Imperfections
Story belong to ©Anggara Dobby
Oh Sehun—Lu Han
With others pairing
[Warn!] YAOI, Gay Content, Mature, Alternative Universe, Typo(s), DLDR. Membosankan! Diksi Abal-abalan.
.
.
.
.
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
.
.
.
.
Luhan tengah membantu Mama dan sepupu-nya menyiapkan makan malam saat itu ketika melihat Sehun, Baba-nya, dan Paman Do tengah berbincang seru di ruang keluarga. Dia mengulum senyum melihatnya. Rasa senang menguasai dirinya mendapati kenyataan Sehun cepat sekali diterima ditengah-tengah keluarganya. Baba-nya baru saja pulang dari Rumah Sakit, pria itu terlihat lebih baik dari hari sebelumnya. Luhan kira, Baba-nya akan bersikap tidak bersahabat pada Sehun mengingat sikapnya yang begitu keras dalam memilih teman untuk anaknya. Kenyataan memang sulit ditebak, Baba-nya langsung menyukai Sehun begitu pria itu tahu jika Sehun senang mengoleksi mobil sport. Yah, tiga orang lelaki yang tengah berbincang disana memang mempunyai hobby yang sama; mengoleksi mobil. Tidak heran jika mereka cepat akrab hanya dengan satu tema pembicaraan.
"Paman tahu, aku mendapat Bugatti dan Chevrolet dalam balap pertamaku dulu."
"Hebat sekali kau, nak. Di usiamu yang masih seumur jagung sudah bisa memenangkan beberapa mobil dalam balapan. Apa Ayahmu yang membelikan mobil untukmu?"
"Bukan. Ayahku tidak pernah suka itu. Kakekku yang membelikannya."
Luhan baru tahu jika Baba-nya suka juga dengan balap liar. Entah dia harus senang atau jengkel dengan kenyataan ini. Mungkin sewaktu muda, Baba-nya juga sama seperti Sehun.
"Aku pernah mengendarai mobil-mobil milik Sehun. Apa itu artinya aku boleh mengemudi mulai saat ini?" Luhan tiba-tiba ingin ikut bergabung dalam obrolan mereka, dan bertanya penuh harap pada Baba. Semoga dia dibolehkan mengemudi dan bisa membalas gaya congkak Sehun yang selalu memamerkan kemampuan mengemudinya.
"Tidak. Dan jangan pernah mencoba mengemudi lagi." Baba-nya menjawab dengan tegas, dan mutlak.
Luhan mendecih kesal, harapannya hilang hanya dalam hitungan detik. Dia melihat Sehun tersenyum mengejek diseberang sana. Sialan si keparat itu. Baba-nya itu sulit ditebak. Dia menyukai otomotif, memuji-muji kemampuan berkendara orang lain, tetapi tidak mengizinkan anaknya untuk mengemudi. Sebenarnya, apa maunya?
"Ru, bukankah kau sedang membantu Ibumu didapur?" Baba-nya bertanya. Luhan terdiam beberapa saat, tampak menimbang-nimbang apakah dia memang sedang membantu Ibunya didapur (Jika hanya mencicipi masakan bisa disebut membantu) atau tidak.
"Tapi, sebaiknya jangan. Baba tidak mau memakan daging gosong seperti waktu itu lagi." Sambung Baba-nya.
Luhan semakin menekuk wajahnya, membuat Sehun mengeluarkan suara tawa menyebalkannya. Dasar! Kekasih macam apa dia itu yang selalu mentertawakan nasibnya? "Baba selalu meremehkanku!" Menghentakkan kakinya sekali, Luhan segera pergi dari sana dengan bibir menggerutu bersama apron bergambar kepala rusa yang membalut tubuh mungilnya.
Sehun mendengus geli melihat tingkah Luhan. Dia kira, Luhan hanya akan bersikap seperti itu padanya saja, tetapi nyatanya, dia memang seperti itu. Lucu, konyol dan menggemaskan. Melihat interaksinya dengan Ayahnya, membuat Sehun diam-diam iri dengan Luhan. Sekarang dia tahu mengapa kepribadian Luhan begitu jauh berbeda dengan kepribadiannya. Seseorang yang hidup ditengah-tengah kasih-sayang keluarganya sangatlah berbeda dengan seseorang yang tumbuh dalam keluarga yang broken home. Dilihat dari sudut pandang manapun dapat terlihat. Luhan memiliki semuanya. Dia baik hati, ramah, cantik, pintar, dan keluarganya sempurna. Tidak sama dengan dirinya yang sudah lama hancur.
"Apa kau benar-benar hanya berteman dengan Luhan?"
Sehun sedikit terkejut mendapati Tuan Xi memandangnya dan bertanya padanya dengan nada berbeda. Pertanyaan mendadak yang begitu tak disangka-sangka. Sangat melenceng dari obrolan mereka tadi. Sepertinya dia telah kepergok sedang memandangi Luhan maka dari itu Tuan Xi bertanya seperti itu. Sehun enggan menjawab dengan jujur jika nanti akhirnya akan berakhir dengan sebuah konflik yang semakin menambah beban berat dipundaknya.
"Ya." Sehun menjawab.
"Kau akan merasa tersiksa saat membohongi dirimu sendiri."
Kebisuan mengambil alih diri Sehun setelah itu. Dia sudah bisa menebaknya jika pertanyaan ini akan terlontar cepat atau lambat. Sekarang, hanya ada satu pilihan. Berkata jujur dan mengesampingkan resikonya terlebih dahulu.
.
.
.
.
.
.
Sehun membalas senyuman kecil Luhan saat pemuda itu keluar dari pintu rumahnya dengan koper ditangannya. Semakin lama diperhatikan, kenapa kekasihnya itu semakin manis dari hari ke-hari? Mendengus geli dengan pikirannya, Sehun memilih menghampiri Luhan dan menggantikannya untuk menyeret kopernya. Luhan tersenyum cerah hanya karna perlakuan tak berarti itu. Mereka akan kembali ke Seoul pagi ini. Sehun mendapat kabar yang buruk dari Junmyeon tadi malam. Ayahnya akan melangsungkan pernikahan esok. Ya, besok. Tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu darinya maupun dari Junmyeon. Sehun sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran pria itu. Setidaknya pria itu mengabarinya terlebih dahulu, tetapi nyatanya tidak. Dia beransumsi jika saat ini Junmyeon tengah dilanda kemarahan. Sehun sangat mengenal bagaimana Kakaknya itu. Dan begitupun dengan dirinya. Sehun harus menyembunyikan rasa amarahnya terlebih dahulu agar Luhan tidak bertanya apapun.
"Kau sedih?" tanya Sehun, mendapati Luhan belum masuk kedalam mobil dan memilih menatapi rumahnya.
Luhan menggeleng kecil, "Tidak. Lelaki jantan itu tidak bersedih hanya karna hal-hal spele."
Sehun merotasikan bola-matanya, malas. Gemas dengan tingkah kekasihnya yang selalu membawa-bawa kemanly-an dalam pembicaraan mereka. Padahal wajahnya tidak pantas disandingkan dengan kata 'jantan'. Sehun tidak melecehkan harga diri Luhan sebagai lelaki, tetapi semua orang tahu jika Luhan memiliki paras yang tidak kalah cantiknya dengan para gadis.
"Kemarin kau menangis saat aku baru datang." Ungkit Sehun seraya menaruh koper besar Luhan kedalam bagasi.
Luhan berkedip beberapa kali, mencari alasan. "Itu karna aku merindukanmu. Memangnya, ada yang salah dengan itu?" Nada bicaranya naik. Itu artinya Luhan tengah salah tingkah.
"Aku juga merindukanmu, tapi aku tidak menangis sepertimu, cengeng." cibir Sehun.
Kepulan asap imajiner keluar dari kepala Luhan. Tangannya terkepal, bersiap-siap memukul tubuh Sehun tetapi diurungkannya ketika otaknya mengingat bahwa tubuh Sehun masih banyak beberapa luka lebam. "Kau saja yang tidak punya perasaan. Aku bahkan tidak yakin kau pernah menangis dalam sejarah hidupmu." Luhan balas mencibir.
"Aku baru akan menangis saat kau menolak ajakan bercinta dariku." Sehun menjawab alakadarnya.
Luhan mendengus keras-keras, "Dasar memalukan."
Sehun tertawa kecil. Lucu sekali melihat Luhan yang tengah salah tingkah dan kesal dalam waktu bersamaan seperti ini. Saat keduanya akan masuk kedalam mobil, Sehun tak sengaja melihat Tao berdiri didepan gerbang rumahnya seraya memandanginya dengan wajah berantakan. Mereka saling berpandangan untuk beberapa saat. Tao seperti ingin menyampaikan sesuatu lewat pandangannya. Sehun ragu, apa dia harus menghampiri Tao?
Luhan yang melihat itu segera meraih tangan Sehun, menggenggamnya. Gesture untuk memperingati Sehun agar tidak berjalan kearah Tao. Keduanya langsung masuk kedalam mobil setelah itu.
.
.
.
.
.
.
Hari Pernikahan
Pernikahan Orangtua Sehun dilaksanakan dihalaman rumah mereka yang luas. Halaman itu disulap sedemikian rupa menjadi altar yang indah dan kaya akan kesan elegan. Sebuah red carpet mewah membentang diapit oleh kursi-kursi untuk para tamu yang sudah ditata rapi. Beberapa buket bunga yang besar dijadikan hiasan, semakin mempercantik halaman. Parfum-parfum para tamu menyengat berselang-seling dengan keharuman bunga mawar yang mendominasi halaman rumah Sehun. Tidak jauh dari altar, ada sebuah meja raksaksa yang menyajikan makanan-makanan kelas atas dan botol anggur serta gelas long island yang tertata elegan. Para pramusaji dengan dasi kupu-kupu berjejer disana, melayani para tamu dengan pelayanan terbaik. Sang mempelai, Ayah Sehun dan calon istrinya, tampak serasi dengan setelan klasik formal pernikahan. Tuxedo putih serta gaun putih panjang yang anggun nan glamour.
Sementara itu, Sehun berdiri didekat meja makan dengan setelan kemeja hitam tanpa jas maupun dasi semi-formal. Lengan kemejanya sengaja digulung hingga siku, membangun imej badass. Penampilannya sangat kontras dengan orang-orang yang memakai setelan putih. Hah, masa bodoh. Jika tidak dipaksa oleh Ayahnya, mungkin saat ini dia lebih baik menghabiskan waktu bersama teman-temannya di Voltaire. Walau dia menyatakan setuju dengan pernikahan ini, tetapi bayang-bayang Ibunya selalu menghantui dan membuatnya tidak mau pernikahan ini dilangsungkan. Sehun berdecak, pusing dengan pemikirannya. Dia memilih untuk meneguk wine digelas dalam genggamannya.
Sehun melihat Junmyeon berjalan didepannya dengan setelan jas formal. Wajahnya kusut, dia tampak sangat tidak menyukai acara ini. Sehun berinisiatif untuk memanggilnya, suatu keajaiban apabila Junmyeon mau bertukar pikiran dengannya untuk saat ini. "Hyung,"
Pemuda itu tidak menjawab, tetapi membalikan tubuhnya sebagai respon. Sehun menghampirinya tanpa ragu. Senang mendapati kenyataan Junmyeon merespon panggilannya lagi.
"Kau sudah bicara dengan Ayah?" tanya Sehun. Setelah kepulangannya dari Cina, sampai saat ini Sehun tidak melihat interaksi antara Junmyeon dan Ayahnya. Hubungannya semakin memburuk kian hari.
Junmyeon mendengus sinis, "Aku tidak akan bicara dengan orang yang tidak mau mendengarkanku."
Sebenarnya, Sehun juga belum bicara dengan Ayahnya sampai saat ini. Dia benci sekali melihat Ayahnya jauh lebih bahagia dengan calon anak tiri-nya, Junghwa. Apa nantinya dia dan Junmyeon akan dibuang begitu saja ketika resepsi pernikahan ini selesai?
"Apa kau menerima pernikahan ini?" tanya Sehun, lagi. Walaupun dia tahu jawabannya pasti tidak.
Junmyeon seperti enggan menjawab. "Jika aku mengatakan tidak, apa kau mau bekerja sama denganku untuk menggagalkan acara ini?" lalu menatap adiknya dengan tatapan bertanya.
"Tidak!" —Oh, itu bukan Sehun yang menjawabnya. Itu bersumber dari bibir mungil Luhan. lelaki itu berlari untuk menghampiri Junmyeon dan Sehun. Dia memakai jas putih semi-formal ditubuh rampingnya. Sore itu Luhan terlihat menawan sekali dengan rambut coklat madunya yang ditata dengan gaya hair-up. Berbeda dari biasanya. Sehun enggan memikirkan dari mana sekiranya Luhan tahu bahwa hari ini ada acara pernikahan dirumahnya, dia lebih tertarik menilai penampilan kekasihnya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Junmyeon bertanya heran.
"Ada apa dengan rambutmu?" kali ini Sehun yang bertanya, diselingi pandangan aneh yang terus tertuju pada rambut sok manly kekasihnya.
Luhan memilih mengabaikan pertanyaan menyebalkan Sehun karna dia sudah sangat percaya diri kalau rambutnya sangat keren hari ini. Memandang bergantian pada dua bersaudara didepannya, Luhan mulai menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Junmyeon.
"Aku tak sengaja melihat undangan yang diterima Paman Do kemarin. Aku langsung mengira itu adalah Ayahmu, maka dari itu aku mencoba membuktikannya dengan bertanya-tanya pada Pamanku selaku rekan kerja Ayahmu. Dan ternyata memang benar dugaanku. Kenapa kalian tega sekali tidak memberitahu kabar gembira ini padaku? Junmyeon, kau adalah temanku, kenapa kau tidak mengundangku? Dan, Sehun, kemarin kita menghabiskan waktu sepanjang hari tetapi kau tidak mengatakan apa-apa padaku. Aku tidak habis pikir dengan kalian berdua." Celoteh Luhan, diakhiri dengusan sebal.
"Kabar gembira?" Sehun mengutip sebagian kalimat Luhan dengan raut tak percaya.
"Ya, Ayahmu akan menikah. Bukankah hal itu patut dirayakan?" ucap Luhan dengan senyuman lebar.
"Bukankah tadi kau mendengar aku ingin menggagalkan acara ini?" ujar Junmyeon.
Luhan mengangguk antusias, "Ya, aku mendengarny—Tunggu! Apa?" detik itu juga Luhan merubah ekspresi wajahnya. Pemuda manis itu menatap dua orang didepannya bergantian dengan pandangan tidak percaya. Dia memandang Sehun, bertanya lewat pandangan itu. Apakah benar acara bahagia ini akan kau hancurkan?. Tetapi yang dia dapatkan adalah wajah bosan kekasihnya yang tidak bisa dikatakan sebagai jawaban yang bagus. Luhan mendesah linglung. Bahunya melemas, tidak tahu harus bagaimana lagi.
"Apa kalian gila?" Luhan berdesis.
"Kau yang jawab saja, Hyung." Sehun menyerahkan semuanya pada Junmyeon. "Dia akan menamparku jika aku yang menjawab." Lanjutnya, dengan nada rendah.
"Kau sama sekali tidak akan menemukan pancaran kebahagiaan diwajahku maupun Sehun, karna kami berdua memang tidak menginginkan pernikahan ini." Ujar Junmyeon. Sehun tersenyum transparan, merasa senang dengan sebutan 'kami berdua' yang diucapkan Junmyeon. Apa itu artinya Junmyeon sudah menganggap keberadaannya lagi?
"Lihat, Ayah kalian sangat bahagia disana. apa kalian tega merusak kebahagiaannya?" Luhan bertanya seraya menunjuk Oh Seunghyun yang tak jauh dari mereka. Dia sungguh tak habis pikir bagaimana cara kerja otak Sehun dan Junmyeon. Oh, baiklah, jika Sehun yang punya pemikiran jahat seperti itu Luhan tidak akan heran lagi karna dia hafal benar bagaimana watak kekasihnya itu. tetapi, Junmyeon? Dia terlihat seperti pemuda baik-baik. Luhan tidak menyangka pemuda baik seperti Junmyeon ingin merusak kebahagiaan Orangtuanya sendiri.
"Jangan karena keegoisan kalian berdua, kalian ingin menjadikan Ayah kalian sebagai korban. Aku sangat yakin jika hari ini Tuan Oh bisa kembali merasa bahagia lagi setelah kepergian istrinya bertahun-tahun yang lalu. Tidakkah kalian berpikir Ayah kalian juga butuh pendamping lagi? Apa kalian tega melihat Ayah kalian seorang diri sepanjang hidupnya dengan bayang-bayang istrinya? Aku tidak yakin kalian selalu ada disamping Ayah kalian entah hari ini, atau hari kedepannya. Kalian merasa kehilangan Ibu, tetapi Tuan Oh lebih merasakan kehilangannya. Karna dia suaminya. Seseorang yang jauh lebih mengenal Ibu kalian daripada kalian sendiri. Coba kalian bayangkan berada diposisi sulit Ayah kalian. Kehilangan istri, dua anaknya tidak ada yang peduli, dan sekarang anak-anaknya ingin menghancurkan kebahagiaan barunya."
Sehun maupun Junmyeon terdiam mendengar perkataan Luhan yang tepat mengenai sasaran. Luhan memang pandai sekali berbicara dan mengobrak-abrik pikiran. Sehun benci dengan kedatangan Luhan hari ini dan mendengar kata-katanya yang berhasil membuat dirinya terasa seperti anak yang paling jahat.
"Apa kau pernah membayangkan ada diposisi kami?" Junmyeon membuka suaranya. "Kehilangan Ibumu disaat kau masih sangat membutuhkannya, lalu Ayahmu pergi jauh demi pekerjaan, dan setelah Ayahmu kembali dia menikah tanpa menanyakan persetujuanmu. Luhan, coba sekali-kali kau lihat dari sudut pandang kami."
Luhan tersenyum kecil, "Aku memang tidak berada diposisi kalian, tapi aku perlu untuk mengatakan ini. Bukan Ayahmu yang tidak peduli, tapi kalian-lah yang tidak pernah menyadarinya karna kalian sibuk berburuk sangka pada Ayah kalian sendiri."
"Sudahlah, Lu. Aku tidak mau berdebat denganmu dalam hal ini." Ujar Sehun.
"Nah, lihat! Kau tidak mau memikirkan lebih jauh dan menyadarinya 'kan?" Luhan mendelik sebal pada Sehun yang sangat keras-kepala. "Kau pikir apa gunanya Ayahmu mempekerjakan Yixing selagi dia ada di Amerika? Itu karna dia ingin kau berdua tetap dalam pengawasannya walau dia jauh dari kalian."
"Dimana Yixing sekarang?" Junmyeon bertanya cepat. Wajahnya berubah khawatir dalam hitungan detik.
"Tadi kulihat ada didepan sana," Luhan menunjuk kearah gerbang rumah Sehun dimana staff keamanan berkumpul disana. Junmyeon bernafas lega, dan Luhan tidak tahu untuk apa pemuda itu melakukannya.
"Kau takut dia kembali ke Changsa?" tebak Sehun.
Junmyeon melirik enggan, "Untuk apa aku takut?"
"Karna kau peduli padanya dan tidak mau Yixing pergi darimu."
"Itu tidak masuk akal."
"Dia sangat peduli padamu, kenapa kau harus memalingkan wajah darinya? Jangan jadikan kebencian sebagai kedok kesukaanmu padanya. Kau akan menyesal nanti."
"Sehun—" Junmyeon menggeram, mulai tidak menyukai tebakan aneh Sehun.
Luhan buru-buru menengahi dua bersaudara itu dengan berdiri ditengah-tengah mereka. Dia berusaha memutuskan kontak tajam antara Sehun dan Junmyeon. Ya ampun, kenapa anak lelaki suka sekali bertengkar sih? Walaupun dirinya juga lelaki, tetapi Luhan sadar dia tidak menyukai pertengkaran.
"Bisa kita bicarakan ini ditempat lain saja?" ujar Luhan. "Bagaimana kalau di kedai Bubble? Aku akan mentraktir kalian berdua." Saran Luhan dengan senyuman manisnya.
"Aku lebih suka Americano daripada Bubble. Itu minuman anak kecil." Tukas Junmyeon, masih dengan wajah kusutnya.
"Siapa yang dulu sering mengajakku untuk membeli Bubble setiap minggu?" Sehun merotasikan bola-matanya.
"Itu dulu."
"Sekarang kau pun masih menyukainya. Aku yakin itu. Hanya orang bodoh yang tidak menyukai Bubble."
"Jadi, kau mengataiku bodoh?"
"Jika kau merasa berarti itu benar."
"Anak keparat ini—"
"Astaga, bisakah kalian berhenti?" Luhan menaikkan nada suaranya. Muak dengan pertengkaran tak berguna Sehun dan Junmyeon. Tetapi, disisi lain Luhan juga merasa senang melihat pertengkaran kecil mereka. itu pertengkaran yang biasa terjadi diantara kakak-adik, bukan sebuah pertengkaran yang berakhir dengan adu pukul seperti yang selalu dialami Sehun dan Junmyeon. Mungkin ini awal yang bagus untuk memperbaiki hubungan mereka. Luhan harus menyatukan dua orang itu.
"Baiklah, aku tunggu traktiranmu di kedai Bibi Kim setelah acara ini selesai." Junmyeon langsung pergi setelah mengatakan itu. Meninggalkan Sehun yang mendengus kesal dan Luhan yang berseru-seru senang seperti anak kecil.
"Kau menyukai Junmyeon Hyung, ya?"
Luhan hanya berdecak kecil saat mendapat pandangan curiga dari Sehun. "Jangan mulai, Sehun."
Sehun masih mempertahankan tatapan curiganya yang terasa menusuk itu. "Lalu kenapa kau terlihat senang sekali dia menerima ajakanmu?"
Luhan menaruh kedua tangannya dibahu tegap Sehun, diselingi dengan senyuman manisnya yang menawan. "Karna aku ingin menyatukan kalian berdua." Luhan langsung mendapat senyuman mempesona Sehun setelah itu.
"Kau tahu, aku tidak akan pernah bosan mengatakan ini; aku sangat beruntung memilikimu." Sehun memandang Luhan dengan lama. Banyak yang bilang, semakin lama hubungan maka semakin berkurang rasa sayangnya. Tetapi, sepertinya itu tidak berlaku untuk Sehun. Bukannya semakin bosan, Sehun justru semakin dibuat gila oleh Luhan. Setiap hari, setiap jam bahkan setiap detik, Sehun merasa semakin menyayangi Luhan dan rasa itu akan terus bertambah sampai Sehun bosan memikirkannya.
Tangan Sehun melayang diatas kepala Luhan, lalu detik selanjutnya tangan itu ia gunakan untuk mengacak tatanan hair-up Luhan. si empunya rambut berteriak protes seraya menghalau tangan Sehun untuk berhenti menghancurkan gaya rambutnya yang sudah ia tata sedemikian rupa.
"Sehun—Ya! Berhenti!"
Sehun terkekeh, mengabaikan permintaan kekasihnya. Dia membuat rambut Luhan seperti biasanya, dengan poni yang menutupi dahinya. "Kau lebih pantas seperti ini," ucapnya, masih merapikan rambut halus Luhan. Diakhiri dengan cubitan kecil pada pipi kekasihnya itu. "Manis." Ungkapnya,
Luhan menekuk wajahnya, tidak merasa senang walau sudah dipuji oleh Sehun. Sehun memang pandai sekali menghancurkan sesuatu. Tidak tahukkah pemuda itu berapa lama dia menghabiskan waktu hanya untuk menata rambutnya agar terlihat manly? Luhan sebal bukan main. Sehun memang keparat kurang ajar. Sangat pandai merusak suasana.
"Bayangkan beberapa detik saja kalau ini adalah pernikahan kita." Ujar Sehun tiba-tiba. Suara maskulinnya memecah fokus Luhan.
Luhan merubah ekspresi wajahnya, lalu memandang Sehun dalam diam. Pemuda bersurai hitam itu tengah menatapi altar dengan pandangan menerawang jauh, entah kemana. Dia mengukir senyum tipisnya yang menawan, membuat Luhan berdegup tidak karuan. Luhan merona, melupakan segala kekesalannya pada Sehun ketika bayang-bayang hari pernikahan mereka berlewatan di benaknya. Membayangkan hangatnya genggaman Sehun ketika mereka berhadapan dengan pastor. Saling melempar senyuman ketika janji suci sudah diikrarkan, dan mendengarkan tepuk tangan meriah disela-sela ciuman mereka. Luhan menunduk, menyembunyikan senyumannya. Entah kapan hari bahagia itu akan tiba. Luhan tidak bisa menebaknya dengan pasti. Dia akan menunggunya.
"Kau pasti cantik sekali memakai gaun," celetuk Sehun.
"Aku lelaki, Sehun." Luhan mengingatkan Sehun disertai desahan halus.
Sehun terkekeh sebentar, "Ya, kau akan memakai tuxedo sepertiku." Seraya mengaitkan tangan Luhan kedalam genggamannya. "Hidupku akan lengkap setelah itu."
"Aku ingin sekali menikah denganmu." lanjut Sehun, penuh pengharapan.
Begitu juga aku, Sehun.
Luhan merasa bahagia hanya dengan melihat Sehun yang seperti ini. Pemuda itu tidak henti-hentinya menebar senyum yang selama ini jarang diperlihatkan. Ketika dia membalas pandangan Sehun, Luhan merasa matahari dan angin selalu berkomplot untuk membuat Sehun terlihat lebih tampan.
"Aku ingin nuansa putih dan silver," ujar Luhan. Sebisa mungkin menahan jantungnya yang berdegup memalukan. Dia berharap Sehun tidak menyadari sapuan kemerahan pada kedua pipinya.
Sehun terdiam sesaat, tetapi ia segera mengembangkan senyum ketika menangkap maksud Luhan. "Aku suka silver."
"Aku ingin bunga Lily."
"Bagaimana dengan mawar?" Sehun semakin mendekat ke tubuh Luhan, memandang rusa mungil itu penuh pemujaan. Luhan menganggukan kepalanya, menyetujui ucapan Sehun barusan.
"Baiklah, kalau begitu deal?"
Luhan menerima uluran tangan Sehun dan berujar yakin, "Deal." Tangannya ditarik oleh Sehun, hingga dirinya masuk kedalam pelukan pemuda itu. Setiap tubuhnya berada dalam dekapan Sehun, Luhan selalu merasa terlindungi dan nyaman. Sehun itu diluar saja tampak dingin, tetapi sebenarnya dia sangat hangat. Dia begitu peduli dan perhatian, walau sikapnya itu tidak ditunjukan secara gamblang. Semua kehangatannya tertutupi dengan wajah arogannya. Ya, memang benar apa yang dikatakan para pengarang; jangan lihat buku hanya dari sampulnya saja.
Luhan tidak menyangka, pertemuannya dengan Sehun akan membawa mereka sampai sejauh ini. Tidak pernah terbayangkan olehnya akan berada dipelukan Sehun dan membicarakan rencana pernikahan seperti saat ini. Mereka tidak bertemu secara manis, ataupun terlibat perkenalan yang bisa dikenang. Luhan mengenal Sehun sebagai anak berandalan yang tidak tahu diri, penyebab berbagai macam kekacauan, dan orang paling kasar yang pernah Luhan temui. Sehun pun sangat membencinya, selalu memandangnya dengan hina. Tetapi, entah bagaimana bisa, Luhan menyukai Sehun karna seringnya mereka dipertemukan dalam sebuah masalah yang dimana Sehun selalu berperan sebagai pahlawan tak terduga Luhan. Sebuah garis takdir yang sangat lucu. Rencana Tuhan itu memang indah sekali. Luhan patut berbahagia akan hal itu.
"Aku mencintaimu," —Luhan berbisik, entah sudah keberapa kalimat ini ia lontarkan tanpa bosan.
Sehun tertawa, begitu menawan. "Bisa katakan kalimat itu lima-puluh kali, lagi?"
.
.
.
.
.
.
"Dilihat dari setelanmu, sepertinya kau satu-satunya orang yang berduka di acara ini." Chanyeol menyeletuk, seraya menilai penampilan Sehun dengan mata bulatnya. Dia datang bersama Baekhyun dan yang lainnya beberapa menit yang lalu. Chanyeol tampak lebih mempesona dengan jas hitamnya yang rapi, berbeda dari tampilan sehari-harinya yang selalu kusut.
"Kau selalu bisa menebakku." Sehun mengamin-kan perkataan Chanyeol perihal kemeja hitamnya yang berbeda dari orang lain. "Jika bukan karna desakan Luhan, aku tidak akan berdiri disini dengan diam."
Chanyeol tertawa tanpa alasan, "Dasar bodoh! kenapa kau selalu kalah dengan rusa itu? hancurkan saja acara ini, aku siap membantu. Pasti akan seru sekali." didetik selanjutnya, kepala Chanyeol menjadi sasaran empuk pukulan tangan Baekhyun.
"Kapan kau akan pintar, Park Chanyeol? Kau pikir ini acara apa yang ingin kau hancurkan?" omel Baekhyun. Setelah itu keduanya terlibat perdebatan—dimana Chanyeol terlihat selalu menjadi korban sasaran pukulan si mungil Baekhyun. Sehun mengabaikan pasangan itu, tidak mau ikut terlibat dan menjadi bulan-bulanan emosi Baekhyun.
"Chanyeol benci rumah tangga dan pernikahan, makanya dia berkata seperti itu." sahut Kai. Tangannya memegang sebuah piring makanan penuh sayuran hijau yang tidak enak dipandang.
Sehun tahu itu. Chanyeol selalu kabur dari rumahnya karna sudah muak mendengar pertengkaran Orangtuanya yang nyaris terjadi tiap malam. Rumah Chanyeol adalah rumah sakit karna didalamnya selalu berisi pertengkaran, tidak pernah ada keharmonisan. Rumah, dimana seharusnya menjadi tempat ternyaman disaat lelah tetapi menjadi neraka bagi Chanyeol. Ayahnya diam-diam menikah lagi dan Ibunya adalah wanita yang temperamental, dan ketika Ibunya tahu perihal perselingkuhan Ayahnya semuanya menjadi kacau. Chanyeol kerap menjadi sasaran pukulan Ayahnya karna membela Ibunya yang juga sering menjadi korban kekerasan Ayahnya sendiri. Itu masih terjadi hingga sekarang. Dan dari sanalah kepribadian keras Chanyeol terbentuk. Pemuda itu sangat membenci yang namanya rumah tangga. Karna bagi dirinya, cinta itu tidak perlu diikat oleh sesuatu seperti pernikahan. Karna dengan segala peraturan dalam pernikahan cinta itu jadi ternodai, dan lama-kelamaan akan didasari dengan tanggung jawab bukan dengan cinta lagi. Chanyeol dan segala pikiran kritisnya kadang membuat Baekhyun emosi dan harus memberikan masukan-masukan positif pada kekasihnya itu.
"Ada apa dengan makananmu itu?" tanya Sehun. Kai itu sangat tidak menyukai sayuran, dia hanya maniak pada ayam dan heroin.
Kai mengulas cengirannya, "Kyungsoo menyuruhku memperbanyak makan sayuran sebagai ganti rokok dan alkohol. Aku jadi menyayangi hidupku sejak bertemu dengan si manis itu. kematian terasa menyeramkan saat aku mulai menyukai seseorang."
Sehun memutar bola-matanya, jengah. Anak itu menjadi hiperbolis sekali sejak menyukai Kyungsoo. Tapi ada bagusnya juga dengan hal itu, karna Kai tidak akan mencuri minuman dirumahnya lagi jika dia sungguh-sungguh berhenti meminum alkohol. "Dimana Chen?" tanya Sehun.
"Dia sedang mengambil makanan dengan Minseok. Dia mengajak pemuda itu! Entah aku berdosa atau tidak, karna mendukung Chen menjadi gay." Celoteh Kai. Sehun tertawa mendengarnya.
"Seram sekali Sehun melihatmu sering tertawa seperti ini."
Sehun menghentikan tawanya dalam sekejap, dan merubah wajahnya menjadi datar kembali. "Kau memang brengsek, Kim." Dengusnya.
"Aku tidak melihat Luhan." ujar Kai.
"Dia sudah duduk tenang disana," Sehun menunjuk barisan kursi cantik didepan altar. "Dia antusias sekali." seraya tersenyum tipis ketika Luhan melambaikan tangan padanya dengan senyuman lebar.
"Ah, ya, Sehun. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Kai merubah wajahnya menjadi serius.
"Katakan."
Kai melirik ke segala arah terlebih dahulu, "Tentang pembebasan Zhou beberapa hari yang lalu. Polisi-polisi Cina mulai melacak keberadaannya, dan itu artinya mereka juga melacak orang yang membebaskan Zhou. Aku khawatir mereka mencurigaimu karna kau orang terakhir yang mengunjungi Zhou sebelum dia kabur."
"Kita sudah banyak berurusan dengan polisi, kenapa kau menjadi takut seperti ini? Sudah konsekuensinya jika aku dicurigai." Sehun menjawab dengan tenang.
Kai berdecak kesal, "Tapi kasus ini berbeda, Sehun! ini sangat serius, kau dan mungkin aku juga akan tertangkap."
"Kau takut tidak bisa bertemu Kyungsoo ketika dipenjara?"
"Ini bukan masalah berpisah dengan siapa, Sehun." Desah Kai, cukup muak. "Apa kau tidak pernah berpikir bagaimana jika suatu saat nanti kau berada dibalik sel?"
Sehun mengibaskan tangannya, acuh. "Aku akan memikirkannya nanti." Lalu berjalan meninggalkan Kai. Dia muak sekali jika sudah menyangkut kekhawatiran yang tidak berarti seperti yang dialami Kai saat ini. Baginya, tidak ada yang perlu ditakutkan didunia ini. Kalaupun suatu saat tangannya dilingkari oleh borgol, Sehun akan menerimanya sebagai hadiah dari kelakuannya selama ini. Toh, penjara mungkin lebih baik daripada didalam rumahnya. Hidup itu seperti air, terus mengalir. Sehun selalu menempatkan filosofi itu dalam pikirannya. Seberat apapun beban dibahunya, dia akan terus menjalaninya selagi dia masih kuat.
Kakinya melangkah menuju Luhan, tetapi gerakannya harus terhenti saat tubuh seseorang menghalangi jalannya. Orang itu bertubuh tinggi, memakai setelan jas yang begitu rapi, dari tampilannya dia sepertinya orang yang begitu perfeksionis. Sehun mengepalkan tangannya, begitu melihat orang brengsek mana yang menghalangi langkahnya. Wajah blasteran itu sangat tidak asing, dan senyumannya terasa menghina.
"Wah, seharusnya aku tidak heran melihatmu masih hidup, Sehun."
Sehun merasa ada lelehan logam panas menyiram kepalanya. Kemarahannya melonjak tiba-tiba. "Apa yang kau lakukan disini, Kris?" geramnya. Tangannya semakin mengepal dengan erat, seiring amarahnya yang membludak tetapi tidak bisa terlampiaskan. Sehun memandang Kris penuh dendam. Kejadian pengeroyokan itu masih tercetak jelas dibenaknya, Sehun bersumpah tidak akan melepaskan Kris setelah ini. Bajingan itu berani sekali masuk kedalam rumahnya. Sialan, Sehun berhasrat sekali ingin menghabisinya.
"Apa aku tidak boleh datang ke pernikahan Bibi-ku?"
Sehun mengerutkan dahinya, lalu menoleh kearah Park Bom yang berdiri anggun dekat Ayahnya. Otaknya berputar cepat, mencerna perkataan si brengsek Kris. Bibi? Mendadak Sehun merasa tanah yang dipijakinya akan amblas dan dia jatuh kedalamnya tanpa bisa dicegah.
"Menyenangkan sekali bukan, kita akan menjadi sepupu." Kris tersenyum miring.
Astaga, kenapa hidupnya tidak pernah bahagia? Sehun mulai menyadari jika Tuhan memang membencinya sejak dulu.
"Dan, omong-omong, Luhan semakin menarik saja." Lanjut Kris.
Sehun mendengus sakartik, "Aku tidak akan membiarkanmu memandangi kekasihku lagi."
"Bagaimana jika gelar kekasih itu hilang tiba-tiba dan Luhan menjadi milikku?"
Sehun meresponnya lebih tenang kali ini. Dia tidak mungkin membuat kekacauan dipernikahan Ayahnya, 'kan? Walau kenyataannya, dia ingin sekali menjejali mulut Kris dengan amunisi-nya.
"Jadi, kau sudah melupakan Tao?" pancing Sehun. Seringaian andalannya tercetak kala Kris merubah ekspresinya. Pria itu tampak tidak suka ketika nama Tao keluar dari bibirnya. Mendadak Sehun ingin memberitahu Kris sebuah kabar gembira.
"Berani sekali kau menyebut nama Tao—"
"Aku merasa kasihan denganmu, Kris. Karna selama ini kau dibodohi oleh adikmu sendiri." Ujar Sehun.
"Apa maksudmu?" Kris menggeram, tak suka.
"Mayat siapa yang kau kubur setahun yang lalu?" tanya Sehun. "Karna dua hari yang lalu aku melihat adikmu, Tao, berkunjung kerumah Luhan."
Secepat kilat Kris mencengkeram kerah baju Sehun, matanya menyalang tajam. Sementara Sehun masih dengan seringaian tenangnya yang begitu menghina.
"Adikku sudah mati, dan itu karna kau, brengsek." Geram Kris. Urat dipelipisnya mengencang, menandakan pria itu mulai terbakar emosi.
"Malangnya nasibmu. Sementara kau disini menangisinya dan sibuk membalas dendam padaku, Tao malah menjalani hidupnya dengan sangat bahagia di Cina. Aku sangat senang jika kau mencari tahu keberadaan adikmu sendiri."
"Jangan melewati batasmu, Sehun."
Sehun menahan kepalan tangan Kris yang nyaris mengenai wajahnya. Pemuda itu merubah raut wajahnya menjadi serius. "Aku tunggu kau di bangunan tua dekat Ares, kita selesaikan disana." desisnya.
Kris menghempaskan cengkramannya pada Sehun. Dia mendecih sesaat, kemudian berlalu. Sehun merogoh saku celananya, menemukan kunci mobilnya dari sana. Lalu memutar tubuhnya, tidak jadi melangkah ke altar melainkan ke luar rumahnya. Sehun mencengkeram tangannya penuh kekesalan, dia harus menyelesaikan urusannya dengan Kris hari ini. Persetan dengan pernikahan Ayahnya!
Sementara itu, Luhan bergerak gelisah ditempat duduknya seraya memandangi punggung tegap Sehun yang menjauh. Dia menyaksikan semuanya, ketika Sehun dan Kris terlibat percakapan tadi, hingga keduanya nyaris saling pukul. Dan sekarang, Sehun berbalik pergi, entah akan kemana pemuda itu. Luhan tidak bisa berpikir jernih. Berbagai perasangka buruk bermunculan di otaknya. Apa Sehun dan Kris akan—
Luhan segera berdiri, mengundang perhatian tamu lain yang sedang menyaksikan detik-detik pengikatan janji kedua mempelai. Dia tidak bisa diam saja ketika Sehun akan mencari bahaya lagi. Saat Luhan hendak pergi, tangannya ditahan oleh Baekhyun yang kebetulan duduk disampingnya.
"Kau mau kemana? Acara intinya akan segera dimulai." Bisik Baekhyun.
Luhan menggigit bibirnya, gelisah. "Sehun—"
"Aish, anak itu memang tidak suka pernikahan Ayahnya makanya dia tidak ada disini. Sudahlah, tidak usah dicari." Baekhyun menarik tangan Luhan hingga pemuda itu kembali duduk.
Luhan terpaksa menuruti keinginan Baekhyun. Ia ingin protes lebih jauh, tetapi Baekhyun sepertinya sedang sangat menikmati prosesi ini. Tubuhnya masih bergerak gelisah ditempatnya. Luhan hanya bisa berharap Sehun baik-baik saja dan segera kembali.
.
.
.
.
.
.
Sehun sudah berada di lantai kelima bangunan tua yang biasa menjadi tempat berkumpulnya anak-anak berandalan. Bangunan ini belum sempurna pengerjaannya, dan mungkin tidak akan dilanjutkan. Hal itu membuat bangunan ini tidak mempunyai dinding pembatas dan jendela, jika ada yang terjatuh maka dia langsung terguling ke tanah dengan harapan hidup tigapuluh persen dari seratus persen. Kalaupun ada yang selamat, dia pasti akan mengalami sebagian patah tulang dari seluruh tulang yang dimilikinya.
Didepannya, Kris berdiri pongah dengan tatapan menyalang tajam. Sehun membalas tatapan itu tak kalah tajamnya. Hanya ada mereka disini berdua, dan hanya ada dua pilihan; jika bukan dirinya yang mati maka Kris yang akan mati hari ini.
"Apa yang membuatmu sangat yakin jika adik sialanmu itu benar-benar sudah mati?" tanya Sehun.
Kris menggeletukan giginya dengan mengerikan, "Berhenti membawa-bawa Tao atau aku benar-benar akan membunuhmu, Sehun." ditangannya ada sebuah revolver dengan peluru siap menembak siapa saja yang dia kehendaki.
"Aku tidak akan berhenti sampai kau tahu kebenarannya." Desis Sehun. "Bukan Tao yang menjadi korban dalam kecelakaan itu, tapi sebenarnya dirimu. Karna kau mengisi hidupmu dengan bayang-bayang kematian Tao padahal anak itu masih hidup hingga sekarang. dan juga, kau membuat hidupmu penuh dendam karna kau terus memaksakanku sebagai awal dari masalah ini."
Kris secepat kilat sudah berada tepat dihadapan Sehun dan mengangkat dagu Sehun menggunakan revolvernya penuh tekanan. "Peluru ini akan menembus lehermu jika kau masih berbicara yang tidak-tidak tentang Tao, keparat." Geramnya.
Sehun tertawa parau, tidak gentar sedikitpun dengan ancaman tak berguna Kris. "Kau harus bisa menerima kenyataan kalau adikmu lebih brengsek dari siapapun didunia ini, Kris."
Didetik selanjutnya, Sehun menangkis revolver yang menempeli dagunya hingga benda itu terlempar jauh dari mereka. Ia melayangkan pukulannya ke wajah Kris hingga pria itu terdorong beberapa langkah kebelakang. Kris semakin terbakar, dan kembali menghampirinya dengan sebuah pukulan. Sehun menangkisnya lagi, lalu menjadikan perut Kris sebagai sasaran pukulan telaknya. Pria itu pantang menyerah rupanya, karna Sehun harus terjerembab ke tanah ketika Kris menggunakan kakinya untuk menendang tubuh Sehun.
Kris menggunakan kesempatan itu untuk menduduki perut Sehun dan memukuli wajah pemuda itu tanpa ampun. Kris menyeringai puas ketika melihat sudut bibir Sehun mulai mengeluarkan darah segar. Tetapi, bukan Sehun namanya jika ia hanya terdiam pasrah seperti seorang pecundang, maka dari itu Sehun menggulingkan tubuh Kris dan balik memukulinya. Setiap pukulan yang ia lontarkan ke Kris penuh rasa dendam dan amarah. Balasan atas semua perlakuan Kris selama ini yang menganggapnya sebagai pelaku kematian Tao. Semua itu akan selesai hari ini, itu tekadnya. Sehun memukuli Kris dengan membabi-buta hingga dia merasa tangannya mulai basah dengan darah. Apa bibir si brengsek itu sudah robek? Sehun mendengus puas dengan pemikirannya. Rasa marah itu memang nikmat sekali rasanya jika sedang terlampiaskan.
Tanpa Sehun duga, Kris meraih kerah bajunya dan menghempaskannya ke bawah. Punggung Sehun membentur lantai yang keras membuatnya harus meringis sedikit. Bukan hanya lantai yang kasar, tetapi juga beberapa pecahan keramik yang tajam. Kris berdiri dan menarik kerah bajunya dengan paksa, membuat Sehun merasa tercekik. Selanjutnya, dia ditendang hingga membentur dinding. Lukanya yang belum sembuh harus ditambah dengan luka yang baru. Sial, Sehun harus tebal telinga jika Luhan tahu akan hal ini.
"Bajingan," Sehun menggeram. Dia merasakan darahnya mengalir lewat mulutnya, rasa besi cairan itu membuatnya muak. Ditambah seringaian keji Kris yang membuatnya mendidih hingga ke ubun-ubun. Maka dari itu, Sehun tidak mempedulikan rasa sakitnya yang tak seberapa dan kembali menghampiri Kris.
Mereka terlibat perkelahian sengit. Keduanya sama-sama kuat, tidak ada niatan untuk kalah ditangan lawan. Satu detik saja lengah, maka serangan akan bertubi-tubi mengenai tubuh. Sehun maupun Kris sama-sama melampiaskan emosinya dengan kekerasan. Mereka berkelahi seperti dua binatang buas yang kelaparan. Keringat dan darah berbaur menjadi satu dan tidak lagi dipedulikan.
Sehun mengelak ketika tendangan Kris nyaris mengenai tubuhnya, dia menarik kaki Kris dengan kasar hingga pemiliknya ikut terseret dan jatuh. "Matilah kau, brengsek." Desis Sehun. Kemudian, memukuli Kris tanpa ampun.
"Sehun, berhenti!"
Kepalan tangan Sehun yang hendak mendarat diwajah Kris berhenti secara otomatis saat teriakan itu menggema di udara. Sehun mendapati Luhan berdiri tak jauh dari posisinya. Kekasihnya itu terlihat berantakan dengan nafas tersengal-sengal, dia sepertinya habis berlari. Sehun melirik Kris sesaat, pria itu sekarat dibawah kakinya. Wajahnya kacau penuh luka dan darah, nafasnya putus-putus mengenaskan. Sehun mendengus puas melihatnya. dia lalu berjalan menghampiri Luhan dengan langkah sedikit terseok, kaki kanannya yang belum sembuh benar terasa sangat menyakitkan. Kris sempat menendangnya beberapa kali tadi.
Semakin dekat posisinya dengan Luhan, Sehun bisa melihat kekasihnya itu sedang menangis. Wajahnya basah dan tubuhnya sedikit gemetar. Apa dia ketakutan?
"Hei," Sehun menyapa Luhan dengan senyuman, tidak mempedulikan wajahnya yang penuh lebam dan noda darah. "Jangan menangis, cengeng." Cibirnya, masih dengan senyuman.
Luhan mengulurkan kedua tangannya kearah wajah Sehun, menangkupnya. "Berapa kali kubilang untuk jangan berkelahi lagi, Sehun." Luhan merasa marah, sedih, dan kecewa dalam bersamaan melihat tampilan Sehun saat ini. Rasanya Luhan ingin berteriak didepan Sehun untuk melampiaskan emosinya, tetapi diurungkannya karna rasa pedulinya lebih besar ketimbang rasa marahnya. Sampai kapanpun Sehun tetap keras-kepala, dan Luhan tidak akan bisa merubah wataknya yang satu itu. seberapa keraspun dia melarang Sehun untuk berkelahi, tetapi tetap saja pemuda itu akan melakukannya lagi dan lagi, tanpa menghiraukan keselamatan dirinya.
"Sakit?" tanya Luhan seraya menyentuh beberapa luka di bagian wajah Sehun.
Sehun memejamkan matanya dan menggeleng. Menikmati sentuhan Luhan yang membuat tubuhnya lebih tenang. "Tidak akan sakit jika kau mau mengobatinya."
Luhan tersenyum tipis. "Ya, aku pasti mengobatinya. Sekarang, kembalilah. Ayahmu menunda pernikahan karna kau tidak ada disana." tangan Luhan berpindah posisi, dia menggenggam tangan Sehun.
Disaat keduanya akan pergi, Luhan mendadak berteriak dan mendorong tubuhnya menjauh, hingga Sehun nyaris tersungkur ke tanah.
"Sehun—Awas!"
Darrr!
Sehun belum sempat berkedip ketika mendengar suara ledakan dan teriakan Luhan dalam waktu bersamaan menggema ditelinganya. Kejadian itu begitu cepat, dan sulit diterima akal. Sehun merasa jantungnya mencelos, dan seluruh organ tubuhnya berhenti bekerja ketika melihat Luhan terhuyung dengan pakaian putihnya yang mulai berubah warna menjadi merah segar dibagian dada kirinya. Luhan terjatuh begitu saja dalam hitungan detik. Sehun merasa dunianya berhenti, dan pandangannya menjadi tidak jelas. Dia terhuyung, nyaris terjatuh. Matanya menemukan Kris dengan tangan memegang revolver yang mengarah ke Luhan. Otaknya baru bekerja, dan menyadari satu hal;
Luhan tertembak—karna menyelamatkan dirinya.
Sehun berlari, menghampiri Luhan dengan segera. Kakinya lemas, tidak kuat menahan beban tubuhnya ketika melihat tubuh ringkih Luhan terbaring disana, hingga Sehun membiarkan dirinya terduduk disamping Luhan. Sehun meraih kepala Luhan, menaruhnya dipangkuannya.
"L—Lu.." tangan Sehun bergetar ketika berusaha menyentuh pipi kekasihnya.
Luhan tidak menjawab, matanya hanya memandang kosong kedalam mata Sehun. bibirnya terbuka, seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa tersampaikan hingga yang keluar hanyalah suara tercekat yang sangat mengiris hati Sehun ketika mendengarnya. Sehun berusaha menghentikan darah yang berlomba-lomba mengalir lewat dada Luhan yang berlubang, dan dia tahu itu hanya sia-sia saja. Sehun mendapati dirinya menangis saat itu juga. Airmatanya mengalir tanpa bisa dicegah. Dia merasa ada yang melubangi dadanya, begitu menyesakan. Dia tidak bisa melihat Luhan yang seperti ini. Seperti ada sesuatu yang direnggut paksa darinya.
"Kumohon, Lu." Sehun tidak tahu apa yang dia harapkan saat ini. Kata-kata itu keluar begitu saja saat satu tangannya mengusap airmata Luhan.
Luhan begitu kesakitan.
Sehun tidak kuasa melihatnya, "Bertahanlah," bisiknya, parau. Suaranya bahkan mulai serak.
Luhan masih menatapnya dengan mata indahnya yang basah itu, berusaha berbicara lewat pandangannya. Tangannya bergerak, meraih tangan Sehun yang berada dipipinya. Sehun mengartikannya sebagai; aku tidak apa-apa.
Luhan memejamkan matanya beberapa detik kemudian, dan Sehun tidak bisa menahan teriakannya.
Ini semua karna Kris. Kalimat itu terus terngiang diotaknya, seperti jeritan ribuan orang. Amarah mulai menggulung-gulung dan berkumpul dikepalanya, membuat Sehun harus mengepalkan tangannya kuat-kuat. Yang ingin dia lakukan saat ini adalah menghabisi Kris hingga bajingan itu tidak bisa melihat matahari lagi. Otaknya tidak bisa berpikir apa-apa lagi selain berdiri dan mulai menghampiri Kris dengan pasti. Setiap langkahnya penuh emosi yang membabi-buta. Disaat dia sudah sampai dihadapan keparat itu, Sehun memukulnya dengan tidak main-main.
"Aku akan membunuhmu, sialan!" Sehun berteriak geram. Memukuli Kris dengan beringas, lebih dari perkelahian awal mereka.
Disaat Kris ingin membalas pukulan keji Sehun, dia melihat sosok Tao berdiri tak jauh dari mereka. Tao balas memandangnya dengan pandangan tak terbaca. Tao—adiknya, dia masih hidup? Dia nyata? Kris tidak bisa berpikir lebih jauh. Barangkali itu hanya halusinasinya, tetapi ketika sosok Tao bergerak , seperti ingin menghampirinya, dia pikir itu adalah nyata. Tao masih hidup seperti apa yang dikatakan Sehun beberapa saat yang lalu. Perlahan, kepalan tangannya menurun, seluruh kekuatannya seperti disedot habis. Dan yang tersisa hanyalah kepasrahan ketika Sehun memukulinya beringas, tanpa berperasaan. Dia membiarkan pemuda itu meluapkan emosi menggebunya. Kris tidak lagi mempedulikan rasa sakit yang bertubi-tubi mendera tubuhnya atau berapa banyak darah yang sudah keluar dari beberapa bagian tubuhnya. Melihat Tao berdiri dengan tubuh lengkap tak jauh darinya saja itu sudah sangat cukup untuknya. Tao masih hidup dan tidak ada yang lebih membahagiakan selain hal itu.
"Tao," Kris bergumam lirih.
Sementara itu, Sehun masih melampiaskan kemarahannya. Dia hendak mendorong tubuh Kris agar keparat itu jatuh ke bawah sana dengan tulangnya yang remuk hingga dia tewas mengenaskan. Tetapi, mendadak tubuhnya ditahan oleh beberapa orang. Sehun berusaha melawan, dan melanjutkan niatnya untuk menghabisi Kris.
Segalanya menjadi tidak jelas dalam penglihatan dan pendengaran Sehun. Yang dia tahu saat ini, beberapa polisi menahan tubuhnya dan Luhan sedang dibawa oleh pihak berwajib. Dia tidak bisa berpikir jernih, dan seluruh tubuhnya tidak bisa bekerja dengan benar. Dia tidak tahu sejak kapan polisi-polisi ini datang, dan sosok Kris sudah terlebih dahulu dibawa. Sehun merasa kepalanya berdenyut pusing, kesadarannya mulai menipis. Dia hanya bisa melihat sosok Luhan yang tak sadarkan diri dibawa oleh beberapa orang dengan pandangan buram.
Aku sadar, jika Tuhan memang begitu membenciku. Mengapa kebahagiaan sekecil ini saja Dia renggut dariku?
.
.
.
.
.
.
Dia dihempaskan begitu saja ketika sampai di ruang interogasi hingga tubuhnya nyaris tersungkur dilantai yang dingin. Sehun tahu, sebentar lagi dia akan diperlakukan seperti binatang disini. Para polisi sangat senang menyantap hidangan yang sudah lama mereka incar dengan kedok ketegasan di wajah mereka. Sehun tidak lagi memikirkan nasibnya sekarang atau kedepannya. Pikirannya hanya tertuju pada satu objek, yaitu Luhan. Segala bayang-bayang negatif mulai memenuhi pikiran terdalamnya dan membuatnya khawatir bukan main. Jika dia hanya berharap Luhan baik-baik saja rasanya itu tidak adil, karna dia tahu bahwa Luhan 'tidak' baik-baik saja. Dia tertembak tepat didada bagian kiri, Sehun begitu mengkhawatirkannya lebih dari dirinya sendiri.
"Tuan Muda Oh, senang bertemu denganmu lagi." Taecyeon, polisi itu menyeringai tipis padanya. Dalam senyumnya, seolah menjelaskan jika Sehun tidak akan lolos dalam cengkramannya kali ini.
Sehun hanya diam, menunduk. Yang diartikan oleh para interrogator itu sebagai rasa takut atau penyesalan atau juga permohonan agar dirinya tidak dipojokan terlalu dalam. Tetapi, kenyataannya Sehun hanya sedang ingin terdiam, membiarkan pikirannya mengawang kemana saja, tak tentu arah.
"Ah, jadi ini berandal yang telah mengaku-ngaku sebagai intel dan membebaskan narapidana Cina itu?" Sahut polisi lain, yang Sehun belum pernah dengar suaranya. "Aku selalu gemas dengan anak memalukan sepertimu. Mau jadi apa besarnya nanti?"
Sehun mengeja name-tag yang dipakai oleh polisi itu dalam diam. Namanya Nickhun.
"Anak pemberontak seperti ini tidak akan punya masa depan. Aku heran, kenapa anak orang kaya selalu seperti ini?"
"Karna yang mereka tahu hanyalah menghabiskan uang orangtuanya. Pikiran mereka sudah rusak, makanya tidak mempunyai moral."
Sehun menarik sudut bibirnya, membentuk seringaian tipis. Mereka membicarakan moral, padahal mereka sendiri miskin akan moral. Polisi hanya sebatas jabatan semata, karna sikap mereka tak lebih dari preman kampungan yang hanya bisa memojokkan dan menggertak para penjahat saja.
"Sudah cukup kekacauan yang kau buat selama ini, Oh Sehun. Aku hanya akan membahas masalah yang kau buat hari ini, untuk kasus di Cina, polisi lain yang akan mengurusmu. Sekarang dengarkan pertanyaanku, dan jawab dengan sejujur-jujurnya." Ujar seorang polisi yang terlihat lebih berwibawa, Junsu. "Apa kau berusaha membunuh Kris Wu?"
Sehun tak kunjung menjawab.
"Mengapa kalian berkelahi?" Junsu mengubah pertanyaannya. Sehun masih enggan menjawab, hingga interrogator lain menggebrak meja didepannya cukup kencang.
"Bedebah kecil. Kau tuli atau bisu?" Taecyeon membentak. Suaranya menggema, memenuhi ruangan. Bagi penjahat lain mungkin hal itu mengerikan, tetapi bagi Sehun hal seperti ini sudah sangat biasa.
"Oh Sehun, tolong jawab pertanyaanku. Apa yang terjadi antara kau dan Kris Wu hingga Luhan terlibat dalam masalah kalian?" Junsu kembali bertanya penuh kesabaran. Mungkin dia adalah polisi senior, karna sikapnya yang jauh berbeda dari dua polisi lainnya yang hanya bisa mencemooh dan menggertak seperti berandal kelas teri.
Sehun mengangkat kepalanya, memandang tiga polisi didepannya tanpa ekspresi. "Apa aku harus menjawab pertanyaan bodoh kalian jika ujung-ujungnya aku akan dijebloskan kedalam sel juga?"
"Keparat ini—" Taecyeon menggeram, lalu meraih kerah baju Sehun, dan menghempaskan tubuh pemuda itu ke lantai yang dingin. Sehun tersungkur disana tanpa perlawanan sama-sekali. Dia kembali mendapat pukulan, kali ini dibagian perutnya hingga darahnya mau tidak mau kembali mengalir lewat mulutnya. Pukulan seorang polisi akan berbeda dari orang biasa. Karna polisi memang sudah terlatih dalam menyiksa penjahat dengan teknik-teknik tertentu yang dipelajarinya. Mereka cenderung menggunakan kekerasan bagian dalam, seperti yang dialami Sehun saat ini.
"Apa kau bangga bisa berada disini? Apa teman-temanmu akan menyebutmu jagoan setelah ini? Akan kuberi tahu satu hal padamu, anak muda. Sebentar lagi kau akan merasakan dinginnya ruang tahanan. Kau akan sendirian dalam jangka waktu yang lama. Kau tidak akan bisa merasakan udara luar. Sel ini dibuat seperti neraka dunia yang menjadikan berandal kelas kakap pun lupa akan kegagahan mereka." desis Taecyeon seraya mencengkeram dagunya.
Sehun tidak mengatakan apapun, maupun membalas. Entah karna rasa sakit disekujur tubuhnya, atau karna bibirnya yang enggan terbuka untuk menjawab ancaman polisi bodoh ini. Dia hanya memandang Taecyeon dengan tajam.
"Bajingan kecil sepertinya memang perlu diberi pelajaran agar sadar. Sebentar lagi dia akan menangis-nangis ketika dimasukan kedalam penjara. Dasar sampah sekolah!" Nickhun tertawa mencemooh.
"Apa?! Kau menantangku, bocah?" Taecyeon mencengkeram leher Sehun. mendelik tak suka mendapat tatapan tajam dari Sehun.
Sehun terbatuk saat perutnya kembali menjadi sasaran polisi tua itu. Rasa nyeri menguasai tubuhnya, membuat dirinya benar-benar merasa lemas bukan main. Setelah itu, dia membiarkan dirinya menjadi bulan-bulanan para interrogator disana. Satu jam terasa begitu lama baginya. Dia dipaksa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh interrogator, jika tidak maka sebuah pukulan atau tendangan akan dia dapatkan sebagai gantinya.
Seberapa banyakpun dirinya diperlakukan seperti binatang, Sehun tetap tidak mempedulikan dirinya, kepalanya hanya dipenuhi satu nama. Luhan. Dia hanya ingin bertemu Luhan. memastikan keadaan kekasihnya itu, atau sekedar menggenggam tangannya untuk menyalurkan rasa kepeduliannya yang begitu besar. Sangat menyesakan ketika kau mengkhawatirkan seseorang tetapi kau tidak bisa meraih tubuhnya atau sekedar melihatnya. Sehun merasa tak berguna, kata hatinya yang jahat terus mengutuknya. Menyalahkan dirinya atas kejadian ini.
Aku tidak pernah percaya pada sebuah karma. Jika sesuatu terjadi padaku itu bukan karna sebuah karma, tetapi itu terjadi karna aku mulai memenuhi diriku dengan kebodohan penyesalan dan rasa bersalah.
Hanya aku yang bisa menyakiti diriku. Bukan hukum atau peluru timah panas. Apalagi omong kosong manusia-manusia yang mencoba memvonis diriku dari ujung rambut hingga ujung kaki.
.
.
.
.
.
.
Tobecontinued—
.
.
a/n : quote diatas adalah hasil contekan dari novel yang pernah saya baca. huehehe. Lupa judulnya-_-
Hai, haaaaaaaaai, semuanya.
Udah lama sekali kita tak berjumpa wkwk. Apa kabar? Ciyee yang kurusan XD Mungkin kalian udah bosen banget denger ini dari saya; saya minta maaf karna lelet update, huhu. Kali ini bukan karna tugas (karna tugas saya udah selesai dari minggu lalu) tapi karna saya keilangan mood buat nulis. Mulai bosen kayaknya huhu. Diksi juga semakin abal-abal. Dan doa-in aja supaya saya tetep langgeng jadi HHHS karna saya mulai merasa jenuh akhir-akhir ini dengan dunia pelangi ini.
Fict ini bahkan saya kerjain dalam seharian. Ya ampun, hari minggu saya jadi kemakan lagi-_- /salah lu juga coeg/ jadi maaf bangeeeet kalo typo-nya bertebaran layaknya jerawat. Sesungguhnya kesalahan itu adalah sebagian dari iman /woy
Thanks buat yang masih setia sama fict abal ini. Kalian luar biasa, gengs. Love you a lot lah pokoknya :* buat HHS yang masih dukung Hunhan sampe sekarang. semoga mereka cepet go public biar saya ga jadi ngundurin diri didunia pelangi, HEHEHE.
Dan, yesh! Satu chapter lagi fict ini selesai. Tapi gajanji happy ending lho ya, huahaha /becanda oy, jangan tegang dong/ dan (maybe) chap terakhir bakal saya bagi jadi dua bagian, tapi update-nya sekaligus. Gabakal lama kok, karna target saya awal desember udah update fict baru.
p. s : Besok senin anjer-_-
p. ss : ada yang kangen saya? /iuh
