Imperfections

Story belong to ©Anggara Dobby

Oh Sehun—Lu Han

With others pairing

[Warn!] YAOI, Gay Content, Mature, Alternative Universe, Typo(s), DLDR. Boring!

Watch out! NC18+(for this chapter)

I told you

before,

kids.

..

.

.

.

.

.

"Kau gila."

"Sinting."

"Tolol."

"Dickhead!"

Sehun tak menanggapi ucapan kurang-ajar teman-temannya, daripada memukuli mereka satu-satu dia lebih memilih menyibukan diri melepas perban-perban sialan yang membalut tubuhnya. Sesekali bibirnya meringis ketika tangannya tak sengaja bergesekan dengan kulitnya yang terkelupas karna luka. Rasanya amat perih. Disentuhan akhir, Sehun melepas lilitan gips dilehernya. Membuang benda keparat itu keluar kaca mobilnya, tidak mempedulikan plang dengan tulisan 'dilarang buang sampah dijalan' yang berdiri tegak disisi kiri jalan. Merasa tubuhnya sudah bersih dari kasa dan perban, Sehun menyingkirkan posisi Chanyeol yang sedang menyetir. Seketika dia merasa bebas lagi saat memegang kemudi mobil.

"Jangan mengutukku dengan kata-kata itu. Aku ini lebih jenius dari kalian." Ujar Sehun dengan fokus mata ke jalanan.

Baekhyun mendesah kasar, "Aku bersumpah tidak mau terlibat ini sama sekali. Kau kabur dari Rumah Sakit dan aku—juga yang lainnya, pasti akan kena imbas dari Junmyeon Hyung."

"Dan paman Seunghyun, jangan lupakan itu." sahut Kai kelewat datar.

"Bisakah kalian mengesampingkan itu dulu?" pinta Sehun, acuh tak acuh. "Kita punya misi."

"Yeah, menyelamatkan terpidana mati." Kali ini Chanyeol yang menyahut tanpa ekspresi.

"Serius, Sehun. Ini benar-benar gila. Aku tidak tahu apa isi otak sintingmu itu hingga kau mau menerobos Lapas dan membebaskan narapidana." Chen bersumpah kali ini dia tidak mau terlibat sama sekali. Karna masalah ini berurusan dengan polisi-polisi Cina, yang dimana artinya bukan lagi didaerah mereka hingga mereka bebas melakukan kejahatan apapun. Lagipula mereka sangat buta bahasa Cina, mungkin hanya dia dan Sehun yang bisa sedikit-sedikit bahasa Tionghoa. Bisa saja mereka tertangkap dan mimpi buruknya, ikut terkena hukuman mati bersama narapidana yang ingin mereka selamatkan. Itu tidak lucu sama sekali. Chen masihlah remaja yang memiliki sejuta kecemasan dalam otak labilnya. Ini sebuah kejahatan yang serius, Chen mengulang kalimat itu dalam hati seperti sebuah mantra.

"Ini tidak sesulit yang kau bayangkan. Aku sudah pikirkan ini matang-matang. Aku hanya ingin Luhan senang, itu saja."

"Enteng sekali bicaramu." Desis Baekhyun, sinis. Sehun melarikan diri dari RS dengan kondisi belum sembuh total dan nekat terbang ke Beijing untuk menyelamatkan Kakak Luhan yang terpidana mati hanya demi kesenangan Luhan. Baekhyun tidak tahu bagaimana cara kerja otak Sehun. Dia lebih dari sekedar gila. Baiklah, cinta itu memang penuh perjuangan tetapi rasanya tidak seperti ini juga. Ini berlebihan. Sehun sudah kelewat gila oleh Luhan. Baekhyun yakin, Luhan juga pasti tidak akan senang tentang misi mereka ini. "Kau bukan hero, ingat itu." Baekhyun memperingati dengan sengit.

"Menjadi pahlawan untuk kekasihku, apa salahnya?"

Baekhyun menjulingkan matanya keatas, "Kau menjijikan."

"Yes, I'am." Sehun menyahut tak peduli.

"Aku ada dalam jaringannya, maka dari itu aku juga ingin membebaskan Zhou." Kai meniup-niup kukunya dengan santai. Nah, Sehun merasa punya kawan sekarang.

"Tidak ada tembakan, pembunuhan, dan kerusuhan dalam rencanaku kali ini. Biarlah Zhou yang melakukan itu semua, aku hanya memberikannya beberapa obat-obatan saja. Aku masih waras untuk tidak merusuh di Negeri orang." Ujar Sehun, dia melajukan mobilnya menuju Bandara Incheon. Kesenangan mampir dalam dadanya, mengingat beberapa jam lagi dia akan segera menemui Luhan. Si mungil itu pasti senang melihat kedatangannya.

"Obat-obatan?" ulang Baekhyun, seketika dia teringat sesuatu, dan segera menoleh kearah Chen yang duduk di belakang sana. "Chen, jangan bilang kau—"

"Aku terpaksa," Chen menjawab cepat-cepat dengan wajah frustasi. "Susah sekali punya teman mengerikan seperti Sehun, aku menolak sekali dia sudah mengacungkan baretta-nya. Terpaksa aku memberikannya beberapa obat-obatan kimia daripada kepalaku berlubang." Didepan sana, Sehun hanya mendengus puas mendengar pengakuan Chen.

"Apa yang kau berikan padanya?" tanya Baekhyun.

Chen mengerutkan dahinya sejenak, berpikir. "Uhm, Scopolamin, Triflimide, Potasium sianida, zat anastesi, larutan asam, cuka beton, dan granat kecil?" ada keraguan dalam jawabannya. Menyebutkan nama-nama obat kimia yang diminta Sehun membuat otaknya berjalan dua kali lebih cepat. Matanya melebar sedikit, menebak kemungkinan rencana Sehun yang membuat jantungnya berdegup kencang karna sebuah adrenalin yang entah datang darimana.

"Untuk apa obat-obatan itu?"

Chen tidak menjawab pertanyaan Baekhyun, dia berseru pada Sehun cukup berlebihan. "Astaga, Sehun! sepertinya kau lebih berbakat dibidang farmasi daripada aku. Sekarang aku tahu apa rencanamu." Ujarnya antusias. Sehun tersenyum tipis menanggapinya. Sudah dia katakan bukan, jika dia lebih jenius dari teman-temannya. Bahkan sekalipun Chen yang notabene sangat mendalami ilmu farmasi dan kalkulus.

"Apa sih? Aku tidak mengerti obat-obatan selain Valium, Percocet dan ekstasi." Sahut Kai. Chanyeol meliriknya cukup sengit, dan berkata, "Kau hanya tahu obat-obatan ilegal, idiot."

"Aku akan mengunjungi Zhou dengan penyamaran sebagai Intel divisi narkoba, untuk mengelabui para sipir disana. Aku akan berikan obat-obatan itu padanya dan beberapa senjata, akan kuberi petunjuk cara memakai dan mencampurnya. Larutan asam yang dicampur dengan cuka beton atau yang lebih dikenal dengan cairan setan akan membuat dinding melunak lebih cepat, dan bisa dihancurkan dengan tangan. Scopolamin, triflimide, sianida dan zat anastesi akan membuat para sipir ambruk seketika jika obat itu ditiupkan kearah mereka. granat dan satu senjata penuh peluru? Zhou pasti akan membutuhkan itu untuk pelariannya. Dan aku minta bantuan kalian untuk berjaga diluar LP untuk memudahkan pelarian Kakak Iparku."

"Jenius.."

"Woah, harusnya aku bisa menebaknya tadi."

"Kakak Iparku? Tak kusangka kau merebut hati calon Kakak iparmu dengan cara seperti ini. Keren sekali, Oh Sehun." Kai memasang wajah paling datarnya.

"Darimana kau yakin kau bisa masuk ke LP sebagai Intel?"

Sehun tahu jika kata 'Bodoh, gila dan sinting' akan berganti dengan 'Jenius, pintar dan licik' yang ditujukan untuknya. Dia meraih sesuatu dari kantong sakunya, dan menunjukan benda itu kearah Chanyeol yang baru saja bertanya. "Apa lencana ini cukup untuk menjawab pertanyaanmu?"

Itu sebuah lencana emas dengan ukiran lambang kesatuan Intel di negera mereka. Chanyeol memandangnya cukup kagum, "Darimana kau mendapatkannya?"

"Aku mencuri dari pamanku. Dia seorang intel."

Yang lain bertepuk tangan dengan ekspresi terlalu datar. "Hebat, Sehun. Kau memang keparat kecil yang licik." ketus Chanyeol.

.

.

.

.

.

.

.

Sehun menunjukkan sebuah lencana ditangannya saat dua polisi dihadapannya menghadang jalan masuknya. Polisi itu tanpa berbicara apapun mempersilahkannya masuk saat melihat lencana ditangannya. Hah, sudah dia duga jika benda ini akan memudahkan rencananya.

"Aku mencari Zhouxian Xi." Sehun berujar pada seorang petugas yang menanyakan kedatangannya. Untung dia sempat belajar bahasa Cina dulu, walau pengucapannya belum fasih benar.

"Ah, si pengedar kelas kakap yang akan dihukum mati itu?"

Sehun mengangguk seadanya.

"Kau keluarganya?" tanya petugas dengan tubuh tambun itu.

"Bukan. Aku Intel divisi narkoba dari Korea Selatan. Zhouxian Xi seringkali terlibat transaksi hitam di Seoul. Dia juga terlibat dalam jaringan XTC yang diketuai oleh Lee Seungjoon. Maka dari itu aku ingin menanyai beberapa hal padanya tentang jaringan itu." Sehun menjawab dengan tenang. Lagi, dia harus menunjukan lencana hasil curiannya. Kacamata hitam yang dipakainya membantu banyak dalam penyamarannya selain Jaket kulit hitam dan celana kain berwarna senada. Gaya khas seorang intel. Baekhyun yang menyarankan penyamaran ini, awalnya dia ingin menempelkan sebuah kumis lebat dibawah hidungnya, tetapi Sehun menolak dengan keras. Dia ini polisi muda, oke?

"Lalu, apa yang kau bawa, sir?" Mata tajam petugas itu melirik kearah saku jaketnya yang agak menggembung.

Sehun mengeluarkan sebuah handgun dari sana, Revolver C16. "Seorang polisi harus siap dengan ini 'kan? Ah, apa kau mau aku tembak karna membuang-buang waktuku dengan pertanyaan bodoh ini?"

Petugas itu meneguk ludahnya dengan kasar, kentara sekali bergetar takut mendengar pernyataan orang didepannya. "Zhouxian Xi ada di sel 121. Aku akan menyuruh sipir untuk membawanya, kau tunggulah di ruang besuk ujung sana."

Sehun mengangguk, lalu berjalan mencari ruangan yang dimaksud Polisi tua itu. Lorong demi lorong dia lewati dengan berbagai macam orang-orang didalam sel tahanan. Ini bukanlah penjara biasa, tahanan yang berada disini semuanya adalah orang yang akan menunggu giliran untuk dihukum mati. Jadi, Sehun tak heran jika bau-bau keringat putus-asa tercium menyengat di lubang hidungnya. Orang-orang didalam sel sana tampak kosong harapan. Ada yang meringkuk di ujung sel, ada yang terus bergumam 'Lepaskan aku' dan ada pula yang berkelahi dengan sesamanya hingga terjadi pertumpahan darah. Sehun melewati seorang wanita yang dikawal oleh dua sipir, wanita itu tampak berantakan. Rambutnya lepek, kusut, seperti sarang burung. Matanya menghitam. Dan bau badannya sangat busuk menyengat. Dia sudah menjadi bangkai sebelum waktunya.

Batinnya bertanya-tanya, apa yang bisa dilakukan seorang wanita hingga ia bisa terjebak dalam sel ini? Tapi itu bukan urusannya, Sehun tak mau memikirkan lebih jauh.

Sehun mengetuk-ngetukan sepatunya dilantai, seraya menunggu Zhou. Tidak menyangka dia bisa berada didalam Lapas dengan titel 'Polisi' bukan 'penjahat' dengan mudahnya. Dan tak lama kemudian, seorang pria dewasa datang kearahnya dengan dua sipir mengawal di sisi kanan-kirinya.

"Bisa kalian tinggalkan kami? Aku ingin bicara masalah pribadi dengannya." Pinta Sehun, dua sipir muda itu mengangguk dan meninggalkannya. Mudah sekali.

"Siapa, dan apa urusanmu padaku?" Zhou bertanya dengan dingin, setelah mendudukan dirinya didepan Sehun. jika Sehun boleh mengatakan, Zhou sama-sekali tidak mirip dengan Luhan. Pria itu tinggi tegap, mempunyai mata yang tajam alami, dan rupawan, sangat cocok dengan imej berandalan. Begitu berbeda dengan Luhan yang terkesan mungil dan manis. Sehun tahu ini bukan waktunya untuk memikirkan perbedaan dua bersaudara itu, jadi dia mengenyahkan pikiran itu sesaat.

Sehun mengeluarkan bungkusan hitam yang tersembunyi apik didalam jaket kulitnya. Menyerahkan bungkusan itu kepada Zhou, yang dibalas pandangan bingung oleh pria itu.

"Apa ini?"

"Kaburlah dari sini malam ini." Sehun menangkap perubahan ekspresi pada Zhou.

"Kau bercanda?" desisnya tak percaya. Lalu buru-buru membuka bungkusan itu yang berisi obat-obatan dan beberapa handgun. Dia mendongak, kembali menatap Sehun dengan pandangan bingung dan tak percaya,"Apa maksudnya semua ini?"

"Luhan akan terpuruk seumur hidup jika kau benar-benar dihukum mati." Jawab Sehun.

"Luhan? Tunggu dulu, kau mengenal adikku?" Zhou tampak linglung dengan kebingungan yang ia ciptakan sendiri.

Sehun membuka kacamata hitamnya, lalu mengulas senyuman tipis—nyaris tak terlihat. "Ya. Lakukan ini untuk Luhan. Aku akan membantumu melarikan diri. Jangan memintaku untuk menjelaskan apapun, karna waktumu sudah sangat tipis."

Zhou hendak mengeluarkan sebuah protesan dan bantahannya, tetapi Sehun cepat-cepat kembali berujar. "Jangan lihat kebelakang, kau hanya perlu memikirkan bagaimana cara keluar dari sini. Aku akan menjelaskan cara memakai obat-obatan ini." Mendapati Zhou yang terdiam, seperti mengiyakan. Sehun menjelaskan cara kerja obat-obatan kimia yang dibawanya, dan cara penggunaannya. Zhou mendengarkan dalam diam. Itu artinya dia menyetujui rencana pelarian ini.

"Teman-temanku sudah siap didepan Lapas untuk membantumu, hanya butuh waktu tiga jam untuk melunakan dinding itu dengan bahan-bahan yang sudah kuberikan. Sepertinya kau penembak yang handal, maka dari itu aku tidak akan mengajarkanmu untuk yang satu itu. Dan, setelah kau bebas dari sini, pergilah ke Seoul. Lakukan operasi plastik dan buatlah identitas baru."

Sehun bangkit dari duduknya, merapihkan sedikit jaket kulitnya. Bersiap-siap meninggalkan Zhou,tetapi pria itu sepertinya masih begitu penasaran dengannya.

"Terimakasih untuk semua ini. Aku tidak tahu bagaimana caraku untuk membalas jasamu. Setidaknya aku perlu mengetahui namamu."

"Aku Oh Sehun, kekasih Luhan. Adikmu."

.

.

.

.

Sehun berdiri didepan sebuah rumah besar bergaya modern yang banyak ditumbuhi pepohonan rindang dihalamannya dengan sebuah ponsel menempel ditelinga. Netranya terus mengamati rumah itu sembari menunggu panggilannya dijawab. Sudah dia duga jika Luhan memang anak dari orang kaya, terbukti dari bangunan rumahnya yang terlihat besar dan pongah dengan beberapa aksen tradisional khas Cina dibeberapa sudut. Halamannya luas, dan ada dua mobil terparkir disana. Sehun yakin itu bukan mobil milik kekasihnya, karna Luhan belum diizinkan mengemudi oleh Ayahnya. Itulah mengapa Luhan selalu merengek padanya untuk meminjam mobilnya sebentar agar dia bisa mengemudi dengan bebas. Sehun tersenyum tipis saat mengingat tampang senang Luhan ketika kedua tangannya mengendalikan kemudi mobil. Dia seperti anak kecil polos yang hanya ingin merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakannya.

"Ada apa?"

Sehun mendesah lega mendengar suara Luhan lewat sambungan ponsel, "Akhirnya kau menjawab teleponku juga."

"Maaf, aku sedang bermain Playstation. Jadi tidak mendengar panggilan darimu."

"Sendiri?" tanya Sehun. Dia tersenyum sekilas pada penjaga rumah Luhan yang membukakan gerbang untuknya. Kaki panjangnya melangkah lebih dalam menuju pintu utama rumah Luhan.

"Tidak. Bersama temanku."

Sehun berhenti melangkah. "Teman?" dengan kedua alis menukik heran.

"Ayolah, Hun-ie. Enyahkan pikiran burukmu itu. Dia hanya temanku," Jika Luhan memanggilnya'Hunie' itu artinya lelaki manis itu sedang tidak mau berdebat dengannya. Sayup-sayup Sehun bisa mendengar tombol-tombol pada stick game ditekan dan suara orang lain didekat Luhan.

"Siapa yang berpikiran buruk? Aku hanya sedikit bingung karna waktu itu kau pernah bilang tidak mempunyai teman dekat di Beijing." Sekarang Sehun sudah sampai didepan pintu rumah Luhan, melirik sekilas pada bel didekatnya. Tetapi rasanya tidak seru jika datang seperti seorang 'tamu'.

"Dia teman baruku. Omong-omong, tumben sekali kau meneleponku jam segini. Kau tidak ada acara dengan teman-teman berandalmu malam ini, memangnya?"

"Tidak ada, dan berapa kali harus kubilang jika mereka bukan berandalan." Sehun mengulum senyumnya, membayangkan bagaimana ekspresi Luhan nanti ketika rusa itu tahu bahwa dia sudah berdiri didepan rumahnya.

"Terserahlah, aku tidak mau berdebat tentang itu." Luhan terdiam beberapa saat, dan Sehun menunggu kalimat berikutnya yang akan keluar dari bibir kekasihnya "Sehun, Aku merindukanmu."

Jantungnya berdegup memalukan hanya karna mendengar kalimat lirih itu terucap dari bibir manis Luhan. Sengaja, Sehun tak membalas ucapan rindu Luhan. "Anehnya, hari ini aku tidak merindukanmu —bohong sekali— kau terlalu lama di Beijing, aku jadi bosan menunggumu. Nikmatilah waktumu disana, jangan terus memikirkanku." Sehun terkekeh menyebalkan.

"Ucapanmu jahat sekali. Jika saat ini kau didepanku, aku bersumpah akan memukul kepalamu. Aku tahu kau merindukanku, penipu!"

Lelaki dengan mata rusa itu pasti tengah merengut sekarang. Sehun semakin melebarkan senyum main-mainnya, "Pukul saja aku, princess. Omong-omong, bunga mawar putih didepan rumahmu cantik-cantik sekali, seperti pemiliknya."

"Aku bukan princ—Eh?" Luhan mendadak terdiam. "Sehun, darimana kau tahu didepan rumahku banyak tanaman mawar?"

"Insting seorang kekasih. mungkin?"

Dan setelah itu panggilan terputus sepihak. Luhan mematikannya. Sehun menyimpan kembali ponsel disakunya. Senyuman main-mainnya terganti dengan seulas senyum manis ketika mendengar suara derap langkah kaki terburu-buru dari dalam. Jantungnya semakin menggila saat pintu didepannya berderit, perlahan-lahan terbuka. Sehun merasa luka-luka ditubuhnya tidak seperih tadi ketika pintu didepannya terbuka lebar dan menampilkan sosok mungil Luhan yang membola-kan mata rusanya, menggemaskan. Lelaki manis itu tampak terkejut sekali, hal itu dapat dibuktikan dengan tubuhnya yang mematung dan matanya yang enggan berkedip.

Sehun tersenyum menawan, "Hello angel.." —dan bersenandung sumbang.

"Sehun?" Si mungil itu bergumam, nyaris berbisik diantara keterkejutan dan kebingungannya, sebuah kompilasi yang membuat kepalanya berdenyut pusing.

Sehun mendekati kekasihnya, memeluk pinggang ramping itu, sedikit memiringkan kepalanya lalu menunduk untuk menjangkau bibir delima Luhan. Dia memejamkan matanya rapat saat merasakan belahan bibir Luhan terbuka, rasa manis langsung menyapa indera pengecapannya ketika lidahnya menyapu seluruh permukaan bibir lembut Luhan. Oh, dia sangat merindukan ini. Dia mendengar Luhan melenguh disela-sela ciuman penuh kehati-hatian mereka. Sehun semakin berdegup kala tangan Luhan merayap menuju tengkuknya untuk memperdalam ciuman mereka, sementara tangan yang satu memeluk punggungnya. Sebuah gerakan yang membuat Sehun mengerti jika Luhan memang benar-benar merindukan dirinya. Lantas, Sehun berinisiatif untuk mendorong tubuh Luhan kedalam tanpa melepas perpaduan bibir mereka. Kerinduannya berangsur-angsur mengendur detik itu juga. Obat-nya sudah ada disini, bersamanya, dipelukannya.

"Kau keparat ulung!" Luhan memukul dadanya ketika ciuman mereka disudahi, Sehun melihat mata kekasihnya sudah basah. Astaga, dia menangis lagi. Luhan jadi cengeng akhir-akhir ini. "Kenapa kau datang kesini tanpa memberitahuku?!"

Sehun menghela nafas sesaat, lalu menghapus pipi Luhan yang basah dengan kedua tangannya. Dia benar-benar seperti anak kecil. Lihatlah cara menangisnya itu, Sehun ingin tertawa tetapi tidak setega itu. Bahagia sekali mendapat kenyataan jika Luhan sangat merindukannya.

"Kau akan melarangku datang kesini jika aku memberitahumu." Jawab Sehun, tangannya enggan untuk melepas pelukannya pada pinggang Luhan.

"Karna kau menyebalkan, menjengkelkan, bajingan tak tahu diri!" Luhan memang mengumpat, tetapi lucunya, rusa manis itu menyembunyikan kepalanya didada bidang Sehun. Melampiaskan rasa rindunya pada tubuh kekasihnya yang hangat.

Sehun mengecupi kepala Luhan, dan dia terbuai dengan harum rambut kekasihnya yang tak berubah sedikitpun. "Apa kau tidak mau memukul kepalaku sekarang? aku berbohong soal kerinduan itu. Aku benar-benar sangaaaat merindukanmu,"

Luhan mendongak untuk memandangnya, dia memberikan sebuah kekehan kecil yang manis sekali. "Dasar penipu! Sudah kuduga jika kau pasti merindukanku."

"Oh, percaya diri sekali rusa ini."

Hidung mereka bersentuhan, menyebabkan nafas keduanya berbaur menjadi satu. Menimbulkan getaran gairah tersendiri saat tangan kurang-ajar Sehun dengan sengaja meremas pinggang Luhan penuh hasrat. Luhan menggigit bibir bawahnya sebagai respon yang tak kalah menggairahkan. Kedua bola mata mereka saling berpandangan, mengantarkan sinyal-sinyal yang hanya dimengerti oleh keduanya. Kerinduan yang membludak membuat keduanya nyaris gila dan ingin segera melampiaskan rasa rindu itu dengan cara yang kotor.

"Ada apa dengan wajahmu? Kau melanggar janjimu, ya?" Luhan bertanya, nyaris seperti bisikan. Nafas Sehun yang membentur wajahnya, membuat Luhan sulit mengeluarkan kata-kata.

"Hanya pertengkaran kecil dengan Kai." Bohongnya.

"Sehun," Luhan mendesah memperingati, kala jari-jari Sehun masuk kedalam kausnya dan menggelitik punggungnya.

Sehun memejamkan matanya, berniat memadamkan api gairahnya dengan mencium bibir menggoda Luhan, tetapi semua itu tidak tercapai saat suara orang lain menginterupsi kegiatan 'rindu-merindu' mereka.

"Lu-ge, kenapa kau tidak kemb—O-oh?"

Luhan mendorong dadanya cukup keras, membuat Sehun harus menahan nyeri pada lukanya yang belum sembuh total dibagian sana. Pelukan keduanya terlepas. Sial. Dia mengumpat sesaat.

Sehun mematung sejenak, bukan untuk meresapi rasa sakitnya yang tidak seberapa, tetapi suara orang yang mengganggu kegiatannya cukup familiar ditelinganya. Otaknya memutar sebuah rekaman audio, yang membuat kepalanya berdenging oleh suara-suara itu. Sehun meyakinkan diri jika dia hanya berhalusinasi atau salah dengar, tetapi saat matanya menangkap seseorang yang datang kearah mereka membuat Sehun yakin jika dia tidak berhalusinasi.

Pemuda berperawakan tinggi, berambut hitam, mata yang dilingkari gradiasi hitam alami sejak kecil, dan—

Sehun merasa tak waras saat bibirnya mengucapkan nama orang itu dengan keterkejutan luar biasa, "Zi Tao?"

.

.

.

.

.

"Sore, sayang."

Kyungsoo mengerang sebal melihat layar ponselnya dipenuhi wajah menyebalkan Kai dan suara serak menjengkelkan— coretseksi coret—memenuhi indera pendengarannya. Seharusnya dia tidak menjawab panggilan video dari pemuda tan itu. Ya, seharusnya. Tetapi tangannya mengkhianatinya, dan memilih menggeser layar ponselnya, menerima panggilan itu. Kyungsoo semakin tidak mengerti pada cara kerja tubuhnya yang egois ketika menyangkut dengan Kai seperti ini.

"Jangan memanggilku sayang." Kyungsoo memperingati, walau jantungnya berdetak kencang memalukan menerima panggilan seintim itu. "Kau bukan siapa-siapaku."

Kai terlihat tersenyum tengil disana, dan Kyungsoo sangat membenci senyuman yang tidak ada tampan-tampannya itu. "Wah, apa itu semacam kode? Aku bodoh pada kode-kode seperti itu. Tapi kali ini aku mendadak pintar dan ingin menebaknya. Diteliti dari ucapan ketusmu barusan, aku bisa yakini jika kau ingin menjadi siapa-siapaku."

"Omong kosong." gerutu Kyungsoo. Dia lebih menyukai Kai yang selalu mengganggunya dengan kata-kata hinaan daripada dengan godaan-godaan menjengkelkan seperti ini. Tetapi saat ditelaah lagi, Kyungsoo rasa dua opsi itu tidak ada yang bagus. Hinaan dan godaan—ugh, Kyungsoo tidak mau keduanya.

"Jangan menghubungiku jika tidak ada hal yang penting," ucap Kyungsoo, tidak mau berlama-lama memandang Kai dilayar ponselnya.

"Aku ingin tahu kau sedang apa, dan bagiku itu hal yang penting." Kai tersenyum menawan dan menaikan kedua alisnya sekilas, menggoda.

Kyungsoo merona tipis, dan itu sangat memalukan untuknya. "Aku sedang belajar bersama," sial, kenapa dia menjawab dengan nada gugup dan pelan seperti itu? Ayolah, itu hanya Kai! Seorang berandal tak punya kerjaan yang hanya bisa mengganggunya. Kyungsoo berharap Kai tidak menyadari gerak-gerik memalukannya.

"Dengan siapa?"

"Minseok dan Baro." Jawab Kyungsoo. "Kau tahu, anak bernama Baro itu terus saja menanyakanmu, dia berspekulasi jika aku bagian dari kelompok berandalmu, bahkan dia mengiraku sebagai kekasihmu. Siapa sih dia? Apa kau berteman dengannya?" ucapan itu terlontar begitu saja dari bibir hati Kyungsoo, mengalir tanpa beban. Seolah-olah Kai memang kekasihnya yang patut diberi tahu apa saja yang terjadi hari ini.

"Dia hanya temanku di arena balap. Dan soal kekasih itu… ah, aku tak menyangka anak itu punya pendapat yang bagus tentang hubungan kita." Kai kembali tersenyum tengil yang begitu menjengkelkan dimata Kyungsoo, tetapi anehnya, dia menyukai itu.

"Aku tidak sudi menjadi kekasihmu."

"Masih saja ketus. Tapi tak apa, aku menyukainya."

Kyungsoo mengerang dalam hati, merasakan jantungnya kembali memompa darah dua kali lebih cepat dari biasanya. Dia juga merasakan darahnya berdesir menuju kedua pipinya, membuat bagian sana terasa panas. Kai terang-terangan mengatakan hal itu tanpa penyaringan sama sekali, dan itu berdampak buruk pada tubuh Kyungsoo. Sialan, Kim Jongin memang benar-benar sialan! Kyungsoo tidak ingin berperang pada hatinya lagi soal perasaan aneh ini.

"Kau manis jika sedang merona."

"Diamlah, Jongin!" Kyungsoo berdesis geram. "Aku tidak merona!" elaknya, tidak berguna.

"Lalu, bisa jelaskan apa sapuan merah yang ada dipipi gembilmu itu?"

"I—ini karna udara yang cukup panas disini." Kyungsoo gelagapan dan berusaha menutupi kedua pipinya dengan kedua tangannya. Alibi yang bodoh, karna dirumah Minseok full AC.

Kai tertawa disana, sangat lepas. Dan dia begitu tampan jika sedang tertawa seperti itu. sayup-sayup Kyungsoo dapat mendengar suara berat Chanyeol mengatakan 'Jangan berisik bodoh! Polisi diluar sana bisa mendengar suaramu.' Sebenarnya sedang dimana mereka? Kyungsoo cukup penasaran.

"Kau sedang dimana?"

"China."

Kyungsoo membolakan matanya yang bulat, "China?" ulangnya tak percaya. "Apa yang kau lakukan disana?" dia tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

"Tugas Negara." Kai menjawab dengan asal.

Kyungsoo mengernyitkan dahi, tak mengerti. Tugas negara apa yang melibatkan berandal kecil seperti Kai dan teman-temannya? Kyungsoo terlalu malas untuk menebak-nebak dan bertanya lebih lanjut.

"Ah, kau bilang kau bersama Minseok 'kan? Bisa bicara dengannya sebentar, sayang?"

Kyungsoo mendengus kecil, "Jangan memanggilku sayang."

"Bagaimana dengan darling?"

"Jongin,"

"Baiklah, Chagiya."

Kyungsoo lebih jengkel dari sebelumnya. Tidak mempedulikan Kai lagi, Kyungsoo memanggil Minseok mendekat. Mereka berteman hari ini sejak Guru Kim mempertemukan keduanya dalam sebuah tugas kelompok. Kyungsoo langsung merasa nyaman dengan Minseok. Dia menyenangkan, mudah bergaul, dan tentunya berbeda dari yang lain. Kyungsoo rasa kehidupan sekolahnya akan lebih menyenangkan sekarang.

Sementara itu, Minseok tidak mengerti harus bicara dengan siapa. Dia tidak mengenal siapa yang ada dilayar ponsel Kyungsoo—dia hanya ingat itu adalah anak lelaki yang beberapa hari lalu datang kesekolahnya dan membuat Gongchan dan kawan-kawannya kabur ketakutan. Saat dia ingin bertanya, apa sebenarnya yang ingin dibicarakan oleh anak lelaki itu, wajahnya sudah berganti dengan orang lain. Minseok nyaris tersedak ludahnya sendiri melihat wajah Kim Jongdae disana. Dia berkedip beberapa kali, untuk memastikan. Ingin menghindar karna insiden beberapa hari yang lalu yang membuatnya merasa diselimuti kecanggungan, tetapi Jongdae mulai mengeluarkan suaranya, membuat niatnya tak terkehendaki.

"Minseok,"

"Y-ya?" Namaku masih diingat. Dia gugup sekali, walau tidak berhadapan secara langsung. Malu, canggung, bingung, semuanya menjadi satu. Minseok tidak tahu harus bersikap bagaimana.

Jongdae terdiam beberapa detik, lalu berujar, "Aku ingin bertemu denganmu besok."

"E—eh?" berkedip beberapa kali.

"Aku akan menemuimu disekolahmu." Dan dengan begitu, Jongdae tersenyum tipis padanya. Sebelum pada akhirnya layar ponsel Kyungsoo dipenuhi oleh wajah anak lelaki berkulit tan tadi.

Minseok terdiam beberapa detik, lalu pipinya diselimuti rona kemerahan yang manis.

.

.

.

.

.

.

Sehun tak tanggung-tanggung untuk segera menarik Zitao keluar, menjauh dari Luhan, dan menghempaskan tangan pemuda itu begitu saja saat mereka sudah berada dihalaman depan rumah Luhan. Zitao tidak berbicara apapun, hanya terdiam memandanginya dengan sorot mata tak terbaca. Sehun merasa sinting, mungkin dia sekarang tengah berhalusinasi atau sleepwalking. Matanya terus mengamati Zitao dari atas hingga bawah—berulang-ulang. Memastikan jika didepan matanya ini memang benar 'Huang Zi Tao' bukan sebuah khayalan. Semakin lama diperhatikan, semakin berdenyut kepala Sehun. Rasanya tubuhnya ingin limbung ke tanah. Mungkin tekstur tanah yang padat dapat menyadarkannya dari kesintingan ini.

"Sehun?" Dia bersuara. Suara yang sama. "Kau Sehun 'kan?"

Sehun mengepalkan tangannya erat-erat. Giginya bergemeletuk geram, dan dengan sekali ayunan, dia membawa kepalan tangannya menuju rahang Zitao. Bersamaan dengan limbungnya tubuh pemuda itu, Luhan memekik dan berlari untuk membantu Zitao. Sehun mendecih, dadanya naik-turun tak beraturan membuktikan jika emosi sedang memengaruhi tubuhnya.

"Sehun!" Luhan membentak kearahnya. Wajahnya merah padam, menandakan jika pemuda itu juga diselimuti emosi karna sikap tak senonoh Sehun.

"Aku tidak ada urusan denganmu." Sehun menyingkirkan tubuh Luhan begitu saja, seolah-olah Luhan bukanlah orang yang sama ketika dia cium beberapa saat yang lalu. Luhan sempat memandang tak percaya kearahnya, tetapi Sehun tidak mau menghiraukan hal itu terlebih dahulu. Dia menarik kerah baju Zitao, memandang bengis kearah pemuda itu yang sudut bibirnya mulai mengeluarkan sebercak darah. Persetan! Sehun tak peduli.

"Huang Zi Tao, lelucon macam apa ini?" Sehun berdesis bagai ular. Tidak ada lagi kesabaran dalam pandangan matanya.

"Sehun—"

"Jadi disini tempat persembunyianmu?" Sehun masih berdesis, dengan wajah tak main-main amarahnya.

Zitao tidak gelagapan atau ketakutan, dia hanya bingung memulai dari mana. "Dengar, Sehun—"

"KAU BELUM MATI, SIALAN!"

Luhan terlonjak kaget saat Sehun membentak keras dan mendorong Zitao hingga anak itu tersungkur ketanah. Bohong jika dia bilang, dia tidak takut melihat Sehun saat ini. Dia lebih mengerikan dari sebelumnya. Luhan seperti tidak mengenal sosok Sehun sekarang. terlebih, dia pihak satu-satunya yang tidak tahu-menahu permasalahan apa yan dialami oleh dua orang didepannya. Luhan bahkan tidak tahu jika Zitao dan Sehun saling mengenal.

"Drama macam apa yang kau buat selama ini? Kau membohongiku, membohongi semuanya! Dua tahun aku dibayangi rasa bersalah karna kematianmu yang ternyata hanya sebuah skenario konyol. Dua tahun itu pula aku harus menanggung perasaan bersalah yang bahkan aku tidak bersalah sama-sekali atas kematianmu!" Urat-urat dipelipis Sehun mengencang. Dia sangat terbakar emosi hingga rasanya sulit bernafas. Ingin segera melenyapkan Zitao dengan tangannya sendiri.

Bayangkan, dua tahun Sehun harus menanggung kebencian dari Kris karna kematian adiknya—Zitao— yang ternyata hanya bualan sinting semata. Ya, Zitao adalah adik angkat Kris. Yang dimana hal itu bermakna juga, Zitao adalah sahabat baik Sehun. Hubungan ketiganya baik-baik saja, mereka sering menghabiskan waktu bersama, dan Sehun menganggap Kris sebagai Kakak keduanya—karna Junmyeon tidak pernah peduli padanya. Kris selalu mendengarkannya, memperlakukannya seolah-olah Sehun benar adik kandungnya. Sehun merasa mempunyai keluarga saat berada ditengah-tengah keluarga Wu. Tetapi semua itu berubah menjadi kebencian yang teramat sangat ketika Zitao tewas karna kecelakaan yang menimpa mereka dua tahun yang lalu, ketika Sehun sedang mencoba-coba menyetir mobil barunya. Kris menjadi sosok yang sangat berubah padanya. Pria itu sangat membencinya, menyalahkannya atas kematian adiknya, dan berusaha membalaskan dendam dengan cara apapun. Dia sangat tidak terima dengan kecelakaan yang menewaskan adiknya.

Sehun kembali sendirian. Tidak ada lagi keluarga yang bisa menjadi tempat berteduhnya. Semua orang membencinya, menganggapnya sebagai anak pembawa sial dan pembunuh. Dulu dia salahkan atas kematian Ibunya, lalu sekarang dia kembali disalahkan atas kematian sahabatnya sendiri. Adakah cobaan yang lebih pedih dari ini? Disalahkan atas kematian orang-orang yang kau sayang jelas membuat mentalmu sedikit demi sedikit terkikis. Hanya Chanyeol dan yang lainnya, yang menemaninya. Itupun tidak membantu banyak, karna mereka semua juga berasal dari kepribadian yang hancur sama seperti dirinya. karna ada sebuah pepatah kuno mengatakan, hanya orang bahagia-lah yang bisa membahagiakan orang lain. Yah, itu benar adanya. Ia memang bahagia ketika bersama teman-temannya, tetapi bukan sebuah kebahagiaan bermakna harfiah. Dia hanya mendapat kebahagiaan palsu. Yang hanya datang sesaat, kemudian dia kembali meringkuk dalam kesedihan ditiap malamnya. Sehun benar-benar hancur seperti puing-puing bangunan yang sudah lama roboh.

Dan kini, dia berhadapan dengan Zitao. Dia hidup, sehat dan terlihat tidak ada beban. Sehun merasa ini tidak adil untuknya. Sementara dia disalahkan, tetapi Zitao disini terlihat bahagia-bahagia saja. Sejujurnya, Sehun memang senang melihat sahabatnya masih hidup. Tetapi kesenangan itu terpendam oleh amarah dan kebenciannya. Drama sinting Zitao membuat hidupnya yang berantakan menjadi lebih berantakan, bagai tumpukan sampah yang tidak ada habisnya. Kris juga pasti akan murka sekali melihat ini. Sehun bisa memastikan itu.

"Katakan padaku, mengapa kau lakukan ini?" Sehun kali ini tidak membentak. Dia berujar lirih, tampak lesu dan tak bertenaga. Pandangan amarahnya pun berganti dengan sorot penuh kesedihan, mengapa dia tega melakukan ini padanya? .

Zitao terpukul melihatnya. Ini lebih menyakitkan dari pukulan Sehun. Dia sangat lemah saat Sehun mulai berbicara dengan pandangan seperti itu padanya.

"Aku tidak merencanakan ini." Zitao menjawab dengan pelan, "Penyebab kecelakaan itu adalah tabrakan dari mobil lain. Yang terluka parah hanya aku dan salah satu dari orang dalam mobil itu. Aku dan korban di mobil lain dirawat diruang yang sama. Dia tewas dengan kondisi wajah hancur, Kris-ge terlalu gegabah dan menganggap itu adalah aku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karna kondisi wajahku yang juga sama sekali tak bisa dikenali. Keluarga orang yang tewas itu merawatku, mereka sangat terpukul dan hingga akhirnya memintaku untuk menggantikan posisi anak mereka yang tewas. Aku setuju, karna memang keinginanku menjauh dari Kris-ge untuk selamanya. Kris-ge tidak menganggapku sebagai adik, dia menganggapku sebagai kekasih. Aku tidak bisa menerimanya. Bagaimanapun dia adalah Kakakku, walau tidak sedarah. Maka dari itu aku tidak mau bertemu dengannya lagi, karna aku tahu dia akan lebih terpukul saat aku bilang aku hanya menyayanginya sebagai Kakak. Aku senang tinggal disini, mereka menganggapku sebagai anak mereka. Aku tidak ingin mengecewakan mereka yang sudah merawatku dan pergi begitu saja."

Sehun tertawa sinis mendengar cerita Zitao, dia bertepuk tangan sebentar. Tampak sangat arogan, "Bagus. Kau tahu akibat dari keegoisanmu itu? Kris menyalahkanku atas semua ini! Dia selalu mencari celah untuk membunuhku selagi dia memiliki kesempatan. Luhan juga nyaris mati karna ulahnya. Kris menjadi gila saat kau mati! Dia sangat frustasi, apa kau tidak memiliki rasa kasihan padanya? Dia menjadi pembunuh karnamu."

Zitao tampak tak percaya mendengar ucapan Sehun. Sekacau itukah hubungan Kris dan Sehun sekarang? terlebih Kris ingin menewaskan Luhan, apa maksudnya? Zitao tidak mau percaya ini.

"Kris-ge tidak seperti itu." Zitao menggelengkan kepalanya.

Sehun mendengus sengit, "Tanyakan pada Luhan, bagaimana menderitanya dia saat disekap dan disiksa oleh kawanan Kris selama berjam-jam." Ada nada kegeraman disana, mengingat kejadian itu membuat Sehun ingin meledak seperti bom bersama amarahnya.

Zitao menoleh kearah Luhan, dan pemuda manis itu menunduk, menyembunyikan wajahnya yang suram, kembali diingatkan oleh kejadian pahit itu. Zitao sesak bukan main. Dia tidak menyangka, akibat ulahnya semuanya jadi seberantakan ini. Sekarang, rasa bersalah beramai-ramai menghantui dirinya, membuat Zitao kacau seketika. Dia tidak tahu harus bagaimana. Ini semua terlalu mengejutkan.

"Kau manusia paling busuk yang pernah kutemui, Zitao. Kau membuat hidup kakakmu dipenuhi dendam, kau membuat hidupku dipenuhi rasa bersalah dan kau membuat hidup teman-temanmu sulit. Keluarga Wu yang sudah berbaik hati mengangkatmu, kau kecewakan. Dan kau lebih memilih menetap disini seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Aku sangat membencimu lebih dari kebencianku pada Kris."

Zitao hanya menunduk dalam-dalam, menyembunyikan matanya yang mulai berair. "Lalu, aku harus bagaimana? Mengecewakan anggota keluargaku karna ingin mempunyai hubungan lebih khusus dengan Kris? Aku malah terlihat seperti parasit. Bukan seperti itu cara balas budi pada mereka, aku hanya menyayangi Kris sebagai Kakakku. Aku berada diposisi yang sulit." Dia terdiam sesaat, terdengar isakan dari bibirnya.

"Aku hanya menyayangimu Sehun, mencintaimu.."

Luhan kembali menegakan kepalanya, memandang Zitao dengan sorot tak percaya. Lalu dia menoleh kearah Sehun yang hanya membisu. Tidak terlihat terkejut sama sekali dengan pernyataan Zitao. Sehun-Tao, apa mereka mempunyai hubungan lebih dari pertemanan? Luhan tidak mau berasumsi terlebih dahulu, takut praduga-nya menimbulkan sebuah kesalahpahaman dengan Sehun.

"Renungi kesalahanmu," Sehun berdesis untuk yang terakhir kalinya, lalu menarik tangan Luhan dan pergi meninggalkan Zitao begitu saja. Zitao masih menunduk, membiarkan kesedihan melingkupinya dan membuatnya sesak bukan main. Tidak ada lagi yang mau percaya padanya setelah ini. Dia sendirian dalam ketepurukan yang tidak akan mudah disembuhkan.

.

.

.

.

.

.

Sehun merasa tangan Luhan terlepas begitu saja saat mereka sudah berada didalam rumah pemuda manis itu. Bahunya melemas, melihat Luhan berjalan mendahuluinya dan duduk disofa dengan sebuah keterdiaman yang memuakkan. Dia tahu jika Luhan pasti terkejut dengan semua ini. Tidak seharusnya Sehun membuat keributan dirumah kekasihnya, tetapi bagaimana dia bisa menghindar jika masalah ini menyangkut sebuah insiden dari masa lalunya? Sehun tidak bisa berpura-pura tak ingat begitu saja ketika melihat Zitao.

"Lu," Sehun berjongkok didepan Luhan, meraih tangannya, dan mencoba memandang pemuda mungil itu. Dia tidak akan heran jika Luhan marah padanya setelah ini.

"Jadi, Tao adalah adik Kris?" Luhan akhirnya mengeluarkan suaranya. Tapi terkesan datar.

"Ya. Kau sudah dengar semuanya tadi."

Luhan membalas pandangannya kali ini, "Apa hubunganmu dan Tao?"

"Teman. kami hanya teman." Sehun menjawab dengan yakin. Dia mendapati Luhan memandangnya dengan sangsi. Hal itu membuat Sehun harus mengeluarkan sebuah helaan nafas cukup panjang. Dia tahu jika Luhan tidak akan percaya begitu saja, apalagi mengingat perkataan Zitao pada akhir pembicaraan mereka tadi. "Ya, Zitao menganggapku lebih dari sekedar teman. Tapi aku berani bersumpah jika aku tidak memiliki rasa apapun padanya selain sayang sebagai teman."

Sehun berkata jujur. Bukankah dia sudah pernah mengatakan jika dia sangat muak dengan yang namanya cinta? Setidaknya hal itu berlaku sebelum bertemu Luhan. Sehun menganggap Zitao sama seperti yang lain, Kai, Baekhyun, dan yang lainnya. Tetapi nyatanya anak itu memiliki perasaan lebih padanya. Zitao memang seringkali mengungkapkannya, dan Sehun tidak pernah sekalipun membalas pernyataannya. Karna Sehun tahu, Kris juga sudah lama mencintai Zitao. Kris tidak tahu-menahu soal ini. Jika pria itu tahu, maka bisa dipastikan dia akan tambah membenci Sehun.

"Kau tahu, Sehun, aku tidak bisa bicara apa-apa setelah mendengar dan melihat kejadian ini." Luhan mendesah halus. Dia sudah terlalu dalam memasuki dunia Sehun. Jauh diluar perkiraannya, ternyata teman baru yang baru saja Ia kenal adalah teman lama Sehun—dan terlebih lagi, dia adalah adik Kris. Si bajingan busuk itu. Kenapa orang-orang yang dikenalnya ternyata—juga—mengenal Sehun? ini sebuah garis takdir yang konyol sekali, menurut Luhan.

"Jangan dipikirkan. Ini masalahku," Sehun memberi genggaman sedikit kuat pada tangan Luhan, berusaha meyakini lelaki itu lewat sentuhannya. "Jangan terlibat lagi."

"Mana bisa."

"Serius, Luhan." Sehun mengehela nafasnya sejenak, "Aku tidak mau kau terlibat lagi. Kau hanya perlu menutup mata dan telingamu, oke?"

Luhan akhirnya mengangguk, walau sangat pelan. "Mau makan?" tanyanya, dengan senyuman.

Sehun ikut tersenyum melihatnya. "Ya, kebetulan aku sedang lapar."

"Aku akan memasak untukmu." Luhan berdiri dan menawarkan jasanya dengan cuma-cuma. Belum sempat melangkah, Sehun sudah menangkap tubuhnya. Memeluknya dari belakang dengan intens.

"Kenapa harus memasak? Kau hanya harus mempersiapkan dirimu, dan aku akan kenyang."

Luhan menyenggol perut Sehun mendengar ucapan ambigunya, dia terkekeh seraya berucap, "Mesum!"

.

.

.

.

Sehun seperti berada dalam pelukan Luhan saat masuk kedalam kamar kekasihnya itu. Aroma khas Luhan menguar diseluruh ruangan ini. Dia rela tinggal disini untuk waktu yang lama jika begini caranya. Kamar kekasihnya itu sangat nyaman dan hangat. Sehun kira dia akan menemukan warna merah muda disini mengingat kepribadian Luhan yang agak kekanakan, tapi nyatanya, kamar ini didominasi warna coklat muda dan putih. Cukup manly.

"Aku tidak suka pria itu," Sehun menunjuk sengit kearah poster seorang pemain bola yang tertempel dekat ranjang Luhan. Christiano Ronaldo yang selalu diagung-agungkan oleh kekasihnya itu, berada diatas sana dengan pose yang begitu gagah—menyebalkan— dengan bola dibawah kakinya. "Kenapa kau harus menempelnya dikamar? Dia akan terus mengawasimu saat kau berganti baju." Sehun berujar cukup ketus.

"Ayolah, itu hanya poster, Sehun." Luhan nyatanya cukup gerah dengan sikap kelewat possesif Sehun. "Daripada aku menempelnya dikamar mandi, lebih baik disana 'kan? Setidaknya dia tidak melihatku mandi."

Sehun mendengus malas melihat Luhan berusaha memanas-manasinya dengan candaan tak bermutu. Dia menghampiri poster terkutuk itu, lalu dengan sekali gerakan melepas paksa dari dinding. Mengabaikan teriakan panik Luhan, Sehun meremas poster itu hingga membentuk sebuah gumpalan kusut. Luhan terlihat begitu shock, tetapi Sehun enggan mempedulikannya. Dia adalah kekasih yang jahat, bukan?

"Dia lebih cocok ditempat sampah." Sehun melempar gumpalan poster ditangannya ketempat sampah yang ada disudut kamar Luhan.

"Yeah! Goool!" pemuda berambut hitam itu berseru saat poster itu berbaur dengan sampah-sampah lainnya. Tidak menyadari wajah Luhan yang berubah seratus delapan puluh derajat.

Luhan mendesis bahaya, "Oh Sehun." Berjalan pelan-pelan mendekati Sehun yang hanya menampilkan wajah kurang-ajarnya.

Sehun mengerang kesakitan ketika tangan Luhan menyelip diantara helaian rambutnya, lalu menjambaknya dengan segenap kekuatan. Dia bahkan harus menunduk akibat jambakan ganas Luhan. Rusa itu sangat kesal padanya, sepertinya.

"Akh! Lu—Lepas tanganmu!"

"Persetan! Kau pantas mendapatkannya, keparat. Kau tidak tahu betapa berharganya poster itu untukku? Aku mendapatkannya dengan penuh perjuangan agar bisa memiliki poster dengan tanda tangan CR eksklusif! Aku harus bertengkar dulu dengan gadis-gadis genit yang menginginkan CR-ku. Dan kau dengan entengnya, membuang poster itu ke tempat sampah? Aku akan menghabisimu, Sehun!"

"Aku akan lebih menghabisimu jika kau masih menjambak rambutku, Lu."

"Masa bodoh!"

Sehun memutar otak, bagaimana caranya agar Luhan melepas jambakannya yang begitu kuat. Akhirnya, dia dengan gesit menangkap pinggang Luhan dengan tangannya yang bebas, membuat Luhan harus melepaskan jambakannya spontan karna bukan berada dipinggangnya saja, tangan Sehun juga dengan sengaja menyentuh bokongnya. Dia nyaris terjatuh, kalau saja Sehun tidak menahan tubuhnya.

"Sehun," Luhan mendorong-dorong dada lelaki itu yang semakin lama menghimpit tubuhnya.

"Aku akan menghabisimu." Sehun menyeringai.

Luhan yang masih diliputi rasa kesal mengabaikan seringaian mesum kekasihnya. "Kau sudah biasa menghabisiku, aku tidak takut." Membalas pandangan Sehun dengan kedua alis menukik tajam.

"Kata-katamu membuatku semakin bergairah." Sehun berusaha mendekatkan wajahnya, tetapi Luhan memundurkan wajahnya, menolaknya. "Apa kau masih bisa berani memandangku seperti itu saat aku mulai merobek pakaian terkutukmu?"

Luhan tak bersuara. Sial. Sehun mulai lagi.

"Aku ingin melihat wajahmu saat aku mendesakkan penisku dalam-dalam dilubangmu,"

Wajah Luhan mulai memerah.

"—Menjilati setiap inchi kulitmu,"

Luhan benar-benar merona, kali ini hingga ke telinganya.

"—Menggigit apa yang bisa aku gapai,"

Memejamkan mata, saat tangan Sehun masuk kedalam kausnya, dan menyentuh kulit punggungnya dengan gerakan paling primitif.

"—Mengerang bersamamu dalam penyatuan, hingga kau lelah berteriak dibawahku."

Luhan merasa tubuhnya memanas, dan nafasnya semakin memburu. Tangan yang tadinya berusaha mendorong dada Sehun berganti menjadi sebuah remasan pada baju yang dipakai oleh pemuda itu. Dia mengutuk dirinya sendiri yang langsung lemah hanya dengan sekali sentuhan.

"Dan, aku akan berhenti saat tubuhmu bermandikan peluh dan sperma-ku."

Ucapan terakhir diakhiri dengan sebuah lumatan panjang pada bibir Luhan. Dia memuja bagaimana rasa manis bibir kekasihnya yang tidak pernah hilang saat dia memagutnya penuh hasrat. Sehun menggigit bibir bawah Luhan, hingga kekasihnya itu mengerang sensual. Luhan kembali menjambak rambutnya, kali ini bukan karna kekesalan, tetapi karna sebuah gairah sialan yang tidak bisa lagi ditahan. Menaklukan Luhan sangatlah mudah, pikir Sehun.

Tanpa melepas pagutannya, Sehun mendorong Luhan perlahan-lahan ke ranjangnya, hingga keduanya jatuh diatas sana. Gairahnya mulai meledak-ledak dengan posisi seperti ini. Tubuhnya memanas ketika bergesekan dengan tubuh Luhan yang masih berpakaian lengkap. Rusa manis itu semakin menekan tengkuknya, menggodanya lebih jauh dalam ciuman yang semakin basah. Sehun tersenyum nakal dalam hati. Luhan sudah tidak lagi amatir.

Saat Sehun melepas tautan bibir mereka, dia melihat wajah Luhan sudah memerah sempurna dengan saliva membasahi seluruh bibirnya yang mulai membengkak. Dia sangat menggoda, dan Sehun sudah tidak bisa lagi membendung hasratnya. Lantas, dia merobek kaus yang dikenakan Luhan dengan kasar. Luhan tidak lagi memprotes atau memekik seperti yang lalu-lalu. Dia mulai terbiasa dengan perlakuan kasar Sehun.

"Apa ada orang selain kita dirumah ini?" Sehun bertanya dengan nafas berat. Mengamati lekat-lekat lekuk tubuh Luhan dibawah kuasanya. Mata brengseknya tak mau lepas dari dua puting dada Luhan yang memporak-porandakan logikanya.

"Tidak. Mereka semua dirumah sakit," Luhan menjawab diselingi lenguhan kecil karna tangan Sehun yang menjepit nipple-nya dengan jari-jarinya. Kakinya bergerak gelisah, tidak kuasa menahan sentuhan demi sentuhan yang diberikan Sehun.

Sehun merundukan kepalanya, "Bagus." Gumamnya, lalu menjulurkan lidahnya untuk menjilati pucuk dada Luhan. Dia merasakan kekasihnya itu sengaja membusungkan dadanya. Tak segan-segan, Sehun menghisap dan menggigit bagian sana tanpa berperasaan, membuat Luhan memekik kecil.

Jilatan Sehun perlahan turun, menuju pusar Luhan. Lidahnya bermain disana, sementara tangannya memegangi pinggang ramping Luhan yang enggan diam. Kulit Luhan itu begitu menakjubkan, putih dan halus seperti kulit bayi. Sehun tidak tahu perawatan apa yang dilakukan oleh kekasihnya itu.

"Sehun," Luhan berbisik tak sabar.

Sehun meredam bisikan kekasihnya dengan sebuah ciuman basah. Dia selalu suka saat Luhan sudah dikelabui oleh nafsu, karna si mungil itu tidak akan melakukan perlawanan apapun saat Sehun menjamahnya dari kepala hingga ke kakinya. Sehun menelusupkan kepalanya di ceruk leher Luhan, hingga rambutnya menggesek pipi dan telinga lelaki manis itu. Luhan melenguh erotis kala dirinya menggigit bagian sana seperti seekor binatang. Sehun tidak mau munafik untuk mengakui jika desahan Luhan adalah alunan melodi terbaik yang pernah dia dengar.

Tangan Sehun menjalar kebawah, membelai lembut kejantanan kekasihnya yang masih terbungkus celana denim. Dia bisa merasakan Luhan kecil mulai mengeras, menandakan jika kekasihnya memang membutuhkannya untuk ini.

"Sehun," Luhan kembali memanggil namanya diantara sela desahnya.

"Ya?" Sehun menjawab dengan membalas pandangan sayu Luhan, tanpa melepas kegiatan tangannya dibawah sana. Tangannya yang satu mengelus kulit wajah Luhan yang begitu lembut dalam sentuhannya. Luhan memejamkan matanya dengan bibir setengah terbuka. Bagian sana terasa menggoda, Sehun tidak bisa menahan jarinya untuk tidak bermain dibibir ranum Luhan.

"Kau menggodaku?" tanya Sehun, ketika Luhan dengan sengaja mengulum jarinya, sesekali menggigitnya.

Luhan tidak menjawab, hanya membalasnya dengan sebuah pandangan nakal. Sehun mendesah, begitu menyukai ekspresi kekasihnya yang sangat erotis, membuat bagian selatan tubuhnya mengeras tak karuan. Tidak ada lagi Luhan yang polos sekarang. entah Sehun harus sedih atau senang dengan kenyataan itu.

Membalas godaan Luhan, Sehun menarik jarinya dan menjilat bagian sana yang baru saja dikulum oleh Luhan dengan seringaian samar. Dia melihat wajah kekasihnya bersemu merah, antara tersipu dan kabut gairah. Cantik sekali.

Sehun melepas celana yang dikenakan Luhan. Matanya menggelap ketika melihat Luhan sudah benar-benar polos didepan matanya dengan penisnya yang sudah mengeluarkan pre-cum. Sehun memijat penis mungil Luhan dan dia merasa puas ketika melihat reaksi yang mengundang pikiran kotor dari kekasihnya itu. Belah bibirnya terbuka mengeluarkan desahan, dan kepalanya mendongak dengan mata terpejam nikmat. Sehun semakin terbakar gairah melihatnya.

"A—ahh,"

Sehun merundukan kepalanya, menjilati batang kejantanan Luhan yang sudah sangat basah oleh cairannya sendiri. Luhan semakin mendesah tak karuan. Sesekali Sehun menjilati paha dalam Luhan, menggigit kecil. Lalu kembali pada kejantanan ereksi lelaki itu.

"Sehun," Luhan merintih. Tangannya meraih bahu kokoh Sehun, meremasnya cukup kuat.

Sehun tetap pada kegiatannya. Mengulum Luhan kecil dan terkadang memainkan testis-nya yang sudah penuh. Desahan Luhan yang erotis semakin mengundangnya untuk mempercepat tempo hisapannya. Memanjakan Luhan hingga ke titik yang paling dalam sampai—

"Sehun—ahh.."

Orgasme.

Cairan Luhan membasahi kerongkongannya, sebagian terciprat diwajahnya. Sehun merangkak, mendekati wajah Luhan yang memerah pasca orgasme pertamanya. Dia melumat bibir kekasihnya penuh hasrat, membuat si mungil itu kembali merintih. Dia merasakan tangan Luhan merambat menuju rahangnya, lalu setelah itu, Luhan mengecupi seluruh permukaan wajahnya. Tidak, bukan hanya mengecupi. Rusa kecil itu juga menjilati wajahnya yang sedikit dihiasi sperma. Membersihkan wajahnya dengan cara yang erotis.

Sehun memejamkan matanya, semakin tersiksa karna jilatan Luhan yang membuat penisnya ngilu. Anehnya, siksaan ini justru ia nikmati.

"Kau tampan."

Sehun membuka matanya yang tertutupi kabut gairah, tersenyum miring pada Luhan yang sangat dekat dengan wajahnya. "Aku tahu," balasnya, menahan suaranya agar tidak bergetar karna nafsu. Dia ingin segera memperkosa Luhan, atau jika boleh melakukan sadistic seks pada kekasihnya. tetapi dia tidak setega itu. Walau kenyataannya, dari dulu dia sudah merencanakan hal itu. mungkin lain kali.

"Sudah cukup menggodaku. Aku sudah tidak tahan." Sehun mengangkat tubuhnya, membuka satu persatu kain yang melekat ditubuhnya. Dia mendapati Luhan mengalihkan pandangannya malu saat ia melepas celananya. Ah, tidak—Luhan masih belum berubah, nyatanya.

Sehun menggesekan kedua kelamin mereka. Dia menggeram berat, sementara Luhan melenguh. Kepala Sehun merunduk, hanya untuk sekedar mencium atau membisikkan Luhan kalimat-kalimat sensual yang romantis. Rusa itu memeluk tubuhnya, dan ikut menggerakan pinggulnya, mencari kenikmatan sendiri. Sialnya, tangan Luhan yang mencengkeram punggungnya membuat Sehun tak sengaja mendesis sakit. Dan hal itu mampu terdengar oleh Luhan, karna posisi bibir Sehun memang sedang berada di telinganya.

"Sehun?" Luhan menghentikan pergerakannya sesaat. Melihat ekspresi kekasihnya yang seperti menahan sakit. "Kau tidak apa-apa? Apa aku tak sengaja mencakarmu?"

"Hanya ereksi, aku tidak apa-apa."

Luhan mengernyit, tak percaya. "Ereksi macam apa yang membuatmu memasang wajah seperti itu?" tukasnya. Mengabaikan alibi tak masuk akal Sehun, dia lebih memilih untuk mencari tahu sendiri. Dia melihat kearah punggung Sehun, matanya langsung melebar detik itu juga. Banyak lebam-lebam keunguan disana yang Luhan perkirakan seperti luka akibat sebuah pukulan benda keras.

"Kenapa kau sembunyikan ini?" mata Luhan menyalang tajam, antara marah dan khawatir.

"Lu—"

"Kau sudah tidak lagi percaya padaku?"

Sehun menggeleng, mengacak rambutnya sekilas akibat kefrustasian yang dia buat sendiri. Sorot kekecewaan dimata Luhan membuatnya tidak nyaman. "Bukan seperti itu, Lu. Aku tidak mau kau terbebani karna diriku."

"Kau bukan beban," ujar Luhan cepat. "Aku selalu menceritakan apapun padamu, tapi kau selalu menyembunyikan apapun dariku. Kau menyebutku kekasihmu, tapi kau selalu menanggung masalahmu sendiri. Sehun, apa gunanya aku jika kau tidak mau terbuka padaku?"

Sehun menangkup wajah mungil Luhan dengan kedua tangannya, "Sudah kukatakan bukan, jika aku tidak mau kau terlibat dalam masalahku. Hidupmu masih sempurna. Aku melakukannya karna aku sayang padamu, ingin menjagamu. Ini hanya luka kecil, kau tahu aku bisa menahannya 'kan?" tersenyum simpul untuk menghibur Luhan yang terus memandangnya dengan sorot kecewa.

"Apa Junmyeon yang melakukannya?"

Menghela nafas sesaat, dia tahu Luhan tidak akan menyukai jawabannya. "Bukan, tapi Kris."

"Kris?" ulang Luhan. "Kenapa bajingan itu tidak pernah kapok?"

"Bukan saatnya membicarakan keparat itu ditengah-tengah kegiatan kita. Aku akan mengatasinya sesegera mungkin." Sehun mencoba menenangkan Luhan yang mulai teredam emosi. Dia tahu, jika kebencian Luhan sudah sangat menjadi-jadi pada Kris.

"Kau yakin tidak apa-apa?" Luhan sekali lagi bertanya.

"Aku bisa membuatmu klimaks berkali-kali, jika kau tak percaya."

Luhan tidak bertanya lagi setelah itu.

.

.

.

Luhan meremas sprei kesayangannya dengan kuat ketika Sehun mulai mengarahkan penisnya ke lubangnya. Dia menggigit bibir bawahnya untuk meredam desahannya. Wajahnya kian memerah melihat Sehun berpeluh diatasnya dengan helaian rambut hitamnya yang berantakan, lelaki itu sesekali menggeram kecil merasakan kepala penisnya mulai masuk. Luhan terpesona untuk kesekian ratus kalinya pada Sehun. Dia memiliki aura dominan mutlak yang membuat Luhan selalu lemah walau hanya satu sentuhan tak berarti.

"Se—hunh.." Luhan meringis merasakan lubangnya mulai penuh, tubuhnya terhentak sekali saat Sehun mendorong kelaminnya sekali sentakan. Remasannya pada sprei semakin menguat.

Kepala Sehun tenggelam diceruk leher Luhan seiring penisnya yang sudah masuk sepenuhnya kedalam lubang Luhan. Dia mendesah berat, merasakan kontraksi lubang Luhan yang memjiat kuat kejantanannya. Begitu sempit, panas dan lengket. Luhan tidak berubah sejak pertama kali mereka bercinta. Sehun bisa gila jika seperti ini.

Sehun kembali menggigit leher Luhan, memberinya tanda kepemilikan. Si mungil itu mendesis, begitu menikmati perlakuannya. Sehun bergerak perlahan dibawah sana, mengeluarkan kejantanannya hingga tersisa kepalanya saja, lalu mendorongnya kembali kedalam dengan kasar. Sangat kontras dengan gerakannya tadi. akibatnya, Luhan melenguh keras, nyaris menjerit.

"Ahh.."

Ah, desahan Luhan memang yang terbaik.

"Disana?" Sehun bertanya dengan sebuah bisikan rendah melihat kekasihnya melengkungkan tubuhnya dengan kepala mendongak. Sehun menemukannya. Dia terpana, mengagumi Luhan yang berkali-lipat begitu cantik ketika mereka bercinta.

Luhan mengangguk kacau, "Lagi, Sehun."

Tanpa diminta berkali-kali, Sehun menggerakan pinggulnya. Keluar-masuk lubang Luhan hingga tubuh polos kekasihnya itu terhentak-hentak tak menentu. Rambut coklat madunya semakin tak beraturan, sebagian terjatuh didahi, bercampur dengan peluhnya membuat Luhan terlihat begitu menggiurkan. Tak tahan, Sehun mencium Luhan dengan bar-bar. Bagai orang kehausan, keduanya saling memagut dan menghisap. Hingga liur mereka berbaur menjadi satu dan meleleh disudut bibir Luhan.

"A—ahh,"

"Sebut namaku, sayang." Sehun menambah tempo kecepatan gerakannya. Dia semakin kacau, Luhan membuat akal sehatnya hilang dalam sekejap.

Mata Luhan terpejam, sementara bibirnya menyebut nama Sehun disela desahannya sesuai perintah lelaki itu. "Sehun—hh, terus," tangannya memeluk leher Sehun kuat-kuat.

Ranjang Luhan berdecit bersatu-padu dengan suara tabrakan dua kulit keduanya semakin menambah suhu panas ruangan. Sehun menggagahi Luhan seperti tidak ada hari esok, dia seperti seseorang yang kelaparan. Lubang dan desahan Luhan membuatnya lupa diri.

"Ahh, Sehun, aku ingin—"

Luhan tidak kuasa meneruskan ucapannya, karna gerakan Sehun yang membuatnya susah merangkai kata. Akhirnya, dia memilih menelusupkan wajahnya di perpotongan leher Sehun. aroma tubuh Sehun yang memabukan membuat perutnya semakin mengencang, ada sesuatu yang mendesak ingin keluar.

Saat Sehun menghantam kembali lubangnya dengan kasar, detik itu juga Luhan tidak bisa lagi menahan klimaksnya.

"Ahh.. hh.." Luhan melenguh panjang, seraya melengkungkan tubuh berpeluhnya. Dia orgasme untuk yang kedua kalinya. Spermanya tumpah-ruah, membasahi perutnya dan dada Sehun. Dan tidak lama, Sehun menyusulnya. Pria itu mendesah berat, cairannya memenuhi lubang Luhan. Luhan merasa lubangnya becek dan hangat karna cairan benih Sehun.

Luhan membiarkan Sehun menindih tubuhnya sepenuhnya. Keduanya sama-sama saling mengatur nafas, menikmati klimaks mereka bersama.

"Kau cantik," Sehun berbisik, tangannya mengais helaian rambut Luhan yang nyaris menutupi mata rusanya.

"Aku tampan." Yang lebih kecil memprotes dengan raut menggemaskan.

Sehun terkekeh dan menggigit pipi Luhan sekilas. "Menungging." perintahnya, yang langsung mendapat delikan sebal dari Luhan.

"Aku bahkan baru bernafas dengan benar selama semenit."

Sehun mengabaikan protesan Luhan, dia membantu rusa kecil itu bangun dari posisi berbaringnya. Lalu mengamati Luhan yang menungging dengan sendirinya. View-nya lebih menakjubkan dari yang tadi. dengan posisi seperti itu, membuat mata brengsek Sehun dengan leluasa memandangi bongkahan pantat Luhan serta lubang kemerahannya yang masih dialiri sperma. Sehun merasakan tubuhnya kembali memanas, dan pusat sensitifnya mengeras dengan cepat. Dia kembali merasa haus karna Luhan. Menjilat bibir bawahnya sesaat yang terasa kering, sebagai gesture jika nafsunya sudah diatas kepala.

Sehun menampar bokong Luhan, setelah itu meremasnya. Luhan hanya bisa mendesis lirih karna itu. Dia sangat responsif, bukan?

Sehun melebarkan sedikit bokong padat Luhan, lalu membenamkan wajahnya disana. Menjilat lubang berkedut Luhan yang meminta perhatian. Lelaki mungil itu melenguh kecil sebagai balasan. Sehun memainkan lubang anal Luhan dengan lidah mahirnya, sesekali memasukannya kedalam sana. Rimming. Telinganya terasa dimanjakan dengan desahan sensual Luhan yang semakin menipiskan akal sehatnya.

"Sehun—ahh, tolong.."

Sehun mengganti lidahnya dengan jari panjangnya. "Tolong untuk apa?"

"Masuki aku." Luhan terlihat seperti jalang yang menyedihkan. Dia hanya ingin Sehun berhenti bermain-main dan langsung ke intinya saja.

"Masuki dengan ini maksudmu?" Sehun menggesek kejantanannya diluar lubang Luhan. Dia mendesis sendiri akibat ulahnya. Sementara Luhan mengangguk berantakan.

Bukan Sehun jika tidak membantah, ia tidak menuruti keinginan kekasih manisnya, Sehun justru hanya menggesekan kelaminnya disana seraya mengecupi punggung telanjang Luhan. Menciumi tengkuk Luhan dengan intensif, serta tangannya bermain di puting dada lelaki itu hingga membuat Luhan semakin tersiksa. Tidak ada satupun bagian yang dilewatkan Sehun.

"Aku akan masuk." Sehun berbisik.

Dia mengarahkan penisnya kearah lubang Luhan, melihat dengan jelas bagaimana lubang anal Luhan menghisap batang kejantanannya dengan rakus. Sehun mendesah berat, penisnya terasa diremas dan dimanjakan. Dia mengumpat sebagai pelampiasan. Nafasnya makin memburu dan tubuhnya kian memanas. Dia benar-benar terangsang hebat.

Sehun bergerak. Menghantam lubang Luhan dengan keras, membuat tubuh si mungil itu terdorong-dorong sedemikian rupa. Luhan sendiri sibuk mencengkeram sprei dibawahnya yang sudah begitu kusut, bibir mungilnya mendesah tak karuan. Kenikmatan ini membuatnya nyaris buta. Sehun memang handal sekali memanjakan dirinya.

"Ahh, Sehun.."

"Ah, shit! Kau nikmat sekali, Luhan."

Suara mereka tergabung bersama suara perpaduan tubuh mereka yang berisik. Luhan lebih banyak mendesah, sementara Sehun hanya menggeram. Perbedaan yang cukup antara pihak yang dimasuki dan memasuki.

Sehun menciptakan banyak kissmark di sekitar punggung dan tengkuk Luhan membuat kulit lelaki manis itu timbul ruam-ruam keunguan yang kontras dengan putih kulitnya. Tangannya meraih penis Luhan, mengocoknya. Luhan kembali mengerang, kali ini lebih keras.

Sehun bergerak, menambah kecepatannya, menghujam lubang Luhan tanpa ampun. Luhan ikut menggerakan pinggulnya berlawanan arah untuk mengimbanginya. Tangannya mencakar sprei, dia sudah tidak tahan. Luhan rasanya akan klimaks lagi. Ingin sebuah pelepasan.

"Luhan," Sehun menyebut nama Luhan diantara desahan beratnya. "Kau seperti candu." Rasanya bahkan lebih menakjubkan dari wine maupun heroin.

Bibirnya bergerak liar, menciumi bulu-bulu halus yang terdapat di rahang Luhan. Kekasihnya itu menolehkan kepalanya, hingga bibir mereka bertemu. Gigi Sehun menarik bibir bawah Luhan lalu menghabisi benda kenyal itu hingga pemiliknya merintih.

Luhan merasa getaran didalam tubuhnya. Jari-jari Sehun yang berada di penisnya, lubangnya yang dihujam habis-habisan, dan bibir Sehun yang menjalar diseluruh kulitnya—dia bisa gila. Luhan semakin kacau dalam permainan Sehun. Lututnya sudah seperti jelly, dia lemas. Sangat susah untuk meredam desahan ditengah pusaran kenikmatan ini. Pikirannya hanya dipenuhi Sehun seorang.

Sehun

"Kau membuatku gila, Lu."

Sehun

Sehun

"A-aahh, Sehuun."

Luhan melenguh panjang dengan nama Sehun diujung lidahnya ketika orgasmenya kembali datang. Dia mengejang dalam lingkaran kenikmatan. Sehun ikut klimaks setelah dua dorongan keras diakhir. Dia menyebut nama Luhan. Pria itu menyemburkan spermanya dalam lubang Luhan, geraman seksinya terasa sangat nyata ditelinga Luhan.

Sehun menarik penisnya keluar dari lubang Luhan lalu berguling, berbaring tepat disebelah rusa manis itu yang juga menyamankan posisinya. Dia mendekap tubuh mungil Luhan dan kembali jatuh cinta saat bibirnya mencium kening lelaki itu cukup lama. Luhan tersenyum amat manis sebagai balasan.

"Kau milikku, Luhan."

.

.

.

.

Luhan baru selesai mandi ketika mendengar ponsel Sehun berbunyi dimeja nakasnya. Dia harus membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, Luhan tak suka itu. Dia melirik kearah jam dindingnya sesaat, melihat jarum jam menunjukan pukul satu dini hari. Siapa orang yang menelepon di jam segini? Pikirnya. Lantas, pemuda itu berjalan menghampiri ponsel Sehun. Sementara si empunya tengah tertidur pulas hanya dengan selimut sebatas pinggang. Tubuh atasnya terekspos bebas. Luhan tersenyum geli melihat Sehun yang menggemaskan ketika tertidur. Lelaki itu tampaknya begitu lelah, bukan hanya karna kegiatan bercinta mereka, tetapi juga karna perjalanan yang ditempuhnya berjam-jam dari Seoul ke Beijing.

Luhan mengambil ponsel Sehun yang sudah berhenti berdering. Ada lima panggilan tak terjawab dari Kai.

Luhan mengerutkan dahinya. Ada apa pemuda tan itu menelepon Sehun di jam seperti ini?

Mengabaikan kebingungannya, Luhan lebih memilih membaca satu pesan yang juga dikirim oleh Kai.

Kai

Sehun, aku sangat berterimakasih padamu untuk yang kau lakukan dan teman-temanmu hari ini. Aku tidak tahu dengan cara apa aku akan membalasnya. Aku sangat berhutang budi padamu, sungguh.

Rencana yang kau buat berhasil. Aku bisa menghirup udara bebas sekarang. pikiranku tidak lagi mati seperti beberapa hari yang lalu. Setidaknya aku tidak akan menjadi bangkai di dalam sel. Dan itu berkat kau dan teman-temanmu.

Pagi ini aku akan berangkat ke Seoul bersama teman-temanmu. Aku akan memperbarui identitas dan melakukan operasi plastik seperti yang kau bilang. Sekarang aku tahu mengapa Luhan tidak pernah mengeluh selama di Seoul. Dia pasti bahagia bersamamu. Aku senang mendapati kenyataan adikku mendapat kekasih sepertimu. Ya, walau kau termasuk penjahat kecil, tetapi cara kerja otakmu benar-benar tak terduga. Aku tahu kau bisa menjaga Luhan. aku percayakan dia padamu, Sehun. karna aku tidak mungkin bisa bersama dengan Luhan untuk saat-saat ini. Aku bukan seorang kakak yang egois, yang menuntut adiknya untuk mendapat kekasih anak baik-baik. Kau pantas bersama Luhan.

Aku berjanji akan menemui Luhan setelah ini selesai.

Ah, ya. Maaf karna telah mengganggu waktu tidurmu. Kau pasti sedang kelelahan. Aku hanya ingin menyampaikan ucapan terimakasihku, dan salam untuk Luhan.

Tertanda,

Zhou.

Luhan cepat-cepat menghapus airmatanya setelah membaca pesan itu. Dia tahu jika Sehun pasti akan menepati janjinya untuk membebaskan Zhou. Dadanya terasa lega, dia berdebar bahagia. Kakaknya sudah berada di zona aman dan itu berkat Sehun. lantas, Luhan segera meloncat keatas ranjangnya, mengabaikan bathrobe-nya yang tersingkap akibat pergerakannya, dan memeluk tubuh Sehun erat-erat.

"Sehuuuun." Dia mengecupi wajah Sehun berkali-kali seperti anak kucing yang ingin bermanja-manja dengan tuannya. Tidak peduli pada kenyataan jika Sehun akan terganggu tidurnya karna dirinya. "Aku mencintaimu." Kali ini Luhan mengecup bibir Sehun.

Sehun hanya mengerang pelan, tanpa membuka matanya. Tangannya melingkar pada tubuh mungil Luhan.

"Ya, ya. Aku juga mencintaimu." Sehun menjawab seperti orang yang mengigau.

Luhan tertawa sesaat, tampak seperti anak kecil. Lalu menyamankan dirinya dalam pelukan Sehun, kepalanya bersandar pada dada bidang lelaki itu. Walau tidak membuka kelopak matanya, tangan Sehun tetap bergerak untuk mendekap tubuhnya lebih erat. Hangat dan nyaman. Luhan merasa aroma tubuh Sehun akan menempel ditubuhnya besok.

Luhan tersenyum manis, lalu bergumam, "Aku mencintaimu." Berulang-ulang, walau Sehun tak kunjung membalas karna tidurnya yang begitu pulas. Luhan tak peduli, dia tetap mengatakan itu hingga rasa kantuk menyerangnya.

.

.

Percayalah, cobaan itu seperti hujan. Tidak akan datang setiap saat. Adakalanya datang dengan arakan awan kegelapan diatasnya, tapi adakalanya juga mereda dengan sebuah pelangi dan sinar jingga matahari setelahnya.

Selalu ada tawa setelah tangisan.

Begitulah hidup.

.

.

.

Tobecontinued—

..

.

.

a/n :

thanks buat pak guru kesayangan aku yang ceritain pengalamannya sebagai intel dan ngasih tau seputar obat-obatan sampe aku bisa dapet inspirasi buat lanjutin chap ini—awalnya aku lg stuck, huhuh.

Dan thanks juga buat berondongku, aji. Yang ngasih inspirasi buat adegan manis-manis. Ngeliat wajah kamu, kakak jadi sok chessy gini wkwk /apaini/

aku ngerasa kemampuanku buat bikin adegan enci agak menurun /emot sedih/ kemana otak mesumku:(

dan buat kalian semua, harap dimaklumi kalau aku lanjutnya lama. Soalnya, aku kalau ngetik chapter itu pengennya yang panjang-panjang jadi agak lama, ditambah tugas rl yang merajalela-_- mungkin kalo perchapter itu cuma 2-3k+ words-nya, aku bisa publish dalam tiga hari. Tapi gaenak kalau update tapi wordsnya dikit-dikit. Gak greget.

Aku harap kalian bisa maklum sama keterbatasanku yg gabisa update seminggu sekali:( huhu. Daaaan, seperti biasanya, aku ngucapin terimakasih banyak yang masih ngikutin cerita ngebosenin ini. Yg review, fav, follow. Love buat kalian semuaaaa :D

p. s : ini kenapa gue bahasanya jadi aku-aku'an begini?-_- wkwk. Kebawa suasana ff kayaknya.

p. ss : dua chapter lagi selesai, YESSSSH!