat tawa Kyungsoo. Sekarang dia tahu mengapa orang-orang diluar sana senang sekali memuji-muji pasangannya dengan embel-embel cinta.

"Aku suka tawamu." Ucap Kai tanpa melepas pandangannya dari pemuda bermata bulat didepannya. Sesaat Kyungsoo terdiam, menghentikan tawanya. Pipi gembilnya merona tipis. Entah karna pengakuan Kai atau karna pandangannya yang membuat wajahnya panas.

"U-um, minumlah. Jika sudah dingin tidak enak." Kyungsoo mengalihkan topik pembicaraan dengan meminum coklat panasnya.

Kai meraih gelasnya, dan meminum coklatnya. Pandangannya masih terpaku pada Kyungsoo yang pipinya masih memerah. Gotcha! Dia rasa Kyungsoo juga mulai tertarik padanya.


Tidak ada yang lebih buruk dari ini, pikir Sehun. Seharusnya dia sudah menduga jika ajakan makan malam Ayahnya bukan hanya sekedar makan malam bersama keluarga, tetapi ada maksud lain dibalik itu. Memang, ini bukan seburuk perjodohan dirinya seperti yang Luhan kira. Tetapi fakta bahwa saat ini Ayahnya juga mengajak calon istrinya dan anaknya adalah hal yang buruk juga. Tidak tahukah pria itu jika dirinya dan Junmyeon tidak menginginkan pernikahan ini? Sehun melirik sesaat kearah Junmyeon, Hyung-nya itu tampak beribu kali tidak bersahabat dengan alis menukik tajam dan bibir yang dikatupkan rapat-rapat. Sehun tahu, Junmyeon sangat tidak menyukai makan malam kali ini. Berkali-kali dia terlihat menghela nafasnya dan melirik sinis kearah wanita dewasa yang duduk disamping Ayahnya.

"Ini putra sulungku, Junmyeon." Seunghyun menyentuh bahu Junmyeon, mengenalkannya pada Park Bom, calon istrinya. Junmyeon terlihat tidak senang dengan itu, terbukti dari bibirnya yang tidak mengulas senyuman sama-sekali.

"Dia tidak mirip sepertimu." Bom tertawa kecil, tampak anggun sekali. Seunghyun ikut tertawa singkat dan ini pertama kalinya bagi Sehun melihat Ayahnya kembali tertawa seperti itu setelah sekian lama hanya memasang wajah dinginnya.

"Dan ini Sehun. " tangan Seunghyun beralih kebahu Sehun. Sehun pun tidak memberikan senyumannya pada Bom. Dia bisa saja berpura-pura, tetapi itu bukanlah gaya Sehun. dia benci dengan kepura-puraan.

"Ah ya, aku ingat. Kau sering menceritakannya padaku." Ujar Bom. Sehun tidak mengatakan apapun. Dan Bom sepertinya memaklumi itu, dia hanya tersenyum kecil menanggapi kedinginan dua anak calon suaminya.

"Junmyeon, Sehun. Ini adalah Park Junghwa. Dia akan menjadi adik kalian." Seunghyun beralih pada gadis cantik disamping Bom. Sama seperti Ibunya, dia terlihat anggun dan manis dengan senyumannya, sepertinya usianya sama seperti Sehun. Junmyeon maupun Sehun meliriknya sekilas tanpa senyum maupun sapaan.

Seunghyun menghela nafasnya. Tampak muak dengan keterdiaman kedua putranya yang sangat menjengkelkan itu. "Aku tahu kalian tidak menyukai makan malam ini. Tetapi, setidaknya, apa kalian tidak bisa bersikap sopan pada Mrs. Park?"

"Bersikap sopan pada calon istrimu, maksudnya?" Junmyeon membuka suaranya. Dan Sehun menanggapinya dengan sungging senyum mencemooh. Keduanya kompak jika menyangkut masalah seperti ini.

"Oh Junmyeon." Suara berat Seunghyum membuat hening dimeja itu. Pria itu sesaat menutup matanya geram, menahan emosinya yang akan membludak. "Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu."

"Sudahlah, Seunghyun-ssi. Aku tahu mereka masih belum bisa menerimaku. Jangan paksakan itu. Biarkan mereka menerimaku dengan keinginan mereka sendiri." ucap Bom. Pembawaannya yang dewasa membuat Seunghyun menelan bulat-bulat kegeramannya.

Sehun mendengus sinis mendengarnya. "Menerimamu?" ulangnya, bergumam. Tidak ada yang mendengar gumamannya, tetapi Junghwa yang sedari tadi memandangnya, tampaknya tahu ketidak-sukaan Sehun pada Ibunya lewat dengusan sinisnya barusan.

"Kalian hanya belum mengenalnya, Mrs. Park adalah wanita dewasa yang sangat pengertian dan tegas. Aku rasa inilah saatnya aku bangkit dari keterpurukanku dan memberikan kalian seorang Ibu yang baru. Aku tidak asal memilih Ibu untuk kalian, aku sudah mempertimbangkan semuanya. Apa aku egois karna ingin kalian mendapatkan kasih-sayang seorang Ibu lagi?" Seunghyun menatap kedua anaknya dengan pandangan melunak. Dia ingin kedua putra-nya mengerti dan memahaminya, tetapi itu adalah hal yang begitu sulit. Keduanya sangat keras kepala.

Tidak salah sama-sekali. Tapi aku dan Junmyeon Hyung masih belum bisa menerima kehadiran wanita yang akan kami panggil dengan sebutan Ibu untuk waktu yang lama. —batin Sehun.

"Ya, jangan memandang Ibuku seolah-olah dia jalang yang akan dinikahi Ayah kalian. Ibuku tidak seburuk yang kalian pikir. Apa kalian masih mengonsumsi dongeng Cinderella?" Junghwa membuka suaranya, cukup ketus. Dengan mata terarah pada Sehun. Sehun membalas pandangannya dengan senyuman miring, mencemooh. Pintar juga gadis itu berbicara.

"Sayang," Bom meraih lengan Junghwa. Menjaga anaknya agar tidak bicara melewati batas.

Junmyeon melirik arloji dipergelangan tangannya, "Berapa lama lagi makan-malam ini selesai?" tampak sangat bosan dan muak.

"Oh Junmyeon." Geram Seunghyun.

Junmyeon bangkit dari duduknya, masih dengan raut dinginnya dia berkata, "Aku harus pergi." Membungkukan tubuhnya sekilas, pemuda berkulit susu itu segera pergi dari sana.

Sehun merasa tidak enak pada Ayahnya atas sikap Junmyeon. "Hyung!" dia berinisiatif untuk mengejar Junmyeon dan menjelaskan semuanya.

Seunghyun memijat pelipisnya, "Maafkan aku." Dia merasa sangat tidak enak pada Bom dan Junghwa karna sikap kedua putranya yang melewati batas. Sehun maupun Junmyeon, keduanya sama saja. Sama-sama tidak menghargainya lagi sebagai Ayah. "Sekarang kau bisa melihatnya sendiri 'kan? Sikap anak-anakku.."

Bom tersenyum dan mengelus lengan Seunghyun dengan lembut, "Mereka hanya butuh waktu."


Voltaire Club and Lounge

"Seratus persen aku yakin Kai sedang menemui si burung hantu." Celetuk Chen, membuka pembicaraannya pada Chanyeol dan Baekhyun. Pemuda berwajah simetris itu membawa satu botol cocktail ditangannya. Cocktail jenis Liqueur dengan harga yang fantastis. Chen bisa mendapatkannya dengan mudah karna—C'mon, ini club miliknya, kawan. Dia bisa mendapatkan minuman jenis apa saja dengan sekali jentikan tangan.

"Lucu sekali. Anak itu sedang dimabuk kasmaran seperti Sehun." komentar Baekhyun, tangannya hendak meraih minuman yang dibawa Chen tetapi Chanyeol dengan gesit menjauhkannya.

"Kau baru sembuh." tekan Chanyeol, saat Baekhyun memandangnya dengan protes. Pemuda mungil itu melengkungkan bibir merahnya kebawah, cemberut. Dan Chanyeol sangat lemah dengan ekspresi itu. Sial.

"Yeol, itu sangat nikmat. kumoh—"

"Damn, Baek. Bisakah kau berhenti memasang wajah seperti itu?" Chanyeol mengumpat kasar. Merasa frustasi sendiri melihat tampang menggemaskan kekasihnya. "Kau bisa minum mocktail. Kau mau yang rasa apa? Susu stroberi?"

"Baiklah." Baekhyun mengangguk antusias, hingga rambutnya bergoyang mengikuti irama anggukannya. Chanyeol tersenyum dan mengusak surai hitam lembutnya."Anak pintar." Ujarnya.

Chen menguap, sangat berlebihan. "Hoaaaahhm. Ayolah, teman. Kalian harusnya bisa menghargai aku yang tidak punya pasangan ini."

"Maka dari itu cepatlah cari pasangan. Omong-omong, anak dari asrama lelaki disekolah Yeonsang kudengar manis-manis." Ucap Baekhyun, mengerling jahil pada Chen.

"Aku normal." tegas Chen. Berusaha meyakini Baekhyun untuk yang kesekian kalinya jika dirinya masih lurus. Walau belum mempunyai kekasih seperti ini, jangan kira dirinya adalah gay. Chen masih rutin menggonta-ganti partner seksnya setiap minggu, dia berani bersumpah akan hal itu. Tidak terjadi apa-apa pada selangkangannya saat melihat pria bertelanjang dada didepannya, bahkan dia tidak bernafsu sekali saat melihat Baekhyun dengan santainya telanjang bulat didepannya beberapa waktu yang lalu. Itu artinya dia normal, 'kan?

Baekhyun nyengir kekanakan, "You gay, buddy."

"I'm not!" geram Chen.

"Yes, you are. Kim-Fag-Jongdae."

"Fuck, Baekhyun. Kenapa bibirmu itu berbisa seperti ini? Apa karna sering berciuman dengan Chanyeol makanya lidah berbisanya itu menular padamu?" Chen terlihat berapi-api saat mengatakan itu, sementara Baekhyun sudah diselimuti warna merah pada pipinya. Dasar Jongdae! Dia pikir bibir tajam itu bisa menular lewat ciuman?

"Dia menelan spermaku, makanya lidahnya jadi seperti itu." ujar Chanyeol, kelewat santai.

Baekhyun mendelikan matanya, nyaris melempar botol minuman didepannya kekepala Chanyeol. Walaupun itu kenyataan, tetapi dia tidak perlu juga membeberkan hal itu pada Chen. Baekhyun merasa akan sinting mempunyai kekasih seperti Chanyeol.

"Kau tidak perlu mengatakan hal itu juga, brengsek." Geram Baekhyun dengan wajah memerah matang. Chanyeol hanya tersenyum aneh dengan alis menaik-turun. Ugh, dia memang menjengkelkan sekali.

Chen mendatarkan ekspresinya, "Kalian menjijikan." Dia mengalihkan pandangannya dari pasangan hypersex didepannya kearah lain. Memandangi pemuda-pemuda kelebihan hormon ditengah-tengah sana yang menari mengikuti irama musik yang dimainkan oleh DJ. Sebagian dari mereka sudah mabuk dan menempelkan diri masing-masing pada pasangannya dengan erotis, sebagian lagi hanya menari untuk melepaskan penat dikepalanya. Chen mengangkat sebelah alisnya kala melihat seorang gadis ditengah-tengah sana yang tidak menari maupun bergabung dengan yang lain, melainkan berjalan dengan mata melirik kesana-kemari. Seperti anak yang tersesat. Berkali-kali tubuh mungilnya terdorong kesana-kemari oleh orang-orang.

Chen mendengus, "Sialan. Kenapa anak SMP dibiarkan masuk sih?" pemuda itu berjalan, menghampiri gadis kecil itu. dia bersumpah akan memaki-maki penjaga didepan yang membiarkan anak dibawah umur masuk kedalam club-nya.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Chen, seraya memegang bahu gadis itu. Gadis berambut coklat ikal sepunggung itu tampak terkejut sesaat—ekspresinya sangat lucu, menurut Chen— lalu menjawab dengan kikuk.

"A-aku… mencari Kim Jongdae. Dia pemilik club ini." Jawab gadis itu. Mata sipit tanpa double-lidsnya memandang Chen dengan polos.

"Ada urusan apa kau dengannya?" tanya Chen. Apa gadis ini tidak tahu jika orang didepannya adalah seseorang yang dia cari? Chen jadi curiga gadis ini adalah mata-mata dari musuhnya.

"Kau tidak perlu tahu." Jawab gadis itu.

Chen mendengus, "Keluarlah. Anak dibawah umur sepertimu tidak pantas masuk kedalam club."

Gadis itu mendelik protes, "Ya! Aku sudah delapan-belas." Serunya. "Memangnya kau pikir penjaga berbadan besar didepan sana akan membiarkanku masuk jika aku masih dibawah umur?"

Jadi dia lebih tua darinya setahun?

Chen merasa bodoh saat mendengar pernyataan itu. Seharusnya dia tahu jika dua penjaganya adalah orang yang professional dalam pekerjaannya. Tetapi wajah gadis didepannya ini meragukan. Benarkah dia delapan-belas tahun dengan wajah kekanakan seperti itu? Apalagi dengan setelan mini-dress berwarna softpink yang membuatnya terlihat seperti gadis yang baru puber. Tidak ada aura sensualitasnya sama-sekali. Dia pasti masih virgin—pikir Chen, melantur.

"Beruntungnya dirimu, Aku Kim Jongdae. Apa yang kau inginkan?" ujar Chen. Gadis didepannya terlihat tidak percaya dan terkejut dalam waktu yang bersamaan. "Kau pasti bercanda.." gumamnya.

"Memangnya tampangku menunjukan jika aku sedang bercanda?"

Gadis itu menggeleng lugu. Dia memandangi Chen dari rambutnya hingga sepatu yang dikenakannya. Lalu berakhir pada wajahnya. Chen mengira gadis didepannya tengah terpesona padanya. Oh ayolah, gadis mana yang tidak menyukainya?

"Kukira Kim Jongdae sudah tua dengan tubuh tambunnya." Gumam gadis itu, lagi-lagi dengan ekspresi polosnya. Untungnya Chen tidak mendengar gumaman itu karna suara musik yang begitu berdentum-dentum ditelinganya.

"Mengapa kau mencarik—"

Chen tidak melanjutkan perkataannya saat kerah bajunya ditarik oleh gadis itu, dan didetik selanjutnya dia merasakan lumatan lembut pada bibirnya. Matanya dengan tidak percaya memandangi wajah gadis yang tengah menciumnya, gadis itu memejamkan matanya dan Chen bisa melihat wajahnya yang memerah dibawah sinar lampu. Apa-apaan ini? Batinnya, bertanya. Tetapi walaupun seperti itu, Chen diam-diam menikmati bibir lembut yang tengah mengecapi bibirnya.

Saat gadis itu melepaskan tautan bibirnya, dan hendak pergi, Chen dengan sigap meraih pinggangnya hingga tubuh mereka menempel. Gadis itu terlihat ketakutan dan malu. Wajahnya masih merona dan itu membuat Chen berhasrat melihatnya.

"Siapa namamu?"

Gadis itu menggigit bibir bawahnya, gugup. "Kim Minseok."


"Kau tidak pulang? Ini sudah sangat malam." Kyungsoo berkata pada Kai yang tengah berbaring malas diatas sofanya dengan tangan yang sibuk menggonta-ganti channel televisi. Lihatlah anak itu, dia bertingkah seolah-olah rumah ini adalah rumahnya. Sangat tidak sopan sekali, tetapi Kyungsoo tidak mau mengurusi hal itu.

"Aku ingin menginap disini." Jawab Kai, tanpa melepaskan pandangannya dari layar teve.

Kyungsoo melipat kedua tangannya didada, "Aku tidak izinkan." Pertama anak itu datang kemari tanpa diundang, kedua dia membawakannya banyak makanan ringan, dan ketiga dia bilang ingin menginap disini. Sebenarnya apa yang diinginkan Kai? Kyungsoo benar-benar tidak bisa menebak jalan pikirannya.

"Ayolah," Kai mulai memohon—dimana hal itu sangat dia hindarkan selama ini, memohon pada orang lain sama saja menjatuhkan harga diri setinggi langitnya. Tetapi pengecualian untuk malam ini. "Aku sangat nyaman disini."

"Kau punya rumah. Jika kau adalah gelandangan mungkin aku akan membiarkanmu tidur disini." Masih saja bersikap ketus Kyungsoo itu.

Kai merubah posisinya, dia duduk tegak menghadap Kyungsoo. "Asal kau tahu, pendek." —Kyungsoo mendelikan matanya dengan tajam diseberang sana. "Aku sangat nyaman berada disini, bersamamu. Rumahku itu tidak ada bedanya dengan rumah hantu, kosong dan dingin. Hanya aku yang tinggal disana. Biarkan aku menginap disini semalaman, aku ingin merasakan ada seseorang bersamaku saat aku tertidur."

Dia tidak bisa berbohong soal itu. Didalam rumahnya yang nyaris bisa dibilang mansion, hanya ada dirinya yang tinggal disana. Terkadang ada dua bibi yang datang kesana untuk membersihkan rumahnya dan melakukan pekerjaan rumah, seperti perintah Ayahnya. Setiap kali dia pulang sekolah, tidak ada seseorang yang menyambutnya. Setiap kali dia merasa lapar, dia harus pergi keluar untuk membeli makanan, tidak ada seorangpun yang memasakannya makanan. Rumahnya begitu kosong, Kai bahkan tidak ingat kapan rumahnya diisi dengan canda-tawa keluarganya. Sementara Ayahnya tinggal di Tokyo—masih bekerja sebagai boss mafia, Ibunya sudah lama meninggal. Dia dibesarkan oleh didikannya Ayahnya yang keras miskin kasih-sayang. Kai sudah biasa hidup sendiri dan menjalani kehidupannya yang hampa akan kasih-sayang, tetapi bukan berarti dia tidak berharap mendapatkan kebahagiaan. Dan harapan kebahagiaan itu baru muncul saat Kyungsoo tersenyum kearahnya. Dia merasa kembali hidup. Entahlah, rasanya sangat senang ketika bersama Kyungsoo. berbeda dengan kesenangan yang Ia dapat saat bersama teman-temannya. Dia merasa tidak lagi kesepian bersama Kyungsoo.

Kyungsoo melunakan ekspresinya, hatinya agak tergerak mendengar ucapan Kai. Ternyata dibalik sikap kerasnya, pemuda tan itu bisa juga berbicara dengan nada murung seperti itu. Kyungsoo tidak heran lagi dengan anak-anak berandal yang memiliki latar belakang menyedihkan. Nyaris sembilan puluh persen penyebab pemuda-pemuda memilih menjadi berandal atau gangster adalah kurangnya perhatian dari orangtua. Mereka kesepian, tidak tahu bersandar pada bahu siapa saat berada dalam titik kejatuhan, dan akhirnya memilih melampiaskannya pada cara yang salah. Kai mungkin sama seperti itu dan Kyungsoo tidak mau bertanya lebih lanjut karna hal itu hanya akan membuat Kai memburuk.

"Baiklah. Kau boleh menginap disini. Ingat, hanya malam ini saja!" tekan Kyungsoo. Kai tersenyum lebar—dan itu membuat Kyungsoo berdegup kencang— dan berjalan menghampirinya.

"Aku tahu kau tidak pernah bisa menolakku."

Kyungsoo mematung ditempat saat tubuh besar Kai tiba-tiba memeluknya dari samping. Rasa hangat langsung menyelimuti tubuhnya, terutama pada wajahnya. Dia menoleh patah-patah kearah kanan, dimana wajah Kai berada disana. Dan sialnya, pemuda tan itu tengah tersenyum kearahnya. Detik selanjutnya adalah hal yang paling membuat Kyungsoo tidak bisa bernafas dengan benar. Saat Kai mendekatkan wajahnya dan mencium bibirnya dengan singkat. Kyungsoo merasa lututnya melemas, dia rasanya tidak kuat untuk berdiri.

Tuhan, sepertinya dia menyesal sudah mengizinkan Kai masuk kedalam rumahnya.


"Seharusnya kau tidak bersikap seperti itu. Apa kau tidak memikirkan perasaan Ayah?" Sehun menatap Junmyeon yang berdiri didepannya dengan rahang mengeras. Dia tak habis pikir pada Junmyeon, mengapa pemuda itu sangat berubah sekarang? padahal dulu Junmyeon selalu mengajarinya bagaimana bersikap baik pada orangtua. Tetapi sekarang, Junmyeon sudah tidak bisa diharapkan lagi sebagai Kakak yang baik.

"Dengan sikapmu yang seperti itu, apa kau juga memikirkan perasaan Ayah?" Junmyeon menyerang balik.

"Aku memang menolak pernikahan ini karna aku tidak ingin ada orang lain yang menggantikan posisi Ibu, tetapi aku tidak mengatakan jika aku melarang Ayah untuk memiliki pendamping baru. Biarkan saja mereka menikah, berbahagia." Ujar Sehun.

"Membiarkan mereka bahagia? Lalu bagaimana dengan aku—dan kau?" tanya Junmyeon, sarat akan kesinisan. "Hidup dalam bayang-bayang masa lalu, sementara Ayah berbahagia dengan keluarga barunya? Tidak, aku tidak mau. Jangan mengajariku tentang apa yang salah dan apa yang benar. Karna kau tidak pernah bisa membedakan keduanya."

"Kau egois." Desis Sehun.

"Ya, aku egois. Dan kau bajingan kecil, jangan bicara denganku tentang masalah ini lagi. Aku sudah cukup muak dengan makan malam ini." Junmyeon berjalan meninggalkan Sehun begitu saja.

Sehun mengepalkan tangannya, secepat kilat memukul dinding disampingnya dengan emosi. Dia sangat geram dengan garis takdir yang membuatnya harus menghadapi situasi seperti ini, dimana ikatan darah tidak bisa lagi membuatnya bahagia bersama keluarganya. Dia sudah banyak mengalami kehilangan, dan Sehun tidak mau hal pedih itu kembali terjadi dengan membiarkan Hyung-nya pergi hanya karna tidak menginginkan pernikahan Ayah mereka. Sehun tidak tahu harus bagaimana sekarang, disatu sisi Ayahnya menginginkan kebahagiaan mereka dengan cara memberikan mereka Ibu baru, tetapi disisi lain Junmyeon akan pergi jika hal itu benar terjadi. Sial. Sehun merasa tolol karna pikirannya mendadak buntu.


Sehun menyetir dengan kecepatan sedang, memasuki jalanan sepi yang biasanya akan ramai jika sudah jam dua-belas. Ramai akan pelacur dan pria-pria berlibido tinggi yang siap menumpahkan spermanya dimana saja asal hasratnya terlampiaskan. Pikirannya tidak tenang, matanya tidak fokus pada jalan didepan sana. Dia kembali merasakan beban berton-ton bersandar dipundaknya, membuat kepalanya berdenyut pusing. Masalah yang Ia alami tidak pernah ada ujungnya maupun titik terang, membuat dia bertanya-tanya dalam hati, kapan hidupnya akan bahagia tanpa ada bayang-bayang kematian Ibunya? Sehun tahu dia tidak bersalah, tetapi bukan berarti hal itu akan membuat dirinya merasa lebih baik.

Pemuda itu memejamkan matanya sesaat. Jika ada Luhan disini mungkin keadaannya akan membaik, tetapi sialnya si mungil itu sedang pergi. Bertambah kacaulah Oh Sehun.

Saat Sehun membuka kembali matanya, Dia dikejutkan dengan seseorang yang berdiri ditengah jalan sana, bersiap menerima tabrakan dari mobilnya. Mata Sehun terbuka lebar, dengan sigap menginjak rem-nya agar orang itu tidak terlindas ban mobilnya. Nafasnya memburu cepat mendapati kenyataan jika dia baru saja menabrak seseorang. Sehun segera turun dari mobilnya untuk melihat orang malang mana yang baru saja merasakan tabrakan darinya.

"Brengsek." Sehun mengumpat kasar, melihat seseorang sudah terkapar dibawah kakinya. Dia menunduk untuk melihat keadaan orang itu, tetapi tiba-tiba dia merasakan tarikan pada kerah bajunya hingga Ia tersungkur ke jalan, dan pukulan keras dipunggungnya.

Sehun tidak bisa untuk menahan erangannya. Sialan, siapa yang melakukan ini padanya? Sehun merasa punggungnya nyeri mendapat pukulan benda keras seperti ini. Dia menggeram kesal, hendak bangun dari jatuhnya, tetapi pukulan-pukulan kembali menghujani tubuhnya. Bukan pukulan tangan, tetapi pukulan benda keras seperti balok kayu. Bahkan Sehun dapat merasakan banyak tendangan dipunggungnya.

Sehun merasa sesak pada dadanya begitu sebuah tendangan menyapa bagian sana. Dia terbatuk bagai seorang pecundang yang tidak bisa berbuat apa-apa. Rasa panas memenuhi kepalanya, membuat amarahnya memuncak. Ini jebakan, batinnya geram. Bagaimanapun juga, pasti ada seseorang yang menginginkannya mati malam ini. Pikiran itu membuat Sehun menggemeletukan giginya dengan suara mengerikan. Diantara pukulan dan tendangan yang bertubi-tubi menghujani tubuhnya, Sehun meraih salah satu kaki yang hendak menendangnya, dia menarik kaki itu dengan kasar hingga si empunya tersungkur dijalan. Lalu dengan susah payah, Sehun segera berdiri.

Ada lima orang yang mengelilinginya, dan salah satu diantara mereka adalah orang yang nyaris ditabrak Sehun. Benar, ini sebuah jebakan. Jebakan pengecut yang menggunakan cara lama. Sehun tidak akan membiarkan dirinya dikeroyoki begitu saja bagai orang dungu. Lantas, pemuda itu memulainya dengan merampas balok kayu milik salah satu dari mereka, lalu menghantam kumpulan orang itu dengan beringas menggunakan balok. Dia sangat marah, sampai rasanya akan mengoyak daging kumpulan pecundang ini dengan giginya sendiri. Suasana hatinya sedang memburuk, dan orang-orang ini akan menjadi pelampiasan kemarahannya.

Sebuah pisau lipat hampir mengiris perutnya kalau saja Sehun tidak cepat tanggap menendang tangan yang berusaha menggapai tubuhnya itu. Dia harus melawan lima orang bersenjata ini sendirian hanya dengan balok kayu tolol ditangannya. Sial. Mereka pasti orang suruhan, dan ini pastilah sudah direncanakan baik-baik. Sehun geram bukan main. Dia membalas setiap pukulan yang diterimanya. Berkali-kali perutnya menjadi sasaran empuk para pecundang itu, hingga membuat Sehun harus mengeluarkan darah dari mulutnya. Dia benci berdarah, tapi sialnya, nyaris setiap hari dia selalu berdarah.

Sehun mengerang kesakitan saat merasakan kepala bagian belakangnya dipukulkan sesuatu. Hal itu membuat pandangannya mengabur, dia merasa pening bukan main. Kakinya nyaris saja tidak bisa menopang tubunya lagi, tetapi Sehun keras kepala untuk tetap berdiri dan bertahan. Dia kembali terbatuk saat lima orang disekelilingnya memukulinya ramai-ramai. Balok kayu ditangannya terjatuh dan Sehun merasa sudah tidak kuat lagi melawan. Rasa sakit datang beramai-ramai mendera tubuhnya, Sehun merasa tolol sekali saat ini. Dia tidak bisa membiarkan dirinya diperlakukan seperti orang dungu. Dia ingin melawan, menembaki kepala mereka satu-satu dengan pistolnya hingga otak mereka hancur, tetapi itu hal yang mustahil mengingat dirinya sekarang seperti seonggok sampah. Ditendang-tendang dan dipukuli ramai-ramai.

"Cukup, teman-teman!" suara seorang pria datang dari arah lain, membuat lima orang itu menghentikan kebengisan mereka. "Aku tidak mau keparat kecil itu mati ditangan kalian."

Sehun mengenali suara itu. Suara keparat Kris.

Kris menghampiri Sehun, meraih dagu pemuda itu dengan kasar agar mendongakan wajahnya. Dia menyeringai puas saat melihat wajah Sehun sudah dipenuhi oleh lebam-lebam dan noda darah disekitar bibirnya.

"Bagaimana? Kau suka ini?" tanya pria itu dengan senyum miring sarat akan kebengisan.

Sehun mendengus, membalas seringaiannya. "Seharusnya aku tahu pengecut mana yang berani melakukan ini padaku." Sesakit apapun tubuhnya, Sehun tidak akan membiarkan bajingan didepannya ini bisa mengalahkannya. Tidak sama sekali.

Sehun kembali memuntahkan darah saat lutut Kris menghujam perutnya dengan keras.

"Nikmati oksigen disini dengan sebaik mungkin, Oh Sehun. Karna esok kau sudah tidak bisa lagi menghirup oksigen." Desis Kris, tajam.

Sehun menundukan kepalanya, dia tertawa sinis. Kemudian mendongak kembali dan meludah kewajah Kris. "Aku akan merasa terhina jika mati ditangan pengecut sepertimu." Desisnya.

Kris tampaknya sangat geram dengan perlakuan itu, dia mengusap liur menjijikan diwajahnya, lalu mencengkeram kerah baju Sehun. Tanpa berkata apa-apa lagi, Kris menghujani wajah Sehun dengan pukulannya hingga pemuda itu kembali tersungkur ditanah dengan menyedihkan. Dia begitu bengis, hingga Sehun tidak bisa mengangkat tangannya hanya untuk sekedar memukul. Kondisi tubuhnya sudah tidak memungkinkan untuk melawan, apalagi rasa nyeri pada punggungnya. Bagian sana sudah terkena goresan pisau yang cukup panjang.

"Akh," Sehun tercekat, merasakan lehernya diinjak oleh Kris. Lengannya terasa perih karna beberapa kali bergesekan dengan kasarnya tekstur jalanan.

"Sepertinya tidak seru jika aku langsung menghabisi nyawamu begitu saja. Aku akan membiarkanmu terkapar disini, merasakan rasa sakit diseluruh tubuhmu. Lalu mati perlahan-lahan." Kris berujar dengan kaki yang menekan leher Sehun hingga pemuda dibawah kakinya itu tampak pucat dan menyedihkan.

Kris menendang tubuh Sehun untuk yang terakhir kalinya dengan penuh kebencian, dia tertawa puas sesaat melihat keparat kecil itu tidak bisa melakukan apapun selain mengerang dengan tubuh bersimbah darah. Kris memberi kode pada kawanannya untuk segera pergi. Mereka meninggalkan Sehun sendirian ditengah-tengah jalan dengan kondisi memprihatinkan.

Sehun mendesis, berusaha untuk berdiri. Tetapi usahanya sia-sia, dia kembali tersungkur ke jalan. Didetik itu pula, rintikan air berlomba-lomba membasahi tubuhnya. Hujan turun dengan deras, dan Sehun tidak memperkirakan ini akan terjadi. Air hujan membuat luka-lukanya semakin perih dan sakit, menambah buruk keadaannya, Sehun kembali mendesis ngilu. Dia harus bertahan dan segera pulang. Tidak akan ada yang menolongnya disini.

Sehun kembali terbatuk, darah masih keluar dari mulutnya. Tak henti-hentinya dia mengumpat dan merutuki bajingan Kris. Sehun bersumpah akan membunuhnya setelah ini. Sial. Hujan membuat tubuhnya menggigil diantara dingin dan rasa sakit.

Pemuda bersurai kelam itu merasakan pandangannya mengabur, tubuhnya semakin melemas. Dia membiarkan tubuhnya berbaring sepenuhnya dijalan. Sebelum benar-benar kehilangan kesadarannya, Sehun samar-samar melihat Junmyeon berlari kearahnya, memanggil-manggilnya dengan khawatir.


Tobecontinued—


a/n : Typo sebagian iman, gengs. HEHEHE. ((gaedit lagi soalnya huhu))

Gue fastupdate kan? :)) Oh iya, berhubung gue udah masuk sekolah dan gue udah kelas 12—YEASHH DIKIT LAGI LULUS YESSH(?)— jadi kemungkinan bakal lelet update. tau sendiri kan gimana kesibukan anak kelas 12? Tapi ini bakal tetep lanjut kok.

Last, reviewnya dong sayang;)