Luhan tidak bisa diam dalam duduknya. Perasaan gelisah ini masih saja menghantuinya dan itu cukup membuat Luhan muak. Dia tidak tahu kenapa dirinya seperti ini. Luhan yakin perasaan tidak nyaman ini bukan berasal dari phobianya terhadap ketinggian, bagaimanapun juga Luhan sering kesana-kemari menaiki pesawat, dia mulai terbiasa akan hal itu. tetapi perasaan ini beda, bisa dikatakan lebih gelisah daripada phobia-nya. Mendadak pikirannya dipenuhi oleh Sehun. Luhan tidak menyukai ini, dia harap Sehun dalam keadaan yang baik-baik saja. Dia paling tidak suka saat perasaan gelisahnya memang benar-benar akan ada sesuatu yang tidak diinginkannya terjadi.
Rupanya, kegelisahannya dipergoki oleh orang yang duduk disampingnya. "Maaf, apa kau tidak apa-apa?" Lelaki itu tampaknya seumuran sepertinya, berbahasa Tionghoa yang fasih.
Luhan menoleh kearahnya, memberikan senyum kecil yang terkesan dipaksakan sekali. "Ya, tidak apa-apa." balasnya, dengan bahasa yang sama.
Lelaki itu tersenyum—dan senyumnya mengingatkan Luhan pada anak kecil— merogoh saku jaketnya, lalu menyodorkan Luhan sebatang cokelat yang terlihat begitu menggiurkan.
"Sekalipun kau tidak berkata apa-apa, tapi pikiranmu pasti masih gelisah. Aku bisa melihat dari ekspresimu. Makanlah ini," Luhan menerima cokelat itu ragu-ragu. "Cokelat bisa mengurangi kegelisahan."
Luhan tidak tahu apakah cokelat memang bisa mengurangi kegelisahan atau tidak. Tetapi untuk kebaikan hati pemuda itu, Luhan menerimanya."Terimakasih."
"Jangan sungkan. Apa kau orang Korea? Bahasa Cina-mu bagus."
Luhan menggeleng, "Tidak, aku asli China. Tapi, aku bersekolah di Korea." Pemuda itu mengangguk-angguk. Sepertinya dia orang yang menyenangkan untuk diajak bicara, kali saja kegelisahan Luhan akan hilang jika dia mempunyai teman berbicara selama perjalanan. Lantas, dia mengulurkan tangannya, mengajaknya berkenalan.
"Ah ya, Aku Luhan."
Pemuda itu menerima uluran tangannya dengan senang hati, "Aku Huang Zi Tao. Kau bisa memanggilku Tao."
Imperfections
Story belong to ©Anggara Dobby
Oh Sehun—Lu Han
With others pairing
[Warn!] YAOI, Gay Content, Mature, Alternative Universe, Typo(s), DLDR. Boring!
"Tidak ada luka dalam yang parah, hanya cidera luar saja yang butuh pengobatan beberapa hari kedepan. Beruntung adikmu itu tidak mengalami pukulan keras dikepalanya, kalau sampai itu terjadi, dia bisa terkena penyakit yang serius." Dokter muda itu menepuk bahu Junmyeon sekilas, tindakan sebuah keakraban yang sepertinya memang terjalin diantara keduanya.
Dokter itu kembali memasang wajah serius, "Aku harap Sehun bisa mematuhiku kali ini untuk tidak mendekati kekerasan untuk hari-hari kedepan. Tulang punggungya nyaris rusak, dan pita suaranya bisa diselamatkan. Dia benar-benar beruntung. Tapi aku tidak bisa menjamin untuk dilain hari, kemungkinan-kemungkinan mengerikan bisa saja terjadi. Aku tidak tahu penyiksaan macam apa yang Ia alami. Ini benar-benar buruk." Dokter bername-tag Choi Minho itu menghela nafasnya, dia tahu bagaimana Sehun itu. Karna dirinya sudah setahun belakangan ini direkrut oleh Seunghyun untuk menjadi Dokter pribadi Sehun. Walapun Sehun tidak pernah sekalipun berniat mengakrabkan diri dengannya, Minho tetap peduli pada anak itu. Sudah menjadi tugasnya untuk mengobati Sehun yang memang selalu terluka setiap minggunya. Entah kehidupan macam apa yang anak itu jalani hingga selalu butuh pengobatan.
"Junmyeon, tolong jaga adikmu. Mungkin jika kau yang berkata dia akan mematuhimu. Aku permisi." Pria berjas putih itu pergi, meninggalkan Junmyeon yang berdiri lesu didepan ruang rawat Sehun.
Baru tiga kali melangkah, Minho kembali membalikan tubuhnya, membuat Junmyeon mengernyitkan dahinya, bingung.
"Ehm, bukan maksudku mencampuri urusan keluargamu. Tapi, bisakah mulai saat ini kau hilangkan keegoisanmu? Sehun membutuhkanmu." Setelah itu, pria itu benar-benar pergi. Menghilang diantara keramaian para perawat dan pasien yang berlalu-lalang.
Junmyeon menunduk, memijat pelipisnya. Kepalanya mulai berdenyut-denyut pusing dan pikirannya semakin kacau-balau mendengar perkataan Minho. Setiap kali matanya terpejam, dia melihat Sehun terbaring dijalanan dengan rintihan keras karna beberapa orang memukulinya ramai-ramai. Junmyeon merasa tolol karna hanya bisa terpaku ditempatnya, melihat Sehun disiksa dari kejauhan. Dia tidak bisa melihat seseorang yang menginjak leher Sehun hingga anak itu terbatuk darah, karna kondisi jalan yang cukup gelap. Ada sesuatu yang menyakitkan dadanya saat melihat itu semua, amarahnya mendadak memuncak dan dia hanya bisa mengepalkan tangannya erat-erat untuk pelampiasan kemarahannya. Tangannya memang berkali-kali memukuli Sehun, tetapi sebanyak itupula dia semakin tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Walau dirinya bersikeras tidak mengakui Sehun sebagai adiknya, tetapi jauh dalam hati Junmyeon dia masih memiliki secuil kepedulian pada anak itu. Mereka masih memiliki ikatan darah, yang dimana hal tersebut selalu Junmyeon katakan sebagai beban takdir.
Junmyeon berjalan memasuki ruangan dimana Sehun dirawat. Pemuda itu terbaring dengan gips memeluk lehernya. Matanya masih terpejam, mungkin besok pagi dia baru terbangun. Ada beberapa lebam disekitar wajahnya yang Junmyeon tidak herankan lagi. Wajah anak itu memang tidak pernah bersih dari luka walau seharipun. Heran, berapa banyak orang yang dijadikan sebagai musuhnya didunia ini?
"Kenakalanmu tidak pernah berkurang, itulah sebabnya kau terbaring disini sekarang." nada suaranya rendah, nyaris seperti sebuah gumaman.
Jarum jam menunjukan pukul sebelas malam, Junmyeon harus segera pulang. Dia tidak mungkin menemani Sehun sampai esok pagi, anak itu bisa tahu jika dia yang membawanya ke Rumah Sakit. Junmyeon tidak ingin Sehun tahu rasa kepeduliannya. Biarlah anak itu terus menganggapnya sebagai seorang Kakak yang jahat dan jauh dari rasa kepedulian, hal itu jauh lebih baik.
Saat Junmyeon membalikan tubuhnya, dia melihat Yixing tengah berdiri didepan pintu yang memang tidak tertutup sejak tadi. Junmyeon mengerutkan dahinya dalam-dalam melihat kehadiran pemuda itu disini, sementara Yixing didepan sana tampak terkejut, terbukti dari bola-matanya yang membesar sedikit. Junmyeon menghampirinya.
"Yixing? Sedang apa kau disini?"
Pemuda asal Changsa itu melirik kesana-kemari, dan Junmyeon yakin jika pemuda itu sedang mencari jawaban yang tidak benar. "Aku.. sedang menjenguk seseorang. Dan, dan, tiba-tiba aku melihatmu disini."
Junmyeon memasang wajah tidak suka-nya, "Kau tahu aku tidak suka dibohongi." Desisnya, mirip sekali dengan Sehun jika anak itu tengah tidak mempercayai seseorang.
Yixing menghembuskan nafasnya panjang-panjang dan Junmyeon semakin yakin pemuda itu memang menyembunyikan sesuatu yang penting. Firasatnya selalu mengatakan demikian. Yixing terkadang bersikap janggal. Dia selalu pergi tiba-tiba dan tidak pernah mau mengatakan akan kemana, dan anehnya saat Yixing pergi, Sehun juga pergi. Selalu seperti itu. Junmyeon merasa temannya itu sangat misterius.
"Akan kukatakan yang sebenarnya padamu sekarang,"
"Jadi selama ini kau memang menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Junmyeon dengan nada tidak percaya.
Yixing semakin tidak bisa diam ditempatnya, "Dengarkan aku dulu, Junmyeon." Oh ini sulit sekali. Junmyeon pasti akan sangat marah padanya, pemuda itu sangat tidak suka dibohongi. "Sebenarnya aku bukan siswa pertukaran pelajar, aku sengaja bersekolah disini karna perintah Tuan Oh, Ayahmu—"
"Ayahku?"
"Dengarkan aku dulu!" Junmyeon menggeram jengkel ditempatnya, "Aku adalah orang suruhan Ayahmu. Dia memerintahku untuk mengawasi Sehun—dan kau, selama dia mengurus perusahaannya di Kanada. Dan, malam ini, aku merasa gagal karena tidak bisa membantu Sehun. Untuk itu aku kemari, untuk memastikan keadaannya. Maafkan aku, selama ini aku membohongimu. Karna, y-yah, memang ini pekerjaanku. Ayahmu memintaku untuk tidak membocorkan hal ini padamu maupun Sehun, karna kalian berdua pasti akan marah. Aku—"
Junmyeon mengangkat satu telapak tangannya, mengisyaratkan Yixing untuk berhenti bicara. Raut wajahnya sukar dijelaskan. Dia tampak memendam amarah. Menarik nafasnya, Junmyeon berbicara dengan dingin, "Sekarang masuklah kedalam. Temani Sehun dan jangan katakan jika aku yang membawanya kesini."
"J—junmyeon?" Yixing tidak bisa menerima sikap Junmyeon yang seperti ini.
"Bukankah sudah tugasmu untuk mengawasinya?" desis Junmyeon, "Malam ini kau sungguh mengubah cara pandangku untukmu. Aku sudah cukup muak denganmu. Kukira selama ini kau tulus menjadi temanku, kenyataan memang sungguh pahit." Setelah mengatakan hal demikian, Junmyeon segera pergi tergesa-gesa meninggalkan Yixing yang tertunduk lesu.
Yixing memandangi punggung Junmyeon yang menjauh dengan mata meredup. Dia nyaris menangis, tetapi ditahannya sekuat mungkin. Bukan tanpa alasan dia mengatakan kebenaran yang Ia pendamnya selama ini, beberapa bulan lagi dirinya harus kembali ke tanah kelahirannya. Junmyeon sudah seharusnya tahu, dan akan lebih baik lagi jika Junmyeon menjauhinya seperti ini. Karna Yixing tidak akan bisa menghitung kebersamaannya dengan pemuda itu jika esoknya dia harus pergi. Walaupun ini keinginannya sendiri, dia tidak bisa memungkiri rasa pedih yang menyelinap kedalam hatinya. Mungkin Junmyeon memang tidak akan pernah bisa melihat dirinya—dan perasaannya. Karna pemuda itu memang tidak akan pernah bisa menjadi miliknya.
"Untukmu." Pemuda bertubuh agak pendek itu melemparkan sebuah amplop berwarna coklat kewajah seorang lelaki yang sedang duduk santai bersama gerombolannya. Kedatangannya membuat gerombolan yang tadinya tengah tertawa bar-bar itu seketika senyap. "—Dan jangan pernah ganggu aku lagi." Si pendek itu mendesis geram.
Lelaki dengan tindik pada telinganya itu meraih amplop yang baru saja mendarat kurang-ajar diwajahnya, melirik sesaat pada pemuda mungil didepannya, lalu membukanya. Ekspresinya sekejap berubah, dia mengulas sebuah seringaian lebar.
"Woah, woah. Minseok," dia mendongak kearah pemuda mungil yang barusaja dipanggilnya Minseok itu. "Apa aku harus percaya pada foto dengan pengeditan yang pro ini?" nada bicaranya begitu merendahkan. Namanya Gongchan, asal kalian mau tahu.
Minseok menggeram kecil, "Tanyakan pada temanmu, keparat. Dia yang kau utus untuk mengambil gambarnya."
Gongchan tertawa tanpa alasan, mata sipitnya mengamati lekat-lekat beberapa potret yang digenggamnya. Disana tercetak jelas seorang berbeda kelamin yang tengah saling memagut diantara hingar-bingar diskotik. Tapi, tentu saja Gonchan sangat tahu jika di foto itu bukanlah sepasang lelaki dan perempuan, melainkan sepasang lelaki—bedanya, yang satu melakukan crossdressing. Perutnya semakin tergelitik melihat ekspresi kesal Minseok, boneka bullying-nya.
"Andai aku tidak sedang ada acara tadi malam, pasti aku akan terpesona dengan Minseok noona."
Tangannya terkepal erat, hasrat memukul hidung Gongchan sudah diubun-ubun, tetapi niat itu tidak pernah bisa terlaksanakan. Minseok benci dirinya sendiri.
"Lihatlah, Kim Jongdae ini sepertinya sangat tertarik padamu. Apa kau tidur dengannya, semalam?" tanya Gongchan, masih dengan nada penuh hinaan. Dan pertanyaan selanjutnya semakin membuat Minseok mendidih, "Dibayar berapa kau olehnya?"
"Dia pasti mandi uang paginya," cemooh teman Gongchan yang lain. Lelucon tidak berguna itu sepertinya sukses membuat gerombolan sampah itu tertawa terbahak-bahak.
Minseok menunduk dalam-dalam. Hancur sudah harga dirinya dan lebih tololnya lagi dia selalu tidak bisa mengembalikan harga dirinya. Dia bisa saja menghabisi seluruh gerombolan Gongchan ini, tetapi kenyataannya dia selalu tidak memiliki kekuatan untuk membalas. Neul Paran High School, siapa yang menyangka sekolah yang memiliki segudang pelajar berprestasi ini juga memiliki sistem bullying? Dan Minseok adalah salah satu orang yang tidak beruntung karna selalu menarik perhatian para penindas untuk membully-nya. Semalam adalah puncaknya, dimana dirinya harus melakukan crossdress dan mencium seorang pemilik klub ternama di Seoul, Voltaire Club. Harga dirinya sebagai lelaki tertindas habis-habisan. Tetapi dia merasa sedikit beruntung karna ternyata sang pemilik klub adalah orang yang masih sangat muda—dan tidak bertindak kurang-ajar padanya, selain mencium dan menarik pinggangnya.
"Tunggu, teman-teman!" seseorang bernama Baro menginterupsi kesenangan teman-temannya. "Apa kalian tahu jika Kim Jongdae itu, si pemilik klub yang tadi malam dicium oleh Minseok noona, —Minseok mulai muak dengan panggilan itu sekarang— adalah salah satu anggota EXruciate Ominous?"
Semuanya terdiam, termasuk Gongchan. "Apa aku harus percaya padamu?" tanya pemuda itu dengan sakarstik.
Baro berdecak geram. "Man, aku beberapa kali membeli ekstasi dari salah satu anggota itu! Kai, kalian kenal, bukan? Si pengedar licik itu. Aku sering melihat mereka diarena balap, dan tentunya Kim Jongdae alias Chen. Semalam aku baru mengetahui jika Chen itu adalah Kim Jongdae, pemilik Voltaire!" pemuda bergigi kelinci itu tampak begitu menggebu-gebu.
"Celaka!"
"Sial, jadi target kita semalam adalah orang itu?" Gongchan mendadak pucat pasi. Teman, dia hanya penindas biasa disini bukan seorang penindas ulung macam anak-anak dari sekolah OX 86.
Baro mengangguk. "Yah, dan sepertinya dia sangat tertarik dengan si bodoh ini. Jadi jangan heran jika nanti tiba-tiba Chen datang kesini dan menanyakan 'dimana yang namanya Kim Minseok?' . mereka berkenalan tadi malam, omong-omong."
Minseok tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, dia juga tidak mengenal siapa orang-orang yang baru saja mereka sebut-sebut. Demi Tuhan, dia tidak mau berurusan dengan anak-anak seperti mereka. Yang dia inginkan hanya satu, cepat-cepat lulus dari sekolah ini dan menjalani kehidupan tentramnya. Walaupun penindasan disini tidak terlalu ekstrem, tetapi hal itu berdampak besar padanya. Dia selalu merasa tidak percaya diri untuk mengangkat kepalanya saat berjalan disekitar koridor. Sekecil apapun yang namanya sebuah bully, pasti ada dampaknya bagi si korban. Bahkan, jika si korban awalnya orang yang biasa-biasa saja bisa menjadi seorang pendendam dan rela melakukan cara jahat apapun untuk membalas orang yang pernah menindasnya. Para penindas tidak pernah mau tahu akibat dari perbuatan mereka, karna yang mereka tuju hanya kesenangan saat melihat orang lain menderita saja. Jika disekolah sebagus ini saja sudah begini pembully-annya, bagaimana dengan sekolah OX 86 yang terkenal dengan berbagai penindasannya? Minseok mendesis ngeri membayangkan betapa buruknya sekolah itu.
"Mereka tidak akan berani datang kesini." Yang lain menyahut, hanya untuk menghibur diri.
"Jika para polisi saja mereka tidak takut, apalagi dengan kita? Matilah kita!" Seorang anak bermata paling sipit menyahut. Anak itu langsung mendapat pukulan keras dari teman disebelahnya.
"Neul Paran sangat dijaga ketat. Aku berani menjamin Chen dan kawanannya tidak akan datang kesini. Mereka hanya remaja-remaja biasa seperti kita, untuk apa takut? Lagipula untuk apa dia mencari si bodoh wanita jadi-jadian ini?" Gongchan memukul kepala Minseok sekilas, membuat pemuda mungil itu semakin menundukan kepalanya macam seorang pecundang yang tidak bisa berbuat apa-apa.
"Siapa bilang kami tidak bisa datang kesini?"
Tiga orang tiba-tiba muncul dari belakang tubuh Minseok. Suaranya membuat gerombolan itu hening mendadak, dan saat wajah ketiganya terlihat, Gongchan dan kawanannya harus membolakan mata mereka keukuran yang maksimal. Beberapa kata makian dan umpatan harus mereka telan bulat-bulat ketika mengetahui yang baru saja datang adalah Kai Chen dan anak baru disekolah mereka—Do Kyungsoo. Orang yang baru saja mereka bawa-bawa namanya dalam lelucon tidak guna mereka. Dua orang itu—bagaimana mereka bisa masuk kesini? Ke halaman sekolah mereka? Lebih gilanya lagi, dua orang itu masing-masing mengenakan seragam sekolah kebanggaan mereka yang selalu dicap buruk oleh khalayak.
"Aku tidak tahu jika aku terkenal disekolah ini," Chen membuka suaranya, wajahnya tidak menunjukan kemarahan sama-sekali, tetapi Gongchan dan teman-temannya masih belum bisa bersuara walau satu katapun. Mereka terlalu terkejut. Apa ini memang kejutan? Jika iya, ini adalah kejutan paling buruk yang pernah mereka terima. Sialan!
"Sial!" Gongchan tidak bisa menahan umpatannya.
"Punya masalah apa kau denganku sampai harus mengumpat didepanku?" Kai yang memang begitu sentimental segera meraih kerah seragam Gongchan, menatap anak itu dengan mata berkilat-kilat tajam. Kyungsoo hendak mencegahnya, tetapi Kai melarangnya dengan sebuah lirikan tajam.
"Ti—tidak!" Gongchan menggeleng dengan kecepatan cahaya.
Gongchan buru-buru melepaskan diri dan bergerak mundur sampai pinggangnya harus terantuk meja dibelakangnya. Wajahnya pucat pasi, lalu detik kemudian pemuda itu segera berlari menjauhi Kai. Kawanannya langsung mengikuti, berlari ramai-ramai meninggalkan Kai dan Chen yang sepertinya tidak bisa diajak bicara baik-baik.
Chen memandang kearah pemuda mungil yang berdiri disampingnya. Pemuda itu ternyata juga tengah memandanginya. Mata cantik tanpa double-lids yang sama seperti semalam yang berhasil menghipnotisnya dengan binar kepolosannya. Wajah yang sama—bedanya saat ini, dia tanpa polesan eyeliner dan semacamnya. Dan bibir manis yang sama, seperti yang sudah dia lumat semalam dengan penuh gairah. Chen lalu menghela nafasnya, berharap dengan hembusan nafas itu kefrustasiannya juga ikut keluar. Tampaknya, Kai berusaha tidak peduli dengan kegelisahan temannya itu.
"Aku kecewa ternyata kau bukan seorang perempuan." Itu adalah kalimat yang diucapkan Chen sebelum mengajak Kai dan Kyungsoo pergi dari sana. Minseok hanya bisa mengamatinya dalam diam.
Sehun merasa sakit pada beberapa bagian tubuhnya ketika dia terbangun dipagi hari. Khususnya pada bagian lehernya. Dia merasa bagian sana kebas dan sangat sulit untuk digerakan, alhasil sebuah desisan mengalir dari bibirnya. Sial, ada gips yang mencegah pergerakan lehernya. Pantas saja pergerakannya terbatas. Yang dilihat oleh matanya untuk pertama kali adalah langit-langit sebuah ruangan yang bercat putih gading, tidak perlu waktu lama bagi Sehun untuk mengenali dimana Ia berada sekarang. Rumah Sakit, dan Sehun sudah sangat bersahabat dengan tempat ini. Potongan-potongan kejadian semalam berputar diotaknya, seperti sebuah tayangan film rusak. Mendadak amarahnya memuncak ketika mengingatnya, membuat Sehun mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga rasanya jari-jemarinya akan patah sebentar lagi. Kris, Bajingan itu, bisakah Sehun meludahkan pelurunya kekepala orang itu? Pengecut itu yang membuatnya harus berada disini sekarang seperti orang tolol.
Sehun tidak bisa diam diruangan ini seperti seorang pecundang, lantas pemuda itu berniat turun dari ranjangnya, tetapi seseorang datang dan mencegahnya.
"Sehun, Apa yang kau lakukan?" Yixing, orang itu, kembali mendorong tubuhnya pelan agar tetap terbaring. Alis Sehun bertaut tajam melihatnya, kentara sekali tidak menyukai perbuatan Yixing barusan. Kenapa pemuda itu harus disini?
"Aku ingin keluar dari sini. Minggirlah!"
Yixing menahannya, "Dengan keadaanmu yang seperti ini?" desisnya.
"Lalu, apa aku harus tetap berbaring disini sampai tubuhku membusuk?" Ucapan yang bagus sekali untuk orang yang baru saja siuman.
"Kumohon, Sehun. Dengarkan aku kali ini saja. Kondisimu masih sangat buruk, apa yang akan kau lakukan dengan kondisimu yang seperti ini? Junmyeon akan marah jika melihatmu kabur dari Rumah Sakit." Yixing berbicara begitu pelan pada Sehun, agar pemuda itu mengerti dan mau menurutinya. Sifat keras kepala Sehun sudah mendarah daging, seburuk apapun kondisi tubuhnya, dia akan tetap melakukan apapun yang dia inginkan tanpa mempedulikan tubuhnya. Yixing heran, apa yang sebenarnya mau anak itu lakukan saat barusaja membuka matanya. Dia sangat tidak manusiawi.
"Junmyeon hyung?" Sehun mengulangi ucapan Yixing dengan nada linglung. Tiba-tiba otaknya mengingat sesuatu. Semalam, saat dirinya ada dipuncak kekritisan, Junmyeon datang kearahnya dan memanggil-manggil namanya. Sehun ingat betul kejadian itu. Walau pandangannya memburam karna air hujan yang berlomba-lomba jatuh kewajahnya, Sehun masih bisa mengenali Junmyeon dengan baik. Itu bukan sebuah ilusi, melainkan sebuah kenyataan yang membuat dada Sehun mendadak menghangat.
"Apa semalam Junmyeon hyung yang membawaku kesini?" tanya Sehun dengan secuil harapan. Dia menangkap perubahan pada ekspresi Yixing.
"Aku yang membawamu kesini." Jawab Yixing.
Sehun mendengus seraya merileks-kan dirinya pada kepala ranjang, "Terlalu banyak kebohongan dalam hidupmu. Apa kau tidak muak dengan kebohongan yang sudah kau buat?" Dia benci sekali dibohongi.
Yixing tertohok mendengarnya. Seperti ada lelehan panas yang menyiram dadanya, rasanya panas dan perih. Sebegitu hinanyakah dirinya dimata Sehun dan Junmyeon terkait kebohongannya tentang pekerjaannya ini? Jika bukan karna kehidupannya yang dijamin oleh Oh Seunghyun, Yixing tidak akan sudi melakukan ini. Bekerja sebagai penguntit dan kaya akan resiko bahaya. Dia bukan anak orang kaya seperti Sehun yang selalu mendapat apa yang diinginkan dengan mudahnya, Yixing harus berusaha keras untuk mencapai apa yang dia inginkan. Sulit sekali rasanya menahan diri dari kebencian yang diberikan Junmyeon dan Sehun padanya. Demi menghindari pandangan Sehun terhadap perubahan wajahnya, Yixing membalikan tubuhnya. Tidak bisa lagi menahan lelehan airmatanya.
"Aku akan membawakanmu sarapan." Ujarnya pelan, lalu keluar dari ruangan itu.
Sehun memandangi punggung Yixing tanpa perubahan ekspresi, "Apa aku berkata begitu kasar?"
Sehun tidak lagi berniat melakukan hal yang ekstrem disini untuk mengurangi kebosanannya saat segerombolan orang masuk kedalam ruangannya dengan seruan 'Sehuuun!' , asal kalian tahu, yang mendominasi seruan itu adalah suara Baekhyun. Ruangannya menjadi begitu ramai saat teman-temannya datang dengan berbagai ekspresi saat melihatnya; Kai tertawa—entah apa yang lucu disini—, Baekhyun yang memasang wajah ngeri berlebihannya, Chanyeol dan Chen berekspresi biasa dan—tunggu dulu, sejak kapan Kyungsoo bergabung dengan mereka?
Sehun menautkan alisnya melihat Kyungsoo berdiri diantara teman-temannya dengan sebuah kantong plastik ditangannya. Si pendek itu, apa sekarang dia mulai sudi berdekatan dengan anak-anak berandal seperti yang dia bilang kemarin-kemarin? Ini pastilah paksaan dari Kai. Seribu persen, Sehun yakin benar akan hal itu.
"Man, kau seperti mumi!" Adakah didunia ini teman yang tertawa dan mengejek temannya yang sedang sekarat? Jawabannya ada. Yaitu, Kim Jongin. Dia adalah teman paling kurang-ajar yang pernah Sehun miliki dalam sejarah hidupnya.
"Astaga, Sehun." kali ini Baekhyun mendekat, masih dengan tampang ngeri. "Apa jika gips itu dilepas kepalamu akan menggelinding?" Bagus. Baekhyun memang tidak pernah pintar dalam kondisi seperti ini.
"Aku heran kenapa kau masih hidup setelah dikeroyok enam orang semalam, dan masih bisa berwajah kurang-ajar seperti itu dalam sekaratmu. Sebenarnya, berapa nyawamu?" Dan kali ini, Sehun ingin sekali cepat pulih agar bisa meninju wajah Chanyeol yang begitu menyebalkan saat mengatakan itu.
"Silahkan keluar. Pintu terbuka lebar untuk kalian." Sehun menunjuk pintu ruangannya dengan ekspresi datar. Anehnya, mereka malah menganggap ucapannya barusan adalah guyonan semata. Sehun serius mengatakan itu, mereka hanya tertawa diatas penderitaannya saja. Teman macam apa mereka itu.
"Ini sudah diluar batas. Kapan kau akan membalasnya? Aku sudah tidak sabar melihat pertumpahan darah antara kau dan si bajingan itu." ujar Chen. Sepertinya dia dalam suasana hati yang buruk, Sehun tidak menangkap kerlingan mata isengnya sejak tadi.
Sehun menjawab dengan singkat. "Secepatnya."
"Aku akan membantumu." Kai menawarkan jasanya dengan cuma-cuma, yang langsung diangguki oleh Chanyeol, Baekhyun dan Chen.
"Aku hanya ingin tanganku yang mencabut nyawanya." Sehun berujar penuh kebencian. "Aku ingin Kris berada dibawah kakiku saat nafasnya berhembus untuk yang terakhir kalinya." Tirai jendela ruangannya yang bergerak-gerak tertiup angin menjadi objek menarik untuk Sehun. Pikirannya mengambang, kadang dia menyesal terlahir sebagai Oh Sehun, disuatu waktu dia juga menikmati hidupnya yang bebas tanpa aturan seperti ini. Hidupnya memang bebas, tetapi itu tidak membuat dirinya bahagia. Kebebasan hanya membuatnya semakin terjerumus lebih dalam dengan yang namanya kebahagiaan palsu . Hidup tanpa aturan seperti ini kadang membuatnya muak. Dunia ini terasa begitu membosankan baginya, seolah kehidupan yang dia miliki hanya sebatas berkelahi-mencari bahaya-menambah dosa-bahagia. Jujur saja, Sehun baru menyanyangi nyawanya ketika Luhan datang dalam hidupnya. Maka dari itu, diam-diam Sehun mengurangi mabuknya, Dia ingin hidup lebih lama didunia. Adanya Luhan membuat dunia terasa layak dan kematian tiba-tiba terasa menakutkan.
"Katakan saja jika kau butuh serum kematian, aku ada untukmu." Ucapan Chen membuat Sehun mendengus geli. aku ada untukmu—cih, seperti gadis melankolis saja.
Mata Sehun melirik kearah Kyungsoo yang hanya terdiam seraya mengamati beberapa perban yang membalut tubuhnya.
"Aku sangat terkesan dengan kunjunganmu, omong-omong." Ucap Sehun pada Kyungsoo.
"Aku yang memaksanya kemari." Kai tersenyum culas.
"Hubungan mereka benar-benar baik sekarang. Bahkan, Kai menginap dirumahnya semalam." Baekhyun berkata dengan menggebu-gebu. Chanyeol dan Chen bersiul menggoda setelah itu, membuat Kyungsoo harus menundukan kepalanya dalam-dalam. Kai sendiri terlihat tidak terganggu dengan itu semua, sepertinya urat malunya sudah putus.
"Apa yang semalam kalian berdua lakukan, hm?" Chanyeol menaik-turunkan alisnya dengan jahil. "Aku mencium bau-bau percikan cinta disini." Lanjutnya dengan sebuah cengiran yang sangat langka mampir diwajahnya.
Kai malah merangkul Kyungsoo dan menyatukan kepala mereka dengan senyuman terlampau lebar, "Lebih dari itu!" serunya dengan riang.
"Hentikan omong kosongmu." Kyungsoo berdesis seraya menyenggol perut Kai dengan sikunya.
Kai meringis, merasakan perutnya sakit karna senggolan kasar Kyungsoo."Ouh! Kau selalu kejam padaku." Kyungsoo membalasnya dengan dengusan kecil.
Sehun turut bahagia melihatnya. Setidaknya, Kai sekarang punya pelarian diri dari keterpurukannya. Dia bisa melihat temannya itu begitu riang saat bersama Kyungsoo. Yah, semoga saja Kai tidak lagi berusaha melenyapkan nyawanya sendiri dengan adanya Kyungsoo disampingnya. Dibalik sikap slengean-nya, pemuda tan itu selalu mengeluh tentang kehidupannya. Dan Sehun selalu menjadi pendengar untuknya. Seringkali, Sehun memergoki Kai yang berusaha mengonsumsi obat-obatan dengan dosis berlebihan agar hidupnya berakhir saat itu juga. Sebagai teman, bukankah tugasnya untuk mencegah hal itu? Dan biasanya, hal itu akan berakhir dengan dirinya dan Kai yang saling adu pukul karna Kai sangat tidak menyukai kegiatan bunuh diri pelan-pelannya dicegah oleh Sehun. Dia seorang keparat, tetapi Sehun tidak akan membiarkan temannya mati dengan cara yang tidak pantas. Ada salah satu orang mengatakan lewat kicauannya di media sosial yang tak sengaja dibaca Sehun, isinya adalah; Aku lebih baik berteman dengan keparat sekalipun asal dia setia padaku sampai akhir, daripada dengan seorang malaikat tetapi ketika dibelakang, dia menusukku diam-diam.
Sama persis dengan kehidupan pertemanannya. Sehun tidak memiliki teman yang sebaik malaikat, mereka semua keparat, seorang pemberontak, tetapi mereka tidak pernah meninggalkannya dalam keadaan sesulit apapun. Kadang, apa yang terlihat buruk itu tidak selamanya benar-benar buruk.
"Luhan hyung pastilah sangat khawatir melihatmu seperti ini," Kyungsoo tiba-tiba menceletuk seperti itu.
Sehun seketika teringat pada rusa manisnya. Erangan putus-asa seketika meluncur bebas lewat bibirnya, membuat Kai kembali tertawa melihat kefrustasiannya.
"Jangan katakan apapun padanya tentang ini, oke?" Sehun meminta pada Kyungsoo dengan sebuah harapan. "Aku baru saja berjanji agar tidak apa-apa dan tidak berkelahi. Dia akan sangat marah padaku jika tahu aku seperti ini."
"Sampai kapan? Tidak lama lagi dia pasti akan menghubungimu, dan kau tidak akan bisa menyembunyikannya." Kyungsoo memang pintar berargumen.
"Aku bisa urus itu, tapi berjanjilah, agar kau tidak memberitahu hal ini padanya." Sehun melayangkan pandangan mengancamnya pada Kyungsoo, yang langsung mendapat lirikan tidak suka dari Kai. Entah apa masalah anak itu padanya sekarang.
"Ayahnya sedang dirawat, Kakaknya baru saja dipenjara, Ibunya tengah terpuruk. Aku tidak segila itu untuk memberitahu Luhan hyung jika kau sedang sekarat."
Oh, Sehun benci dengan kata 'sekarat' yang disematkan Kyungsoo dalam kalimatnya barusan. Sekarat sama sekali tidak cocok dengan dirinya.
"Aku ingin sekali bertemu dengannya." Gumam Sehun, seperti seorang musafir yang merindukan air ditengah-tengah gurun pasir. Membayangkan wajah Luhan yang tengah terpuruk sendirian saat ini semakin menambah buruk kondisi tubuhnya. Rasanya ingin sekali pergi ke Beijing dan memeluk Luhan. Memberikannya sebuah kehangatan agar rusa manis itu terhibur, walau sedikit.
"Kau dikeroyok oleh enam orang saja masih hidup, kenapa ke Beijing saja tidak bisa? apa masalahnya sih?" celetuk Chen dengan enteng. Pemuda berwajah simetris itu mendapat atensi dari semua orang diruangan itu.
Chen memberinya sebuah masukan yang sangat berharga disaat seperti ini. Lantas, Sehun mengulas senyum cerah yang jarang sekali mampir diwajahnya. Tapi, sayangnya, senyum itu tidak membuat orang-orang didalam sana ikut berbahagia.
Baekhyun melipat kedua tangannya didada dengan wajah sungguh-sungguh, "Aku bersumpah akan menembakmu jika kau berani terbang ke Cina dengan kondisi seperti ini."
Zi Tao memang seseorang yang menyenangkan untuk Luhan. Bermula dari perkenalan singkat mereka di pesawat dan keduanya sama-sama langsung memutuskan untuk menjadi teman. Entah sebuah kebetulan atau bukan, Tao ternyata tinggal didekat rumahnya. Dengan kata lain, mereka bertetangga. Luhan senang sekali dengan kepribadian anak itu yang berbicara apa-adanya tanpa sungkan sama sekali. Biasanya, orang yang baru saling mengenal akan merasa canggung tetapi hal itu tidak berlaku untuk keduanya. Luhan tidak akan merasa kesepian selama di Beijing.
"Nah, sudah sampai." Tao menghentikan mobil Maserati hitamnya didepan bangunan yang mempunyai plang besar dengan tulisan 'Rumah Rehabilitasi'.
"Terimakasih, kau sudah mau mengantarku kesini." Ujar Luhan dengan senyuman tulus.
"Tidak perlu sungkan, ge. Keluargamu sering membantuku dan anggap saja ini balas budiku yang pertama." Tao balas tersenyum, "Ah, sampaikan salamku pada Zhou-gege, aku tidak bisa menemuinya langsung. Kau tahu, aku punya trauma tersendiri pada rumah rehab."
Luhan tidak mau bertanya lebih lanjut perihal trauma yang dialami Tao, mungkin itu masalah pribadinya, dan Luhan tidak perlu mengoreknya lebih dalam.
"Baiklah, kalau begitu." Luhan segera turun dari mobil milik Tao. Tetapi sebelum benar-benar pergi dari sana, Tao kembali memanggilnya.
"Ada apa?"
Tao mendengung sesaat, "Kalau aku boleh tahu, dimana kau bersekolah?"
"OX 86 High School." Luhan menjawab. Dia mendapati perubahan pada ekspresi Tao yang sulit dibaca. "Kenapa? Kau tahu sekolah itu?"
Tao menggeleng dengan cepat, "Tidak. Aku tidak tahu."
Luhan tidak mau ambil pusing, dia mengendikan bahunya tak peduli. Lalu segera pergi dari sana dengan tangan melambai-lambai pada Tao, yang juga membalasnya.
"Kau memalukan nama keluarga." Luhan berujar cukup dingin pada pria didepannya yang terduduk dengan bahu lesu. Pria yang dulu sangat diidolakannya itu sekarang berwajah murung dengan kantung mata menghitam, sepertinya dia tidak tidur beberapa hari ini. Matanya tidak secerah dulu, tampak sayu khas seorang pecandu. Rambutnya yang biasanya tertata rapi sudah hilang, digantikan dengan rambut berantakan khas seorang narapidana frustasi. Pancaran matanya pun begitu kosong dan tidak ada lagi harapan. Luhan ingin menangis melihat penampilan Kakaknya tetapi dia berusaha keras untuk tidak menangisi seorang penjahat walau itu keluarganya sekalipun. Selain terlibat dalam jaringan pengedaran narkoba lewat pelabuhan, Zhou juga seorang pencandu. Maka dari itu sebelum hari pengadilan tiba, dia harus tinggal beberapa waktu di Panti Rehabilitasi. Walau hal itu pasti sia-sia saja, karna setelah keluar dari tempat ini, Zhou tidak akan bisa menghirup udara segar lagi dan memperbaiki kehidupannya agar bebas narkoba. Dia akan segera dihukum mati. Sudah hak mutlak jika seorang pengedar narkoba segera dihukum mati tanpa mendekam dipenjara untuk waktu yang lama.
"Kau tidak ingin memelukku untuk yang terakhir kalinya?"suara Zhou yang lemah membuat Luhan sebisa mungkin menahan kendali dirinya. "Besok hari pengadilanku. Akutidak punya pembelaan apapun, hakim akan memutuskanku untuk dihukum mati."
Luhan mendongak, memandang tepat kedalam mata Zhou yang menyiratkan keputus-asaan terdalam. "Kenapa bisa?" bibirnya sedikit bergetar saat bertanya itu. membayangkan Kakaknya akan dihukum mati sama-sekali bukan mimpi indah untuk Luhan. Rasa ketakutan akan menghantui Luhan seumur hidup, kejadian ini benar-benar memukul mentalnya. "Kenapa kau melakukan ini? Apa Baba kurang memberimu uang? Apa Baba tidak memperhatikanmu?"
"Baba hanya memperhatikanmu."
Luhan tertohok mendengar pengakuan Zhou. Pria itu mengulas senyum mirisnya yang terlihat begitu menyedihkan. "Baba hanya sayang padamu, Lu. Tapi bukan itu yang membuatku terjerumus dalam masalah pelik ini. Aku hanya ingin mencari kesenangan. Aku ingin bebas dari aturan. Bukankah itu hasrat yang manusiawi?"
Ya, tapi caramu yang salah –batin Luhan.
"Kau tidak bisa menjadikanku sebagai panutanmu. Aku tahu kau sangat kecewa padaku. Dan aku lebih terpukul karna sudah membuatmu kecewa. Hanya kau yang aku sayangi, lebih dari aku menyayangi Baba dan Mama. Aku tahu selepas kejadian ini kau tidak akan menganggapku sebagai Kakakmu lagi. Biarlah itu menjadi hukuman terberatku."
Luhan segera memeluk Zhou setelah itu. Lapisan pertahanan dirinya roboh, dan airmatanya langsung mengalir deras saat Zhou membalas pelukannya. Luhan seharusnya memberi kekuatan pada Kakaknya, tetapi saat ini dirinya malah begitu lemah sehingga Zhou harus menenangkan adik tersayangnya itu. Sekeras apapun Luhan mengendalikan tubuhnya, tetap saja Ia kalah dengan ikatan darah yang sudah terjalin lama dengan Zhou. Sebajingan apapun Zhou, dia tetap seorang Kakak yang selama ini selalu memberi Luhan kasih-sayangnya. Luhan tidak bisa begitu saja mengabaikan fakta bahwa dirinya masih begitu peduli pada pria itu. Terlalu peduli, hingga rasanya Luhan ingin menggantikan posisi Zhou.
"Kau masih idolaku," bibir Luhan bergetar disela tangisnya. "Kakak satu-satunya yang paling kusayangi hingga saat ini."
"Kau memberiku banyak kekuatan." Zhou menepuk puncak kepala Luhan dengan senyuman simpul. "Aku tidak akan lagi takut saat ingin tertidur, dan bermimpi diriku tewas karna peluru yang ditembakan para algojo. Setidaknya, kehadiranmu membuatku lebih kuat."
Luhan menggeleng mendengarnya, "Jangan katakan itu. Kau tidak akan mati ditangan mereka. Buktikan jika kau tidak bersalah, kumohon ge." Dia meraih tangan Zhou, meremasnya dengan kuat.
Zhou tampak lebih tegar sekarang. "Aku bersalah, Luhan. Aku pantas dihukum. Sejak kapan kau mulai membela para penjahat?"
Sejak mengenal Sehun, mungkin. Batin Luhan berkata miris. "Setidaknya, lakukanlah untukku. Aku tidak ingin kau mati sia-sia."
Zhou kembali menyentuh kepalanya, mengelus rambutnya dengan penuh kasih, hati Luhan terasa mencelos menerima perlakuan itu, membayangkan di hari selanjutnya dia tidak akan lagi bisa mendapatkan ini. "Penjahat tetaplah seorang penjahat. Didunia ini butuh keadilan, dan penjahat pantas dihukum. Jaga dirimu baik-baik, dan jaga juga Mama dan Baba. Sampaikan pada mereka, aku minta maaf karna tidak bisa menjadi anak yang baik seperti yang mereka minta."
Setelah itu, Zhou berjalan meninggalkannya dengan dua sipir mengawal disampingnya. Luhan dengan gerak kaku, mengelap airmatanya yang mengalir bebas dipipinya. Mengamati punggung Kakaknya yang berlapis baju tahanan dengan pandangan putus-asa.
"Kumohon, ge.."
Hari ini, dia kehilangan satu orang yang disayanginya.
"Kau 'kan yang membawaku kesini?" Sehun bertanya pada Junmyeon yang baru saja masuk kedalam ruangannya. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain mengetahui Junmyeon diam-diam peduli padanya. Sekeras apapun pria itu, Sehun yakin dihatinya masih ada rasa kepedulian untuknya. "Kau tidak suka dibohongi tapi kau sendiri membohongi orang lain."
"Berhenti melakukan hal-hal bodoh yang membuat dirimu sengsara." Junmyeon berujar tanpa ekspresi. Sulit menemukan rasa kepedulian dari sana.
"Kau tahu, ini hidupku." Sehun memandangi cairan infuse tanpa minat. Mengamati tetes demi tetesnya yang akan mengalir ke pembuluh darahnya lambat-lambat. Dan selama itu pula Sehun muak, ingin segera melepas benda sialan itu. Dia benci sekali saat dirinya harus dirawat seperti ini.
Junmyeon terdengar mendengus remeh, "Kau selalu menyusahkan orang lain. Sifat keras kepalamu membuatku muak."
Sehun tersenyum tipis pada Hyung-nya. "Jika aku keras kepala, lalu kau apa? Batu yang tidak pernah bisa dihancurkan?"
"Aku benci jika mulai berargumen denganmu." Junmyeon berbalik, berniat pergi. Sehun segera mengutarakan isi hatinya lewat ucapan membuat pria itu kembali membalikan badannya.
"Terimakasih sudah menolongku, Hyung."
Junmyeon terdiam sesaat seraya menatapnya. Lalu menarik sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman yang amat tipis, nyaris tidak diketahui. "Mengucapkan terimakasih bukan gayamu sama sekali, Sehun." setelah itu, dia benar-benar pergi. Menghilang dari balik pintu.
"Aku tahu kau peduli padaku." Gumam Sehun. Merasa puas sekaligus senang mendapati Junmyeon bersikap sedikit lunak padanya malam ini. Dia tidak mau berharap lebih, melihat Junmyeon datang keruangannya saja sudah cukup baginya. Itu sudah menjelaskan semuanya.
Trrring!
Sehun mendapati ponselnya berdering berisik disampingnya. Benda persegi pintar itu bergetar minta diangkat. Dengan susah payah, Sehun meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja nakas disampingnya. Nama 'Lu' tertera dilayar ponselnya dengan foto seorang pemuda manis dengan bibir tertekuk kebawah, cemberut. Senyuman kecil Sehun terukir, benar 'kan, cepat atau lambat Luhan pasti akan menghubunginya.
"Malam, sayang."
'Jangan memanggilku sayang jika kau tidak menghubungiku dua hari ini! Kau juga tidak membalas pesan-pesanku. Kemana kau, hah?'
Sehun menjauhkan sedikit ponsel dari jangkauan telinganya begitu mendapat semburan dari Luhan. Dia sudah menebak jika kejadiannya pasti akan seperti ini.
"Aku tahu kau tidak akan memaafkanku, maka dari itu aku tidak akan meminta maaf."
Luhan terdengar mendengus diseberang sana, 'Kau memang keparat ulung.'
Sehun terkekeh mendengarnya, "Yeah, my middle name." Senang sekali rasanya bisa kembali mendengar suara Luhan. dan akan lebih menyenangkan jika bisa melihat wajahnya juga. Lucu, mereka baru berpisah dua hari tapi sudah saling merindukan seperti ini.
'Dan, ada apa dengan suaramu? Kau sedang sakit?' Luhan bertanya, Sehun bisa mendengar nada kekhawatiran disana. 'Sehun, kau baik-baik saja, 'kan?'
Tidak ada yang lebih membahagiakan selain mendapati orang yang kau sayangi begitu memperhatikanmu. "Aku baik-baik saja, sayang. Aku hanya baru bangun tidur."
Yah, tidur diatas ranjang Rumah Sakit—sambung Sehun didalam hatinya.
'Dasar pemalas. Jika kau bangun tidur jam segini, lalu jam berapa kau akan tidur?'
"Sepuluh menit lagi. Tidak ada kau membuatku malas mengerjakan apapun, yang hanya kulakukan hanya tertidur. Itupun rasanya hambar, karna tidak ada kau disampingku."
Luhan tertawa diseberang sana, membuat Sehun melebarkan senyumnya. Senang mendengar suara tawa Luhan yang begitu merdu. 'Aku mual mendengar rayuanmu, serius.'
"Mual? Apa kau sedang mengandung anakku?" goda Sehun.
'Jangan bicara omong kosong, Sehun! Aku ini lelaki, mana mungkin bisa mengandung.' Seratus persen Sehun yakin Luhan tengah menekuk wajahnya saat ini. Bibir delimanya pasti mengerucut menggemaskan.
"Tidak ada yang tidak mungkin didunia ini. Kau sudah sangat sering menelan spermaku, dari mulut maupun lubangmu, siapa tahu kau tiba-tiba hamil kan?"
'Sehun!' tawa Sehun langsung pecah begitu Luhan berseru kesal. Rusa itu pasti tengah merona hebat saat ini. 'Aku menyesal telah menelepon orang mesum sepertimu.'
Sehun hendak membenarkan posisi duduknya, tetapi pergerakannya membuat punggungnya mendadak terasa nyeri. Hal itu membuatnya tidak sengaja mengeluarkan desisan lirih yang mampu terdengar oleh Luhan.
'Sehun? Kau tidak apa-apa? Jangan membuatku khawatir.'
"Aku tidak apa-apa, Lu." Rasanya sulit sekali berbohong pada kekasih sendiri.
'Kau terdengar kesakitan.'
Sehun tersenyum mendengar Luhan yang begitu mengkhawatirkannya. Dia benar-benar seorang keparat yang beruntung karna bisa dipertemukan oleh orang yang nyaris sempurna fisik dan kepribadiannya macam Luhan. "Bagaimana kabar keluargamu disana? Aku benar-benar merindukanmu. Cepatlah kembali." Sehun mengalihkan topik pembicaraan sebelum Luhan bertanya lebih lanjut perihal kondisi tubuhnya. Sehun tidak mungkin memberitahu rusa manis itu jika dirinya sedang dirawat di RS, hal itu akan menambah beban dipundak Luhan. Sehun tidak setega itu untuk membuat Luhan terbebani hanya karna ingin sakitnya diperhatikan oleh Luhan saja.
'Baba-ku sudah sedikit membaik, dan Kakakku…' Luhan mendadak menggantungkan ucapannya, 'Hari ini dia sudah divonis hukuman mati. Minggu depan hukuman itu baru dilaksankan.'
Sehun cukup terkejut mendengarnya. Sekarang dia benar-benar mengkhawatirkan Luhan. pemuda manis itu pasti tengah terpuruk sekarang. mentalnya benar-benar diuji, dan Luhan pastilah membutuhkan seseorang untuk bisa menghibur dan mengangkat suasana hatinya kembali. Sehun mendesah, memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa menemui Luhan secepatnya. Dia tidak ingin Luhan berlarut-larut dalam kesedihan.
"Kau mau kakakmu bebas, bukan?"
'Tentu saja. Aku tidak mau menyaksikan kematiannya.'
"Baiklah, Aku akan membantumu."
'Benarkah? Bagaimana caranya?' Luhan terdengar kembali bersemangat dan antusias membuat Sehun cukup senang.
"Itu rahasiaku dan teman-temanku."
Luhan mendengus jengkel, 'Hhh, baiklah. Lakukan semaumu, yang terpenting Zhou-gege bisa terbebas dari hukuman mati.'
"Jangan senang dulu, aku meminta bayaran yang besar." Sehun menyeringai tipis, dimana seringaian itu memiliki maksud-maksud tersembunyi yang kotor.
'Pada kekasihmu sendiri pun kau meminta bayaran? Cih, sulit dipercaya, Oh Sehun.' Luhan berujar angkuh disana. Wajahnya pasti sungguh menggemaskan ketika mengatakan itu.
"Aku yakin kau sangat mampu membayarku. Kau hanya perlu mendesah dibawahku semalaman penuh. Sudah, itu saja cukup bagiku."
"Keparat mesuuuum!"
Dan setelah itu suara 'pip-pip' mendominasi, menandakan jika sambungan telah diputus sepihak oleh Luhan. Sehun terkekeh geli. Luhan memang benar-benar menakjubkan, pandai sekali membuat suasana hatinya membaik. Oh sial, sekarang dia benar-benar merindukan rusa itu jadinya.
Sehun berjanji akan segera menemui Luhan. Entah besok, atau hari kedepannya.
Tobecontinued—
a/n :
Chap ini pendek ya? Huhu maklum gaada Hunhan momentnya. Tapi tenang aja, chapter depan ayah sama bubun bakal bersatu lagi kok, HEHEHE. Maaf ya kalo lelet update. udah kebiasaan wkwk.
Dan yang nanya ini bakal sampe chapter berapa jawabannya adalah… tinggal sedikit lagi. Antara 2-3 chapter lagi, gue mau cepet-cepet endingin ini dan publish ff baru NYEHEHEHE /tawalo gar-_-/
Dan maaf kalo typos, gue gasempet edit—males. Juga kemarin banyak yang minta Kris dijodohin aja sama Luhan, gue gabisa ngabulin. So drama wkwk XD kutidaksukaKrisHanbtwLuhancumamilikSehun.
Last, thanks buat tanggepan,kritik, apresiasi, cinta(?) dari kalian semua. Uuh, chu dulu sini :* semoga chap depan cepet update yaaa!
